PENGENDALIAN TIKUS POHON (Rattus tiomanicus Mill.),
TIKUS RUMAH (Rattus rattus diardii Linn.), DAN TIKUS
SAWAH (Rattus argentiventer Rob. & Klo.)
DI LABORATORIUM
HALIDYA MUTIARANI
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
ABSTRAK
HALIDYA MUTIARANI. Perancangan dan Pengujian Perangkap, Pengujian Jenis Rodentisida dalam Pengendalian Tikus Pohon (Rattus tiomanicus Mill.), Tikus Rumah (Rattus rattus diardii Linn.), dan Tikus Sawah (Rattus argentiventer
Rob. & Klo.) di Laboratorium dibimbing oleh SWASTIKO PRIYAMBODO.
Tikus pohon (Rattus tiomanicus Mill.), tikus rumah (Rattus rattus diardii
Linn.), dan tikus sawah (Rattus argentiventer Rob. & Klo.) merupakan hama penting pada habitat permukiman dan pertanian. Tikus menimbulkan banyak kerugian, seperti merusak bagian tumbuhan, hewan ternak, pakan ternak, memakan bahan makanan manusia, merusak bahan-bahan rumah tangga yang terbuat dari kayu, serta berperan sebagai pembawa penyakit bagi hewan dan manusia. Metode pengendalian terhadap tikus yang biasa digunakan oleh manusia yaitu secara mekanik dengan menggunakan perangkap dan secara kimiawi dengan menggunakan rodentisida. Perangkap merupakan metode yang sederhana, mudah untuk diaplikasikan, dan tidak berisiko terhadap lingkungan. Rodentisida merupakan metode yang sering digunakan oleh manusia untuk pengendalian tikus, walaupun metode ini tidak ramah terhadap lingkungan, akan tetapi manusia lebih menyukainya karena memberikan daya bunuh efektif dan memberikan hasil kematian tikus yang nyata. Kedua metode ini tidak selalu memberikan hasil optimal karena tikus mengalami jera perangkap dan jera umpan.
Pada penelitian ini digunakan Perangkap Baru dan Perangkap Pasar sebagai pembanding, serta digunakan rodentisida dengan bahan aktif brodifacoum dan bromadiolone. Perangkap dan rodentisida diujikan kepada tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah karena ketiga jenis tikus tersebut memiliki kemampuan yang sangat tinggi untuk menimbulkan kerusakan di lingkungan manusia. Pembuatan Perangkap Baru dilakukan dengan merancang perangkap berbentuk balok dengan ukuran 60 x 30 x 30 cm (panjang x lebar x tinggi), memiliki dua buah pintu masuk, dan satu pintu keluar. Perangkap Pasar merupakan perangkap yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk mengendalikan tikus di permukiman. Perangkap ini berbentuk balok memiliki ukuran 33 x 13 x 13 cm (panjang x lebar x tinggi), memiliki satu pintu dan pintu keluar. Pengujian dilakukan di dalam arena dengan menguji keefektifan antara Perangkap Baru dan Perangkap pasar, menguji keefektifan pengendalian tikus dengan menggunakan perangkap dibandingkan dengan rodentisida, serta menguji keefektifan pengendalian tikus dengan menggunakan perangkap dibandingkan dengan rodentisida dan umpan.
PENGENDALIAN TIKUS POHON (Rattus tiomanicus Mill.),
TIKUS RUMAH (Rattus rattus diardii Linn.), DAN TIKUS
SAWAH (Rattus argentiventer Rob. & Klo.)
DI LABORATORIUM
HALIDYA MUTIARANI
A34051948
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada
Departemen Proteksi Tanaman
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Judul Skripsi : Perancangan dan Pengujian Perangkap, Pengujian Jenis Rodentisida dalam Pengendalian
Tikus Pohon (Rattus tiomanicus Mill.), Tikus Rumah (Rattus rattus diardii Linn.), dan Tikus Sawah (Rattus argentiventer Rob. & Klo.) di Laboratorium
Nama Mahasiswa : Halidya Mutiarani
NRP : A34051948
Disetujui, Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Swastiko Priyambodo, M.Si NIP 19630226 198703 1001
Diketahui,
Ketua Departemen Proteksi Tanaman
Dr. Ir. Dadang, M.Sc NIP 19640204 199002 1002
Penulis dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 21 Mei 1987 sebagai putri kedua dari pasangan Bapak Rd. Yudhato dan Ibu Sri Wuryani.
Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas pada tahun 2005 di SMA Negeri 2 Bogor. Pada tahun 2005 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor, Fakultas Pertanian, Program Studi Proteksi Tanaman melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul “Perancangan dan Pengujian Perangkap, Pengujian Jenis Rodentisida dalam Pengendalian Tikus Pohon (Rattus tiomanicus Mill.), Tikus Rumah (Rattus rattus diardii Linn.), dan Tikus Sawah (Rattus argentiventer Rob. & Klo.) di Laboratorium”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada beberapa pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Ibunda atas perhatian, semangat, dukungan lahir batin, cinta, do’a dan kasih sayang yang tidak ada habisnya untuk penulis.
2. Almarhum ayahanda atas semangat dan dukungan batin yang selalu dirasakan oleh penulis.
3. Dr. Ir. Swastiko Priyambodo, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah mencurahkan waktu, perhatian, semangat, bimbingan, saran, dan masukan selama berlangsungnya penelitian hingga penyusunan skripsi ini.
4. Ir. Titik Siti Yuliani, SU selaku dosen penguji tamu atas masukan dan saran untuk perbaikan skripsi ini.
5. Seluruh staf pengajar di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor atas ilmu yang telah diberikan selama penulis menuntut ilmu di IPB.
6. Bapak Ahmad Soban, Johan, Purwanto, Pringgo, dan Supatmi yang menemani dan bekerjasama dengan penulis selama penelitian.
7. Gazali Fadhil Cafah atas bantuan, dukungan, dan do’anya dalam melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini.
8. Ella Rahmania dan Lulu Kurnianingsih yang telah memberi semagat, dukungan, dan telah banyak membantu dalam penelitian dan penyusunan skripsi.
9. Teman seperjuangan PTN’42 atas semangat, dukungan yang tak habisnya diberikan untuk penulis
10.Teman seperjuangan TPB B-06 atas semangat, dukungan yang tak habisnya diberikan untuk penulis
Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi yang memerlukannya, terutama di bidang hama dan penyakit tumbuhan.
Bogor, Juli 2009
DAFTAR TABEL ……….. ix
Pengujian Perangkap Vs. Rodentisida ………. 17
Pengamatan yang Dilakukan ……… 17
Perilaku Tikus pada Pengujian di Laboratoium ………. 19
Perilaku Tikus di Dalam Arena ……….... 19
Jumlah Umpan yang Dikonsumsi Tikus ……….. 21
Tikus Pohon ……….. 21
Tikus Rumah……….. 21
Tikus Sawah………... 22
Pengujian Perangkap pada Tikus Pohon, Tikus Rumah, dan Tikus Sawah ……… 23
Posisi Tikus ……….. 23
Konsumsi Umpan Gabah ………. 25
Bobot Tikus ……….. 27
Pengujian Perangkap Vs. Rodentisida pada Tikus Pohon, Tikus Rumah, dan Tikus Sawah ……… 28
Posisi Tikus ……….. 28
Konsumsi Rodentisida ………. 29
Bobot Tikus ……….. 31
Pengujian Perangkap Vs. Rodentisida Vs. Umpan pada Tikus Pohon, Tikus Rumah, dan Tikus Sawah ……….. 32
Posisi Tikus ……….. 32
Konsumsi Rodentisida dan Umpan ……….. 34
Halaman 1. Posisi tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada
pengujian perangkap ………... 23 2. Konsumsi umpan gabah tikus pohon, tikus rumah, dan
tikus sawah pada pengujian perangkap ………... 26
3. Bobot tubuh tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah
pada pengujian perangkap ……….. 27
4. Posisi tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada
pengujian perangkap vs. rodentisida ………... 28 5. Konsumsi rodentisida tikus pohon, tikus rumah, dan
tikus sawah pada pengujian perangkap vs. rodentisida …...
