TINJAUAN PUSTAKA
Remaja dan Dewasa
Masa remaja adalah tahap terjadinya pertumbuhan yang sangat cepat dan transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa dan dari ketergantungan menuju kemandirian dalam hidup bermasyarakat. Periode kehidupan ini sering luput dari perhatian nutritionists, padahal pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini memiliki dampak penting pada kesehatan di masa dewasa. Remaja mengalami pertambahan berat badan 50% dari berat badan mereka saat dewasa, lebih dari 20% dari tinggi badan mereka saat dewasa, dan 50% dari rangka mereka saat dewasa (Mann & Stewart 2007).
Ciri-ciri yang spesifik pada usia remaja adalah pertumbuhan yang cepat, perubahan emosional, dan perubahan sosial. Wahlquist (1997) menegaskan bahwa dibandingkan fase anak-anak, pada fase remaja seseorang mengalami perubahan pada karakteristik fisik, psikis, aturan sosial, dan tanggung jawab. Satu hal yang penting akibat perubahan tersebut adalah kontrol yang berlebihan terhadap pola konsumsi makanan dan minuman ke arah yang kurang baik.
Remaja belum sepenuhnya matang, baik secara fisik, kognitif, dan psikososial. Dalam masa pencarian identitas ini remaja cepat sekali terpengaruh oleh lingkungan. Lebih jauh, kebiasaan makan dan minum pada remaja dipengaruhi oleh keluarga, teman, dan media (terutama iklan di televisi). Teman (akrab) sebaya berpengaruh besar pada remaja, dalam hal memilih jenis makanan. Ketidakpatuhan terhadap teman dikhawatirkan dapat menyebabkan dirinya “terkucil” dan akan merusak rasa percaya diri (Mann & Stewart 2007).
Mann & Stewart (2007) mengatakan bahwa pada kenyataannya, remaja wanita sering sekali mengalami masalah gizi. Remaja pria memiliki perilaku makan dalam porsi besar untuk memenuhi kebutuhan energi dan protein mereka. Pada masa ini terjadi pemilihan pola makan yang salah dan meningkatnya konsumsi energi yang tinggi yang berasal dari minuman berkalori. Remaja memiliki beberapa masalah gizi, diantaranya adalah kekurangan gizi, underweight, anorexia nervosa, membatasi asupan makanan, obesitas dan diabetes, defisiensi zat besi dan anemia, dan defisiensi lainnya (kalsium, vit D, iodium, vit A, asam folat, dan seng).
Masa remaja adalah masa perubahan sikap dan perilaku dalam memilih makanan dan minuman, yang turut dipengaruhi teman sebaya dan lingkungan. Berbeda dengan balita, pada usia ini remaja mengontrol makan dan minum,
artinya remaja dapat melakukan sendiri pilihannya akan makanan dan minuman dan kemandirian dalam mengelola dan menggunakan uang jajan. Perilaku makan bagi sebagian besar remaja menjadi fashion atau ideologi. Kebiasaan makan remaja sering menyimpang dari perilaku makan yang dianjurkan orangtua mereka, diantaranya melewatkan sarapan pagi, sering mengkonsumsi soft drinks, minuman berkalori, dan jus buah dibandingkan air putih, sering mengkonsumsi cemilan, dan meningkatnya konsumsi fast foods.
Remaja tidak setiap hari makan buah dan sayur, sementara kudapan asin dan manis (70%) dimakan beberapa kali (sepertiga dari mereka) setiap hari. Salah satu masalah serius adalah konsumsi makanan olahan, seperti yang ditayangkan dalam iklan televisi, secara berlebihan. Makanan ini terlalu banyak mengandung gula serta lemak. Kebiasaan makan yang diperoleh semasa remaja akan berdampak pada kesehatan dalam fase kehidupan selanjutnya, setelah dewasa dan berusia lanjut (Mann & Stewart 2007).
Anak dan remaja berisiko mengalami kegemukan dan obes. Penelitian menunjukkan bahwa 6-15% anak usia sekolah dan 20-30% remaja mengalami overweight. Obesitas yang terjadi pada anak dapat menjadi faktor predisposisi obesitas pada usia selanjutnya. Studi menunjukkkan bahwa lebih dari 26% obes pada bayi dan anak masih akan menjadi obes 20 tahun yang akan datang (Mann & Stewart 2007).
Hurlock (2004) menyatakan bahwa istilah dewasa (adult) berasal dari bahasa latin adultus yang berarti telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa. Secara psikologis orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhan fisiknya. Selain itu orang dewasa telah siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya.
