Mikologi Kedokteran

38 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAGIAN

V

Mikologi

M,ikologi Keookteran

Thomas

G.

Mitchell,

PhD.

Mikologi

adalah

ilmu

yang mempelajari tentang

fungi. 'I'erdapat

lebih dari

50.000 spesies

fungi,

tetapi sebagian besar

fungi

bermanfaat bagi manusia.

Fungi

terdapat di alam dan diperlukan dalam pemecahan serta daur ulang bahan

organik.

Beberapa

fungi

meningkatkan

kualitas hidup kita dengan

ikut

berperan dalam produksi makanan

dan minuman

keras.

Fungi lain

berperan sebagai obat dengan menghasilkan

metabolit

sekunder

bioaktif

yang berguna

seperti

antibiotik

(misal,

penisilin)

dan

obat-obatan

imunosupresif (misal, siklosporin).

Para ahli genetika dan biologi molekular telah memanfaatkan fungi sebagai sistem model

untuk

penelitian terhadap berbagai proses eukariot.

Fungi

mempunyai dampak yang sangat besar terhadap ekonomi sebagai fitopatogen; setiap tahun,

industri

pertanian menderita kerugian panen yang besar

akibat penyakit

fungi

pada tanaman.

Untungnya,

hanya beberapa ratus spesies

fungi

yang menyebabkan penyakit

manusia

dan 90o/o

infeksi

fur-rgi

pada manusia

dapat disebabkan

oleh

beberapa

lusin

spesies fungi.

Semua

fungi

adalah organisme

eukariot

dan masing-masing sel

fungi

mempunyai

sekurang-kurangnya satu

inti

dan

membran

inti,

retikulum

endoplasma,

mitokondria,

dan

aparatus sekresi. Kebanyakan

fungi

bersifat

aerob

obligat atau

fakultatif.

Fungi

bersifat

kemotropik, menyekresi enzim yang

mer.rdegradasi berbagai substrat

organik

menjadi nutrien

yang

dapat

larut

yang kemudian diabsorpsi secara pasif atau diarnbil

ke

dalam sel dengan trar.rspor aktif.

Infeksi

fungi

disebut

mikosis.

Sebagian besar {Lrngi

patogen bersifat eksogen dan habitat alaminya adalah air,

tanah, dan debris

organik. Mikosis

yang

mempunyai

'Associate Professor, Department of Molecular Genetics and Microbiology, Duke University Medical Center, Durham, North Carolina

i*ri, jilii:ir?,i:ifi il!* aiuii,illf i:1.'lillrii*!l:i!It

t*r-ir' .,i il ""*ii*

lii:tiri .i: ;lai:::ur :ilt:

!*irrri::!rr::lrilliltill::t:liii:li:.;

llrilr?l,i;!:i]it,:iil*1.:irliii

insiden paling

tinggi-

kandic'liasis

dan

dermatofitosis--disebabkan

oleh fungi

yang

meruPakan anggota

flora

mikroba

normal

atau

yang dapat

bertahan

hidup

pada

pejamu manusia.

Untuk

memudahkan, mikosis

dapat

diklasifikasikan: super{isial, kutan, subkutan,

sistemik,

dan

oportunistik

(Tabei

1+5-1). Penggolongan rnikosis dalam kategori tersebut menunjukkan tempat masuk fungi

dan

tempat pertama

kali

fungi

menyebabkan infeksi.

Namun,

dapat

terjadi

tLrmpang

tindih

karena mikosis

sistemik dapat

bermanifestasi pada

subkutan

dan juga sebaliknya. Sebagian besar pasien yang mengalami infeksi

oportunistik

menderita penyakit

penyebab yang serius dan mempunyai daya tahan

tubuh

yang terganggu.

Alan

tetapi, mikosis sistemik

primer

juga

dapat

terjadi

pada

pasien tersebut,

dan infeksi oportunistik juga

dapat

diderita oleh

individu

imunokompeten.

Selama infeksi, kebanyakan pasien menghasilkan resPons

imun

humoral dan selular yang

signifikan

terhadap antigen fungi.

Selama

dekade

terakhir, insiden infeksi mikotik

mengalami

peningkatan. Fungi

patogen

tidak

meng-hasilkan toksin poten, dan mekanisme patogenisitas fungi

rumit

serta

poligenik.

Sebagian besar

mikosis sulit

diobati. Untungnya, terdapat peningkatan

minat

terhadap

lungi

yang

penting

secara medis dan terhadap pencarian

faktor virulensi

serta target teraper,rtik potensial.

SIFAT

UMUM

&

KLASIFIKI\SI

FUNGI

Seperti

dinyatakan dalani

Bab

1,

fungi

tumbul.r dalam dua bentuk dasar, sebagai

ragi

dan kapang. Pertumbuhan

dalam

bentuk

kapang

terjadi melalui produksi

koloni

filamentosa

multiselular. Koloni

tersebut

terdiri

dari tubulus silindris bercabang yang disebut

hifa,

mempunyai diameter bervariasi

dari

2

1'rm .sampai 10

pm.

Massa hifa

(2)

635 /

BAB 45

DAFTAR ISTILAH

Kohidia:Struklur,reproduksi aseksual (mitospora)'yang

',

,r: Fungi

imperfekta:

Fungi yang tidak memiliki,reproduksi r:,:.'

:

rrt 'dihasilkan baik dari transformasi ragi vegetatif

' ,rr,

seksual; fungi tersebut digambarkan hbr-rya dengan':

,,

maupun sel hifa atau dari sel konidiogenosa

khusus,

anamorf,

keadaan reproduksi mitotik atau aseksual.

yang dapat berbentuk sederhana atau kompleks

dan

Fungi ini diidentifikasi berdasarkan struktur reproduksi

,

berelaborasi. Konidia dapat ter:bentuk pada

hifa -

:: aseksual (yaitu,

mitospora).

'

I

: 'khulus dan,disebut

konidiofora.

Mikrokonidia

Kapang:

Koloni miselium atau

hifa

atau,bentUk'

-::

":"t::l:

merupakan konidia kecil, dan

makrokonidia

periumbuhan.

:',:' :merupakan konidia besar dtau

multisel.

' I

Miselium:

Massa atau lapisan hifa, koloni

kap'ang;.

,:

,,.,lArtiokonidia

(artrbspora):

Konidia

yang,dihasilkan

Fungi

perfekta:

Fungi yang mampu

melqkrlkan,

,,:

,

:

Blastokonidia (blastospora):

Pembentukan

blastokonidia.

konidia melalui proses penonjolan (misal,

ragi,

Septum: Dinding silang hi{a, secara khas mengalami Gambar 45-1; Cladosporium, Gambar

45-7).

perforasi.

:i

r

Klamidiospora (klamidokonidia):

Besal

berdinding

':,:

sporangioipora:

Struktur aseksual khas zygomycetes;

'

', '

tebal, biasanya konidia sferis dihasilkan dari

sel

sporangiospora merupakan spora mitotik yang hifa interkalaris atau terminal (Candida

albicans,

dihasilkan dalam

sporangium

yang tertutup, sering

Gambar

45-2).

ditunjang oleh satu

sporangiofora.

Fialokonidia:

Konidia yang dihasilkan oleh

sel

Spora: Struktur khusus yang penting untuk kelangsungan konidiogenosa "berbentuk vas" yang

disebut

hidup, seperti resistansi terhadap keadaan yang

fialida

(misal, A,spergillus fumigatus, Gambar

45-9).

buruk atau kondisi yang dapat mencetuskan dispersi.

Fungi dematiaseosa: Fungi yang dinding

selnya

Spora dapat dihasilkan dari reproduksi aseksual

mengandung melanin yang memberi pigmen

coklat

(misal, konidia, sporangiospora) atau seksual (lihat sampai

hitam.

bawah). Selama reproduksi seksual, sel haploid dari Fungi

dimorfik:

Fungi yang mempunyai dua

bentuk

strain yang cocok berpasangan melalui proses

pertumbuhan, seperti kapang dan ragi,

yang

plasmogami, kariogami, dan meiosis.

berkembang dalam kondisi pertumbuhan

berbeda

Askospora: Setelah meiosis, empat sampai delapan

: :

(misal, Blastomyces dermatitidis rnembentuk hifa

ln

meiospora terbentuk dalam askus (Gambai 45.1). i'

vltro dan ragi dalam

jaringan).

Basidiospora: Setelah meiosis, empat meiospora

Hifa:

Filamen sel fungi yang bercabang, tubular (lebar

2-

biasanya terbentuk pada permukaan struktur

10 prm), bentuk pertumbuhan kapang.

