• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH TAREKAT MUQTADIRIYAH DI SIDOARJO TAHUN 2006 – 2011.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SEJARAH TAREKAT MUQTADIRIYAH DI SIDOARJO TAHUN 2006 – 2011."

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH TAREKAT MUQTADIRIYAH DI SIDOARJO TAHUN 2006 ± 2011

SKRIPSI

Diajukan untuk Memasuki Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana dalam Program Strata Satu (S-1) pada Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI)

Oleh :

Aan Titis Karuniawati NIM A02211034

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)
(3)
(4)
(5)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

ABSTRAKSI ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

PERSEMBAHAN ... viii

DAFTAR ISI ... x

PEDOMAN TRANSLITERASI ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... A.Latar Belakang ... 1

B.Rumusan Masalah ... 7

C.Tujuan Penelitian ... 7

D.Kegunaan Penelitian ... 8

E. Pendekatan dan Kerangka Teoritik ... 8

F. Penelitian Terdahulu ... 8

G.Metode Penelitian ... 11

H.Sistematika Pembahasan ... 14

BAB II SELAYANG PANDANG TAREKAT MUQTADIRIYYAH A.Sejarah Lahirnya Tarekat Muqtadiriyah... 16

B.Tokoh Pembawa Tarekat Muqtadiriyah... 19

C.Konsep Dasar Tarekat Muqtadiriyah ... 30

(6)

E. Tarekat-tarekat yang Tergabung dalam Tarekat

Muqtadiriyah... 38

BAB III TAREKAT MUQTADIRIYAH DI SIDOARJO

A.Asal Mula Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo... 51

B.Peran Khalifah Hadi Sutrino dalam Perkembangan

Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo... 52

C.Ajaran dan Amaliah Tarekat Muqtadiriyah

di Sidoarjo ... 54

BAB IV RESPON MASYARAKAT SIDOARJO TERHADAP

TAREKAT MUQTADIRIYAH

A.Respon Pengikut Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo... 60

1. Tipologi Para Pengikut Tarekat Muqtadiriyah

di Sidoarjo... 61

B.Respon Masyarakat Di Luar Pengikut Tarekat

Muqtadiriyah ... 65

1. Menurut Masyarakat Nahdhatul Ulama... 65

2. Menurut Masyarakat Muhammadiyah... 67

BAB V PENUTUP

A.Kesimpulan ... 69

B.Saran ... 69

DAFTAR PUSTAKA

(7)

ABSTRAKSI

Skripsi ini berjudul “Sejarah Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo Tahun 2006 - 2011. Adapun permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini meliputi: 1). Apa itu Tarekat Muqtadiriyah, 2). Bagaimana Perkembangan Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo, 3). Bagaimana respon masyarakat Sidoarjo terhadap Tarekat Muqtadiriyah.

Sehubungan dengan hal itu, maka dalam penelitian skripsi ini menggunakan metode sejarah untuk memberikan fakta perkembangan Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo dari tahun 2006-2011. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosio-religi untuk memperoleh data-data yang lebih kongkrit dan valid mengenai hubungan sosial keagamaan.

Hasil dari penelitian ini adalah bahwa tarekat Muqtadiriyah adalah tarekat baru yang merupakan gabungan dari lima tarekat, yaitu tarekat Qadiriyah,

(8)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tarekat secara etimologis berarti jalan, cara (Al-Kaifiyyah), metode,

sistem (Al-Uslub), madzhab, aliran, haluan (Al-Madhhab), keadaan (Al-Halah),

pohon kurma yang tinggi (An-Nakhlah At- awilah), tiang tempat berteduh,

tongkat payung (‘Amud Al-Mizallah), yang mulia, terkemuka dari kaum (Sharif

Al-Qaum), goresan / garis pada sesuatu (Al-Khatt fis Sha’i). Tarekat adalah suatu jalan yang didirikan oleh seseorang yang memiliki kwalifikasi wilayah spiritual

dengan baik, benar dan tepat, sehingga dengan metode dhikir ataupun

pengamalan lainnya yang diajarkan kepada jamaahnya (murid-muridnya), akan

menjadi cara-cara yang sangat efektif untuk mencapai pencerahan hati yang

menjadi idaman semua manusia dalam hidup ini sampai di akhirat kelak. Telah

banyak tarekat yang didirikan, boleh dikatakan sampai ratusan tarekat yang ada

sekarang ini, apakah tarekat itu telah berskala menyeluruh (mendunia), atau

masih bersifat lokal saja. Walau demikian tidak tertutup kemungkinan akan lahir

lagi berbagai bentuk tarekat yang lainnya (yang baru). Misalnya sebelum

lahirnya tarekat Sammāniyyah (Tarekat Muhammadiyah), Shaikh Muhammad

bin „Abdul Kārim al Madani al Shafi‟i al Sammān, adalah membuka cabang

tarekat Khalwatiyah. Disamping memiliki khirqat tarekat Khalwatiyah, beliau

juga memiliki kharqat (hak mengajar) dari tarekat lainnya, yaitu tarekat

Naqshabandiyah, Qādiriyah, Shaziliyah, tapi kemudian Shaikh Sammān

(9)

2

ajaran mistis semua tarekat yang beliau miliki, dengan menambahkan beberapa

hal baru, seperti Qaṣidāh serta nadham yang disusunnya sendiri. Racikan

berbagai tarekat ini kemudian menjadi satu nama : “tarekat Sammāniyah”.

Pola tarekat ini tidaklah Genuine (Asli), karena hal ini juga bukanlah

suatu persoalan baru dalam dunia tasawwuf, karena ada juga contoh yang

lainnya yang membentuk ajaran tarekat bukan “asli”, adalah Shaikh Uthmān al

Mirghani yang mendirikan tarekat “Khatmiyah”, yang tidak lain merupakan

racikan dari penggabungan tarekat Naqshabandiyah, Qādiriyah, Shaziliyah,

Junaidiyah dan Mirghāniyah. Ada juga yang terjadi di Nusantara (Indonesia),

Shaikh Ahmad Khatib Sambas, seorang ulama Kalimantan yang menetap di

Makkah (pertengahan abad 19), melahirkan tarekat dengan nama “Qādiriyah wa Naqshabandiyah”, yang mana beliau meracik dari 5 (lima) tarekat yang beliau

miliki hak untuk mengajarnya, yaitu tarekat Naqshabandiyah, Qādiriyah,

Anfasiyah, Junaidiyah dan tarekat al Muwāfaqah.1 Semangat yang tumbuh di

dalam diri jama‟ah dalam pengalaman beberapa jenis tarekat, sebagaimana

contoh-contoh di atas, tidak kemudian menjadi surut dikarenakan racikan baru

dan dengan nama baru pula, karena sesungguhnya racikan baru hanya

merupakan ke-khas-an dari Shaikh atau Murshid yang memimpinnya, sedangkan

kandungannya menghimpun seluruh nilai tarekat yang diamalkan sebelumnya.

Pembahasan tentang tarekat sudah sering diulas oleh para ahli,

mengingat sudah banyak penelitian yang mengupas tuntas tentang berbagai

macam aliran tarekat yang ada di Indonesia. Akan tetapi dalam pembahasan kali

1

(10)

3

ini penulis akan mencoba untuk menguraikan tentang sejarah dan keunikkan

salah satu tarekat yang ada di Indonesia, yakni tarekat Muqtadiriyah. Tarekat

Muqtadiriyah merupakan gabungan dari lima tarekat, diantaranya tarekat

Qādiriyah, Rifa’iyah, Musṭafawiyah, Tajul Khalwatiyah wa Sammāniyah. Hal

tersebut berdasarkan Ilham yang telah diterima oleh sang Murshid, yaitu

Al-Habib Rā‟is Ridjaly bin Hasyim bin Husain bin Ali bin Abdul Rahman bin

Abdullah bin Husain bin ahir Arbabul Qabḍi, dari Allah SWT melalui

kebenaran Sayyidina Muhammad SAW dan lantaran barakat Tuan wali Shaikh

Abdul Qādir Jailāni, Tuan wali Shaikh Yusuf Gowa dan Tuan wali Shaikh

Musṭafa bin Syaikh Muhyiddin. Habib Rā‟is telah diberi izin atau diperintahkan

untuk menggabungkan kelima tarekat (Qādariyah, Rifā’iyah, Musṭafawiyah,

Tajul Khalwatiyah wa Sammāniyah) menjadi satu nama, yaitu tarekat

Muqtadiriyah. Perintah itu diterima oleh Habib Rā‟is dalam tafakur beliau pada

hari senin malam selasa (telah terhitung selasa), tanggal 13 Mei 2008, bertepatan

dengan tanggal 07 Jumadil Awwal 1429 H, pukul 00.13 WIB di ruang duduk

rumah beliau.2 Adanya perintah dari sang guru secara gaib, Murshid memiliki

landasan dan beranggapan bahwa setiap orang muslim harus percaya yang gaib.

Setiap orang berbeda dalam menerima hal gaib, karena berbeda dalam

mengetahui hal gaib. Seorang ulama beda dengan tukang cukur. Bisa jadi

seorang tukang cukur lebih baik dari seorang ulama. Bukan karena tingkatan

ilmunya, lalu seorang ulama lebih baik dari tukang cukur dalam menerima hal

gaib dari dirinya. Misal : Ada seorang biasa di Buton yang bisa mencabut pohon

2

(11)

4

besar dengan menyebut 3 kata, sementara seorang kiai dengan menyebut 3 kata

itu tidak bisa apa-apa. Seorang Mursyid sudah tahu cara mendengar suara gaib

dari dalam dirinya. Dari siapakah suara dalam dirinya, para Murshid sangat

mengenalinya. Percaya kepada ketentuan Allah yang baik ataupun yang buruk

termasuk dalam Rukun Iman. Tentu segala sesuatu atas ketentuan Allah SWT :









.

Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.3

Kemungkinan besar didalam pemikiran kita yang bukan termasuk seorang

murid sebuah tarekat, hal-hal yang bersifat gaib seperti peristiwa diatas sangat

terkesan aneh. Namun hal demikian menjadi sesuatu yang lazim dalam dunia

tasawuf. Dalam tarekat ini, Habib Rā‟is diperintahkan untuk menyusun

pengamalannya serta dhikir-dhikir yang digabungkan dari kelima tarekat

tersebut, serta menambahkan kedalamnya dhikir dari Ratib Muhammadiyah,

Ratib Rifā‟iyah, dhikir Asmaul Husna yang diambil dari kitab Shamsul Anwar

yang disusun oleh Shaikh Abdul Rahman Al-Maghribi, Hiẓib Shaikh Abu Hasan

As-Shadzily, dhikir dan wiridnya Habib Hashim bin Husain bin ahir (Shaikh

Murshid Tarekat At-Taufiqiyah An-Nuriyah) yang beliau sebut sebagai tarekat

Ahlu Bait, serta nadham-nadham maupun syair-syair.4 Perkembangan tarekat ini

dijalankan secara teratur dan sistematis. Kehidupan kelompok dalam tarekat ini

berada di bawah naungan majelis Al-Abrar dan dibentuknya zawiyah-zawiyah di

3

Al-Qur‟an, 2 (Al-Baqarah) : 20. 4

(12)

5

wilayah kabupaten atau kota. Upacara keagamaan dalam tarekat ini diantaranya

diadakannya pembacaan Manaqib Sheikh Abdul Qādir Jailāni dan nadham

Sheikh Kabir Ar-Rifā‟i, perayaan maulid Nabi Muhammad Saw, pembacaan

Maulid Ad-Diba‟i dan permainan debus.

Sedangkan kesadaran sosial dalam tarekat ini diwujudkan dalam

pemberian tunjangan sosial bagi masyarakat yang kurang mampu dan

memberikan bantuan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Bertarekat secara

langsung membentuk kehidupan berkelompok, hal ini merupakan tujuan utama

untuk menciptakan interaksi dalam berbagai pelayanan, sehingga dapat menjadi

ladang yang subur untuk menanam benih-benih silaturahmi serta perbuatan baik

lainnya diantara sesama manusia. Tarekat Muqtadiriyah dalam menjalankan

kehidupan berkelompok sekarang berada di rumah Murshid Muqtadiriyah di

Bekasi dan di zawiyah-zawiyah5 yang berada di beberapa kabupaten/kota bahkan

di luar negeri seperti Malaysia. Tujuan dari padepokan tarekat di atas, adalah

untuk mencapai suatu nilai pendidikan dan penyucian diri secara kolektif, yang

secara terus-menerus terjadi interaksi antara murshid dengan murid-muridnya.6

Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu sistem

kerahasiaan, sistem kekerabatan persaudaraan, dan sistem hirarki seperti

Khalifah Tawajjuh atau Khalifah Suluk, Sheikh atau Murshid, Wali atau

Qutubh.7 Berkaitan dengan hal ini, tarekat Muqtadiriyah hadir di Sidoarjo yang

dibawa oleh Al-Habib Rā‟is Ridjaly, yang kemudian dipertemukan dengan

Bapak Hadi Sutrisno melalui perantara sang adik yang merupakan murid dari

5

Zawiyah adalah pusat kegiatan sufi 6

Khalifah Agus, Sejarah Tarekat Muqtadiriyah (Bogor : t. P, 2014) 7

(13)

6

Habib Rā‟is Ridjaly di Sulawesi. Bapak Hadi Sutrisno pun dibai‟at tarekat Tajul

khalwatiyah oleh Habib Muhammad Iman Habib pada tahun 2004. Kemudian

dibai‟at tarekat Qādiriyah Rifā’iyah Musṭafawiyah tahun 2007. Setelah itu,

Bapak Hadi Sutrisno dibai‟at oleh Habib Rā‟is Ridjaly tarekat Muqtadiriyah

pada tahun 2010. Hingga pada akhirnya Bapak Hadi Sutrisno diangkat dan

diberi kepercayaan sang murshid untuk menjadi khilafah di Sidoarjo Jawa

Timur.

Menurut Bapak Hadi Sutrisno, dengan dhikir dan ṣalawat kita bisa selalu

ingat kepada Allah dan RasulNya. Pada saat ini, Bapak Hadi Sutrisno

menyamarkan amaliyah ṣalawat dengan menggunakan seni Hadrah. Karena

sebelumnya, warga sekitar menganggap apa yang dilakukan Bapak Hadi

Sutrisno beserta jama‟ahnya itu sesat. Maka dari itu, beliau menambahkan unsur

seni yang sedang populer pada saat ini yaitu bershalawat dengan diiringi alat-alat

musik seperti rebana dan semacamnya, agar penafsiran warga yang menganggap

kegiatan tarekat Muqtadiriyyah itu sesat, bisa tersamarkan.8 Karena tarekat ini

masih baru dan terkesan awam bagi masyarakat sekitar lingkungan Bapak Hadi

Sutrisno, maka pengikut tarekat ini masih didominasi oleh orang di luar desa

dimana Bapak Hadi Sutrisno tinggal, seperti Tulangan, Candi dan Tanggul

Angin. Berawal dari situlah penulis tertarik untuk membahas lebih jauh

mengenai seluk-beluk tarekat tersebut. Selain itu, penulis akan memaparkan

unsur-unsur beberapa tarekat yang terdapat didalam tarekat Muqtadiriyah.

Hingga dapat diketahui akan tujuan dan motivasi dalam ajaran tarekat ini, yang

8

(14)

7

terkait dengan penggabungan lima tarekat menjadi tarekat baru. Berdasarkan

penjelasan diatas, maka penulis ingin memaparkan kejadian itu dalam skripsi

dengan judul “ Sejarah Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo Tahun 2006 – 2011 M

”.

B. Ruang Lingkup dan Rumusan Masalah

Untuk memperjelas permasalahan dan mempermudah penulisan skripsi,

penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut :

1. Apa itu Tarekat Muqtadiriyah?

2. Bagaimana Perkembangan Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo?

3. Bagaimana Respon Masyarakat Sidoarjo Terhadap Tarekat Muqtadiriyah?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penulis akan menjelaskan

tujuan dari penulisan skripsi ini, yaitu :

1. Untuk mengetahui tarekat Muqtadiriyah secara jelas.

2. Untuk mengetahui perkembangan tarekat Muqtadiriyah di Sidorjo.

3. Untuk mengetahui respon masyarakat Sidoarjo terhadap tarekat

Muqtadiriyah.

D. Kegunaan Penelitian

Berdasarkan tujuan diatas penelitian ini dapat memberikan informasi dan

pemahaman yang lebih mendalam, maka penelitian ini dapat memberikan arti

guna kepada khazanah keilmuan.

Adapun hal-hal yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan dapat :

(15)

8

2. Berguna bagi umat Islam khususnya bagi penulis guna mengetahui informasi

ilmiah mengenai Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo.

3. Untuk menambah literatur atau bahan pustaka khususnya di perpustakaan

UIN Sunan Ampel Surabaya.

4. Agar tarekat Muqtadiriyah lebih dikenal oleh masyarakat luas khususnya

umat Islam.

5. Untuk melengkapi persyaratan memperoleh gelar S1 di Fakultas Adab dan

Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

E. Penelitian Terdahulu

Menelusuri karya-karya tulis tentang tarekat-tarekat yang ada di Sidoarjo,

dapat saya temukan sebagai berikut :

1. Totok Sudarmanto, “Tarekat Siddiqiyyah di Desa Wage, Taman,

Sidoarjo (1985 – 2008) : Studi tentang Sejarah dan Ajaran Tarekat

Siddiqiyyah,” (Skripsi IAIN Sunan Ampel Fakultas Adab, Surabaya,

2009).

Dari hasil penelusuran karya-karya terdahulu yang membahas tentang

tarekat di Sidoarjo dapat disimpulkan bahwa belum ada karya tulis skripsi yang

membahas tentang Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo.

F. Pendekatan dan Kerangka Teori

Pendekatan yang digunakan dalam skripsi ini adalah pendekatan historis.

Pendekatan tersebut akan mengungkapkan latar belakang sejarah, dimulai dari

asal-usul tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo, tokoh-tokoh serta dasar yang

(16)

9

adalah memandang suatu peristiwa masa lampau secara diakronis9, yaitu proses

sejarah yang mengalir dari masa lalu menuju masa kini dan berurutan secara

logis (memanjang dalam waktu). Dengan pendekatan historis ini, penulis

berusaha mengungkapkan bagaimana sejarah terbentuk dan munculnya tarekat

Muqtadiriyah di Sidoarjo, yang dilanjutkan dengan memperkenalkan para

tokoh-tokoh tarekat Muqtadiriyah dan memaparkan tentang unsur-unsur yang

terkandung didalam tarekat Muqtadiriyah.

Dalam pembahasan skripsi kali ini, penulis memaparkan sejarah salah

satu tarekat yang ada di Indonesia yakni tarekat Muqtadiriyah. Tarekat ini

merupakan gabungan dari lima tarekat yang terdiri dari tarekat Qādiriyah

Rifā’iyah Musṭafawiyah – Tajul Khalwatiyah wa Sammāniyah. Yang mana

Murshid tarekat Qādiriyah Rifā’iyah Musthafawiyah, Al-Habib Rā‟is Ridjaly

Bin Hasyim Bin Husain Bin Ali Bin Abdurrahman Bin Abdullah bin Husein Bin

Thohir merupakan murid dari Mursyid tarekat Tajul Khalwatiyah wa

Sammāniyah, Al-Habib Muhammad Iman Bin Laode Abdul Hakim Al-Aydrus.

