METODE PENELITIAN
Desain, Tempat, dan Waktu PenelitianPenelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Data dikumpulkan untuk meneliti suatu fenomena dalam satu kurun waktu tertentu (Umar 2006). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei karena penelitian ini mengambil contoh dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang utama. Lokasi penelitian adalah kampus IPB Darmaga. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive dengan pertimbangan IPB cukup banyak memiliki mahasiswa yang berasal dari luar daerah.
Penelitian dilaksanakan selama dua belas bulan, yaitu dimulai dari bulan Januari sampai dengan Desember 2010. Pelaksanaan penelitian meliputi persiapan, pengambilan data primer dan sekunder, pengolahan data, serta penulisan skripsi. Persiapan atau penulisan proposal dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Mei 2010. Pengambilan data primer dan sekunder dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Juli 2010. Pengolahan data dan penulisan skripsi dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2010.
Teknik Penarikan Contoh
Populasi contoh pada penelitian ini adalah mahasiswa pascasarjana IPB yang merantau dan tinggal berpisah dengan keluarganya. Contoh diambil secara purposive, di mana pemilihan contoh berdasarkan pada karakteristik tertentu (Umar 2006). Karakteristik contoh yang dipilih adalah mahasiswa pascasarjana IPB angkatan 2009, telah menikah dan memiliki anak, serta merupakan keluarga jarak jauh atau tidak membawa suami/ istri dan anak. Teknik pengambilan contoh dilakukan dengan cara snow ball sampling, yang merupakan teknik penentuan contoh yang pada mula-mula jumlahnya kecil, kemudian contoh ini diminta memilih contoh lain untuk dijadikan contoh lagi, begitu seterusnya sehingga jumlah contoh terus menjadi banyak (Umar 2006).
Contoh yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 75 orang dengan menggunakan rumus Slovin, yaitu salah satu teknik penentuan jumlah contoh untuk penelitian sosial. Berikut merupakan perhitungan dalam pengambilan contoh menggunakan rumus Slovin.
n = = = = 72,37 ≈ 73
Keterangan:
n = ukuran contoh N = ukuran populasi
e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan contoh yang masih dapat ditoleransi. Tingkat kesalahan 11%.
Berdasarkan rumus Slovin, jumlah contoh minimal yang digunakan adalah sebanyak 73 orang. Oleh karena itu, jumlah contoh yang digunakan dalam penelitian ini dibulatkan menjadi 75 responden.
Jenis dan Sumber Data
Data penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari contoh melalui pengisian kuesioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Data primer meliputi data karakteristik keluarga, dukungan keluarga, pola komunikasi, pengambilan keputusan keluarga, dan kesejahteraan keluarga, sedangkan data sekunder diperoleh dari telaah dokumentasi dan kepustakaan dari Sekolah Pascasarjana IPB. Variabel, jenis data, pengumpulan data, dan alat bantu yang digunakan dicantumkan pada Tabel 2.
Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan dan analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan program Microsoft Excel 2007 dan SPSS 16.0 for Windows. Pengolahan data dilakukan secara bertahap mulai data yang terkumpul di lapangan sampai siap untuk dianalisis. Data dari hasil pengumpulan di lapangan terlebih dahulu dilakukan pengeditan (editing), pengkodean (coding) dan memasukkan data ke dalam komputer (entry data). Selanjutnya dilakukan pembersihan data (cleaning data) dengan cara melihat distribusi frekuensi setiap peubah. Apabila ada kesalahan memasukkan data ke dalam komputer, dilakukan pengecekan ulang.