Sebagian

yang khusus, suatu

basidium

berbentuk gada.

besar sel hifa dipisahkan oleh dinding sel

berpori

Zigospora: Setelah meiosis, terbentuk zigospora :,i, atau septa, tetapi hifa zygomycetqs bersepta

jarang.

yang bes6r ddn berdinding

tebal. , ;'

'.,,,: :.'rri:

-Hifa substrat atau vegetatif mengikat koloni

dan

Ragi: 5el fungi uniselular, berbentuk sferis sanipai elips

'

mengabsorpsi nutrien. Hifa aerial berkembang di i1ts.:, ,:

'

(3-15 pm) yang biasanya bereproduksi melblui pioses' koloni dan memiliki struktur

reproduksi.

penonjolan.

yang saling berjalin yang

berakumulasi

selama pertumbuhan

aktif

adalah suatu

miselium.

Beberapa hifa dibagi menjadi sel-sel oleh

dinding

pembatas atau septum

yang khas terbentuk pada

interval

regular

selama pertumbuhan

hifa.

Salah satu kelas kapang yang penLing dalam kedokteran,

yaitu

z)/gomlcetes, menghasilkan hifa

yang

jarang

bersepta.

Hifa

yang

menembus

rnedium penunjang dan mengabsorpsi

nutrisi

aclalah

hifa

substrat

atau

vegetatif.

Sebalikr-rya,

hifa

aerial

enjulr

di

atas permukaan miselium dan biasanya mengandung struktur reproduksi kapang. Dalam keadaan pertumbuhan standar

laboratorium,

kapang

menghasiikan

koloni

dengan gambaran khas

seperti

laju

pertumbuhan, tekstur,

dan

pigmentasi.

Genus-jika

bukan

spesies-sebagian

besar

Gambar

45-?.

Saccharomyces.

Sel

ragi tunas

atau

kapang

klinis

yang diisolasi dapat

ditentukan

dengan

blastokonidia. Blastokonidia yang terkonjugasi.

Askus pemeriksaan

mikroskop ontogeni dan

morfologi

spora

mengandung askospora.

,-6\

b

,4

(,

o

o

(3)

Tahel

45-1.

Mikosis utama dan

fungi

penyebab.

5u perf isia I Malassezia sp

Hortaea werneckii Trichosporon sp Piedraia hortae Pityriasis versicolor Tinea nigra Piedra putih Piedra hitam Kutan Microsporum sp, Trichophyton sp, dan

E p i dermophyton f I occosu m

Candida albicans dan Candida sp lain

Dermatof itosis

Kandidiasis kulit, mukosa, atau kuku

Su bkuta n Sporothrix schenckii

Phialophora verrucosa, Fonsecaea pedrosoi, dan Pseudallescheria boydii, Madurella mycetomatis, dan lain-lain

Exophiala, bipolaris, exserohilum, dan lain-lain

Sporotri kosis

lain-lain Kromoblastomikosis Misetoma

Faeohifom ikosis

Endemik (primer, sistemik) Coccidioides immitis, C posadasii H isto p I asm a ca psu I atu m B I a sto myces d e rm atitid is

Pa ra cocci d i o i d es brasi I ie nsi s

Koksid ioidomikosis

H istoplasmosis

Blastom ikosis

Parakoksidioidomikosis Oportu n istik Candida albicans dan Candida sp lain

Cryptococcus

neoformans

,)

Aspergillus fumigatus dan Aspergilus sp lain Rhizopus sp, Absidia sp, Mukor sp, dan

Zygomycetes sp lain Penicillium marneffei Kandidiasis sistemik Kriptokokosis Aspergilosis Mukormikosis (zigomikosis) Pen isiliosis

reproduksi

aseksual, atau

konidia (Lihat

Gambar

45-l

sampai 45-9).

Ragi

adalah

sel

tunggal,

biasanya

berbentuk

sferis sampai elips dengan diameter bervariasi

dari 3

pm.sampai 15 pm. Kebanyakan ragi bereproduksi dengan membentuk tunas. Beberapa spesies menghasilkan tunas

yang tidak

dapat lepas dan memanjang; setelah proses pembentukan tunas

dihasilkan rantai

sel

ragi yang memanjang,

yang

disebut pseudohifa.

Koloni

ragi

biasanya

lunak,

opak,

berukuran 1-3

mm, dan

berwarna

krem. Oleh

karena

koioni

dan morfologi mikroskopik kebanyakan ragi sangat

serupa, spesies

ragi diidentifikasi

berdasarkan

uji

fisiologi

dan

beberapa

perbedaan

morfologi

yang penting.

Beberapa spesies

fungi

bersifat

dimorfik

dan

mampu

tumbuh

sebagai

ragi atau

kapang

bergantung

pada keadaan lingkungan.

Gambar 45:2.

Klamidokonidia

terminal

dan interkalaris (klamidospora).

Gambar 45-3-

G eotrich u m. Pem bentu ka n a rtrokoni di a

(4)

638

BAB

45

Gambar 45-4.

Rhizopus. Rhizoid, sporangiospora, dan sporangia yang berkembang.

Semua

fungi

rnempunyai

dinding

sel kaku penting

yang menentukan bentuknya.

Dinding

sel sebagian besar

terdiri dari

lapisan karbohidrat-*rantai

panjang

polisakarida-serta

glikoprotein

dan

lipicl.

Selama infeksi,

dinding

sel

fungi

rnernpunyai

sifat patobiologi

penting: Komponen permukaan

dinding

sel memediasi pelekatan

fungi ke

sel

pejamu.

Polisakarida

dinding

sel

dapat

mengaktivasi

kaskade

komplemen dan

mencetuskan

reaksi inflamasi; polisakarida tersebut

tidak

dapat didegradasi

oleh

pejamu

dan

dapat

dideteksi

dengan

pewarnaan khusus.

Dinding

sel melepaskan

antigen

imunodominan

yang dapat

menimbulkan

respons imun selular dan antibodi diagnostik. Beberapa ragi dan kapang

mempunyai

dinding

sel

yang

mengalami

melanisasi, memberi pigmen coklat atau

hitam.

Fungi tersebut adalah dematiaseosa. Pada beberapa

penelitian, melanin

telah dihubungkan dengan viruler-rsi.

Gambar

45-5. Alternaria.

Rantai

dematiaseosa

makrokonidia multiselular. Konidium

terminal

adalah yang paling muda.

Selain pertumbuhan vegetatifnya

sebagai

ragi

atau

kapang,

lungi

dapat

menghasiikan spora untuk

meningkatkan

keiangsungan

hidupnya.

Spora

dapat terdispersi dengan

mudah,

bersifat

lebih

resistan dalam keadaan

buruk, dan

dapat bergenninasi

pada

kondisi

pertumbuhan yang

baik.

Spora dapat

berasal dari

reprodr-rksi aseksual atau seksual--keadaan anamorfik dan tcleomorfik. Spora asel<sual adalah progeni

mitotik

(yaitr-r,

n.ritospora)

dan

idcntik

secara

genctis. Fungi

medis menghasilkan dua tipe utama spora aseksual, konidia dan, pada zygomycetes, sporangiospora. Gambaran

informatif

spora antara lain or-rtogeni (beberapa kapang menghasilkan

struktur

konidiogenik yangb kompleks)

serta

mor-fologinya

(ukuran, bentuk,

tekstur, warna,

dan

uniselularitas atau multiselularitas). Pada beberapa fungi,

sel vegeratif dapat bertransformasi menjadi konidia (misal,

artrokonidia,

klamidospora).

Pada

fungi lain,

konidia

dihasilkan oleh

sel konidiogenosa, seperti suatu fialida,

yang dapat melekat

ke

hifa

khusus yang

disebut

konidiofora.

Pada

zygomycetes,

sporangiospora

Gambar 45-5. Skopulariopsis.

Konidiofora

mengandung

anelida yang menghasilkan

rantai konidia.

Konidium

terminal

adalah yang paling tua.

Gambar

45-7.

Kladosporium.

Rantai blastokonidia.

Konidium

terminal

adalah yang paling muda

dan bertunas

dari konidium

subterminal.

(5)

Gambar 45-8. Penisilium. Rantai konidia dihasilkan oleh

fialida, yang ditunjang oleh konidiofora

bercabang. Konidium

terminal

adalah yang paling

tua.

dihasilkan dari repiikasi n-ritotik dan produksi spora dalam

struktur

seperti kantong yang disebut sporangium, yang

ditunjang

oleh sporangiofora.

Klasifikasi

Klasifikasi

fungi

didasarkan pada mekanisme

dan

spora yang berasal

dari

reproduksi seksual, yang pada sebagian bcsar keadaan, melibatkan strain yang dapat berpasangan,

menjalani

fusi dan

meiosis

nuklear, dan

pertukaran

informasi

genetik. Kelompok taksonomi

utama

dicantumkan

di

bawah

ini.