Masa dewasa dibagi menjadi tiga fase, yaitu masa dewasa dini, masa dewasa madya, dan masa dewasa lanjut. Masa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun hingga 40 tahun, saat terjadi perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif. Masa dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Masa dewasa madya dimulai pada umur 40 hingga 60 tahun, yakni saat menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas nampak pada setiap orang. Masa dewasa madya, dilihat dari sudut posisi usia dan terjadinya perubahan fisik maupun psikologis, memiliki banyak kesamaan
dengan masa remaja. Secara fisik, pada masa remaja terjadi perubahan yang demikian pesat (menuju ke arah kesempurnaan/kemajuan) yang berpengaruh pada kondisi psikologisnya, sedangkan masa dewasa madya juga mengalami perubahan kondisi fisik, namun dalam pengertian terjadi penurunan/kemunduran, yang juga akan mempengaruhi kondisi psikologisnya. Kemudian masa dewasa lanjut dimulai pada umur 60 tahun keatas hingga kematian, saat kemampuan fisik dan psikologis cepat menurun (Hurlock 2004).
Bleich et al (2009) menunjukkan bahwa pada tahun 1999-2004 dua pertiga orang dewasa (63%) (muda dan madya) mengkonsumsi minuman berkalori. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa konsumsi minuman berkalori memiliki hubungan dengan epidemik kegemukan. Hal ini terlihat dari meningkatnya asupan energi yang berasal dari soft drink dan minuman dengan rasa buah sejak tahun 1977 sampai 2001 menjadi 135% yang diikuti dengan berlipat gandanya prevalensi kegemukan. Hellert dan Kersting (2004) menyebutkan bahwa minuman yang dikonsumsi dalam jumlah tertinggi oleh dewasa di Jerman meliputi jus, soft drinks, dan susu, sedangkan teh dan kopi dikonsumsi dalam jumlah sedikit.
Status Gizi
Status gizi seseorang dapat dinilai dengan berbagai cara. Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu indikator penilaian status gizi, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Status gizi dibedakan menjadi kurus, normal, dan gemuk (WHO 2007). Epidemik kegemukan mulai dibicarakan pada tahun 1980 dan mulai menjadi masalah kesehatan masyarakat pada tahun 1997 (James 2008). Klasifikasi terhadap status gizi didasarkan pada Indeks Massa Tubuh (IMT). Perhitungan ini dilakukan dengan cara membagi berat badan (kilogram) dengan hasil kuadrat tinggi badan (meter). Berikut merupakan kategori status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang dikeluarkan oleh WHO (2007)
Tabel 1 Kategori status gizi berdasarkan IMT
Status gizi IMT (kg/m2)
Underweight <18.5 Normal 18.5-24.9 Overweight ≥25.0 Pra-obes 25.0-29.9 Obesitas ≥30.0 Obesitas kelas I 30.0-34.9 Obesitas kelas II 35.0-39.9
Kegemukan digambarkan sebagai keadaan dimana asupan energi melebihi pengeluaran sehingga energi yang berlebih disimpan dalam bentuk jaringan adiposa (energi yang disimpan = asupan energi yang berasal dari makanan atau minuman–energi yang dikeluarkan). Pengeluaran energi dari dalam tubuh digunakan untuk laju metabolisme basal, aktivitas fisik, dan TEF (Thermal Energy Food) (Mann & Stewart 2007).
Energi basal adalah energi yang digunakan untuk pemeliharaan dasar seluruh sel tubuh, seperti sintesis protein, metabolisme otak, keseimbangan ion, kontraksi jantung, sistem pencernaan, dan kerja otot. Jenis kelamin, umur, berat badan, kondisi fisik, iklim, dan status hormonal mempengaruhi laju metabolisme basal. Energi untuk aktivitas fisik adalah energi yang dibutuhkan untuk kerja otot dan sejumlah kecil energi yang digunakan untuk laju jantung dan pernapasan selama aktivitas. Energi yang dikeluarkan untuk aktivitas fisik tergantung pada ukuran tubuh, durasi aktivitas, dan jenis aktivitas. TEF (Thermal Energy Food) adalah produksi panas yang dihasilkan dari ingesti, digesti, dan absorpsi (Mann & Stewart 2007).
