BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN
Hidung mempunyai tugas menyaring udara dari segala macam debu yang Hidung mempunyai tugas menyaring udara dari segala macam debu yang masuk. Tanpa penyaringan, debu ini dapat mencapai paru-paru. Bagian depan dari masuk. Tanpa penyaringan, debu ini dapat mencapai paru-paru. Bagian depan dari rongga hidung terdapat rambut hidung yang berfungsi menahan butiran debu kasar, rongga hidung terdapat rambut hidung yang berfungsi menahan butiran debu kasar, sedangkan debu halus dan bakteri menempel pada mukosa hidung. Dalam rongga sedangkan debu halus dan bakteri menempel pada mukosa hidung. Dalam rongga hidung udara dihangatkan sehingga terjadi kelembaban tertentu.
hidung udara dihangatkan sehingga terjadi kelembaban tertentu.
Mukosa hidung tertutup oleh suatu lapisan yang disebut epitel respirateris Mukosa hidung tertutup oleh suatu lapisan yang disebut epitel respirateris ya
yang ng terterdidiri ri dadari ri selsel-se-sel l ramrambubut t gegetatar r dadan n sel sel “le“leheher. r. !e!el-sl-sel el ramrambubut t getgetar ar ininii menge
mengeluarkaluarkan n lendir yang tersebar lendir yang tersebar rata sehingga merupakan suatu lapisan tipis rata sehingga merupakan suatu lapisan tipis yangyang melapisi mukosa hidung dimana debu dan bakteri ditahan dan melekat. Debu dan melapisi mukosa hidung dimana debu dan bakteri ditahan dan melekat. Debu dan bakteri yang melekat dikeluarkan ke arah berla"anan menuju tenggorokan. #emud bakteri yang melekat dikeluarkan ke arah berla"anan menuju tenggorokan. #emudianian
me
mendndororonong g ramrambubut t gegetatar r hihidudung ng didimamana na gegetartaranannynya a seselallalu u memengngararah ah kekeluluarar.. $erakannya seperti cambuk, jadi selalu mencambuk keluar, dengan demikian bagian $erakannya seperti cambuk, jadi selalu mencambuk keluar, dengan demikian bagian yang lebih dalam dari lapisan bulu getar ini selalu bersih dan “steril. Biasanya pada yang lebih dalam dari lapisan bulu getar ini selalu bersih dan “steril. Biasanya pada pagi hari hal ini dapat dicapai.
pagi hari hal ini dapat dicapai. !el
!elain ain memmemilikiliki i perperan an yanyang g penpentinting g terhterhadaadap p sistsistem em perpernafanafasan san di di daldalamam tub
tubuh, uh, terternynyata ata hidhidung ung jugjuga a bisbisa a menmengalgalami ami konkondisdisi i yanyang g tidtidak ak nornormalmal, , sepesepertirti terinfeksi, dan adanya inflamasi. %enyakit yang banyak di derita oleh orang de"asa terinfeksi, dan adanya inflamasi. %enyakit yang banyak di derita oleh orang de"asa dengan rentang umur antara &'-(' tahun yaitu %olip )asal * %olip Hidung.
dengan rentang umur antara &'-(' tahun yaitu %olip )asal * %olip Hidung.
%olip hidung ialah massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam %olip hidung ialah massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga hidung ber"arna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi mukosa. rongga hidung ber"arna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Ben
Bentuk tuk menmenyeryerupaupai i buabuah h anganggurgur, , lunlunak ak dan dan dapdapat at digdigerakerakkankan. . %o%olip lip timtimbul bul dardarii dinding lateral hidung. %olip yang diakibatkan proses inflamasi biasanya bilateral dinding lateral hidung. %olip yang diakibatkan proses inflamasi biasanya bilateral +!chlosser ood"orth ''/0 Mangunkusumo ardani ''12.
+!chlosser ood"orth ''/0 Mangunkusumo ardani ''12.
%olip hidung bukan penyakit yang murni berdiri sendiri. %embentukannya %olip hidung bukan penyakit yang murni berdiri sendiri. %embentukannya sangat
sangat terkait terkait erat erat dengdengan an berbaberbagai gai problproblem em THT THT lainnylainnya a sepertseperti i rinitirinitiss alergi,
alergi, asma, asma, radang radang kronis kronis pada pada mukosa mukosa hidung-sinus hidung-sinus paranasal, paranasal, kista kista fibrosis,fibrosis, intoleransi pada aspirin. !ampai saat ini para pakar belum mendapatkan ja"aban intoleransi pada aspirin. !ampai saat ini para pakar belum mendapatkan ja"aban secara pasti apa yang mendasari munculnya benjolan putih keabu-abuan bertangkai secara pasti apa yang mendasari munculnya benjolan putih keabu-abuan bertangkai itu. )amun dari studi dan pengamatan medis, baru ditemukan ada sejumlah faktor itu. )amun dari studi dan pengamatan medis, baru ditemukan ada sejumlah faktor yan
yang g “me“memumudahdahkankan pempemuncunculaulan n benbenjoljolan an ituitu. . 3n3ntartara a lailain n radradang ang krokronis nis yanyangg berulang
4asom
4asomotorotor, , peninpeningkatan cairan gkatan cairan intersinterstitial titial serta serta oedemoedema a +pemb+pembengkengkakan2 akan2 mukomukosasa hidung.
hidung.
5ndonesia merupakan )egara yang kaya akan sumber daya alam, sehingga 5ndonesia merupakan )egara yang kaya akan sumber daya alam, sehingga melihat dari bermacam-macam tumbuhan yang ada, maka bisa kita gunakan 6at aktif melihat dari bermacam-macam tumbuhan yang ada, maka bisa kita gunakan 6at aktif dari tumbuhan tersebut untuk menyembuhkan berbagai penyakit salah satunya adalah dari tumbuhan tersebut untuk menyembuhkan berbagai penyakit salah satunya adalah %olip hidung, dengan 6at aktif efedrin dari golongan alkaloid yang terkandung dalam %olip hidung, dengan 6at aktif efedrin dari golongan alkaloid yang terkandung dalam Ephedra
Ephedra sinicasinica. Maka 6at aktif tersebut bisa di gunakan untuk mengobati penyakit. Maka 6at aktif tersebut bisa di gunakan untuk mengobati penyakit polip hidung.
polip hidung.
Tanaman efedra ini di temukan di 7usia dan sudah di gunakan sejak abad ke Tanaman efedra ini di temukan di 7usia dan sudah di gunakan sejak abad ke 8/, dan pertama kali di isolasi oleh $. 9amanashi dengan di temukannya #ristal 8/, dan pertama kali di isolasi oleh $. 9amanashi dengan di temukannya #ristal murni. #emudian pada tahun 8::1 isolasi alkaloid murni ini di berikan nama ;fedrin murni. #emudian pada tahun 8::1 isolasi alkaloid murni ini di berikan nama ;fedrin oleh )agai. Di tahun 8/81 peneliti asal <epang 3matsu dan #ubota menemukan efek oleh )agai. Di tahun 8/81 peneliti asal <epang 3matsu dan #ubota menemukan efek simpatomimetik dari efedrin yang bisa di gunakan untuk menngobati asma.
simpatomimetik dari efedrin yang bisa di gunakan untuk menngobati asma.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat di rumuskan permasalahan pembuatan Berdasarkan uraian diatas, maka dapat di rumuskan permasalahan pembuatan sediaan obat tetes hidung efedrin dari
sediaan obat tetes hidung efedrin dari Ephedra sinica Ephedra sinica untuk mengobati penyakit %olip untuk mengobati penyakit %olip hidung yang dilakukan uji kemurnian efedrin terlebih dahulu, kemudian di lanjutkan hidung yang dilakukan uji kemurnian efedrin terlebih dahulu, kemudian di lanjutkan den
dengan gan e4ae4alualuasi si fisifisik k dan dan kimkimia ia sedsediaaiaan, n, sehsehingingga ga sedsediaan iaan bisbisa a bekbekerja erja efekefektif tif terhadap penyakit, aman untuk di gunakan dan
terhadap penyakit, aman untuk di gunakan dan stabil dalam "aktu stabil dalam "aktu penyimpanan.penyimpanan. Tu
Tujuajuan n dardari i penpenelitelitianian, , MenMengemgembanbangkagkan n sedsediaan iaan farmfarmasi asi dardari i bahbahan an alamalam yaitu
yaitu Ephedra sinica Ephedra sinica yang di ambil isolate murninya pada golongan alkaloid, yang di yang di ambil isolate murninya pada golongan alkaloid, yang di formu
formulasikan menjadi sediaan lasikan menjadi sediaan obat tetes obat tetes hidunhidung g dan berguna untuk mengobati polipdan berguna untuk mengobati polip hidung. !ehingga bisa mengetahui cara kerja 6at aktif efedrin yang di dapat dari hidung. !ehingga bisa mengetahui cara kerja 6at aktif efedrin yang di dapat dari mengiosolasi tanaman efedra sebagai pengembangan sediaan farmasi dari bahan alam. mengiosolasi tanaman efedra sebagai pengembangan sediaan farmasi dari bahan alam.
BAB II BAB II
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA
2
2.
2.1.1.11 EEmbmbiiolologogi i HiHidudungng %er
%erkemkembanbangan gan ronrongga gga hidhidung ung secasecara ra embembrioriologlogi i yanyang g menmendasadasariri pembentukan
pembentukan anatomis anatomis intranasal intranasal dapat dapat dibagi dibagi menjadi menjadi dua dua proses. proses. %ertama,%ertama, embrio
embrional nal bagiabagian n kepalkepala a berkemberkembang membentuk dua bang membentuk dua bagiabagian n rongrongga ga hiduhidungng ya
yang ng beberbrbededa. a. #e#edudua, a, babagigian an didindndining g lalateteraral l hihidudung ng yyanang g kekemmududiaiann berin4aginasi menjadi kompleks padat, yang d
berin4aginasi menjadi kompleks padat, yang dikenal dengan konka +turbinate2,ikenal dengan konka +turbinate2, dan membentuk rongga-rongga yang disebut
dan membentuk rongga-rongga yang disebut sebagaisinus. +alsh ;, ''2sebagaisinus. +alsh ;, ''2 2.
