1
TANTANGAN KESIAPAN SEKTOR KONSTRUKSI
NASIONAL MENGHADAPI PEMBANGUNAN MASA
DEPAN BERBASIS GREEN DEVELOPMENT
Sangkertadi
Akademisi, Arsitek, Greeenship Profesional
Abstrak
Melalui tulisan ini meskipun singkat berupaya secara komprehensip memaparkan berbagai definisi mengenai green development, serta menunjukkan latar belakang mengapa masyarakat dunia sepakat untuk menerapkan konsep green development sebagai suatu model bagi pembangunan sejak kini hingga masa-masa mendatang. Berbagai pemahaman mengenai Green Building, Green City, Green Industry, serta Green Economy juga diungkapkan secara praktis. Ditekankan bahwa sektor konstruksi memiliki peran kunci dalam penerapan Green Development ini karena sector konstruksi tetap eksis memenuhi siklus pembangunan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas manusia di muka bumi. Karena itu, sektor konstruksi adalah pemegang kunci utama bagi keberhasilan penerapan konsep Green Development.
Latar Belakang
Green Development mulai marak diperbincangkan dunia sebagai suatu konsep pembangunan masa depan dalam menghadapi keberlanjutan kehidupan di muka bumi yang semakin kompleks disertai adanya indikasi penurunan kualitas lingkungan.
Cikal bakal green development sebenarnya sudah dimulai dari dideklarasikannya istilah sustainable development pada tahun 1987, berasal dari laporan Brundtland
Comission, yang mana arti sustainable development adalah: sebagai pembangunan
yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Hal mengenai perubahan iklim adalah akibat dari model pembangunan yang tidak berbasis pada keberlanjutan. Secara fikalis perubahan iklim terjadi karena peningkatan gas rumah kaca di atmosfir, dimana laju peningkatan gas rumah kaca tersebut berasal dari akibat lajunya proses pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan.
Pada Tahun 1992 hampir 180 negara bertemu di KTT Bumi (Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan) di Rio de Janeiro untuk membahas bagaimana mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Pertemuan tersebut menyetujui yang namanya “Deklarasi Rio” tentang Lingkungan & Pembangunan yang menetapkan 27
2
prinsip yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Juga disepakati rencana aksi, Agenda 21, & rekomendasi bahwa semua negara harus menghasilkan strategi pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Berangkat dari situasi tersebut, maka masyarakat dunia sekali lagi berkumpul di Kyoto dan menghasilkan apa yang namanya “Kyoto Protocol”, yang pada dasarnya adalah komitmen dunia untuk bersama-sama menurunkan laju emisi gas rumah kaca. Salah satu bagian kesepakatan adalah perwujudan aksi “clean development mechanism”. Indonesia, melalui UU No 17 Tahun 2004, telah turut mengesahkan protocol Kyoto, yang dengan demikian, maka seyogyanya model pembangunan di Indonesia adalah yang berorientasi model “pembangunan bersih” yang mampu membantu mereduksi emisi gas rumah kaca. Pertanyaannya apakah segenap lapisan masyarakat Indonesia sudah menyadarinya dan apakah sudah sadar untuk turut berperan dalam proses pembangunan bersih sebagaimana amanat UU tersebut. Ada memang yang sudah melaksanakannya namun, masih diperlukan bentuk sosialisasi masal guna mencapai apa yang diamanatkan lewat UU tersebut. Selanjutnya sebagaimana dijelaskan dalam bagian penjelasan UU tersebut, bahwa “clean development mechanism” (mekanisme pembangunan bersih) merupakan bentuk investasi baru di Negara berkembang yang bertujuan mendorong Negara industri untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di Negara berkembang dan membantu negara berkembang untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Mekanisme Pembangunan Bersih mencakup tiga kategori implementasi yaitu "Clean
Production" (Produksi Bersih), "Saving Energy" (Penghematan Energi) dan "Fuel Switching" (Pengalihan Bahan Bakar). Terhadap ketiga kategori tersebut, menuju
pada bentuk realisasi berupa pengurangan produksi emisi gas rumah kaca dan/atau penyerapan karbon.
Apa definisi Green Development ?
