Diagnosa Kebuntingan

17 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

II

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

1.

1.11 Latar BelakangLatar Belakang

Salah satu permasalahan dalam penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) pada Salah satu permasalahan dalam penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) pada ternak adalah evaluasi hasil IB yang berkaitan dengan pemeriksaan kebuntingan.

ternak adalah evaluasi hasil IB yang berkaitan dengan pemeriksaan kebuntingan.

Pemeriksaan kebuntingan berkaitan erat dengan upaya memperpendek jarak beranak dan Pemeriksaan kebuntingan berkaitan erat dengan upaya memperpendek jarak beranak dan merupakan salah satu faktor yang menentukan efisiensi usaha.

merupakan salah satu faktor yang menentukan efisiensi usaha.

Harapan dari diadakannya program inseminasi buatan adalah terjadinya Harapan dari diadakannya program inseminasi buatan adalah terjadinya

kebuntingan. Namun meskipun program inseminasi buatan telah dijalankan dan diperkirakan kebuntingan. Namun meskipun program inseminasi buatan telah dijalankan dan diperkirakan dengan baik tidak adanya jaminan bah!a kebuntingan akan selalu terjadi. Pada perka!inan dengan baik tidak adanya jaminan bah!a kebuntingan akan selalu terjadi. Pada perka!inan alami kegagalan konsepsi dapat diatasi dengan perka!inan kembali pada periode birahi alami kegagalan konsepsi dapat diatasi dengan perka!inan kembali pada periode birahi  be

 beririkukutntnyaya. . NaNamumun n papada da prprogograram m ininsesemiminanasi si bubuatatanan  pependndetetekeksisian an kekebubuntntiningagan n sasangngatatlalahh  pe

 pentntining. g. "e"egagagagalalan n kekebubuntntiningagan n pepentntining g ununtutuk k di di dedeteteksksi i kakarerena na apapababilila a hahasisil l rereprprododukuksisi ingin ditingkatkan lama siklus pembiakan ditekan seke#il mungkin.

ingin ditingkatkan lama siklus pembiakan ditekan seke#il mungkin.

Hal ini dimungkinkan karena bila ternak yang diinseminasi tidak bunting maka Hal ini dimungkinkan karena bila ternak yang diinseminasi tidak bunting maka sesungguhnya ternak tersebut dapat dika!inkan kembali pada periode berahi berikutnya sesungguhnya ternak tersebut dapat dika!inkan kembali pada periode berahi berikutnya tanpa harus menunggu sampai terlihat indikasi kebuntingan dari luar. Sebaliknya bila ternak tanpa harus menunggu sampai terlihat indikasi kebuntingan dari luar. Sebaliknya bila ternak yang dika!inkan bunting maka peternak dapat memberikan perlakuan khusus pada

yang dika!inkan bunting maka peternak dapat memberikan perlakuan khusus pada ternaknya sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya abortus.

ternaknya sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya abortus.

Setiap satu kali siklus birahi pada ternak diharapkan dapat dihasilkan kebuntingan Setiap satu kali siklus birahi pada ternak diharapkan dapat dihasilkan kebuntingan dengan satu kali inseminasi buatan. $pabila satu kali siklus hilang karena kegagalan

dengan satu kali inseminasi buatan. $pabila satu kali siklus hilang karena kegagalan

inseminasi buatan merupakan kerugian ekonomi. %erutama pada sistem reproduksi intensif. inseminasi buatan merupakan kerugian ekonomi. %erutama pada sistem reproduksi intensif. &leh karena itu intensifikasi produksi ternak akan terus meningkat sehingga diagnosa &leh karena itu intensifikasi produksi ternak akan terus meningkat sehingga diagnosa

kebuntinganpun akan semakin mendapat perhatian. 'ntuk mengoptimalkan hasil biakan dari kebuntinganpun akan semakin mendapat perhatian. 'ntuk mengoptimalkan hasil biakan dari ternak betina juga untuk memastikan se#epat mungkin keberhasilan kebuntingan.

