• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Polri Dalam Penyidikan Tindak Pidana yang Terkait Dengan Multi Level Marketing

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peran Polri Dalam Penyidikan Tindak Pidana yang Terkait Dengan Multi Level Marketing"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

PENENTUAN KEJAHATAN PRAKTEK BISNIS BERKEDOK MULTI LEVEL MARKETING (MLM) DALAM KEGIATAN PENYELENGGARAAN

PENJUALAN LANGSUNG DI INDONESIA

Dalam ilmu ekonomi, bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba.58

58

Ricky W. Griffin dan Ronald J. Ebert, Bisnis, Edisi ke-VIII, Jilid 1, (Jakarta : Erlangga, 2006), hal. 4, mengatakan bahwa : “Semua organisasi itu disebut bisnis (perusahaan) – organisasi yang menyediakan barang atau jasa untuk dijual dengan maksud untuk mendapatkan laba. Tentu saja, prospek mendapatkan laba – selisih antara penerimaan dengan biaya-biaya bisnis – merupakan pendorong orang-orang untuk memulai dan mengembangkan bisnis. Laba merupakan imbalan yang didapat pemilik bisnis dari risiko yang diambil sewaktu menginvestasikan uang dan waktu mereka. Hak untuk mengejar laba membedakan bisnis dari organisasi-organisasi lain seperti universitas, rumah sakit, dan lembaga pemerintah, yang beroperasi dengan cara yang sama tetapi umumnya tidak mengejar laba”.

Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggris “business”, dari kata dasar “busy” yang berarti “sibuk”

dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.

Dalam ekonomi kapitalis, dimana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran para pemiliknya. Pemilik dan operator dari sebuah bisnis mendapatkan imbalan

sesuai dengan waktu, usaha, atau kapital yang mereka berikan. Namun tidak semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis koperatif yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi pemerintah yang

bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model bisnis seperti ini kontras dengan sistem sosialistik, dimana bisnis besar kebanyakan dimiliki oleh pemerintah,

(2)

Secara etimologi, bisnis berarti keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Kata “bisnis”

sendiri memiliki tiga penggunaan, tergantung ruang lingkupnya – penggunaansingular kata bisnis dapat merujuk pada badan usaha, yaitu : kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang bertujuan mencari laba atau keuntungan.

Penggunaan yang lebih luas dapat merujuk pada sektor pasar tertentu, misalnya “bisnis pertelevisian”. Penggunaan yang paling luas merujuk pada seluruh aktivitas

yang dilakukan oleh komunitas penyedia barang dan jasa. Meskipun demikian, definisi “bisnis” yang tepat masih menjadi bahan perdebatan hingga saat ini.

Bisnis untuk mendapatkan keuntungan harus terlebih dahulu menjalankan

penjualan. Cara-cara orang atau perusahaan melakukan penjualan bermacam-macam, yaitu : penjualan langsung dan penjualan tidak langsung. MLM misalnya

menggunakan cara penjualan langsung. Keunggulan bisnis dengan cara MLM adalah cepat mendapatkan pembeli, namun dalam hal ini sering disalahgunakan kebanyakan MLM hanya kedok belaka dan pada intinya pebisnis memainkan skema piramida

untuk meraup keuntungan sesaat.

A. Praktek Bisnis Berkedok Multi Level Marketing (MLM) 1. Skema Piramid

Skema Piramid (Pyramid Scheme) jika ditinjau dari segi kata terdiri dari kata

(3)

terstruktur atau sistem yang konseptual untuk memahami sesuatu.59

Skema Piramid menurut World Federation of Direct Selling Association (WFDSA) menyatakan bahwa

Sedangkan kata piramid berasal dari nama bangunan makam raja-raja mesir kuno (fir’aun) yang

berbentuk limas atau menyerupai bentuk segitiga sama kaki. Skema Piramid dalam konteks ini dikaitkan dengan praktek bisnis ilegal, yang berarti metode bisnis ilegal terstruktur, dimana melibatkan sejumlah orang dan menempatkannya sedemikian

rupa sehingga mirip dengan bentuk piramid. Tujuan penggunaan skema ini adalah untuk mendapat kekayaan atau keuntungan yang besar dalam waktu singkat dengan

cara-cara yang melanggar hukum.

60

Artinya, metode penjualan piramid adalah sebuah bentuk penipuan yang

dilakukan promotor dalam kegiatan yang disebut ‘investasi’ atau ‘perdagangan (bisnis)’ dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri. Kekayaan tersebut diperoleh

:

Pyramid selling is a fraud. It is a mechanism by which promoters of so-called ‘investment’ or ‘trading’ schemes enrich themselves in a geometric progression through the payments made by recruits so such schemes. Related deceitful schemes have been described in various international jurisdictions as chain letters, chain selling, money games, referral selling, and investment lotteries”.

59

A Dictionary of Reading (1981) sebagaimana dikutip Lilis Siti Sulistyaningsih, “Teori Skema”, Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Bahasa Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, tanpa tahun., hal. 2, yang menyatakan bahwa : “Dalam kamus A Dictionary of Reading (1981) dijelaskan tentang makna skema sebagai berikut : 1) Skema adalah suatu pemberian yang digeneralisasikan, suatu rencana atau struktur, seperti yang digunakan dalam kalimat “Skema proses membaca setiap orang boleh dikatakan tidak pernah sama”; 2) Skema adalah suatu sistem yang konseptual yang perlu untuk memahami sesuatu, contoh, skema tentang kebudayaan yang dimiliki oleh si A dapat menolong pemahamannya dalam bidang bahasa; 3) Skema adalah suatu cerita yang melahirkan kenyataan yang disimpan dalam pikiran, tetapi tidak ditransformasikan lewat pikiran (piaget)”.

60

(4)

dari pembayaran dana oleh barisan orang yang dibentuk melalui sistem rekruitmen, dan menempatkannya sedemikian rupa hingga membentuk sebuah piramid. Skema

Piramid dalam berbagai yurisdiksi international dikenal dalam praktik surat berantai, penjualan berantai, permainan uang, penjualan bujukan dan investasi perjudian.

Menurut Andrias Harefa, Skema Piramid merupakan sistem bisnis ilegal,

dimana keuntungan yang diperoleh sejumlah orang yang berada pada posisi atas piramid (anggota lama) dibayarkan dari dana sejumlah orang yang berada pada posisi

bawah piramid (anggota baru).61

Skema Piramid berasal dari Skema Ponzi yang dimodifikasi. Kedua skema apabila digunakan akan mirip bentuk piramid, karena keuntungan yang dijanjikan

pada para peserta diperoleh dari sejumlah dana yang dibayarkan oleh peserta baru. Posisi peserta baru yang jumlahnya lebih banyak ditempatkan di bagian bawah piramid, sebaliknya posisi peserta lama yang jumlahnya lebih sedikit ditempatkan di

bagian atas piramid, sedangkan promotor atau founder (pendiri) dari skema ini berada pada posisi paling atas (puncak) piramid. Setiap dana yang ditempatkan dalam skema

akan disisihkan lebih banyak untuk promotor dan sisanya untuk diputar pada peserta yang berada di bawahnya.

Oleh karena itu, Skema Piramid diartikan pula sebagai sistem investasi palsu yang membayar peserta lama dari uang peserta baru yang direkrutnya, bukan dari laba yang riil. Skema ini ditakdirkan untuk runtuh,

sebab pendapatan jika, ada akan kurang untuk pembayaran para peserta. Keilegalan Skema Piramid terletak pada timbulnya kerugian nasabah pada level terbawah atas

hilangnya sejumlah uang yang diinvestasikan ke dalam bisnis tersebut.

61

(5)

Skema Piramid meskipun terkait erat dengan Skema Ponzi, keduanya masih dapat dibedakan. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Debra A. Valentine, bahwa :

A Ponzi Scheme is closely related to a Pyramid because it revolves around continuous recruiting, but in a Ponzi scheme the promoter generally has no product to sell and pays no commission to investors who recruit new members. Instead, the promoter collects payments from a stream of people, promising them all the same high rate of return on a short-term investment”.62

Dalam artian bebas, sebagai berikut : Skema Ponzi sebenarnya berbentuk

piramida, tetapi juga mempunyai beberapa perbedaan penting dengan skema piramida. Persyaratan Skema Ponzi adalah dengan promosi akan adanya awal, atau

seolah-olah ada, suatu peluang investasi yang riil. Seringkali hal ini melibatkan pembangunan sumber daya yang bernilai tinggi seperti minyak bumi, gas alam, mineral, pertambangan, real estate, dan sebagainya, dan apa yang dipromosikan

sering memang benar-benar ada. Sang promotor memiliki sebuah pertambangan, atau mempunyai investasi di bidang properti, namun, jika sumber daya itu memang betul ada, si promotor telah melipatgandakan nilainya (overvalued), di sisi lain, aset dan

sumber daya yang menjadi dasar peluang investasi sesungguhnya hanya khayalan semata si promotor. Skenario berikutnya, promotor mencoba meyakinkan investor

bahwa aset tersebut dapat lebih dikembangkan dengan tambahan modal, dan si promotor akan berbagai keuntungan dengan investor. Hal ini memberikan gambaran bahwa dividen tersebut merupakan keuntungan yang diperoleh dari suksesnya

pengembangan investasi yang dilakukan, padahal yang sesungguhnya pengembangan investasi yang dilakukan, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah promotor hanya

62

(6)

mengembalikan sebagian uang investor kepada mereka. Langkah ini akan menimbulkan dua hal, pertama para investor awal akan menambah saham

operasinya, kedua akan ada investor baru yang tertarik dengan skema ini. Proses pembayaran dividen terus berlanjut dan semakin banyak investor baru yang berdatangan sampai penipuan ini terbuka atau promotor diam-diam melarikan diri

dengan membawa dana investasi. Sedangkan Skema Piramida mencakup seseorang yang membuat investasi dengan hak untuk memperoleh kompensasi dalam

menemukan dan memperkenalkan partisipan lain ke dalam skema. Ada saling pengertian yang jelas antar partisipan bahwa suksesnya peluang yang ada tergantung pada bergabungnya partisipan-partisipan lain.

Inti dari kedua penjelasan tersebut adalah seorang anggota dalam Skema Ponzi tidak diharuskan untuk merekrut anggota baru, juga tidak dijanjikan komisi

meskipun ia melakukan perekrutan. Setiap orang memperoleh janji keuntungan yang tingkatnya sama, namun yang sungguh-sungguh mendapat keuntungan hanya orang yang bergabung lebih awal. Sebaliknya, dalam Skema Piramid keuntungan seseorang

dikaitkan dengan banyaknya jumlah anggota baru yang direkrut oleh dirinya dan downline-nya. Semakin banyak downline seseorang, maka keuntungan yang diperoleh akan semakin tinggi. Kedua skema meskipun berbeda dalam hal besarnya

pembagian keuntungan, namun dipastikan akan runtuh dan merugikan banyak orang secara finansial. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Debra A. Valentine, sebagai

berikut63

63

(7)

Both Ponzi schemes and Pyramids are quiete seductive because they may be able to deliver a high rate of return to a few early investors for a short period of time. Yet, both pyramid and Ponzi are illegal because they inevitably must fall apart. No program can recruit new members forever. Every pyramid or Ponzi scheme collapses because it cannot expand beyond the size of the earth’s population. When the scheme collapse, most investors find themselves at the bottom, unable to recoup their lossesi”.

Istilah lain dari program Skema Piramid adalah praktik penggandaan uang, money game, arisan berantai, bisnis berkedok MLM, investasi berantai, dan lain-lain.

Skema Piramid umumnya diterapkan dalam bisnis berkedok MLM, dimana Skema Piramid tersebut disembunyikan dengan menggunakan kedok MLM untuk menipu

masyarakat agar promotor dapat mencapai tujuan.

Bisnis MLM murni dan bisnis berkedok MLM sering kali diidentikkan karena keduanya sama-sama menerapkan sistem perekrutan anggota baru dalam praktiknya,

namun demikian, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya terkait dengan sistem perekrutan tersebut. Perusahaan MLM murni menggunakan sistem perekrutan sebagai sarana untuk membangun jaringan pelanggan melalui kinerja mitra usahanya dalam

pemasaran produk. Penerapan sistem perekrutan dalam bisnis MLM murni ditujukan untuk membentuk sebuah organisasi bisnis yang solid dan produktif. Berdasarkan

produktivitas dalam penjualan produk kepada konsumen akhir inilah perusahaan MLM murni memberikan penghasilan yang layak kepada mitra usahanya. Hal tersebut bertolak belakang dalam bisnis berkedok MLM yang menggunakan biaya

pendaftaran peserta yang direkrut sebagai satu-satunya sumber penghasilan. Akibatnya, bukan jaringan pelanggan atau organisasi penjualan yang hendak

(8)

peserta selalu menambah member-member baru atau membuat membernya terus-menerus menanamkan uangnya.64

Seorang mitra usaha dalam perusahaan MLM murni juga dikenakanbiaya pendaftaran pada saat awal bergabung, namun jumlahnya relatif kecil dan umumnya

dapat dijangkau oleh semua orang. Biaya tersebut lebih bersifat administratif dan sangat realistis untuk sebuah starter kit (katalog produk, kaset, marketing plan, buku pedoman distributor, sample produk, dan lain sebagainya), yaitu peralatan yang

diberikan perusahaan untuk keperluan mitra usaha dalam memasarkan produk kepada konsumen. Setiap mitra usaha yang mensponsori anggota baru tidak memperoleh keuntungan sepeser pun dari biaya pendaftaran yang dikeluarkan oleh anggotanya

tersebut. Artinya, biaya pendaftaran dalam bisnis MLM murni bukanlah wadah keuntungan bagi perusahaan itu sendiri.

Biaya pendaftaran dalam bisnis berkedok MLM merupakan komoditi yang dituju promotor untuk menghimpun keuntungan sebesar-besarnya dari masyarakat. Biaya tersebut dipatok dalam jumlah yang relatif tinggi, namun jumlah tersebut akan

menjadi tidak berarti jika dibandingkan dengan keuntungan yang dijanjikan. Promotor bisnis berkedok MLM umumnya adalah ahli psikologi kelompok, mereka

menciptakan suasana hingar bingar dan antusias dimana terjadi tekanan kelompok serta janji-janji kemudahan memperoleh uang sehingga menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya suatu peluang baik.

65

64

Edy Zaques (Editor), “Membedakan Bisnis DS-MLM dengan Money Game”, Info APLI, Edisi XXX (Okt-Des, 2005), hal. 8.

65

(9)

Keuntungan suatu perusahaan MLM diperoleh dari omset penjualan, sedangkan komisi mitra usaha didasarkan atas jasanya dalam menjual produk kepada

konsumen. Setiap mitra usaha dalam perusahaan MLM memiliki peluang yang sama untuk meraih kesuksesan sesuai dengan hasil kerja keras mereka masing-masing. Hal ini seperti yang pernah ditanyakan oleh Debra A. Valentine, sebagai berikut66

Bisnis berkedok MLM pada mulanya diselenggarakan tanpa produk yang

jelas, namun, dalam perkembangannya selanjutnya juga menyertakan produk-produk tertentu untuk lebih meyakinkan calon anggota, sekaligus untuk menyamarkan Skema

Piramidnya. Serangkaian produk disediakan dan diklaim untuk dipasarkan langsung ke konsumen, namun, harga yang ditetapkan untuk produk tersebut terlalu tinggi dan tidak realistis. Produk tersebut sama sekali tidak bisa bersaing dengan produk sejenis

yang dijual di pasaran, sebab harganya tidak sebanding dengan mutunya. Bisnis berkedok MLM yang tidak terlalu mudah diidentifikasi sering menggunakan produk yang biaya produksinya rendah. Produk tersebut diklain sebagai produk ajaib hasil

inovasi atau pengobatan eksotik yang pada intinya kualitas produk terlalu dilebih-lebihkan oleh promotor, tidak sesuai dengan kualitas asli, bahkan sebenarnya tidak

layak untuk dikonsumsi. Produk dalam bisnis berkedok MLM biasanya diberikan sebagai ganti biaya pendaftaran yang telah dibayar oleh setiap anggota. Pada

:

Multilevel marketing programs are known as MLM’s, and unlike pyramid or Ponzi schemes, MLM’s have a real product to sell. More importantly, MLM’s actually sell their product to members of the general public, without requiring these consumers to pay anything extra or to join the MLM system. MLM’s may pay commissions to a long string of distributors, but these commission are paid for real retail sales, not for new recruits”.

66

(10)

kenyataannya modal yang dikeluarkan oleh anggota jauh lebih tinggi dibanding nilai produk, dan dipastikan tidak ada orang yang bersedia membeli produk tersebut

seharga modal yang telah dikeluarkan. Ilustrasinya, seorang anggota mungkin harus membeli produk obat-obatan yang dikatakan mujarab tetapi sesungguhnya tidak bermanfaat senilai Rp. 2 juta. Ia dipastikan tidak akan berhasil menjual obat tersebut

kepada orang lain, sebab tidak rasional sama sekali untuk mengeluarkan uang sebesar Rp. 2 juta untuk obat yang belum jelas khasiatnya. Ia juga tidak mungkin

mengembalikan obat tersebut kepada perusahaan untuk meminta kembali uang Rp. 2 juta-nya, sebab perusahaan tidak memberikan jaminan untuk membeli kembali dan produk tersebut memang tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitas dan

manfaatnya. Satu-satunya cara untuk mengembalikan modal atau mendapat keuntungan yang lebih besar adalah dengan merekrut banyak peserta baru.

Berbeda dengan perusahaan berkedok MLM, perusahaan MLM murni tidak pernah mewajibkan distributornya untuk membeli produk secara berlebihan dalam jumlah besar, hanya menganjurkan untuk mempertahankan sejumlah stok sesuai

dengan kemampuan distributor yang memasarkannya dalam periode tertentu (anjuran ini hanya demi kepentingan si distributor sendiri, agar mudah memasarkan produk dan tidak membuat konsumen yang berminat harus menunggu lama). Perusahaan

MLM murni memberikan jaminan untuk membeli kembali atau menukar produk yang sulit untuk dipasarkan oleh mitra usaha. Dengan demikian mitra usaha tidak akan

dirugikn atas modal yang dikeluarkannya.67

67

(11)

Perusahaan MLM yang terkemuka (seperti CNI atau Amway) bahkan lebih mengutamakan kepuasan pelangan (consumer satisfaction) dengan memberi jaminan

uang kembali (money back guarantee), dimana konsumen dapat mengembalikan atau menukar produk yang telah dibeli dalam waktu tertentu pada distributor yang memasarkan, apabila produk tersebut ternyata tidak memuaskan. Garansi uang

kembali bagi konsumen yang tidak puas, dengan alasan apapun, menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap kualitas produk perusahaan. Hal ini

menggambarkan bahwa produk-produk yang diperdagangkan dalam bisnis MLM tidak hanya dapat dijual, tetapi sungguh-sungguh dapat dijual kepada publik.68

Perusahaan MLM yang sah dan bertanggungjawab dimungkinkan untuk

berumur panjang. Perusahaan MLM terkemuka seperti Amway dan CNI telah beroperasi selama puluhan tahun hingga sekarang karena memang terbukti

merupakan usaha yang tidak saja patuh hukum (legal), tetapi juga memegang teguh etika bisnis (kode etik dan aturan prilaku yang berlaku secara internasional). Sebaliknya pada perusahaan-perusahaan berkedok MLM, dipastikan berumur singkat.

Tidak satupun perusahaan dengan menggunakan Skema Piramid di dunia ini yang berumur panjang, sebab tidak ada program yang bisa merekrut anggota selamanya. Kebanyakan dari perusahaan Skema Piramid hanya dapat bertahan dalam hitungan

hari, minggu atau bulan, tergantung seberapa jauh penegakanhukum benar-benar dijalankan aparat yang berwenang untuk itu.69

68Ibid.

, hal. 167.

69

(12)

2. Sejarah Skema Piramid dan Perkembangannya di Indonesia

Musuh industri MLM adalah program Skema Piramid. Program Skema

Piramida selalu muncul di saat industri DS-MLM mengalami perkembangan. Hal ini terjadi di negara manapun, dimana pada saat industri MLM berkembang dan menaruh minat banyak orang, maka Skema Piramid memanfaatkan trend tersebut untuk

menghimpun keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu sesingkat-singkatnya dari masyarakat.70

Penyelewengan sistem MLM tampak dalam Skema Piramid, dan menurut Patric Sullivan, Presiden Direktur Amway Indonesia, mengatakan bahwa : “Beberapa perusahaan telah menggunakan Skema Piramid dan juga Investasi Surat Berantai

pada tahun 1960-an, seperti Koscot, Bestline, Nutribio, Dare-to-be-Great dan lain-lain”.71

Carlo Pietro Giovanni Guglielmo Tebaldo Ponzi atau dikenal juga dengan

nama Charles Ponzi adalah seorang imigran asal Italia yang lahir pada tanggal 03 Maret 1882. Ponzi dikenal sebagai salah satu penipu terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Ponzi mulai pindah dari Italia dan menetap di Kanada pada tahun 1903,

disana ia pernah dua kali masuk penjara karena terlibat kasus pemalsuan dan penipuan. Setelah dibebaskan dari penjara Kanada, Ponzi kemudian pindah ke Boston

Ada pendapat bahwa hal ini telah dilakukan sejak tahun 1920-an dan

mengkaitkannya dengan Skema Ponzi (Ponzi Scheme) yang diambil dari nama pelaku utamanya Carlo Ponzi.

70

Edy Zaqeus, Op.cit., hal. 8.

71

(13)

pada tahun 1920. Ia kemudian menemukan sebuah cara untuk mendapatkan banyak uang dengan cara menjual Postal Reply Coupons (PRC).72

PRC diterbitkan di bawah Universal Postal Convention (Konvensi Pos Sedunia) yang pada masa itu digunakan dalam surat-menyurat internasional sebagai pengganti perangko untuk pengiriman surat atau barang.73

Inflasi di Eropa cukup tinggi pasca Perang Dunia II, sehingga terjadi

perbedaan biaya pengiriman lewat pos dari Amerika Serikat ke Eropa dengan dari Eropa ke Amerika Serikat. Akibatnya, PRC yang dijual di Italia atau di Eropa harganya lebih rendah dibandingkan dengan di Amerika Serikat. Ide Ponzi adalah

membeli PRC dari Italia, kemudian diuangkan di Amerika Serikat. Ponzi selanjutnya mendirikan The Security Exchange Company (1920) di Boston dan memperkenalkannya sebagai usaha spekulasi perangko. Ia menggalang dana melalui

agen-agen yang diberinya komisi tinggi untuk mengajak masyarakat menginvestasikan uang dengan janji pembayaran bunga sebesar 40% dalam waktu 90

Misalkan A di sebuah

negara mengirim surat kepada B (biasanya perusahaan atau badan lainnya) yang berada di negara lain untuk memesan suatu barang, B mensyaratkan setiap

pemesanan barang harus disertai PRC. PRC tersebut bisa ditukarkan dengan perangko untuk mengirim barang-barang yang diminta kliennya melalui jasa pos, maksudnya agar B tidak dibebani biaya perangko karena A sudah menyediakannya dalam bentuk

PRC. PRC tersebut juga bisa diuangkan.

72

Benni Sinaga, Rahasia Gelap di Bursa Saham, Cet. I, (Jakarta : Gerrmedia Pressindo, 2013), hal. 93-94.

73

(14)

hari, sementara itu, bank hanya mampu memberi bunga sebesar 5% per tahun. Tawaran Ponzi berhasil memikat banyak orang dan hanya dalam waktu 4 bulan,

Ponzi mampu mengumpulkan dana sebesar $. 420.000 (setara dengan 620 Kg emas) dari para investornya. Perusahaan Ponzi semakin terkenal dan mendapatkan banyak dana investasi setelah harian The Boston Post menerbitkan artikel yang berisi

pandangan positif terhadap bisnis Ponzi.