2.1.1.22 AnAnatatomomi Hi Hididunung Lg Luaua Hid
Hidung ung terterdiri diri ataatas s hidhidung luar ung luar dan dan hidhidung ung bagbagian ian daldalam. am. HidHidungung bagian
bagian luar luar menonjol menonjol pada pada garis garis tengah tengah di di antara antara pipi pipi dan dan bibir bibir atas0 atas0 struktur struktur hidung luar dibedakanatas tiga bagian = yang paling atas = kubah tulang yang hidung luar dibedakanatas tiga bagian = yang paling atas = kubah tulang yang tak dapat digerakkan0 di ba"ahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat tak dapat digerakkan0 di ba"ahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat dig
digerakerakkankan0 0 dan dan yanyang g palipaling ng ba"ba"ah ah adaadalah lah loblobuluulus s hidhidung ung yanyang g mudmudahah digerakkan.Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari digerakkan.Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke ba"ah =
atas ke ba"ah =
a.pangkal hidung +bridge2, a.pangkal hidung +bridge2, b.batang hidung +dorsum b.batang hidung +dorsum nasi2,nasi2,
c.puncak hidung c.puncak hidung 2.
2.1.1.!! AnAnatatomomi Hi Hididunung Dg Dalalamam Bag
Bagian ian hidhidung ung daldalam am terdterdiri iri atas atas strustruktuktur r yanyang g memmembenbentantang g dardarii os.internum disebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan os.internum disebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring. #a4um nasi dibagi oleh septum, dinding lateral rongga hidung dari nasofaring. #a4um nasi dibagi oleh septum, dinding lateral terdapat konka superior, konkamedia, dan konka inferior. >elah antara konka terdapat konka superior, konkamedia, dan konka inferior. >elah antara konka inferio
inferior r dengdengan an dasar hidung dasar hidung dinamdinamakan akan meatumeatus s inferioinferior, berikutnyr, berikutnya a celahcelah antara konka media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas konka antara konka media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas konka media disebut meatus superior. +Ballenger <<,8//? 0 Dhingra %@,''10 Hilger media disebut meatus superior. +Ballenger <<,8//? 0 Dhingra %@,''10 Hilger %3,8//12
" "aammbbaa 11.. 3natomi 3natomi Aisiologi Aisiologi Hidung Hidung 2
2.1.1.#.# FFunungsgsi i HiHiddunungg
Aungsi dari hidung adalah untuk menghangatkan, membersihkan, dan Aungsi dari hidung adalah untuk menghangatkan, membersihkan, dan melembabkan udara yang anda napas serta membantu anda untuk membaui melembabkan udara yang anda napas serta membantu anda untuk membaui dan mencicipi. !eorang yang normal akan
dan mencicipi. !eorang yang normal akan mengmenghasilkhasilkan an kira-kkira-kira ira dua uartsdua uarts +8
+8 uuarart t C C ',',/ / liliteter2 r2 cacairiran an setsetiaiaphphari ari +l+lenendidir2r2, , yayang ng memembmbanantu tu dadalamlam mem
memperpertahatahankankan n salusaluran ran perpernapnapasan asan berbersih sih dan dan lemlembabbab. . 7am7ambutbut-ram-rambutbut mikro
mikroskopiskopik k yang yang kecil kecil +cilia2 +cilia2 melapimelapisi si permupermukaan-pkaan-permukermukaandaraandari i ronggronggaa hid
hidungung, , memmembanbantu tu menmenghaghapus pus parpartiktikel-pel-partiartikelkel. . 3k3khirhirnya nya lapilapisan san lenlender der dig
digerakerakan an ke ke belbelakaakang ng tentenggoggorokrokan an dimdimana ana ia ia secasecara ra tidtidak ak sadsadar ar ditditelanelan.. !eluruh proses ini diatur secara ketat oleh beberapa sistem-sistem tubuh.
!eluruh proses ini diatur secara ketat oleh beberapa sistem-sistem tubuh. 2
2..22 PPoollii$ $ HHiidduunngg 2
2..22..11 DD%%&&iinniissii
%olip hidung ialah massa lunak yang mengandung banyak cairan di %olip hidung ialah massa lunak yang mengandung banyak cairan di dal
dalam am ronrongga gga hidhidungung, , berber"ar"arna na putputih ih keakeabu-bu-abuabuan, an, yanyang g terterjadi jadi akiakibatbat in
inflaflamamasi si mumukokosasa. . BeBentntuk uk memenynyeruerupapai i bubuah ah ananggggurur, , lulunanak k dadan n dadapapatt digerakkan. %olip timbul dari dinding lateral hidung. %olip yang diakibatkan digerakkan. %olip timbul dari dinding lateral hidung. %olip yang diakibatkan proses
proses inflamasi inflamasi biasanya biasanya bilateral bilateral +!chlosser +!chlosser oood"orth od"orth ''/0''/0 Mangunkusumo ardani ''12.
Mangunkusumo ardani ''12.
2
2.2.2.2.2 EE$i$id%d%mimiololoogigi
%olip hidung biasanya diderita oleh orang de"asa usia &'-(' tahun. %olip hidung biasanya diderita oleh orang de"asa usia &'-(' tahun. @aki-laki lebih dominan dengan perbandingan =8 sampai ?=8. %re4alensi polip @aki-laki lebih dominan dengan perbandingan =8 sampai ?=8. %re4alensi polip
hidung dari seluruh orang de"asa Thailand sekitar 8-?. %re4alensi pada anak-anak jauh lebih rendah. %re4alensi polip hidung di !"edia sekitar ,1 dengan laki-laki lebih dominan ,=8. Di Ainlandia, pre4alensi polip hidung sekitar ?,&. Di 3merika !erikat dan ;ropa, pre4alensi polip ,8-?,& +!torms, 9a"n, Aromer ''10 Bachert, atelet, $e4aert, >au"enberge ''E0 #irtsreesakul ''E0 3kerlund, Melen, Holmberg, Bende ''&2.
Di 5ndonesia, !ardjono !oejak dan !ri Hera"ati melaporkan penderita polip hidung sebesar ?,(& dari semua pengunjung poliklinik THT-#@ 7!.Dr. !oetomo !urabaya. 7asio pria dan "anita -?=8. Di 7!F% H.3dam Malik Medan selama Maret ''? sampai Aebruari ''E, kasus polip hidung sebanyak ( orang terdiri dari 81 pria +(E2 dan / "anita +&E2. !elama <anuari sampai Desember '8' didapatkan kasus polip hidung sebanyak ?& orang terdiri dari pria +E8,2 dan 8 perempuan +?:,:2.
%enelitian di 7! D7. !ardjito 9ogyakarta, melaporkan terdapat ? penderita polip dimana tipe 8 sekitar ',:, tipe sekitar E:,&, tipe &
sekitar 8(,1 dan tipe ? sekitar ?,. +De"i '880 Munir '':2.
Aaktor genetik dianggap berperan dalam etiologi polip hidung. !ekitar 8? penderita polip memiliki ri"ayat keluarga menderita polip hidung. ;tnis dan geografis memiliki peranan dalam patofisiologi polip. %ada populasi >aucasian dominan polip eosinofilik sementara di 3sia dominan neutrofilik +3aron, >handra, >onley #ern '8'2.
2.2.! Patog%n%sis Poli$ Hidung
3lergi ditengarai sebagai salah satu faktor predisposisi polip hidung karena mayoritas polip hidung mengandung eosinofil, ada hubungan polip hidung dengan asthma dan pemeriksaan hidung menunjukkan tanda dan gejala alergi. !uatu meta-analisis menemukan 8/ dari polip hidung mempunyai 5g ; spesifik yang merupakan manifestasi alergi mukosa hidung +#irtsreesakul ''E2.
#etidakseimbangan 4asomotor dianggap sebagai salah satu faktor predisposisi polip hidung karena sebagian penderita polip hidung tidak
menderita alergi dan pada pemeriksaan tidak ditemukan alergen yang dapat mencetuskan alergi. %olip hidung biasanya mengandung sangat sedikit pembuluh darah. 7egulasi 4askular yang tidak baik dan meningkatnya
permeabilitas 4askular dapat menyebabkan edema dan pembentukan polip hidung +#irtsreesakul ''E2.
Aenomena Bernouilli terjadi karena menurunnya tekanan akibat konstriksi. Tekanan negatif akan mengakibatkan inflamasi mukosa hidung yang kemudian memicu terbentuknya polip hidung +#irtsreesakul ''E2.
7uptur epitel mukosa hidung akibat alergi atau infeksi dapat mengakibatkan prolaps lamina propria dari mukosa. Hal ini akan memicu terbentuknya polip hidung +#irtsreesakul ''E2.
5nfeksi merupakan faktor yang sangat penting dalam pembentukan polip hidung. Hal ini didasari pada percobaan yang menunjukkan rusaknya epitel dengan jaringan granulasi yang berproliferasi akibat infeksi bakteri !treptococcus pneumoniae, !taphylococcus aureus atau Bacteroides fragilis +merupakan bakteri yang banyak ditemukan pada rhinosinusitis2 atau %seudomonas aeruginosa yang sering ditemukan pada cystic fibrosis +@und 8//E2.
"amba 2. %atogenesis %olip Hidung
2.2.# 'a(os(o$is
!ecara makroskopik polip hidung tampak sebagai lesi nonneoplastik yang merupakan edema mukosa sinonasal, yang prolaps ke dalam rongga hidung +>hoi et al ''(2.