Dan sebaliknya Al-Habib Muhammad Iman Bin Laode Abdul Hakim Al-Aydrus

juga merupakan murid dari Al-Habib Rā‟is Ridjaly Bin Hasyim Bin Husein Bin

Ali Bin Abdurrahman Bin Abdullah Bin Husein Bin Thohir. Hingga pada

akhirnya Habib Muhammad Iman meninggal dunia dan gelar Murshid Tajul

Khalwatiyah wa Sammaniyah pun beralih kepada Habib Rā‟is Ridjaly. Maka

dengan itu, beliau mengembangkan kelima tarekat yang beliau pegang menjadi

9

(17)

10

satu tarekat yaitu tarekat Muqtadiriyah. Dalam penggabungan antar lima tarekat

tersebut sang Murshid memiliki tujuan utama dalam amaliah dan ajarannya yaitu

kesempurnaan akhlaq.

Dengan menggunakan teori Talcott Parsons, tentang Fungsional

Struktural, menurutnya masyarakat sebagai suatu sistem memiliki struktur yang

terdiri dari banyak lembaga. Talcott Parsons berhasil mengurai lebih lanjut

konsep rasional barat pada dua tingkat yaitu tataran individu dan tataran

kelembagaan. Dalam teori ini, Parsons mengemukakan tentang konsep teori

fungsional struktural yang mencakup beberapa elemen kelompok, 10 yaitu : aktor

sebagai individu, aktor memiliki tujuan yang ingin dicapai, memiliki berbagai

cara yang mungkin dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang

diinginkannya, aktor diharapkan pada kondisi dan situasi yang dapat

mempengaruhi pemilihan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan

tersebut. Aktor dihadapkan pada kondisi dan situasi yang dapat mempengaruhi

pemilihan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, aktor

dikomando oleh nilai-nilai, norma-norma dan ide-ide dalam menentukan tujuan

yang diinginkan dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut, aktor mengambil

keputusan keputusan tentang cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan,

dipengaruhi oleh ide-ide dan situasi kondisi yang ada.

Dari teori di atas, diharapkan dapat mempermudah penulis dan pembaca

sekalian dalam memahami subtansi skripsi ini secara sistematis, ilmiah dan

10

(18)

11

integral dalam khazanah perbendaharaan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang

tarekat.

G. Metode Penelitian

Dalam penyusunan rencana penelitian, penulis akan dihadapkan pada

tahap pemilihan metode atau teknik pelaksanaan penelitian. Metode yang

digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Metode sejarah yaitu proses

menguji dan menganalisis kesaksian sejarah guna menemukan data yang otentik

dan dapat dipercaya, serta usaha yang sintesis atas data semacam itu menjadi

kisah yang dapat dipercaya.11 Sebagai bentuk kajian sejarah yang berusaha

merekonstruksikan peristiwa-peristiwa masa lampau, penulisan skripsi memakai

metode penelitian sejarah yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu :

1. Heuristik

Pada tahap ini peneliti mengumpulkan sumber-sumber yang berdasarkan

bentuk, yaitu tertulis dan tidak tertulis maupun sumber-sumber yang berdasarkan

sifat, yaitu primer dan sekunder yang sesuai dengan topik atau permasalahan

dalam penelitian yang berjudul “ Sejarah Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo

Tahun 2006 - 2011 M.

Adapun sumber yang penulis dapatkan berdasarkan dalam bentuk tertulis

adalah :

a. Berupa arsip dan dokumen tarekat Muqtadiriyah

Sumber yang penulis dapatkan berdasarkan dalam bentuk tidak tertulis

adalah :

11 Louis Gottschlak,

(19)

12

a. Observasi langsung, yaitu pengamatan terhadap kegiatan ataupun amalan

tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo.

b. Wawancara langsung dengan pemimpin (Khalifah) dan pengikut tarekat

Muqtadiriyah. Metode wawancara ini penulis gunakan untuk memperoleh

data-data tentang tarekat Muqtadiriyah

Serta adapun sumber yang penulis dapatkan berdasarkan sifat primer adalah :

a. Karya-karya tulis Mursyid : Ternyata Surat Al-Fatihah Bisa Membuat Orang

Masuk Neraka.

b. Dokumentasi berupa gambar-gambar kegiatan tarekat.

c. Karya tulis khalifah Agus berupa file yang dikirim melalui via E-mail

Sumber yang penulis dapatkan berdasarkan sifat sekunder adalah :

a. Buku-buku, literatur, artikel, yang dipakai untuk membantu menganalisa dan

menjelaskan tentang penelitian ini.

2. Vertifikasi (Kritik Sumber)

Menyelidiki keautentikan sumber sejarah baik bentuk maupun isinya.

Yakni, membandingkan berbagai sumber yang ada dengan hasil wawancara

dengan narasumber.

a. Kritik Ekstern : (otentisitas)

Segi fisik : yaitu suatu kritik sejarah pada bagian luar (substansi

masalah) yang dilihat dari jenis tinta, gaya tulisan, kertas dan lain

sebagainya yang mendukung validitas dan keautentikan sumber data.

Pada penelitian ini, peneliti tidak melakukan kritik tersebut, dikarenakan

(20)

13

b. Kritik Intern :

kritik sejarah pada bagian dalam yakni mengenai substansi masalah

berkenaan dengan materi yang terkandung dalam data yang ada. Pada

penelitian ini, penulis melakukan kritik intern yakni pada

sumber-sumber yang penulis dapatkan dari data yang ada. Yakni penulis

melakukan perbandingan antar sumber-sumber yang telah didapat, yang

nantinya sumber terakurat akan digunakan dalam penulisan.

3. Interpretasi

Interpretasi atau penafsiran terhadap sumber atau data sejarah seringkali

disebut dengan analisis sejarah. Dalam hal ini data yang terkumpul dibandingkan

kemudian disimpulkan agar bisa dibuat penafsiran terhadap data tersebut

sehingga dapat diketahui hubungan kausalitas dan kesesuaian dengan masalah

yang diteliti.12

4. Historiografi

Setelah didapatkan fakta-fakta yang diperlukan, maka langkah

selanjutnya adalah menuliskannya kedalam bentuk tulisan deskriptif secara

kronologis atau diakronis dan sistematis, sebagaimana layaknya karya tulis

sejarah. Mengingat laporan penelitian ini merupakan karya ilmiah, maka penulis

mencoba menuangkan penelitian sejarah kedalam suatu karya berupa skripsi

nantinya. Penulisan ini diharapkan memberikan gambaran yang jelas mengenai

proses penelitian dari awal hingga akhir.

12

(21)

14

Berkaitan dengan hal ini, penulis menguraikan tentang sejarah tarekat

Muqtadiriyah berdasarkan sumber yang berhasil penulis himpun mulai dari

profil singkat para Murshid, memaparkan tentang unsur-unsur tarekat yang

terdapat di dalam tarekat muqtadiriyah dan juga ajaran serta amaliyah tarekat

Muqtadiriyah.

H. Sistematika Bahasan

Sistematika dalam penulisan skripsi ini secara runtun terdiri dari lima

bab termasuk didalamnya bab pendahuluan dan penutup, yang dijabarkan dalam

garis besarnya sebagai berikut :

Bab I : Membahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penelitian terdahulu,

pendekatan dan kerangka teoritik, metode penelitian, sistematika

bahasan dan bahan / sumber.

Bab II : Membahas tentang selayang pandang Tarekat Muqtadiriyah, yang

akan memaparkan tentang sejarah lahirnya, Tokoh-tokoh, konsep

dasar dan tarekat-tarekat yang terkandung dalam tarekat

Muqtadiriyah.

Bab III : Membahas tentang Tarekat Muqtadiriyah yang ada di Sidoarjo.

Asal mula hadirnya tarekat Muqtadiriyah, peran khalifah Hadi

Sutrisno hingga menjelaskan tentang ajaran serta amaliyah tarekat

(22)

15

Bab IV : Membahas tentang Respon Masyarakat Sidoarjo terhadapa Tarekat

Muqtadiriyah dan tentang tipologi para pengikut Tarekat

Muqtadiriyah.

Bab V : Untuk bab kelima yaitu bab terakhir yang merupakan bab penutup,

(23)

BAB III

TAREKAT MUQTADIRIYAH DI SIDOARJO A.Asal Mula Datangnya Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo

Datangnya tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo tidak terlepas dari peran Habib

Iman bin Abdul Hakim Al-Aydrus yang merupakan Shaikh di Sulawesi Tenggara

Indonesia. Beliau adalah keturunan Sultan Button sehingga memiliki pengaruh

yang sangat besar dalam mengembangkan tarekat yang telah beliau terima dari

guru-gurunya. Beliau yang awal mula mengembangkan tarekat Tajul Khalwatiyah

wa Sammaniyah yang kemudian beliau dibai‟at dalam tarekat Qadiriyah,

Rifa’iyah wa Musṭafawiyah. Akhirnya pada tahun 2007 Habib Iman meninggal

dunia dan kedudukan sebagai murshid digantikan oleh Habib Rā‟is, beliau adalah

sheikh dari tarekat Qadiriyah, Rifa’iyah wa Musṭafawiyah. Setelah kedudukan

murshid dari tarekat Tajul Khalwatiyah wa Sammaniyah beralih padanya, maka

beliau menggabungkan kelima tarekat tersebut menjadi satu yang akhirnya

muncullah tarekat baru yang bernama tarekat Muqtadiriyah.1

Tarekat Muqtadiriyah tiba di Sidoarjo pada tahun 2010, dimana saat itu

khalifah Hadi dibai‟at menjadi khalifah tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo. Yang

pada awalnya bermula dari diperkenalkannya Khalifah Hadi dengan Habib Iman

bin Abdul Hakim Al-Aydrus oleh adik khalifah Hadi bernama Sugianto yang

merupakan murid Habib Iman pada saat itu. Hal tersebut terjadi pada tahun 2004

yang kemudian Khalifah Hadi diba‟iat dalam tarekat Tajul Khalwatiyah wa

Sammaniyah oleh Habib Iman. Pada tahun 2007 Khalifah Hadi kembali dibai‟at

1

(24)

52

dalam tarekat Qadiriyah, Rifa’iyah wa Musṭafawiyah oleh Habib Iman bin Abdul

Hakim. Setelah Habib Iman meninggal dunia Khalifah Hadi menjalin komunikasi

dengan Habib Rā‟is melalui telepon. Hingga akhirnya pada tahun 2008, Khalifah

Hadi bertemu dengan Habib Rā‟is. Kemudian pada tahun 2010 Khalifah Hadi

dibai‟at dalam tarekat Muqtadiriyah oleh Habib Rā‟is di rumah Khalifah Hadi.

Karena pada saat itu Habib Rā‟is melakukan kunjungan ke tempat tinggal

Khalifah Hadi di Sidoarjo.

B.Peran Hadi Sutrisno Terhadap Perkembangan Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo

Dalam perkembangan tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo, Khalifah

Hadi memiliki peran yang sangat besar disini. Setelah mendapat izin

mengamalkan tarekat Muqtadiriyah oleh Habib Rā‟is, Khalifah Hadi mulai

menerapkan ilmu yang didapatnya dalam kehidupan sehari-hari. Karena ajaran

tarekat Muqtadiriyah mengacu pada kebaikan akhlak, maka hal tersebut haruslah

nampak dikehidupan sehari-hari. Untuk mengembangkan tarekat Muqtadiriyah di

wilayah sekitar beliau tidaklah mudah. Beliau awalnya mendapat kecaman dari

beberapa pihak, ternyata salah satu pihak adalah sama-sama pengikut tarekat.

Pihak tersebut mengabarkan berita tidak benar tentang kegiatan Khalifah Hadi

beserta jamiyahnya. Sehingga timbul respon negatif sebagian warga mengatakan

bahwa apa yang diikuti oleh khalifah Hadi adalah aliran sesat. Tak berhenti disitu,

hingga suatu ketika Khalifah Hadi didatangi oleh pihak berwajib karena diduga

(25)

53

dari Khalifah Hadi bahwa apa yang mereka ikuti dan lakukan tidaklah jauh dari

Al-Qur‟an dan As-Sunnah. Akhirnya mereka pun mulai bisa menerima. Demi

menghindari pemikiran negatif tentang kegiatannya, Khalifah Hadi memiliki

inisiatif untuk menambahkan unsur seni yang sedang populer pada saat ini, yaitu

berṣalawat dengan diiringi alat-alat musik seperti rebana dan semacamnya, agar

penafsiran warga yang menganggap kegiatan tarekat Muqtadiriyah sesat bisa

tersamarkan. 2

Usaha Khalifah Hadi tidaklah sia-sia dalam menyesuaikan apa yang

ada di lingkungannya. Sehingga dari sinilah banyak masyarakat yang mulai

tertarik untuk ikut dan mempelajari ajaran dar tarekat Muqtadiriyah. Selain itu

juga, disebabkan karna sikap Khalifah Hadi yang sangat ramah dan tidak pernah

memaksa pihak manapun untuk mengikuti apa yang beliau anut. Maka sebagian

jamiyah tarekat Muqtadiriyah tertarik dengan sendirinya untuk mempelajari

ajarannya lebih dalam dengan menjadi murid dari sang Murshid. Hingga akhirnya

Khalifah Hadi dapat menghimpun jamiyah sebanyak 50 orang. Disini jamiyah

tarekat Muqtadiriyah di dominasi oleh warga desa Tulangan, Candi, Porong dan

Tanggulangin sendiri. Namun yang berada di Tanggulangin sangatlah minim.

Disisi lain, Khalifah Hadi adalah orang yang sangat konsisten terhadap perintah

gurunya. Sehingga ia dapat menjadikan zawiyah yang ada di Sidoarjo ini menjadi

acuan dan contoh bagi zawiyah-zawiyah lainnya yang ada di Indonesia. Karena

Kahlifah Hadi sangat memperhatikan segala hal yang dilakukan dalam kegiatan

tarekat Muqtadiriyah dan menjadikan hal tersebut tertata rapi dan teratur.

2

(26)

54

C. Ajaran dan Amaliah Tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo

Ajaran-ajaran dalam tarekat dapat dibedakan menjadi dua yaitu

ajaran-ajaran yang bersifat khusus dan umum. Pertama, ajaran-ajaran bersifat khusus,

yaitu amalan yang benar-benar dilaksanakan pengikut sebuah tarekat, dan tidak

boleh diamalkan orang di luar tarekat atau pengikut tarekat lain. Kedua,

ajaran-ajaran yang bersifat umum, yaitu amalan-amalan yang ada dan menjadi tradisi

dalam tarekat, tetapi amalan itu juga biasa dilakukan oleh masyarakat Islam di

luar pengikut tarekat.3

Salah satu yang diajarkan dalam Tarekat Muqtadiriyah adalah Ilmu

‘Abdul Qadir al-Jailāni. Ilmu ‘Abdul Qadir al-Jailāni, menurut Tarekat

Muqtadiriyah adalah suatu ilmu terapan atas diri seorang manusia, sehingga

secara jasmani dan ruhani, ia dapat mencapai suatu pengalaman (hāl), membuka

segala hijab yang selama ini pada tatanan shariat, tidak dapat mencapainya

secara mutlak. Penekanan yang tersirat di dalam Ilmu ‘Abdul Qadir al-Jailāni,

lebih kepada fungsi seorang manusia sebagai hamba Allah, dan bukan

penekanan secara agamis. Dalam pelaksanaannya, seluruh aspek diwarnai

dengan sisi-sisi substansi agama Islam, sehingga lebih terkesan bahwa Ilmu

‘Abdul Qadir al-Jailāni adalah ilmu agama Islam, padahal ia mencakup seluruh

hukum kemanusiaan.

Dinamakan Ilmu ‘Abdul Qadir al-Jailāni, karena dinisbatkan kepada

Sheikh „Abdul Qadir al-Jailāni. Ilmu ‘Abdul Qadir al-Jailāni dikenal sebagai

Martabat 13, yang merupakan suatu tanda bagi inti pelajaran yang harus

3

(27)

55

diketahui oleh setiap manusia yang akan menjadi bagian terpenting supaya

manusia tersebut selamat dari dunia sampai akhirat. Martabat 13 adalah suatu

ilmu yang sangat dirahasiakan oleh guru-guru yang murshid dari yang bukan

ahlinya, agar manusia dapat berakhlak di dalam meniti jalan kembali keada

Allah SWT. Penjelasannya praktis, tetapi dibutuhkan keahlian dari sang murshid

dalam membimbing muridnya ke arah tersebut, karena bila murshid tidak

dibimbing oleh suatu keahlian yang khas para murshid, maka akan terpeleset

jatuh moral dan martabatnya.4

Menurut murshid tarekat ini, dengan menguasai dan memahami ilmu

martabat 13, yang merupakan perangkat untuk mencapai manusia sempurna

(insan kāmil), seseorang akan hidup memahami makna ayat di atas. Dan

penguasaan ilmu ini-biasanya-dipegang oleh mayoritas kaum lelaki, karena

dalam dirinya terdapat “perangkat” efektifnya. Melalui perkawinan, ilmu ini

terimplementasi, serta istri dapat mengetahui dari suaminya.Ilmu tersebut

dijabarkan dalam versi yang terkesan berlainan, tetapi bila dimaknai, terlihat

maksudnya hanya satu, yaitu mencapai manusia paripurna.

Sedangkan amaliah tarekat Muqtadiryah sendiri selain ajaran-ajaran

yang telah dijelaskan sebelumnya, tarekat Muqtadiriyah memiliki beberapa

amaliyah-amaliyah yang harus dilaksanakan oleh setiap murid.

Amaliyah-amaliyah ini bisa juga disebut dengan ajaran yang bersifat umum, karena bisa

dilakukan oleh masyarakat Islam di luar pengikut tarekat. Amalan ini bisa

dilaksanakan secara individual (fardiyyah) maupun secara kolektif (jamaah).

4

(28)

56

Secara jelasnya, tarekat Muqtadiriyah memiliki amalan-amalan yang wajib

dilakukan oleh setiap muridnya. Diantaranya adalah dhikir, dhikir yang

dimaksud dalam tarekat Muqtadiriyah adalah dhikir bima’na ḥas. Dhikir

bima’na ḥas adalah “hudurul qalbi ma’allah” (hadirnya hati kita bersama

Allah). Dhikir dalam arti khusus ini terbagi dua, yakni dhikir jahr dan dhikir

khafi. Dhikir jahr adalah melafalkan kalimat tayibah yakni “lāilāha illallāh

secara lisan dengan suara keras dan dengan cara-cara tertentu. Sedangkan dhikir

khafi adalah ingat kepada Allah dengan dhikir isbat saja yaitu mengingat nama

Allah” secara sirr di dalam hati dengan cara-cara yang diterangkan dalam

talqin. Adapun pembagian amaliyah tarekat Muqtadiriyah, antara lain :

1. Amaliah Farḍiyyah (Individual)

Dalam hal ini berkaitan dengan amalan tarekat Muqtadiriyah, setiap

murid mengamalkan dhikirullah tarekat Tajul Khalwatiyah wa Samaniyah

dengan membaca kalimat tayibah lāilāha illallah sebanyak 100 kali

secara sirr. Kemudian dilanjutkan dengan dhikirullah tarekat Qadiriyah

dengan membaca kalimat lāilāha illallah sebanyak 300 kali secara jahr.

