• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II METODE PERANCANGAN. A. Analisis Permasalahan. diperlukan analisis pada permasalahan tersebut ; analisa yang pertama diperoleh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II METODE PERANCANGAN. A. Analisis Permasalahan. diperlukan analisis pada permasalahan tersebut ; analisa yang pertama diperoleh"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

BAB II

METODE PERANCANGAN

A. Analisis Permasalahan

Berdasarkan pada permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka diperlukan analisis pada permasalahan tersebut ; analisa yang pertama diperoleh dengan pendalaman dan pemahaman yang berkaitan dengan teknik ekstraksi pada daun mangga untuk zat warna alam. Memilih daun mangga yang dapat menghasilkan warna baik dan pekat. Warna yang dihasilkan akan beraneka macam tergantung dengan daun mangga yang digunakan dan penggunaan fiksator yang beragam seperti: tawas, tunjung, kapur dan zat asam (jeruk nipis, cuka, dan blimbing wuluh). Semua zat fiksator akan memunculkan warna yang berbeda-beda tergantung takaran yang digunakan.

Analisa kedua, pemahaman serat tekstil. Kain yang dapat menyerap zat pewarna alam dengan baik. Ketiga, pendalaman dan pemahaman yang berkaitan dengan perancangan batik tulis. Selain memahami proses pembuatannya, harus dipahami juga penerapan dan pengkomposisian warna yang telah dibuat pada motif batik yang telah dirancang sebelumnya. Dalam perancangan tekstil pakaian penerapan warna, motif dan teknik merupakan hal yang harus dipertimbangkan dalam perancangan ini.

B. Strategi (Langkah dan Pemecahan)

Berkaitan dengan analisa permasalahan yang ada, dibutuhkan strategi yang meliputi langkah dan pemecahan masalah berupa pencarian data. Pencarian data melalui studi pasar, studi literatur (pustaka, majalah, penelitian terdahulu dan

(2)

commit to user

sebagainya), studi visual, studi proses produksi dan observasi yang berkaitan tentang pengetahuan bahan pewarna alam dan proses pewarnannya serta jenis bahan sutera dan katun primisima yang akan digunakan. Uji coba perlu dilaksanakan untuk melengkapi pemahaman batik tulis, zat pewarna alam. Hal tersebut dilakukan agar visualisasi karya berjalan dengan lancar.

Selain itu diperlukan studi proses produksi untuk memahami tentang teknik proses batik tulis dan proses zat pewarna alam. Studi pasar juga diperlukan untuk mendapatkan data tentang corak atau motif yang sedang trend saat ini.Pelaksanaan wawancara dengan beberapa ahli dibidang batik tulis dan zat pewarna alam serta bahan sutera dan katun primisima, dilakukan untuk melengkapi pemecahan masalah dalam perancangan.

C. Pengumpulan Data

Dalam proses perancangan dibutuhkan data-data dan sumber-sumber informasi seperti wawancara dengan pihak yang terkait. Data dan sumber informasi tersebut bertujuan untuk memperlancar hasil proses perancangan dengan baik. Berikut ini adalah hasil pengumpulan data diantaranya:

1. Studi Literatur

Studi literatur berguna untuk memperkuat data yang berkaitan dengan perancangan, diantaranya adalah :

a. Sewan Susanto, 1980, BBKB, “Seni Kerajinan Batik Indonesia” Berisi Tentang:

(3)

commit to user

 Penpenjelasan mengenai pembagian zat warna berdasarkan coloring metter.

 Perkembangan Batik Sutera.

 Jenis-Jenis Mordanting Dan Fiksator.

b. Kanisius Yogyakarta, 1997, “Budidaya Tanaman Mangga” Berisi Tentang:

 Manfaat Tanaman Mangga.

 Macam-Macam Jenis Mangga.

c. Hendri Suprapto, 2000, Yogyakarta, “Pengetahuan Mordanting” Berisi tentang:

Pembahasan mengenai coloring metter.

