BAB I BAB I
PENDAHULUAN PENDAHULUAN
Ant
Antikoikonvunvulsi lsi digdigunaunakan kan terterutautama ma untuntuk uk menmencegcegah ah dan dan menmengobgobatiati bangkitan epilepsy (
bangkitan epilepsy (epileptic seizure epileptic seizure ). Golongan obat ini lebih tepat). Golongan obat ini lebih tepat dinamakan antiepilepsi; sebab obat ini jarang digunakan untuk gejala dinamakan antiepilepsi; sebab obat ini jarang digunakan untuk gejala konvulsi penyakit lain.
konvulsi penyakit lain.
Sebelum kita membahas obat-obatan untuk epilepsi ada baiknya kita Sebelum kita membahas obat-obatan untuk epilepsi ada baiknya kita bahas terlebih dahulu yang dimaksud dengan epilepsi.
bahas terlebih dahulu yang dimaksud dengan epilepsi.
Epilepsi adalah nama umum untuk sekelompok gangguan atau penyakit Epilepsi adalah nama umum untuk sekelompok gangguan atau penyakit su
sususunanan n sasararaf f pupusasat t yayang ng titimbmbul ul spsponontatan n dedengngan an epepisisodode e sisingngkakatt (di
(disebsebut ut banbangkigkitan tan ataatau u seiseizurzure); e); dendengan gan gejgejala ala utautama ma keskesadadaraarann me
menunututun n sasampmpai ai hihilalangng. . BaBangngkikitatan n inini i bibiasasananya ya didisesertrtai ai kekejajangng (konvulsi), hiperaktivitas otonomik, gangguan sensorik atau psikik dan (konvulsi), hiperaktivitas otonomik, gangguan sensorik atau psikik dan se
selalalu lu ddisiserertatai i gagammbabararan n leletutupapan n EEEEG G ababnnorormmal al ddaan n ekeksesesisif.f. Be
Berdrdasasararkakan n gagambmbararan an EEEEG, G, epepililepepsi si dadapapat t didinanamamakakan n didisrsrititmimiaa serebral yang bersifat paroksimal.
serebral yang bersifat paroksimal.
Bangkitan epilepsi merupakan fenomena klinis yang berkaitan dengan Bangkitan epilepsi merupakan fenomena klinis yang berkaitan dengan letupan listrik atau depolarisasi abnormal dan eksesif, terjadi di suatu letupan listrik atau depolarisasi abnormal dan eksesif, terjadi di suatu fokus dalam otak yang menyebabkan bangkitan paroksimal. Fokus ini fokus dalam otak yang menyebabkan bangkitan paroksimal. Fokus ini merupakan neuron epileptik yang sensitive terhadap rangsang disebut merupakan neuron epileptik yang sensitive terhadap rangsang disebut neuron epileptic. Neuron inilah yang menjadi sumber
neuron epileptic. Neuron inilah yang menjadi sumber bangkitan epilepsi.bangkitan epilepsi. Pemilihan obat untuk terapi masing-masing bentuk epilepsy tergantung Pemilihan obat untuk terapi masing-masing bentuk epilepsy tergantung dari bentuk bangkitan epilepsy secara klinis dan kelainan EEGnya. Pada dari bentuk bangkitan epilepsy secara klinis dan kelainan EEGnya. Pada dasarnya, epilepsi dapat dibagi menjadi 3
I. Bangkitan Umum (epilepsi
I. Bangkitan Umum (epilepsi umum) yang terdiri dari:umum) yang terdiri dari: 1. Bangkitan tonik klonik (epilepsi grand mal)
1. Bangkitan tonik klonik (epilepsi grand mal)
Adalah seizure epileptik yang paling dramatis dan ditandai oleh Adalah seizure epileptik yang paling dramatis dan ditandai oleh adanya kekakuan tonik pada semua ekstremitas, yang dalam waktu adanya kekakuan tonik pada semua ekstremitas, yang dalam waktu 15
15-3-30 0 dedetitik k didiikikututi i ololeh eh trtrememor or yayang ng sesesusungngguguhnhnya ya adadalalahah me
merurupapakakan n ininteterurupspsi i totoninik k ololeh eh rerelalaksaksasisi. . SeSemamakikin n lalama ma fafasese relaksasi, maka serangan memasuki mas klonik dengan hentakan relaksasi, maka serangan memasuki mas klonik dengan hentakan (jerking) seluruh bagian tubuh. Hentakan klonik melemah selama (jerking) seluruh bagian tubuh. Hentakan klonik melemah selama 60-120 detik, dan pasien biasnya berada dalam keadaan stupor. 60-120 detik, dan pasien biasnya berada dalam keadaan stupor. Lidah dan pipi mungkin tergigit, dan umumnya terjadi inkontinensia Lidah dan pipi mungkin tergigit, dan umumnya terjadi inkontinensia urine.
urine.