Suatu spesies dapat dikenaii dan didefi nisikan berdasarkan keadaan aseftsualnya (yaitu,

imperfekta atau anamorfik)

,

tetapi

teleomorf

atau

identitas

seksualnya

mungkin

mempunyai

nama yang berbeda.

Gambar

45-9. Aspergillus f

umigatus.

Fialida

terbentuk

pada ujung

vesikel

yang membengkak pada

ujung

konidiofora

panjang. Konidium

terminal

adalah

yang paling

tua.

Konidia matang mempunyai

dinding

kasar.

A.

ZYGOI.IYcETES

Reproduksi seksual menghasilkan zigospora; reproduksi aseksual terjadi melalui sporangia.

Hifa

vegetadf bersepta jarang.

Contoh:

Rhizopus, absidia,

mukor,

pilobolus.

B.

AScOHYcETES

Reproduksi seksual

melibatkan kantong atau

askus,

tempat

terjadinya

kariogami

dan meiosis, menghasilkan askospora. Reproduksi aseksual

terjadi melalui

konidia. Kapang

mempunyai

hifa

bersepta.

Contoh:

Ajellomyces (genus anatnorfik, blastomyces, histoplasma), artroderma (genus anamorfik, Microsporum, Tll,chophyton), dan genus

ragi seperti

sxccaromyces.

C.

BASIDIOMYcETES

Ileproduksi

seksual

menghasilkan empat

basidiospora progeni vang

ditunjang

oleh basidium

berbentuk gada.

Flifa mempunyai septa kompleks. Contoh:

Jamur,

Filobasidiella

neoformans

(anamorf,

Cryptococctts

neoformans).

D.

DEUTERoMYcETES

Kelompok

ini

merupakan pengelompokan artifisial

untuk

fungi

imperfekta

yang,

si{ht

releomorf

atau reproduksi

seksualnya

belum ditemukan.

Keadaan

anamorfik

ditandai

dengan

konidia

aseksual.

Bila

ditemukan siklus

seksual,

suatu

spesies

digolonglcan kembali

yang

menunjukkan filogeninya

secara

te

pat.

Contoh:

Coccidioicles

immitis,

Paracoccidioides brasiliettsis, Candida albicans.

PERTUMBUHAN

&

ISOLASI

FUNGI

Kebanyakan

fungi

terdapat

di

alam dan

tumbuh

dengan mudah pada ternpat sederhana yang mengandung nitrogen

dan karbohidrat.

Dahulu,

agar Sabouraud,

yang

mengandung gLrkosa dan pepton rermodifikasi (pFI 7,0),

digunakan karena agar tersebut

tidak

mendukung

pertumbuhan

bakteri.

Ciri

khas

morfologi fungi

yang

digunakan

untuk identifikasi teiah

digambarkan

dari

pertumbuhan

pada agar Sabouraud.

Namun,

medium

lain,

seperti

agar

kapang

inhibiror,

mempermudah

pemunculau

fungi dari

spesimen

klinis.

lJntuk

membiakkan

fungi

medis

dari

spesimen

nonsteril,

antibiotik

antibakteri

(misal, gentamisin, kloramfenikol)

dan sikioheksirnid ditambahkan ke medium ttntuk

menghambat bakteri dan kapang saprofit. Spesimen yang

digunakan

untuk

isolasi

fungi

dan tneclium

lain

yang digunakan

untuk

mengisolasi dibahas pada Bab 48.

f"l

l.o

l

x 1000

(6)

640

BAB 45

I

MIKOSIS

SUPERFISIAL

PITYRIASIS

VERSICOLOR

Pityrisiasis versicolor adalah

infeksi

superfisial

ringan

kronik

pada

stratum korneum yang

disebabkan

oleh Malassezia globosa,

M

restricta, dan anggota kompleks l11

furfur

lainnya. Invasi pada

kulit

berkeratin

dan

respons

pejamu

bersifat

minimal. Makula

hipopigmentasi

arau hiperpigmentasi, yang berkelok-kelok dan diskret,

timbul

di kulit,

biasanya

di

dada, punggung bagian atas, lengan, atau abdomen.

Lesi

bersifat

kronik

dan

muncul

dalam

bentuk

bercak

makula

di

atas

kulit

yang

mengalami perubahan warna,

yang

dapat membesar

dan

menyatu, tetapi pembentukan sisik, peradangan, dan

iritasi

bersifat

minimal.

Tentu saja, gangguan

ini

sebagian

besar

merupakan n"rasalah kosmetik.

Malassezia sp adalah

ragi

yang

bersifat

lipofili,

dan

sebagian

besar spesies

ini

memerlukan

lipid

dalam

medium

pertumbuha.n.

Diagnosis ditegakkan

dengan pemeriksaan

mikroskopik

langsung pada

kerokan

kulit

yang

terinfeksi, diberikan

KOH

10-20o/o atu), diwarnai dengan calcojluor white.

Dttemukan

adanya

hifa

pendek

tak

bercabang

dan

sel

sferis. Lesi

tersebut

juga

menunjukkan fluoresensi

di

bawah

lampu \7ood.

Piryriasis versicolor

diobati

dengan selenium

sulfid

yang dioleskan setiap

hari.

Azol

topikal

atau

oral juga

efektif.

Jarang,

malassezia

dapat

menyebabkan

fungemia

oportunistik pada

pasien-biasanya bayi-yang

menerima

nutrisi

parenteral

total, akibat

kontaminasi emulsi

lipid.

Pada sebagian besar kasus, fungemia bersifat sementara

dan

diobati

dengan mengganti cairan

dan kateter intravena. Beberapa orang mengalami

folikulitis

yang disebabkan

oleh

malassezia. Spesies malassezia dianggap merupakan bagian dari flora mikroba dan dapat diisolasi

dari

kulit

dan

kulit

kepala yang

normal.

Spesies

tersebut dihubungkan sebagai penyebab atau

kontributor

terjadinya

dermatitis seboroik

atau

ketombe.

Hipotesis tersebut

ditunjang

dengan observasi yang menunjukkan

bahwa

banyak kasus mereda dengan

pengobatan

ketokonazol.

TINEA NIGRA

Tinea nigra

(atau

tinea nigra

palmaris)

adalah infeksi

asimtomatik

dan

kronik

superfisiai pada stratum

korneum yang

disebabkan

oleh

fungi

dematiaseosa

Hortaea

(Exophiala) wernecleii. Keadaan tersebut lebih

sering

terjadi

di

daerah

pantai

yang hangat dan

pada wanita muda. Lesi tampak sebagai perubahan warna gelap

(coklat

sampai

hitam),

sering

kali

di

telapak

tangan. Pemeriksaan

mikroskopik

terhadap kerokan

kulit

dari

tepi

lesi akan menunjukkan

hifa

bersepta, bercabang dan

sel

ragi

pertunasan dengan

dinding

sel yang rnengalami

melanisasi.

Tinea

nigra

akan

berespons

terl-radap pengobatan dengan larutan

keratolitik,

asam salisilat, atau obat-obat

antifungi

azol.

PIEDRA

Piedra

hitam

adalah

suatu infeksi nodular

pada batang

rambut

yang disebabkan

oleh

Piedraia

hortai.

Piedra

putih,

yang disebabkan

oleh

infetr<si spesies trichosporon, tampak sebagai

nodul

yang

lebih

besar,

lebih lunak

dan berwarna kekuningan pada rambut. Rambut aksila, pubis,

janggut, dan

kulit

kepala

dapat terinfeksi.

Pengobatan

untuk

kedua

tipe

ini terdiri

dari

pencabutan rambut dan pemakaian agen

antifungi

topikal. Piedra bersifat endemik

di

negara

tropis

yang tertinggal.

I

MIKOSIS

KUTANEUS

Mikosis

kutaneus disebabkan

oleh fungi

yang

hanya menginfeksi jaringan superfisial berkeratin

(kulit,

rambut, dan

kuku).

Penyebab

terpenting

pada mikosis kutaneus adalah

dermatofita, suatu kelompok

terdiri

dari

sekitar 40 fungi serumpun yang

memiiiki

tiga genus: Microsporum,

Tric h op hy to

n,

dan Ep i dermo p hy ton. D er matofi ta mun gkin terbatas

di

kulit

yang

tidak hidup

karena kebanyakan

tidak

dapat

tumbuh

pada

suhu 37

0C atau

biia

terdapat

serum. Der:matofitosis adalah

salah

satu

infeksi

yang paling sering

terjadi

di

dunia. Meskipun

dapat menetap

dan

sangat mengganggu,

infeksi

tersebut

tidak

melemahkan atau membahayakan

jiwa-namun

berjuta-juta dolar

dihabiskan setiap

tahun

untuk

pengobatan infeksi tersebut. Infeksi dermatofita (kurap) telah dikenal sejak zaman

dahulu

karena terletak superfisial.

