• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTIFIKASI TIKUS DAN DAN PINJAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IDENTIFIKASI TIKUS DAN DAN PINJAL"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM

IDENTIFIKASI TIKUS DAN DAN PINJAL

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengendalian Vektor

Disusun oleh : IKA NUR RIZKI NIM : P07133112024

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2013

(2)

IDENTIFIKASI TIKUS DAN PINJAL

A. JUDUL PRAKTIKUM : Identifikasi tikus dan pinjal (ectoparasit) B. HARI DAN TANGGAL : Rabu, 22 Mei 2013

C. TUJUAN :

1. Dapat mengetahui cara melakukan identifikasi tikus.

2. Dapat mengetahui cara melakukan pengambilan ectoparasit tikus (pinjal). 3. Dapat mengetahui jenis [injal yang

terdapat pada tikus yang diamati. D. Dasar Teori

Tikus adalah satwa liar yang seringkali berasosiasi dengan kehidupan manusia. Asosiasi tikus dengan manusia seringkali bersifat parasitisme, tikus mendapatkan keuntungan sedangkan manusia sebaliknya. Tikus sering menimbulkan gangguan bagi manusia dibidang : kesehatan; pertanian; peternakan; rumah tangga.

A. Morfologi Tikus

Klasisifikasi Tikus

No. Tingkatan Takson Golongan

1. Dunia Animalia

2. Phyllum (Filum) Chordata

3. Sub filum Vertebrata (Craniata)

4. Kelas Mammalia

5. Sub kelas Theria

6. Infra Kelas Eutheria

7. Ordo Rodentia

(3)

9. Famili Muridae

10. Sub family Murinae

11. Genus Bandicota

Ordo Rodentia merupakan ordo dari kelas Mammalia yang terbesar karena memiliki jumlah spesies terbanyak yaitu 2.000 spesies (40 %) dari 5.000 spesies untuk seluruh kelas Mammalia. Dari 2.000 spesies Rodentia, hanya kurang lebih 150 spesies tikus yang ada di Indonesia dan hanya 8 spesies yang paling berperan sebagai host (vektor) dari agent patogen terhadap manusia dan hama pertanian. Delapan spesies tsb : Rattus norvegicus (tikus riol/got/selokan/kota), Rattus-rattus

diardii (tikus rumah/atap), Mus musculus (mencit rumah), Rattus exulans (tikus

ladang), Bandicota indica (tikus wirok), Rattus tiomanicus (tikus pohon), Rattus

argentiventer (tikus sawah), Mus caroli (mencit ladang).

R.norvegicus, R.rattus dan M.musculus mempunyai distribusi geografi yg menyebar diseluruh dunia sehingga disebut sebagai hewan kosmopolit. Sisanya hanya sekitar Asia dan Asia Tenggara saja. Tikus wirok, tikus riul, tikus sawah dan mencit ladang termasuk hewan terestrial yg dicirikan dengan ekor relatif pendek thdp kepala dan badan serta tonjolan pada telapak kaki yg relatif kecil dan halus. Tikus pohon, tikus rumah (atap), tikus ladang dan mencit rumah termsuk hewan arboreal yg dicirikan dgn ekor yg panjang serta btonjolan pd telapak kai yg besar dan kasar.

Salah satu ciri terpenting dari Ordo Rodentia (hewan pengerat) adalah kemampuannya untuk mengerat benda-benda yg keras. Maksud mengerat untuk mengurangi pertumbuhan gigi serinya terus menerus. Pertumbuhan gigi seri yg terus menerus disebabkan oleh tidak adanya penyempitan pada bagian pangkalnya sehingga terdapat celah yg disebut diastema. Diastema berfungsi untuk membuang kotoran yg ikut terbawa dgn pakannya masuk kedalam mulut. Rodentia tidak mempunyai gigi taring, sehingga ada cekah antara geraham dan gigi seri (diastema).

(4)

Rumus gigi tikus : 1 0 0 3 --- ---- x 2, jumlahnya 16 1 0 0 3 I C Pm M

Ket : I (incisiva) = gigi seri C (canina) = gigi taring

Pm (pre-molar) = gigi geraham depan M (molar) = gigi geraham belakang

Kerabat dekat tikus : bajing, landak, marmut, kelinci serta tikus putih dan mencit putih ( telah kehilangan pigmen-albino). Cecurut dan tupai bukan kerabat tikus tetapi mirip tikus. Penyakit yang ditularkan melalui tikus : Pes (plague), Salmonellosis, Leptospirosis, Murine Typhus, Rickettsial pox, Lassa, Rodent-borne Haemorrhagic Fevers, Lymphocytic choriomeningitis, Rabies, Rat-bite fever, Trichinosis.

