• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I Pendahuluan. 1. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I Pendahuluan. 1. Latar Belakang Masalah"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

DAMPAK PELANGGARAN ASUSILA (KAMESUMICHACARA) PERZINAAN BAGI PERUMAH TANGGA MENURUT KAJIAN BUDDHIS

Oleh : KISWATI, S.Ag.

(Penyuluh Agama Buddha Kemenag Kab. Pati)

BAB I Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah

Keinginan hubungan seksual atau libido seksualitas merupakan naluri yang ada pada manusia untuk menikmati hubungan itu sekaligus upaya mengembangkan jenis. Hanya saja, pada manusia yang lebih dominan adalah untuk menikmati hubungan seks ketimbang mengembangkan jenis. Oleh karena itu, naluri tersebut tidak bisa dibendung begitu saja tanpa ada solusi yang benar. Ajaran Buddha merupakan petunjuk bagi manusia agar dalam menempuh kehidupannya didunia tidak tersesat sehingga manusia memperoleh keselamatan di dunia dan di kehidupan selanjutnya. Kepada manusia diberikan aturan-aturan hidup yang cocok sebagai makhluk yang derajatnya lebih tinggi dibanding makhluk yang lain. Tidak dibiarkan manusia menyalurkan hasrat seksualnya secara bebas, tetapi juga tidak dilarang melakukan hubungan seksual itu secara legal dan dilakukan melalui prosedur yang benar. Untuk itu jika manusia memilih hidup untuk berumah tangga maka dianjurkan supaya melaksanakan perkawinan yang SAH dan melarang perbuatan zina.

Perkawinan sebagai pintu gerbang bagi manusia memasuki kehidupan berkeluarga yang aman, damai, sejahtera dan bahagia lahir batin. Dalam perkawinan itu manusia dapat menikmati hubungan hubungan seksual secara terhormat sekaligus dapat menyambung keturunan. Sementara zina adalah jalan menuju kerusakan yang dapat mengakibatkan manusia turun derajatnya dari martabat mulia menuju derajat hina. Kendati Buddha telah memberikan tuntunan hidup melalui perkawinan agar manusia mau melaksanakannya demi menjaga harkat dan martabatnya, namun tidak semua manusia mau menurutinya. Hal itu dikarenakan adanya godaan yang sangat kuat dari dalam dan dari luar dirinya sehingga banyak manusia yang tidak kuat menahan godaan itu dan akhirnya melanggar ajaran Buddha seperti yang tertuang dalam Pancasila Buddhis sila ke 3 (tiga) yaitu kamesumicchacara. Untuk itu penelitian mengenai dampak pelanggaran asusila (kamesumicchara) bagi perumah tangga peting untuk dilakukan.

(2)

2. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Zina?

2. Apa saja jenis-jenis dari perzinaan?

3. Bagaimana dampak pelanggaran asusila (kamesumichacara) perzinaan bagi perumah tangga dalam kajian Buddhis?

4. Hukum apa saja yang menjerat pelaku perzinaan? 5. Bagaimana cara menghindari perzinaan?

3. Tujuan Penelitian

Dapat menjelaskan dampak pelanggaran asusila (kamesumichacara) bagi perumah tangga menurut kajian Buddhis

(3)

