• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Spiritualitas Dan Kepuasan Kerja Dengan Intention Turnover Pada Perawat Rumah Sakit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Hubungan Spiritualitas Dan Kepuasan Kerja Dengan Intention Turnover Pada Perawat Rumah Sakit"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN SPIRITUALITAS DAN KEPUASAN KERJA

DENGAN INTENTION TURNOVER PADA PERAWAT

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata 1 pada Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi

Oleh :

WAHYU MAHARDIKA INDRAYANTI F. 100 150 106

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2019

(2)

i

HALAMAN PERSETUJUAN

HUBUNGAN SPIRITUALITAS DAN KEPUASAN KERJA DENGAN INTENTION TURNOVER PADA PERAWAT

PUBLIKASI ILMIAH

Oleh:

WAHYU MAHARDIKA INDRAYANTI F. 100 150 106

Telah periksa dan disetujui untuk diuji oleh :

Dosen

Pembimbing

Achmad Dwityanto, S.Psi, M.Si, Psikolog NIDN: 0609106802

(3)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

HUBUNGAN SPIRITUALITAS DAN KEPUASAN KERJA DENGAN INTENTION TURNOVER PADA PERAWAT

OLEH

WAHYU MAHARDIKA INDRAYANTI F. 100 150 106

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Fakultas Psikologi

Universitas Muhammadiyah Surakarta Pada hari, Kamis, 15 Agustus 2019 dan dinyatakan telah memenuhi syarat.

Dewan Penguji

1. Achmad Dwityanto, S.Psi, M.Si, Psikolog ( ) (Ketua Dewan Penguji)

2. Dr. Daliman, SU ( )

(Anggota I Dewan Penguji)

3. Aad Satria Permadi., S.Psi., MA ( ) (Anggota II Dewan Penguji)

Dekan,

Susatyo Yuwono, S.Psi, M.Si, Psikolog NIK/NIDN. 838/0624067301

(4)

iii

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam publikasi ilmiah ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila kelak terbukti ada ketidakbenaran dalam pernyataan saya di atas, maka akan saya pertanggungjawabkan sepenuhnya.

Surakarta, 15 Agustus 2019

. Penulis

WAHYU MAHARDIKA INDRAYANTI F100 150 106

(5)

1

HUBUNGAN SPIRITUALITAS DAN KEPUASAN KERJA DENGAN INTENTIONTURNOVER PADA PERAWAT

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara spiritualitas dengan tingkat intention turnover serta mengetahui hubungan antara kepuasan kerja dengan intention turnover pada perawat di rumah sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perawat RS PKU Muhammadiyah Surakarta dengan jumlah ±250 perawat dengan metode pengambilan sampel cluster random sampling, dengan sampel 110 perawat. Metode pengumpulan data dengan menggunakan alat ukur skala spiritualitas, skala kepuasan kerja serta skala intention trunover. Analisis data dilakukan dengan analisis non parametric corelation Kendall’s serta menggunakan program bantu SPSS 15.0 for windows. Berdasarkan analisis data antara variabel spiritualitas dengan intention trunover diperoleh nilai koefisien korelasi (rx1y) sebesar -0,403 dan (p) sebesar 0,000 (p < 0,01). Kemudian pada variabel kepuasan kerja dengan intention trunover diperoleh nilai koefisien korelasi (rx2y) sebesar -0,472 dan (p) sebesar 0,000 (p < 0,01). Artinya brerdasar analisis tersebut menunjukkan ada hubungan negatif yang signifikan antara variabel spiritualitas dankepuasan kerja dengan intention trunover. Dalam hal ini apabila nilai spiritualitas dan kepuasan kerjanya tinggi maka niai intention trunover pada perawat rendah. Dalam hal ini variabel spiritualitas memiliki sumbangan efektif terhadap intention turnover sebesar 32,6%, kemudian variabel kepuasan kerja memiliki sumbangan efektif terhadap intention turnover sebesar 49,3% kemudian sisanya terdapat 18,1% intention turnover dipengaruhi oleh faktor lain.

Kata Kunci : spiritualitas, kepuasan kerja, intention turnover, perawat. Abstract

This research aims to determine the relationship between spirituality and the intention turnover level and to know the relationship between job satisfaction with the intention turnover in the nurses in PKU Muhammadiyah Surakarta Hospital. The population used in this study was the entire nurse of the PKU Muhammadiyah Surakarta HOSPITAL with a total of ± 250 nurses with a random sampling cluster sample method, with a sample of 110 nurses. Method of collecting data used spirituality scale measuring instrument, work satisfaction scale as well as intention trunover scale. Data analysis was done with the non parametric corelation analysis of Slack's and uses the SPSS 15.0 for Windows auxiliary program. Based on the analysis of data between the spirituality variables with the intention trunover obtained the value of the correlation coefficient (rx1y) of-0.403 and (p) of 0.000 (P < 0.01). Then in the job satisfaction variables with the intention trunover obtained the value of the correlation coefficient (rx2y) of – 0.472 and (p) of 0.000 (P < 0.01). This means that the underlying analysis indicates there was a significant negative relationship between the spirituality variables and the satisfaction of work with the intention trunover. In this case the

(6)

2

value of spirituality and satisfaction was high then niai intention trunover in low nurse. In this case the variable of spirituality has an effective contribution to the intention turnover of 32.6%, then the job satisfaction variables have an effective contribution to the intention turnover of 49.3% then the remaining there was 18.1% intention Turnover was influenced by other factors.

Keywords: spitituality, job satisfaction, and intention turnover. 1. PENDAHULUAN

Sumber daya organisasi berperan penting dalam tercapainya tujuan dalam pemberdayaan sumber daya manusia. Oleh sebab itu sumber daya manusia memiliki peran penting dalam kompetisi baik jangka pendek atau jangka panjang dalam kegiatan organisasi, karena setiap organisasi harus memiliki nilai lebih dengan nilai organisasi yang lain. Menurut Bangun (2012) menjelaskan bahwa manajemen organisasi memiliki fungsi perencanaan (planning), perorganisasian

(organizing), penyusunan staff (staffing), penggerakan (actuating), serta pengawasan (controling). Fungsi tersebut merupakan tugas dari menager pada berbagai bidang serta tingkatan dalam organisasi. Fungsi tersebut merupakan tugas dari menager pada berbagai bidang serta tingkatan dalam organisasi. Sehingga perusahaan perlu untuk mengatur sember daya manusia untuk mencapai tujuannya dengan melakukan penerimaan, penyeleksian, serta mempertahankan SDM agar tidak berdampak pada perpindahan atau turnover.

Turnover merupkan pengunduran diri pada karyawan secara permanen baik secara sukarela atau secara tidak sukarela. Judge & Robbins, 2011). Menurut Nurdin, Ling & Khan (2018) menyatakan pendapatnya bahwa turnover pada dasarnya merupakan tindakan dimana karyawan meninggalkan pekerjaan mereka saat ini dengan kemudian organisasi menggantikan mereka denga annggota yang baru. Syahrinoca, Hakam & Ruhana (2015) menyatakan bahwa turnover intention adalah suatu keinginan yang muncul untuk meninggalkan perusahaan secara sukarela. Keinginan ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, misal keinginan mendapat gaji yang lebih, karena terdapat masalah keluarga dan lain sebagainya.

Berdasar dari dokumen Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta terdapat perilaku turnover sebanyak 18 orang selama tahun 2018. Dari 18 orang

(7)

3

tersebut terdapat 41% karena sudah purnakerya, kemudian terdapat 2% disebabkan karena purnakarya dini, kemudian terdapat 48% dengan alasan keluarga, 2% karenaa tidak lolos uji coba selama 3 bulan, dan 7% lainnya karena mengikuti seleksi di rumah sakit lainnya. Dalam hal ini karyawan terdapat kencenderungan karyawan melakukan turnover dengan berbagai factor yang telah disebutkan diatas. Peneliti juga sudah melakukan penyebaran angket melaulai

google from dengan 9 responden yang menyatakan bahwa sebanyak 22,2 % menyatakan ingin beralih keperusahaan lain dengan alasan ingin mencari wawasan dan gaji dari instansi perusahaan yang lebih besar. Kemudian sebanyak 77,8 % menyatakan sudah sesuai dengan yang diinginkan.

Menurut Rekha dan Kamalanabhan (2012) aspek-aspek yang menyebabkann seseorang meiliki turnover intention yaitu: a) Job Satisfaction

dalam hal ini kepuasan kerja menjadi faktor seseorang untuk meninggalkan organisasi. b) Organizational Comitment atau disebut dengan komitmen organisasi dimana karyawan mempertahankan keanggotaannya sehingga keinginan meninggalkan organisasi semakin rendah. c) Percived organizational justice merupakan keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan oleh organsasi. Ketika anggota karyawan merasa tidak adil dengan keputusan yang di ambil maka mereka akan membentuk niat untuk berhenti. d) Perceived organizational support faktor yang mempengaruhi terjadinya turnover intention

ialah dukungan organisasi. Ketika organisasinya kurang mendukung karyawan maka hal tersebut akan menjadi alasan untuk berhenti dari tempat kerja.

Menurut pendapat Fardiansyah, Muhith, Saputra, & Fenty (2017) penyebab terjadinya turnover antara lain adalah stres terhadap pekerjaan, lingkungan tempat kerja, kepuasan kerja, komitmen organisasional, dan lain sebagainya. Selain masalah ketidakpuasan dalam suatu pekerjaan, adanya penurunan komitmen organisasional akan memicu terjadinya perpindahan kerja. Menurut Wikansari & Pawesti (2016) kepuasan kerja ialah suatu kondisi dimana perasaan serta sikap yang dimiliki individu terhadap pekerjaanya. Jika seseorang memiliki kepuasan yang tinggi maka akan muncul perasaan positif mengenai

(8)

4

pekerjaannya, namun apabila hal tersebut dalam level rendah makan akan menjadi perasaan yang negatif terhadap pekerjaanya.

Dalam pencapaian kepuasan kerja maka Mulyadi (2010) menjelaskan bahwa aspek dari karyawan akan mencapai kepuasan kerja apabila karyawan memiliki rasa aman dari segi-segi: a) Sosial ekonomi : Seperti besaran gaji yang diberikan, jaminan sosial seperti BPJS yang di dapatka oleh karyawan. b) Sosial psikologi : dalam hal ini karyawan mendapatkan kesempatan untuk pengembangan diri, karyawan mendapatkan penghargaan, hubungan antara rekan kerja dan peran pimpinan dalam melakukan pengawasan pada karyawan

Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Budiono dkk, (2014) menyatakan bahwa spiritualitas di tempat kerja bernilai signifikan terhadap turnover intention

dengan indikator tertinggi dasi aspek kebermaknaan diri. Seorang karyawan yang merasakan kebermaknaan diri maka ia akan menerima dan melakukan pekerjaan dengan menerapkan nilai-nilai spiritual yang ada. Sedangkan spiritualitas di tempat kerja merupakan praktik interkonektivitas dan perasaan saling percaya yang merupakan bagian dari proses kerja, yang kemudian mengarah pada budaya orgaanisi secarakeseluruhan yang didorong oleh motivasi, respon positif, serta keharmonisan diantara individu sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja individu dan dapat membantu keunggulan seluruh organosasi. (Hassan, Nadeem, & Akhter, 2016)

Kemudian Spiritualitas di tempat kerja merupakan praktik interkonektivitas dan perasaan saling percaya yang merupakan bagian dari proses kerja, yang kemudian mengarah pada budaya orgaanisi secarakeseluruhan yang didorong oleh motivasi, respon positif, serta keharmonisan diantara individu sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja individu dan dapat membantu keunggulan seluruh organosasi (Hassan, Nadeem, & Akhter, 2016).

Berdasarkan Ashmos dan Duchon (dalam Hakim & Azlimin, 2015) menyatakan bahwa Aspek-aspek yang dalam spiritualitas kerja sebagai berikut: a)

Inner Life : dalam hal ini seorang indiviku akan merasakan kebermaknaan terhadap spiritual yang dipilihnya sehingga membentuuk sebuat identitas diri yang peduli dengan sesama sehingga merasakan bahagiaan. b) Meaningful Work :

(9)

5

seorang individu akan merasakan kegembiraan dengan semangat sehingga individu akan mudah melakukan sebuah kebaikan sehingga dapat memberikan kesan bermakna. c) Bellonging in the community : dalam hal ini individu adalah maksluk sosial yang merupakan bagian dari sebuah organisasi kelompok, sehingga seorang individu dapat meningkatkan motivasinya dalam melakukan sebuah tujuan yang sesuai dengan organisasi dengan meningkatkan kualitas dirinya.

Bersadarkan pemaparan hal-hal diatas maka dapat ditemukan pokok rumusan maslah yang akan menjadi dasar sebuah penelitian yaitu adakah hubungan keterkaitan antara spiritualitas dan kepuasan kerja perawat dengan

turnover intention.

2. METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan penyebarang skala. Skala yang digunakan dalam penelitian ialah, skala spiritualitas, skala kepuasan kerja, dan skala intention turnover. Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan penyusunan skala spiritualitas berdasarkan apek yang di kemukakan oleh Ashmos dan Duchon (dalam Hakin dan Azlimin, 2015), skala kepuasan kerja berbadasarkan dari faktor-faktor yang dikemukankan oleh Mulyadi (2010), skala intention turnover

berdasar dari aspek-aspek Menurut Rekha dan Kamalanabhan (2012).

Populasi yang digunakan dalam penelitian adalah perawat PKU Muhammadiyah Surakarta yang berjumlah ±250 orang. . Dengan teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah cluster rundom sampling. Sampel dalam penelitian yang dilakukan sebanyak 110 orang. Validitas dilakukan dengan menggunkan Microsoft Excel 2013 dengan formula Aiken’s V, dimana apabila terdapat aitem memiliki validitas kurang dari 0,6 maka aitem tersebut gugur atau tidak valid. Reliabilitas dari ketiga skala dihitung dengan teknik Alpha Cronbach

untuk mengetahui koefisien reliabilitasnya. Ketiga skala tergolong reliabel dengan nilai alpha (α) spiritualitas sebesar 0,940 dengan 30 aitem, nilai alpha (α) kepuasan kerja sebesar 0,906 dengan 19 aitem, nilai alpha (α) intention turnover

(10)

6

sebesar 0,893 dengan jumlah aitem 18. Selanjutnya hasil dari penelitian dilakukan pengolahan data dengan metode analisis non-paramentric Kendall’s tau_b dengan bantuan program SPSS 15 for windows.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dengan hasil sebaran data tidak memenuhi syarat normal maka didapatkan hasil bahwa terdapat korelasi antara variabel r(x1y) yaitu variabel spiritualitas dengan intention turnover serta variabel

r(x2y) yaitu variabel kepuasan kerja dengan intention turnover. Kemudian dari

hasil bahwa kedua variabel bebas memiliki hubungan yang negatif dan signifikan terhadap variabel tergantung Dari hasil analisis juga menyatkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara spiritualitas dengan kepuasan kerja. Dengan demikian maka dapat dinyatakan bahwa hipotesis mayor tidak dapat dibuktikan.

Kemudian pada perhitungan antar variabel intention turnover dengan variabel spiritualitas diperoleh nilai korelasi r(x1y) sebesar -0,403 dengan nilai signifikansi 0,000 (p ≤ 0,01). Kemudian pada hasil perhitungan yang lakukan pada variabel intention turnover dengan kepuasan kerja diperoleh nilai korelasi

r(x2y) sebesar – 0,472 dengan niali signifikansi 0,000 (p≤0,01). Dari hasil tersebut

maka dapat menunjukkan bahwa hubungan negatif yang signifikan antara

intention turnover dengan spiritualitas dan kepuasan kerja. Dalam hal ini ketika semakin tinggi nilai spiritualitas dan kepuasan kerja maka semakin rendah nilai

intentionturnover pada perawat.

Hal tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Wateknya pada tahun 2015 yang mendapatkan hasil bahwa karyawan akan merasa puas dengan pekerjaan yang dilakukannya apabila mendapatkan hasil upah dari perkerjaanya, selain pemberian upah rekan kerja sejawat juga mempengaruhi terbentuknya kepuasan kerja. Dengan kepuasan kerja yang dicapai maka kecenderungan niat untuk mencari pekerjaan bernilai rendah. Ketika perusahaan meningkatkan aspek-aspek kepuasan kerja pada karyawan maka nilai kepuasan akan semakin tinggi.

(11)

7

Hasil penelitian dari Simanjuntak & Rahardja (2013) menunjukkan bahwa variabel kepuasan kerja memiliki hubungan yang signifikan terhadap variabel

intention turnover, apabila kepuasan kerja tinggi maka intensi turnovernya rendah.

Menurut Janah, Sukmawati , & Afendi, (2017) bahwa spiritualitas memiliki pengaruh yang positif terhadap kelekatan kerja karyawan terhadap organisasi atau perusahaan. Dalam hal ini menjelaskan bahwa semakin dalam pemaknaan terkait spiritualitas seorang karyawan, maka semakin besar kebermanfaatan karir, serta perusahaan tempat bekerja tersebut. Dengan meningkatnya spiritualitas makan karyawan melihat pekerjaan tersebut sebagai saranna untuk meningkatkan spiritualitas yang efektif dan efisien, dibdanding seseorang yang bekerja hanya sekedar sarana memperoleh uang. Dalam hal ini spiritualitas akan mengarah kepada kuaitas kesejahteraan hidup karyawan, membentuk nilai keberartian pekerjaan, serta rasa kelekatan pada pekerjaan dan organisasi tersebut.

Hasil penelitian tersebut selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurtjahjanti (2010) menyatakan spiritualitas dalam pekerjaan akan menghasilkan dampak-dampak positif bagi karyawan dan perusahaan. Bahwa spiritualitas di tempat kerja akan membuat karyawan merasakan makna hidup serta tujuan dalam kehidupannya.

Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa variabel spiritualitas memiliki rerata empirik (RE) sebesar 98,14 dalam hal ini spiritualitas tergolong tinggi, hal ini berarti bahwa tingkat spiritualitas pada perawat termasuk dalam kriteria tinggi. Kemudian terdapat tingkatan spiritualitas pada perawat dalam kategori sangat tinggi sebanyak 42 orang atau setara dengan 38,2%, lalu dalam kategori tinggi terdapat 63 orang atau setara dengan 57,3 %. Selanjutnya pada kategori sedang terdapat 5 orang atau setara dengan 4,5%.

Pada hasil analisis kategorisasi pada variabel kepuasan kerja memiliki rerata empirik (RE) sebesar 54,68 dalam hal ini spiritualitas tergolong tinggi, hal ini berarti bahwa tingkat kepuasan kerja pada perawat termasuk dalam kriteria tinggi. Kemudian terdapat tingkatan kepuasan kerja pada perawat dalam kategori

(12)

8

sangat tinggi sebanyak 6 orang atau setara dengan 5,5 %, lalu dalam kategori tinggi terdapat 69 orang atau setara dengan 62,7 %. Selanjutnya pada kategori sedang terdapat 35 orang atau setara dengan 31,8%. Pada hasil analisis kategorisasi pada variabel intention turnover memiliki rerata empirik (RE) sebesar 38,82 dalam hal ini intention turnover tergolong sedang, hal ini berarti bahwa intention turnover kerja pada perawat termasuk dalam kriteria sedang. Kemudian terdapat tingkatan intention turnover pada perawat dalam kategori tinggi sebanyak 2 orang atau setara dengan 1,8 %, lalu dalam kategori sedang terdapat 33 orang atau setara dengan 30 %. Selanjutnya pada kategori rendah terdapat 72 orang atau setara dengan 65,5 % serta pada kategori sangat rendah terdapat 3 orang atau setara 2,7 %.

Adapun hasil berupa sumbangan efektif yang diberikan variabel spiritualitas terhadap variabel intention turnover sebesar 32,6 %. Kemudian pada variabel kepuasan kerja memberikan sumbangan yang lebih besar yakni 49,3% dan sisanya terdapat variabel atau aspek lain yang dapat mempengaruhi intetion turnover. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dalam intetion turnover pada perawat PKU Muhammadiyah Surakarta lebih besar di pengaruhi oleh kepuasan kerja

4. PENUTUP

Berdasarkan hasil data dan pembahasan yang telah diuraikan oleh peneliti, maka terdapat kesimpulan bahwa: Tidak ada hubungan yang antara spiritualitas dan kepuasan kerja dengan intention turnover pada perawat RS PKU Muhammadiyah Surakarta. Tingkat spiritualitas pada perawat RS PKU Muhammadiyah Surakarta tergolong tinggi. Tingkat kepuasan kerja pada perawat RS PKU Muhammadiyah Surakarta tergolong tinggi. Tingkat intensi turnover

pada perawat RS PKU Muhammadiyah Surakarta tergolong sedang. Sumbangan efektif yang diberikan oleh variabel spiritualitas terhadap intention turnover

adalah sebesar 32,6%. Kemudian pada variabel kepuasan kerja dengan variabel

intention turnover sebesar 49.3 % dalam hal ini berarti masih ada 18,1% yang mempengaruhi intensi turnover.

(13)

9 DAFTAR PUSTAKA

Bangun, W. (2012). Manajemen sumber daya manusia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Budiono, S., Noermijati, & Alamsyah, A. (2014 ; Volume : 12; Nomer: 4). Pengaruh spiritualitas di tempat kerja terhadap turnover intention perawat melalui komitmen organisasional di rumah sakit islam unisma malang.

Jurnal Aplikasi Managemen (JAM), ISSN : 1693-5241, 639-649.

Fardiansyah, A., Muhith, A., Saputra, M. H., & Fenty. (2017). Gambaran tingkat turnover perawat, motivasi, dan kinerja perawat di rumah sakit islam hasanah mojokerto. Prosiding Seminar Nasional, 100-103.

Hakim, A., & Azlimin. (2015). Model peningkatan komitmen suberdaya manusia berbasis spiritual leadership dan spiritual survival serta workplace spirituality dengan moderating individu spirituality. Conference in

Business, Accounting, and Managemen (CBAM); Vol. 2 No.1, 344-356.

Hassan, M., Nadeem, A., & Akhte, A. (2016). Impact of workplace spirituality on job satisfaction: mediating effect of trush. Cogen Bisnig & Managemen ()1189808, 1-15.

Janah, N., Sukmawati , A., & Afendi, F. M. (2017 Vol. VIII). Pengaruh spiritualitas terhadap keterlekatan karyawan melalui kepuasan kerja pada ukm di kota Bogor. Jurnal Managemen dan Organisasi, 133-143.

Mulyadi, V. (2010). Kepemimpinan dan perilaku organisasi. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Nurtjahjanti, H. (2010). Spiritualitas kerja sebagai ekspresi keinginan diri karyawan untuk mencari makna dan tujuan hidup dalam organisasi.

Fakultas PSikologi UNDIP, 27-31.

Rekha, K. R. (2012 ). A study on the employee turnover intention in tes / bpo sector. AMET International Journal of Management, 18-28, ISSN: 2231 – 6779.

Simanjuntak, N., & Rahardja, E. (2013). Analisis pengaruh kerelibatan dan kepuasan kerja terhadap turnover intention karyawan (Studi pada PT. Njonja Meneer Semarang). Diponegoro Journal of Managemen, ISSN 2337-3792, 1-10.

Syahronica, G., Hakam, M., & Ruhana, I. (2015). Pengaruh kepuasasn kerja dan stress kerja terhadap turnover intention (study pada karyawan dunia fantasi PT. pembangunan jawa Acol, Tbk). Jrnal Administrasi Bisnis (JAB) Volume 20, 1-6.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian diperoleh kesimpulan (1) terdapat pengaruh yang negatif dan signifikan kepuasan kerja terhadap turnover intention karyawan, (2) terdapat pengaruh yang

Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis jalur menunjukkan bahwa hubungan rekan kerja berpengaruh positif secara signifikan terhadap kepuasan kerja, lingkungan

Berdasarkan fenomena yang terjadi tersebut, mendorong peneliti untuk mengetahui hubungan beban kerja dan kepuasan kerja dengan kinerja karyawan di Instalasi Rekam Medis Rumah Sakit

Berdasarkan Tabel 1.1 dapat dilihat bahwa dari hasil prasurvey yang dilakukan peneliti dengan mewawancarai beberapa perawat honor Rumah Sakit Tentara

Berdasarkan Tabel 1.1 dapat dilihat bahwa dari hasil prasurvey yang dilakukan peneliti dengan mewawancarai beberapa perawat honor Rumah Sakit Tentara

Rumah Sakit Syafira Pekanabaru. 6) Untuk mengetahui pengaruh tidak langsung kepemimpinan terhadap kepuasan kerja melalui tunover intention perawat pada Rumah Sakit

Berdasakan hasil analisis penelitian dan hasil pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu. 1) Kepuasan kerja mempunyai pengaruh

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja dan turnover intention studi pada BRI KC Tanjung