• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL GROTESQUE, SINOPSIS CERITA NOVEL GROTESQUE, INTERAKSI SOSIAL DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK SISWA PADA NOVEL GROTESQUE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL GROTESQUE, SINOPSIS CERITA NOVEL GROTESQUE, INTERAKSI SOSIAL DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK SISWA PADA NOVEL GROTESQUE"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL GROTESQUE, SINOPSIS CERITA NOVEL GROTESQUE, INTERAKSI SOSIAL DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK SISWA PADA NOVEL GROTESQUE

2.1. Setting Novel Grotesque

Menurut Ikram (1980:21), setting adalah tempat secara umum dan dan waktu atau masa terjadi. Menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (1995:216), latar atau setting yang disebut juga sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Setting merupakan bagian intrinstik dalam novel. Setting menunjukkan tempat, waktu dan menjelaskan suasana terjadinya suatu kejadian dalam sebuah cerita novel. Setting merupakan bagian penting dalam novel, tanpa adanya setting pembaca akan sulit untuk mengerti isi cerita dalam sebuah novel. Dengan adanya setting para pembaca juga bisa mudah menghayati dan membayangkan suasana saat kejadian dalam cerita novel tersebut terjadi.

Unsur latar atau setting dapat dibedakan ke dalam tiga unsure pokok yaitu tempat, waktu, dan sosial. Meskipun ketiga unsur itu masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (Nurgiyantoro, 1995 : 227)

(2)

Latar tempat menyangkut deskripsi tempat suatu peristiwa cerita terjadi. Unsur-unsur tempat yang dipergunakan bisa berupa tempat dengan nama-nama tertentu, inisial tertentu atau mungkin juga dengan suatu penggambaran lokasi tertentu tanpa menyebutkan nama.

Cuplikan halaman 61.

Kazue dan aku lulus ujian masuk dan masuk ke sistim perguruan Q di sekolah lanjutan atas. Aku yakin kau tahu, bahwa sekolah lanjutan atas Q untuk perempuan mudah sangat kompetitif dan hanya menerima mereka yang nilai ujiannya paling tinggi.

Dari cuplikan di atas digambarkan bahwa latar tempat pada cerita “Grotesque” berada di sebuah Sekolah Lanjutan atas yang merupakan bagian dari Perguruan Q yang sangat kompetitif. Dan tidak mudah untuk bisa menjadi salah satu dari siswanya.

2.Latar Waktu

Latar waktu mengacu kepada saat terjadinya peristiwa, dalam plot secara historis. Melalui pemberian waktu secara jelas, akan tergambar tujuan fiksi tersebut secara jelas pula. Dengan adanya latar waktu akan tergambar jelas urutan setiap kejadian-kejadian yang ada dalam cerita, sehingga akan mudah untuk memahami cerita.

Cuplikan halaman 68

Waktu kami pertama mulai bersekolah di Sekolah Lanjutan Atas Q untuk perempuan muda, aku tidak tahu nama Kazue dan tidak tertarik untuk mencari tahu. Waktu itu, semua orang luar berkumpul bersama dan kelihatan bingung dan dungu sehingga tidak mungkin membedakan masing-masing.

(3)

Dari cuplikan di atas diganbarkan bahwa kejadian terjadi saat tokoh baru bersekolah di Sekolah lanjutan Atas Q untuk perempuan muda. Saat itu semua siswa yang merupakan siswa baru belum saling mengenal.

3.Latar Sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks, dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara bersiakap dan lain-lain. Disamping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya kalangan bawah, menengah atau atas.

Cuplikan halaman 63

Waktu aku pertama mulai tinggal bersama kakekku, aku bermimpi tentang bagaimana hidupku sebagai siswa di Sekolah Lanjutan Atas Q untuk perempuan muda yang sangat didambakan itu. Imajinasiku subur sekali, adegan demi adegan berkembang. Menuruti khayalan-khayalan ini memberiku kenikmatan besar, seperti sudah kukatakan. Aku akan bergabung dengan kelab-kelab, berteman dan menjalani kehidupan normal seperti orang normal lainnya. Namun kenyataan mencabik-cabik impian-impian ini hingga berkeping-keping. Pada dasarnya, keberadaan kubu-kubu menghancurkan diriku. Kau tidak bisa begitu saja berteman dengan siapa saja, tahu. Bahkan kegiatan kelab-kelab diberi peringkat dan disusun dalam hierarki masing-masing, jelas dibedakan antara yang didambakan dan yang pinggiran. Dasar dari pemeringkatan ini tentu saja pengertian elit ini.

(4)

Dari cuplikan diatas menggambarkan adanya keadaan sosial yang masyarakatnya dibagi ke dalam kelas-kelas atau kubu-kubu dan menjadikan sesuatu yang dianggap elit sebagai dasar dari pembagian peringkat setiap kelas. Setiap orang tidak bisa begitu saja berteman dengan siapa saja. Semua diatur berdasarkan peringkat kelasnya. Dengan siapa berteman sampai kelab yang bisa dimasuki sesuai dengan kelasnya.

2.2. Sinopsis Cerita Novel Grotesque

Novel Grotesque ini menceritakan tentang kehidupan dua orang wanita yang berprofesi sebagai seorang pelacur yang terbunuh secara sadis. Kedua wanita tersebut adalah Kazue Sato dan Yuriko. Dalam novel ini kehidupan kedua wanita tersebut diceritakan oleh kakak yuriko dan juga teman satu sekolah kazue. Dan cerita tentang kehidupan kedua wanita ini juga di dapat dari buku harian mereka.

Yuriko adalah seorang anak keturunan swiss dan Jepang. Ayahnya adalah sosok yang otoriter yang selalu mengganggap dirinya benar. Sedangkan Ibunya adalah sosok penurut. Dia memiliki rupa yang sangat cantik dan di kagumi banyak orang. Bahkan orang-orang tidak percaya kalau dia adalah salah satu dari keluarganya karena tidak mirip. Orang-orang juga tidak percaya kalau yuriko mempunyai ayah, ibu dan kakak yang sangat biasa. Kecantikan yang membuat semua orang kagum kepadanya membuat yuriko sangat mudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan itulah yang membuat kakaknya sangat benci kepadanya. Sehingga kakaknya memutuskan untuk tetap tinggal di Jepang bersama kakeknya saat keluarganya akan pindah ke swiss, agar berada jauh dari Yuriko. Di Swiss ibunya akhirnya bunuh diri karena depresi akibat tanggapan negatif dari

(5)

masyarakat tentang bagaimana mungkin seorang yang biasa saja memiliki anak yang sangat cantik. Kecantikan yuriko jugalah yang membuat banyak pria yang tertarik kepadanya. Hal ini membuat yuriko terobsesi menjadi seorang pelacur.

Kazue sato adalah seorang wanita yang sangat taat kepada peraturan ayahnya. Semua yang dia lakukan sesuai dengan perintah ayahnya. Permasalahan terjadi saat dia berada di sekolah lanjutan atas. Dia sangat berusaha untuk bisa masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q yang sangat terkenal. Saat dia akhirnya masuk ke sekolah menengah atas perguruan Q dia dihadapkan pada pembagian kelompok siswa. Kelompok pertama disebut kelompok dalam yaitu kelompok yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui sistim perguruan Q yaitu mereka adalah siswa sekolah menengah perguruan Q yang otomatis bisa melanjut ke sekolah lanjutan atas perguruan Q tanpa harus mengikuti ujian seleksi. Sedangkan kelompok yang lain di sebut kelompok luar yaitu mereka yang baru masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q dengan cara lulus seleksi. Kazue sato termasuk ke dalam kelompok luar. Perbedaan kelompok dalam dan kelompok luar sangat jelas terlihat, kelompok dalam adalah siswa-siswa yang berasal dari keluarga kaya dan sangat berpengaruh di sekolah itu. Sedangkan kelompok luar adalah siswa yang baru masuk ke perguruan Q dengan seleksi dan mayoritas berasal dari keluarga yang biasa saja. Kazue sato dalam keluarga selalu dituntut untuk jadi nomor satu dan menjadi yang terbaik. Hal ini berdampak pada sekolahnya. Di sekolah dia melakukan segala hal untuk bisa menjadi yang terbaik dan semua itu harus dimulai dengan masuk kelompok dalam. Berbagai usaha dilakukannya untuk bisa masuk ke dalam kelompok dalam tetapi ternyata itu tidak mudah. Kegagalan usaha Kazue yang ingin masuk ke

(6)

dalam kelompok dalam pada akhirnya menjadikan dia terobsesi untuk menjadi nomor satu tanpa mempedulikan orang lain. Bahkan sampai saat dia sudah memiliki pekerjaan dia yang bagus dia tetap ingin menjadi pusat perhatian orang disekitarnya, dan ini membuat orang-orang disekitarnya merasa tidak nyaman dan menjauhinya.

Yuriko dan Kazue diduga dibunuh oleh orang yang sama yaitu Zhang warga negara china yang datang ke Jepang secara illegal, demi mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Dia adalah salah satu orang yang memakai jasa Yuriko dan Kazue. Dia membunuh Yuriko karena terlibat perkelahian. Sedangkan untuk pembunuhan Kazue dia tidak mengakuinya.

2.3.Interaksi Sosial

Menurut Bonner dalam Ali (http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi-sosial/) interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya.

Kehidupan bermasyarakat tidak mungkin terlepas dari interaksi sosial. Sebagai makhluk sosial setiap anggota masyarakat harus melakukan interaksi dengan anggota masyarakat lain untuk bisa menjalani kehidupannya.

Ada beberapa bentuk-bentuk interaksi sosial menurut Park dan Burgess dalam Santosa (http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi-sosial/) yaitu :

(7)

Kerja sama ialah suatu bentuk interaksi sosial dimana orang-orang atau kelompok-kelompok bekerja sama atau bantu-membantu untuk mencapai tujuan bersama.

b. Persaingan

Persaingan ialah suatu bentuk interaksi sosial dimana orang-orang atau kelompok-kelompok berlomba untuk meraih tujuan yang sama c. Pertentangan

Pertentangan ialah suatu bentuk interaksi sosial berupa perjuangan yang langsung dan sadar antara orang dan orang atau kelompok dan kelompok untuk mencapai tujuan yang sama.

d. Persesuaian

Persesuaian ialah proses penyesuaian dimana orang-orang atau kelompok-kelompok yang sedang bertentangan bersepakat untuk menyudahi pertentangan tersebut atau setuju untuk mencegah pertentangan yang berlarut-larut dengan melakukan interaksi damai baik bersifat sementara maupun bersifat kekal. Selain itu persesuaian juga memiliki arti yang lebih luas yaittu penyesuaian antara orang yang satu dengan yang lain, antara seorang dengan kelompok, dan antara kelompok yang satu dan kelompok yang lain.

e. Perpaduan

Perpaduan adalah suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan, yang ditandai dengan usaha-usaha mengurangi perbedaan yang terdapat di antara individu atau kelompok. Dan juga merupakan usaha-usaha untuk

(8)

mempertinggi kesatuan tindakan, sikap, dan proses mental dengan memperhatikan kepentingan dan tujuan bersama.

Faktor-faktor yang mendasari proses terbentuknya interaksi sosial adalah :

1. Imitasi yaitu proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain, baik sikap penampilan, gaya hidupnya, bahkan apa-apa yang dimilikinya. Imitasi pertama kali muncul di lungkungan keluarga, kemudian lingkungan tetangga dan lingkungan masyarakat.

2. Indentifikasi adalah upaya yang dilakukan oleh seorang individu untuk menjadi sama (identik) dengan individu lain yang ditirunya. Proses identifikasi tidak hanya terjadi melalui serangkain proses peniruan pola perilaku saja, tetapi juga melalui proses kejiwaaan yang sangat mendalam. 3. Sugesti adalah rangsangan, pengaruh, stimulus yang diberikan sesorang

individu kepada individu lain sehingga orang yang diberi sugesti menuruti atau melaksanakan tanpa berpikir kritis dan rasional.

4. Motivasi yaitu rangsangan pengaruh, stimulus yang diberikan seorang individu kepada individu lain, sehingga orang yang diberi motivasi menuruti tau melaksanakan apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional dan penuh rasa tanggung jawab . Motivasi biasanya diberikan oleh orang yang memiliki status yang lebih tinggi dan berwibawa, misalnya dari seorang ayah kepada anak, seorang guru kepada siswa.

5. Simpati adalah proses kejiwaan , dimana seorang individu merasa tertarik kepada seseorang atau kelompok orang, karena sikapnya, penampilannya, wibawanya atau perbuatannya yang sedemikian rupa.

(9)

6. Empati yaitu mirip dengan simpati, akan tetapi tidak semata-mata perasaan kejiwaan saja. Empati dibarengi dengan perasaan organisme tubuh yang sangat intens/dalam. (http://id.shvoong.com/social-sciences /sociology/ 1809953-interaksi-sebagai-proses-sosial/ )

Semua bentuk-bentuk interaksi sosial di atas selain dapat dilihat di dalam kehidupan sehari-hari juga bisa dilihat dalam karya sastra, khususnya novel. Tokoh yang satu dengan yang lain saling berinteraksi sehingga menghasilkan sebuah cerita. Dalam novel grotesque interaksi dilakukan oleh dua kelompok siswa. Siswa kelompok orang dalam menunjukkan golongan atas dan siswa kelompok orang luar menunjukkan golongan bawah. Setiap perilaku masing-masing kelompok ini memberikan pengaruh terhadap kelompok lainnya. Setiap tindakan dan sikap dari siswa kelompok orang dalam mendapat tanggapan dari siswa kelompok orang luar begitu juga sebaliknya. Dari setiap interaksi tersebut juga dapat di lihat bagaimana hubungan yang terjadi antara kedua kelompok ini.

2.4. Pembentukan Kelompok Siswa dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino.

Berikut adalah cuplikan-cuplikan cerita yang akan menunjukkan pembentukan kelompok siswa dalam novel Grotesque.

Cuplikan halaman 62-63

Itu karena Universitas Q tidak begitu saja menerima siapa pun. Dan karena itu siswa-siswa yang masuk ke system Q-yang akhirnya mampu meluncur

(10)

masuk ke universitas Q-merasa berhak. Semakin awal si siswa masuk ke sistim ini, semakin kuat kesadaran elit mereka.

Justru karena sistim ekskalator inilah orang tua yang kaya raya berupaya keras agar anak mereka masuk sekolah Q tingkat dasar. Kudengar dari orang lain bahwa keseriusan mereka dalam menghadapi ujian awal ini sudah mendekati histeri.

Dari cuplikan diatas di jelaskan bahwa sistem perguruan Q bukanlah sistim yang menerima siswa dengan mudah, semakin cepat seorang siswa masuk ke dalam sistim ini maka mereka akan semakin dianggap elit. Perguruan Q memiliki sistim ekskalator maka siswa yang masuk saat sekolah dasar bisa masuk ke tingkat berikutnya dengan mudah tanpa test. Karena itulah maka para orang tua yang kaya raya berupaya keras agar anak mereka masuk dari tingkat dasar. Hal itu juga merupakan alasan kenapa semakin cepat siswa masuk ke dalam sistim perguruan Q semakin mereka dianggap elit karena siswa sekolah dasar perguruan Q merupakan siswa yang berasal dari keluarga yang kaya. Sistim perguruan Q ini juga menyebabkan siswa yang masuk pada tingkat berikutnya dianggap lebih rendah dibandingkan siswa yang masuk di tingkat sebelumnya dan melanjut tanpa ujian.

Cuplikan halaman 64

Siswa-siswa tingkat satu dibagi atas dua kelompok besar: mereka yang melanjutkan dari dalam sistem sekolah Q dan mereka yang masuk tahun itu. Sekilas mudah melihat yang mana kelompok apa. Panjang rok seragam sekolah kamilah yang membedakan kami.

(11)

Diantara kami yang masuk untuk pertama kali-masing-masing dari kami- sesudah berhasil lulus ujian masuk, memakai rok yang panjangnya tepat di atas lutut, tepat sesuai peraturan sekolah. Tetapi, separuh siswa yang sudah sejak tingkat sekolah dasar atau sekolah menengah ada di sistem itu, memakai rok yang pendek hingga ke paha mereka. Nah, aku bukan bicara tentang jenis rok yang di pakai gadis-gadis sekarang, rok yang hampir tidak menutupi apa pun sehingga seperti sama sekali tidak ada.

Dari cuplikan di atas dijelaskan bagaimana kelompok siswa dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang masuk melalui sistim dan yang kedua yang masuk melalui test pada tahun itu. Pada cuplikan yang ingin dijelaskan bukanlah masalah panjang rok tetapi perbedaan yang sangat menonjol pada kedua kelompok tersebut. Kelompok pertama memakai rok yang sangat pendek yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah, tanpa takut akan mendapat hukuman. Mereka merasa berkuasa di sekolah itu sehingga memiliki keberanian untuk melanggar peraturan yang ada. Sedangkan kelompok yang kedua adalah siswa-siswa baru yang taat dengan peraturan yang ada. Dari cuplikan sebelumnya kelompok pertama jelas merupakan siswa-siswa yang dianggap lebih elit dari pada siswa yang ada di kelompok kedua.

Cuplikan halaman 65

Upacara matrikulasi pun dimulai. Kami orang luar memperhatikan dengan serius semua yang dikatakan. Tetapi sebaliknya siswa-siswa yang naik dari tingkat dasar hanya pura—pura mendengarkan. Mereka mengunyah permen karet, saling berbisik, dan bersikap seakan-akan mereka sama sekali tidak peduli

(12)

dengan apa yang sedang berlangsung. Bukannya bersikap serius, mereka malah bertingkah laku seperti anak kucing yang lincah, sangat disayang, dan sulit diatur. Dan mereka tidak satu kali pun melirik kearah kami.

Kontras sekali dengan para siswa pendatang, yang ketika memperhatikan cara orang dalam bersikap, merasa semakin gelisah.

Cuplikan di atas juga menunjukkan bahwa siswa yang baru masuk disebut “orang luar” dan siswa yang masuk melalui sistim disebut “orang dalam”. Dalam cuplikan juga ditunjukkan bahwa perbedaan sikap antara dua kelompok siswa tersebut. Siswa yang termasuk ke dalam kelompok “orang dalam” bertindak sesuka hati dan sama sekali tidak mempedulikan siswa di kelompok “orang luar”

Cuplikan halaman 76-77

“Di sini kami punya masyarakat berdasarkan golongan dalam seluruh kejayaan yang menjijikkan,” lanjut Mitsuru.

“ Pasti lebih buruk di sini dari tempat lain mana pun di seluruh Jepang. Penampilan menguasai segalanya. Karena itulah orang-orang di lingkaran dalam dan mereka yang berorbit di luarnya tidak pernah berbaur.”

“Lingkaran dalam? apa itu?”

“Mereka yang mulai bersekolah disini sejak sekolah dasar adalah putri-putri berdarah biru sejati, anak-anak perempuan dari para ayah yang memiliki kartel-kartel raksasa. Mereka tidak pernah harus bekerja sama sekali dalam hidup mereka. Bahkan, kalau punya pekerjaan malah memalukan.”

“Bukankah itu agak kuno?” aku mendengus jijik, tetapi Mitsuru melanjutkan dengan serius sekali.

(13)

“Nah, aku setuju tentu saja. Tetapi begitulah sikap lingkaran dalam terhadap penaksiran nilai. Mungkin agak lepas dari kenyataan, tetapi mereka sangat kokoh dalam posisi mereka, maka semua orang lain terbawa menyimpang.”

“Nah, bagaimana dengan orang-orang lain di sekeliling mereka?”

“Mereka anak-anak orang upahan,” jawab Mitsuru dengan nada sedih. “ Anak perempuan dari orang yang bekerja untuk mendapatkan bayaran tidak pernah bisa menjadi bagian dari lingkaran dalam. Mungkin saja dia pintar dan berbakat, tetapi hal itu tidak menjadikannya berbeda. Ia bahkan tidak akan terperhatikan. Kalau ia mencoba bergerak dengan licin ke tengah mereka, ia akan diejek. Tambahan lagi, meskipun dia cukup cerdas, tetapi ia tidak keren dan jelek maka ia tidak lebih dari sampah di tempat ini.”

Cuplikan diatas adalah merupakan percakapan antara tokoh pengarang sebagai tokoh “aku” dengan salah satu tokoh lain bernama Mitsuru. Cuplikan ini menjelaskan bagaimana keadaan kehidupan sosial dalam sekolah itu. Pembentukan kelompok siswa dalm novel ini terjadi didasarkan pada perbedaan kekayaan. Siswa kelompok orang dalam merupakan putri-putri orang-orang kaya dan di luarnya yaitu siswa kelompok orang luar merupakan putri dari orang-orang upahan. Siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar tidak dapat berbaur satu sama lain. Kepintaran dan bakat yang dimiliki siswa tidak memiliki pengaruh banyak, hal itu tidak bisa menjadikan siswa dari golongan luar biasa masuk ke golongan dalam. Bahkan jika ada yang berusa untuk masuk maka dia akan mendapatkan perlakuan buruk seperti diejek. Siswa-siswa yang berasal dari

(14)

golongan luar atau anak dari orang upahan selalu dianggap tidak penting dan dianggap seperti sampah.

Dari cuplikan-cuplikan di atas dapat diketahui bagaimana kedua kelompok siswa ini terbentuk. Perbedaan kekayaan yang dimiliki oleh siswa menjadi pembeda kedua kelompok siswa ini. Siswa yang ada di kelompok orang dalam adalah siswa yang berasal dari keluarga yang kaya raya dan masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui sistim. Sedangkan siswa yang ada di kelompok orang luar adalah siswa yang masuk melalui ujian di tahun itu. Antara kedua kelompok ini tidak bisa saling berbaur satu sama lain. Berada di kelompok mana menentukan juga dengan siapa para siswa boleh berhubungan atau berteman. Kelompok orang dalam dianggap lebih elit daripada kelompok orang luar. Kelompok orang dalam memiliki kekuasaan di sekolah dan mendapatkan banyak kebebasan sedangkan kelompok orang luar tidak memiliki kekuasaan mereka patuh terhadap peraturan yang ada.

Referensi

Dokumen terkait

– Zat atau obat yg berasal dari tanaman a bukan tanaman, sintetis a semi sintetis yg dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi

penulisan hukum/skripsi dengan judul : Penerapan Prinsip Ex Gratia Terhadap Kerugian Yang Dialami Perwakilan Diplomatik Asing di Negara Penerima (Studi Kasus Perusakan

Risalah Lelang (Materi Penjelasan, Ketentuan lainnya serta tanya jawab dalam acara penjelasan lelang) merupakan lampiran Berita Acara Penjelasan Lelang. Berita

(AVA) aclalah "alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk mempeljelas materi pelajaran yang clisampaikan kepacla siswa clan mencegah terjaclinya verbalisme pada

Isolat Actinomycetes BYL-15 dan BYL-28 merupakan bakteri penghasil enzim protease alkalin termostabil yang sangat potensial untuk dikembang- kan sebagai sumber gen maupun

Melalui novel My Sister Keeper, Jodi Picoult mengajak pembaca untuk mengerti dan memahami bahwa dalam kehidupan ini, manusia tidak terlepas dari kesalahan-kesalahan baik

Jika terjadi gangguan gempa bumi lebih dari 7 SR akan mengakibatkan gedung Cyber menjadi runtuh karena secara struktur gedung Cyber tidak dirancang untuk data