Dalam pengendalian tikus dibutuhkan pengetahuan dasar untuk pengendalian tikus dan metode pengendalian. Pengetahuan dasar untuk pengendalian tikus meliputi Identifikasi, Biologi dan perilaku tikus, Tanda keberadaan tikus, Rodentisida, Resistensi tikus terhadap rodentisida, Bahaya rodentisida bagi manusia. Metode pengendalian tikus meliputi : Sanitasi, Kultur teknis, Fisik mekanis, Biologis atau hayati, serta Kimiawi.

Dengan telah dapatnya kita mengenal tikus maka belum cukuplah pengetahuan kita kalau tidak dilengkapi dengan bahaya ataupun pengaruh-pengaruh yang dapat ditimbulkannya. Tikus dapat manimbulkan permasalahan dalam kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung.

Tikus dapat manimbulkan berbagai gangguan dan kerugian, antara lain dalah :

1. Menimbulkan karugian ekonomi karena tikus memakan bahan-bahan makanan yang dihasilkan manusia.

(5)

2. Menimbulkan kerusakan pada perabot rumah tangga dan juga kerusakan pada bangunan atau gudang penyimpanan bahan makanan.

3. Dibidang kesehatan tikus-tikus tersebut berperan sebagai tuan rumah perantara untuk beberapa jenis penyakit yang dikenal sebagai Rodent –

borne diseases.

E. Alat dan Bahan Alat :

1. Perangkap tikus

2. Peralatan Identifikasi tikus : - Papan atau kertas putih - Pinset

- Sarung tangan - Toples

- Mistar

- Kantong terigu - Sisir kutu/ pinjal - Masker Bahan : 1. Kapas 2. Umpan 3. Chloroform F. Prosedur kerja :

1. Membawa tikus hasil tangkapan ke laboratorium rekayasa 2. Mematikan tikus dengan cara :

- Mengeluarkan tikus dari perangkap dengan cara memasukkan tikus kedalam kantong terigu dengan hati- hari secara perlahan agar tikus tidak lompat atau lari.

(6)

- Memasukkan tikus ke dalam stoples, lalu tutup rapat toples.

- Mengambil kapas secukupnya dan membasahi kapas dengan chloroform.

- Masukkan kapas yang telah dibasahi chloroform kedalam toples secara perlahan.

- Menunggu tikus sampai mati didalam toples ( untuk memastikan tikus sudah mati atau belum dengan cara menggoyang-goyangkan toples).

3. Mengambil ectoparasit( pinjal ) yang ada pada tikus dengan cara melakukan penyisiran dan meletakkan tikus diatas kertas putih.

4. Jika terdapat ectoparasit ( pinjal ) , mengambil kertas yang digunakan sebagai alas untuk kemudian digunakan sebagai pembungkus dan membawanya ke laboratorium untuk melakukan pengamatan dengan melakukan pengamatan dengan mikroskop untuk identifikasi selanjutnya.

5. Melakukan identifikasi tikus menggunakan kunci identifikasi diantaranya :

- Diastema

- HB (head and body)

Diukur dari kepala sampai anus. - T( Tail )

Diukur dari ujung anus hingga ujung ekor. - TL ( Total Long )

Diukur dari keseluruhan ujung moncong hingga ujung ekor. - E (Ears)

Diukur dari telinga yang paling dalam hingga ujung telingga luar. - HF ( behaind Foot )

Diukur dari bagian ujung tumit sampai bagian ujung kuku yang paling dalam.

(7)

Dengan cara memegang bagian atas tikus sampai ketemu cekungannya

- M (Mamei)

Ada kelenjar susu atau tidak. G. Hasil pengamatan dan Pembahasan

a. Pemeriksaan jenis tikus rumah ( Ratus- ratus diardi) Tikus yang diambil di kontrakan salah satu mahasiswi

NO Nama Identifikasi Hasil

1 Diastema Rongga mulut berdiastema

2 HB ( hand and body ) 8 Cm

3 T ( tale ) 12 Cm 4 TL ( total long ) 23 Cm 5 E ( ear ) 2 Cm 6 HF (behind foot ) 2,5 Cm 7 SK 3 Cm 8 M (mamei) 8

Dari hasil pemeriksaan ditemukan pinjal pada tikus,maka dilakukan langkah berikutnya yaitu identifikasi pinjal yang di lakukan dilaboratorium.

(8)

b. Pemeriksaan jenis tikus got ( Ratus Norway Rate) Tikus yang diperoleh dari sekitar asrama

NO NamaIdentifikasi Hasil

1 Diastema Rongga mulut berdiastema

2 HB ( hand and body ) 20 Cm

3 T ( tale ) 19 Cm 4 TL ( total long ) 46 Cm 5 E ( ear ) 2 Cm 6 HF (behind foot ) 5 Cm 7 SK 7 Cm 8 M (mamei) - (jantan)

Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan pinjal pada tikus.

H. Pembahasan

Berdasarkan hasil yang diperoleh, dan dilihat dari ciri-cirinya tikus pertama yang diamati termasuk jenis tikus Rattus-rattus diardii (tikus rumah/atap). Yang memiliki ciri- ciri : Hidung runcing, badan kecil, 8cm, ekor lebih panjang dari kepala dan badan,warna tua merata, telinga besar, tegak, tipis. Serta saat dilakukan penyisiran ditemukan pinjal dalam tikus ini sehingga dilakukan pengamatan lebih lanjut dengan mengamati jenis pinjal tersebut dengan mikroskop.

(9)

Dan tikus kedua yang diamati merupakan jenis tikus yang termasuk ke dalam spesies rattus-rattus nokrvegicus (tikus roil/got). Hal ini dapat dilihat dari ciri jenis tikus-rattus nokrvegicus (tikus roil/got) yang mencolok yaitu: bentuk badan yang silindris membesar, yang merupakan ciri utama tikus ini, selain itu juga dapat dilihat dari bentuk hidung yang tumpul (kerucut terpotong), dan proporsi tubuh (HB, T, TL, SK, HF, dan E) yang lebih besar. Namun, dalam jenis tikus ini saat dilakukan penyisiran tidak ditemukan pinjal, sehingga tidak dilakukan pengamatan lebih lanjut.

I. Kesimpulan

1. Jenis tikus yang telah teridentifikasi yakni jenis tikus rumah ( Ratus- ratus diardi) dan jenis tikus got/ roil (rattus-rattus norvegicus).

2. Metode identifikasi yang digunakan yaitu metode pengamatan dan pengukuran.

(10)

Daftar Pustaka

http://www.scribd.com/doc/100095982/Laporan-Vektor-Tikus-Dan-Pinjal http://setiya-dewi-megasari.blogspot.com/2012/02/laporan-praktikum-praktikum-entomologi.html http://mawaddah-nurjannah.blogspot.com/2012/05/laporan-pengamatan-tikus.html

Mantariputra,Marjan.Dkk. 2012. Buku panduan praktik jurusan kesehatan lingkungan edisi 1. politeknik kesehatan kementrian kesehatan kemenkes yogyakarta jurusan kesehatan ingkungan.

Referensi

Dokumen terkait

Rodentisida dengan bahan aktif brodifacoum dan bromadiolone dipilih untuk pengujian tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah karena kedua jenis rodentisida ini

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis dan m ektoparasit yang terdapat pada tikus putih ( Rattus norvegicus ) galur Sprague.. Dawley sebagai hewan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis dan m ektoparasit yang terdapat pada tikus putih ( Rattus norvegicus ) galur Sprague. Dawley sebagai hewan

Skripsi berjudul “ Identifikasi Lesi Aterosklerosis Karotis pada Tikus Wistar ( Rattus Norvegicus ) yang Diinduksi Candida albicans Intravena ” telah diuji dan disahkan

Pada penelitian ini akan diteliti efektifitas zoletil ± acepromacin dan ketamin-acepromacin pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang dilihat berdasarkan frekuensi

Hasil uji statistik diperoleh P value =0,002 maka dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara kadar pH tikus putih ( Rattus norvegiccus ) galur wistar

kebisingan terhadap hitung leukosit dan hitung jenis leukosit yang dapat mewakili kesatuan sistem imun pada tikus jantan (Rattus norvegicus) Galur

291 Secara umum akibat pemberian etinil estradiol dapat menyebabkan perubahan histopatologi ginjal tikus putih Rattus norvegicus dilihat dari adanya glomerulosklerosis dan nekrosis sel