2.2.) 'i(os(o$is
!ecara mikroskopik didapatkan perubahan struktur epitel yaitu hiperplasia sel goblet, metaplasia skuamosa serta infiltrasi sel-sel radang seperti eosinofil, limfosit dan sel plasma. !elain itu terdapat pula edema hebat lamina propria disertai dengan akumulasi matriks protein dan penebalan membran basal. %ada tingkat seluler, proses inflamasi akan melibatkan epitel, sel dendritik, sel endothelial dan sel inflamasi seperti limfosit, eosinofil, neutrofil dan sel mast. %ada tingkat molekular banyak sekali gen-gen pro-inflamasi yang sudah dapat diidentifikasi +@iu et al ''?2.
2.2.* Klasi&i(asi +isto$atologi $oli$ +idung ,H%ll-uist 1*/ 1. Ed%matous0 Eosino$+ili Pol$ ,All%gi Pol$/
$ambaran histopatologi berupa edematous stroma, hyperplasia goblet cells di epitel respiratori, didapatinya sejumlah besar eosinofil dan sel mast di stroma polip dan penipisan bahkan adanya hialinisasi minimal pada membran basalis yang terlihat jelas membatasi stroma yang edema dengan epitel. %ada
stroma terlihat sejumlah fibroblast yang jarang dimana terdapat juga sejumlah sel inflamasi. !troma yang edema sebagian terisi cairan yang membentuk rongga seperti pseudokista. 5nfiltrasi sel inflamasi dapat sangat tegas. %olip edematous biasanya bilateral.
"amba !. 3. ;dematous, ;osinophilic %olyp. Terdapat banyak sel-sel inflamasi, paling banyak adalah eosinofil dan sel mast. Terlihat adanya penipisan membran basal +tanda panah2. B. ;dematous polyp dengan hiperplasia sel goblet, penipisan membran basal +tanda panah2 dan stroma longgar yang mengandung pseudocystic berisi cairan.
"amba #. 3. 3danya sejumlah sel goblet di epitel saluran nafas yang mengalami hiperplasia. #ebanyakan sel-sel inflamasi tidak jelas, stroma yang edema didominasi eosinofil. B. !ebuah polip dimana sebagian epitel saluran nafas menggantikan sel goblet.
"amba ). %olip edematous dengan infiltrasi
sel-sel inflamasi yang padat.
2. 3+oni In&lammato Pol$ ,Fiboin&lammato Pol$/
Tidak adanya edema stroma dan hiperplasia sel goblet adalah tanda khas tipe histopatologi polip ini. Dijumpai sel goblet tetapi epitel de4oid hiperplasia sel goblet. !ering terlihat adanya epitel suamous dan metaplasia epitel cuboidal. Terdapat penipisan membran basal "alaupun tidak sejelas penipisan membran basal pada tipe eosinofilik. !ering terlihat adanya infiltrasi sel inflamasi dengan dominasi limfosit yang sering bercampur dengan eosinofil. !troma mengandung sejumlah fibroblast dan tidak jarang terdapat fibrosis. %ada tipe ini sering kali terlihat adanya hiperplasia minimal kelenjar seromusin dan dilatasi pembuluh darah sering terlihat.
"amba *. %olip tipe inflamasi. Terdapat sebagian daeran epitel permukaan saluran nafas yang mengalami metaplasia kuboidal tetapi tidak terdapat hiperplasia sel goblet. Membran basal menunjukkan tidak adanya hialinisasi. !troma mengandung jaringan ikat dengan beberapa pembuluh darah yang mengalami dilatasi dan sejumlah besar dengan infiltrasi
limfosit. Terdapat banyak kelenjar seromusin, lebih banyak daripada polip edematous. !. Pol$ 4it+ H$%$lasia o& S%omuinous "lands
Tipe polip ini ditandai dengan didapatinya banyak kelenjar seromusin dan stroma yang edema. Tipe ini mempunyai banyak kesamaan dengan tipe edematous. Terdapat kelenjar yang sangat banyak dengan kelenjarnya merupakan gambaran histopatologi yang khas tipe ini. Hiperplasia kelenjar menyebabkan gambaran histopatologi tipe ini mirip neoplasma glandular jinak dan sering disebut pada banyak literature sebagai tubulocytic adenoma. %olip disusun oleh banyak kelenjar dengan sel silindris dengan inti sel ganjil terletak didepan bagian basal sel. #elenjar biasanya berhubungan dengan o4erlying epitel dan menunjukkan ketiadaan atypia. %erbedaan dengan tumor kelenjar, pada tipe ini kelenjar terletak terpisah satu sama lain, berbeda dengan tumor dimana kelenjar sering kali saling bersentuhan bahkan lengket pada bagian leher satu sama lain. Tipe polip ini
sangat jarang, hanya sekitar E dari seluruh polip.
"amba 5. %olip hidung dengan hiperplasia kelenjar seromusin. )amun tidak terdapat atipik. #. Pol$ 4it+ Stomal At$ia
Tipe ini adalah tipe yang paling jarang. Dapat dengan mudah dianggap sebagai suatu neoplasma jika ahli patologi anatomi tidak familiar dengan gambaran histopatologi ini. !ecara makroskopis sama dengan polip hidung yang lain tetapi gambaran histopatologi ditandai dengan stroma yang atypik.
"amba 6. 3. %olip dengan
stroma atipik. !troma lebih gembur
dengan sel-sel inflamasi tetapi terdapat sejumlah sel bi6arre dan sebagian berbentuk seperti bintang berselubung. 5nti sel-sel tersebut atipik dan cenderung hiperkromatik. Tidak adanya
mitosis. B. Tipe lain dari polip dengan stroma atipik. !el-sel atipik terlihat berada di tengah gambar. Terlihat inflamasi tegas di gambar 3 dan edema di gambar B.
2.! P%ng+antaan 7bat Intanasal
!istem penghantaran obat +Drug Deli4ery !ystem2 5ntranasal adalah suatu teknologi penyampaian obat alternatif yang diciptakan untuk mencapai tempat kerja y ang optimal diintranasal.Gbat diberikan secara intranasal untuk efek lokal seperti obat tetes hidung atau spray,rongga hidungdigunakan untuk pelepasan obat sistemik. Beberapa perusahaan farmasi bahkan mengembangkan pemberianinsulin melalui hidung.
!elain itu pemberian obat secara intranasal dikembangkan juga untuk 4aksin,contohnya 4aksin antraks yang menggunakan teknologi nano dapat diberikan melalui nasal, pemberian inimenguntungkan pasien yang takut terhadap jarum suntik, yang mana umumnya 4aksin diberikan dalam bentuk injeksi.%ada pemberian obat intranasal dibandingkan obat sistemik atau oral, yang perlu diperhatikan adalahukuran partikel yang didistribusikan dengan alat semprot atau spraynya. Fkuran yang paling umum adalah ' E' Im, ukuran lebih kecil akan memba"a obat sampaitrachea, sedangkan ukuran yang lebih besar dapatdigunakan bila obat ingin disimpan dalam saluran hidung, tetapi bisa jadi malah keluar dari lubang hidungatau bahkan tertelan. Beberapa kategori dari sediaan hidung dapat dibedakan=
• )asal drops and liuid nasal sprays. >ontoh obat dipasaran = !terimar )asal Hygiene,5 liadin )asal !pray, AliJonase )asal !pray
• )asal po"ders * bedak hidung
• !emisolid nasal preparations * sediaan hidung semisolid • )asal "ashes * pencuci hidung
• )asal sticks
2.# Tanaman E&%da , Ephedra sinica L./ 2.#.1 Klasi&i(asi
Di4isio = $netophyta >lass = $neptosida Grdo = ;phedrales Aamily = ;phedraceae $enus = ;phedra
!pesies = Ephedra sinica +>ronuist, 8/:82
"amba . Tanaman ;fedra
2.#.2 E(ologi dan
P%n%baan
;phedra adalah genus dari semak gymnosperm, satu-satunya genus dalam keluarganya, ;phedraceae, dan ;phedrales. Berbagai spesies ;phedra tersebar luas di banyak negeri, asli barat daya dan 3sia tengah, >hina utara, dan barat 3merika !elatan. Di daerah beriklim sedang, sebagian besar spesies ;phedra tumbuh di pantai atau di tanah berpasir dengan paparan sinar matahari langsung.
2.#.! 'o&ologi
!emak, cemara, tinggi hingga & m. Daun ber"arna hijau dan berukuran kecil. !edangkan bunganya uniseksual, bunga jantan menonjol, benang sari ber"arna kuning.
2.#.# Kandungan Kimia
Mengandung alkaloid efedrin &'-/', %seudoefedrin, norpseudoefedrin. Dapat berkhasiat untuk asma sebagai bronkodilator, simpatomimetik +efek seperti adrenalin2, demam, dekongestan dan gangguan !!%. Bagian yang banyak di gunakan adalahh batang dan daun.
2.#.) P%n%litian E$+%da
Tanaman yang serupa dengan Ma Huang, mempunyai genus ephedra juga ditemukan di 9unani, yaitu ;. fragius 4ar.graeca digunakan sebagai astringen, dimcampurkan bersama anggur untuk diuresis dan pengobatan disentri.
Tanaman efedra yang ditemukan di 7usia telah digunakan sejak a"al abd 8/, yaitu ;. 4ulgaris. 5nfus tamanan ini dicampurkan dengan susu dan butter untuk pengobatan rematik +dilaporkan oleh Bectin tahun 8:/82, syphilis
dan penyakit saluran napas.
Di 3merika beberpa tanaman efedra telah digunakan oleh suku 5ndian untuk berbagai tujuan. ;. antisyphitica, ;. caufornica, dan ;. ne4adensis digunakan untuk pengobatan syphilis dan gonorrhea.
%ada tahun 8::E pertama kali tanaman ma huang diisolasi oleh $.9amanashi dan menemukan bahan-bahan berupa kristal yang murni, selanjutnya dilakukan isolasi oleh )agai dan 9.Hori dan telah menemukan alkaloid yang murni +pada tahun 8::12, alkaloid tersebut kemudian diberi nama efedrin oleh )agai. !enya"a yang sama juga ditemukan oleh ;. Merck pada tahun 8:::. %ada tahun 8/81 peneliti asal <epang, 3matsu dan #ubota
menemukan efek simpatomimetik dari efedrin yang digunakan untuk pengobatan asma. Hasil ini didukung oleh Hirose dan To yang memberikan
kesimpulan sama. %ublikasi ini menarik perhatian publik amerika dan ;ropa untuk menggunakan efedrin sebagai antiasma. %ada tahun 8/& telah digunakan dalam bentuk tablet oleh negara-negara barat.
2.) S%diaan 7bat T%t%s Hidung
@arutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih 6at kimia yang terlarut, misal = terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. #arena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau di campur. +A5 5K, 8//E2
Gbat tetes hidung adalah larutan dalam air atau pemba"a minyak yang digunakan dengan jalan diteteskan atau disemprotkan ke dalam lubang hidung pada daerah nasopharyngeal, nama lainnya adalah $uttae nasales* )ose drops. Dapat mengandung 6at pensuspensi, pendapar, dan penga"et.
>airan pemba"a umumnya menggunakan air. >airan pemba"a sebaiknya mempunyai pH E,E-1,E, kapasitas dapar sedang, isotonis atau hampir isotonis. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pemba"a karena dapat menimbulkan pneumonia. +H.3 !yamsuni, ''(2
%ada umumnya GTH mengandung 6at aktif yang dapat berperan sebagai antibiotic, 4asokontriktor, germisida, antiseptik, dan anestetika lokal. +Modul Aarmasi, '8'2.
2.* E&%din
(“Sigma Aldrich” PT. Elokarsa Utama)
"amba 18. !truktur #imia ;fedrin 2.*.1 Si&at Fisi(o(imia 9at A(ti&
Nama "%n%i( ;phedrin ;phedrine Hidroklorida ;phedrine !ulfate Nama Kimia Ben6enemethanol, L-8-+methylamino2ethylN .8 Stu(ti Kimia >8'H8E)G Si&at Fisi(o(imia
air, sangat mudah larut dalam alkohol, mudah larut dalam alkohol, mudah larut dalam eter. +Martindale, ''12
;fedrin adalah senya"a anhidrat atau mengandung tidak lebih dari setengah molekul air hidrat, mengandung tidak kurang dari /:,E dan tidak lebih dari 8'',E >8'H8E )G. Di hitung terhadap 6at anhidrat. %emerian Oat padat menyerupai lemak, tidak ber"arna, granul atau hablur putih. Terurai secara bertahap bila terkena cahaya, melebur pada suhu &&o dan ?'o. ;fedrin anhidrat mempunyai suhu lebur lebih rendah dari efedrin dengan satu s etengah molekul air hidrat. #elarutan efedrin larut dalam air, dalam etanol, kloroform, dan dalam eter. !edikit dan lambat larut dala minyak mineral, larutan menjadi keruh bila efedrin mengadung air lebih dari 8 . +A5 5K, 8//E2
K%las T%a$i
#ardio4askuler. alpha dan beta-adrenergik 3gonis
2.*.2 Sint%sis E&%din
Fsaha pertama untuk sintesis efedrina dilakukan oleh Aourneau pada tahun8/'?, diikuti oleh !chmidt pada tahun 8/'E. )agai pada tahun 8/88 melakukan sintesis efedrina rasemik, tetapi belum tercatat dalam literatur. ;berhard menemukan efedrina rasemik dan pseudoefedrin pada tahun 8/81 melalui hidrogenasi alpha-methylaminopropiophenone. %ada tahun 8/', !pPth dan $Qhring telah mensintesis efedrina, pseudoefedrin dan bahan-bahan rasemik,
Berikut adalah beberapa contoh sintesis efedrin =
1. Sint%sis %&%din ol%+ N%ub%g dan His+ ,ta+un 121/ Menggunakan teknik sintesis stereoselektif +asymmetric2.
R Aenilasetilkarbinol diperoleh dari reaksi antara ben6aldehid yang ditambahkan larutan karbohidrat+glukosa2 dan difermentasikan oleh yeast. Gptik aktif terjadi pada >8 yang merupakan konfigurasi natural dari @-efedrin.
R #emudian katalisis hidrogenasi dengan bantuan metilamin, platinum dan HSS, sehingga terbentuk @-efedrin secara langsung dan terbentuk konfigurasi asymmetric pada >.
2. Sint%sis %&%din ol%+ 'ans(%0 Jo+nson dan S(ita ,ta+un 12/
!intesis ini menggunakan deri4at asam propionat pada alkilasi Ariedel->rafts dengan rantai samping mengandung & atom karbon.
R %roses sintesis dimulai dengan mereaksikan fenil dengan propionil klorida. Dengan bantuan 3luminium klorida akan terbentuk senya"a propiophenone.
R %ropiophenone diubah oleh isoamil nitrit +isonitroso keton2, kemudian dihidrolisis.
R !elanjutnya efedrin diperoleh dengan hidrogenasi katalitik dengan adanya metilamin dan katalis platinum serta H
!. Sint%sis %&%din ol%+ Nagai dan Kanao ,ta+un 12/
Melaporkan sintesis efedriin dari ben6aldehid dan nitro etana, dapat dilihat pada reaksi berikut =
2.*.! '%(anism% (%:a
;fedrin sebagai obat adrenergik dapat bekerja ganda dengan cara melepaskan simpanan norepinefrin dari ujung saraf, dan mampu bekerja memacu secara langsung di reseptor L dan .
;fedrin bermanfaat sebagai dekongestan nasal dengan mekanisme kerja L agonis dapat digunakan sebagai dekongestan nasal pada penderita rhinitis alergika atau rhinitis 4asomotor, dan pada penderita infeksi saluran nafas atas dengan rhinitis akut. Gbat-obat ini menyebabkan 4asokontriksi dalam mukosa hidung melalui reseptor L8, sehingga mengurangi 4olume mukosa dan dengan demikian mengurangi penyumbatan hidung. 7eseptor L terdapat pada arteriol yang memba"a suplai makanan bagi mukosa hidung. Kasokontriksi arteriol ini oleh L agonis dapat menyebabkan kerusakan struktural pada mukosa tersebut. %engobatan dengan dekongestan nasal sering kali menimbulkan hilangnya efekti4itas pada pemberian kronik. !erta rebound
hyperemia dan memburuknya gejala bila obat dihentikan. Mekanismenya belum jelas tetapi mungkin melibatkan desensitisasi reseptor dan kerusakan mukosa L 8 agonis yang selektif lebih kecil kemungkinannya untuk
menimbulkan kerusakan mukosa.
2.*.# Dosis P%mb%ian 7bat
<ika digunakan secara oral sebagai bronkodilator + dalam kombinasi tetap dengan ekspektoran2 atau sebagai dekongestan, nasal, dosis la6im de"asa E-E' mg setiap &-? jam jika diperlukan. Dalam pengobatan sendiri sebagai bronkodilator + dalam kombinasi tetap dengan ekspektoran2 untuk de"asa dan anak U 8 tahun, dosis la6im adalah 8,E-' mg setiap ? jam, tidak lebih dari 8E' mg dalam ? jam. Fntuk pemakaian oral sebagai bronkodilator untuk anak U tahun, efedrin diberikan pada dosis -& mg*kg atau 8'' mg*m setiap hari dalam ?-( dosis terbagi + misalnya ',&- ',E mg*kg setiap ? jam2.
!ebagai alternatifnya, untuk penggunaannya sebagai bronkodilator pada anak (-8 tahun, Dosis oral (,E - 8,E mg setiap ? jam, tidak lebih dari 1E mg dalam ? jam. %emakaian efedrin pada anak V 8 tahun harus diba"ah penga"asan dokter. %enggunaan efedrin secara parenteral untuk mengurangi bronkospasma, akut, parah, dosis efektif yang paling rendah + biasanya 8,E -E mg2. Dosis selanjutnya disesuaikan dengan respon pasien. Dosis la6im de"asa untuk pemberian 5M adalah = E -E' mg + range 8'- E' mg2. <ika masih dibutuhkan, pemberian dosis kedua sebesar E' mg 5M atau dosis E mg 5K. Fntuk pemberian 5K injeksi langsung, dosis E -Emg dapat diberikan secara perlahan.
<ika diperlukan, untuk mendapat dosis respon yang diinginkan, dosis tambahan 5K yang diperlukan dapat diberikan dalam "aktu E - 8' menit. Dosis de"asa parenteral tidak melebihi8E' mg dalam ? jam. 3nak-anak dapat
Menerima -& mg*kg atau (1-8'' mg*m secara subkutan, 5M atau 5K setiaphari dalam ? -( dosis terbagi. +M5M!,''12
2.*.) Fama(ologi ,Fama(odinami( dan Fama(o(in%ti( E&%din/ • Abso$si =Bioa4ailabilitas, secara cepat dan sempurna diserap setelah
diminum, 5M atau pemberian melalui injeksi. Bronchodilatasi terjadi dalam "aktu 8E-(' menit setelah pemberian oral obat dan nampak tetap ada selama -? jam. @amanya pressor dan reaksi jantung tehadap ephedrin adalah 8 jam setelah aturan 8'-E mg atau 5M atau pemberian injeksi E-E' mg dan sampai ? jam setelah obat 8E-E' mg diminum.
Gnset = Gral administrasi +bronkodilatasi terjadi dalam 8E-(' menit2, pemberian 5K +;fek Aarmakologis terjadi hampir seketika setelah penggunaan,
3dministrasi 5M +;fek Aarmakologis terjadi dalam 8'-' menit2.
Durasi = Gral +Bronkodilatasi berlangsung selama -? jam0 respon pressor dan jantung bertahan sampai ? jam, %emberian %arenteral +%ressor dan
tanggapan jantung bertahan selama 8 jam.
• Distibusi = ephedrin memasuki plasenta dan menyebar ke air susu.
