BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Demam Berdarah Dengue

2.1.1 Pengertian Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang ditandai dengan demma mendadak 2- 7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah lesu, gelisah, nyeri ulu ati disertai tanda pendarahan di kulit berupa bintik pendarahan, lebah ruam. Terkadang mimisan, berak darah, muntah darah, kesadaran menurun atau shock. Nyamuk Aedes aegypti terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut (Eka wati, 2009).

a. Ciri- ciri nyamuk Aedes aegypti:

1) Badan kecil, warna hitam dengan banyak bintik putih. 2) Pertumbuhan telur sampai dewasa = 10 hari.

3) Menggigit dan menghisap darah pada siang hari.

4) Senang hinggap pada pakaian yang bergantungan dalam kamar.

5) Bersarang dan bertelur di genangan air jernih di dalam dan di sekitar rumah yang agak gelap dan lembap bukan di got comberan.

6) Hidup di dalam dan sekitar rumah

Di dalam ruma: ada pada bak mandi,tampayan, vas bunga, tempat minum burung, perangkat semut, dan lain-lain.

(2)

Di luar rumah; drum, tangki, penampungan air bekas, ban bekas, botol pecah, potongan bambu, tempurung kelapa dan lainnya (Wibowo, 2008).

b. Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti

Menurut Soegijanto (2004) di dalam Wibowo (2008), masa pertumbuhan dan perkembangan nyamuk Aedes aegypti dapat dibagi menjadi 4 tahap, yaitu telur, larva, pupa dan dewasa, sehingga termasuk metamorphosis sempurna (holometabola).

1. Telur

Telur nyamuk Aedes aegypti berbentuk ellips atau oval memanjang, warna hitam, ukuran 0,5-0,8 mm, permukaan poligonal, tidak memiliki alat pelampung, dan diletakkan satu per satu pada benda yang terapung atau pada dinding bagian dalam tempat penampungan air (TPA) yang berbatasan langsung dengan permukaan air. Dilaporkan bahwa dari telur yang dilepas, sebanyak 85 % melekat di dinding TPA, sedangkan 15 % lainnya jatuh ke permukaan air.

2. Larva (jentik)

Larva nyamuk Aedes aegypti memiliki bentuk tubuh memanjang tanpa kaki dengan bulu sederhana yang tersusun bilateral simetris. Larva ini dalam pertumbuhan dan perkembangannya mengalami 4 kali pergantian kulit (ecdysis), dan larva yang terbentuk berturut-turut disebut larva instar I, II, III, dan IV. Larva instar I, tubuhnya sangat kecil, warna transparan, panjang 1-2 mm, duri-duri (spinae) pada dada (thorax) belum begitu jelas, dan corong pernapasan (siphon) belum menghitam. Larva instar II bertambah besar, ukuran 2,5-3,9 mm, duri dada belum jelas, dan corong pernapasan sudah berwarna hitam. Larva instar IV telah

(3)

lengkap struktur anatominya dan jelas tubuh dapat dibagi menjadi bagian kepala (chepal), dada (thorax), dan perut (abdomen). Pada bagian kepala terdapat sepasang mata majemuk, sepasang antena tanpa duri, dan alat mulut tipe pengunyah (chewing). Bagian dada tampak paling besar dan terdapat bulu-bulu yang simetris. Perut tersusun atas 8 ruas. Ruas perut ke-8, ada alat untuk bernapas yang disebut corong pernapasan. Corong pernapasan tanpa duri, berwarna hitam, dan ada seberkas bulu (tuft). Ruas ke-8 juga dilengkapi dengan seberkas bulu sikat (brush) di bagian ventral dan gigi sisir (comb) yang berjumlah 15-19 gigi yang tersusun dalam 1 baris. Gigi sisir dengan lekukan yang jelas membentuk gerigi. Larva ini tubuhnya langsing dan bergerak sangat lincah, bersifat fototaksis negatif, dan waktu istirahat membentuk sudut hampir tegak lurus dengan bidang permukaan air.

3. Pupa (kepompong)

Pupa nyamuk Aedes Aegypti memiliki bentuk tubuh bengkok, dengan bagian kepala-dada (cephalotorax) lebih besar bila dibandingkan dengan bagian perutnya, sehingga tampak seperti tanda baca “koma”. Pada bagian punggung (dorsal) dada terdapat alat bernafas seperti terompet. Pada ruas perut ke-8 terdapat sepasang alat pengunyah yang berguna untuk berenang. Alat pengayuh tersebut berjumbai panjang dan bulu di nomor 7 pada ruas perut ke-8 tidak bercabang. Pupa adalah bentuk tidak makan, gerakan pupa lebih lincah bila dibandingkan dengan larva. Waktu istirahat posisi pupa sejajar dengan bidang permukaan air.

(4)

4. Nyamuk dewasa.

Nyamuk Aedes aegypti tubuhnya tersusun dari tiga bagian, yaitu kepala, dada dan perut. Pada bagian kepala terdapat sepasang mata majemuk dan antena yang berbulu. Alat mulut nyamuk betina tipe penusuk-pengisap (piercing-sucking) dan termasuk lebih menyukai manusia (anthropophagus), sedangkan nyamuk jantan bagian mulut lebih lemah sehingga tidak mampu menembus kulit manusia, karena itu tergolong lebih menyukai cairan tumbuhan (phytophagus). Nyamuk betina mempunyai antenna tipe pilose, sedangkan nyamuk jantan tipe plumose.

2.1.2 Penularan Demam Berdarah Dengue (DBD)

Menurut Soegijanto (2004) di dalam Wibowo (2008) mekanisme penularan penyakit DBD dan potensial tempat penularannya adalah sebagai berikut:

a. Mekanisme penularan DBD

Seseorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penular demam berdarah dengue (DBD). Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila penderita DBD digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terisap ke dalam lambung nyamuk, selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 (satu) minggu setelah menghisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Virus dengue akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes

aegypti yang telah menghisap virus dengue menjadi penular (infektif) sepanjang

(5)

sebelum menghisap darah akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya (proboscis), agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur virus dengue berpindah dari tubuh ke orang lain (Dirjen PP dan PL, 2005).

b. Tempat potensial bagi penularan DBD

Penularan DBD dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya. Oleh karena itu tempat yang potensial untuk terjadi penularan DBD adalah:

1) Wilayah yang banyak kasus DBD (endemis)

2) Tempat umum merupakan tempat “berkumpulnya” orang-orang yang datang dari berbagai wilayah, sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar. Berbagai tempat tersebut antara lain:

Sekolah, RS atau Pusekesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya, tempat umum lainnya (hotel, pertokoan, pasar, restoran, tempat ibadah dan sebagainya).

3) Pemukiman baru di pinggir kota

penduduknya berasal dari berbagai wilayah, maka kemungkinan terdapat penderita atau carier yang membawa virus dengue yang berlainan dari berbagai lokasi asal (Wibowo, 2008).

a. Faktor-faktor yang terkait dalam penularan DBD menurut Ditjen PPM dan PPL (2002) adalah sebagai berikut:

(6)

1) Kepadatan penduduk

Semakin padat penduduk maka lebih mudah untuk terjadi penularan penyakit DBD.

2) Mobilitas penduduk

Semakin tinggi mobilitas penduduk maka semakin tinggi penularan dari satu tempat ke tempat lain.

3) Kualitas perumahan

Jarak antar rumah, pencahayaan, bentuk rumah, bahan bangunan akan mempengaruhi penularan. Bila di suatu rumah terdapat nyamuk penularnya, maka akan menularkan penyakit pada orang yang tinggal di dalam rumah tersebut atau di rumah sekitarnya yang berada dalam jarak terbang nyamuk dan kepada orang yang berkunjung ke rumah tersebut.

