PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CLIS TERHADAP
HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS IV SD DI
GUGUS III KECAMATAN BUSUNGBIU
Luh Putu Yudha Budiarti1, Gede Raga2, I Wayan Romi Sudhita3
1Jurusan PGSD,2PGPAUD, 3TP, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected], [email protected],
Abstrak
Permasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar IPA siswa kelas IV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran CLIS dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV di gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2013/2014. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dengan desain nonequivalent posttest only control group design. Populasi penelitian adalah kelas IV di Gugus III Kecamatan Busungbiu yang berjumlah 147 orang. Sampel penelitian ini ditentukan dengan teknik
random sampling. Data hasil belajar dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda yang dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial yaitu uji-t.
Berdasarkan perhitungan uji-t diperoleh thitung sebesar 29,305 sedangkan
ttabel dengan db = 33 dan taraf signifikansi 5% adalah 2,0357. Hal ini berarti
bahwa thitung lebih besar daripada ttabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara kelompok siswa yang yang dibelajarkan dengan model pembelajaran CLIS dan kelompok siswa yang yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV di Gugus III. Dengan demikian, model pembelajaran CLIS berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV di gugus III Kecamatan Busungbiu,Kabupaten Buleleng pada tahun pelajaran 2013/2014.
Kata-kata kunci: Hasil belajar IPA, Model Pembelajaran CLIS
Abstract
Problem of this research was students low natural science learning result in fourth grade. This research was purposed to know the difference of natural science learning result between the group of student who was taught by using CLIS teaching model and the group of student who was taught by conventional teaching model in the fourth grade students of elementary school in cluster three of Buleleng district, Buleleng regency in 2013/2014 school year. This research type was a quasi experiment with nonequivalent posttest only control group design. This research population was fourth grade in cluster three of Busungbiu district which consisted of 147 students. The sample of this research was choosen by random sampling technique. The data of natural science learning result were collected by using double helix test that was
analyzed by descriptive statistiks analysis and inferential statistiks that was t-test.
Based on t-test calculation is obtained tcount equal to 29,305 while ttable
with db= 33 and level of significance 5% is 2,0357. That meant tcount is bigger
than ttable. The result indicated that there was difference of natural science
learning result between group of student who were taught by using CLIS teaching model and group of student who were taught by using conventional teaching model. Thus, can concluded that CLIS teaching model have an effect to the natural science learning result of fourth grade students of elementary school in cluster three of Busungbiu district, Buleleng regency in 2013/2014 school year.
Keywords : CLIS Teaching Model, Natural Science Learning Result
PENDAHULUAN
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diberikan kepada peserta didik sesuai dengan kurikulum. Definisi ilmu pengetahuan alam secara sederhana merupakan ilmu yang membahas tentang fenomena alam serta makhluk hidup yang ada di alam semesta maupun diluar angkasa. Hal ini sejalan dengan pengertian IPA oleh Sudana, dkk (2010:2) yang menyebutkan bahwa IPA berasal dari bahasa Inggris “Science” perkataan singkat dari Natural Science. Natural artinya alamiah, yaitu berhubungan dengan alam atau bersangkut paut dengan alam.
Science secara harafiah dapat disebut sebagai ilmu tentang alam, ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. Mata pelajaran IPA di sekolah dasar bertujuan agar siswa memahami konsep-konsep IPA, memiliki keterampilan proses, mempunyai minat mempelajari alam sekitar, bersikap ilmiah, mampu menerapkan konsep-konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, mencintai alam sekitar, serta menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam penerapan pendidikan IPA di sekolah, guru seyogyanya mampu menumbuhkan antusiasme siswa dalam belajar IPA. Antusiasme siswa dalam belajar merupakan modal awal untuk memupuk keingintahuan siswa dalam belajar sehingga siswa tumbuh menjadi sumber daya manusia yang cerdas,
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berfikir secara kritis dan berani mengemukakan pendapat. IPA di SD sebaiknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan bertanya secara bebas dan mencari jawaban berdasarkan bukti-bukti dengan menggunakan metode ilmah. Sudana (2010:1) menyatakan bahwa ”IPA diperoleh melalui langkah tertentu yang disebut dengan metode ilmiah”. Metode ilmiah yang dilakukan akan mengajarkan bahwa IPA diperoleh melalui suatu proses yang sistematis serta IPA merupakan suatu produk dari hasil kegiatan ilmiah dengan melalui proses ilmiah.Hal ini mengajarkan siswa untuk memupuk sikap ilmiah siswa sejak dini.
