IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Perusahaan
4.1.1 Sejarah Pendirian Perusahaan
Pertanian merupakan salah satu sektor pembangunan yang mendapat perhatian besar dari pemerintah mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia adalah petani. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia tersebut, pemerintah bertanggungjawab untuk menyediakan sarana dan prasarana pertanian antara lain Pupuk. Saat ini Pupuk memegang peranan penting dalam meningkatkan produksi hasil-hasil pertanian, oleh karena itu kebutuhan akan Pupuk setiap tahun semakin bertambah. Untuk memenuhi kebutuhan akan Pupuk tersebut maka didirikanlah PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk.
PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang pembuatan ammonia dan pupuk urea, yang berdiri pada tanggal 7 Desember 1977. Bahan baku utama pabrik yang berlokasi di Bontang ini adalah gas alam yang disalurkan melalui pipa sepanjang 60 kilometer yang terentang antara Bontang dan Muara Badak. Pada mulanya proyek PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk dikelola oleh Pertamina sebagai unit-unit pabrik terapung di bawah pengawasan Direktorat Jendral Industri Kimia Dasar.
Pada tahun 1973, di pasar internasional terjadi kelangkaan pupuk urea yang menyebabkan harga pupuk melambung tinggi, sedangkan sumber gas yang ditemukan di Kaltim diperkirakan hanya cukup 10 tahun. Dengan adanya masalah tersebut, maka muncul suatu gagasan untuk mendirikan pabrik urea sendiri. Pada awalnya Pertamina mempunyai gagasan untuk mendirikan pabrik pupuk urea di atas kapal dengan pertimbangan apabila gas alam sebagai bahan baku habis, maka pabrik dapat dipindahkan.
Berdasarkan KEPPRES No. 43 Tahun 1975, dibentuklah suatu tim yang bertugas untuk meninjau dan meneliti program pembangunan pabrik terapung sesuai dengan gagasan awal tersebut. Ternyata dari hasil
peninjauan tersebut ditemukan data bahwa cadangan gas alam cukup untuk 25 tahun mendatang, maka rencana pendirian pabrik terapung diteruskan.
Proyek direncanakan oleh Pertamina, rencana awalnya akan dibangun di atas kapal ukuran 30.000 DWT untuk pabrik ammonia dan kapal ukuran 20.000 DWT untuk pabrik urea. Lokasi proyek antara 10 sampai 15 mil dari lepas pantai. Kapasitas pabrik ammonia 1.500 ton per hari dan pabrik urea 1.700 ton per hari. Fasilitas penunjang pabrik adalah tangki terapung penyimpanan ammonia, kapal terapung penyimpanan urea, mooring complex akan dibangun. Floating security boom akan mengelilingi semua fasilitas pabrik terapung tersebut.
Pada saat itu telah tersedia dua (2) buah kapal untuk menunjang rencana tersebut, yaitu kapal Mary Elizabeth dengan ukuran 55.000 DWT untuk pabrik ammonia dan kapal Dominique ukuran 30.000 DWT untuk pabrik urea. Lokasi yang direncanakan adalah Bontang Utara, karena daerah tersebut mempunyai gugusan batu karang yang dapat mengurangi laju ombak. Karena kesulitan teknis dan beberapa pertimbangan lain, maka konsep pabrik terapung dipindahkan ke darat. Berdasarkan Keppres No. 39 tahun 1976 dilakukan serah terima proyek ini dari Pertamina ke Departemen Perindustrian (Direktorat Jenderal Industri Kimia Dasar) pada tahun 1976. Setelah penyelesaian proses hukum dalam rangka serah terima peralatan pabrik di Eropa, maka pada tanggal 7 Desember 1977 didirikan sebuah Perseroan Negara untuk mengelola usaha ini dengan nama PT. Pupuk Kalimantan Timur. Dengan dipindahkannya lokasi pabrik ke darat diperlukan perubahan dan penyesuaian desain pabrik. Pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Menteri Perindustrian saat itu, Ir. A. R. Soehoed pada tanggal 16 November 1979. Setelah masa empat (4) tahun lebih setelah itu, tepatnya 24 November1983 produksi perdana ammoniak keluar. Produksi perdana urea keluar tanggal 15 April 1984 dan pengapalan urea perdana ke Surabaya tanggal 24 Juli 1984.
Karena kebutuhan pupuk urea yang masih belum tercukupi, sewaktu masa konstruksi Kaltim 1, maka dibangun pabrik Kaltim 2. Pemancangan tiang pertama dilakukan pada tanggal 24 April 1982 oleh Menteri
Perindustrian, Ir. A. R. Soehoed. Produksi perdana ammoniak dilakukan tanggal 6 September 1984 dan urea tanggal 15 September 1984. Peresmian pabrik Kaltim 1 dan Kaltim 2 dilakukan pada tanggal 29 Oktober 1984 oleh Presiden Soeharto. Desain kapasitas produksi ammoniak Kaltim 2 adalah 1.800 ton per hari dan urea 1.725 ton per hari. Setelah itu pembangunan pabrik Kaltim 3 menyusul, yang dilakukan dengan konsep pabrik hemat energi. Pemancangan dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 1986 dan diresmikan pada tanggal 4 April 1989. Kapasitas produksi Kaltim 3 adalah 1.000 ton per ammoniak dan 1.725 ton per hari urea.
Untuk meningkatkan mutu pupuk urea yang dihasilkan melalui pabrik-pabrik itu, dibangun pula sebuah unit pembuatan urea
formaldehyde (UFC-85) berkapasitas 13.000 ton per tahun. Pabrik Kaltim
4 mulai dibangun pada tahun 1999 dengan kapasitas 570.000 ton urea
granule dan 330.000 ton ammonia per tahun. Pabrik Urea Kaltim 4 selesai
dibangun pada pertengahan tahun 2002 dan pabrik ammonia tuntas pada awal tahun 2003.
Pada tanggal 20 November 1996, dibangun pabrik Urea unit IV yang disebut dengan Proyek Optimalisasi Kaltim (POPKA), dengan nilai investasi $44 juta dan Rp139 milyar, mulai berproduksi di awal tahun 1999. Pabrik ini didirikan dengan melihat potensi yang ada di PT Pupuk Kalimantan Timur dan kelebihan produksi ammonia di Kaltim 1, Kaltim 2 dan Kaltim 3. Dengan dibangunnya POPKA, maka kelebihan produksi ammonia (ammonia excess) dan kelebihan gas Co2 yang biasanya terbuang ke atmosfer dapat bernilai tambah, yakni menghasilkan produk urea granule. Pabrik POPKA yang diresmikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada tanggal 7 Juni 2000 ini memproduksi Urea granule dengan kapasitas 1.725 ton per hari. Sebagai kontraktor utama adalah PT Rekayasa Industri yang bekerjasama dengan Chiyoda Chemical
Engineering Construction Company, yang menggunakan lisensi proses
dari Stami Carbon.
PT Pupuk Kalimantan Timur adalah produsen pupuk urea terbesar di Indonesia (Gambar 2). Dalam pengoperasian lima (5) pabrik urea dan
empat (4) pabrik ammonia dan merupakan salah satu pabrik pupuk terbesar di dunia yang berada dalam satu lokasi. Pada tahun 2000, Pupuk Kaltim mencapai produksi tertinggi melebihi 1,5 juta ton ammonia untuk kapasitas terpasang 1,5 juta ton dan 2,4 juta ton urea untuk kapasitas terpasang 2,2 juta ton.
Dengan adanya lima (5) pabrik urea dan empat (4) pabrik ammonia yang beroperasi dengan optimal, Pupuk Kaltim bertujuan mewujudkan keinginan menjadi produsen Pupuk Urea yang terpercaya dan mutu di dunia. Pupuk Kaltim terus melakukan peningkatan dan ekspansi hingga mencapai kapasitas produksi ammonia 1.000 ton/hari dan urea 1.725 ton/hari, dengan total kapasitas keduanya mencapai lebih dari 3 juta ton/tahun. Kapasitas produksi tiap-tiap pabrik yang berbeda-beda tetap dioptimalkan untuk mencapai produksi dengan mutu terbaik, mampu memenuhi kebutuhan pasar nasional dan internasional.
Gambar 2. PT Pupuk Kalimantan Timur
4.1.2 Masa Produksi
Awal produksi pabrik Kaltim 1 adalah masa ujian, dimana usaha terus-menerus dilakukan, tetapi setelah masa itu lewat, produksi ketiga (3) pabrik meningkat dari tahun ke tahun. Pabrik Kaltim 1 mencapai produksi tertinggi 607.452 ton urea, atau 119,11% pada tahun 1995, pabrik Kaltim 2 mencapai produksi tertinggi dengan produksi 675,6 ribu ton urea, atau
118% pada tahun 1993 dan pabrik Kaltim 3 mencapai produksi tertinggi 385,2 ribu ton urea, atau 119,02% pada tahun 1994.
Untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas, pada tahun 1995 dilakukan program optimalisasi Kaltim 1 yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 1.800 ton per hari ammonia dan 2.125 ton per hari urea. Tahun 1997 dilakukan program Retrofit Kaltim 2 untuk memperbaiki kinerja pabrik Kaltim 2. Dari program tersebut diharapkan kapasitas produksi ammonia dapat meningkat menjadi 1.800 ton per hari.
4.1.3 Lokasi Pabrik
Pabrik terletak di zona industri Kalimantan Timur tepatnya di Desa Belimbing Kecamatan Bontang Utara Pemerintah Kota Bontang sekitar 120 km sebelah utara kota Samarinda (Gambar 3). PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk berdiri di atas areal seluas 493 Ha. Di sebelah selatan pabrik ini (10 km) juga berdiri PT Badak NGL.CO. yang merupakan pabrik pengolahan gas bumi. PT PKT sendiri memiliki perumahan yang disediakan untuk karyawan-karyawannya yang terletak sekitar enam (6) km dari area pabrik. Dasar-dasar pemilihan lokasi ini adalah :
a. Dekat dengan sumber bahan baku, yaitu gas alam.
b. Berbatasan dengan laut, sehingga mudah untuk transportasinya. c. Berada di tengah-tengah daerah pemasaran nasional dan internasional. d. Lahan yang masih sangat luas, sehingga memungkinkan untuk
dilakukan perluasan pabrik. 4.1.4 Fasilitas Pendukung
PT Pupuk Kalimantan Timur didukung oleh beberapa fasilitas pendukung, yaitu :
a. Dermaga
1) Dermaga I untuk kapal sampai 6.000 DWT 2) Dermaga II untuk kapal sampai 40.000 DWT 3) Dermaga III untuk kapal sampai 20.000 DWT
4) Dermaga Quadrant Arm Loader untuk kapal sampai 40.000 DWT b. Gudang (Gambar 4)
1) Urea Curah : 125.000 ton 2) Urea Kantong : 10.000 ton
3) Ammonia : 52.000 ton
4) Suku cadang, bahan kimia
c. Unit Pengantongan Urea berkapasitas 2.500 ton/hari
d. Laboratorium pusat kontrol yang mengoperasikan instrumentasi :
Gas chromatograph, High Pressure Liquid Chromatograph, Atomic Absorption Spectrophotometer, dan lain-lain.
e. Industri Peralatan Pabrik (IPP)
Unit produksi suku cadang pabrik dan fabrikasi, termasuk unit produksi permesinan dengan mesin Computer Numerically Controlled (CNC), unit produksi foundry dengan pengecoran vakum, laboratorium metalurgi dan metrologi.
Gambar 4. Gudang PT Pupuk Kalimantan Timur
4.1.5 Bahan Baku
Bahan baku proses pembuatan ammonia adalah Natural Gas (Gas Alam), udara proses dan steam.
a. Natural Gas (Gas Alam)
Gas alam digunakan sebagai bahan baku dan bahan bakar (Fuel) yang diperoleh dari SKG pertamina. Spesifikasi gas alam tersebut dimuat pada Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi natural gas
Komponen % vol CH4 83,72 C2H6 5,40 C3H8 2,88 I – C4 0,55 n – C4 0,62 i –C5 0,21 n – C5 0,14 C6H14 0,12 C7H16 0,15 CO2 6,13 N2 0,08 b. Udara proses
Udara diperoleh dari atmosfer dengan komposisi N2 dan O2 = 78 : 21 dan inert 1%.
c. Steam
Steam yang digunakan sebagai bahan baku adalah steam bertekanan 38
kg/cm2G (MP Steam).
4.1.6 Visi, Misi, Motto dan Budaya Perusahaan a. Visi–Misi
1) Visi
Menjadi Korporasi Agro-Kimia yang memiliki reputasi prima di Kawasan Asia.
2) Misi
i. Menyediakan pupuk, produk kimia, produk agro dan jasa pemeliharaan pabrik dengan menetapkan standar internasional dan kaidah operational excellence, serta berorientasi pada peningkatan kepuasan pelanggan.
ii. Menunjang Program Ketahanan Pangan Nasional dan meningkatkan nilai korporasi dengan memperhatikan kepentingan pemegang saham.
iii. Memberikan manfaat bagi karyawan, masyarakat dan peduli pada lingkungan.
b. Motto
Kami hadir dalam semangat pionir Kami kuat ditempa oleh tantangan Kami maju dengan karya bermutu c. Budaya Perusahaan
1) Integritas (Integrity)
Insan Pupuk Kaltim harus dapat dipercaya, sehingga selalu bersifat terbuka dan menunjang nilai-nilai :
i. Jujur ii. Adil
iii. Bertanggungjawab iv. Disiplin
2) Kebersamaan (Team Work)
Insan Pupuk Kaltim merupakan satu kesatuan tim kerja untuk mencapai tujuan perusahaan yang mengutamakan nilai-nilai :
i. Sinergi ii. Bersatu
3) Unggul (Excellence Achievement)
Insan Pupuk Kaltim selalu mengupayakan untuk meraih keunggulan dalam berbagai aspek kinerja perusahaan, dengan menegakkan nilai-nilai :
i. Profesional ii. Tangguh iii. Visioner
4) Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction)
Insan Pupuk Kaltim selalu berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan memperhatikan nilai-nilai :
i. Peduli
ii. Fokus pada 6 tepat 5) Tanggap (Proactive)
Insan Pupuk Kaltim selalu berinisiatif dan tanggap dalam mengantisipasi perubahan dinamika usaha dan peduli terhadap lingkungan.
4.1.7 Proyek Pembangunan Pabrik dan Pengembangan
Pembangunan pabrik PT Pupuk Kaltim dilakukan secara bertahap. Seiring dengan perkembangan zaman yang makin modern PT Pupuk Kaltim telah berkembang pesat menjadi salah satu industri pupuk terbesar di Indonesia dan sekarang telah memiliki empat (4) buah pabrik, yakni Kaltim-1 (K1), Kaltim-2 (K2), Kaltim-3 (K3), Pabrik Optimalisasi Kaltim (POPKA), serta yang terbaru bernama Kaltim-4 (K4). Penjelasan pabrik tersebut seperti berikut :
a. Kaltim-1
Pembangunan proyek pabrik Kaltim-1 diserahkan kepada Lumnus
dengan Lurgi dari Jerman Barat dan Coppee Rust dari Belgia. Pelaksanaan pembangunan pabrik Kaltim-1 mulai dilaksanakan pada tanggal 20 Maret 1979 dan seharusnya selesai tanggal 20 Maret 1982, tetapi karena adanya peralatan pabrik yang ternyata tidak layak dipasang, maka pabrik Kaltim-1 baru dapat berproduksi pada tanggal 30 Desember 1983 untuk ammonia. Untuk urea baru mulai berproduksi pada tanggal 15 April 1984. Pabrik Kaltim-1 ini menggunakan Proses Lurgi untuk pembuatan ammonia dan Proses
Stamicarbon untuk urea.
Untuk mengoptimalkan performa Kaltim-1 telah dilakukan beberapa perbaikan, melalui Proyek Optimal Kaltim-1 (Tabel 3), sehingga pada tahun 2007 produksi untuk ammonia dan urea masing-masing adalah 595.000 dan 700.000 ton.
b. Kaltim-2
Pabrik ini mulai dibangun pada tahun 1982 untuk memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri, seiring mulai berkembangnya sektor pertanian dan sekaligus menyangga keberadaan Kaltim-1. MW Kellog
Corporation sebagai kontraktor utama menandatangani kontrak
pembangunan proyek tersebut bersama-sama dengan Toyo Menka
Kaisha dan Kobe Steel dari Jepang pada tanggal 23 Maret 1982.
Pembangunan pabrik ini selesai pada bulan Oktober 1984 dan mulai berproduksi secara komersial pada tanggal 1 April 1985. Presiden RI pada waktu itu, Soeharto meresmikan pabrik Kaltim-2 bersamaan dengan peresmian pabrik Kaltim-1, pada tanggal 29 Oktober 1984.
Proses yang digunakan pada Kaltim-2 adalah Proses MW Kellog untuk pembuatan ammonia dan Proses Stamicarbon untuk urea (Tabel 4). Pada tahun 2007, produksi untuk ammonia dan urea masing-masing adalah 595.000 dan 570.000 ton.
Tabel 3. Spesifikasi data teknis Kaltim-1 Spesifikasi Data
Teknis Kaltim 1
Kapasitas Terpasang Pabrik ammonia (MTPD) 1.800 Pabrik urea (MTPD) 2.125
Bahan Baku Gas alam (MMSCFD) 63
Generator Listrik Turbin gas (MW) – 11 KV -
Generator Uap
Turbin uap (MW) – 6,6 KV 16 + 12
WHB (TPH) -
Boiler (TPH) 290
Sistem Pendinginan Pompa air laut (M3/H) (5+1) x 15.000
Unit Desalinasi TPH (3+1) x 50
Penyimpanan
Tumpukan urea (ton) 40.000 Urea terkemas (ton) -
Ammonia (ton) 26.000 Unit Pemisahan Udara Nitrogen, NM3/H 200
Oxygen, NM3/H 50
Dermaga Ekspor Utama
Kapasitas pengapalan Up to 30.000 tons
Kedalaman 13 MTR
c. Kaltim-3
Pada tahun 1986 disetujui kembali perluasan areal industri PT Pupuk Kaltim dengan menambah satu pabrik lagi dengan nama Kaltim-3. Pembangunan proyek tersebut dipercayakan kepada PT
Rekayasa Industri (Persero) sebagai kontraktor utama yang
bekerjasama dengan Chiyoda Chemical Engineering & Construction
Co. dan Toyomenka Corporation.