4) Pendidikan

Tingkat pendidikan masyarakat akan mempengaruhi cara berfikir dalam penerimaan informasi penyuluhan dan cara pemberantasan penyakit DBD. 5) Penghasilan

Penghasilan setiap keluarga berpengaruh pada kunjungan untuk berobat ke pelayanan kesehatan.

6) Mata pencaharian

Mata pencaharian seseorang akan mempengaruhi penghasilan pada keluarga. 7) Sikap hidup

Apabila seseorang memiliki kebiasaan hidup bersih sehat maka akan cepat tanggap dalam masalah untuk mengurangi resiko penularan penyakit.

(7)

8) Perkumpulan

Apabila di suatu wilayah terdapat suatu perkumpulan maka akan dapat digunakan sebagai sarana penyuluhan kepada masyarakat.

9) Golongan umur

Setiap golongan umur memiliki tingkat resiko dan dapat mempengaruhi terjadinya penularan penyakit. Golongan umur < dari 15 tahun mempunyai peluang lebih besar untuk terjangkit DBD.

10) Suku bangsa

Setiap suku bangsa mempunyai kebiasaan tersendiri, sehingga kebiasaan dalam suku bangsa berpengaruh pada penularan DBD.

11) Kerentan terhadap penyakit pada tiap individu

Kekuatan dalam tubuh setiap individu berbeda dalam menghadapi suatu penyakit, sehingga kerentanan terhadap penyakit berpengaruh pada penularan DBD.

2.1.3 Bionomik vektor

Bionomik vektor perilaku vektor yang meliputi:

a. Habitat Larva (Breeding Place)

Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak terutama pada habitat yang buatan manusia (man made), jenis air yang disukai adalah air jernih, sehingga dengan mengurangi sebanyak mungkin kontiner berisi air atau yang akan diisi air pada musim penghujan telah banyak mengurangi nyamuk dewasa Aedes aegypti.

(8)

b. Kontak vektor Pejamu (Host Vector Contact)

Besarnya kontak antara vektor dengan penjamu tergantung kepada kebiasaan mencari makan dari vektor dan tersedianya pejamu pada tempat dan waktu kegiatan vektor.

c. Tempat istirahat (Resting Place).

Sesudah melakukan kegiatan mencari darah mangsa dan sebagainya. Nyamuk memerlukan tempat istirahat. Berbagai jenis spesies nyamuk beristirahat pada siang atau malam hari di tempat yang sepi, gelap, dingin dan basah.

d. Jangkauan terbang dan distribusinya (Dispersal and Flight Range).

Penyebaran vektor dari tempat pembiakannya adalah penting dari segi penyebaran penyakit yang ditularkan oleh vektor, penyebaran dilakukan dengan terbang, lari, atau secara pasif dibawa oleh penjamu (Yudhastuti, 2011)

2.1.4 Survey jentik

a. Survey Jentik

Survey jentik nyamuk Aedes aegypti dilakukan dengan cara sebagai berikut (Santoso, 2008):

1) Semua tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti diperiksa (dengan mata telanjang) untuk mengetahui terdapat maupun tidak terdapatnya jentik.

2) Pemeriksaan TPA yang berukuran besar, seperti: bak mandi, tempayan, drum, dan bak penampungan air lainnya. Jika pada pandangan (penglihatan) pertama tidak menemukan jentik, tunggu sekitar 1 menit supaya memastikan bahwa jentik benar tidak ada.

(9)

3) Pemeriksaan tempat perkembangbiakan yang kecil, seperti: vas bunga atau pot tanaman air atau botol yang airnya keruh, seringkali airnya perlu dipindahkan ke tempat lain.

4) Pemeriksaan jentik di tempat yang agak gelap, atau airnya keruh, menggunakan senter.

b. Metode Survey Jentik

Metode survey jentik dapat dilakukan melalui cara (Santoso, 2008): 1) Single larva

mengambil satu jentik di setiap tempat genangan air yang ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih lanjut.