Di

kulit,

infeksi

ini

dapat terdiagnosis dengan adanya hialin, septa,

hifa

bercabang

atau

rantai artrokonidia.

Pada biakan, banyak spesies

yang

termasuk

satu

rumpun

dan sering

sulit diidentifikasi.

Penggolongan spesies

dermatofita

didasarkan pada perbedaan yang

tidak

kentara dalam hal

gambaran

koloni

dan

morfologi

mikroskopik

serta

beberapa

kebutuhan

vitamin.

riTalaupun

morfologi,

kebutuhan

nutrisi,

antigen permukaan, dan

gambaran

iain

sama,

banyak

spesies

menghasilkan

keratinase ,

elastase,

dan enzim-enzim

lain

yang membuat

spesies

tersebut bersifat

cukup

spesifik pejamu.

Untuk

beberapa spesies

dermatofita,

keadaan

reproduksi

seksual telah ditemukan, dan semua dermatofita dengan bentuk seksual

menghasilkan askospora

dan

termasuk

dalam

genus

artroderma

releomorfik.

Deri-,ratofita r{igolongkan sebagai

geofili, zoofili,

atau

antropofili

yalrg bergantung pada habitat lazimnya, yaitu tanah, hewan, atau manllsia. Beberapa dermatofita yang

(7)

spesies

hewan

tertentu masih mampu

menyebabkan

infeksi

pada

manusia.

Umumnya,

suatu

spesies yang berkembang

keluar dari lingkungannya dalam

tanah ke

pejamu

hewan Lertentu

atau manusia,

spesies tersebut

kehilangan kemampuan

untuk

menghasilkan konidia

aseksual

dan bereproduksi

secara

seksual.

Spesies

antropofili,

yang menyebabkan

infeksi

pada

manusia dalam

jumlah

yang

paling

besar, menyebabkan infeksi

kronik

dan

relatif

ringan

pada manusia, menghasilkan beberapa

konidia

dalam biakan, dan dapat

sulit

dibasmi. Sebaliknya, dermatofita

zoofili

dan geofili,

yang kurang

beradaptasi dengan

pejamu manusia, menimbulkan

infeksi inflamasi yang lebih akut vang cenderung sembuh lebih cepat. Dermatofita ditularkan melalui kontak dengan

tanah

yang terkontaminasi atau

dengan hewan

atau manusia yang terinFeksi.

Beberapa spesies

antropofili

secara

geografi tidak

tersebar luas,

tetapi

spesies

lain,

seperti Epidermophyton floccosum, Trichophyton mentagrlPhltes var interdigitale,

T

rubrum, dan

Z

tlnsurans, tersebar luas

di

dunia.

Spesies

geofili

yang sering menyebabkan

infeksi

pada manusia adalah Microsporum gypseum. Spesies

zoofili

kosmopolitan (dan pejamu alaminya) antara

lain

adalah Microsporum canis (anjing dan kucing), Microsporum gallinae (unggas), Microsporutn nAnum

(6abi),

7lichophyton equinum (kuda),

dan Tiichophyton uerrucosun (lembu).

Morfologi

&

ldentifikasi

Dermatofita diidentifikasi

berdasarkan gambaran

koloni

dan

morfologi mikroskopik

setelah pertumbuhan selama 2 minggu pada suhu 25 {tC pada agar dekstrosa Sabouraud, Spesies

trichophyton, yang dapat menginfeksi

rambut,

kulit,

atau

kuku,

menghasilkan

mikrokonidia

khas dan

makrokonidia

silindrik

yang

berdinding halus

(Gambar

45-10). Bergantung pada macamnya, koloni T mentagrlPhltes

dapat berbentuk seperti

kapas sampai

granular;

kedua

tipe

memperlihatkan

kelompok mikrokonidia

sferis yang berbentuk seperti anggur yang banyak

di

cabang terminal.

Hifa

yang

me

lingkar

atau

be

rbentuk spiral

se

ring

ditemukan

pada

isolat primer.

Koloni tipikal

I

rubrum mempunyai permukaan seperti kapas yang berwarna

putih

dan mempunyai

pigmen

tidak

dapat berdifusi berwarna

merah

pekat

bila dilihat

dari sisi koloni

sebaliknya.

Mikrokonidia

berukuran

kecil

dan

piriformis

(berbentuk buah

pir).

T tonsurans menghasilkan

koloni

seperti bubuk

atau beludru yang rata

pada permukaan bagian depan

dan

berwarna

coklat

kemerahan pada

sisi

sebaliknya;

mikrokonidia

sebagian besar memanjang.

Microsporum sp. cenderung menghasilkan

makro-konidia

multiseiular yang khas dengan

dinding

bergerigi

(Gambar

45'1rI).

Kedua

jenis

konidia

dihasilkan

tersendiri pada genus tersebut.

M

canis membentuk koloni dengan

permukaan seperti

kapas

berwarna

Putih

dan

berwarna

kuning

pekat

di

permukaan

sebaliknya;

makrokonidia berdinding

tebal dengan sel

berjumlah

8

sampai

15,

sering

mempunyai ujung

yang melengkung

atau

berkait.

M

gypseum

menghasilkan

koloni

sePerti

bubuk

berwarna

coklat

dan makrokonidia dalam jumlah banyak yang berdinding

tipis,

bersel empat sampai enam. Microsporum sp. h^nya menginfeksi

rambut

dan

kulit.

Epidermophyton

floccosum, yang merupakan

satu-satunya

patogen pada

genus

ini,

hanya

menghasilkan makrokonidiaJ

yang berdinding

haius, berbentuk gada, bersel dua sampai empatr

dan

tersusun dalam dua atau tiga kelompok (Gambar 45-11).

Koloni

ini

biasanya rata dan seperti

beludru

dengan warna coklat sampai kuning kehijauan. E floccosum menginfeksi

kulit

dan

kuku,

tetapi

tidak

menginfeksi rambut.

T mentagrophytes T rubrum

i,\,

/)

a':0

T

tonsurans

?

"-q^

"'u

(8)

642

BAB

45

Epide rmo phyton fl o cco su m

Selain

morfologi makroskopik dan mikroskopik,

beberapa

uji

nutrisional atau

uji

lain, seperti pertumbuhan pada temperatur 37

iC

atau

uji

perforasi

rambut

in

uitro, bermanfaat dalam membedakan spesies tertentu.

Epidemiologi

&

lmunitas

Infeksi

dermatofita bermula

di

kulit

setelah trauma dan kontak. Terdapat

bukti

bahwa kerentanan pejamu dapat meningkat akibat kelembapan, udara yang panas, kondisi

kimiawi

kulit

tertentu, komposisi

sebum

dan

keringat,

usia

muda,

pajanan

berat, dan

predisposisi genetik.

Insiden

lebih tinggi

pada

iklim

panas,

lembap, dan

di tengah lingkungan

hidup

yang padat. Pemakaian sepatu menyebabkan kaki panas dan lembap, suatu kondisi yang dapat menyebabkan

infeksi

pada

kaki.

Sumber

infeksi

adalah tanah atau hewan

yang terinfeksi,

pada

kasus dermatofita geofili dan

zoofili. Konidia

tetap dapat hidup

untuk

waktu yang lama.

Spesies

antropofili

dapat

ditularkan

melalui

kontak

langsung atau

melalui

benda-benda yang

mungkin

membawa

infeksi,

seperti handuk, pakaian yang terkontaminasi, perlengkapan

mandi

yang digunakan bersama-sama, serta

contoh

serupa lain.

Tiichophltin

adalah preparat antigen kasar yang dapat digunakan

untuk

mendeteksi hipersensitivitas

tipe

cepat atau lambat terhadap antigen

dermatofitik.

Banyak pasien

yang menderita infeksi dermatofita

kronik,

noninflamasi

memiliki

respons

imun

selular

yang buruk

terhadap anrigen

dermatofita.

Pasien tersebut

sering

atopik

dan mengalami hipersensitivitas

tipe

cepat

dan

peningkatan konsentrasi

igE.

Pada pejamu

normal, imunitas

terhadap

dermatofitosis

memiliki

durasi yang bervariasi

dan derajatnya bergantung pada

pejamu, lokasi infeksi,

dan spesies

fungi

yang menyebabkan infeksi.

Microsporum gypseum

Temuan

Klinis

Infeksi

dermatofita sering

salah

disebut

dengan kurap

atau tinea karena lesinya berbentuk

sitkular

atau

menonjol. Bentuk

klinis

bergantung pada lokasi infeksi. Satu spesies

mampu

menyebabkan

lebih

dari

satu jenis infeksi

klinis.