Pabrik ini dilengkapi dengan sebuah unit Recovery Hydrogen yang mengelola flash gas dan pure gas Kaltim-1, Kaltim-2, serta Kaltim-3, disebut Hydrogen Recovery Unit (HRU) dari Proses
Constain Petrocarbon dan ditempatkan di area Kaltim-2 (Tabel 5).
Bila dioperasikan unit ini dapat memberi tambahan produksi ammonia 180 ton/hari. Proses yang digunakan oleh Kaltim-3 adalah Proses
Topse untuk ammonia dan Proses Stamicarbon Stipping untuk urea.
Pabrik Kaltim-3 adalah pabrik yang telah menerapkan teknologi modern dan hemat energi. Interkoneksi antar alat penukar panas sudah terjalin rapi, sehingga irit dalam pemakaian sumber energi. Peresmian pabrik Kaltim-3 dilakukan pada tanggal 4 April 1989 oleh Presiden Soeharto.
Produksi ammonia pertama terjadi pada tanggal 8 Desember 1988, sedangkan urea pada tanggal 14 Desember 1988. Kapasitas pertamanya untuk ammonia dan urea masing-masing adalah 1.000 ton/hari dan 1.725 ton/hari. Jumlah produksi pada tahun 2007 untuk ammonia dan urea masing-masing adalah 330.000 ton dan 570.000 ton.
Tabel 4. Spesifikasi data teknis Kaltim-2
Spesifikasi Data Teknis Kaltim 2
Kapasitas Terpasang Pabrik ammonia (MTPD) 1.800 Pabrik urea (MTPD) 1.725
Bahan Baku Gas alam (MMSCFD) 55
Generator Listrik Turbin gas (MW) – 11 KV 30
Generator Uap
Turbin uap (MW) – 6,6 KV -
WHB (TPH) 140
Boiler (TPH) 100
Sistem Pendinginan Pompa air laut (M3/H) (3+1) x 10.500
Unit Desalinasi TPH (2+1) x 70
Penyimpanan
Tumpukan urea (ton) 30.000 Urea terkemas (ton) 7.500
Ammonia (ton) -
Unit Pemisahan Udara Nitrogen, NM3/H -
Oxygen, NM3/H -
Dermaga Ekspor Utama
Kapasitas pengapalan Up to 30.000 tons
Tabel 5. Spesifikasi data teknis Kaltim-3 Spesifikasi Data
Teknis Kaltim 3
Kapasitas Terpasang Pabrik ammonia (MTPD) 1.000 Pabrik urea (MTPD) 1.725
Bahan Baku Gas alam (MMSCFD) 55
Generator Listrik Turbin gas (MW) – 11 KV 30
Generator Uap
Turbin uap (MW) – 6,6 KV
WHB (TPH) 140
Boiler (TPH) 100
Sistem Pendinginan Pompa air laut (M3/H) (3+1) x 10.500
Unit Desalinasi TPH (2+1) x 70
Penyimpanan
Tumpukan urea (ton) 30.000 Urea terkemas (ton) 7.500
Ammonia (ton) -
Unit Pemisahan Udara Nitrogen, NM3/H -
Oxygen, NM3/H -
Dermaga Ekspor Utama
Kapasitas pengapalan Up to 30.000 tons
Kedalaman 13 MTR
d. POPKA
Menghadapi kondisi pasar urea granul untuk Asia Pasifik yang terbuka dan untuk meningkatkan daya saing sebagai produsen pupuk wilayah ini, maka PT Pupuk Kaltim mengintensifkan produktivitasnya dengan membangun pabrik urea kembali. Proyek pembangunan pabrik urea unit-4 PT Pupuk Kaltim ini dikenal dengan nama POPKA (Proyek Optimasi Pupuk Kaltim).
Pada awalnya niat PT Pupuk Kaltim adalah membangun langsung sebuah pabrik (direncanakan Kaltim-4 dan pabrik methanol) namun karena adanya regulasi pemerintah pada saat itu yang melarang pembangunan sebuah proyek dengan jumlah nilai melebihi US$ 20 juta, maka pembangunan pabrik baru akhirnya ditunda, untuk menyiasati hal itu maka dilakukan pengubahan nama proyek yang
semula langsung membangun Kaltim-4, kini dinamai Proyek Optimasi PT Pupuk Kaltim (POPKA), karena bukanlah sebuah proyek baru melainkan hanyalah sebuah perluasan, maka pemerintah akhirnya menyetujuinya.
Pada tahun 1999 PT Pupuk Kaltim telah mengembangkan produksinya dengan menghasilkan urea jenis baru, yaitu Urea Granul.
Proyek Optimalisasi Kaltim (POPKA) diresmikan pada tanggal 13
Februari 1999 (Tabel 6).
Penandatanganan kontrak dengan konsorisium kontraktor dilaksanakan tanggal 9 Oktober 1996, yaitu PT Rekayasa Industri sebagai kontraktor utama dan Chiyoda Corporation sebagai sub kontraktornya, pabrik selesai dibangun dan diresmikan pada tanggal 6 Juli 2000 oleh Presiden KH. Abdurrahman Wahid.
Pabrik urea unit-4 POPKA menerapkan teknologi DCS (Distributed Control System) yang dioperasikan secara otomatis, dan ramah lingkungan karena didukung unit dust scrubber, Hydrolizer dan
Neutralization yang dapat meredusir zat polutan. Dengan produksi
perdana tertanggal 18 Februari 1999 sebesar 175 metrik ton/hari urea granul, maka kapasitas produksi urea untuk tahun 2007 sebesar 570.000 ton.
e. Kaltim-4
Perusahaan membangun pabrik Kaltim-4 sebagai langkah mengantisipasi perkembangan kebutuhan urea, agar kelangsungan produksi pupuk harus tetap terjaga dan lebih ditingkatkan untuk menunjang produktivitas pertanian, yang pada akhirnya menunjang ketahanan pangan nasional dan sekaligus replacement pabrik-pabrik yang sudah tua. Pada tahun 1999 Pemerintah telah menyetujui pembangunan tiga (3) pabrik pupuk urea, salah satunya di PT Pupuk Kaltim Bontang yaitu pembangunan pabrik Kaltim-4.
Pembangunan pabrik Kaltim-4 dilaksanakan dengan dua (2) fase. Fase I pembangunan unit urea dan sebagian unit utilitas yang mulai dilaksanakan pada tanggal 27 Desember 1999. Fase II untuk
pembangunan unit ammonia dan penyelesaian unit utilitas yang dimulai pada bulan Agustus 2000. Pembangunan fase I diselesaikan dua (2) bulan lebih cepat dari rencana. Sedangkan fase II dijadwalkan selesai pada awal tahun 2003. Pabrik urea unit 5 proyek Kaltim-4 ini diresmikan dari jarak jauh melalui teleconference oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri dari Cikampek, Karawang, Jawa Barat pada hari Rabu, 3 Juli 2002.
Proyek Kaltim-4 (Tabel 7) dibangun oleh kontraktor utama konsorsium antara PT Rekayasa Industri dengan Mitsubishi Heavy
Industries, Jepang. Nilai investasi 359,7 juta USD dengan rincian,
60,3% berupa fasilitas kredit dari Japan Bank for International
Cooperation (JBIC); 9,7% pinjaman dari Perbankan Nasional; dan
30% dana sendiri. Kaltim 4 memiliki kapasitas produksi pada tahun 2007 untuk urea 570.000 ton dan ammonia 330.000 ton.
f. Pengembangan Usaha
PT Pupuk Kaltim selain menghasilkan ammonia dan urea, juga menghasilkan produk-produk sampingan, berupa Nitrogen, Oksigen, dan karbondioksida. Untuk produk sampingan dan dalam rangka perkembangan perusahaan, maka didirikan beberapa anak perusahaan, diantaranya :
1) PT Kaltim Nusa Etika (KNE)
2) PT Kaltim Adhiguna Dermaga (KAD) 3) PT Kaltim Bahtera Adhiguna (KBA) 4) PT Kaltim Industrial Estate (KIE) 5) PT Kaltim Cipta Yasa (KCY)
6) PT Kaltim Multi Boga Utama (KMBU) 7) PT Daun Buah, dll.
Beberapa perusahaan kerjasama dengan perusahaan besar nasional maupun internasional juga didirikan, yaitu :
1) PT Kaltim Methanol Industri (KMI) 2) PT DSM Kaltim Melamine
4) PT Kaltim Ambika Wiratama 5) PT Kaltim Parna Industri (KPI)
Selain pengembangan perusahaan, PT Pupuk Kalimantan Timur juga terus mengadakan peningkatan mutu dan pengelolaan lingkungan hidup. Hasil yang dicapai adalah keberhasilan meraih
ISO 9002 pada tahun 1996, ISO 14001 pada tahun 1997 dan ISO 17025 pada tahun 2000. ISO 9002 adalah pengakuan di bidang
Sistem Manajemen Produksi dan Instalasi, ISO 14001 pada bidang Manajemen Lingkungan dan ISO 17025 di bidang Laboratorium Uji Mutu.