Prevalensi kegemukan mulai meningkat sejak 20-30 tahun yang lalu. Kegemukan menjadi masalah kesehatan utama pada remaja dan dewasa baik di negara yang sedang berkembang maupun negara maju (Hamaideh et al 2010). Alasan terjadinya kegemukan pada remaja belum ditemukan dengan jelas, tetapi terdapat beberapa faktor yang berpengaruh didalamnya, seperti genetik, lingkungan, dan perilaku. Faktor-faktor di atas termasuk riwayat keluarga, kebiasaan makan yang tidak sehat, meningkatnya konsumsi makanan dan minuman tinggi kalori, rendahnya aktivitas fisik, gaya hidup pasif, meningkatnya tingkat stres, tingkat pendidikan orangtua, waktu tidur, pendapatan keluarga, dan karakteristik lain seperti umur dan jenis kelamin (Hamaideh et al 2010). Wymelbeke et al (2004) dalam penelitian meta-analisisnya mengatakan bahwa diet, khususnya konsumsi minuman, dan aktivitas fisik mendapat perhatian khusus sebagai faktor yang berpengaruh terhadap kegemukan. Total asupan energi berjumlah lebih tinggi jika energi dikonsumsi dalam bentuk cairan dibandingkan dikonsumsi dalam bentuk padat.
Berdasarkan Riskesdas (2010) prevalensi penduduk dewasa (usia diatas 18 tahun) mengalami kegemukan adalah 16.6% pada laki-laki dan 26.9% pada perempuan. Penelitian yang telah dilakukan oleh Yabanci et al (2010) di Turki menemukan bahwa prevalensi overweight pada pria dewasa adalah 41%,
sedangkan pada wanita dewasa 28.3%. Prevalensi obesitas pada pria dewasa adalah 8.3%, sedangkan pada wanita dewasa 10.9%. Kebiasaan makan dan asupan gizi memiliki pengaruh terhadap risiko kegemukan. Peningkatan konsumsi pangan yang memiliki kandungan energi, lemak, dan gula yang tinggi diduga merupakan alasan utama terjadinya kegemukan.
Faktor Risiko Kegemukan
Laju kegemukan meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Selain faktor genetik yang menyebabkan terjadinya kegemukan, faktor lingkungan dan gaya hidup juga menjadi determinan penting dalam menyebabkan timbulnya epidemik kegemukan. Review yang dilakukan oleh James (2008) menunjukkan bahwa dua penyebab utama kegemukan adalah pola makan yang salah dan kurangnya aktivitas fisik.
Kegemukan merupakan refleksi dari ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan pengeluaran energi. Penyebab kegemukan bersifat exogenous dan endogenous. Exogenous adalah konsumsi energi yang berlebihan dan endogenous yang berarti adanya gangguan metabolik di dalam tubuh. Misalnya, adanya tumor pada hipotalamus sehingga penderita mengalami hiperphagia atau nafsu makan berlebihan (Khomsan 2002).
Asupan makanan tinggi energi yang berlebih (tinggi lemak atau gula bebas atau keduanya) meningkatkan risiko kelebihan akumulasi lemak. Akhir-akhir ini terdapat perhatian penting mengenai potensi asupan tinggi gula dalam minuman berkalori dan jus buah dalam kontribusinya terhadap peningkatan risiko kegemukan pada anak (Mann & Stewart 2007).
Penurunan laju aktivitas fisik juga turut memainkan peranan penting dalam meningkatkan laju kegemukan. Asupan tinggi makanan padat energi yang biasanya memiliki sedikit kandungan mikronutrien merupakan faktor risiko terjadinya kegemukan. Makanan padat energi memiliki kandungan tinggi lemak dan gula serta lebih mudah dikonsumsi dibandingkan makanan lain. Tingginya asupan gula, minuman ringan yang ditambah gula, sirup dan jus buah juga menjadi faktor penyebab terjadinya kegemukan. Lingkungan menyediakan dukungan sosial bagi asupan makanan dan berkontribusi terhadap kelebihan asupan makanan. Berikut merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kenaikan berat badan dan kegemukan menurut WHO (2003)
Tabel 2 Tingkat bukti (level of evidence) faktor-faktor yang mempengaruhi kegemukan
Tingkat bukti Penurunan risiko Peningkatan risiko
Sangat kuat Aktivitas fisik yang teratur
Asupan serat yang tinggi
Gaya hidup sedentary (duduk terus menerus)
Asupan tinggi makanan padat energi dan kurang mikronutrien
Kuat Lingkungan rumah dan sekolah
yang mendukung pemilihan makanan yang sehat bagi anak ASI
Pemasaran makanan padat energi dan fast food Asupan tinggi jus buah dan
minuman ringan yang dimaniskan
Kondisi sosial ekonomi yang buruk
Sedang Makanan ber-indeks glikemik
rendah (kandungan protein dalam makanan)
Porsi makan besar Gaya hidup mengkonsumsi
makanan di luar rumah Pola makan yang salah
Lemah Meningkatnya frekuensi makan Meningkatnya konsumsi alkohol
Kegemukan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang bersifat kompleks. Menurut Wahlqvist (1997), konsumsi makanan dan pengeluaran energi dapat mempengaruhi kegemukan secara langsung, sedangkan umur, jenis kelamin, keturunan, stres, keadaan sosial-ekonomi, gaya hidup, iklim, dan obat-obatan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kegemukan secara tidak langsung. Faktor-faktor risiko kegemukan antara lain umur, jenis kelamin, pengeluaran minuman, besar keluarga, dan pengeluaran rumah tangga.
