• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Rasa Ingin Tahu

Rasa ingin tahu setiap manusia itu berbeda-beda. Begitupula rasa ingin tahu peserta didik dalam proses pembelajaran pasti berbeda. Rasa ingin tahu peserta didik bisa disebabkan karena baru pertama kali melihat atau mendengar sesuatu yang terkait dengan pembelajaran, sehingga mereka merasa penasaran. Berikut ini beberapa definisi tentang rasa ingin tahu yang dijelaskan oleh beberapa ahli.

Rasa ingin tahu dimiliki oleh setiap orang. Aly dan Rahma (2010:2) berpendapat bahwa rasa ingin tahu adalah kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan yang muncul di dalam pikirannya.

Rasa ingin tahu seseorang bisa berupa sikap dan tindakan. Daryanto (2013: 147) menjelaskan bahwa rasa ingin tahu merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat dan didengar. Rasa ingin tahu berawal dari penglihatan dan pendengaran yang dilakukan oleh indra kita. Aktivitas peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dapat dikatakan sebagai rasa ingin tahu terhadap materi pembelajaran. Suyadi (2013: 122) berpendapat bahwa rasa ingin tahu adalah aktivitas peserta

(2)

didik sepanjang proses atau aktivitas mencari hingga menemukan jawaban. Aktivitas ini terjadi dalam proses pembelajaran yang berlangsung.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap rasa ingin tahu adalah sikap peserta didik yang bertujuan mencari hingga menemukan jawaban di dalam pikiran yang mampu dipelajari, dapat dilihat dan dapat didengar. Peserta didik yang awalnya belum tahu menjadi tahu, belum paham menjadi paham. Dapat dikatakan tahu dan paham apabila jawaban sudah ditemukan dengan benar dan tepat.

Rasa ingin tahu merupakan nilai karakter yang memiliki beberapa indikator. Indikator rasa ingin tahu di sekolah menurut Daryanto dan Darmiatun (2013: 147) sebagai berikut:

Tabel 2.1. Indikator Sikap Rasa Ingin Tahu

Rasa Ingin Tahu Indikator

Kelas 1-3 Kelas 4-6 Sikap yang selalu

berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat dan didengar.

Bertanya kepada pendidik dan teman seputar materi pelajaran.

Bertanya atau membaca sumber di luar buku teks tentang materi yang terkait dengan pelajaran. Bertanya kepada

pendidik tentang gejala alam yang baru terjadi.

Membaca atau

mendiskusikan

tentang gejala alam yang baru terjadi. Bertanya kepada

pendidik tentang sesuatu yang didengar dari televisi atau radio.

Bertanya tentang beberapa peristiwa alam, sosial, budaya, ekonomi, politik, teknologi yang baru. Bertanya kepada

pendidik tentang beberapa peristiwa yang dibaca dari media cetak.

Bertanya tentang sesuatu yang terkait dengan materi pelajaran tetapi di luar dibahas di kelas.

(3)

Berdasarkan tabel 2.1 di atas dapat dijelaskan bahwa indikator rasa ingin tahu dibagi menjadi dua yaitu kelas 1-3 dan kelas 4-6. Indikator rasa ingin tahu di kelas 1-3 meliputi: peserta didik bertanya kepada pendidik dan teman seputar materi pelajaran yang telah disampaikan. Peserta didik bertanya kepada pendidik tentang peristiwa alam yang baru terjadi. Peserta didik bertanya kepada pendidik tentang sesuatu yang didengar dari televisi atau radio. Peserta didik bertanya kepada pendidik tentang beberapa peristiwa yang dibaca dari media cetak.

Indikator rasa ingin tahu di kelas 4-6 meliputi: peserta didik bertanya kepada pendidik bahkan peserta didik membaca sumber di luar buku teks tentang materi yang terkait dengan pelajaran. Peserta didik membaca dan mendiskusikan hasil bacaan tentang gejala alam yang baru terjadi. Peserta didik bertanya kepada pendidik tentang beberapa peristiwa yang meliputi: alam, sosial, budaya, ekonomi, politik, teknologi yang baru, peserta didik bertanya kepada pendidik tentang sesuatu yang terkait dengan materi pelajaran tetapi di luar yang dibahas di kelas.

2. Prestasi Belajar

a. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar erat kaitannya dengan proses pembelajaran. Pembelajaran dilakukan untuk membuat peserta didik menjadi berprestasi. Prestasi yang didapat oleh peserta didik dapat dikatakan sebagai penghargaan selama mengikuti proses pembelajaran. Beberapa ahli mengutarakan pendapatnya tentang prestasi belajar.

(4)

Prestasi belajar erat kaitannya dengan pengetahuan peserta didik. Arifin (2011: 12) menjelaskan bahwa pengertian prestasi belajar pada umumnya berkenaan dengan aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar meliputi aspek pembentukan watak peserta didik. Kata prestasi banyak digunakan dalam berbagai bidang dan kegiatan antaralain dalam kesenian, oleh raga, dan pendidikan, khususnya pembelajaran.

Prestasi belajar sebagai alat ukur yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan peserta didik. Hamdani (2011:138) berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf, maupun kalimat, yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Prestasi belajar pada dasarnya adalah hasil yang diperoleh dari suatu aktivitas.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil belajar yang diperoleh dari keseluruhan pembelajaran dalam kurun waktu tertentu dalam mempelajari materi yang disampaikan oleh pendidik. Prestasi belajar dapat dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat. Prestasi belajar yang diukur seputar aspek pengetahuan yang dimiliki peserta didik.

b. Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Aspek yang diukur dalam prestasi belajar meliputi pengetahuan yang didapat peserta didik selama pembelajaran. Prestasi belajar peserta didik dapat

(5)

meningkat dan dapat menurut. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Syah (2011: 145) berpendapat bahwa prestasi belajar dapat dipengaruhi oleh:

1) Faktor internal siswa, yaitu faktor yang berasaldari dalam diri siswa sendiri. Faktor internal siswa meliputi dua aspek, yaitu:

a) Aspek fisiologis. Kondisi umum jasmani dan tegangan otot (tonus) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat dan identitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah apalagi jika disertai pusing kepala berat misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinyapun kurang atau tidak berbekas. Untuk mempertahankan tonus jasmani agar tetap bugar, siswa sangat dianjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi. Selain itu, siswa dianjurkan memilih pola istirahat dan olahraga ringan yang sedapat mungkin terjadi secara tetap dan berkesinambungan. Hal ini penting, sebab kesalahan pola makan minum dan istirahat akan menimbulkan reaksi tonus yang negatif dan merugikan semangat mental siswa itu sendiri.

b) Aspek psikologis

Aspek psikologis ini meliputi:

(1)Tingkat kecerdasan atau intelegensi siswa. Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Semakin tinggi kemampuan intelegensi siswa maka semakin besar pula peluang untuk meraih sukses.

(2)Sikap siswa, yaitu gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecederungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, dan sebagainya baik secara positif maupun negatif.

(3)Bakat siswa, yaitu kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk keberhasilan pada masa yang akan datang. Setiap orang memiliki bakat memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing.

(4)Minat siswa, yaitu kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan besar terhadap sesuatu.

(5)Motivasi siswa, yaitu suatu dorongan yang dapat membuat anak melakukan kegiatan belajar dengan lebih baik.

2) Faktor eksternal siswa a) Faktor lingkungan sosial

(1)Sekolah, meliputi pendidik, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa.

(2)Masyarakat, yaitu tetangga dan teman-teman yang sepermainan.

(6)

(3)Keluarga, meliputi sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaa keluarga, dan ketegangan keluarga.

b) Faktor lingkungan non sosial, meliputi gedung sekolah, dan letaknya, rumah tempat tinggal dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, serta waktu belajar yang digunakan siswa.

c) Faktor pendekatan belajar, yaitu keefektifan segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efektivitas dan efisiensi proses belajar materi tertentu.

Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar peserta didik adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup dua aspek yaitu aspek fisiologis dan psikologis. Aspek fisiologis meliputi fisik atau jasmani peserta didik. Kebugaran fisik peserta didik berpengaruh dalam proses pembelajaran. Kondisi fisik yang lemah akan membuat proses pembelajaran peserta didik tidak fokus atau terganggu, sehingga materi pelajaran yang disampaikan tidak dapat dipahami dengan baik.

Aspek psikologis meliputi tingkat kecerdasan peserta didik, sikap peserta didik, bakat peserta didik, minat peserta didik, dan motivasi peserta didik. Semakin tinggi kecerdasan peserta didik, kesuksesan proses pembelajaran akan semakin mudah tercapai. Reaksi atau respon peserta didik terhadap pembelajaran harus tinggi. Potensi yang dimiliki peserta didik lebih ditekankan dalam proses pembelajaran, agar materi pembelajaran yang disampaikan dapat tersampaikan sesuai kemampuan masing-masing. Proses pembelajaran harus membuat gairah yang tinggi terhadap peserta didik, pendidik memberikan dorongan yang membuat proses pembelajaran lebih baik.

Faktor eksternal mencakup lingkungan sosial, non sosial dan pendekatan belajar. Lingkungan sosial meliputi sekolah yang di dalamnya ada

(7)

pendidik, karyawan, dan teman-teman peserta didik yang saling memberikan pengaruh. Non sosial meliputi tempat atau letak, seperti gedung sekolah, tempat tinggal, alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar yang digunakan peserta didik. Gedung sekolah, tempat tinggal, dan alat belajar harus memadai sesuai kebutuhan proses pembelajaran. Cuaca yang bagus mendukung terlaksananya pembelajaran dengan baik, sebaliknya cuaca yang buruk akan menghambat pembelajaran serta waktu belajar peserta didik harus diimbangi dengan istirahat yang cukup.

3. Pembelajaran IPA a. Hakekat IPA

IPA merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Tidak hanya pada jenjang sekolah dasar (SD) saja. IPA juga diajarkan pada sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menegah atas (SMA) bahkan perguruan tinggi. Para ahli berpendapat tentang pengertian IPA.

IPA sebagai suatu pengetahuan teoritis memiliki cara-cara khas. Aly dan Rahma (2010: 18) berpendapat bahwa IPA adalah suatu pengetahuan teoritis yang diperoleh/ disusun dengan cara yang khas/ khusus, yaitu melakukan observasi ekperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, ekperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait-mengait cara yang satu dengan cara yang lain. Cara untuk memperoleh ilmu secara demikian ini terkenal dengan nama metode ilmiah. Metode ilmiah pada dasarnya menerapkan suatu cara yang logis untuk memecahkan suatu masalah tertentu.

(8)

IPA memiliki tiga konsep. Prihantoro, dkk dalam Trianto (2010: 137) menjelaskan bahwa IPA hakikatnya merupakan suatu produk, proses, dan aplikasi. Sebagai produk, IPA merupakan sekumpulan pengetahuan dan sekumpulan konsep dan bagan konsep. Sebagai suatu proses, IPA merupakan proses yang dipergunakan untuk mempelajari objek studi, menentukan dan mengembangkan produk-produk sains, dan sebagai aplikasi, teori-teori IPA akan melahirkan teknologi yang dapat memberi kemudahan bagi kehidupan.

IPA dipahami melalui pengamatan. Susanto (2013: 167) berpendapat bahwa sains atau IPA adalah usaha manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat pada sasaran, serta menggunakan prosedur, dan dijelaskan dengan penalaran sehingga mendapatkan suatu kesimpulan. IPA didefinisikan sebagai ilmu tentang alam, yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu: IPA sebagai produk, proses dan sikap.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa IPA adalah cara khusus manusia dalam memahami dan mencari suatu pengetahuan alam semesta dengan metode ilmiah yang di dalamnya menyangkut produk, proses, dan aplikasi sehingga dapat mempermudah kehidupan. Metode ilmiah ini saling keterkaitan, karena menyangkut observasi ekperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, ekperimentasi, observasi.

(9)

b. Tujuan IPA

IPA sebagai mata pelajaran memiliki tujuan yang harus dicapai dalam proses pendidikan. Berhasilnya proses pendidikan di sekolah juga didukung dengan adanya tujuan IPA, sehingga arah pendidikan yang ditempuh melalui mata pelajaran IPA jelas. Tujuan pembelajaran IPA dikemukakan oleh beberapa ahli.

IPA memiliki tujuan yang harus dicapai. Prihantoro dalam Trianto (2010: 142) berpendapat, bahwa sebagai alat pendidikan yang berguna untuk mencapai tujuan pendidikan, maka pendidikan IPA di sekolah mempunyai tujuan tertentu, yaitu:

1) Memberikan pengetahuan kepada siswa tentang dunia tempat hidup dan bersikap.

2) Menanamkan sikap hidup ilmiah.

3) Memberikan ketrampilan untuk melakukan pengamatan.

4) Mendidik siswa untuk mengenal, mengetahui cara kerja serta menghargai para ilmuwan penemuannya.

5) Menggunakan dan menerapkan metode ilmiah dalam memecahkan permasalahan.

Adapun tujuan pembelajaran sains di sekolah dasar meurut BSNP dalam Susanto (2013: 171), dimaksudkan untuk:

1) Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya.

2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 3) Mengembangkan rasa ingin tahu,sikap positif dan kesadaran tentang

adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.

4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan.

5) Meningktatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam.

6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.

(10)

7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan IPA di sekolah dasar adalah memberikan pengetahuan kepada peserta didik tentang ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, menanamkan sikap ilmiah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, memberikan keterampilan melalui rasa ingin tahu peserta didik yang berhubungan dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat. Menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan serta menghargai para ilmuwan penemunya. Menerapkan metode ilmiah dalam memecahkan permasalahan dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam.

c. Karakteristik IPA

IPA sebagai disiplin ilmu dan mata pelajaran memiliki ciri-ciri atau karakteristiknya. Karakteristik IPA menurut Jacobson & Bergman dalam Susanto (2013: 170) sebagai berikut:

1) IPA merupakan kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori.

2) Proses ilmiah dapat berupa fisik dan mental, serta mencermati fenomena alam, termasuk juga penerapannya.

3) Sikap keteguhan hati, keingintahuan, dan ketekunan dalam menyingkap rahasia alam.

4) IPA tidak dapat membuktikan semua akan tetapi hanya sebagian atau beberapa saja.

5) Keberanian IPA bersifat subjektif dan bukan kebenaran yang bersifat objektif.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik IPA meliputi konsep, prinsip, hukum, dan teori yang bersifat ilmiah dalam mencermati alam, tetapi hanya beberapa yang dapat dibuktikan karena IPA itu subjektif dan kebenarannya tidak objektif. IPA mencermati alam bersifat

(11)

ilmiah yang di dalamnya menggunakan sikap keteguhan hati, keingintahuan dan ketekunan.