Tabel 6. Spesifikasi data teknis POPKA Spesifikasi Data
Teknis POPKA
Kapasitas Terpasang Pabrik ammonia (MTPD) - Pabrik urea (MTPD) 1.725 Bahan Baku Gas alam (MMSCFD)
Generator Listrik Turbin gas (MW) – 11 KV 30
Generator Uap
Turbin uap (MW) – 6,6 KV -
WHB (TPH) -
Boiler (TPH) -
Sistem Pendinginan Pompa air laut (M3/H) -
Unit Desalinasi TPH (1) x 70
Penyimpanan
Tumpukan urea (ton) 40.000 Urea terkemas (ton) -
Ammonia (ton) -
Unit Pemisahan Udara Nitrogen, NM3/H -
Oxygen, NM3/H -
Dermaga Ekspor Utama
Kapasitas pengapalan -
Tabel 7. Spesifikasi data teknis Kaltim-4 Spesifikasi Data
Teknis Kaltim 4
Kapasitas Terpasang Pabrik ammonia (MTPD) 1.000 Pabrik urea (MTPD) 1.725
Bahan Baku Gas alam (MMSCFD) 37
Generator Listrik Turbin gas (MW) – 11 KV 30
Generator Uap
Turbin uap (MW) – 6,6 KV WHB (TPH)
Boiler (TPH) Sistem Pendinginan Pompa air laut (M3/H)
Unit Desalinasi TPH (1+1) x 70
Penyimpanan
Tumpukan urea (ton) 40.000 Urea terkemas (ton) 7.500
Ammonia (ton) Unit Pemisahan Udara Nitrogen, NM3/H
Oxygen, NM3/H
Dermaga Ekspor Utama
Kapasitas pengapalan Up to 40.000 tons
Kedalaman 13 MTR
4.1.8 Spesifikasi Produk a. Urea
Spesifikasi produk urea dapat dinyatakan berikut : Kandungan ammonia : 46,3% (min weight) Kadar air : 0,5% (max weight)
Biuret : 1% (max weight)
Fe : 0,1 ppm (max weight)
Ammonia free : 150 ppm (max weight)
Ukuran partikel : 95% lolos antara 6-8 US mesh. 100% lolos dari 6% US mesh Bentuk : Prill (free floming)
b. Ammonia
Kandungan air : 0,1% (max weight) Kandungan NH3 : 99,9% (min weight) Kandungan minyak : 5 ppm (max weight)
Insoluble gas : 500 ppm (max weight)
Suhu : -33°C (ke storage) 20-30°C (ke urea)
c. Urea Granul
Nitrogen : 46% (min weight)
Biuret : 1% (max weight)
Kandungan air : 0,5% (max weight)
Besi : 1 ppm (max weight)
Ammonia bebas : 150 ppm (max weight)
Debu : 15 ppm (max weight)
Suhu produk : 50°C (max)
Bentuk : Granul
4.1.9 Lambang dan Merk Dagang
a. Lambang PT Pupuk Kalimantan Timur (Gambar 5)
Gambar 5. Lambang PT Pupuk Kaltim
Lambang PT PKT dapat dilihat pada Gambar 5. Makna dari tiap unsur dalam lambang tersebut adalah sebagai berikut :
1) Segilima, melambangkan Pancasila yang merupakan landasan idiil perusahaan.
2) Daun buah, melambangkan kesuburan dan kemakmuran.
3) Lingkaran kecil putih, melambangkan letak lokasi kota Bontang dekat Khatulistiwa.
4) Garis merah horisontal di kanan dan kiri, melambangkan garis khatulistiwa.
5) Warna biru melambangkan keluasan Nusantara.
6) Warna merah melambangkan dinamika kewiraswastaan. b. Merk Dagang PT Pupuk Kalimantan Timur
1) Pupuk Urea Daun Buah dan Mandau (Gambar 6)
Kapasitas terpasang di keempat (4) pabrik urea yang dimiliki oleh Pupuk Kaltim mencapai 8.600 Metric Tons Per Day (MTPD), dengan kemampuan produksi yang terus menerus ditingkatkan. Dengan rumus kimia CO(NH2)2, yang sebagian besar kandungannya adalah nitrogen sebagai hasil akhir dari metabolisme protein, dalam bentuk curah dan butiran.
Gambar 6. Pupuk Urea Mandau dan Daun Buah
2) Ammonia
Ammonia merupakan gas tanpa warna dengan bau yang sangat kuat dan menyengat. Ammonia juga mudah larut dalam air dan seringkali digunakan dalam pupuk. Kapasitas terpasang untuk ammonia di keempat (4) pabrik Pupuk Kaltim mencapai total 40.000 MTPD, dengan bahan baku dari gas alam.
Kandungan Nitrogen mencapai 82% dalam ammonia, dengan senyawa kimia NH3. Ammonia terjadi karena reaksi dengan tekanan yang sangat tinggi dalam proses produksi urea.
3) Pupuk NPK Pelangi
Sejak akhir tahun 2002, PKT telah mengembangkan pupuk majemuk NPK Pelangi (Gambar 7), yaitu jenis pupuk yang mengandung unsur hara makro Nitrogen, Phospor dan Kalium yang sangat dibutuhkan tanaman. Pengembangannya sejalan
dengan program pemerintah yang ingin memasyarakatkan penggunaan pupuk NPK, karena terbukti dapat meningkatkan produktivitas pertanian.
Gambar 7. Pupuk NPK Pelangi
4) Pupuk Zeorganik
Dilakukan pengembangan usaha di bidang pupuk organik, dalam rangka mendukung program pemerintah untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah. Nama merk dagang : Zeorganik Pupuk Kaltim (Gambar 8).
Gambar 8. Pupuk Zeorganik
Produksi dan kualitas tanaman dapat ditingkatkan dengan memperbaiki kesuburan tanah menggunakan Zeorganik, serta melengkapi kebutuhan nutrisi yang diperlukan tanaman.
4.1.10 Pemasaran Hasil Produksi
PT Pupuk Kalimantan Timur (PT Pupuk Kaltim) yang berkedudukan di Bontang adalah suatu perusahaan industri yang bergerak di bidang usaha perdagangan dan pemasaran pupuk urea dan ammonia. Dalam menjalankan operasi perusahaan PT Pupuk Kaltim melakukan penjualan pupuk urea bersubsidi dan nonsubsidi yang meliputi pasar perkebunan dan industri. Untuk distribusi pupuk urea bersubsidi pelaksanaannya telah diatur pemerintah melalui Kementrian Perdagangan dan Kementrian Pertanian. Data mengenai jumlah kebutuhan pupuk nasional diperbaharui secara berkala dan menjadi patokan dalam pelaksanaan tugas distribusi pupuk bersubsidi. Wilayah tanggungjawab PT Pupuk Kaltim meliputi dua pertiga (2/3) wilayah Indonesia, antara lain 14 provinsi di Kawasan Timur Indonesia, 26 Kota/Kabupaten di Jawa Timur dan 18 Kota/Kabupaten di Jawa Tengah. Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk urea bersubsidi ditetapkan Rp1200,- per kg.
Untuk penjualan ke sektor perkebunan dan industri adalah murni bisnis. Harga jual ditentukan oleh mekanisme pasar. Penjualan di sektor industri dan pertanian ini memberikan kontribusi nyata bagi kinerja keuangan dan perolehan laba perusahaan karena marjin keuntungan yang diperoleh dari sektor ini cukup tinggi. Hal serupa juga berlaku untuk penjualan ke sektor ekspor. Namun untuk sektor ekspor dibutuhkan izin dari pemerintah. Apabila pemenuhan dan stok pupuk nasional dinyatakan cukup dan terpenuhi, maka izin ekspor baru dikeluarkan.
Sesuai dengan kebijakan pemerintah, dalam hal ini Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 56/KP/11/79 tertanggal 15 Februari 1979, maka penyaluran urea dalam negeri di daerah Kalimantan Timur dan sekitarnya ditangani oleh PT Pupuk Kalimantan Timur sendiri, termasuk pengantongannya. Sementara itu urea yang dijual di luar daerah Kalimantan Timur sebagian dalam bentuk curah yang dibawa ke dalam unit pengantongan PT Pupuk Sriwijaya di Meneng, Makassar dan Surabaya. Produk urea PT Pupuk Kalimantan Timur adalah untuk melayani kebutuhan Indonesia wilayah Timur dan Tengah, meliputi Jawa
Timur bagian Timur, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, seluruh Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Irian Jaya, dan lain-lain. Untuk pemasaran luar negeri yang dilayani oleh PT Pupuk Kalimantan Timur sendiri, meliputi negara-negara Sabah, Malaysia, Vietnam, China, Srilangka, Jepang, Filipina, dll. Sedangkan untuk amonia dipasarkan ke Korea Selatan, India, Yordania, Tanzania, Spanyol, Thailand, Malaysia, Jepang, Taiwan, dan sebagainya.
Pada tahun 2007, pemerintah memberikan izin ekspor kepada PT Pupuk Kaltim. Sedangkan untuk produk ammonia, selain digunakan untuk bahan baku pupuk, juga dijual ke sektor dalam negeri, yakni untuk kebutuhan industri. Sebagian lainnya di ekspor. Dengan adanya izin ekspor pupuk urea dan ammonia yang diberikan pemerintah kepada PT Pupuk Kaltim, ternyata sangat membantu dalam peningkatan kinerja keuangan perusahaan.