2. a. Bangkitan lena (epilepsy petit mal atau absences) 2. a. Bangkitan lena (epilepsy petit mal atau absences)
Ditandai dengan adanya serangan mendadak dan berhenti Ditandai dengan adanya serangan mendadak dan berhenti tiba-tib
tiba. a. LamLamanyanya a seiseizurzure e inini i umuumumnymnya a kurkuranang g dardari i 10 10 detdetik ik dadann jarang
jarang melebihi melebihi 45 45 detik. detik. Bangkitan Bangkitan lena lena dimulai dimulai pada pada masamasa kanak-kanak atau remaja dan dapat terjadi sampai ratusan kali kanak-kanak atau remaja dan dapat terjadi sampai ratusan kali sehari. EEG selama terjadinya seizure menunjukkan pola
sehari. EEG selama terjadinya seizure menunjukkan pola ”spike- ”spike- and-wave”
and-wave” 2,5-3,5 Hz.2,5-3,5 Hz.
b. Bangkitan lena tidak khas (atypical absences) b. Bangkitan lena tidak khas (atypical absences)
PPaada da papasisien en yyaang ng mmenenddereritita a babangngkikitatan n inini i mmenenuunjnjuukkkkaann pe
perurubabahahan n popostusturaral l yayang ng lelebibih h papararah, h, dadan n umumumumnynya a papasisienen mend
menderita erita keterbketerbelakaelakangan ngan mentamental, l, EEG EEG menunmenunjukkajukkan n letuletupanpan spike-and-wave
spike-and-wave yang lebih lambat da yang lebih lambat dan lebih sulit untuk dioban lebih sulit untuk diobati.ti. 3. Bangkitan mioklonik (epilepsi mioklonik)
Penanganan seizure yang meliputi hentakan mioklonik harus lebih diarahkan pada tipe seizure utamanya daripada terhadap miokloniknya. Akan tetapi beberapa pasien menderita hentakan mioklonik sebagai seizure utamanya, sementara yang lain menderita hentakan mioklonik berulang kali dan kadang-kadang sesekali terjadi seizure tonik-klonik umum tanpa adanya tanda-tanda gangguan neurologis.
4. Bangkitan klonik 5. Bangkitan tonik 6. Bangkitan atonik
Terjadi bilaman pasien secara tiba-tiba kehilangan tonus postural. Jika berdiri, pasien dapat tiba-tiba jatuh ke lantai dan cedera. Jika duduk, kepala dan tubuh pasien dapat mendadak jatuh ke depan. Sekalipun lebih sering ditemukan pada anak-anak, seizure ini tidak jarang pula didapati pada orang dewasa. Banyak penderita bangkitan tonik mengenakan helm untuk menghindari cedera kepala.
7. Bangkitan infantil (spasme infantil)
Merupakan suatu sindroma epilepsi dan bukan merupakan suatu tipe seizure. Serangan ini, sekalipun terkadang tidak utuh, seringkali bersifat bilateral dan digolongkan untuk tujuan pragmatis dengan seizure umum. Serangan ini secara klini ditandai dengan hentakan mioklonik berulang-ulang pada tubuh dengan pembengkakan atau peregangan mendadak pada tubuh dan tungkai; sekalipun demikian, bentuk-bentuk spasme infantil bersifat
heterogen. Sebagian besar pasien menderita keterbelakangan mental, diduga oleh penyebab yang sama dengan spasme. Sedikit sekali bukti yang menunjukkan bahwa keterbelakngan mental dapat diatasi dengan terapi, bahkan setelah serangan berhenti.
