1 BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat dalam kehidupan masyarakat modern, menunjukkan peran penting teknologi dalam kehidupan. Pentingnya peran tersebut, menjadikan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat, sehingga mampu merubah mode dan cara berkomunikasi (Kurnia, 2005). Bahkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi kemudian mampu merubah pola konsumsi, produksi dan distribusi barang dan jasa dalam berbagai sektor kehidupan. Sektor yang tak luput dari perkembangan teknologi adalah penyiaran, khususnya radio. Sebagai media penyiaran tertua dunia, radio adalah hasil inovasi teknologi yang mampu bertahan hingga kini. Radio tetap eksis karena memiliki kemampuan beradaptasi, mulai dari teknologi Shortwave (SW), Amplitudo Modulation (AM), Frequency Modulation (FM), hingga internet (Harliantara, 2016). Evolusi radio tersebut membuktikan, radio berpengalaman dalam menghadapi tantangan inovasi teknologi sejak awal mula ditemukan (Albarran et al., 2007).
Pada prosesnya, evolusi radio sempat menghadapi kendala, yakni saat terjadinya evolusi radio dari teknologi AM ke FM. Kendala tampak pada situasi sosial saat itu, dimana masyarakat lebih berminat mengembangkan televisi. Sejak ditemukan, teknologi FM membutuhkan waktu hampir 30 tahun untuk dapat diterima oleh masyarakat luas. Adopsi teknologi FM kemudian mendapatkan sambutan positif, karena teknologi FM terbukti memiliki keunggulan berupa kejernihan suara dan bebas dari hambatan cuaca. Meskipun teknologi ini hanya bisa dinikmati pada masyarakat perkotaan pada waktu itu, namun teknologi FM semakin menjadi andalan para konsumen radio berbasis musik. Konsumen media pada waktu itu, yang terlanjur berminat pada televisi, berhasil mengalihkan perhatian konsumen radio pada media audio-visual. Radio kemudian mencari cara agar dapat hidup berdampingan dengan televisi. Maka pengelola radio memilih untuk menghadirkan program tangga lagu terbaik, sebagai cara untuk mengalihkan kembali minat konsumen radio (Morrisan, 2006). Dengan strategi
program tersebut, radio berhasil menarik kembali minat konsumennya dan bertahan hingga era media baru, yang menggunakan teknologi digital melalui internet.
Pada era media baru, upaya radio untuk mempertahankan eksistensi semakin menghadapi semakin banyak tantangan, seiring dengan semakin banyaknya platform media dan perubahan perilaku konsumennya. Munculnya era media baru, mengantarkan konsumen media pada sensasi pengalaman baru dalam menikmati media. Konsumen media mulai mengenal teknologi audio digital melalui internet dan satelit. Melalui teknologi itu, konsumen dapat memenuhi kebutuhan dan merasakan kepuasan, yang tidak mereka dapatkan dengan radio analog. Konsumen dapat memilih informasi dan hiburan yang mereka butuhkan.
Kemudahan dan pengalaman baru yang menyenangkan itu, kemudian mengantarkan konsumen media pada minat baru, yakni mengkonsumsi media melalui teknologi internet. Akibatnya, konsumen radio mulai terserap oleh internet, yang menawarkan informasi melalui multiplatform yang lebih menarik, mudah dan murah.
Daya magnetis internet tersebut, yang mampu menyerap konsumen media analog berdampak pula pada peminat radio analog di Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari perkembangan konsumen radio di Indonesia yang mulai mengarah pada internet, yang ditunjukkan oleh penelitian Nielson Indonesia ditahun 2017. Survei Nielson menunjukkan penetrasi konsumen radio menduduki peringkat ke-4 dibandingkan media lain. Penetrasi tersebut menunjukkan angka 37% , dengan rata-rata waktu konsumsi 2 jam 14 menit (Nielson, 2017).
Sedangkan pada tahun 2019, survei Nielson menunjukkan bahwa orang Indonesia mendengarkan radio sekitar 2 jam 11 menit per hari. Konsumsi konten tersebut menduduki peringkat ketiga, setelah televisi dan internet. Internet sebagai teknologi baru, mengalahkan radio yang selama ini menjadi media andalan.
Perkembangan konsumen internet semakin pesat, dengan semakin berkembangnya smartphone diberbagai kalangan.