(2)

1.2 Identifikasi Masalah

. Bagaimana metode diagnosis kebuntingan

. Bagaimana #ara mendiagnosis kebuntingan pada ternak  *. $pa saja penyebab kegagalan kebuntingan pada ternak 

1.3 Maksud dan Tuuan

. +engetahui metode diagnosis kebuntingan

. +engetahui #ara mendiagnosis kebuntingan pada ternak  *. +engetahui penyebab kegagalan kebuntingan pada ternak 

(3)

II

TIN!AUAN PU"TA#A

"ebuntingan didefinisikan sebagai suatu periode fisiologis pas#a perka!inan ternak betina yang menghasilkan konsepsi yang diikuti proses perkembangan embrio kemudian fetus hingga terjadinya proses partus (Hafe, ---) sedangkan menurut

Illa!ati (--) kebuntingan merupakan suatu proses dimana bakal anak sedang

 berkembang di dalam uterus seekor he!an betina. "ebuntingan sapi berlangsung sejak  konsepsi (fertilisasi) sampai terjadinya kelahiran anak (partus) se#ara normal (Soebandi /01 2randson ).

Seiring bertambahnya umur kebuntingan uterus mengalami perubahan se#ara kontinyu baik dari segi ukuran letak maupun morfologi sehingga dimungkinkan suatu kaidah dalam memprediksi umur kebuntingan melalui temuan3temuan fisik organ reproduksi. Sejumlah pendekatan telah dikembangkan dan dievaluasi dalam pemeriksaan kebuntingan ternak sapi hingga metode diagnosis kebuntingan dapat diklasifikasikan menjadi dua (langsung dan tidak langsung) atau tiga kategori (visual klinis dan tes laboratorium). 'ntuk metode klinis sejauh ini palpasi rektal dan ultrasonografi telah

digunakan lebih dari 45 peternak modern di belahan dunia dari !aktu ke !aktu (6odning et al . -). Bila dilakukan dengan benar kedua metode tersebut aman untuk induk sapi dan fetusnya. +eskipun demikian terlepas dari metode yang digunakan untuk mendeteksi status kebuntingan sebagian ke#il (sekitar 45) dari sapi yang didiagnosis  bunting sebelum 7- hari kebuntingan akan mengalami kematian embrio dini dimana hal ini  bukan merupakan efek dari pemeriksaan kebuntingan itu sendiri melainkan

(4)

III

PEMBAHA"AN

2.1.Met$de Diagn$sa #e%untingan 2.1.1. Eks&l$rasi re'tal

8ksplorasi rektal adalah metoda diagnosa kebuntingan yang dapat dilakukan  pada ternak besar seperti kuda kerbau dan sapi. Prosedurnya adalah palpasi uterus

melalui dinding rektum untuk meraba pembesaran yang terjadi selama kebuntingan fetus atau membran fetus.

. Persiapan 9

• Peralatan 9 8mber berisi air bersih kanji:sabun lunak hand uk sarung tangan

(karet:plastik) panjang kandang Pemaksa (bila perlu) pakaian (;erk3pa#k) sepatu Boot (karet) sabun !angi.

• &perator (Pemeriksa) 9 "uku harus pendek mememakai ;erk3pa#k memakai

Sarung %angan panjang (bila perlu) memakai Sepatu Boot tidak memakai #in#in jam tangan dsb

• %ernak Betina 9 <iikat bila perlu tempatkan dalam kandang pemaksa (kandang

 jepit) upayakan suasana lingkungan tidak ribut (tenang) he!an jangan dikasari:disakiti.

. Prosedur Pelaksanaan

Setelah pelaksana memakai perlengkapan (pakaian yang memadai) tangannya memakai sarung tangan karet:plastik panjang (bila perlu) kemudian tangannya (usahakan menggunakan tangan kiri) diberi peli#in (larutan kanji:busa sabun lunak).

Pelaksanaan menuju ternak betina yang akan diperiksa 9 a. %ernak diusap:ditepuk dengan lembut agar tenang  b. Pegang pangkal ekornya dengan tangan kanan

#. %angan kiri 9 telapak tangan dan jari3jari dibentuk keru#ut dimasukkan ke dalam rektum dengan jalan didorong sambil diputar.

(5)

d. Setelah pergelangan tangan masuk di dalam rektum telapak tangan dibuka =tekan ke ba!ah (lantai rektum) untuk meraba organ di ba!ah rektum. e. >agina 9 saluran lunak .

f. ?ervi@ 'teri 9 saluran berdinding tebal.

g. Setelah ?ervi@ 'teri teraba tangan digerakkan maju ke depan melakukan  penekanan ke ba!ah dengan telapak tangan terbuka untuk meraba ?orpus

'teri diteruskan ke depan sampai Bifur#atio 'teri.

h. Setelah Bifur#atio 'teri teraba lanjutkan dengan meraba ?ornua 'teri kiri dan kanan dan bandingkan dengan kriteria 9

i. ?ornua 'teri "iri dan ?ornua 'teri "anan simetris = tidak bunting  j. %erus ikuti letak : posisi #ornua uteri.

3 Posisi #ranio ventral A simetris = tidak bunting 3 ?ari di ujungnya 9 ovarium

k. akukan pemeriksaan dengan #ermat pada #ornua uteri kiri dan kanan serta  pada ovarium kiri dan kanan.

Cambar . <eteksi "ebuntingan <engan ?ara Palpasi 6ektal

Sebagai indikasi bah!a ternak bunting dapat dikenali melalui tanda3tanda sebagai berikut9

a. Palpasi perektal terhadap #ornua uteri teraba #ornua uteri membesar karena  berisi #airan plasenta (amnion dan alantois).

(6)

#. Selip selaput fetal alanto3#orion pada penyempitan terhadap uterus dengan ibu  jari dan jari telunjuk se#ara lues.

d. Perabaan dan pemantulan kembali fetus di dalam uterus yang membesar yang  berisi selaput fetus dan #airan plasenta.

e. Perabaan plasenta.

Palpasi arteri uterina media yang membesar berdinding tipis dan berdesir (fremitus) (%oelihere /4).

2.1.2. Aus'ultasi !antung (etus

<iagnosis kebuntingan dengan mendeteksi aus#ultasi jantung fetus

dilakukan dengan menggunakan stetoskope yang diletakan pada abdomen sebelah kanan. +etode ini dapat dengan mendeteksi jantung fetus yang berumur 4 bulan ke atas. 'ltra Sonografi ('SC) adalah sebuah metode untuk memvisualisasikan bagian3  bagian internal tubuh atau janin dalam rahim dengan menggunakan gelombang suara

ultrasonik yaitu gelombang suara yang memiliki frekuensi sangat tinggi (4- kH, A --- kH,). 'SC <oppler  adalah sebuah prosedur yang menggunakan gelombang suara untuk mengevaluasi darah yang mengalir di jantung pembuluh darah dan katup. $lat untuk mendeteksi kebuntingan kembar adalah 8l#etro#ardiograph (Siti -).

2.1.3. #adar Pr$gester$n Darah

Pada sapi progesteron berfungsi memelihara kebuntingan. Hal ini disebabkan pada saat kebuntingan korpus lutheum selalu ada. "ondisi ini

dimungkinkan dengan konsentrasi atau level progesteron darah pada hari ke 4-kebuntingan dan selama beberapa saat sebelum kelahiran tinggi dimana #orpus

(7)

lutheum merupakan sumber dari progesteron. Selain itu pada periode tersebut  pla#enta juga memproduksi progesteron untuk memelihara kebuntingan tersebut.

8valuasi progesteron dalam plasma darah selama siklus seksual mengikuti  pola tertentu.

3 Pada fase lutheal 9 lebih dari -4- ng:ml

3 Pada periode D A 7 hari sekitar birahi 9 kadar progesteron rendah (E-4 ng:ml) 3 Periode anestrus dan fase folikuler betina siklik 9 E-4 ng:ml

3 2ase lutheal betina siklik dan betina bunting pada sapi  ng:ml sedangkan pada domba 9 F  ng:ml.

