• Tidak ada hasil yang ditemukan

master plan kota Surabaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "master plan kota Surabaya"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

MASTER PLAN KOTA SURABAYA

NAMA : MUHAMMAD FARIS

NBI : 1441401997

KALAS : S

ARSITEKTUR PERKOTAAN

(2)

www.company.com

AMDAL

( analisa mengenai dampak lingkungan hidup )

SURABAYA

Sebagai “Kota Perdagangan dan Jasa Internasional”, Surabaya memegang peranan penting sebagai hub pembangunan kawasan Indonesia Timur. Sedangkan di sisi regional, Surabaya merupakan pintu gerbang masuknya investasi ke propinsi Jawa Timur. Hal ini tentu saja didukung oleh ketersediaan prasarana transportasi dengan kelas internasional dan nasional dimana terdapat Bandara Juanda Internasional, Pelabuhan Tanjung Perak, Terminal Bus Purabaya, dan Stasiun KA Pasar Turi yang

memenuhi kebutuhan mobilitas orang dan barang. Namun demikian, ketersediaan infrastruktur tersebut belum didukung oleh sarana transportasi yang terpadu.

Sampai saat ini, sarana transportasi yang melayani kebutuhan perpindahan orang di dalam Kota Surabaya dan sekitarnya terbatas pada microlet/lyn, bus kota, komuter, dan kereta api. Yang menjadi permasalahan adalah ketidaktersediaan layanan angkutan umum yang aman, nyaman, cepat, dan terpadu menyebabkan masyarakat lebih memilih untuk menggunakan pendaraan pribadi dibandingkan dengan angkutan umum. Hal inilah yang melatarbelkangi meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi di Kota Surabaya terutama yang berokupansi rendah. Peningkatan penggunaan kendaraan pribadi enambah volume kendaraan yang melintasi jalan-jalan di Kota Surabaya dan tentu saja menimbulkan permasalahan kemacetan terutama di saat peak hour. Sampai saat ini, upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan kemacetan tersebut adalah dengan menambah kapasitas dan panjang jalan pada ruas-ruas yang menghubungkan CBD (Central Business Disctrict) maupun pusat-pusat kegiatan lainnya. Namun demikian hal ini bukan merupakan solusi jangka panjang mengingat isue keterbatasan lahan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan jalan. Di sisi lain, meningkatnya penggunaan

kendaraan pribadi juga menimbulkan masalah lanjutan yaitu meningkatnya polusi udara dan efek gas rumah kaca.

Dalam upaya mengatasi permasalahan yang telah dideskripsikan di atas diantaranya yaitu kemacetan, keterbatasan lahan untuk pembangunan jalan, perjalanan penumpang yang tidak efisien, dan

meningkatnya polusi udara atas penggunaan kendaraan pribadi maka dibutuhkan upaya penyediaan angkutan umum massal yang merupakan sarana transportasi berkelanjutan. Di sisi lain, ketersediaan Angkutan Umum Massal Cepat yang mampu menghubungkan prasarana transportasi utama di Kota Surabaya diharapkan mampu meningkatkan mobilitas orang secara efisien terhadap wilayah Surabaya dan sekitarnya sehingga dapat menarik investasi yang lebih besar.

(3)

SURABAYA dalam SMA

SURABAYA dalam GERBANGKERTOSUSILA PLUS

Surabaya dalam Lingkup Propinsi Jawa Timur dan RTRWP

Indonesia

Wilayah Surabaya terdiri atas 330,48 km

2

daratan dan 190,39 km

2

wilayah laut dengan total

luas wilayah sekitar 520,87 km

2

yang terbagi atas 31 Kecamatan dan 160 Kelurahan Jumlah

(4)

www.company.com

Letak Geografis dan Kondisi Bentang

Alam kota surabaya

Surabaya merupakan ibu kota dari Propinsi Jawas Timur, yang secara geografis berada pada 07˚09`00`` -07˚21`00`` Lintang Selatan dan 112˚36`- 112˚54` Bujur Timur. Luas wilayah Kota Surabaya meliputi

daratan dengan luas 330,48 km2 dan lautan seluas 190,39 km2. Kota ini terdiri dari 31 kecamatan dan 160 kelurahan, dengan batas administrasi sebagai berikut:

Sebelah Utara : Selat Madura Sebelah Timur : Selat Madura

Sebelah Selatan : Kabupaten Sidoarjo Sebelah Barat : Kabupaten Gresik

(5)
(6)

www.company.com

Sebaran Kepadatan Penduduk per Kecamatan

Wilayah dengan sebaran kepadatan penduduk tinggi tersebar di sepanjang jalur Utara-Selatan Kota. Sedangkan kawasan Timur dan Barat kota relative lebih tidak padat. Hal ini mengimplikasikan kebutuhan moda pelayanan angkutan umum dibutuhkan terutama pada kawasan yang menghubungkan Utara dan Selatan kota.

(7)

Wilayah Administratif dan Penduduk

Luas wilayah Kota Surabaya adalah meliputi daratan sekitar 330,48 km2 dan lautan sekitar 190,39 km2. Kota Surabaya terdiri dari 31 kecamatan dan 160 kelurahan, dengan luas administrasi dapat dilihat pada Tabel 2.1.

(8)

www.company.com

Kedudukan Kota Surabaya dalam Sistem Pusat Kegiatan

WP Germakertosusila Plus

Berdasarkan PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRW Nasional, Kota Surabaya yang merupakan bagian dari Kawasan Perkotaan Gerbangkertosusila ditetapkan sebagai kawasan yang berfungsi sebagai PKN di Propinsi Jawa Timur. Selain itu, Kota Surabaya merupakan

kawasan andalan dari Propinsi Jawa Timur dengan sektor unggulan berupa pertanian, perikanan, industri dan pariwisata

Gambar 2.9

(9)

Rencana Struktur

Ruang kota surabaya

Adapun berdasarkan Perda Nomor 5 Tahun 2012 tentang RTRW Propinsi Jawa Timur 2011-2031, Kota Surabaya merupakan kawasan perkotaan yang diarahkan untuk berfungsi sebagai PKN di Propinsi Jawa Timur. Kemudian dilihat dari pembagian perwilayahan Propinsi Jawa Timur, Kota Surabaya termasuk dalam Wilayah Pengembangan (WP) Germakertosusilo Plus. WP Germakertosusila Plus tersebut meliputi: Kota Surabaya, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Kabupaten Jombang, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten

Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep, dengan pusat pelayanan di Kota Surabaya.

Adapun pengembangan kegiatan di Kota Surabaya adalah sebagai pusat pelayanan, perdagangan dan jasa, industri, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, transportasi dan prasarana wisata.

Untuk lebih jelasnya mengenai kedudukan Kota Surabaya dalam lingkup regional dapat dilihat pada Gambar 2.9.

Rencana Struktur Kota

surabaya

(10)

www.company.com

(11)

Kota Surabaya sebagai salah satu kota di Jawa Timur memiliki peran strategis pada skala nasional sebagai pusat pelayanan kegiatan Indonesia Timur, dan pada skala regional sebagai kota perdagangan dan jasa yang memiliki simpul transportasi (darat, udara dan laut) nasional dan internasional sehingga memberi peluang bagi Kota Surabaya untuk meningkatkan perannya sebagai Pusat Kegiatan Nasional. Dalam kaitannya dengan kondisi tersebut, Kota Surabaya memiliki kawasan strategis yang dapat dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, yaitu:

1. Kawasan Industri dan Pergudangan

Ditinjau dari aksesbilitas karena letaknya berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak dan Jalan Tol Sidoarjo -Surabaya – Gresik, Kawasan industri dan pergudangan Margomulyo merupakan kawasan strategis untuk dioptimalisasi dan dikembangkan dengan orientasi pada industry smart and clean dengan didukung oleh infrastruktur yang memadai.