30 6. Bobot tubuh tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah
pada pengujian perangkap vs. rodentisida ……….. 31
7. Posisi tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada
pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan …………. 32 8. Konsumsi rodentisida, umpan beras, dan gabah tikus
pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian
perangkap vs. rodentisida vs. umpan……… 35
9. Bobot tubuh tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Arena Pengujian ……….. 13
2. Perangkap Baru ……… 14
3. Perangkap Pembanding ………... 14
4. Brodifacoum ……… 15
5. Bromadiolone ……….. 15
6. Tikus Pohon Mengonsumsi Gabah pada Perangkap Pasar ………. 26
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Analisis ragam posisi tikus pohon pada
pengujian perangkap ………. 42
2. Analisis ragam posisi tikus rumah pada
pengujian perangkap ………. 42
3. Analisis ragam posisi tikus sawah pada
pengujian perangkap ………. 42
4. Analisis ragam posisi tikus pohon pada
pengujian perangkap vs. rodentisida ……… 42
5. Analisis ragam posisi tikus rumah pada
pengujian perangkap vs. rodentisida ……… 42
6. Analisis ragam posisi tikus sawah pada
pengujian perangkap vs. rodentisida ………. 43
7. Analisis ragam posisi tikus pohon pada pengujian perangkap vs. rodentisida
vs. umpan ……….. 43
8. Analisis ragam posisi tikus rumah pada pengujian perangkap vs. rodentisida
vs. umpan ……….. 43
9. Analisis ragam posisi tikus sawah pada pengujian perangkap vs. rodentisida
vs. umpan ……….. 43
10.Analisis ragam konsumsi tikus pohon pada
pengujian perangkap ………. 43
11.Analisis ragam konsumsi tikus rumah pada
pengujian perangkap ………. 44
12.Analisis ragam konsumsi tikus sawah pada
pengujian perangkap ………. 44
13.Analisis ragam konsumsi tikus pohon pada
14.Analisis ragam konsumsi tikus rumah pada
pengujian perangkap vs. rodentisida ……… 44
15.Analisis ragam konsumsi tikus sawah pada
pengujian perangkap vs. rodentisida ……… 44
16.Analisis ragam konsumsi tikus pohon pada pengujian perangkap vs. rodentisida
vs. umpan ……….. 45
17.Analisis ragam konsumsi tikus rumah pada pengujian perangkap vs. rodentisida
vs. umpan ……….. 45
18.Analisis ragam konsumsi tikus sawah pada pengujian perangkap vs. rodentisida
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tikus (Ordo Rodentia, Famili Muridae) merupakan hewan liar dari Kelas Mammalia yang hidup berdampingan dengan manusia. Tikus memiliki hubungan yang bersifat parasitisme dan mutualisme dengan makhluk hidup (Meehan 1984). Hubungan parasitisme ditunjukkan dari adanya keuntungan yang diperoleh tikus dan kerugian yang diterima oleh makhluk hidup seperti tumbuhan, ternak, dan manusia. Tikus merusak bagian tumbuhan, hewan ternak, pakan ternak, bahan makanan manusia, barang-barang rumah tangga yang berbahan dasar kayu, serta adanya peranan tikus sebagai pembawa penyakit bagi manusia dan hewan ternak
(Dickman 1988). Hubungan mutualisme ditunjukkan dari adanya keuntungan yang diterima oleh manusia dan tikus. Hal ini terlihat dari penggunaan tikus putih (Rattus norvegicus Strain Albino) dan mencit putih (Mus musculus Strain Albino) yang dijadikan sebagai hewan percobaan di laboratorium untuk pengujian obat sebelum diaplikasikan kepada manusia. Di Indonesia terdapat 9 spesies tikus yang berperan sebagai hama dan bersifat merugikan bagi makhluk hidup, yaitu
Bandicota bengalensis (wirok kecil), B. indica (wirok), Rattus argentiventer
(tikus sawah), R. rattus diardii (tikus rumah), R. exulans (tikus ladang), R. norvegicus (tikus riul), R. tiomanicus (tikus pohon), Mus caroli (mencit ladang), dan M. musculus (mencit rumah) (Priyambodo 2003).
Tikus memiliki berbagai kemampuan yang dapat menunjang kehidupannya seperti reproduksi yang tinggi. Kemampuan reproduksi yang didukung oleh kondisi biotik dan abiotik yang optimal menyebabkan jumlah tikus semakin berlimpah. Beberapa metode telah dikembangkan untuk mengendalikan tikus, antara lain cara sanitasi, kultur teknis, fisik, mekanik, biologi, dan kimiawi (Priyambodo 2003). Metode pengendalian terhadap tikus yang sering digunakan oleh manusia yaitu secara mekanik dengan menggunakan perangkap dan secara kimiawi dengan menggunakan rodentisida. Penggunaan perangkap akhir-akhir ini seringkali kurang efektif karena tikus mengalami trap-shyness (jera perangkap).
2
pemerangkapan atau lolos dari perangkap (Darmawansyah 2008). Metode kimiawi sering digunakan oleh manusia untuk mengendalikan tikus, walaupun penggunaan rodentisida tidak ramah terhadap lingkungan. Pada kenyataannya manusia lebih menyukai metode ini untuk membunuh tikus, karena racun yang diberikan kepada tikus menunjukkan daya bunuh yang efektif serta memberikan hasil kematian tikus yang nyata (Priyambodo 2003).
Perangkap dan rodentisida sering digunakan oleh manusia untuk mengendalikan tikus di lapang. Penggunaan kedua metode ini memerlukan umpan dengan tujuan agar tikus memasuki perangkap atau memakan umpan bersama dengan rodentisida, akan tetapi metode ini tidak selalu memberikan hasil pengendalian yang efektif akibat adanya jera perangkap dan jera umpan (Andriani 2005). Dengan demikian perlu diupayakan jenis perangkap dan rodentisida yang efektif dan efisien dalam pengendalian tikus.
Dalam penelitian ini diaplikasikan Perangkap Baru yang memiliki rancang bangun dengan bentuk balok yang memiliki dua buah pintu masuk serta Perangkap Pasar sebagai pembanding. Rodentisida yang digunakan yaitu rodentisida yang berbahan aktif bromadiolone dan brodifacoum. Perangkap dan rodentisida ini diujikan kepada tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah karena ketiga jenis tikus tersebut memiliki kemampuan yang sangat tinggi untuk
menimbulkan kerusakan di lingkungan manusia.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk merancang perangkap, menguji keefektifan perangkap tersebut dengan membandingkannya terhadap perangkap yang banyak digunakan masyarakat, serta menentukan jenis rodentisida yang efektif dan efisien untuk mengendalikan tikus pohon (R. tiomanicus), tikus rumah (R. rattus diardii), dan tikus sawah (R. argentiventer).
Manfaat Penelitian
yang efektif dan efisien untuk mengendalikan tikus pohon (R. tiomanicus), tikus rumah (R. rattus diardii), dan tikus sawah (R. argentiventer).
Hipotesis
Penggunaan perangkap, rodentisida, serta kombinasinya merupakan teknik pengendalian yang efektif dan efisien. Hal yang perlu diperhatikan dalam mengendalikan tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah dengan menggunakan perangkap adalah sifat trap-shyness yaitu tikus mudah ditangkap pada awal pemerangkapan tetapi sulit ditangkap pada pemerangkapan berikutnya. Selain itu terdapat sifat bait-shyness yaitu tikus tidak mau memakan rodentisida yang diberikan karena adanya umpan di sekitar rodentisida. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai rancangan perangkap dan rodentisida yang efektif untuk mengendalikan tikus pohon (R. tiomanicus), tikus rumah (R. rattus diardii), dan tikus sawah (R. argentiventer).
TINJAUAN PUSTAKA
Tikus Pohon (Rattus tiomanicus) Klasifikasi dan Morfologi
Menurut CPC (2002), klasifikasi tikus pohon adalah: Kelas : Mammalia
Subkelas : Theria
Infra Kelas : Eutheria Ordo : Rodentia
Subordo : Myomorpha Famili : Muridae
Subfamili : Murinae Genus : Rattus
Spesies : tiomanicus
Tikus pohon memiliki tubuh berbentuk silindris, memiliki ciri-ciri panjang ekor 180–250 cm lebih panjang dibandingkan dengan kepala dan badan (130-200 cm), tubuh bagian dorsal beruban halus berwarna kehijauan, dan bagian ventralnya berwarna abu-abu pucat dengan ujung putih (Priyambodo 2003). Menurut Aplin et al (2003) tubuh bagian dorsal berwarna coklat kekuningan dan bagian ventralnya berwarna krem. Hewan betina memiliki puting susu lima pasang yaitu dua pasang pektoral dan tiga pasang inguinal, tekstur rambut agak kasar, bentuk hidung kerucut, serta warna ekor bagian atas dan bawah coklat hitam (Priyambodo 2003).
Biologi dan Ekologi
Tikus pohon termasuk golongan omnivora (pemakan segala) tetapi cenderung untuk memakan biji-bijian atau serealia (Sipayung, Sudharto, dan Lubis 1987). Kebutuhan pakan dalam bentuk kering bagi seekor tikus pohon setiap hari kurang lebih sekitar 10% dari bobot tubuhnya, sedangkan untuk pakan
Tikus pohon memiliki kemampuan fisik yang baik seperti memanjat, meloncat, mengerat, dan berenang. Tikus pohon memiliki kemampuan untuk memanjat pohon. Kemampuan memanjat ini ditunjang oleh adanya tonjolan pada telapak kaki yang disebut dengan footpad yang besar dan permukaan yang kasar (Priyambodo 2003). Tikus dapat merusak bahan-bahan yang keras sampai dengan nilai 5,5 pada skala kerusakan geologi. Kerusakan yang disebabkan oleh tikus pohon disebabkan tikus memiliki kemampuan mengerat yang tinggi sebagai aktivitas untuk mengurangi panjang gigi seri yang tumbuh terus menerus (Meehan 1984). Tikus pohon tidak dapat membuat sarang dengan cara menggali tanah, tetapi membuat sarang di antara pelepah-pelepah daun kelapa sawit atau celah-celah yang ada di antara pohon pohon (Priyambodo 2003).