II. Bangkitan parsial atau fokal atau lokal (epilepsi parsial atau fokal)
Adalah seizure di mana lokalisasi dari awal serangan dapat diketahui; baik melalui pengamatan klinis maupun melalui pncatatan EEG; serangan mulai pada suatu lokasi spesifik di dalam otak. Ada tiga tipe bangkitan parsial, bergantung dari derajat keterlibatan otak dalam letupan abnormal, yaitu :
1. Bangkitan parsial sederhana
Ditandai oleh penyebaran minimum dari letupan abnormal, sehingga kasadaran dan kewaspadaan normal tetap terjaga. Misalnya pasien mengalami hentakan klonik dari ekstremitas yang terjadi mendadak dan berlangsung selama 15-30 menit. 2. Bangkitan parsial kompleks
Bangkitan ini juga memiliki titik awal yang terlokalisasi, tetapi letupan menjadi lebih meluas dan hampir selalu melibatkan sistem limbik. Sebagian besar berasal dari salah satu lobus temporalis, kemungkinan disebabkan kepekaan area ini di dalam otak terhadap kemungkinan suatu rangsangan, misalnya, hipoksia atau infeksi.
Misalnya bangkitan tonik-klonik, bangkitan tonik atau bangkitan klonik saja.
Epilepsi psikomotor atau epilepsi lobus temporalis merupakan bangkitan parsial kompleks atau bangkitan parsial yang berkembang menjadi epilepsi umum bila fokusnya terletak di lobus temporalis anterior.
III. Bangkitan lain-lain (tidak termasuk golongan I atau II)
Adapun mekanisme terjadinya bangkitan epilepsi. Pada fokus epilepsi di korteks serebri terjadi letupan yang timbul kadang-kadang, secara tiba-tiba, berlebihan dan cepat. Letupan ini menjadi bangkitan umum bila neuron normal disekitarnya terkena pengaruh letupan tersebut. Sekalipun letupan depolarisasi yang menyebabkan bangkitan dapat tejadi spontan, berbagai perubahan fisiologis dapat menjadi pencetus letupan depolarisasi. Penjalaran letupan depolarisasi ke luar daerah fokus, biasanya dihambat oleh mekanisme inhibisi normal, tetapi perjalanan ini dapat diperlancar dengan perubahan fisiologis.
Terdapat 2 mekanisme antikonvulsi yang penting yaitu:
(1) dengan mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dalam fokus epilepsi;
(2) dengan mencegah terjadinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi.
Berbagai obat antiepilepsi diketahui mempengaruhi berbagai fungsi neurofisiologik otak, terutama yang mempengaruhi sistem inhibisi yang melibatkan GABA dalam mekanisme kerja berbagai antiepilepsi.
BAB II ISI
OBAT – OBAT YANG DIGUNAKAN PADA BANGKITAN PARSIAL DAN BANGKITAN TONIK-KLONIK UMUM
1. PHENYTOIN
Phenytoin adalah salah satu obat yang paling efektif untuk mengatasi seizure parsial dan seizure tonik klonik umum. Obat ini selama berpuluh-puluh tahun dikenal sebagai Diphenylhidantoin.
Mekanisme kerja
Phenytoin mempunya efek utama pada beberapa sistem fisiologis. Senyawa ini mengubahn konduktans Na+, K+, dan Ca2+,
potensial membran, dan konsentrasi asam amino dan neurotransmitter norepinefrin, asetilkolin, γ -aminobutyric acid
(GABA). Phenytoin menyekat potensiasi pascatetanik dalam preparat korda spinalis, tetapi peranan efek ini dalam menekan perkembangan penyebaran seizure masih belum dapat dijelaskan. Pada konsentrasi tinggi, phenytoin juga menghambat pelepasan serotonin dan norepinefrin, meningkatkan ambilan dopamine, dan menghambat aktivitas monoamin oksidase (MAO). Obat ini mengadakan interaksi dengan lipid membran; ikatan ini dapat membantu stabilisasi membran. Di samping itu secara berlawanan, phenytoin menyebabkan eksitasi pada beberapa neuron serebral. Pada konsentrasi terapeutik, kerja utama dari
phenytoin adalah menghambat kanal natrium dan menghambat terjadinya potensial aksi yang berulang.
