• Tidak ada hasil yang ditemukan

JKGT VOL.2, NOMOR 2, DESEMBER (2020) 42-47

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JKGT VOL.2, NOMOR 2, DESEMBER (2020) 42-47"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

JKGT VOL.2, NOMOR 2, DESEMBER (2020) 42-47 (Penelitian)

Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Tingkat Kejadian Karies

Pada Anak Usia 5-12 Tahun

(Kajian Pada Pasien Rsgm Fkg Universitas Trisakti)

1Gita Cahya Maulani, 2Dr. drg. Jeddy, Sp.KGA 1

Mahasiswa, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

2

Departemen IKGA Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti email: [email protected]

ABSTRACT

Background: Dental caries is a major health problem affecting most of the world's population and is a multifactorial disease caused by the host, microorganisms, substrate and time. Nutrition is very important in maintaining health, growth, and has a relationship with nutritional status and dental caries. Obesity that occurs in children is a serious and emergency problem because it can last into adulthood. Objective: the aim of this study is to determine the relationship of Body Mass Index with caries incidence rates in children aged 5-12 years. Methods: This study is an observational analytic study with cross-sectional design in children aged 5-12 years at Dental Hospital in Faculty of Dentistry Trisakti University in 2019 with a total sample of 85 children. BMI is measured by weight squared divided by height squared to assess the nutritional status of children, while the def-t index and DMF-T index are used to assess the severity of caries. Results: The incidence rate of deciduous dental caries is very high (def-t index 9.75) and the incidence rate of permanent dental caries is low (DMF-T index 1.27). Data analysis using the Pearson correlation test showed there was no relationship between BMI and the incidence rate of dental caries because the p value was > 0.05. Conclusion: There was no relationship between BMI with caries incidence rates in children aged 5-12 years at Dental Hospital in Faculty of Dentistry Trisakti University.

Keywords: BMI, caries, def-t index, DMF-T index

PENDAHULUAN

Karies gigi menjadi masalah kesehatan utama yang mempengaruhi sebagian besar populasi dunia, yang merupakan penyakit multifaktorial. Global Burden of Disease Study 2016 memperkirakan bahwa penyakit mulut mempengaruhi setidaknya 3,58 miliar orang di seluruh dunia dengan karies gigi permanen menjadi yang paling umum dari semua kondisi yang dinilai. Secara global diperkirakan 2,4 miliar orang menderita karies gigi permanen dan 486 juta anak menderita karies gigi sulung.1

Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi karies di Indonesia mencapai 88,8% dengan indeks DMF-T sebesar 7,1. Pada kelompok anak usia 5-9 tahun, prevalensi karies sebesar 92,6% dengan indeks DMF-T 0,7 dan pada kelompok anak usia 10-14 tahun prevalensi karies sebesar 73,4% dengan indeks DMF-T 1,8. WHO mengklasifikasikan prevalensi karies berdasarkan kelompok usia yaitu anak usia 5 tahun yang mengalami karies sebesar 90,2% dengan indeks dmf-t 8,1 dan anak usia 12 tahun sebesar 72,0% dengan indeks DMT-T 1,9.2 WHO juga melaporkan bahwa 60-90% anak-anak

sekolah di dunia mengalami karies.3 Dengan besarnya prevalensi karies, WHO dan FDI menargetkan untuk kedepannya 50% dari anak usia 5-6 tahun bebas dari karies gigi dan anak usia 12 tahun tidak ada lagi yang memiliki DMF-T > 3.2 Karies gigi merupakan suatu penyakit yang dapat terjadi karena interaksi empat faktor penyebab yang saling mempengaruhi satu sama lain yaitu host, mikroorganisme, substrat dan waktu.4,5 Faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya karies yaitu kebiasaan buruk, lingkungan, dan asupan makanan. Risiko terjadinya karies dapat meningkat apabila pengetahuan dan kesadaran diri tentang kebersihan gigi dan mulut kurang. Peran orang tua diharapkan dapat mengurangi risiko karies pada anak.6

Pertumbuhan anak merupakan indikator penting dalam status gizi dan kesehatan dan sudah diakui secara internasional.7 Nutrisi sangat berperan dalam pemeliharaan kesehatan, pertumbuhan, dan memiliki hubungan dengan karies gigi.8 Menurut WHO konsumsi gula yang tinggi adalah penyebab utama kenaikan berat badan.9 Obesitas yang terjadi pada anak-anak cenderung bertahan sampai dewasa

(2)

2 sehingga menjadi masalah serius dan terus

mempengaruhi negara-negara berpenghasilan rendah hingga menengah, terutama di perkotaan. Obesitas didefinisikan sebagai kondisi lemak abnormal dan akumulasi berlebihan dalam jaringan adiposa yang dapat mempengaruhi kesehatan.10,11

Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan pengukuran antropometrik dengan parameter berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan kuadrat (m2). Kategori IMT menurut WHO terdiri dari kategori kurus dengan IMT sebesar 18,5 kg/m2, normal sebesar 18,5-24,9 kg/m2, kelebihan berat badan sebesar 25-29,9 kg/m2 dan obesitas sebesar 30 kg/m2.12 Berdasarkan RISKESDAS 2018, status gizi anak usia 5-12 tahun (IMT/U) di Indonesia memiliki prevalensi yaitu 2,4% sangat kurus, 6,8% kurus, 70,8% normal, 10,8% gemuk, 9,2% obesitas.2

Hubungan antara IMT dan karies pada anak-anak telah diteliti diberbagai negara dengan hasil yang bervariasi. Penelitian yang dilakukan pada anak usia 6-11 tahun menunjukkan tidak terdapat korelasi antara kelebihan berat badan dengan karies gigi, sedangkan kategori kurus memiliki hubungan dengan karies gigi sulung.13 Berdasarkan penelitian di Kota Mekah pada anak usia 6-11 dan 12-17 tahun hasilnya tampak menunjukkan korelasi yang kuat antara obesitas dengan prevalensi karies gigi.14 Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan IMT dengan tingkat kejadian karies pada anak usia 5-12 tahun di RSGM FKG Universitas Trisakti.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian potong silang pada anak usia 5-12 tahun di RSGM FKG Universitas Trisakti tahun 2019 dilakukan bagian IKGA pada 17 September - 7 November 2019. Populasi dalam penelitian ini yaitu pasien usia 5-12 tahun di RSGM FKG Universitas Trisakti dan sampel yang digunakan yaitu pasien usia 5-12 tahun di RSGM FKG Universitas Trisakti yang datang pada tahun 2019. Besar sampel penelitian 85 sampel yang telah dihitung dengan rumus besar sampel korelasi analitik. Kriteria inklusi penelitian ini yaitu pasien RSGM FKG Universitas Trisakti usia 5-12 tahun yang melakukan perawatan pada tahun 2019 dan telah mengisi informed consent yang diberikan kepada orang tua/wali pasien. Pasien yang memiliki kesehatan umum yang tidak baik tidak diikutsertakan dalam penelitian ini. Alat dan bahan yang digunakan terdiri dari masker, sarung tangan, kaca mulut, probe WHO, pinset, timbangan, stature meter, alat tulis, kertas, kalkulator, laptop, cotton roll, cotton pellet, alkohol

70%. Penelitian ini berasal dari pemeriksaan klinis pasien usia 5-12 tahun di RSGM FKG Universitas Trisakti yang melakukan perawatan pada tahun 2019 dengan cara melakukan pemeriksaan berat badan, tinggi badan dan pemeriksaan gigi geligi untuk mendapatkan indeks def-t/DMF-T. Data yang diperoleh berskala numerik dan dianalisis dengan uji korelasi Pearson. Penelitian ini sudah disetujui oleh komisi etik FKG Universitas Trisakti dengan mengajukan ethical clearance.

HASIL

Penelitian ini membutuhkan 85 sampel dan didapatkan 31 pasien laki-laki (36,47%) dan 54 pasien perempuan (63.53%) seperti pada Tabel 5.

Tabel 5.Distribusi Sampel

Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase (%)

Laki-laki 31 36.47

Perempuan 54 63.53

Total 85 100%

1. Indeks Massa Tubuh

Tabel 6.Distribusi kategori IMT berdasarkan jenis kelamin

Distribusi kategori IMT berdasarkan jenis kelamin yang ditunjukkan pada Tabel 6 menunjukkan bahwa subjek dengan status IMT kurus sebanyak 16 anak (18.83%) yang terdiri dari 4 anak laki-laki (4.71%) dan 12 anak perempuan (14.12%). Subjek dengan status IMT normal sebanyak 57 anak (67.06%) yang terdiri dari 23 anak laki-laki (27.06%) dan 34 anak perempuan (40%). Subjek dengan status IMT kelebihan berat badan sebanyak 5 anak (5.88%) yang terdiri dari 2 anak laki-laki (2.35%) dan 3 anak perempuan (3.53%), sedangkan subjek dengan status IMT obesitas sebanyak 7 anak (8.23%) yang terdiri dari 2 anak laki-laki (2.35%) dan 5 anak perempuan

43 JKGT VOL.2, NOMOR 2, DESEMBER (2020) 42-47

(3)

3 (5.88%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa

jumlah anak dengan kategori normal terdapat lebih dari setengah total sampel. Jumlah anak dengan kategori IMT kelebihan berat badan dan obesitas lebih sedikit dari pada jumlah anak dengan kategori kurus.

Tabel 7.Distribusi kategori IMT berdasarkan usia

Distribusi kategori IMT berdasarkan usia yang ditunjukkan pada Tabel 7 menunjukkan bahwa anak usia 6, 7 dan 8 tahun lebih dominan dibandingkan usia lainnya. Anak dengan kategori IMT kurus lebih banyak dialami oleh anak usia 6 tahun yaitu sebanyak 5 anak (5.88%). Anak dengan kategori IMT normal sebanyak 57 anak (67.06%) dengan persentase terbesar pada anak usia 7 tahun yaitu sebanyak 19 anak (22.35%). Kelebihan berat badan hanya dialami oleh anak usia 7 tahun sebanyak 2 anak (2.35%) dan 8 tahun sebanyak 3 anak (3.53%), sedangkan obesitas hanya dialami oleh anak usia 6, 7, 8 dan 10 tahun dengan total sebanyak 7 anak (8.24%). Anak dengan kategori IMT kurus, kelebihan berat badan dan obesitas tidak ditemukan pada anak usia 11 dan 12 tahun. Anak usia 11 dan 12 tahun hanya didapatkan masing-masing 1 anak dengan kategori normal.

2. Karies Gigi

Karies gigi yang diteliti pada penelitian ini terdiri dari karies gigi sulung dan karies gigi permanen dengan menggunakan indeks def-t untuk gigi sulung dan indeks DMF-T untuk gigi permanen.

Tabel 8.Distribusi kategori def-t dan DMF-T berdasarkan usia

Hasil yang tertera pada Tabel 8 menunjukkan bahwa anak usia 5-12 tahun memiliki indeks def-t dan indeks DMF-T. Anak usia 5, 6, 7, 8 dan 9 tahun memiliki indeks def-t di atas 6,6 yang artinya tingkat kejadian karies gigi sulung sangat tinggi. Anak usia 5 dan 6 tahun memiliki indeks DMF-T 0.5 dan 0.3 yang termasuk kategori sangat rendah. Anak usia 7, 8, 9 dan 10 memiliki indeks DMF-T yang berada pada rentang 1.2-2.6 yang artinya tingkat kejadian karies gigi permanen rendah. Anak usia 11 dan 12 tahun hanya terdapat masing-masing 1 anak. Anak usia 11 tahun memiliki skor def-t 4 sehingga indeks def-t 4 dan skor DMF-T 2 dengan indeks DMF-T 2, sedangkan anak usia 12 tahun memiliki skor def-t 2 dengan indeks def-t sebesar 2 dan skor DMF-T 4 sehingga indeks DMF-T juga sebesar 4.