4. Materi Pelajaran IPA

Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang digunakan oleh sekolah, materi yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada tabel 2.2. Tabel tersebut berisi tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, sebagai berikut:

Tabel 2.2 SK dan KD Materi IPA Kelas V

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 7. Memahami perubahan yang terjadi

di alam dan hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam

7.6 Mengidentifikasi peristiwa alam yang terjadi di Indonesia dan dampaknya bagi makhluk hidup dan lingkungan

7.7 Mengidentifikasi beberapa kegiatan manusia yang dapat mengubah permukaan bumi Peneliti mengambil sampel di kelas V dan materi yang akan diajarkan yaitu tentang bumi dan alam semesta dengan sub materi peristiwa alam dan kegiatan manusia yang dapat mengubah permukaan bumi. Sub materi peristiwa alam untuk siklus 1 pertemuan I dan pertemuan II. Siklus 1 pertemuan I tentang bencana alam yang terjadi di Indonesia, dan siklus 1 pertemuan II tentang dampak yang ditimbulkan bencana alam bagi makhluk hidup dan lingkungan. Sub materi kegiatan manusia yang dapat mengubah permukaan bumi untuk siklus 2 pertemuan I dan pertemuan II. Siklus 2 pertemuan I tentang kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi permukaan bumi, dan siklus 2 pertemuan II tentang alasan manusia melakukan kegiatan yang dapat mempengaruhi permukaan bumi.

(12)

5. Model Pembelajaran Berbasis Masalah a. Definisi

Suatu pembelajaran dapat menggunakan model pembelajaran yang berbeda-beda, tergantung pada kebutuhan pembelajaran yang dilakukan. Salah satunya dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah. Berikut ini beberapa pendapat yang dijelaskan oleh beberapa ahli tentang pengertian model pembelajaran berbasis masalah.

Model pembelajaran berbasis masalah memberikan suatu permasalahan yang nyata. Arends (2008: 41) berpendapat bahwa model pembelajaran berbasis masalah berupa menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang autentik dan bermakna kepada siswa. Berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan penyelidikan.

Peserta didik terlibat dalam penyelidikan untuk memecahkan suatu permasalahan dalam pembelajaran. Kunandar (2007: 300) berpendapat bahwa pembelajaran berbasis masalah (problem base learning) merupakan suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.

Model pembelajaran berbasis masalah mengoptimalkan proses kelompok. Tan dalam Rusman (2010: 229) berpendapat bahwa model pembelajaran berbasis masalah adalah inovasi dalam pembelajaran karena dalam PBM kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalkan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat

(13)

memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan. Perlu kiranya ada sebuah bahan kajian yang mendalam tentang apa dan bagaimana pembelajaran berbasis masalah ini untuk selanjutnya diterapkan dalam sebuah proses pembelajaran.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang menggunakan masalah nyata untuk memperoleh pengetahuan dengan cara berpikir kritis yang saling berkesinambungan sehingga masalah tersebut dapat terpecahkan oleh peserta didik. Peserta didik dituntut untuk menginvestigasi dan menyelidiki masalah yang disajikan atau peserta didik harus bernalar dalam memecahkan sebuah masalah.

b. Karakteristik

Setiap model pembelajaran memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang berbeda. Demikian halnya dengan model pembelajaran berbasis masalahh memiliki karakteristik tersendiri. Kunandar (2007: 354) berpendapat bahwa karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran berbasis masalah adalah:

1) Pengajuan masalah atau pertanyaan

Pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial dan pribadi sangat bermakna untuk siswa. Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata yang autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu.

2) Berfokus pada keterkaitan atar disiplin

Pembelajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu, namun dalam pemecahannya melalui solusi, siswa dapat meninjaunya dari berbagai mata pelajaran.

(14)

3) Penyelidikan autentik

Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian secara nyata terhadap masalah pembelajaran. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan kesimpulan. Metode penyelidikan yang digunakan bergantung pada masalah yang sedang dipelajari.

4) Menghasilkan produk/ karya dan memamerkannya

Pembelajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk dapat berupa transkip debat, laporan, model fisik, video atau program komputer.

Berdasarkan uraian di atas terdapat empat karakteristik model pembelajaran berbasis masalah, pertama pengajuan masalah, kedua berfokus pada keterkaitan, ketiga penyelidikan autentik, dan keempat menghasilkan produk atau karya. Diajukannya suatu masalah kepada peserta didik untuk diidentifikasi dan dicari berbagai macam penyelesaiannya, berpusat pada mata pelajaran tertentu seperti IPA. Masalah yang disajikan nyata begitu pula dengan penyelesaian yang akan dilakukan oleh peserta didik, yang pada akhirnya menghasilkan sebuah karya berupa laporan.

c. Langkah pembelajaran berbasis masalah

Model pembelajaran memiliki langkah-langkah tersendiri dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran berbasis masalah juga memiliki langkah-langkah atau sintaksis dalam kegiatan pembelajaran. Arends (2008: 57) mengemukakan langkah-langkah atau sintaksis pembelajaran berbasis masalah, sebagai berikut:

(15)

Tabel 2.3 Langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah

Fase Perilaku Pendidik

Fase 1:

Memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada siswa

Pendidik membahas tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik penting, dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah Fase 2:

Mengorganisasikan siswa untuk meneliti

Pendidik membantu siswa untuk

mendefinisikan dan

mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang terkait dengan permasalahannya

Fase 3:

Membantu investigasi mandiri dan kelompok

Pendidik mendorong siswa untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi

Fase 4:

Mengembangkan dan

mempresentasikan artefak dan exhibit

Pendidik membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan model-model, dan membantu mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain Fase 5:

Menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah

Pendidik membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap invertigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan

Tabel 2.3 di atas menerangkan sintaksis atau langkah-langkah model pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran berbasis masalah memiliki lima fase dalam pembelajaran. Fase pertama memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada peserta didik. Pendidik menyampaikan permasalahan yang akan dibahas. Peserta didik menyimak penjelasan dari pendidik dan melakukan penalaran untuk memecahkan masalah.

Fase kedua mengorganisasikan siswa untuk meneliti. Pendidik mengarahkan peserta didik untuk memahami masalah yang disajikan di lembar kerja peserta didik dan menugaskan peserta didik untuk berdiskusi

(16)

mengidentifikasi hal-hal yang menyebabkan timbulnya suatu masalah. Peserta didik berdiskusi untuk mengidentifikasi penyebab timbulnya masalah dan merencanakan langkah penyelesaiannya.

Fase ketiga membantu investigasi mandiri dan kelompok. Pendidik mengamati peserta didik dalam mengerjakan lembar kerja, memberikan kesempatan untuk mencoba berbagai alternatif sehingga menemukan jawaban terhadap masalah, memberikan bimbingan dengan mendatangi setiap peserta didik atau kelompok untuk menanyakan kesulitan yang dihadapi. Peserta didik berdiskusi dengan melaksanakan rencana dan strategi, mencoba berbagai alternatif sehingga menemukan jawaban, menanyakan hal-hal yang dianggap belum dimengerti seputar lembar kerja peserta didik.

Fase keempat mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit. Pendidik menugaskan peserta didik untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya, melakukan tanya jawab terhadap hasil pekerjaan peserta didik. Peserta didik mempresentasikan hasil pekerjaannya dan bertanya jawab dengan memberikan saran dan perbaikan.

Fase kelima menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah. Pendidik mengarahkan peserta didik untuk melihat dan memeriksa kembali hasil jawabannya, apakah sudah tepat, mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah disampaikan, membuat kesimpulan bersama peserta didik terhadap pemecahan masalah. Peserta didik memeriksa kembali hasil jawaban dan melakukan perbaikan yang dianggap belum tepat, dengan bimbingan dari pendidik membuat kesimpulan berupa langkah-langkah pemecahan masalah.