 Prosedur dan tahapan-tahapan dalam proses mordant.

d. Hendri Suprapto, 2005, Yogyakarta, “Pengetahuan Fiksasi Zat Warna Alam”

Berisi tentang:

 Pembahasan jenis-jenis fiksator yang sering digunakan.

 Cara membuat larutan fiksasi

 Proses fiksasi

e. Hendri Suprapto, 2005, Yogyakarta, “Pengetahuan Pembuatan Zat Warna Alam”

Berisi tentang :

 Proses Ekstraksi Warna Alami

(4)

commit to user

f. Ita Dwi Ardhiyanti, 2011, Yogyakarta, “Pengaruh Penggunaan Fiksator Kapur, Tawas, dan Tunjung Pada Proses Pewarnaan Kain Batik Dengan Zat Warna Alam Larutan Soga”

Berisi tentang :

 Penelitian Terdahulu Mengenai Penggunaan Fiksator.

 Macam-Macam Jenis Fiksator Yang Sering Digunakan Dalam Pewarnaan Alami.

g. Dewi Kusuma Wardani, 2012, Surakarta, “Produksi Bersih Dan Prospek Pengembangan Batik Warna Alam”

Berisi Tentang:

Workshop Industri Batik Menuju Produk GREEN INDUSTRY.

 Pentingnya Produk Ramah Lingkungan.

h. Kun Lestari, dkk, Yogyakarta, “Teknologi Pencelupan Zat Pewarna Alam Tumbuh-Tumbuhan”

Berisi tentang :

 Beberapa jenis tumbuhan yang dapat menghasilkan zat warna alam.

i. Barnard Malcom, Bandung, “Fashion Sebagai Komunikasi Dan Cara Mengkomunikasikan Identitas, Kelas Dan Gender”

Berisi tentang :

 Pengertian dari fashion.

(5)

commit to user

2. Studi Proses Produksi

Studi proses produksi ini dilakukan di Balai Baesar Kerajinan dan Batik (BBKB) yang beralamatkan di Jl. Kusumanegara no. 7 Yogyakarta, untuk mengamati dan memahami proses pembuatan ekstraksi, proses pembatikan dan pencelupan untuk menghasilkan tekstil yang sesuai dengan perancangan.

Dalam studi proses produksi disana dapat mengetahui secara detail alat yang digunakan, bahan dan proses pewarnaan alam. Proses batik pewarna alam meliputi membuat pola batik diatas kain (nyorek), pencantingan atau pencapan malam sesuai pola batik, pencelupan warna alam, pelorodan malam. Pencelupan warna alam terdiri dari tiga tahap; mordanting, pencelupan ekstrak, dan fiksasi. Studi pustaka proses pewarnaan alam diperoleh dari perpustakaan yang ada di BBKB, berupa buku Seni Kerajinan Batik Indonesia oleh Sewan Susanto (1980) terlampir dan modul pelatihan pewarnaan alam oleh Hendri Suprapto (2005).

3. Studi Pasar

Disamping data-data yang diperoleh melalui buku-buku dan modul yang berkaitan dalam proses pembuatan produk, data juga diperoleh dari studi lapangan / observasi. Observasi dan Studi lapangan segmen pasar dilakukan di beberapa tempat, yaitu di Beteng Trade Center (BTC), Pusat Grosir Solo (PGS), Solo Grand Mall, Night Market (Ngarsopuro), Showroom Batik Danar Hadi,di pengrajin, dan specialis batik pewarna alam seperti “Batik Akasia” yang ad di Bantul, Yogyakarta dan “Yo’s Collection” yang ada di Jaten, Karanganyar. Hasil observasi dapat

(6)

commit to user

disimpulkan bahwa tekstil pakaian yang sedang tren di kalangan masyarakat adalah jenis batik tulis/cap walaupun prosesnya yang rumit sehingga harga untuk sebuah tekstil batik tulis maupun cap relatif lebih mahal dari printing motif batik namun banyak konsumen menengah ke atas dan konsumen yang memiliki selera seni dan lebih menghargai batik memilih tekstil batik asli (bukan tekstil motif batik), seperti batik tulis dan batik cap. Jenis motif yang digemari juga beragam, mulai dari motif batik semi klasik, sampai batik kreasi baru.

