• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEDUDUKAN SAKSI DALAM PEMBUKTIAN PERADILAN TATA USAHA NEGARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEDUDUKAN SAKSI DALAM PEMBUKTIAN PERADILAN TATA USAHA NEGARA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan Ultra Petita dalam fungsi peradilan Tata Usaha Negara di Pengadilan Tata Usaha Negara Yogyakarta mempunyai kendala teknis, yaitu belum banyak praktisi

yang lebih di permasalahkan adalah pembuktian penguasaannya atau kepemilikan bidang yang diatasnya terbit objek sengketa a quo yaitu Pihak Para Penggugat mendalilkan

Khusus untuk sengketa- sengketa tata usaha negara yang harus diselesaikan terlebih dahulu melalui upaya administrasi sebagaimana diatur dalam Pasal 48Undang-Undang Nomor

9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, sengketa TUN adalah sengketa yang timbul antara orang atau Badan Hukum perdata baik di pusat maupun di daerah, sebagai

(1) Selama pemeriksaan berlangsung, setiap orang yang berkepentingan dalam sengketa pihak lain yang sedang diperiksa oleh Pengadilan, baik atas

Asas Praduga Rechmatig: Setiap tindakan badan pemerintahan dianggap benar dan sah hingga ada pembatalannya. Asas Penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka dan Bebas: Pengadilan harus beroperasi secara merdeka dan bebas dari campur tangan kekuasaan. Asas Hakim Aktif: Hakim PTUN memiliki peran aktif dalam mencari kebenaran materiil selama persidangan. Asas Kesatuan Beracara: Terdapat satu panduan beracara untuk perkara sejenis, mencegah simpang siur penerapan hukum. Asas Sidang Terbuka untuk Umum: Setiap sidang harus terbuka untuk umum, kecuali undang-undang menentukan sebaliknya. Asas Peradilan Dilakukan dengan Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan: Proses peradilan harus efisien, cepat, dan biaya ringan agar dapat dijangkau oleh masyarakat. Asas Pembuktian Bebas: Hakim bebas menentukan bukti apa saja yang relevan dalam sengketa, tidak terikat pada bukti dari para pihak. Asas Audi et Alteram Partem: Hakim harus mendengar kedua belah pihak yang bersengketa untuk menjaga keseimbangan hak. Asas Objektivitas: Hakim wajib menjaga objektivitas, termasuk mengundurkan diri jika terdapat konflik kepentingan. Asas Peradilan Berjenjang: Sengketa dapat diajukan ke pengadilan yang lebih tinggi untuk pengoreksian putusan. Asas Erga Omnes: Putusan PTUN mengikat secara publik, tidak hanya pada pihak yang bersengketa. Asas Ultimatum Remedium: Pengadilan sebagai upaya terakhir dalam mencari keadilan setelah upaya

Sedangkan kompetensi absolut adalah kewenangan pengadilan untuk mengadili suatu perkara menurut obyek, materi atau pokok sengketa.1 Dalam Pasal 47 Undang-Undang nomor 5 tahun 1986

Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dalam penyelesaian sengketa antara warga negara dan