• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KECERDASAN EMOSIONAL, KEMATANGAN SOSIAL, SELF-ESTEEM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS KECERDASAN EMOSIONAL, KEMATANGAN SOSIAL, SELF-ESTEEM"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

MAHASISWA PENERIMA PROGRAM BEASISWA SANTRI

BERPRESTASI (PBSB) IPB

SUCI NURHAYATI

DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Analisis Kecerdasan Emosional, Kematangan Sosial, Self-Esteem, dan Prestasi Akademik pada Mahasiswa Penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) IPB adalah karya saya pribadi dengan arahan dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi.

Bogor, Januari 2011

Suci Nurhayati NIM I24052190

(3)

esteem, dan prestasi akademik pada mahasiswa penerima program beasiswa santri berprestasi (PBSB) IPB. Dibimbing oleh MELLY LATIFAH dan NETI HERNAWATI.

Salah satu strategi kebijakan pembangunan pendidikan tahun 2010-2014 adalah perluasan dan pemerataan akses pendidikan tinggi bermutu, berdaya saing internasional, berkesetaraan gender dan relevan dengan kebutuhan bangsa dan negara (Kemendiknas 2010). Sejalan dengan kebijakan di atas, Kementerian Agama RI mengupayakan pemberian beasiswa bagi santri, untuk dapat mengikuti program pendidikan tinggi yang dinamakan dengan program beasiswa santri berprestasi (Kemenag 2009). Pendidikan formal sampai ke perguruan tinggi merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Megawangi (2008) mengklasifikasikan aspek potensi-potensi manusia yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, diantaranya aspek emosi, sosial dan akademik. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis perbedaan karakteristik individu dan karakteristik keluarga pada mahasiswa PBSB dan non PBSB, (2) menganalisis perbedaan tingkat kecerdasan emosional, kematangan sosial, self-esteem dan prestasi akademik pada mahasiswa PBSB dan non PBSB, (3) menganalisis hubungan antara karakteristik individu dan keluarga dengan kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem mahasiswa PBSB dan non PBSB, (4) menganalisis hubungan antara kecerdasan emosional dan kematangan sosial dengan self-esteem mahasiswa PBSB dan non PBSB, (5) menganalisis hubungan antara kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem dengan prestasi akademik mahasiswa PBSB dan non PBSB, (6) menganalisis pengaruh karakteristik individu, karakteristik keluarga, kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem terhadap prestasi akademik mahasiswa PBSB dan non PBSB.

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional study. Penelitian dilakukan di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dipilih secara purposive. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret hingga Oktober 2010. Contoh dalam penelitian ini adalah mahasiswa PBSB dan mahasiswa non PBSB IPB. Contoh diambil secara acak sistematis pada 100 orang mahasiswa yang terdiri dari 50 mahasiswa PBSB dan 50 mahasiswa non PBSB. Jumlah contoh ditentukan berdasarkan jumlah yang memenuhi syarat untuk uji statistik.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data karakteristik individu, karakteristik keluarga, kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem, yang diperoleh melalui teknik wawancara dan laporan diri (self report) dengan alat bantu kuisioner. Data sekunder meliputi jumlah mahasiswa dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang diperoleh dari Direktorat Administrasi dan Jaminan Mutu Pendidikan IPB, serta data mengenai mahasiswa PBSB yang diperoleh dari Direktorat Kerja Sama dan Program Internasional IPB. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik deskriptif dan inferensial.

Proporsi terbesar contoh berada pada kisaran usia 19-21 tahun di kelompok PBSB, dan 20-21 tahun di kelompok non PBSB. Lebih dari separuh contoh berjenis kelamin perempuan. Urutan contoh pada kedua kelompok

(4)

menyebar pada kurang dari sama dengan dua kegiatan, tiga sampai lima kegiatan, dan lebih dari lima kegiatan. Kelompok PBSB memiliki usia yang nyata lebih kecil dan kegiatan kemahasiswaan yang nyata lebih besar dari kelompok non PBSB. Tingkat pendidikan ayah contoh di kelompok PBSB tersebar pada tamat SD dan SMA/Sederajat, sementara pada kelompok non PBSB hampir separuh ayah contoh telah menamatkan pendidikan hingga Perguruan Tinggi dan SMA/Sederajat. Tingkat pendidikan ibu contoh di kelompok PBSB menyebar merata pada SMA/Sederajat dan tamat SD, sementara pada kelompok non PBSB adalah SMA/Sederajat dan perguruan tinggi. Pekerjaan ayah contoh pada kelompok PBSB tersebar merata sebagai petani dan wiraswasta, sementara ayah contoh pada kelompok non PBSB tersebar merata sebagai Pegawai Negeri Sipil, wiraswasta, dan pegawai swasta. Hampir separuh ibu contoh di kedua kelompok adalah tidak bekerja. Pendapatan orangtua contoh pada kelompok PBSB tersebar pada kisaran kurang dari sama dengan Rp 500 000 hingga Rp 2 500 000, sementara pada kelompok non PBSB pendapatan orangtua contoh berada pada kisaran yang lebih tinggi yaitu Rp 1 000 001 hingga Rp 5 000 000. Proporsi terbesar di kedua kelompok termasuk ke dalam tipe keluarga sedang. Pendidikan dan pendapatan orangtua di kelompok PBSB nyata lebih kecil dari non PBSB, dan besar keluarga kelompok PBSB nyata lebih besar dari non PBSB.

Lebih dari separuh contoh di kedua kelompok memiliki tingkat kecerdasan emosional yang sedang. Sebagian besar contoh kelompok PBSB dan lebih dari separuh contoh kelompok non PBSB memiliki kematangan sosial (kesadaran sosial dan fasilitas sosial) pada kategori sedang. Terdapat perbedaan yang nyata pada aspek fasilitas sosial, dimana contoh pada kelompok PBSB memiliki nilai rata-rata yang lebih besar dari kelompok non PBSB. Lebih dari separuh contoh kelompok PBSB dan sebagian besar contoh kelompok non PBSB memiliki self-esteem dengan kategori sedang. Proporsi terbesar contoh pada kedua kelompok memiliki IPK yang berada pada kategori baik yaitu antara 2.75 hingga 3.50.

Kegiatan kemahasiswaan berhubungan nyata dan positif dengan kecerdasan emosi, kematangan sosial, dan self-esteem pada kelompok non PBSB. Terdapat hubungan yang nyata antara pendapatan orangtua dengan kesadaran emosi diri pada contoh PBSB. Besar keluarga pada contoh PBSB memiliki hubungan negatif dan nyata dengan pengelolaan emosi. Pada contoh PBSB terdapat hubungan negati dan nyata antara besar keluarga dengan kesadaran sosial dan kematangan sosial. Terdapat hubungan yang nyata antara kelima aspek kecerdasan emosional (kecuali pengelolaan emosi pada contoh non PBSB) dan kematangan sosial dengan self-esteem pada kedua kelompok contoh. Sementara itu kematangan sosial pada contoh PBSB memiliki hubungan yang nyata negatif dengan prestasi akademik. Faktor yang berpengaruh nyata terhadap prestasi akademik contoh kelompok PBSB adalah kecerdasan emosional dan kematangan sosial. Sementara pada kelompok non PBSB, faktor yang berpengaruh nyata terhadap prestasi akademik adalah kegiatan kemahasiswaan.

Kata kunci : Program beasiswa santri berprestasi (PBSB), kecerdasan emosional, kematangan sosial, self-esteem, prestasi akademik.

(5)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2011

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya.

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah.

b. pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.

(6)

MAHASISWA PENERIMA PROGRAM BEASISWA SANTRI

BERPRESTASI (PBSB) IPB

SUCI NURHAYATI

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada

Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen

DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(7)

Nama : Suci Nurhayati NIM : I24052190

Disetujui, Dosen Pembimbing

Ir. Melly Latifah, M.Si. Neti Hernawati SP, M.Si.

Pembimbing I Pembimbing II

Diketahui,

Ketua Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen

Dr. Ir. Hartoyo, M.Sc.

(8)

Alhamdulillah, puji dan syukur yang tak terhingga penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, petunjuk, dan kemudahan yang diberikan, sehingga karya ilmiah ini dapat penulis selesaikan. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan ummatnya hingga akhir zaman.

Terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada :

1. Ir. Melly Latifah, M.Si dan Neti Hernawati, SP., M.Si selaku dosen pembimbing skripsi atas saran, arahan, waktu, kesabaran, dan ilmu pengetahuan yang begitu luas yang diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini. Semoga ilmu yang diberikan menjadi amal yang pahalanya tidak terputus.

2. Dr. Ir. Lilik Noor Yuliati, MFSA selaku dosen penguji yang telah memberikan banyak masukan dan kritik bermanfaat guna menyempurnakan skripsi ini.