Dhikir-dhikir tersebut merupakan amalan yang harus dilakukan setiap

hari oleh semua murid dan ikhwan tarekat Muqtadiriyah di rumah

masing-masing setelah melakukan ṣalat farḍu.

2. Amalan dhikir yang dilakukan secara kolektif (berjama’ah) Amalan ini dipimpin oleh sang khalifah5, doa-doa yang dibaca yaitu :

5

(29)

57

a. Tawaṣul kepada Baginda Rasulullah beserta ahli bait, para ṣahabat,

tabi’in-tabi’in dan kepada para sheikh dari kelima tarekat yang

merupakan unsur dari tarekat Muqtadiriyah.

b. Membaca ṣalawat nabi6

Contoh bacaan ṣalawat yang diamalkan :

لَع ِّلَص َمُهّللَا

ٍدَمَُُ ى

ْمِّلَسَو ِهْيَلَع ِّلَص ِّبَراَي

لَع ِّلَص َمُهّللَا

َكِّيِبَن ى

ْمِّلَسَو ِهْيَلَع ِّلَص ِّبَراَي

َمُهّللَا

لَع ِّلَص

َكِلْوُسَر ى

ْمِّلَسَو ِهْيَلَع ِّلَص ِّبَراَي

لَع ِّلَص َمُهّللَا

َكِبْيِبَح ى

ْمِّلَسَو ِهْيَلَع ِّلَص ِّبَراَي

لَع ِّلَص َمُهّللَا

َكِّيِفَص ى

ْمِّلَسَو ِهْيَلَع ِّلَص ِّبَراَي

لَع ِّلَص َمُهّللَا

َكِلْيِلَخ ى

َو ِهْيَلَع ِّلَص ِّبَراَي

ْمِّلَس

لَع ِّلَص َمُهّللَا

َكِلْيِلَج ى

ْمِّلَسَو ِهْيَلَع ِّلَص ِّبَراَي

لَع ِّلَص َمُهّللَا

ِجِّوَتُا ى

ْمِّلَسَو ِهْيَلَع ِّلَص ِّبَراَي

لَع ِّلَص َمُهّللَا

ِعِّفَشُا ى

ْمِّلَسَو ِهْيَلَع ِّلَص ِّبَراَي

لَع ِّلَص َمُهّللَا

ِرِّوَُا ى

ْمِّلَسَو ِهْيَلَع ِّلَص ِّبَراَي

َُرْوُزُ ن اَْلَعْجا َمُهّللَا

ْمِّلَسَو ِهْيَلَع ِّلَص ِّبَراَي

َنْيِدِلاَو ْمَحْراَو َمُهّللَا

اًعْ يََِ اََْحْراَو ِّبَراَي

َنِم ِقِئَََ ا ُلِزُْم دَمَُُاَُعِفاَشِرْسُ ا ِِ َمُهّللَا

ِمََهَْا

ِْيِرَكْلا ِلْوُسَرلا ََِاَخ ىَلَع ٍمَََس ُفْلَا

ِهْيَلَع ْمِّلَسَو ِّلَص َمَلَسَو ِهْيَلَع ٍةَََص ُفْلَاَو

6
(30)

58

c. Membaca Ratib Habib Imam Quṭbi al-Irshad7. Ratib ini milik tarekat

Alawiyah. Meskipun tarekat Alawiyah bukan termasuk unsur dari

ajaran tarekat Muqtadiriyah, Ratib Habib Imam ini dibaca karena sang

Murshid masih ada keturunan Alawiyin sehingga mengamalkan ratib

tersebut.

d. Membaca Naẓam Rifa‟i8. Naẓam ini merupakan amalan dari tarekat

Rifa‟iyah, maka disebut dengan naẓam Rifa‟iyah. Dhikir Rifa‟iyah

lebih cenderung berisi tentang puji-pujian. Sehingga disini disebut

dengan naẓam.

e. Kemudian membaca dhikir Samman

Dhikir samman ini melafalkan kalimat tayibah lāillaha illallah yang

dipecah menjadi 7 lafal. Namun pada dasarnya semua lafal itu berasal

dari kalimat lāillāha illallah.9Adapun tata cara membacanya sebagai

berikut :

1. Duduk seperti dalam tashahud awwal

2. Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha

3. Memejamkan kedua mata seraya menundukkan kepala

4. Disaat melafalkan lāillāha illallah kedua tangan sambil

menepuk-nepuk paha hingga seiring dengan lantunan dhikir seraya

menggerakkan kepala.

7

Agus, Tarekat Muqtadiriyah (Bogor, t. P, 2015)

8

Agus, Tarekat Muqtadiriyah (Bogor, t. P, 2015)

9

(31)

59

5. Kemudian membaca lafadh lāillaha illallah– illallah illallah – hullah

hullah – ha ī ha ū – Allah Allah sebanyak-banyaknya yang ditutup

(32)

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Dari beberapa paparan dan analisa pada bab-bab sebelumnya, maka dapat

ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Tarekat Muqtadiriyah merupakan gabungan dari lima tarekat, yaitu

tarekat Qadāriyah, Rifā’iyah, Musṭafawiyah, Tajul Khalwatiyah wa

Sammāniyah..

2. Tarekat Muqtadiriyah dapat hadir di Sidoarjo melalui perantara Hadi

Sutrisno selaku Khalifah di Sidoarjo Jawa Timur. Yang mana pada

awalnya beliau menerima amanah atau izin untuk mengamalkan ajaran

tarekat Muqtadiriyah dari Habib Rā’is Ridjaly pada tahun 2010.

3. Respon masyarakat Sidoarjo terhadap kedatangan tarekat Muqtadiriyah

cukup baik dan diterima begitu saja, yaitu masyarakat Nahḍatul Ulama dan Muhammadiyah meskipun sedikit bertentangan dengan paham

mereka

B. Saran

1. Bagi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya, penulis

mengharap adanya penelitian lebih lanjut tentang Tarekat Muqtadiriyah

ini hingga dapat melengkapi karya tulis ini menjadi lebih baik dan akurat.

2. Mengingat tarekat Muqtadiriyah banyak menarik murid dari kalangan

yang masih awam dalam beragama dan khususnya kaum pemuda, maka

(33)

70

diperhatikan, sehingga tidak menimbulkan murid yang salah memahami

syariah Islam secara keseluruhan.

3. Diperlukan pendataan secara lebih akurat dengan membuat data yang

mudah diakses dengan teknologi informasi agar informasi tentang tarekat

(34)

BAB II

SELAYANG PANDANG TAREKAT MUQTADIRIYAH

A.Sejarah Lahirnya Tarekat Muqtadiriyah

Tarekat adalah suatu jalan yang didirikan oleh seseorang yang memiliki

kwalifikasi wilayah spiritual dengan baik, benar dan tepat, sehingga dengan

metode dzikir ataupun pengamalan lainnya yang diajarkan kepada jama’ahnya

(murid-muridnya), akan menjadi cara-cara yang sangat efektif untuk mencapai

pencerahan hati yang menjadi idaman semua manusia dalam hidup ini sampai di

akhirat kelak. Telah banyak tarekat yang didirikan, boleh dikatakan sampai

ratusan tarekat yang ada sekarang ini, apakah tarekat itu telah berskala

menyeluruh (mendunia), atau masih bersifat lokal saja. Walau demikian tidak

tertutup kemungkinan akan lahir lagi berbagai bentuk tarekat yang lainnya (yang

baru). Misalnya sebelum lahirnya tarekat Sammāniyah (tarekat Muhammadiyah),

Shaikh Muhammad bin „Abdul Kārim al Madani al Shafi’i al Sammān, adalah

membuka cabang tarekat Khalwatiyah. Disamping memiliki khirqat tarekat

Khalwatiyah, beliau juga memiliki kharqat (hak mengajar) dari tarekat lainnya,

yaitu tarekat Naqshabandiyah, Qādiriyah, Shaziliyah, tapi kemudian Shaikh

Sammān meracik dengan memadukan tehnik-tehnik dhikir, bacaan-bacaan

lainnya, dan ajaran mistis semua tarekat yang beliau miliki, dengan menambahkan

beberapa hal baru, seperti Qashidāh serta naẓam yang disusunnya sendiri.