2. Kawasan Segi Empat Emas Tunjungan dan sekitarnya

Sebagai kawasan pusat perdagangan dan perkantoran, kawasan Segi Empat Emas Tunjungan memerlukan penanganan dan pengelolaan yang optimal untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya. 3. Kawasan Kaki Jembatan Wilayah Suramadu - Pantai Kenjeran

Merupakan kawasan strategis ditinjau dari lokasinya yang berada di persimpangan kaki jembatan dan rencana jalan lingkar luar timur. Disamping itu, kawasan ini memiliki potensi sebagai kawasan perdagangan dan jasa skala regional. Keberadaan Jembatan Suramadu memberikan peningkatan potensi dan peran Kota Surabaya, sebagai pusat kegiatan regional, tidak hanya dalam lingkup Kawasan Gerbangkertosusila (Kabupaten Gresik, Kabupaten Bangkalan, kabupaten dan Kota Mojokerto, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Lamongan),

namun juga hingga kawasan kepulauan madura secara keseluruhan (Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep).

4. Kawasan Waterfront City yang terintegrasi dengan rencana pengembangan Pelabuhan Teluk Lamong

Kawasan ini akan dikembangkan dengan konsep mixed use antara hunian dan komersial yang didukung oleh rancang kota yang baik yang terintegrasi dengan rencana pengembangan Pelabuhan Teluk Lamong. Kedepannya kawasan pelabuhan dan waterfront city dapat terintegrasi dalam konteks sebuah kesatuan kawasan strategis 5. Kawasan Terpadu Surabaya Barat

Kawasan ini akan dikembangkan menjadi kawasan terpadu yang pusatnya akan dikembangkan di Stadion Bung Tomo sebagaikawasan pusat olahraga berskala nasional yang akan terintegrasi dengan pengembangan kawasan perdagangan dan jasa di sekitarnya.

(12)

www.company.com

Kawasan Srategis Ekonomi dan Kawasan Perdagangan

dan Jasa Kota Surabaya

Selain kawasan strategis ekonomi juga terdapat pusat-pusat kegiatan yang berorientasikan kegiatan perdagangan dan jasa, industri dan pergudangan, maupun fasilitas umum. Berikut penjelasan beberapa pusat kegiatan: 1. Pusat kegiatan yang berorientasikan kegiatan perdagangan dan jasa,

diantaranya yaitu TP, JMP, BG Junction, Pasar Turi, PGS, Galaxy Mall, PTC, Ciputra World, SUTOS.

2. Pusat kegiatan yang berorientasikan kegiatan industry yaitu Kawasan

Industri SIER.

3. Pusat kegiatan yang berorientasikan kegiatan pergudangan, diantaranya yaitu Pergudangan Margomulyo, Pergudagan Banyu Urip, dan Pergudangan Mastrip.

4. Pusat Kegiatan yang berorientasikan kegiatan fasilitas umum, diantaranya yaitu RS Dr.Soetomo, RS BDH, Kampus ITS, Kampus Unair, Kampus UNESA, dan Gelora Bung Tomo.

(13)

Rencana pengembangan transportasi kota

suranaya

(14)
(15)

Rencana Transportasi kota

surabaya

Adapun rencana pengembangan sistem jaringan transportasi yang terdapat di Surabaya meliputi:

1. Rencana pengembangan jaringan jalan nasional jalan bebas hambatan ruas jalan antar kota Mojokerto-Surabaya dan ruas Surabaya-Suramadu-Tanjung Bulupandan

2. Rencana pengembangan jaringan jalan nasional jalan bebas hambatan ruas dalam kota Waru (Aloha)-Wonokromo-Tanjung Perak serta ruas Bandara Juanda-Tanjung Perak

3. Rencana pembangunan jalan arteri baru yang menggantikan fungsi jalan arteri Surabaya-Sidoarjo-Gempol-Pasuruan akibat adanya bencana lumpur lapindo.

4. Rencana pengembangan Jalan Strategis Nasional yang meliputi ruas Jalan Merr II-C

5. Rencana pengembangan Jalan Strategis Provinsi yang meliputi ruas Jalan Raya Menganti, 6. Rencana pengembangan Terminal tipe A yang meliputi Terminal Joyoboyo

7. Rencana pengembangan jalur perkeretaapian ganda ditujukan pada jalur-jalur perkeretaapian sebagai berikut:

Jalur Utara : Surabaya (Pasar Turi) – Lamongan – Babat – Bojonegoro – Cepu

Jalur Tengah : Surabaya (Semut) – Surabaya (Gubeng) – Surabaya (Wonokromo) – Jombang – Kertosono – Nganjuk – Madiun – Solo

Jalur Timur : Surabaya (Semut) – Surabaya (Gubeng) – Surabaya (Wonokromo)– Sidoarjo – Bangil – Pasuruan – Probolinggo – Jember – Banyuwangi

Jalur Lingkar : Surabaya (Semut) – Surabaya (Gubeng) – Surabaya (Wonokromo) – Sidoarjo – Bangil – Lawang – Malang –Blitar – Tulungagung – Kediri – Kertosono – Surabaya

8. Rencana pengembangan pelabuhan pelayanan penyeberangan dengan pelayanan antar kabupaten/kota dalam provinsi yang meliputi Pelabuhan Ujung

9. Rencana pengembangan Pelabuhan utama Tanjung Perak di Kota Surabaya dalam satu sistem dengan rencana pengembangan pelabuhan di wilayah antara Teluk Lamong sampai Kabupaten Gresik, Pelabuhan Socah di Kabupaten Bangkalan, dan untuk jangka panjang diarahkan ke Pelabuhan Tanjung Bulupandan di Kabupaten Bangkalan

(16)

www.company.com

(17)
(18)

www.company.com

Upaya mengurai kemacetan

Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan kemacetan tersebut adalah dengan mengembangkan angkutan umum massal di Kota Surabaya. Angkutan umum massal ini diharapkan mempunyai tingkat layanan yang lebih baik dari pelayanan angkutan umum sekarang sehingga diharapkan pengguna kendaraan pribadi akan berpindah

menggunakan angkutan umum dan akan menjadi pilihan atau alternatif masyarakat untuk melakukan perjalanan.

Solusi yang dapat dikembangkan untuk mengatasi sistem transportasi di Kota Surabaya adalah dengan menerapkan sistem transportasi berkelanjutan yang memiliki kapasitas besar (massal), terintegrasi dengan moda angkutan lain serta yang didukung oleh manajemen trasnportasi yang baik. Adapun yang sebaiknya dikembangkan adalah sistem transportasi berkelanjutan yang berbasis pada penggunaan angkutan umum dibandingkan dengan sistem yang berbasis pada penggunaan kendaraan pribadi. Sistem transportasi berkelanjutan merupakan tatanan baru sistem

transportasi di era globalisasi saat ini. Manfaat terbesar penerapan sistem transportasi berkelanjutan berbasis pada penggunaan angkutan umum di Kota Surabaya antara lain adalah akan sangat membantu mengurangi kemacetan jalan, polusi udara, mengurangi biaya

operasional kendaraan serta konsumsi minyak dan energi.

(19)

Pengembangan Jalur Sepeda di Kota Surabaya

Tahun 2012

(20)

www.company.com

(21)

AMDAL

( analisa mengenai dampak lingkungan hidup )

-Pencemaran

(udara, tanah, air, laut)

-Cadangan SDA menipis

-Bencana alam (

kekeringan, banjir, dll

)

-Ketidakseimbangan iklim

Penurunan

Kualitas Lingkungan

Perlu Sinergisme antara

Pembangunan

dan Lingkungan Hidup

Pembangunan

Berkelanjutan

(WSSD

)

Dampak Negatif

Pembangunan

(22)

www.company.com

“Pembangunan yang berusaha memenuhi kebutuhan

kita sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi

mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka”

Konferensi

Stockholm

1972

Konferensi

Rio de Janeiro

1992

Rio +10/Konferensi

Johannessburg

2002

Menanggapi masalah

kerusakan lingkungan

Perlindungan lingkungan hidup,

pembangunan ekonomi, dan

sosial serta Pembangunan

berkelanjutan (Agenda 21)

Visi pembangunan

berkelanjutan,

kesepakatan global

dan kemitraan antara

seluruh masyarakat

di dunia

(23)