3. Alfiasari, SP., M.Si selaku dosen pemandu seminar atas masukan, saran, dan pengetahuan yang diberikan kepada penulis.

4. Ir. Retnaningsih, M.Si selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan motivasi dan nasehat selama masa perkuliahan di IKK.

5. Direktorat Administrasi Pendidikan serta Direktorat Kerjasama dan Program Internasional IPB yang telah memberikan bantuan informasi dan data terkait penelitian sehingga penelitian ini dapat penulis selesaikan dengan baik.

6. Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen atas bantuan dan kerjasamanya sehingga penelitian dan penulisan skripsi dapat terlaksana dengan baik.

7. Kementerian Agama RI yang telah memberikan beasiswa kepada penulis selama masa perkuliahan di IPB.

8. Keluargaku tercinta; orangtua dan adik-adik, keluarga besar: Kakek, Nenek, Mang Lukman, Mang Ayi, Mang Ahmad, Bi Iyun (almh.), Mang Furqon, Bi Mia, Mang Idik, Mang Arif, dan Mang Ade, atas semua doa, nasehat-nasehat bijak, dorongan, semangat, dan kasih sayang yang diberikan kepada penulis.

(9)

bantuan, perhatian, serta keceriaan kepada penulis. Sahabat terbaik; Ely dan Eny yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan mendengarkan keluh kesah penulis. Robit Nafsik atas do’a, perhatian, semangat, serta bantuan secara langsung maupun tidak langsung. Teman-teman CSS MORA 42 yang selalu membantu di saat sulit. CSS MORA 44 terutama yang telah membantu dalam pengambilan data di lapang. Sahabat-sahabat di FRAME’05 atas kenangan dan kebersamaan yang indah.

10. Para dosen dan teman-teman yang tergabung dalam Tim Relawan Peduli Merapi atas kebersamaan, perhatian, kesan terindah, dan pengalaman terbaik yang penulis dapatkan menjelang penyelesaian skripsi ini.

11. Kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu, yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini. Terima kasih, semoga Allah membalas kebaikan semuanya dengan hal yang lebih baik. Amiin.

Penulis menyadari banyak kekurangan dalam tulisan ini, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta menambah pengetahuan para pembaca.

Bogor, Januari 2011

(10)

merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Dedi Mulyana dan Siti Ulyani. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri Tespong Raya Sukabumi pada tahun 1999, kemudian melanjutkan pendidikan di MTs Al-Fatah Lampung dan lulus pada tahun 2002. Pada tahun 2005 penulis menyelesaikan sekolah menengah atas di MA Al-Fatah Lampung, dan pada tahun yang sama penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kementrian Agama RI. Pada tahun kedua di IPB penulis masuk ke Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Selama masa perkuliahan, penulis aktif di CSS MORA (Community of Santri Scholar, Ministry of Religious Affairs) IPB. Pada tahun pertama kuliah penulis aktif di Rohis B-9 TPB. Penulis juga menjadi salah satu staf pengajar di lembaga bimbingan belajar Karisma Prestasi pada tahun 2008-2009, dan aktif sebagai pengajar privat pada tahun 2009-2010. Penulis merupakan penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi tahun 2005-2010.

(11)

DAFTAR TABEL ... xix

DAFTAR GAMBAR ... xxi

DAFTAR LAMPIRAN ... xxiii

PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Perumusan Masalah ... 5 Tujuan Penelitian ... 7 Kegunaan Penelitian ... 8 TINJAUAN PUSTAKA ... 9 Remaja ... 9 Kecerdasan Emosional ... 10 Kematangan Sosial ... 13 Self-Esteem ... 16 Prestasi Akademik ... 17 KERANGKA PEMIKIRAN ... 19 METODE PENELITIAN ... 23

Desain, Tempat, dan Waktu ... 23

Cara Pemilihan Contoh ... 23

Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 24

Pengolahan dan Analisis Data ... 26

Definisi Operasional ... 28

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 31

Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 31

Karakteristik Individu ... 33

Jenis Kelamin dan Usia ... 33

Urutan Anak dalam Keluarga ... 34

Kegiatan Kemahasiswaan ... 35

Karakteristik Keluarga Contoh ... 35

Pendidikan Orangtua ... 35

Pekerjaan Orangtua ... 37

Pendapatan Orangtua ... 38

Besar Keluarga ... 39

Kecerdasan Emosional ... 40

Kesadaran Emosi Diri ... 41

Pengelolaan Emosi ... 43

Motivasi Diri ... 43

Empati ... 44

Seni Membina Hubungan ... 45

Kematangan Sosial ... 46

Kesadaran Sosial ... 47

(12)

xviii

Self-Esteem ... 49

Prestasi Akademik ... 50

Hubungan antar Variabel ... 51

Karakteristik Individu dan Kecerdasan Emosional ... 51

Karakteristik Individu dan Kematangan Sosial ... 52

Karakteristik Individu dan Self-esteem ... 53

Karakteristik Keluarga dan Kecerdasan Emosional ... 54

Karakteristik Keluarga dan Kematangan Sosial ... 56

Karakteristik Keluarga dan Self-esteem ... 57

Kecerdasan Emosional dan Self-esteem ... 58

Kematangan Sosial dan Self-esteem ... 59

Kecerdasan Emosional dan Prestasi Akademik ... 61

Kematangan Sosial dan Prestasi Akademik ... 63

Self esteem dan Prestasi Akademik ... 64

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Akademik ... 65

KESIMPULAN DAN SARAN ... 71

Kesimpulan ... 71

Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 75

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Jenis dan cara pengumpulan data ... 25

2 Cara pengkategorian variabel... 27

3 Sebaran contoh berdasarkan jalur masuk ke IPB ... 32

4 Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin dan usia ... 33

5 Sebaran contoh berdasarkan urutan anak dalam keluarga ... 34

6 Sebaran contoh berdasarkan kegiatan kemahasiswaan ... 35

7 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan orangtua ... 36

8 Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan orangtua ... 38

9 Sebaran contoh berdasarkan pendapatan orangtua ... 39

10 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga ... 39

11 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecerdasan emosional ... 41

12 Sebaran contoh berdasarkan kesadaran emosi diri ... 42

13 Sebaran contoh berdasarkan pengelolaan emosi ... 43

14 Sebaran contoh berdasarkan motivasi diri ... 44

15 Sebaran contoh berdasarkan empati ... 45

16 Sebaran contoh berdasarkan seni membina hubungan ... 45

17 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kematangan sosial ... 46

18 Sebaran contoh berdasarkan kesadaran sosial ... 47

19 Sebaran contoh berdasarkan fasilitas sosial ... 48

20 Sebaran contoh berdasarkan tingkat self-esteem ... 49

21 Sebaran contoh berdasarkan prestasi akademik. ... 51

22 Hasil uji korelasi Spearman karakteristik individu dan kecerdasan emosi 52 23 Hasil uji korelasi Spearman karakteristik individu dan kematangan sosial 53 24 Hasil uji korelasi Spearman karakteristik individu dan self-esteem ... 54

25 Hasil uji korelasi Spearman karakteristik keluarga dan kecerdasan emosional ... 55

26 Hasil uji korelasi Spearman karakteristik keluarga dan kematangan sosial ... 56

27 Hasil uji korelasi Spearman karakteristik keluaraga dan self-esteem ... 57

28 Sebaran contoh berdasarkan kecerdasan emosional dan self-esteem ... 58

(14)

xx

29 Hasil uji korelasi Spearman kecerdasan emosional dan self-esteem ... 59 30 Sebaran contoh berdasarkan kematangan sosial dan self-esteem ... 60 31 Hasil uji korelasi Spearman kematangan sosial dan self-esteem ... 61 32 Sebaran contoh berdasarkan kecerdasan emosional dan prestasi

akademik ... 62 33 Hasil uji korelas Spearman kecerdasan emosional dan prestasi akademik 62 34 Sebaran contoh berdasarkan kematangan sosial dan prestasi akademik .... 63 35 Hasil uji korelasi Spearman kematangan sosial dan prestasi akademik ... 64 36 Hubungan antara self-esteem dan prestasi akademik ... 65 37 Analisis uji Collinearity Statistics ... 66 38 Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa PBSB .. 67 39 Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa non

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Pengaruh faktor karakteristik individu, karakteristik keluarga, kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem terhadap prestasi akademik ... 21 2 Cara pemilihan contoh ... 24

(16)

xxiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Hasil uji reliabilitas kuesioner kecerdasan emosional, kematangan sosial,

dan Self-esteem ... 79

2 Hasil uji korelasi Spearman pada berbagai variabel di kelompok PBSB ... 81

3 Hasil uji korelasi Spearman pada berbagai variabel di kelompok non PBSB ... 87

4 Hasil uji beda T-test ... 93

5 Hasil uji beda Mann Whitney ... 95

6 Hasil uji normalitas Shapiro-Wilk pada berbagai variabel ... 97

(17)

Latar Belakang

Kebijakan pembangunan pendidikan tahun 2010-2014 memuat enam strategi, yaitu: 1) perluasan dan pemerataan akses pendidikan usia dini bermutu dan berkesetaraan gender, 2) perluasan dan pemerataan akses pendidikan dasar universal bermutu dan berkesetaraan gender, 3) perluasan dan pemerataan akses pendidikan menengah bermutu, berkesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, 4) perluasan dan pemerataan akses pendidikan tinggi bermutu, berdaya saing internasional, berkesetaraan gender dan relevan dengan kebutuhan bangsa dan negara, 5) perluasan dan pemerataan akses pendidikan orang dewasa berkelanjutan yang berkesetaraan gender dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta 6) penguatan tata kelola, sistem pengendalian manajemen, dan sistem pengawasan intern (Kemendiknas 2010).