Sebaliknya, satu bentuk

klinis,

seperti tinea

korporis,

dapat disebabkan

oleh

lebih dari

satu spesies

dermatofita. Agen yang lebih sering menyebabkan bentuk

klinis tertentu

tercantum

pada

Tabel

45-2.

Pada kasus

yang sangat jarang, pasien

imunokompromais

dapat mengalami

infeksi sistemik oleh

suatu dermatofita.

A.

T|NEA

PED|s

(ArHt

ErE's Foor)

Tinea pedis merupakan dermatofitosis yang paling sering terjadi. Penyakit tersebut biasanya

muncul

sebagai infeksi

kronik

pada seiaput

di

antara

jari

kaki. Bentuk lain adalah

tipe mokasin,

ulseratii

dah vesikular

dengan

hiper-keratosis telapak kaki. Awalnya,

timbul

rasa gatal

di

antara

jari

kaki

dan

muncul

vesikel kecil yang kemudian pecah

dan

mengeluarkan

cairan

encer.

Kulit

pada selaput

di

antara

jari

kaki

mengalami

maserasi

dan

mengelupas, sehingga

kulit

terpecah

dan

memudahkan

ter.iadinya infeksi

bakteri

sekunder.

Bila infeksi oleh fungi

menjadi

kronik,

pengelupasan

dan

pecahnya

kulit

merupakan manifestasi utama,

disertai

rasa

nyeri dan

gatal.

B.

TrNEA UNGUTUM

(oNtxoNtxosts)

Infeksi

kuku

dapat

terjadi

seteiah

tinea

pedis

yang berkepanjangan.

Kuku

menjadi kuning,

rapuh, menebal,

dan mudah hancur akibat

invasi

hifa.

Dapat

mengenai satu atau

lebih

kuku kaki

atau tangan.

AekE

^'-E

,-Y

=\\

t[*

"\rl?

#"\?

Gambar

45-1 7.

Mikrokonid

ia dan

makrokonidia

khas.

1

L_)

?-\

tll

(9)

Tinea korporis

(kurap)

Kulit halus, tidak

berambut.

Bercak sirkular dengan tepi

vesikular

T rubrum, E floccosum yang merah

meninggi

dan bagian

tengah bersisik. Gatal.

ff{ill

I

IKIinis

Tinea pedisl

(athlete's foot)

Ruang antar

jari

kaki pada

orang yang memakai sepatu

Akut: gatal, vesikular

merah.

T iubrum, T mentagro-Kronik: gatal, bersisik,

kulit

pecah-

phytes, E floccosum

peca h .

Tabel

45-2,

Beberapa

gambaran klinis infeksi dermatofita.

Tinea kruris (jock

itch)

Lipat paha Lesi bersisik dan eritema di daerah intertriginosa. Gatal.

T rubrum, T mentagro-phytes, E floccosum Tinea kapitis Rambut kepala. Endotriks:

fungi di

dalam batang rambut. Ektotriks: fungi di permukaan rambut.

Daerah botak sirkular dengan patahan rambut di atas atau pada folikel rambut. Kerion jarang. Rambut yang terinfeksi mikrosporum

berfl u oresensi.

T mentagrophytes, M canis

Tinea barbae Rambut janggut. Lesi eritema dan edema T mentagrophytes

Tinea unguium (onikomikosis)

Kuku Kuku menebal atau remuk

di

bagian distal; berubah warna; tidak bercahaya.

Biasanya disertai tinea pedis

T rubrum, T mentagro-phytes, E floccosum

Dermatof itid (reaksi id)

Biasanya daerah samping dan fleksor jari. Telapak tangan. Semua tempat di tubu h.

Lesi berupa vesikel sampai bula yang gatal. Paling sering disertai tinea pedis.

Tidak ada fungi dalanr lesi

Dapat terjadi infeksi sekunder oleh bakteri

lDapat disertai lesi pada tangan dan kuku (onikomikosis).

C.

TINEA KORPORIS,

TINEA

KRURIS,

DAN

TINEA

MANUS

Dermatofitosis

kulit

yang

tidak

berambut

sering

menyebabkan

timbulnya

lesi

kurap berbentuk

anular dengan bagian tengah bersih bersisik

dikelilingi

oleh tepi

merah

yang meninggi, dapat kering atau

vesikular.

Dermatofita

hanya tumbr,rh

pada

jaringan mari

yang mengalami keratinisasi,

tetapi metabolit fungi,

enzim,

dan antigen

berdifusi melalui

lapisan epiderrnis

yang sehat, menyebabkan eritema, pembentukan vesikel, dan

pruritus. Infeksi oleh dermatofita geofili dan zoofili

menyebabkan lesi

yang

lebih

iritatif

dan

lebih

bersifat inflamasi dibandingkan dengan

infeksi

yang disebabkan oleh spesies

antropofili.

Sesuai usia hifa, spesies

ini

sering

membentuk rantai artrokonidia. Lesi

meluas

secara

sentrifugal dan pertumbuhan

hifa aktif

terjadi

di

tepi; bahan

di

bagian tepi tersebut lebih sering digunakan

untuk

diagnosis. Penetrasi ke dalam stratum korneum yang baru terbentuk pada permukaan telapak tangan dan

kaki

yang

lebih

tebal menyebabkan

infeksi

persisten

di

tempat tersebut.

Bila

infeksi

terjadi

di

daerah

lipat

paha, disebut tinea

kruris,

atau

jock itch.

Kebanyakan infeksi

tersebut

mengenai

pria dan

timbul

sebagai lesi

kering dan

gatal

yang sering

dimulai

pada

skrotum

dan menyebar ke lipat paha.

Tinea

manus merupakan

kurap

pada tangan atau

jari

tangan. Lesi bersisik kering dapat mengenai satu atau kedua tangan, satu

jari,

atau dua atau

lebih

jari.

D.

TINEA

KAPITIS DAN

TINEA

BARBAE

fi*.

t

rpi,i, .artrn

a.rr,t.n,*i,

"ou

ktt"p

lt*'"

trli,

kepala dan rambut.

Inleksi dimulai

dengan invasi

hifa

di

kulit

kepala, yang kemr.rdian menyebar ke bawah dinding

keratin

pada

folikel rambut. Infeksi rambut terjadi

tepat

di

atas akar

rambut.

Hifa tumbuh

ke

arah bawah pada bagian

rambut yang

tidak hidup

dan dengan kecepatan

yang

sama

seperti

pertumbuhan

rambut.

Infeksi

menimbulkan

bercak alopesia

sirkular

abu-abu, bersisik,

dan gatal. Seiring pertumbuhan rambut keluar folikel,

hifa spesies mikrosporum menghasilkan rantai spora yang membentuk selubung

di

sekitar batang rambut (ektotriks). Spora

tersebut

memberi

fluoresensi kehijauan

sampai keperakan

bila rambut

diperiksa

di

bawah lampu Wood (365 nnr). Sebaliknya,

T

tonsurans, penyebab utama tinea

kapitis

" black dof'

,

menghasilkan

sPora

dalam

batang

rambut (endotriks). Rambut

tersebut

tidak

memberikan fluoresensi;

rambut-rambut

tersebut lemah

dan

mudah patah pada rnuara

folikular.

Pada anak prapubertas, tinea

(10)

BAB

45

Spesies

zoofili

dapat menginduksi

reaksi gabungan hipersensitivitas dan in{larnasi yang berat, disebut kerion.

Manifestasi

tinea kapitis lainnya

adalah favus,

suatu

infeksi inflamasi

akut

pada

fblikel

rambut

yang

disebabkan

oleh

7

schoenleinii,

yang

menyebabkan

pembentukan scutula

(krusta)

di

sekitar

folikel.

Pada rambut yang terkena

infelai

jamur, hifa

tidak

membentuk spora, tetapi dapat ditemukan pada batang rambut. Tinea

barbae mengenai daerah

berjanggut. Terutama bila

dermatofita

zoofili terlibar,

dapar

timbul

suatu

reaksi

inflamasi yang

hebat

yang

hampir

menyerupai

infeksi piogenik.

E.

REAKSI TRIKoFITID

Pada perjalanan dermatofitosis, penderita dapat menjadi hipersensitif terhadap kandungan atau

produk

frrngi dan

mengalami manifestasi

alergi--disebut dermatofitid

(biasanya

vesikel)-di

lokasi

tubuh

mana

pun,

paling

sering

di

tangan.

Uji

kulit

trikofitin

secara jelas

positif

pada orang tersebut.

Uii

Laboratorium Diagnostik

A.

SPESIMEN

Spesimen adalah hasil kerokan

kulit

dan

kuku

ditambah rambut yang dicabut

dari

daerah yang terkena penyakit.

Rambut yang

terinfeksi mikrosporum

memberikan

fluoresensi

di

bawah

lampu

\Wood dalam ruang gelap.