2) Visual

melihat ada atau tidaknya jentik di setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya. Biasanya dalam program DBD menggunakan cara visual.

2.1.5 Pengendalian vektor

Tujuan pengendalian vektor utama adalah upaya untuk menurunkan kepadatan populasi nyamuk Aedes aegypti sampai serendah mungkin sehingga kemampuan sebagai vektor menghilang. Secara garis besar ada 5 cara pengendalian vektor yaitu dengan cara (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 347/MENKES/PER/III/2010 Tentang Pengendalian Vektor):

a. Pengendalian fisik

Tindakan perlindungan diri meliputi penggunaan pakaian pelindung, pemakaian obat nyamuk baik bakar, semprot oles maupun elektrik, pemakaian

(10)

tirai dan kelambu nyamuk yang dicelup larutan insektisida, serta pemakaian jaring berlubang (olyset net) (Depkes RI, 2000).

1) Pakaian pelindung

Pakaian dapat mengurangi resiko gigitan nyamuk bila pakaian tersebut cukup tebal dan longgar. Baju lengan panjang dan celana panjangdengan kaos kaki dapat melindungi lengan dan kaki yang merupakan daerah gigitan nyamuk.

2) PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dengan melakukan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur).

3 M adalah tindakan yang dilakukan secara teratur untuk memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk Demam Berdarah dengan cara: Menguras tempat-tempat penampungan air seperti: bak mandi atau WC, tempayan, ember, vas bunga, tempat minum burung dan lain-lain seminggu sekali. Menutup Menutup rapat semua tempat penampungan air seperti ember, gentong, drum dan lain-lain Mengubur semua barang-barang bekas yang ada di sekitar atau di luar

rumah yang dapat menmpung air hujan. Pencegahan penyakit DBD untuk

mengubah perilaku masyarakat dengan melibatkan peran serta masyarakat dalam pemberantasan sarng nyamuk (PSN) oleh keluarga atau masyarakat secara rutin, serentak dan berkesinambungan dan sangat efektif dan relatif lebih murah (Arifah, 2008).

3) Tirai dan kelambu nyamuk yang dicelup larutan insektisida.

Tirai yang dicelupkan ke larutan insektisida mempunyai manfaat yang terbatas dalam program pemberantasan DBD karena spesies vektor menggigit pada siang hari. Walaupun demikian, kelambu dapat digunakan secara efektif

(11)

untuk melindungi bayi dan pekerja malam yang sedang tidur siang. Kelambu tersebut dapat juga secara efektif digunakan untuk orang-orang yang biasa tidur siang (Depkes RI, 2000).

b. Pengendalian kimia 1) Larvasida

Pemberian larvasida nyamuk Aedes aegypti biasanya terbatas pada wadah air yang digunakan di rumah tangga yang tidak dapat dihancurkan, dimusnahkan ataupun dikelola. Penggunaan larvasida kimiawi paling baik digunakan dalam situasi saat hasil surveilans penyakit dan vektor menunjukkan adanya periode tertentu yang memiliki resiko tinggi dan tempat dengan KLB mungkin akan terjadi (Depkes RI, 2005).

a. Butiran pasir termephos 1% (abate).

Butiran termephos 1% diberikan pada wadah dengan menggunakan sendok plastik penakar untuk memberikan dosis 1 ppm. Dosis ini terbukti ampuh untuk 8-12 minggu, terutama dalam gentong tanah liat yang memiliki lubang aliran, dalam pola penggunaan air yang normal.Cara kerja temephos adalah sebagai berikut:

Bubuk termephos ditaburkan pada tempat penampungan air yang sulit dikuras atau di daerah yang air bersih sulit didapat sehingga perlu menampung air hujan (Bubuk termephos efektif selama 3 bulan),Sebelum diberi bubuk termephos, bak mandi atau kontainer dikuras dan disikat dindingnya. Mengisi bak mandi atau kontainer penampung air dengan sampai penuh. Menabur bubuk termephos sesuai dengan volume air. Sesudah ditaburi bubuk termephos, dinding-dinding bak

(12)

mandi tidak boleh disikat karena bubuk termephos menempel pada dinding bak mandi.

Cara menakar dosis bubuk termephos adalah sebagai berikut:

Satu sendok makan rata (peres) rata-rata berisi sepuluh gram bubuk termephos untuk seratus liter air (sehingga satu gram bubuk termephos untuk sepuluh liter air).

Tabel 2.1 Dosis dan Volume Air dalam Penaburan Bubuk Termephos Volume bejana dalam literan Temephos dalam sendok (10 gr) Volume bejana dalam literan Temephos dalam sendok (10 gr) …..- 25 liter 25-50 liter 50-75 liter 75-100 liter 100-125 liter 125-150 liter 150-175 liter 175-200 liter ¼ sendok ½ sendok ¾ sendok 1 sendok 1 ¼ sendok 1 ½ sendok 1 ¾ sendok 2 sendok 200-225 ltr 225-250 ltr 250-275 ltr 275-300 ltr 300-325 ltr 325-350 ltr 350-375 ltr Dst-1000 ltr 2 ¼ sendok 2 ½ sendok 2 ¾ sendok 3 sendok 3 ¼ sendok 3 ½ sendok 3 ¾ sendok 10 sendok Sumber : Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 347/MENKES/PER/III/2010 Tentang Pengendalian Vektor.

b. Pengaturan pertumbuhan serangga

Pengatur pertumbuhan serangga (Insect Growth Regulators,IGRs) akan mengganggu perkembangan tahap imatur nyamuk dengan memutus sintesis kitin selama proses pergantian kulit atau pada saat pembentukan pupa atau dalam proses peralihan menjadi nyamuk dewasa. Kebanyakan IGRs memiliki tingkat toksisitas yang rendah terhadap mamalia (nilai LD50 pada toksisitas oral akut untuk metropen (Altosid) adalah 34.600 mg/kg). Umumnya, IGRs dapat memberikan efek residual jangka panjang (tiga sampai enam bulan) pada dosis

(13)

yang relatif rendah jika dipakai untuk gentong tanah liat dengan sebuah lubang aliran.

2) Pengasapan wilayah

Metode ini melibatkan pengasapan droplet kecil insektisida ke dalam udara untuk membunuh nyamuk dewasa. Droplet yang terlalu kecil mungkin akan menghilang di wilayah bukan target operasi, sedangkan droplet yang terlalu besar akan cepat jatuh. Mulut penyemprot untuk peralatan volume ultra rendah yang diletakkan di tanah harus mampu menghasilkan droplet yang berukuran 5 sampai 27 mikron dan diameter garis tengah massanya jangan sampai melebihi ukuran droplet yang ditetapkan pabrik pembuatnya. Umumnya, ada dua bentuk pengasapan wilayah yang dipakai program pengendalian Aedes aegypti (Depkes RI, 2005) yaitu:

a. pengasapan dengan uap panas (thermal fogs)

pengasapan dengan uap panas mengandung insektisida yang biasanya diproduksi saat formulasi yang sesuai berkondensasi setelah diuapkan dalam suhu yang tinggi. Umumnya, mesin pengasapan dengan uap panas menerapkan prinsip denyut resonansi untuk menghasilkan gas panas (di atas 2000C) dengan kecepatan tinggi. Gas ini akan mengatomisasi formulasi insektisida dengan cepat sehingga langsung menguap dan berkondensasi dengan cepat hanya dengan sedikit penguraian formulasi yang tidak berarti. Formulasi pengasapan dengan uap panas dapat didasarkan pada minyak atau air. Formulasi yang didasarkan pada minyak (diesel) akan menghasilkan kabut asap putih yang tebal, sedangkan yang didasarkan pada air akan menghasilkan kabut tipis sedikit berwarna. Ukuran

(14)

diameter droplet (partikel) pada pengasapan pada uap panas biasanya kurang dari 15 mikron. Ukuran droplet yang tepat bergantung pada jenis mesin dan kondisi operasionalnya. Akan tetapi, ukuran droplet yang seragam sulit dicapai dalam pelaksanaan pengasapan yang biasa. Jenis insektisida yang digunakan biasanya adalah malathion yang dialrutkan dengan solar/minyak tanah dengan perbandingan 1;19.

b. pengasapan dengan uap dingin (aerosol), Ultra Low Volume (ULV)

Ultra Low Volume (ULV) melibatkan penggunaan sejumlah kecil insektisida cair yang pekat. Penggunaan insektisida kurang dari 4,6 liter/ha biasanya disebut sebagai penggunaan ULV. ULV berkaitan langsung dengan penggunaan volume dan bukan dengan ukuran droplet. Akan tetapi, ukuran droplet juga penting dan peralatan yang digunakan harus mampu menghasilkan droplet yang ukurannya berkisar antara 10 sampai 15 mikron, walaupun keefektifitasannya hanya sedikit berubah jika kisaran ukuran droplet diperbesar menjadi 5-25 mikron. Ukuran droplet harus dipantau dengan melihat hasil pajanannya pada slide berlapis Teflon atau silicon dan diperiksa di bawah mikroskop. Aerosol, kabut dan asap dapat dihasilkan oleh mesin yang portabel, kendaraan penyemprot, maupun peralatan yang digunakan pesawat terbang.

3) Obat nyamuk

Produk insektisida rumah tangga seperti obat nyamuk bakar, cair, dan repellent, dan elektrik (obat nyamuk lempengan yang menggunakan tenaga listrik) banyak digunakan sebagai alat perlindungan diri terhadap nyamuk. Pemakaian obat anti nyamuk merupakan suatu cara yang paling umum bagi seseorang untuk

(15)

melindungi dirinya dari gigitan nyamuk dan serangga lainnya. Jenis repellent secara luas diklasifikasikan menjadi 2 kategori, yakni penangkal ilmiah dan penangkal kimiawi. Minyak murni dari ekstrak tanaman merupakan bahan utama obat-obatan penangkal nyamuk alamiah seperti minyak serai dan minyak sitrun. Bahan penangkal kimiawi seperti DEET (N-Dietyl-m-Toluamide) dapat memberikan perlindungan terhadap Aedes Alpbopictus, Aedes aegypti, dan spesies anopheline selama beberapa jam (Depkes RI, 2000).

Beberapa jenis obat anti nyamuk elektrik menggunakan campuran diethyltoluamide (DEET) yang sifatnya korosif dan mampu mengikis lapisan kulit. Umumnya efek dari penggunaan obat anti nyamuk yaitu merasa sesak napas, alergi kulit, iritasi, batuk-batuk, pusing, mual, muntah, bahkan pingsan. Sedangkan untuk jangka panjang, kontak dengan obat anti nyamuk setiap hari bisa menyebabkan kanker paru-paru dan berisiko terkena kanker kulit (anti nyamuk oles).

c. Pengendalian biologi

Menurut Depkes RI (2005), di Asia tenggara penggunaan preparat biologis untuk mengendalikan populasi nyamuk vektor penyakit dengue terutama pada tahap larvanya,yaitu melalui:

a. Ikan

Ikan pemakan larva (Gambusia affinis dan Poecilia reticulata) sudah semakin banyak digunakan untuk mengendalikan nyamuk Aedes aegypti di kumpulan air yang banyak atau di container air yang besar di negara-negara Asia Tenggara.

(16)

Kegunaan dan efisiensi alat pengendali ini bergantung pada jenis penampung yang dipakai.

b. Bakteri

Ada dua spesies bakteri penghasil endotoksin, Bacillus thuringiensis (Bs) adalah agens yang efektif untuk mengendalikan nyamuk. Bakteri tersebut tidak berpengaruh pada spesies non target. Bt.H-14 terbukti paling efektif terhadap Aedes stephensi dan Aedes aegypti, sedangkan Bs psling efektif terhadap nyamuk Culex quinquefasciatus yang berkembang biak di air kotor. Bt.H-14 memiliki kadar toksisitas yang sangat rendah terhadap mamalia dan telah diterima sebagai preparat pengendali populasi nyamuk dalam penampung air untuk kebutuhan rumah tangga.

d. Pengendalian terpadu

Penggunaan insektisida untuk program pencegahan dan pengendalian vektor dengue harus dipadukan dengan metode pengelolaan lingkungan kapanpun jika memungkinkan. Selama periode tidak ditemukannya atau hanya sedikit aktivitas virus dengue, langkah rutin Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dipadukan dengan penggunaan larvasida untuk wadah air yang tidak dapat dihilangkan, ditutupi, ditimbun, maupun dikelola. Untuk tindakan pengendalian kedaruratan guna menekan epidemi virus dengue atau guna mencegah KLB yang besar, sebuah program pemberantasan populasi nyamuk Aedes aegypti yang cepat dan besar-besaran harus dilakukan baik dengan penggunaan insektisida maupun pengurangan sumber/habitat nyamuk dengan menggunakan teknik yang telah ada dalam suatu cara terpadu (WHO, 2005).

(17)

2.1.6 Ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti pada upaya pengendalian vektor penyakit DBD

Survei jentik yang biasa digunakan adalah secara visual adalah sebagai berikut (Santoso, 2008):

a. Angka Bebas jentik (ABJ) adalah jumlah rumah negatif jentik dari seluruh rumah yang diperiksa.

ABJ= Jumlah rumah /bangunan yang tidak ditemukan jentik X 100% Jumlah rumah yang diperiksa

b. House Index (HI) adalah jumlah rumah positif jentik dari seluruh rumah yang diperiksa.

HI= Jumlah rumah yang positif jentik Jumlah rumah yang diperiksa

c. Container Index (CI) adalah jumlah kontainer yang ditemukan larva pada container yang diperiksa.

CI= Jumlah kontainer yang positif jentik Jumlah kontainer yang diperiksa

d. Breteau Index (BI) adalah jumlah kontainer dengan larva dalam seluruh rumah yang diperiksa.

BI= Jumlah kontainer yang positif jentik 100 rumah yang ada di suatu daerah

HI lebih spesifik dalam menggambarkan penyebaran nyamuk di suatu wilayah, sedangkan Density figure (DF) adalah kepadatan jentik Aedes aegypti

X 100 %

X 100 %

(18)

yang merupakan gabungan dari HI, CI, dan BI yang dinyatakan dalam skala 1-9 seperti tabel berikut :

Tabel 2.2 Hubungan antara House Index (HI), Container Index (CI), Breteau

Index (BI), Density Figure (DF) Density figure (DF) House index (HI) Container index (CI)

Breteau index (BI)

1 1 - 3 1 - 2 1 - 4 2 4 - 7 3 - 5 5 - 9 3 8 - 17 6 - 9 10 - 19 4 18 - 28 10 -14 20 – 34 5 29-37 15 – 20 35 -49 6 38-49 21 - 27 50 – 74 7 50-59 28 - 31 75 – 99 8 60-76 32 – 40 100 – 199 9 >77 >41 >200 Sumber : (Santoso,2008)

Berdasarkan hasil survei larva maka dapat ditentukan density figure. Density Figure ditentukan setelah menghitung hasil HI, CI, BI kemudian dibandingkan dengan tabel larva index. Apabila angka DF kurang dari 1 menunjukan risiko penularan rendah, 1-5 resiko penularan sedang dan diatas 5 risiko penularan tinggi. Kepadatan populasi nyamuk (Density Figure) diperoleh dari gabungan dari HI, CI dan BI dengan kategori kepadatan jentik penentuannya adalah sebagai berikut:

• DF = 1 = kepadatan rendah • DF = 2-5 = kepadatan sedang

• DF = 6-9 = kepadatan tinggi (Santoso, 2008).

2.2 Perilaku

Perilaku adalah suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya. Dari batasan dapat diuraikan bahwa reaksi dapat diuraikan bermacam-macam

(19)

bentuk, yang pada hakekatnya digolongkan menjadi 2, yaitu bentuk pasif (tanpa tindakan nyata atau konkret) dan dalam bentuk aktif dengan tindakan nyata (Notoatmodjo, 2010). Yudhastuti (2011) menyatakan bahwa perilaku masyarakat yaitu pengetahuan dan tindakan dalam mengurangi atau menekan kepadatan jentik nyamuk Aedes aegypti. Dengan demikian, perilaku responden baik itu mengenai pencegahan, penanggulangan, dan sebagainya akan mempengaruhi penularan penyakit DBD, salah satunya adalah dengan mengurangi kepadatan jentik Aedes aegypti. Berdasarkan teori Bloom dalam Notoatmodjo (2010) perilaku dibedakan sebagai berikut:

1. Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, hasil tahu seseorang terhadap obyek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebaginya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap obyek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga) dan penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap obyek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda.

2. Sikap

Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau obyek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan. Sikap merupakan suatu sindroma atau kumpulan gejala dalam merespon stimulus atau obyek, sehingga sikap tersebut melibatkan pikiran, perasaan, perhatian dan gejala kejiwaan yang lain. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak

(20)

dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Dengan kata lain, fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi perilaku (tindakan atau reaksi tertutup).

3. Tindakan atau praktik (practice)

Sikap adalah kecenderungan atau bertindak (praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain, yaitu antara lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana.

Menurut Notoatmodjo (2010) tindakan adalah sesuatu yang dilakukan dalam bentuk perbuatan. Tindakan terdiri dari empat tingkatan yaitu:

1. Perception (Persepsi)

Mengenal dan memilih berbagai object sehubungan dengan tindakan yang akan diambil.

2. Guided response (Respon terpimpin)

Melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh. 3.Mechanism (Mekanisme)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan.

4. Adoption (Adopsi)

Suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangikebenaran tindakan. Dalam bidang perilaku kesehatan, salah satu teori yang menjadi acuan dalam penelitian-penelitian kesehatan masyarakat adalah teori Lawrence Green. Berangkat dari analisis penyebab masalah kesehatan, Green membedakan adanya dua determinan

(21)

masalah kesehatan, yakni behavioral factors (faktor perilaku) dan non behavioral factors (faktor non perilaku). Selanjutnya Green menganalisis, bahwa faktor perilaku sendiri ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu:

a. Faktor predisposisi (predisposing factor)

Faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi dan sebagainya.

b. Faktor pemungkin (enabling factor)

Faktor yang memungkinkan atau memfasilitasi perilaku mengetahui tindakan. Yang dimaksud dengan faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan.

c. Faktor penguat (reinforcing factor)

Faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Untuk berperilaku sehat memerlukan contoh dari para tokoh masyarakat. (Notoatmodjo, 2010).

Figur

Tabel 2.1  Dosis dan Volume Air dalam Penaburan Bubuk Termephos  Volume bejana  dalam literan  Temephos  dalam sendok  (10 gr) Volume bejana dalam literan Temephos  dalam sendok (10 gr) …..- 25 liter  25-50 liter  50-75 liter  75-100 liter  100-125 liter

Tabel 2.1

Dosis dan Volume Air dalam Penaburan Bubuk Termephos Volume bejana dalam literan Temephos dalam sendok (10 gr) Volume bejana dalam literan Temephos dalam sendok (10 gr) …..- 25 liter 25-50 liter 50-75 liter 75-100 liter 100-125 liter p.12
Tabel  2.2    Hubungan  antara  House  Index  (HI),  Container  Index  (CI),  Breteau  Index  (BI), Density Figure (DF)

Tabel 2.2

Hubungan antara House Index (HI), Container Index (CI), Breteau Index (BI), Density Figure (DF) p.18

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :