ANALISA RISIKO PADA PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUNAN
BOX CULVERT DI SURABAYA
Nama Mahasiswa : Eka Sari Dewi
NRP : 3107.100.003
Jurusan : Teknik Sipil FTSP - ITS
Dosen Pembimbing : Ir. I Putu Artama Wiguna, MT, Ph.D
M. Arif Rohman, ST, MSc
ABSTRAK
Kebutuhan masyarakat Surabaya akan kenyamanan berlalu lintas sangat dibutuhkan. Kebutuhan tersebut juga diiringi dengan bertambahnya jumlah kendaraan dan keterbatasan kapasitas jalan. Hal-hal tersebut yang menyebabkan Pemerintah Kota Surabaya mengembangkan alternatif penutupan saluran dengan Box Culvert. Pembangunan Box Culvert adalah salah satu pembangunan yang menimbulkan risiko tinggi bagi proyek tersebut maupun lingkungan sekitarnya dibandingkan dengan pembangunan. karena itu diperlukan suatu penanganan khusus sesuai dengan risiko yang menjadi permasalahan pada proyek ini. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan rangkaian analisis risiko pada Proyek Pembangunan Box Culvert di Surabaya.
Secara umum tahapan pada penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu identifikasi, analisa risiko dan respon risiko. Identifikasi dilakukan untuk mencari faktor-faktor risiko yang relevan pada proyek ini. Tahapan ini dilakukan dengan melakukan studi literatur divalidasi dengan survey pendahuluan dengan metode wawancara. Sedangkan analisa risiko ditujukan untuk mengetahui beberapa faktor risiko yang signifikan ditinjau dari aspek waktu dan biaya. Analisa risiko dilakukan terhadap hasil survey utama sebagai tindak lanjut dari survey pendahuluan. Metode yang digunakan dalam analisa adalah Severity Index yang dikombinasikan dengan Matriks Probabilitas-Dampak (Probability-Impact Grid). Respon risiko dilakukan terhadap variabel risiko yang signifikan pada aspek waktu dan biaya. Secara keseluruhan, proses survey dilakukan melalui kombinasi metode wawancara terstruktur dan kuisioner yang melibatkan beberapa stakeholder pada proyek Box Culvert di Surabaya.
Hasil penilitian ini ditemukan empat macam risiko risiko yang signifikan terhadap biaya yaitu banjir, kesalahan estimasi biaya, kemacetan, dan kesalahan menentukan elevasi dan sepuluh risiko yang signikican terhadap waktu yaitu keterlambatan pembayaran oleh owner, banjir, cuaca tidak menentu, kesalahan estimasi biaya, kesalahan estimasi waktu, rendahnya kualitas pengawasan, kekurangan tempat penimbunan material, kemacetan, kebanjiran yang terjadi di sekitar proyek, kesalahan dalam menentukan elevasi.
Kata Kunci : Analisa Risiko, Identifikasi Risiko, Severity Index, Matriks
ProbabilitasDampak, Box Culvert.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Kota Surabaya merupakan daerah yang rawan banjir dan sering terjadi kemacetan. Kondisi jalan di Surabaya dinilai kurang memenuhi kapasitas kendaraan yang
ada, sehingga pada jam-jam kerja (pukul 07.00-17.00) sering terjadi kemacetan. Ketika musim hujan, terdapat banyak jalan–jalan di Surabaya yang tergenang air, bahkan pengendara harus menempuh perjalanan selama setengah jam bahkan satu jam hanya menempuh perjalanan 1 km, seperti di Semolowaru, Banyu Urip, dan Menur.
Apabila hal tersebut tidak ditindaklanjuti, maka kota Surabaya bisa lumpuh baik dari segi transportasi ataupun perekonomian.
Pemkot Surabaya mengatasi masalah yang terjadi di Surabaya dengan merealisasikan program penanggulangan banjir berupa pembangunan box culvert di sepanjang jalan yang sisinya terdapat saluran drainase kota yang berupa saluran primer atau sungai kecil dengan lebar +3 m. Alternatif pembangunan box culvert sepanjang saluran ini sebenarnya tidak sebatas mengatasi banjir. Proyek tersebut diharapkan juga bisa memecahkan masalah kemacetan di wilayah tersebut. Dalam hal mengatasi banjir, u
Proyek pemangunan box
ntuk membangun box culvert, maka sungai akan dikeruk lebih dulu sedalam tiga meter. Hal ini dilakukan untuk menambah kapasitas sungai yang hampir selalu meluber ke jalan ketika terjadi hujan deras.
culvert di sepanjang Surabaya selama tahun 2010 hingga 2011 ini dilaksanakan di 3 kawasan, yaitu Semolowaru, Menur dan Banyu urip. Pembangunan box culvert di tiga kawasan tersebut menghabiskan dana Rp 190 miliar, sedangkan pembebasan lahan dan bangunan rumah milik warga di sana bisa mencapai lebih dari 200 miliar hanya untuk pembebasan lahan saja. Bila menghitung pula biaya pembangunan fisik jalan rayanya, butuh dana hingga Rp 250 miliar.
Pembanguna box culvet di Surabaya sepanjang tahun 2010 hingga 2011 kini, sering sekali mengalami ketelambatan. Saat ini, proyek box culvert yang masih berjalan hingga 2011 ini adalah pembangunan box culvert di Banyu Urip sudah mencapai tahap II
Kondisi jalan Banyu Urip yang letaknya berada di dekat pemukiman warga dan lebar jalan yang cukup sempit yaitu dua lajur lima meter, memungkinkan besarnya pengaruh risiko-risiko yang terjadi. Risiko
adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan, sehigga terjadinya konsekuensi yang tidak diinginkan. Risiko muncul karena ketidakpastian. Maka, pada proyek box culvert Banyu Urip ini, tidak luput juga dari timbulnya risiko. Baik risiko yang telah diidentifikasi terlebih dahulu, maupun risiko yang belum teridentifikasi terlebih dahulu.
Banyu Urip - Simo Pomahan (Simo Jawar) panjangnya sekitar 2.008 m dengan biaya Rp 97,1 miliar. Pada proyek ini, PT Wastika Karya sebagai pemenang tender, menargetkan pembagunan box culvert tahap II ini dapat terselesaikan pada 15 Desember 2010 (sesuai kontrak) . Akan tetapi, sampai pertengahan Desember 2010, PT Wastika karya hanya mampu menyelesaikan sekitar 80% dari total proyek.
Risiko-Risiko yang kemungkinan akan terjadi pada pembangunan box culvert adalah terjadinya longsor, dikarenakan lokasi proyek berada di atas sungai. Pekerjaan terlambat juga merupakan salah satu risiko yang memungkinkan untuk terjadi. Oleh karena itu diperlukan adanya analisa mengenai adanya risiko-risiko yang telah terjadi dan banyaknya kemungkinan-kemungkinan risiko yang akan terjadi pada proyek pembangunan box culvert.
1.3. Tujuan Penilitian
1. Memperoleh variabel-variabel risiko yang berpengaruh dalam pelaksanaan proyek box culvert di Surabaya.
2. Mengetahui risiko-risiko yang signifikan terhadap biaya dan waktu pelaksanaan proyek box culvert di Surabaya.
3. Mengetahui metode penanganan risiko terhadap variabel-variabel risiko yang berpengaruh terhadap pelaksanaan proyek box culvert di Surabaya.
1.4. Batasan Masalah
1. Objek yang dilakukan penelitian adalah proyek pembangunan box culvert yang mempunyai dua fungsi utama yaitu alternatif lajur jalan raya dan saluran drainase. 2. Proyek yang diteliti adalah
proyek di Surabaya selama tahun 2010 hingga 2011 yaitu proyek box culvert di kawasan jalan Semolowaru, jalan Menur, Jalan PA Simo - Simo Jawar, dan Jalan Simo Jawar - Raya Satelit Indah. 3. Risiko yang diidentifikasi dilihat
dari sudut pandang kontraktor. 4. Respon dilakukan terhadap risiko
paling tinggi dan berdampak signifikan terhadap kelangsungan proyek.