Racikan berbagai tarekat ini kemudian menjadi satu nama : “Tarekat

(35)

17

Pola tarekat ini tidaklah Genuine (Asli), karena hal ini juga bukanlah suatu

persoalan baru dalam dunia tasawwuf, karena ada juga contoh yang lainnya yang

membentuk ajaran tarekat bukan “asli”, adalah Shaikh Uthmān al Mirghani yang

mendirikan tarekat “Khatmiyah”, yang tidak lain merupakan racikan dari

penggabungan tarekat Naqshabandiyah, Qādiriyah, Shaziliyah, Junaidiyah dan

Mirghāniyah. Ada juga yang terjadi di Nusantara (Indonesia), Shaikh Ahmad

Khatib Sambas, seorang ulama Kalimantan yang menetap di Makkah

(pertengahan abad 19), melahirkan tarekat dengan nama “Qādiriyah wa

Naqshabandiyah”, yang mana beliau meracik dari 5 (lima) tarekat yang beliau

miliki hak untuk mengajarnya, yaitu tarekat Naqshabandiyah, Qādiriyah,

Anfasiyah, Junaidiyah dan tarekat al Muwāfaqah.1

Semangat yang tumbuh di dalam diri jama’ah dalam pengalaman beberapa

jenis tarekat, sebagaimana contoh-contoh di atas, tidak kemudian menjadi surut

dikarenakan racikan baru dan dengan nama baru pula, karena sesungguhnya

racikan baru hanya merupakan ke-khas-an dari Shaikh atau Murshid yang

memimpinnya, sedangkan kandungannya menghimpun seluruh nilai tarekat yang

diamalkan sebelumnya. Tarekat Muqtadiriyah merupakan gabungan dari lima

tarekat, diantaranya tarekat Qādiriyah, Rifā’iyah, Mus afawiyah, Tajul

Khalwatiyah wa Sammāniyah. Hal tersebut berdasarkan ilham yang telah diterima

oleh sang Murshid, yaitu Sheikh Habib Rā’is Ridjaly bin Hashim bin Husein bin

Ali bin Abdul Rahman bin Abdullah bin Husain bin ahir Arbabul Qabḍi dari

Allah SWT, melalui kebenaran Sayyidina Muhammad SAW dan lantaran barakat

1

(36)

18

Tuan Wali Shaikh Abdul Qādir Jailāni, Tuan Wali Shaikh Yusuf Gowa dan Tuan

Wali Sheikh Musṭafābin Shaikh Muhyiddin. Habib Rā’is telah diberi izin atau

diperintahkan untuk menggabungkan kelima tarekat (Qādariyah, Rifā’iyah,

Mus afawiyah, Tajul Khalwatiyah wa Sammāniyah) menjadi satu nama, yaitu

tarekat Muqtadiriyyah. Perintah itu diterima oleh Habib Rā’is dalam tafakur

beliau, pada hari senin malam selasa (telah terhitung selasa), tanggal 13 Mei 2008,

bertepatan dengan tanggal 07 Jumadil Awal 1429 H, pukul 00.13 WIB diruang

duduk rumah beliau yang beralamat Pulo Permata Sari (PPS) Blok C 7 no. 1

Pekayon Jaya Bekasi Selatan, Jawa Barat Indonesia.2

Tarekat Muqtadiriyah tiba di Sidoarjo pada tahun 2010, dimana saat itu

khalifah Hadi dibai’at menjadi khalifah tarekat Muqtadiriyah di Sidoarjo. Yang

pada awalnya bermula dari diperkenalkannya Khalifah Hadi dengan Habib Rā’is

oleh adik khalifah Hadi yang merupakan murid Habib Rā’is pada saat itu. Namun

sebelum itu, khalifah Hadi telah diba’iat oleh Habib Iman bin Laoede dalam

tarekat Tajul Khalwatiyah pada tahun 2004. Hingga pada akhirnya Habib Iman

meninggal dunia dan kedudukan murshid pun beralih kepada Habib Rā’is. Setelah

khalifah Hadi mendapat izin mengamalkan ajaran tarekat Muqtadiriyah, ternayata

tak semudah yang dibayangkan. Warga sekitar lingkungan khalifah Hadi mengira

bahwa tarekat yang dipelajari oleh khalifah Hadi adalah ilmu sesat. Bahkan

khalifah Hadi sempat didatangi oleh pihak yang berwajib. Namun hal tersebut

tidak membuat khalifah Hadi gentar, semua beliau hadapi dengan kepala dingin.

Akhirnya semua bisa memahami apa yang dilakukan khalifah Hadi tidaklah sesat.

2

(37)

19

Dalam tarekat ini, Habib Rā’is diperintahkan untuk menyusun pengamalannya

serta dhikir-dhikir yang digabungkan dari kelima tarekat tersebut, serta

menambahkan kedalamnya dhikir dari Ratib Muhammadiyah, Ratib Rifa’iyah,

dhikir Asmaul Husna yang diambil dari kitab Shamsul Anwar yang disusun oleh

Shaikh Abdul Rahman Al-Maghribi yang bergelar Shaikh Alḥaj Tilmiṭani

Al-Maghribi, Hidhib Shaikh Abu Hasan As-Shadily, dhikir dan wiridnya Habib

Hashim bin Husain bin ahir (Shaikh Murshid tarekat At-Taufiqiyah an Nuriyah)

yang beliau sebut sebagai tarekat Ahlu bait serta nadham-nadham maupun

syair-syair.

B.Tokoh Pembawa Tarekat Muqtadiriyah

Guru atau Murshid dalam sistem tasawuf adalah Ashrafunnasi fi

at-ariqah, artinya orang yang paling tinggi martabatnya dalam suatu tarekat.

Murshid mengajarkan bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah sekaligus

memberikan contoh bagaimana ibadah yang benar secara shariat dan hakikat.

Betapa penting keberadaan guru dalam suatu tarekat, sehingga dinyatakan bahwa

tidak benar jika seseorang mengamalkan suatu tarekat tanpa guru. Guru tidak

sekedar mengajarkan materi ajaran tasawuf, tapi yang paling penting adalah

melakukan talqin3 atau bai’at yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Talqin

adalah suatu proses dimana terjadi didalamnya pemasukan nubuwwah ke dalam

3

(38)

20

hati murid. Sekaligus diajarkan pula bagaimana cara berdhikir kepada Allah

dengan metode yang ada dalam tarekat termaksud.4

Murshidlah yang mendapat izin dari Rasulullah untuk melakukan talqin

adh-Dhikir kepada siapa saja yang mau mengamalkan dhikir. Karena

keterbatasannya secara fisik, sementara jangkauan dakwah semakin luas, seorang

murshid bisa mengangkat wakil talqin. Wakil talqin adalah seorang murid yang

dalam “pandangan ruhani” murshid telah memenuhi kualifikasi secara spiritual,

yang diberi wewenang oleh murshid untuk melakukan talqin kepada calon-calon

murid. Pengangkatan wakil talqin sepenuhnya adalah hak prerogatif murshid.

Begitu juga halnya dengan tarekat Muqtadiriyah yang memiliki beberapa

murshid, diantaranya Al-habib Ash-sheikh As-Sulṭan Muhammad Sayyid Iman

Bin Abdul Hakim Al-Aydrus dan Sheikh Habib Rā’is Ridjaly bin Hashim bin

Husein bin Ali bin Abdul Rahman bin Abdullah bin Husain bin ahir Arbabul

Qabḍi. Dalam hal ini penulis akan memaparkan tentang biografi para Murshid

tarekat Muqtadiriyyah.

1. Al-habib Ash-sheikh As-Sul an Muhammad Sayyid Iman Bin Abdul Hakim Al-Aydrus

Al-habib Ash-sheikh As-Sulṭan Muhammad Sayyid Iman Bin Abdul

Hakim Al-Aydrus, lahir pada hari selasa 1 hari bulan robi’ul awal tahun 1388

H, atau bertepatan dengan tanggal 28 Mei 1968 M di kota kendari sulawesi

tenggara indonesia. Ayahandanya bernama Abdul Hakim bin Abdullah

Bolokontu al-Aydrus mashhur dengan nama Laode Hakim adalah keturunan

4

(39)

21

langsung dari Sayyid Saridu bin Abdul Rohim bin Abdullah Witama al-Aydrus

dengan Sharifah Itho binti Sayyid Araby bin Muhammad bin Ali al-Habshi,

merupakan keturunan Sultan Darul Buthuny. Ibundanya bernama Sukarsih

binti Raden Maskarnawi adalah keturunan dari Sharif Hidayatullah Sunan

Gunung Jati Cirebon. Pada masa kecil ketika berumur 1 tahun berpisah dengan

kedua orang tuanya dan diasuh oleh kakeknya di negeri muna (al-munajat),

nanti setelah berumur 5 tahun baru dikembalikan kepada orang tuanya di kota

Kendari Sulawesi Tenggara.5

Masa pendidikan dilaluinya di kota Kendari sampai tahun 1987 M

dengan lulusan SMA negeri 1 kemudian melanjutkan pendidikan di kota

Makasar pada Universitas Muslim Indonesia Fakultas Teknologi Industri

jurusan Teknik Kimia. Selama menjadi mahasiswa aktif di berbagai organisasi

kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra universiter. Diantaranya pernah

menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam, sekretaris II senat mahasiswa

teknologi industri UMI. Ketua umum koperasi mahasiswa UMI, anggota

dewan majelis sabuk hitam Kushin Ryu M karate-do indonesia, serta guru besar

perguruan seni diri Sirrul La ify dll. Pendidikannya diselesaikan dengan tanpa

thesis tanpa wisuda kesarjanaan dengan alasan bahwa biarlah teman-temannya

mengambil ijazah dan wisuda sarjana, tetapi beliau akan mengambil wisuda

dan ijazah SIR-JANNAH (rahasia surga) dan bukan sarjana dunia.Sejak masa

muda dalam pendidikan sangat gemar mempelajari ilmu tentang hakikat agama

5

Majelis Sirrul Lathify wa Muhyin Nufus, Tarekat Tajul Khalwatiyah wa Sammaniyah-Qadariyah

(40)

22

dari ayahandanya menerima kitab Tanazzul Anbiya’ dan sekaligus izin untuk

mengamalkannya. Adapun tarekat Tanazzul Anbiya’ adalah khusus bagi Ahlul

Bait nabi Muhammad SAW di negeri al-Buthuny dan al-Munajat, yang

diajarkan secara turun temurun dalam satu pohon keluarga. Ajarannya tentang

Insan Kamil, martabat tujuh, serta jalan kembali manusia kepada awal

permulaannya.

Pada tahun 1991 M mengambil bai’at tarekat An’naqshabandiyah

al-Muzahariyah kepada al-Mukarom as-Sheih Muhammad Sholeh Laṭify bin

Baiḍawi al-Malanjy asal Sukosari Gondang Legi Malang Jatim. Dan dari

beliau mendapat ijazah sampai La ifiyah ke 7 serta dua pokok dari Muroqobah,

semua itu diterima secara Ruhaniyah pada 24 hari bulan Robi’ul Awal 1417 H

atau bertepatan dengan 8 agustus 1996. Kemudian menerima bai’at tarekat

Kholwatiyyah Yusuf dari Almukarom al’Allamah al-Qadhi Sayyid

Djamaluddin as-Saggaf Puang Ramma, secara ruhaniyah terjadi pada malam

jum’at 8 Jumadil Awal 1417 H atau bertepatan dengan 20 September

1996.Juga secara ruhaniyah pada malam Kamis 12 hari bulan Dzulqo’dah 1417

H atau bertepatan dengan 20 Maret 1997 M. Menerima bai’at tarekatQadiriyah

wa Naqshabandiyah dari al-Mukarrom asy-Sheikh ohibul Wafa Taj’ al

-Arifin. Selanjutnya pada hari senin 12 Rabi’ul awal 1419 H atau bertepatan

dengan 6 juli 1998 M mengambil bai’at tarekat Taj’al Kholwatiyah Syeikh

Yusuf (Taj’ al-Kholwatiyaah wa Sammaniyah) dari yang mulia Allamah

al-Arif Billahi ta’ala as-Sheikh as- ulthon Ahmad Ali Muhammad Nirami

(41)

23

Mangkau’na Awalliya’, yang kediamannya pada tanah negeri Gowa, juga

masih merupakan kakendanya. Dari beliau inilah al-Habib Sheikh

as-ulthon Muhammad Sayyid Iman bin Abdul Hakim al-Aydrus mendapat

bimbingan dengan penuh kasih sayang secara ḍahiriyah maupun ba iniyah.

Dalam melakukan perjalanan ruhaniyahnya al-Habib ash-Sheikh

as-ulthon Muhammad Sayyid Iman bin Abdul Hakim berjumpa dengan

ruhaniyah Sayyidul Wujud al-Musṭofa Sayyidina Muhammad SAW dengan

sangat nyata serta salim mempertemukan kedua lutut masing-masing kemudian

membaringkan kepalanya pada pangkuan beliau, maka telah menuangkanlah

rahasia Illahiyah oleh baginda nabi SAW kepada dirinya.6 Shahdan, dalam

tahun yang sama pula habib menerima Hirqoh Ijazah Sheikh Murshid tarekat

Taj’al Kholwatiyah wa Sammaniyah dari yang mulia al’Allamah al-Arif Billahi

ta’ala ash-Sheikh as- ultahn Ahmad Ali Muhammad Myrami al-Kholwati

Qoddasallahu Sirrahu pada hari Ahad 17 bulan Sha’ban 1419 H atau bertepatan

dengan 6 Desember 1998 M, di Timbuseng-Bonto Marannu-Gowa.Adapun

sebab diberikan amanat itu kepadanya sebagaimana perkataan gurunya sebagai

Shaikhul Fatḥ baginya: sejak pertama engkau datang kemari kami telah

dibisikkan oleh baginda nabi bahwa berikanlah ijazah sheikh pada cucuku

itu.”7

Demikian selanjutnya beliau melaksanakan amanat sheikhnya

mengajar dan menyebarkan tarekat Taj Kholwatiyah wa Sammaniyaah dengan

6

Majelis Sirrul Lathify wa Muhyin Nufus (Tarekat Tajul Khalwatiyah wa Sammaniyah-Qadariyah

Rifa’iyah-Musthafawiyah), Arbaabul Qabdli.(Kendari: t. P, 2007)

7

(42)

24

gelar Sheikh Sultan Muhammad Amiril Mukminina Fanat Agama

Khalifatullahi al-Butuni wal-Munajaty. Kemudian pada malam Jum’at 2 hari

bulan Shawal 1426 H, al-Habib kedatangan ruhaniyah 3 orang Waliyullah

berpangkat Sheikh Murshid dan seorang Waliyullah berpangkat badal, ada

mempertanyakan keberadaan dari pada tarekat Taj’ al-Khalwatiyah wa

Sammaniyah, dan dari padanya memberikan ijazah Sheikh Murshid sebagai

pernyataan yang menguatkan serta sekaligus pengakuan mereka bahwa tarekat

Taj’ al-Khalwatiyah wa Sammaniyah adalah sebagai tarekat yangMu’tabarah.

Dan adapun tarekat Taj al-Khalwatiyah wa Sammaniyah itu adalah

nama tarekat yang disembunyikan dan dirahasiakan diberikan oleh al-Quthub

al-Ghauts Sheikh Muhammad Fudhail bin Abdullah al-Munir kepada

ash-Sheikh as-Sultan Ahmad Ibnu Idris Sultan Bone ke 29 pada tahun 1827 M

setelah 7 tahun mendapat bimbingan sejak bertemunya pada tahun 1820 M.

Pemberian ḥirqah ijazah tarekat Taj al-Khalwatiyah wa Sammaniyah kepada

ash-Sheikh as-Sulton Ahmad Ibnu Idris Sultan Bone ke 29 pada tahun 1827 M

setelah 7 tahun mendapat bimbingan sejak bertemunya pada tahun 1820 M.

Pemberian ḥirqoh Ijazah tarekat Taj al-Khalwatiyah wa Sammāniyah kepada

ash-Sheikh as-Sulthan Ahmad Ibnu Idris juga disertai dengan pemberian tasbih

bai’at besar nabi Muhammad SAW yang al-Qu ub al-Ghauth ash-Sheikh

Muhammad Fuḍail bin Abdullah al-Munir terima dari Sayyid Mahmud sebagai

tanda sahnya untuk mengajarkan rahasia kerajaan Allah.

Maka demikanlah sekilas riwayat dari pada tarekat Shufiyah Taj

(43)

25

Sayyid Iman bin Abdul Hakim al-Aydrus menerima penjelasan tersebut secara

langsung dari ruhaniyah Rasulullah SAW ketika bertemu pada hari Senin 1

hari bulan Muharram 1427 H atau bertepatan dengan tanggal 30 Januari 2006

M di Jakarta, dan selanjutnya diamanatkan kepadanya dari Rasulullah SAW

untuk menyatakan tarekat Taj al-Khalwatiyah wa Sammāniyah tersebut.

Selanjutnya al-Habib menerima ḥirqah Ijazah Sheikh Mursyid tarekat

Qādiriyah Rifā’iyah wa Musthafawiyah dari yang mulia al-Habib as-Sheikh

Rā’is Ridjaly bin Hasyim bin ahir ar-baabul Qabḍi pada hari Jum’at 5 hari

bulan Jumadil Akhir 1427 H, atau bertepatan dengan tanggal 30 Juni 2006 M

di kota Kendari Sulawesi Tenggara.Maka dengan demikian telah dilaksanakan

berbagai amaliah dari tarekat tersebut dalam suatu majelis yang diberi nama

majelis Sirrul La ifiyah wa Muhyin Nufus ariqat Tajul Khalwatiyah wa

Sammāniyah-Qādariyah Rifā’iyah-Mus afawiyah Indonesia.8

2. Sheikh Habib Rā’is Ridjaly bin Hashim bin Husein bin Ali bin Abdul Rahman bin Abdullah bin Husain bin ahir Arbabul Qabḍi

Al-Habîb Rā’is dilahirkan hari Kamis, 11 Agustus 1960, pukul 15.30

WIT, di Daerah Batu Merah, Ambon Maluku, Indonesia. Masa pendidikan

formalnya dilalui sejak 1964–1987. Semasa kecil selalu membaca buku–buku

yang membahas tentang Filsafat. Sehingga pada usia 7 tahun, Habîb Rā’is telah

membaca buku filsafat, “Alam Pikiran Yunani“, sebanyak 20 jilid, dan pada

usia tersebut, Habîb Rā’is diberikan pendidikan oleh orang tuanya sendiri

8

Majelis Sirrul Lathify wa Muhyin Nufus (Tarekat Tajul Khalwatiyah wa Sammaniyah-Qadariyah

(44)

26

melalui metode ceritera tentang Abū Nawās (Mansyūr bin Muhammad) yang

hidup pada jaman Sulṭān Hārūn al-Rashîd, di Bagdad. Habîb Rā’îs, pada masa

itu, telah menghafal ± 100 judul ceritera tentang kecerdikan Abū Nawās

tersebut. Pada usia 14 tahun (1974), Habîb Rā’îs dibimbing secara ruhani

dengan bentuk yang masih sederhana oleh orang tuanya sendiri. Dan orang

tuanya, sekarang, mendirikan tarekat yang disebut “tarekatTaufîqiyyah

An-Nūriyyah“ atau beliau istilahkan juga dengan “tarekatAhlūl Bait” yang

bersumber pada keilmuan tentang Hakikat dan Ma’rifatullah.

Pada usia 17 tahun (1977), Habîb Rā’îs diberikan suatu pemahaman

tentang pohon keyakinan agama oleh orang tuanya sendiri, yang akrab

dipanggil Abah . Kata orang tuanya; “ Sekalipun kepalamu putus, keyakinan

ini tidak boleh engkau lepaskan karena inilahkebenaranyanghakikiitu“. Tahun

1980, Habîb Rā’îs menyelesaikan pendidikan lanjutan atas di kota Sorong,

Irian Jaya. Dan tahun 1982 mengambil perkuliahan di Universitas Kristen

Indonesia (UKI), Fakultas Hukum Perdata. Perkuliahan dapat diselesaikan

pada tahun 1987, non Skripsi serta tanpa Wisuda Keserjanaan, dengan alasan

bahwa biarlah para teman-temannya mengambil Wisuda dan Ijazah

keserjanaan, tapi beliau akan menghambil Wisuda dan Ijazah SIR-JANNAH

(Rahasia Sorga),dan bukan Sarjana. Akhirnya, terbukti, pada saat teman

sekuliahnya sedang mengusahakan pemutihan atas keterlambatan pelajaran

mereka pada Universitas, karena terjadi peralihan sistim pendidikan dari sistim

Paket kepada sistim SKS, Habîb Rā’îs pun pada masa itu menerima ḥirqah dari

(45)

27

Al-Maqāsari r.a. yang hadir bersama Tuanta Imam Lapeo dan Tuanta

Masakilang Karaeng Bogo sebagai saksi. Kata Shekh Yūsuf Tuanta Salamaka;

Pemberian ini atas ijin dan perintah dari Tuan kami, Shekh ´Abdul Qādir Al

-Jailāni yang tinggal di Bagdad“. Inilah yang disebut SIR-JANNAH (Rahasia

Surga) dan bukan SARJANAH (sepotong kertas yang tidak menjamin

keselamatan dunia maupun akhirat).

Pada tanggal 11 Agustus 2005 di Dakkar Sinegal Afrika Barat, dalam

keadaan sebelum tidur beliau mengalami suatu peristiwa trans. Yang mana

beliau hadir di depan As Sharif Muhammad Musṭafa Khaider Quaye.

Kemudian As Sharif Muhammad Khaider Quaye menyuruh beliau untuk

meminum air bening yang keluar dari jempol kaki kanan As Sharif Muhammad

Musṭafa Khaider Quaye. Hal tersebut terjadi sebelum beliau mengambil bai’at

pada As Sharif Harun ar Rashid Faye (kemenakan as-Sharif Muhammad

Musṭafa Khaidar Quaye). Selain Gurunya Tuanta Salamaka Shekh Yūsuf,

Habîb Rā’îs juga belajar pada guru-guru yang hidup dimasanya sekarang.

Banyak sekali para guru yang ditemuinya, tapi ada beberapa guru saja yang

Habîb Rā’îs berbaiat kepada mereka untuk menjadi murid mereka dalam hal

keilmuan tentang Haqîqatul Insān dan Ma´rifatulLāh beserta segala ilmu

pemahamannya yang terkait erat dalam rangka pengenalan yang dimaksud :

1. Habîb Hāsjim bin Husein bin ´Ali bin ´Abdurrahmân bin ´Abdullâh (Shâ h

ibul Masilah Hadralmaut) bin Husein Bin Thâhir (Maulā Bin āhir).

(46)

28

3. Habîb Muhammad bin ´Abdullah bin „Umar Al-Idrūs Tanjung Batu Merah,

Ambon, Maluku, Indonesia. (Kakek Ibunya Sharîfah alhah binti

´Abdullâh bin Muhammad bin Umar Al-Idrūs).

4. Tuan Shekh Yusuf yang bergelar Tuanta Salamaka Tājul Khalwāti Abū Al

-Mahāsin Al-Maqasari(1987–1991).

5. Tuan Imam Lapeo asal dari Poliwali Mamasa (Polmas), Sulawesi Selatan

(1987–1992).

6. Habîb Muhammad Al-Gadri, yang dikenal dengan sebutan Habîb Marunda

(1993–masih sampai sekarang tahun 2003).

7. Beberapa Guru asal Jawa Timur yang sangat dalam ilmu kebatinannya

(1995).

8. Beberapa Guru asal Jawa Tengah yang sangat dalam Ilmunya tentang

pengenalan akan Hakikat dan Ma’rifatullâh (1995).

9. Seorang guru dari Beas India yang sangat Mashhur namanya di kalangan

Lintas Agama seluruh Dunia, yaitu Hazur Maharaj Charan Sing Ji (1983–

1985).

10.Sheikh Hārūn al-Rasyid yang akrab dipanggil dengan nama Shekh Faye

dari Sinegal (awal2003–sekarangini). 9

3. Hadi Sutrisno bin Diamen bin Mian

Hadi Sutrisno bin Diamen bin Mian lahir di Sidoarjo, 28 Februari

1975. Beliau tinggal di dusun Nggodok desa Kendensari Tanggulangin

Sidoarjo. Beliau memiliki profesi sebagai seorang Polisi. Dipandang secara

9

(47)

29

umum, hal tersebut sangat mengherankan karena jarang sekali ditemukan

orang yang berprofesi sebagai Polisi mengikuti hal semacam ini. Namun

dibalik itu semua khalifah Hadi memiliki motivasi tersendiri. Beliau ingin

menjadi pribadi yang lebih baik lagi daripada sebelumnya. Karena pada

awalnya beliau adalah orang yang biasa-biasa saja dalam melaksanakan

ibadah. Namun pada dasarnya, sewaktu beliau duduk di bangku SMA, beliau

sudah mendalami ilmu-ilmu keagamaan dari ajaran tarekat Qadiriyah. hal

itulah yang menjadi bekal dan pengantar beliau sampai pada sesuatu yang

menjadikan dirinya lebih baik dari sebelumnya. Di saat beliau berbaur dengan

berbagai macam kalangan, beliau bisa menyesuaikan diri meskipun beliau

sedikit terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Tetapi setelah beliau

dikenalkan oleh adiknya kepada Habib Rā’is yang pada saat itu adiknya

adalah murid sang Habib, khalifah Hadi kemudian dibai’at menjadi murid dan

mendapat ajaran-ajaran tarekat dari Habib Rā’is. Pada awalnya khalifah Hadi

sempat mengira bahwa tarekat yang dia ikuti merupakan aliran sesat. Namun

setelah apa yang diajarkan oleh Habib Rā’is kepada beliau tampak nyata

dalam kehidupan beliau, akhirnya khalifah Hadi semakin yakin bahwa apa

yang beliau dalami ini bukanlah aliran yang sesat. Dengan adanya keyakinan

yang kuat tersebut, khalifah Hadi semakin memperbanyak ibadahnya dan

dekat dengan Allah. Karena menurut beliau dengan mengamalkan ajaran

tarekat ini, beliau semakin mengenal Allah dan juga dirinya sendiri.10

10

(48)

30

C. Konsep Dasar Tarekat Muqtadiriyah

Dalam hal ini, ajaran tarekat Muqtadiriyah menitik beratkan pada akhlak

mulia. Murshid menganjurkan agar semua Ikhwan dan semua Murid yang

terhimpun di dalam kelima tarekat tersebut agar memahaminya, mengikutinya dan

tetap ta’at sebagaimana sebelumnya, sehingga kita semua akan mencapai cita-cita

bersama sebagaimana yang diharapkan oleh para mu’minin dan mu’minat dari

dunia sampai akhirat kelak. Aturan-aturan hidup bagi seorang murid

tarekatMuqtadiriyah yang harus dilaksanakan mulai dari mau tidur, bangun tidur,

mandi, istinja, makan, tawakkal, wudhu dan shalat.



















.





Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar

akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah

benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.11

a. Arti Tarekat Muqtadiriyah

Dari segi bahasa, ariq artinya jalan, Muqtadiriyah berasal dari kata

Muqtadir yang artinya yang kuasa, yang kuat, yang kaya.

b. Tujuan Tarekat Muqtadiriyah

Adapun tujuan dari tarekatMuqtadiriyah adalah :

11

(49)

31

1. Mendidik dan membimbing para pencari kebenaran agar mereka mengenal

kepada dirinya sendiri yang pada hakekatnya adalah rahasia Tuhan semesta

alam. Ilmu hakikat diri manusia selama ini telah dilupakan mayorita

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini data diambil dari sejumlah orang atau karya ilmiah yang dapat menjadi acuan penelitian ini, diantaranya adalah: Pimpinan tarekat Tijaniyyah yaitu Syaikh

Salah satu tarekat yang berkembang di Kuningan tepatnya di Desa Parakan Kecamatan Maleber yaitu Tarekat Tijaniyah yang juga masih memiliki silsilah dari Buntet

Salah satu cabang dari Naqsyabandiyah, Mazhariyah (sumber lain menyebut Muzhariyah), saat ini merupakan tarekat yang paling berpengaruh di Madura dan juga beberapa

Keunikan lain yang dimiliki Tarekat ini menurut ibu Masruroh yang merupakan jama’ah Tarekat berasal dari Kediri (informan B.01) yaitu setiap malam di masjid Induk

Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah yaitu Kyai Muchtar Mu’thi juga mendapatkan serangan dari berbagai penjuru yang kemudian berakhir di meja hijau yang kemudian menentukan

Perkembangan tarekat Asy-Syahadatain di Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus dibawa oleh murid Abah Umar, yang memang berasal dari Kudus, mereka adalah K.H. Masruchin,

Kitab tersebut di tulis dengan sangat singkat, namun padat, disitu berisi ajaran-ajaran tarekat Qa>diriyah- Naqsyabandiyah secara garis besar yang merupakan gabungan dari

Karena dinyatakan pula faminha mardudah waminha maqbulah, yang artinya dari sekian banyak jalan itu ada yang sah dan ada yang tidak sah yang dalam istilah ahli tarekat lazim dikenal