Tikus merupakan hewan poliestrus yaitu dapat melahirkan anak sepanjang tahun tanpa mengenal musim, memiliki masa bunting singkat antara 2 sampai 3 bulan, dan rata-rata enam ekor per kelahiran. Faktor abiotik yang mempengaruhi dinamika populasi tikus adalah cuaca dan air, sedangkan faktor biotik yaitu tumbuhan, patogen, predator, tikus lain, dan manusia (Priyambodo 2003).
Habitat tiap spesies tikus berbeda-beda, tetapi hal tersebut tidak membatasi wilayah penyebarannya. Tikus pohon selain ditemukan di sekitar perkebunan kelapa dan kelapa sawit juga sering ditemukan di perkebunan kakao, lahan
persawahan, areal pertanian, lapangan terbuka, dan pekarangan rumah (Meehan 1984). Daerah penyebaran utama dari tikus pohon adalah di Indonesia (Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera), Malaysia, Singapura, dan Thailand (www.wikipedia.com).
Tikus Rumah (Rattus rattus diardii) Klasifikasi dan Morfologi
Menurut CPC (2002), klasifikasi tikus rumah adalah: Kelas : Mammalia
Subkelas : Theria
Infra Kelas : Eutheria Ordo : Rodentia
6
Famili : Muridae
Subfamili : Murinae Genus : Rattus
Spesies : rattus
Tikus rumah memiliki ciri morfologi yaitu bentuk badan silindris, rambut agak kasar berwarna cokelat hitam kelabu pada bagian punggung dan warna bagian perut yang hampir sama dengan warna rambut pada bagian punggung. Bentuk moncong kerucut, ekor tidak ditumbuhi rambut, memiliki puting susu sebanyak 10 puting susu, serta memiliki bobot tubuh berkisar antara 40-300 gram (Marsh 2003).
Tikus rumah memiliki panjang tubuh 100-190 mm dan memiliki panjang ekor lebih panjang atau sama dengan panjang tubuh (Suparjan 1994).
Biologi dan Ekologi
Tikus rumah termasuk hewan arboreal yang dicirikan dengan adanya ekor yang panjang serta tonjolan pada telapak kaki yang besar dan kasar (Priyambodo 2003). Tikus mampu memanjat dinding karena ditunjang dari adanya tonjolan dari pada telapak kaki yang besar dan kasar, selain itu dapat meloncat secara
horizontal sejauh 240 cm dan meloncat secara vertikal setinggi 77 cm (Priyambodo 2003).
Tikus rumah memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi hal ini ditunjukkan dari adanya kemampuan melahirkan anak sebanyak 5-8 ekor anak dalam sekali melahirkan. Jumlah anak yang dilahirkan tergantung ketersediaan makanan. Masa bunting tikus selama 21 hari dan pada saat dilahirkan anak tikus tidak memiliki rambut dan mata tertutup. Pada umur 4-5 minggu tikus mulai mencari makan sendiri, terpisah dari induknya. Pada usia tersebut tikus dapat dengan mudah diperangkap. Tikus rumah mencapai usia dewasa setelah berumur 35-65 hari (Kalshoven 1981).
bobot tubuhnya, namun apabila pakan dalam keadaan basah kebutuhan pakan dapat mencapai 15% dari bobot tubuhnya. Tikus rumah biasanya akan mengenali dan mengambil pakan yang telah tersedia atau yang ditemukan dalam jumlah sedikit untuk mencicipi atau untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada tubuhnya. Apabila tidak terjadi reaksi yang membahayakan tikus akan menghabiskan pakan pakan yang tersedia atau pakan yang ditemukan (Priyambodo 2003).
Seperti hewan lainnya, tikus memiliki kemampuan indera yang sangat menunjuang setiap aktivitas kehidupannya, seperti indera penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa, dan peraba. Indera penglihatan tikus rumah kurang berkembang dengan baik bila dibandingkan dengan indera lainnya, akan tetapi tikus rumah memiliki kepekaan yang tinggi terhadap cahaya (Priyambodo 2003).
Tikus Sawah (Rattus argentiventer) Klasifikasi dan Morfologi
Menurut CPC (2002), klasifikasi tikus sawah adalah: Kelas : Mammalia
Subkelas : Theria
Infra Kelas : Eutheria Ordo : Rodentia
Subordo : Myomorpha Famili : Muridae
Subfamili : Murinae Genus : Rattus
Spesies : argentiventer
8
sawah tergolong hewan nokturnal dan melakukan aktivitas harian yang teratur, yang bertujuan untuk mencari pakan, minum, pasangan, dan orientasi kawasan.
Biologi dan Ekologi
Tikus sawah bersifat omnivora serta memerlukan makanan yang banyak mengandung zat tepung seperti biji padi, kelapa, umbi. Jagung dan tebu kurang disukai oleh tikus sawah (Sipayung, Sudharto, dan Lubis 1987).
Tikus sawah mempunyai adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dan ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia. Tikus sawah sering dijumpai di daerah persawahan dan padang rumput sampai ketinggian 1500 meter dari permukaan laut (Sitepu 2008 dalam Assegaf 1987).
Tanaman padi merupakan pakan utama bagi tikus sawah dan semua stadia pertumbuhan dapat dirusak. Daur perkembangan dan besarnya kerusakan yang ditimbulkan oleh tikus sawah berkaitan erat dengan fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Jumlah anakan padi yang dikerat oleh seekor tikus sawah dalam semalam tergantung dari musim dan fase pertumbuhan tanaman (Brooks & Rowe 1979).
Habitat merupakan salah satu faktor lingkungan yang menjadi pendukung perkembangan populasi tikus sawah. Habitat yang memadai akan menguntungkan
bagi tikus untuk menemukan tempat hidup dan berkembang biak dengan baik. Aktifitas membuat liang merupakan salah satu kemampuan tikus sawah untuk mendapatkan tempat hidup dan berkembangbiak (Sitepu 2008).
Perangkap
Penggunaan perangkap merupakan metode pengendalian fisik mekanis terhadap tikus yang paling tua digunakan. Dalam aplikasinya, metode ini merupakan cara yang efektif, aman, dan ekonomis karena perangkap dapat digunakan beberapa kali dan pemasangan umpan pada perangkap dapat mengintensifkan jumlah tenaga kerja (Darmawansyah 2008). Penggunaan perangkap juga merupakan cara yang ramah lingkungan karena dalam aplikasinya tidak menggunakan bahan bahan kimia (Priyambodo 2003).
Perangkap dapat dikelompokkan menjadi empat jenis yaitu live-trap
(perangkap hidup), snap-trap (perangkap yang dapat membunuh tikus), sticky board-trap (perangkap berperekat), dan pit fall-trap (perangkap jatuhan) (Priyambodo 2003).
Live-trap atau perangkap hidup adalah tipe perangkap yang dapat menangkap tikus dalam keadaan hidup di dalam perangkap. Tipe perangkap ini terbagi menjadi dua yaitu, single live-trap adalah perangkap yang hanya dapat menangkap 1 ekor tikus, dan multiple live-trap adalah perangkap yang dapat menangkap lebih dari satu ekor tikus dalam sekali pemerangkapan. Kedua tipe perangkap ini banyak digunakan untuk mengendalikan tikus rumah di permukiman.
Snap-trap adalah tipe perangkap yang dapat membunuh tikus pada saat
ditangkap. Perangkap jenis ini sangat berbahaya karena dapat membunuh hewan bukan sasaran, apabila menyentuh umpan dan juga berbahaya bagi manusia yang beraktivitas di sekitar perangkap. Selain itu, jenis perangkap ini banyak menimbulkan jera perangkap sehingga kurang menarik bagi tikus dan hanya dapat membunuh satu ekor tikus dalam sekali pemerangkapan.
Sticky board-trap atau perangkap berperekat adalah tipe perangkap yang dapat merekatkan tikus sehingga tikus menempel pada perangkap dan tidak dapat bergerak. Perangkap ini berupa papan yang pada bagian atasnya diberi perekat untuk merekatkan tikus dengan papan sehingga tidak dapat bergerak. Pada umumnya umpan diletakkan pada bagian tengah papan yang berperekat.
10
baik dengan perangkap sehingga tikus sulit ditangkap dengan menggunakan perangkap. Selain itu, faktor genetik juga dapat mempengaruhi keefektifan penggunaan perangkap yaitu suatu keadaan dimana pada saat awal pemerangkapan tikus mudah sekali ditangkap tetapi pada pemerangkapan selanjutnya tikus sulit untuk diperangkap (Darmawansyah 2008).
Rodentisida
Menurut Prakash (1988), berdasarkan kecepatan kerjanya, rodentisida dibagi menjadi dua jenis yaitu racun akut (bekerja cepat) dan racun kronis (bekerja lambat).
Racun akut adalah jenis racun yang menyebabkan kematian setelah mencapai dosis letal dalam waktu 24 jam atau kurang (Buckle 1996). Contoh bahan aktif rodentisida yang tergolong racun akut adalah seng fosfida, brometalin, crimidine, dan arsenik trioksida (Priyambodo 2003) yang bekerja cepat dengan cara merusak jaringan saluran pencernaan, masuk ke dalam aliran darah dan menghancurkan liver. Racun kronis adalah racun yang bekerja secara lambat dengan cara menggangu metabolism vitamin K serta mengganggu proses pembekuan darah (Oudejans 1991). Yang tergolong ke dalam racun kronis antara lain bahan aktif kumatetralil, warfarin, fumarin, dan pival yang termasuk racun
antikoagulan generasi I, serta brodifakum, bromadiolon, dan flokumafen yang termasuk racun anti koagulan generasi II (Priyambodo 2003).
Brodifacoum C31H23BrO
Brodifacoum merupakan salah satu rodentisida antikoagulan generasi II yang potensial, terutama efektif terhadap spesies tikus yang resisten terhadap rodentisida jenis warfarin (Corrigan 1997). Brodifacoum juga merupakan produk yang hampir tidak dapat larut dalam air (Sikora 1981). Bentuk fisik racun ini adalah blok dengan warna hijau dan biru, sedangkan bentuk asli racun ini berupa bubuk putih (Oudejans 1991).
Brodifacoum bekerja sebagai antikoagulan yang tidak langsung mematikan tikus termasuk juga terhadap strain tikus yang tahan terhadap racun antikoagulan jenis lainnya (Sikora 1981). Cara kerja racun ini adalah dengan mengganggu kerja vitamin K dalam proses pembekuan darah. Hewan pengerat dapat menyerap dosis yang mematikan dengan hanya 50 mg/kg bahan aktif (Oudejans 1991).
Bromadiolone C30H23BrO4
Bromadiolone merupakan jenis rodentisida yang digunakan untuk mengendaliakan hewan pengerat pada bidang pertanian dan bekerja dengan cara mengganggu peredaran darah normal. Bromadiolone termasuk racun antikoagulan generasi kedua yang efektif terhadap tikus dan hewan pengerat lainnya, juga terhadap tikus yang tahan terhadap racun antikoagulan generasi pertama (Bennett 2002a). Bromadiolone digunakan dalam bentuk umpan siap pakai dengan konsentreasi rendah yaitu sekitar 0.005%, selain itu racun ini juga diproduksi dalam bentuk tepung atau bubuk (Corrigan 1997).
Bromadiolone mempunyai toksisitas oral yang akut (LD50=1-3 mg/kg) tehadap beberapa spesies hewan, baik yang termasuk hewan pengerat maupun yang bukan pengerat. Toksisitas dermal pada kelinci juga tinggi (LD50=9.4
mm/kg) (Bennett 2002a). Tikus yang mengonsumsi rodentisida ini dengan dosis yang mematikan biasanya akan mengalami kematian pada hari ketiga setelah konsumsi (Corrigan 1997). Bentuk fisik racun ini adalah seperti balok berwarna hijau gelap.
Bromadiolone tidak mudah terlarut dalam air tetapi sebagai bahan teknis bromadiolon beracun bagi organisme air (Bennett 2002).
Umpan Beras
12
pada bagian aleuron), mineral, dan air. Pati beras dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu pati dengan struktur tidak bercabang (amilosa) dan pati dengan struktur bercabang (amilopektin). Komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera).
Kandungan nutrisi beras dalam 100 g makanan adalah air 10,46 g, energi 370 kkal, protein 6,81 g, lemak 0,55 g, karbohidrat 81,68 g, kalsium (Ca) 11 mg, besi (Fe) 6 mg, magnesium (Mg) 23 mg, thiamin 0,18 g, riboflavin 0,055 mg, niacin 2,145 mg (www.wikipedia.com).
Gabah
Secara anatomi biologi, gabah merupakan buah padi sekaligus biji. Buah padi bertipe bulir atau caryopsis sehingga pembedaan bagian buah dan biji sukar dilakukan. Gabah adalah bulir padi, biasanya mengacu pada bulir padi yang telah dipisahkan dari tangkainya (jerami). (www.wikipedia.com).
Semua stadia pertumbuhan padi sangat rentan terhadap serangan tikus. Kerusakan pada tanaman padi bukan hanya disebabkan oleh tikus sawah saja. Pada beberapa kejadian ditemukan bahwa tikus rumah dan tikus pohon juga menyerang pertanaman padi di sawah terutama apabila ketersediaan makanan
berkurang (Buckle & Smith 1996).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian dilakukan di Laboratorium Vertebrata Hama, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan November 2008 sampai bulan April 2009.
Bahan dan Alat Arena Pengujian
Arena yang digunakan untuk pengujian berbentuk balok, dibuat dari kayu dengan lapisan seng pada bagian dalam, dan ditutup dengan ram kawat. Arena
yang digunakan berukuran 400 cm x 100 cm x 50 cm. Setiap arena memiliki 3 pintu yaitu pada bagian kanan, kiri, dan tengah.
Gambar 1. Arena Pengujian
Perangkap Baru
Perangkap ini dibuat dengan menggunakan kawat berdiameter 3 mm dan
dibentuk dengan rancangan perangkap berbentuk balok dengan ukuran 60 cm x 30 cm x 30 cm (panjang x lebar x tinggi). Bagian perangkap ini terdiri dari dua buah
14
memudahkan tikus masuk ke dalam perangkap. Pintu samping berbentuk persegi dan berukuran 12 cm x 10 cm (panjang x tinggi).
Gambar 2. Perangkap Baru
Perangkap Pembanding
Perangkap yang digunakan sebagai pembanding dalam penelitian ini adalah perangkap yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk mengendalikan tikus di permukiman. Perangkap ini didapat dari toko pertanian, berbentuk balok, berukuran 33 cm x 13 cm x 13 cm (panjang x lebar x tinggi), memiliki satu buah pintu masuk, dan satu buah pintu keluar tempat mengeluarkan tikus. Jarak dari dasar perangkap ke pintu masuk yaitu 8 cm dan ukuran pintu masuk 11 cm x 10 cm (panjang x lebar). Pintu samping berbentuk persegi panjang dan berukuran 13 cm x 7 cm (panjang x lebar).
Gambar 3. Perangkap Pembanding
Rodentisida dan Umpan
Rodentisida yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah brodifacoum yang memiliki bentuk kubus, berukuran 1 cm x 1 cm x 1 cm (panjang x lebar x tinggi), dan berwarna biru tua serta bromadiolone yang memiliki bentuk batangan, persegi panjang, berukuran 3 cm x 1 cm x 1 cm (panjang x lebar x tinggi), dan berwarna hijau. Sementara itu, umpan yang digunakan adalah beras dan gabah.
Gambar 4. Brodifacoum
Gambar 5. Bromadiolone
Hewan Uji
16
Metode Penelitian Persiapan Arena
Sebelum digunakan, seluruh bagian arena diperiksa dan dibersihkan terlebih dahulu. Setelah arena pengujian layak pakai, kemudian diletakkan bumbung bambu dan wadah plastik untuk tempat persembunyian tikus.
Pada metode ini disiapkan pula satu lembar kain hitam dan papan. Kain hitam ini diletakkan di atas arena pada saat pengujian dengan tujuan untuk membuat kondisi di dalam arena gelap, sama dengan kondisi lingkungan pada saat malam hari. Sementara itu papan diletakkan di atas kain hitam dengan tujuan agar kain hitam dapat menutupi arena dengan baik.
Persiapan Hewan Uji
Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah yang diperoleh dari lapang, diadaptasikan terlebih dahulu dalam kurungan pemeliharaan di Laboratorium Vertebrata Hama, Departemen Proteksi Tanaman selama 3-7 hari dengan diberi pakan gabah dan air setiap hari secara melimpah (ad libitum).
Penentuan bobot tikus dilakukan dengan cara memasukkan seekor tikus ke dalam kantung plastik besar kemudian plastik diikat erat dan ditimbang pada
electronic top-loading balance for animal. Bobot tikus yang telah ditimbang
kemudian dicatat dan dikurangi dengan berat plastik sebelum dimasuki tikus dengan jenis timbangan yang sama.
Pengujian Pendahuluan
Pengujian ini dilakukan untuk mengadaptasikan tikus di dalam arena yang akan dilanjutkan untuk pengujian perlakuan berikutnya. Metode ini dilakukan dengan cara memasukkan satu mangkuk umpan gabah, satu mangkuk air, dan satu ekor tikus yang telah ditimbang sebelumnya ke dalam arena.
Pengujian Perangkap
buah Perangkap Baru dan satu buah Perangkap Pasar ke dalam arena yang di dalam masing-masing perangkap telah diberikan umpan gabah. Sementara itu tidak ada umpan gabah yang diletakkan di luar perangkap.