• Eliminasi = jumlah kecil dimetabolisme lambat dalam hati oleh oJidati4e deamination, demethylation, aromatic hydroJylation dan konjugasi. ;phedrin dan metabolitnya disekresi dalam urin. tingkat eksresi urin dari obat dan metabolitnya tergantung pada pH urin. +M5M!, ''12
• Hal& Tim% ; <a(tu Pau+ E&%din =!ekitar & jam bila urin di asamkan sampai pH E 0 sekitar ( jam bila pH urin sekitar (,&.
2.*.* Stabilitas P%nim$an
@indungi dari cahaya +3HA!, ''E2 2.*.5 Konta Indi(asi
R %enggunaan bersamaan atau baru akan menggunakan +yaitu, dalam " aktu minggu2 terapidengan inhibitor M3G,
R 3nestesi umum dengan siklopropana atau halothane.
R !ecara Fmum seharusnya tidak digunakan jika kontraindikasi dengan obat 4asopressor+misalnya, pada pasien dengan tirotoksikosis atau diab etes mellitus, ketika ibu B%U 8&'*:' mm Hg, pada pasien dengan hipertensi atau gangguan kardio4askular lainn ya2
R %asien yang hipersensiti4itas terhadap efedrin atau obat simpatomime tik
2.*.6 E&%( Sam$ing
#ardio4askular = 3ritmia, nyeri dada, depresi pada tekanan darah, hipertensi, palpitasi, takikardia, pucat yang tidak biasa. !!% = agitasi, kecemasan, efek
menstimulasi !!%, pening, eksitasi ketakutan, hiperakti4itas, insomnia, irritabilitas, gugup, tidak bisa istirahat. $astrointestinal = anoreksia, gangguan lambung, mual, muntah, Jerostamia. )euromaskular dan skletal= tremor, lemah. %ernapasan = dyspnea. +3HA!, ''E2
2.*. Int%a(si 7bat
Meningkatkan efektoksisitas = Meningkatkan toksisitas pada jantung dengan agen simpatomimetik, teofilin glikosida jantung, atau anastesi umum.
Meningkatkan tekanan darah jika digunakan bersamaan dengan atropin atau penghambat M3G. Menurunkan efek pemblok L dan adrenergik
Tab%l 1. 5nteraksi Gbat
Gbat 5nteraksi >omentar
L-3drenergic blocker respon 4asopressor untuk efedrin menurun
-adrenergik blocker 3ntagonisme terhadap efek efedrin pada jantung dan bronchodilator 3nestesi, umum +siklopropana atau hidrokarbon terhalogenasi2 %eningkatan cardiosensiti4itas dari efedrin #ontraindikasi
3tropin Menghambat reflek
bradikardi dari efedrin dan meningkatkan penekanan respon dari efedrin
$likosida <antung Meningkatkan
kardiosensiti4itas terhadap efedrin.
%enggunaan secara hati-hati
Diuretik %enurunan respon arteri
$uanethidine $uanitidin menghasilkan antagonis dari blockade neuron, menghasilkan kehilangan efek
antihipertensi atau
peningkatan tekanan darah secara tiba- tiba
Tingkatkan dosis guanetidin jika dibutuhkan.
Metildopa 7espon penekanan dari
efedrin menurun
M3G5 ;fek penekanan dari efedrin
meningkat, mungkin menghasilkan krisis hipertensi
Hindari penggunaan efedrin atau tunggu minggu
setelah penghentian M3G5 GJitosin* GJytocics Dapat menghasilkan
hipotensi parah
7eserpin 7espon penekanan efedrin
menurun
Gbat !imtomimetik ;fek aditif dan
meningkatkan toksisitas
Hindari penggunaan bersamaan
2.*.18 P%ngau+
• P%ngau+ Ana( Tidak ada data
• P%ngau+ Hasil Lab
Menyebabkan amfetamin - positif palsu pada pemeriksaan dengan metode ;M5T.
• P%ngau+ K%+amilan Aaktor risiko >
• P%ngau+ '%nusui
ephedrin didistribusikan pada susu. 2.*.11 Paam%t% 'onitoing
%ada pemberian larutan injeksi = monitor tekanan darah dan denyut nadi.
2.*.12 B%ntu( S%diaan Di Pasaan kapsul = Emg injeksi = E' mg*m@ l
2.*.1! P%ingatan
penurunan 4olume darah harus dikoreksi sebelum memulai pengobatan dengan ephedrin, digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan mengalami gejala 4asomotor tidak stabil0 diabetes, hiperthyroidisme, prostatic hyperplasia, ri"ayat serangan jantung atau agen sympathomimetik lainnya. <uga digunakan hati-hati pada usia lanjut dan pasien-pasien yang mengalami gangguan kardio4askular seperti penyakit arteri koroner, aritmia, dan hipertensi. ;phedrin
bisa menyebabkan hipertensi. +D5H,''12 2.*.1# '%(anism% A(si
Melepaskan simpanan jaringan epinepherin sehingga menghasilkan adrenergic0 kerja lebih lama dan kurang manjur daripada epinephrine. +Martindale, ''12
2.5.1 Natium Fos&at 'onobasi ; Sodium P+os$+at% 'onobasi (“Merk”PT. Cahaya Mstika Scienti!ic "ndonesia)
)atrium Aosfat Monobasic yang di tambahkan pada sediaan obat tetes hidung berguna sebagai larutan pendapar. 7entang ph yang di milikinya adalah ?,8 -?,E. @arut dalam air dan etanol /E. Di gunakan dalam pelarut air anhydrous sebagai buffer kurang dari ,'. Dalam sediaan penggunaan natrium Aosfat Monobasic adalah ',:(:. )a Aosfat Monobasic merupakan bahan kimia yang stabil dan bisa di sterilisasi dengan autocla4e. Tidak bisa bercampur dengan alkalin dan karbonat. +HG%;, 8//?2
2.5.2 Natium Fos&at Di basi ; Sodium P+os$+at% Dibasi (“Merk”PT. Cahaya Mstika Scienti!ic "ndonesia)
)atrium Aosfat Di basic yang di tambahkan pada sediaan obat tetes hidung berguna sebagai larutan pendapar. %h yang di milikinya /,8. @arut dalam air dan etanol /E. Di gunakan sebagai buffer kurang dari ',. Dalam sediaan penggunaan )a Aosfat Di basic adalah ','1'. Bersifat hydroscopic dan stabil pada sterilisasi autocla4e. Tidak bercampur dengan alkaloid, antipyrine, chloral hydrat. +HG%;, 8//?2
2.5.! Natium EDTA
(“Merk”PT. Cahaya Mstika Scienti!ic "ndonesia)
;DT3 merupakan suatu asam aminopolikarboksilat dan tidak ber"arna, 6at padat yang larut dalam air. Basa konjugatnya dinamakan
;tilenadiaminatetraasetat. !odium ;DT3 merupakan serbuk kristal ber"arna putih yang memiliki ph 88,& dalam 8 pelarut air. Memiliki titik leleh U&''G>. @arut di dalam air. #onsentrasi yang biasa di gunakan dalam sediaan farmasi antara ','8-',8 "*4. Di gunakan sebagai pengkelat dan meningkatkan kerja ben6alkonium klorida. Dalam sediaan obat tetes hidung ini konsentrasi yang di gunakan ',8 . +HG%;, 8//?2
2.5.# B%n>al(onium 3+loida
(“Merk”PT. Cahaya Mstika Scienti!ic "ndonesia)
Ben6alkonium chlorida merupakan komponen ammonium uaterner yang digunakan dalam pembuatan obat sebagai antimikroba atau bahan penga"et, hampir sama dengan kerja surfaktan kation. Fntuk penggunaan pada sediaan nassal atau obat tetes hidung konsentrasi yang digunakan ',''-',' Memiliki ph E-: dalam 8' pelarut air. #onsentrasi yang di gunakan dalam sediaan adalah ','. Ben6alkonium bersifat hygroscopic dan tidak bercampur dengan aluminium, surfaktan anionik, sitrat, hidrogen peroksida,
lanolin, kaolin, tartrat, protein dan salisilat. +HG%;, 8//?2
2.5.) Natium 3+loida (PT. #rataco)
)atrium klorida digunakan sebagai 6at pengisotonis. Berbentuk serbuk kristal ber"arna putih. #onsentrasi yang di gunakan dalam sediaan Gbat tetes steril termasuk salah satunya obbat tetes hidung adalah kurang dari './. Dalam sediaan menggunakan konsentrasi ','&. +HG%;, 8//?2
2.5.* 3'3 NA (PT. #rataco)
>M> )3 di gunakan dalam sediaan oral dan topikal. Dalam sediaan larutan steril untuk topikal konsentrasi yang di gunakan berkisar antara ','E-',1E. #onsentrasi yang di gunakan dalam pembuatan obat tetes hidung adalah ',E. >M> )3 di gunakan sebagai peningkat 4iskositas suatu sediaan, sehingga kontak dengan permukaan lebih lama. +HG%;, 8//?2
!alah satu analisa kualitatif untuk efedrin dan deri4atnya adalah reaksi >hen-kao. 7eaksi ini adalah reaksi dengan >u!G? dan )aGH menghasilkan "arna ungu. <ika dikocok dengan dengan eter, maka akan terbentuk dua lapisan ber"arna. @apisan eter akan ber"arna ungu dan lapisan air akan ber"arna biru. 7eaksi ini adalah reaksi pembentukan kompleks antara >u dengan turunan fenilalkilamin yang mempunyai gugus amino dan gugus hidroksi. !elain menggunakan eter dapat juga digunakan n-butanol yang akan menghasilka n "arna ungu pada lapisan n-butanol dan "arna biru pada lapisan air +7oth, et al., 8//82.
%seudoefedrin H>l dapat ditetapkan kadarnya dengan beberapa cara yaitu spektrofotometri ultra4iolet pada panjang gelombang E1 nm +3 8, 8 cm dalam larutan asam C 88,/a2, kromatografi gas, dan dengan kromatografi cair kinerja tinggi +Moffat, ''12. Dapat juga ditetapkan kadarnya secara titrasi bebas air karena mempunyai atom ) yang bersifat basa +>airns, '':2.
%enyerapan sinar ultra4iolet dan tampak oleh suatu molekul organik akan menghasilkan transisi diantara tingkat energi elektronik pada molekul tersebut, dan karenanya sering dinamakan spektrometri elektronik. Transisi tersebut pada umumnya antara orbital ikatan atau orbital pasangan elektron bebas ke orbital anti ikatan +!upratman, '8'2.
!emua molekul dapat mengabsorbsi radiasi dalam daerah FK-tampak karena mengandung elektron, yang dapat dieksitasikan ke tingkat energi yang lebih tinggi. %anjang gelombang dimana absorbsi itu terjadi, bergantung pada berapa kuat elektron itu terikat dalam molekul. %anjang gelombang senya"a yang dapat di deteksi oleh spektrofotometri FK-K5! yaitu sekitar ''-1'' nm +Fnder"ood,''2.
#romofor adalah suatu gugus ko4alen tak jenuh yang bertanggung ja"ab terhadap absorpsi elektronik +gugus fungsi yang menyerap radiasi pada daerah ultra4iolet2. !truktur kromofor memiliki ikatan rangkap terkonjugasi. ;fedrin mempunyai kromofor cincin ben6en yang sederhana dan mempunyai spektrum dengan pita simetri terlarangyang lemah pada kurang lebih ('nm.
2. As$%(?as$%( 3P7B ang T%(ait Pos%s Podu(si
>%GB merupakan suatu konsep dalam industri farmasi mengenai prosedur atau langkah-langkah yang dilakukan dalam suatu industri farmasi untuk menjamin mutu obat jadi, yang diproduksi dengan menerapkan “Good Manufacturing Practices dalam
memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya. >%GB bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten memenuhi persyaratan yang
ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. >%GB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu.
%roses produksi meliputi semua kegiatan pembuatan mulai dari penerimaan bahan a"al , pengelolaan sampai dengan pencetakan tablet hingga menghasilkan produk jadi. %roses produksi dilaksanakan dengan mengikuti instruksi pelaksanaan !tandard Gperating %rocedure +!G%2 untuk menghasilkan obat jadi yang memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Fntuk memastikan suatu proses produksi selalu memenuhi syarat yang ditetapkan, dibutuhkan personalia yang terkualifikasi serta bangunan, fasilitas dan peralatan produksi yang sesuai dengan yang dipersyaratkan.
P%%nanaan dan P%ngadaan Ba+an A4al
%engadaan bahan a"al harus dari pemasok yang telah disetujui dan memenuhi spesifikasi yang rele4an. !emua penerimaan, pengeluaran dan jumlah bahan tersisa harus selalu dicatat. >atatan berisi keterangan mengenai pasokan, nomor bets*lot, tanggal penerimaan, tanggal pelulusan, dan tanggal kadaluarsa. %erencanaan dan pengadaan bahan a"al disesuaikan dengan banyaknya produk yang akan diproduksi sesuai dengan formula.
P%n%imaan
Bahan a"al meliputi bahan baku ataupun bahan kemas diterima dari 4endor yang kemudian bahan a"al tersebut dikarantina terlebih dahulu. !ebelum diluluskan terhadap bahan a"al tersebut dilakukan serangkaian pengujian kadar, identifikasi kebenaran bahan, dan diperksan kesesuaiannya dengan !ertifikat analisis +>o32. Fntuk bahan pengemas biasanya di cek bahan pengemas tersebut bersifat inert atau tidak serta ketahanannya tahan terhadap proses pengemasan. %enerimaan bahan a"al dilakukan oleh bagian gudang dan disimpan dalam gudang sesuai kriteria penyimpanan masing-masing bahan.
1 'ana:%m%n 'utu
5ndustri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen i6in edar
+registrasi2 dan tidak menimbulkan resiko yang membahayakan penggunanya. Manajemen bertanggungja"ab untuk mencapai tujuan ini melalui suatu kebijakan mutu, yang memerlukan partisipasi dan komitmen dari semua jajaran di semua departemen di dalam perusahaan, para pemasok dan para distributor.
mutu yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar. Fntuk itu, diterapkan aspek manajemen mutu dengan konsep dasar pemastian mutu, >%GB, dan penga"asan mutu.
2 Bangunan dan Fasilitas
Bangunan dan fasilitas untuk produksi sediaan tetes mata harus memperhatikan sterilitasnya. Fntuk itu berdasarkan >%GB Tahun '8, terdapat persyaratan standar lingkungan produksi steril yaitu =
a. White area
3rea ini disebut juga area kelas >, B dan 3 +diba"ah @3A2. 7uangan yang masuk dalam area ini adalah ruangan yang digunakan untuk penimbangan bahan baku produksi steril, ruang mixing untuk produksi steril, background ruang filling , laboratorium mikrobiologi +ruang uji sterilitas2. !etiap karya"an yang akan memasuki area ini "ajib mengenakan pakaian antistatik +pakaian dan sepatu yang tidak melepas partikel2. 3ntara grey area dan
white area dipisahkan oleh ruang ganti pakaian white dan airlock .
Airlock berfungsi sebagai ruang penyangga antara ruang dengan kelas kebersihan yang berbeda untuk mencegah terjadinya kontaminasi dari ruangan dengan kelas kebersihan lebih rendah ke ruang dengan kelas kebersihan lebih tinggi. Berdasarkan >%GB, ruang diklasifikasikan menjadi kelas 3, B, >, D dan ;, dimana setiap kelas memiliki persyaratan jumlah partikel, jumlah mikroba, tekanan, kelembaban udara dan air change rate.
b. Grey area
3rea ini disebut juga area kelas D, ruangan ataupun area yang masuk dalam kelas ini adalah ruang produksi produk non steril, ruang pengemasan primer, ruang timbang, laboratorium mikrobiologi +ruang preparasi, ruang uji potensi dan inkubasi2, ruang sampling di gudang.
!etiap karya"an yang masuk ke area ini "ajib mengenakan gowning +pakaian dan sepatu grey2. 3ntara black area dan grey area dibatasi ruang ganti pakaian grey dan airlock .
c. Black area
3rea ini disebut juga area kelas ;. 7uangan ataupun area yang termasuk dalam kelas ini adalah koridor yang menghubungkan ruang ganti dengan area produksi, area staging bahan kemas dan ruang kemas sekunder. !etiap karya"an "ajib mengenakan sepatu dan pakaian black area +dengan penutup kepala2.
Tab%l 2. Batas 'i(oba ang Disaan(an untu( P%mantauan A%a B%si+ S%lama K%giatan B%langsung
!ampel udara +cfu*m&2 >a"an papar +diam. /' mm2 cfu*? hours >a"an kontak +diam, EE mm2 cfu*plate !arung tangan E jari cfu*glo4es 3 V8 V8 V8 V8 B 8' E E E > 8'' E' E -D '' 8'' E' -! P%sonalia
!alah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam proses pembuatan produk steril, terutama dengan tehnik pembuatan secara 3!;%T5! adalah faktor personalia. Berikut adalah beberapa persyaratan >%GB yang terkait dengan personalia yang bekerja di ruang steril =
a %ersonil yang bekerja di area bersih dan steril dipilih secara seksama untuk memastikan bah"a mereka dapat diandalkan untuk bekerja dengan penuh disiplin dan tidak mengidap
suatu penyakit atau dalam kondisi kesehatan yang dapat menimbulkan bahaya pencemaran mikrobiologis terhadap produk.
b Hanya personil dalam jumlah terbatas yang diperlukan boleh berada di area bersih0 hal ini penting khususnya pada proses aseptik. 5nspeksi dan penga"asan dilaksanakan sedapat
mungkin dari luar area bersih.
c !tandar higiene perorangan dan kebersihan yang tinggi adalah esensial. %ersonil yang terlibat dalam pembuatan produk steril diinstruksikan untuk melaporkan semua kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan penyebaran cemaran
d %akaian rumah dan pakaian kerja regular tidak boleh diba"a masuk ke dalam kamar ganti pakaian yang berhubungan dengan ruang ber-#elas B dan >. Fntuk tiap personil yang bekerja di #elas 3*B, pakaian kerja steril +disterilkan atau disanitasi dengan memadai2
harus disediakan untuk tiap sesi kerja.
e !arung tangan secara rutin didisinfeksi selama bekerja. Masker dan sarung tangan hendaklah diganti paling sedikit pada tiap sesi kerja.
f%ersonil yang memasuki area bersih atau area steril harus mengganti dan mengenakan pakaian khusus yang juga mencakup penutup kepala dan kaki. %akaian ini tidak boleh
melepaskan serat atau bahan partikulat dan hendaklah mampu menahan partikel yang dilepaskan oleh tubuh.
# P%alatan
!eluruh peralatan utama dan kritis yang digunakan harus dikualifikasi terlebih dahulu meliputi kualifikasi instalasi +5W2, kualifikasi operasional +GW2, dan kualifikasi kinerja
+%W2. %eralatan selalu dibersihkan secara teratur sesuai prosedur pembersihan alat yang dirinci dalam prosedur tetap. !emua peralatan memiliki dokumen kualifikasi, prosedur tetap untuk operasional, pembersihan dan pemeliharaan, serta log book untuk kalibrasi dan pemakaian alat. %eralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji, dan mencatat selalu diperiksa ketelitiannya secara teratur dan dikalibrasi berdasarkan jad"al dan prosedur tetap kalibrasi. Tiap peralatan yang digunakan selalu dilengkapi catatan yang menerangkan pemeliharaan, penggunaan, kalibrasi, dan perbaikan dalam satu kesatuan pencatatan. %eralatan yang menggunakan software atau sistem yang diaksess X password
harus dalam keadaan terkunci ketika meninggalkan alat atau komputer. !etiap peralatan yang akan digunakan untuk pengujian harus dipastikan bah"a jad"al kalibrasi peralatan tersebut masih berlaku, sehingga hasil yang diperoleh dari pengujian menggunakan peralatan tersebut dapat dipertanggungja"abkan dan menunjukkan hasil yang sebenarnya.
Fntuk peralatan yang digunakan untuk proses produksi obat, sebelum digunakan harus dipastikan terlebih dahulu bah"a alat tersebut telah dibersihkan sebelumnya dan telah ditempeli label B;7!5H. Hal ini bertujuan untuk menghindari kontaminasi produk oleh produk yang dibuat sebelumnya. Fntuk peralatan produksi juga terdapat prosedur 4alidasi pembersihan peralatan yang bertujuan untuk memastikan dan membuktikan bah"a prosedur untuk pembersihan yang dilakukan sesuai dengan protap yang telah ditetapkan dapat menghilangkan residu bahan aktif dan deterjen serta mengurangi jumlah cemaran mikroba sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.
!uatu industri farmasi bertanggung ja"ab menyediakan personil yang sehat, terkualifikasi dan dalam jumlah yang memadai agar proses produksi dapat berjalan dengan baik. %emeriksaan kesehatan personil dilakukan pada saat perekrutan, sehingga dapat dipastikan bah"a semua calon karya"an +mulai dari petugas kebersihan, pemasangan dan pera"atan peralatan, personil produksi dan penga"asan hingga personil tingkat manajerial2 memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik sehingga tidak akan berdampak pada mutu produk yang dibuat.
%ersonel yang diperlukan dalam area steril terbatas. %elatihan personal sangat ditekankan untuk semua personel yang bekerja dalam area steril tersebut. !tandar higiene perorangan dan kebersihan yang tinggi adalah esensial. %ersonil yang terlibat dalam pembuatan produk steril hendaklah diinstruksikan untuk melaporkan semua kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan penyebaran cemaran yang tidak normal jumlah dan jenisnya. %ersonel mengenakan pakaian, masker, penutup kepala, dan sepatu yang benar dan memastikan dapat menjamin kondisi sterilnya.
%ersonel harus mampu mensterilisasi dan mengoperasikan peralatan produksi. %akaian kerja yang digunakan pada kelas 3 yaitu = %enutup kepala hendaklah menutup seluruh rambut serta jika rele4an janggut dan kumis, penutup kepala hendaklah diselipkan ke dalam leher baju, penutup muka hendaklah dipakai untuk mencegah penyebaran percikan. Model terusan atau model celana-baju, yang bagian pergelangan tangannya dapat diikat dan memiliki leher tinggi0 hendaklah dikenakan. Hendaklah dipakai sarung tangan plastik atau karet steril yang bebas serbuk dan penutup kaki steril atau didisinfeksi. Fjung celana hendaklah diselipkan ke dalam penutup kaki dan ujung lengan baju diselipkan ke dalam sarung tangan. %akaian pelindung ini hendaklah tidak melepaskan serat atau bahan partikulat dan mampu menahan partikel yang dilepaskan dari tubuh.
"amba 2. Pa(aian (%:a $ada (%las A;B
%akaian kerja steril reguler termasuk sarung tangan untuk #elas B dan > hendaklah selalu diganti tiap kali karya"an memasuki * memasuki kembali ruang berkelas tersebut.
) Sanitasi dan Higi%n%
7uang lingkup sanitasi dan higiene menurut >%GB meliputi personal , bangunan, fasilitas, peralatan dan setiap aspek yang mungkin dapat menjadi sumber pencemaran produk. !elain itu juga perlu dilakukan 4alidasi terhadap prosedur pembersihan dan sanitasi. Mutu
produk harus dijaga agar terbebas dari kontaminasi akibat pengaruh lingkungan maupun karya"an. Gleh karena itu, penerapan sanitasi dan higiene karya"an mutlak diperlukan dalam proses pembuatan obat.
* Podu(si
Mutu obat yang dihasilkan tidak hanya ditentukan pada hasil akhir analisa obat tetapi juga ditentukan sejak kedatangan material serta a"al proses produksi dimulai. Fntuk menjamin kualitas obat yang dihasilkan dilakukan penga"asan baik terhadap bahan a"al, bahan pengemas, produk ruahan maupun produk jadi. !elain persyaratan terhadap bahan dan produk obat juga ada persyaratan yang diperuntukkan bagi karya"an yang bertugas di area produksi, seperti menggunakan pakaian khusus yang meminimalkan terjadinya kontaminasi dari tubuh karya"an ke dalam area produksi. !emua bahan a"al yang digunakan dalam kegiatan produksi, telah dinyatakan lulus oleh unit W>.
!ebelum proses pengolahan dilaksanakan, dilakukan check list terhadap suhu, kelembaban dan tekanan udara dan semua hasil pemeriksaan tersebut dicatat. !emua peralatan yang digunakan dalam proses produksi harus diperiksa sebelum digunakan. !emua peralatan dan ruangan diberi identitas yang jelas sehingga tidak menimbulkan salah identifikasi. !elama proses produksi maupun pengemasan, selalu dilakukan In Process ontrol +5%>2 sebagai suatu bentuk penga"asan mutu produk. 5%> dilaksanakan melalui kerjasama antara Departemen %roduksi dan Fnit W>. !elama proses 5%>, dilakukan e4aluasi parameter-parameter kritis sesuai dengan ketentuan sediaan yang diproduksi. !ampling
dilakukan oleh Departemen %roduksi, sedangkan pemeriksaannya dilakukan bersama-sama oleh Departemen %roduksi dan W>.
%roses pengemasan dilakukan di dua tempat, yaitu pengemasan primer dilakukan di white area, sedangkan pengemasan sekunder dilakukan di grey area.
5 P%nga4asan 'utu
!ebagai salah satu bagian penting dari >%GB, penga"asan mutu merupakan bagian yang harus dapat memastikan bah"a setiap produk obat yang dibuat mulai dari bahan baku, bahan kemasan, hingga produk jadi telah memenuhi persyaratan mutu. #eterlibatan dan komitmen semua pihak yang berkepentingan pada semua tahap merupakan keharusan untuk mencapai sasaran mutu mulai dari a"al pembuatan sampai kepada distribusi produk jadi. Terdapat dua departemen yang paling bertanggung ja"ab terhadap mutu produk atau
mutu secara keseluruhan, yaitu= Departemen "uality Assurance +W32 dan Departemen "uality ontrol +W>2.
W3 bertanggungja"ab dalam pemberian jaminan bah"a obat yang dibuat dan dipasarkan telah memenuhi persyaratan >%GB dan standar yang ditetapkan. Mutu produk tidak hanya diperoleh dari serangkaian pengujian yang dilakukan terhadap produk akhir tetapi mutu
harus dibentuk ke dalam produk sejak a"al. Gleh karena itu, W3 selalu mengontrol setiap langkah dalam proses produksi, melakukan analisa bila terjadi kegagalan, serta melakukan
audit terhadap supplierdan semua aspek yang mempengaruhi mutu produk.
!edangkan akti4itas W> meliputi pemeriksaan raw material# baik bahan aktif +acti$e pharmaceutical ingredient 2 maupun eksipien, pemeriksaan packaging material + secondary
dan primary2, pemeriksaan produk ruahan dan obat jadi serta penanganan dan penyimpanan contoh pertinggal.
6 Do(um%ntasi
!alah satu hal yang sangat esensial dalam pengoperasian suatu perusahaan farmasi agar dapat memenuhi persyaratan >%GB adalah dokumentasi. Dokumen pembuatan obat yang meliputi spesifikasi, prosedur, metode dan instruksi, perencanaan, pelaksanaan, pengendalian serta e4aluasi seluruh rangkaian kegiatan pembuatan obat merupakan bagian
dari sistem informasi manajemen. !istem dokumentasi yang dirancang atau digunakan hendaknya mengutamakan tujuannya yaitu menentukan, memantau atau mencatat mutu dari seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu.
Dokumentasi sangat penting untuk memastikan bah"a setiap petugas mendapat instruksi secara rinci dan jelas mengenai bidang tugas yang harus dilaksanakan sehingga memperkecil risiko kekeliruan. Dengan sistem dokumentasi yang rapi memungkinkan dilakukannya penelusuran apabila terjadi kesalahan atau keluhan terhadap produk dikemudian hari. Dokumentasi dirancang dan digunakan untuk menentukan, memantau dan mencatat mutu dari seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu.
@alidasi
a 7encana 5nduk Kalidasi b #ualifikasi
#ualifikasi dilakukan untuk alat-alat yang berkaitan selama proses produksi. Diantaranya = 8 !istem pengolahan air %urified ater
HK3>
& Fdara bertekanan ? @istrik darurat
E Mesin pencampuran ( Mesin pengisi
1 Mesin @abel
c Kalidasi Metode 3nalisis d Kalidasi %roses
Kalidasi proses menggunakan metode 4alidasi prospektif. Bets hasil 4alidasi prospektif minimal & bets berturut-turut hanya dapat diluluskan untuk dijual berdasarkan hasil serangkaian uji penga"asan mutu intensif, pengkajian kondisi pembuatan, hasil uji stabilitas, dan persetujuan dari bagian pemastian mutu.
e Kalidasi %embersihan
langsung dengan produk +6at aktif2. #ajian risiko dilakukan untuk mengkaji apakah suatu prosedur pembersihan, setelah dipakai untuk membuat semua produk yang menggunakan
alat yang sama perlu di4alidasi.
2.18 D%sain IP3 , "n Process Control /
8 In Process ontrol %IP&
a Fji #ejernihan dan arna +$oes"in, '82
Tujuan = memastikan bah"a setiap larutan obat suntik jernih dan bebas pengotor.
%rinsip = "adah-"adah kemasan akhir diperiksa satu persatu dengan menyinari "adah dari samping dengan latar belakang hitam untuk menyelidiki pengotor ber"arna putih dan latar belakang putih untuk menyelidiki pengotor ber"arna.
b %emeriksaan pH +A5 5K, 8//E2 3lat = pH meter.
Tujuan = mengetahui pH sediaan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
%rinsip = pengukuran pH cairan uji menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi. Hasil memenuhi syarat apabila ekui4alen dengan pH cairan mata yaitu 1,?.
%emeriksaan Bahan %artikulat +A5 5K, 8//E2
Tujuan = memastikan larutan tetes mata, termasuk larutan yang dikonstitusi dari 6at padat steril untuk penggunaan ophtalmic, bebas dari partikel yang dapat diamati pada pemeriksaan secara 4isual.
%rinsip =!ejumlah tertentu sediaan uji difiltrasi menggunakan membran, lalu membran tersebut diamati di ba"ah mikroskop dengan perbesaran 8''J. <umlah partikel dengan dimensi linier efektif 8' Ym atau lebih dan sama atau lebih besar dari E Ym dihitung. . %enga"asan Mutu Gbat <adi
a ;4aluasi Aisik +A5 5K, 8//E2 8 %emeriksaan Bahan %artikulat
Mengacu pada 5%>. %emeriksaan pH
Mengacu pada 5%>.
& #eseragaman #andungan
Tujuan = menjamin keseragaman kandungan 6at aktif.
%rinsip = menetapkan kadar 8' satuan sediaan satu per satu sesuai penetapan kadar.
? ;4aluasi #ejernihan Mengacu pada 5%>.
b ;4aluasi Biologi +A5 5K, 8//E2 82 Fji !terilitas
Tujuan =menetapkan apakah bahan Aarmakope yang harus steril memenuhi persyaratan berkenaan dengan uji sterilitas yang tertera pada masing-masing monografi.
%rinsip = menguji sterilitas suatu bahan dengan melihat ada tidaknya pertumbuhan mikroba pada inkubasi bahan uji menggunakan cara inokulasi langsung atau filtrasi dalam
medium Tioglikonat cair dan !oybean >asein Digest prosedur uji dapat menggunakan teknik inokulasi langsung ke dalam media pada &'-&Eo> selama tidak kurang dari 1 hari. 2 Fji ;ndotoksin
Tujuan = untuk memperkirakan kadar endotoksin bakteri yang mungkin ada didalam atau pada bahan uji.
%rinsip = pengujian dilakukan menggunakan 'imulus Amebocyte 'ysate +@3@2, deteksi dilakukan dengan metode turbidimetri atau kolorimetri, penetapan titik akhir reaksi dilakukan dengan membandingkan langsung enceran dari 6at uji dengan enceran endotoksin baku, dan jumlah endotoksin dinyatakan dalam Fnit ;ndotoksin +F;2.
c ;4aluasi #imia
%enetapan kadar dilakukan dengan menggunakan #romatografi >air #inerja Tinggi +#>#T2.
Tujuan = mengindentifikasi masing-masing 6at yang terkandung dalam sampel dan menetapkan kadarnya dengan metode analitik.
%rinsip = pemisahan 6at terlarut oleh suatu proses migrasi diferensial dinamis dalam sistem yang terdiri dari fase atau lebih, salah satu diantaranya bergerak secara berkesinambungan dalam arah tertentu dan di dalamnya 6at-6at itu menunjukkan perbedaan mobilitas yang disebabkan adanya perbedaan dalam adsorpsi, partisi, kelarutan,
Penimbangan bahan aktif dan tambahan
Pencampuran bahan aktif dan tambahan
IPC
Pemeriksaan p
Pengamatan secara !rgan!"eptik
Pen#aringan dengan membran 0$45 %m
Pengisian ke da"am &adah
IPC
'(i )e(ernihan
Pemeriksaan bahan partiku"at
*teri"isasi akhir
IPC
Penetapan +!"ume tetes mata
,+a"uasi sediaan
-'(i bahan partiku"at
Penetapan p
'(i ke(ernihan
'(i keb!c!ran
Identi.kasi bahan aktif
Penetapan kadar
*teri"isasi
,nd!t!ksin bakteri
Diagram alir uji desain 5%> terdapat pada "amba #.22.11 P%mili+an '%sin Podu(si A 3lat untuk proses produksi 1 3lat Timbang
)ama = %latform !cales Z!G)5>Z T 8' eighing 5ndicators $ambar =
"amba#.2 AlatTimbang
!pesifikasi = #apasitas = 8E' kg !ensiti4itas = ' g
'aminary Air (low
!istem udara laminar hendaklah mengalirkan udara dengan kecepatan merata antara ',&( ',E? m*detik +nilai acuan2 pada posisi uji 8E &' cm di ba"ah filter terminal. #ecepatan aliran udara di daerah kerja minimal ',&( m*detik. 3liran udara searah +unidirectional airflow ) *+A( 2 dengan kecepatan yang lebih rendah dapat digunakan pada isolator yang tertutup dan kotak bersarung tangan +Glo$e boxes2. Fntuk mencapai kebersihan udara #elas B, > dan D, perhitungan frekuensi pertukaran udara hendaklah disesuaikan dengan ukuran ruangan, mesin yang digunakan dan jumlah personil yang bekerja di dalam ruangan. Hendaklah dilakukan tes integritas * kebocoran pada filter
H;%3 terpasang sesuai dengan 5!G 8?(??-& dengan inter4al "aktu tiap ( bulan, atau tidak lebih dari 8 bulan. Tujuan pelaksanaan tes ini adalah untuk memastikan bah"a media filter, bingkai dan semua segel + seal 2 pada filter yang terpasang bebas dari kebocoran. Bahan aerosol yang dipilih untuk melakukan tes kebocoran hendaklah tidak mendukung pertumbuhan mikroba, misal polyalphaolefine + PA,2, dan terdiri dari partikel aerosol
'aminary Air (low>rescendo Bench & Mesin pengisi +Ailling Machine2
Mesin pengisi larutan dari rentang ',''8-E' m@ hasilnya hingga (.''' uph. Dosis akurasi [ ','E, sistemnya dapat mengkalibrasi ulang secara otomatis dimana pemeliharaannya mudah dan cepat serta seuai dengan peraturan c$M%, F! AD3, dan persyaratan khusus dari industri farmasi. %eralatan yang digunakan terdiri dari mesin pengisi dengan 4al4eless rotary piston pumps untuk mengisis secara otomatis seperti botol, jarum suntik, dan 4ial untuk produk larutan dan semi solid dalam daerah steril atau ruangan yang bersih. !istem dosis ini dilengkapi dengan 8 atau silinder 4al4eless 4olumetrik yang terbuat dari stainles steel 35!5-&8(@ atau kemarik untuk menjamin kondisi maksimum aseptik. !emua parameter dosis dapat disimpan dalam %ro-face %@> dan diambil dari HM5 sampai '' resep yang berbeda dapat dengan mudah dibuat dan diedit. %eralatan ini cocok untuk uji klinis atau batch produksi media karena peralatan ini dirancang untuk bekerja secara mandiri atau terintegrasi dalam pengisisan larutan di industri.
$ambar &. !\-E' Kolumetric Tabletop 4olumetric dosing piston
? Mesin %encampuran +MiJing2
keseragaman. %roses miJing meliputi pembasahan fase solid oleh fase cair, dispersi partikel atau deagglomeration menjadi fase yang continous. %emanasan dan pendinginan melalui konduksi langsung dapat digunakan dalam proses ini untuk memfasilitasi terjadinya pencampuran +)ia6i, ''?2. Mesin pencampur, pengayak dan pengaduk hendaklah dilengkapi dengan sistem pengendali debu, kecuali digunakan sistem tertutup. %arameter operasional yang kritis +misal= "aktu, kecepatan dan suhu2 untuk tiap proses pencampuran, pengadukan dan pengeringan hendaklah tercantum dalam dokumen produksi induk, dan dipantau selama proses berlangsung serta dicatat dalam catatan bets. )ama = !uper Mixer9>-!M$D (''
$ambar =
"amba #.# '%sin P%nam$uan #apasitas total = ('' @
#apasitas kerja = ?' @ E 3utoklaf +!terilisasi 3khir2
!terilisasi panas lembab adalah sterilisasi dengan menggunakan uap panas diba"ah tekanan berlangsung didalam autoklaf, umumnya dilakukan dalam uap jenuh dalam "aktu &' menit dengan suhu 88E]> - 88(]> +A5 5K, 8//E2.
"amba #.) Alat Auto(la& B 3lat untuk uji 5%> dan sediaan
"amba #.* Alat P%ngu(u $H 3lat Fji %artikulat
"amba #.5 Alat U:i Pati(ulat 2.12 @alidasi Pos%s Podu(si
Kalidasi proses produksi berlaku untuk pembuatan sediaan obat, yang mencakup 4alidasi proses baru +initial $alidation2, 4alidasi bila terjadi perubahan proses dan 4alidasi ulang. %ada umumnya 4alidasi proses dilakukan sebelum produk dipasarkan +4alidasi prospektif2. Dalam keadaan tertentu, jika hal di atas tidak memungkinkan, 4alidasi dapat juga dilakukan selama proses produksi rutin dilakukan +4alidasi konkuren2. %roses yang sudah berjalan hendaklah juga di4alidasi +4alidasi retrospektif2. Dalam hal ini 4alidasi proses produksi yang dilakukan adalah 4alidasi prospektif, yaitu tiga bets pertama produksi +berturut-turut2. !ebelum dilakukan 4alidasi proses, harusnya dipastikan bah"a telah dilakukan 4alidasi metode analisa, dan peralatan yang digunakan telah terkualifikasi dan terkalibrasi. Tahapan pelaksanaan 4alidasi proses produksi =
8 %emilihan proses produksi yang Diuji %embuatan %rotokol Kalidasi
& %embuatan lembar kerja + "orksheet 2 4alidasi ? %elaksanaan 4alidasi
E %engujian !ampel
( %enentuan #riteria +Batas2 %enerimaan 1 Membuat #esimpulan