1.4. Batasan Masalah
5. Objek yang dilakukan penelitian adalah proyek pembangunan box culvert yang mempunyai dua fungsi utama yaitu alternatif lajur jalan raya dan saluran drainase. 6. Proyek yang diteliti adalah
proyek di Surabaya selama tahun 2010 hingga 2011 yaitu proyek box culvert di kawasan jalan Semolowaru, jalan Menur, Jalan PA Simo - Simo Jawar, dan Jalan Simo Jawar - Raya Satelit Indah. 7. Risiko yang diidentifikasi dilihat
dari sudut pandang kontraktor. 8. Respon dilakukan terhadap risiko
yang kemungkinan terjadinya paling tinggi dan berdampak signifikan terhadap kelangsungan proyek.
1.5. Manfaat Penelitian
1. Dapat mengidentifikasi risiko yang akan terjadi sedini mungkin sehingga dapat mengetahui cara mengelola risiko tersebut dengan baik
2. Dapat mengurangi kerugian yang nantinya akan dialami oleh perusahaan jika risiko yang nantinya akan terjadi sudah direspon dengan baik
3. Dapat menjadi referensi bagi penelitian sejenis yang selanjutnya
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Proyek
Definisi dari kegiatan proyek adalah
suatu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang sasarannya telah ditetapkan dengan jelas. (Soeharto, 1999).
Dari definisi proyek yang telah disebutkan, terlihat ciri pokok proyek, yaitu :
a. Memiliki tujuan khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir.
b. Jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu dalam proses mencapai tujuan diatas telah ditentukan.
c. Bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas. Titik awal dan titik akhir ditentukan dengan jelas.
d. Non-rutin, tidak berulang-ulang. Jenis dan intensitas kegiatan berubah sepanjang proyek berlangsung.
Proyek bersifat unik dan dinamis. Dikatakan unik karena proyek satu dengan proyek lainnya tidak pernah sama. Dan juga bisa dikatakan dinamis karena dinamis dalam penggunaan sumber daya dan multi disiplin keilmuan.
2.2. Box Culvert
2.2.1. Pengertian Box Culvert
Box Culvert adalah sebuah gorong -gorong persegi beton bertulang (Bina Marga, Dept. PU. RI,2002). Pada dasarnya Box Culvert adalah sebuah "pipa" persegi atau persegi panjang yang terbuat dari beton dengan penulangan wair mesh untuk menambah kekuatan beban yang dapat dipikul di atasnya. Beberapa tulangan tersebut disusun ke samping untuk struktur seperti membuat pipa atau terowongan.
2.2.2. Fungsi Box Culvert
Manfaat Box Culvert sebagai
gorong-gorong yaitu digunakan untuk
saluran pembuangan saniter batang,
terowongan utilitas, cekungan penangkap
air, ataupun lorong bawah tanah . Namun,
karena memiliki kekuatan yang besar dari
beton pracetak, Box Culvert juga
digunakan sebagai perangkat yang
digunakan untuk menyalurkan air yang
memungkinkan air untuk melewati sebuah
jalan, kereta api, atau bendungan.
Sehingga saluran yang tertutup sehingga
bagian atasnya sering dimanfaatkan
sebagai jembatan atau jalan raya.
Kontruksi Box Culvert yang dibuat dari
beton bertulang direncanakan dapat
menampung berbagai variasi lapisan
aspal. (Bina Marga, Dept. PU. RI, 2002).
2.2.3. Dimensi Box Culvert
Standart Ukuran Box Culvert
menurut PT. Lisa Concrete Indonesia (2007) :
Gambar 2.1. Dimensi box Culvert Tabel 2.1 Dimensi standart Box Culvert
( sumber : PT. Lisa Concrete Indonesia, 2007)
2.2.4. Proses Pemasangan Box Culvert
Langkah-langkah pengerjaan box culvert in – situ (cor ditempat), secara garis besar diurutkan sebagai berikut : (Bina Marga, Dept. PU. RI,2002)
1. Pembersihan lahan. 2. Penggalian tanah. 3. Pemadatan tanah. 4. Pemasangan lantai kerja.
5. Persiapan – persiapan bahan dan material yang diperlukan.
6. Persiapan – persiapan pembesian. 7. Pemasangan bekisting
8. Perakitan tulangan 9. Pengecoran
10. Perawatan dan pembukaan Bekisting.
Langkah-langkah pengerjaan box culvert beton pracetak, secara garis besar diurutkan sebagai berikut : (Lisa Concrete Indonesia, 2007)
1. Pembersihan lahan.
2. Penggalian tanah.
3. Pemasangan terucuk bambu 4. Urugan sirtu ( padat untuk
pemadatan dasar tanah
5. pemasangan lantai kerja ( rabat beton ) tebal 5 cm
6. Pemasangan Box Culvert ( fabrikasi )
2.3. Risiko
Pemahaman konsep risiko merupakan dasar yang penting untuk memahami konsep dan teknik manajemen risiko. Oleh karena itu dengan mempelajari definisi yang diperoleh dari berbagai literatur diharapkan mampu memberikan pemahaman mengenai konsep risiko.
Risiko merupakan peristiwa tidak pasti yang bila terjadi memiliki pengaruh negatif terhadap minimal satu tujuan proyek yaitu waktu, biaya, ruang lingkup, mutu (Cahyadi, 2007). Risiko mungkin memiliki satu atau lebih penyebab, yang bila terjadi memiliki satu atau lebih dampak. Resiko juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu atau peluang yang kemungkinan terjadi dan berdampak pada pencapaian sasaran.
Risiko beragam jenisnya, mulai dari risiko kecelakaan, kebakaran, risiko kerugian, fluktuasi kurs, dan lainnya. Salah satu cara untuk mengelompokkan risiko adalah dengan melihat tipe-tipe risiko. Berdasarkan pada karakterisitk dasar, risiko dibagi menjadi risiko murni dan risiko spekulatif. (Alijoyo, 2006)
a. Risiko Murni (Pure Risks)
Risiko murni mengacu pada risiko yang dapat diamati dan diukur secara fisik, dan umumnya disebabkan oleh penyebab alami, seperti gempa bumi, kebakaran, banjir, dan sejenisnya. Asuransi biasanya sering berurusan dengan risiko murni.
b. Risiko Spekulatif
Risiko spekulatif mengacu pada risiko yang tidak dapat diamati dan diukur secara fisik. Dimana risiko spekulatif ini kita mengharapkan terjadinya kerugian dan juga keuntungan.
Potensi kerugian dan keuntungan dibicarakan dalam jenis risiko ini.
Contoh tipe risiko ini adalah usaha bisnis. Dalam kegiatan bisnis, kita mengharapkan keuntungan, meskipun ada potensi kerugian. Kerugian akibat risiko spekulatif akan merugikan individu tertentu, tetapi akan menguntungkan individu lainnya.
2.4. Manajemen Risiko
Manajemen resiko adalah proses pengukuran atau penilaian resiko serta pengembangan strategi pengelolaannya (Cahyadi, 2007). Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan resiko kepada pihak lain, menghindari resiko, mengurangi efek negatif resiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi resiko tertentu.