Kejadian kegemukan meningkat pada usia dewasa, mencapai puncaknya pada usia 40 pertengahan dan awal 50 untuk pria serta akhir 50 dan awal 60 untuk wanita (Khomsan 2002). Jenis kelamin merupakan faktor internal yang menentukan kebutuhan gizi sehingga terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan status gizi. Perempuan lebih rentan mengalami peningkatan simpanan lemak (Gibson 1990). Janghorbani et al (2007) menyatakan bahwa tingginya prevalesi kegemukan pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki karena adanya perbedaan tingkat aktivitas fisik dan asupan energi pada laki-laki dan perempuan. Penelitian lain menunjukkan bahwa perempuan cenderung mengkonsumsi sumber karbohidrat yang banyak pada masa pubertas, sedangkan laki-laki cenderung mengkonsumsi makanan kaya protein. Di daerah tertentu bisa saja laki-laki lebih banyak yang gemuk dibanding perempuan, hal ini disebabkan oleh kebiasaan santai dalam penggunaan waktu senggang pada laki-laki lebih besar dibandingkan dengan perempuan (WHO 2000; Proper et al 2006).
Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak, dan anggota keluarga lain yang hidup dari pengelolaan
sumberdaya yang sama. Besar keluarga berhubungan dengan jumlah makanan yang harus disediakan. Makin sedikit jumlah anggota keluarga, semakin mudah terpenuhi kebutuhan makan seluruh anggota keluarga. Sebaliknya, apabila jumlah anggota keluarga banyak dan pendapatan terbatas, maka makanan yang tersedia tidak mencukupi. Besar keluarga dan distribusinya diantara anggota keluarga mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam suatu keluarga. Pendapatan rumah tangga dan belanja pangan akan menurun sejalan dengan meningkatnya jumlah anggota keluarga (Prihartini 1996; Sanjur 1982).
Pengeluaran rumah tangga yang salah satunya digunakan untuk pangan paralel dengan pendapatan rumah tangga. Pendapatan keluarga adalah jumlah semua hasil perolehan yang didapat oleh anggota keluarga dalam bentuk uang sebagai hasil pekerjaan yang dinyatakan dalam pendapatan per kapita. Pendapatan menentukan daya beli terhadap pangan dan fasilitas lain, seperti pendidikan, perumahan, kesehatan, dan lain-lain (Hardinsyah 1997). Semakin tinggi pendapatan akan semakin berisiko terhadap kejadian kegemukan (Erem et al 2004).
Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik didefinisikan sebagai segala bentuk gerak tubuh yang disebabkan oleh pergerakan otot dan rangka yang membutuhkan energi. Aktivitas fisik dapat membantu memelihara keseimbangan energi dan mencegah terjadinya kegemukan. Aktivitas fisik merupakan bentuk multidimensional yang kompleks dari perilaku manusia yang meliputi perpindahan tubuh, mulai dari perasaan gelisah sampai lari maraton. Aktivitas fisik tidak memiliki sinonim dengan pengeluaran energi. Aktivitas fisik merupakan bentuk perilaku, sedangkan pengeluaran energi merupakan output dari perilaku tersebut (Gibney et al 2008).
Tingkat aktivitas fisik yang rendah juga menjadi faktor penting dalam penambahan berat badan. Hal ini terjadi karena perubahan gaya hidup (tidak sempat berolahraga, memiliki pekerjaan yang dilakukan dengan duduk terus menerus, dan memiliki anak), penuaan, dan mengidap suatu penyakit. Urbanisasi, kemakmuran, dan modernisasi gaya hidup menimbulkan perubahan pada pola aktivitas fisik. Gaya hidup modern membuat berkurangnya aktivitas fisik sehari-hari (Mann & Stewart 2007).
