• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isi Laporan Tutor Blok Psikiatri Sken 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Isi Laporan Tutor Blok Psikiatri Sken 1"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN I. I. PERMASALAHANPERMASALAHAN 1.

1. Bagaimana hubungan usia, jenis kelamin, terhadap keluhan yang dialami olehBagaimana hubungan usia, jenis kelamin, terhadap keluhan yang dialami oleh  pasien?

 pasien? 2.

2. Apa penyebab dari keluhan yang terjadi pada skenario diatas?Apa penyebab dari keluhan yang terjadi pada skenario diatas? 3.

3. Bagaimana mekanisme terjadinya stress, faktor yang memicu, serta manajemenBagaimana mekanisme terjadinya stress, faktor yang memicu, serta manajemen terhadap stress?

terhadap stress? 4.

4. Bagaimana interpretasi dari hasil anamnesis terhadap pasien?Bagaimana interpretasi dari hasil anamnesis terhadap pasien? 5.

5. Bagaimana hubungan antara keluhan dan onset yang terjadi pada kasus diBagaimana hubungan antara keluhan dan onset yang terjadi pada kasus di skenario?

skenario? 6.

6. Apa saja klasifikasi dari stress?Apa saja klasifikasi dari stress? 7.

7. Apa saja jenis-jenis dari waham, kriteria waham, jenis halusinasi, serta padaApa saja jenis-jenis dari waham, kriteria waham, jenis halusinasi, serta pada skenario di atas termasuk yang mana?

skenario di atas termasuk yang mana? 8.

8. Bagaimana faktor resiko orang yang rentan mengalami keluhan tersebut?Bagaimana faktor resiko orang yang rentan mengalami keluhan tersebut? 9.

9. Bagaimana penegakan diagnosis untuk kasus tersebut?Bagaimana penegakan diagnosis untuk kasus tersebut? 10.

10. Apa saja ciri-ciri sehat secara psikis?Apa saja ciri-ciri sehat secara psikis? 11.

11. Apa saja ciri-ciri ganggguan secara psikis, serta gejala apa Apa saja ciri-ciri ganggguan secara psikis, serta gejala apa saja yang muncul?saja yang muncul? 12.

12. Apa saja kontrol rutin yang akan dilakukan, serta apa yang akan terjadi jika tidakApa saja kontrol rutin yang akan dilakukan, serta apa yang akan terjadi jika tidak melakukan kontrol rutin pada pasien tersebut?

melakukan kontrol rutin pada pasien tersebut? 13.

13. Bagaimana Bagaimana penegakan penegakan diagnosis?diagnosis? 14.

14. Apa saja diagnosis banding dan diagnosis yang tepat untuk kasus tersebut?Apa saja diagnosis banding dan diagnosis yang tepat untuk kasus tersebut? 15.

15. Bagaimana komplikasi dan prognosis dari kasus tersebut?Bagaimana komplikasi dan prognosis dari kasus tersebut? II.

II. PENTINGNYA MASALAH TERSEBUT DIBAHASPENTINGNYA MASALAH TERSEBUT DIBAHAS

Mengetahui berbagai gangguan yang terjadi pada kasus psikiatri serta mengetahui Mengetahui berbagai gangguan yang terjadi pada kasus psikiatri serta mengetahui alur diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat di bidang ilmu kedokteran jiwa.

alur diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat di bidang ilmu kedokteran jiwa.

III.

III. TUJUAN PEMBAHASANTUJUAN PEMBAHASAN Tujuanpembelajaran (

Tujuanpembelajaran ( Learning Objective Learning Objective) padaskenarioadalah:) padaskenarioadalah: 1.

(2)

2.

2. Menjelaskan penyebab, faktor resiko, dan manajemen dari stressMenjelaskan penyebab, faktor resiko, dan manajemen dari stress 3.

3. Menjelaskan jenis-jenis gangguan psikiatriMenjelaskan jenis-jenis gangguan psikiatri 4.

4. Menjelaskan alur penegakan diagnosis untuk pasien psikiatriMenjelaskan alur penegakan diagnosis untuk pasien psikiatri 5.

5. Menjelaskan pemeriksaan terkait untuk kasus psikiatriMenjelaskan pemeriksaan terkait untuk kasus psikiatri 6.

6. Menjelaskan diagnosis dan diagnosis banding pada skenario terkaitMenjelaskan diagnosis dan diagnosis banding pada skenario terkait 7.

7. Menjelaskan tatalaksana yang tepat untuk kasus psikiatriMenjelaskan tatalaksana yang tepat untuk kasus psikiatri 8.

8. Menjelaskan komplikasi dan prognosis yang tepat pada skenarioMenjelaskan komplikasi dan prognosis yang tepat pada skenario

IV.

IV. SKENARIOSKENARIO MENGAMUK MENGAMUK

Seorang laki-laki usia 25 tahun dibawa ke IGD RS oleh keluarga dan Seorang laki-laki usia 25 tahun dibawa ke IGD RS oleh keluarga dan tetangganya karena mengamuk hampir membakar rumahnya sendiri. Menurut tetangganya karena mengamuk hampir membakar rumahnya sendiri. Menurut keluarganya pasien sering marah-marah dan teriak-teriak tanpa sebab sejak 4 minggu keluarganya pasien sering marah-marah dan teriak-teriak tanpa sebab sejak 4 minggu yang lalu. Pasien juga jadi sering curiga terhadap orang lain, bahkan pasien juga yang lalu. Pasien juga jadi sering curiga terhadap orang lain, bahkan pasien juga merasa bahwa tetangga dan keluarganya merencanakan niat jahat terhadap dirinya. merasa bahwa tetangga dan keluarganya merencanakan niat jahat terhadap dirinya. Menurut keluarga, sepertinya dia mengalami stress berat karena hal tersebut terjadi Menurut keluarga, sepertinya dia mengalami stress berat karena hal tersebut terjadi setelah beberapa kali melamar pekerjaan di beberapa tempat tidak diterima. setelah beberapa kali melamar pekerjaan di beberapa tempat tidak diterima. Sehari-harinya tampak tidak terawat, tidak mau mandi, tampak bingung, pakaian kusut dan harinya tampak tidak terawat, tidak mau mandi, tampak bingung, pakaian kusut dan kumal.

kumal.

Keluarganya pernah membawanya ke paranormal namun tidak ada Keluarganya pernah membawanya ke paranormal namun tidak ada  perbaikan, k

 perbaikan, kemudian emudian atas atas saran ksaran kepala epala desa desa dia dia dibawa dibawa ke ke rumah rumah sakit jiwa. sakit jiwa. DokterDokter  jaga

 jaga di di RSJ RSJ mengatakan mengatakan bahwa bahwa pada pada pasien pasien didapatkan didapatkan waham, waham, halusinasi, halusinasi, dandan derealisasi yang menyebabkan perilaku aneh.

derealisasi yang menyebabkan perilaku aneh.

Dokter jaga mengatakan bahwa pasien harus dirawat di rumah sakit Dokter jaga mengatakan bahwa pasien harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari dan kontrol rutin untuk penanganan yang lebih baik.

(3)

2.

2. Menjelaskan penyebab, faktor resiko, dan manajemen dari stressMenjelaskan penyebab, faktor resiko, dan manajemen dari stress 3.

3. Menjelaskan jenis-jenis gangguan psikiatriMenjelaskan jenis-jenis gangguan psikiatri 4.

4. Menjelaskan alur penegakan diagnosis untuk pasien psikiatriMenjelaskan alur penegakan diagnosis untuk pasien psikiatri 5.

5. Menjelaskan pemeriksaan terkait untuk kasus psikiatriMenjelaskan pemeriksaan terkait untuk kasus psikiatri 6.

6. Menjelaskan diagnosis dan diagnosis banding pada skenario terkaitMenjelaskan diagnosis dan diagnosis banding pada skenario terkait 7.

7. Menjelaskan tatalaksana yang tepat untuk kasus psikiatriMenjelaskan tatalaksana yang tepat untuk kasus psikiatri 8.

8. Menjelaskan komplikasi dan prognosis yang tepat pada skenarioMenjelaskan komplikasi dan prognosis yang tepat pada skenario

IV.

IV. SKENARIOSKENARIO MENGAMUK MENGAMUK

Seorang laki-laki usia 25 tahun dibawa ke IGD RS oleh keluarga dan Seorang laki-laki usia 25 tahun dibawa ke IGD RS oleh keluarga dan tetangganya karena mengamuk hampir membakar rumahnya sendiri. Menurut tetangganya karena mengamuk hampir membakar rumahnya sendiri. Menurut keluarganya pasien sering marah-marah dan teriak-teriak tanpa sebab sejak 4 minggu keluarganya pasien sering marah-marah dan teriak-teriak tanpa sebab sejak 4 minggu yang lalu. Pasien juga jadi sering curiga terhadap orang lain, bahkan pasien juga yang lalu. Pasien juga jadi sering curiga terhadap orang lain, bahkan pasien juga merasa bahwa tetangga dan keluarganya merencanakan niat jahat terhadap dirinya. merasa bahwa tetangga dan keluarganya merencanakan niat jahat terhadap dirinya. Menurut keluarga, sepertinya dia mengalami stress berat karena hal tersebut terjadi Menurut keluarga, sepertinya dia mengalami stress berat karena hal tersebut terjadi setelah beberapa kali melamar pekerjaan di beberapa tempat tidak diterima. setelah beberapa kali melamar pekerjaan di beberapa tempat tidak diterima. Sehari-harinya tampak tidak terawat, tidak mau mandi, tampak bingung, pakaian kusut dan harinya tampak tidak terawat, tidak mau mandi, tampak bingung, pakaian kusut dan kumal.

kumal.

Keluarganya pernah membawanya ke paranormal namun tidak ada Keluarganya pernah membawanya ke paranormal namun tidak ada  perbaikan, k

 perbaikan, kemudian emudian atas atas saran ksaran kepala epala desa desa dia dia dibawa dibawa ke ke rumah rumah sakit jiwa. sakit jiwa. DokterDokter  jaga

 jaga di di RSJ RSJ mengatakan mengatakan bahwa bahwa pada pada pasien pasien didapatkan didapatkan waham, waham, halusinasi, halusinasi, dandan derealisasi yang menyebabkan perilaku aneh.

derealisasi yang menyebabkan perilaku aneh.

Dokter jaga mengatakan bahwa pasien harus dirawat di rumah sakit Dokter jaga mengatakan bahwa pasien harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari dan kontrol rutin untuk penanganan yang lebih baik.

(4)

BAB II BAB II

DISKUSI DAN TINJAUAN PUSTAKA DISKUSI DAN TINJAUAN PUSTAKA

I.

I. LANGKAH I : MEMBACA SKENARIO DAN MENGKLARIFIKASI KATALANGKAH I : MEMBACA SKENARIO DAN MENGKLARIFIKASI KATA SULIT

SULIT

Dalamskenarioini kami menemukanbeberapaistilahsebagaiberikut: Dalamskenarioini kami menemukanbeberapaistilahsebagaiberikut: 1.

1. WahamWaham

Keadaan dimana sekret yang berasal dari hidung turun hingga mencapai Keadaan dimana sekret yang berasal dari hidung turun hingga mencapai tenggorokan

tenggorokan 2.

2. HalusinasiHalusinasi

adalah salah satu jenis tes kulit sebagai alat diagnosis yang banyak adalah salah satu jenis tes kulit sebagai alat diagnosis yang banyak digunakan oleh para klinisi untuk membuktikan adanya IgE spesifik yang terikat digunakan oleh para klinisi untuk membuktikan adanya IgE spesifik yang terikat  pada sel mastosit kulit

 pada sel mastosit kulit 3.

3. DerealisasiDerealisasi

Mukosa hidung pucat, kebiruan seperti rhinitis alergica Mukosa hidung pucat, kebiruan seperti rhinitis alergica 4.

4. StressStress

Perubahan posisi septum nasi dari garis medialnya Perubahan posisi septum nasi dari garis medialnya

II.

II. LANGKAH II : MERUMUSKAN PERMASALAHANLANGKAH II : MERUMUSKAN PERMASALAHAN 16.

16. Bagaimana hubungan usia, jenis kelamin, terhadap keluhan yang dialami olehBagaimana hubungan usia, jenis kelamin, terhadap keluhan yang dialami oleh  pasien?

 pasien? 17.

17. Apa penyebab dari keluhan yang terjadi pada skenario diatas?Apa penyebab dari keluhan yang terjadi pada skenario diatas? 18.

18. Bagaimana mekanisme terjadinya stress, faktor yang memicu, serta manajemenBagaimana mekanisme terjadinya stress, faktor yang memicu, serta manajemen terhadap stress?

terhadap stress? 19.

19. Bagaimana interpretasi dari hasil anamnesis terhadap pasien?Bagaimana interpretasi dari hasil anamnesis terhadap pasien? 20.

20. Bagaimana hubungan antara keluhan dan onset yang terjadi pada kasus diBagaimana hubungan antara keluhan dan onset yang terjadi pada kasus di skenario?

skenario? 21.

21. Apa saja klasifikasi dari stress?Apa saja klasifikasi dari stress? 22.

22. Apa saja jenis-jenis dari waham, kriteria waham, jenis halusinasi, serta padaApa saja jenis-jenis dari waham, kriteria waham, jenis halusinasi, serta pada skenario di atas termasuk yang mana?

(5)

24.

24. Bagaimana penegakan diagnosis untuk kasus tersebut?Bagaimana penegakan diagnosis untuk kasus tersebut? 25.

25. Apa saja ciri-ciri sehat secara psikis?Apa saja ciri-ciri sehat secara psikis? 26.

26. Apa saja ciri-ciri ganggguan secara psikis, serta gejala apa Apa saja ciri-ciri ganggguan secara psikis, serta gejala apa saja yang muncul?saja yang muncul? 27.

27. Apa saja kontrol rutin yang akan dilakukan, serta apa yang akan terjadi jika tidakApa saja kontrol rutin yang akan dilakukan, serta apa yang akan terjadi jika tidak melakukan kontrol rutin pada pasien tersebut?

melakukan kontrol rutin pada pasien tersebut? 28.

28. Bagaimana Bagaimana penegakan penegakan diagnosis?diagnosis? 29.

29. Apa saja diagnosis banding dan diagnosis yang tepat untuk kasus tersebut?Apa saja diagnosis banding dan diagnosis yang tepat untuk kasus tersebut? 30.

30. Bagaimana komplikasi dan prognosis dari kasus tersebut?Bagaimana komplikasi dan prognosis dari kasus tersebut?

III.

III. LANGKAH III : MELAKUKAN CURAH PENDAPAT DAN MEMBUATLANGKAH III : MELAKUKAN CURAH PENDAPAT DAN MEMBUAT PERNYATAAN SEMENTARA MENGENAI PERMASALAHAN DALAM PERNYATAAN SEMENTARA MENGENAI PERMASALAHAN DALAM LANGKAH II

LANGKAH II

1. Bagaimana hubungan usia, jenis kelamin, terhadap keluhan yang dialami oleh 1. Bagaimana hubungan usia, jenis kelamin, terhadap keluhan yang dialami oleh pasien?

pasien?

2. Apa penyebab dari keluhan yang terjadi pada skenario diatas? 2. Apa penyebab dari keluhan yang terjadi pada skenario diatas?

Umumnya sebab-sebab gangguan jiwa menurut Santrock (1999) Umumnya sebab-sebab gangguan jiwa menurut Santrock (1999) dibedakan atas :

dibedakan atas : a.

a. Sebab-sebab jasmaniah/Sebab-sebab jasmaniah/biologicbiologic 1.

1. KeturunanKeturunan

Peran yang pasti sebagai penyebab belum jelas, mungkin terbatas dalam Peran yang pasti sebagai penyebab belum jelas, mungkin terbatas dalam mengakibatkan kepekaan untuk mengalami gangguan jiwa tapi hal mengakibatkan kepekaan untuk mengalami gangguan jiwa tapi hal tersebut sangat ditunjang dengan faktor lingkungan kejiwaan yang tidak tersebut sangat ditunjang dengan faktor lingkungan kejiwaan yang tidak sehat.

sehat. 2.

2. JasmaniahJasmaniah

Beberapa penyelidik berpendapat bentuk tubuh seorang berhubungan Beberapa penyelidik berpendapat bentuk tubuh seorang berhubungan dengan gangguan jiwa tertentu, Misalnya yang bertubuh gemuk/ dengan gangguan jiwa tertentu, Misalnya yang bertubuh gemuk/ endoform cenderung menderita psikosa manik depresif, sedang yang endoform cenderung menderita psikosa manik depresif, sedang yang kurus/ ectoform cenderung menjadi skizofrenia.

kurus/ ectoform cenderung menjadi skizofrenia. 3.

(6)

Orang yang terlalu peka/ sensitif biasanya mempunyai masalah kejiwaan Orang yang terlalu peka/ sensitif biasanya mempunyai masalah kejiwaan dan ketegangan yang memiliki kecenderungan mengalami gangguan dan ketegangan yang memiliki kecenderungan mengalami gangguan  jiwa.

 jiwa. 4.

4. Penyakit dan cedera tubuhPenyakit dan cedera tubuh

Penyakit-penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kanker dan Penyakit-penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kanker dan sebagainya, mungkin menyebabkan merasa murung dan sedih. Demikian sebagainya, mungkin menyebabkan merasa murung dan sedih. Demikian  pula cedera/cacat tubuh tertentu dapat menyebabkan rasa rendah diri.  pula cedera/cacat tubuh tertentu dapat menyebabkan rasa rendah diri.  b.

 b. Sebab PsikologikSebab Psikologik

Bermacam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang dialami Bermacam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang dialami akan mewarnai sikap, kebiasaan dan sifatnya dikemudian hari. Hidup akan mewarnai sikap, kebiasaan dan sifatnya dikemudian hari. Hidup seorang manusia dapat dibagi atas 7 masa dan pada keadaan tertentu dapat seorang manusia dapat dibagi atas 7 masa dan pada keadaan tertentu dapat mendukung terjadinya gangguan jiwa.

mendukung terjadinya gangguan jiwa. 1.

1. Masa bayiMasa bayi

Yang dimaksud masa bayi adalah menjelang usia 2

Yang dimaksud masa bayi adalah menjelang usia 2 –  –   3 tahun,  3 tahun, dasar perkembangan yang dibentuk pada masa tersebut adalah sosialisasi dasar perkembangan yang dibentuk pada masa tersebut adalah sosialisasi dan pada masa ini. Cinta dan kasih sayang ibu akan memberikan rasa dan pada masa ini. Cinta dan kasih sayang ibu akan memberikan rasa hangat/ aman bagi bayi dan dikemudian hari menyebabkan kepribadian hangat/ aman bagi bayi dan dikemudian hari menyebabkan kepribadian yang hangat, terbuka dan bersahabat. Sebaliknya, sikap ibu yang dingin yang hangat, terbuka dan bersahabat. Sebaliknya, sikap ibu yang dingin acuh tak acuh bahkan menolak dikemudian hari akan berkembang acuh tak acuh bahkan menolak dikemudian hari akan berkembang kepribadian yang bersifat menolak dan menentang terhadap lingkungan. kepribadian yang bersifat menolak dan menentang terhadap lingkungan. Sebaiknya dilakukan dengan tenang, hangat yang akan memberi rasa Sebaiknya dilakukan dengan tenang, hangat yang akan memberi rasa aman dan terlindungi, sebaliknya, pemberian yang kaku, keras dan aman dan terlindungi, sebaliknya, pemberian yang kaku, keras dan tergesa-gesa akan menimbulkan rasa cemas dan tekanan.

tergesa-gesa akan menimbulkan rasa cemas dan tekanan. 2.

2. Masa anak pra sekolah (antara 2 sampai 7 tahun)Masa anak pra sekolah (antara 2 sampai 7 tahun)

Pada usia ini sosialisasi mulai dijalankan dan telah tumbuh disiplin Pada usia ini sosialisasi mulai dijalankan dan telah tumbuh disiplin dan otoritas. Penolakan orang tua pada masa ini, yang mendalam atau dan otoritas. Penolakan orang tua pada masa ini, yang mendalam atau ringan, akan menimbulkan rasa tidak aman dan ia akan ringan, akan menimbulkan rasa tidak aman dan ia akan mengembangkan cara penyesuaian yang salah, dia mungkin menurut, mengembangkan cara penyesuaian yang salah, dia mungkin menurut, menarik diri atau malah menentang dan memberontak. Anak yang menarik diri atau malah menentang dan memberontak. Anak yang tidak mendapat kasih sayang tidak dapat menghayati disiplin tak ada tidak mendapat kasih sayang tidak dapat menghayati disiplin tak ada

(7)

menimbulkan rasa cemas serta rasa tidak aman. hal-hal ini merupakan dasar yang kuat untuk timbulnya tuntutan tingkah laku dan gangguan kepribadian pada anak dikemudian hari.

3. Masa Anak sekolah

Masa ini ditandai oleh pertumbuhan jasmaniah dan intelektual yang pesat. Pada masa ini, anak mulai memperluas lingkungan  pergaulannya. Keluar dari batas-batas keluarga. Kekurangan atau cacat  jasmaniah dapat menimbulkan gangguan penyesuaian diri. Dalam hal ini sikap lingkungan sangat berpengaruh, anak mungkin menjadi rendah diri atau sebaliknya melakukan kompensasi yang positif atau kompensasi negatif. Sekolah adalah tempat yang baik untuk seorang anak mengembangkan kemampuan bergaul dan memperluas sosialisasi, menguji kemampuan, dituntut prestasi, mengekang atau memaksakan kehendaknya meskipun tak disukai oleh si anak.

4. Masa Remaja

Secara jasmaniah, pada masa ini terjadi perubahanperubahan yang  penting yaitu timbulnya tanda-tanda sekunder (ciri-ciri diri kewanitaan atau kelaki-lakian) Sedang secara kejiwaan, pada masa ini terjadi  pergolakan- pergolakan yang hebat. pada masa ini, seorang remaja mulai dewasa mencoba kemampuannya, di suatu pihak ia merasa sudah dewasa (hak-hak seperti orang dewasa), sedang di lain pihak  belum sanggup dan belum ingin menerima tanggung jawab atas semua  perbuatannya. Egosentris bersifat menentang terhadap otoritas, senang  berkelompok, idealis adalah sifat-sifat yang sering terlihat. Suatu lingkungan yang baik dan penuh pengertian akan sangat membantu  proses kematangan kepribadian di usia remaja.

5. Masa Dewasa muda

Seorang yang melalui masa-masa sebelumnya dengan aman dan  bahagia akan cukup memiliki kesanggupan dan kepercayaan diri dan umumnya ia akan berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan pad a masa ini. Sebaliknya yang mengalami banyak gangguan pada masa sebelumnya,

(8)

 bila mengalami masalah pada masa ini mungkin akan mengalami gangguan jiwa.

6. Masa dewasa tua

Sebagai patokan masa ini dicapai kalau status pekerjaan dan sosial seseorang sudah mantap. Sebagian orang berpendapat perubahan ini sebagai masalah ringan seperti rendah diri. pesimis. Keluhan  psikomatik sampai berat seperti murung, kesedihan yang mendalam

disertai kegelisahan hebat dan mungkin usaha bunuh diri. 7. Masa Tua

Ada dua hal yang penting yang perlu diperhatikan pada masa ini Berkurangnya daya tanggap, daya ingat, berkurangnya daya belajar, kemampuan jasmaniah dan kemampuan sosial ekonomi menimbulkan rasa cemas dan rasa tidak aman serta sering mengakibatkan kesalah  pahaman orang tua terhadap orang di lingkungannya. Perasaan terasing

karena kehilangan teman sebaya keterbatasan gerak dapat menimbulkan kesulitan emosional yang cukup hebat.

c. Sebab Sosio Kultural

Kebudayaan secara teknis adalah ide atau tingkah laku yang dapat dilihat maupun yang tidak terlihat. Faktor budaya bukan merupakan penyebab langsung menimbulkan gangguan jiwa, biasanyaterbatas menentukan “warna” gejala-gejala. Disamping mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian seseorang misalnya melalui aturan-aturan kebiasaan yang berlaku dalam kebudayaan tersebut.

3. Bagaimana mekanisme terjadinya stress, faktor yang memicu, serta manajemen terhadap stress?

Stres dan penyesuaian diri

Stres adalah istilah dari ilmu kedokteran yang secara harfiah diartikan sebagai tekanan atau ketegangan yang memiliki kecenderungan mengganggu tubuh. Dari sudut pandang psikologi, stres dapat dikatakan sebagai segala sesuatu

(9)

yang mengganggu kita untuk beradaptasi atau mengatasi suatu masalah (Santrock, 2003).

Stres bisa datang dari lingkungan, tubuh atau pikiran kita sendiri. Stres dari lingkungan mungkin disebabkan karena kebisingan, polusi, keramaian, situasi kacau, dan segala macam ancaman lain. Stres dari tubuh disebabkan oleh kondisi sakit, luka, ketegangan tubuh, atau penyakit-penyakit metabolik tertentu (Santrock, 2003).

Sumber stress psikologis

Sumber atau pembangkit keadaan stress disebut stressor. Stressor dapat menimbulkan beberapa keadaan yang dapat menjadi sumber stress, yaitu frustasi, konflik, tekanan atau krisis.. Ini dapat dirasakan sebagai unsur dari luar. Oleh individu, stressor itu dipersepsikan sebagai tanda ancaman atau kebutuhan; keadaan eksitasi itu sendiri dapat menjadi stressor apabila melebihi batas intensitas tertentu. Kita dapat mengatakan, bahwa bagi pasien kita, omongan yang tidak menyenangkan merupakan salah satu stressor, dan berbagai perasaan kesal, sakit kepala dan mual merupakan manifestasi keadaan stress sebagai respons atas stressor itu. Pada penelitian lebih lanjut atas pasien tersebut terungkap bahwa  pendekatan oleh teman-temannya juga merupakan stressor baginya, meskipun  biasanya manusia merasakan pendekatan oleh teman-teman sebagai hal yang menyenangkan. Nampak disini, bahwa suatu rangsang dapat dirasakan sebagai hal yang menyenangkan pada orang satu, dan sebagai stressor pada orang lain;  bahkan pada waktu tertentu, sesuatu jenis rangsang tertentu dapat menyenangkan  pada waktu ini dan merupakan stressor di waktu lain. Ini menggambarkan suatu kenyataan penting: bahwa sifat stressor bukan inherent terletak pada jenis rangsangan, melainkan pada penanggapan rangsangan itu oleh organisme (Maramis, 2009).

(1) Frustasi

Timbul bila ada aral melintang (stresor) antara kita dan tujuan kita, misalnya bila kita mau berpiknik lantas kemudian hujan deras atau mobil mogok, atau mangga di pohon keliatan enak sekali bagi si anak, tetapi tiba-tiba keluar seekor anjing yang galak (Maramis, 2009).

(10)

(2) Tekanan

Juga dapat menimbulkan masalah penyesuaian. Tekanan sehari-hari  biarpun kecil tetapi bila di tumpuk-tumpuk dan berlangsung terus menerus (stresor jangka panjang), dapat menimbulkan stress yang hebat. Tekanan, seperti  juga frustasi dapat bersal dari dalam atau luar individu (Maramis, 2009).

(3) Konflik

Terjadi apabila kita tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam atau tujuan. Memilih yang satu berarti tidak tercapai tujuan yang lain. Ibarat kita ada disimpang jalan tetapi kita tidak dapat memilih ke kiri atau ke kanan, misalnya seorang pemuda ingin menjadi seorang dokter, tetapi sekaligus takut akan tanggungjawab kelak bila sudah jadi ( konflik mau-tak-mau atau pendekatan  pengelakan). Atau jika kita harus memilih antara sekolah terus atau menikah; mengurus rumah tangga atau terus aktif dalam organisasi; antara tugas dan ambisi istri atau ibu kesenangan sekarang atau ideologi, orang tua atau panggilan (konflik  pendekatan ganda) (Maramis, 2009).

(4) Krisis

Adalah keadaan karena stresor mendadak dan besar sehingga menimbulkan stress pada seorang individu atau kelompok, misalnya : kematian, kecelakaan,  penyakit yang memerlukan operasi, masuk sekolah untuk pertama kali. Terdapat  banyak tempat dengan banyak krisis (konsentrasi krisis), misalnya ruang gawat darurat di rumah sakit, kamar bersalin, kamar bedah, taman kanak-kanak dan tingkat pertama pada suatu fakultas pada minggu- minggu pertama tahun kuliah  baru, desa yang kena bencana alam dan kekurangan makanan sesudahnya, atau  bila kemudian bantuan makanan datang (tadi krisis karena tidak ada makanan,

kemudian krisis karena tiba-tiba ada makanan) (Maramis, 2009).

Contoh lain lagi adalah konflik yang terjadi bila kita harus memilih antara  beberapa hal yang semuanya tidak kita inginkan, misalnya pekerjaan yang tidak

menarik atau menganggur, menikah dengan orang yang tidak simpatik atau kemungkinan tidak menikah sama sekali; berbuat sesuatu yang berbahaya atau dicap sebagai pengecut (konflik pengelakan ganda) (Lubis, B. 1989).

(11)

Konflik merupakan pertentangan dalam diri, dan dapat dilihat bahwa konflik meningkatkan ketegangan –   seringkali suatu ketegangan yang menganggu dan tidak menyenangkan, sehingga berupa stress (Lubis, B. 1989).