Terminology Green mengandung makna keberlanjutan yang didasari pada tema-tema keramahan terhadap lingkungan, sedangkan terminology Development mengarah pada definisi “pembangunan” dalam pandangan yang luas. Pembangunan secara fisik jelas mengarah pada pembaharuan perwujudan fisik konstruksi dalam skala kewilayahan, apa itu negara, provinsi, kabupaten, kota atau kawasan bahkan sampai pada titik lokasi. Pembangunan dalam pandangan “mental” mengandung arti pengembangan pola pikir masyarakat. Sedangkan pembangunan dalam pandangan
3
ekonomi, jelas mengandung arti peningkatan kesejahteraan. Jadi Green Development dapat didefinisikan sebagai suatu model atau konsep pembangunan yang berbasis pada kaidah “green”, atau suatu mental atau pola pikir untuk mengembangkan masyarakat agar berperilaku menuju keberlanjutan. Namun demikian green development tidak akan berarti apa-apa tanpa kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Green development perlu dihargai sebagai basis dari segala bentuk penerapan pembangunan untuk menghadapi perkembangan kehidupan yang semakin kompleks di muka bumi ini.
Apa resiko bumi tanpa Green Development Strategy ?
Sampai sejauh ini, dunia telah mencanangkan bahwa model pembangunan yang harus tetap diterapkan di masa depan adalah yang berbasis pada filosofi Green Development. Dari berbagai sumber menunjukkan bahwa pada tahun 1900-an hanya sekitar 10% penduduk dunia hidup di kawasan perkotaan, kemudian pada tahun 2010 diperkirakan sudah sekitar 60% penduduk bumi menempati kawasan kota, dan diperkirakan bahwa tahun 2050 sekitar 75% penduduk dunia tinggal di kota. Betapa kota harus menerima beban untuk menghidupi penduduk dunia. Kegiatan penduduk di perkotaan yang berperilaku urban, telah menyebabkan emisi gas rumah kaca yang berakibat pada pemanasan global Efek pemanasan global telah menaikkan suhu rata-rata global sekitar 1.4 – 5.8 derajat celcius pada tahun 2100 (menurut para spesialis). Selama kurun waktu dari tahun 1861 sampai 2005 telah terjadi kenaikan suhu global rata-rata 0.6-0.7 derajat celcius, menurut dokumen IPCC (Intergovernmental Panel and Climate Change). Akibat selanjutnya adalah peristiwa mengkhawatirkan seperti mencairnya gunung-gunung es di kutub, sehingga muka air laut meningkat, berbagai satwa mulai hilang sehingga ekosistem terganggu. Definisi umum menjelaskan bahwa permanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata di atmosfer, laut dan daratan di bumi. Penyebab dari peningkatan yang cukup drastis ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi (yang diolah menjadi bensin, minyak tanah, avtur, oli pelumas) dan gas alam sejenis yang tidak dapat diperbaharui. Pembakaran dari bahan bakar fosil ini melepaskan karbondioksida dan gas gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer bumi. Ketika atmosfir semakin banyak mengandung gas-gas rumah kaca ini, maka atmosfir menjadi insulator yang menahan lebih banyak radiasi panas matahari yang dipancarkan ke bumi.
4
Sementara itu, berbagai dokumen dan hasil kajian mengungkapkan bahwa bangunan dapat memproduksi emisi gas karbon sampai lebih dari 40% di beberapa tempat di dunia, sehingga setiap upaya mereduksi emisi gas karbon melalui bangunan, menjadi langkah strategis untuk menahan laju pemanasan global, dimana klasifikasi bangunan dibagi menurut jenis bangunan komersial, rumah tinggal dan bangunan utilitas atau bangunan industri.
Sebagai catatan penting, kenaikan suhu global sampai 1 derajat celcius akan menyebabkan 30 persen spesies mengalami resiko kepunahan, kenaikan suhu permukaan air laut sampai 27 derajat celcius, beresiko menimbulkan badai tropis. Pemanasan global telah terjadi dan diperkirakan akan terus melaju meningkat. Harapan untuk menahan atau mengendalikan lebih banyak tergantung pada perilaku manusia penghuni bumi ini. Upaya gerakan pembangunan berwawasan ”hijau” dan penghijauan ”nyata” sambil menghambat laju deforestasi serta gerakan lain untuk mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi andalan dalam menghadapi bencana akibat pemanasan global tersebut. Para perencana bangunan, arsitek, seyogyanya sudah memiliki kepekaan dalam menerapkan konsep atau ide desain bangunan yang berwawasan lingkungan dimana dalam hal ini adalah berorientasi pada konsep ”green building”.
Kecenderungan lainnya, dipusat kota yang dipadati oleh bangunan-bangunan tinggi yang tidak menerapkan konsep arsitektur hijau, dan bahkan saling berhimpitan, menimbulkan resiko naiknya suhu udara, dikarenakan semakin banyaknya elemen penebar pantulan panas matahari serta adanya panas dari hasil produksi kehidupan seperti asap dapur, kendaraan bermotor dan lain-lain, yang diantaranya memproduksi gas-gas rumah kaca seperti karbondioksida, CFC, dan metana. Kondisi tersebut ditambah lagi dengan berkurangnya jumlah vegetasi yang berfungsi sebagai penahan radiasi matahari sekaligus menyerap karbondioksida. Tingginya suhu udara di pusat kota yang berbeda jauh dibandingkan dengan suhu udara di pinggiran kota, dikatakan sebagai “urban heat island”.
Menurut dokumen OECD (2012), bahwa di negara berkembang (termasuk Indonesia) diperkirakan tahun 2050 sekitar 3.5 juta anak beresiko meninggal akibat polusi di ruang luar, kemudian sekitar 2.2 juta anak resiko meninggal akibat polusi udara dalam ruangan. Bahkan penyakit malaria tetap mengancam kematian anak akibat terganggunya ekosistim.
5
Meskipun saat ini kontribusi emisi gas rumah kaca dari negara berkembang, masih dibawah dari negara maju, namun apabila negara berkembang tetap menerapkan model pembangunan konvensional (non green concept), maka negara – negara tersebut tetap mendorong laju peningkatan emisi gas rumah kaca, karena akibat sebagai pertumbuhan ekonomi, industry serta pemakaian sumber daya alam konvensional.
Gambar.1.
Prosentase rata-rata peningkatan emisi gas karbon beberapa negara 1997-2005 (Sangkertadi, 2010)
Apa Saja Yang Termasuk Dalam Green Development ?
Dalam rangka menghadapi masa depan yang harus berkelanjutan, kini sudah ramai dibicarakan, disiapkan dan disediakan berbagai kerangka rencana dan aksi pembangunan yang berbasis green development, seperti yang kita kenal dengan istilah-istilah Green Building, Green Industry, Green Economy, Green City bahkan sampai pada Green Behavior serta Green Growth.
Rata-rata Peningkatan Emisi Karbon Setiap Tahun (1997 - 2005) -2.00% 0.00% 2.00% 4.00% 6.00% 8.00% 10.00% 12.00% 14.00% Am erik a S erika t C ina Rusia Jepa ng Jerm an In do ne sia
6 Tabel.1.
Konversi emisi CO2 dari beberapa kegiatan dan produk
Green Building.
Kehadiran Green Building ditengah tengah proses pembangunan, merupakan jawaban sektor konstruksi yang turut berperan mereduksi emisi gas rumah kaca. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa sector bangunan dapat menyumbangkan emisi gas rumah kaca sampai 40%, karena itu, kehadiran Green Building merupakan jawabannya.
Green Building adalah konsep konstruksi bangunan yang menerapkan filosofi “green” dari sejak tahap perencanaan sampai operasionalnya. Di AS yang pertama kali menerbitkan metode LEED pada tahun 1994 yaitu suatu cara atau alat ukur (tool) untuk membantu menentukan apakah suatu bangunan tergolong berkategori green atau tidak. Melalui metode LEED (Leadership in Energy and Environmental Design), dicapai suatu kriteria desain dan konstruksi bangunan hijau kedalam sertifikasi jenis green yang ”silver”, ”gold”, atau ”platinum”, atau tidak green sama sekali. Prinsip penilaian mengandung 8 komponen yaitu:
Produk / Kegiatan Satuan Kg ekivalen CO2
Listrik (interkoneksi dengan dominan PLTA) kWh 0.54
Elpiji (LPG) Liter 1.5
Bensin (kendaraan) Liter 2.33
Solar (kendaraan) Liter 2.67
Batubara kg 2.34
Listrik PLTU (Batubara) kWh 0.97
Air m3 0.3
Minyak Bakar liter 3
Limbah Karton & Kertas kg 1.5
Limbah Plastik kg 2
Limbah Aluminium Foils kg 10
Limbah Tekstil kg 8
Sampah Taman kg 1
Limbah dapur kg 4.5
Aneka Limbah padat rumah tangga kg 1.5
Pembuatan Batu Bata Tanah Liat kg 0.19
Pembuatan Semen kg 0.97
Pembuatan/ Pengolahan/ Pemotongan Besi kg 0.352
Pembuatan Gypsum kg 0.22
Pembuatan PVC kg 4.35
Pembuatan Lembar Aluminium kg 6.2
Pembuatan Kaca kg 1.73
Pembuatan Stainless Steel kg 5.4
Pupuk Fosfat kg 4.1
Pestisida kg 26
Daging Sapi/ Domba kg 36.4
7 1) aspek lokasi dan perencanaan; 2) kesinambungan lingkungan tapak; 3) efisiensi pemakaian air;
4) tentang energi dan lingkungan udara; 5) material dan sumber-sumber daya; 6) kualitas udara lingkungan dalam; 7) inovasi dan proses perancangan dan
8) keterkaitan dengan konteks prioritas pembangunan daerah.
Di Indonesia, perangkat penilaian untuk sertifikasi bangunan hijau yang dinamakan ”Greenship”, baru diluncurkan tahun 2010 oleh Green Building Council Indonesia (didirikan 2009), yang juga bagian dari World Green Building Council.
Secara umum definisi bangunan hijau menurut Office of the Federal Environmental Executive ,AS (1994), secara praktis adalah bangunan yang:
1) meningkatkan efisiensi bangunan dan lahannya terhadap penggunaan enerji, air, dan bahan, dan
2) mengurangi dampak negative terhadap kesehatan, lingkungan melalui penataan tapak, desain, konstruksi, operasional, pemeliharaan serta akibat produk limbahnya.
Sepadan dengan pengertian menurut GBCI (Green Building Council Indonesia, 2010), bahwa bangunan hijau (green building) adalah bangnan baru yang direncanakan dan dilaksanakan atau bangunan sudah terbangun yang dioperasikan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan/ekosistem dan memenuhi kinerja:
1) bijak guna lahan, 2) hemat air,
3) hemat energi,
4) hemat bahan kurangi limbah, 5) kualitas udara dalam ruangan. 6) tata kelola lingkungan
Adapun pengertian menurut India Green Building Council, bahwa bangunan hijau harus hemat air, efisiensi energi, mengkonservasi sumberdaya alam, mengurangi limbah, memberikan ruangan lebih sehat dibandingkan dengan bangunan konvensional. Namun secara lebih teknis, bahwa suatu bangun arsitektur dikatakan
8
tergolong dalam klasifikasi arsitektur atau bangunan hijau secara “terukur” apabila memiliki kapasitas atau kinerja “terukur” yakni untuk meminimalkan produksi ekivalen CO2, baik ditinjau dari segi desain, saat pelaksanaan konstruksi maupun saat beroperasi. Pada saat beroperasinya bangunan, indikator konsumsi energi listrik dalam satuan kWh dikonversikan kedalam produk kg CO2, yang semakin hemat energi listrik maka semakin baik kontribusinya untuk turut meredam peningkatan pemanasan global, dan menyumbangkan suatu nilai tertentu dalam proses kuantifikasi suatu bangunan agar termasuk dalam kualifikasi “bangunan hijau” dengan rating atau star tertentu.
Negara-negara didunia telah menerbitkan berbagai perangkat ukur/ tools (Tabel.2) untuk menetapkan apakah suatu bangunan tergolong dalam tipe bangunan hijau. Tindakan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap berbagai kesepakatan internasional mengenai perlindungan lingkungan hidup dan mekanisme pembangunan berkelanjutan. Dalam dokumen WBGC (World Green Bulding Councils, 2012) sampai saat ini tercatat sebanyak 92 negara di dunia sudah mendeklarasikan adanya tool atau metode untuk menghasilkan tipologi Green Building. Ini berarti sudah hampir mayoritas negara di dunia menyatakan terlibat aktif dalam upaya bersama-sama menerapkan konsep green development melalui green building mechanism. Perosalannya, adalah apakah tool atau metode tersebut sudah diketahui dan sudah diterapkan secara masal dan terkendali baik?. Sebagian besar dari tool tersebut sifatnya masih terbatas hanya untuk tipologi konstruksi bangunan tertentu, apakah hanya untuk tipe gedung bertingkat tinggi, atau hanya untuk tipe gedung perkantoran, dll. Sehingga mesikupun tool sudah ada dihadapan para pelaksana konstruksi namun, masih diperlukan tindakan yang arif bagi pelaksana konstruksi untuk mencoba menterjemahkan tool tersebut agar dapat dipakai untuk tipologi konstruksi bangunan yang lebih meluas. Diyakini bahwa suatu bangunan yang menerapkan konsep Green Building, maka dalam tahap operasionalnya akan lebih menguntungkan secara finansial dan dari segi kenyamanannya yakni dampak dari penerapan kriteria efisiensi energy, indoor comfort, indoor health dalam proses perencanaan Green Building.
9
Tabel.2. Tools untuk merating Green Building
No Nama Metode/ Tools Negara
1 Green Star Australia
2 LEED Canada & GRIHA Canada
3 DGNB Certification System Jerman
4 IGBC Rating System & LEED India India
5 CASBEE Jepang
6 Green Star NZ Selandia Baru
7 Green Star SA Afrika Selatan
8 BREEAM Inggris Raya
9 LEED Green Building Rating System USA
10
Greenship
Indonesia
11 LEED Brasil/ AQUA Brasil
12 GBS / Green Building System Korea Selatan
13 GB Evaluation standard for Green Building Cina
14 PromisE Finlandia
16 Care & Bio, Chantier Carbone, HQE Perancis
17 HKBEAM Hongkong
18 VERDE Spanyol
19 SI-5281 Israel
20 Protocollo Itaca Italia
21 CMES Meksiko
22 BREEAM Netherlands Belanda
23 LiderA Protugal
24 Green Mark & CONQUAS Singapura
25 Minergie Swiss
26 Pearls Rating System Uni Emirat Arab
27 EEWH Taiwan
28 BERDE Philippines
29 GBI (Green Building Index) Malaysia
.... dll Dll
.... dll dll
10 Green Industry
Definisi sederhana oleh UNIDO (United Nations Industrial Development Organization, 2012), bahwa Industri Hijau adalah industri produksi dan industri pembangunan yang hadir dengan tidak mengorbankan kebersihan sistem alami atau tidak mengakibatkan kerugian bagi kesehatan manusia. Industri Hijau ditujukan sebagai pengarah untuk memberi pertimbangan lingkungan, iklim dan sosial ke dalam operasi perusahaan. 'Industri Hijau' diantaranya mengubah proses industri manufaktur dan sub sektor industri lainnya dengan memperkenalkan metode penggunaan bahan baku agar lebih efisien / produktif dan agar sector industry dapat berkontribusi lebih efektif untuk pengembangan industri berkelanjutan. Industri hijau dengan demikian merupakan sector strategis untuk mewujudkan ekonomi Hijau, menuju tercapainya pembangunan berkelanjutan. Sejumlah industry sudah mengklaim dirinya memproduksi hasil yang dinyatakan green, misalnya industri semen, baja, partisi, pipa, dll. Mereka mengklaim bahwa dalam proses produksinya, telah diterapkan teknologi yang mampu mereduksi emisi karbon, ramah lingkungan, dan hasil produknya dinyatakan aman ditinjau dari berbagai aspek, seperti aspek kesehatan dan keamanan. Para pelaku industry tersebut, perlu mengungkapkan bahwa produknya adalah berkategori green, karena diharapkan apabila di pakai untuk suatu produk pembangunan, maka hasilnya akan dapat dikategorikan green juga. Demikian luasnya pemahaman industry di masa kontemporer ini, sedemikian hingga hal mengenai transportasi, yang mengarah pada “Green Transportation”, adalah juga dianggap bagian dari Green Industry. Green Transportation tentu saja suatu tatanan transportasi yang bercirikan penggunaan bahan bakar terbarukan, efisiensi bahan bakar, ramah lngkungan, aman dan nyaman.
Green City
Pada Tahun 2005, di San Fransisco, California saat World Environment Day, dideklarasikan Green Cities: “Plan for the Planet “ dimana saat itu juga dirumuskan Urban Environmental Accord yang berupa rencana aksi (action plan) sebanyak 21 butir, dalam rangka menuju klasifikasi Green City. Rumusan 21 tindakan (Actions) tersebut, tersebar pada 7 sasaran sektor perkotaan untuk mencapai Kota yang Berkesinambungan, Sehat, Nyaman, dan terjaganya Ekosistim. Adapun sasaran tersebut meliputi:
11 2) Pengurangan Limbah
3) Urban Desain
4) Perlindungan Alam Urban 5) Transportasi
6) Kesehatan Lingkungan 7) Manajemen Penggunaan Air
Kesepakatannya bahwa pada periode 2005 hingga Tahun 2012 ini actions tersebut sudah dijalankan secara terukur oleh kota-kota di dunia. Namun kenyataanya justru sebagian besar negara-negara didunia baru memulai menerapkan kaidah menuju Green City melalui berbagai cara, seperti penerapan aturan-aturan penataan ruang, perijinan bangunan, dll. Ternyata untuk menerapkan secara terukur terhadap actions tersebut, tidak dapat serta merta, karena harus didukung oleh berbagai bentuk pengaturan lainnya, karena hal tersebut sudah menyangkut harkat masyarakat banyak. Berbagai pihak penghuni kota mesti bersama-sama diajak bicara, diskusi, untuk sama-sama menerapkan actions menuju green city tersebut. Melalui penerapan konsep Green City, maka kota akan menjadi kota hidrologis, kota bioklimatik, kota produktif, kota transit dan sebagai kota hunian yang nyaman dan sehat.
Green Growth
Sebuah dokumen dari OECD 2012, mengangkat definisi Green Growth, sebagai suatu cara pandang terintegratif yang Green terhadap kebijakan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Konsep pertumbuhan hijau, menyangkut dua kunci penekanan yang teritegrasi: pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan, dan pengelolaan lingkungan yang lebih efisien yang diperlukan untuk mengatasi kelangkaan sumber daya dan perubahan iklim. Jadi Green Growth adalah suatu model pertumbuhan ekonomi yang terjadi berkat dukungan model pembangunan hijau dan berorientasi pada tujuan tercapainya pembangunan berkelanjutan.
Negara-negara berkembang adalah kunci untuk mencapai pertumbuhan hijau skala dunia (global) karena dua alasan utama. Pertama, dampak social ekonomi dan potensi degradasi lingkungan adalah sangat penting bagi negara-negara berkembang. Negara berkembang dianggap yang paling rentan terhadap perubahan iklim dan cenderung lebih tergantung dari negara maju pada eksploitasi sumber daya
12
alam untuk pertumbuhan ekonomi. Sebagai tambahan banyak negara berkembang menghadapi ancaman ekonomi, sosial dan ekologi yang parah dari ketidakamanan energi, pangan dan air untuk menghadapi perubahan iklim dan risiko cuaca yang ekstrim. Karena itu, maka focus Green Growth di utamakan pada kelompok Negara Berkembang. Kini konsep pertumbuhan hijau telah muncul sebagai pendekatan baru untuk membingkai ulang model pertumbuhan ekonomi secara konvensional dan dapat dipakai untuk menilai ulang sejumlah keputusan investasi. OECD mendefinisikan pertumbuhan hijau sebagai sarana untuk mendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi sambil memastikan bahwa aset alam tetap mampu menyediakan sumber daya dan layanan lingkungan di mana kesejahteraan kita bergantung.
Green Economy
Satu lagi yang sedang marak diperbincangkan adalah istilah Green Economy, yang definisinya sendiri sulit untuk dirumuskan secara spesifik. Karena, bagaimanapun, ekonomi tidak berdiri sendiri, namun meliputi sector-sektor industry, perdagangan, konstruksi, transportasi dll. Disampaikan oleh S Sudomo (2010) bahwa definisi ekonomi hijau juga tidak mudah diungkapkan secara spesifik, namun dapat dilihat dari ciri-cirinya dan pemahaman yang membedakannya dengan ekonomi konvensional. Misalnya, bahwa Ilmu ekonomi hijau memperlebar lingkaran kepeduliannya melampaui spesies manusia demi memperhatikan sistem planet Bumi secara keseluruhan dengan semua ekologi dan spesies yang beragam. Selain itu juga diungkapkan oleh Sudomo S (2010) beberapa ciri ekonomi hijau yang antara lain bahwa ekonomi hijau akan menggantikan bahan bakar fosil dan sistem pertanian intensif dengan pertanian organik, dan berbagai sistem seperti pertanian dengan dukungan komunitas, dimana manusia terhubung lebih dekat dengan sumber pangannya, selain bahwa suatu ekonomi hijau merupakan ekonomi berbasis lokal. Mencermati tulisan Sudomo S tersebut, dan juga memperhatikan pemahaman green-green yang lain, maka semestinya terdapat mata rantai yang terpadu dalam satu kesatuan sistim “Green Development”, dimana terdapat hubungan linier dan interaksi dimulai dari Green Behavior sampai pada Green Growth menuju tercapainya Sustainibility (Gambar 2)
13
Gambar.2. Mata Rantai Green Development
Tantangan Kesiapan Sektor Konstruksi
Dalam masa kontemporer ini, dimana perihal efisiensi dan efektifitas dari suatu program kegiatan menjadi perhatian utama berkat kemajuan teknologi, maka siapapun yang ingin memenangkan suatu persaingan, tentu saja harus memiliki kapasitas sebagai kompetitor yang mengandalkan kreasi menarik serta inovatif. Kini semua sektor sudah secara massif mendengungkan berbagai anjuran efisiensi dalam berbagai segi seperti energy, material dan finansial, namun apabila kita hendak bertindak lebih dari itu, maka tindakan berdasar kreatifitas dan inovasilah yang akan membantu mendudukkan kita pada posisi yang lebih “terhormat”.
Dalam sector konstruksi, sendi-sendi efisiensi adalah bagian yang sudah lajim dan biasa dilakukan oleh para actor bidang konstruksi. Bahkan kreatifitas dan inovasi mungkin sudah dilaksanakan juga oleh sejumlah kalangan tersebut. Nah, hal teraktual yang kini juga menarik perhatian dunia, adalah yang dinamakan dengan “sustainaibility” atau “keberlanjutan”. Artinya suatu tindakan yang sebelumnya dianggap kreatif, efisiens dan inovatif belumlah cukup. Karena masih harus diberi
Green Growth Green Industry Green City Green Building Green Economy Green Behavior Planet Sustainibility
14
tambahan nilai-nilai “keberlanjutan” dalam rangka menyelamatkan dunia dari ancaman laju kerusakan yang mengkhawatirkan. Disinilah pentingnya peran sector konstruksi yang menjadi bagian dari masyarakat dunia, tidak saja mengandalkan kapasitas dalam hal efisiensi kinerja dan inovasi, namun juga perlu melaksakan aktifitas berbasis pada nilai-nilai “keberlanjutan”, yang diantaranya ada suatu model kegiatan konstruksi yang “ramah lingkungan”. Disini terkandung makna konstruksi hijau, efisiensi energy, efisiensi bahan, dan bebagai istilah yang sering kita dengar dalam berbagai forum mengenai pembangunan ramah lingkungan.
Dari sejumlah tools atau metode untuk menilai green atau tidaknya suatu konstruksi bangunan, pada dasarnya mengandung sejumlah pemikiran yang sama, meliputi perhatian pada aspek pra konstruksi yang bahkan bisa pada aspek pasca konstruksi (Sangkertadi, 2010). Berikut ini diangkat suatu Best Practices peranan sektor konstruksi dalam keikutsertaan menuju Indonesia Hijau, khususnya lewat penerapan konsep green building.
Best Practices
Orientasi Green Building Pada Tahap Perencanaan (Pra Konstruksi)
a. pemilihan tapak dengan prioritas untuk pemilihan lokasi bangunan hijau adalah yang terjangkau dengan sistim transportasi wilayah/kota, dilengkapi dengan sarana dan prasarana kota, tidak membutuhkan pengolahan site yang cukup berat, agar dapat menghemat pemakaian enerji transportasi (pergerakan kendaraan dari lokasi site ke tempat lain, dll)
b. desain tata ruang dalam yang mengutamakan aspek kenyamanan sirkulasi (hubungan ruang yang efektif), tidak menyebabkan kelelahan penghuni yang dapat berakibat peningkatan CO2 dari pernafasan, kenyamanan dan kesehatan dalam ruang.
c. desain taman, ruang hijau dengan KDH (Koefisien Dasar Hijau) yang minimal mengikuti aturan tata ruang wilayah, serta memberi lokasi bagi penanaman pohon peneduh untuk membantu penangkapan CO2, dan memberi peluang yang memadai bagi serapan air permukaan.
d. desain struktur dan material, yakni menggunakan bahan hasil produksi jenis ”industri hijau”, yaitu bahan yang diproduksi dengan teknologi hijau yang dibuktikan dengan suatu sertifikat tertentu (pemakaian bahan bangunan dapat
15
menyumbangkan sampai sekitar 15 – 20% dari total enerji gedung dikarenakan ”embodied energy”); diutamakan pemakaian bahan yang mendukung penghematan enerji operasional bangunan, misalnya bahan dengan nilai sifat termal tertentu yang mendukung OTTV (Overall Transfer
Transmission Value) agar tidak lebih dari 45 watt/m2 (standar SNI)
e. desain utilitas berorientasi hemat enerji namun tidak mengorbankan kenyamanan dan keamanan (enerji listrik penghawaan, penerangan), serta sistim perpipaan yang tidak beresiko menimbulkan kemudahan kebocoran dan hambatan aliran fluida (hemat air).
Orientasi Green Building Pada Tahap Pelaksanaan Pembangunan (Konstruksi) a. penerapan sistim manajemen konstruksi untuk mendapatkan
penghematan-penghematan dari segi enerji, bahan, waktu dan keuangan
b. efisiensi pengangkutan material, diperhitungkan kapasitas angkut, dan jarak asal bahan dengan pemakaian BBM dari kendaraan pengangkut.
c. memenuhi saran perencanaan green building, seperti penggunaan material yang ramah lingkungan, berorientasi green material
d. efisiensi pemakaian air saat pelaksanaan konstruksi dan menerapkan minimum limbah bahan bangunan, serta pemanfaatan kembali terhadap limbah tersebut.
e. mengurangi proses pembakaran di lokasi pembangunan
Orientasi Green Building Pada Tahap Operasional dan Pemeliharaan Bangunan a. terbuka peluang kemudahan penggantian material berusia tua dengan material baru yang memiliki nilai material hijau atau berasal dari industri hijau, termasuk penggantian lampu yang sudah mengalami penurunan efisiensinya. b. senantiasa diadakan pemeriksaan terhadap kejadian kebocoran pipa, resiko
kebakaran (arus pendek, pipa gas, dll)
c. terbuka peluang memantau pemakaian enerji listrik dan air (meter listrik dan air, pada posisi mudah dipantau)
d. terbuka peluang untuk pemeliharaan taman, dan penghijauan kembali
e. penggunaan kembali limbah yang masih dapat dimanfaatkan dalam skala tertentu.
16
Orientasi Green Building Pada Tahap Perobohan/Penggantian Bangunan a. penerapan sistim manajemen konstruksi untuk mendapatkan
penghematan-penghematan dari segi enerji, bahan, waktu dan keuangan saat kegiatan perobohan dan desain kembali untuk fungsi tertentu
b. pengolahan kembali tanah agar berfungsi sebagai areal serapan air permukaan dan lahan penghijauan
c. efisiensi pengangkutan material, diperhitungkan kapasitas angkut, dan jarak asal bahan dengan pemakaian BBM dari kendaraan pengangkut ke lokasi pembuangan
d. terbuka peluang penggunaan kembali terhadap sisa bahan yang masih layak dipergunakan kembali dan tidak menimbulkan resiko keamanan dan kesehatan pemakai.
Referensi .
1. ---,2004, Sustainable Construction, Brief 2, DTI, UK 2. ---,2012, Green Growth and Developing Countries. A
Summary for Policy Makers, OECD, June 2012
3. Duran S, Fajardo J, 2010, The Sourcebook of Contemporary Green Architecture, Collins Design, NY
4. Mueller S, :Clean Energy”, 2008, dalam FuturArc Green Issue 2008, volume 10.
5. Naeem Irfan, Adnan Zahoor, Nadeemullah Khan, 2001, Minimising The Urban
Heat Island Effect Through Lanscaping, NED Journal of Architecture and
Planning, Vol One, Nov. 2001.
6. Wittman S, Architects Commitment Regarding Energy Efficient/ Ecological
Architecture, Architectural Science Review, Vol. 41.No.2, June 1998.
7. Sadourny R, 1994, Le Climat de La Terre, Dominos Flammarion, Paris.
8. Sangkertadi, 2010, Peran Arsitektur Hijau dalam Mekanisme Pembangunan
Bersih melalui upaya pengurangan emisi gass karbon, Seminar Nasional
Teknologi Ramah Lingkungan Institut Teknologi Nasional – Malang – 15 Juli 2010
9. Sangkertadi, 2010, Perlu Kontribusi Tata Ruang Terhadap Urban Environmental Accord, Menuju Green City 2012, MATERI PRESENTASI SEMINAR NASIONAL BIMBINGAN TEKNIS PELAKSANAAN PENATAAN RUANG SULAWESI UTARA, Manado, 22 September 2010
10. Stang A, Hawthorne C, 2005, The Green House, New Directions in
Sustainable Architecture, Princeton Architectural Press, NY
11. Soedomo S, 2010, Economi Hijau: Pendekatan Kultural, dan Teknologi, Materi Diskusi “KONSEP EKONOMI HIJAU/PEMBANGUNAN EKONOMI YANG BERKELANJUTAN UNTUK INDONESIA”, di Kantor BAPPENAS, Jakarta, Juli 2010
17
12. Stitt F A (editor), 1999, Ecological Design Handbook, Sustainable Strategies
for Architecture, Landscape Architecture, Interior Design, and Planning. Mc
Graw Hill, NY
13. Sugandhy A, Hakim R, 2007, Prinsip Dasar Kebijakan Pembangunan
Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan, Bumi Aksara, Jakarta.
14. Woolley T, Kimmins S, Green Building Handbook, Vol 2, E & FN Spon, UK
LAMPIRAN :
BEBERAPA CONTOH GAMBAR HASIL PEMBANGUNAN TIPE GREEN BUILDING DI DUNIA (sumber diantarnya dari Duran & Fajardo, 2010, dll)
SIEEB-SINO Building, Beijing, 2006 Metropole, Parasol, Seville, 2010
Unilever Headquarters For Germany, Austria, And Switzerland, Hamburg, 2009
18
Az Vub University Hospital of Brussels Manchester Civil Justice Center, 2008
Bendigo Bank Headquarters, Victoria, Australia, 2008
Kantor Kementerian PU, Indonesia, Jakarta, 2012
19
Beberapa Contoh GREEN CITY :
Vancouver
Malmoe Rekjavik
20
Copenhagen San Fransisco-California
London Bahía de Caráquez, Ecuador
Austin Texas
Sidney Australia
21
Tentang Penulis
Prof.Dr.Ir.Sangkertadi, DEA, adalah Arsitek (ITS, 1985), S2 (DEA, Genie Civil et Science de la Conception, INSA Lyon, France, 1990), S3 (Doctorat, Methode de Conception en Batiment et Technique Urbaines, INSA de Lyon, France, 1994). Pemegang setifikat anggota IAI – Madya, dan Greesnship Profesional. Ketua Program Studi Studi S2 Arsitektur pada Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi, Manado.