Manajemen risiko pada dasarnya dilakukan melalui proses-proses tersebut di bawah ini, yaitu : (PMBOK, 2004)
1. Rencana manajemen risiko (Risk management planning)
2. Identifikasi risiko (Risk identification)
3. Analisa risiko secara kualitatif (Qualitative risk analysis)
4. Analisa risiko secara kuantitatif (Quantitative risk analysis)
5. Rencana respon risiko (Risk response planning)
6. Pengawasan dan kontrol risiko (Risk monitoring and control)
2.4.1. Rencana manajemen risiko (Risk
Management Planning)
Perencanaan manajemen risiko
yaitu roses memutuskan bagaimana
RiskManagement Planning (Perencanaan Pengelolaan Risiko) adalah proses untuk menentukan bagaimana pendekatan dan rencana aktivitas pengelolaan risiko pada suatu proyek. Adalah penting bahwa proses-proses pengelolaan risiko untuk memastikan bahwa tingkat, jenis dan peninjauan pengelolaan risiko adalah sepadan dengan risiko dan kepentingan dari proyek terhadap organisasinya (PMI, 2004).
Prosedur yang dilakukan untuk merencanakan manajemen risiko yaitu :
• Memastikan tingkat, tipe, dan
visibilitas manajemen risiko yang
setara dengan risiko dan kepentingan proyek bagi organisasi
• Menyediakan sumberdaya dan
waktu yang memadai untuk aktivitas manajemen risiko
• Menetapkan basis yang disepakati
untuk mengevaluasi risiko.
2.4.2. Identifikasi risiko (Risk
identification)
Proses ini meliputi identifikasi
resiko yang mungkin terjadi dalam suatu
aktivitas usaha. Identifikasi resiko secara
akurat dan komplit sangatlah vital dalam
manajemen resiko. Salah satu aspek
penting dalam identifikasi resiko adalah
mendaftar resiko yang mungkin terjadi
sebanyak mungkin. Teknik pengumpulan
informasi pada identifikasi risiko meliputi
: (PMBOK, 2004)
a. Brainstorming
b. Survei
c. Wawancara
d. Informasi histori
e. Kelompok kerja
2.4.3.1. Konsep Probabilistik Sederhana
Alijoyo (2006), sebuah pendekatan yang dikembangkan menggunakan dua kriteria yang penting untuk mengukur risiko, yaitu:
1. Kemungkinan (Probability), adalah kemungkinan dari suatu kejadian yang tidak diinginkan. 2. Dampak (Impact), adalah tingkat
pengaruh atau ukuran dampak pada aktivitas lain, jika peristiwa yang tidak diinginkan terjadi. Tingkat risiko merupakan perkalian dari skor probability dan skor impact yang didapat dari responden . Nilai risiko dan peluang merupakan perkalian dari skor probabilitas (probability) dan skor konsekuensi (consequences), konsekuensi negatif untuk ancaman dan positif untuk peluang yang didapat dari responden. Untuk mengukur risiko, menggunakan rumus : (Hillson, 2002)
Dimana :
R = Tingkat Risiko
P = Kemungkinan (Probability) risiko yang terjadi
I = Tingkat dampak (Impact) risiko yang terjadi
Setelah mengetahui frekuensi jumlah kejadian dan dampak dari suatu risiko, dapat diplotkan pada matriks frekuensi dan dampak untuk mengetahui risiko mana yang kemungkinan terjadinya besar dan berdampak besar bagi proyek tersebut. Hanafi (2009) menjelaskan salah satu contoh matriks risiko seperti pada gambar 2.5.
Likelihood Consequence 1 2 3 4 5 1 L L M S S 2 L L M S H 3 L M S H H 4 M S S H H 5 S S H H H
Gambar 2.1. Matriks berdasarkan Frekuensi /
Severity Sumber : Hanafi, 2009
Penjelasan untuk setiap wilayah tersebut adalah seperti berikut :
a. H : Severity tinggi dan frekuensi tinggi (warna merah). Untuk wilayah ini, perusahaan harus melakukan penanganan atau antisipasi agresif dan sesegera mungkin (immediate action). b. S : Severity tinggi dan frekuensi
agak tinggi (jingga).
Untuk wilayah ini,perusahaan harus segera mengawasi risiko ini (immediate attention)
c. M : Severity agak tinggi dan frekuensi agak tinggi (warna kuning).Untuk wilayah ini, perusahaan bisa melakukan pengawasan secara berkala (periodic attention)
d. L : Severity rendah dan frekuensi rendah (warna hijau ).Untuk wilayah ini, perusahaan bisa lebih longgar, yaitu melakukan pengawasan dengan jangka waktu panjang, misalnya tahunan.
2.4.4. Respon risiko (Risk Respons)
Perencanaan respon risiko yaitu proses mengembangkan pilihan dan menentukan tindakan untuk meningkatkan kesempatan dan mengurangi ancaman terhadap tujuan proyek.
Tersedia beberapa macam strategi dalam menentukan respon risiko. Berikut ini adalah beberapa strategi untuk menghadapi risiko-risiko negatif atau ancaman : (PMBOK,2004)
1. Avoid : penghindaran risiko melibatkan perubahan rencana manajemen untuk menghilangkan ancaman oleh risiko merugikan, mengisolasi tujuan proyek dari dampak risiko, atau mengendurkan tujuan yang dalam bahaya.
2. Transfer : pemindahan risiko mensyaratkan penggantian penerima dampak negatif dari pemilik ke pihak ketiga.
3. Mitigate : pengurangan peluang dan atau dampak peristiwa berisiko merugikan ke ambang/ batas yang dapat diterima
4. Share : Alokasi kepemilikan kepada pihak ke tiga yang memiliki kemampuan terbaik menangkap peluang manfaat proyek. Contoh: special purposes company, joint venture.
2.6. Penelitian Terdahulu
Penelitian identifikasi risiko pada suatu proyek pernah diteliti sebelumnya oleh Paramastri (2009) dengan judul tugas akhir tentang ”analisis risiko pada proyek pembangunan apartemen the pakubuwono view Jakarta”. Penelitian ini membahas mengenai identifikasi risiko yang terjadi dalam pelaksanaan proyek di gedung meliputi frekuensi terjadinya risiko, dan dampaknya terhadap waktu, biaya, dan mutu, serta respon yang dilakukan terhadap risiko yang terjadi.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dimana pengumpulan datanya diperoleh dari penyebaran kuisioner. Dari hasil penyebaran data diolah dengan menggunakan analisa deskriptif yang kemudian di plot ke dalam diagram scatter plot. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat
17 item risiko yang diidentifikasi dalam pelaksanaan gedung dan yang btertinggi adalah pengaruh risiko terhadap waktu.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian
Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini bersifat memberi gambaran mengenai situasi atau kejadian, gambaran terhadap fenomena, menerangkan hubungan, menguji hipotesis, membuat prediksi serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang akan dipecahkan.
Pada penelitian ini akan digunakan metode survey kuesioner dengan cara mrenjaring pendapat atau presepsi, pengalaman dan sikap responden mengenai faktor-faktor risiko yang mempengaruhi dalam pelaksanaan proyek dan bentuk-bentuk penanganan yang dilakukan untuk mengantisipasi risiko yang terjadi pada proyek Box Culvert di Surabaya.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah pihak–pihak yang terlibat dalam proyek-proyek pelaksanaan pembangunan box culvert di Surabaya. Obyek dalam penelitian ini ialah proyek box cuvert Surabaya sepanjang tahun 2010-2011,sebagai berikut :
Tabel 3.1.Proyek Box Culvert 2010-2011 di Surabaya
Paket Volume Nilai Pekerjaan Pekerjaan Kontrak
1 1520 m PT Waskita Karya
2 650 m PT. Media Cipta Perkasa
3 469 m PT. Putra Negara
4 310 m PT. Media Cipta Perkasa
5 605 m PT. Busur Kencono No 5,412,364,981.00 Rp Kontraktor 12,850,837,521.00 Rp 3,987,250,675.00 Rp 1,476,732,083.00 Rp 1,053,178,231.00 Rp Pembuatan Box Culvert Tipe 2 Jl.
Semolowaru
Pembuatan Box Culvert Tipe 1 Jl. Semolowaru
Pembuatan Box Culvert Tipe 1 Jl. Menur Pumpungan - Klampis Pembuatan Box Culvert Tipe 1 Saluran Banyu Urip Avoor Simo Pembuatan Box Culvert tipe 2 Saluran Saluran Tepi Jl. Banyu Urip Avoor Simo s/d Darmo Staelit
(Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan, 2011) Karena keterbatasan jumlah populasi maka Jumlah populasi dalam penelitian ini sekaligus menjadi jumlah sampel yang akan diteliti. Dan responden yang dituju sebagai sampel adalah manger proyek atau level yang bertanggung jawab atas jalannya proyek.
3.3 Variabel Penelitian
Variabel yang didapat dari hasil studi pustaka dapat berbentuk jurnal dan buku-buku yang mempunyai pokok bahasan mengenai identifikasi risiko. Dimana variabel tersebut yang akan digunakan dalam penyusunan kuisioner selanjutnya.
3.4. Data Penelitian
Data adalah fakta atau fenomena yang sifatnya mentah atau belum dianalisis, seperti angka, nama, keterangan, dan sebagainya. Dalam studi ini diperlukan data-data untuk mendukung keakuratan dari hasil penelitian ini.
3.5.1 Jenis Data
Ada beberapa jenis data yang digunakan dalam studi kasus proyek ini, yaitu jenis data primer dan data sekunder.
3.5.1.1. Data Primer
Data primer didapat berdasarkan data hasil wawancara responden, dan didapatkan dari hasil wawancara yaitu :
a. Identifikasi risiko yaitu jenis-jenis risiko yang diprediksi terjadi pada proyek pembangunan Box Culvert di Surabaya
b. Besar probabilitas terjadinya risiko, dampaknya terhadap waktu, biaya dan mutu serta tingkat risiko konstruksi menurut kontraktor pelaksana.
c. Respon risiko dari risiko terbesar yang dapat terjadi pada pada proyek pembangunan Box Culvert di Surabaya
Dan responden yang dituju sebagai
sampel adalah manger proyek atau level yang bertanggung jawab atas jalannya proyek.
3.5.1.2. Data Sekunder
Data sekunder yang digunakan adalah studi literatur yang termuat dalam buku-buku, jurnal, dan berbagai media yang berhubungan dengan topik yang diteliti yaitu : a. Data variabel-variabel risiko yang
didapat dari study literature. b. Data proyek yang ditinjau.
3.6. Pengolahan Data dan Analisa
Analisa data dilakukan dengan menggunakan program komputer dan disajikan dalam bentuk kalimat, tabel, serta grafik.
3.6.1. Analisa Variabel Risiko
Analisa ini digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang relevan. Faktor-faktor risiko ini akan bertambah yang berasal dari pengalaman para responden dan tidak tercantum dalam studi literatur. Dari data didapatkan variabel risiko tersebut relevan atau tidak relevan terjadi pada proyek. Data tersebut didapat dari beberapa responden, untuk mendapatkan hasil yang mewakili jawaban dari beberapa responden dilakukan analisa dengan menggunakan skala Guttman. (Sugiyono, 2007)
3.6.2. Analisa Probabilitas dan Dampak
Dilakukan analisa untuk mengetahui tingkat besaran atau probabilitas terjadinya risiko dan dampaknya terhadap kelangsungan proyek yaitu biaya, waktu, mutu serta respon risiko yang dilakukan. Data yang didapat dari kuesioner bagian 2 dianalisa untuk mendapatkan hasil yang mewakili dari beberapa responden. Langkah awal adalah melakukan analisa menggunakan severity index lalu mengkategorikannya berdasarkan besar probabilitas dan dampaknya.
Severity Index dihitung menggunakan rumus sebagai berikut : (Al-Hammad, 2000)
(
100%)
4 4 0 4 0 i i i i i x x a SIΣ
Σ
= = = Dimana, ai x = konstanta penilaian i i = 0, 1, 2, 3, 4, ..., n = probabilitas responden x0, x1, x2, x3, x4 a , adalah respon probabilitas responden 0 = 0, a1 = 1, a2 = 2, a3= 3, a4 x = 40 =probabilitas responden ‘sangat
rendah/kecil’ dari survey, maka
a0
x
= 0
1 =probabilitas responden
‘rendah/kecil’ dari survey, maka
a1
x
= 1
2 =probabilitas responden ‘cukup
tinggi/besar’ dari survey, maka
a2
x
= 2
3 = probabilitas responden
‘tinggi/besar’ dari survey, maka
a3
x
= 3
4 =probabilitas responden ‘sangat
tinggi/besar’ dari survey, maka
a4 = 4
Sangat Rendah / Kecil (SR/SK) 0.00 ≤ SI < 12.5
Klasifikasi dari skala penilaian pada probabilitas dan dampak adalah sebagai berikut: (Majid dan McCaffer, 1997)
Rendah / Kecil (R/K) 12.5 ≤ SI < 37.5 Cukup/Sedang (C) 37.5 ≤ SI < 62.5 Tinggi / Besar (T/B) 62.5 ≤ SI < 87.5 Sangat Tinggi / Besar (ST/SB)
87.5 ≤ SI < 100
3.6.3. Analisa Risiko
Setelah diketahui risiko-risiko mana saja yang telah terjadi pada proyek Rusunami Kebagusan City ini, lalu dilanjutkan dengan analisa risiko yang menggunakan matriks probabilitas dan dampak. Dimana untuk mengukur probability dan impact kejadian item-item risiko digunakan skala Likert, yaitu :
Sangat Rendah / Kecil (SR/SK)
Rendah / Kecil (R/K)
Cukup Tinggi / Besar (CT/CB)
Tinggi / Besar (T/B)
Sangat Tinggi / Besar (ST/SB)
Proses pengerjaan matriks probabilitas dan dampak adalah dengan cara memplotkan nilai risiko yang telah didapat kedalam matriks. Matriks
merupakan analisa kualitatif yang bertujuan untuk memberikan level pada tiap risiko yang terjadi. Level risiko dibagi menjadi 4 tingkat sesuai matriks risiko dari PMBOK, yaitu High, Significant, edium, Low. Matriks ini menghubngkan dampak dan frekuensi dari risiko tersebut.Dari kombinasi tiap angka, akan didapat level risiko tiap variabelnya
Setelah itu didapat nilai yang dijadikan acuan untuk mengetahui
risiko-risiko mana saja yang kemungkinan terjadinya besar dan menimbulkan dampak yang signifikan.
3.6. Respon Risiko
Untuk mengetahui bagaimana respon yang ditentukan pada suatu risiko dilakukan wawancara/ Interview terhadap beberapa responden yang telah dipilih sebelumya mengenai respon risiko terhadap risiko-risiko yang telah didapatkan dari analisa risiko sebelumnya. Variabel risiko yang direspon hanya pada risiko pada kategori tinggi, yang
merupakan risiko yang kemungkinan
terjadinya paling tinggi dan berdampak paling besar. Cara-cara penanganan risiko terdiri dari 4 cara, yaitu:
Untuk mengetahui bagaimana respon yang ditentukan pada suatu risiko juga dilakukan penyebaran kuisioner tahap III pada responden yang telah terpilih sebelumnya. Cara-cara penanganan risiko terdiri dari 4 cara, yaitu :
1. Menghindari Risiko ( Risk Avoidanc )
2. Mereduksi (Pengurangan Risiko) 3. Share/ Retensi Risiko ( Risk
Retention / Absorbtion) 4. Transfer Risiko ( Risk
Transfer)
Metode analisanya adalah dengan cara analisa statistik deskriptif. Mendeskripsikan terlebih dahulu persepsi masing-masing responden, lalu setelah mengambil kesimpulan dari persepsi masing-masing responden didapat penanganan yang sesuai dengan risiko tersebut.
3.7. Diagram Alir Metode Penelitian
Tahapan-tahapan penelitian tersebut dapat dilihat pada gambar 3.1.
Berikut adalah tahapan-tahapan penelitian ini :
1. Merumuskan latar belakang dari penelitian Tugas Akhir ini.
2. Merumuskan masalah yang akan diselesaikan pada penelitian Tugas Akhir ini.
3. Mempelajari studi literatur pada proyek sejenis untuk mendapatkan variabel – variabel risiko awal yang
terjadi pada proyek pelaksanaan pembangunan box culvert .
4. Melakukan pengumpulan data berupa survey pendahuluan untuk menetapkan risiko-risiko yang terjadi pada proyek box culvert di Surabaya. 5. Mengidentifikasi risiko-risiko dengan
melakukan uji validitas danreliabilitas pada variabel risiko pada tahap survey pendahuluan.
6. Menganalisa risiko menggunakan cara memperkirakan frekuensi terjadinya risiko tersebut dan dampak dari risiko dengan instrument kuisioner utama.
7. Untuk memilih respon risiko dilakukan pula wawancara terhadap responden yang sebelumnya terpilih dan juga mempelajari dokumen-dokumen proyek lainnya seperti Risk Register.
8. Menyimpulkan dan menyarankan hasil dari penelitian Tugas Akhir ini kepada pihak-pihak yang terkait. Tahapan-tahapan penelitian tersebut dapat dilihat lebih jelas dalam bagan alir berikut ini. A Study Literatur Perumusan Masalah Latar Belakang Tujuan Penelitian
Identifikasi Jenis Risiko
Survey Pendahuluan Identifikasi Risiko yang Relevan Instrument : Kuisioner Utama Respon Risiko
Kesimpulan dan Saran Analisa risiko • Severuty Index • Probabilitas dan Dampak (PxI) • Risk Levelling Instrument : Experd Judgement
BAB IV
DATA DAN ANALISA
Perusahaan-perusahaan kontraktor
yang dipilih adalah perusahaan yang telah menangani pembangunan proyek pembangunan Box Culvert dengan dua fungsi utama yaitu sebagai jalan dan saluran drainase. Beberapa perusahaan kontraktor tersebut adalah PT. Media Cipta Perkasa, PT. Waskita Karya, PT. Putra Negara, dan PT. Busur Kencono.. Nama perusahaan dan alamat perusahaan dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 1. Daftar Nama Kontraktor pelaksana proyek Box Culvert di Surabaya
4.1.
Identifikasi Risiko
Berdasarkan hasil identifikasi dari beberapa literatur, diketahui beberapa risiko risiko yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan proyek konstruksi.Hasil identifikasi risiko dari beberapa sumber literatur ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1: Identifikasi Risiko Awal
Berdasarkan hasil identifikasi risiko awal tersebut selanjutnya dilakukan Survey Pendahuluan untuk memvalidasi variabel-variabel tersebut.Data hasil Survey Pendahuluan ini selanjutnya diolah dengan menggunakan skala Guttman . untuk mengetahui variabel risiko yang relevan pada proyek Box Culvert.
Berikut adalah salah satu contoh analisa dari hasil survey pendahuluan dengan menggunakan Skala Guttman. Survey dilakukan terhadap 5 orang responden dalam satu kontraktor. Dari 5 orang responden setelah dilakukan analisa misalnya :
1 orang menjawab Relevan 4 orang menjawab Tidak Relevan Berdasarkan skor yang telah ditetapkan dapat dihitung sebagai berikut. Jumlah skor untuk 1 orang yang menjawab Relevan (R) = 1 x 2 = 2. Jumlah skor untuk 4 orang yang menjawab Tidak Relevan (TR) = 4 x 1 = 4. Dan Jumlah total = 6. Jumlah skor ideal untuk seluruh item = 5 x 2 = 10 (jika semua menjawab Relevan). Dan jika semua menjawab tidak relevan skornya adalah 5. Sedangkan skor yang diperoleh dari penelitian = 6.
Jadi berdasarkan data yang diperoleh dari 5 responden maka skor 6 terletak pada daerah Relevan. Dari analisa diatas diketahui bahwa jika satu responden saja yang menyatakan risiko tersebut relevan, maka risiko tersebut dinyatakan relevan atau variabel risiko tersebut mungkin dapat terjadi pada proyek. Selanjutnya hasil analisa secara keseluruhan terhadap variabel yang relevan dapat dilihat pada Tabel 2.
Di samping itu survey pendahuluan ini dimaksudkan untuk mendapatkan variabel-variabel risiko lain di luar yang telah diidentifikasi sebelumnya. Responden dapat memberikan atau menambah variabel risiko yang mungkin dapat terjadi pada proyek. Berikut adalah beberapa tambahan variabel risiko yang didapatkan dari hasil
Paket Volume Nilai Pekerjaan Pekerjaan Kontrak
1 1520 m PT Waskita Karya
2 650 m PT. Media Cipta Perkasa
3 469 m PT. Putra Negara
4 310 m PT. Media Cipta Perkasa
5 605 m PT. Busur Kencono No 5,412,364,981.00 Rp Kontraktor 12,850,837,521.00 Rp 3,987,250,675.00 Rp 1,476,732,083.00 Rp 1,053,178,231.00 Rp Pembuatan Box Culvert Tipe 2
Jl. Semolowaru
Pembuatan Box Culvert Tipe 1 Jl. Semolowaru
Pembuatan Box Culvert Tipe 1 Jl. Menur Pumpungan - Klampis Pembuatan Box Culvert Tipe 1 Saluran Banyu Urip Avoor Simo Pembuatan Box Culvert tipe 2 Saluran Saluran Tepi Jl. Banyu Urip Avoor Simo s/d Darmo Staelit
A
1 Ketidakpatian pasal-pasal dalam kontrak Soeharto, 2002
2 Pasal-pasal yang kurang lengkap Soeharto, 2002
3 Perbedaan inteprestasi spesifikasi antara owner dengan kontraktor Soeharto, 2002
4 Dokumen-dokumen yang kurang lengkap Soeharto, 2002
5 Keterlambatan pembayaran oleh owner Soeharto, 2002
6 Pemutusan kerja secara sepihak oleh owner Soeharto, 2002 7 Perselisihan antara owner dengan kontraktor Soeharto, 2002
B
8 Kebakaran Djojosoedarso, 2003
9 Banjir Soemarno, 2007
10 Tanah longsor Soemarno, 2007
11 Gempa bumi Soemarno, 2007
12 Badai Soemarno, 2007
13 Cuaca tidak menentu PMI, 2004
C
14 Perubahan prioritas dalam program yang sudah berjalan S.M. Mousavi et al, 2011
15 Kesalahan estimasi waktu Soeharto, 2002
16 Kesalahan estimasi biaya Soeharto, 2002
17 Kurangnya kontrol dan koordinasi dalam tim S.M. Mousavi et al, 2011 18 Adanya miss komunikasi antar sesama perangkat pada proyek Dewanta, 2011
D
19 Kekurangan jumlah tenaga kerja djojosoedarso, 2003
20 Pemogokan tenaga kerja Soemarno, 2007
21 Terjadinya kecelakaan kerja Soeharto, 2002
22 Staff yang kurang berpengalaman S.M. Mousavi et al, 2011
23 Produktivitas tenaga kerja yang rendah S.M. Mousavi et al, 2011
E
24 Pemesanan material yang terlambat Soemarno, 2007
25 Kurangnya peralatan Soemarno, 2007
26 Volume material yang dikirim jumlahnya tidak tepat S.M. Mousavi et al, 2011
27 Kenaikan harga material PMI, 2004
28 Keterlambatan material dari supplier Soeharto, 2002
29 Kekurangan tempat penyimpanan material Soeharto, 2002
30 Kekurangan tempat penimbunan material sisa Soeharto, 2002
31 Kerusakan peralatan Soemarno, 2007
F
32 Kemacetan PMI, 2004
33 Kebanjiran yang terjadi di sekitar proyek Soeharto, 2002
34 Pencurian Soemarno, 2007
35 Perbedaan kondisi tanah PMI, 2004
G
36 Kesulitan penggunaan teknologi baru S.M. Mousavi et al, 2011
37 Metode pelaksaan yang salah S.M. Mousavi et al, 2011
38 Perubahan Desain S.M. Mousavi et al, 2011
39 Ketidaksempurnaan Desain S.M. Mousavi et al, 2011
40 Kegagalan menerjemahkan desain awal ke desain akhir S.M. Mousavi et al, 2011
41 Desain tidak sesuai spesifikasi S.M. Mousavi et al, 2011
DESAIN DAN TEKNOLOGI MATERIAL DAN PERALATAN MANAJEMEN
TENAGA KERJA
No Faktor-Faktor Risiko Sumber Kepustakaan
SITE
KONTRAKTUAL
Survey Pendahuluan seperti dapat dilihat pada Tabel 3.
Selanjutnya hasil dari survey pendahuluan di atas akan dipakai sebagai variabel dalam kuisioner utama untuk mendapatkan nilai probabilitas dan dampak dari setiap variabel. Penilaian nilai probabilitas dan dampak ini selanjutnya akan dipakai dalam tahapan analisa risiko.
Tabel 2. Analisa Variabel Relevan
Keterangan :
R = Variabel Risiko yang Relevan
TR = Variabel risiko yang tidak
relevan
Responden juga memberikan atau menambah variabel risiko yang mungkin dapat terjadi pada proyek. Berikut tambahan variabel risiko yang disajikan dalam Tabel 3 :
Tabel 3.Tambahan Variabel Risiko
dari Responden
Variabel Sumber
Kontrak pembayaran termin Kontraktual Rendahnya Kualitas Pengawasan Tenaga Kerja Kesalahan dalam menentukan
elevasi
Desain dan Teknologi
(Sumber : Hasil pengolahan data)
Perhitungan Nilai Probabilitas dan Dampak dengan Severity Index
Tahap analisa risiko dimulai dengan melakukan Survey Utama untuk mendapatkan nilai probabilitas dan dampak dari setiap variabel yang relevan sebelumnya. Sama halnya dengan Survey Pendahuluan, pada survey ini juga dilakukan kusioner dan wawancara (face-to-face interview) dengan kelima responden yang sama sebelumnya.
Selanjutnya hasil Survey Utama dianalisa dengan menggunakan Metode Severity Index (SI). Tujuannya adalah mendapatkan hasil kombinasi penilaian probalitas dan dampak risiko terhadap aspek waktu dan biaya.
Berikut ini contoh perhitungan menggunakan metode Severity Index (SI). Dari data yang didapat dari kuesioner
utama, penilaian responden terhadap
frekuensi terjadinya variabel risiko “Perubahan Desain”, yaitu 2 responden menyatakan bahwa frekuensi terjadinya rendah, 2 responden menyatakan bahwa frekuensi terjadinya cukup atau sedang, dan 1 responden menyatakan bahwa frekuensi terjadinya risiko tersebut tinggi.
MATERIAL DAN PERALATAN
26 Pemesanan material yang terlambat 5 0 10 R
27 Kurangnya peralatan 5 0 10 R
28 Volume material yang dikirim jumlahnya tidak tepat 5 0 10 R
29 Kenaikan harga material 4 1 9 R
30 Keterlambatan material dari supplier 5 0 10 R
31 Kekurangan tempat penyimpanan material 5 0 10 R
32 Kekurangan tempat penimbunan material sisa 5 0 10 R
33 Kerusakan peralatan 5 0 10 R
SITE
34 Kemacetan 5 0 10 R
35 Kebanjiran yang terjadi di sekitar proyek 5 0 10 R
36 Pencurian 5 0 10 R
37 Perbedaan kondisi tanah 5 0 10 R
DESAIN DAN TEKNOLOGI
38 Kesulitan penggunaan teknologi baru 5 0 10 R
39 Metode pelaksaan yang salah 5 0 10 R
40 Perubahan Desain 5 0 10 R
41 Ketidaksempurnaan Desain 5 0 10 R
42 Kegagalan menerjemahkan desain awal ke desain akhir 5 0 10 R
44 Desain tidak sesuai spesifikasi 5 0 10 R
45 Kesalahan dalam menentukan elevasi 1 4 6 R
(
)
% 100 4 1 0 1 0 i i i i i x x a SIΣ
Σ
= = =(
100%)
) 5 ( 4 )) 0 4 ( ) 1 3 ( ) 2 2 ( ) 2 1 ( ) 0 0 (( x x x x x x SI= + + + +(
100%)
20 ) 3 4 2 ( + + = SI % 45 = SI Tidak Relevan KONTRAKTUAL1 Ketidakpatian pasal-pasal dalam kontrak 5 0 10 R
2 Pasal-pasal yang kurang lengkap 5 0 10 R
3 Perbedaan inteprestasi spesifikasi antara owner dengan kontraktor 5 0 10 R
4 Dokumen-dokumen yang kurang lengkap 5 0 10 R
5 Keterlambatan pembayaran oleh owner 5 0 10 R
6 Pemutusan kerja secara sepihak oleh owner 5 0 10 R
7 Perselisihan antara owner dengan kontraktor 5 0 10 R
8 Kontrak pembayaran termin 1 4 6 R
FORCE MAJURE 9 Kebakaran 0 5 5 TR 10 Banjir 5 0 10 R 11 Tanah longsor 4 1 9 R 12 Gempa bumi 3 2 8 R 13 Badai 3 2 8 R
14 Cuaca tidak menentu 5 0 10 R
MANAJEMEN
15 Perubahan prioritas dalam program yang sudah berjalan 4 1 9 R
16 Kesalahan estimasi waktu 5 0 10 R
17 Kesalahan estimasi biaya 5 0 10 R
18 Kurangnya kontrol dan koordinasi dalam tim 5 0 10 R
19 Adanya miss komunikasi antar sesama perangkat pada proyek 5 0 10 R
TENAGA KERJA
20 Kekurangan jumlah tenaga kerja 5 0 10 R
21 Pemogokan tenaga kerja 5 0 10 R
22 Terjadinya kecelakaan kerja 5 0 10 R
23 Staff yang kurang berpengalaman 5 0 10 R
24 Produktivitas tenaga kerja yang rendah 5 0 10 R
25 Rendahnya Kualitas Pengawasan 1 4 6 R
Relevan Ket.
No Faktor-Faktor Risiko Skor
Didapatkan nilai SI bernilai 45%. Selanjutnya nilai SI ini dikonversikan terhadap Skala penilaian P sebagai berikut:
SR : Sangat Rendah
R : Rendah
C : Cukup/Sedang
T : Tinggi
ST : Sangat Tinggi
Sedangkan kriteria penetapan skala I terhadap waktu adalah sebagi berikut:
SR : Sangat Rendah
R : Rendah
C : Cukup/Sedang
T : Tinggi
ST : Sangat Tinggi
Sedangkan keterangan skala pada I terhadap biaya adalah sebagai berikut :
SR : Sangat Rendah
R : Rendah
C : Cukup/Sedang
T : Tinggi
ST : Sangat Tinggi
Berdasarkan kategori di atas maka kategori probabilitas dari variabel risiko “Perubahan Desain” adalah cukup atau sedang. Contoh hasil penilaian terhadap nilai P untuk seluruh variabel dengan menggunakan Metode SI dapat dilihat pad
Tabel 4.
Tabel 4. Penilaian Probabilitas
Keterangan :
Kolom a = nomor variabel Kolom b = jenis variabel risiko Kolom c = jumlah responden yang memilih skala probabilitas
Kolom d = total jumlah responden
Kolom e = hasil analisa menggunakan SI
Kolom f = kategori dari SI Dengan cara yang sama dapat dilakukan pula perhitungan nilai I terhadap aspek biaya dan waktu.
Perhitungan Nilai Tingkat Risiko
Selanjutnya sebelum melakukan analisa risiko, kategori risiko yang didapat sebelumnya dirubah atau diganti dengan kategori yang sebagai berikut:
Probabilitas Sangat Rendah (SR) = 1 Rendah (R) = 2 Cukup (C) = 3 Tinggi (T) = 4 Sangat Tinggi (ST) = 5 Dampak Wakru Sangat Rendah (SR) = 1 Rendah (R) = 2 Cukup (C) = 3 Tinggi (T) = 4 Sangat Tinggi(ST) = 5 Dampak Biaya Sangat Rendah (SR) = 1 Rendah (R) = 2 Cukup (C) = 3 Tinggi (T) = 4 Sangat Tinggi(ST) = 5
Setelah kategori dari probablitas dan dampak didapatkan, maka dilakukan Analisa risiko (PxI) dengan bantuan Matriks Probabilitas Dampak seperti dapat dilihat pada Gambar 1.
Keterangan : = Rendah = Sedang = Tinggi
No. Jenis Risiko 1 2 3 4 5Tota SI (%) Kategori SR R C T ST
a b d e f
A Kontraktual
1Ketidakpatian pasal-pasal dalam kontrak 3 5 2 0 0 10 22.50 R 2Pasal-pasal yang kurang lengkap 2 6 1 1 0 10 27.50 R 3Perbedaan inteprestasi spesifikasi antara owner dan kontraktor 6 2 0 1 1 10 22.50 R 4Dokumen-dokumen yang kurang lengkap 3 3 2 2 0 10 32.50 R 5Keterlambatan pembayaran oleh owner 3 2 3 1 1 10 37.50 C 6Pemutusan kerja secara sepihak oleh owner 8 2 0 0 0 10 5.00 SR 7Perselisihan antara owner dengan kontraktor 2 3 2 2 1 10 42.50 C 8Kontrak pembayaran termin 2 4 3 1 0 10 32.50 R
B Force Majure
9Banjir 0 0 1 1 8 10 92.50 ST 10 Tanah longsor 10 0 0 0 0 10 0.00 SR 11 Gempa bumi 10 0 0 0 0 10 0.00 SR 12 Badai 10 0 0 0 0 10 0.00 SR 13 Cuaca tidak menentu 0 3 4 3 0 10 50.00 C
C Risiko Bidang Manajemen
14 Perubahan prioritas dalam program yang sudah berjalan 2 4 3 1 0 10 32.50 R 15 Kesalahan estimasi waktu 1 1 5 2 1 10 52.50 C 16 Kesalahan estimasi biaya 0 2 7 1 0 10 47.50 C 17 Kurangnya kontrol dan koordinasi dalam tim 1 6 1 2 0 10 35.00 R 18 Adanya miss komunikasi antar sesama perangkat pada proyek 1 7 2 0 0 10 27.50 R
D Risiko Bidang Tenaga Kerja
19 Kekurangan jumlah tenaga kerja 5 2 3 0 0 10 20.00 R 20 Pemogokan tenaga kerja 10 0 0 0 0 10 0.00 SR 21 Terjadinya kecelakaan kerja 8 2 0 0 0 10 5.00 SR 22 Staff yang kurang berpengalaman 2 3 2 2 1 10 42.50 C 23 Produktivitas tenaga kerja yang rendah 2 3 2 3 0 10 40.00 C 24 Rendahnya Kualitas Pengawasan 3 6 1 0 0 10 20.00 R
EMaterial dan Peralatan
25 Pemesanan material yang terlambat 7 3 0 0 0 10 7.50 SR
26 Kurangnya peralatan 8 1 1 0 0 10 7.50 SR
27 Volume material yang dikirim jumlahnya tidak tepat 7 2 1 0 0 10 10.00 SR
28 Kenaikan harga material 5 4 1 0 0 10 15.00 R
29 Keterlambatan material dari supplier 0 1 8 1 0 10 50.00 C
30 Kekurangan tempat penyimpanan material 0 2 4 3 1 10 57.50 C
31 Kekurangan tempat penimbunan material sisa 0 6 3 1 0 10 37.50 C
32 Kerusakan Peralatan 6 4 0 0 0 10 10.00 SR
FKondisi Lapangan / Site
33 Kemacetan 0 0 1 2 7 10 90.00 ST
34 Kebanjiran yang terjadi di sekitar proyek 0 4 2 3 1 10 52.50 C
35 Pencurian 7 3 0 0 0 10 7.50 SR
36 Perbedaan kondisi tanah 3 5 1 1 0 10 25.00 R
G Desain dan Teknologi
37 Kesulitan penggunaan teknologi baru 6 3 1 0 0 10 12.50 R
38 Metode pelaksaan yang salah 7 1 2 0 0 10 12.50 R
39 Perubahan Desain 3 2 0 4 1 10 45.00 C
40 Ketidaksempurnaan Desain 3 2 1 4 0 10 40.00 C
41 Kegagalan menerjemahkan desain awal ke desain akhir 1 3 2 3 1 10 50.00 C
42 Desain tidak sesuai spesifikasi 5 4 1 0 0 10 15.00 R
43 Kesalahan dalam menentukan elevasi 0 0 2 7 1 10 72.50 T
Analisa Risiko terhadap waktu dan biaya, dengan mengalikan penilaian
probabilitas hasil kombinasi dengan
penilaian dampak risiko. Perhitungan
dilakukan dengan menggunaan bantuan Matriks Probabilitas Dampak pada Gambar 1 di atas. Contoh hasil perhitungan risiko terhadap aspek waktu dapat dilihat pada
Tabel 5.
Tabel 5. Penilai Risiko dari Aspek
Waktu
Dengan cara yang sama dilakukan pula perhitungan nilai risiko terhadap aspek biaya.
Risiko yang Signifikan
Dari analisa diatas dapat diambil variabel-variabel risiko yang memiliki kategori tinggi pada masing-masing aspek waktu dan biaya. Risiko-risiko yang berkategori tinggi inilah yang disebut sebagai risiko yang signifikan terhadap waktu dan biaya. Risiko-risiko signifikan ini dapat dilihat pada Tabel 6 dan Tabel 7.
Tabel 6. Risiko yang Signifikan
terhadap Waktu
P I
Frekuensi Dampak
1 Banjir 5 2 10 Sedang
2 Kesalahan estimasi biaya 3 3 9 Sedang
3 Kemacetan 5 2 10 Sedang
4 Kesalahan dalam menentukan elevasi 4 4 16 Tinggi
No. Jenis Risiko PxIKategori
Risiko
Risiko yang signifikan terhadap biaya ada enam macam risiko, yaitu:
Tabel 7. Risiko yang Signifikan
terhadap Waktu
P I
Frekuensi Dampak
1 Keterlambatan pembayaran oleh owner 3 3 9 Sedang 2 Banjir 5 3 15 Tinggi 3 Cuaca tidak menentu 3 3 9 Sedang 4 Kesalahan estimasi waktu 3 3 9 Sedang 5 Kesalahan estimasi biaya 3 3 9 Sedang 6 Rendahnya Kualitas Pengawasan 2 3 6 Sedang 7 Kekurangan tempat penimbunan material si 3 3 9 Sedang 8 Kemacetan 5 3 15 Tinggi 9 Kebanjiran yang terjadi di sekitar proyek 3 3 9 Sedang 10 Kesalahan dalam menentukan elevasi 4 4 16 Tinggi
No. Jenis Risiko PxIKategori
Risiko
KESIMPULAN
1. Dari hasil survey pendahuluan
didapatkan variabel-variabel risiko yang relevan terhadap pelaksanaan proyek Box Culvert yaitu 43 item risiko
2. Dari analisa sebelumnya diketahui
variabel-variabel risiko yang signifikan terhadap aspek waktu maupun terhadap aspek biaya. Berikut ini adalah risiko yang signifikan terhadap waktu adalah :
a. Keterlambatan pembayaran oleh owner
b. Banjir
c. Cuaca tidak menentu d. Kesalahan estimasi waktu e. Kesalahan estimasi biaya f. rendahnya kualitas pengawasan g. Kekurangan tempat penimbunan
material h. Kemacetan
i. Kebanjiran yang terjadi di sekitar proyek
j. Kesalahan dalam menentukan elevasi
Sedangkan risiko-risiko yang signifikan terhadap biaya adalah sebagai :
a. Banjir
b. kesalahan estimasi biaya c. kemacetan
d. kesalahan dalam menentukan elevasi
No. Jenis Risiko P I PxI Kategori Frekuensi Dampak
A KONTRAKTUAL
1 Ketidakpatian pasal-pasal dalam kontrak 2 2 4 Rendah
2 Pasal-pasal yang kurang lengkap 2 2 4 Rendah
3 Perbedaan inteprestasi spesifikasi antara owner dengan kontraktor 2 1 2 Rendah
4 Dokumen-dokumen yang kurang lengkap 2 2 4 Rendah
5 Keterlambatan pembayaran oleh owner 3 3 9 Sedang
6 Pemutusan kerja secara sepihak oleh owner 1 1 1 Rendah
7 Perselisihan antara owner dengan kontraktor 3 2 6 Rendah
8 Kontrak pembayaran termin 2 2 4 Rendah
B FORCE MAJURE
9 Banjir 5 3 15 Tinggi
10 Tanah longsor 1 1 1 Rendah
11 Gempa bumi 1 1 1 Rendah
12 Badai 1 1 1 Rendah
13 Cuaca tidak menentu 3 3 9 Sedang
C MANAJEMEN
14 Perubahan prioritas dalam program yang sudah berjalan 2 2 4 Rendah
15 Kesalahan estimasi waktu 3 3 9 Sedang
16 Kesalahan estimasi biaya 3 3 9 Sedang
17 Kurangnya kontrol dan koordinasi dalam tim 2 2 4 Rendah
18Adanya miss komunikasi antar sesama perangkat pada proyek 2 2 4 Rendah
D TENAGA KERJA
19 Kekurangan jumlah tenaga kerja 2 2 4 Rendah
20 Pemogokan tenaga kerja 1 1 1 Rendah
21 Terjadinya kecelakaan kerja 1 1 1 Rendah
22 Staff yang kurang berpengalaman 3 2 6 Rendah
23 Produktivitas tenaga kerja yang rendah 3 2 6 Rendah
24 Rendahnya Kualitas Pengawasan 2 3 6 Sedang
E MATERIAL DAN PERALATAN
25 Pemesanan material yang terlambat 1 3 3 Rendah
26 Kurangnya peralatan 1 2 2 Rendah
27 Volume material yang dikirim jumlahnya tidak tepat 1 3 3 Rendah
28 Kenaikan harga material 2 2 4 Rendah
29 Keterlambatan material dari supplier 3 1 3 Rendah
30 Kekurangan tempat penyimpanan material 3 2 6 Rendah
31 Kekurangan tempat penimbunan material sisa 3 3 9 Sedang
3. Respon Penanganan respon risiko terhadap risiko yang kemungkinan besar terjadi dan berdampak signifikan pada pelaksanaan proyek Box Culvert di Surabaya ini diharapkan dapat meminimalisir risiko yang terjadi atau mungkin dapat menghilangkan risiko tersebut. Berikut ini adalah respon risiko terhadap aspek waktu adalah :
a. Keterlambatan pembayaran oleh owner adalah dengan mendiskusikan terhaadap pihak owner mengenai dokumen dalam kontrak menyangkut masalah pembayaran
b. Banjir adalah dengan mendiskusikan denganpihak owner atau mengajukan klaim kepada owner karena merupakan faktor eksternal yang tidak dapat diprediksi.
c. Cuaca tidak menentu adalah dengan mendiskusikan denganpihak owner atau mengajukan klaim kepada owner karena merupakan faktor eksternal yang tidak dapat diprediksi.
d. Kesalahan estimasi waktu adalah dengan dengan menggunakan analisa data historis atau data yang ada sebelumnya untuk melakukan estimasi terhadap pekerjaan yang serupa.
e. Kesalahan estimasi biaya adalah dengan menggunakan analisa data historis atau data yang ada sebelumnya untuk melakukan estimasi terhadap pekerjaan yang serupa.
f. Rendahnya kualitas pengawasan adalah dengan melakukan resources planning
staf secara akurat.
g. Kekurangan tempat penyimpanan material adalah dengan mengatur manajemen supply material dengan jadwal yang telah ditetapkan.
h. Kemacetan adalah dengan rapat yang dilakukan secara berkala untuk menyamakan persepsi dengan pihak owner dan mengatur jam kerja dengan menyesuaikan pickhour pada kondisi jalan sekitar.
i. Kebanjiran di sekitar proyek adalah dengan mendiskusikan denganpihak owner atau mengajukan klaim kepada owner karena merupakan faktor eksternal yang tidak dapat diprediksi. j. Kesalahan menentukan elevasi yaitu
dengan cara melakukan diskusi antar stakeholder dan melakuakan monitoring secara berkaladalam penentuan elevasi.
Sedangkan respon risiko terhadap aspek biaya adalah sebagai berikut :
a. Banjir adalah dengan mendiskusikan denganpihak owner atau mengajukan klaim kepada owner karena merupakan faktor eksternal yang tidak dapat diprediksi.
b. Kesalahan estimasi biaya adalah dengan menggunakan analisa data historis atau data yang ada sebelumnya untuk melakukan estimasi terhadap pekerjaan yang serupa.
c. Kemacetan adalah dengan rapat yang dilakukan secara berkala untuk menyamakan persepsi dengan pihak owner dan mengatur jam kerja dengan menyesuaikan pickhour pada kondisi jalan sekitar.
d. Kesalahan menentukan elevasi yaitu dengan cara melakukan diskusi antar stakeholder dan melakuakan monitoring secara berkaladalam penentuan elevasi.
DAFTAR PUSTAKA
A Guide to the Project Management Of Body Knowledge (PMBOK Guide). 2004. USA Cahyadi, E.R. 2001. Manajemen Risiko. Jakarta Alijoyo, A. 2006. Enterprise Risk
Management. Jakarta : Ray Indonesia.
Al Hammad, A.M. .2000. “Common Interface Problems among Various
Construction Parties”, Journal
Performance Construction Facilities.
Djojosoedarso, S. 2003. Prinsip-Prinsip Manajemen Risiko Dan Asuransi. Jakarta: Salemba Empat.
Hanafi, M. 2009. Manajemen Resiko. Yogyakarta : UPP STIM YKPN Kerzner, H. 2001. Project Management : A
System Approach To Planning, Scheduling, and Controlling (Seventh Edition). New York : Jon Wiley & Sons.
PMI (Project Management Institute, Inc). 2004. A Guide To The Project Management Body Of Knowledge
(PMBOK), 3rd
PT. Waskita Karya. 2004. Panduan Sistem Manajemen Resiko. Indonesia.
edition, Newtown Square, Pennsylvania, USA.
Sjawal, Mansur. 2009. Analisa Risiko pada Proyek Kontruksi Jembatan di Propinsi Papua. ITS. Teknik Sipil Soeharto, I. 2001. Manajemen Proyek Jilid
2. Dari Konseptual Sampai Operasional. Jakarta : Erlangga Soemarno, M.S. 2007. “Risiko Penggunaan
Lahan dan Analisisnya Laboratorium PPJP Jurusan Tanah”. Malang.
S.M Mousavi et.a. 2011. Risk Assessment for Hoghway Project using Jackknife Technique”. University of Tehran. Iran.
Sugiyono. 2007. “Metode Penelitian Bisnis”. Bandung : Alfabeta.