Konflik intrapsikik yaitu konflik antara komponen-komponen jiwa itu sendiri, yang bukan merupakan konflik yang disadari, bukan yang dihayati nyata sevagai  pergumulan batin antara dorongan, motif atau keinginan, melainkan konflik

nirsadar (Lubis, B. 1989). Mekanisme Koping Stress

Mekanisme koping stress adalah suatu usaha untuk mengontrol, mengurangi, atau belajar untuk menoleransi suatu ancaman yang menyebabkan stress. Mekanisme ini dapat dibagi dua, yaitu:

a. Koping yang berfokus pada emosi, dimana individu akan mencoba untuk mengatur emosinya dalam menghadapi stress, berusaha untuk mengubah  perasaan yang dialaminya tentang suatu masalah.

 b. Koping yang berfokus pada masalah, dimana individu akan berusaha untuk memodifikasi masalah atau sumber yang menyebabkan stress (Feldman, 2009).

Terdapat pula mekanisme koping lainnya yang tidak sesuai untuk menghadapi stress karena mekanisme koping ini cenderung menghindari kenyataan dan masalah, bukannya menghadapi dan menyelesaikan masalahnya, seperti

a.  Avoidance coping , dimana individu akan cenderung menghindari stressor. Hal ini bisa dilakukan dengan berharap sesuatu yang cenderung mustahil, atau dengan mengonsumsi obat, meminum minuman beralkohol, atau makan berlebihan.

 b.  Defense mechanism, dimana individu akan berusaha untuk mengurangi kecemasan dengan menyembunyikan stressor dari dirinya sendiri dan orang lain. Mekanisme ini akan memberi kesempatan individu tersebut untuk menghindari stress dengan berpura-pura bahwa stressor itu tidak ada.

(12)

c. Emotional insulation, dimana individu berhenti merasakan emosi apapun, sehingga individu tetap tidak akan terpengaruh dan tergerak oleh suatu  pengalaman positif maupun negatif (Feldman, 2009).

4. Bagaimana interpretasi dari hasil anamnesis terhadap pasien?

5. Bagaimana hubungan antara keluhan dan onset yang terjadi pada kasus di skenario?

6. Apa saja klasifikasi dari stress? (sudah ada di LO)

7. Apa saja jenis-jenis dari waham, kriteria waham, jenis halusinasi, serta pada skenario di atas termasuk yang mana?

Waham adalah kepercayaan yang salah yang didasarkan atas kesimpulan yang salah tentang kenyataan luar, yang tidak sesuai dengan latar belakang intelegensi dan kebudayaan pasien, serta tidak bisa dikoreksi dengan penalaran.

Kriteria :

1) Pasien percaya 100% bahwa isi pikirannya benar 2) Bersifat egosentrik

3) Tidak sesuai dengan logika

4) Tidak bisa dikoreksi dengan cara apapun, termasuk dengan cara yang logis dan re alistik.

(13)

Jenis Waham engertian erilaku Klien

Waham kebesaran eyakinan secara

erlebihan bahwa dirinya emiliki kekuatan khusus atau kelebihan yang erbeda dengan orang lain, diucapkan berulang-ulang etapi tidak sesuai dengan

enyataan

Saya ini pejabat di ementrianSemarang”

Saya punya perusahaan aling besar lho”

Waham agama eyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang-ulang etapi tidak sesuai dengan

enyataan

Saya adalah tuhan yang isa menguasai dan engendalikan semua akhluk”

Waham curiga eyakinan seseorang atau sekelompok orang yang au merugikan atau encederai dirinya, diucapkan berulang-ulang etapi tidak sesuai dengan

enyataan

Saya tahu mereka yang isa menghancurkan saya, arena iri dengan esuksesan saya”

Waham somatik eyakinan seseorang bahwa ubuh atau sebagian ubuhnya terserang enyakit, diucapkan erulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan

Saya menderita kanker”

adahal hasil pemeriksaan ab tidak ada sel kanker

ada tubuhnya

(14)

dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan berulang-lang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan

ubur ya, semua yang ada disini adalah roh-rohnya”

Halusinasi adalah merupakan salah satu contoh gangguan persepsi. Persepsi adalah sebuah proses mental yang merupakan pengiriman stimulus fisik menjadi informasi psikologis sehingga stimulus sensorik dapat diterima secara sadar.

Halusinasi adalah persepsi atau tanggapan palsu, tidak berhubungan dengan stimulus eksternal yang nyata; menghayati gejala-gejala yang dikhayalkan sebagai hal yang nyata.

Macam-macam halusinasi/ ilusi antara lain:

a. halusinasi hipnagogik: persepsi sensorik keliru yang terjadi ketika mulai jatuh tertidur, secara umum bukan tergolong fenomena patologis

 b. halusinasi hipnapompik: persepsi sensorik keliru yang terjadi ketika seseorang mulai terbangun, secara umum bukan tergolong fenomena patologis

c. halusinasi auditorik: persepsi suara yang keliru, biasanya berupa suara orang meski dapat saja berupa suara lain seperti musik, merupakan jenis halusinasi yang  paling sering ditemukan pada gangguan psikiatri

d. halusinasi visual: persepsi penglihatan keliru yang dapat berupa bentuk jelas (orang) atau pun bentuk tidak jelas (kilatan cahaya), sering kali terjadi pada gangguan medis umum

e. halusinasi penciuman: persepsi penghidu keliru yang seringkali terjadi pada gangguan medis umum

f. halusinasi pengecapan: persepsi pengecapan keliru seperti rasa tidak enak sebagai gejala awal kejang, seringkali terjadi pada gangguan medis umum

g. halusinasi taktil: persepsi perabaan keliru seperti phantom libs (sensasi anggota tubuh teramputasi), atau formikasi (sensasi merayap di bawah kulit)

(15)

h. halusinasi somatik: sensasi keliru yang terjadi pada atau di dalam tubuhnya, lebih sering menyangkut organ dalam (juga dikenal sebagai cenesthesic hallucination) i. halusinasi liliput: persepsi keliru yang mengakibatkan obyek terlihat lebih kecil

(micropsia)

 j. halusinasi serasi afek: halusinasi atau ilusi yang isinya sesuai dengan afek. Contoh misalnya pasien depresi mendengar suara-suara yang menyatakan bahwa dirinya orang jelek sedangkan pasien mani mendengar suara yang menyatakan bahwa dirinya kuat, sangat berharga, sangat pandai.

k. Halusinasi tidak serasi afek : halusinasi dan ilusi yang isinya tidak serasi dengan afek depresi maupun mania; kebalikannya dengan serasi afek

l. Halusionosis : suatu halusinasi yang umumnya bersifat pendengaran yang ada hubungannya dengan penyalahgunaan alcohol secara kronis dan terjadi dalam kesadaran penuh

m. Sinestesia : suatu sensasi atau halusinasi yang diakibatkan oleh sensasi lain (misalnya, sensasi pendengaran disertai atau dipacu oleh sensasi penglihatan; suara dialami sebagai hal yang terlihat, atau pengalaman penglihatan seperti terdengar)

8. Bagaimana faktor resiko orang yang rentan mengalami keluhan tersebut? (sudah ada di LO)

9. Bagaimana penegakan diagnosis untuk kasus tersebut? (sudah ada di LO)

10. Apa saja ciri-ciri sehat secara psikis?

mendefinisikan pengertian sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik  jasmani, rohani, maupun kesejahteraan sosial seseorang. Notosoedirjo dan Latipun (2005), mengatakan bahwa terdapat banyak cara dalam mendefenisikan kesehatan mental (mental hygene) yaitu: (1) karena tidak mengalami gangguan mental, (2)

(16)

tidak jatuh sakit akibat stessor , (3) sesuai dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya, dan (4) tumbuh dan berkembang secara positif.

Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yang sehat. Konsep gangguan jiwa dari DSM IV adalah sindrom atau pola psikologis atau perilaku yang penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikatakan oleh adanya distres atau disabilitas atau disertai peningkatan risiko kematian yang menyakitkan, nyeri, disabilitas, atau sangat kehilangan kebebasan.

Ciri-ciri sehat mental menurut WHO adalah sebagai berikut:

1. Mempunyai kemampuan menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan , meskipun kenyataan itu buruk ;

2. Mempunyai rasa kepuasan dari usahanya atau perjuangan hidupnya. 3. Mempunyai kesenangan untuk memberi dari pada menerima;

4. Merasa bebas secara relatif dari ketegangan dan kecemasan

5. Berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan saling memuaskan;

6. Menerima kekecewaan untuk dipakainya sebagai pelajaran dikemudian hari ;

7. Mengarahkan rasa permusuhan kepada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif;

8. Mempunyai daya kasih sayang yang besar serta mampu mendidik

11. Apa saja ciri-ciri ganggguan secara psikis, serta gejala apa saja yang muncul?

Gejala-gejala Gangguan Jiwa

Gejala Gangguan Psikologis Pada Kesadaran dan Kognisi

Kesadaran adalah suatu kondisi kesigapan mental individu dalam menanggapi rangsang dari luar maupun dari dalam. Gangguan kesadaran seringkali

(17)

merupakan pertanda kerusakan organik pada otak. Terdapat berbagai tingkatan kesadaran,yaitu 7:

a. Kompos mentis: adalah suatu derajat optimal dari kesigapan mental individu dalam menanggapi rangsang dari luar maupun dari dalam dirinya. Individu mampu memahami apa yang terjadi pada diri dan lingkungannya serta  bereaksi secara memadai.

 b. Apatia: adalah suatu derajat penurunan kesadaran, yakni individu berespon lambat terhadap stimulus dari luar. Orang dengan kesadaran apatis tampak tak acuh terhadap situasi disekitarnya. Psikologi & Psikoterapi.

c. Somnolensi: adalah suatu keadaan kesadaran menurun yang cenderung tidur. Orang dengan kesadaran somnolen tampak selalu mengantuk dan bereaksi lambat terhadap stimulus dari luar.

d. Sopor: adalah derajat penurunan kesadaran berat. Orang dengan kesadaran sopor nyaris tidak berespon terhadap stimulus dari luar, atau hanya memberikan respons minimal terhadap perangsangan kuat.

e. Koma: adalah derajat kesadaran paling berat. Individu dalam keadaan koma tidak dapat bereaksi terhadap rangsang dari luar, meskipun sekuat apapun  perangsangan diberikan padanya.

f. Kesadaran berkabut: suatu perubahan kualitas kesadaran yakni individu tidak mampu berpikir jernih dan berespon secara memadai terhadap situasi disekitarnya. Seringkali individu tampak bingung, sulit memusatkan  perhatian dan mengalami disorientasi.

g. Delirium: suatu perubahan kualitas kesadaran yang disertai gangguan fungsi kognitif yang luas. Perilaku orang yang dalam keadaan delirium dapat sangat  berfluktuasi, yaitu suatu saat terlihat gaduh gelisah lain waktu nampak apatis.Keadaan delirium sering disertai gangguan persepsi berupa halusinasi atauilusi. Biasanya orang dengan delirium akan sulit untuk memusatkan,mempertahankan dan mengalihkan perhatian ( 3 P terganggu) h. Kesadaran seperti mimpi (Dream like state): adalah gangguan kualitas

kesadaran yang terjadi pada serangan epilepsi psikomotor. Individu dalam keadaan ini tidak menyadari apa yang dilakukannya meskipun tampak

(18)

seperti melakukan aktivitas normal. Perlu dibedakan dengan tidur berjalan (sleep walking) yang akan tersadar bila diberikan perangsangan (dibangunkan),sementara pada dream like state penderita tidak bereaksi terhadap perangsangan.

i. Twilight state: keadaan perubahan kualitas kesadaran yang disertai halusinasi. Seringkali terjadi pada gangguan kesadaran oleh sebab gangguan otak organik. Penderita seperti berada dalam keadaan separuh sadar,respons terhadap lingkungan terbatas, perilakunya impulsif, emosinya labildan tak terduga.

Gejala Gangguan Psikologi s Pada E mosi / Perasaan

Emosi adalah suasana perasaan yang dihayati secara sadar, bersifat kompleks melibatkan pikiran, persepsi dan perilaku individu.Secara deskriptif fenomenologis emosi dibedakan antara mood dan afek8.

Gejala Gangguan Mental Pada Mood

Mood adalah suasana perasaan yang bersifat pervasif dan bertahan lama, yang mewarnai persepsi seseorang terhadap kehidupannya.

a. Mood eutimia: adalah suasana perasaan dalam rentang normal, yakni individu mempunyai penghayatan perasaan yang luas dan serasi dengan irama hidupnya.

 b. Mood hipotimia: adalah suasana perasaan yang secara pervasif diwarnai dengan kesedihan dan kemurungan. Individu secara subyektif mengeluhkan tentang kesedihan dan kehilangan semangat. Secara obyektif tampak dari sikap murung dan perilakunya yang lamban.

c. Mood disforia: menggambarkan suasana perasaan yang tidak menyenangkan. Seringkali diungkapkan sebagai perasaan jenuh, jengkel, atau bosan.

d. Mood hipertimia: suasana perasaan yang secara perfasif memperlihatkan semangat dan kegairahan yang berlebihan terhadap berbagai aktivitas kehidupan. Perilakunya menjadi hiperaktif dan tampak enerjik secara

(19)

e. Mood eforia: suasana perasaan gembira dan sejahtera secara berlebihan. f. Mood ekstasia: suasana perasaan yang diwarnai dengan kegairahan yang

meluap luap. Sering terjadi pada orang yang menggunakan zat psiko stimulansia

g. Aleksitimia: adalah suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk menghayati suasana perasaannya. Seringkali diungkapkan sebagai kedangkalan kehidupan emosi. Seseorang dengan aleksitimia sangat sulit untuk mengungkapkan perasaannya.

h. Anhedonia: adalah suatu suasana perasaan yang diwarnai dengan kehilangan minat dan kesenangan terhadap berbagai aktivitas kehidupan.

i. Mood kosong: adalah kehidupan emosi yang sangat dangkal,tidak atau sangat sedikit memiliki penghayatan suasana perasaan. Individu dengan mood kosong nyaris kehilangan keterlibatan emosinya dengan kehidupan disekitarnya. Keadaan ini dapat dijumpai pada pasien skizofrenia kronis.  j. Mood labil: suasana perasaan yang berubah ubah dari waktu ke waktu.

Pergantian perasaan dari sedih, cemas, marah, eforia, muncul bergantian dan tak terduga. Dapat ditemukan pada gangguan psikosis akut.

k. Mood iritabel: suasana perasaan yang sensitif, mudah tersinggung, mudah marah dan seringkali bereaksi berlebihan terhadap situasi yang tidak disenanginya.

Gejala Gangguan Mental Pada Afek

Afek   adalah respons emosional saat sekarang, yang dapat dinilai lewat ekspresiwajah, pembicaraan, sikap dan gerak gerik tubuhnya (bahasa tubuh).Afekmencerminkan situasi emosi sesaat.

a. Afek luas: adalah afek pada rentang normal, yaitu ekspresi emosi yang luas dengan sejumlah variasi yang beragam dalam ekspresi wajah, irama suara maupun gerakan tubuh, serasi dengan suasana yang dihayatinya.

 b. Afek menyempit: menggambarkan nuansa ekspresi emosi yang terbatas.Intensitas dan keluasan dari ekspresi emosinya berkurang, yang dapat dilihat dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang kurang bervariasi.

(20)

c. Afek menumpul: merupakan penurunan serius dari kemampuan ekspresi emosi yang tampak dari tatapan mata kosong, irama suara monoton dan  bahasa tubuh yang sangat kurang.

d. Afek mendatar: adalah suatu hendaya afektif berat lebih parah dari afek menumpul. Pada keadaan ini dapat dikatakan individu kehilangan kemampuan ekspresi emosi. Ekspresi wajah datar, pandangan mata kosong,sikap tubuh yang kaku, gerakan sangat minimal, dan irama suara datarseperti ’robot’.

e. Afek serasi: menggambarkan keadaan normal dari ekspresi emosi yang terlihat dari keserasian antara ekspresi emosi dan suasana yang dihayatinya. f. Afek tidak serasi: kondisi sebaliknya yakni ekspresi emosi yang tidak cocok

dengan suasana yang dihayati. Misalnya seseorang yang menceritakan suasana duka cita tapi dengan wajah riang dan tertawa tawa.

g. Afek labil: Menggambarkan perubahan irama perasaan yang cepat dan tiba tiba, yang tidak berhubungan dengan stimulus eksternal.

Gejala Gangguan Psikologi s Pada Perilaku Motorik

Perilaku adalah ragam perbuatan manusia yang dilandasi motif dan tujuan tertentuserta melibatkan seluruh aktivitas mental individu. Perilaku merupakan respons totalindividu terhadap situasi kehidupan. Perilaku motorik adalah ekspresi perilakuindividu yang terwujud dalam ragam aktivitas motorik. Berikut ini diuraikan berbagairagam gangguan perilaku motorik yang lazim dijumpai dalam praktek psikiatri, yaitu:

a. Stupor Katatonia: penurunan aktivitas motorik secara ekstrim, bermanifestasi sebagai gerakan yang lambat hingga keadaan tak bergerak dan kaku seperti  patung. Keadaan ini dapat dijumpai pada skizofrenia katatonik

 b. Furor katatonia: suatu keadaan agitasi motorik yang ekstrim, kegaduhan motorik tak bertujuan, tanpa motif yang jelas dan tidak dipengaruhi oleh stimulus eksternal. Dapat ditemukan pada skizofrenia katatonik, seringkali silih berganti dengan gejala stupor katatonik.

(21)

c. Katalepsia: adalah keadaan mempertahankan sikap tubuh dalam posisi tertentu dalam waktu lama. Individu dengan katalepsi dapat berdiri di atas satu kaki selama berjam jam tanpa bergerak. Merupakan salah satu gejala yang bisa ditemukan pada skizofrenia katatonik.

d. Flexibilitas cerea: keadaan sikap tubuh yang sedemikian rupa dapat diatur tanpa perlawanan sehingga diistilahkan seluwes lilin.

e. Akinesia: menggambarkan suatu kondisi aktivitas motorik yang sangat terbatas, pada keadaan berat menyerupai stupor pada skizofrenia katatonik. f. Bradikinesia: perlambatan gerakan motorik yang biasa terjadi pada

 parkinsonisme atau penyakit parkinson. Individu memperlihatkan gerakan yang kaku dan kehilangan respons spontan.

Gejala Gangguan Psikologi s Pada Proses Berpiki r

Gejala gangguan mental pada proses berpikir adalah sebagai berikut:

a. Proses pikir primer: terminologi yang umum untuk pikiran yang dereistic,tidak logis, magis; secara normal ditemukan pada mimpi, tidak normal sepertipada psikosis

 b. Gangguan bentuk pikir/arus pikir: asosiasi longgar: gangguan arus piker dengan ide-ide yang berpindah dari satu subyek ke subyek lain yang tidak  berhubungan sama sekali; dalam bentuk yang lebih parah

disebutinkoherensia.

c. Inkoherensia: pikiran yang secara umum tidak dapat kita mengerti, pikiran atau kata keluar bersama-sama tanpa hubungan yang logis atau tata bahasa tertentu hasil disorganisasi piker.

d. Flight of Ideas / lommpat gagasan: pikiran yang sangat cepat, verbalisasi  berlanjut atau permainan kata yang menghasilkan perpindahan yang konstan dari satu ide ke ide lainnya; ide biasanya berhubungan dan dalam bentuk yang tidak parah, pendengar mungkin dapat mengikuti jalan pikirnya.

e. Sirkumstansial: pembicaraan yang tidak langsung sehingga lambat mencapai  point yang diharapkan, tetapi seringkali akhirnya mencapai point atau tujuan

(22)

yang diharapkan, sering diakibatkan keterpakuan yang berlebihan pada detail dan petunjukpetunjuk.

f. Tangensial: ketidakmampuan untuk mencapai tujuan secara langsung dan seringkali pada akhirnya tidak mencapai point atau tujuan yang diharapkan.

12. Apa saja kontrol rutin yang akan dilakukan, serta apa yang akan terjadi jika tidak melakukan kontrol rutin pada pasien tersebut?

13. Apa saja diagnosis banding dan diagnosis yang tepat untuk kasus tersebut? ( sudah ada di LO)

14. Bagaimana komplikasi dan prognosis dari kasus tersebut? ( sudah ada di LO)

(23)

1. LANGKAH IV : MENGINVENTARISASI PERMASALAHAN SECARA SISTEMATIS DAN PERNYATAAN SEMENTARA MENGENAI PERMASALAHAN PADA LANGKAH III

Jenis-jenis gangguan Pen ebab Gangguan psikotik akut Riwayat Sekarang Pemeriksaan tambahan Tatalaksana Waham Pemeriksaan Status Mental Medikamentosa Terapi Anamnesis Mengamuk Non-Medikamentosa Komplikasi dan Prognosis Stress

Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan sikiatri Diagnosis banding Gangguan Skizoafrektif Diagnosis Delusional Disorder Gangguan mood dengan gejala psikotik Halusinasi

Derealisasi

Skizofrenia

Riwayat Dahulu Melamar

pekerjaan tetapi ditolak Faktor resiko Manajemen stress Tidak terawat, Tidak mau mandi, Tampak bingung

(24)

2. LANGKAH V : MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN Tujuanpembelajaran ( Learning Objective) padascenarioadalah: 1. Menjelaskan klasifikasi dari stress

2. Menjelaskan penyebab, faktor resiko, dan manajemen dari stress 3. Menjelaskan jenis-jenis gangguan psikiatri

4. Menjelaskan alur penegakan diagnosis untuk pasien psikiatri 5. Menjelaskan pemeriksaan terkait untuk kasus psikiatri

6. Menjelaskan diagnosis dan diagnosis banding pada skenario terkait 7. Menjelaskan tatalaksana yang tepat untuk kasus psikiatri

8.Menjelaskan komplikasi dan prognosis yang tepat pada skenario

3. LANGKAH VI : MENGUMPULKAN INFORMASI BARU DENGAN BELAJAR MANDIRI

Masing-masing anggota kelompok kami telah mencari sumber-sumber ilmiah dari yang sesuai dengan topik diskusi tutorial ini secara mandiri untuk disampaikan dalam pertemuan berikutnya.Pengumpulan informasi telah dilakukan oleh masing-masing anggota kelompok kami dengan menggunakan sumber referensi ilmiah seperti  buku, review, dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan scenario ini.

4. LANGKAH VII : MELAPORKAN, MEMBAHAS, DAN MENATA KEMBALI INFORMASI YANG HARUS DIPEROLEH

1. Klasifikasi dari stress

Eustress adalah stres baik yang memotivasi orang untuk terus bekerja. Stres bisa menjadi motivator dan memberikan insentif untuk menyelesaikan pekerjaan. Eustress dapat diidentifikasi sebagai "stress baik" dan beberapa orang menikmatinya. Setiap orang membutuhkan sedikit stres dalam hidup mereka untuk terus menjadi bahagia, termotivasi, menantang dan produktif. Ketika stres ini tidak dapat ditoleransi dan /

(25)

Distress, atau “stress buruk”, adalah ketika stres yang baik sulit diatasi atau dikoping. Mulai terdapat ketegangan, tidak ada lagi rasa menyenangkan dalam menghadapi tantangan, terasa tidak ada bantuan, dan permasalahan yang tiada akhir. Ini adalah jenis stres yang sering ditemui dan merupakan jenis stres yang mengarah ke  pengambilan keputusan yang buruk. Gejala fisiologis distress dapat berupa  peningkatan tekanan darah, napas cepat dan ketegangan. Gejala perilaku termasuk makan berlebihan, kehilangan nafsu makan, minum, merokok dan mekanisme koping negatif.

Toleransi stres adalah kekuatan untuk menahan stres. Respon yang ditimbulkan dalam menghadapi stress tergantung pada toleransi stres masing –  masing individu. Toleransi seseorang terhadap stres tidak hanya berbeda sesuai dengan individu tersebut, tetapi juga dipengaruhi oleh waktu dan kondisi. Jadi toleransi terhadap stres mungkin berbeda sebagian besar untuk orang yang sama sesuai dengan waktu dan kondisi yang dialami. Terutama, kepribadian dan fisik, lingkungan dan kondisi mengubah strengh toleransi terhadap stres.

2. Penyebab, faktor resiko, dan manajemen dari stress

Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tingkat kesehatan mental yakni sebagai berikut:

a. Biologis

Para ahli telah banyak melakukan studi tentang hubungan antara dimensi  biologis dengan kesehatan mental. Berbagai penelitian itu telah memberikan kesimpulan yang meyakinkan bahwa faktor biologis memberikan kontribusi sangat  besar bagi kesehatan mental. Karena itu, kesehatan manusia, khususnya disini adalah

kesehatan mental, tentunya tidak terlepaskan dari dimensi biologis ini.

Pada bagian ini akan dijelaskan tentang hubungan tersebut, khususnya beberapa aspek biologis yang secara langsung berpengaruh terhadap kesehatan mental, diantaranya: otak, sistem endokrin, genetik, sensori, kondisi ibu selama kehamilain.  b. Otak

Otak sangat kompleks secara fisiologis, tetepi memiliki fungsi yang sangat esensi  bagi keseluruhan aktivitas manusia. Diferensiasi dan keunikan yang ada p ada manusia

(26)

 pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari otak manusia. Keunikan manusia terjadi  justru karena keunikan otak manusia dalam mengekspresikan seluruh pengalaman hidupnya. Jika didipadukan dengan pandangan-pandangan psikologi, jelas adanya kesesuaian antara perkembangan fisiologis otak dengan perkembangan mental. Funsi otak seperti motorik, intelektual, emosional dan afeksi berhubungan dengan mentalitas manusia.

c. Sistem endokrin

Sistem endokrin terdiri dari sekumpulan kelenjar yang sering bekerja sama dengan sistem syaraf otonom. Sistem ini sama-sama memberikan fungsi yang penting yaitu berhubungan dengan berbagai bagian-bagian tubuh. Gangguan mental akibat sistem endokrin berdampak buruk pada mentalitas manusia. Sebagai contoh terganggunya kelenjar adrenalin berpengaruh terhadap kesehatan mental, yakni terganggunya “mood” dan perasannya dan tidak dapat melakukancoping stress.

d. Genetik

Faktor genetik diakui memiliki pengaruh yang besar terhadap mentalitas manusia. Kecenderungan psikosis yaitu schizophrenia dan manik-depresif merupakan sakit mental yang diwariskan secara genetis dari orangtuanya. Gangguan lainnya yang diperkirakan sebagai factor genetik adalah ketergantungan alkohol, obat-obatan,  Alzeimer syndrome, phenylketunurine, dan huntington syndrome. Gangguan mental  juga terjadi karena tidak normal dalam hal jumlah dan struktur kromosom. Jumlah kromosom yang berlebihan atau berkurang dapat menyebabkan individu mengalami gangguan mental.

e. Sensori

Sensori merupakan aspek penting dari manusia. Sensori termasuk: pendengaran,  penglihatan, perabaan, pengecapan dan penciuman. Terganggunya fungsi sensori individu menyebabkan terganggunya fungsi kognisi dan emosi individu. Seseorang yang mengalami gangguan pendenganran misalnya, maka akan berpengaruh terhadap  perkembangan emosi sehingga cenderung menjadi orang yang paranoid, yakni

terganggunya afeksi yang ditandai dengan kecurigaan yang berlebihan kepada orang lain yang sebenarnya kecurigaan itu adalah salah.

(27)

 Notosoedirjo dan latipun (2005), mengatakan bahwa aspek psikis manusia merupakan satu kesatuan dengan dengan sistem biologis. Sebagai subsistem dari eksistensi manusia, maka aspek psikis selalu berinteraksi dengan keseluruhan aspek kemanusiaan. Karena itulah aspek psikis tidak dapat dipisahkan dari aspek yang lain dalam kehidupan manusia.

1. Pengalaman Awal

Pengalaman awal merupakan segenap pengalaman-pengalaman yang terjadi pada individu terutama yang terjadi pada masa lalunya. Pengalaman awal ini dipandang sebagai bagian penting bahkan sangat menentukan bagi kondisi mental individu di kemudian hari.

2. Proses Pembelajaran

Perilaku manusia adalah sebagian besar adalah proses belajar, yaitu hasil pelatihan dan pengalaman. Manusia belajar secara langsung sejak pada masa bayi terhadap lingkungannya. Karena itu faktor lingkungan sangat menentukan mentalitas individu.

3. Kebutuhan

Pemenuhan kebutuhan dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang. Orang yang telah mencapai kebutuhan aktualisasi yaitu orang yang mengeksploitasi dan mewujudkan segenap kemampuan, bakat, keterampilannya sepenuhnya, akan mencapai pada tingkatan apa yang disebut dengan tingkat pengalaman puncak ( peack experience). Ketidakmampuan dalam mengenali dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya adalah sebagai dasar dari gangguan mental individu.

g. Sosial Budaya

Lingkungan sosial sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan mental. Lingkungan sosial tertentu dapat menopang bagi kuatnya kesehatan mental sehingga membentuk kesehatan mental yang positif, tetapi pada aspek lain kehidupan sosial itu dapat pulan menjadi  stressor yang dapat mengganggu kesehatan mental. Dibawah ini akan dijelaskan beberapa lingkungan sosial yang  berpengaruh terhadap kesehatan mental adalah sebagai berikut:

(28)

Masyarakat kita terbagi dalam kelompok-kelompok tertentu. Pengelompokan itu dapat dilakukan secara demografis diantaranya jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan dan status sosial. Stratifikasi sosial ini dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang, misalnya kaum minoritas memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk mengalami gangguan mental. 2. Interaksi sosial

Interaksi sosial banyak dikaji kaitannya dengan gangguan mental. Ada dua pandangan hubungan interaksi sosial ini dengan gangguan mental. Pertama teori psikodinamik mengemukakan bahwa orang yang mengalami gangguan emosional dapat berakibat kepada pengurangan interaksi sosial, hal ini dapat diketahui dari perilaku regresi sebagai akibat dari adanya sakit mental. Kedua adalah bahwa rendahnya interaksi sosial itulah yang menimbulkan adanya gangguan mental.

3. Keluarga

Keluarga yang lengkap dan fungsional serta mampu membentuk homeostatis kan dapat meningkatkan kesehatan mental para anggota keluaganya, dan kemungkinan dapat meningkatkan ketahanan para anggota keluarganya dari gangguan-gangguan mental dan ketidakstabilan emosional  para anggotanya.

4. Perubahan sosial

Sehubungan dengan perubahan sosial ini, terdapat dua kemungkinan yang dapat terjadi yaitu, perubahan sosial dapat menimbulkan kepuasan bagi masyarakat karena sesuai dengan yang diharapkan dan dapat meningkatkan keutuhan masyarakat dan hal ini sekaligus meningkatkan kesehatan mental mereka. Namun, di sisi lain dapat pula berakibat pada masyarakat mengalami kegagalan dalam penyesuaian terhadap perubahan itu, akibatnya mereka memanifestasikan kegagalan penyesuaian itu dalam bentuk yang patologis, misalnya tidak terpenuhinya tuntutan politik, suatu kelompok masyarakat melakukan tindakan pengrusakan dan penjarahan.

(29)

Sosial budaya memiliki makna yang sangat luas. Namun dalam konteks ini budaya lebih dikhususkan pada aspek nilai, norma, dan religiusitas dan segenap aspeknya. Dalam konteks ini, kebudayaan yang ada di masyarakat selalu mengatur bagaimana orang seharusnya melakukan sesuatu, termasuk didalamnya bagaimana seseorang berperan  sakit , kalsifikasi kesakitan, serta adanya sejumlah kesakitan yang sangat spesifik ada pada budaya tertentu, termasuk pula adanya gangguan mentalnya.

Kebudayaan pada prinsipnya memberikan aturan terhadap anggota masyarakatnya untuk bertindak yang seharusnya dilakukan dan meninggalkan tindakan tertentu yang menurut budaya itu tidak seharunya dilakukan. Tindakan yang bertentangan dengan sistem nilai atau budayanya akan dipandang sebagi penyimpangan, dan bahkan dapat menimbulkan gangguan mental. Hubungan kebudayaan dan kesehatan mental meliputi tiga hal yaitu: (1) kebudayaan mendukung dan menghambat kesehatan mental, (2) kebudayaan memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental, (3)  berbagai bentuk gangguan mental karena faktor kultural, (4) upaya  peningkatan dan pencegahan gangguan mental dalam telaah budaya.

6. StessorPsikososial lainnya

Situasi dan kondisi peran sosial sehari-hari dapat menjadi sebagai masalah atau sesuatu yang tidak dikehendaki, dan karena itu dapat berfungsi sebagai stressorsosial kontribusi ini terhadap kesehatan mental bisa kuat atau lemah. Stressor psikososial secara umum dapat menimbulkan efek negatif  bagi individu yang

mengalaminya. namun demikian tentang variasi stressor psikososial ini berbeda untuk setiap masyarakat, bergantung kepada kondisi sosial masyarakatnya.

h. Lingkungan

Interaksi manusia dengan lingkungannya berhubungan dengan kesehatannya. Kondisi lingkungan yang sehat akan mendukung kesehatan manusia itu sendiri, dan sebaliknya kondisi lingkungan yang tidak sehat dapat mengganggu kesehatannya termasuk dalam konteks kesehatan mentalnya.

(30)

Sumber stress dan manajemen stress

Stres menurut Maramis adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri, oleh karena itu stres dapat mengganggu keseimbangan kita.

Stres tidak terlepas darimana datangnya dan apa saja sumbernya. Sumber stres atau yang disebut stresor adalah suatu keadaan, situasi objek atau individu yang dapat menimbulkan stres. Stres yang berasal dari dalam diri disebut internal sources dan yang berasal dari luar disebuteksternal sources.

Eustress merupakan respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun) yang dapat menyebabkan tubuh mempunyai kemampuan untuk beradaptasi, dan meningkatkan produktivitas seseorang. Sedangkan distress merupakan hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak) yang dapat menyebabkan seseorang menjadi sakit. a. Sumber stres psikologis :

1. Frustasi

Timbul bila ada aral melintang (stresor) antara kita dan tujuan kita. Individu sedang berusaha mencapai kebutuhan atau tujuannya, tapi mendadak timbul halangan, ada aral melintang, yang menimbulkan keadaan frustasi baginya dan yang menimbulkan stres padanya.

2. Konflik

Terjadi bila kita tidak dapat memilih antara dua atau lebih macam kebutuhan atau tujuan. Memilih satu berarti tidak tercapainya yang lain.

3. Tekanan

Dapat menimbulkan masalah penyesuaian. Tekanan sehari-hari biarpun kecil, tetapi apabila bertumpuk-tumpuk dan berlangsung lama, dapat menyebabkan stres yang berat.

4. Krisis

Keadaan karena stresor mendadak dan besar yang menimbulkan stres pada seseorang individuataupun suatu kelompok, misalnyakematian, kecelakaan.

(31)

Bila stres dirasakan sebagai permasalahan yang mengganggu aktivitas dan kualitas kehidupan, maka penting dilakukan penanganan dengan segera terhadap stres tersebut dengan manajemen pengelolaan yang baik dan pendekatan yang menyeluruh (holistic), yakni mencakup pengelolaan secara fisik (organobiologik), psikologi- psikiatri, psikososial, dan psikoreligious. Secara garis besar terdapat dua tahap, yaitu

tahap pencegahan dan terapi (Santrock, 2003).

Tahap pencegahan agar seseorang tidak jatuh ke dalam stres, maka diperlukan gaya hidup yang sehat, hidup teratur, serasi, selaras, dan seimbang secara horizontal antara dirinya dan sesama orang lain dan lingkungan sekitarnya, serta secara vertikal antara diriny dan penciptanya Allah SWT, yang menciptakan alam semesta (Santrock, 2003).

Tahap terapi, meliputi terapi somatik dan intervensi psikososial. Terapi somatik adalah penanganan gangguan stres dengan menggunakan obat-obatan (psikofarmaka) yang berguna untuk memulihkan gangguan fungsi pada neurotransmitter (sinyal  penghantar) di susunan saraf pusat otak. Cara kerja psikofarmaka adalah jalan memutuskan jaringan atau sirkuit psikoneuroimunologi, sehingga stresor psikososial yang mengenai seseorang tidak lagi mempengaruhi fungsi kognitif, afektif, psikomotor dan organ-organ tubuh lainnya. Obat-obatan yang sering digunakan dalam penanganan stres dan gangguan lain yang terkait dengan stres adalah golongan psikotropika, seperti obat anti psikotik, obat anti anxieta, obat anti depresan, dan lain-lain. Selain itu dapat juga dengan pendekatan somatik yang bisa dilakukan dengan terapi elektrokonvulsi dan psikosurgeri (Santrock, 2003).

Pada seseorang yang mengalami stres, selain diberikan pengelolaan dengan terapi somatik, seperti terapi psikofarmaka, terapi elektro konvulsi dan terapi psikosurgeri,  juga penting diberikan pendekatan dengan terapi psikososial termasuk psikoterapi

keluarga (Santrock, 2003).

(32)

4. Alur penegakan diagnosis untuk pasien psikiatri

5. Pemeriksaan terkait untuk kasus psikiatri

PEMERIKSAAN STATUS MENTAL PADA PASIEN PSIKIATRI

Pemeriksaan status mental adalah bagian dari pemeriksaan klinis yang menggambarkan tentang keseluruhan pengamatan pemeriksa dan kesan tentang pasien  psikiatrik saat wawancara, yang meliputi penampilan, pembicaraan, tindakan, persepsi

dan pikiran selama wawancara.

PEMERIKSAAN STATUS MENTAL HAL YANG HARUS

DIKERJAKAN I. DeskripsiUmum

1. Penampilan (istilah yang biasa digunakan : tampak sehat, sakit, agak sakit, kelihatan tua, kelihatan muda, kusut, seperti anak-anak, kacau dsb.) 2. Perilaku dan aktivitas psikomotor

(termasuk di sini adalah manerisme, tiks, gerakan stereotipik, hiperaktivitas, agitasi, retardasi, fleksibilitas, rigiditas dll.)

3. Sikap terhadap pemeriksa (bekerja sama,  bersahabat, menggoda, apatis,  bermusuhan, merendahkan, dll.)

Mengamati bentuk tubuh, postur, ketenangan, pakaian, dandanan, rambut, dan kuku, tanda kecemasan Mengamati dan/atau memeriksa cara  berjalan, gerakan dan aktivitas pasien

saat wawancara.

Mengamati dan merasakan sikap dan  jawaban pasien saat wawancara  psikiatrik

(33)

II. Mood dan Afek

1. Mood (adalah emosi yang meresap dan terus-menerus mewarnai persepsi seseorang terhadap dunia. Digambarkan dengan depresi, kecewa, mudah marah, cemas, euforik, meluap-luap, ketakutan dsb.)

2. Afek (adalah respon emosional pasien yang tampak, digambarkan sebagai meningkat, normal, menyempit, tumpul dan datar)

3. Keserasian (serasi afek atau tidak serasi afek)

Menanyakan tentang suasana perasaan  pasien.

“Bagaimana perasaan anda akhir -akhir

ini ?”(pertanyaan terbuka)

“Apakah anda merasa sedih ?”

(pertanyaan tertutup)

Mengamati variasi ekspresi wajah, irama dan nada suara, gerakan tangan, dan pergerakan tubuh.

Mengamati keserasian respon emosional (afek) terhadap masalah subjektif yang didiskusikan pasien.

III. Pembicaraan

(digambarkan dalam kecepatan produksi  bicara, dan kualitasnya, seperti banyak  bicara, tertekan, lambat, gagap, disprosodi,

spontan, keras, monoton, mutisme, dsb.)

Mengamati selama proses wawancara Logorrhea : bicara yang banyak sekali,  bertalian dan logis

Flight of idea : pembicaraan dengan kata-kata yang cepat dan terdapat loncatan dari satu ide ke ide yang lain, ide-ide cenderung meloncat/ sulit dihubungkan.

Asosiasi longgar : pergeseran gagasan-gagasan dari satu subjek ke subjek lain yang tidak berhubungan, jika berat,  pembicaraan menjadi kacau atau

(34)

IV. Gangguan Persepsi

(halusinasi, ilusi, depersonalisasi, derealisasi)

Menanyakan tentang gangguan  persepsi yang pernah atau sedang

dirasakan oleh pasien.

“Apakah anda pernah mendengar suara atau bunyi lain yang tidak dapat didengar oleh orang lain?

“Apakah anda dapat atau pernah melihat sesuatu yang tampaknya tidak dilihat orang lain?.

V. Pikiran

A. Proses atau bentuk pikiran (termasuk disini realistik, nonrealistik, autistik, irasional,dll)

Menanyakan sesuatu permasalahan untuk menilai bentuk dan isi pikiran

B. Isi pikiran (termasuk waham, preokupasi, obsesi, fobia, dsb.)

 pasien.

Waham kejar : “Apakah anda merasa orang-orang memata-matai anda?” Waham cemburu : “Apakah anda takut  pasangan anda tidak jujur? bukti apa

yang anda miliki?”

Waham bersalah : “Apakah anda merasa bahwa anda telah melakukan kesalahan yang berat?” Apakah anda

(35)

merasa pantas mendapat hukuman?” “Apakah anda merasa pikiran anda disiarkan sehingga orang lain dapat mendengarnya?” (waham siar pikir).

“Apakah anda merasa pikiran atau kepala anda telah dimasuki oleh kekuatan atau sumber lain di luar?” (waham sisip pikir)

“Apakah anda merasa bahwa pikiran anda telah diambil oleh kekuatan atau orang lain?” (waham penarikan  pikiran)

VI. Sensorium dan Kognitif

A. Kewaspadaan dan tingkat kesadaran (sadar, pengaburan, somnolen, stupor, koma, letargi, keadaan fugue/ fugue state)

B. Orientasi (terhadap waktu, tempat, orang dan situasi)

C.Daya ingat (daya ingat jauh/ remote memory, daya ingat masa lalu yang belum lama/ recent past memory, daya ingat yang  baru saja/ recent memory serta penyimpanan

Pengamatan dan pemeriksaan secara objektif (kuantitatif dengan glasgow coma scale)

Menanyakan tentang waktu, tempat, orang dan situasi. “Sekarang hari apa? tanggal, siang/malam? jam berapa sekarang? Di mana kita saat ini?kerjanya apa?

“Siapa yang mengantar/ menunggui anda? anda kenl mereka ? “Bagaimana suasana saat ini? ramai? Menilai daya ingat dengan menanyakan data masa anak-anak,

(36)

dan daya ingat segera/ immediate retention and recall memory)

D. Konsentrasi dan perhatian

E. Kapasitas membaca dan menulis

F. Kemampuan visuospasial

G. Pikiran abstrak

H. Sumber informasi dan kecerdasan (dengan memperhitungkan tingkat  pendidikan dan status sosial ekonomi pasien)

 peristiwa penting yang terjadi pada

masa muda.

Peristiwa beberapa bulan yang lalu, Peristiwa beberapa hari yang lalu, apa yang dilakukan kemarin, apa yang dimakan untuk sarapan, makan siang dsb.

Meminta pasien untuk mengulangi enam angka maju kemudian mundur. Mengulang tiga kata, segera dan tiga sampai lima menit kemudian.

Pasien diminta mengurangi 7 secara  berurutan dari angka 100. Pasien diminta mengeja mundur suatu kata sederhana

Pasien diminta membaca dan mengikuti apa yang diperintahkan serta menulis kalimat sederhana tapi lengkap.

Pasien diminta mencontoh suatu gambar, seperti jam atau segilima. Menanyakan arti peribahasa sederhana,  persamaan dan perbedaan benda.

Pasien diminta menghitung uang kembalian setelah dibelanjakan, jarak antar kota.

(37)

40 - 31

(Beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita & komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi; misal : bicara tidak logis, tidak bisa dimengerti/ tidak relevan, menyendiri, menolak keluarga, tidak mampu bekerja)

30 - 21

Disabilitas berat dalam komunikasi & daya nilai, tidak mampu berfungsi hampir semua  bidang

20 - 11

Bahaya mencederai diri sendiri/ mengancam dan menyakiti orang lain 10 - 1

secara persisten dan lebih serius membahayakan dirinya dan orang lain (misal tindakan kekerasan berulang- ulang)

0 Inadequate information.

6. Diagnosis dan diagnosis banding pada skenario terkait 1. PSIKOTIK AKUT

a. Epidemiologi

Menurut sebuah studi epidemiologi internasional, berbeda dengan skizofrenia, kejadian nonaffective timbul psikosis akut 10 kali lipat lebih tinggi di negara berkembang daripada di negara-negara industri. Beberapa dokter percaya bahwa gangguan yang mungkin paling sering terjadi pada

VII. Pengendalian impuls

(Impuls seksual, agresif, atau lainnya)

Menanyakan tentang riwayat pasien sekarang dan mengamati perilaku  pasien selama wawancara

(38)

 pasien dengan sosioekonomi yang rendah, pasien dengan gangguan kepribadian yang sudah ada sebelumnya ( paling sering adalah gangguan kepribadian histrionik, narsistik, paranoid, skizotipal, dan ambang ), dan orang yang pernah mengalami perubahan kultural yang besar ( misalnya imigran ).

b. Etiologi

Didalam DSM III faktor psikososial bermakna dianggap menyebabkan psikosis reaktif singkat, tetapi kriteria tersebut telah dihilangkan dari DSM IV. Perubahan dalam DSM IV menempatkan diagnosis gangguan psikotik singkat didalam kategori yang sama dengan banyak diagnosis psikiatrik utama lainnya yang penyebabnya tidak diketahui dan diagnosis kemungkinan termasuk gangguan yang heterogen.

Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tapi sebagian besar di  jumpai pada pasien dengan gangguan kepribadian mungkin memiliki kerentanan biologis atau psikologis terhadap perkembangan gejala  psikotik.Satu atau lebih faktor stres berat, seperti peristiwa traumatis, konflik keluarga, masalah pekerjaan, kecelakaan, sakit parah, kematian orang yang dicintai, dan status imigrasi tidak pasti, dapat memicu psikosis reaktif singkat.Beberapa studi mendukung kerentanan genetik untuk gangguan  psikotik singkat.

c. Diagnosis

1) Menggunakan urutan diagnosis:

a) Onset yang akut ( 2 minggu atau kurang)

 b) Adanya sindrom klinik yang khas (berupa “polimorfik” = beraneka ragam dan berubah cepat, atau “skizophrenia-like” = gejala skizofrenia yang khas)

(39)

2) Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi criteria episode manic atau episode depresif, walaupun perubahan emosional dan gejala-gejala afektif individual dapat menonjol

3) Tidak ada penyebab organic (Maslim, 2001). d. Klasifikasi

F23.0 Gangguan Psikotik Polimorfik Akut tanpa Gejala Skizofrenia Pedoman diagnosis

1) Onset harus akut ( 2 minggu atau kurang)

2) Harus adda beberapa jenis halusinasi atau waham yang berubah dalam  jenis dan intesnsitasnya dari hari ke hari atau dalam hari yang sama

3) Harus ada keanekaragaman emosional yang sama beraneka ragamnya 4) Walaupun gejala beraneka ragam, tidak ada satupun dari gejala itu ada

secara cukup konsisten dapat memenuhi criteria skizofrenia atau episode manic atau episode depresif (Maslim, 2001).

F23.1 Gangguan Psikotik Polimorfik Akut dengan Gejala Skizofrenia Pedoman diagnosis

1) Memenuhi criteria a) b) c) diatas yang khas untuk gangguan psikotik akut 2) Disertai gejala-gejala yang memenuhi criteria untuk diagnosis skizofrenia

(F20.-) yang harus sudah ada untuk sebagian besar waktu sejak munculnya gambaran klinis psikotik itu secara jelas Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk lebih dari 1 bulan maka diagnosis harus diubah menjadi skizofrenia (Maslim, 2001).

F23.2 Gangguan Psikotik Lir-Skizofrenia (skizofrenia-like) akut Pedoman diagnosis

Referensi

Dokumen terkait

Dari penelitian ini, peneliti mendapatkan pada kelompok remaja dengan PKPR dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa di sekolah tersebut memiliki tingkat pengetahuan dan

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.2 sebelum pendidikan kesehatan dapat diketahui sebagian besar atau sebanyak 14 siswi (70%) memiliki tingkat pengetahuan

Berdasarkan tabel 3 maka dapat diketahui bahwa sebagian besar responden (85,1%) pada penelitian ini memiliki factor pendukung membaca al- Qur’an dalam kategori Tinggi,