B.

PEHERIKSAAN MIKRoSKoPIK

Spesimen ditempatkan

di

atas kaca

objek dalam

tetesan 10-20o/o

kalium

hidroksida, dengan atau tanpa calcofluor

white,

yang

merupakan pewarna

dinding

sel fungi

nonspesifik yang

dilihat

dengan

mikroskop

fluoresen.

Gambar

45-12.

Dermatofit dalam sediaan

kalium

hidroksida dari kerokan kuku atau

kulit.

Hifa bercabang. Pembentukan

artrokonidia.

Spesimen

ditutup

dengan kaca

penutup

segera diperiksa, dan

diulangi

lagi seteiah

20 menit.

Pada

kulit

atau kuku,

tanpa

memandang

spesies

penginfeksi, terlihat

hifa

bercabang atau

rantai artrokonidia

(artrospora) (Gambar

45-12).

Pada

rambut,

kebanyakan spesies mikrosporum membentuk lapisan spora yang tebal mengelilingi rambut

(ektotriks).

T

tonsurans

dan

I

uiolaceum dapat dikenali karena menghasilkan artrokonidia

di

dalam batang rambut (endotriks).

C.

BIAKAN

Identifikxi

Dermatofta sp. memerlukan biakan. Spesimen diinokulasi ke dalam agar kapang

inhibitorik

atau bagian

miring

agar Sabouraud yang mengandung sikloheksimid dan

kloramfenikol

untuk

menekan pertumbuhan kapang

dan bakteri,

diinkubasi

selama

1-3 minggu

pada suhu ruangan,

kemudian diperiksa dalam biakan

kaca objek

jika

diperlukan.

Spesies

diidentifikasi

berdasarkan

morfologi

koioni

(kecepatan

pertumbuhan,

tekstur

permukaan,

dan

pigmentasi),

mor{ologi

mikroskopik

(makrokonidia,

mikrokonidia),

dan pada beberapa kasus,

kebutuhan

nutrisi.

Pengobatan

Pengobatan

terdiri dari

pengangkatan semua

struktur

epitel yang terinfeksi dan mari serta penggunaan

antibiotik

atau zat

kimia antifungi

secara

topikal.

lJntuk

mencegah

reinfeksi,

area tersebut

harus dijaga tetap kering,

dan sumber infeksi, seperti hewan peliharaan yang terinfeksi atau perlengkapan mandi yang digunakan secara bersama, harus

dihindari.

A.

TINEA

KAPITIS

Infeksi

kulit

kepala

diobati

dengan

griseofulvin

selama

4-6 minggu.

Melakukan

keramas dengan sampo yang sering dan pemakaian

krim

mikonazol atau agen antifungi

topikal lain

dapat e{Lktif

jika

digunakan selama beberapa

rninggu. Selain

itu,

ketokonazol, itrakonazoi,

dan

terbinafin juga cukup

efektif.

B.

TINEA

KoRPoRIS,

TINEA

PEDIS, DAN

tNFEKSt

TenXalr

Obatyang paling efektif adalah itrakonazol dan terbinafin.

Namun,

sejumlah preparat

topikal

dapat

digunakan, seperti

mikonazol

nitrat,

tolnaftat, dan

klotrimazol. Jika digunakan selama sekurang-kurangnya 2-4 minggu, angka penyembuhan biasanya mencapai 7 0-I00o/o. Pcngobatan

harus diteruskan selama 1-2 minggu setelah pembersihan lesi.

lJntuk

kasus yang

sulit,

dapat diberikan griseofulvin

(11)

C,

TINEA UNGUIUM

Infeksi kuku paling sulit diobati,

sering

memerlukan

itrakonazol

atau

terbinafin oral

selama berbulan-bulan dan .iuga pengangkatan

kuku

secara bedah. Sering terjadi relaps.

E

MIKOSIS

SUBKUTAN

Ilungi

1,ang menyebabkan mikosis seca.ra

normal

terdapat pada tanah atau tumbul.ran.

Fungi

memasuki

kulit

atau jaringan subkutan melalui inokulasi traumatik olelr bahan

yang

terkontaminasi.

13iasanya,

iesi

membentuk

granuloma dan n-reluas secara lambat

dari

area implantasi. Ekstensi

melalui

aliran limfatik

yang

mendrainase lesi,

terjadi

sccara lambat kecuali pad,a sporotrikosis. Mikosis tersebut biasanya terbatas

di

jaringan subktrtan,

terapi

pada

kasus

yang

jarang

c'lapat

rnenjadi sistemik

dan menyebabkan penyakit

yang

n.rernbahayakan jiwa.

SPOROTHRIX SCHENCKII

Sporothrix scltenckii adalah

lungi dimorfik

secara termal yang

hidup

pada tumbuhan.

Fungi

terscbut dihubr-rngkan

dengan berbagai

tanaman--rurrpur,

pohon, lumut

sfagutrm, semak

mawar,

dan

tlnaman

hortikultura

lainnya. Pada suhLr yang sama c'lengan lingkr,rngan sekitar,

fungi

rumbuh scbagai kapang, menshasilkan koniclia dan

hifa

ini

bercabang yarrg berscpta. Pada

jaringan

atau

ia

uitro

dengan

suhu 35-37

0C

fungi

ini

tumbuh

sebagai ragi tunas yang kecil. Setelah masuk ke dalam

kulit

melalui

trauma,

S schenckii menyebabkan

sporotrikosis,

suatu

infeksi

granulomatosa

kronik.

Episode awal secara kh:rs

diikuti

oleh penyebaran sekunder yang mengenai aliran

limfatik

dan kelenjar getah.

Morfologi

&

ldentifikasi

S schenchii

turnbuh

baik

pada

medium

agar

rutin,

dan pada suhu ruangan

koloni

muda berwarna kehitaman dan

be

rkilap, menjadi berkerut dan melengkung

seiring

bertambahnya usia. Pigmentasi

strain

bervariasi

dari

bayangan

hitam dan

abu-abu sampai keputihan.

Organisme menghasilkar.r

hifa

bersepta

yang

bercabang dan konidia kecil yang khas (3-5

pm),

agak berkelompok

di

ujung konidio{bra yang

lonjong

(Gambar

11!-ll).

Isolat

juga

dapat

membentuk konidia yang

lebih

besar sccara

langsung

dari hifa.

S schenckii

bersifat

dimorfik

secara

termal dan pada suhu 35 ('C pada medium kandungannya

kaya,

fungi

ini

berubah

menjadi

sel

ragi

tunas

yang memperbanyak

diri

dengan bentuk yang bervariasi tetapi sering

kali fusilormis

(sekitar 1-3

X 3-i0

pm),

seperti yang diperlihatkan pada

Gambar

45-13.

Gambar

45-1

3.

Sporothrix

schenckii.

A:

Blastokonidia

yanE

terlihat

pada

jaringan

atau biakan 37

0C. B: Pembentukan

konidia

pada biakan 30 0C.

Struktur Antigen

Suspensi

salin yang

mati

oleh

pemanasan

dari

biakan atau fraksi

karbohidrat (sporotrikin)

akan menghasilkan

uji kulit

lambat

positif

pada manusia atau hewan yang

terinf'eksi. Berbagai

uji

serologi telah dikembangkan dan

kebanyakan ;rasien, serta

beberapa

orang normal,

n.rempunyai

antibodi

spesifik atau

reaktif

silang.

Patogenesis

&

Temuan

Klinis

Konidia

atau fragmen

blfe

S schentAil masuk

ke

clalarn

kulit mclalui

traurna. Pasien serir.rg melaporkan adanya

rirvayat traruna yang berhubungan

dengan

aktivitas di

luar

ruangan dan bercocok tanam. Lesi

awal biasanya terletak

di

ekstremit:rs, tetapi dapat ditemul<an

di

tempat

lain

(anak sering mengalami lesi

di

wajah). Sekitar 75olo

i<asus adalah limfokutaneus; yaitu, lesi awal

timbul

sebagai

nodul granulomarosa yang dapat berkembang membentuk suatu

lesi ulseratif

atau

nekrotik.

Sernentara

itu,

aliran

... ,..rr ..i.r,::, t,,.,.ti.,:.r & ' '.._:, :..i,s,.,,r]

*f,1. .i'..':''',,9l,,.:

(12)

646

BAB

45

limfatik

menebal

dan

terbentuk seperti

tali.

Nodul

subkutan

multipel

dan

abses

terjadi

di

sepanjang aliran

limfatik.

Sporotrikosis terfiksasi

adaiah

suatu

nodul

non-llmfangidk

tunggal

yang

terbatas

dan kurang

progresif. Lesi terfiksasi

ini

lebih

sering

terjadi

di

daerah endemik seperti

Melaiko,

tempat terdapatnya

tingkat

pajanan yang tinggi dan imunitas pada masyarakat. Imunitas mernbatasi penyebaran

lokal

inFelcsi.