Menurunnya jumlah konsumen, merupakan masalah penting bagi radio, terutama radio swasta. Radio swasta adalah lembaga penyiaran komersial yang dimiliki perorangan atau badan hukum, yang selama ini mengandalkan sumber
dana dari iklan dan atau usaha lain yang sah, terkait dengan penyelenggaraan siaran ( UU No.32 tahun 2002 ). Radio swasta akan lebih mudah mendapatkan masukan iklan dan sumber dana lainnya jika memiliki jumlah konsumen yang banyak. Konsumen adalah salah satu jantung pertahanan radio swasta, yang mempengaruhi jantung pertahanan lainnya yakni modal dan content. Tingginya jumlah konsumen radio akan mempengaruhi pengiklan dan pendapatan radio.
Dengan pendapatan yang baik, radio akan mudah mengelola dan mengembangkan manajemen bisnis maupun program yang berkualitas, termasuk teknis radio.
Untuk itu radio harus melakukan upaya, sebagaimana saat terjadinya perkembangan konsumen televisi diawal lahirnya, yang berhasil menyerap konsumen radio.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengadopsi teknologi internet, menjadi layanan baru bagi konsumen media radio untuk mempertahankan eksistensinya. Dengan adopsi teknologi internet, radio memudahkan konsumennya dalam mengakes siarannya, yang selama ini hanya bisa diakses melalui frekwensi dengan gelombang elektromagnetik. Konsumen bisa mengakses siaran dalam bentuk audio streaming maupun audio-visual streaming dan podcast. Bertambahnya layanan tersebut dimaksudkan untuk memberikan nilai tambah media radio. Melalui integrasi layanan berbasis internet dengan layanan analog, konsumen dapat menikmati siaran radio melalui teknologi analog melalui frekwensi/ FM yang masih layak dipertahankan, dan konsumen dapat juga menikmati siaran melalui internet melalui audio streaming, podcast ataupun audio visual streaming.
Pengembangan layanan radio internet, menjadikan radio sebagai media tradisional akan mendapatkan peluang baru untuk diversifikasi, segmentasi, dan interaktifitas di radio (Noone, 2013). Radio dapat memaksimalkan inovasi dan kreatifitas program, dengan bertambahnya teknologi yang mereka adopsi. Dengan kreatifitas dimaksudkan menarik minat konsumen dan pengiklan, sehingga menghasilkan peluang bisnis baru. Nilai bisnis menjadi pertimbangan radio swasta dalam mengoperasionalkan radio, karena pendapatan utama mereka berasal dari iklan dan sisi bisnis yang mendukung. Hal itu menunjukkan adanya
keterkaitan antara teknologi, administrasi dan bisnis radio yang membentuk siklus.
Teknologi internet menjanjikan banyak kemudahan dan potensi bisnis baru. Pemanfaatan teknologi internet dalam proses produksi dan distribusi pesan radio dianggap mampu meningkatkan citra dan promosi radio secara global.
Portofolio teknologi radio semakin bertambah, sehingga memperbaiki citra radio.
Selain itu, pemanfaatan radio internet dilakukan untuk menghadirkan aktivitas penyiaran secara online, sebagai wujud impelementasi tren kebijakan radio masa depan, yang mengintegrasikan siaran analog dan digital radio. Dengan kebijakan tersebut, radio mampu menjangkau masyarakat tanpa batas. Luasnya jangkauan siaran, akan memperluas pula jaringan pasar dan potensi bisnis radio, yang dewasa ini semakin mengkhawatirkan.
Kondisi radio yang mengkhawatirkan tersebut, tampak pada perbincangan tentang kelangsungan hidup radio, yang semakin banyak memperbincangkan tentang keluhan para pengelola radio swasta yang menghadapi kesulitan (Harliantara, 2019). Kesulitan tersebut dipicu oleh sikap masyarakat yang lebih mempertimbangkan media audio visual dalam sosialisasi produknya. Padahal jasa radio dalam mensosialisasikan produk masyarakat adalah sumber andalan pendapatan radio swasta, untuk mengelola, mengembangkan radio, dan mencapai tujuan radio, yakni mewujudkan visi-misi radio dan merwujudkan kebangkitan ekonomi masyarakat, termasuk menjadi jalan untuk mewujudkan kes ejahteraan sumber daya manusia radio.
Untuk itu, adopsi teknologi menjadi bagian penting dalam eksistensi radio ditengah persaingan media baru. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang tidak terbendung, mendorong radio untuk terus memperbaiki kualitas layanan berbasis teknologi. Teknologi infomasi dan komunikasi seakan mengarahkan perkembangan radio pada pengembangan layanan radio berbasis internet dan digital. Itulah sebabnya strategi adopsi teknologi informasi menjadi kian mendesak sebagai upaya pengembangan alternatif radio sekaligus menjadi terobosan dalam menjawab masalah radio di era media baru. Urgensi tersebut, ditambah lagi dengan masih banyaknya minat masyarakat yang ingin mendirikan radio. Keinginan masyarakat tersebut tidak mungkin terpenuhi seluruhnya, karena
keterbatasan sumber daya alam, yang masih mengandalkan teknologi analog.
Pengembangan teknologi dengan basis internet dan digital, dianggap sebagai solusi dalam menghadapi tingginya minat masyarakat tersebut. Dengan teknologi internet, siapa saja bisa mendirikan radio tanpa melalui spektrum frekuensi.
Radio di Indonesia mulai mengadopsi teknologi internet pada awal tahun 2000. Pada saat itu, mulai banyak konsumen media yang mengakses radio melalui internet, dengan menggunakan komputer. Konsumen tersebut mengakses siaran radio melalui internet dengan menggunakan notebook, tablet maupun komputer rumah. Kini akses radio melalui internet banyak dilakukan melalui smartphone.
Kebiasaan mengkonsumsi siaran radio maupun televisi melalui internet dan satelit, ketika RRI dan Masima Corporation, yang mengelola radio Prambors dan Trijaya Group, dan KBR 68H Jakarta mulai mengadopsi teknologi internet dan satelit dalam mendistribusikan siarannya. KBR 68H adalah radio berita pertama yang juga megintegrasikan siarannya melalui teknologi satelit dan internet. Di Surabaya, terdapat Radio Suara Surabaya, yang mencatat sukses dalam mengintegrasikan siarannya dengan medium online. Kemudian Radio Unisi Yogyakarta adalah radio yang mulai mengadopsi teknologi satelit dalam rangka mendistribusikan siarannya (Masduki, 2005).
Sebagaimana radio swasta lainnya diberbagai kota di Indonesia, radio swasta di Kota Surakarta dan sekitarnya juga melakukan langkah yang sama.
Sekitar 40 radio swasta berijin di Karisidenan Surakarta, berupaya mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dengan mengadopsi teknologi internet. Adopsi teknologi berbasis internet, telah dilakukan untuk mengintegrasikan siaran analog dan internet, sebagai kebutuhan radio dalam mempertahankan eksistensinya. Dengan mengadopsi inovasi audio berbasis internet,yang memiliki keunggulan komparative yang tidak dimiliki oleh teknologi analog, radio berharap dapat menembus batas jangkauan siar, sehingga dapat meningkatkan penetrasi pasar. Untuk itu dengan hadirnya media baru tersebut, menjadi angin segar bagi radio agar dapat eksis ditengah media baru.
Radio mengadopsi teknologi yang dapat diadaptasikan dengan teknologi analog, seperti audio streaming dan audio-visual sreaming. Adopsi teknologi satelit, pernah juga dilakukan oleh radio swasta di Surakarta (MTA). Bahkan radio Metta
FM, radio PTPN dan radio Soloradio mulai menambah layanan siaran dengan teknologi berbasis on demand ( podcast ).
Gambar 1.1
Tampilan Podcast Radio PTPN radio, Radio Soloradio dan Radio Metta Fm pada Platform Spotify
Sumber : PTPNPodcast
(https://open.spotify.com/show/4PzChzRFofjhkqVL3APTqc?
Sora Podcast (https://open.spotify.com/show/6MAIl38RLpPIgdR9cbVOAz)
dan
Me Podcast Yess (https://open.spotify.com/episode/6VnN2qNx2fgB60Mjofynuf)
Gambar 1.2 Tampilan Audio Streaming
Sumber : www.Jogjastreamers.com
Gambar 1.3 Tampilan Audio Streaming
Sumber : onlineradiobox.com
Gambar 1.4
Tampilan Audio visual streaming Radio Metta FM
Sumber : Youtube.com/watch?v=J1ccOjzihlo
Keputusan radio swasta di Surakarta mengadopsi teknologi berbasis internet, diharapkan mampu memberikan nilai lebih bagi radio dalam sisi layanan. Sebab adopsi teknologi informasi dan komunikasi diyakini akan memberikan keuntungan bagi organisasi bisnis dalam skala kecil dan menengah (Athapaththu & Nishantha, 2018). Radio swasta yang beroperasi didaerah, biasanya memiliki skala organisasi menengah dan kecil, dengan struktur organisasi yang sederhana. Kebutuhan radio yang ingin tetap eksis melalui adopsi teknologi bebasis internet tersebut, mendesak radio untuk melakukan adopsi, akibat desakan lingkungan eksternal. Desakan tersebut
diantaranya adalah kebutuhan klien dan keinginan sebagian pendengar yang loyal, dan kompetisi media ditengah munculnya era media baru.
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, dipredksi akan memberikan keuntungan bagi radio swasta daerah yang jauh dari pusat bisnis.
Selama ini kondisi radio yang jauh dari pusat bisnis, terkadang menjadi masalah radio dalam menjangkau belanja iklan, karena minimnya jaringan media buyer maupun terbatasnya keanggotaan asosiasi marketing radio didaerah. Selain itu, pemanfaatan teknologi mutakhir yang diadopsi radio dalam menjalankan operasional program dan bisnisnya, menunjukkan kesungguhan radio swasta didaerah dalam menjalankan misinya. Dengan demikian, adopsi teknologi meningkatkan portofolio radio, yang bermanfaat untuk meyakinkan konsumen atas eksistensi radio ditengah persaingan antar radio swasta di Surakarta dan sekitarnya.
Melihat besarnya manfaat kebijakan adopsi teknologi pada radio swasta, banyak radio yang kemudian berupaya untuk mengikuti langkah radio yang sudah mengadopsi teknologi audio maupun visual berbasis internet, yang sesuai dengan kebutuhan radio. Adopsi inovasi audio dan visual berbasis internet, kian menjadi kebutuhan radio, dalam mempertahankan eksistensi, dan mencapai visi-misi pendirian radio sehingga mampu berkompetisi dengan media lainnya. Namun yang menarik, dibalik keputusan tersebut, radio seringkali kurang memperhatikan langkah penting dalam setiap prosesnya, terutama dalam proses komunikasi dalam adopsi inovasi teknologi. Padahal sebagai institusi yang dekat dengan pemanfaatan teknologi, radio seharusnya memiliki ketrampilan dalam proses adopsi. Untuk itu penelitian ini mengambil judul Adopsi Teknologi Berbasis Internet pada Radio Swasta di Surakarta dalam Menghadapi Kompetisi di Era Media Baru , dengan objek penelitian Radio PTPN Radio, Radio Soloradio dan Radio Metta FM.
B. RUMUSAN MASALAH
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang tidak terbendung, mengantarkan radio pada adopsi inovasi teknologi yang sesuai
dengan kebutuhan radio. Proses adopsi teknologi yang akan terus terjadi pada radio, dalam rangka mempertahankan eksistensi dan menghadapi kompetisi media di era media baru. Untuk itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana proses komunikasi adopsi teknologi berbasis internet pada radio swasta di Surakarta dalam menghadapi kompetisi di era media baru?
2. Bagaimana implikasi adopsi teknologi berbasis internet pada radio swasta di Surakarta, terhadap kinerja radio dalam menghadapi kompetisi diera media baru?
3. Bagaimana implikasi adopsi teknologi berbasis internet pada radio swasta di Surakarta terhadap budaya dan organisasi radio?
C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui proses komunikasi adopsi teknologi berbasis internet pada radio swasta di Kota Surakarta, dalam untuk menghadapi kompetisi di era media baru.
2. Mengetahui implikasi adopsi teknologi berbasis internet pada radio swasta di Surakarta, terhadap kinerja radio dalam menghadapi kompetisi diera media baru
3. Mengetahui implikasi adopsi inovasi teknologi berbasis internet pada radio swasta di Surakarta, terhadap budaya organisasi radio?
D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis
Bagi dunia akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang proses komunikasi dalam proses adopsi inovasi teknologi yang dilakukan radio swasta di Surakarta. Sehingga hasil penelitian ini bisa menambah referensi tentang penelitian radio di Kota Surakarta dan sekitarnya, sebagai kota penting dalam sejarah perkembangan radio di Indonesia.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini bisa memberikan informasi tentang pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam menjalankan operasional radio swasta dalam menghadapi kompetisi di era media baru.