Tabel 9. Distribusi kategori def-t dan DMF-T pada kategori

IMT

Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 7 didapatkan indeks def-t secara keseluruhan sebesar 9.75 yang artinya tingkat kejadian karies gigi sulung sangat tinggi dan indeks DMF-T

(4)

4 sebesar 1.27 yang artinya tingkat kejadian karies

gigi permanen rendah. Kategori kurus memiliki indeks def-t sebesar 9.19 dan indeks DMF-T sebesar 1.25. Kategori normal memiliki indeks def-t sebesar 10.26 dan indeks DMF-T sebesar 1.19. Kategori kelebihan berat badan memiliki indeks def-t 8.6 dan indeks DMF-T 1.6. Kategori obesitas memiliki indeks def-t sebesar 7.71 dan indeks DMF-T sebesar 1.71.

3. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan

Tingkat Kejadian Karies

Hubungan antara IMT dengan tingkat kejadian karies pada penelitian ini dianalisa dengan menggunakan uji korelasi Pearson dengan hasil seperti yang disajikan pada Tabel 10 di bawah ini. Tabel 10. Hasil uji korelasi Pearson IMT dengan def-t dan IMT dengan DMF-T Correlations IM T def-t DMF-T IMT Pearson Correlation (r) 1 -.127 .045 Sig. (2-tailed) .247 .681 N 85 85 85

Variabel yang diolah berupa IMT, jumlah def-t dan DMF-T. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan nilai p > 0.05 yang artinya tidak ada hubungan antara IMT dengan def-t maupun DMF-T.

PEMBAHASAN

Penelitian yang telah dilakukan di RSGM FKG Universitas Trisakti mendapatkan anak dengan kategori kurus sebanyak 16 anak (18.82%), normal sebanyak 57 anak (67.06%), kelebihan berat badan sebanyak 5 anak (5.88%) dan obesitas sebanyak 7 anak (8.24%). Data tersebut menunjukkan bahwa anak-anak di RSGM FKG Universitas Trisakti mayoritas memiliki IMT normal, artinya makanan yang dikonsumsi sudah memenuhi standar gizi yang baik dan jumlah energi yang masuk sudah seimbang dengan energi yang dikeluarkan.15 Persentase anak dengan kategori kurus lebih tinggi dibandingkan kelebihan berat badan dan obesitas. Penelitian sebelumnya yang telah dilakukan pada siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Tempuling, Indonesia menunjukkan hal serupa yaitu persentase anak dengan kategori kurus lebih dominan dibandingkan anak dengan kategori obesitas.16 Faktor yang menyebabkan kelebihan berat badan dan obesitas yaitu gaya hidup dengan kebiasaan

makan di malam hari yang mengandung karbohidrat tinggi, minuman bersoda yang banyak mengandung glukosa dan makanan cepat saji yang banyak mengandung lemak.10

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa anak dengan kategori kurus lebih banyak dialami oleh anak usia 6 tahun, kategori normal lebih banyak dialami oleh anak usia 7 tahun, kelebihan berat badan hanya dialami oleh anak usia 7 dan 8 tahun, sedangkan obesitas lebih banyak dialami oleh anak usia 8 tahun. Pada penelitian ini anak usia 6, 7 dan 8 tahun memiliki persentase yang lebih banyak sehingga kategori IMT lebih dominan dibandingkan usia lainnya. Anak usia 11 dan 12 tahun hanya didapatkan masing-masing 1 anak dengan kategori normal. Kelebihan berat badan dan obesitas yang dialami oleh anak usia 7 dan 8 tahun mungkin disebabkan oleh asupan makanan terutama makanan yang mengandung karbohidrat dan kurangnya konsumsi buah dan sayur.17

Periode gigi pada anak-anak terdiri dari periode gigi sulung, periode gigi bercampur dan periode gigi permanen. Karies gigi sulung diukur dengan indeks def-t, karies gigi permanen diukur dengan indeks DMF-T, sedangkan karies pada periode gigi bercampur diukur menggunakan indeks def-t dan indeks DMF-T.18 Tingkat kejadian karies telah diteliti pada anak usia 5-12 tahun yang terdiri dari karies gigi sulung dan karies gigi permanen. Usia 5 dan 6 tahun merupakan periode gigi sulung tetapi pada penelitian ini didapatkan gigi permanen yang telah erupsi pada usia tersebut sehingga indeks def-t dan indeks DMF-T dapat dinilai. Tingkat kejadian karies gigi sulung sangat tinggi pada anak usia 5 tahun dan menurun seiring bertambahnya usia karena telah tergantikan oleh gigi permanen.

Pada penelitian ini didapatkan bahwa anak dengan kategori IMT kurus memiliki indeks def-t sebesar 9.19, normal memiliki indeks def-t sebesar 10.26, kelebihan berat badan memiliki indeks def-t sebesar 8.6, dan obesitas memiliki indeks def-t sebesar 7.71. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa setiap kategori IMT memiliki tingkat kejadian karies gigi sulung yang sangat tinggi. Pada kategori normal jumlah gigi yang mengalami karies di dalam mulut sebanyak 10 gigi, sedangkan pada kategori obesitas jumlah gigi sulung yang mengalami karies sebanyak 8. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan sebelumnya yaitu jumlah gigi sulung yang mengalami karies menurun dengan meningkatnya IMT.19 Anak dengan kategori IMT normal memiliki indeks def-t yang paling tinggi dibandingkan dengan kategori IMT lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa berat badan bukanlah

45 JKGT VOL.2, NOMOR 2, DESEMBER (2020) 42-47

(5)

5 faktor yang menentukan kesehatan gigi dan mulut,

melainkan pengetahuan orang tua dan anak itu sendiri.

Penelitian ini menunjukkan bahwa anak dengan kategori obesitas memiliki indeks def-t yang lebih rendah dibandingkan anak dengan kategori kurus. Hal ini mungkin disebabkan karena frekuensi mengonsumsi kalori yang lebih sering dan aktifitas yang sedikit menyebabkan terjadinya penimbunan lemak. Anak dengan kategori obesitas biasanya dialami oleh keluarga dengan status sosioekonomi yang tinggi sehingga mampu mengakses layanan kesehatan gigi dan mulut lebih baik dari pada anak dengan kategori kurus.20

Nilai rata-rata karies gigi sulung (indeks def-t) menunjukkan nilai tinggi yaitu sebesar 9.75 yang menunjukkan tingkat keparahan karies gigi sulung sangat tinggi. Penyebab tingginya nilai indeks def-t tersebut yaitu gigi sulung lebih rentan terhadap karies karena pada gigi sulung struktur email dan dentin lebih tipis serta tanduk pulpa lebih tinggi dibandingkan gigi permanen, sehingga lebih rentan terhadap karies bila tidak menjaga oral hygiene dengan baik.18 Hal lain yang mungkin berpengaruh yaitu kurangnya pengetahuan orang tua tentang kesehatan gigi dan mulut serta orang tua beranggapan bahwa gigi sulung tidak memerlukan perawatan karena akan digantikan oleh gigi permanen sehingga kesehatan gigi sulung kurang diperhatikan.21

Rata-rata karies gigi permanen (indeks DMF-T) pada penelitian ini sebesar 1.27 dengan tingkat keparahan yang rendah. Hal ini mungkin disebabkan karena struktur lapisan email pada gigi permanen lebih kuat sehingga gigi permanen tidak mudah rentan terhadap karies dibandingkan gigi sulung walaupun anak tersebut sering mengonsumsi makanan berkarbohidrat tinggi.18

Hubungan antara IMT dengan karies telah diteliti diberbagai negara dan menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa menjelaskan bahwa ada hubungan antara IMT dengan karies yang dikaitkan dengan tingkat sosioekonomi. Tingkat ekonomi yang tinggi dapat disertai dengan peningkatan tingkat obesitas serta asupan energi dan lemak karena kemudahan memperoleh makanan. Tingginya asupan makanan terutama karbohidrat dapat meningkatkan risiko terjadinya karies.22 Berdasarkan ulasan sistematis, 48% penelitian tidak menemukan hubungan antara IMT dan karies gigi, 35% menemukan hubungan positif dan 19% menemukan asosiasi negatif.23 Sejumlah penulis telah menemukan hubungan antara obesitas dan karies gigi pada anak-anak dan remaja. Namun, tidak semua studi menunjukkan kekuatan hubungan

yang sama karena berat badan yang tinggi bukanlah faktor etiologis dalam perkembangan karies. Penelitian sebelumnya menemukan tidak ada hubungan antara obesitas dengan karies gigi pada anak-anak di Spanyol karena IMT pada anak-anak dapat berubah seiring pertambahan usia.24 Sedangkan penelitian yang dilakukan pada anak-anak di Saudi Arabia menunjukkan adanya hubungan antara IMT dengan karies.23

Penelitian yang dilakukan pada anak usia 5-12 tahun di RSGM FKG Universitas Trisakti tidak menunjukkan adanya hubungan antara IMT dengan karies berdasarkan hasil uji korelasi Pearson yang menunjukkan nilai p > 0,05. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hubungan tersebut seperti pola makan, status sosioekonomi, tingkat pengetahuan orang tua, gaya hidup dan kebiasaan. Karies gigi dapat disebabkan oleh malnutrisi yang menyebabkan gigi menjadi lebih rentan terhadap karies karena produksi saliva menurun. Faktor lain yang dapat memicu terjadinya karies yaitu kemampuan mengunyah yang buruk. Anak yang mengunyah dengan durasi yang lama menyebabkan gigi lebih lama terpapar karbohidrat sehingga akan meningkatkan terjadinya karies. Apabila anak memiliki kebiasaan mengunyah makanan dengan durasi yang cepat akan meningkatkan nilai IMT karena anak cenderung makan lebih banyak. Selain itu, status sosioekonomi dan tingkat pengetahuan orang tua juga dapat memicu terjadinya karies. Status sosioekonomi dan tingkat pengetahuan orang tua yang rendah menyebabkan anak akan kurang mendapatkan akses pelayanan kesehatan gigi dan mulut karena keterbatasan penghasilan dan pengetahuan orang tua tentang kesehatan.25

Untuk melihat hubungan antara IMT dengan tingkat kejadian karies digunakan uji korelasi Pearson dan hasilnya tidak ada hubungan antara IMT dengan karies baik def-t maupun DMF-T. Tetapi tanda negatif pada korelasi IMT dengan def-t menunjukkan hubungan def-terbalik andef-tara IMT dengan def-t yaitu apabila variabel IMT naik, maka variabel def-t turun. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin kurus seseorang maka tingkat kejadian karies gigi sulung akan semakin tinggi. Begitupun sebaliknya, semakin gemuk seseorang maka tingkat kejadian karies gigi sulung semakin rendah.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat kejadian karies gigi sulung tinggi dengan indeks def-t sebesar 9.75 dan tingkat kejadian karies gigi permanen rendah dengan indeks DMF-T sebesar 1.27 serta tidak ada hubungan antara IMT dengan tingkat kejadian

(6)

6 karies pada anak usia 5-12 tahun di RSGM FKG

Universitas Trisakti.

Tingkat pengetahuan/pendidikan dan pekerjaan orang tua berkaitan dengan status gizi dan tingkat kejadian karies pada anak. Peran orang tua sangat penting dalam kesehatan dan proses tumbuh kembang anak sehingga pengarahan mengenai kesehatan gigi dan mulut dan status gizi sangat diperlukan. Peneliti menyarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan IMT dengan tingkat kejadian karies dengan data yang lebih lengkap agar dapat menjelaskan hubungan sebab akibat dengan kuat.

Dokter gigi dan profesional medis perlu memberikan penyuluhan mengenai kesehatan gigi dan mulut kepada orang tua agar orang tua lebih memahami dan memperhatikan kesehatan gigi dan mulut anak.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada RSGM FKG Usakti yang telah banyak membantu saat penulis melakukan penelitian.

KONFLIK KEPENTINGAN

Tidak ada.

DAFTAR PUSTAKA

1. Vos T, Abajobir AA, Abbafati C, Abbas KM, Abate KH, Abd-Allah F, et al. Global, regional, and national incidence, prevalence, and years lived with disability for 328 diseases and injuries for 195 countries, 1990-2016: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2016. Lancet. 2017;390(10100):1211–59.

2. Riskesdas. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018. Lap Nas 2018. 2018;207–9.

3. Yang F, Zhang Y, Yuan X, Guo E, Ma N, Yu J, et al. Caries experience and its association with weight status among 8-year-old children in Qingdao, China. J Int Soc Prev Community Dent. 2015;5(1):52–8.

4. Cameron AC, Widmer RP. Dental Caries. 4th ed. Manton DJ, Cameron LH, editors. Handbook of Pediatric Dentistry: Fourth Edition. London: Mosby; 2013. 47–62 p. 5. Ramayanti S, Idral P. Peran makanan terhadap kejadian

karies gigi. Kesehat Masy. 2013;7(2):89–93.

6. Mustika MD, Carabelly AN, Cholil. Insidensi karies gigi pada anak usia prasekolah di TK Merah Mandiangin Martapura periode 2012-2013. Dentino J Kedokt gigi. 2014;2(2):200–4.

7. Bogale TY, Bala ET, Tadesse M, Asamoah BO. Prevalence and associated factors for stunting among 6-12 years old school age children from rural community of Humbo district, Southern Ethiopia. BMC Public Health. 2018;18(653):1–8.

8. Vanishree N, Narayan R, Naveen N, Anushri M, Vignesh D, Neethi Raveendran M. Relationship of dental caries and BMI among pre-school children of Bangalore city, India: a cross sectional study. Int J Community Med Public Heal. 2017;4(3):814–9.

9. Martins RJ, Moimaz SAS, Silva MR, Saliba O, Garbin CAS. Body mass index, dental caries and sugar intake in 2-5 year-old preschoolers. Brazilian J Oral Sci. 2014;13(3):209–12.

10. Alswat K, Mohamed WS, Wahab MA, Aboelil AA. The association between body mass index and dental caries: cross-sectional study. J Clin Med Res. 2015;8(2):147–52. 11. Bhadoria A, Sahoo K, Sahoo B, Choudhury A, Sufi N,

Kumar R. Childhood obesity: Causes and consequences. J Fam Med Prim Care [Internet]. 2015;4(2):187–92.

Available from:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4408699/ 12. Sperrin M, Marshall AD, Higgins V, Renehan AG, Buchan

IE. Body mass index relates weight to height differently in women and older adults: Serial cross-sectional surveys in England (1992-2011). J Public Heal (United Kingdom). 2016;38(3):608–13.

13. Seid Ahmed TE, Abuaffan A. Correlation between body mass index and dental caries among a sample of Sudanese children. Brazilian Dent Sci. 2015;18(3):42–51.

14. Ashour NA, Ashour AA, Basha S. Association between body mass index and dental caries among special care female children in Makkah City. Ann Saudi Med. 2018;38(1):508–15.

15. Zakiyah F, Prijatmoko D, Novita M. Pengaruh status gizi terhadap erupsi gigi molar pertama permanen siswa kelas 1 SDN di Kecamatan Wilayah Kota Administrasi Jember. e-Jurnal Pustaka Kesehat. 2017;5(3):469–74.

16. Siregar YHW, Ernalia Y, Restuastuti T. Gambaran status gizi pada siswa sekolah dasar di Desa Teluk Kiambang Kecamatan Tempuling Kabupaten Indragiri Hulu. J Kesehat Masy. 2016;3(2):1–13.

17. Abril V, Manuel-Y-Keenoy B, Solà R, García JL, Nessier C, Rojas R, et al. Prevalence of overweight and obesity among 6- to 9-year-old schoolchildren in cuenca, ecuador: Relationship with physical activity, poverty, and eating habits. Food Nutr Bull. 2013;34(4):388–400.