Pengujian Perangkap Vs. Rodentisida
Pengujian ini dilakukan untuk menilai keefektifan pengendalian tikus dengan menggunakan perangkap dan dibandingkan dengan dua jenis rodentisida yang berada di luar perangkap. Metode ini dilakukan dengan cara meletakkan satu ekor tikus yang sebelumnya telah dilakukan pengujian pendahuluan, satu mangkuk air, dua jenis rodentisida, satu buah Perangkap Baru, dan satu buah Perangkap Pasar ke dalam arena dimana di dalam setiap perangkap tidak diberikan umpan gabah.
Pengujian Perangkap Vs. Rodentisida Vs. Umpan
Pengujian ini dilakukan untuk menilai keefektifan pengendalian tikus dengan menggunakan perangkap berisi gabah, dibandingkan dengan dua jenis rodentisida dan umpan yang tersedia (beras dan gabah) yang berada di luar perangkap. Metode ini dilakukan dengan cara meletakkan satu ekor tikus yang sebelumnya telah dilakukan pengujian pendahuluan, satu mangkuk air, dua jenis
rodentisida, beras, gabah, satu buah Perangkap Baru, dan satu buah Perangkap Pasar yang di dalam masing-masing perangkap telah diberikan umpan gabah.
Pengamatan yang Dilakukan
Pengujian perangkap, pengujian perangkap vs. rodentisida, dan pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan dilakukan masing-masing sebanyak 9 kali ulangan, menggunakan 9 ekor tikus serta pada setiap ulangan dilakukan pengamatan selama 6 hari dan menggunakan 1 ekor tikus.
Peubah yang Diamati
18
dengan cara mengurangi bobot awal dengan bobot akhir. Selain itu, pada pengujian ini juga diamati posisi tikus setelah 24 jam diletakkan di dalam arena. Ketertarikan tikus terhadap perangkap atau rodentisida atau umpan yang terdapat di luar perangkap dilihat dari posisi tikus dimana tikus berada dan konsumsi umpan di dalam perangkap, umpan di luar perangkap, dan rodentisida.
Setelah 6 hari pengamatan, tikus ditimbang kembali untuk mengetahui bobot akhir setelah pengujian dan dihitung bobot rata-rata tikus dengan cara menjumlahkan bobot awal dengan bobot akhir tikus kemudian dibagi dua.
Konversi Umpan
Semua data yang diproleh dari pengujian tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah dikonversi terlebih dahulu terhadap 100 g bobot tikus, dengan rumus sebagai berikut:
Bobot umpan/rodentisida yang dikonsumsi (g)
Konversi umpan / rodentisida (g) =
Rata – rata bobot tubuh tikus (g)
Rerata bobot tubuh tikus (g) = Bobot awal + bobot akhir 2
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan untuk pengujian di laboratorium adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 3 jenis tikus (tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah), dengan 9 ulangan untuk uji perangkap, uji perangkap vs. rodentisida, dan uji perangkap vs. rodentisida vs. umpan. Apabila
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perancangan Perangkap
Perangkap yang dirancang memiliki tipe multiple live-trap yaitu perangkap yang dapat menangkap lebih dari satu ekor tikus. Perangkap yang dirancang berbentuk balok dan memiliki ukuran 60 cm x 30 cm x 30 cm (panjang x lebar x tinggi). Pintu masuk perangkap dipasang pada dua sisi perangkap yang berukuran 10 cm x 5 cm (panjang x lebar), sedangkan jarak dari dasar perangkap ke pintu masuk adalah 5 cm. Pintu masuk berbentuk lorong untuk mempermudah tikus menemukan pintu masuk perangkap.
Rodentisida
Rodentisida dengan bahan aktif brodifacoum dan bromadiolone dipilih untuk pengujian tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah karena kedua jenis rodentisida ini merupakan racun kronis yang memiliki kelebihan seperti: tidak menyebabkan jera umpan pada tikus, mudah dalam pengaplikasian terhadap pengendalian tikus, tidak memerlukan umpan pendahuluan, memiliki konsentrasi rendah sehingga mudah diterima oleh tikus, memiliki harga relatif terjangkau, dan terdapat antidot bagi makhluk bukan sasaran yang keracunan rodentisida (Priyambodo 2003).
Perilaku Tikus pada Pengujian di Laboratorium
Perilaku Tikus di Dalam Arena
Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah mula-mula mengonsumsi umpan gabah yang berada di dalam perangkap serta umpan di luar perangkap
dengan jumlah konsumsi yang sangat sedikit ketika pengujian pendahuluan dan pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan dilakukan. Setelah mengetahui bahwa umpan tersebut tidak menimbulkan reaksi buruk di dalam tubuhnya, tikus kemudian melanjutkan untuk mengonsumsinya.
20
malam hari sehingga ketika suasana di dalam arena gelap, tikus dapat melakukan kegiatannya untuk mencari makan.
Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah mengelilingi perangkap dan setelah tertarik serta merasa aman, tikus tersebut mencari pintu masuk ke dalam perangkap. Adanya lorong menuju pintu masuk dapat membantu tikus menemukan pintu masuk perangkap. Setelah masuk di dalam perangkap, tikus mencoba untuk mengonsumsi sedikit umpan gabah yang berada di dalam perangkap. Akibat tidak adanya pengaruh apa-apa maka tikus melanjutkan untuk mengonsumsinya.
Pada pengujian perangkap vs. rodentisida, ketika dihadapkan dengan dua jenis perangkap dan dua jenis rodentisida, ketiga jenis tikus cenderung menyukai untuk tetap berada di dalam wadah plastik atau bumbung bambu untuk bersembunyi. Setelah dua hari berada di dalam arena, tikus mulai dapat beradaptasi dengan perangkap yang disediakan. Hal ini terlihat dari seringnya tikus yang masuk ke dalam arena. Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah mengonsumsi rodentisida yang disediakan setelah dua sampai tiga hari berada di dalam arena. Ketiga jenis tikus yang mengonsumsi rodentisida terjadi akibat adanya aroma khas yang dapat menarik tikus untuk mengonsumsinya.
Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah lebih menyukai perangkap
yang berada di bagian pojok arena pengujian. Pengacakan letak perangkap yang dilakukan setiap hari pengamatan tidak memberikan banyak pengaruh terhadap hasil pemerangkapan. Pada ketiga pengujian yang dilakukan, tikus tidak merasa takut untuk masuk dan berada di dalam perangkap, dimana kejadian ini ditunjukan dari seringnya tikus masuk ke dalam perangkap. Tidak adanya rasa takut tikus untuk masuk ke dalam perangkap karena pada setiap pengamatan, tikus yang telah masuk ke dalam perangkap kemudian dilepaskan untuk dibebaskan kembali keluar arena pengujian.
berpengaruh terhadap pemerangkapan antara tikus yang masuk ke dalam Perangkap Pasar dan Perangkap Baru.
Jumlah Umpan yang Dikonsumsi Tikus
Tikus Pohon (Rattus tiomanicus). Pada saat pertama kali dilepaskan ke dalam arena, tikus pohon menunjukan perilaku diam di salah satu sudut arena dan tidak banyak bergerak. Setelah beberapa saat, tikus masuk ke dalam wadah plastik yang disediakan, untuk bersembunyi. Tikus pohon yang memiliki bobot tubuh lebih dari 70 g dan kurang dari 70 g, menunjukan perilaku yang sama ketika dilepaskan ke dalam arena.
Tikus pohon mengalami kenaikan bobot tubuh yang berkisar antara 25 g sampai 50 g setelah dilakukan ketiga pengujian. Apabila dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya, tikus pohon mengalami kenaikan bobot tubuh yang lebih tinggi.
Sebagian besar tikus pohon mengonsumsi umpan gabah yang disediakan pada hari pertama ketika dilakukan pengujian pendahuluan dan sebagian tikus pohon yang digunakan untuk pengujian selanjutnya (perangkap dan perangkap vs. rodentisida vs. umpan) mengonsumsi umpan di dalam perangkap serta di luar perangkap pada hari kedua pengamatan.
Ketika pengujian pendahuluan dilaksanakan, tikus pohon banyak yang mengonsumsi umpan gabah yaitu tiga gram dari jumlah total umpan gabah, sedangkan pada pengujian perangkap umpan gabah yang dikonsumsi tikus saat pertama tikus mengonsumsinya yaitu berkisar antara dua sampai empat gram.
Pada pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan, tikus pohon lebih menyukai untuk mengonsumsi umpan yang berada di luar perangkap dengan jumlah gabah dan beras yang dikonsumsi pada saat pertama tikus mengonsumsinya yaitu berkisar antara dua sampai lima gram.
22
menunjukan perilaku yang lebih aktif bergerak dibandingkan dengan tikus yang memiliki bobot kurang dari 80 g. Setelah dilakukan pengujian, tikus rumah mengalami kenaikan bobot yang berkisar antara 17 g sampai 23 g dari bobot tubuh awal.
Tikus rumah mengonsumsi umpan gabah yang disediakan saat pengujian pendahuluan pada hari pertama setelah tikus dilepaskan ke dalam arena, sedangkan pada pengujian perangkap serta pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan, sebagian tikus rumah mengonsumsi umpan di luar perangkap pada hari pertama serta sebagian lainnya mengonsumsinya pada hari kedua.