Aktivitas fisik merupakan salah satu bentuk penggunaan energi dalam tubuh. Oleh karena itu, berkurangnya aktivitas fisik akibat dari kehidupan yang
makin modern dengan kemajuan teknologi mutakhir akan menimbulkan kegemukan (Thomas 2003). Rissanen et al (2003) menyatakan bahwa rendahnya aktivitas fisik merupakan faktor paling dominan terhadap terjadinya kegemukan. Sebagai contoh, kegemukan tidak terjadi pada para atlet yang aktif, sedangkan para atlet yang berhenti melakukan latihan olahraga lebih sering mengalami kenaikan berat badan dan kegemukan.
Hasil penelitian Ottevaere et al (2011) menunjukkan bahwa peningkatan prevalensi kegemukan merupakan hasil ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi. Kegemukan dapat disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, seperti diet yang tinggi lemak dan karbohidrat dan rendahnya tingkat aktivitas fisik yang dimiliki pada saat anak-anak sampai menjadi dewasa. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh HBSC (Health Behaviour in School-aged Children) study menyebutkan bahwa hanya 12–42% remaja berumur 13 tahun dan 8-37% remaja 15 tahun yang memiliki aktivitas sedang hingga berat sedikitnya 60 menit per hari.
Sebanyak 25% remaja berumur 11-15 tahun di Barat Daya dan Barat Laut Inggris melakukan 60 menit aktivitas sedang hingga berat per hari dan 23.7% dari seluruh remaja memiliki status gizi overweight atau obes. Remaja yang memiliki tingkat aktivitas sedang hingga berat yang rendah memiliki konsekuensi mengalami masalah kesehatan masyarakat, salah satunya kelebihan berat badan (Boyle et al 2010).
Creber et al (2010) membuktikan bahwa pada penduduk Peru (bertempat tinggal di pedesaan, perkotaan, dan desa-kota) dengan tingkat aktivitas fisik rendah memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami overweight (41.7%) dan obesitas (24.8%) dibandingkan penduduk dengan tingkat aktivitas fisik sedang atau tinggi, yang masing-masing 35.4% dan 16.1%. Hal ini didukung pula oleh penelitian yang dilakukan oleh Li (2010) bahwa gaya hidup berupa aktivitas fisik yang cukup dapat mengubah predisposisi genetik dari kegemukan. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur berhubungan dengan penurunan predisposisi genetik dari kegemukan sebanyak 40%.
Konsumsi Pangan dan Asupan Energi Asupan energi dari makanan
Suhardjo (1989) menyatakan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi konsumsi makanan dan minuman, yaitu: (1) karakteristik individu, seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, pengetahuan gizi, dan
kesehatan; (2) karakteristik makanan atau minuman, seperti rasa, rupa, tekstur, harga, tipe makanan, bentuk dan kombinasi makanan dan minuman; (3) karakter lingkungan seperti musim, pekerjaan, mobilitas, dan tingkat sosial masyarakat. Konsumsi makanan dan minuman ini merupakan salah satu komponen dalam gaya hidup yang dimiliki seseorang.
Gaya hidup adalah cara hidup seseorang atau masyarakat yang dapat diamati dari kegitan fisik, sosial, ekonomi dan penggunaan uang, waktu dan teknologi (Anonim 2011). Gaya hidup lebih menggambarkan perilaku seseorang, yaitu bagaimana ia hidup, menggunakan uangnya, dan memanfaatkan waktu yang dimilikinya. Gaya hidup seringkali digambarkan dengan kegiatan, minat, dan opini dari seseorang (Sumarwan 2002).
Pendidikan dan pendapatan akan mempengaruhi proses keputusan dan pola konsumsi seseorang. Tingkat pendidikan seseorang akan mepengaruhi nilai-nilai yang dianutnya, cara berpikir, cara pandang, bahkan persepsinya terhadap suatu masalah. Konsumen yang memiliki pendidikan yang lebih baik akan sangat responsif terhadap informasi dan mempengaruhi pilihan produk maupun merek. Pendapatan merupakan imbalan yang diterima oleh seorang konsumen dari pekerjaan yang dilakukannya untuk mencari nafkah. Pendapatan adalah sumberdaya material yang sangat penting bagi konsumen karena dengan pendapatan itulah konsumen dapat membiayai kegiatan konsumsinya (Sumarwan 2002).
Khomsan dan Sulaeman (1996) menyatakan makanan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia yang terpenting dalam peningkatan kualitas fisik, mental, dan kecerdasan. Disamping untuk menghilangkan rasa lapar, fungsi utama dari makanan adalah sebagai sumber kehidupan, yaitu sebagai sumber zat gizi untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, air, dan sebagainya.
Asupan energi dari minuman berkalori
Gula intrinsik merupakan istilah yang diberikan untuk menyatakan gula yang bersatu dengan dinding sel tanaman yang secara alami berikatan dengan zat gizi penting lainnya, sedangkan gula ekstrinsik merupakan gula yang ditambahkan ke dalam makanan. The FAO/WHO Expert Consultation on diet, nutrition, and the prevention of chronic diseases mengatakan bahwa penggunaan terminologi “gula bebas” digunakan untuk semua monosakarida dan disakarida
yang ditambahkan ke dalam makanan melalui proses produksi, pengolahan pasca produksi, dan konsumsi serta gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, dan jus buah. Konsumsi gula disarankan berkontribusi kurang dari 10% dari total energi (Mann & Stewart 2007).
Selama beberapa periode, total asupan gula bebas meningkat dengan tajam. Peningkatan ini disebabkan oleh penggunaan pemanis buatan yang berasal dari jagung (fructose corn syrup) yang diproduksi dengan cara pemotongan pati jagung secara enzimatis. Pemanis jagung memiliki kesamaan rasa dengan sukrosa tetapi harganya lebih murah dibandingkan sukrosa. Pemanis buatan jagung digunakan dalam produksi beberapa jenis makanan, seperti soft drink, bahan makanan yang dikalengkan, jelly, selai, dan salad untuk makanan penutup (Pennington & Baker 1990).
Glukosa adalah sumber energi yang penting untuk otak, sel darah merah, dan medula ginjal yang kebutuhan hariannya sekitar 180 g/hari. Sekitar 130 g/hari dapat diproduksi tubuh dari sumber non-karbohidrat melalui proses glukoneogenesis dan 50 g/hari diperoleh dari asupan makanan atau minuman. The WHO/FAO Expert Consultation on diet, nutrition, and the prevention of chronic diseases (2003) mengatakan bahwa karbohidrat memiliki nilai energi sebesar 4 kkal/g (17 KJ/g) dan ketika karbohidrat dipecah sebagai monosakarida memiliki nilai energi 3.75 kkal/g (15.7 KJ/g). The FAO/WHO Expert Consultation menyatakan bahwa nilai energi karbohidrat yang mencapai kolon menjadi 2 Kkkal/g (8 KJ/g) (Mann & Stewart 2007).
Asupan gula bebas pada orang amerika menyumbang sekitar 20% rata-rata asupan kalori. Kelompok usia tertentu seperti remaja memiliki konsumsi minuman berkalori yang tinggi. Salah satu alasan konsumsi gula yang tinggi adalah rasa yang manis. Manusia memiliki preferensi yang tinggi terhadap substansi yang memiliki rasa manis. Hal ini terlihat dari peninggalan sejarah berupa gambar-gambar di gua yang menceritakan mengenai kesukaan manusia purba kala terhadap madu, buah ara, dan kurma (Mann & Stewart 2007).
Terdapat bukti yang menyatakan bahwa rasa manis disukai manusia sejak lahir, bukan sebagai hasil pembelajaran. Penelitian terhadap respon rasa pada bayi yang baru lahir menunjukkan bahwa rasa manis lebih diterima dibanding rasa yang lain. Terdapat pula bukti yang menyatakan bahwa makanan yang memiliki rasa manis akan semakin tidak diterima dengan bertambahnya umur (Mann & Stewart 2007).
Bleich et al (2009) membagi minuman berkalori ke dalam 6 jenis, yaitu: minuman bergula, jus, minuman diet, susu (termasuk yang memiliki rasa), kopi atau teh, dan alkohol. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bleich et al (2009) menunjukkan bahwa minuman bergula merupakan sumber kalori minuman tertinggi dibandingkan minuman lainnya. Hellert dan Kersting (2004) menyebutkan bahwa minuman yang dikonsumsi dalam jumlah tertinggi dalam DONALD Study yang berlokasi di Jerman meliputi jus, soft drinks, dan susu, sedangkan teh dan kopi dikonsumsi dalam jumlah sedikit.