Perhatian pemerintah pada perluasan dan pemerataan akses pendidikan, mengisyaratkan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan angka partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan. Kebijakan tentang peningkatan mutu dan tata kelola juga merupakan upaya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia yang diselenggarakan oleh setiap satuan pendidikan sehingga berjalan sesuai dengan rel tujuan yang dirumuskan. Demikian pentingnya masalah yang berkenaan dengan pendidikan ini, maka diperlukan suatu aturan baku mengenai pendidikan yang dipayungi dalam sistem pendidikan nasional. Sistem pendidikan nasional adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional (Daulay 2004).

Upaya agar tujuan pendidikan nasional tercapai dirumuskan dalam Undang-Undang mengenai Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak

(18)

mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Soedijarto 2008). Hal tersebut sudah berlaku dan diimplementasikan di lembaga pendidikan di Indonesia salah satunya yaitu di pesantren, yang terangkum dalam Tridharma Pondok Pesantren: 1) pembinaan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, 2) pengembangan keilmuan dan keahlian yang bermanfaat, serta 3) pengabdian pada agama, masyarakat, dan negara (Fatah et al 2005).

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia. Dalam struktur pendidikan nasional, pesantren merupakan mata rantai pendidikan yang sangat penting. Hal ini tidak hanya karena sejarah kemunculannya yang relatif lama, tetapi juga karena pesantren telah secara signifikan ikut andil dalam upaya mencerdaskan bangsa. Dalam sejarahnya, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berbasis masyarakat (Fatah et al 2005). Menurut Azra (2002), pendidikan berbasis masyarakat sebenarnya telah lama diselenggarakan kaum muslimin Indonesia, bahkan bisa dikatakan setua sejarah perkembangan Islam di bumi Nusantara. Selain itu, pesantren dianggap berada dalam posisi yang sangat strategis, khususnya di tingkat perluasan akses. Sejarah membuktikan bagaimana kebijakan pemerintah yang menuntut partisipasi yang bersifat masal berhasil dilakukan melalui gagasan “partisipasi” pesantren. Keberhasilan partisipasi ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa pesantren mempunyai posisi strategis dalam konteks pengembangan masyarakat (Kemenag 2009).

Kendati pun pesantren merupakan kenyataan yang sudah lama ada dalam masyarakat Indonesia, namun perhatian dan intervensi dari pemerintah untuk pengembangan dan pemberdayaan pesantren (madrasah) belum signifikan. Kebijakan pemerintah dalam upaya perluasan pemberian kesempatan mendapatkan pendidikan masih terpusat pada sekolah/madrasah negeri, sementara pada sekolah/madrasah swasta masih sangat kurang. Data Kementrian Agama RI pada tahun 2000 menyebutkan bahwa pada tingkat Sekolah Dasar, jumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta mencapai 95.2 persen sementara MI Negeri 14.8 persen. Keadaan ini terbalik dengan SD Negeri yang berjumlah 93.1 persen, sementara SD swasta 6.9 persen. Pada tingkat Sekolah Menengah Pertama,

(19)

jumlah Madarasah Tsanawiyah (MTs) adalah 75.7 persen, sedangkan MTsN adalah 24.3 persen. Adapun SLTPN berjumlah 44.9 persen dan SLTP swasta 55.9 persen. Pada tingkat selanjutnya, terdapat 70 persen Madrasah Aliyah (MA) swasta dan 30 persen MAN. Sementara SMUN berjumlah 30.5 persen dan SMU swasta sebanyak 69.4 persen (Azra 2002). Sumber lain menyebutkan bahwa ada perbedaan kualitas antara madrasah dibanding sekolah umum, karena sebagian besar madrasah dikelola swasta, yakni 91.5 persen dan hanya 8.5 persen yang dikelola negeri (Anonim 2009).

Rendahnya perhatian dan intervensi dari pemerintah terhadap pesantren menjadikan pesantren tumbuh dengan kemampuan sendiri yang pada akhirnya menumbuhkan varian yang sangat besar, karena sangat tergantung pada kemampuan masyarakat itu sendiri (Fatah et al 2005). Kondisi tersebut mendorong Kementrian Agama RI untuk mulai menata kembali manajerial pesantren agar lebih terarah pada tujuan yang diharapkan. Kementrian Agama RI juga mengupayakan pemberian beasiswa bagi santri Madrasah Aliyah (MA) di pondok pesantren yang memiliki kemampuan akademik, kematangan pribadi, kemampuan penalaran, dan potensi untuk dapat mengikuti program pendidikan tinggi dalam rangka meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi santri berprestasi dan meningkatkan kualitas pendidikan Islam (Kemenag 2009).

Pendidikan formal sampai ke perguruan tinggi merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan salah satu modal penting dalam pembangunan suatu negara. Bangsa yang memiliki sumberdaya manusia yang bermutu tinggi akan lebih maju dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Megawangi (2008) menyatakan bahwa kualitas sumberdaya manusia yang berkarakter, mempunyai spirit kerja tinggi, dan mandiri, adalah bekal yang membawa kejayaan bangsa di masa depan.

Mahasiswa sebagai aset bangsa yang memiliki potensi sebagai agent of change and social control dituntut untuk memiliki kemampuan dan keterampilan lebih dari masyarakat biasa dengan kapasitas keilmuan yang dimilikinya. Megawangi (2008) mengklasifikasikan aspek potensi-potensi manusia yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, di antaranya aspek emosi, sosial dan

(20)

akademik. Aspek emosi menyangkut aspek kesehatan jiwa; mampu mengendalikan stress, mengontrol diri (self-discipline) dari perbuatan negatif, percaya diri, berani mengambil resiko, dan empati. Aspek sosial tergambar dari perilaku untuk belajar menyenangi pekerjaan, bekerja dalam tim, pandai bergaul, peduli terhadap masalah sosial dan berjiwa sosial, bertanggung jawab, menghormati orang lain, mengerti akan perbedaan budaya dan kebiasaan orang lain, serta mematuhi segala peraturan yang berlaku. Aspek lain yang perlu dikembangkan adalah aspek akademik yang tercermin dari kemampuan untuk berpikir logis, berbahasa, dan menulis dengan baik, serta dapat mengemukakan pertanyaan kritis dan menarik kesimpulan dari berbagai informasi yang diketahui.

Kemampuan pada aspek emosi dapat mengarahkan seseorang khususnya remaja dalam membangun potensi diri. Berbeda dengan kemampuan akademik yang lebih ditentukan oleh faktor keturunan, kemampuan pada aspek emosi atau kecerdasan emosional lebih mungkin untuk dikembangkan kapan saja dan siapa saja yang memiliki keinginan untuk meraih sukses atau prestasi hidup. Goleman (2004) beranggapan bahwa keberhasilan seseorang di masyarakat, sebagian besar ditentukan oleh kecerdasan emosi (80%) dan hanya 20 persen ditentukan oleh faktor kecerdasan kognitif. Hasil penelitian George Borggs (Jefferson Center 1997 dalam Megawangi 2008), juga menunjukkan bahwa ada 13 indikator penunjang keberhasilan seseorang di dunia kerja, dimana 10 diantaranya adalah kualitas karakter seseorang, sementara hanya tiga indikator saja yang berkaitan dengan faktor kecerdasan (IQ).

Selain itu, manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari interaksinya dengan lingkungan, terutama lingkungan sosial. Kemampuan sosial menjadi modal dalam bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan sosial agar dapat diterima di dalam lingkungan tersebut. Hal lain mengenai pandangan seseorang terhadap dirinya, yang sering dikenal dengan self-esteem, turut menentukan perilaku dan keberhasilannya dalam membina suatu hubungan sosial. Self-esteem menunjuk pada sejauh mana seseorang memiliki penghargaan diri dan mempunyai pandangan yang positif mengenai dirinya (Johnson & Swidley 1999).

Penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2009) mengenai persepsi gaya pengasuhan orangtua, keterampilan sosial, prestasi akademik, dan self-esteem

(21)

mahasiswa tingkat persiapan bersama (TPB) di Institut Pertanian Bogor menunjukkan bahwa keterampilan sosial memiliki hubungan yang nyata dan positif dengan self-esteem. Hubungan yang nyata dan positif juga terdapat pada hubungan antara gaya pengasuhan authoritative dengan self-esteem dan keterampilan sosial remaja. Menurut Fatimah (2006), perkembangan sosial di pengaruhi oleh banyak faktor, antara lain keluarga, status sosial ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental, terutama emosi dan inteligensi.

Megawangi (2007) menegaskan beberapa aspek emosi-sosial yang menentukan keberhasilan anak di sekolah adalah rasa percaya diri, rasa ingin tahu, motivasi, kemampuan kontrol diri, kemampuan bekerjasama, mudah bergaul dengan sesamanya, mampu berkonsentrasi, rasa empati dan kemampuan berkomunikasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi seseorang dalam pencapaian prestasi. Berdasarkan pemikiran yang dipaparkan, maka penting untuk dilakukan analisis kecerdasan emosional, kematangan sosial, self-esteem dan prestasi akademik pada mahasiswa penerima program beasiswa santri berprestasi (PBSB).

Perumusan Masalah

Pemberian beasiswa kepada santri berprestasi dari pondok pesantren di berbagai provinsi, yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Agama RI, bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui peningkatan kualitas dan perluasan akses pendidikan. Kementrian Agama RI memberikan beasiswa kuliah hingga lulus kepada santri yang telah melalui beberapa tahapan seleksi, dan sebagai konsekuensinya setelah lulus dan menjadi sarjana dengan berbagai kompetensi keilmuannya, mereka wajib kembali ke daerah untuk mengabdikan ilmu dan keterampilan yang didapat demi mengembangkan pesantren dan membina masyarakat sekitarnya.

Pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional di mana para siswanya, yang biasa disebut santri, tinggal bersama-sama dan belajar di bawah bimbingan seorang kyai. Seorang santri, dengan latar belakang pendidikan religius yang kuat, diharapkan dapat menjadi aset penting bagi pembangunan di segala bidang. Namun interaksi santri dengan dunia yang

(22)

terus melaju pesat, tidak mampu hanya dihadapi dengan pola pengajaran keagamaan semata, tetapi juga penting dibekali dengan ilmu-ilmu keahlian yang dapat mendukung kehidupan mereka.

Menurut Megawangi (2007), bekal yang paling penting bagi seseorang adalah kematangan emosi-sosialnya, karena dengan kematangan emosi dan sosial tersebut seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Aspek kecerdasan emosi seseorang dapat membantu di dalam mengembangkan potensi-potensi lainnya secara lebih optimal. Kecerdasan emosi juga dapat meningkatkan kemampuan kognitif, memberikan motivasi seseorang untuk belajar dan mencapai kesuksesan dalam bidang akademik, begitu pun kematangan seseorang di lingkungan sosialnya dan penghargaan diri (self-esteem) yang dimilikinya turut andil dalam pencapaian prestasi.

Di masa depan, sumberdaya yang handal sangat membantu pengembangan pesantren agar senantiasa bisa bertahan di era global tanpa harus meninggalkan nilai-nilai tradisi baik yang telah dimiliki. Program beasiswa santri berprestasi diharapkan mampu mencetak generasi-generasi yang tidak hanya memiliki kecerdasan spiritual, namun juga memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem yang tinggi sehingga pada akhirnya mereka mampu untuk terjun ke masyarakat dengan baik dan optimal.

Program beasiswa santri berprestasi (PBSB) di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang selama ini dilakukan, memberikan kesempatan bagi santri untuk dapat mengembangkan keilmuan tidak hanya pada bidang keagamaan saja, tetapi juga keilmuan lain. Akan tetapi dalam perjalanannya, terdapat beberapa santri (mahasiswa penerima PBSB) yang tidak dapat bertahan (drop out) pada saat mengikuti pendidikan di IPB. Sebagai contoh, dari 25 mahasiswa angkatan 42 (tahun 2005) penerima program beasiswa santri berprestasi di IPB, 6 orang (24%) di antaranya mengalami drop out, begitu pun pada angkatan-angkatan berikutnya, walaupun jumlah mahasiswa yang mengalami drop out tidak sama. Hal ini diduga disebabkan oleh rendahnya prestasi akademik mahasiswa PBSB, akibat perbedaan sistem dan metode pembelajaran di IPB dengan sistem pembelajaran sebelumnya di pesantren.

(23)

Latar belakang pendidikan yang bukan dari sekolah umum, diduga menyebabkan kemampuan dasar yang dimiliki mahasiswa PBSB pada mata kuliah umum, terutama bidang eksakta, berbeda dengan mahasiswa regular lainnya. Hal ini mungkin menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya mahasiswa PBSB mengikuti pendidikan di IPB, yang berdampak pada rendahnya prestasi akademik yang diperoleh. Selain itu, beberapa literatur menyebutkan bahwa prestasi akademik berkaitan dengan tingkat kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem. Oleh karena itu, perlu diteliti apakah benar prestasi akademik yang diperoleh mahasiswa PBSB lebih rendah dibandingkan dengan mahasiswa non PBSB pada umumnya, dan apakah prestasi akademik dipengaruhi oleh kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem yang dimiliki seseorang. Berdasarkan pemaparan di atas, maka pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah karakteristik individu dan karakteristik keluarga pada mahasiswa PBSB dan non PBSB?

2. Bagaimanakah kecerdasan emosional, kematangan sosial, self-esteem dan prestasi akademik pada mahasiswa PBSB dan non PBSB?

3. Bagimanakah hubungan antara kecerdasan emosional, kematangan sosial, self-esteem dan prestasi akademik pada mahasiswa PBSB dan non PBSB?

4. Bagaimanakah pengaruh karakteristik individu, karakteristik keluarga, kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem terhadap prestasi akademik pada mahasiswa PBSB dan non PBSB?

Tujuan Penelitian Tujuan Umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecerdasan emosional, kematangan sosial, self esteem, dan prestasi akademik pada mahasiswa penerima program beasiswa santri berprestasi (PBSB).

Tujuan Khusus

1. Menganalisis perbedaan karakteristik individu (usia, jenis kelamin, urutan anak, kegiatan kemahasiswaan) dan karakteristik keluarga (tingkat pendidikan

(24)

orangtua, pekerjaan orangtua, tingkat pendapatan orangtua, besar keluarga) pada mahasiswa kelompok PBSB dan non PBSB.

2. Menganalisis perbedaan tingkat kecerdasan emosional, kematangan sosial, self-esteem dan prestasi akademik pada mahasiswa kelompok PBSB dan non PBSB.

3. Menganalisis hubungan antara karakteristik individu dan keluarga dengan kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem mahasiswa kelompok PBSB dan non PBSB.

4. Menganalisis hubungan antara kecerdasan emosional dan kematangan sosial dengan self-esteem mahasiswa kelompok PBSB dan non PBSB.

5. Menganalisis hubungan antara kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem dengan prestasi akademik mahasiswa kelompok PBSB dan non PBSB.

6. Menganalisis pengaruh karakteristik individu, karakteristik keluarga, kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem terhadap prestasi akademik mahasiswa kelompok PBSB dan non PBSB.

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait. Bagi peneliti, penelitian ini bermanfaat dalam rangka mengembangkan kompetensi diri dan memperluas pengetahuan serta wawasan tentang perkembangan remaja. Bagi mahasiswa penerima program beasiswa santri berprestasi, penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai kecerdasan emosional, kematangan sosial, self-esteem, dan prestasi akademik yang diperoleh sehingga dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi. Bagi pihak penyelenggara beasiswa, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kecerdasan emosional, kematangan sosial, self-esteem, dan prestasi akademik mahasiswa peserta program beasiswa santri berprestasi di Institut Pertanian Bogor. Selanjutnya dapat menjadi bahan masukan bagi pihak penyelenggara beasiswa tersebut dalam merumuskan dan menyusun kebijakan yang terkait dengan penerima program beasiswa. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu dan menjadi landasan bagi pengembangan penelitian-penelitian sejenis di masa yang akan datang.

(25)

TINJAUAN PUSTAKA

Remaja

Remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescent yang mempunyai arti tumbuh menjadi dewasa. Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang umumnya dimulai pada usia dua belas atau tiga belas tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai. Perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan. Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia, Olds & Feldman 2008).