Farmakokinetik
Absorpsinya sangat bergantung pada formulasi bentuk sediaan. Absorpsi natrium phenytoin dari saluran cerna berlangsung sempurna pada sebagian besar pasien, meskipun waktu mencapai puncak bervariasi antara 3-12 jam. Absorpsi pada pemberian intramuskuler tidak dapat diprediksi, dan terjadi pengendapan dari beberapa obat di dalam otot sehingga cara pemberian intramuskuler tidak dianjurkan. Phenytoin terikat kuat pada protein plasma. Konsentrasi obat dalam cairan serebrospinal sebanding dengan kadar obat bebas dalam plasma. Biotransformasi terutama berlangsung dengan cara hidroksilasi oleh enzim mikrosom hati. Metabolit utamanya adalah parahidroksifenil. Sebagian besar metabolit phenytoin disekresi versama empedu, kemudian mengalami reabsorpsi dan biotransformasi lanjutan dan diekskresi melalui ginjal. Di ginjal, metabolit utamanya mengalami sekresi oleh tubuli, sedangkan bentuk utuhnya mengalami reabsorpsi.
Intoksikasi dan Efek samping
Gejala keracunan ringan biasanya mempengaruhi SSP, saluran cerna, gusi, dan kulit; sedangkan yang lebih berat mempengaruhi kulit, hati dan sumsum tulang. Pada SSP : diplopia, ataksia, vertigo, nistagmus, sukar berbicara, dll. Pada saluran cerna dan gusi : nyeri ulu hati, anoreksia, mual, muntah, dan proliferasi
epitel dan jaringan ikat gusi dapat terjadi pada penggunaan kronik. Pada kulit : morbili form yang sering pada anak-anak dan remaja, dapat disertai hiperpireksia, eosinofilia, dan limfadenopati.
2. CARBAMAZEPINE
Obat ini dapat digunakan bersama-sama dengan phenytoin pada para pasien yang sulit dikendalikan. Obat ini juga sangat efektif pada sebagian pasien dengan neuralgia trigeminal.
Mekanisme kerja
Mekanisme kerjanya mirip dengan phenytoin. Seperti halnya phenytoin, carbamazapin menunjukkan aktivitas terhadap seizure MES. Carbamazepin menyekat kanal ion natrium pada konsentrasi terapeutik dan menyekat aktivitas berulang dengan frekuensi tinggi pada kultur neuron. Obat ini juga bekerja secara prasinaptik untuk mengurangi transmisi sinaptik. Carbamazepin mengadakan interaksi dengan reseptor adenosine. Carbamazepin juga menghambat ambilan dan rilis norepinephrin dari sinaptosom otak tetapi tidak mempengaruhi ambilan GABA dalam potongan-potongan otak (brain slices).
Farmakokinetik
Kecepatan absorpsi carbamazepin bervariasi sangat luas pada pasien yang berbeda-beda, walaupun absorpsinya hampir sempurna pada semua pasien. Kadar puncak dicapai 6-8 jam setelah pemberian obat. Memperlambat absorpsi dengan cara
memberikan obat sesudah makan akan membantu pasien menoleransi dosis harian yang lebih tinggi.
Distribusinya lambat, obat ini pula hanya 70% terikat dengan protein plasma. Carbamazepin dimetabolisme sempurna , sebagian menjadi derivat 10,11-dihydro, yang mana selanjutnya mengalami konjugasi. Turunan dihydro tersebut dibentuk dari suatu epoxide yang stabil, carbamazepin-10,11-epoxide, yang telah ditunjukkan mempunyai aktivitas antikonvulsi.
Toksisitas dan Efek samping
Efek samping carbamazepin cukup sering terjadi. Efek samping yang terjadi setelah pemberian obat jangka lama berupa vertigo, pusing, ataksia, diplopia, dan penglihatan kabur. Frekuensi bangkitan dapat meningkat akibat dosis berlebihan. Efek samping lain dapat berupa mual, muntah, diskrasia darah yang berat (anemia apalastik, agranulositosis) dan reaksi alergi berupa dermatitis, eosinofilia, limfadenopati, dan splenomegali. Gejala intoksikasi akut carbamazepin dapat berupa stupor atau koma, penderita iritabel, kejang, dan depresi napas. Efek samping jangka panjang berupa retensi air yang dapat menjadi masalah bagi penderita usia lanjut dengan gangguan jantung. 3. PHENOBARBITAL
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja yang pasti masih belum diketahui, tetapi penguatan proses inhibisi dan pengurangan transmisi eksitatorik kemungkinan besar berperan penting. Phenobarbital secara
selektif menekan neuron abnormal, menghambat penyebaran, dan menekan firing (rangsangan depolarisasi) dari neuron fokus. Seperti phenytoin, phenobarbital menekan high frequency-repetitive firing pada neuron yang dikultur, melalui kerjanya pada konduktans Natrium, tetapi hanya pada konsentrasi tinggi. Juga pada konsentrasi tinggi barbiturat menyekat beberapa arus Ca2+ (tipe L dan tipe N). Phenobarbital terikat kepada suatu
situs pengatur alosterik pada reseptor GABA-benzodiazepine, dan memperkuat arus masuk yang diprakarsai oleh reseptor GABA dengan memperlama pembukaan kanal ion Cl-. Phenobarbital juga menyekat respon eksitatorik yang diinduksi oleh glutamate, terutama yang diprakarsai oleh aktivasi reseptor AMPA.
Farmakokinetik
Phenobarbital diabsorpsi sempurna pada pemberian oral, didapatkan konsentrasi rendah pada plasma beberapa jam setelah pemberian dosis tunggal. Sekitar 40-60% terikat pada plasma protein. Volume distribusi kira-kira 0,9 L/Kg. phenobarbital dimetabolisme hampir sempurna di dalam hati sebelum diekskresi lewat ginjal. Metabolit utamanya adalah Parahydroxyfenil, diekskresi dalam urin sebagai sulfat yang terkonjugasi. Waktu paruh plasma kira-kira 90 jam pada orang dewasa, kadang-kadang lebih rendah dan bervariasi pada anak-anak.
Efek samping dapat terjadi sedasi, nystagmus, ataksia, kadang-kadang dapat menyebabkan hyperiritasi dan hyperaktivitas pada anak-anak, confusion pada orang tua.
4. PRIMIDONE Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja primidone lebih mendekati phenytoin. Farmakokinetik
Primidone diabsorpsi sempurna, biasanya mencapai konsentrasi puncak sekitar tiga jam setelah pemberian oral. Primidone biasanya dibatasi sampai menuju volume cairan tubuh total, dengan volume distribusi sebesar 0,6 L/Kg. Obat ini tidak terikat kuat pada protein plasma; kira-kira 70% berada di dalam sirkulasi sebagai obat bebas.
Primidone dimetabolisme secara oksidasi menjadi phenobarbital, yang mengadakan akumulasi sangat lambat, dan melalui pemotongan cincin heterosiklik untuk membentuk PEMA. Baik primidone maupun phenobarbital adalah sama-sama dihidroksilasi pada posisi para dari cincin phenyl dan selanjutnya berturut-turut mengalami konjugasi dan ekskresi.
Toksisitas dan Efek Samping
Efek samping primidone yang berkaitan dengan dosis adalah mirip dengan metabolitnya, phenobarbital, kecuali bahwa rasa kantuk terjadi lebih awal pada pengobatan dan mungkin akan terasa sekali jika dosis permulaannya terlalu besar; penambahan
secara bertingkat dianjurkan bila memulai pemberian obat kepada anak-anak dan orang dewasa.
5. VIGABATRIN Mekanisme Kerja
Vigabatrin merupakan inhibitor reversibel dari GABA aminotransferase (GAB-T), enzim yang bertanggung jawab terhadap degradasi GABA. Vigabatrin bekerja dengan jalan meningkatkan jumlah GABA yang dirilis pada situs-situs sinaps, dan, oleh karenanya akan meningkatkan efek inhibitorik. Vigabatrin juga mengadakan potensial GABA dengan jalan menghambat transporter GABA. Obat ini efektif dalam rentang yang luas dari model seizure.
Farmakokinetik
Vigabatrin sangat berguna dalam pengobatan parsial seizure dan sindroma West. Absorpsi vigabatrin berlangsung cepat, dan kadar puncak dicapai dalam 1-3 jam. Bioavaibilitas tampaknya lebih besar dari 60%, dan volume distribusi sekitar 0,8 L/Kg. Waktu paruh rata-rata 6-8 jam, tetapi ada bukti yang menyatakan bahwa aktivitas farmakodinamik dari obat ini lebih lama dan tidak begitu mempunyai korelasi dengan waktu paruh plasma. Obat ini memiliki kinetika linier, tanpa metabolit aktif dan berikatan dengan protein plasma dalam jumlah yang minimum; eliminasi terutama lewat ginjal.
6. LAMOTRIGINE Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja lamotrigine, seperti halnya phenytoin, berkaitan dengan kanal natrium. Obat ini menekan rangsangan depolarisasi yang cepat dan tunak dari neuron dan menyebabkan inaktivasi kanal natrium yang bersifat bergantung voltase (voltage dependent) dan bergantung penggunaan (use dependent). Kerja ini kemungkinan dapat menjelaskan efikasi dari lamotrigine pada epilepsi fokal. Tampaknya lamotrigine memiliki mekanisme kerja lain, untuk menjelaskan efikasinya pada seizure umum primer pada anak-anak, termasuk serangan absen; mekanisme ini mungkin melibatkan aksinya pada kanal ion Ca2+ yang diaktivasi oleh perubahan voltase.
Farmakokinetik
Lamotrigine diabsorpsi hampir sempurna dan volume distribusinya dalam kisaran 1-1,4 L/Kg. Ikatan dengan protein plasma hanya sekitar 55%. Obat ini memiliki kinetika linier dan dimetabolisme sebagian besar dengan jalan glukuronidasi menjadi 2-N-glukuronide, yang diekskresi melalui urin. Lamotrigine mempunyai waktu paruh sekitar 24 jam pada orang normal; waktu paruh ini berkurang menjadi 13-15 jam pada para pasien yang mengkonsumsi obat-obat penginduksi enzim. Lamotrigine efektif terhadap seizure parsial pada orang dewasa, dengan dosis tipikal antara 100mg/hari dan 300 mg/hari. Valproate menyebabkan peningkatan waktu paruh obat sebanyak dua kali lipat pada pasien yang menerima valproate, dosis awal lamotrigine harus dikurangi menjadi 25 mg setiap hari.
7. TOPIRAMATE Mekanisme Kerja
Topiramate menyakat repetitive firing dari kultur neuron korda spinalis, seperti halnya phenytoin dan charbamazepine. Mekanisme kerjanya oleh karena itu lebih melibatkan penyekatan kanal natrium yang bergantung pada voltase. Topiramate juga memperkuat efek inhibitor dari GABA, dengan bekerja pada situs ikatan yang berbeda dari situs ikatan benzodizepine atau barbiturate. Topiramate juga menekan kerja eksitatorik dari kainate pada reseptor-reseptor AMPA. Kemungkinan ketiga kerja tersebut berperan terhadap efek antikonvulsi Topiramate.
Farmakokinetik
Topiramate diabsorpsi cepat (sekitar 2 jam) dan bioavailibilitas sekitar 80%. Tidak ada efek makanan terhadap absorpsi, ikatan dengan protein plasma adalah minimal (15%) dan metabolismenya hanya tingkat menengah (20-50%); tidak terbentuk metabolit aktif. Sebagian besar diekskresi dalam bentuk utuh melalui urine. Waktu paruhnya sekitar 20-30 jam.
8. TIAGABINE Mekanisme Kerja
Tiagabine merupakan inhibitor ambilan GABA baik dalam neuron maupun glia. Obat ini hanya menghambat isoform transporter 1 (GAT–1) dan tidak menghambat GAT–2 atau GAT-3 dan meningkatkan kadar GABA ekstraseluler dalam otak bagian
depan dan hipokampus. Topiramate memperlama kerja inhibitori dari GABA yang dirilis secara sinaptik.
Farmakokinetik
Bioavaibilitasnya adalah 90-100%, terikat kuat dengan protein plasma. Waktu paruhnya 5-8 jam dan berkurang jika ada obat-obat yang menginduksi enzim. Makanan menurunkan konsentrasi plasma puncak, tetapi tidak menurunkan AUC. Gangguan fungsi hati menyebabkan sedikit penurunan dalam clearance. Obat ini dioksidasi di hati oleh CYP3A. Eliminasinya terutama melalui feses dan urine.
OBAT – OBAT YANG DIGUNAKAN DALAM BANGKITAN UMUM 1. ETHOSUXIMIDE
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerjanya kemungkinan besar melibatkan kanal kalsium. Ethosuximide juga menghambat Na+/K+ ATPase, menekan kecepatan metabolisme serebral dan manghambat GABA aminotransferase. Ethosiximide memiliki efek yang sangat penting terhadap arus ion Ca2+, menurunkan nilai ambang bawah dari arus ion. Inhibisi arus ini merupakan kerja terapeutik yang spesifik dari Ethosuximide.
Farmakokinetik
Ethosuximide diabsorpsi sempurna pada pemberian oral. Kadar puncak terlihat pada 3-7 jam setelah pemberian kapsul oral. Studi pada hewan menunjukkan bahwa pwmbwrian kronis dapat
menyebabkan iritasi pada mukosa lambung. Ethosuximide didistribusi secara menyeluruh ke seluruh jaringanyang mendapat perfusi darah, tetapi tidak menembus jaringan lemak. Ethosuximide tidak terikat dengan protein, dan konsentrasi di dalam cairan spinal sama dengan di dalam plasma. Dimetabolisme sempurna terutama melalui hidroksilase.
Efek Samping
Efek samping yang paling umum adalah adanya letargi, gangguan pencernaan seperti nyeri, mual, dan muntah
2. ASAM VALPROAT Mekanisme Kerja
Asam valproat sangat efektif untuk bangkitan umum tipe lena dan kurang efektif untuk epilepsi fokal. Asam valproat menyebabkan hiperpolarisasi potensial istirahat membran neuron , akibat peningkatan daya kondiksi membran untuk kalium. Efek antikonvulsi asam valproat didasarkan pada meningkatnya kadar asam gama aminobutirat (GABA) di dalam otak.
Farmakokinetik
Valproat diabsorpsi dengan baik pada pemberian oral, dengan bioavaibilitas lebih dari 80%. Kadar darah puncak teramati dalam waktu 2 jam. Makanan dapat memperlambat absorpsi dan menurunkan toksisitas jika obat diberikan setelah makan. Valproat 90% terikat pada protein plasma sehingga distribusinya terutama terbatas pada ciran ekstraseluler. Clearance valproat berlangsung sangat lambat, waktu paruhnya bermacam-macam
dari 9-18 jam. Kira-kira 70% dari dosis valproat diekskresi di urine dalam 24 jam.
Toksisitas dan Efek Samping
Toksisitas valproat berupa gangguan saluran cerna, sistem saraf, hati, ruam kulit, dan alopesia. Gangguan saluran cerna berupa anoreksia, mual, dan muntah. Pada SSP berupa kantuk, ataksia, dan tremor, akan menghilang dengan penurunan dosis. Gangguan pada hati berupa peningkatan aktivitas enzim-enzim hati, dan sesekali terjadi nekrosis hati yang berakibat fatal.
3. OXAZOLIDINEDIONE (TRIMETHADIONE)
Mekanisme Kerja
Trimethadione meningktkan nilai ambang letupan seizure akibat stimulasi thalamus yang berulang. Obat ini, atau lebih tepatnya metabolit aktifnya, yaitu dimethadione memeiliki efek yang sama terhadap arus Ca2+ di thalamus seperti Ethosuximide.
Farmakokinetik
Trimethadione diabsorpsi dangat cepat, dengan kadar puncak dicapai dalam waktu satu jam setelah pemberian obat. Obat ini didistribusikan ke seluruh jaringan yang mendapat perfusi aliran darah, dengan volume distribusi mendekati volume cairan tubuh total. Obat ini terikat dengan protein plasma. Dimetabolisme sempurna di dalam hati secara demetilasi menjadi dimethadione yang mempunyai aktivitas utama antiseizure. Harga clearance
jam. Dimethadion sangat lambat dieliminasi sehingga mengalami akumulasi lebih banyak dari obat induknya.
Efek Samping
Efek samping yang bersifat ringan berupa sedasi dan hemeralopia, sedangkan yang sifatnya lebih berat berupa gejala pada kulit, darah, ginjal, dan hati.
OBAT – OBAT LAIN YANG DIPAKAI UNTUK MENANGANI EPILEPSI
1. BENZODIAZEPINE
Enam jenis benzodiazepine memainkan peranan penting dalam pengobatan penderita epilepsi, yaitu :
•Diazepam
Jika diberikan secara intravena atau rektal sangat efektif untuk menghentikan aktivitas seizure yang tersu-menerus, terutama status epileptikus tonik-klonik umum. Efek samping berat dan berbahaya yang menyertai penggunaan diazepam IV ialah obstruksi saluran nafas oleh lidah, akibat relaksasi otot. Selain itu dapat terjadi depresi nafas sampai henti nafas, hipotensi, henti jantung dan kantuk.
•Lorazepam
Adalah benzodiazepine yang bila diberikan secara intravena, dalam beberapa studi tampaknya lebih efektif
dan bekerja lebih lama dari diazepam dalam pengobatan status epileptikus.
•Clonazepam
Adalah obat yang kerjanya berlangsung lama, dengan dokumentasi efikasinya terhadap bangkitan lena. Merupakan salah satu obat antiseizure sangat poten yang telah dikenal. Efek samping yang tersering ialah kantuk, ataksia, dan gangguan kepribadian.
•Clorazepate dinatrium
Merupakan benzodiazepine yang diijinkan di Amerika Serikat sebagai tambahan untuk pengobatan seizure parsial pada orang dewasa. Rasa kamtuk dan letargi adalah merupakan efek samping yang umum.
•Nitrazepam
Tidak dipasarkan di Amerika, tapi digynakan di banyak negara, khususnya untuk spasme infantil dan seizure mioklonik. Obat ini kurang poten bila dibandingkan dengan Clonazepam. Efek samping yang paling mengganggu dari pemakaian Nitrazepam adalah hipersekresi lendir saluran nafas. Gangguan terhadap SSP terutama berupa gejala letargi dan ataksia.
•Clobazam
Dipasarkan di sebagian besar negara dan digunakan secara luas untuk berbagai tipe seizure.
Sifat farmakokinetik benzodiazepine sebagian menentukan penggunaan klinisnya. Secara umum, benzodiazepine diabsorpsi dengan baik, diidstribusi secara luas, dan dimetabolisme secara ekstensif, dengan membentuk banyak metabolit aktif. Clearance tubuh total dari obat induk dan metabolitnya sangat lambat, hal ini berkaitan dengan waktu paruhnya yaitu sekitar 20-40 jam. 2. ACETAZOLAMIDE
Adalah suatu penghambat karbonik anhidrase sebagai suatu diuretik akan menyebabkan asidosis ringan sebagai akibat kehilangan natrium dan kalium. Mekanisme kerja sebagai antiepilepsi tidak bergantung pada efek diuresis atau asidosis metabolik yang dapat ditimbulkan acetazolamide. Pada otak acetazolamide berefek menstabilkan influks Na yang patologik, sifat yang menjadi dasar efek antikonvulsinya. Obat ini berguna untuk mengatasi bangkitan lena dan bangkitan tonik klonik yang bangkitannya berhubungan dengan siklus menstruasi. Efeknya bersifat sementara karena cepat terjadi toleransi.
3. FENASEMID
Fenasemid memiliki antikonvulsi yang berspektrum luas. Mekanisme kerjanya adalah dengan peningkatan ambang rangsang fokus serebral, sehingga hipereksitabilitas dan letupan abnormal neuron sebagai akibat rangsang beruntun dapat ditekan oleh fenasemid. Pada saraf tepi, hipereksitabilitas oleh rangsang beruntun atau hipokalsemia juga dapat ditekan oleh fenasemid. Fenasemid merupakan obat toksik, efek samping
tersering adalah psikosis. Efek samping yang mungkin fatal adalah nekrosis hati, anemia aplastik, dan neutropenia. Fenasemid efektif terhadap bangkitan tonik-klonik, bangkitan lena, dan bangkitan parsial kompleks. Indikasi fenasemid ialah untuk terapi bangkitan parsial kompleks dengan syarat obat lain bersifat refrakter.
STATUS EPILEPTIKUS
Ada berbagai bentuk status epileptikus. Umumnya status epileptikus tonik klonik umum, adalah suatu kondisi darurat yang membahayakan nyawa pasien dan segera memerlukan pengelolaan kardiovascular, pernafasan, dan metabolisme serta terapi farmakologis. Terapi farmakologis selalu memerlukan pemberian antiseizure secara intravena. Pada umumnya diazepam merupakan obat paling efektif untuk menghentikan serangan dan diberikan secara intravena dengan dosis maksimal sebesar 20-30 mg pada orang dewasa. Penyuntikan diazepam dapat mendepresi fungsi pernafasan, karenanya fasilitas resusitasi harus sudah dipersiapkan selama pemberian obat. Efek dizepam tidak berlangsung lama, akan tetapi interval bebas seizure selama 30-40 menit akan memberi kesempatan untuk menerapkan terapi lain yang lebih efektif.
BAB III
DAFTAR PUSTAKA
•Katzung Bertram G.Farmakologi Dasar dan Klinik .edisi 8.penerbit
salemba medika.Jakarta:2002.hal:83-128
•Bagian Farmakologi FK UI.Farmakologi dan Terapi .edisi 4.Bagian
Farmakologi FK UI.Jakarta:2005.hal:163-174
•Goodman and Gilman’s.The Pharmacological Basis of
Therapeutics .6thedition.MacMillan Publishing Co.,Inc.New