Penerapan Kebijakan Pengelolaan

Lingkungan Hidup Indonesia

pre-emptive

preventive

proactive

Pengambilan

keputusan &

perencanaan

Pelaksanaan

Tingkat produksi

•Tata Ruang

•AMDAL, UKL/UPL

•ISO 14000

•Audit Lingkungan

Studi Kelayakan

•Pengawasan Baku Mutu

•Insentif & Disinsentif

(Instrumen ekonomi)

•Program PROPER

•Perizinan PLB3

(24)

www.company.com

PERENCANAAN

PEMBANGUNAN

RENCANA TATA RUANG

PELAKSANAAN PEMBANGUNAN

Penyusunan Baku Mutu

Perkiraan Dampak

(AMDAL , UKL/UPL

PENGENDALIAN DAN

PEMANFAATAN RUANG

Baku Mutu, RKL/RPL

-Pemantauan

-Penegakan Hukum

Pendekatan Penanganan

Dampak Lingkungan

(25)

AMDAL

Audit

ISO

14000

Eko

label

Cleaner

Prod

Peraturan

Perundang-an

Kebijakan

Lingkungan

Good Enviromental Governance

Market based Instrument

Kepedulian

Konsumen

Teknologi

Perangkat Manajemen Lingkungan

Prokasih

Langit

Biru

Program DAS Kritis

Pantai &

Laut

Lestari

Keanekaragaman

Hayati

Adipura

PROTOKOL

CARTAGENA

PROTOKOL

KYOTO

KONVENSI

BAZEL

PROTOKOL

MONTREAL

Project

level

Ecosystem

Level

National/

Kabupaten

level

UKL &

UPL

Global

level

PROPER

(26)

www.company.com

POLA PENANGANAN

DRAINASE PERKOTAAN

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Standar Pelayanan Minimal Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian

Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten Kota

Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, yang mengatur zero delta Q Policy

Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 239/KPTS/1987 tentang Pembagian Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Pengaturan, Pembinaan dan Pengembangan Drainase Kota.

(27)
(28)

www.company.com

(29)
(30)

www.company.com

DRAINASE BERWAWASAN LINGKUNGAN

SKALA KAWASAN/WILAYAH

SKALA PERSIL

(31)

PILIHAN TEKNOLOGI

DRAINASE BERBASIS

MASYARAKAT

Tipe C daerah terdampak pada kondisi M.A. badan penerima air maksimum/pasang

Tipe B daerah terdampak permanen limpasan

badan penerima air

Tipe A daerah tidak terdampak limpasan badan

Gambar

Tabel 2.6 Pembagian UP dan Fungsi Kegiatan Masing-masing UP

Referensi

Dokumen terkait

Bus Rapid Transit (BRT) merupakan salah satu solusi masalah transportasi di daerah urban dengan sistem transportasi massal yang canggih dan terjadwal dengan baik. Sistem transportasi

Bus Rapid Transit Trans Semarang merupakan sarana transportasi massal dengan sistem transit yang mulai beroperasi sejak tahun 2009 sebagai solusi mengurangi kemacetan

S (2003) yang pernah menjabat sebagai Walikota Surabaya, yang dimaksud dengan pembangunan berkelanjutan bagi kota Surabaya adalah pembangunan yang mempertimbangkan

Solusi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada sistem drainase di kawasan Simokerto adalah dilakukan penambahan jumlah pompa dengan kapasitas yang sama di

Proyek selanjutnya dikembangkan untuk menunjang program Pemerintah Kota Barcelona mengenai transportasi berkelanjutan. Sebagai salah satu kota pintar terkemuka di

Tesis IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMER 7 TAHUN 2006.. (STUDY TENTANG PELAKSANAAN KEBIJAKAN TRANSPORTASI MASSAL DI

Arsip Pemerintah Kota Surabaya, Kepolisian Negara Kota Besar Surabaya, 15 September 1956 Arsip Pemerintah Kota Surabaya, DPDS Kota Surabaya, 16 Oktober 1952.. Arsip Pemerintah

S (2003) yang pernah menjabat sebagai Walikota Surabaya, yang dimaksud dengan pembangunan berkelanjutan bagi kota Surabaya adalah pembangunan yang mempertimbangkan