SEJARAH
PERIKLANAN
Metode iklan pertama yang dilakukan oleh manusia sangat
sederhana. Pemilik barang yang ingin menjual barangnya akan berteriak di gerbang kota menawarkan barangnya pada pengunjung yang masuk ke kota tersebut.
Iklan tulis mulai dikenal pada jaman Yunani Kuno, berisi
tentang budak-budak yang lari dari majikannya atau memberitahu akan berlangsungnya pertandingan gladiator.
Iklan pada jaman ini hanya berupa surat edaran. Beberapa
waktu kemudian mulai muncul metode iklan dengan tulisan tangan dan dicetak di kertas besar yang berkembang di Inggris.
Iklan pertama yang dicetak di Inggris ditemukan pada
Iklan majalah pertama muncul dalam majalah Harper
tahun 1864. Pada masa-masa itu, periklanan
berkembang seiring perkembangan pers yang juga
ditandai berkembangnya perusahaan periklanan
dengan fungsi sederhana. Pada abad ke-18, beberapa
toko di Eropa mulai berfungsi sebagai agen yang
mengumpulkan iklan untuk suratkabar.
Pada abad ke-19 mulai dikenal pembelian ruang iklan
melalui agen perseorangan (menyalurkan lagi ke
perusahaan periklanan). Setelah 1880an, perusahaan
periklanan meningkatkan fungsi dengan menawarkan
konsultasi dan jasa periklanan lain.
Pada
peralihan
menuju
abad
ke-20,
sistem
Harus diakui, bahwa tokoh periklanan pertama di Indonesia adalah Jan Pieterzoon Coen, orang Belanda yang menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1619-1629. Toko ini bukan hanya bertindak sebagai pemrakarsa iklan pertama di Indonesia, tetapi juga sebagai pengiklan dan perusahaan periklanan. Bahkan dia pun menjadi penerbit dari Bataviasche Nouvelle, suratkabar pertama di Indonesia yang terbit tahun 1744, satu abad setelah J.P. Coen meninggal.
Iklan pertama di Indonesia hanya berupa sebuah pengumuman
mengenai kedatangan kapal dagang Bataviaasche Nouvelles tahun 1744. Pemanfaatan iklan menunjang pemasarannya antara lain dilakukan oleh surat kabar Bientang Timoor dengan iklan yang berbunyi: “Siapa siapa njang biasa trima soerat kabar bernama Bientang Timoor soeka diteroeskan ini taon 1865, dikasi taoe njang oewangnja itoe soerat kabar, harganja f.15, – bole lekas dikirimkan sama njang kloewarken itoe soratkabar”
Pertumbuhan iklan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh modal
Biro reklame pada masa itu dapat dikelompokkan dalam
kategori besar (biasanya dimiliki oleh orang Belanda), menengah, dan kecil (dimiliki oleh orang Tionghoa dan bumiputera). Biro reklame Indonesia kembali bangkit sekitar 1930-1942. Iklan yang dikeluarkan semakin beragam ( pencarian kerja, pernikahan, kematian, serta perjalanan).
Iklan juga sempat menjadi sarana propaganda Jepang di
Indonesia. Berbagai poster dan selebaran mengkampanyekan Jepang sebagai “Pelindung, Cahaya, dan Pemimpin”. Namun, pada masa itu tetap banyak iklan lain seperti pasta gigi, batik, tawaran kursus dan tak ketinggalan iklan bioskop yang menayangkan film Jepang.
Pasca kemerdekaan, muncul iklan himbauan untuk
Pada tahun 1963, berdiri perusahaan periklanan
InterVista Ltd yang dikelola (sekaligus didirikan)
oleh Nuradi, mantan diplomat yang pernah
bekerja di perusahaan periklanan SH Benson
cabang Singapura.
Muhammad Napis
. Tokoh ini adalah Ketua
PBRI (Persatuan Biro Reklame Indonesia) sejak
1956 hingga 1972. Dia memegang jabatan
tersebut untuk melanjutkan tugas yang sejak
tahun 1949 masih dijabat oleh orang Belanda.
Selain sebagai aktivis asosiasi, dia juga adalah
Seperti juga kebanyakan tokoh periklanan lama, dia juga
tidak mempunyai pendidikan formal di bidang periklanan. Meskipun demikian dia sempat memperoleh kursus periklanan dari Stichting voor Reclame (yayasan periklanan) Jakarta tahun 1956 dan mengikuti program pendidikan tertulis Marketing and Advertising dari Alexander Hamilton Institue, New York, tahun 1971.
Hingga sekarang, tokoh yang lahir tanggal 7 Juli 1925 ini
TOKOH PERIKLANAN MODERN
Perintis periklanan ini bernama Nuradi. Lahir di Jakarta, tanggal 10
Mei 1926. Seperti juga banyak pelaku periklanan modern, Nuradi pun tidak memperoleh pendidikan formal di bidang periklanan. Tahun 1946-1948 ia masuk Fakultas Hukum, Universitas Indonesia (darurat). Kemudian masuk Akademi Dinas Luar Negeri Republik Indonesia (1949-1950). Tahun-tahun berikutnya dia banyak mengenyam pendidikan di Amerika Serikat. Dia menjadi orang Indonesia pertama yang diterima di Foreign Service Institute, US State Department, Washington DC. Selanjutnya belajar penelitian sosial di New School, New York (1952-1954) dan menyelesaikan studi bidang administrasi publik di Harvard University, Cambridge, Massachusetts.
Perjalanan hidup Nuradi di dunia periklanan dimulai ketika tahun
Keberadaan TV sebagai media baru di Indonesia sejak bulan
Agustus 1962, telah merangsang Nuradi untuk juga menjadikannya wahan periklanan. InterVisa tercatat sebagai perintis masuknya iklan-iklan komersial di TVRI. Tahun 1963, tiga iklan pertama (yang masih berbentuk telop) di media ini, adalah untuk klien-klien berikut:
1. Hotel Tjipajung, yang kebetulan milik ayahnya sendiri.
2. PT Masayu, produsen alat-alat berat dan truk.
3. PT Arschoob Ramasita, yang dimiliki oleh Judith Roworuntu,
sekaligus menjadi pembuat gambar untuk iklan-iklan InterVista.
Setahun setelah itu, muncul iklan skuter Lambretta. Tetapi
Menurut Nuradi, kekuatan InterVista terletak justru pada
akar budidaya Indonesianya. Pendapat ini mungkin benar, kalau kita perhatikan beberapa slogan yang diciptakan InterVista, seperti:
1. Produk susu kental manis; Indomilk …. sedaaap. 2. Produk bir; Bir Anker. Ini Bir Baru, Ini Baru Bir. 3. Produk rokok putih; Makin mesra dengan Mascot. 4. Produk skuter; Lebih baik naik Vespa.
Periode tahun 1963-1967 InterVista juga tercatat sebagai
Meskipun InterVista dianggap sebagai perusahaan
periklanan modern pertama di Indonesia, namun ia
ternyata bukanlah yang pertama melakukan kerjasama
dengan perusahaan periklanan asing. Karena tahun
1960, Franklyn, perusahaan periklanan milik orang
Belanda yang kemudian berganti nama menjadi
Bhineka, sudah bekerjasama dengan Young & Rubicam,
salah satu perusahaan periklanan raksasa dari Amerika.
Mengenai
kerjasama
dengan
asing
ini
Nuradi
merupakan salah satu tokoh yang sangat kuat
mempertahankan
ke-Indonesia-annya.
“Ini
bisa
mengantjam pertumbuhan pers nasional”, katanya, dan
“biro-biro iklan internasional yang berkeliaran di Jakarta
dalam waktu dekat bisa memaksa pers di Indonesia
mendjadi sematjam djuru-bitjara kaum industrialis
KELAHIRAN PERIKLANAN
MODERN INDONESIA
Berbagai merk internasional mulai bermunculan di Indonesia dan dengan garangnya berupaya meraup pangsa pasar sebesar-sebesarnya. Coca cola, Toyota, Mitsubishi, Fuji Film, American Express, Citibank, adalah sebagian dari nama-nama besar yang mulai membanjiri pasar Indonesia. Pada saat yang sama, muncul pula local brands yang dipicu oleh kemudahan mendapatkan kredit penanaman modal dari lembaga-lembaga perbankan yang juga sedang bertumbuh pesat. Salah satu sektor yang paling hidup pada dasawarsa 1970an itu adalah industri farmasi dengan berbagai jenis obat baru yang diluncurkan pada saat itu antara lain adalah Bodrex-obat sakit kepala yang populer hingga saat ini. Begitu populernya nama Bodrex bahkan sampai dijadikan ikon jurnalistik Indonesia untuk menyebut wartawan yang datang tak diundang.
AWAL ARTIS DALAM
PERIKLANAN
Pada dasawarsa 1970an, slogan itu diubah sedikit menjadi ”sabun
kecantikan bintang-bintang film”. Unilever juga mulai memakai bintang-bintang film Indonesia untuk menjadi duta produknya. Widyawati, bintang film populer berpribadi lembut dengan kecantikkan memukau, tampil sebagai spokesperson Lux. Beberapa bintang film papan atas pun silih berganti tampil sebagai ”The Lux Lady”.
Salah satu yang legendaris adalah Christine Hakim, bintang film