4.1.11 Tenaga dan Waktu Kerja
Waktu kerja bagi karyawan dibagi dua (2), yaitu karyawan shift dan
nonshift. Untuk nonshift lama jam kerja adalah delapan (8) jam sehari,
seminggu lima hari, mulai pukul 07.00-16.00 Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA) untuk Senin sampai Kamis, sedangkan hari Jum’at mulai pukul 07.00-17.00 WITA. Untuk shift, terdapat pembagian kerja berikut : a. Day shift : 07.00-15.00 WITA
b. Swing shift : 15.00-23.00 WITA c. Night shift : 23.00-07.00 WITA 4.1.12 Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi perusahaan dibentuk untuk mempersatukan dan menggalang semua aktivitas yang ada untuk mencapai tujuan. Sistem organisasi PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk. menggunakan sistem dewan direksi. Dewan direksi terdiri dari seorang direksi utama dan empat (4) orang direktur yang terdiri atas.
a. Direktur Produksi b. Direktur Teknik c. Direktur keuangan
d. Direktur Penelitian dan Pengembangan (Litbang)
Dalam pelaksanaan sehari-hari, Dewan Direksi dibantu oleh aparat-aparat berikut :
a. Kepala Kompartemen b. Deputi Kompartemen
c. Kepala Departemen (Kepala Biro) d. Kepala Bagian
e. Wakil Kepala Bagian f. Kepala Seksi
g. Kepala Regu h. Pelaksanaan
Untuk mengawasi direksi dalam mengelola perusahaan, dibentuk Dewan Komisaris yang terdiri dari seorang Komisaris Utama dan empat (4) orang komisaris anggota yang bertanggungjawab kepada Departemen Perindustrian RI melalui Dirjen Industri Kimia Dasar.
Unsur bantuan yang terdiri dari kompartemen dan biro, meliputi : a. Direktorat Khusus
1) Kompartemen Satuan Pengawas Intern − Biro Waskeu
− Biro Wasop
2) Kompartemen Sekretaris Perusahaan
− Biro Humas − Biro Umum
− Biro Sekretariat − Biro Hukum − Biro PUKK − Dept. Kamtib b. Direktorat Keuangan
Biro sistem informasi 1) Kompartemen Keuangan
− Biro Keuangan − Biro Anggaran − Biro Akuntansi
2) Kompartemen/Proyek Pemasaran Dalam Negeri − Proyek pemasaran urea dalam negeri
− Departemen pemasaran luar negeri
− Departemen ekspor pergudangan dan distribusi c. Direktorat Teknik
1) Kompartemen Teknik
− Biro Pengadaan − Biro Jasa Teknik − Biro PPAP − Biro Rancang Bangun − Departemen Ran.Mat. Pergud
2) Divisi Industri Peralatan Pabrik
− Departemen Pemasaran dan Keuangan − Departemen Teknik dan Produksi d. Direktorat Litbang
Biro Sistem Manajemen 1) Kompartemen Renbang
− Biro Litbangpros dan Bangha − Biro Penelitian dan Renstra − Proyek Pupuk NPK Pelangi 2) Kompartemen SDM
− Biro Bang SDM − Biro Personalia e. Direktorat Produksi
1) Biro KKK & LH 2) Biro Inspeksi Teknik 3) Biro Teknologi
i. Kompartemen Operasi
− Departemen Operasi Kaltim-1 − Departemen Operasi Kaltim-2 − Departemen Operasi Kaltim-3 − Departemen Operasi Kaltim-4 ii. Kompartemen Pemeliharaan
− Departemen Mec/Machinery − Departemen HarList & Instrumen − Departemen Perbengkelan
− Sub Departemen DPS f. Kompartemen Administrasi g. Kompartemen Keuangan h. Kompartemen Litbang i. Kompartemen Teknik j. Kompartemen Produksi k. Kompartemen SDM
l. Divisi Industri Peralatan Pabrik a. Biro PSDM & M PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk.
Biro ini mengemban tugas untuk melaksanakan pendidikan bagi karyawan dan masyarakat yang meliputi :
1) Bagi karyawan
i. Program Pelatihan Industri ii. Program Pelatihan Wajib iii. Program Pelatihan Penunjang
iv. Program Pelatihan Pengembangan Wawasan v. Program Pendidikan Formal
vi. Program Pelatihan Purna Tugas 2) Bagi masyarakat
i. Program Praktek Kerja Lapangan
ii. Program Loka Latihan Keterampilan (Lolapil) iii. Jasa Diklat
4.1.13 Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH)
Usaha keselamatan kerja dan lingkungan hidup di PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk. mempunyai sasaran umum dan khusus. Sasaran umum yang ingin dicapai adalah :
a. Perlindungan terhadap karyawan yang berada di tempat kerja agar selalu terjamin keselamatan dan kesehatannya sehingga dapat mewujudkan peningkatan produksi dan produktivitas kerja.
b. Perlindungan setiap orang lain yang berada di tempat kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat.
c. Perlindungan terhadap bahan dan peralatan produksi agar dapat dipakai dan digunakan secara aman dan efisien.
Sasaran khusus usaha keselamatan dan kesehatan kerja adalah : a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan, kebakaran, peledakan, dan
penyakit akibat kerja.
b. Mengamankan mesin, instalasi, pesawat, alat kerja, bahan baku dan bahan hasil produksi.
c. Menciptakan lingkungan dan tempat kerja yang aman, nyaman, sehat dan penyesuaian antara pekerjaan dengan manusia dan sebaliknya. 4.2. Kinerja Keuangan PT Pupuk Kaltim
Laporan keuangan melaporkan aktivitas yang sudah dilakukan perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dari laporan keuangan tersebut dapat dilihat gambaran kinerja keuangan perusahaan. Untuk memperoleh gambaran tentang kinerja keuangan perusahaan digunakan analisis rasio. Selain itu, analisis rasio juga bermanfaat dalam membantu pengambilan keputusan perusahaan. Kinerja manajemen dalam suatu periode dapat dilihat dari hasil analisis rasio ini, apakah mencapai target seperti yang telah ditetapkan. Kemampuan perusahaan dalam memberdayakan sumber daya perusahaan secara efektif dapat dinilai dari hasil analisis rasio ini. Analisis rasio yang digunakan, antara lain analisis likuiditas, analisis
leverage, dan analisis profitabilitas. Melalui analisis ini akan diperoleh
gambaran mengenai kondisi keuangan dan perkembangan perusahaan PT Pupuk Kaltim pada tahun 2006-2010. Untuk mengatakan suatu kondisi perusahaan baik atau tidaknya, digunakan suatu standar rasio berdasarkan rata-rata industri untuk usaha yang sejenis yaitu PT Pupuk Sriwidjaja. PT Pupuk Sriwidjaja (Persero), yang lebih dikenal sebagai PT Pusri, merupakan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang produksi dan pemasaran pupuk. Hasil analisis rasio PT Pupuk Kaltim periode 2006 sampai 2010 dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Hasil analisis rasio PT Pupuk Kaltim 2006-2010
No. Keterangan 2006 2007 2008 2009 2010 Rataan 1. Rasio Likuiditas (%) Current Ratio 118,42 145,94 143,14 162,98 202,35 154,57 Cash Ratio 21,09 32,45 20,18 53,15 57,34 36,84 Acid Test Ratio 80,61 101,28 75,45 116,47 129,02 100,57 2. Rasio Leverage (%) Debt to Equity 111,41 82,35 91,43 92,82 77,70 91,14 Total Debt to Total Assets 52,70 45,16 47,76 48,14 43,73 47,50 Long Term Debt to Equity 52,36 41,04 32 35,21 36,74 39,47 3. Rasio Profitabilitas (%) Gross Profit Margin 41,11 36,29 27,89 31,81 36,20 34,66 Operating Income Ratio 15,92 15,02 13,10 12,62 16,10 14,55 Net Profit Margin 7,48 7,01 6,45 10,13 11,03 8,42 ROI 6,03 7,01 8,86 9,89 10,34 8,43 4.2.1 Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Rasio likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar utang-utang (kewajiban) jangka pendeknya yang jatuh tempo, atau rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membiayai dan memenuhi kewajiban (utang) pada saat ditagih. Rasio likuiditas aktual perusahaan yang digunakan adalah
Current Ratio, Cash Ratio, dan Acid Test Ratio. Perkembangan
rasio likuiditas PT Pupuk Kaltim periode 2006-2010 dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Perkembangan rasio likuiditas PT Pupuk Kaltim periode 2006-2010
a. Current Ratio
Current Ratio merupakan rasio untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek, atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan.
Pada Gambar 9 terlihat perkembangan current ratio selama 5 periode yaitu tahun 2006-2010. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai current ratio selama tahun 2006-2010 memperlihatkan perkembangan yang fluktuatif, terjadi penurunan pada tahun 2007-2008, namun mengalami peningkatan kembali selama tahun 2008-2010. Rataan current
ratio PT Pupuk Kaltim untuk 5 tahun terakhir 154,57% yang
berarti bahwa setiap Rp1,00,- hutang lancar dijamin dengan aktiva lancar Rp1,54,-, maka dapat dilihat bahwa kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya sudah cukup baik, karena aktiva yang tersedia sudah dapat memenuhi kewajiban lancar perusahaan. Namun, untuk tahun 2006-2010 kondisinya masih kurang baik jika dibandingkan dengan PT Pupuk Sriwidjaja karena rasionya masih dibawah rataan yaitu
0.00 50.00 100.00 150.00 200.00 250.00 2006 2007 2008 2009 2010 P ers en ta se ( % ) Tahun Current Ratio Cash Ratio Acid Test Ratio
186,09%. Perkembangan rasio ini dipengaruhi oleh perkembangan aktiva lancar dan kewajiban lancar perusahaan. b. Cash Ratio
Cash Ratio merupakan alat yang digunakan untuk
mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar hutang. Dalam hal ini rasio menunjukkan kemampuan sesungguhnya bagi perusahaan untuk membayar utang-utang jangka pendeknya.
Perkembangan rasio ini selama lima (5) periode, yaitu tahun 2006-2010 menunjukkan nilai fluktuatif. Terjadi penurunan nilai pada tahun 2007-2008, namun mengalami peningkatan kembali pada tahun 2008-2010. Nilai rataan cash
ratio PT Pupuk Kaltim adalah 36,84% yang berarti bahwa setiap
Rp1,00,- utang lancar dijamin dengan Rp0,37,- uang kas dan setara kas. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan kurang mampu mendanai hutang lancarnya menggunakan uang kas. Untuk tahun 2006-2010 kondisinya masih kurang baik karena rasionya masih di bawah rataan jika dibandingkan dengan PT Pupuk Sriwidjaja, yaitu 54,40%.
c. Acid Test Ratio
Acid Test Ratio merupakan rasio yang menunjukkan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi atau membayar kewajiban atau utang lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan persediaan.
Pada Gambar 9 terlihat perkembangan acid test ratio selama lima (5) periode, yaitu tahun 2006-2010. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai acid test ratio selama tahun 2007-2008 memperlihatkan perkembangan yang cenderung menurun, namun mengalami peningkatan kembali selama tahun 2008-2010. Rataan acid test ratio PT Pupuk Kaltim untuk lima (5) tahun terakhir sebesar 100,57% yang berarti bahwa setiap Rp1,00,- hutang lancar dijamin dengan Rp1,01,- aktiva lancar
tanpa persediaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu menutupi kewajiban lancarnya, apabila tanpa persediaan. Namun, untuk tahun 2006-2010 kondisinya masih kurang baik karena rasionya masih di bawah rataan jika dibandingkan dengan PT Pupuk Sriwidjaja, yaitu 132,74%. Persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang tingkat likuiditasnya rendah, sehingga dianggap memerlukan waktu relatif lebih lama untuk diuangkan, apabila perusahaan membutuhkan dana cepat untuk membayar kewajibannya dibandingkan dengan aktiva lancar lainnya.
4.2.2 Rasio Leverage
Rasio ini menggambarkan hubungan antara utang perusahaan terhadap modal maupun aset. Rasio ini dapat melihat seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh utang atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang digambarkan oleh modal (equity). Perusahaan yang baik seharusnya memiliki komposisi modal lebih besar dari utang. Rasio ini dapat juga dianggap bagian dari rasio Solvabilitas.
Rasio solvabilitas atau leverage ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Dalam arti luas, dikatakan bahwa rasio solvabilitas atau leverage ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan (dilikuidasi).
Penilaian leverage ratio PT Pupuk Kaltim dilakukan dengan menggunakan debt to equity ratio (DER), total debt to total assets
ratio (debt ratio) dan long term debt to equity ratio. Perkembangan
nilai leverage ratio PT Pupuk Kaltim periode 2006-2010 dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10. Perkembangan leverage ratio PT Pupuk Kaltim periode 2006-2010
a. Debt to Equity Ratio
DER merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang.
Pada Gambar 10 dapat dilihat perkembangan nilai rasio ini selama lima (5) periode yaitu tahun 2006-2010. Nilai rataan rasio ini selama tahun 2006-2010 pada PT Pupuk Kaltim 91,14%. Rasio ini menunjukkan bahwa kreditor menyediakan Rp0,91,- untuk setiap Rp1,00,- yang disediakan pemegang saham, atau perusahaan dibiayai oleh utang 91,14%. Rasio rataan PT Pupuk Sriwidjaja untuk debt to equity ratio (DER) 133,91%, PT Pupuk Kaltim masih dianggap cukup baik, karena berada di bawah rataan PT Pupuk Sriwidjaja. Selama periode lima (5) tahun tersebut terlihat adanya peningkatan pada tahun 2007-2009, dan kembali menurun pada tahun 2009-2010. Hal ini mengidentifikasikan bahwa perusahaan mulai mengurangi peminjaman kepada kreditor.
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 2006 2007 2008 2009 2010 P ers en ta se ( % ) Tahun
Debt to equity ratio Total debt to total assets Long term debt to equity
b. Total Debt to Total Assets Ratio (Debt Ratio)
Debt ratio merupakan rasio utang yang digunakan untuk
mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Dengan kata lain, seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva. Semakin besar nilai rasio berarti semakin besar risiko yang ditanggung perusahaan. Semakin kecil nilainya berarti semakin baik, karena jumlah aktiva yang dibiayai dengan hutang semakin kecil.
Pada Gambar 10 dapat dilihat perkembangan nilai rasio ini selama lima (5) periode, yaitu tahun 2006-2010. Nilai rataan rasio ini pada PT Pupuk Kaltim 47,50%, yang berarti bahwa jumlah aktiva yang dibiayai oleh pinjaman luar 47,50% dan sisanya 52,5% dibiayai oleh modal. Kondisi ini menunjukkan resiko yang ditanggung perusahaan cukup kecil, karena 52,5% dalam kepemilikan modal sendiri dan pinjaman luar 47,50%. Untuk tahun 2006-2010 kondisi perusahaan cukup baik, karena masih dibawah rataan jika dibandingkan PT Pupuk Sriwidjaja yaitu 57,26%.
Pada periode lima (5) tahun tersebut terlihat adanya peningkatan pada tahun 2007-2009 dan kembali menurun pada tahun 2009-2010. Hal ini mengidentifikasikan bahwa perusahaan mulai mengurangi peminjaman kepada pihak luar. c. Long Term Debt to Equity Ratio
Long term debt to equity ratio merupakan rasio antara
utang jangka panjang dengan modal sendiri. Tujuannya untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang dengan cara membandingkan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri yang disediakan oleh perusahaan.
Pada Gambar 10 dapat dilihat perkembangan nilai rasio ini selama lima (5) periode yaitu tahun 2006-2010. Nilai rataan
rasio ini pada PT Pupuk Kaltim sebesar 39,47% yang berarti bahwa perusahaan mampu menjamin Rp0,39,- hutang jangka panjangnya dengan Rp1,00,- modal sendiri. Untuk tahun 2006-2010 kondisi perusahaan cukup baik, karena masih di bawah rataan jika dibandingkan PT Pupuk Sriwidjaja, yaitu 69,12%.
Rasio ini mengalami penurunan pada tahun 2006-2008, namun kemudian terjadi peningkatan dari tahun ke tahun, yaitu tahun 2008-2010. Kenaikan ini terjadi karena hutang jangka panjang perusahaan mengalami peningkatan lebih besar dibandingkan dengan kenaikan modal.
4.2.3 Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan, penjualan dan pendapatan investasi. Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan. Profitabilitas yang baik akan dapat meningkatkan posisi perusahaan dan memperkecil kemungkinan kebangkrutan.
Analisis profitabilitas PT Pupuk Kaltim dilakukan dengan menggunakan gross profit margin ratio (GPMR), operating income
ratio, net profit margin ratio (NPMR), dan return on investment
(ROI). Perkembangan nilai rasio profitabilitas PT Pupuk Kaltim periode 2006-2010 dapat dilihat dalam Gambar 11.
Gambar 11. Perkembangan rasio likuiditas PT Pupuk Kaltim periode 2006-2010
a. Gross Profit Margin Ratio
GPMR memberikan informasi mengenai laba kotor yang dapat dicapai dari setiap rupiah penjualan yang dilakukan. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin baik dan secara relatif semakin rendah harga pokok barang yang dijual dan mengukur efisiensi pengendalian harga pokok, atau biaya produksinya, mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien.
Pada Gambar 11 terlihat perkembangan nilai rasio ini selama lima (5) periode, yaitu tahun 2006-2010. Terjadi penurunan nilai rasio pada tahun 2006 sampai 2008, namun mengalami peningkatan kembali pada tahun 2008 sampai 2010. Nilai rataan dari rasio ini 34,66%, yang berarti setiap Rp1,00,- penjualan yang dilakukan, perusahaan akan memperoleh keuntungan usaha (laba kotor) Rp0,35,-. Rasio rataan PT Pupuk Sriwidjaja untuk gross profit margin 26,77%, PT Pupuk Kaltim masih dianggap cukup baik, karena berada di atas rataan PT Pupuk Sriwidjaja. 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00 2006 2007 2008 2009 2010 P ers en ta se ( % ) Tahun
Gross Profit Margin Operating Income Ratio Net Profit Margin
b. Operating Income Ratio
Operating Income Ratio merupakan indikator perusahaan
dalam mencapai laba dari bisnis utama. Laba usaha belum dipotong dengan beban keuangan (interest, bunga). Angka laba yang digunakan dalam perhitungan adalah yang berasal dari kegiatan usaha pokok perusahaan.
Pada Gambar 11 terlihat perkembangan nilai rasio ini selama lima (5) periode, yaitu tahun 2006-2010. Terjadi penurunan nilai rasio pada tahun 2006 sampai 2009, namum mengalami peningkatan kembali pada tahun 2009 sampai 2010. Nilai rataan dari rasio ini adalah sebesar 14,55%. Rasio ini memberi gambaran tentang efisiensi perusahaan pada kegiatan utama perusahaan. Rasio rataan PT Pupuk Sriwidjaja untuk
operating income ratio sebesar 9,93%, PT Pupuk Kaltim masih
dianggap cukup baik karena berada di atas rataan PT Pupuk Sriwidjaja.
c. Net Profit Margin Ratio
NPMR menunjukkan tingkat keuntungan bersih yang diperoleh dari setiap penjualan yang dilakukan perusahaan. Rasio ini mencerminkan kemampuan manajemen untuk menghasilkan laba setelah harga pokok penjualan, beban operasi/usaha, beban lain-lain dan pajak sehubungan dengan penjualan. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin baik dan secara relatif semakin rendah harga pokok barang yang dijual serta mengukur efisiensi pengendalian harga pokok, atau biaya produksinya, mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien.
Pada Gambar 11 dapat dilihat perkembangan nilai rasio ini selama lima (5) periode, yaitu tahun 2006-2010. Terjadi penurunan nilai rasio pada tahun 2006 sampai 2008, namum mengalami peningkatan kembali pada tahun 2008 sampai 2010. Kondisi peningkatan tersebut menunjukkan meningkatnya
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih. Peningkatan yang terjadi pada penjualan belum tentu dapat meningkatkan marjin laba bersih, karena harus memperhitungkan faktor-faktor pengurang yang biasanya turut mengalami kenaikan seiring dengan naiknya penjualan. Nilai rataan dari rasio ini adalah 8,42% yang berarti bahwa setiap Rp1,00,- penjualan yang dilakukan, perusahaan akan memperoleh keuntungan usaha (laba bersih) Rp0,08,-. Rasio rataan PT Pupuk Sriwidjaja untuk net profit margin ratio (NPMR) 6,50%, PT Pupuk Kaltim masih dianggap cukup baik karena berada di atas rataan PT Pupuk Sriwidjaja.
d. Return on Investment
ROI merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. ROI juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya.
Pada Gambar 11 dapat dilihat perkembangan nilai rasio ini selama lima (5) periode, yaitu tahun 2006-2010. Terjadi peningkatan nilai rasio terus menerus selama tahun 2006 sampai 2010. Standar yang digunakan dalam pengukuran rasio ini biasanya dibandingkan dengan tingkat suku bunga umum yang berlaku pada saat itu, jika nilainya lebih besar, maka akan lebih menarik bagi investor.
Nilai rataan dari rasio ini 8,43%, yang berarti bahwa setiap Rp1,00,- aktiva yang diinvestasikan akan menghasilkan laba Rp0,08,-. Rasio rataan PT Pupuk Sriwidjaja untuk ROI 7,32%, PT Pupuk Kaltim masih dianggap cukup baik karena berada di atas rataan PT Pupuk Sriwidjaja. ROI merupakan rasio yang umumnya ingin diketahui oleh investor, sehingga besar kecilnya nilai ROI merupakan daya tarik bagi investor untuk menanamkan investasinya dalam usaha.
4.3 Analisis Pengaruh SDM dan Operasional Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan PT Pupuk Kaltim
SDM merupakan unsur yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Kegagalan mengelola SDM dapat mengakibatkan timbulnya gangguan dalam pencapaian tujuan perusahaan, baik dalam kinerja, profit, maupun kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri.
SDM PT Pupuk Kaltim dikelola di bawah pengawasan Dep. Kesejahteraan dan Hubind. PT Pupuk Kaltim memiliki karyawan 2.642 orang menurut data bulan Desember Tahun 2011. Penelitian ini menggunakan beberapa peubah SDM, yaitu turnover, rasio jumlah karyawan engineering dan karyawan pabrik, serta rasio jumlah manajer dan seluruh karyawan. Diperlukan manajemen operasional yang tangguh dan handal, karena semua hal mengenai perusahaan bermuara pada dan diuji dalam operasionalisasinya. Apakah perusahaan dikelola dengan efisien, atau tidak dan apakah perusahaan mampu menampilkan produktivitas kerja yang tinggi atau tidak akan terlihat dalam penyelenggaraan seluruh aktivitas yang sifatnya operasional.
Penelitian ini menggunakan beberapa peubah operasional PT Pupuk Kaltim, yaitu on stream factor dan production rate. Operasional disini difokuskan pada kondisi pabrik PT Pupuk Kaltim. Dalam kegiatan PT Pupuk Kaltim, faktor ketepatan waktu merupakan hal sangat penting. Dikatakan demikian, karena ketepatan waktu bukan hanya menjamin lancarnya proses produksi, melainkan juga menjamin tersedianya bahan jadi, atau produk di tangan distributor, agen dan saluran lainnya, sehingga permintaan para konsumen dapat terpuaskan setiap kali permintaan tersebut timbul. Berangkat dari pandangan demikian, jelas diperlukan perkiraan yang seakurat mungkin tentang jumlah jam penggunaan mesin untuk memenuhi pesanan yang diperkirakan akan diterima perusahaan untuk setiap bulan.
Kinerja keuangan perusahaan dituangkan dalam angka-angka, baik dalam bentuk mata uang rupiah, maupun dalam mata uang asing. Angka-angka yang ada dalam laporan keuangan menjadi kurang berarti, jika hanya dilihat satu sisi saja. Artinya jika hanya dengan melihat apa adanya.
Angka-angka ini akan menjadi lebih, apabila dapat dibandingkan antara satu komponen dengan komponen lainnya, caranya dengan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan, atau antar laporan keuangan. Setelah melakukan perbandingan, dapat disimpulkan posisi keuangan suatu perusahaan untuk periode tertentu. Pada akhirnya dapat dinilai bahwa kinerja manajemen dalam periode tersebut. Perbandingan ini dikenal dengan nama analisis rasio keuangan.
Dari sekian banyak rasio kinerja keuangan yang telah diuji, rasio keuangan PT Pupuk Kaltim memberikan pengaruh nyata dalam penelitian ini adalah rasio likuiditas, yaitu current ratio, yang bersumber dari data laporan per triwulan SDM dan operasional PT Pupuk Kaltim tahun 2006-2011. Hasil penelitian memenuhi empat (4) uji asumsi klasik regresi linear berganda.
4.3.1 Pengaruh SDM dan Operasional Perusahaan Terhadap
Current Ratio PT. Pupuk Kaltim
Dalam menganalisis pengaruh SDM dan operasional perusahaan terhadap current ratio, digunakan kriteria evaluasi yang telah umum. Pengujian terhadap asumsi-asumsi dari metode pendugaan yang dilakukan meliputi uji normalitas, uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas dan uji multikolinearitas.
Uji normalitas dilakukan, jika jumlah observasi, atau contoh kurang dari 30, terutama pada penelitian ini diperoleh 23 contoh, maka pengujian asumsi normalitas melalui One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test dilakukan menurut error term. Hasil uji
menunjukkan bahwa nilai probabilitas (p-Value) yang diperoleh lebih besar dari taraf nyata (α = 0,05), yaitu 0,728 (Lampiran 17). Oleh karena p-Value (0,728) > α (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa error term terdistirbusi normal.
Untuk menguji asumsi non autokorelasi dapat dilakukan dengan melihat nilai statistik Durbin-Watson dari model. Nilai tersebut pada model penelitian ini jatuh pada kisaran 1,989, yang terletak antara dU dengan 4-Du, maka dapat disimpulkan bahwa
model tidak mengandung masalah autokorelasi. Hasil uji asumsi non autokorelasi pada model dapat dilihat pada Lampiran 17.
Pengujian untuk mengetahui ada, atau tidaknya pelanggaran asumsi heteroskedastisitas dalam model pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis grafik. Berdasarkan tampilan pada scatterplot terlihat bahwa plot menyebar secara acak di atas, maupun di bawah angka nol pada sumbu Regression Studentized Residual, model yang terbentuk dinyatakan tidak terjadi gejala heteroskedastisitas. Hasil uji heteroskedastisitas pada model dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12. Hasil uji heteroskedastisitas current ratio
Asumsi berikutnya yang juga diuji adalah adanya multikolinearitas antara peubah-peubah bebas dalam model. Uji ini dilakukan dengan menggunakan uji multikolinearitas dengan TOL dan VIF. Collinearity Statistics pada Lampiran 17 menunjukkan bahwa tidak ada peubah bebas yang korelasinya dengan peubah lain lebih besar dari angka 10, maka disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar peubah bebas dalam model yang digunakan pada penelitian ini.
Persamaan pengaruh SDM dan operasional perusahaan terhadap current ratio memiliki koefisien determinasi (R2) 0,526, artinya peubah bebas dalam persamaan tersebut mampu menjelaskan 53% variasi peubah terikat dan sisanya (47%)
dijelaskan oleh peubah lain di luar persamaan. Dari hasil estimasi model pengaruh SDM dan operasional perusahaan terhadap current
ratio diketahui bahwa nilai probabilitas F statistik adalah 0,018.
Nilai tersebut lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan dalam model, yaitu 0,05. Hal ini berarti peubah-peubah bebas dalam model secara bersama-sama memberikan pengaruh nyata terhadap
current ratio. Hasil estimasi dapat dilihat pada Lampiran 17.
Tabel 9. Hasil Regresi persamaan pengaruh SDM dan operasional Perusahaan terhadap Current Ratio PT Pupuk Kaltim
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 12802.563 5 2560.513 3.777 .018a
Residual 11524.056 17 677.886
Total 24326.619 22
a. Predictors: (Constant), Rasio Manajer, Production Rate, Rasio Karyawan Engineering, On Stream Factor, Turnover
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardiz ed Coefficient s t Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleranc e VIF 1 (Constant) 705.707 205.533 3.434 .003 Turnover 139.353 63.402 .476 2.198 .042 .595 1.680 On Stream Factor -1.383 .611 -.454 -2.263 .037 .691 1.447 Production Rate .358 .830 .081 .431 .672 .784 1.276 Rasio Karyawan Engineering -3.024 3.619 -.157 -.836 .415 .788 1.269 Rasio Manajer -156.057 44.543 -.659 -3.503 .003 .787 1.270
a. Dependent Variable: Current Ratio
Keterangan : α = 0,05
Tabel 9 menunjukkan bahwa terdapat tiga (3) peubah bebas yang berpengaruh nyata terhadap current ratio pada taraf nyata 5 persen (α = 0,05), yaitu turnover karyawan, on stream factor dan rasio manajer. Sedangkan dua (2) peubah bebas lainnya, yaitu
production rate dan rasio karyawan engineering tidak berpengaruh
nyata terhadap current ratio. Oleh karena itu, persamaan regresi sebagai berikut : Yc = 705,707 + 139,353 X1 – 1,383 X2 – 156,057 X5 memiliki pengaruh positif terhadap current ratio.
Turnover karyawan memiliki parameter positif dan
berpengaruh nyata terhadap current ratio. Artinya, semakin tinggi
turnover karyawan, maka secara nyata akan menyebabkan current ratio semakin tinggi. Hal ini berbeda dengan hipotesis yang
diajukan dalam penelitian. Turnover karyawan adalah perbandingan jumlah karyawan keluar terhadap jumlah karyawan
rataan per bulan. Jumlah karyawan PT Pupuk Kalimantan sangat banyak dan setiap karyawan digaji oleh perusahaan. Biaya gaji tersebut berasal dari aktiva lancar perusahaan. Current ratio adalah perbandingan antara total aktiva lancar dengan total utang lancar. Aktiva lancar merupakan harta perusahaan yang dapat dijadikan uang dalam waktu singkat (maksimal satu tahun). Komponen aktiva lancar meliputi kas, bank, surat-surat berharga, piutang, persediaan, biaya dibayar di muka, pendapatan yang masih harus diterima, pinjaman yang diberikan, dan aktiva lancar lainnya.
Turnover yang tinggi menyebabkan aktiva lancar meningkat,
karena diduga berkaitan dengan penghematan pengeluaran untuk gaji. Dengan pengeluaran gaji yg dapat dihemat, maka hutang lancar menjadi lebih kecil dan nilai current ratio menjadi lebih besar. Semakin besar turnover, maka semakin besar nilai current
ratio. Hal itu menyebabkan turnover karyawan memberikan
pengaruh positif terhadap current ratio.
On stream factor memiliki parameter negatif dan
berpengaruh nyata terhadap current ratio. Ini berarti bahwa semakin tinggi on stream factor, maka secara nyata akan menyebabkan current ratio semakin rendah. On stream factor adalah kondisi pabrik aktual terhadap hari kalender. On stream
factor tinggi memberikan output, atau hasil produksi tinggi. PT
Pupuk Kaltim menghasilkan produk setiap hari, karena pabrik beroperasi setiap hari.
Current ratio adalah perbandingan antara total aktiva lancar
dengan total utang lancar. Aktiva lancar merupakan harta perusahaan yang dapat dijadikan uang dalam waktu singkat (maksimal satu tahun). Komponen aktiva lancar meliputi kas, bank, surat-surat berharga, piutang, persediaan, biaya dibayar di muka, pendapatan yang masih harus diterima, pinjaman yang diberikan dan aktiva lancar lainnya. Output tinggi menyebabkan persediaan tinggi karena diduga penjualan tidak berjalan dengan baik.
Persediaan dianggap memerlukan waktu relatif lebih lama untuk diuangkan, apabila perusahaan membutuhkan dana cepat untuk membayar kewajibannya dibandingkan dengan aktiva lancar lainnya. Masalah tersebut menyebabkan on stream factor tidak memberikan pengaruh positif terhadap current ratio.
Rasio manajer memiliki parameter negatif dan berpengaruh nyata terhadap current ratio. Ini berarti bahwa semakin tinggi rasio manajer, maka secara nyata akan menyebabkan current ratio semakin rendah. Rasio manajer merupakan perbandingan jumlah manajer terhadap seluruh karyawan. Manajer PT Pupuk Kaltim adalah staf ahli yang digaji lebih tinggi daripada karyawan lain di bawahnya, karena diharapkan dapat memberikan keahlian, atau keterampilan lebih dibandingkan karyawan lainnya. Current ratio adalah perbandingan antara total aktiva lancar dengan total utang lancar. Aktiva lancar merupakan harta perusahaan yang dapat dijadikan uang dalam waktu singkat (maksimal satu tahun). Komponen aktiva lancar meliputi kas, bank, surat-surat berharga, piutang, persediaan, biaya dibayar di muka, pendapatan yang masih harus diterima, pinjaman yang diberikan dan aktiva lancar lainnya. Biaya gaji yang lebih tinggi untuk para manajer tersebut mengurangi aktiva lancar perusahaan. Masalah tersebut menyebabkan rasio manajer yang semakin tinggi tidak memberikan pengaruh positif terhadap current ratio.
Production Rate tidak berpengaruh nyata terhadap current ratio. Productin rate merupakan perbandingan produksi total
terhadap on stream day actual dan kapasitas desain pabrik. Untuk memperoleh produksi total diperlukan biaya produksi yang terdiri dari biaya untuk faktor produksi tetap dan biaya variabel. Biaya variabel adalah biaya yang berubah-rubah sesuai dengan pemakaian faktor produksi yang tidak tetap seperti bahan baku dan biaya tenaga kerja yang tidak tetap. Pada tingkat kapasitas desain pabrik yang bersifat tetap, biaya produksi total akan berubah sesuai
dengan perubahan biaya variabel. Sehingga perubahan biaya produksi total sampai pada tingkat kapasitas desain pabrik mencerminkan perubahan biaya variabel. Dengan kata lain, perubahan production rate mencerminkan perubahan pemakaian faktor produksi yang tidak tetap. Sementara itu current ratio adalah perbandingan antara total aktiva lancar dengan total utang lancar. Utang lancar meliputi kewajiban-kewajiban yang akan jatuh tempo dalam satu tahun atau dalam satu periode kegiatan normal perusahaan termasuk kewajiban yang timbul untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang bersifat tetap dan tidak tetap, serta untuk kepentingan langsung produksi maupun kepentingan yang tidak langsung berkaitan dengan produksi. Production rate tidak nyata diduga karena utang lancar lebih banyak berasal dari pengeluaran yang bersifat tetap dan pengeluaran yang tidak langsung berkaitan dengan produksi. Sehingga pengaruh pengeluaran yang bersifat tidak tetap dan yang berkaitan langsung dengan produksi tidak begitu kuat.
Rasio karyawan engineering tidak berpengaruh nyata terhadap current ratio. Rasio engineering merupakan perbandingan karyawan bagian produksi atau teknik terhadap seluruh karyawan. Rasio engineering tidak nyata diduga karena gaji yang dibayarkan untuk karyawan bagian produksi atau teknik tidak jauh berbeda dengan karyawan di bagian lain sehingga nilai rasio karyawan
engineering relatif kecil dan tidak bisa menunjukkan pengaruh
yang nyata. 4.4 Implikasi Manajerial
Keberhasilan perusahaan mencapai tujuan dan berbagai sasarannya tidak ditentukan oleh hanya satu peubah. Kehadiran, atau keberadaan satu kelompok manajemen puncak yang memiliki ketangguhan dalam menentukan tujuan, filsafat, strategi akbar dan budaya organisasi sangat penting, tetapi tidak merupakan satu-satunya peubah penentu keberhasilan perusahaan. Dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan bisnis, salah satu
tantangan yang harus dihadapi ialah bagaimana meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja perusahaan.
Analisis laporan keuangan PT Pupuk Kaltim memberikan informasi tentang kelemahan dan kekuatan yang dimiliki perusahaan. Turnover karyawan, rasio manajer dan on stream factor telah sesuai dengan hasil penelitian bahwa peubah tersebut memberikan pengaruh nyata terhadap kinerja keuangan PT pupuk Kaltim, yaitu current ratio dan acid test ratio. Dengan mengetahui kelemahan ini, manajemen dapat memperbaiki atau menutupi kelemahan tersebut. Kemudian, kekuatan yang dimiliki perusahaan harus dipertahankan, atau bahkan ditingkatkan. Kekuatan ini dapat dijadikan modal selanjutnya ke depan.