Pada saat pengujian pendahuluan dilaksanakan, tikus rumah banyak yang hanya mengonsumsi umpan gabah kurang dari dua gram dari jumlah total umpan gabah, sedangkan pada pengujian perangkap, umpan gabah yang dikonsumsi tikus saat pertama tikus mengonsumsinya yaitu berkisar antara satu sampai dua gram. Pada pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan, tikus rumah lebih menyukai untuk mengonsumsi umpan yang berada di luar perangkap dengan jumlah gabah dan beras yang dikonsumsi pada saat pertama tikus mengonsumsinya yaitu berkisar antara satu sampai tiga gram.
Tikus Sawah (Rattus argentiventer). Tikus sawah ketika dilepaskan ke dalam arena menunjukkan perilaku yang sering bergerak dan mengitari seluruh
bagian arena. Tikus sawah yang memiliki bobot tubuh lebih dari 60 g lebih aktif bergerak dibandingkan dengan yang memiliki bobot tubuh kurang dari 60 g. Setelah dilakukan pengujian, tikus sawah mengalami kenaikan bobot tubuh berkisar antara 17 g sampai 23 g.
Tikus sawah mengonsumsi umpan gabah yang disediakan saat pengujian pendahuluan, pengujian perangkap, dan pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan pada hari pertama setelah dilepaskan ke dalam arena.
dan beras yang dikonsumsi pada saat pertama tikus mengonsumsinya yaitu berkisar antara tiga sampai lima gram.
Pengujian Perangkap pada Tikus Pohon, Tikus Rumah, dan Tikus Sawah
Posisi Tikus
Pada pengujian perangkap, data yang diperoleh menunjukkan bahwa ketiga jenis tikus yang diuji lebih banyak tertangkap pada Perangkap Pasar dibandingkan pada Perangkap Baru dan di luar. Hasil ini terlihat pada Tabel 1 bahwa persentase ketiga jenis tikus yang masuk pada Perangkap Pasar lebih tinggi dan berbeda sangat nyata dibandingkan dengan Perangkap Baru dan posisi tikus di luar, sedangkan posisi ketiga jenis tikus pada Perangkap Baru tidak berbeda
nyata dengan di luar perangkap.
Tabel 1 Posisi tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap
Posisi Tikus (%)
Posisi Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah
Perangkap
tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α=5% (huruf kecil) dan α=1% (huruf besar)
Sebagian dari ketiga jenis tikus yang diuji tidak memiliki tingkat kecurigaan yang tinggi terhadap perangkap. Hal ini dilihat dari tingginya tikus yang masuk ke dalam dua perangkap dibandingkan dengan tikus yang berada di luar perangkap.
Posisi tikus pohon yang berada di luar perangkap dengan yang tertangkap pada Perangkap Baru menunjukan nilai yang sama. Kejadian ini dikarenakan tikus pohon lebih sulit menjangkau dan masuk ke dalam Perangkap Baru.
24
bahwa keesokan harinya tikus pohon lebih memilih untuk berdiam di bumbung bambu atau wadah plastik di luar arena.
Tidak masuknya kembali tikus ke dalam perangkap disebabkan oleh tikus yang merasa tidak bebas setelah masuk ke dalam perangkap. Adanya tikus yang tetap memasuki perangkap hingga akhir pengujian menunjukkan bahwa tikus tersebut merasa aman di dalam perangkap dan menganggap bahwa perangkap sama dengan bumbung bambu atau wadah plastik, sebagai tempat persembunyian tikus.
Posisi tikus rumah dan tikus sawah yang berada di luar perangkap lebih tinggi dibandingkan dengan tikus yang masuk ke dalam Perangkap Baru. Hal ini dikarenakan pada saat dilepaskan ke dalam arena tikus rumah dan tikus sawah lebih banyak mengelilingi arena dan aktif untuk mengenali arena sehingga hal ini menyebabkan kedua jenis tikus tersebut lebih lama berada di luar perangkap dibandingkan untuk masuk ke dalam perangkap.
Tikus sawah cenderung lebih curiga terhadap perangkap yang tersedia, kejadian ini ditunjukan dari total tikus sawah yang masuk ke dalam Perangkap Baru dan Perangkap Pasar lebih rendah dibandingkan dengan tikus pohon dan tikus rumah. Total tikus sawah yang masuk pada kedua perangkap adalah 77,77%, sedangkan dua jenis tikus lainnya yaitu 79,63%.
Pada pengujian ini tikus rumah lebih tinggi terperangkap pada Perangkap Pasar, sedangkan tikus sawah lebih tinggi terperangkap pada Perangkap Baru dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya. Ketertarikan ketiga tikus terhadap setiap perangkap yang berbeda disebabkan oleh adanya keragaman pada individu tikus yang dipengaruhi oleh faktor genetik.
Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah yang diuji tidak mengalami
trap-shyness karena tikus tidak merasa bahaya ketika masuk ke dalam perangkap. Selain itu, adanya perlakuan yang membebaskan tikus yang telah terperangkap untuk dikeluarkan kembali ke arena menyebabkan tikus terbiasa dan pada keesokan harinya tikus tidak curiga memasuki perangkap kembali.
posisi tikus di luar perangkap maka akan menghasilkan nilai yang berbeda. Pada tikus pohon dan tikus rumah jumlah yang masuk ke dalam perangkap adalah 79,63%, sedangkan yang berada di luar sebesar 20,37%; pada tikus sawah jumlah yang masuk ke dalam perangkap adalah 77,77%, sedangkan yang berada di luar sebesar 31,42%. Hasil ini menunjukkan bahwa ketiga jenis tikus yang diuji lebih tertarik untuk masuk ke dalam perangkap dibandingkan dengan di luar perangkap karena tidak adanya umpan di luar perangkap.
Perangkap Pasar dengan bentuk balok persegi, memiliki pintu masuk tikus dengan ukuran lebar sehingga memudahkan tikus untuk masuk ke dalam Perangkap Pasar. Perangkap Baru memiliki bentuk balok persegi dan memiliki dua buah pintu masuk tikus, akan tetapi ukuran pintu lebih kecil dibandingkan dengan Perangkap Pasar. Tanjakan antara dasar perangkap ke pintu masuk pada Perangkap Baru lebih curam dibandingkan dengan Perangkap Pasar yang memiliki tanjakan lebih landai sehingga terjangkau bagi tikus untuk memasukinya.
Konsumsi Umpan Gabah
26
Tabel 2 Konsumsi umpan gabah tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap
Konsumsi Umpan Gabah (g) *
Perangkap Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah Perangkap
Baru
1,835 bB 0,805 bB 2,126 bB
Perangkap Pasar
5,707 aA 4,438 aA 5,873 aA
Pr > F 0,0001 0,0001 0,0009
Keterangan: Angka dalam kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan
tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α=5% (huruf kecil) dan α=1% (huruf besar)
*) Konsumsi tikus terhadap gabah relatif terhadap 100 g bobot tubuh (%)
Tikus sawah lebih banyak mengonsumsi umpan gabah dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya karena tikus sawah lebih sering dijumpai pada habitat persawahan dan terbiasa untuk mengonsumsi umpan gabah sehingga mudah mengenali umpan gabah yang disediakan (Sipayung et al, 1987). Hal ini dilihat dari banyaknya umpan gabah yang dikonsumsi oleh tikus sawah pada Perangkap Baru maupun Perangkap Pasar.
Pada Perangkap Pasar, umpan gabah yang dikonsumsi oleh tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah berada dalam jumlah yang sama. Berdasarkan data posisi tikus (Tabel 1), tikus rumah yang terperangkap pada Perangkap Pasar lebih tinggi dibandingkan dengan tikus pohon, akan tetapi gabah pada Perangkap Pasar lebih tinggi dikonsumsi oleh tikus pohon. Hal ini karena tikus rumah biasa dijumpai di areal permukiman penduduk dimana gabah jarang tersedia sehingga tikus rumah kurang mengenali pakan gabah yang disediakan.
Bobot Tikus
Tikus yang digunakan dalam pengujian ini memiliki bobot tubuh yang berbeda-beda. Tikus pohon dan tikus rumah memiliki rata-rata bobot awal yang lebih besar dibandingkan dengan tikus sawah.
Tikus pohon dan tikus rumah yang diperoleh dari tempat penangkapan tikus di sekitar kampus IPB Dramaga beradaptasi di lingkungan masyarakat dan lebih sering mengonsumsi bahan makanan manusia, sehingga kedua jenis tikus ini memiliki bobot tubuh tikus yang besar. Sedangkan tikus sawah memiliki bobot tubuh yang lebih kecil karena pada saat di lingkungan persawahan, gabah yang tersedia tidak selalu berada dalam jumlah yang banyak. Tinggi dan rendahnya gabah dipengaruhi oleh hasil panen, sehingga mungkin saja tikus sawah yang ditangkap sedang tidak menghadapi musim panen sehingga jumlah gabah hanya sedikit yang dikonsumsi dan berpengaruh terhadap bobot tubuh tikus sawah.
Tabel 3 Rata-rata bobot tubuh tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap
Bobot tikus (g)
Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah
Bobot awal 73,547 84,552 57,628
Bobot akhir 101,504 102,367 75,125
Perubahan 27,957 17,815 17,497
Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah mengalami kenaikan bobot tubuh karena tikus yang digunakan dalam pengujian sedang mengalami pertumbuhan optimal sehingga adanya umpan gabah yang dikonsumsi memberikan pengaruh kenaikan bobot tubuh tikus.
Rata-rata bobot tubuh akhir ketiga jenis tikus mengalami kenaikan dari rata-rata bobot tubuh awal. Tikus pohon mengalami kenaikan bobot lebih tinggi dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya. Kenaikan bobot tubuh ini merupakan konversi energi dari jumlah gabah yang dikonsumsi oleh tikus pohon di kedua jenis perangkap selama pengujian dilakukan.
28
untuk diubah menjadi energi sehingga tidak berpengaruh terhadap penambahan jumlah sel yang pada akhirnya tidak berpengaruh terhadap penambahan bobot tubuh tikus sawah.
Pengujian Perangkap Vs. Rodentisida pada Tikus Pohon, Tikus Rumah, dan Tikus Sawah
Posisi Tikus
Hasil yang diperoleh dari pengujian perangkap dan rodentisida terhadap tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah menunjukkan bahwa posisi tikus tertinggi terdapat di luar perangkap (Tabel 4). Posisi tikus pohon dan tikus rumah pada Perangkap Pasar lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan Perangkap Baru. dengan Perangkap Pasar dan berbeda nyata dengan di luar perangkap. Posisi tikus pada Perangkap Pasar dengan tikus di luar perangkap menunjukkan hasil yang
tidak berbeda nyata.
Tabel 4 Posisi tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap vs. rodentisida
Posisi Tikus (%)
Posisi Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah
Perangkap
tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α=5% (huruf kecil) dan α=1% (huruf besar)
bersembunyi di dalam bumbung bambu dan wadah plastik. Adanya tingkat keragaman yang berbeda pada individu tikus menyebabkan tikus pohon yang diuji tidak memiliki keseragaman perilaku ketika dimasukan ke dalam arena. Setelah dua hari pengamatan, tikus pohon terlihat sudah dapat beradaptasi dengan perangkap. Hal ini terlihat dari seringnya tikus yang memasuki perangkap.
Tikus rumah yang termasuk ke dalam golongan tikus arboreal dan tikus sawah yang termasuk ke dalam golongan tikus terestrial, lebih lama berada di luar perangkap dan cenderung sulit untuk memasuki kedua perangkap. Jumlah tikus rumah dan tikus sawah yang berada di luar perangkap lebih besar dibandingkan dengan tikus pohon. Tikus rumah dan tikus sawah yang masuk ke dalam perangkap lebih sedikit dibandingkan dengan tikus pohon.
Pada pengujian ini Perangkap Baru lebih banyak dimasuki oleh tikus sawah, sedangkan Perangkap Pasar lebih banyak dimasuki oleh tikus rumah. Sebagian tikus rumah dan tikus sawah yang berada di luar perangkap merasa tertarik dengan perangkap yang disediakan, sehingga masuk ke dalam dua perangkap, akan tetapi jumlah tikus pohon yang masuk ke dalam dua perangkap masih jauh tinggi dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya karena sebagian tikus rumah dan tikus sawah masih memiliki kecurigaan yang tinggi terhadap dua jenis perangkap.
Pada pengujian ini, masuknya tikus ke dalam dua jenis perangkap dengan tikus yang berada di luar perangkap relatif tidak berbeda. Pada tikus pohon jumlah yang masuk ke dalam perangkap adalah 53,52%, sedangkan yang tetap berada di luar 46,48%; pada tikus rumah 50,92% berbanding 52,78%; pada tikus sawah 49,36% berbanding 50,37%. Hasil ini menunjukkan bahwa ketertarikan ketiga jenis tikus di dalam perangkap dan di luar perangkap relatif sama. Ketiga jenis tikus yang diuji dalam pengujian ini tidak mengalami trap-shyness dan tikus menganggap bahwa perangkap adaalah tempat persenbunyian yang sama dengan bumbung bambu atau wadah plastik.
Konsumsi Rodentisida
30
banyak dikonsumsi oleh ketiga jenis tikus dengan nilai konsumsi total 1,455 g dan rodentisida ini paling banyak dikonsumsi oleh tikus sawah. Rodentisida ini lebih disukai karena memiliki aroma khas yang dapat menyebabkan tikus lebih memilih untuk mengonsumsi racun tersebut. Hal ini juga dapat disebabkan tikus cenderung lebih menyukai makanan dengan bentuk patahan atau hancur dibandingkan dengan bentuk blok (Priyambodo 2002). Rodentisida bromadiolone berbentuk batangan dan dipatahkan sebelum digunakan. Brodifacoum lebih sedikit dikonsumsi dengan nilai konsumsi total 0,759 g dan rodentisida ini paling banyak dikonsumsi oleh tikus pohon.
Tabel 5 Konsumsi rodentisida tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap vs. rodentisida
Konsumsi Rodentisida (g)*
Rodentisida Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah
Bromadiolone 0,340 aA 0,475 aA 0,640 aA
Brodifacoum 0,285 aA 0,273 aA 0,201 aA
Pr > F 0,7963 0,339 0,096
Keterangan: Angka dalam kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan
tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α=5% (huruf kecil) dan α=1% (huruf besar)
*) Konsumsi tikus terhadap rodentisida relatif terhadap 100 g bobot tubuh (%)
Tikus pohon lebih banyak masuk ke dalam dua jenis perangkap (Tabel 4) sehingga dua jenis rodentisida yang berada di luar perangkap lebih sedikit dikonsumsi oleh tikus pohon, akan tetapi sebagian tikus pohon yang berada di luar perangkap ini lebih banyak mengonsumsi rodentisida brodifacoum. Tikus rumah dan tikus sawah lebih banyak yang berada di luar perangkap sehingga dua jenis rodentisida lebih banyak dikonsumsi oleh tikus tersebut.
Tikus rumah lebih banyak berada di luar perangkap dibandingkan dengan tikus sawah, akan tetapi konsumsi tikus rumah terhadap dua jenis rodentisida lebih sedikit dibandingkan dengan tikus sawah. Hal ini dikarenakan pada saat berada di luar perangkap, tikus sawah mengonsumsi rodentisida dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan tikus rumah.
hidung, mulut, dan saluran genitalia. Kulit tikus mengalami pemucatan, tubuh tikus terlihat lemah, dan pada akhirnya tikus mati.
Adanya tikus yang tidak mati walaupun telah mengonsumsi rodentisida disebabkan oleh tikus mengalami kondisi escape, dimana racun rodentisida yang masuk ke dalam tubuh tikus akan segera diuraikan oleh tubuh tikus itu sendiri.
Pada pengujian ini, terdapat 6 ekor tikus pohon mengonsumsi rodentisida brodifacoum pada hari pertama dan kedua serta terdapat 3 ekor tikus pohon mengonsumsi rodentisida bromadiolone pada hari kedua setelah dimasukkan ke dalam arena. Pada pengujian ini terdapat 6 ekor tikus pohon mati setelah 4 hari mengonsumsi rodentisida.
Sebagian tikus rumah mengonsumsi rodentisida bromadiolone dan brodifacoum pada hari kedua dan sebagian lainnya mengonsumsi kedua jenis rodentisida pada hari keempat setelah dimasukkan ke dalam arena. Dari sembilan ulangan, semua tikus yang diuji mati setelah 3 hari mengonsumsi rodentisida.
Sebagian tikus sawah mengonsumsi rodentisida bromadiolone pada hari kedua dan ketiga, sedangkan rodentisida brodifacoum banyak dikonsumsi oleh tikus pada hari pertama, kedua, dan ketiga. Pada pengujian ini terdapat 8 ekor tikus sawah mati setelah 3 hari mengonsumsi rodentisida.
Bobot Tubuh
Tikus yang digunakan dalam pengujian ini memiliki bobot tubuh yang berbeda-beda. Tikus rumah memiliki rata-rata bobot tubuh awal yang lebih besar dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya (Tabel 6).
Tabel 6 Rata-rata bobot tubuh tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap vs. rodentisida
Bobot tikus (g)
Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah
Bobot awal 60,673 75,558 68,024
Bobot akhir 60,77 75,596 68,076
Perubahan 0,097 0,038 0,052
Pengujian perangkap vs. rodentisida tidak memberikan pengaruh terhadap bobot ketiga jenis tikus dengan adanya rodentisida yang dikonsumsi sehingga
32
bahwa ketiga jenis tikus mengalami perubahan bobot tubuh yang relatif sama yaitu dibawah 1 g, akan tetapi perubahan bobot tubuh ini dianggap sebagai adanya pertambahan sel pada tubuh individu tikus akibat tikus setiap waktu mengalami pertumbuhan dan perkembangan.
Pengujian Perangkap Vs. Rodentisida Vs. Umpan pada Tikus Pohon, Tikus Rumah, dan Tikus Sawah
Posisi Tikus
Hasil yang diperoleh dari pengujian perangkap, rodentisida, dan umpan (beras dan gabah) terhadap tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah menunjukkan bahwa posisi tikus tertinggi terdapat di dalam perangkap. Posisi tikus pada Perangkap Pasar lebih tinggi dibandingkan pada Perangkap Baru. Hal ini karena Perangkap Pasar memiliki bentuk yang mudah dimasuki dan tikus tidak dapat keluar dari perangkap (Tabel 7).
Tabel 7 Posisi tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan
Posisi Tikus (%)
Posisi Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah
Perangkap tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α=5% (huruf
kecil) dan α=1% (huruf besar)
Pada saat pengamatan terlihat bahwa tikus sawah yang telah masuk ke dalam Perangkap Baru, pada keesokan harinya tikus tersebut dapat mendorong pintu keluar Perangkap Baru dan masuk kembali ke dalam Perangkap Pasar.
Dari pengujian ini terlihat bahwa tikus rumah dan tikus sawah menunjukan perilaku aktif ketika di dalam perangkap dan cenderung ingin keluar dari perangkap. Pada saat tikus rumah dan tikus sawah berada di dalam Perangkap Pasar kedua jenis tikus tersebut juga menunjukan perilaku yang sama, akan tetapi adanya struktur rancangan Perangkap Pasar yang kuat menyebabkan tikus tidak dapat mendorong perangkap. Tikus pohon cenderung diam dan jarang bergerak. Pada saat tikus pohon berada di dalam perangkap, tikus ini cenderung diam dan tidak mencoba mendorong pintu perangkap untuk berusaha keluar.
Sebagian tikus pohon yang keluar dari Perangkap Baru disebabkan oleh keadaan pengait Perangkap Baru yang mudah terbuka. Pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan dilakukan setelah kedua pengujian lainnya dilakukan, sehingga pengait pada Perangkap Baru ini rapuh akibat pada pengujian sebelumnya pintu keluar perangkap didorong oleh tikus yang terperangkap. Adanya gerakan mengitari bagian dalam perangkap yang dilakukan oleh tikus pohon menyebabkan pengait pintu keluar mudah lepas kemudian pintu keluar terbuka dan pada akhirnya tikus pohon dapat keluar dari Perangkap Baru.
Pengait yang terdapat pada Perangkap Baru lebih mudah untuk dibuka karena pengait ini hanya diletakkan pada celah kawat kerangka perangkap sehingga apabila pintu keluar didorong kuat oleh tikus yang berada di dalam, pintu keluar dapat terbuka.
34
Pada pengujian ini tikus rumah dan tikus sawah menunjukkan perilaku aktif, banyak bergerak, lebih lama berada di luar perangkap, dan cenderung lama untuk memasuki perangkap. Hal ini dilihat dari kedua jenis tikus tersebut bahwa persentase posisi tikus di luar lebih tinggi dibandingkan dengan tikus pohon
Jumlah tikus rumah dan tikus sawah yang memasuki kedua perangkap lebih tinggi dibandingkan dengan tikus pohon, hal ini karena pada pengujian ini tikus rumah dan tikus sawah berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya.
Pada pengujian ini, masuknya tikus ke dalam dua jenis perangkap dengan tikus yang berada di luar perangkap relatif tidak berbeda. Pada tikus pohon jumlah yang masuk ke dalam perangkap adalah 50,93%, sedangkan yang tetap berada di luar 50,18%; pada tikus rumah 52,40% berbanding 50,37%; pada tikus sawah 52,77% berbanding 51,85%. Hasil ini menunjukkan bahwa ketertarikan ketiga jenis tikus di dalam perangkap dan di luar perangkap relatif sama. Ketiga jenis tikus yang diuji dalam pengujian ini tidak mengalami trap-shyness dan tikus menganggap bahwa perangkap adaalah tempat persenbunyian yang sama dengan bumbung bambu atau wadah plastik.
Konsumsi Rodentisida dan Umpan
Hasil yang diperoleh dari pengujian perangkap, rodentisida, beras, dan gabah terhadap ketiga jenis tikus menunjukkan bahwa umpan yang paling banyak dikonsumsi oleh ketiga jenis tikus yang diuji adalah gabah di luar perangkap dengan total 15,201 g. Umpan di dalam Perangkap Pasar cukup banyak dikonsumsi oleh ketiga jenis tikus dengan total 10,448 g. Rodentisida yang banyak dikonsumsi oleh ketiga jenis tikus adalah bromadiolone dengan total 1,417 g (Tabel 8).
Pada tikus pohon dan tikus rumah konsumsi beras tidak berbeda nyata
Pada tikus sawah, konsumsi beras tidak berbeda nyata dengan konsumsi gabah di luar perangkap, gabah di dalam Perangkap Pasar, gabah di dalam Perangkap Baru, tetapi berbeda nyata dengan rodentisida bromadiolone dan brodifacoum. Konsumsi gabah di luar perangkap tidak berbeda nyata dengan gabah di dalam Perangkap Pasar dan Perangkap Baru, tetapi berbeda nyata dengan rodentisida bromadiolone dan brodifacoum. Konsumsi gabah di dalam Perangkap Pasar berbeda nyata dengan Perangkap Baru, rodentisida bromadiolone, dan brodifacoum. Konsumsi gabah di dalam Perangkap Baru tidak berbeda nyata dengan konsumsi rodentisida bromadiolone dan brodifacoum. Konsumsi rodentisida bromadiolone tidak berbeda nyata dengan brodifacoum.
Umpan yang terdapat di dalam Perangkap Pasar lebih disukai oleh ketiga jenis tikus karena Perangkap Pasar memiliki bentuk yang mudah untuk dimasuki oleh tikus. Dalam pengamatan, tikus yang telah memasuki Perangkap Baru, pada keesokan harinya telah berada di luar perangkap. Pada saat di dalam Perangkap Baru dan Perangkap Pasar, tikus memperoleh umpan yang diinginkan akan tetapi tikus tersebut terkurung dan tidak dapat keluar dari perangkap. Tikus juga lebih memilih umpan yang berada di luar perangkap, karena di luar perangkap terdapat dua jenis umpan yaitu beras dan gabah dimana tikus dapat mengonsumsinya tanpa harus masuk ke dalam perangkap terlebih dahulu.
Tabel 8 Konsumsi rodentisida, umpan beras, dan gabah tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan
Konsumsi Umpan dan Rodentisida (g)*
Perlakuan Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah
Beras 7,238 aA 4,998 aA 2,615 AB tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan pada taraf α=5% (huruf
kecil) dan α=1% (huruf besar)
36
Umpan gabah di luar perangkap lebih banyak dikonsumsi oleh tikus pohon, akan tetapi gabah yang terdapat di dalam perangkap lebih banyak dikonsumsi oleh tikus sawah, karena posisi tikus sawah yang masuk ke dalam dua jenis perangkap lebih tinggi dibandingkan dengan tikus pohon. Umpan beras yang berada di luar perangkap lebih disukai oleh tikus pohon dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya, dan rodentisida brodifacoum lebih banyak dikonsumsi oleh tikus rumah.
Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah yang mengonsumsi rodentisida dalam dosis yang mematikan (lethal dose) menunjukan adanya perubahan fisiologis pada tubuh tikus, seperti adanya pendarahan yang keluar melalui lubang hidung, mulut, dan saluran genitalia. Kulit tikus mengalami pemucatan, tubuh tikus terlihat lemah, dan pada akhirnya tikus mati.
Adanya tikus yang tidak mati walaupun telah mengonsumsi rodentisida disebabkan oleh tikus mengalami kondisi escape, dimana racun rodentisida yang masuk ke dalam tubuh tikus akan segera diuraikan oleh tubuh tikus itu sendiri.
Tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah berturut-turut memakan dua jenis rodentisida pada hari pertama dan hari ketiga setelah dimasukkan ke dalam arena. Pada pengujian ini terdapat 8 ekor tikus pohon, 6 ekor tikus rumah, dan 5 ekor tikus sawah yang mati setelah 3 hari mengonsumsi rodentisida.
Bobot Tikus
Tikus yang digunakan dalam pengujian ini memiliki bobot tubuh yang berbeda-beda. Tikus rumah memiliki rata-rata bobot awal yang lebih besar dibandingkan dengan kedua jenis tikus lainnya (Tabel 9) karena tikus rumah didapat dari tempat penangkapan tikus di lingkungan masyarakat dan dalam kehidupannya tikus tersebut banyak mengonsumsi bahan makanan manusia.
Tabel 9 Rata-rata bobot tubuh tikus pohon, tikus rumah, dan tikus sawah pada pengujian perangkap vs. rodentisida vs. umpan
Bobot tikus (g)
Tikus Pohon Tikus Rumah Tikus Sawah
Bobot awal 68,622 74,555 69,302
Bobot akhir 118,952 97,685 92,468