%eknik diagnosa dengan metode evaluasi progesteron darah pada domba  pengambilan sampel plasma darahnya dilakukan pada 0 A  hari post inseminasi

sedangkan pada sapi pengambilan sampel plasma dilakukan pada  A * hari post inseminasi. Sampel dari air susu 3 D hari post inseminasi untuk tidak bunting D G -4 ng:ml dan bunting /44 G - ng:ml (Siti -).

2.2. Diagn$sa #e%untingan Pada Ternak 

2.2.1. Diagn$sa #e%untingan Pada "a&i %abel.. %anda3tanda "ebuntingan Pada Sapi.

Bulan "eterangan

* "ornua sebesar bola voli letaknya sudah sedikit tertarik ke rongga perut arteri uterina media jelas teraba dan terasa seperti desiran air mengalir teraba kotiledon sebesar kedelai membran fetus teraba.

(8)

4 2etus sudah masuk ke rongga abdomen dan sulit teraba. Servik teraba seperti selang pipih karena uterus tertarik ke rongga perut disebabkan karena berat fetus dan volume amnion bertambah volumenya. Plasentom teraba sebesar uang seratus rupiah fremitus arteria uterina media teraba mendesir dengan pembuluh darah yang sebesar sedotan. 7 Posisi fetus sudah kembali sejajar dengan pelvis osifikasi

fetus sudah teraba jelas teraba adanya fremitus arteria uterina media. Servik terletak di depan tepi #ranial pubis dan hampir tegak lurus ke ba!ah.

0 2etus sudah teraba tera#ak dan mulut teraba adanya arteria uterina media.

 'jung kaki depan dan mon#ong fetus sangat dekat dengan rongga pelvis pada akhir masa kebuntingan otot3otot sekitar tulang panggul kelihatan mengendur vulva sedikit membengkak dan lendir banyak keluar. %era#ak mulut ukuran fetus semakin membesar dan fremitus arteria uterina media semakin jelas.

Pada ternak sapi yang diinseminasi biasanya pemeriksaan dilakukan dua kali sehari oelh peternak yang dilakukan pada saat pemerahan. +eskipun pengamatan birahi pada ternak  sapi tidak sulit namun pemeriksaan pada ternak sapi yang diinseminasi perlu dilakukan

dengan #ermat. %idak hanya pada / sampai - hari atau lebih setelah inseminasi tetapi  pemeriksaan tetap berlanjut hingga dua sampai tiga bulan karena sapi sering mengalami  penundaan birahi kembali dan diduga berkaitan dengan kematian embrio se#ara dini.

Penundaan birahi kembali oleh dinas inseminasi dipertimbangan dalam perhitungan angka konsepsi. Perhitungan angka konsepsi biasanya dinyatakan sebagai proporsi dari he!an yang tidak kembali birahi D4 A 7- hari dan 7- A - hari setelah inseminasi (6H2 Hunter 4).

(9)

Penggunaan metode palpasi rektal. $pabila dilakukan oleh dokter he!an yang  berpengalaman. <iagnosa kebuntingan dapat dilakukan dari sekitar umur kebuntingan *4

hari namun yang paling akurat adalah pada D4 A 4- hari. apabila !aktu perka!inan diketahui se#ara pasti kepastian adanya korpus luteum yang berkembang penuh  A  hari dan

memberikan F/45 bukti konsepsi.

Pada sapi diagnosis yang berdasarkan atas nilai progesteron pada hari ke3- sampai D menghasilkan ketepatan // A --5. Sedangkan perkiraan yang didasarkan atas

konsentrasi progesteron dalam plasma pada hari ke3 menghasilkan ketepatan hanya 0D5 (6obertston dan Sarda 0 dalam 6H2 Hunter 4).

'ji negatif progesteron susu /4 A --5 tepat akurat pada hari ke3D sedang uji  positif biasanya tidak lebih dari sekitar /-5 benar (Heap dkk 07 dalam 6H2 Hunter

4). Namun metode pendugaan progesteron pada susu tidak dapat diterapkan pada sapi dara dan jarang #o#ok untuk digunakan pada sapi pedaging dikarenakan masalah

 pengambilan #ontoh susu dilapangan.

2.2.2. Diagn$sa ke%untingan &ada d$)%a

<iagnosa kebuntingan pada domba dapat dilakukan salah satunya dengan metode  penggunaan suara ultra (ultrasound ). <engan menempelkan sebuah alat periksa pada

abdomen radars itu dapat mendeteksi adanya fetus mulai dari sekitar umur kebuntingan sembilan minggu. Suara ultra dengan frekuensi yang sangat tinggi dan panjang gelombang yang sangat pendek dipantulkan dari benda yang bergerak ke sumber transmisi dengan frekuensi yang sedikit berubah gejala dropler. Sinyal ultrasonik yang dipantulkan dari benda  bergerak dapat diubah menjadi gambaran visual pada layar ke#il. <engan pengalaman

menempelkan alat periksa ( probe) instrumen ini dapat memberikan keberhasilan sampai *5 (2raser dan 6obertson 7/ dalam 6H2 Hunter 4).

Pada hari ke34- masa perkembangan fetus dapat digunakan metode diagnosa

radiografi fetus. <idasarkan atas deteksi proses penulangan dengan memakai sinar3 ($rdran dan Bro!n 7D). $kurasi yang dihasilkan - A 45 pada tiga bulan setelah ka!in

(10)

<iagnosa kebuntingan pada domba juga dapat menggunakan penaksiran  progesteron dalam plasma darah. "etepatan diagnosa dengan menggunakan metode ini

adalah /45 pada hari ke30 atau / setelah ka!in (6obertson dan Sarda 01 Saumande dan %himonier 01 %himonier 0* dalam 6H2 Hunter 4).

Selain beberapa metode yang telah disebutkan pemeriksaan kebuntingan pada domba juga dapat dilakukan dengan #ara pemeriksaan abdomen. Pemasukan endoskop kedalam rongga abdomen untuk mendeteksi uterus bunting atau adanya #orpus luteum dapat diterapkan paling #epat pada hari ke30 setelah ka!in (Philippo dkk 0 dalam 6H2 Hunter 4). Namun penerapan metode ini memerlukan pembiusan lokal atau umum. Prosedur ini memakan !aktu - A - menit perekor. "etepatan diagnosis ini men#apai -5 (Philippo dan 6hind 00 dalam 6H2 Hunter 4).

+etode lainnya adalah palpasi abdomen. "arena induk domba terlalu ke#il untuk dipalpasi isi abdomennya sebuah batang plastik dimasukan kedalam re#tum untuk

memindahkan uterus ke dinding abdomen. +etode ini dapat dilakukan pada umur

kebuntingan 0 minggu. "etepatannya sangat rendah sampai umur ke - minggu dan harus diperhitungkan adanya risiko kerusakan pada induk domba (6H2 Hunter 4).

2.2.3. Pe)eriksaan ke%untingan &ada kuda

Pemeriksaan kebuntingan pada kuda hingga kini telah diketahui metode  palpasi per rektum metode biologik dan metode immunologik. +etode biologik

di#iptakan oleh as#heim dan ,ondek yang menggunakan men#it betina sedang metode  biologik yang lainnya di#iptakan friedman yang menggunakan kelin#i betina. +etode

immunologik ada  ma#am yaitu metode yang mengandung radio3aktif dan metode tanpa radio3aktif. +etode Biologik untuk pemeriksaan kebuntingan pada kuda

Pada dasarnya dengan metode biologik ini yang diperiksa adalah adanya hormon P+S. Hormon ini men#apai pun#ak kadar dalam darah pada hari yang ke 4-setelah fertilisasi dan mulai menurun 4-setelah kebuntingan pada hari ke -.

(11)

 pemeriksaan dilakukan sebelum hari ke 4- atau sesudah - hasilnya

diragukan.menurut 2randson () menyatakan metode ini dapat dilakukan pada kebuntingan 4- sampai /D hari.

+etode Imunologik untuk pemeriksaan kebuntingan pada kuda. Pada

dasarnya digunakan serum (anti bodi) untuk mendeteksi adanya P+S yang ada dalam darah kuda tersangka. $nti bodi ini berasal dari kelin#i yang telah berkali3kali

disuntik dengan hormon P+S yang telah di#ampur dengan ,at pelambat absorpsi dengan interval  minggu. Pada umumnya sistem yang dipakai adalah ?omplement 2i@ation %est (?P test) atau Hemoagulation Inhibition %est (HI).

%abel.. <iagnosa "ebuntingan +elalui Palpasi 6ektal pada "uda

Hari #e%untingan Ukuran Penggele)%ungann*a +,)-*- <iameter 41 Panjang 04

D4 <iameter 041 Panjang 4 7- <iameter 41 Panjang 4 - <iameter -1 Panjang 4 Sumber 9 2randson 

2.3. #egagalan Pada #e%untingan 2.3.1. A%$rtus karena se%a%se%a% infeksi

1. Infeksi n$n s&esifik 

ang termasuk dalam infeksi non spesifik diantaranya 9

a. 8ndometritis (radang uterus) merupakan peradangan pada endometrium (dinding rahim). 'terus (rahim) sapi biasanya terkontaminasi dengan  berbagai mikroorganisme (bakteri) selama masa puerpurium (masa

nifas).

 b. Piometra (radang uterus bernanah) merupakan pengumpulan sejumlah eksudat purulen dalam lumen uterus (rongga rahim) dan adanya korpus

(12)

luteum persisten pada salah satu ovariumnya. "orpus luteum menga lami  persistensi mungkin karena adanya isi uterus abnormal menyebabkan

hambatan pelepasan prostaglandin dari endometrium atau menahan  prostaglandin dalam lumen uterus

#. >aginitis merupakan peradangan pada vagina biasanya sebagai

 penjalaran dari metritis dan pneumovagina atau dapat disebabkan oleh tindakan penanganan masalah reproduksi yang tidak tepat seperti tarikan  paksa: fetotomi.

2. Infeksi *ang %ersifat s&esifik/ diantaran*a 0

a. Bru#ellosis penyebab bru#ellosis pada sapi adalah Brucella abortus sedangkan pada kambing: domba adalah Brucella melitensis. Bersifat ,oonosis dan menyebabkan demam undulan pada manusia bila

mengkonsumsi susu yang ter#emar B.abortus.

 b. eptospirosis penyebabnya yaitu Leptospira pomona, Leptospira  gripothyposa, Leptospira conicola, Leptospira hardjo. ?ara

 penularannya melalui kulit terbuka: selaput lendir (mulut pharyn@ hidung mata) karena kontak dengan makanan dan minuman yang ter#emar. Cejala yang nampak diantaranya 9 anoreksia (tidak mau makan) produksi susu turun abortus pada pertengahan kebuntingan dan biasanya terjadi retensi plasenta metritis dan infertilitas.

#. >ibriosis penyebabnya adalah >ibrio fetus veneralis atau

?ampyloba#ter foetus veneralis. <apat menular melalui perka!inan dengan pejantan ter#emar. Cejala yang timbul diataranya 9

endometritis dan kadang A kadang salpingitis dengan leleran

mukopurulen siklus estrus diperpanjang G * hari kematian embrio abortus pada trisemester  kebuntingan dan terjadinya infertilitas karena kematian embrio dini.

d. %uberkulosis penyebabnya adalah +y#oba#terium bovis. <apat menular melalui ekskresi sputum (riak) feses susu urin semen

(13)

traktus genitalis (saluran kelamin) pernafasan ingesti dan perka!inan dengan he!an yang sakit. Cejala yang nampak diataranya 9 abortus retensi plasenta lesi uterus bilateral salpingitis dan adhesi (perlekatan) antara uterus.

e. IB63 IP> penyebabnya adalah virus herpes dengan tingkat kematian  prenatal dan neonatal #ukup tinggi. Penularan dapat melalui air pakan

kontak langsung maupun tidak langsung.

f. B><3+< virus B><3+< menyerang sapi dengan gejala9 demam tinggi depresi anore@ia diare lesi pada mukosa mulut dan sistem  pen#ernaan abortus pada 3 bulan kebuntingan serta terjadinya ka!in  berulang.

g. 8B$ (8pi,ootik Bovine $bortion) penyebabnyaChlamydia atau  Megawanella. Cejala yang nampak 9abortus pada D3 bulan

kebuntingan stillbirth (lahir kemudian mati) jika fetus lahir maka lemah retensi plasenta.

2.3.2. A%$rtus karena se%a%se%a% n$n infeksi . "era#unan

. <efisiensi +akanan 3. Hormonal

'kuran yang dipakai untuk menyatakan adanya gangguan reproduksi

-

$ngka kebuntingan (?on#eption rate) E 4-5

-

Jarak antar beranak (?alving interval) F D-- hari

-

Jarak antar melahirkan sampai bunting kembali (Servi#e periode) F - hari

-

$ngka perka!inan per kebuntingan (Servi#e per ?on#eption) F 

-

Jumlah induk sapi yg membutuhkan lebih dari tiga kali IB utk terjadinya

(14)

III

#E"IMPULAN

. <iagnosa kebuntingan pada ternak dapat dilakukan dengan beberapa #ara diantaranya eksprolasi rektal aus#ultasi jantung fetus deteksi progesteron darah deteksi progesteron plasma darah atau air susu.

. %idak setiap metode diagnosa kebuntingan dapat diterapkan kepada semua ternak seperti eksplorasi rektal yang hanya dapat dilakukan pada ternak besar. *. "eakuratan dari setiap metode berbeda3beda pada setiap ternak dan umur

kebuntingan.

D. "egagalan kebuntingan dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya sebab3sebab infeksi yang biasanya disebabkan oleh mikroorganisme (virus dan bakteri) dan non infeksi yang disebabkan oleh kera#unan defisiensi makanan hormonal.

(15)

DA(TA PU"TA#A

$rsyad udistira BS. --. Penanganan Kesehatan Hewan (Kasus angguan  !eprodu"si Pada #erna" $api%. <inas Peternakan dan "esehatan He!an

Provinsi lampung.

2randson. /. &natomi dan 'isiologi #erna" . %erjemahan Srigando!o dan Praseno. Cadjahmada 'niversity press. ogyakarta

 KKKKKKKK. .  &natomi dan 'isiologi #erna" . Cadjah +ada 'niversity Press. ogyakarta.

Hafe,. ---.  !eproduction in 'arm &nimals. 0th ed. ippin#ott ;illiams L ;ilkins. Philadelphia.

Hunter 6.H.2. 4 'isiologi dan #e"nologi !eprodu"si Hewan Betina omesti"  Institut %eknologi Bandung Bandung.

Illa!ati 6.;. --. )*e"ti+itas Penggunaan Berbagai olume &sam $ul*at Pe"at (H-$/% untu" Menguji Kandungan )strogen dalam 0rine $api Brahman Cross Bunting . Skripsi. Sekolah %inggi Peternakan. Sijunjung.

6asad Siti. -. #e"nologi !eprodu"si #erna". 'niversitas Padjadjaran. Sumedang

6atna!ati Prati!i ?ahya <an $ffandhy ukman. --. Petunju" #e"nis

 Penanganan angguan !eprodu"si Pada $api Potong . Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Badan Penelitian <an Pengembangan Peternakan <epartemen Pertanian.

6odning S ;. Prevatt 6. ?arson J. 8lmore and +. 8lmore. -. &nnual Bee* Cow Pregnancy )1amination. $nimal S#ien#es Series %imely Information9

(16)

$gri#ulture L Natural 6esour#es. $labama ?ooperative 8@tension System and $uburn 'niversity.

Soebandi P. /0. 2lmu !eprodu"si Hewan. +utiara Sumber ;idya. Jakarta.

(17)

MA#ALAH TE#NLI EPDU#"I TENA#  4Diagn$sa #e%untingan5 Disusun leh 0 #el$)&$k 6 #elas A "au)a a)adhani 277117137283 id9an (irdaus 27711713726: Muha))ad Hik)at A. 2771171372;7 Ades Mul*a9an 2771171372:6 Ina Nuraeni 277117137311 Adi "etia9an 27711713732< Et*a Nurrie)as  277117137333 (A#ULTA" PETENA#AN UNI=E"ITA" PAD!AD!AAN "UMEDAN 271<

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :