ANYAMAN BAMBU HIAS

26  18 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA KERAJINAN

ANYAMAN BAMBU DI DESA ANTIROGO JEMBER

SEBAGAI BAHAN LEMBAR KERJA SISWA GEOMETRI

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh Nur Isnaini NIM 160210101072

Dosen Pembimbing 1 : Dosen Pembimbing 2 :

HALAMAN JUDUL

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER

(2)
(3)

BAB

1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan hal yang utama yang mutlak dan wajib didapatkan setiap individu, karena pendidikan merupakan peranan penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan merupakan salah satu jembatan untuk memperoleh pengetahuan, nilai, dan keterampilan. Pendidikan dapat diperoleh secara formal, informal dan non-formal sesuai dengan UU Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yaitu pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstuktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan formal dimulai dari jenjang TK, SD, SMP sampai SMA, berdasarkan kurikulum yang memuat beberapa materi pelajaran yang salah satunya adalah matematika.

Matematika merupakan ilmu pendukung bagi cabang ilmu lainnya untuk mendapatkan solusi dari berbagai permasalahan yang muncul, selain itu matematika sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Matematika yang berkembang dalam masyarakat dan sesuai dengan kebudayaan setempat, merupakan pusat proses pembelajaran dan metode pengajaran. Kedudukan matematika sebagai pelayan ilmu pengetahuan, tersirat bahwa matematika sebagai suatu ilmu yang berfungsi pula untuk melayani ilmu pengetahuan (Erman dan Winataputra, 1993:29).

(4)

manusia dalam masyarakat yang diperoleh dengan cara belajar termasuk pikiran dan tingkah laku. Jadi, dapat disimpulkan budaya adalah seluruh gagasan maupun karya manusia yang menjadi kebiasaan masyarakat setempat dan diajarkan kepada generasi berikutnya.

Menurut Orey, D.C dan Rosa, M (2008) proses pembelajaran matematika akan berjalan dengan baik ketika seorang guru dalam mengajarkan mengkaitkan dengan proses interaksi sosial dan budaya melalui dialog, bahasa, melalui representasi makna simbolik dalam matematika. D’Ambrosio, U (2004) mengatakan bahwa pengajaran matematika bagi setiap orang seharusnya disesuaikan dengan budayanya. Untuk itu diperlukan keterhubungan antara matematika diluar sekolah dengan matematika sekolah. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan memanfaatkan pendekatan ethnomathematics sebagai awal dari pengajaran matematika formal yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa yang berada pada tahapan operasional konkret. Hal yang sama dikemukakan bahwa kehadiran matematika yang bernuansa budaya akan memberikan kontribusi yang besar terhadap matematika sekolah, karena sekolah merupakan intuisi sosial yang berbeda dengan yang lain sehingga memungkinkan terjadinya sosialisasi antara beberapa budaya (Shirley, L, 2008). Budaya akan mempengaruhi perilaku individu dan mempunyai peran yang besar pada perkembangan pemahaman individual, termasuk pembelajaran matematika (Bishop, 1991).

(5)

satunya adalah kerajinan anyaman. Menganyam berarti mengatur bilah atau lembaran-lembaran secara tindih-menindih dan silang menyilang.

Etnomatematika muncul sebagai konsep baru yang merupakan pengaruh timbal balik antara matematika, pendidikan dan budaya. Etnomatematika merupakan sebuah kajian terhadap ide-ide matematika pada masyarakat. Menurut D’Ambrosio (dalam Kholifah, 2018) etnomatematika adalah suatu studi tentang pola hidup, kebiasaan atau adat istiadat dari suatu masyarakat di suatu tempat yang memiliki kaitan dengan konsep-konsep matematika namun tidak disadari sebagai bagian dari matematika oleh masyarakat tersebut. Salah satu kegiatan etnomatematika yang ada di masyarakat adalah kerajian anyaman bambu.

Kerajinan anyaman bambu adalah seni merajut yang biasanya menggunakan bahan dari bambu, rotan, daun-daunan yang memiliki serat yang dapat ditipiskan seperti enceng gondok, daun lontar, daun pandan, dan lain-lain, serta plastik. Kerajinan anyaman bambu banyak digunakan sebagai alat keperluan rumah tangga sehari-hari. Biasanya seni kerajinan anyaman bambu ini diolah dengan alat yang masih sederhana seperti pisau pemotong, pisau penipis, tang dan catut bersungut bundar, yang membutuhkan kreativitas tinggi, ide, perasaan pemikiran dan kerajinan tangan.(unnes anyaman bambu)

Daerah yang dipilih dalam penelitian ini adalah Desa Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember. Karena Desa Antirogo termasuk salah satu tempat penghasil kerajinan tangan, khususnya kerajinan tangan anyaman bambu sebagai industri unggulan yang mampu dipasarkan di luar Kabupaten Jember. Dalam menjalankan aktivitas membuat kerajinan tangan anyaman secara tidak sadar mereka telah menerapkan konsep dasar matematika dalam melakukan aktivitas membuat beserta mengidentifikasi bentuk-bentuk geometris pada kerajinan tangan anyaman dari bambu yang dibuat.

(6)

etnomatematika dalam pembelajaran matematika yang merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan guru dalam melakukan inovasi pembelajaran di kelas dan upaya memperbaiki kualitas pembelajaran matematika, dilain sisi guru dapat mengarahakan siswa untuk lebih mengenal budaya yang ada.

Penelitian selanjutnya tentang etnomatenatika juga dilakukan oleh Ratuanik & Kundre (2010).Aktivitas pengrajin anyaman dalam membuat kerajinan tangan anyaman melewati beberapa tahapan. Tahapan pertama dengan pemotongan atau pembelahan bambu, selanjutnya proses pengeringan bambu. Setelah proses pengeringan bambu selesai, dilanjutkan dengan perautan bambu. Setelah itu dilanjutkan dengan menentukan pola kerajinan tangan anyaman yang akan dibuat, dilanjutkan dengan menentukan sudut-sudut di masing-masing kerajinan tangan anyaman dan tahapan yang terakhir menentukan bentuk-bentuk dari kerajinantangan anyaman. Aktivitas tersebut menggunakan ilmu matematika yaitu menghitung, mengukur, dan mendesain. Dari penelitian ini nantinya dapat digunakan dalam pembelajaran disekolah maupun di masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui lebih jelas tentang bangun-bangun geometris apa saja yang dibuat oleh pembuat kerajinan tangan anyaman di desa Antirogo Sumbersari Jember. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang berkaitan dengan mengidentifikasi hasil kerajinan anyaman bambu hias, dengan judul “Eksplorasi Etnomatematika Pada Kerajinan Anyaman Bambu Di Desa Antirogo Jember Sebagai Bahan Lembar Kerja Siswa Geometri ”.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Bagaimanakah eksplorasi etnomatematika pada kerajinan anyaman bambu di Desa Antirogo Jember sebagai bahan ajar geometri?

(7)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Mendeskripsikan hasil eksplorasi etnomatematika pada pada kerajinan anyaman bambu di Desa Antirogo Jember sebagai bahan ajar geometri. 2) Membuat produk yang dihasilkan berdasarkan penelitian berupa bahan ajar

geometri berkenaan dengan eksplorasi etnomatematika pada kerajinan anyaman bambu di Desa Antirogo Jember.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini dalah sebagai berikut.

1) Bagi masyarakat umum, dapat mengubah opini bahwa matematika berkaitan erat dengan budaya, bahkan saling berhubungan satu sama lain, hasil budaya secara tersirat terdapat ilmu matematika yang perlu diungkap. 2) Bagi pengrajin anyaman bambu di Desa Antirogo Jember dapat mengetahui bahwa dalam eksplorasi kerajinan anyaman bambu terdapat unsur matematika.

3) Bagi guru adalah sebagai inovasi dalam pelaksanaan pembelajaran geometri di sekolah dengan hal-hal yang berkaitan dengan budaya khususnya kerajinan anyaman bambu.

4) Bagi siswa, sebagai salah satu upaya meningkatkan kemampuan geometris yang ada pada kehidupan sehari-hari dan meningkatkan kecintaan terhadap budaya asli Jember.

5) Bagi peneliti dapat menjawab permasalahan yang ada berkenaan dengan etnomatematika pada kerajinan anyaman bambu di Desa Antirogo Jember dan menambah pengetahuan.

(8)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hakikat Matematika

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang sudah tersusun secara sistematis dari konsep paling sederhana hingga konsep yang sangat kompleks (Fataturrohmah dan Masykur, 2017). Menurut Gerdes (Verawati, 2014) pandangan yang dominan mengenai matematika bahwa mathematics as a culture

–free, universal. Matematika berbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya

secara empiris. Kemudian pengalaman itu diproses di dalam dunia rasio sampai terbentuk konsep-konsep matematika. Agar konsep tersebut mudah dipahami oleh orang lain maka digunakan bahasa matematika atau notasi matematika yang bernilai global (universal). Konsep matematika didapat karena proses berpikir, karena itu logika adalah dasar terbentuknya matematika.

Matematique (Perancis), atau Wiskunde (Belanda) berasal dari bahasa Yunani

mathematikos yaitu ilmu pasti, dari kata mathema atau mathesis yang berarti

ajaran, pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Istilah matematika menurut bahasa latin (manthanein atau mathema) yang berarti belajar atau hal yang dipelajari, yang semuanya berkaitan dengan penalaran. Matematika adalah salah satu pengetahuan tertua dan dianggap sebagai induk atau alat dan bahasa dasar banyak ilmu. Matematika pada suatu tingkat rendah terdapat illmu hitung, ilmu ukur dan aljabar.

Menurut Purba (dalam Rohma, 2018) matematika sendiri dibagi menjadi beberapa cabang ilmu yaitu aljabar, aritmatika, geometri, trigonometri, kalkulus. Berikut mengenai penjelasan cabang matematika:

1) Aljabar

(9)

2) Aritmatika

Aritmatika merupakan ilmu hitung yang mempelajari operasi dasar bilangan. Operasi dasar aritmatika adalah penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Yang dipelajari dalam aritmatika seperti bilangan asli, bilangan bulat, bilangan rasional, dan bilangan real.

3) Geometri

Geometri merupakan salah satu cabang ilmu matematika. Geometri berasal dari bahasa Yunani, geo yang berarti bumi dan metri yang berarti mengukur. Geometri mempelajari tentang bentuk, bangun ruang, sudut, garis, dan sebagainya. Dalam geometri mengenal dimensi dua dan dimensi tiga. Bangun dalam dua dimensi seperti segitiga, segitiga, lingkaran, trapezium, layang-layang, dan lain-lain. Dalam bangun dimensi tiga kita mempelajari tentang kubus, balok, bola, tabung, kerucut, prisma, dan lain-lain.

4) Trigonometri

Trigonometri berasal dari bahasa Yunani, yaitu trigono artinya “tiga sudut” dan metro artinya “mengukur”. Jadi trigonometri adalah sebuah cabang matematika yang berhadapan dengan sudut segitiga dan fungsi trigonometri, seperti sinus, kosinus, dan tangen.

5) Kalkulus

Secara bahasa calculus (bahasa latin) artinya batu kecil untuk menghitung. Cabang matematika yang mencakup limit, turunan, integral, dan deret tak hingga. Contoh dalam kehidupan sehari-hari kecepatan sesaat, percepatan sesaat. Dalam kalkulus juga mempelajari limit fungsi, diferensial, dan integral

(10)

Dari beberapa pengertian matematika yang telah diuraikan, dapat diambil kesimpulan bahwa matematika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari konsep fakta, ruang dan bentuk yang didapat melalui proses berpikir serta mencakup proses bernalar, berpikir kritis, sistematis, logis dan kreatif. Oleh karena itu eksplorasi nilai-nilai matematika dalam aktivitas masyarakat perlu dilakukan. Hal ini juga dapat digunakan dalam pembelajaran matematika sekolah sehingga siswa mengetahui kegunaan matematika dalam aktivitas sehari-hari. 2.2 Eksplorasi Etnomatematika

Menurut Koesoemadinata (2000), eksplorasi adalah kegiatan teknis ilmiah untu mencari tahu suatu are, daerah, keadaan, ruang yang sebelumnya tida diketahui keberadaan akan isinya. Eksplorasi yang ilmiah akan memberikan sumbangan terhadap khazanah ilmu pengetahuan. Eksplorasi tidak hanya dilakukan di suatu daerah, dapat pula di kedalaman laut yang belum pernah dijelajah, ruang angkasa, bahkan wawasan alam pikiran (Eksploration of the

mind). Sementara itu, istilah etnomatematika pertama kali dikemukakan oleh

D’Ambrosio (1984) seorang matematikawan Brazil yang menjelaskan bahwa:

“Ethnomathematics is the way different cultural groups mathematics (count,

measure, relate, classify and infer)”. Menurutnya imbuhan ethno menjelaskan

semua fenomena yang membentuk identitas budaya yang dikelompokkan sebagai bahasa, kode, nilai, dialek, keyakinan, makanan dan pakaian serta kebiasaan dan perilaku. Kata mathematics menjelaskan pandangan yang luas tentang matematika termasuk perhitungan atau pemecahan, aritmatika, pengklasifikasian, pengurutan, pengambilan keputusan dan pemodelan. Dengan demikian ethnomathematika merupakan cara penggunaan matematika oleh kelompok dan budaya yang berbeda.

(11)

mengklasifikasi, menyimpulkan, dan memodelkan. Akhiran “tics” bermakna teknik.

D’Ambrosio (2006) menjelaskan ethnomathematics adalah matematika yang dipraktekkan oleh kelompok budaya, seperti masyarakat perkotaan dan pedesaan, kelompok pekerja, ana-anak dalam kelompok usia tertentu, masyarakat adat, dan begiru banyak kelompok lainnya. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa etnomatematika merupakan kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat dalam kelompok tertentu mulai dari anak kecil sampai orang dewasa dan telah menjadi budaya yang berhubungan dengan konsep dasar matematika. Aktivitas yang dilakukan dan berkaitan dengan konsep dasar matematika seperti mengukur, menghitung, dan mendesain.

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai eksplorasi etnomatematika, dapat disimpulkan bahwa etnomatematika adalah suatu kegiatan ilmiah untuk mencari tentang kegiatan sehari-hari masyarakat atau sekelompok suku yang sudah menjadi budaya yang mana dalam pelaksanaannya tanpa disadari telah menggunakan konsep matematika yang tanpa disadari terdapat dalam pemikiran, kebiasaan, adat istiadat dan budaya yang berkembang dalam kelompok masyarakat tertentu.

2.3 Kebudayaan

Menurut Koentjaraningrat (dalam Soelaeman, 2010), kata kebudayaan berasal dari kata Sanskerta budhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti “budi” atau “akal”. Sedangkan kata budaya merupakan perkembangan majemuk dari “budi daya” yang berarti “daya dari budi” sehingga dibedakan antara “budaya” yang berarti “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa, dan rasa, dengan “kebudayaan” yang berarti hasil dari cipta, karsa dan rasa.

(12)

mengatakan bahwa kebudayaan menjadi tujuh unsur yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia, meliputi:

a. Bahasa, dengan wujud ilmu komunikasi dan kesusteraan mencakup bahasa daerah, syair, pantun, novel-novel, dan lain sebagainya.

b. Sistem pengetahuan meliputi science (ilmu-ilmu eksak) dan humanities

(sastra, filsafat, sejarah, dsb).

c. Organisasi sosial, seperti upacara-upacara adat (kelahiran, pernikahan, kematian)

d. Sistem peralatan hidup dan teknologi, meliputi makanan, pakaian, alat-alat upacara, dan kemajuan teknologi lainnya.

e. Sistem mata pencaharian hidup

f. Sistem religi, baik sistem keyakinan, dan gagasan tentang Tuhan, dewa-dewa, roh, surga, neraka, maupun berupa upacara adat maupun benda-benda suci dan benda-benda-benda-benda religius (candi dan patung nenek moyang) dan yang lainnya

g. Kesenian dapat berupa seni rupa (lukisan), seni pertunjukan (tari, musik), seni teater (wayang), seni arsitektur (rumah, bangunan, candi, perahu, dsb), berupa benda-benda indah atau kerajinan.

Dari berbagai pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan suatu gagasan hasil karya manusia dalam bentuk pengetahuan, kepercayaan, kesenian ataupun kebiasaan-kebiasaan manusia dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan perwujudan dari kebudayaan ini berupa pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, seni, religi dan lain-lain yang ditujukan untuk membantu kehidupan masyarakat.

2.4 Teselasi pada Kajian Geometri

Teselasi merupakan suatu pola khusus yang terdiri dari bangun- bangun geometri yang disusun tanpa pemisah atau jarak untuk menutupi suatu bidang datar. Teselasi merupakan konsep antar cabang ilmu pengetahuan yaitu matematika dan seni ketika teknik teselasi digunakan oleh seniman tukang batu, teselasi mengacu pada konsep artistik. Dalam pembelajaran matematika, teselasi meliputi beberapa konsep matematika yang lebih dalam seperti segi banyak beraturan, segi banyak tidak beraturan, kekongruenan, sudut dalam, jumlah sudut dalam suatu segi banyak, simetri, translasi, refkleksi, dan rotasi (Puspadewi, 2014)

(13)

wallpaper dan lain-lain (Depdiknas). Bahkan di alam pun bisa ditemukan contoh teselasi yang terjadi secara alami, yaitu pada sarang lebah. Bangun-bangun geometri yang bisa menteselasi contohnya persegi, segitiga, segi lima beraturan, segi enam beraturan dan bisa juga berupa kurva.

2.5 Etnomatematika Kerajinan Anyaman

Etnomatematika kerajinan anyaman merupakan aktivitas membuat kerajinan pada masyarakat yang berhubungan dengan matematika, seperti menghitung, mengukur, dan membuat pola geometri. Aktivitas matematika menghitung muncul saat menentukan waktu pengering bambu. Aktivitas mengukur terlihat ketika pengrajin anyaman melakukan aktivitas mempersiapkan bambu, memotong bambu,mengukur ketebalan bambu. Aktivitas mendesain muncul ketika menentukan bentuk dan pola anyaman.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, teselasi merupakan suatu pola khusus yang terdiri dari bangun-bangun geometri yang tersusun tanpa pemisah/ jarak ataupun tumpang tindih dalam menutupi suatu bidang datar. Prinsip teselasi ini banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari seperti pada pengubinan tembok ataupun lantai, motif kain, termasuk pula pada kerajinan anyaman. Di Desa Antirogo khususnya, terdapat beberapa kerajinan anyaman yang sering digunakan masyarakat yang meliputi keranjang serbaguna, tudung saji, lampu templek, tempat tisu, rantang, dan hiasan anyaman bambu. Secara umum, kerajinan ini memiliki pola anyaman yang hampir sama dan sederhana.

2.6 Masyarakat di Desa Antirogo Jember

(14)

merupakan daerah batas dengan jalur pendidikan Universitas Jember Kampus dan sebagian merupakan areal persawahan.

Sebagai wilayah yang mempunyai potensi di bidang industri rumahan. Potensi industri rumahan Desa Antirogo juga sangat berpotensi untuk dikembangkan yakni kerajinan tangan anyaman bambu. Salah satu tempat pembuatan kerajinan anyaman bambu di Jember yaitu di Desa Antirogo merupakan salah satu tempat industri kerajinan “Jaya Makmur” sebagai mitra pengabdian masyarakat dalam menjalankan usaha pembuatan kerajinan tangan anyaman bambu yang banyak memproduksi berbagai macam kerajinan tangan anyaman.

Sejak berdiri tahun 2009, industri kerajinan Jaya Makmur telah menjadi industri padat karya dengan melibatkan masyarakat Desa Antirogo Jember yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat pengrajin anyaman bambu Kelurahan Antirogo sebagai mitra kerja untuk terlibat dalam produksi kerajinan tangan dari bambu ini sehingga membuka lowongan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian bagi masyarakat sekitarnya. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu yaitu dengan melakukan variasi pewarnaan dan menetukan menentukan pola dari kerajinan tangan anyaman itu sendiri karena kerajinan tangan yang baik dapat dilihat dari kerapian dan bentuk anyaman itu sendiri.

2.7 Bahan Lembar Kerja Siswa

(15)

Menurut Widjajanti (2008), LKS mempunyai beberapa fungsi diantaranya sebagai berikut.

(1) Sebagai alternatif bagi guru untuk mengarahkan pengajaran atau memperkenalkan suatu kegiatan tertentu sebagai kegiatan belajar mengajar

(2) Dapat digunakan untuk mempercepat proses pengajaran dan menghemat waktu penyajian suatu topic

(3) Membantu siswa dapat lebih aktif dalam proses belajar mengajar

(4) Dapat membangkitkan minat siswa jika LKS disusun secara rapi, sistematis, mudah dipahami oleh siswa sehingga menarik perhatian siswa

(5) Dapat menumbuhkan kepercayaan diri dan meningkatkan rasa ingin tahu siswa

(6) Dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. LKS dalam penelitian ini diawali dengan kompetensi dasar dan indikator pencapaian materi bangun datar dan bangun ruang, selanjutnya ringkasan materi bangun datar dan bangun ruang dan petunjuk pengerjaan LKS, serta dengan pengerjaan soal dari permasalahan yang terdapat pada motif dan bentuk dari kerajinan anyaman bambu. Pada lembar kerja siswa, siswa diarahkan untuk menunjukkan konsep bangun datar dan bangun ruang yang terdapat didalam motif anyaman dan dilanjutkan dengan mendesain motif-motif anyaman yang berbentuk bangun datar serta bentuk yang dihasilkan berbentuk bangun ruang. 2.8 Penelitian yang Relevan

Penelitian selanjutnya tentang etnomatenatika juga dilakukan oleh Puspadewi(2014)yang berjudul “Etnomatematika di Balik Kerajinan Anyaman”, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini 1 orang pembuat anyaman di Bali. Data diperoleh dari hasil observasi dan wawancara. Etnomatematika yang ada pada kerajinan anyaman Bali adalah adanya penggunaan prinsip teselasi/ pengubinan pada pola anyaman. Pola anyaman yang ada pada sok asi, tempeh,

(16)

menggunakan satu jenis bangun geometri yaitu persegi panjang. Karena menggunakan bangun persegi maka pola anyaman pada tikeh sanggah dan tikeh

flase digolongkan ke dalam regular tesselation. Etnomatematika pada kerajinan

anyaman Bali dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran Penelitian selanjutnya tentang etnomatenatika juga dilakukan oleh Ratuanik & Kundre(2010)yang berjudul “Pemanfaatan Etnomatematika Kerajinan Tangan Anyaman Masyrakat Maluku Tenggara Barat Dalam

Pembelajaran”, dalam penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui unsur

matematis yang terdapat dalam kerajinan tangan anyaman dan kemungkinan mengunakan unsur matematis tersebut untuk membantu proses pembelajaran. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data yaitu dengan cara wawancara, studi pustaka serta penelusuran di internet terkait, lalu data disajikan dalam bentuk uraikan kalimat. Pembelajaran yang menyelipkan etnomatematika yang bersumber dari kerajinan anyaman akan menambah wawasan siswa mengenai keberadaan matematika yang ada pada salah satu unsur budaya yang mereka miliki, meningkatkan motivasi dalam belajar serta memfasilitasi siswa dalam mengaitkan konsep-konsep yang dipelajari dengan situasi dunia nyata.

(17)

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian dan Pendekatan

Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pada dasarnya penelitian kualitatif merupakan penelitian ilmu-ilmu sosial dengan metode pengumpulan data yang berkaitan dengan perbuatan dan kata-kata (baik lisan maupun tulisan) manusia. Dalam hal ini peneliti tidak menghitung hasil identifikasi sehingga peneliti tidak perlu menganalisis dalam bentuk angka. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami teorema tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain (Moloeng, 2012). Menurut Sugiyono (2014) metode penelitian kualitatif sering disebut dengan metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi alamiah (natural setting); disebut juga sebagai metode ethnography, karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian antropologi budaya; disebut sebagai metode kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. Etnografi adalah pelukisan yang sistematis dan analisis suatu kebudayaan kelompok, masyarakat atau suku bangsa yang di himpun dari lapangan dalam kurun waktu yang sama (Bungin, 2012). Pendekatan penelitian etnografi merupakan suatu kegiatan yang mendeskripsikan suatu kebudayaan, yang mana tujuan utamanya adalah untuk memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Malinowski menjelaskan bahwa tujuan dari etnografi ini adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungan dengan kehidupan, serta untuk mendapatkan pandangan mengenai dunianya (Ulum, Budiarto, & Ekawati, 2017)

3.2 Daerah dan Subjek Penelitian

(18)

memilih daerah tersebut karena Produk kerajinan anyaman bambu Jaya Makmur bervariasi yang meliputi keranjang serbaguna, tudung saji, lampu templek, tempat tisu, rantang, dan hiasan anyaman bambu. desa tersebut merupakan salah satu tempat penghasil kerajinan anyaman sehingga membuka lowongan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian bagi masyarakat sekitarnya.

Subjek penelitian adalah pengrajin anyaman yang berdomisili di daerah tersebut. Subjek penelitian ini sebanyak 2 orang yang bekerja di tempat kerajinan tangan anyaman tersebut. Pada penelitian ini dipilih yakni masyarakat di desa Antirogo yang hampir setiap harinya melakukan aktivitas di tempat industri kerajinan anyaman tersebut. Keadaan lingkungan di desa tersebut juga sangat baik untuk di jadikan sebagai tempat untuk membuat kerajinan tangan anyaman, sehingga kerajinan tangan yang ada disana cukup bervariasi.

3.3 Definisi Operasional

Definisi operasional digunakan untuk menghindari kesalahan penafsiran dan batasan-batasan permasalahan dalam penelitian agar tidak menimbulkan anggapan lain.

1. Etnomatematika kerajinan tangan anyaman bambu yang dimaksud adalah aktivitas pembuatan kerajinan tangan anyaman bambu dan mengidentifikasi bentuk-bentuk geometri dari produk maupun motif anyaman yang akan dikaitkan dengan konsep matematika.

2. Bahan ajar geometri yang dimaksud yaitu berupa paket tes yang berisikan soal-soal terkait etnomatematika kerajinan tangan anyaman bambu di Desa Antirogo Jember

3.4 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian merupakan uraian mengenai langkah-langkah yang akan dilakukan sebagai pedoman dalam melaksanakan penelitian untuk meraih hasil yang akan dicapai sesuai dengan tujuan penelitian. Untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini, maka langkah-langkah yang digunakan adalah sebagai berikut.

(19)

Pada tahap pendahuluan yang dilakukan adalah menentukan permasalahan yang akan dijadikan objek penelitian. Selanjutnya adalah memilih daerah lokasi yang akan dijadikan tempat penelitian, maka peneliti memilih daerah dan subjek penelitian yaitu desa Antirogo Jember, karena di desa tersebut terdapat tempat penghasil kerajinan tangan anyaman yang cukup besar dan mayoritas penduduknya bekerja di tempat kerajinan tersebut.

2) Membuat Instrumen

Pada tahap ini yang dilakukan adalah membuat instrumen penelitian sebagai pedoman observasi dan wawancara. Pedoman observasi digunakan sebagai pedoman peneliti dalam melakukan observasi aktivitas pembuatan kerajinan tangan anyaman. Sedangkan pedoman wawancara berisi tentang pertanyaan yang berhubungan dengan hal-hal yang ingin diketahui oleh peneliti mengenai aktivitas pembuatan dan produk yang dihasilkan dari kerajinan tangan anyaman.

3) Validasi Instrumen

Pada tahap validasi instrumen, hal yang dilakukan adalah memberikan lembar validasi instrumen kepada dua dosen pendidikan matematika. Setelah divalidasi, jika pedoman observasi dan wawancara sudah valid, maka akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya. Jika pedoman observasi dan wawancara tidak valid, maka akan dilakukan validasi ulang hingga instrumen valid. Tujuan menvalidasi ini untuk memperoleh keabsahan hasil penelitian kualitatif.

4) Mengumpulkan Data

Pada tahap mengumpulkan data dilakukan dengan metode observasi dan metode wawancara kepada subjek penelitian. Pada metode observasi dilakukan dengan mengamati secara langsung aktivitas etnomatematika yang dilakukan oleh pembuat kerajinan tangan di desa Antirogo Jember. Aktivitas etnomatematika yang diamati berkaitan dengan aktivitas menghitung, mengukur, dan mendesain. Sedangkan metode wawancara dilakukan dengan memberikan pertanyaan sampai peneliti memperoleh data yang diperlukan.

(20)

Pada tahap analisis data ini dilakukan setelah memperoleh data melalui observasi dan wawancara. Analisis data digunakan untuk menjawab semua permasalahan dalam penelitian serta untuk mengidentifikasi aspek-aspek matematika yang terkait dengan aktivitas pembuatan kerajinan tangan anyaman.

6) Kesimpulan

Pada tahap ini peneliti membuat kesimpulan dari analisis data yang didapat untuk mengetahui bagaimana etnomatematika pada aktivitas pembuatan kerajinan tangan anyaman yang mengacu pada rumusan masalah.

7) Membuat Bahan Lembar Kerja Siswa

Pada tahap ini dilakukan pembuatan Lembar Kerja Siswa dengan topik Eksplorasi Etnomatematika Pada Kerajinan Anyaman Bambu Di Desa Antirogo Jember. Lembar Kerja Siswa yang akan dibuat oleh peneliti adalah Lembar Kerja Siswa yang berfungsi sebagai penuntun belajar. Lembar Kerja Siswa tersebut berisi tentang soal-soal yang berkaitan dengan etnomatematika pembuatan kerajinan tangan anyaman bambu di Desa Antirogo Jember.

Secara lebih jelas, tahap-tahap penelitian digambarkan dalam Gambar 3.1

Tidak

Ya pendahuluan

Membuat Instrumen

Validasi Instrumen

Revisi Valid ?

Keterangan:

: Kegiatan awal dan akhir

: Kegitan penelitian

: Analisis uji

: Alur kegiatan

: Alur kegiatan jika diperlukan

Mengumpulkan Data

(21)

Gambar 3. 1 Prosedur Penelitian

3.5 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data. Tujuannya untuk mendapatkan data-data yang relevan dan akurat. Pada penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara.

a. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala pada objek penelitian. Adanya observasi peneliti dapat mengamati aktivitas secara langsung aktivitas pembuatan kerajinan tangan anyaman sebagai objek penelitian. Aktivitas yang akan diamati berkaitan dengan konsep dasar matematika berupa menghitung, mengukur dan mendesain. Berdasarkan pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa observasi merupakan kegiatan pengamatan dan pencatatan yang dilakukan oleh peneliti guna menyempurnakan penelitian agar mendapatkan data yang akurat.

b. Wawancara

Wawancara adalah proses tanya jawab dalam proses pengumpulan data kepada subjek penelitian. Jenis wawancara yang dilakukan pada penelitian ini yaitu wawancara semistruktur. Kegiatan wawancara semistruktur dilakukan dengan membawa pedoman wawancara secara garis besarnya, sehingga pada saat proses wawancara peneliti bisa mengembangkan sendiri pertanyaan yang sesuai dengan kondisi dan data informasi yang diinginkan.

3.6 Instrumen Penelitian Kesimpulan

(22)

Intstrumen penelitian adalah alat atau media yang digunakan untuk melakukan suatu penelitian. Pada penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa peneliti, pedoman observasi, dan pedoman wawancara.

a. Peneliti

Dalam hal ini peneliti yang berperan utama sebagai pengumpulan data. Peneliti memegang peran sosial yang penting dan terlibat dalam seluruh kegiatan dan interaksi sosial yang akan diamati. Peneliti mengumpulkan dan menganalisis data secara kualitatif mengenai kegiatan etnomatematika pada aktivitas pembuatan kerajinan tangan anyaman di Desa Antirogo.

b. Pedoman Observasi

Pedoman observasi diperlukan dalam proses pengumpulan data. Pedoman ini berisi tentang kisi-kisi kegiatan yang akan diamati meliputi menghitung, mengukur dan mendesain.

c. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara pada penelitian ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan peneliti kepada narasumber. Hasil yang didapat dari wawancara ini digunakan untuk menjelaskan etnomatematika pada aktivitas pembuatan kerajinan tangan anyaman di Desa Antirogo.

3.7 Metode Analisis Data

(23)

Ii=

Iji=¿ rerata untuk setiap aspek ke-i terhadap indikator ke-j

Ai=¿ rerata nilai untuk setiap aspek ke-i

Va=¿ nilai rerata total untuk semua aspek

Vji=¿ data nilai validator ke-j terhadap indikator ke-i

n=¿ banyak validator

m=¿ banyak indikator dalam aspek ke-i p=¿ banyak aspek

b. Menentukan tingkat kevalidan berdasarkan kategori pada tabel dibawah ini Tabel 3. 1 Tingkat Kevalidan

Instrumen penelitian dikatakan dapat digunakan jika mencapai kriteria valid dan sangat valid. Apabila instrumen telah dikatakan valid, maka masih perlu dilakukan revisi sesuai revisi yang diberikan oleh validator [ CITATION Hob10 \l 1033 ].

(24)

Reduksi data adalah penyederhanaan data yang berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dan mencari tema dan pola sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas sehingga memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data selanjutnya. Data yang tidak terpakai tetap ditampilkan pada penelitian ini, hanya saja tidak dianalisis. Dari hasil observasi dan wawancara diambil poin penting yang dibutuhkan. Beberapa cara yang dilakukan untuk mempermudah proses reduksi data.

b. Penyajian Data

Penyajian data ini dilakukan dengan cara menguraikan data dalam bentuk uraian, bagan, hubungan antar kategori , dan sejenisnya. Dari hasil reduksi data akan diuraikan dalam bentuk deskriptif dengan menggunakan kata-kata yang berisi kutipan hasil wawancara dan observasi yang sudah direduksi dan mengaitkan dengan konsep matematika.

c. Menarik Simpulan atau Verifikasi

Menarik kesimpulan atau verifikasi data dilakukan setelah tahap penyajian data, hasil pengumpulan dan pengolahan serta analisis data. Pada tahap ini bertujuan untuk memberikan pandangan secara jelas tentang etnomatematika pada kerajinan anyaman bambu di Desa Antirogo Jember yang nantinya akan dibentuk sebagai bahan ajar geometri siswa.

3.8 Triagulasi Data

(25)
(26)

Figur

Gambar 3. 1 Prosedur Penelitian
Gambar 3 1 Prosedur Penelitian. View in document p.21
Tabel 3. 1 Tingkat Kevalidan
Tabel 3 1 Tingkat Kevalidan. View in document p.23

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : ANYAMAN BAMBU HIAS