1
A. Latar Belakang
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.1Sebagaimana pula masyarakat Jawa yang memiliki
identitas bersama yang tercermin dalam budayanya. Menurut Koentjaraningrat ada tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal, antara lain religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup, serta sistem teknologi.2
Religi sebagai salah satu cabang kebudayaan yang paling lambat dalam mengalami perubahan dibandingkan dengan enam cabang kebudayaan lainnya merupakan pengertian-pengertian tentang alam semesta yang hidup di dalam masyarakat dalam usaha manusia mendekatkan diri kepada kekuatan gaib, alam nyata maupun alam abstrak yang didorong oleh getaran jiwa, dimana pelaksanaan religi ini berwujud dalam bentuk upacara-upacara ritual baik yang dilaksanakan
1Koentjaraningrat., Pengantar Ilmu Antropologi(Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2000), hlm. 146.
2Koentjaraningrat.,Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan(Jakarta:
secara perorangan maupun secara berkelompok. Disini jelas bahwa religi bukanlah agama melainkan bagian dari kebudayaan.3
Di Jawa yang merupakan salah satu daerah di Indonesia terdapat 5 agama yang diakui yakni Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Buddha. Dari sejarah penyebaran agama-agama tersebut di nusantara bukan merupakan agama asli yang berasal dari nusantara melainkan agama pendatang. Unsur-unsur agama pendatang menyatu dengan unsur-unsur agama asli Indonesia yang mengakibatkan terjadinya sinkretisme agama. Terjadinya sinkretisme agama tersebut sangat terlihat jelas di Jawa. Ini menandakan bahwa kebudayaan Jawa sangat kuat dibandingkan dengan kebudayaan-kebudayaan daerah lain.4
Sebagaimana di tempat lain dimana agama universal memperoleh penganut baru, agama ini mengalami proses lokalisasi. Demikian juga, Islam di Jawa telah dicocokan dengan cara hidup Jawa. Apalagi, Islam yang telah mencapai Jawa telah mengalami perjalanan panjang, dan sepanjang jalan itu sudah memungut ciri mistis dan esoteris kaum Sufi yang cocok dengan pemikiran dan religiusitas orang Jawa. Kemudian lagi, mentalitas yang pada dasarnya sinkretis dan toleran menyediakan ladang yang subur bagi masuknya agama yang baru. Jadi, sedikit demi sedikit, Islam mampu memantapkan dirinya bahkan di istana kejawen raja-raja Jawa, yang mengambil beberapa gelar dan simbol darinya dengan hasil bahwa sampai sekarang ini hampir semua orang Jawa akan mengaku
3Slamet Rahardjo, et.al., Persepsi tentang Etos Kerja Kaitannya dengan
Nilai Budaya Masyarakat Jawa tengah(Semarang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995), hlm. 80.
4Franz Magnis Suseno., Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang
dirinya Islam, dengan mencampurkan pemikiran dan praktek Islam dengan unsur-unsur Jawa yang lebih kuno.5
Masyarakat Jawa yang hingga kini masih memegang teguh budayanya sebagai hasil percampuran unsur-unsur budaya dari luar tersebut berpengaruh pula terhadap keyakinan spiritualnya. Selain menganut agama resmi yang telah disebutkan di atas, cara yang mereka tempuh dalam mencari keseimbangan pribadi sebagai upaya untuk lebih dekat dengan Tuhan salah satunya adalah dengan masuk dalam aliran kebatinan. Alasan mereka menganut aliran kebatinan didasari oleh pandangan mereka mengenai para pemimpin agama yang kurang cakap dalam menyimpulkan ajaran agama secara sederhana serta penerapannya terhadap diri sendiri, Tuhan, dan terhadap sesama manusia dalam menghadapi kesulitan sehari-hari.
Di Jawa sendiri banyak bermunculan macam-macam aliran kebatinan. Secara umum ada dua macam jenis aliran kebatinan yang terdapat di Jawa yaitu golongan aliran besar dan golongan aliran kecil. Aliran kebatinan kecil antara lain adalah Panunggalan Parukunan Kawula Manembah Gusti, Jiwa Ayu dan Pancasila Handayaningratan di Surakarta, Ilmu Sejati di Madiun, dan Trimurti Naluri Majapahit di Mojokerto. Sedangkan aliran besar diantaranya adalah Hardopusoro di Purwareja, Susila Budi Darma Subud di Semarang, Paguyuban
5Niels Mulder., Agama, Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya: Jawa,
Muangthai dan Filipina(Jakarta; PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999), hlm.249-250.
Ngesti Tunggal Pangestu di Surakarta, Paguyuban Sumarah dan Sapta Darma di Yogyakarta.6
Dalam hal ini penulis akan mengangkat mengenai salah satu aliran kebatinan terbesar di Jawa yaitu Paguyuban Sumarah yang lahir di Yogyakarta dan ingin meneliti di daerah yang memiliki keterkaitan sejarah tidak kalah pentingnya yaitu di Surakarta. Basis penyebaran ilmu Sumarah berasal dari jaringan priyayi yang berporos pada keraton Yogyakarta dan Surakarta. Sutadi yang merupakan tokoh penggerak utama di Surakarta memiliki hubungan yang sangat erat dengan dua tokoh Sumarah yakni Sukino dan Soehardo dan kemudian mereka (bertiga) dikenal dengan sebutan “trio pinisepuh” dalam Paguyuban Sumarah. Ide pengorganisasian dan sejarah perkembangan Paguyuban Sumarah pada awalnya terjadi di Surakarta.
Dengan adanya perkembangan kelompok secara perlahan kemudian muncul kebutuhan akan adanya suatu pedoman yang bisa dijadikan sebagai dasar pijakan para anggota. Pedoman yang merupakan jawaban akan kebutuhan tersebut merupakan karya Sutadi dan dikenal dengan nama “Sesanggeman”. Lalu diadakanlah konferensi dalam upaya mengesahkan sesanggeman sebagai pedoman Paguyuban Sumarah di rumah Sutadi pada tanggal 22 April 1940 di Surakarta dan merupakan perhelatan resmi pertama paguyuban ini.
Seperti halnya aliran kebatinan lainnya, Paguyuban Sumarah terbentuk pada masa-masa sulit dan penuh dengan tekanan sosial. Tuntunan Sumarah pertama kali diterima oleh Raden Ngabei Soekino Hartono (Pak Kino) di
6Koentjaraningrat., Kebudayaan Jawa(Jakarta: Balai Pustaka, 1984),
Yogyakarta pada tanggal 8 September 1935, pada masa Bangsa Indonesia sedang mengalami tekanan lahir batin karena penjajahan. Kongres ke-VI Paguyuban Sumarah di Jakarta pada tanggal 27 September 1970 memutuskan bahwa Pak Kino berkedudukan sebagai Warana/ Paranpara Paguyuban Sumarah dan Perintis Ilmu Sumarah.7
Sumarah lahir di kota yang menjadi markas pemerintahan Republik selama masa revolusi. Layaknya “bangsa” yang baru memproklamirkan diri (Indonesia), Sumarah tampil secara terbuka pada 1945 meski baru menjadi sebuah organisasi resmi pada 1950.8Berbagai perubahan dalam organisasi tampak begitu jelas pada 1950 dan 1966. Pada 27 Maret 1950, organisasi baru resmi didirikan dengan nama “Paguyuban Sumarah”, dan kepemimpinan pusat berada di tangan “Pengurus Besar” atau disingkat “PB”. Para pengurus yang baru terbentuk kemudian mulai menyusun rancangan AD/ART, mendirikan cabang, dan mempersiapkan kongres organisasi pertama.9 Dalam proses pengorganisasian itu banyak terjadi ketegangan terutama permasalahan internal paguyuban yang menyangkut jajaran PB. Masalah internal paguyuban salah satunya adalah tidak berkenankannya cabang Surakarta untuk masuk dalam jajaran PB. Hal tersebut berlangsung hingga Surono sebagai pimpinan organisasi lengser, baru kemudian cabang Surakarta kembali aktif dan ikut serta dalam organisasi paguyuban.
7AD/ART Paguyuban Sumarah tahun 1980. Surakarta: Koleksi
Paguyuban Sumarah Surakarta.
8Paul Stange, Kejawen Modern: Hakikat dalam Penghayatan Sumarah
(Yogyakarta: LkiS, 2009), hlm. 93.
Pada tahun 1966 pasca lengsernya Surono sebagai pimpinan organisasi dalam jajaran PB, kantor pusat Sumarah yang tadinya berpusat di Solo kemudian pindah ke Jakarta. Setelah diangkatnya Arymurthy menjadi pimpinan organisasi Sumarah dan terselenggaranya kongres pada tahun 1966, membawa perubahan pada struktur kepemimpinan Sumarah. Periode PB atau Pengurus Besar kemudian diganti dengan DPP atau Dewan Pimpinan Pusat.
Sementara itu, kedudukan kebatinan makin terjamin dan makin mantap selama pemerintahan Soeharto yang diperintah kaum militer yang dekat dengan mistik kejawen. Dukungan nasional bagi kebatinan ini muncul dari rasa tak suka terhadap Islam yang diperpolitikkan dan dari pengaruh kuat kebudayaan Hindu-Jawa atas pemikiran kelompok penguasa tersebut.10 Pada awal kekuasaannya, Soeharto menjalin hubungan lebih dekat dengan kelompok mistik daripada kelompok Islam.11. Pada masa itu juga aliran kepercayaan diakui sejajar dengan agama resmi yang nampak pada dua alinea pertama tentang “Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa” dalam Garis-garis Besar Haluan Negara yang dirumuskan oleh Majelis Permusyawarakatan Rakyat pada tahun 1973.
Rentang waktu yang dipilih dalam penulisan ini adalah tahun 1970 hingga tahun 1998 yang masuk dalam periode Orde Baru. Pada tahun 1966 sejak PB berubah menjadi DPP mulai membawa perubahan yang besar terutama dalam struktur kepemimpinan Sumarah, namun demikian puncak perubahan tersebut
10 Niels Mulder., Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa:
Kelangsungan dan Perubahan Kulturil (Jakarta: PT. Gramedia, 1983), hlm. 10.
11 Jusuf Wanandi., Menyibak Tabir Orde Baru(Jakarta: PT. Kompas
terutama dalam kaitannya dengan dukungan politik pemerintahan Soeharto mulai tampak pada tahun 1970. Dalam hal ini pemilihan tahun 1970 dilandasi dengan perkembangan DPP Paguyuban Sumarah yang menandai juga keikutsertaan kembali cabang Surakarta dalam kehidupan organisasi paguyuban. Dengan dibentuknya SKK sebagai wadah nasional yang menampung aspirasi penghayat Ketuhanan Yang Maha Esa serta politik Orde Baru yang ingin merangkul semua segmen masyarakat, salah satunya adalah memasukkan SKK dalam sekretariat bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) sehingga dengan hal itu terjalin kerjasama yang saling menguntungkan, kaum penghayat mengalami puncak perkembangan di tataran perpolitikan Indonesia sementara rezim Orde Baru dapat mempertahankan posisinya dengan dukungan dari kaum penghayat.
Selain adanya Sekber Golkar, pada era tersebut dibentuk Direktorat Bina Hayat yang khusus menangani permasalahan penghayat terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu memberikan keuntungan bagi Paguyuban Sumarah karena tokohnya Arymurthy menjadi Ketua Dirjen Bina Hayat yang pertama kalinya sehingga dalam pengambilan keputusan tentunya memberikan dukungan yang kuat bagi perkembangan Paguyuban Sumarah. Selain Arymurthy, ada tokoh besar lainnya yaitu Zahid Hussein yang berperan dalam penyaluran dana Banpres untuk pesantren-pesantren.
Sementara kehidupan Paguyuban Sumarah di tingkat pusat (DPP) berkutat pada tataran politik yang berhubungan dengan pemerintahan Orde Baru, kehidupan Paguyuban Sumarah di daerah Surakarta selain adanya perkembangan dengan masuk ke dalam jajaran DPP kembali mulai tahun 1966, daerah ini mulai
menata organisasinya yang mengalami ketertinggalan dengan cabang lainnya. Pada tahun 1970 di Paguyuban Sumarah Surakarta terjadi kontak pertama dengan Warga Negara Asing. Kehadiran WNA dalam paguyuban Sumarah Surakarta memberikan corak berbeda dengan cabang daerah lainnya. Paguyuban Sumarah Daerah Surakarta masuk ke dalam SKK akhir tahun 1970-an, sementara di Yogyakarta sudah masuk pada awal pembentukan SKK itu sendiri. Pada awal pemerintahannya, Soeharto lebih condong merangkul kaum penghayat dan berusaha memberikan tekanan pada golongan Islam, namun kemudian sekitar tahun 1985 berbalik arah pro terhadap Islam. Sehingga memasuki tahun 1985 dukungan terhadap kaum penghayat mulai dibatasi dan mengalami stagnan perkembangan, hal tersebut juga dialami oleh Paguyuban Sumarah di daerah Surakarta terutama dalam hal menurunnya jumlah anggota dan minat bergabung menjadi anggota paguyuban.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana awal terbentuknya Paguyuban Sumarah dan sejarah perkembangan Paguyuban Sumarah di Surakarta?
2. Bagaimana sistem organisasi dan prinsip ajaran Paguyuban Sumarah di Surakarta?
3. Bagaimana dinamika kehidupan Paguyuban Sumarah di Surakarta tahun 1970-1998?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui awal terbentuknya Paguyuban Sumarah dan sejarah perkembangan Paguyuban Sumarah di Surakarta.
2. Mengetahui sistem organisasi dan prinsip ajaran Paguyuban Sumarah di Surakarta.
3. Mengetahui dinamika kehidupan Paguyuban Sumarah di Surakarta tahun 1970-1998.
D. Manfaat Penelitian
1. Memberikan gambaran mengenai aspek sosial-budaya masyarakat Jawa yang tercermin dalam Paguyuban penghayat aliran kebatinan Sumarah terutama di daerah Surakarta.
2. Dapat memberikan sumbangan guna memperkaya penulisan sejarah Indonesia khususnya sejarah kebudayaan .
3. Memenuhi salah satu syarat akademik dalam rangka memperoleh gelar Sarjana di Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.
E. Tinjauan Pustaka
Buku yang berjudul Kejawen Modern (judul asli The Evolution of Sumarah) karya Paul Stange yang diterbitkan tahun 2009 merupakan buku dasar yang dapat menjawab apa itu paguyuban Sumarah, ajarannya, perkembangan,
pengikutnya, segala bentuk kegiatan dan pengaruhnya dalam masyarakat serta perkembangan budaya Jawa. Paul Stange melihat bahwa Paguyuban Sumarah merupakan organisasi kebatinan dengan prinsip ajaran bahwa kebenaran melandasi semua agama. Pada intinya, Sumarah sendiri mengandung komitmen penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tepat di titik inilah, Sumarah menjadi simbol prinsip inklusivisme Islam di Jawa sejak dahulu kala. Ia juga menyatakan bahwa tema utama dalam sejarah Sumarah adalah upaya mengubah pandangan orang dari keterikatan pada dimensi arwah leluhur. Dengan hal itu menandakan bahwa adanya modernisasi pemikiran dalam paguyuban kebatinan Sumarah ini dan berpedoman pada Sesanggeman (tata peraturan di paguyuban Sumarah) untuk berserah diri hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Niels Mulder dalam bukunya yang berjudul Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa (Kelangsungan dan Perubahan Kulturil) terbitan tahun 1983 membahas mengenai masyarakat Jawa yang kesehariannya sarat dengan dunia kebatinan dintinjau dari segi historis dan kebudayaannya yang mewujudkan tatanan masyarakatnya tersendiri dari waktu ke waktu. Masyarakat Jawa memiliki konsep, pandangan, tingkah laku, etika, dan tata cara ritual yang tercermin dalam dunia kebatinannya. Perkembangan kebatinan pada masa sesudah perang memiliki arti sosiologis kulturil yang khusus. Di kemudian hari dunia orang Jawa harus berhadapan dengan modernisasi dan menjadikan terjadinya dinamika perubahan serta berdampak pada kelangsungan budayanya terutama segi kebatinannya.
Buku karya Suwardi Endraswara, Kebatinan Jawa dan Jagad Mistik Kejawen terbitan tahun 2011 mengkaji kebatinan Jawa sebagai dunia yang tidak dapat dilepaskan dari spriritualitas dan mistik orang Jawa yang dianggap sakral. Dalam buku ini terdapat pengelompokkan kebatinan jawa dilihat dari sifatnya, organisasinya, serta tujuannya. Ritual-ritual serta tradisi tidak dapat dilepaskan dalam upaya mencari kesempurnaan hidup orang Jawa. Sehingga salah satu untuk menyempurnakan hidupnya, orang Jawa tidak hanya menjalankan ritual-ritual dan tradisi, namun juga memperdalam lakudan ngelmu, salah satunya didapat melalui organisasi/ pangudenkebatinan.
Ali Imron dalam skripsi yang berjudul Studi Komparatif tentang Konsepsi Manusia menurut Aliran Pangestu dan Paguyuban Sumarah (2010) mengkaji mengenai perbandingan antara dua aliran kebatinan/ organisasi penghayat kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu Pangestu dan Paguyuban Sumarah berdasarkan konsepsi manusia. Konsepsi manusia menurut kedua aliran tersebut memiliki persamaan dan perbedaan diantaranya hubungan manusia dengan Tuhan, proses penciptaan manusia, serta hubungan manusia dengan lingkungannya. Dibandingkan dengan Pangestu yang kompleks, Paguyuban Sumarah dilihat dari ajarannya hanya berpegang pada belajar tentang kehidupan dan memasrahkan segalanya pada Tuhan Yang Maha Esa.
F. Metode Penelitian
1. Lokasi PenelitianLokasi penelitian ini adalah di Kota Surakarta yang merupakan salah satu daerah tingkat pada Paguyuban Sumarah.
2. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan metode historis. Metode historis merupakan proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau.12Sehingga dapat untuk mengetahui sejarah kehidupan Paguyuban Sumarah di Surakarta.
Dalam penelitian sejarah dengan menggunakan metode sejarah, meliputi 4 tahapan13. Tahapan-tahapan tersebut meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi,
dan historiografi.
Tahap I adalah Heuristik. Heuristik merupakan suatu cara memperoleh data atau disebut juga dengan teknik pengumpulan data. Dalam tahap ini, teknik pengumpulan data yang digunakan menggunakan metode:
a. Studi Dokumen
Dokumen dan arsip yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa laporan, buku-buku ajaran kebatinan, buletin yang diterbitkan oleh Paguyuban
12 Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah(terjemahan Nugroho Notosusanto),
(Jakarta: UI Press, 1983), hlm. 32.
13Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah,
Sumarah, serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dari Paguyuban Sumarah. Arsip dan dokumen yang diperoleh antara lain:
1) AD/ART Paguyuban Sumarah 1 Agustus 1980, Koleksi Paguyuban Sumarah cabang Wonogiri, Arsip No. 5 IX. 03. 01.
2) AD/ART Paguyuban Sumarah 1 Agustus 1980, Koleksi Paguyuban Sumarah DPD IX Surakarta.
3) Arsip Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Dit. PPK, Ditjen.Kebudayaan Dep. P dan K. Bahan Sarasehan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tahun 1982/1983 mengenai jumlah dan daftar organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Keadaan Akhir Maret 1982, Koleksi Paguyuban Sumarah DPD IX Surakarta.
4) Buletin Sumarah, 17 Juli 1975, Bulletin Paguyuban Sumarah No. 03 tahun 1994, Bulletin Sumarah no.22/ Th. 5-17 Agustus 1987 Koleksi Paguyuban Sumarah DPD IX Surakarta
5) Arsip jumlah pemeluk agama dan aliran kerohanian di Kotamadya Surakarta yang dikeluarkan oleh Dinas Urusan Agama Kotamadya Surakarta yang tercantum dalam Badan Statistik Pusat Surakarta tahun 1969.
6) Arsip Keputusan Kongres ke-VIII Paguyuban Sumarah tanggal 8-10 September 1978 di Pendopo Agung Sumarah, Wirabrajan Ng. 7/158 Yogyakarta, Koleksi Paguyuban Sumarah DPD IX Surakarta
7) Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetia Pancakarsa) dan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), Departemen Penerangan RI, Jakarta, 1978.
8) Seri Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa edisi 11, 15, Program Direktorat PPK mengenai Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
9) Arsip Paguyuban Sumarah tahun 1992 koleksi Paguyuban Sumarah cabang Wonogiri tentang Laporan Pertanggungjawaban Ketua DPP Paguyuban Sumarah Periode 1987 s/d 1992.
10) Buku Internal Paguyuban Sumarah yaitu Mengenal Sumarah bekerjasama dengan penerbit Grasia Offset tahun 2007, serta Sumarah V: Sejarah Paguyuban Sumarah 1935-1970 diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1980.
b. Wawancara
Informan yang dipilih untuk memberikan keterangan yang diperlukan adalah Ketua Kerohanian DPD (Dewan Pimpinan Daerah) Sumarah Kota Surakarta tahun anggaran 2014/2019 Bapak Saryanto Waluyo Kusumo yang merupakan keponakan dari Bapak Soewondo dan beliau masuk menjadi anggota tahun 1981; Ibu Laura Romano yang merupakan salah satu pengembang meditasi Sumarah di Luar Negeri sekitar tahun 1990-an, beliau adalah orang Barat yang mempelajari ilmu Sumarah di DPD Paguyuban Sumarah Surakarta tahun 1975 dan pernah menjabat di DPP Paguyuban Sumarah bidang luar negeri; Bapak Agus
Tri Hari Mulyono yang merupakan Ketua DPC Paguyuban Sumarah Wonogiri wawancara juga dilakukan dengan sesepuh-sesepuh Paguyuban Sumarah yaitu Bapak Sugiyono, Bapak Sukasno, dan Bapak Soenardo Pontjosudarso Ketua DPC Baturetno Wonogiri sekaligus juga pamong umum dalam DPC kota Surakarta. Selain itu juga wawancara dilakukan dengan anggota-anggota Paguyuban Sumarah di Surakarta.
c. Studi Pustaka
Untuk melengkapi data dalam penulisan ini dipergunakan buku-buku, majalah, penelitian maupun karya ilmiah mengenai aliran kebatinan dan berkaitan dengan kebudayaan Jawa yang dapat diperoleh dari perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya, perpustakaan pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan perpustakaan Universitas Gajah Mada.
Tahap II adalah kritik sumber. Kritik terhadap sumber/ data yang telah dikumpulkan tersebut dengan cara membandingkan antara sumber satu dengan yang lainnya menyangkut kredibilitas dan validitas datanya. Setelah didapatkan informasi serta data melalui wawancara dengan pengurus serta anggota Paguyuban Sumarah cabang Surakarta, sumber yang didapat melalui arsip berupa buletin, surat kabar, surat keputusan kongres kemudian tidak secara langsung mengambil semua yang diperoleh, namun dipilih data yang akurat dan berguna dalam penelitian ini.
Tahap III yaitu interpretasi/ analisis. Teknik analisis yang digunakan berupa analisis kualitatif.
Tahap IV adalah historiografi/ penulisan. Penulisan hasil penelitian yang telah dilakukan bentuk penyajiannya bersifat deskriptif analitis. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai dinamika paguyuban Sumarah di Surakarta, latar belakang, serta aspek sosial dan budaya religiusnya.
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan difungsikan supaya pembaca lebih mudah dalam memahami dan mempelajari skripsi ini, yang dibagi-bagi menjadi bab-bab yang diuraikan secara berurutan.
Bab I merupakan Pendahuluan yang mencakup Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
Bab II merupakan latar belakang berdirinya Paguyuban Aliran Kebatinan Sumarah di Surakarta. Di dalamnya mencakup sejarah diperolehnya ajaran, perkembangan Paguyuban Sumarah di Surakarta, serta adanya pengaruh politik yang mempengaruhi perkembangan Paguyuban Sumarah.
Bab III adalah sistem organisasi dan prinsip ajaran Paguyuban Sumarah. Bab ini menjelaskan dari segi keorganisasian yaitu struktur organisasi meliputi susunan staf dan anggota, perannya, agenda kegiatan organisasi, serta kepengurusan organisasi Paguyuban Sumarah. Sementara dari prinsip ajarannya meliputi be’atanmenjadi anggota, sesanggeman dan himpunan wewarah, latihan sujuddan jadwalnya, dan ajaran mengenai Tuhan serta manusia.
Bab IV yaitu mengenai dinamika kehidupan Paguyuban Sumarah di Surakarta pada tahun 1970-1998, pada era ini nampak adanya kecenderungan dukungan politik Orde Baru dimulai dengan disatukannya tokoh-tokoh kebatinan untuk masuk dalam jajaran Sekber Golkar, pembentukan SKK dan HPK sebagai wadah aspirasi penghayat, serta dukungan pemerintah dengan landasan hukum serta berdirinya Direktorat Binahayat. Kondisi politik yang kondusif bagi perkembangan penghayat terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta adanya dukungan politik tersebut menimbulkan adanya konsolidasi intern dan ekstern bagi Paguyuban Sumarah dan mengalami perkembangan yang mencapai puncaknya pada Orde Baru. Dan memasuki tahun 1985, kecenderungan kemunduran organisasi nampak tidak hanya di tingkat Pusat namun juga terlihat dengan adanya dinamika di Paguyuban Sumarah di Surakarta meliputi segi penghayatan, organisasi, dan masuknya Warga Negara Asing di Paguyuban Sumarah Surakarta.