(17)

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

Penelitian yang dilakukanَ Seamus,َ C.َ dkkَ (2016)َ yangَ berjudulَ “The Implementation and Evaluation of a Project Oriented Problem-Based Learning Module in a First Year Engineering Programme”َ menjelaskanَ bagaimanaَ sebuah proyek sirkuit berdasarkan orientasi model pembelajaran berbasis masalah oleh sarjana teknik dalam program teknik elektro di Maynooth University, Irlandia. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa teknik elektro, penelitian ini dilakukan selama 1 tahun pada semester 1 dan semesster 2. Pada semester 1 peneliti sebagai fasilitator dalam modul pembelajaran tidak menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dan pada semester 2 menggunakan modul pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah. Berdasarkan data hasil analisis dapat diketahui bahwa terdapat berbedaan kerjasama tim, kepemimpinan, komunikasi, dan motivasi mahasiswa teknik elektro dalam menyelesaikan proyek sirkuit yang meningkat pada semester 2. Semester 1 proyek sirkuit berjalan lambat namun pada semester 2 peneliti sebagai fasilitator menggunakan modul pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah dalam proyek sirkuit sehingga berjalan cepat.

Penelitian yang dilakukan oleh Demikhova, N. dkk (2016) yang berjudulَ“Using PBL and Interactive Methods in Teaching Subjects in Medical Education” menggunakan populasi semua mahasiswa Medical Institute of Sumy State University di Ukraina. Sampel yang diambil adalah kelas A dan B yang berjumlah 62 orang yang diacak salah satu kelas sebagai kelompok eksperimen (32 mahasiswa) dan lainnya sebagai kelompok kontrol (30

(18)

mahassiswa). Berdasarkan data hasil analisis dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan hasil tes akhir yang menggunakan PBL lebih tinggi 16% dari pada yang menggunakan model tradisional dan mahasiswa dapat menyelesaikan soal tes dalam waktu 29 menit 45 detik lebih cepat 10 menit dari model tradisional.

Berdasarkan jurnal penelitian yang dilakukan oleh Handika dan Wangid (2013)َ yangَ berjudulَ “Pengaruh pembelajaran berbasis masalahterhadap penguasaan konsep dan keterampilan proses sainssiswa kelas V”, penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen. Penelitian ini menggunakan populasi siswa SD Negeri 1 Labuhan. Sampel yang diambil adalah seluruh siswa kelas V sebanyak 74 siswa. Dibagi menjadi 2 kelas yaitu 38 siswa di kelas eksperimen dan 36 siswa di kelas kontrol. Siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis masalah (kelas eksperimen) menunjukkan bahwa secara keseluruhan kemampuan penguasaan konsep IPA tentang cahaya lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Kelas eksperimen memperoleh rata-rata nilai posttestsebesar 68,78 sedangkan kelas kontrol hanya sebesar 54,50.

Berdasarkan jurnal penelitian yang dilakukan oleh Minarni (2012) yang berjudul

Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis

, penelitian ini menggunakan metode quasy eksperimen. Populasi pada penelitian iniseluruh siswa kelas VIII SMP Negeri yang ada di Kota Bandung dari sekolah level atas dan sekolah level tengah masing-masing diambil satu sekolah. Masing-masing level sekolah yang terpilih diambil satu kelas untuk kelas eksperimen dan satu kelas untuk kelas

(19)

kontrol. Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di sekolah level atas menggunakan pembelajaran berbasis masalah lebih baik 27,01% dari pada pembelajaran konvensional, hal ini juga terjadi di sekolah level tengah. Skor rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis menggunkan pembelajaran berbasis masalah sebesar 13,66 dan pada pembelajaran konvensional sebesar 9,97.

Dari hasil penelitian di atas dijadikan acuan dan sumber bagi peneliti untuk melaksanakan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah. Model pembelajaran berbasis masalah yang akan dilaksanakan diharapkan dapat meningkatkan rasa ingin tahu dan dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.

C. Kerangka Pikir

Penelitian Tindakan Kelas yang akan dilaksanakan dengan judul “Upayaَ meningkatkanَ rasaَ inginَ tahuَ danَ prestasiَ belajarَ IPAَ menggunakanَ model pembelajaran berbasis masalah di kelas V MI Muhammadiyah Sidabowa”َiniَdilaksanakanَdenganَlangkah-langkah yang tersusun pada siklus 1 dan siklus 2. Kondisi awal proses pembelajaran yang dilakukan di MI Muhammadiyah Sidabowa belum menggunakan model pembelajaran berbasis masalah. Rasa ingin tahu dan prestasi belajar peserta didik masih rendah. Rasa ingin tahu masih rendah ditandai dengan peserta didik hanya memperhatikan penjelasan pendidik dan ada juga yang bermalas-malasa, serta tidak ada pertanyaan terkait materi yang dijelaskan oleh pendidik. Prestasi belajar masih

(20)

rendah ditandai dengan nilai UTS IPA yang belum tuntas lebih besar persentasenya daripada yang sudah tuntas.

Perlu adanya tindakan untuk meningkatkan rasa ingin tahu dan prestasi belajar peserta didik, yaitu dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah pada setiap siklus, baik siklus 1 maupun siklus 2. Setiap siklus memiliki 2 pertemuan yang setiap pertemuan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah, sehingga rasa ingin tahu dan prestasi belajar dapat meningkat. Berikut ini adalah skema atau gambaran penelitian tersebut:

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian Rasa ingin tahu dan

prestasi belajar meningkat

Peserta didik melaksanakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah Siklus 2 Dalam pembelajaran pendidik menggunakan model pembelajaran berbasis masalah Siklus 1 Tindakan Rendahnya rasa ingin tahu dan prestasi belajar peserta didik Sebelum menggunakan model pembelajaran berbasis masalah Kondisi awal

(21)

D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan:

1. Rasa ingin tahu peserta didik kelas V MI Muhammadiyah Sidabowa materi bumi dan alam semesta sub materi peristiwa alam dan kegiatan manusia yang dapat mengubah permukaan bumi dapat meningkat melalui model pembelajaran berbasis masalah.

2. Prestasi belajar IPA peserta didik kelas V MI Muhammadiyah Sidabowa materi bumi dan alam semesta sub materi peristiwa alam dan kegiatan manusia yang dapat mengubah permukaan bumi dapat meningkat melalui model pembelajaran berbasis masalah.

Gambar

Tabel 2.1. Indikator Sikap Rasa Ingin Tahu
Tabel 2.2 SK dan KD Materi IPA Kelas V
Tabel 2.3 Langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian Rasa  ingin  tahu  dan

Referensi

Dokumen terkait

Terhadap Profitabilitas Bank Syariah yang Terdaftar Di Bank Indonesia Periode 2009-2012. Bank Umum Syariah yang terdaftar di Indonesia yaitu Bank BNI Syariah, Bank

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada akseptor KB Suntik bulanan di BKIA „Aisyiyah Karangkajen Yogyakarta tahun 2010 dapat disimpulkan sebagai berikut

Secara visual, Garu dalam wujud garuda kecil digambarkan dengan bentuk tubuh bulat.. dan gemuk dengan gaya

Pada gambar 3.1 terdapat sketsa halaman menu utama media pembelajaran yang teridiri dari judul media pembelajaran, tombol profile, tombpl standar, tombol materi, tombol evaluasi

1. Implantasi elemen reaktif Si pada paduan biner TiAl serta implantasi elemen reaktif Mo pada paduan biner TiAl dan terner TiAl-Si mampu meningkatkan ketahanan oksidasi

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa secara simultan Gaya Kepemimpinan dan Kompensasi berpengaruh signifikan terhadap Kinerja

Puji syukur kehadirat Alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya, sehingga penulis diberi kemudahan dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan judul

Analisis tersebut dapat dikatakan Citra Merek, Desain Produk, Gaya Hidup, dan Word Of Mouth berpengaruh positif signifikan secara simultan terhadap Keputusan