• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman Kehilangan Ibu Yang Menderita Kanker

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengalaman Kehilangan Ibu Yang Menderita Kanker"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGALAMAN KEHILANGAN IBU YANG MENDERITA KANKER (Sebuah Studi Fenomenologis)

Ike Rosalina Dewanti, Endang Sri Indrawati* Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro

[email protected]

ABSTRAK

Kehilangan merupakan pengalaman dalam kehidupan yang akan dialami oleh setiap individu. Kehilangan ibu yang pernah menderita sakit kanker membawa dampak bagi anak secara psikis. Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk mendiskripsikan, memahami pengalaman dalam memaknai kehilangan ibu dan proses memaknai kehilangan ibu yang pernah sakit kanker bagi anak.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif partisipan yang dianalisis dengan pendekatan fenomenologis. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam, observasi dan dokumen berupa materi audio. Metode pemilihan subjek menggunakan pendekatan puposif dengan strategi typical sampling dan subjek diperoleh dalam penilitian ini sebanyak tiga orang.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengalaman dalam memaknai kehilangan ibu yang di dapatkan oleh dewasa awal adalah ketidaksempurnaan untuk bangkit menjadi lebih baik, tekanan, dan sumber inspirasi. Adapun proses menemukan makna kehilangan ibu dalam penelitian ini ketiga subjek melalui refleksi diri dari tiga tahapan kehidupan yang dilalui, yaitu tahap ibu masih sehat, tahap keluarga tidak fungsional ketika ibu sakit dan tahap ibu meninggal.

Kata Kunci : Kehilangan, Kematian, Ibu

(2)

LOSS EXPERIENCE THE MOTHER SUFFERS CANCER (A phenomenological study)

Ike Rosalina Dewanti, Endang Sri Indrawati* Faculty of Psychology, Diponegoro University

[email protected]

ABSTRACT

Loss of an experience in life that will be experienced by each individual. Losing a mother who had suffered from cancer pain have an impact for the child psychologically. The purpose of this study was to describe is, to understand the experience of understanding the meaning of losing a mother and a mother who never loses cancer hospital for children.

The study was conducted using qualitative methods participants were analyzed using a phenomenological approach. Data was collected through in-depth interviews, observation and documents in the form of audio material. Method of subject selection puposif approach with typical sampling strategy and the subject of this research were obtained in three people.

Based on these results it can be concluded that the experience of understanding on get lost mothers by early adulthood was imperfection to get up for the better, pressure, and a source of inspiration. The process of finding meaning in the loss of the mother of this study three subjects through self-reflection of a life lived three stages, namely the stage of the mother is still healthy, functional family stage when sick mother and step mother died.

(3)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Makna merupakan bagian yang melekat dari apa saja yang kita tuturkan. Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Makna merupakan sesuatu yang berarti atau yang menunjukkan satu simbol tertentu menurut Chaplin (2011, h.292). Memaknai sebuah pengalaman hidup dari sebuah peristiwa kematian ibu yang berdampak sebagai kehilangan dapat disampaikan dalam sebuah tutur kalimat setelah pengalaman atau peristiwa tersebut membawa pengaruh besar dalam hidupnya.

Ibu merupakan sosok yang memiliki peran sangat penting dalam proses pendidikan anak sejak dini, sebab sosok ibu menjadi seorang yang pertama untuk berinteraksi dengan anak. Ibu adalah sosok yang memberi rasa aman kepada anak untuk di percaya dan di dengar nasehatnya (Hurlock 2002).

Menurut (Potter & Perry, 2005) Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan.

Pada awal masa hidup anak kehilangan ibu jauh lebih merusak daripada kehilangan ayah (Santrock 2004: 216). Hal ini dikarenakan pengasuhan terhadap anak beralih ke ayah, saudara, atau pengasuh rumah tangga yang menggunakan cara yang berbeda dari ibu yang biasa gunakan untuk mendidik. Selain itu pengasuh baru jarang memberikan anak perhatian dan kasih sayang seperti yang sebelumnya diperoleh dari ibu.

Kehilangan seorang ibu baik itu sementara ataupun permanen merupakan hal yang tidak mudah, terlebih ibu merpakan sosok orang tua utama yang ambil andil dengan presentasi sangat besar dalam mengasuh dan membimbing anak dari anak lahir hingga seterusnya.

Dengan kondisi seperti itu anak akan memiliki konflik dan tekanan sendiri dalam memaknai apa yang sebenarnya sedang terjadi. Terutama anak yang seharusnya mereka masih dalam bimbingan orang tua, namun dalam kenyataannya mereka dituntut untuk menjadi individu yang belum dicapai pada tahap mereka menjalankan hal tersebut. Berdasarkan ketertarikan dan pemasalahan, muncul pertanyaan: a) Bagaimana proses menemukan makna kehilangan ibu? b) Bagaimana makna kehilangan ibu yang pernah sakit kanker bagi dewasa awal?

(4)

Tinjauan Pustaka Makna

Makna adalah sesuatu yang dimaksudkan atau yang diharapkan. Makna merupakan sesuatu yang berarti atau yang menunjukkan satu simbol tertentu menurut Chaplin (2011, h.292).

Kehilangan

Kehilangan (bereavement) datang dalam berbagai bentuk dalam kehidupan seperti perceraian, matinya binatang peliharaan, kehilangan pekerjaan tetapi tidak ada kehilangan yang lebih besar selain kematian dari seseorang yang dicintai seperti orang tua (Santrock, 2002, h.271).

Menurut Sigmund Freud, setiap orang dalam alam bawah sadar menyimpan keriduan yang dalam akan pengalaman indah yang hilang, yaitu ketenangan hidup dalam alam rahim ibu. Sedemikian dalam kerinduan, sehingga meninggalkan kejiwaan yang berat dan tidak bisa digantikan (Komaruddin, 2006, h.123)

Dewasa Awal

Masa dewasa awal atau early adulthood biasanya dimulai di akhir usia belasan tahun atau awal dua puluhan dan berakhir sampai usia tiga puluhan. Masa ini merupakan saat untuk mencapai kemandirian pribadi dan ekonomi, serta perkembangan karir (Santrock, 2007, h.22). Levinson menyebutkan bahwa sesorang yang tergolong dewasa awal (early adulthood) ialah individu yang berusia 17-45 tahun (1978, dalam Monks, 2001:329). Masa dewasa awal merupakan periode penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial yang baru. Orang dewasa awal diharapkan memainkan peran baru seperti peran suami atau istri, orang tua, pencari nafkah, pengembangan keinginan-keinginan baru dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru ini (Hurlock,1980:246-247). Sedangkan Kenniston (dalam Santrock,2002:90) menyebutkan bahwa masa dewasa awal adalah masa transisi dari remaja menuju dewasa yang ditandai adanya kesementaraan ekonomi dan pribadi, perjuangan untuk mencapai kemandirian, dan terlibat secara sosial.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah adalah untuk mendiskripsikan, memahami pengalaman kehilangan ibu dan proses memaknai kehilangan ibu yang pernah sakit kanker bagi dewasa awal.

(5)

Metode Penelitian

Metode yang digunakan adalah metode kualitatif patisipan dengan pendekatan fenomenologis. Menurut Alwasilah (2000,h.182) metode partisipan dalam kualitatif merupakan metode dimana peneliti sejak dini melibatkan partisipan peneliti dalam segala fase penelitian dari konseptualisasi penelitian sampai dengan penulisan laporannya.

Fokus penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana pengalaman kehilangan ibu yang pernah sakit kanker bagi dewasa awal. Pembahasan ini diangkat untuk menggali, mengumpulkan, dan menganalisis secara menyeluruh dan mendalam tentang pengalaman kehilangan ibu yang pernah sakit kanker bagi dewasa awal.

Subjek penelitian dipilih secara purposif sampling dengan strategi sampling yang bersifat tipikal (typical sampling). Karakteristik subjek yang dikehendaki yaitu : a) Seorang anak dengan usia (20-40) pada masa dewasa awal, b)Pernah memiliki ibu sakit kanker, c) Memiliki ibu telah meninggal, d) Seorang anak dalam masa remaja akhir usia (17-21) ketika ditinggal ibu, e) Pendidikan anak minimal kuliah S1, f) Status sosial ekonomi keluarga menengah ke atas, g) Memiliki kesediaan untuk menjadi subjek penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil diperoleh setelah dilakukan analisis data dilakukan dengan beberapa tahap yaitu: a) membuat dan mengatur data yang sudah dikumpulkan, b) membaca dengan teliti data yang sudah diatur, c) deskripsi pengalaman peneliti di lapangan, d) horisonalisasi, e) menemukan unit-unit makna, f) deskripsi tekstural dan deskripsi struktural, g) menemukan makna/esensi pengalaman subjek.

