1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini industri lampu listrik di Indonesia semakin meningkat. Lampu memiliki peran yang penting dalam mendukung kegiatan sehari-hari, baik siang hari maupun malam hari dan diluar ruangan maupun didalam ruangan. Menurut data yang kutip dari Asosiasi Perlampuan Listrik Indonesia (APERLINDO) konsumsi lampu listrik di Indonesia pada tahun 2014 meningkat sebesar 8.046% dibandingkan tahun 2012. Meningkatnya konsumsi lampu listrik di Indonesia akan mendukung peningkatan terhadap permintaan peralatan lampu listrik. Salah satu peralatan lampu listrik yaitu rumah-rumah lampu.
Meningkat nya peralatan lampu listrik yaitu rumah-rumah lampu membuat perusahaan yang saat ini sedang bergerak dalam memproduksi rumah-rumah lampu harus meningkatkan keunggulan dalam bersaing baik secara kuantitas maupun kualitas. Perusahaan juga akan menghadapi tantangan yang semakin berat dan lebih ketat karena pada 31 Desember 2015 akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sehingga akan mulai bermunculan perusahan-perusahaan asing. Oleh karena itu perusahaan dituntut untuk memberikan pelayanan yang semakin baik. Menurut Kotler dan Amstrong (2012:248), pelayanan adalah suatu kegiatan yang memberikan manfaat dan kepuasaan yang diberikan dalam penjualan yang pada dasarnya tidak berwujud. Apabila perusahaan tidak dapat memberikan pelayanan yang baik secara kuantitas, kualitas dan ketepatan waktu maka kemungkinan besar pelanggan akan merasa kecewa dan akan berpindah ke perusahaan lain yang dapat memberikan pelayanan yang baik dalam memenuhi keinginan pasar.
Perusahaan perlu untuk mengoptimalkan kinerja operasional agar dapat memberikan pelayanan yang baik untuk menghindari kekecewaan dari konsumen. Menurut Putong (2013:180), melakukan optimalisasi produksi merupakan hal yang lumrah dan lazim bila perusahaan dalam operasionalnya selalu berusaha mendapatkan hasil yang terbaik terutama dalam memanfaatkan biaya untuk melakukan produksi. Apabila perusahaan mengalami keterlambatan waktu dan mengeluarkan biaya yang besar dalam proses produksi, maka perusahaan belum dapat mengoptimalkan kinerja operasionalnya.
Melihat dari meningkatnya permintaan rumah-rumah lampu dan hubungan nya dengan kinerja operasional perusahaan dimana kinerja operasional yang optimal akan memberikan pelayanan yang baik untuk konsumen sehingga konsumen akan percaya dengan perusahaan dan tidak akan pindah ke perusahaan lain, maka perusahaan membutuhkan sebuah perhitungan peramalan permintaan yang akan terjadi pada masa yang akan datang agar perusahaan dapat mempersiapkan kapasitas produksi untuk menghindari keterlambatan produksi. Dari uraian tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa setiap perusahaan perlu untuk melakukan perencanaan dalam kegiatan operasionalnya terutama bagi perusahaan yang sering memproduksi barang dalam jumlah yang cukup banyak, salah satunya adalah perusahaan yang bergerak pada industri rumah-rumah lampu seperti PT. Skylite Surya Internusa.
PT. Skylite Surya Internusa didirikan sejak tahun 2004 yang berlokasi di Jl. Sinar Kemis Km. 3,5 Kuta Jaya, Pasar Kemis - Tangerang. PT. Skylite Surya Internusa merupakan perusahaan yang bergerak pada industri lampu listrik dalam memproduksi rumah-rumah lampu. Rumah-rumah lampu yang diproduksi PT. Skylite Surya Internusa yaitu Downlight, RM, Balak dan SM. Dengan produksi utamanya yaitu Downlight, sebagai produk yang memiliki permintaan yang jauh lebih banyak di bandingkan dengan jenis rumah-rumah lampu lainnya.
PT. Skylite Surya Internusa dihadapkan dengan permintaan yang semakin tinggi setiap tahunnya. Menurut pihak manajemen PT. Skylite Surya Internusa, terkadang perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan pelanggan dengan tepat waktu dikarenakan dalam tiga periode terakhir sejak Oktober 2012 sampai dengan September 2015 permintaan produk Downlight meningkat dengan pesat seperti grafik berikut : 58000 60000 62000 64000 66000 68000 70000 2012-2013 2013-2014 2014-2015 Kapasitas Permintaan
Gambar 1.1 Tingkat Permintaan dan Kapasitas Produksi Sumber : PT. Skylite Surya Internusa (2015)
Dari gambar 1.1, membuktikan bahwa terjadi peningkatan yang pesat terhadap permintaan pasar dari Oktober 2012 sampai dengan September 2015, namun terdapat masalah dimana perusahaan mengalami keterlambatan dalam pemenuhan permintaan. Seperti periode 2014-2015 perusahaan mendapatkan permintaan sebesar 67.551 unit sedangkan perusahaan hanya memiliki kapasitas sebesar 66.766 unit. Sehingga perusahaan kadang mengalami keterlambatan dalam memenuhi permintaan konsumen. Dalam menghadapi permasalahan tersebut, saat ini perusahaan menggunakan alternatif lembur dan subkontrak untuk memenuhi permintaan konsumen.
Jumlah permintaan yang berfluktuasi ini mengharuskan PT. Skylite Surya Internusa untuk mengalokasikan sumber daya yang digunakan dalam proses produksi dengan tepat agar permintaan dapat di penuhi dengan tepat waktu dan target produksi yang diharapkan perusahaan dapat tercapai. Perencanaan produksi harus sesuai dengan besarnya kebutuhan permintaan. Pada kenyataan nya PT. Skylite Surya Internusa belum bisa melakukan perencanaan produksi yang baik, dimana perusahaan mengalami penumpukan produk pada periode tertentu yang akan menambah biaya penyimpanan dan saat terjadi kekurangan produk maka akan menambah biaya kekurangan produk serta kehilangan kepercayaan dari konsumen. Berikut adalah biaya produksi PT. Skylite Surya Internusa yang semakin meningkat :
Tabel 1.1 Biaya Produksi
Tahun Biaya Produksi
2012 – 2013 Rp 4.865.980.000 2013 – 2014 Rp 5.649.568.000 2014 – 2015 Rp 6.435.875.000 Sumber : PT. Skylite Surya Internusa (2015)
Dari tabel 1.1 dapat di lihat bahwa biaya produksi selalu meningkat setiap periode. Menurut pihak manajemen PT. Skylite Surya Internusa biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak sesuai dengan seharusnya, sehingga perusahaan mendapatkan keuntungan yang tidak sesuai dengan harapan. Sampai saat ini perusahaan belum menerapkan suatu metode tertentu untuk mengoptimalkan kinerja operasionalnya agar perusahaan dapat memenuhi permintaan dengan tepat waktu dan
biaya produksi yang rendah. PT. Skylite Surya Internusa perlu menerapkan konsep manajemen operasional yang baik. Menurut Heizer dan Render (2014:40), manajemen operasi adalah serangkaian aktifitas yang dapat memberikan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output. Dapat di ambil kesimpulan bahwa apabila perusahaan memiliki manajemen operasional yang baik, maka perusahaan dapat melakukan proses produksi. Namun, sebaliknya apabila perusahaan tidak memiliki manajemen operasional yang baik maka akan menimbulkan keterlambatan produksi dalam memenuhi permintaan.
Perusahaan membutuhkan suatu metode untuk melakukan perhitungan peramalan permintaan untuk mengetahui perkiraan permintaan yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Menurut Schroeder (2007:216), peramalan merupakan masukan untuk mengambil keputusan operasi pada proses desain, perencanaan kapasitas dan persediaan. Selanjutnya, perusahaan harus menentukan alternatif dalam melakukan perencanaan produksi dengan metode perencanaan agregat. Menurut Heizer dan Render (2014:557), perencanaan agregat adalah pendekatan untuk menentukan kuantitas dan waktu produksi dalam jangka waktu menengah atau biasanya 3 sampai 18 bulan kedepan. Perencanaan agregat dibutuhkan perusahaan untuk memenuhi prediksi permintaan dan memperoleh biaya yang rendah. Menurut Heizer dan Render (2014:561), metode yang tepat untuk memaksimalkan kuantitas dan waktu produksi adalah perencanaan agregat, dimana terdapat 3 strategi didalamnya meliputi chase strategy, level strategy dan mixed strategy. Pada setiap strategi tersebut dapat diterapkan 3 pendekatan yaitu pendekatan reguler, lembur dan subkontrak.
Dilihat dari permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka penulis ingin melakukan perkiraan permintaan dimasa yang akan datang dengan metode peramalan dan melakukan perencanaan agregat pada PT. Skylite Surya Internusa agar dapat memiliki manajemen operasional yang dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi. Dengan itu penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “ANALISIS
PERENCANAAN AGREGAT UNTUK MEMINIMALISASI BIAYA
PRODUKSI PRODUK DOWNLIGHT PADA PT. SKYLITE SURYA INTERNUSA”.
1.2 Formulasi Masalah
Mengacu pada latar belakang penulisan maka formulasi masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana total peramalan permintaan Downlight PT. Skylite Surya Internusa pada periode berikutnya?
2. Bagaimana perhitungan total biaya produksi dengan chase strategy, level strategy dan mixed strategy?
3. Strategi perencanan agregat apakah yang tepat untuk diterapkan bagi PT. Skylite Surya Internusa dalam memenuhi permintaan konsumen?
1.3 Ruang Lingkup
Agar pembahasan tidak meluas dan lebih terfokus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka dilakukan ruang lingkup dalam penelitian. Ruang lingkup dalam penelitian ini :
1. Hanya menghitung peramalan permintaan pada PT. Skylite Surya Internusa selama 36 bulan yang dimulai sejak Oktober 2012 sampai dengan September 2015.
2. Penelitian ini tidak membahas mengenai hasil implementasi dari perhitungan yang telah dilakukan.
3. Penelitian ini hanya menggunakan satu jenis produk rumah-rumah lampu saja yaitu Downlight.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dipaparkan, tujuan penelitian ini antara lain:
1. Untuk menghitung total peramalan permintaan Downlight PT. Skylite Surya Internusa pada periode berikutnya
2. Untuk mengetahui perhitungan total biaya produksi dengan chase strategy, level strategy dan mixed strategy
3. Untuk mengetahui strategi perencanan agregat yang tepat untuk diterapkan bagi PT. Skylite Surya Internusa dalam memenuhi permintaan konsumen
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini sebagai berikut : 1. Manfaat bagi perusahaan
Memberikan masukan dan bahan pertimbangan untuk PT. Skylite Surya Internusa dalam melakukan peramalan permintaan dan sebagai pedoman dalam melakukan perencanaan agregat untuk meminimalisasi biaya produksi dan menghindari keterlambatan waktu produksi pada PT. Skylite Surya Internusa .
2. Manfaat Bagi penulis
Menambah pengetahuan mengenai metode peramalan dan perencanaan agregat untuk meminimalisasi biaya produksi dan menambah pengetahuan mengenai aplikasi teori yang sudah dipelajari selama perkuliahan dengan kegiatan yang ada di lapangan.
3. Manfaat Bagi pembaca
Menambah pengetahuan tentang perencanaan agregat dan model peramalan yang dapat digunakan dalam menghadapi persaingan di bisnis dan sebagai bahan pembelajaran untuk penelitian selanjutnya bagi pembaca yang ingin melakukan penelitian yang memiliki konsep menyerupai penelitian ini.
1.6 State of the Art
Konsep dasar dalam penelitian ini dengan menjadikan acuan penelitian terdahulu yang akan dijabarkan sebagai berikut :
Tabel 1.3 State of the Arts
Pengarang Judul Ringkasan Jurnal
Pradeep Kumar Sahu dan Rajesh Kumar (2014) The Evaluation of Forecasting Methods for Sales of Sterilized Flavoured Milk in Chhattisgarh
Dalam melakukan peramalan penjualan produk, perusahaan memiliki beberapa model dan aplikasi. Terdapat beberapa metode peramalan yang dapat di gunakan oleh perusahaan, didukung dengan menghitung keakuratan metode peramalan dapat menggunakan Mean Forecast Error (MFE), Mean Absolute Deviation (MAD), Mean Square Error (MSE) dan Root Mean Square Error (RMSE). Paweł Hanczar dan Michał Jakubiak (2011) Aggregate Planning in Manufacturing Company – Linear Programming Approach
Perencanaan agregat merupakan proses untuk menerjemahkan perkiraan permintaan atau rencana penjualan ke dalam rencana produksi. Dengan jumlah produksi yang diusulkan, waktu input, tingkat persediaan dan beban pekerjaan untuk setiap tenaga kerja. Bachtiar H. Sinamora dan Desty Natalia (2014) Aggregate Planning for Minimizing Costs : A Case Study of PT XYZ in Indonesia
Penelitian ini mempertimbangkan tiga alternatif yaitu Chase, Level dan Mixed Strategy. Penerapan Mixed Strategy merupakan pilihan terbaik untuk perusahaan denga biaya paling rendah.
Radwan, A., dan Majid Aarabi
Study of Implementing
Kegitaan perencanaan agregat untuk melakukan evaluasi berbagai bidang
(2011) Zachman Framework for Modeling Information Systems for Manufacturing Enterprises Aggregate Planning
seperti menentukan tingkat produksi, tingkat persediaan, subkontrak dan sumber daya manusia telah berhasil untuk diterapkan dalam permasalahan permintaan yang berlebih pada industri manufaktur Maciej Nowak (2013) An Interactive Procedure for Aggregate Production Planning
Meminimalkan biaya produksi merupakan tujuan dari perencanaan agregat dengan memperlancar tingkat kerja, tingkat persediaan dan
meningkatkan layanan. Linear pemograman digunakan untuk menghasilkan solusi awal. Sumber : Penelitian Terdahulu