Biasanya

terdapat

pe

nyakit sistemik ringan

yang

disebabkan

oleh lesi tersebut,

tetapi

dapat terjadi

penyebaran, terutama pada pasi,en yang lemah. Pada kasus

yang jarang, sporotrikosis

paru

primer

disebabkan oleh

inhalasi

konidia.

Manifestasi tersebut

menyerupai

tuberkulosis kavitasi

kronik

dan

cenderung

terjadi

pada pasien dengan gangguan

imuniras

selular.

Uji

Laboratorium Diagnostik

A.

SPESIMEN

Spesimen dapat berupa bahan

biopsi

atau eksudat dari lesi granulosa atau ulseratif.

B.

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK

Meskipun

spesimen

dapat diperiksa

secara langsung dengan

KOH

atau pewarnaan calcofluor white, ragt jarang

ditemukan. Meskipun ragi jarang ditemukan

pada jaringan, sensitivitas potongan histopatologi ditingkatkan dengan pewarnaan

rutin dinding

sel

fungi,

seperti perak metenamin

Gomori,

yang mewarnai

dinding

sel menjadi

hitam,

atau

pewarnaan

asam-Schiff

periodik,

yang

memberi warna merah pada

dinding sel.

Selain

itu,

spesimen dapat

diidentifikasi

dengan pewarnaan antibodi fluoresen. Ragi berdiamerer

3-5

pm

dan berbentuk sferis sampai panjang.

Struktur lain yang disebut badan asteroid sering terlihat

di

jaringan, terutama

di

daerah endemik seperti Meksiko,

Afrika

Seiatan, dan Jepang. Pada jaringan yang diwarnai

hematoksilin dan eosin,

badan

asteroid

terdiri

dari

sel

ragi basofili sentrai yang

dikelilingi oleh

materi eosinofili yang memanjang secara

radial,

yang merupakan deposit kompleks

antigen-antibodi dan

komplemen.

C.

BIAKAN

Metode

diagnosis

yang

paling

dapat

dipercaya adalah

biakan.

Spesimen

digoreskan

pada

agar kapang

inhi-bitorik

atau agar Sabouraud yang mengandung

antibiotik

antibakteri dan diinkubasi

pada

suhu

25'30

0C.

Identifikasi ditegakkan dengan pertumbuhan pada 35 0C

dan terjadi

perubahan

bentuk menjadi

ragi.

D.

SEROLOGI

serum pasien

yang terinfeksi

tetapi

ddak

selalu bersifat c.liagnostik.

Pengobatan

Pada beberapa kasus,.

infeksi dapat

sembuh sendiri.

Meskipun

pemberian

orai larutan

jenuh kaiium

iodida

dalam

susu

sangat

efektif,

banyak pasien yang

sulit

menoleransi. Itrakonazol oral atau azol lainnya merupakan pengobatan

pilihan. Untuk

penyakit sistemik, diberikan

amfoterisin

B.

Epidemiologi

&

Pengendalian

S schenckii terdapat

di

seluruh

dunia

yang berhubungan erat dengan tanaman.

Misal,

kasus yang disebabkan oleh kontak dengan

lumut

sfagnum,

duri

mawar, kayu busuk,

jerami

cemarai

rumput dari

padang

rumput,

dan

tumbuhan

lain.

Sekitar 75ok kasus terjadi pada pria, baik karena pajanan

yang

lebih

besar atau karena perbedaan kerentanan yang terkait

kromosotl-X.

Insiden lebih tiriggi

pada

pel<erja

pertanian dan sporotrikosis

dianggap

scbagai

risiko

pckerjaan

untuk

penjaga

hutan,

ahli

holtikultura, dan

pekerja

di

bidang

yang

sama. Pencegahannya

berupa tindakan

untuk

meminimalkan inokulasi yang

tidak

disengaja dan penggunaan fungisida, apabila tepat,

untuk

menangani kayu. Hewan juga rentan terhadap sporotrikosis.

KROMOBLASTOMIKOSIS

Kromoblastomikosis (kromomikosis) adalah suatu infeksi

mikotik

sr.rbkutan

yang

disebabkan

oleh

satu

dari lima

agen

fungi

yang dikenal yar.rg terdapat dalam tanah dan tumbuh-tumbuhan melalui inokulasi traumatik. Semuanya adalah

fungi

dematiaseosa yang mempunyai

dinding

sel

yang mengalami melanisasi: Phia/ophora

uerrucosa,

Fonsecaea pedrosoi, Rhinocladiella aquaspersa, F'onsecaea

com?acta, dan C ladop h ia lop hora carrion

ii,

Infeksi bersifat

kronik

dan ditandai

dengan perkembangan

lambat

lesi

granulomatosa progresif yang seiring

waktu

akan

menginduksi

hiperplasia

jaringan

epidermal.

Morfologi

&

ldentif

ikasi

Fungi dematiaseosa serupa dalam hal pigmentasi, struktur antigen,

morfologi, dan sifat fisiologi. Koloninya

padat, berwarna

coklat

pekat sampai

hitam,

dan menghasilkan

permukaan seperti

beludru

yang sering

kali

berkerut.

Agen kromoblastomikosis

diidentifikasi

dari

cara konidiasinya. Pada jaringan,

fungi

tersebut tampak sama,

menghasilkan sel

coklat

sferis

(diamercr

4-12

pm)

yang disebut badan sklerotik atau

muriformis

yang dibagi oleh sekat melintang. Sekat pada bidang yang berbeda disertai pemisahan

yang berjalan

lambat

dapat

menghasilkan

kelompok empat

sampai delapan

sel

(Gambar 45-1,4).

Aglutinasi

suspensi sel diselubungi oieh antigen

ragi

atau

partikel

lateks

yang

(13)

Sel dalam krusta superfisial atau eksudat dapat mengalami germinasi

menjadi

hifa

bercabang, yang bersekat.

A.

PHIALoPHoRA VERRUcosA

Konidia

dihasilkan

dari

fialida

berbentuk

botol

dengan

kolaret berbentuk mangkuk.

Konidia yang

matang, berbentuk sferis sampai oval dikeluarkan

dari fialida

dan biasanya

menumpuk

di

sekitarnya.

B.

CLADopHtALopHoRA

(cLADospoRtuH)

cARRtoNtt Ckdophialophora Sp. dan Cladosporium Sp. menghasilkan

rantai konidia

yang bercabang

dengan tunas

di

distal (akropetal).

Konidium

tern-rinal suatu rantai menghasilkan

konidium

selanjutnya

melalui

proses pertunasan. Spesies

diidentifii<asi berdasarkan perbedaan panjang rantai serta

bentuk dan ukuran

konidia.

C

carrionii

menghasilkan konidiofora yang memanjang dengan rantai

konidia

oval yang bercabang

dan

paniang.

C,

RHINocLADIELLA AoUASPERSA

Spesies

tersebut menghasilkan

konidia terminal

atau lateral dari pemanjangan sel

konidiogenosa-slratu

proses

simpodial. Konidia

berbentuk elips sampai gada.

D,

FoNSEcAEA PEDROSOI

Fonsecaea

adalah genus

poiimorfik.

Isolat

dapat memperlihatkan (1) fialida;

(2)

rantai blastokonidia, sama

dengan Cladosporium

Q.;

at"u (3)

simpodiai,

konidiasi

dpe rhinocladiella.

Sebagian besar

strain

-F pedrosoi

membentuk rantai blastokonidia bercabang pendek serta

konidia

simpodial.

E.

FoNSEcAEA C?MPA|TA

Patogenesis

&

Iiemuan

Klinis

Fungi masuk ke dalam

kulit

melalui trauma, sering pada

rungkai

atau

kaki

yang

terbuka.

Selama berbulan-bulan sampai bertahur.r-tahun, Iesi primer menjadi verukosa dan berbentuk seperti veruka dengan ekstensi sepanjang aliran

limfatik. Nodul

seperti kernbang

kol

disertai abses yang membentuk krusta pada akhirnya menutupi area terscbut.

Ulserasi

kecil atau

"titik

hitam"

bahan hemopurulen

terdapat

di

permukaan seperti veruka. Pada kasus yang

jarang, eiefantiasis dapat disebabkan

oleh

infeksi

sekunder, obstruksi, dan fibrosis saluran limfe. Penyebaran ke bagian

tubuh lain

sangat jarang

terjadi

meskipun lesi

satelit dapat terjadi akibat penyebaran

limfatik

lokal atau

autoinokulasi.

Secara

histologis,

lesi bersifat

granulo-matosa

dan

badan

sklerotik

gelap

dapat

terlihat

dalam

leukosit

atau sel raksasa.

Uji

Laboratorium Diagnostik

A.

SPESTMEN

Spesimen

dari kerokan

atau

biopsi

iesi

B.

PEMERIKSAAN MIKRoSKoPIK

Hasil

kerokan

ditempatkan dalam

KOH

10o/o dan

diperiksa

secara

mikroskopis

untuk

mencari

se1 sleris yang gelap. Pener-nuan badan sklerotik bersifat diagnostik

untuk

kromoblastomikosis tanpa

memandang

agen

etiologinya. Potongan jaringan memperlihatkan granuloma

dan

hiperplasia luas

jaringan

dermis.

C.

BIAKAN

Spesimen harus

dibiakkan

pada agar kapang

inhibitorik

atau agar Sabouraud dengan

antibiotik.

Dematiaseosa Sp.

diidentifikasi

berdasarkan karakteristik

struktur

konidia, seperti yang dijelaskan

di

atas. Terdapat banyak kapang dematiaseosa

saprofitik yang

serupa,

tetapi

kapang

tersebut

berbeda

dari

spesies

patogen karena

tidal<

mampuan

tumbuh

pada suhu

37

"C

dan mampua

mencerna gelatin.

Pengobatan

Eksisi bedah dengan

tepi

lebar adalah pengobatan pilihan

untuk

lesi kecil. Kemoterapi

dengan

flusitosin

atau

itrakonazol

dapat

efektif untuk

lesi yang

lebih

besar.

Pemberian panas secara

lokal juga

bermanfaat. Sering

terjadi

relaps,

Epidemiologi

Kromoblastomikosis

terjadi

terlltama

di

daerah tropis. Fungi bersifat saprofitik,

mungkin

terdapat pada

tumbuh-tumbuhan

dan tanah. Penyakit terutama

terjadi

pada

tungkai

pekerja pertanian yang bertelanjang

kaki

setelah Blastokonidia yang dihasiikan oleh

hampir

sferis dengan dasar lebar

konidia. Struktur

tersebut

lebih

daripada

F

pedrosoi.

F

compacta berbentuk yang menghubungkan

kecil

dan

lebih

padat

Gambar

45-1

4.

Kromomikosis

terlihat

pada sel raksasa.

(14)

648

BAB 45

masuknya

fungi melalui trauma.

Kromoblastomikosis

tidak menular. Penggunaan sepatu dan pelindung tungkai dapar mencegah inFeksi.

FAEOHIFOMIKOSIS

Faeohifomikosis adalah suatu

istilah yang

digunakan

untuk

infeksi

yang

ditandai

adanya

hifa

bersekat yang

berpigmen gelap dalam

jaringan. Baik infeksi

kutan

maupun sistemik pernah dilaporkan. Bentuk klinis

bervariasi

dari

kista

tak

berkapsul

solitar

dalam jaringan subkutan sampai sinusitis dan abses otak.

Lebih

dari

100

spesies kapang dematiaseosa menyebabkan berbagai jenis

infeksi

faeohifomikotik.

Semua spesies

tersebr,it merupakan kapang eksogen yang secara

normal

terdapat

di

alam.

Beberapa

kapang yang sering

menyebabkan faeohifonrikosis

subkutan

adalah Exophiala jeanselmei,

Ph ialop h ora ri c h ardsiae, Bip o laris sp ic

ifera, dan

Wangie lla

dermatitidis.

Spesies

tersebut

dan

spesies

lain

(misal, Exserohilunt

rlstratum,

spesies

alternaria, dan

spesies

kurvularia) juga

dapat menyebabkan faeohifomikosis

sistemik. Insiden faeohifomikosis dan

jumlah

patog€n telah meningkat pada tahun-tahun belakangan baik pada pasien imunokompromais maupun pasien imunokompeten.

Dalam jaringan,

hifa

berukuran

besar (berdiameter

5-10

pm)

dan

sering terdistorsi

serta dapat

disertai

sel

ragi;

tetapi

struktur

tersebut dapat dibedakan

dari

fungi

lain

berdasarkan melanin dalam

dinding

selnya. Spesimen

dibiakkan

pada

medium

fungi

rutin

untuk

meng-identifikasi

agen

etiologi.

Pada

umumnya,

itrakonazol atau flusitosin adalah obat

piiihan

untuk

faeohifomikosis subkutan. Abses

otak

biasanya bersifat fatai, tetapi ketika

diketahui, dapat

diobati

dengan

amfoterisin

B

dan pembedahan. Penyebab

utama faeohifomikosis

serebral adalah Cladop hialophora bantiana.

MISETOMA

Misetoma adalah infeksi subkutan

kronik

yang diinduksi oleh satu dari beberapa spesies fungi saprofitik atau bakteri aktinomisetes yang normalnya ditemukan

di

dalam tanah

melalui

inokulasi

traumatik.

Gambaran

klinis

misetoma

adalah pembengkakan

lokal

dan

sinus yang

ber-hubungan-sering

juga berdrainase--mengandun g granul,

yang merupakan

mikrokoloni

agen

yang ditanamkan

daiam materi

jaringan.

Suatu

aktinomisetoma

adalah

misetoma

yang

disebabkan

oleh

actinomycetes;

eumisetoma (maduromikosis,

kaki Madura)

adalah suatu misetoma yang disebabkan oleh

fungi.

Perjalanan penyakit dan gambaran

klinis

kedua

jenis

misetoma sama, tetapi

aktinomisetoma dapat bersifat

iebih

invasif,

menyebar

dari

jaringan subkutan

ke

otot

di

bawahnya.

Tentu

saja,

pengobatannya berbeda. Misetoma ditemukan

di

seluruh

dunia,

tetapi lebih sering pada golongan kurang mamPu

yang

tidak

menggunakan sepatu. Misetoma hanya terjadi

sporadis

di

luar

daerah

tropis

dan terutama

sering

ditemukan

di

India,

Afrika,

dan

Amerika

Latin.

Aktinomisetoma

dibahas pada

Bab

13.

Morfologi

&

ldentif

ikasi

Agen

fungi

misetoma antara

lain:

Pseudallescheria boydii,

Madurella

mycetomatis,

Madurella

grisea, Exophiala

jeanselmei,

dan

Acremonium

falciforme.

Di

Amerika

Serikat, spesies yang

paling

banyak adalah

P

boydii yang

merupakan

homotalik dan mempunyai

kemampuan menghasilkan askospora dalam biakan. E jeanselmei dan

'Madurella

.Sp.

adalah kapang

dematiaseosa. Kapang tersebut

diidentifikasi

tetutama melalui cara konidiasinya.

P

boydii dapat juga menyebabkan pseudallescheriasis, yang merupakan infeksi sistemik pada pasien imunokompromais. Pada

jaringan,

granula misetoma dapat

berukuran sampai 2 mm. Warna granul dapat memberikan informasi

mengenai agen. Misalnya, granula misetoma

yang disebabkan oleh

?

boydii dan A falciforme berwarna putih;

granula

mise

toma akibat

M

grisea

dan

-E jeanselmei

berwarna

hitam;

dan

M

mycetomatis menghasilkan granul merah gelap sampai

hitam.

Granula

tersebut keras dan mengandung

hifa

bersepta yang saling

terjalin

(lebarnya

3-5 pm). Hifa

secara khas

terdistorsi dan

membesar di bagian

periler

granula.

Patogenesis

&

Temuan

Klinis

Misetoma terjadi setelah inokulasi traumatik dengan tanah yang terkontaminasi salah satu agen. Jaringan subkutan pada

kaki,

ekstremitas bawah, tanganr

dan

area terbuka adalah yang paling sering terkena. Tanpa memandang agen,

patologi

misetoma

ditandai

dengan supurasi

dan

pembentukan abses, granuloma, dan pembentukan sinus drainase

yang mengandung granula.

Proses

ini

dapat menyebar ke

otot

dan tulang

di

dekatnya. Lesi yang tidak diobati menetap selama bertahun-tahun dan meluas lebih

dalam serta

ke perifer,

menyebabkan deformasi

dan hilangnya lungsi.

Pada kasus

yang sangat jarang,

P

boydii

dapat

mengalami penyebaran pada pejamu imunokompromais

atau

menyebabkan

infeksi

benda asing

(misal,

Pacu

jantung).

Uj

i

Laboratorium

Diagnosti k

Granula dapat didiseksi keluar dari pus atau bahan biopsi

untuk

pemerilaaan dan biakan pada medium yang sesuai.

\Varna,

tektur,

dan

ukuran

granula serta adanya

hialin

atau hifa berpigmen (atau bakteri) membantu rnenentukan agen penyebab.

Misetoma

drainase

sering

mengalami superinfeksi

oleh stafilokokus dan

streptokokus.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :