8
A. Laporan Keuangan
1. Pengertian Laporan Keuangan
Media yang dapat dipakai untuk meneliti kondisi kesehatan perusahaan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan berisikan data-data yang menggambarkan keadaan keuangan suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu sehingga pihak-pihak berkepentingan terhadap perkembangan suatu perusahaan dapat mengetahui keadaan keuangan dari laporan keuangan yang disusun dan disajikan oleh perusahaan.
Laporan keuangan menurut Ahmad Rodoni dan Herni Ali (2010 : 13) adalah :
Sebuah laporan yang diterbitkan oleh perusahaan untuk para pemegang sahamnya. Laporan ini memuat laporan keuangan dasar dan juga analisis manajemen atau operasi tahun lalu dan pendapat mengenai prospek perusahaan di masa mendatang.
Pengertian laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) (2009 : 1) dalam ”Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan” adalah :
Laporan keuangan merupakanbagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti misal, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misal informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga.
Laporan keuangan merupakan laporan pertanggungjawaban manajemen kepada pemakai tentang pengelolaan keuangan yang dipercayakan kepadanya. Pemakai akan membaca laporan keuangan sebagai sebuah laporan pertanggungjawaban. (Hadri Mulya, 2008:14).
2. Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah, memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan, yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan keuangan, dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi, serta menunjukan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan pada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan yang meliputi aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian, serta arus kas.
Tujuan laporan keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009: 3) adalah sebagai berikut :
a. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.
b. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan
dari kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.
c. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen, atau pertanggung jawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pengguna yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggung jawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi, misalnya : keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen.
3. Pengguna dan Informasi Kebutuhan Laporan Keuangan
Menurut Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) paragraph 9 (Revisi 2009) , dinyatakan bahwa pengguna laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok, kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaga lainnya dan masyarakat. Mereka menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda. Beberapa kebutuhan ini meliputi:
a. Investor
Penanam modal berisiko dan penasehat mereka berkepentingan dengan risiko yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan.Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan, atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga tertarik pada informasi yangmemungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.
b. Karyawan
Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakili mereka tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan porfitabilitas perusahaan. Mereka juga tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka menilai kemampuan perusahaan dalam member balas jasa, manfaat pensiun, dan kesempatan kerja.
c. Pemberi Pinjaman
Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo.
d. Pemasok dan kreditur usaha lainnya
Pemasok dan kreditur usaha lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terutang akan dibayar pada saat jatuh tempo.Kreditur usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utama mereka bergantung pada kelangsungan hidup perusahaan. e. Pelanggan
Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang atau tergantung pada perusahaan.
f. Pemerintah
Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada dibawah kekuasaannya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas perusahaan.Mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
g. Masyarakat
Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misalnya, perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.
4. Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan
Ada tiga konsep luas pengungkapan dalam Suwardjono (2010:576) yaitu pengungkapan memadai (adequate disclousure), pengungkapan wajar atau etis (fair or ethical disclousure), dan pengungkapan penuh (full disclousure). Penjelasannya sebagai berikut :
a. Pengungkapan memadai (adequate disclousure)
Pengungkapan ini merupakan tingkat minimum yang harus dipenuhi agar laporan keuangan secara keseluruhan tidak menyesatkan untuk pengambilan keputusan yang diarah.
b. Pengungkapan wajar (fair or ethical disclousure)
Pengungkapan ini adalah tingkat yang harus dicapai agar semua pihak mendapat perlakuan atau pelayanan informasional yang sama. Artinya, tidak ada satu pihak pun kurang mendapat informasi sehingga mereka menjadi pihak yang kurang diuntungkan posisinya, dengan kata lain tidak ada preferensi dalam pengungkapan informasi. c. Pengungkapan penuh (full disclosure)
Menuntut penyajian secara penuh semua informasi yang berpaut dengan pengambilan keputusan yang diarah. Dalam penyajiannya tetap harus memperhatkan bahwa informasi yang diungkapkan tidak berlebihan karena pengungkapan yang berlebihan akan menyulitkan pengguna informasi dalam menangkap inti dari informasi yang disajikan.
Evan dalam Suwardjono (2010:578) mengartikan pengungkapan sebagai :
Disclosure means supplying information in the financial statements, including the statements themselves, the notes to the statements, and the supplementary disclosures associated with the statements. It does not extend to public or private statements made by management or information provided outside the financial statements.
Berdasarkan sifatnya, Suwardjono (2010:583), menyatakan ada dua macam jenis pengungkapan yaitu :
1. Pengungkapan Wajib (Mandotory Disclosure)
Merupakan pengungkapan minimum yang disyaratkan oleh Standar Akuntansi yang berlaku. Jika perusahaan tidak bersedia untuk mengungkapkan informasi secara sukarela, pengungkapan wajib akan memaksa perusahaan untuk mengungkapkannya. 2. Pengungkapan Sukarela (Voluntary Disclosure)
Merupakan pengungkapan butir-butir yang dilakukan secara sukarela oleh perusahaan tanpa diharuskan oleh peraturan yang berlaku. Sedangkan dari sumber PSAK dapat disimpulkan bahwa informasi lain atau informasi tambahan (telaahan keuangan yang menjelaskan karakteristik utama yang mempengaruhi kinerja perusahaan, posisi keuangan perusahaan, kondisi ketidakpastian, laporan mengenai lingkungan, laporan nilai tambah) adalah merupakan pengungkapan yang dianjurkan (tidak diharuskan) dan diperlukan dalam rangka memberikan penyajian yang wajar dan relevan dengan kebutuhan pemakai.
Luas pengungkapan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi, sosial budaya suatu negara, teknologi informasi, kepemilikan perusahaan dan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang.
5. Laporan Tahunan
Laporan tahunan merupakan laporan perkembangan dan pencapaian yang berhasil diraih organisasi dalam setahun. Data dan informasi yang akurat menjadi kunci penulisan laporan tahunan. Isi dari laporan tahunan tersebut mencakup laporan keuangan dan prestasi akan kinerja organisasi selama satu tahun.
a. Komponen Laporan Tahunan
Needles et al.1995 dalam Ardiasih 2009, terdapat 7 komponen yang terdapat dalam laporan tahunan yaitu :
1. Sambutan kepada para pemegang saham
Dalam bagian awal laporan tahunan terdapat sambutan dari direktur utama perusahaan yang ditujukan kepada para pemegang saham. Sambutan tersebut menjelaskan tentang kinerja perusahaan selama periode tertentu dan prospek perusahaan ke depannya.
2. Ikhtisar data keuangan
Ikhtisar data keuangan merupakan penyajiana data keuangan selama 10 tahun terakhir. Penyajian data keuangan dilengkapi dengan grafik untuk mempermudah pengguna laporan tahunan dalam melihat tren pergerakan keuangan perusahaan dalam 10 tahun terakhir. Salah satu data yang disajikan dalam bagian ini adalah tingkat penjualan bersih dalam bagian ini juga sering disajikan data non-keuangan. Hal ini berguna
untuk melihat kinerja perusahaan di masa lalu dan prospek perusahaan di masa mendatang.
3. Laporan keuangan
Laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan meliputi laporan laba rugi, neraca, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas. Laporan ini disajikan untuk beberapa periode, sehingga dapat membantu pengguna laporan keuangan dalam membandingkan kinerja perusahaan-perusahaan periode berjalan dengan periode-periode sebelumnya.
4. Catatan atas laporan keuangan
Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas harus berkaitan dengan informasi yang tedapat dalam catatan atas laporan keuangan. Dalam rangka membantu pengguna laporan keuangan perusahaan lain, maka catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut :
a. Pengungkapan mengenai dasar pengukuran dan kebijakan akuntansi yang diterapkan.
b. Informasi pendukung pos-pos laporan keuangan sesuai urutan sebagaimana pos-pos tersebut disajikan dalam
laporan keuangan dan urutan penyajian komponen laporan keuangan.
c. Pengungkapan lain termasuk kontijensi, komitmen, dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat non-keuangan.
5. Laporan pertanggungjawaban manajemen
Penyajian laporan keuangan harus disertai dengan pernyataan tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dan struktur pengendalian internal prusahaan. Dalam bagian ini, pihak manajemen menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan tanggung jawab mereka dan bahwa laporan keuangan tersebut telah melalui proses audit.
6. Hasil diskusi dan analisis manajemen
Bagian ini menyajikan hasil pembahasan dan analisis manajemen atas kondisi keuangan dan hasil kinerja yang dicapai perusahaan. Dalam bagian ini, manajemen akan melakukan dan membandingkan kinerja periode berjalan dengan berapa periode sebelumnya.
7. Laporan hasil audit
Auditor bertugas melakukan audit terhadap laporan keuangan yang disajikan oleh pihak manajemen. Auditor merupakan pihak independen yang memiliki peranan penting dalam menilai apakah laporan keuangan telah disajikan wajar.
Setelah proses audit, auditor akan memberikan opini terhadap penyajian laporan keuangan oleh perusahaan dalam sebuah laporan hasil audit.
b. Peraturan terkait Penyajian Laporan Tahunan.
Penyajian informasi laporan tahunan perusahaan-perusahaan di Indonesia telah diatur oleh Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dalam beberapa peraturannya. Peraturan tentang standar pengungkapan informasi bagi perusahaan yang telah melakukan penawaran umum dan perusahaan publik yaitu, Peraturan No. VIII.G.2 tahun 1996 mengatur mengenai kewajiban meyampaikan laporan tahunan bagi Perusahaan yang telah melakukan Penawaran Umum dan Perusahan Publik serta mengatur bentuk dan isi laporan tahunan. .Kemudian Surat Edaran Nomor SE-02/PM/2002 mengenai Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik untuk tiga belas industri yang meliputi industri manufaktur, industri investasi, industri rumah sakit, industri jalan tol, industri perhotelan, industri restoran, industri telekomunikasi, industri konstruksi, industri perdagangan, industri real estate, industri peternakan, dan industri perkebunan.
Di Indonesia pengungkapan laporan keuangan baik yang bersifat wajib maupun sukarela telah diatur dalam PSAK No. 1 (Revisi 2009) dan diperkuat dengan Peraturan Nomor X.K.6 Kep-134/BL/2006 tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan bagi Emiten atau Perusahaan
Publik yang di dalam peraturan tersebut Bapepam menambahkan item-item yang wajib diungkapkan dalam laporan tahunan yaitu laporan dewan komisaris, laporan direksi, profil perusahaan, tata kelola perusahaan, dan tanggung jawab direksi atas laporan keuangan.
B. Pengungkapan Sukarela
1. Teori terkait Pengungkapan Sukarela
Menurut Ningrum (2007) dalam Ardiasih (2009), terdapat beberapa teori yang terkait dengan pengungkapan sukarela :
a. Signalling Theory
Signaling theory membahas bagaimana sebaiknya dan seharusnya sinyal-sinyal keberhasilan atau kegagalan agen harus disampaikan. Dalam teori ini, pengungkapan informasi sukarela yang dilakuan perusahaan merupakan sinyal bagi pasar. Ketika perusahaan mengungkapkan informasi relatif lebih sedikit dibandingkan dengan perusahaan lain, maka pasar akan menginterpretasikan hal tersebut sebagai “bad news signal” atas kondisi perusahaan tersebut.
b. Political Theory
Teori ini bahwa dalam praktek bisnis, perusahaan dapat menanggung biaya tambahan yang muncul sebagai akibat dari adanya transfer kesejahteraan seperti biaya pajak tinggi, biaya pelaporan keuangan yang tinggi, permintaan karyawan akan gaji yang tinggi dan tingginya kerugian akibat terjadinya inefisiensi dalam operasi.
Pengungkapan sukarela dalam kaitannya mencegah atau mengurangi political cost dipengaruhi dua faktor. Faktor pertama adalah ukuran perusahaan dimana semakin besar ukuran sebuah perusahaan, maka kecenderungan perusahaan tersebut melakukan pengungkapan sukarela untuk mengurangi political cost yang muncul semakin besar. Faktor yang kedua adalah sifat industri perusahaan tersebut dimana sebuah perusahaan dengan sesuai dengan sifatnya jika mendapat tekanan yang lebih besar dari pihak-pihak tertentu seperti pemerintah dan masyarakat akan memungkinkan timbulnya political cost yang lebih besar.
c. Legitimacy Theory
Teori ini menyatakan bahwa perusahaan akan berusaha untuk menyakinkan bahwa nilai-nilai perusahaan sejalan dengan nilai yang berlaku di masyarakat sekitar tempat perusahaan perusahaan beroperasi. Konsekuesinya adalah perusahaan memiliki kewajiban untuk mewujudkan harapan dari masyarakat baik yang sifatnya implisit maupun eksplisit dan sebaliknya masyarakat akan memberikan hak kepada perusahaan untuk memanfaatkan sumber daya dan beroperasi dalam komunis tersebut. Dalam hal ini perusahaan harus responsif dan adaptif terhadap harapan atau keinginan tersebut terus mengalami perubahan.
Dalam kenyataannya, sering terjadi peristiwa di mana perusahaan tidak bisa atau kurang optimal dalam usahanya mewujudkan
keinginan masyarakat. Hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan dan selanjutnya dapat mengancam keberadaan perusahaan. Ketika hal ini terjadi, salah satu langkah yang dapat dilakukan perusahaan adalah berusaha mengubah persepsi masyarakat terhadap perusahaan tanpa mengubah kebiasaan yang dilakukan. Alat yang dapat digunakan untuk mempengaruhi persepsi masyarakat adalah pengungkapan sukarela. Dengan pengungapan tersebut, perusahaan dapat menginformasikan kepada masyarakat alasan kenapa perusahaan tidak dapat atau kurang optimal dalam mewujudkan keinginan masyarakat. Hal tersebut diharapkan dapat menciptakan persepsi bahwa perusahaan telah cukup responsif terhadap keinginan masyarakat atau mempengaruhi masyarakat untuk mengubah ekspektasinya terhadap perusahaan.
d. Stakeholder Theory
Dalam prkatek bisnis, banyak pihak yang mempengaruhi atau terpengaruh aktivitas perusahaan. Perspektif dasar dalam teori ini adalah bahwa tingkat kepentingan stakeholder yang beragam mempengaruhi operasi dan pelaporan yang dilakukan perusahaan. Dalam teori ini terdapat dua perspektif. Yang pertama adalah perspektif yang berpusat pada perusahaan. Perspektif ini muncul karena beragamnya kepentingan stakeholder. Selain itu, perspetif ini memandang bahwa stakeholder memiliki tingat kepentingan yang berbeda bagi perusahaan untuk mengindentifikasi kelompok
stakeholder yang memiliki peranan penting bagi perusahaan dan mengelola hubungan yang baik dengan kelompok tersebut . Dalam hal ini, pengungkapan sukarela merupakan salah satu alat untuk mengelola hubungan baik tersebut. Perspektif yang kedua adalah perspektif yang berdasar prinsip-prinsip akuntanbilitas. Dalam perspektif ini, perusahaan harus memperhatikan hak seluruh stakeholder, tidak hanya pada sekelompok stakeholder yang dinaggap memiliki peranan terpenting terhadap perusahaan. Jadi perspektif ini sejalan dengan prinsip-prinsip dasar Good Corporate Govermance
2. Motif Pengungkapan Sukarela
Keputusan perusahaan untuk melakukan pengungkapan informasi selain yang diwajibkan oleh peraturan yang berlaku dipengaruhi oleh beberapa motif. Healy dan Palepu (2001) dalam Ningrum (2007) menyatakan bahwa terdapat enam motif yang mempengaruhi perusahaan dalam membuat keputusan pengungkapan sukarela :
a. Capital Market Transaction Hypothesis
Motif pertama yang mempengaruhi perusahaan untuk melakukan pengungkapan sukarela adalah rencana perusahaan untuk menerbitkan saham, surat hutang, atau instrument modal lainnya. Sebelum pelaksanaan tersebut perusahaan harus terlebih dahulu mengetahui kondisi perusahaan di mata investor. Selain itu, Myers
dan Majluf (1986) dalam Ningrum (2007) menyebutkan bahwa tantangan utama bagi perusahaan adalah mengatasi munculnya asimetri informasi yang sering menghilangkan kepercayaan investor terhadap manajemen sehingga biaya atas pendanaan eksternal akan meningkat. Hal ini dapat mendorong untuk melakukan pengungkapan yang dapat meminimalkan asimetri informasi sehingga mampu menurunkan biaya atas pendanaan eksternal. b. Corporate Control Contest Hypothesis
Motif yang kedua adalah adanya persaingan untuk mengelola perusahaan. Dewan komisaris dan para pemilik modal menyerahkan tanggung jawab kinerja saham perusahaan kepada manajemen. Warner dan Weinsbach (1988) dalam Ningrum (2007) menyebutkan bahwa pergantian CEO berhubungan dengan performa saham perusahaan. Harga saham yang rendah menjadi pemicu terjadinya pengambilalihan pengelolaan perusahaan oleh pihak luar. Risiko hilangnya pekerjaan sebagai akibat buruknya performa saham perusahaan memotivasi perusahaan manajemen untuk melakukan pengungkapan sukarela. Pengungkapan itu diharapkan dapat mengurangi penilaian buruk terhadap kinerja manajemen.
c. Stock Compensation Hypothesis
Dalam prakteknya perusahaan yang menawarkan bentuk kompensasi lain kepada jajaran manajer dan karyawan. Salah satunya dengan pemberian hak untuk membeli saham perusahaan pada tingkat
tertentu. Kompensasi tersebut membuat manajer memiliki peran ganda, sehingga mempengaruhi manajer dalam membuat keputusan terkait dengan tingkat pengungkapan informasi perusahaan. Manajer yang mendapat kompensasi saham, memiliki kecenderungan untuk melakukan pengungkapan sukarela.
d. Litigation Cost Hypothesis
Aspek hukum juga mempunyai pengaruh dalam keputusan pengungkapan manajer. Pengaruh tersebut meliputi pengaruh pertama, ketika hukum atau peraturan berlaku menuntut perusahaan untuk melakukan pengungkapan pada tingkat dan waktu yang tepat sehingga kecenderungan bagi manajer untuk meningkatkan pengungkapan sukarela terlebih ketika terdapat informasi negatif tentang perusahaan dan pengaruh kedua, aspek hukum justru menurunkan kecenderungan manajer untuk melakukan pengungkapan sukarela, karena perusahaan yakin bahwa perusahaan tidak melakukan kesalahan yang disengaja termasuk pengungkapan informasi kepada stakeholder dan perusahaan yakin bahwa sistem hukum dapat membedakan kesalahan manajemen yang benar-benar disengaja dengan yang tidak disengaja.
e. Management Talent Signalling Hypothesis
Truman (1986) dalam Ningrum (2007) menyatakan manajer dengan kemampuannya yang baik memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan forecast pendapatan perusahaan dengan sukarela.
Alasannya adalah bahwa nilai sebuah perusahaan sangat tergantung persepsi investor tentang kemampuan manajer mengelola perusahaan terutama dalam menghadapi perubahan di masa mendatang. Ketika manajer melakukan pengungkapan sukarela forecast pendapatan perusahan di masa mendatang maka investor menginterpretasikan bahwa manajer memiliki strategi dalam menghadapi perubahan di masa mendatang sehingga akan meningkatkan nilai perusahaan. f. Propietary Cost Hypothesis
Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa tingkat pengungkapan dipengaruhi oleh tingkat persaingan antar perusahaan adalah Verrechia (1983), Darrough dan Stoughton (1990), Wagenhofer (1990), Darrough (1993) dan Gigler (1994) dalam Ningrum (2007). Hasil dari penelitian-penelitian tersebut menyimpulkan bahwa perusahaan memiliki insentif untuk tidak mengungkapkan suatu informasi jika informasi tersebut membahayakan posisi persaingannya. Teori ini dikaji lebih jauh lagi oleh Verrechia (2001) dan Dye (2001) dalam Ningrum (2007). Tidak seperti kelima motif pengungkapan sukarela lainnya, proprietary cost hypothesis mengasumsikan bahwa tidak ada konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham. Penelitian Hayes dan Lundhom (1996) dalam Ningrum (2007) membuktikan bahwa perusahaan-perusahaan yang tingkat kinerjanya relatif sama dalam bidang industri yang sama cenderung akan mengungkapkan lebih
sedikit informasi dibanding dengan perusahaan yang bergerak dalam industri lintas bisnis (melakukan diversifikasi).
C. Struktur Kepemilikan
1. Pengertian Struktur Kepemilikan
Struktur kepemilikan (ownership structure) adalah struktur kepemilikan saham yaitu perbandingan jumlah saham yang dimiliki oleh “orang dalam” (insiders) dengan jumlah saham yang dimiliki oleh investor. Atau dengan kata lain struktur kepemilikan saham adalah proporsi kepemilikan manajerial, kepemilikan blockholder, kepemilikan asing dan kepemilikan institusional dalam kepemilikan saham perusahaan. Dalam menjalankan kegiatannya, suatu perusahaan diwakili oleh direksi (agents) dan yang ditunjuk pemegang saham (principals), Erida (2011).
2. Jenis-Jenis Struktur Kepemilikan
a. Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial merupakan kondisi yang menunjukkan bahwa manajer memiliki saham dalam perusahaan atau manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham (Erida, 2011).Pihak tersebut adalah mereka yang duduk di dewan komisaris dan dewan direksi perusahaan. Keberadaan manajemen perusahaan mempunyai latar belakang yang berbeda, antara lain : mereka yang mewakili pemegang institusi, mereka yang
merupakan tenaga professional yang diangkat oleh pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham, dan mereka yang duduk di jajaran manajemen perusahaan karena turut memiliki saham.
Berdasarkan teori keagenan, “hubungan antara manajemen dengan pemegang saham, rawan terjadinya masalah keagenan.Teori keagenan menyatakan bahwa salah satu mekanisme untuk memperkecil adanya konflik agensi dalam perusahaan adalah dengan memaksimalkan jumlah kepemilikan manajerial. Dengan menambah jumlah kepemilikan manajerial, maka manajemen akan merasakan dampak langsung atas setiap keputusan yang mereka ambil karena mereka menjadi pemilik perusahaan” Jensen dan Meckling (1976) dalam Erida (2011)
Peningkatan atas kepemilikan manajerial akan membuat kekayaan maanjemen, secara pribadi, semakin terikat dengan kekayaan perusahaan sehingga manajemen akan berusaha mengurangi resiko kehilangan kekayaan. Kepemilikan manajerial yang tinggi berakibat pada rendahnya dividen yang dibayarkan kepada shareholder.Hal ini disebabkan karena pembiayaan yang dilakukan oleh manajemen terhadap nilai investasi di masa mendatang bersumber dari biaya internal.
Lue et al (2006) dalam Darus et al (2008) mengemukakan bahwa ketika kepemilikan manjerial meningkat, maka terdapat
peningkatan risk avers euntuk kesejahteraan boards itu sendiri dan dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang tidak konsisten dengan kepentingan pemegang saham eksternal. Sejalan dengan hal ini, boards tersebut cenderung melakukan pengungkapan yang kurang atau seadanya untuk menghindari pengawasan pemegang saham eksternal.
b. Kepemilikan Blockholder
Menurut Steen Thomsen, Torben Pedersen, dan Hans Kurt Kvist (2006) dalam Rully (2011) kepemilikan blockholder adalah ukuran kepemilikan saham dimana :
1. Kepemilikan saham yang jumlahnya lebih dari 5% 2. Saham oleh bank
3. Saham dimiliki oleh perusahaan lain (kecuali perusahaan dalam status digadaikan)
4. Saham dimiliki oleh seseorang karena adanya tunjangan pensiun.
Jensen dan Meckling (1976) dalam Ardiasih (2009) mengemukakan bahwa pemegang saham subtansial diharapkan memiliki kekuasaan dan insentif yang lebih besar dalam memonitor manajemen, karena kesejahteraan mereka terkait dengan kinerja keuangan perusahaan.
Faktor-faktor yang memotivasi adanya kepemilikan blockholder yaitu timbul dari superior manajemen atau pengawasan yang dapat dihasilkan dari besarnya hak-hak untuk pembuatan keputusan dan pengaruh dari block ownership yang besar. Blockholders juga memiliki dorongan untuk menggunakan voting power mereka untuk menikmati sumber penghasilan perusahaan atau untuk menikmati keuntungan-keuntungan perusahaan yang tidak dibagikan pada pemegang saham minoritas.
c. Kepemilikan Asing
Kepemilikan asing merupakan proporsi saham biasa perusahaan yang dimiliki oleh perorangan, badan hukum, pemerintah serta bagian-bagiannya yang berstatus luar negeri dalam Erida (2011). Perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh asing biasanya lebih sering menghadapi masalah asimetri informasi dikarenakan hambatan geografis dan bahasa. Oleh sebab itu, perusahaan dengan kepemilikan asing yang besar akan mendorong untuk melaporkan atau mengungkapkan informasinya secara sukarela dan luas. (Novita 2008).
Healy dan Palepu (2001) dalam Ardiasih (2009) menyatakan bahwa permasalahan asimetri informasi tidak dapat diatasi, maka biaya modal perusahaan akan meningkat. Manajer yang insentif untuk melakukan pengungkapan sukarela untuk mengurangi
masalah asimetri informasi, sehingga diharapkan akan mengurangi biaya modal perusahaan. Xiao dan Yuan (2007) meneliti pengaruh struktur kepemilikan, komposisi boards terhadap pengungkapan sukarela perusahaan – perusahaan publik di Cina. Keberadaan kepemilikan asing memiliki hubungan yang positif dengan peningkatan pengungkapan sukarela.
d. Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham oleh pihak-pihak yang berbentuk institusi seperti yayasan, bank, perusahaan asuransi, perusahaan investasi, dana pensiun, perusahaan berbentuk perseroan (PT) dan institusi lainnya. Institusi biasanya dapat menguasai mayoritas saham karena mereka sumber daya yang lebih besar dibandingkan pemegang saham lainnya.Oleh karena menguasai saham mayoritas, maka pihak institusional dapat melakukan pengawasan terhadap kebijakan manajemen secara lebih kuat dibanding pemegang saham lainnya (Erida 2011).
Menurut Guan, Sheu, dan Chu (2007) mengemukakan bahwa investor institusional lebih berpengalaman dan memiliki keahlian tekhnikal untuk memonitor manajer secara efektif. Semakin tinggi jumlah investor institusional maka akan terdapat peningkatan insentif bagi perusahaan untuk berperan aktif dalam corporate govermance, termasuk dalam hal pengungkapan.
Chan, Lin, dalam Zhang (2007) dalam Pizzaro et al. (2008) menemukan bahwa terdapat pengungkapan akuntansi yang kredibel ketika kepemilikan pemerintah berkurang dan kepemilikan institusional meningkat, karena terdapat pemintaan akan audit yang berkualitas tinggi.
D. Penelitian Terdahulu
Topik pengungkapan sukarela merupakan salah satu topik yang menarik bagi banyak peneliti. Beberapa penelitian yang dilakukan antara lain :
1. Ardiasih (2009), meneliti pengaruh struktur kepemilikan terhadap pengungkapan sukarela pada perusahaan manufaktur pada tahun 2007 dimana kepemilikan manajerial pengaruh negatif dan signifikan terhadap pengungkapan sukarela karena semakin kecil kepemilikan manajerial dalam perusahaan, maka akan cenderung melakukan pengungkapan sukarela, sedangkan kepemilikan blockholder, dan institusional tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan sukarela sehingga tidak banyak melakukan pengungkapan sukarela. Ia juga melakukan pengujian secara bersama-sama dan hasilnya struktur kepemilikan memiliki pengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan sukarela.
2. Matoussi dan Chakroun (2008) meneliti pengaruh dewan komposisi, struktur kepemilikan dan pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan. Mereka menemukan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh
signifikan dalam perusahaan sehingga dapat memonitor kinerja manajemen. Investor institusional memiliki power dan experience serta bertanggungjawab dalam menerapkan prinsip corporate governance untuk melindungi hak dan kepentingan seluruh pemegang saham sehingga mereka menuntut perusahaan untuk melakukan komunikasi secara transparan. Dengan demikian, kepemilikan institusional dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam pengungkapan sukarela. 3. Xiao dan Yuan (2007) meneliti pengaruh struktur kepemilikan,
independensi direktur, dan kualitas CEO terhadap pengungkapan sukarela pada perusahaan-perusahaan publik di Cina. Mereka menemukan bahwa kepemilikan blockholder dan kepemilikan asing memiliki hubungan yang positif dengan peningkatan pengungkapan sedangkan kepemilikan manajerial, kepemilikan pemerintah, dan kepemilikan perorangan tidak berpengaruh pada pengungkapan. Hal itu disebabkan bahwa perusahaan-perusahaan besar memiliki tingkat pengungkapan yang lebih luas, sedangkan perusahaan-perusahaan dengn peluang pertumbuhan yang tinggi cenderung enggan untuk melakukan pengungkapan.
4. Penelitian Marwata (2006), melakukan penelitian untuk menguji ukuran perusahaan, leverage, likuiditas, basis perusahaan, penerbitan sekuritas, kepemilikan asing, kepemilikan publik, dan umur emiten. Hasil dari penelitiannya menunjukkan variabel ukuran perusahaan dan penerbitan sekuritas yang memiliki hubungan signifikan dengan luas pengungkapan sukarela, dan menyimpulkan besarnya kepemilikan asing tidak
mempengaruhi kualitas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan karena relatif kecilnya kepemilikan asing pada sampel penelitian.
E. Kerangka Pemikiran
Penelitian ini dilakukan guna menguji pengaruh struktur kepemilikan terhadap pengungkapan sukarela perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Hubungan antara struktur kepemilikan dalam empat variabel yaitu kepemilikan manajerial, kepemilikan blockholder, kepemilikan asing dan kepemilikan institusional yang dipresentasikan oleh pengungkapan sukarela dapat digambarkan sebagai berikut:
Variabel Dependen Pengungkapan Sukerela Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Variabel Independen Kepemilikan Manajerial Kepemilikan Asing Kepemilikan Blockholder Kepemilikan Institusional Variabel Kontrol Kualitas Audit Umur Perusahaan Leverage Ukuran Perusahaan
F. Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini merupakan pernyataan singkat yang disimpulkan dari tujuan penelitian, tinjauan pustaka,dan merupakan jawaban sementara atas perusahaan yang perlu diuji kembali. Suatu hipotesis akan diterima jika hasil analisis data empiris membuktikan bahwa hipotesis tersebut benar,begitu pula sebaliknya.
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1 : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela perusahaan.
H2 : Kepemilikan blockholder berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela perusahaan
H3 : Kepemilikan asing berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela perusahaan.
H4 : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela perusahaan
H5 : Struktur kepemilikan berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela perusahaan.