CODEX mengklasifikasikan jenis minuman kemasan yang digunakan secara global berdasarkan dua kategori. Kategori yang pertama adalah susu dan produk turunannya, sedangkan kategori kedua adalah minuman tanpa alkohol dan minuman beralkohol. Kelompok susu dan turunannya meliputi susu segar, susu bubuk, susu kental manis, dan susu fermentasi. Kelompok minuman tanpa alkohol meliputi air mineral, jus, nektar, minuman berasa, dan minuman lainnya. Berikut tabel klasifikasi dan jenis minuman berdasarkan CODEX (FAO & WHO 2010)
Tabel 3 Klasifikasi dan jenis minuman berdasarkan CODEX Kategori Sub kategori Jenis produk 1. Susu
Minuman dari semua susu binatang (sapi, kambing, kuda, kerbau, dll) dan produk
minuman yang diolah dari susu 1) Susu cair 2) Susu bubuk 3) Susu kental manis 4) Susu fermentasi
Susu cair, susu bubuk, susu rekonstitusi (dicairkan kembali dari bubuk), susu kental manis, yoghurt, dan es krim
2. Minuman bukan susu 1) Minuman non-alkohol
Air minum :
a. Air mineral alami b. Air soda
Jus buah dan sayur : a. Jus buah b. Jus sayur
c. Konsentrat jus buah d. Konsentrat jus sayur Nektar buah dan sayur :
a. Nektar buah b. Nektar sayur
c. Konsentrat nektar buah d. Konsentrat nektar sayur Minuman berasa, termasuk minuman olahraga, minuman berenergi, elektrolit, dan khusus. Minuman lain, meliputi kopi, teh, herbal dan lainnya.
2) Minuman beralkohol
Air mineral adalah air yang diperoleh langsung dan dikemas dari sumbernya, yang dicirikan oleh keberadaan kandungan mineral atau zat lain yang tersedia secara alami dalam batas yang diperkenankan. Air soda adalah air minum yang sengaja dikarbonasi, dapat juga ditambahkan perasa dan/atau pewarna. Jus buah/sayur adalah cairan dari buah atau sayur tidak termasuk daging buah atau komponen sayur selain cairannya yang bukan difermentasi. Terdapat pula jus yang lebih kental (konsentrat) yang airnya diminimalkan baik dari jus buah ataupun dari jus sayur.
Nektar buah/sayur adalah ekstrak dari buah atau sayur, dapat berupa konsentrat yang perlu dilarutkan sebelum dikonsumsi, atau berupa ekstrak yang telah diencerkan dengan air sehingga siap dikonsumsi. Nektar lebih banyak mengandung zat fitokimia dibanding jus. Minuman berasa meliputi minuman berkarbonasi, tidak berkarbonasi, atau konsentrat yang dilarutkan dalam air. Dalam kategori ini juga termasuk minuman berenergi, minuman isotonik, dan minuman olahraga. Minuman lainnya meliputi kopi, teh dan herbal.
Sukrosa dan pemanis lain masuk ke dalam tubuh melalui diet dengan berbagai cara, seperti gula yang ditambahkan ke dalam kopi atau teh, gula yang terdapat dalam permen, kue, dan biskuit. Bahkan, makanan atau minuman yang memiliki sedikit kandungan gula juga ikut berkontribusi dalam asupan gula seseorang. Sejak tahun 2003 gula menjadi sumber energi kedua dari karbohidrat setelah pati. Pati menyumbang 20-50% dari total energi, sedangkan gula 9-27% dari total energi (Mann & Stewart 2007).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hu dan Malik (2010) menunjukkan bahwa asupan energi dari minuman bergula dan jus pada dewasa mengalami peningkatan sejak tahun 1965 hingga tahun 2002 dan menurun hingga tahun 2006. Asupan energi dari susu menurun dari tahun 1965 hingga 1989 dan meningkat hingga tahun 2006. Rata-rata asupan energi/orang/hari yang berasal dari minuman bergula, jus, dan susu dewasa pada tahun 2006 adalah 200 kkal, 30 kkal, dan 80 kkal. Barquera et al (2008) menemukan bahwa kelompok usia 19-29 tahun Meksiko memiliki asupan energi dari minuman berkalori yang lebih tinggi, yaitu 338 kkal, dibandingkan kelompok usia yang lain. Sebanyak 117 kkal diantaranya diperoleh dari energi teh dan kopi yang dikonsumsi. Susu, minuman bergula berkarbonasi/tidak berkarbonasi, jus buah dengan penambahan gula, dan alkohol merupakan 4 minuman yang sering diminum oleh remaja dan dewasa Meksiko.