Menurut Papalia, Olds dan Feldman (2008), peralihan dari anak-anak menuju dewasa meliputi perkembangan fisik, perkembangan kognitif, dan perkembangan kepribadian dan sosial. Tugas utama seorang remaja adalah pencarian identitas atau jati diri yang meliputi kepribadian seksual dan pekerjaan. Secara umum masa remaja ditandai dengan fase pubertas, yaitu suatu proses saat seseorang mencapai kematangan seksual dan memiliki kemampuan untuk bereproduksi. Matangnya sistem reproduksi pada remaja laki-laki ditandai dengan mimpi basah (noctoral emissions) dan pada remaja perempuan mengalami menstruasi pertama (menarche). Perubahan ini biasanya terjadi tiga tahun lebih cepat pada remaja perempuan daripada remaja laki-laki.

Masa awal remaja ialah suatu periode ketika konflik dengan orangtua meningkat melampaui tingkat masa anak-anak. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu perubahan biologis, pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealisme dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan dan harapan-harapan pada orangtua (Santrock 2007).

Papalia, Olds dan Feldman (2008) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa peluang sekaligus resiko. Para remaja berada di pertigaan antara kehidupan cinta, pekerjaan, dan partisispasi dalam masyarakat dewasa. Tugas

(26)

penting yang dihadapi para remaja ialah mengembangkan persepsi identitas diri (sense of individual identity). Mencari identitas diri mencakup hal memutuskan apa yang penting dan patut dikerjakan serta memformulasikan standar tindakan dalam mengevaluasi perilaku dirinya dan juga perilaku orang lain. Hal ini mencakup juga perasaan harga diri dan kompetensi diri (Atkinson et al 1983). Atkinson juga mengemukakan suatu studi yang menemukan bahwa sebagian besar mahasiswa perguruan tinggi tahun pertama masih berjuang dengan masalah pembentukan identitas, tetapi dalam tahun terakhir banyak masalah yang dapat diatasi.

Kecerdasan Emosional

Emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Goleman 2004). Menurut Goleman (2004), emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, atau emosi sedih yang mendorong seseorang untuk berperilaku menangis.

Shapiro (1998) menyatakan bahwa istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan Salovey (1990) untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas-kualitas ini antara lain adalah empati, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat. Menurut Salovey dan Mayer (1990) dalam Shapiro (1998), kecerdasan emosional adalah kemampuan memantau dan mengendalikan emosi sendiri dan orang lain, serta menggunakan emosi tersebut untuk memandu pikiran dan tindakan. Kecerdasan emosional dimiliki oleh seseorang sejak lahir. Perkembangan kecerdasan emosional dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya seperti keluarga, lingkungan bermain, sekolah, dan sebagainya.

Menurut Goleman (2004), kecerdasan emosional merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi

(27)

kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Lebih lanjut Goleman (2004) menjelaskan, dengan kecerdasan emosional yang dimiliki seseorang ia harus mampu menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan, mengatur suasana hati, mengatur kehidupan emosi dengan inteligensi, serta menjaga keselarasan emosi dengan pengungkapannya. Selanjutnya Goleman (2004) membagi kecerdasan emosional ke dalam lima kemampuan utama, yaitu kesadaran emosi diri, pengelolaan emosi diri, kemampuan memotivasi diri, kemampuan empati, dan seni membina hubungan. Kesadaran Emosi Diri

Kesadaran emosi diri adalah kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional. Kesadaran diri merupakan kemampuan mengenali perasaan dan menyusun kosakata untuk perasaan itu dan melihat kaitan antara gagasan, perasaan dan reaksi, mengetahui kapan pikiran atau perasaan menguasai keputusan, melihat akibat pilihan alternatif dan menerapkan pemahaman ini pada keputusan tentang suatu masalah. Kesadaran diri juga dapat berupa kemampuan mengenali kekuatan serta kelemahan dan melihat diri sendiri dalam sisi yang positif tetapi realistis (Goleman 2004).

Pengelolaan Emosi Diri

Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, dimana hal ini sangat bergantung pada kesadaran diri. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan. Pengelolaan emosi ini juga berarti kemampuan menahan diri terhadap kepuasan berlebihan dan dapat mengendalikan dorongan hati (Goleman 2004).

Kemampuan Memotivasi Diri

Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri serta untuk berkreasi. Seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam

(28)

menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya, menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun diri menuju sasaran, membantu mengambil inisiatif, dan bertindak secara efektif apabila memiliki kemampuan untuk memotivasi diri. Individu yang memiliki kemampuan memotivasi tinggi akan memiliki daya juang atau semangat yang lebih tinggi dalam mencapai cita-cita dan tidak mudah putus asa serta memiliki kepercayaan yang tinggi dalam menghadapi dan memecahkan masalah (Goleman 2004).

Kemampuan Empati

Kemampuan berempati adalah kemampuan untuk mengenali emosi orang lain. Menurut Goleman (2004), kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Empati dibangun berdasarkan kesadaran diri, semakin terbuka kepada emosi diri sendiri semakin terampil membaca perasaan. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain. Goleman (2004) menyatakan, berempati lebih dari sekedar bersimpati pada orang lain, berempati adalah menempatkan diri pada posisi orang lain secara emosional. Empati juga digunakan sebagai salah satu syarat untuk membangun hubungan dengan orang lain.

Seni Membina Hubungan

Kemampuan dalam membina hubungan merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Keterampilan ini menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Kemampuan sosial memungkinkan seseorang membentuk hubungan untuk menggerakkan dan mengilhami orang lain, membina kedekatan hubungan, meyakinkan dan mempengaruhi, serta membuat orang lain merasa nyaman. Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Kemampuan membina hubungan ditandai dengan kemampuan mengendalikan dan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain, cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan

(29)

lancar, memahami dan bertindak bijaksana dalam hubungan antar manusia (Goleman 2004).

Kematangan Sosial

Manusia sebagai makhluk sosial, senantiasa berhubungan dengan manusia lainnya dalam masyarakat. Sosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap kehidupan sosial, yaitu bagaimana seharusnya seseorang hidup di dalam kelompoknya, baik dalam kelompok primer (keluarga) maupun kelompok sekunder (masyarakat). Proses sosialisasi dan interaksi sosial dimulai sejak manusia lahir dan berlangsung terus hingga ia dewasa atau tua. Dengan demikian, jelaslah bahwa hubungan sosial merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana dan terbatas sampai pada tingkat yang luas dan kompleks. Semakin dewasa dan bertambah usia, tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi amat luas dan kompleks (Fatimah 2006).

Teori psikologi telah mengungkapkan bahwa manusia tumbuh dan berkembang dari masa bayi ke masa dewasa melalui beberapa langkah, tahapan, dan jenjang. Kehidupan seseorang pada dasarnya merupakan kemampuan berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungan sosial budayanya. Pada proses interaksi sosial ini, faktor intelektual dan emosional mengambil peran yang sangat penting. Proses sosial tersebut merupakan proses sosialisasi yang menempatkan anak-anak sebagai individu yang secara aktif melakukan proses sosialisasi, internalisasi, dan enkulturasi. Sebab, manusia tumbuh dan berkembang di dalam konteks lingkungan sosial budaya. Lingkungan itu dapat dibedakan atas lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya. Lingkungan sosial memberi banyak pengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak, terutama kehidupan sosiopsikologis (Fatimah 2006).

Menurut Goleman (2007), kematangan sosial adalah kemampuan untuk mengerti orang lain dan bagaimana bereaksi terhadap situasi sosial yang berbeda. Terdapat dua unsur kecerdasan sosial, yaitu kesadaran sosial dan fasilitas sosial. Kesadaran sosial adalah kemampuan untuk dapat merasakan keadaan batiniah seseorang sampai memahami perasaan dan pikirannya. Kemampuan kesadaran sosial meliputi empati dasar, kemampuan mendengarkan, ketepatan empatik, dan

(30)

pengertian sosial. Sementara itu fasilitas sosial adalah kemampuan yang bertumpu pada kesadaran sosial untuk memungkinkan interaksi yang mulus dan efektif. Fasilitas sosial meliputi sinkroni, presentasi diri, pengaruh, dan kepedulian. Sinkroni memungkinkan seseorang untuk bergerak atau berinteraksi secara mulus pada tingkat nonverbal. Goleman menjelaskan bahwa singkroni adalah batu fondasi yang menjadi landasan dibangunnya aspek-aspek lain. Presentasi diri merupakan kemampuan menampilkan diri sendiri untuk menghasilkan kesan yang dikehendaki. Pengaruh melibatkan pengungkapan diri dengan cara yang menghasilkan hasil sosial yang diinginkan, seperti membuat orang merasa nyaman. Sementara kepedulian adalah merasa peduli terhadap kebutuhan orang lain dan melakukan tindakan yang sesuai dengan hal itu.

Hatch dan Gardner (Goleman 2006) mengemukakan dasar-dasar kecerdasan sosial terdiri dari kemampuan mengorganisir kelompok, merundingkan perpecahan, mengelola hubungan pribadi, dan kemampuan analisis sosial. Goleman (2007) menjelaskan bahwa keterampilan sosial seseorang akan matang apabila memiliki kemampuan empati dan manajemen diri yang baik.

Kemampuan untuk mendapat perhatian melalui cara yang secara sosial diterima merupakan kematangan sosial sebagai prestasi perkembangan sosialnya. Kemampuan untuk bersama-sama dalam suatu pertemanan dan kelompok merupakan manifestasi kematangan emosional dan sosial. Hal tersebut merupakan hasil dari serangkaian keterampilan mengetahui dan memenuhi harapan-harapan sosial yang diembankan kepadanya, disertai dengan kemampuan mengelola emosi yang tepat kepada orang-orang di sekitarnya (Sunarti 2004).

Erikson dalam Fatimah (2006) mengemukakan bahwa perkembangan remaja sampai jenjang usia dewasa melalui delapan tahapan. Perkembangan remaja berada pada tahap keenam dan ketujuh, yaitu masa menemukan jati diri. Dalam hal ini, Erikson berpendapat bahwa penemuan jati diri seseorang didorong oleh pengaruh sosiokultural. Kebutuhan untuk dapat diterima oleh lingkungan bagi setiap individu merupakan suatu hal yang sangat mutlak sebagai makhluk sosial. Kelley et al dalam Sears et al (1985) mengemukakan beberapa faktor yang berhubungan dengan suatu hubungan, yaitu keyakinan, perasaan, dan perilaku.

(31)

Studi-studi kontemporer tentang remaja menunjukkan hubungan yang positif dengan teman sebaya diasosiasikan dengan penyesuaian sosial yang positif.

Menurut Fatimah (2006), pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok, baik kelompok kecil maupun kelompok besar. Penetapan pilihan kelompok yang diikuti, didasari oleh berbagai pertimbangan, seperti moral, ekonomi, minat, dan kesamaan bakat dan kemampuan. Masalah yang umum dihadapi oleh para remaja dan paling rumit adalah faktor penyesuaian diri. Sering terjadi perpecahan dalam kelompok tersebut yang disebabkan oleh menonjolnya kepentingan pribadi masing-masing. Sekalipun demikian di dalam kelompok itu terbentuk suatu persatuan dan rasa solidaritas yang kuat yang diikat oleh nilai dan norma kelompok yang telah disepakati bersama. Nilai positif dalam kehidupan kelompok adalah tiap-tiap anggota belajar berorganisasi, memilih pemimpin, dan mematuhi peraturan kelompok.

Kehidupan sosial pada jenjang usia remaja yang di dalamnya termasuk mahasiswa ditandai oleh menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Mereka dapat mengalami hubungan sosial yang bersifat tertutup ataupun terbuka seiring dengan masalah pribadi yang dialaminya (Fatimah 2006). Keadaan ini oleh Erikson (Lefton 1982 dalam Fatimah 2006) dinyatakan sebagai krisis identitas diri. Proses pembentukan identitas diri dan konsep diri merupakan sesuatu yang kompleks. Konsep diri ini tidak hanya terbentuk dari bagaimana remaja percaya tentang keberadaan dirinya, tetapi juga dari bagaimana orang lain menilai tentang keberadaan dirinya.

Sears et al (1985) menyatakan bagi banyak mahasiswa, ketegangan yang muncul pada awal kuliah di perguruan tinggi yang bercampur dengan kesepian sementara disebabkan perpisahan dengan teman dan keluarga, serta kecemasan tentang kehidupan sosial yang baru. Mahasiswa memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengatasi kesepian bila mereka memulai tahun kuliahnya dengan harapan positif bahwa mereka akan berhasil mendapatkan teman dan bila mereka mempunyai penilaian yang baik mengenai kepribadian dan dirinya sendiri. Dengan kata lain, optimisme dan harga diri yang tinggi merupakan unsur signifikan dalam usaha menciptakan kehidupan sosial yang memuaskan di perguruan tinggi. Perkembangan sosial dipengaruhi oleh banyak faktor, antara

(32)

lain keluarga, status sosial ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental, terutama emosi dan inteligensi.

Self-Esteem

Esteem diperlukan seseorang dalam menjalin suatu hubungan. Self-esteem adalah dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri, disebut juga harga diri atau gambaran diri (Santrock 2003). Bustanova (2008) menyatakan bahwa self-esteem adalah penilaian seseorang secara umum terhadap dirinya sendiri, baik berupa penilaian positif maupun penilaian negatif yang akhirnya menghasilkan perasaan bahwa diri berharga dan berguna dalam menjalani kehidupan. Individu dengan self-esteem yang tinggi akan mampu mengekspresikan diri dengan baik serta percaya pada persepsi dan dirinya sendiri.

Harter dalam Brooks (2001) menyatakan dua hal yang mempengaruhi self-esteem, yaitu: 1) dukungan dan perlakuan positif yang diterima dari orangtua pada tahun-tahun pertama, dan 2) hal terpenting terbentuknya self-esteem adalah pada usia delapan tahun, dimana menurut teori psikososial Erikson pada masa itu anak berada pada tahap industry vs inferiority. Pada tahap industry vs inferiority, anak mengarahkan energinya untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan. Jika anak gagal melewati tahap ini dengan baik, maka akan timbul perasaan yang memandang dirinya tidak produktif dan tidak kompeten (Santrock 2007).

Menurut Erikson dalam Megawangi (2007), konsep diri yang positif atau bagaimana remaja menilai dirinya, akan meningkatkan tingkat kepercayaan diri (self-esteem) remaja. Kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya (Fatimah 2006).

Papalia, Olds dan Feldman (2008) mengemukakan bahwa sepanjang masa remaja, sebagian besar harga diri berkembang dalam konteks hubungan dengan teman sebaya, khususnya yang berjenis kelamin sama. Sejalan dengan pandangan Giligan, harga diri pria tampaknya dikaitkan dengan pergulatan prestasi individual, sedangkan harga diri wanita lebih tergantung pada koneksi dengan orang lain. Beberapa peneliti menyatakan bahwa remaja perempuan memiliki harga diri yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Harga diri dan kepercayaan

(33)

remaja perempuan cukup tinggi hingga usia 11 atau 12 tahun dan kemudian cenderung menurun.

Prestasi Akademik

Prestasi akademik merupakan salah satu ukuran tingkat inteligensi. Prestasi akademik dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai oleh individu setelah mengalami suatu proses belajar dalam jangka waktu tertentu (Ridwan 2008). Wechler dalam Fatimah (2006) merumuskan inteligensi sebagai keseluruhan kemampuan individu dalam berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Lebih lanjut, Fatimah menjelaskan bahwa daya pikir seseorang berkembang sejalan dengan pertumbuhan syaraf otaknya. Karena daya pikir menunjukkan fungsi otak, kemampuan intelektual atau kemampuan berpikir dipengaruhi oleh kematangan otak yang mampu menunjukkan fungsinya secara baik.

Aktivitas otak yang disadari seperti berpikir (thinking), menjelaskan (reasoning), membayangkan (imagining), mempelajari kata (learning words) dan menggunakan bahasa (using language) berhubungan dengan berkembangnya aspek kognitif (Webster 1993 dalam Hastuti 2006). Menurut Piaget dalam Papalia, Olds dan Feldman (2008), perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal.

Mappiare (1982) dalam Fatimah (2006), menjelaskan hal-hal yang mempengaruhi perkembangan inteligensi sebagai berikut:

a. Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang, sehingga ia mampu berpikir reflektif.

b. Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan dalam memecahkan masalah sehingga seseorang dapat berpikir rasional.

c. Adanya kebebasan berpikir, sehingga mendorong keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah

(34)

secara keseluruhan, dan keberanian memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.

Ketiga kondisi tersebut sesuai dengan dasar-dasar dari teori Piaget mengenai perkembangan inteligensi. Dalam pandangan Piaget (Santrock 2003), remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, dimana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.

Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat memberikan kepuasan emosional dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu. Dalam proses pendidikan prestasi dapat diartikan sebagai hasil dari proses belajar mengajar yakni, penguasaan, perubahan emosional, atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tertentu. Pada tingkat perguruan tinggi, pencapaian hasil belajar atau prestasi akademik dapat dilihat dari indeks prestasi yang diperoleh setiap semesternya (Abdullah 2008).