Subjek #1 (MRW) berusia 28 tahun dan usia ketika ditinggal iu meninggal 20 tahun. Subjek #2 (SL) berusia 22 tahun dan usia ketika ditinggal iu meninggal 19 tahun. Subjek #3 (MF) berusia 22 tahun dan usia ketika ditinggal iu meninggal 17 tahun. Wawancara dengan subjek MRW dilakukan pada tanggal 22 Maret 2014 di Jakarta. Wawancara dengan subjek SL dilakukan pada tanggal 15 April dan 21 Mei 2014 di Semarang, sedangkan wawancara dengan subjek MF dilakukan pada tanggal 26 Maret dan 10 Mei 2014 di Semarang.

Subjek Pertama (MRW)

Dari pengalaman yang dialami subjek dalam kehidupan yang menyangkut keluarga, dari hubungan keluarga yang memiliki interaksi keluarga yang sedikit, ketika ibu sakit, hingga ibu meninggal membuat subjek memiliki hubungan dengan keluarga saat ini menjadi lebih baik dengan interaksi keluarga yang lebih dekat dan timbul adanya dukungan dari keluarga untuk

(6)

subjek. Tumbuh dengan dewasa di tengah keluarga yang baru dan menerima dengan tujuan menjadi pribadi yang lebih baik.

Pengalaman dengan keluarga berbeda masalah dan memiliki ibu sakit kanker hingga meninggal membuat subjek memaknai kehilangan sebagai inspirasi dalam hidup. Bagi subjek MRW ibu merupakan inspirasi dalam hidup subjek dari masih hidup, kondisi sakit, meninggal hingga pribadi subjek yang lebih baik sampai sekarang.

Subjek Kedua (SL)

Pengalaman hidup dengan kehilangan seorang pengasuh yang baik dalam artian ibu membuat hubungan dalam keluarga menjadi meningkat. Hubungan sosial kemasyarakatan demikian pula, keinginan untuk membantu, berkorban bagi orang lain demikian tumbuh dalam jiwa subjek. Subjek memberi pesan jangan pernah meninggalkan keluarga, bagi orang yang pernah mengalami atau tidak mengalami seperti subjek.

Subjek Ketiga (MF)

Pola hidup individual menyebabkan intensitas berkumpulnya anggota keluarga minim. Subjek juga merasa gagal untuk menggantikan posisi sebagai ibu setelah meninggal dalam keluarga. Pengalaman keluarga berbeda masalah dan memiliki ibu yang menderita sakit kanker hingga meninggal membuat subjek memaknai kehilangan sebagai tekanan. Hal ini di sebabkan karena subjek mengalami kegagalan pada proses pemulihan.

Dari pengalaman kehilangan, subjek memiliki harapan untuk menjadi keluarga yang lebih baik. Subjek juga memiliki tujuan hidup untuk membangun keluarga dan mendapat pekerjaan. Subjek memberi pesan, terhadap orang yang mengalami atau tidak. Pengalaman seperti subjek untuk dapat menjaga dan membahagiakan orang tua yang msaih ada, jangan menyesali yang telah terjadi, mendoakan orang tua dan belajar dari pengalaman.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Pengalaman kehilangan ibu menemukan sebuah makna kehilangan yang berbeda bagi ketiga subjek. Subjek MRW memaknai kehilangan ibu sebagai sumber inspirasi, subjek SL memaknai kehilangan ibu sebagai ketidaksempurnaan untuk bangkit menjadi lebih baik dan subjek MF memaknai kehilangan ibu sebagai tekanan.

Keunikan hasil dari penelitian ini menemukan dinamika yang berbeda dari ketiga subjek. Untuk subjek MRW berawal dari pengalaman dengan latar belakang yang bernilai

(7)

negatif merujuk pada hal yang positif. Pada subjek SL berawal dari pengalaman dengan latar belakang yang sudah bernilai positif menjadi lebih posiif kedepannya. Sedangkan pada subjek MF berawal dari pengalaman dengan latar belakang yang bernilai negatif membawa dampak yang negatif ke depan, akan tetapi MF juga memiliki tujuan, harapan dan pesan positif yang berarti proses MF belum selesai untuk menjadi lebih baik.

Saran bagi Subjek harus mempertahankan konsistensi perubahan jauh lebih baik yang telah terjadi dalam hidupnya, mempertahankan hubungan yang sudah baik menjadi lebih baik dan mempertahankan konsistensi hubungan yang sudah terjalin baik, subjek di anjurkan untuk berfikir positif dan memaksimalkan perubahan hidup dan diri lebih baik dari pengalaman kehilangan ibu. Serta peneliti lain diharapkan memiliki alternatif pemilihan subjek yang tidak jauh dari kota penelitian peneliti agar tidak mempersulit pengambilan data di lapangan. DAFTAR PUSTAKA

Adhi, Y.D. (2011). “Ketika Yang Ada Menjadi Tiada”. Diunduh pada 10 Juni 2014. http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/11/05/ketika-yang-ada-menjadi-tiada-409763.html

Alwasilah, A.C. (2000). Pokoknya Kualitatif. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya

Astuti, Puji. (2009). Dampak Kematian Ibu Terhadap Kondisi Psikologi Remaja Putri. Fakultas Psikologi Dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Sumber :http://psikologi.ub.ac.id/wp-content/uploads/2013/10/Junal-Pengungkapan-Diri-Pada-Penderita-Kanker-ServiksS1.pdf. diunduh pada 25 Mei 2014

Bastaman, H. D. (1996). Meraih Hidup Bermakna, Kisah Pribadi dengan Pengalaman Tragis. Jakarta: Paramadina

_______. (2007). Logoterapi : Psikologi Untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna. Jakarta: PT Rajagrafindopersada

Cahyasari, I. (2008).Grief Pada Remaja Putra Karena Kedua Orang Tuanya Meninggal. Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma. Sumber : http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/psychology/2009/Artikel_10503 095.pdf. diunduh pada 25 Mei 2014

(8)

Calhoun, J.F., Acocella, J.R. (1990). Psikologi Tentang Penyesuaian Dan Hubungan Kemanusiaan Edisi Ketiga. Semarang : IKIP Semarang Press

Creswell, J.W. (1998). Qualitative Inquiry and Research Design Choosing Among Five Traditions. California: Sage Publicaion, Inc

Dariyo, A. (2003). Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: Grasindo

Fitria, Ardina. (2013). Grief Pada Remaja Akibat Kematian Orang Tua Secara Mendadak. Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Semarang. Sumber : http://lib.unnes.ac.id/18463/. diunduh pada 25 Mei 2014

Frankl, V.E. (2004). Man’s Search For Meaning: Mencari Makna Hidup. Alih Bahasa Lala Hermawati. Bandung: penerbit Nuansa

Gunarsa, S.D. (1999). Psikologi Untuk Keluarga. Jakarta : BPK Gunung Mulia

Hajarrahma, A. (2013). Pengungkapan Diri Pada Penderita Kanker Serviks. Fakultas Psikologi, Universitas http://psikologi.ub.ac.id/wp-content/uploads/2013/10/Junal-Pengungkapan-Diri-Pada-Penderita-Kanker-ServiksS1.pdf.pdf diunduh pada 25 Mei 2014

Herdiansyah, H. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta Selatan: Salemba Humanika

Hidayat, Komarudin. (2006). Psikologi Kematian. Jakarta : Hikmah

Hoare, C. (2006). Handbook of Adult Development and Learning. New York: Oxford University Press

Hurlock, E.B. (1980). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi Kelima. Alih bahasa oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga

_______. (2005). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Jakarta : Erlangga

Kahija, H.F.L. (2006). Pengenalan dan Penyusunan Proposal/ Skripsi Penelitian Fenomenologis (Versi Bahasa Informal). Seri Metodologi Penelitian Kualitatif Psikologi UNDIP

(9)

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2013). Latar Belakang. Diunduh tanggal 10 Juni 2014.http://kbbi.web.id/latar%20belakang

Kartika, Melati. (2009). Pencapaian Kehidupan Bermakna (The Meaningful Life) Setelah Kematian Pasangan Berdasarkan Teori Viktor Frankl Pada Janda Lanjut Usia. Fakultas Psikologi Universitas Brawijaya Malang. Sumber : http://psikologi.ub.ac.id/wp-content/uploads/2013/10/Jurnal-skripsi-Kartika-M.pdf. diunduh pada 25 Mei 2014

Kimmel, D.C. (1990). Adulthood and Aging. 3rd edition. New York: John Wiley & Sons

Kubler-Ross, E. 1969. On death and dying. Routledge.

Moleong, L. J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya _______. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Monks, F.J. (2004). Psikologi Perkembangan : Pengantar Dalam Berbagai

Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Monks, F.J, Knors, A.M.P, Haditono, S.R. (2006). Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Nasution, S. (1996). Metodologi Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung: Tarsito Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman, R.D. (2001). Human Development. (9th

Edition.). Boston: McGraw-Hill

_______. (2009).Human Development Perkembangan Manusia Edisi 10 Buku 2.Jakarta : Salemba Humanika

Patricia A. Potter. 2005. Fundamental of Nursing: Concept, Proses, and Practice. Jakarta: EGC Poerwandari, K. (2007). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku

Manusia. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia: Lembaga

(10)

Pranyoto, Heri. (2013). Ketika Dia Menjadi Semangat Hidup Kita. Diunduh pada 10 Juni 2014. http://muda.kompasiana.com/2013/10/24/ketika-dia-menjadi-semangat-hidup-kita-604372.html

Rando TA. 1986. Loss and Anticipatory Grief. Lexington: Lexiton Mass

Santrock, J.W. (2002). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi Kelima, Jilid I. Alih bahasa oleh Juda Damanik dan Achmad Chusairi. Jakarta: Erlangga _______. (2004). Educational Psychology 2nd Edition. New York : McGraw-Hill.

_______. (2007). Remaja Terjemahan Edisi Kesebelas Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga _______. (2008). Adolescence. Twelfth Edition. New York: The McGraw-

Hill Companies, Inc.

Soleh, Mohamad. (2001). Kebermaknaan Hidup Mahasiswa Reguler dan Mahasiswa Unggulan Universitas Islam Indonesia, Psikologika, Tahun VI, No. 11, 53-63

Virdhani, M.H. (2013). Ibu Adalah Pendidik Yang Terbaik Bagi Anak. Diunduh tanggal 10 Juni 2014. http://metro .sindonews. com/ read /2013 /12/ 22/31/819456/ibu-adalah-pendidik-yang-terbaik-bagi-anak

Wade, C., Tavris, C. (2007). Psikologi Edisi Kesembilan Jilid 2. Jakarta : Erlangga

Politisimuslim. Melanjutkan Kehidupan Islam: Definisi Hidup dan Mati. Sumber : http://politisimuslim.wordpress.com/2007/04/21/definisi-hidup-dan-mati/ [akses 23/06/2011]

http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/11/05/ketika-yang-ada-menjadi-tiada-409763.html :http://psikologi.ub.ac.id/wp-content/uploads/2013/10/Junal-Pengungkapan-Diri-Pada-Penderita-Kanker-ServiksS1.pdf. diund http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/psychology/2009/Artikel_10503095.pdf. diunduh pada 2014.http://kbbi.web.id/latar%20belakang http://psikologi.ub.ac.id/wp-content/uploads/2013/10/Jurnal-skripsi-Kartika-M.pdf. http://muda.kompasiana.com/2013/10/24/ketika-dia-menjadi-semangat-hidup-kita-604372.html http://politisimuslim.wordpress.com/2007/04/21/definisi-hidup-dan-mati/

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan menurut Stuart & Sudeen (1998), kehilangan merupakan perpindahan keadaan seseorang yang awalnya memiliki dari ada menjadi tidak ada. Seseorang yang mengalami

Menurut pendapat Perry & Potter (2005), faktor yang perlu mendapatkan perhatian rumah sakit dalam memberikan pelayanan keperawatan yang dapat meningkatkan kepuasan

pasien post operasi seksio sesarea dapat dibebaskan (Potter & Perry, 2005). Terapi modalitas yang bertujuan untuk mengurangi nyeri salah satunya adalah teknik

Dengan begitu Intervensi keperawatan pada pasien dapat menjadi efektif dalam mengatasi gangguan tidur jangka pendek dan panjang (Potter & Perry, 2005). Berdasarkan

Masih menurut Olivas (2013) Perasaan marah karena kehilangan jika tidak dikendalikan dapat menjauhkan seseorang dari keluarga dan teman-temannya karena perasaan ini

Menurut Potter dan Perry (2005) ada berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan atau kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain adalah takut nyeri

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

Menurut Potter & Perry 2005 , semua prosedur atau tindakan keperawatan baik yang menimbulkan nyeri maupun tidak, keduanya akan menyebabkan kecemasan bagi anak usia prasekolah selama