N 1+Ne2
582 1+582 (0,11)2
Tabel 2 Variabel, jenis data, dan teknik pengambilan data
No. Variabel Jenis
Data
Teknik Pengambilan
Data 1 Karakteristik Contoh dan Keluarga
Umur contoh, jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan contoh dan pasangan, pendapatan keluarga, rata-rata konribusi pendapatan terhadap keluarga, akses informasi, sumber, jenis informasi,dan aset
Primer Kuesioner
2 Pola Komunikasi Keluarga
Frekuensi kepulangan, frekuensi komunikasi dengan pasangan, frekuensi komunikasi dengan anak, dan jenis hal yang dikomunikasikan
Primer Kuesioner
3 Proses Pengambilan Keputusan Keluarga
Pengambilan keputusan dalam bidang keuangan, pangan, pendidikan, kesehatan, dan keperluan keluarga lainnya
Primer Kuesioner
4 Kesejahteraan Keluarga
- Kesejahteraan objektif pendekatan pendapatan per kapita
- Kesejahteraan subjektif
Pangan, pendidikan, kesehatan, keuangan, kesehatan, aset keluarga, reproduksi, strategi pemenuhan kebutuhan hidup lain, dan sosial kemasyarakatan
Primer Kuesioner
Data karakteristik keluarga meliputi umur contoh, tingkat pendidikan contoh, pendapatan per kapita, jumlah anggota keluarga, pekerjaan contoh, kepemilikan aset, akses informasi, sumber informasi, dan jenis informasi. Aset yang dimaksudkan berupa aset yang dijelaskan secara deskriptif. Akses informasi (mudah atau tidaknya memperoleh informasi yang diperoleh, dan jenis informasi yang diperoleh) diberi skor 1 jika jawabannya ya, dan skor 0 jika jawabannya tidak. Langkah selanjutnya adalah mengkompositkan skor tersebut sehingga diperoleh total skor. Kemudian dilakukan transformasi skala ordinal dari 0-100 dengan rumus sebagai berikut (Tati 2004):
Z = x 100
Hasil transformasi tersebut dibuat kategori berdasarkan interval kelas, yang ditentukan menggunakan rumus berikut:
Interval kelas = = Interval (I)
Y - min max - min
Skor maksimum (NT) – Skor minimum (NR) max - min
Pengelompokan kategori adalah sebagai berikut: - Rendah : NR sampai (NR+I) = 0 – 33.3
- Sedang : (NR+I) sampai {(NR+I)+I} = 33.4 – 66.7 - Tinggi : {(NR+I)+I} sampai NT = 66.8 – 100
Dukungan sosial diukur berdasarkan sumber dukungan sosial, yang meliputi dukungan sosial keluarga inti dan dukungan sosial keluarga besar, dan teman. Dukungan sosial keluarga meliputi dukungan dukungan keluarga inti, keluarga besar, dan teman. Masing-masing pertanyaan diberi skor berdasarkan skala ordinal, yaitu skor 1 jika tidak pernah, skor 2 jika jarang, skor 3 jika sering, dan skor 4 jika sangat sering mendapatkan dukungan sosial. Selanjutnya, skor yang diperoleh dari masing-masing pertanyaan dikompositkan, kemudian dilakukan transformasi skala ordinal dari 0-100 persen. Selanjutnya dikategorikan menjadi kategori dukungan sosial rendah jika skor antara 0 – 33.33%; kategori dukungan sosial sedang jika skor antara 33.34 – 66.67%; dan kategori dukungan sosial tinggi jika skor antara 66.67 – 100 persen.
Pola komunikasi dilihat berdasarkan waktu kepulangan (mudik), frekuensi komunikasi, dan hal-hal yang dikomunikasikan antara contoh dengan pasangan serta anak. Semua item pada variabel frekuensi komunikasi tertuang dalam kuesioner dan dilakukan skoring (Retnowati 2007). Masing-masing pertanyaan diberi skor berdasarkan skala ordinal, yaitu skor 1 jika tidak pernah, skor 2 jika jarang, skor 3 jika sering, dan skor 4 jika sangat sering berkomunikasi. Selanjutnya, skor yang diperoleh dari masing-masing pertanyaan dikompositkan, kemudian dilakukan transformasi skala ordinal dari 0-100 persen. Selanjutnya
dikategorikan menjadi kategori pola komunikasi rendah jika skor antara 0 – 33.33%; kategori pola komunikasi sedang jika skor antara 33.34 – 66.67%;
dan kategori pola komunikasi tinggi jika skor antara 66.67 – 100 persen. Pengolahan data intensitas komunikasi antar anggota keluarga mengacu pada penelitian Anonim (2006) yang telah dimodifikasi, yaitu:
- TP : Tidak Pernah, jika komunikasi tidak pernah dilakukan antara responden dengan anggota keluarganya.
- JR : Jarang, jika frekuensi <2 kali dalam kurun waktu satu minggu
- S : Sering, jika frekuensi komunikasi dilakukan 2-6 kali dalam kurun waktu satu minggu.
- SS : Sangat Sering, jika frekuensi komunikasi dilakukan >6 kali dalam kurun waktu satu minggu.
Pengolahan data pengambilan keputusan mengacu pada Puspa (2007) yang telah dimodifikasi. Data pengambilan keputusan diukur dengan cara penskoran. Skor 3 jika pengambilan keputusan dilakukan secara bersama-sama atau setara, skor 2 jika pengambilan keputusan dilakukan secara bersama-sama namun suami atau istri dominan, dan skor 1 jika pengambilan keputusan dilakukan oleh suami atau istri saja. Berdasarkan skor pengambilan keputusan secara bersama-sama ditentukan tingkat pengambilan keputusan bidang pangan, pendidikan, keuangan, kesehatan, reproduksi, keperluan keluarga lainnya, strategi pemenuhan kebutuhan hidup, dan sosial kemasyarakatan. Pengkategorian skor komposit dilakukan dengan membagi menjadi tiga kelompok sebagai berikut:
- Suami atau Istri saja : <33.33% dari total skor pengambilan keputusan - Dominan Suami atau Istri : 33.34 – 66.67% dari total skor pengambilan
keputusan
- Bersama-sama (Setara) : >66.67% dari total skor pengambilan keputusan Selanjutnya, skor yang diperoleh dari masing-masing pertanyaan dikompositkan, kemudian dilakukan transformasi skala ordinal dari 0 – 100 persen. Selanjutnya dikategorikan menjadi kategori dukungan sosial rendah jika skor antara 0 – 33.33%; kategori dukungan sosial sedang jika skor antara 33.34 – 66.67%; dan kategori dukungan sosial tinggi jika skor antara 66.67 - 100 persen. Berikut merupakan skor dari setiap jawaban contoh pada pertanyaan pola komunikasi.
- Tidak Pernah : diberi skor 1 - Jarang : diberi skor 2 - Sering : diberi skor 3 - Sangat Sering : diberi skor 4
Kesejahteraan keluarga diukur berdasarkan kesejahteraan objektif dan kesejahteraan subjektif mengacu pada penelitian Puspa (2007). Kesejahteraan objektif diukur melalui pendekatan pendapatan per kapita. Kriteria standar garis kemiskinan pertama yang digunakan adalah kriteria kemiskinan dari Bank Dunia yang mengategorikan tingkat kemiskinan berdasarkan pendapatan per kapita per hari. Ada dua ukuran yang digunakan, yaitu: 1) US $ 1 per kapita per hari; dan 2) US $ 2 per kapita per hari. Dengan menggunakan nilai kurs dari Bank Indonesia per tanggal 27 Agustus 2010 yaitu sebesar Rp9 035.00 untuk US $ 1, maka garis kemiskinan Bank Dunia adalah Rp271 050.00 dan US $ 2 maka garis
kemiskinan Bank Dunia adalah sebesar Rp542 100.00 (Depsos 2006). Kriteria garis kemiskinan kedua yang digunakan adalah BPS (2010), standar kemiskinan di Indonesia sebesar Rp211 000.00 per kapita per bulan. Suatu keluarga dikatakan sejahtera jika memiliki pendapatan per kapita per bulan berada di atas garis kemiskinan, dan tidak sejahtera jika memiliki pendapatan per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.
Tabel 3 Pengukuran dan skala data
Variabel Penelitian
Skala Data
Kategori Data Cronbach α
Umur Suami dan/ atau Istri Contoh
Rasio Tabulasi frekuensi menurut Hurlock (1980)
Dewasa awal : 18-40 tahun Dewasa madya : 41-60 tahun Dewasa akhir : >60 tahun
-
Jumlah Anggota Keluarga
Rasio Kecil : ≤4 orang
Sedang : 5-6 orang Besar : ≥7 orang
-
Pekerjaan Suami
Nominal Tabulasi frekuensi berdasarkan pekerjaan suami
1: guru atau dosen, 2: karyawan swasta, 3: karyawan BUMN, 4: Pegawai Negeri Sipil, 5: wiraswasta, 6: tenaga medis, dan 7: aparatur pemerintahan
-
Pekerjaan Istri Nominal 1: guru atau dosen, 2: karyawan swasta, 3: karyawan BUMN, 4: Pegawai Negeri Sipil, 5: wiraswasta, 6: tenaga medis, 7: aparatur pemerintahan, dan: ibu rumahtangga - Pendidikan Suami dan/ atau Istri Contoh
Nominal Tabulasi frekuensi menurut sebaran contoh
1: tidak tamat SD, 2: tamat SD, 3: SMP, 4: SMA, 5: Diploma, 6: S1, 7: S2, 8: S3
-
Lama pendidikan Suami dan Istri Contoh Rasio 1 : <6 tahun 2 : 6 tahun 3 : 7-9 tahun 4 : 9-12 tahun 5 : >12 tahun - Pendapatan Keluarga
Rasio Berdasarkan sebaran data <Rp1 000 000.00 Rp1 000 000.00 – Rp3 000 000.00 Rp3 000 000.00 – Rp5 000 000.00 Rp5 000 000.00 – Rp10 000 000.00 >Rp10 000 000.00 - Kepemilikan Aset
Rasio Dijelaskan secara deskriptif -
Akses informasi, sumber informasi, dan jenis infromasi
Tabel 3 Pengukuran dan skala data (lanjutan)
Variabel Penelitian
Skala Data
Kategori Data Cronbach α
Dukungan Sosial: - Dukungan Sosial Keluarga Inti - Dukungan Sosial Keluarga Besar - Dukungan Sosial Teman Ordinal Skor 1-64 Rendah <33.3% (<22) Sedang 33.4-66.7% (22-43) Tinggi >66.67% (>44) - Keluarga inti: 0.870 - Keluarga besar: 0.912 - Teman: 0.773 Pola Komunikasi
Ordinal 1 : Tidak pernah 2 : Jarang 3 : Sering 4 : Sangat Sering 0.868 Pengambilan Keputusan
Ordinal Total skor 30-150
Tidak Dominan : <33.33% (<75) Dominan : 33.33-66.67% (75-105) Setara : >66.67% (>105) 0.762 Kesejahteraan Objektif
Rasio Berdasarkan garis kemiskinan
Worid Bank (2010):
- Tidak Miskin
(jika pendapatan per kapita/ bulan <Rp540 000.00)
- Miskin
(jika pendapatan per kapita/ bulan >Rp540 000.00)
Berdasarkan garis kemiskinan BPS (2010):
- Tidak Miskin
(jika pendapatan per kapita/ bulan <Rp211 000.00)
- Miskin
(jika pendapatan per kapita/ bulan >Rp211 000.00)
-
Kesejahteraan Subjektif
Ordinal Total skor 1-92
Tidak sejahtera : ≤50% (1-46) Sejahtera : >50% (47-92)
0.942
Kesejahteraan subjektif diukur berdasarkan delapan aspek pertanyaan tentang kepuasan responden terhadap pemenuhan kebutuhan pangan, pakaian, kualitas tempat tinggal, pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan pendapatan per kapita. Masing-masing pertanyaan diberi skor berdasarkan skala likert, yaitu skor 1 jika tidak puas, skor 2 jika kurang puas, skor 3 jika puas, dan skor 4 jika sangat puas. Selanjutnya, skor yang diperoleh dari masing-masing pertanyaan dikompositkan, kemudian dilakukan transformasi skala ordinal dari 0-100 persen. Selanjutnya dikategorikan menjadi sejahtera jika skor <50% dan tidak sejahtera jika skor ≥50 persen. Pengkategorian data penelitian dapat dilihat di Tabel 3.
Pengolahan dan analisis data-data di atas, dilakukan secara deskriptif dan inferesia. Analisis deskriptif yang digunakan antara lain sebaran frekuensi dan tabulasi silang. Analisis inferensia yang digunakan yaitu uji korelasi Pearson. Uji korelasi Pearson dilakukan untuk mengetahui hubungan antarvariabel yang diteliti. Berikut merupakan rumus statistik untuk uji korelasi Pearson:
r = di2 =
Keterangan:
r : koefisien korelasi Pearson X : variabel X
Y : variabel Y
n : banyaknya pasangan data
Selain itu, digunakan uji regresi linier berganda untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pola komunikasi, pengambilan keputusan, dan kesejahteraan subjektif keluarga. Berikut merupakan rumus statistik untuk uji regresi linier berganda:
Keterangan:
Y1 = pola komunikasi (skor)
Y2 = pengambilan keputusan keluarga (skor) Y3 = kesejahteraan subjektif keluarga (skor) α = konstanta
β = koefisien regresi X1 = usia contoh (tahun)
X2 = jumlah anggota keluarga (orang) X3 = lama pendidikan contoh (tahun) X4 = lama pendidikan pasangan (tahun) X5 = pendapatan per kapita (Rp/ bulan) X6 = kontribusi pendapatan istri (Rp/ bulan) X7 = dukungan sosial (skor)
D1 = jenis kelamin 1 = untuk laki-laki 0 = untuk perempuan D2 = pekerjaan pasangan
1 = untuk bekerja 0 = untuk tidak bekerja ε = error Y1= α + β1X1+ β2X2+ β3X3+ β4X4+ β5X5+ β6X6+ β7X7+ β8D1+ β9D2+ ε Y2= α + β1X1 + β2X2+ β3X3+ β4X4+ β5X5+ β6X6+ β7X7+ β8Y1+ β9D1+ β10D2+ ε Y3= α + β1X1+ β2X2+ β3X3+ β4X4+ β5X5+ β6X6+ β7X7+ β8Y1+ β9Y2+ β10D1+ β11D2+ ε n∑XY - ∑X ∑Y (n∑X2 – (∑X)2 )(n∑Y2 – (∑Y)2 )
Definisi Operasional
Keluarga jarak jauh adalah keluarga yang di antara anggota keluarganya, terutama antara suami dan istri berpisah dalam jarak yang cukup jauh dan dalam waktu yang cukup lama.
Karakteristik keluarga adalah keadaan keluarga contoh yang meliputi besar keluarga, usia keluarga, pendidikan keluarga, jenis pekerjaan contoh dan tingkat pendapatan keluarga contoh.
Jumlah anggota keluarga adalah banyaknya jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu keluarga dan dinyatakan dalam jumlah orang.
Pendidikan adalah lama pendidikan contoh dan pasangan yang dinyatakan dalam tahun.
Pendapatan keluarga adalah pendapatan per bulan yang diterima oleh anggota keluarga yang bekerja, baik dari pekerjaan utama maupun tambahan selama menyelesaikan program pascasarjana.
Aset keluarga adalah seluruh kekayaan yang dimiliki keluarga selain rumah yaitu lahan pertanian (sawah, tegalan, atau kebun milik sendiri), barang elektronik, kendaraan, barang berharga (emas), tabungan, dan ternak yang dikonversikan ke dalam nilai uang.
Akses informasi adalah mudah atau tidaknya keluarga contoh di kampung halaman untuk memperoleh informasi dari luar keluarga.
Sumber informasi adalah sumber diperolehnya informasi keluarga contoh selama menjalani keluarga jarak jauh yang dinyatakan dalam jumlah jenis sumber informasi.
Jenis informasi adalah jenis-jenis informasi yang diakses oleh contoh dan keluarganya.
Dukungan sosial adalah bantuan yang diterima contoh, dalam hal ekonomi, pengasuhan, kesehatan, dan konflik dalam keluarga. Dukungan sosial keluarga dapat berupa dukungan informasional, instrumental, penilaian, dan emosional yang diterima responden selama jauh dari keluarganya, yang dinyatakan dalam skor.
Dukungan informasional adalah dukungan yang diterima oleh contoh baik dari keluarga inti, keluarga besar, dan teman, berupa informasi-informasi yang diperlukan contoh selama masa akademik pascasarjana, baik informasi
yang mendukung akademik maupun informasi mengenai keluarganya, yang dinyatakan dalam skor.
Dukungan instrumental adalah dukungan yang diterima oleh contoh baik dari keluarga inti, keluarga besar, dan teman, berupa materi atau tindakan nyata, yang dinyatakan dalam skor.
Dukungan penilaian adalah dukungan yang diterima oleh contoh baik dari keluarga inti, keluarga besar, dan teman, berupa perhatian, solusi pemecahan masalah, dan penghargaan, yang dinyatakan dalam skor. Dukungan emosional adalah dukungan yang diterima oleh contoh baik dari
keluarga inti, keluarga besar, dan teman, berupa afeksi, kepercayaan, dan motivasi, yang dinyatakan dalam skor.
Pola komunikasi adalah waktu kepulangan atau mudik serta frekuensi komunikasi dan hal-hal yang dikomunikasikan antara contoh dengan pasangan dan anak. Waktu kepulangan dijelaskan secara deskriptif dan frekuensi komunikasi dinyatakan dalam skor.
Pengambilan keputusan adalah pihak yang mengambil keputusan, yaitu antara contoh dengan pasangan selama contoh menyelesaikan program pascasarjana atau selama menjalani keluarga jarak jauh, yang dinyatakan dalam skor.
Kesejahteraan objektif adalah kesejahteraan keluarga keluarga jarak jauh yang diukur menggunakan pendekatan pendapatan per kapita per bulan berdasarkan garis kemiskinan World Bank dan BPS.
Kesejahteraan subjektif adalah kesejahteraan keluarga keluarga jarak jauh yang diukur berdasarkan kebahagiaan atau kepuasan yang dirasakan oleh keluarga dalam materi dan non materi keluarga, yang dinyatakan dalam skor.