18. Reddy ER, Rani ST, Manjula M, Kumar LV, Mohan TA, Radhika E. Assessment of caries status among schoolchildren according to decayed-missing-filled teeth/decayed-extract-filled teeth index, International Caries Detection and Assessment System, and Caries Assessment Spectrum and Treatment criteria. J Pedod Prev Dent. 2017;28(5):487–92.

19. Jing J, Liang JJ, Zhang ZQ, Chen YJ, Mai JC, Ma J, et al. Dental caries is negatively correlated with body mass index among 7-9 years old children in Guangzhou, China. BMC Public Health [Internet]. 2016;16(638):1–7. Available from: http://dx.doi.org/10.1186/s12889-016-3295-3

20. Sánchez-Pérez L, Irigoyen M, Zepeda M. Dental caries, tooth eruption timing and obesity: A longitudinal study in a group of Mexican schoolchildren. Acta Odontol Scand. 2010;68(1):57–64.

21. Supriatna A, Fadillah RPN, Nawawi AP. Description of dental caries on mixed dentition stage of elementary school students in Cibeber Community Health Center. Padjadjaran J Dent. 2017;29(3):153–7.

22. Paisi M, Kay E, Bennett C, Kaimi I, Witton R, Nelder R, et al. Body mass index and dental caries in young people: A systematic review. BMC Pediatr. 2019;19(122):1–9. 23. Alghamdi AA, Almahdy A. Association Between Dental

Caries and Body Mass Index in Schoolchildren Aged Between 14 and 16 Years in Riyadh, Saudi Arabia. J Clin Med Res. 2017;9(12):981–6.

24. Almerich-Torres T, Montiel-Company JM, Bellot-Arcís C, Almerich-Silla JM. Relationship between caries, body mass index and social class in Spanish children. Gac Sanit. 2017;31(6):499–504.

25. Li L-W, Wong HM, Peng S-M, McGrath CP. Anthropometric Measurements and Dental Caries in Children: A Systematic Review of Longitudinal Studies. Adv Nutr. 2015;6(1):52–63.

47 JKGT VOL.2, NOMOR 2, DESEMBER (2020) 42-47

Gambar

Tabel 6. Distribusi kategori IMT berdasarkan jenis kelamin
Tabel 7. Distribusi kategori IMT berdasarkan usia
Tabel 10. Hasil uji korelasi Pearson IMT dengan def-t dan IMT  dengan DMF-T  Correlations  IM T  def-t  DMF-T  IMT  Pearson  Correlation (r)  1  -.127  .045  Sig

Referensi

Dokumen terkait

tindakan pengontrolan berat badan dilakukan padahal kalau dilihat dari usia mereka itu sangat tidak baik karena pada usia tersebut sedang terjadi proses pertumbuhan

- Pubertas dini: anak yang kelebihan berat badan dapat tumbuh lebih tinggi dan secara seksual lebih matang dari anak-anak sebaya; anak perempuan yang mengalami kelebihan berat

Dari kesimpulan alasan asumsi peneliti perbedaan hasil kondisi hubungan antara indeks massa tubuh untuk kategori berat badan tinggi dan berat badan normal terhadap fleksibilitas

Hal ini dikarenakan perkembangan otak pada anak usia mengalami percepatan hingga 80% dari keseluruhan otak orang dewasa (Suyadi, 2010, p. Salah satu aspek yang penting dalam

Responden yang memberikan susu formula pada anak usia lebih dari 5 tahun yang memiliki tingkat keparahan karies kategori sangat rendah tidak ada, kategori rendah

Penelitian yang dilakukan oleh Gunawan, 2015 mengatakan bahwa yang rentan mengalami masalah gigi dan mulut Karies gigi adalah anak usia sekolah umur 11-12 tahun karena anak pada usia

Hasil penelitian menyatakan bahwa Pembelajaran Al Quran dengan menggunakan Metode Tilawati bagi anak- anak usia 5-9 tahun sangat efektif dan dapat menanamkan karakter cinta Al Quran,

Lebih sedikit data yang tersedia di jumlah anak kelebihan berat badan, meski diketahui banyak negara menghadapi beban ganda kekurangan gizi dengan jumlah anak kurus atau stunted tinggi