Salah satu cara mewujudkan hal tersebut dengan menerapkan berbagai model pembelajaran yang inovatif, memanfaatkan alam sekitar dalam belajar, melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas serta membimbing siswa untuk menemukan dan merekonstruksi pengetahuannya sendiri. Keterlibatan anak-anak dalam pembelajaran IPA mengharuskan pembelajaran yang dilakukan sebaiknya dikemas semenarik mungkin untuk memancing keaktifan serta minat belajar siswa. Pembelajaran IPA di SD akan lebih efektif apabila menggunakan perasaan keingintahuan siswa sebagai titik awal dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan penyelidikan atau percobaan. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan untuk menemukan dan menanamkan
pemahaman konsep-konsep baru dan mengaplikasikannya untuk memecahkan masalah-masalah yang ditemui oleh siswa SD dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan dalam pembelajaran IPA ini selain berdasarkan cara mengajar dan kegiatan mengajar yang menarik, yang tidak kalah penting adalah guru yang komunikatif dalam pembelajaran sehingga mampu menjadi pembimbing, motivator dan fasilitator yang dapat membantu siswa dalam belajar secara penuh sehingga mampu mencapai tujuan pembelajaran.
Namun kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran IPA di SD masih rendah dilihat dari hasil belajar IPA siswa di SD. Susanto (2013: 165) menyatakan “sebagian besar peserta didik yang beranggapan bahwa pelajaran IPA ini sulit adalah benar, terbukti dari hasil percobaan Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang dilaporkan oleh Depdiknas masih sangat jauh dari standar yang diharapkan”. Ironisnya, justru semakin tinggi jenjang pendidikan, maka perolehan rata-rata nilai UAS pendidikan IPA ini menjadi semakin rendah. Selain berdasarkan pada penyataan Susanto tersebut, hasil observasi yang dilakukan di Gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng menunjukkan bahwa hasil belajar IPA siswa dari 8 sekolah di Gugus III tersebut belum dapat dikatakan memuaskan. Observasi yang dilakukan pada tanggal 29-30 November 2013 dikumpulkan rata-rata hasil ulangan tengah semester mata pelajaran IPA siswa kelas IV di Gugus III Kecamatan Busungbiu, didapatkan hasil sebagai berikut.
Tabel 1. Rerata UTS IPA Siswa Kelas IV SD di Gugus III Kecamatan Busungbiu Sekolah KKM Rerata SD No. 1 Bengkel 65 73,21 SD No. 2 Bengkel 64 67,50 SD No. 3 Bengkel 65 64,11 SD No. 1 Umajero 65 66,15 SD No. 2 Umajero 65 83,13 SD No. 3 Umajero 65 63,57 SD No. 1 Pelapuan 55 64,03 SD No. 2 Pelapuan 65 36,25
(Sumber: dokumen guru kelas IV SD di Gugus III Kecamatan Busungbiu,2013)
Berdasarkan tabel diatas, rata-rata hasil belajar ulangan tengah semester siswa di gugus III masih rendah karena hanya 5 sekolah yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) (62,5%) sedangkan 3 sekolah masih lainnya mencapai rata-rata dibawah KKM (37,5%). Berdasarkan hasil konversi ketuntasan hasil belajar IPA di Gugus III Kecamatan Busungbiu pada PAP , maka persentase sebesar 62,5% termasuk pada kategori rendah. Penyebab rendahnya hasil belajar IPA siswa kelas IV di Gugus III Kecamatan Busungbiu yang ditemukan berdasarkan observasi dan wawancara diidentifikasi menjadi beberapa permasalahan. Pertama, siswa memperoleh fakta dan konsep IPA tanpa melalui proses yang bermakna. Maksudnya adalah siswa mempelajari IPA tanpa melakukan sesuatu yang menarik terkait fenomena yang tengah mereka pelajari. Melakukan percobaan, demonstrasi ataupun belajar dengan menggunakan media yang relevan sangat jarang mereka lakukan. Kedua, dari 8 sekolah yang termasuk dalam Gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, model pembelajaran yang digunakan berorientasi pada model lama yang bersifat konvensional. Dalam proses pembelajaran dengan model konvensional yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, mencatat, mendengarkan, dan memberikan tugas. Guru masih menggunakan metode ceramah dengan menjejalkan berbagai konsep IPA kepada siswa dengan sistem dengarkan, catat dan hapalkan. Hal ini sangat mematikan sikap ilmiah siswa serta membuat siswa tidak aktif dalam pembelajaran. Selain itu, diskusi sangat jarang dilakukan oleh guru sehingga kemampuan untuk berpendapat siswa tidak tereksplorasi. Guru masih belum menerapkan berbagai inovasi dalam model pembelajaran karena masih terpaku pada cara mengajar lama. Ketiga, kurangnya keterampilan guru dalam menggunakan serta memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran termasuk penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran IPA yang terdapat di Gugus III Kecamatan
Busungbiu yaitu torso, kit IPA, CD Interaktif serta LCD. Namun sarana dan prasarana tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan kemampuan guru dalam hal penggunaan media tersebut.
Solusi yang dapat ditawarkan untuk permasalahan tersebut adalah penggunaan model pembelajaran yang bisa diterapkan sebagai salah satu inovasi pembelajaran IPA. Salah satunya adalah model pembelajaran belajar IPA (Children Learning In Science). Samatowa (2010:74) menyatakan bahwa model pembelajaran
Children Learning In Science (CLIS)
termasuk dalam model yang menganut pandangan kontruktivisme. Model ini dikembangkan oleh Driver di Inggris tahun 1998. Rangkaian fase pembelajaran pada model CLIS oleh Driver diberi nama general structure of a contructivism teaching sequence. Model CLIS merupakan model pembelajaran yang berusaha mengembangkan ide atau gagasan siswa tentang suatu masalah tertentu dalam pembelajaran serta merekontruksi ide atau gagasan berdasarkan hasil pengamatan dan percobaan (Widiyarti, 2012).
“Tujuan pembelajaran CLIS adalah meningkatkan keterampilan berpikir rasional siswa yang dilandasi pandangan kontruktivisme dengan memperhatikan pengalaman dan konsep awal siswa sebagai sumber belajar” (Handayani, 2004:40). Yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran CLIS adalah situasi belajar yang terbuka dan kesempatan bertanya secara bebas (Handayani, 2004). Model pembelajaran CLIS memiliki karakteristik yaitu, (1) dilandasi oleh pandangan kontruktivisme, (2) pembelajaran berpusat pada siswa, (3) melakukan aktivitas
hands-on/ mind-on, dan (4) menggunakan
lingkungan sebagai sumber belajar. Pembelajaran dengan menerapkan model CLIS berusaha menciptakan suasana bebas berpendapat dengan selalu berinteraksi dengan lingkungan serta aktivitas berpusat pada siswa. Hal ini membuat siswa lebih aktif, kreatif serta kritis dalam berpendapat. Dengan lingkungan sebagai sumber belajar, konsep yang diajarkan tidak akan mudah dilupakan oleh siswa karena akan sering ditemui
dalam kehidupan sehari-hari serta dapat menunjang pencapaian hasil belajar yang maksimal.
Model pembelajaran Children Learning In Science (CLIS) terdiri dari lima tahapan yaitu orientasi, pemunculan gagasan, penyusunan ulang gagasan, penerapan gagasan, dan pemantapan gagasan. Tahap pertama adalah orientasi
(orientation). Pada tahap ini guru
melakukan kegiatan awal untuk memusatkan perhatian siswa dengan menunjukkan fenomena alam atau kejadian sehari-hari terkait dengan materi yang diberikan. Tahap kedua adalah pemunculan gagasan (elicitation of ideas). Siswa yang telah melihat hal yang ditunjukkan oleh guru, secara otomatis akan berpikir tentang hal apa yang selanjutnya diberikan oleh guru. Guru bisa memunculkan gagasan siswa dengan meminta siswa menuliskan apa saja yang terlintas dipikiran mereka setelah melihat hal yang ditunjukkan oleh guru. Selain itu, bisa juga dengan melakukan tanya jawab ringan untuk mengeksplorasi pengetahuan awal siswa mengenai materi yag akan diberikan. Tahap ketiga adalah penyusunan ulang gagasan
(restructuring of ideas), tahap ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu pengungkapan dan pertukaran gagasan (clarification and exchange), pembukaan pada situasi konflik (eksposure to conflict situation), serta konstruksi gagasan baru dan evaluasi (construction of new ideas and evaluation).
Tahapan ketiga ini dilakukan dengan bentuk diskusi kelompok kecil tanpa adanya pembenaran atau guru menyalahkan siswa. Pada tahap pembukaan ke situasi konflik siswa diberikan kebebasan untuk mengungkapkan gagasan awal mereka berdasarkan diskusi dengan kelompok secara bebas. Gagasan yang mereka sampaikan didukung dengan telaah yang mereka lakukan dengan membaca buku teks. Tahap keempat adalah penerapan gagasan (application of ideas). Setelah melewati situasi konflik, untuk menguatkan gagasan yang telah disampaikan, siswa diberikan kesempatan untuk melakukan percobaan. Percobaan yang dilakukan untuk membuktikan pedapat atau gagasan awal mereka. Setelah melakukan percobaan, siswa diberikan kesempatan
untuk berdiskusi serta menyusun gagasan baru atau menguatkan gagasan awal. Tahap kelima yaitu pemantapan gagasan
(review change in ideas). Pada tahap ini, guru memberikan kesempatan siswa untuk meyampaikan hasil percobaan dan gagasan barunya. Pada kesempatan ini akan ada umpan balik baik dari guru maupun siswa kelompok lain untuk memperkuat konsep ilmiah dari gagasan yang didapat berdasarkan percobaan tersebut. Tahapan pada model pembelajaran CLIS ini secara tidak disadari akan membantu siswa untuk mengubah (merekonstruksi) konsepsi awal siswa yang salah menuju konsepsi yang benar dengan melewati pembelajaran yang menarik dan bermakna. Dari uraian masing-masing tahapan model pembelajaran CLIS, kelebihannya adalah kebermaknaan pembelajaran melalui kegiatan ekperimen yang dilakukan siswa, gagasan siswa lebih mudah dimunculkan serta siswa menjadi aktif, kreatif dan terjadi kerjasama antara siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Kekurangan model pembelajaran CLIS ini adalah membutuhkan ruang yang cukup untuk melakukan eksperimen, siswa yang belum terbiasa dengan cara belajar diskusi akan menemui kesulitan dalam hal kerjasama dan sulitnya untuk memantapkan waktu yang tepat pindah dari satu fase ke fase yang lainnya. Jika guru lupa untuk memantapkan gagasan baru siswa hasil dari percobaan yang telah dilakukan, siswa tersebut akan kembali ke konsep atau gagasan awal.
Berdasarkan penjabaran tersebut, dilakukanlah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran
Children Learning In Science (CLIS) dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng Tahun Pelajaran 2013/2014.
METODE
Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi eksperimen)
karena bertujuan untuk memperoleh
informasi dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasikan semua variabel yang relevan. Penelitian ini dilaksanakan pada di SD Gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Waktu penelitian yaitu pada rentang waktu semester genap bulan Maret sampai April pada tahun pelajaran 2013/2014.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas IV SD di Gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng yang berjumlah 147 siswa. Sebelum menentukan sampel, dilakukanlah uji kesetaraan untuk mengetahui kesetaraan hasil belajar IPA kelas IV di Gugus III Kecamatan Busungbiu. Untuk menguji kesetaraan, digunakan analisis varian satu jalur (ANAVA A). Berdasarkan hasil uji Anava dengan uji Fisher didapatkan Fhitung sebesar
26,71. Hasil F hitung lebih besar daripada Ftabel dengan taraf signifikansi 5% (2,08) maupun 1 % (2,79). Hal ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil belajar IPA kelas IV SD di Gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Karena hasilnya sigifikan, untuk mengetahui sekolah yang hasil belajarnya setara perlu dilanjutkan dengan uji lanjut yaitu uji-t. Dari 8 sekolah yang tergabung dalam Gugus III Kecamatan Busungbiu, dapat dibuat 28 paket kelas. Paket kelas yang yang tidak layak digunakan sebanyak 12 paket. Setelah dilakukan uji kesetaraan dengan uji-t didapatkan 14 paket kelas yang tidak setara dan 2 paket kelas yang setara.paket kelas yang setara pertama adalah paket kelas dari SD N 2 Bengkel dan SD N 3 Bengkel, sedangkan paket kelas setara kedua adalah SD N 2 Bengkel dan SD N 3 Umajero.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan teknik random sampling. Paket kelas yang dinyatakan setara kemudian di acak untuk menentukan paket kelas yang nantinya dikenai perlakuan.. Penentuan ini menggunakan teknik undian dengan menetapkan paket kelas yang muncul sebagai paket kelas sampel. Paket kelas sampel yang didapatkan dari hasil undian adalah kelas IV dari SD No. 2 Bengkel dan SD No. 3 Bengkel. Kemudian dilakukan undian lagi untuk menentukan
kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari hasil undian didapatkan bahwa kelas IV dari SD No. 2 Bengkel sebagai kelas kontrol dan kelas IV dari SD No. 3 Bengkel sebagai kelas eksperimen. Kelas eksperimen adalah kelas yang diberikan perlakukan dengan menetapkan model pembelajaran CLIS dan kelas kontrol adalah kelas yang diberikan perlakukan dengan menerapkan model pembelajaran konvensional.
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian eksperimen semu ini adalah nonequivalent posttest
only control group design yang
digambarkan pada tabel berikut. Tabel 2. Rancangan Penelitian
Kelompok Perlakuan Post-test
E X O1
K - O2
(dimodifikasi dari Cook & Campbell dalam Hastjarjo,2008:14)
Keterangan :
E : Kelompok eksperimen K : kelompok kontrol
X : ada treatment (model pembelajaran CLIS) - : tidak menerima treatment
O1 : Post-test pada kelompok
eksperimen (hasil belajar IPA) O2 : Post-test pada kelompok kontrol
(hasil belajar IPA)
Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu model pembelajaran Children
Learning In Science dan model
pembelajaran konvensional, sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar siswa. Prosedur penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap awal, tahap pelaksanaan dan tahap akhir. Pada tahap awal dilakukan observasi awal ke sekolah tujuan hingga mempersiapkan proposal
penelitian. Tahap pelaksanaan adalah tahap untuk melakukan uji coba sampai pemberian perlakukan kepada kelas sampel. Pada tahap akhir dilakukan post-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, menganalisis hasil penelitian dan menyusun laporan penelitian. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode tes dengan instrumen penelitian berupa tes pilihan ganda dengan soal yang berjumlah 20 butir. Dalam tes pilihan ganda ini, bentuk tes terdiri dari pernyataan (pokok soal), alternatif jawaban yang mencakup kunci jawaban dan pengecoh (distractor). Soal yang dijawab benar bernilai 1 sedangkan soal yang dijawab salah bernilai 0. Instrumen penelitian sebelum diujikan, dilakukan validasi pakar terlebih dahulu kemudian dilakukan uji coba. Setelah uji coba soal tersebut akan dianalisis validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya bedanya.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Teknik analisis deskriptif berupa penghitungan mean, median, modus, standar deviasi dan varians. Hasil analisis deskpriptif kemudian disajikan dalam kurva poligon. Teknik statistik inferensial didahului dengan uji prasyarat yang berupa uji normalitas dan uji homogenitas. Data dapat dianalisis dengan statistik inferensial setelah data tersebut melewati uji prasyarat dan dinyatakan berdistribusi normal serta homogen. pada statistik inferensial, untuk menguji hipotesis digunakan independent sample t-test dengan rumus polled varians.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Rekapitulasi perhitungan data hasil penelitian tentang hasil belajar IPA siswa kelas IV pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3.Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV
Statistik Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
Mean 14,50 8,31
Median 14,90 7,90
Statistik Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Varians 12,92 15,67 Standar Deviasi 3,59 3,96 Skor minimum 8 3 Skor maksimum 19 17 Rentangan 11 14
Hasil analisis mean (M), median (Me), modus (Mo) hasil belajar IPA siswa kelas IV pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada tabel diatas kemudian disajikan dalam bentuk kurva poligon untuk menafsirkan sebaran data hasil belajar IPA pada kelompok eksperimen serta kecenderungan perolehan skor siswa pada dua kelompok tersebut. seperti pada gambar 1 dan 2. Pada kelompok eksperimen seperti terlihat ada tabel diatas diketahui modus lebih besar daripada median dan median lebih besar daripada mean (Mo>Md>M). Dengan demikian, kurva poligon kelompok eksperimen adalah kurve juling negatif yang berarti skor yang diperoleh siswa cenderung tinggi. Kurva poligon kelompok eksperimen disajikan pada gambar dibawah ini.
Gambar 1. Kurva poligon data hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen
Pada kelompok kontrol diketahui modus lebih besar dari median dan median lebih besar dari mean (Mo<Md<M). Dengan demikian, kurva di atas adalah kurva juling positif yakni skor yang diperoleh siswa cenderung rendah. Kurva poligon kelompok kontrol disajikan pada gambar berikut.
Gambar 2. Kurva poligon data hasil belajar IPA siswa kelompok kontrol
Setelah dilakukan analisis statistik deskriptif dilanjutkan dengan analisis statistik inferensial. Uji prasyarat dilakukan sebelum menuju pada uji hipotesis. Uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas kelompok ekperimen dan kelompok kontrol menunjukkan bahwa kedua kelompok tersebut berdistribusi normal. Ringkasan hasil uji normalitas sebaran data tersaji pada tabel berikut.
Tabel 4. Rekapitulasi uji normalitas
Data Hasil Belajar hit 2
χ
χ
2tabel Status Kelompok Eksperimen 3,0966 7,815 Normal Kelompok Kontrol 0,8450 7,82 NormalAnalisis selanjutnya adalah analisis data dengan melakukan uji homogenitas. Uji homogenitas dianalisis dengan menggunakan rumus uji Fisher dengan kriteria data homogen jika Fhitung < Ftabel.
Fhitung hasil belajar IPA siswa kelompok
eksperimen dan kontrol adalah 1,21. Untuk Ftabel dengan dbpembilang = 18, dbpenyebut = 15,
ini berarti Fhitung < Ftabel sehingga varians data
hasil hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen.
Setelah uji prasyarat terpenuhi dengan data normal serta homogen, analisis data dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan independent sample t-test dengan rumus polled varians.
Hipotesis yang diuji adalah terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Children Learning In Science (CLIS) dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV Gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng pada tahun pelajaran 2013/2014. Berdasarkan hasil perhitungan
uji-t, diperoleh thitung sebesar 29,305.
Sedangkan ttabel dengan db = 33 dan taraf
signifikansi 5% adalah 2,0357. Hal ini berarti thitung lebih besar dari ttabel (thitung >
ttabel) sehingga H0 ditolak atau H1 diterima.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran
Children Learning In Science (CLIS) dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV Gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng pada tahun pelajaran 2013/2014. Ringkasan hasil uji hipotesis disajikan pada tabel dibawah ini.
Tabel 5. Ringkasan Hasil Uji Hipotesis
No. Data Hasil Belajar Varians n Db thitung ttabel Kesimpulan
1 Kelompok Eksperimen 12,92 19 33 29,305 2,0357 thitung > ttabel
H0 ditolak
2 Kelompok Kontrol 15,67 16
Hasil analisis data dari penelitian eksperimen semu yang telah dilaksanakan di Gugus III Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng pada tahun pelajaran 2013/2014 menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Children Learning In Science
(CLIS) dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Hal ini ditinjau dari analisis data dengan menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. Analisis data dengan statistik deskriptif menunjukkan bahwa hasil belajar IPA siswa kelas IV di kelas eksperimen lebih tinggi daripada hasil belajar IPA siswa kelas IV di kelas kontrol. Rerata skor hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yang mendapat perlakuan dengan implementasi model pembelajaran CLIS adalah 14,50 dan berada pada kategori tinggi. Rerata skor hasil belajar siswa pada kelas kontrol yang tidak dikenai perlakuan adalah 8,32 dan berada pada kategori rendah. Hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen yang digambarkan pada grafik poligon tampak bahwa kurve sebaran data merupakan kurve juling
negatif yang berarti sebagian besar skor yang diperoleh siswa cenderung tinggi. Pada kelompok kontrol, skor hasil belajar IPA siswa yang digambarkan dalam grafik poligon tampak bahwa kurve sebaran data merupakan kurve juling positif yang artinya sebagian besar skor yang diperoleh siswa cenderung rendah.
Data yang telah dianalisis dengan statistik deskriptif kemudian diuji dengan statistik inferensial dengan menggunakan uji-t (t-test). Berdasarkan analisis data menggunakan uji-t didapatkan bahwa nilai thitung = 29,305 dan ttabel = 2,0357 (db = 33
dengan taraf signifikansi 5%). Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa thitung lebih besar dari ttabel (thitung > dari ttabel)
sehingga hasil penelitian adalah signifikan. Hal ini berarti, terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran CLIS dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV di Gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2013/2014.
Perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran CLIS dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional disebabkan karena perbedaan perlakuan pada saat proses pembelajaran dan cara penyampaian materi serta keberagaman kegiatan yang dilakukan saat pembelajaran. Pada kelas kontrol, pembelajaran masih terpusat pada guru (teacher centered). Model pembelajaran konvensional memposisikan guru sebagai satu-satunya informan atau sumber belajar sedangkan siswa hanya menjadi pendengar (auditif). Penyampaian materi dalam pembelajaran konvensional tersebut lebih banyak dilakukan melalui metode ceramah, tanya jawab, serta penugasan yang berlangsung secara terus menerus.
Sulaeman (dalam Rasana. 2009: 20) mengatakan bahwa “para siswa mudah mengabaikan guru-guru yang cara mengajarnya berulang-ulang dan karenanya tidak menarik perhatian mereka”. Hal ini sangat jelas mengakibatkan siswa menjadi sangat pasif serta siswa terkesan enggan mengikuti pembelajaran dengan suasana monoton yang didominasi oleh guru. Kegiatan pembelajaran mejadi kaku karena siswa melewati sesi tanya jawab saat ada instruksi dari guru yang melontarkan pertanyaan dan siswa menjawab. Pembelajaran yang menekankan pada hapalan akan mematikan kreatifitas siswa dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemahaman siswa terhadap materi akan rendah karena siswa dituntut untuk menghapal bukan memahami. Hal tersebut akan berdampak pada hasil belajar yang cenderung rendah karena siswa jarang atau tidak pernah diberikan kesempatan membuktikan fenomena dari materi yang diberikan oleh guru dengan melakukan kegiatan eksperimen atau percobaan sederhana.
Pada kelas eksperimen, model pembelajaran yang diterapkan adalah model pembelajaran Children Learning In
Science (CLIS). Hal yang membedakan
model pembelajaran CLIS dengan model pembelajaran konvensional adalah tahapan
pada model pembelajaran CLIS yang mengutamakan aktivitas terpusat pada siswa, memberi ruang kepada siswa untuk membuktikan fenomena dari materi yang diberikan serta memberikan kebebasan siswa untuk menyatakan gagasannya dalam pembelajaran. Dalam model pembelajaran ini, siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan berbagai gagasan tentang topik yang dibahas dalam pembelajaran, mengungkapkan gagasan serta membandingkan gagasan dengan gagasan siswa lainnya dan mendiskusikannya untuk menyamakan persepsi. Selanjutnya siswa diberi kesempatan merekontruksi gagasan setelah membandingkan gagasan tersebut dengan hasil percobaan, observasi atau hasil mencermati buku teks. Di samping itu, siswa juga mengaplikasikan hasil rekontruksi gagasan dalam situasi baru (Driver dalam Handayani,dkk., 2004).
Tahap pertama dari model pembelajaran CLIS adalah orientasi
(orientation). Pada tahap ini guru
melakukan kegiatan awal untuk memusatkan perhatian siswa dengan menunjukkan fenomena alam atau kejadian sehari-hari terkait dengan materi yang diberikan. Tahap kedua adalah pemunculan gagasan (elicitation of ideas). Guru memunculkan gagasan siswa dengan meminta siswa menuliskan apa saja yang terlintas dipikiran mereka setelah melihat hal yang ditunjukkan oleh guru. Selain itu, bisa juga dengan melakukan tanya jawab ringan untuk mengeksplorasi pengetahuan awal siswa mengenai materi yag akan diberikan. Tahap ketiga adalah penyusunan ulang gagasan (restructuring of ideas), tahap ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu pengungkapan dan pertukaran gagasan (clarification and exchange), pembukaan pada situasi konflik (eksposure to conflict situation), serta konstruksi gagasan baru dan evaluasi (construction of new ideas and
evaluation). Tahap keempat adalah
penerapan gagasan (application of ideas). Setelah melewati situasi konflik, untuk menguatkan gagasan yang telah disampaikan, siswa diberikan kesempatan untuk melakukan percobaan. Percobaan yang dilakukan untuk membuktikan pedapat atau gagasan awal mereka. Setelah
melakukan percobaan, siswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi serta menyusun gagasan baru atau menguatkan gagasan awal. Tahap kelima yaitu pemantapan gagasan (review change in ideas). Pada tahap ini, guru memberikan kesempatan siswa untuk meyampaikan hasil percobaan dan gagasan barunya.
Berdasarkan tahapan-tahapan pembelajaran dari model pembelajaran CLIS, keunggulannya adalah siswa belajar memberikan gagasan serta bekerja sama dalam memecahkan masalah. Suasana belajar menjadi lebih kreatif dan aktif karena siswa diajak untuk menemukan pengetahuan dengan melakukan observasi atau percobaan serta membandingkannya dengan pengetahuan awal siswa. Guru mengajar dengan efektif sehingga kegiatan belajar menjadi bermakna dengan siswa yang menemukan konsep ilmiah melalui kegiatan percobaan baik di dalam maupun diluar kelas. Pendapat ini didukung oleh temuan dari Widyarti (2012) tentang tingkat ketertarikan siswa yang tinggi pada pembelajaran dengan percobaan dan pengamatan. Widyarti (2012) menyatakan bahwa dalam tahapan CLIS, kreativitas juga mengalami perkembangan artinya dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya sekedar mendengar, mencatat, kemudian menghapal materi saja, akan tetapi dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa dengan cara mengamati dan melakukan penelitian.
Model pembelajaran CLIS ini telah beberapa kali diterapkan oleh beberapa peneliti. Salah satunya adalah Jayanti (2013) yang mengadakan penelitian di SD No 2 Sukasada kelas IV semester I dengan menerapkan model pembelajaran Children
Learning In Science (CLIS). Jenis
penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Fokus penelitian berupa kemampuan berfikir rasional dan hasil belajar IPA. Pada saat penerapan model CLIS siklus I presentasi secara klasikal hasil belajar memperoleh nilai sebesar 67% dan presentasi kemampuan berpikir rasional sebesar 60,7%, termasuk dalam kategori rendah. Karena hasil belajar masih dalam kategori rendah maka penelitian dilanjutkan ke siklus II. Peningkatan yang signifikan terlihat pada
hasil belajar di siklus II. Hasil belajar pada siklus II sebesar 81% dan tergolong pada kategori tinggi. Sedangkan untuk berpikir rasional secara klasikal memperoleh nilai sebesar 86% dan juga termasuk kategori tinggi. Berdasarkan hasil tersebut model pembelajaran Children Learning In Science
mampu mengoptimalkan hasil belajar dan meningkatkan kemampuan berpikir rasional siswa.
Wiguna (2010) mengadakan penelitian di kelas V SD N 1 Banyuasri dengan model CLIS berbantuan media CD pembelajaran. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Pada siklus I dengan penerapan model pembelajaran CLIS ini presentasi klasikal hasil belajar siswa yaitu 65,30% dan berada pada interval 65-79 pada PAP skala 5 yang termasuk pada kategori sedang. Pada siklus II, hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran Children Learning In Science
meningkat menjadi 84,06 dan tergolong pada kategori tinggi. Berdasarkan analisis, maka model pembelajaran Children Learning in Science dengan berbantuan media CD pembelajaran pada materi pesawat sederhana memberikan konstribusi yang baik pada aspek berfikir rasional dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri I Banyuasri.
Berdasarkan pemaparan tersebut serta didukung beberapa hasil penelitian yang relevan dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara kelompok siswa yang yang dibelajarkan dengan model pembelajaran CLIS dan kelompok siswa yang yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV di gugus III. Dengan demikian, model pembelajaran CLIS berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV di gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng pada tahun pelajaran 2013/2014.
PENUTUP
Berdasarkan pemaparan dari hasil penelitian berdasarkan analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran Children Learning In Science
(CLIS) dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD di Gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2013/2014. Hasil tersebut dibuktikan dari hasil analisis data dengan membandingkan rerata skor hasil belajar siswa pada kelas ekperimen dan kelas kontrol. Rerata skor hasil belajar siswa pada kelas eksperimen adalah 14,50 dan pada kelas kontrol adalah 8,32. Untuk uji hipotesis digunakan uji-t (t-test) dengan rumus polled varians yang menunjukkan bahwa nilai thitung adalah
29,305 dan ttabel adalah 2,0357 (db = 33
dengan taraf signifikansi 5%). Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa thitung lebih besar dari ttabel (thitung > dari ttabel)
sehingga hasil penelitian adalah signifikan. Hal ini berarti, terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran CLIS dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV di Gugus III Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2013/2014.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut, 1) bagi guru hendaknya tidak hanya menargetkan siswa untuk menguasai kompetensi IPA tanpa memberikan pembelajaran yang bermakna bagi mereka. Para guru disarankan untuk lebih berinovasi dalam menerapkan berbagai model pembelajaran seperti model pembelajaran CLIS untuk meningkatkan hasil belajar siswa, 2) peneliti yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut tentang model pembelajaran konstruktivistik yaitu model pembelajaran CLIS agar memperhatikan kendala yang berupa keterbatasan waktu serta biaya dalam penelitian, hal tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk penyempurnaan dan perbaikan dari penelitian yang akan dilaksanakan selanjutnya.
DAFTAR RUJUKAN
Handayani, Sri, dkk. 2004. Pengembangan
Model Pembelajaran Children
Learning in Science Meningkatkan Keterampilan Berpikir Rasional. Jurnal Pendidikan Vol 5 halaman 37-47. FKIP Semarang.
Hastjarjo, Dicky. 2008. Ringkasan Cook, Thomas D & Campbell, Donald T.
(1979) Quasi Experimentation:
Design & Analysis Issues For Field Settings. Houghton Mifflin Company Boston.
http://dickyh.staff.ugm.ac.id/wp/wp-content/uploads/2009/ringkasan%20 buku%20quasi-experimentakhir.pdf, diakses tanggal 4 Februari 2014. Jayanti, Kadek Yuli Dwi. 2012. Penerapan
Model Pembelajaran Children
Learning In Science Untuk
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Rasional dan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV Semester I di Sekolah Dasar No. 2 Sukasada Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2012/2013. Skripsi (Tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha.
Rasana, I Dewa Putu Raka. 2009. Laporan
Sabbatical Leave Model-Model
Pembelajaran. Singaraja: Undiksha. Samatowa, Usman. 2010. Pembelajaran
IPA di Sekolah Dasar. Cetakan Ke-1. Jakarta: Indeks.
Sudana, Dewa Nyoman, dkk. 2010. Bahan Ajar Pendidikan IPA SD. Singaraja: Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan
Pembelajaran di Sekolah Dasar. Edisi Pertama. Cetakan Ke-1. Jakarta: Kencana.
Widyarti, Aktris, dkk. 2012. “Pengaruh Model Pembelajaran CLIS (Children
Learning In Science) dalam
Meningkatkan Kreativitas dan Prestasi Siswa Pada Mata Pelajaran IPA”. Prosiding Seminar Nasional, Pendidikan dan Penerapan MIPA. Fakultas MIPA. Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012.