Keputusan Ka.Badan POM (Pemeriksa Obat dan Makanan) No. HK.00.05.52.4040 Tanggal 9 0ktober 2006 tentang Kategori Pangan menetapkan kategori minuman sebagai berikut :
Tabel 4 Kategori minuman menurut BPOM
No Kategori Sub kategori Jenis
1 Minuman
produk susu
1. Susu dan minuman berbasis susu
2. Susu fermentasi
dan produk susu
hasil hidrolisa
enzim renin (plain) 3. Susu kental dan
analognya (plain) 4. Krim (plain) dan
sejenisnya
5. Susu bubuk dan
krim bubuk dan
bubuk analog
(plain)
6. Keju dan keju
analog
7. Makanan pencuci
mulut berbahan
dasar susu
8. Whey dan produk whey
1. Susu dan buttermilk (plain) - Susu segar
- Susu pasteurisasi
- Susu UHT (Ultra High Temperature) - Susu steril
- Susu tanpa lemak atau susu skim - Susu rendah lemak
- Susu rekonstitusi - Susu rekombinasi
- Susu lemak nabati/susu minyak nabati (Filled Milk)
- Susu lemak nabati rendah lemak/susu minyak nabati rendah lemak
- Susu lemak nabati tanpa lemak/susu minyak nabati tanpa lemak
- Buttermilk (plain) - Dadih
2. Minuman berbasis susu yang berperisa dan/atau difermentasi
- Minuman susu berperisa - Minuman mengandung susu - Minuman susu fermentasi berperisa - Minuman yoghurt berperisa - Lassi
1. Susu fermentasi (plain)
2. Susu yang digumpalkan dengan enzim renin (plain)
1. Susu kental (plain)
2. Krimer minuman (bukan susu)
2 Minuman tidak termasuk produk susu 1. Minuman ringan tidak beralkohol 2. Minuman beralkohol 1. Air minum
2. Sari buah dan sari sayuran 3. Nektar buah dan nektar sayur
4. Minuman berbasis air berperisa, termasuk
minuman olahraga atau elektrolit dan minuman berpartikel
5. Minuman yang disiapkan sebagai hasil ekstraksi berbasis air atau hasil pencelupan seperti kopi, teh, seduhan herbal, minuman biji-bijian dan sereal panas
Minuman Berkalori dan Kegemukan
Wymelbeke et al (2004) membuktikan bahwa subyek overweight yang mengkonsumsi sukrosa dalam jumlah besar dalam bentuk cairan akan mengalami peningkatan asupan energi, berat badan, dan massa lemak tubuh dibandingkan mengkonsumsi cairan dalam jumlah sama yang mengandung pemanis buatan. Bahkan, Lopez et al (2010) mendukung pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa konsumsi minuman berkalori yang tinggi berhubungan dengan peningkatan asupan energi.
Terdapat hubungan antara persentase energi dari lemak dengan persentase energi dari karbohidrat dalam makanan karena dua zat gizi ini memiliki kontribusi melebihi 80% terhadap total energi. Kalori dalam cairan kurang diperhitungkan dibandingkan dengan kalori dari makanan padat (Bleich et al 2009). Minuman soda dengan kadar gula tinggi memiliki kandungan air yang tinggi dan densitas energi yang rendah. Densitas energi yang rendah tidak memiliki dampak perbandingan pada kepuasan dan asupan makanan ad libitum. Efek fisiologis asupan energi terhadap kekenyangan terlihat berbeda antara makanan padat dan cairan. Energi dari minuman berkalori (yang umumnya memiliki kandungan gula tinggi) kurang dirasakan efek kenyangnya dibandingkan asupan energi dari makanan padat karena berkurangnya penggelembungan lambung dan waktu transit yang lebih cepat. Konsumsi minuman soda dengan kadar gula tinggi dalam jumlah yang melebihi batas normal memberikan asupan energi yang tinggi pula yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kenaikan berat badan (Gibney et al 2008).
Berdasarkan hasil penelitian Bleich et al (2009) diketahui bahwa konsumsi minuman berkalori memiliki hubungan dengan epidemik kegemukan. Hal ini terlihat dari meningkatnya asupan energi yang berasal dari soft drink dan minuman dengan rasa buah sejak tahun 1977 sampai 2001 menjadi 135% yang diikuti dengan berlipat gandanya prevalensi kegemukan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa persentase kalori dari minuman berkalori meningkat melebihi 50%.
Hasil penelitian Hu dan Malik (2010) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara asupan minuman berkalori dengan penambahan berat badan. Minuman berkalori memiliki kontribusi terhadap penambahan berat badan karena terdapat penambahan asupan energi saat makan berikutnya setelah mendapatkan asupan kalori cair.