Masyarakat kebanyakan sudah menyadari tentang isu pemanasan global yang belakangan ini sering diperbincangkan. Kepedulian tentang lingkungan memicu para masyarakat dan konsumen untuk beralih pada produk Eco Fashion, produk batik dengan menggunakan warna-warna yang ramah lingkungan seperti zat pewarna alam sangat tren pada saat ini. Konsumen menengah ke atas lebih dapat menghargai produk-produk tersebut. Zat warna alam juga memiliki tren tersendri di kalangan konsumen yang peduli dengan kelestrian lingkungan, disamping itu warna-warna yang dihasilkan terkesan tidak terlalu mencolok saat digunakan namun tetap terkesan elegan. Bahan bahan yang sering digunakan di Batik Danar Hadi dan Batik Akasia adalah bahan dari serat alam, seperti katun dan sutera. Sedangkan di Yo’s Collection ada pula batik pewarna alam dengan kain tenun yang dipintal dengan serat katun.

4. Wawancara

Dalam pengumpulan informasi dari nara sumber diperlukan adanya wawancara, guna menanyakan pendapat responden tentang suatu kejadian

(7)

commit to user

dan peristiwa. Metode ini dilakukan guna mendapatkan data-data yang mendukung pengolahan zat warna alam. Berikut ini adalah hasil wawancara terhadap beberapa sumber informan yang terkait dalam perancangan:

a. Wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2012 di kantor Pokja Batik BBKB Yogyakarta kepada: Bp. Agus Haerudin ST instruktur di BBKB, beliau juga mendalami tentang pewarnaan alam. Menurut beliau bahan baku daun mangga yang banyak mengendung zat warna terdapat pada daun mangga madu, namun tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan daun mangga yang lainnya, karena mudah diperoleh. Daun mangga yang banyak mengandung zat warna adalah daun yang tidak terlalu muda, tetapi juga tidak tertalau tua. Pilih daun mangga yang hijau dan tidak terlalu kering.

b. Wawancara dilakukan pada tanggal 8 Januari 2013 kepada Ibu. Ii Hurairoh pemilik dari toko spesialis batik pewarna alam “Batik Akasia” yang ada di Jogja, menurut beliau bahan-bahan untuk mordant dan fiksasi sangat beragam, semisal, jeruk nipis dapat digunakan sebagai penguat pada warna, bahan baku zat warna alam yang akan di gunakan dapat di rendam sebentar dengan larutan air dan perasan jeruk nipis, sebelum nantinya akan di ekstrak, agar zat warna yang muncul lebih pekat dan bagus.

c. Wawancara dilakukan pada tanggal 20 Mei 2013 kepada Bp. Yohanes Sudiyanto pemilik hom industry “Yo’s Collection” yang berada di Karanganyar, menurut beliau motif yang sering dipesan dan diminati para konsumen adalah motif batik semi klasik, sedangkan untuk warna

(8)

commit to user

alam yang sedang tren saat ini kearah warna coklat tua, coklat muda, hijau, dan biru indigo.

D. Eksperimen / Uji Coba

Eksperimen atau uji coba dilakukan untuk mendapatkan hasil warna yang maksimal, alternatif warna serta meningkatkan kualitas warna agar dapat menjadi lebih baik. Oleh karena itu harus dilakukan percobaan-percobaan pada pengolahan warna dan jenis fiksator yang digunakan agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan permasalahan dalam perancangan.

Proses penggarapan karya tekstil membutuhkan percobaan berupa bahan, pewarnaan dan jenis fiksator yang digunakan. Percobaan dilakukan agar mendapatkan hasil yang maksimal dalam pembuatan produk akhir. Pengolahan mengacu pada jenis bahan baku pewarna alami yang digunakan, pada uji coba kali ini bahan baku untuk zat pewarna alam menggunakan daun mangga yang kualitasnya sedang (tidak terlalu tua/muda), dan jenis fiksator yang digunakan, seperti tawas, tunjung, kapur dan zat asam seperti: jeruk nipis, cuka, dan belimbing wuluh.

Percobaan pada bahan tekstil akan mengarah pada bahan sutera 656 dan katun, menggunakan bahan tersebut karena bahan sutera dan katun adalah bahan tekstil yang terbuat dari serat alam, tanpa adanya unsur sintetis yang terkandung didalamnya. Penggunaan fiksator yang beragam dilakukan dalam uji coba guna menemukan warna yang paling sesuai dan paling baik untuk dapat diterapkan dalam produk akhir yang berkualitas. Jenis fiksatornya, seperti tawas, tunjung, kapur dan zat asam seperti: jeruk nipis, cuka dan belimbing wuluh.

(9)

commit to user

1. Proses Pewarnaan Alam a. Proses Mordant

Komposisi yang diperlukan :

- Takaran perbandingannya yaitu 6 gr Tawas : 2 gr Soda Abu : 1 ℓ Air.

- Untuk ukuran 1 potong kain ukuran 2,5 m dengan berat ±500 gr memerlukan 6 ℓ air.

Resep mordan

1) Pada media katun o 2 gram soda abu o 6 gram Tawas o 1 ℓ air

Langkah-langkah

a) Tawas dilarutkan pada air panas b) Tambahkan soda abu

c) Kain yang sudah dibasahi dengan TRO (kira-kira 1 gram/ℓ) d) Kemudian kain dimasukan dalam larutan mordant selama ±

1 jam.

e) Dipanaskan ± 80°

f) Lalu direndam selama satu hari dengan suhu kamar (dingin) g) Setelah direndan selama satuhari kemudian kain dicuci

(10)

commit to user

2) Pada bahan sutera dengan menggunakan Tawas tidak menggunakan soda abu

o 6 gram Tawas o 1 ℓ air

Langkah-langkah

a) Tawas dilarutkan pada air panas

b) Kain yang sudah dibasahi dengan TRO (kira-kira 1 gram/ℓ)

c) Kemudian kain dimasukan dalam larutan mordant selama 1 jam.

d) Dipanaskan ± 70°

e) Lalu direndam selama satu hari dengan suhu kamar (dingin)

f) Setelah direndan selama satuhari kemudian kain dicuci bersih.

b. Proses Membatik

Memberi motif pada kain dengan menggunakan lilin atau malam sebagai perintang atau pelindung agar motif yang sudah di beri malam tidak terkena warna dan mendapatkan ragam hias diatas kain.

c. Proses Ekstraksi

Proses ekstraksi atau pengambilan collouring matter, maksudnya adalah pengambilan warna dengan cara perebusan bahan baku. Dalam perancangan ini bahan baku yang digunakan adalah daun mangga madu.

(11)

commit to user Komposisi yang diperlukan :

 1 kg bahan pewarna untuk 10 ℓ air

 Untuk 1 poto ng kain ukuran 2,5 m dengan berat ±500 gr memerlukan ± 1 kg bahan pewarna alam.

Proses ekstrak dilakukan sebanyak 2 kali dengan takaran air yang berbeda.

1) Pada proses ekstrak yang pertama

a) Bahan baku dicampur dengan air dalam sebuah panci, (sesuai dengan komposisi)

b) Panaskan diatas api 90ºC sampai mendidih,

c) Setelah mendidih, rebus (dengan suhu 50ºC ) sampai 1 jam dihitung dari mulai mendidih.

d) Setelah 1 jam, matikan api dan saring. 2) Pada proses ekstrak yang ke-2

a) Ekstrak pertama yang sudah disaring kemudian di campur dengan 1 ℓ air,

b) Panaskan dengan api 70-80ºC hingga mendidih

c) Setelah mendidih kecilkan api sampai 50ºC dan rebus selama 1 jam (dihitung dari mulai mendidh)

d) Setelah 1 jam mendidih matikan api dan dinginkan. e) Larutan siap digunakan.

(12)

commit to user

Proses pencelupan dilakukan sebanyak ± 3-5 kali (sesuai yang dikehendaki). Dengan cara celup, rendam sesaat, tiriskan, kemudian diangin - anginkan, begitu seterusnya.

e. Proses Fiksasi

Jenis fiksator yang digunakan untuk mengunci warna adalah tawas, tunjung, kapur dan zat asam seperti: jeruk nipis, cuka dan belimbing wuluh.

 Fiksasi Kapur :

- Kapur = 50 gr/ ℓ air - Temperatur = kamar / dingin

Proses pembuatan Fiksator Kapur

- Larutkan bahan baku kapur dengan air - Diamkan selama 1-2 hari

- Ambil larutan beningnya saja. Proses fiksasi dengan Kapur

1) Kain yang sudah dicelup pewarna alam dan sudah dikeringkan, dimasukkan dalam larutan bening fiksator

2) Diamkan selama 5-7 menit

3) Lalu tiriskan dan cuci dengan air bersih 4) Kemudian dikeringkan ditempat yang teduh.

 Fiksasi Tawas :

- Tawas = 50 gr/ ℓ air - Temperatur = kamar / dingin

(13)

commit to user Proses pembuatan Fiksator Tawas

- Rebus bahan baku tawas dengan air sampai larut - Setelah dingin, larutan dapat dipakai

Proses fiksasi dengan Tawas

1) Kain yang sudah dicelup pewarna alam dan sudah dikeringkan, dimasukkan dalam larutan bening fiksator 2) Diamkan selama 5-7 menit

3) Lalu tiriskan dan cuci dengan air bersih 4) Kemudian dikeringkan ditempat yang teduh.

 Fiksasi Tunjung :

- Tunjung = 20 gr/ ℓ air - Temperatur = kamar / dingin

Proses pembuatan Fiksator Tunjung

- Larutkan bahan baku tunjung dengan air - Diamkan selama 1-2 hari

- Ambil larutan beningnya saja.

Proses fiksasi dengan Tunjung

1) Kain yang sudah dicelup pewarna alam dan sudah dikeringkan, dimasukkan dalam larutan bening fiksator 2) Diamkan selama 3 menit Lalu tiriskan dan cuci dengan air

bersih

(14)

commit to user

 Fiksasi Jeruk Nipis:

- Jeruk Nipis = 3 kg/ 2 ℓ air - Temperatur = kamar / dingin

Proses pembuatan Fiksator Jeruk nipis

- Belah jeruk nipis menjadi dua bagian

- Kemudian peras dan abil cairannya dan dapat digunakan - Air perasan jeruk nipis dicampur dengan 2ℓ air biasa.

Proses fiksasi dengan jeruk nipis:

1) Kain yang sudah dicelup pewarna alam dan sudah dikeringkan, dimasukkan dalam larutan fiksator

2) Diamkan selama 5-7 menit

3) Lalu tiriskan dan cuci dengan air bersih 4) Kemudian dikeringkan ditempat yang teduh.

 Fiksasi belimbing wuluh :

- Belimbing wuluh = 3 kg/ 2ℓ air - Temperatur = kamar / dingin

Proses pembuatan Fiksator Belimbingh wuluh

- Belah belimbing wuluh menjadi dua bagian - Kemudian peras dan ambil cairannya

- Setelah itu cairan belimbing wuluh dapat digunakan

(15)

commit to user

1) Kain yang sudah dicelup pewarna alam dan sudah dikeringkan, dimasukkan dalam larutan fiksator

2) Diamkan selama 5-7 menit

3) Lalu tiriskan dan cuci dengan air bersih 4) Kemudian dikeringkan ditempat yang teduh.

 Fiksasi Cuka :

- Cuka = 200 mℓ / 2ℓ air - Temperatur = kamar / dingin

Proses fiksasi dengan Cuka:

1) Kain yang sudah dicelup pewarna alam dan sudah dikeringkan, dimasukkan dalam larutan fiksator

2) Diamkan selama 5-7 menit

3) Lalu tiriskan dan cuci dengan air bersih 4) Kemudian dikeringkan ditempat yang teduh.

Perlakuan fiksasi tersebut berlaku juga untuk semua warna alam. Untuk fiksasi campuran digunakan takaran yang berbeda, misal untuk fiksasi ganda dari fiksator tawas dengsan zat asam, digunakan perbandingan larutan tawas 200 ml : 3 sendok makan jeruk nipis. Takaran berlaku untuk semua fiksator.

(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)

commit to user

E. Gagasan Awal Perancangan / Alternatif

Berdasarkan dari hasil uji coba yang telah dilakukan di atas pertimbangan penggunaan atau pemilihan bahan disesuaikan dengan kriteria karya, fungsi serta pemakaiannya. Maka dipilihlah bahan dari sutera 654, dan katun primisima sebagai bahan dalam penciptaan karya ini. Sutera 654 adalah kain sutera yang baik menyerap zat warna alam, memiliki tekstur kain yang sedang jadi sangat anggun dan cocok untuk perancangan karya ini. Katun primisima memiliki tenunan yang rapat sehingga dapat menyerap warna dengan baik.

Gagasan awal ini mempertimbangkan peluang produk baru yang dihasilkan lebih fokus dalam pengolahan motif (visual). Sumber ide ini terinspirasi dari suasana alam pedesaan Jawa yang memiliki visual (flora & fauna) yang indah dan dengan melihatnya membuat kita rindu dengan kampung halaman. Keindahan visual dari unsur-unsur yang ada pada suasana alam pedesaan Jawa tersebut akan dikembangkan dengan cara stilasi dekoratif sesuai batik kreasi baru dengan teknik batik tulis yang dipadukan dengan pewarnaan alam sehingga perpaduan ini bisa menjadi kekuatan desain yang mempunyai nilai pembeda yang tinggi.

Teknik batik tulis dipilih untuk memunculkan keindahan dari bagian-bagian yang ada pada suasana alam pedesaan. Goresan yang dihasilkan dari teknik batik tulis lebih khas dan lebih ekspresif (luwes) dan tidak akan ada goresan yang sama persis pada setiap perulangannya. Zat warna yang digunakan adalah zat warna alam dari daun mangga madu dengan beberapa jenis fiksator untuk mendapatkan beberapa macam warna.

Referensi

Dokumen terkait

Bahan Baku adalah semua bahan baik yang berkhasiat (zat aktif) maupun tidak berkhasiat, yang berubah maupun tidak berubah, yang di gunakan dalam pengolahan obat walaupun tidak

Aplikasi sistem informasi Administrasi Perkebunan yang dirancang, menyediakan fasilitas pengolahan data yang meliputi proses penerimaan dan persediaan bahan baku, penjualan

Data tersebut merupakan data yang berkaitan dengan proses perancangan pengolahan visual street photography sebagai motif pada pakaian kasual remaja wanita.. Pengumpulan

Salah satu bahan pewarna alami yang telah lama digunakan adalah pigmen angkak yang dihasilkan oleh kapang Monascus purpureus.. Zat warna ini sudah lama digunakan di Asia

Teknik Anyaman berarti menyilang – nyilangkan lembaran pita lidi atau bahan lainnya secara teratur dan berulang – ulang (BBKB,1983). Anyaman merupakan salah satu hasil

Hasil uji coba pemalaman malam menggunakan malam dingin putih atau biasa dapat dilakukan untuk desain batik yang memiliki garis putih seperti pada umumnya

Studi literatur dilakukan untuk memperoleh data atau dokumen serta arsip yang digunakan sebagai pelengkapdata, dengan teknik ini informasi serta data bisa dijabarkan

Zat pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki warna makanan yang berubah atau menjadi pucat selama proses pengolahan atau untuk memberi warna pada makanan yang tidak