(35)

Prestasi akademik adalah suatu hasil yang dicapai oleh individu setelah mengalami suatu proses belajar dalam jangka waktu tertentu. Prestasi akademik juga dapat diartikan sebagai kemampuan maksimal yang dicapai seseorang dalam suatu usaha, yang menghasilkan pengetahuan atau nilai-nilai kecakapan. Dunia pendidikan yang semakin berkembang, menuntut setiap individu untuk dapat berprestasi dengan baik. Ada banyak faktor yang mempengaruhi prestasi akademik, diantaranya kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan sef-esteem yang dimiliki seseorang.

Kecerdasan emosional turut mempengaruhi hasil belajar atau prestasi akademik individu. Kecerdasan emosional berkaitan dengan prestasi akademik melalui motivasi. Menurut Goleman (2004), kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan belajar. Kecerdasan emosional dalam belajar biasanya berkaitan dengan kestabilan emosi untuk bisa tekun, konsentrasi, tenang, teliti, dan sabar dalam memahami materi yang dipelajari. Menurut Setiawati (2007), kecerdasan emosional berhubungan positif dengan prestasi belajar praktek.

Aspek lain yang berhubungan dengan pencapaian prestasi individu adalah kematangan sosialnya. Menurut Megawangi (2007), beberapa aspek emosi-sosial yang menentukan keberhasilan anak di sekolah adalah rasa percaya diri, rasa ingin tahu, motivasi, kemampuan kontrol diri, kemampuan bekerjasama, mudah bergaul dengan sesamanya, mampu berkonsentrasi, rasa empati dan kemampuan berkomunikasi.

Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2009) menunjukkan hubungan yang positif dan nyata antara keterampilan sosial dan self-esteem. Dalam interaksinya sebagai makhluk sosial, kematangan sosial dan self-esteem yang dimiliki seseorang akan menentukan keberhasilannya dalam membangun suatu hubungan sosial. Emler (2001) menjelaskan bahwa individu yang memiliki self-esteem yang rendah memiliki masalah dalam berperilaku dan berinteraksi dengan lingkungan sosial serta tidak jarang menimbulkan masalah

(36)

sosial. Sebaliknya, individu dengan penghargaan diri (self-esteem) yang tinggi cenderung memiliki prestasi belajar yang tinggi.

Kecerdasan emosional, kematangan sosial, self-esteem, dan prestasi akademik dipengaruhi langsung oleh gaya pengasuhan. Karakteristik individu dan karakteristik keluarga berhubungan dengan gaya pengasuhan yang diterapkan orangtua. Gaya pengasuhan orangtua akan membentuk kecerdasan emosional remaja dan kecerdasan emosional akan membantu remaja untuk mengontrol emosi, membangun kepercayaan diri (self-esteem), dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Selain dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan (komponen kognitif) prestasi akademik juga dipengaruhi oleh pola dan fasilitas belajar. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi prestasi akademik yang disebutkan di atas, penelitian ini memfokuskan kajian pada aspek kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem yang diduga berpengaruh terhadap prestasi akademik. Kaitan antara kecerdasan emosional, kematangan sosial, self-esteem, dan prestasi akademik dapat dilihat pada Gambar 1.

(37)

 

21

Keterangan: = variabel yang diteliti = hubungan yang diteliti = variabel yang tidak diteliti = hubungan yang tidak diteliti

Gambar 1 Pengaruh faktor karakteristik contoh, karakteristik keluarga, kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem terhadap prestasi akademik.

Karakteristik Individu: 1. Usia

2. Jenis kelamin 3. Urutan anak dalam

keluarga 4. Kegiatan kemahasiswaan Karakteristik Keluarga: 1. Tingkat pendidikan orangtua 2. Pekerjaan orangtua 3. Tingkat pendapatan orangtua 4. Besar keluarga

3.Orangtua laissez faire 4.Orangtua pelatih emosi

Kecerdasan Emosional: 1. Kesadaran emosi diri 2. Pengelolaan emosi 3. Motivasi diri 4. Empati

5. Seni membina hubungan

Kematangan Sosial: 1. Kesadaran sosial 2. Fasilitas sosial

Self-Esteem Prestasi

Akademik

Fasilitas dan pola belajar

Komponen kognitif

(38)

Desain, Tempat, dan Waktu

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study yakni data yang dikumpulkan pada suatu waktu dan tidak berkelanjutan (Singarimbun & Efendi 1995). Penelitian dilaksanakan di Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor. Lokasi penelitian dipilih secara purposive dengan pertimbangan IPB merupakan salah satu perguruan tinggi di Indonesia, yang pertama kali bekerjasama dengan Kementrian Agama RI pada tahun 2005 dan masih berlangsung hingga sekarang dalam penerimaan mahasiswa IPB, Program Sarjana (S1) jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) melalui pondok pesantren. Penelitian ini dilaksanakan selama tujuh bulan, yaitu dari bulan Maret hingga September 2010.  

Cara Pemilihan Contoh

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa IPB. Contoh penelitian adalah mahasiswa IPB dengan kriteria minimal semester dua dan masih aktif mengikuti perkuliahan di kelas. Mahasiswa yang memenuhi kriteria meliputi mahasiswa tahun angkatan 2007, 2008, dan 2009. Mahasiswa tahun angkatan 2007, 2008, dan 2009 berjumlah 9270 orang, termasuk di dalamnya mahasiswa PBSB sebanyak 179 orang. Data tersebut diperoleh dari Direktorat Administrasi Pendidikan IPB.

Penarikan contoh dimulai dengan menentukan sampel frame beserta jumlah contoh yang akan diambil. Contoh diambil dari tiga fakultas yang dipilih secara purposive dengan syarat terdapat mahasiswa PBSB terbanyak, yaitu FAPERTA, FATETA, dan FMIPA. Penarikan contoh dilakukan secara acak sistematis (Sevilla et al 1993) pada 100 orang mahasiswa dari tiga fakultas terpilih yang terdiri dari 50 mahasiswa penerima program beasiswa santri berprestasi (PBSB) dan 50 mahasiswa non PBSB. Jumlah contoh ditentukan berdasarkan jumlah yang memenuhi syarat untuk uji statistik.

Banyaknya contoh yang diambil pada setiap fakultas terpilih disesuaikan dengan proporsi dari masing-masing fakultas, yaitu dengan menentukan jumlah contoh berdasarkan jumlah mahasiswa PBSB pada setiap fakultas terpilih dibagi dengan jumlah keseluruhan mahasiswa PBSB dari tiga fakultas terpilih, kemudian

(39)

hasil yang diperoleh dikalikan dengan jumlah contoh yang diambil untuk penelitian. Jumlah contoh yang diambil pada mahasiswa regular (non PBSB) disesuaikan dengan jumlah contoh yang diambil pada mahasiswa PBSB. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 2.

tiga fakultas terbanyak

FAPERTA PBSB = 29 Non PBSB = 1105 FMIPA PBSB = 42 Non PBSB = 1750 PBSB (n = 15) Non PBSB (n = 15) n = 30 PBSB (n = 12) Non PBSB (n = 12) n = 24 n = 100 PBSB (n = 23) Non PBSB (n = 23) n = 46 FATETA PBSB = 23 Non PBSB = 1116 IPB

Gambar 2 Cara pemilihan contoh

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi karakteristik individu (usia, jenis kelamin, urutan anak dalam keluarga, dan kegiatan kemahasiswaan), karakteristik keluarga (tingkat pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, tingkat pendapatan orangtua, dan besar keluarga), kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem. Data primer tersebut dikumpulkan melalui teknik wawancara dan pelaporan diri (self-report) dengan alat bantu kuesioner. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi data indeks prestasi kumulatif (IPK), gambaran umum lokasi penelitian, dan data mengenai mahasiswa penerima program beasiswa santri berprestasi (PBSB) maupun mahasiswa regular (non PBSB) yang diperoleh dari Direktorat Administrasi Pendidikan serta Direktorat Kerjasama dan Program Internasional IPB. Rincian jenis dan cara pengambilan data disajikan dalam Tabel 1.

(40)

Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data

Jenis Data Variabel Responden/

Sumber Skala Data Primer Karakteristik Individu

- Usia

- Jenis kelamin

- Urutan anak dalam keluarga - Kegiatan kemahasiswaan Mahasiswa Rasio Nominal Nominal Nominal Primer Karakteristik Keluarga

- Pendidikan orangtua - Pekerjaan orangtua - Pendapatan orangtua - Besar keluarga Mahasiswa Interval Nominal Rasio Rasio Primer Kecerdasan Emosional

- Kesadaran emosi diri - Pengelolaan emosi - Motivasi diri - Empati

- Seni membina hubungan

Mahasiswa Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal Primer Kematangan Sosial Mahasiswa Ordinal Primer Self-Esteem Mahasiswa Ordinal Sekunder Prestasi Akademik

Data Mahasiswa PBSB dan non PBSB IPK Direkrorat Kerjasama dan PI Dit. AP Rasio

Kecerdasan emosional diukur dengan menggunakan instrumen pengukuran kecerdasan emosional remaja yang dikembangkan oleh Latifah (2009), yang terdiri dari lima subskala, yaitu kesadaran emosi diri, pengelolaan emosi diri, motivasi diri, empati, dan seni membina hubungan. Masing-masing subskala kecerdasan emosional terdiri dari 15 pernyataan (delapan pernyataan positif dan tujuh pernyataan negatif). Kematangan sosial diukur dengan menggunakan alat ukur yang dimodifikasi dari instrumen pengukuran keterampilan sosial yang terdapat pada skripsi milik Wulandari (2009), terdiri dari 13 item pernyataan yang termasuk ke dalam unsur kesadaran sosial (tujuh item pernyataan positif dan enam pernyataan negatif) dan 13 item pernyataan yang termasuk ke dalam unsur fasilitas sosial (sebelas pernyataan positif dan dua pernyataan negatif). Alat ukur self-esteem yang digunakan dalam penelitian ini merupakan instrumen pengukuran self-esteem Puspitawati (2006), terdiri dari 20 pernyataan yang di dalamnya terdapat pernyataan positif sebanyak sembilan item

(41)

pernyataan dan negatif sebanyak sebelas item pernyataan. Prestasi akademik contoh dilihat dari nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) yang diperoleh contoh pada semester ganjil tahun ajaran 2009-2010.

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh diolah melalui proses editing, coding, scoring, entry data, cleaning data, dan analisis data. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistk deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik individu (usia, jenis kelamin, urutan anak, kegiatan kemahasiswaan) dan karakteristik keluarga (pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, pendapatan orangtua, dan besar keluarga). Uji statistik inferensial yang dilakukan adalah uji korelasi Spearman untuk melihat hubungan antar variabel, uji beda mann whitney (untuk data kategorik) dan uji beda T-test (untuk data rasio) digunakan untuk menganalisis perbedaan dua kelompok, dan uji regresi linier berganda digunakan untuk uji pengaruh.

Untuk mengukur validitas dan reliabilitas kuesioner, terlebih dahulu dilakukan uji coba kuesioner sebelum penelitian dilakukan. Pengukuran reliabilitas alat ukur dilakukan uji Alpha Cronbach dan pengukuran validitas alat ukur dilakukan uji corrected inter-item. Setelah dilakukan uji coba kuesioner didapatkan hasil sebagai berikut, nilai Alpha Cronbach untuk alat ukur kecerdasan emosional sebesar 0.950, nilai Alpha Cronbach untuk alat ukur kematangan sosial sebesar 0.909, dan nilai Alpha Cronbach untuk alat ukur self-esteem sebesar 0.880.

Kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem diukur dengan menggunakan instrumen dan jawaban dikelompokkan menjadi sangat tidak setuju (skor 1), tidak setuju (skor 2), setuju (skor 3), dan sangat setuju (skor 4) untuk pernyataan positif dan skor yang berlawanan untuk pernyataan negatif. Pengkategorian kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem dilakukan berdasarkan mean ± standar deviasi. Adapun rumus pengkategoriannya adalah sebagai berikut: (1) Rendah adalah kurang dari (mean – standar deviasi), (2) Sedang adalah (mean – standar deviasi) hingga (mean + standar deviasi), (3) Tinggi adalah lebih besar dari (mean + standar deviasi).

(42)

Tabel 2 Cara pengkategorian variabel

No Variabel Mean SD (<[Mean−SD]) Rendah

Sedang ([Mean−SD)-(Mean+SD]) Tinggi (>[Mean+SD]) 1 Kecerdasan Emosional 212.6 15.2 <197 197-228 >228 Kesadaran emosi diri 40.6 3.7 <37 37-44 >44 Pengelolaan emosi 43.9 4.4 <39 39-48 >48 Motivasi diri 41.9 4.1 <38 38-46 >46 Empati 43.9 3.5 <40 40-47 >47 Seni membina hubungan 42.2 4.0 <38 38-46 >46 2 Kematangan Sosial 77.5 6.3 <71 71-84 >84 Kesadaran sosial 38.4 3.4 <35 35-42 >42 Fasilitas sosial 39.1 3.5 <36 36-43 >43 3 Self-Esteem 58.3 6.1 <52 52-64 >64 Keterangan: SD = Standar Deviasi

Sementara prestasi akademik yang dilihat dari Indeks Prestasi Kumuatif (IPK) contoh dikelompokkan dalam empat kategori, berdasarkan kategori yang biasa digunakan oleh Institut Pertanian Bogor. Pengelompokkan ini terbagi menjadi kurang (IPK≤2.50), cukup (2.50<IPK<2.75), baik (2.75<IPK<3.50), dan sangat baik (IPK≥3.50). Untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik dilakukan uji regresi linier. Bentuk persamaan mengenai prestasi akademik adalah sebagai berikut:

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 +β6X6+ β7X7+ε Keterangan: Y = Prestasi akademik α = Konstanta regresi β1, β2,…, β7 = Koefisien regresi X1 = Usia contoh X2 = Kegiatan kemahasiswaan X3 = Pendapatan orangtua X4 = Besar keluarga X5 = Kecerdasan emosional

(43)

X6 = Kematangan sosial X7 = Self-esteem

ε = Galat

Definisi Operasional

Remaja adalah mahasiswa usia 17-21 tahun yang berada minimal pada semester dua dan aktif mengikuti perkuliahan di kelas.

Usia adalah usia contoh pada saat pengambilan data ketika penelitian dilakukan (dalam tahun).

Urutan anak adalah susunan anak lahir hidup dalam keluarga contoh.

Kegiatan kemahasiswaan adalah kegiatan yang diikuti contoh baik kegiatan di dalam kampus maupun di luar kampus. Kegiatan kemahasiswaan ini dilihat dari: a) kegiatan organisasi intra-kampus (maksimum 6 kegiatan terunggul), b) kegiatan organisasi ekstra-kampus (maksimum 6 kegiatan terunggul), c) kegiatan kepanitian intra-kampus (maksimum 6 kegiatan terunggul), dan d) kegiatan kepanitian ekstra-kampus (maksimum 6 kegiatan terunggul). Kegiatan kemahasiswaan ini kemudian dikategorikan menjadi; kurang dari sama dengan dua kegiatan, tiga sampai lima kegiatan, dan lebih dari lima kegiatan.

Pendidikan orangtua tingkat pendidikan formal tertinggi yang pernah diikuti oleh ayah dan ibu contoh.

Pekerjaan orangtua adalah pekerjaan yang dilakukan orangtua contoh sebagai sumber mata pencaharian untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga. Pendapatan orangtua adalah jumlah penghasilan orangtua contoh yang didapat

dari pekerjaan yang dilakukan untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga dan dinilai dalam bentuk rupiah.

Besar keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan

bertahan dalam menghadapi frustrasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan berdoa, yang dibagi menjadi lima wilayah utama, yaitu kesadaran emosi diri, pengelolaan emosi diri, kemampuan memotivasi diri, kemampuan

Gambar

Gambar 1    Pengaruh  faktor  karakteristik contoh, karakteristik keluarga, kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem  terhadap   prestasi akademik
Gambar 2 Cara pemilihan contoh   Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data
Tabel 2  Cara pengkategorian variabel
+7

Referensi

Dokumen terkait

Faktor persamaan suatu negara yang dapat menyebabkan terjadinya kerjasama ekonomi antar negara adalah..... Persamaan

[r]

Wawancara merupakan suatu bentuk komunikasi semacam tanya jawab secara langsung antara penyelidik dengan subjek berupa percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi

Penyimpangan dari perilaku gas ideal pada suhu dan tekanan tertentu dapat ditentukan dengan memunculkan suatu faktor koreksi yang disebut faktor kompresibilitas,

Anda bisa memberikan hadiah bunga mawar yang berbentuk rangkaian buket cantik untuk ibunda tercinta.. Ibu Anda akan sangat senang ketika mendapatkan hadiah

Sebagaimana pada kaca motor jupiter mx untuk melihat intensitas dari lampu motor pada kaca motor mio-Gt dilihat dari gradien kurvanya seperti yang terlihat pada

Segenap Staf Tata Usaha Fakultas Bisnis Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya yang telah membantu segala urusan administrasi dalam penyelesaian tugas akhir ini..

Kesimpulan dari penelitian ini, penggunaan ekskreta walet dalam ransum sampai tingkat 16% tidak berpengaruh terhadap kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritosit