• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 08 TAHUN 2001

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 08 TAHUN 2001"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN

NOMOR 08 TAHUN 2001

TENTANG

PENETAPAN BATAS DAERAH MANFAAT JALAN (DAMAJA) DAERAH MILIK JALAN (DAMIJA) DAN DAERAH PENGAWASAN JALAN (DAWASJA)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN,

Menimbang : a. bahwa jalan merupakan prasarana perhubungan darat mempunyai peranan yang sangat strategis dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi, sosial, politik, pertahanan keamanan dan budaya, sehingga perlu dilakukan secara terus menerus pengawasan, pembinaan dan pemeliharaannya dengan penetapan batas Damaja, Damija dan Dawasja serta Garis Sempadan Bangunan di Daerah Kota Tarakan;

b. bahwa untuk maksud pada huruf a tersebut diatas perlu diatur dengan Peraturan Daerah.

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3186);

2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);

3. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480);

4. Undang-undang Nomor 29 Tahun 1997 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Tarakan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3711);

5. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);

6. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3258); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan

Lalulintas Jalan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3529);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);

10. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Tarakan Nomor 15 Tahun 1998 tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan (Lembaran Daerah Tahun 1998 Nomor 07 Seri B-07);

11. Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Daerah Tahun 1999 Nomor 11 Seri C-01).

(2)

Dengan Persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA TARAKAN MEMUTUSKAN

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN TENTANG PENETAPAN BATAS DAERAH MANFAAT JALAN (DAMAJA), DAERAH MILIK JALAN (DAMIJA) DAN DAERAH PENGAWASAN JALAN (DAWASJA)

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

a. Daerah adalah Daerah Kota Tarakan;

b. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah;

c. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah badan legislatif daerah Kota Tarakan;

d. Kepala Daerah Kota adalah Walikota Tarakan;

e. Bangunan adalah bangunan gedung beserta bangunan-bangunan yang berbentuk ruangan, tertutup seluruhnya atau sebagian beserta bangunan-bangunan lain termasuk pagar yang berhubungan dengan bangunan-bangunan itu; f. Jalan adalah suatu prasarana perhubungan darat dalam bentuk apapun

meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan kelengkapannya yang pembangunannya baik dibiayai oleh Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Daerah maupun dibiayai oleh pihak ketiga untuk keperluan lalu lintas umum;

g. Jalan khusus adalah prasarana perhubungan darat yang pengadaannya dibiayai maupun tidak dibiayai oleh Pemerintah, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Daerah dan tidak untuk kepentingan lalu lintas umum, kecuali pembinaan jalan tetap dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah;

h. Pembinaan jalan adalah kegiatan-kegiatan penanganan jaringan jalan tersendiri dari penentuan sasaran yang melliputi penyusunan rencana umum jangka panjang, penyusunan rencana jangka menengah dan penyusunan program, serta perwujudan sasaran yang meliputi pengadaan dan pemeliharaan;

i. Pembina jalan adalah Instansi atau Badan Hukum yang ditunjuk untuk melaksanakan sebagian atau seluruh wewenang Pembinaan jalan;

j. Pembina Jalan Propinsi adalah Pemerintah Daerah Propinsi atau Instasi yang ditunjuk untuk melaksanakan Pembinaan Jalan Propinsi;

k. Pembina Jalan Daerah Kota adalah Pemerintah Daerah Kota atau Instansi yang ditunjuk untuk melaksanakan Pembinaan Jalan Daerah Kota;

l. Pembina Jalan Kecamatan adalah Pemerintah Kecamatan atau Instansi yang ditunjuk untuk melaksanakan Pembinaan Jalan Kecamatan;

m. Pembina Jalan Kelurahan adalah Pemerintah Kelurahan;

n. Pembina Jalan Khusus adalah Pejabat atau orang yang ditunjuk oleh dan bertindak untuk dan atas nama Pemimpin Instansi atau Badan Hukum untuk melaksanakan Pembinaan Jalan Khusus.

BAB II

BAGIAN-BAGIAN JALAN Pasal 2

(1) Daerah Manfaat Jalan, selanjutnya disebut DAMAJA adalah merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar, tinggi, kedalaman dan ruang bebas tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah;

(3)

(2) Ruang DAMAJA sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) Pasal ini hanya diperuntukkan bagi median, pengerasan jalur pemisah, bahu jalan, saluran tepi jalan, trotoar, lereng, ambang pengaman, timbunan dan galian, gorong-gorong perlengkapan jalan dan pembangunan pelengkap lainnya.

Pasal 3

(1) Daerah Milik Jalan, selanjutnya disebut DAMIJA adalah merupakan ruang sepanjang yang dibatasi oleh lebar dan tinggi tertentu yang dikuasai oleh Pemerintah Daerah;

(2) Ruang DAMIJA sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) Pasal ini diperuntukkan bagi daerah manfaat jalan dan pelebaran jalan maupun penambahan jalur lalu lintas serta kebutuhan ruang untuk pengamanan jalan;

Pasal 4

(1) Daerah Pengawasan Jalan, selanjutnya disebut DAWASJA adalah merupakan ruang sepanjang jalur Daerah Milik Jalan yang dibatasi oleh lebar dan tinggi tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan diperuntukkan bagi pandangan bebas pengemudi dan pengaman konstruksi jalan;

(2) Pengawasan dan pembinaan penggunaan Daerah Pengawasan Jalan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) Pasal ini dilakukan oleh Pemerintah Daerah;

(3) Setiap orang pribadi atau badan dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengganggu pandangan bebas pengemudi dan konstruksi jalan.

BAB III JARINGAN JALAN

Pasal 5

(1) Sistem jaringan jalan primer disusun mengikuti ketentuan peraturan tata ruang struktur pengembangan Wilayah secara Nasional yang menghubungkan simpul-simpul jasa distribusi sebagai berikut :

a. Dalam satu satuan Wilayah pengembangan menghubungkan secara menerus kota jenjang kesatu, kota jenjang kedua, kota jenjang ketiga dan kota jenjang dibawahnya sampai ke persil;

b. Menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota jenjang satuan antar satu Wilayah pengembangan.

(2) Jalan Arteri Primer menghubungkan kota jenjang kesatu yang terletak berdampingan atau menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota jenjang kedua;

(3) Sistem jaringan jalan sekunder disusun mengikuti ketentuan pengaturan tata ruang kota yang menghubungkan kawasan-kawasan yang mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder ketiga dan seterusnya sampai keperumahan;

(4) Jalan Arteri sekunder menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua.

(4)

BAB IV

PENGELOMPOKAN JALAN Pasal 6

Pengelompokkan nama-nama jalan di Daerah Kota Tarakan sebagai Daerah Pengawasan Jalan (DAWASJA) adalah :

(1) DAWASJA 30 Meter adalah:

G.S.B

No No. Link NAMA JALAN

KIRI KANAN JML 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 000001 000003 000004 0000023 0000027 0000029 0000030 0000034 0000035 0000040 0000041 0000063 JL. YOS SUDARSO JL. BANDARA JUATA JL. JUATA KERIKIL. JL. BRIGRAD. JL. JEND. SUDIRMAN JL. KALIMANTAN. JL. MARTHADINATA. JL. KERAMAT KAMP.IV. JL. KAMP. IV-KAMP.VI. JL. KAMP. VI PANTAI AMAL. JL. BRIMOB. JL. P. TARAKAN 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

(2) DAWASJA di atas 30 Meter adalah:

G.S.B No No. Link NAMA JALAN

KIRI KANA N JML 1 2 3 000002 000005 0000086 JL. MULAWARMAN

JL. JUATA LAUT-JUATA TAMBO JL. PANTAI AMAL-JUATA LAUT

18,5 25 25 15 25 25 33,5 50 50

(3) DAWASJA 24 Meter adalah :

G.S.B

No No. Link NAMA JALAN

KIRI KANA N JML 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 000006 000008 0000012 0000013 0000014 0000015 0000018 0000024 0000025 0000026 0000033 0000036 0000037 0000038 0000039 JL. SEBENGKOK JL. KAMP. BUGIS-PERUMNAS JL. PELAJAR JL. KARANG REJO. JL. SELUMIT. JL. ADITYAWARMAN. JL. PERIKANAN. JL. GEREJA. JL. VETERAN. JL. MASJID. JL. PULAU SULAWESI. JL.. KAMP. VI. JL. KAMP. IV-MAMBURUNGAN. JL. MAMBURUNGAN-KARUNGAN. JL. KARUNGAN TJG. PASIR. 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24

(5)

16 17 18 19 20 21 22 23 0000044 0000045 0000046 0000053 0000058 0000062 0000064 0000073 JL. P. SUMATRA. JL. JUWITA. JL. KARANG BALIK. JL. KAMP. I-KAMP. IV. JL. KUDA SAMUDRA. JL. KARANG ANYAR-PRUMNAS. JL. PEPABRI. JL. KPH. 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 24 24 24 24 24 24 24 24

(4) DAWASJA 19 Meter adalah:

G.S.B No No. Link NAMA JALAN

KIRI KANA N JML 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 000007 000009 0000010 0000011 0000016 0000017 0000019 0000020 0000021 0000022

JL. KAMP. BARU DALAM JL. KARANG ANYAR

JL. KARANG ANYAR DALAM. JL. METEOR. JL. SEBENGKOK TIRAM. JL. SEBENGKOK AL. JL. PADAT KARYA. JL.JEMBATAN PUTIH. JL. PANGLIMA BATUR. JL. MENARA TURI. 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 0000028 0000031 0000032 0000042 0000043 0000047 0000048 0000049 0000050 0000051 0000052 0000054 0000055 0000056 0000057 0000059 0000060 0000061 0000065 0000066 0000067 0000068 0000069 0000070 0000071 0000072 0000074 0000075 0000076 0000077 JL. NUSANTARA. JL. SMP. PATRADARMA JL. SAWALUNTO. JL. ASRAMA BRIMOB. JL. WISMAPATRA. JL. MALUNDUNG. JL. SMP NEGERI 5. JL. MANUNGGAL. JL. R.P.D. JL. CENDAWAN. 1. JL. SEBATIK. JL. SEBENGKOK PELAYARAN. JL. SEBENGKOK KAMBOJA. JL. SEBENGKOK WARU. JL. CENDANA. JL. PETERNAK. JL. SURATAN. JL. PERUMNAS PANINGKI. JL. BERINGIN I. JL. BERINGIN II. JL. LADANG DALAM. JL. POMPA AIR. JL. PATRADARMA I. JL. GUNUNG KL. JL. PATRADARMA II. JL. PURNAWIRAWAN. JL. STM. NUSANTARA. JL. GUNUNG KERINCI. JL. SMA NEGERI 2. JL. SIMPANG AMAL. 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19

(6)

41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 0000078 0000079 0000080 0000081 0000082 0000083 0000084 0000085 0000087 0000088 0000089 0000090 0000091 0000092 0000093 0000094 0000095 JL. AKI BARU. JL. SIMPANG TRAKINDO. JL. JEMBATAN BONGKOK. JL. SKIP. JL. KAMP. I HILIR. JL. KAMP. I HULU. JL. GUNUNG SELUMIT. JL. MANUNGGAL I. JL. PERUMNAS-KAMP. IV. JL. KAMP. IV. JL. PDAM. JL. KAMP. BUGIS. JL KOMPLEK OK. JL. HASANUDIN. JL. RADAR. JL. KARUNGAN. JL. SKB. 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 9,5 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 (5) Gambar …..

(7)
(8)
(9)
(10)

(8) Jalan khusus adalah jalan yang pembinaannya tidak dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat/Daerah tidak untuk lalu lintas umum, hanya untuk kepentingan tertentu harus mendapat izin dari orang/badan hukum mempunyai kewenangan memberikan izin;

(9) Untuk jalan-jalan dalam Daerah Kota Tarakan disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah Kota Tarakan.

BAB V PATOK JALAN

Pasal 7

(1) Penentuan Batas Daerah Milik Jalan (DAMIJA) di Daerah Kota Tarakan dibuat patok dengan bentuk serta ukuran sebagai berikut:

12 cm 12 cm

5/10 cm

(2) Pemasangan patok DAMIJA pada jalan Daerah Kota Tarakan dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Daerah Kota Tarakan;

(3) Daerah Milik Jalan (DAMIJA) meliputi Daerah Manfaat Jalan (DAMAJA) dan sejalur tanah tertentu di luar daerah manfaat jalan, diperuntukan dari Daerah Pengawasan Jalan (DAWASJA), untuk penambahan jalur lalu lintas dikemudian hari serta kebutuhan ruang untuk pengaman jalan, pandangan bebas pengemudi dan pengamanan konstruksi jalan.

a. Untuk jalan-jalan jurusan luar kota, jalan-jalan yang diutamakan, jalan- jalan yang diprioritaskan penggunaannya, patok jalan ditetapkan oleh Pembina-pembina jalan tingkat atas;

b. Untuk patok jalan disekitar jembatan diatur secara khusus.

BAB VI

PENGALOKASIAN BANGUNAN Pasal 8

(1) Penempatan Bangunan Utilitas yang mempunyai sifat pelayanan pada jaringan diluar Daerah Kota Tarakan ditetapkan diluar Daerah Milik Jalan;

(11)

(2) Bangunan-bangunan atau kegiatan masyarakat lainya di sekitar Daerah Milik Jalan yang sudah ada dan tidak sesuai dengan peruntukannya harus menyesuaikan dengan ketentuan ini;

(3) Bagi jalan-jalan yang belum termasuk dalam Pasal 4 ayat (1) sampai dengan ayat (4), pengalokasian bangunan disesuaikan pada Pasal 5 ayat (1) Peraturan Daerah ini.

BAB VII

KETENTUAN DAN LARANGAN Pasal 9

(1) Badan jalan hanya diperuntukan sebagai arus lalu lintas dan pengamanan terhadap konstruksi jalan;

(2) Lebar, Tinggi dan kedalaman ruang bebas ditetapkan lebih lanjut oleh pembina jalan;

(3) Tinggi ruang lebar jalan bagi jalan Arteri dan kolektor, paling rendah 5 (lima) meter dengan kedalaman lebih dari 1,5 (satu setengah) meter;

(4) Satuan tepi jalan, hanya diperuntukan bagi penampungan dan penyaluran air agar badan jalan lebih bebas dari pengaruh air;

(5) Ukuran saluran tepi jalan ditetapkan sesuai dengan lebar permukaan jalan dan kedalaman lingkaran;

(6) Ambang pengaman jalan hanya diperuntukan bagi pengaman konstruksi jalan.

Pasal 10

(1) Dilarang menggunakan jalan dan ruang bebas untuk keperluan yang dapat mengganggu peruntukan jalan;

(2) Dilarang menggunakan saluran tepi untuk keperluan yang dapat mengganggu permukaan jalan;

(3) Dilarang menggunakan ambang pengaman jalan untuk keperluan yang dapat mengganggu peruntukan jalan;

(4) Setiap orang atau badan yang memiliki tanah dan bangunan atau sejenisnya yang terletak pada sisi kiri dan kanan jalan wajib mentaati ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini;

(5) Terhadap bangunan yang berdiri diatas Dawasja yang dibongkar/dipotong sebagian atau seluruhnya untuk pelebaran jalan, diatur sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

BAB VIII

KETENTUAN PIDANA Pasal 11

(1) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 10 Peraturan Daerah ini diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan dan atau denda paling tinggi Rp.5.000.000,- (lima juta rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah, kecuali jika ditentukan lain dalam Peraturan Perundang-undangan;

(12)

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah pelanggaran.

BAB IX PENYIDIKAN

Pasal 12

(1) Selain oleh penyidik POLRI, penyidikan atas tindak pidana pelanggaran dalam Peraturan Daerah ini dilaksanakan oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah yang pengangkatannya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

(2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini adalah : a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan

berkenaan dengan tindak pidana dibidang penentuan batas daerah manfaat jalan (Damaja), daerah milik jalan (Damija) dan daerah pengawasan jalan (Dawasja) agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas;

b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi dan atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana dibidang penentuan batas daerah manfaat jalan (Damaja), daerah milik jalan (Damija) dan daerah pengawasan jalan (Dawasja);

c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi dan atau badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang penentuan batas daerah manfaat jalan (Damaja), daerah milik jalan (Damija) dan daerah pengawasan jalan (Dawasja);

d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana dibidang penentuan batas daerah manfaat jalan (Damaja), daerah milik jalan (Damija) dan daerah pengawasan jalan (Dawasja);

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang penentuan batas daerah manfaat jalan (Damaja), daerah milik jalan (Damija) dan daerah pengawasan jalan (Dawasja); g. Menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau

tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen sebagaimana dimaksud pada huruf e; h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana dibidang

penentuan batas daerah manfaat jalan (Damaja), daerah milik jalan (Damija) dan daerah pengawasan jalan (Dawasja);

i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

j. Menghentikan Penyidikan;

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang penentuan batas daerah manfaat jalan (Damaja), daerah milik jalan (Damija) dan daerah pengawasan jalan (Dawasja) menurut hukum yang dapat dipertanggung jawabkan.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB X

KETENTUAN PERALIHAN

(13)

Pasal 13

(1) Terhadap bangunan-bangunan yang telah ada, sebelum berlakunya Peraturan Daerah ini, berlaku ketentuan yang telah ada;

(2) Terhadap bangunan baru atau perombakan bangunan sejak diundangkannya Peraturan Daerah ini harus menyesuaikan dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah ini.

BAB XI

KETENTUAN PENUTUP Pasal 14

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dalam Keputusan Kepala Daerah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Pasal 15

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Tarakan.

Ditetapkan di Tarakan pada tanggal 26 April 2001

WALIKOTA TARAKAN ttd

dr. H. JUSUF S.K

Diundangkan dalam Lembaran Daerah Kota Tarakan

Tahun 2001 Nomor 08 Seri D-04

SEKRETARIS DAERAH

ttd.

H. SAUKANI DAIK, SE. MM

Pembina Nip. 550 004 736

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis aktivitas enzim pertahanan tanaman (peroksidase dan polifenol oksidase) dan kandungan asam salisilat menunjukkan bahwa penekanan kejadian penyakit darah pada

Dengan adanya kombinasi perlakuan dapat memberikan hasil kadar karbon terikat yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai kadar karbon terikat pada bungkil biji jarak

Cabang Semarang belum memiliki perencanaan strategi yang sesuai dengan proses bisnis yang ada dikarenakan setiap tahun dilakukan penilaian antar cabang yang di dalamnya

Diantara empat jenis belanja dalam struktur Belanja Daerah di Aceh, sampai dengan triwulan II 2018 persentase realisasi tertinggi berada pada Belanja Pegawai yaitu sebesar

pekerjaan dan wewenang masing-masing yang terdapat dalam Rumah Sakit Umum Daerah Porsea mulai dari tingkat yang paling tinggi sampai tingkat yang paling rendah. Untuk

Dengan demikian perlu adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah untuk menangani pemungutan retribusi di Pasar Segiri sehingga akan menambah penerimaan Retribusi

Dari sisi pengeluaran, pada Triwulan II-2017, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen konsumsi LNPRT yang tumbuh sebesar 7,41 persen, kemudian diikuti oleh

Program pengabdian masyarakat dilaksanakan untuk meningkatkan kreativitas guru untuk menulis karya ilmiah, meningkatkan kualifikasi guru, dan meningkatkan referensi