BAB II Pembahasan

1. Pengertian Zina

Libido seksualitas merupakan dorongan nafsu seksual dari dalam diri manusia, sedangkan bentuk tubuh, suara, gerak gerik, dan tata busana lawan jenis adalah rangsangan dari luar yang membangkitkan nafsu seks itu. Akibatnya, banyak manusia yang melakukan perzinaan karena tidak kuat melawan rangsangan itu untuk menuruti kemauan hawa nafsu. Padahal seperti telah disinggung di atas, Tuhan melarang perbuatan zina karena zina adalah cara penyaluran nafsu seksual yang dapat merendahkan martabat kemanusiaan. Dalam perkembangannya, pemaknaan dan pendefinisian terhadap kata “zina” mengalami diaspora. Zina (ejaan tidak baku) adalah perbuatan persetubuhan antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat pernikahan atau perkawinan.Secara umum, zina bukan hanya di saat manusia telah melakukan hubungan seksual, tetapi segala aktivitas-aktivitas seksual yang dapat merusak kehormatan manusia termasuk dikategorikan zina. Menurut agama Buddha, zina adalah satu dari lima perbuatan paling terlarang bersama pembunuhan, kebohongan, pencurian dan meminum arak. Zina adalah hubungan seksual secara illegal. Dalam pengertian lain, zina adalah perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan perkawinan.

2. Jenis-jenis perbuatan Zina

Dari segi dampak yang ditimbulkan, bentuk-bentuk perbuatan zina dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu: Pertama, perbuatan zina yang dominan berdampak negatif terhadap diri sendiri; Kedua, perbuatan zina yang dominan merusak diri pelaku tetapi berdampak pada masyarakat, dan; Ketiga, perbuatan zina yang dominan berdampak negatif kepada orang lain atau masyarakat tetapi juga merusak diri sendiri.

Penggolongan perbuatan zina menjadi tiga macam ini sangat penting untuk menentukan jenis hukuman apa yang akan ditimpakan kepada para pelakunya. Dari ketiga penggolongan ini pula dapat diketahui mengapa tidak setiap perbuatan zina ada sanksi hukumnya. Pelaku perbuatan zina jenis pertama tidak diancam dengan hukuman badan karena perbuatan ini tidak menimbulkan efek negatif kepada masyarakat atau tidak melukai rasa keadilan masyarakat. Zina jenis ini bersifat individual, tidak melibatkan orang lain. Efek yang

(4)

ditimbulkan oleh perbuatan itu berupa pengaruh negatif pada diri si pelaku, yaitu tumbuhnya rasa sepele atau menganggap enteng terhadap dosa terutama dosa-dosa yang berkaitan dengan kesusilaan. Contohnya, zina mata, zina telinga, dan zina tangan. Namun demikian, perbuatan-perbuatan tersebut tetap merupakan suatu dosa karena perbuatan-perbuatan-perbuatan-perbuatan tersebut menimbulkan rasa malu jika diketahui oleh orang lain. Sehingga, ketika melakukan perbuatan-perbuatan tersebut orang selalu bersembunyi dari pandangan orang lain. Pelaku perbuatan zina jenis kedua sudah melibatkan pihak lain atau ada pasangannya tetapi tidak berdampak langsung merugikan atau menelantarkan orang lain. Perbuatan ini hanya merusak atau merugikan para pelaku itu sendiri sehingga tidak mengganggu ketentraman dan ketertiban masyarakat. Namun demikian, perbuatan tersebut tetap dikatakan sudah menodai rasa kesusilaan masyarakat meskipun belum mengganggu keamanan dan ketertiban, karena masyarakat menganggapnya sebagai perbuatan tidak terpuji, seperti homo seksual, lesbian, zina dengan binatang dan lain-lain.

Berikut macam-macam zina dan contohnya: (1) Zina yang dilakukan dengan menggunakan panca indera ini seperti zina mata. Bisa menjadi zina ketika seseorang memandang lawan jenisnya dengan perasaan senang. Zina hati ketika memikirkan atau mengkhayalkan lawan jenis dengan perasaan senang dan bahagia. (2) Zina ucapan merupakan zina yang dilakukan dengan membicarakan lawan jenis yang diikuti dengan perasaan senang. (3) Zina tangan merupakan zina yang dilakukan dengan sengaja memegang bagian tubuh lawan jenis diikuti dengan perasaan senang dan bahagia. (4) Zina luar yaitu zina yang dilakukan antar lawan jenis yang bukan pasangan sah dengan melibatkan alat kelamin. (5) Zina yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah menikah atau telah memiliki suami atau istri. Artinya, seseorang yang telah menikah atau memiliki suami atau istri namun tidak menjaga diri dari orang lain yang bukan pasangan sahnya atau bisa disebut berselingkuh.

3. Dampak dari melakukan Zina

Perbuatan zina telah melanggar sila ke-3 Pancasila Buddhis, yaitu: Kāmesumicchācāra veramaṇī sikkhāpadaṃ samādiyāmi. (Aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan asusila). Selain itu, Sang Buddha dalam Dhammapada yang berjudul "Perzinahan membawa seseorang pergi ke neraka" memberi nasihat sebagai berikut: ”Orang yang lengah dan berzina akan menerima empat ganjaran, yaitu : pertama, ia akan menerima akibat buruk; kedua, ia

(5)

tidak dapat tidur dengan tenang; ketiga, namanya tercela; dan keempat, ia akan masuk ke alam neraka”

— Dhammapada, Niraya Vagga, Bait 4

Terdapat perolehan ketidakberuntungan yang sama seperti takdir jahat. Singkatnya seperti kesenangan antara pria dan wanita yang ketakutan. Sang raja menjatuhkan hukuman berat. Oleh karena itu tak ada satupun pria yang berani mendekati istri orang lain.

— Dhammapada, Niraya Vagga, Bait 5 (https://www.wikiwand.com/id/Zina) pada hari Jumat, 19 Februari 2021.

Mengenali sebab-sebab penderitaan dalam PARABHAVA SUTTA

Terdapat 12 (dua belas) sebab – sebab penderitaan yang dikemukakan oleh SANG BUDDHA ketika menjawab pertanyaan seorang dewa yang ingin mengetahui tentang sebab – sebab penderitaan dalam PARABHAVA SUTTA ini. Kedua belas sebab-sebab penderitaan tersebut antara lain :

1. Orang yang mengingkari Dharma.

2. Ia yang mencintai orang-orang jahat, dan tidak berbuat sesuatu yang menyenangkan orang baik-baik, tetapi menyenangi kejahatan dan tipu muslihat.

3. Orang yang senang tidur, senang pergaulan yang foya-foya, malas, mudah tersinggung, tidak bersemangat.

4. Orang yang berada dalam keadaan makmur, tetapi tidak menyokong ibu dan ayahnya yang telah tua dan lemah.

5. Ia yang dengan berbohong menipu seseorang brahmana atau samana, atau para orang suci lainnya.

6. Orang yang memiliki kekayaan berlimpah-limpah (emas dan makanan), namun ia hanya memakainya untuk dirinya sendiri tanpa membagikannya pada orang lain (yang membutuhkannya).

7. Orang yang merasa sombong atas keturunannya, kekayaan dan sukunya, bahkan merendahkan sanak keluarganya sendiri.

8. Ia yang menyerahkan dirinya pada wanita-wanita, minuman keras, perjudian serta menghamburkan apa yang diperolehnya dengan susah payah.

9. Orang yang tidak puas dengan istrinya sendiri, berhubungan dengan wanita-wanita pelacur, serta terlihat bersama-sama dengan istri orang lain.

(6)

10. Orang yang telah melewati masa mudanya, tetapi membawa pulang seorang wanita berpayudara buah timbaru, dan tidak dapat tidur karena merasa cemburu terhadap dia. 11. Ia yang memuliakan seorang wanita yang serakah, yang suka menghamburkan harta

kekayaan, atau lelaki yang sejenis itu.

12. Ia yang memiliki sedikit kekayaan, tetapi mempunyai banyak keinginan, terlahir sebagai seorang ksatria namun mengharapkan sebuah kerajaan (https://www.oocities.org/sutra_online/sutra_parabhava.htm) pada hari Jumat, 19 Februari 2021.

Bahaya Melakukan Zina Bagi Pelakunya - Melakukan zina dapat memupuk dosa

- Melakukan zina dapat merusak martabat pelaku di hadapan Tuhan dan dihadapan masyarakat sehingga pelaku zina tidak memiliki rasa malu lagi

- Pelaku zina akan kekal dalam kemiskinan dan tidak akan merasa cukup dengan apa yang mereka miliki

- Pelaku zina akan terlahir di alam neraka

- Pelaku zina terputus tali silaturahmi, menjadikan sifat mara, durhaka pada orang tua, mendapatkan nafkah atau pekerjaan yang haram, serta sia-siakan keluarga dan keturunannya

- Pelaku zina akan merusak masa depannya

- Pelaku zina akan mendapatkan aib berkepanjangan

- Pelaku zina dapat memicu pertengkaran, permusuhan, sampai pada dendam - Pelaku zina dapat terjangkit penyakit berbahaya

4. Hukuman bagi pelaku perzinaan

Kejahatan kesusilaan banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat, dalam perkembangannya kejahatan kesusilaan semakin meningkat, seperti kasus perzinaan. Kejahatan terjadi di dalam kehidupan masyarakat dilatarbelakangi dengan perilaku dan pola pikir antar warga masyarakat yang berlawanan jenis kelamin. Kasus perzinaan adalah kejahatan yang sulit untuk dibuktikan, hanya jika kejadian itu diketahui oleh pasangan yang berbuat zina dan akan lebih sulit dikenali karena perbuatan itu dilakukan di tempat-tempat tertentu. Kasus perzinaan merupakan delik aduan, oleh karena itu menjadi kendala karena ada anggapan dari kalangan masyarakat yang merasa malu untuk melapor atau dapat dikatakan membuka aib keluarga sendiri.

(7)

Dalam proses penegakan hukum terhadap perzinaan tidak hanya berpegang kepada ketentuan-ketentuan hukum pidana dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tetapi harus dihubungkan dengan lingkungan sosial masyarakat.

Unsur-unsur tindak pidana dibedakan menjadi 2 macam yakni unsur subyektif dan unsur obyektif. Unsur-unsur subyektif yaitu: a) Orang yang mampu bertanggungjawab b) Kesalahan artinya perbuatan harus dilakukan dengan kesalahan Unsur obyektif yaitu :a) Perbuatan orang, b) Akibat yang kelihatan dari perbuatan itu, c) Ada keadaan tertentu yang menyertai perbuatan itu Tindak Pidana Perzinaan. Masalah yang terjadi pada manusia datang silih berganti, terkadang manusia sering kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Karena masalah yang muncul diringi dengan nafsu yang berlebihan maka masalah tersebut semakin banyak dan beragam. Dalam diri manusia terdapat kemauan untuk hidup yang menjadi sumber bagi timbulnya kreativitas namun juga sering muncul kemauan untuk berkuasa yang akhirnya akan menjadi sumber berbagai tindakan buruk pada diri manusia. Masalah yang muncul dalam rumah tangga adalah kejahatan kesusilaan yakni perzinaan, perzinaan merupakan perbuatan yang tercela, melecehkan dan menodai perkawinan.

Setiap negara yang penduduknya memiliki agama dan penganut suatu kepercayaan secara nyata, perzinaan adalah ilegal dan diberikan sanksi terhadap pelakunya. Dalam Pasal 284 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia dijelaskan bahwa yang terancam pidana jika yang melakukan zina adalah salah seorang dari wanita atau pria atau kedua-duanya dalam status sudah kawin. Dengan demikian, perbuatan zina menurut hukum di Indonesia baru dianggap sebagai suatu tindak pidana dan dapat dijatuhkan hukuman ketika hal itu melanggar kehormatan perkawinan.

Sanksi zina menurut pasal 284 KUHP adalah sebagai berikut :

1. Zina dapat dijadikan sebagai delik apabila terbukti adanya perzinaan (salah satu pihak telah kawin secara sah menurut lembaga perkawinan.

2. Zina merupakan delik aduan absolut, yang pelakunya dapat dipidana apabila ada pengaduan dari pihak istri atau suami.

3. Pelaku zina diancam dengan pidana selama 9 (sembilan) bulan.

4. Pasal 284 KUHP ayat (1) hanya memberikan hukuman pidana penjara selama-lamanya 9 (sembilan) bulan.

Contoh kasus : Kasus perzinaan yang melibatkan NL (oknum anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku) terjadi pada 14 Desember 2019 di sebuah penginapan di Saumlaki, Kepulauan Tanimbar. Kasus tersebut berawal dari perselingkuhan Kader Partai Golkar dengan PB yang berstatus istri orang. Saat itu NL yang sedang berduaan dengan

(8)

selingkuhannya PB di dalam kamar penginapan digerebeg oleh GM yang merupakan suami PB. Saat penggerebegan itu, GM yang ditemani salah seorang anggota TNI ikut mendapati celana dalam istrinya diatas tempat tidur. Selain barang bukti berupa celana dalam yang tertinggal, ada juga rekaman cctv hotel yang memperlihatkan pasangan selingkuh tersebut masuk ke kamar hotel berduaan. NL ditetapkan sebagai tersangka pada selasa (26/1/2021) https://www.tribunnews.com/regional/2021/01/29/anggota-dprd-kepulauan-tanimba-jadi-tersangka-kasus-perzinahan (pada hari Minggu, 21 Februari 2021).

5. Cara menghindari perbuatan Zina

Beberapa cara efektif yang bisa kita lakukan untuk menghindarkan diri dari perbuatan zina adalah sebagai berikut :

1. Hindari mendekati tempat-tempat maksiat yang dapat memberikan peluang dan kesempatan untuk berzina. Sekali kita melangkah masuk ke tempat tersebut, akan sulit untuk berpaling dari beragam kemaksiatan.

2. Jangan mendekati hal-hal yang menjurus kepada perbuatan zina, seperti berpacaran,berciuman, berpelukan dengan lawan jenis, menonton film porno, atau membaca buku-buku yang didalamnya terdapat konten pornografi. Mendekati hal-hal yang menjurus kepada zina akan menyebabkan orang tersebut terobsesi untuk melakukan perzinaan.

3. Memilih teman bergaul yang baik dan tidak suka mengunjungi tempat-tempat maksiat. Sebab, teman yang saleh akan menebarkan kebaikan kepada temannya, serta selalu mengingatkan tentang bahaya perzinaan.

4. Menambah ilmu pengetahuan agama dengan menghadiri perkumpulan vihara dan organisasi. Selain itu, kita juga perlu mengunjungi orang-orang suci yang akan mengingatkan diri untuk selalu waspada terhadap godaan nafsu dan jebakan ilusi setan dalam perzinaan.

5. Membaca buku-buka Dhamma dan sutta-sutta Buddha yang secara spesifik mengingatkan pembacanya tentang bahaya perzinaan. Dengan memahami bahayanya, seseorang akan menyadari pentingnya menghindari zina dalam kehidupan bermasyarakat.

6. Membaca kitab suci Tipitaka sambil merenungi tafsirnya, mengindahkan sabda-sabda Buddha, dan mendengarkan nasehat Rohaniawan dan Tokoh agama Buddha tentang

(9)

pentingnya menjauhi perbuatan asusila yaitu berzina. Mari menjaga tingkah laku diri kita sehingga terhindar dari bahaya perzinaan.

(10)

BAB III Penutup

Kesimpulan

Kebahagiaan yang diharapkan oleh perumahtangga adalah kebahagiaan lahir dan batin. Kebahagiaan lahir dapat dicapai dengan terpenuhinya kebutuhan jasmani. Kebutuhan jasmani dapat terpenuhi bila para pasangan hidup rajin dan bersemangat dalam mengerjakan apa saja, ia produktif berminat dan meneliti cara-cara yang ditempuh, serta mampu mengelola secara teratur, menjaga dengan hati-hati kekayaan apapun yang telah diperolahnya, dan tidak membiarkannya hilang dan mudah dicuri. Memiliki teman-teman yang baik, tidak bergaul dengan orang jahat, menempuh cara hidup yang sesuai dan seimbang dengan penghasilannya.

Pelaksanaan sila bagi perumah tangga sangat perlu untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga perilaku menyimpang seperti perbuatan asusila akan mudah dihindari. Dengan pelaksanaan sila yang baik, badan jasmaninya tanpa ternodai dengan kejahatan yang nantinya akan membawa ketenangan batin. Kejahatan kesusilaan banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat, dalam perkembangannya kejahatan kesusilaan semakin meningkat, seperti kasus perzinaan.

Pernikahan itu suci dan kebahagiaan keluarga secara lahir batin itu tidak bisa dinilai dengan apapun, maka janganlah nodai perkawinan dengan perbuatan tercela yaitu tindakan asusila perzinaan. Karena zina itu hina dan menghinakan. Dan dampak pelanggaran asusila (kamesumichacara) perzinaan itu dominan kepada diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Agar terhindar dari perbuatan perzinaan maka setialah kepada pasangan, mengasihi dengan tulus, saling menghargai, perbanyak membaca kitab suci Tipitaka, bergaul dengan orang yang tepat, bermata pencaharian yang benar dan sering mendengarkan Dhamma itulah yang akan membawa kita kepada pencerahan batin dan kita selalu menghargai makna perkawinan itu sendiri.

Semoga semua makhluk hidup apapun juga..sll hidup berbahagia dan terbebas dari segala penderitaan..Sabbe satta bhavantu sukhitata..Sadhu 3x.

(11)

Daftar Pustaka (https://www.wikiwand.com/id/Zina) (https://www.oocities.org/sutra_online/sutra_parabhava.htm) https://www.facebook.com/notes/buddha-school/parabhava-sutta-sutta-kemerosotan-pada-manusia/204029642974115/ https://www.tribunnews.com/regional/2021/01/29/anggota-dprd-kepulauan-tanimba-jadi-tersangka-kasus-perzinahan http://digilib.uinsgd.ac.id/8086/6/6_Bab%203.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Kemajuan tambang berfungsi untuk mengetahui kemajuan tambang setiap bulan dengan rencana produksi yang ditargetkan, sehingga dapat mencapai target produksi.Kemajuan tambang

Kecamatan dengan pertumbuhan tenaga kerja sub sektor perikanan di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2007 hingga tahun 2011 adalah Kecamatan Playen dan yang terendah adalah

Bab II Merupakan pendeskripsian hubungan Host dengan materialisme dan hedonisme yang berisi mengenai masalah seperti tujuan serta alasan-alasan Host menjadi nomor satu

adalah ب ٍ هَذَ. Dalam tata bahasa arab setiap Jumlah akan memiliki syarat-syarat tertentu sehingga ia mampu membentuk suatu Jumlah. Adapun syarat-syarat idhofah adalah :. a)

Metode perakitan yang bagian-bagian yang akan dirakit dapat ditukarkan satu sama lain, karena bagian tersebut dibuat oleh suatu pabrik secara massal dan sudah distandarkan

Untuk menjawab tujuan pertama menurut Hadisapoetro (1973) dalam Suratiyah (2008) berpendapat bahwa untuk memperhitungkan pendapatan usaha tani jagung dapat dihitung melalui

Jual beli adalah akad mu‟awadhah (timbal balik) atas selain manfaat dan bukan pula untuk menikmati kesenangan, bersifat mengalahkan salah satu imbalannya bukan

Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah opini audit qualified yaitu opini audit yang diberikan auditor apabila auditee menyajikan secara wajar laporan