Ide Ponzi sesungguhnya telah gagal sejak awal. Hal ini disebabkan karena

jumlah investasi yang diterima Ponzi tidak sesuai dengan PRC yang beredar, dan PRC sendiri tidak dapat dibeli dalam jumlah banyak. Ponzi kemudian menemukan ide baru, yaitu membayar uang investor lama dari uang investor baru. Metode ini

diberinya nama bubble burst. Ide tersebut pada mulanya berjalan dengan lancar, sebab jumlah investor di perusahaan Ponzi mengalami peningkatan. Dana baru yang

masuk bisa menutup pembayaran bunga kepada investor lama, dan kebanyakan dari investor Ponzi tidak mengambil bunga dari investasinya melainkan menanamnya kembali. Ponzi selanjutnya menyimpan seluruh uang nasabahnya di sebuah bank

bernama Hanover Trust Bank, dan dengan uang tersebut ia dapat menerima bunga sebesar 5% yang merupakan keuntungan riil dari Security Exchange Company (SEC).

Pola bisnis Ponzi ternyata telah menarik perhatian Clarence Barron, seorang

analis keuangan. Berdasarkan penelitiannya, Barron kemudian menuliskan sebuah artikel dalam harian The Boston Post yang berisi analisa bahwa pola bisnis Ponzi di

(15)

sempat membuat beberapa investor menarik dananya dari SEC, dan mereka mendapat pengembalian dana dari cek Hanover Trust Bank.

William McMasters, seorang Public Relation (PR) di SEC juga menyimpan kecurigaan terhadap bisnis Ponzi, terutama mengenai pendepositoan uang nasabah di Hanover Trust Bank yang hanya mendapat bunga sebesar 5% per tahun, sedangkan

SEC sendiri memberi bunga sebesar 40% dalam waktu 90 hari. Kecurigaan tersebut mendorong McMasters untuk mengundurkan diri dari SEC. McMasters juga

menuliskan sebuah artikel dalam harian The Boston Post yang berisi pernyataan bahwa SEC sesungguhnya telah pailit, sebab asetnya tidak mencukupi jumlah yang harus dibayarkan kepada nasabah. Berita ini kembali membuat para investor

melakukan penarikan dana secara besar-besaran. Penarikan ini kemudian terhenti ketika jumlah saldo Ponzi di Hanover Trust Bank tidak lagi mencukupi pembayaran

kepada para investor SEC.

Pemerintah AS kemudian menginvestigasi usaha Ponzi, dan hasilnya menyatakan bahwa Ponzi telah bangkrut. Aset yang dimiliki Ponzi hanya sekitar

US$. 1,6 juta jauh di bawah nilai hutangnya pada para investor. Ponzi akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama 5 (lima) tahun oleh Pengadilan Federal dengan tuduhan penipuan melalui surat.

Skema Ponzi menjadi sangat terkenal dan sekaligus mengilhami orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk mengadopsinya ke dalam berbagai jenis bisnis,

(16)

Skema Piramid mulai dipraktekkan oleh Glenn Wesley Turner di perusahaan Kosmetics Company of Tommorrow (Koscot) Interplanetary, Inc., yang ia dirikan

pada tahun 1967 di Florida, Amerika Serikat. Turner memperkenalkan Koscot sebagai perusahaan berbasis MLM yang memperjualbelikan alat-alat kosmetik. Program MLM Turner memiliki empat tingkat distributor dari tingkat paling rendah

adalah peserta potensial yang dimungkinkan untuk masuk pada salah satu dari tiga tingkat di atasnya yaitu beauty advisor, supervisor dan director.74

Setiap anggota diharuskan berinvestasi awal dalam jumlah tertentu yang nilainya relatif besar. Investasi tersebut memberikan hak bagi setiap anggota untuk dapat merekrut anggota baru. Perusahaan selanjutnya memberikan sejumlah produk

kosmetik untuk dipasarkan ke konsumen dari investasi awal yang dibayarkan dan menjanjikan komisi kepada setiap anggota yang berhasil merekrut anggota baru.

Pemberian komisi tersebut ternyata diperoleh dari investasi yang dibayarkan oleh anggota baru. Akibatnya, para anggota lebih fokus melakukan perekrutan terus-menerus demi mendapat komisi daripada harus menjual produk ke konsumen. Produk

yang gagal dipasarkan ke konsumen akhirnya menjadi penumpukan stok bagi distributor. Koscot sendiri tidak memberi jaminan untuk membeli kembali stok yang tidak berhasil dipasarkan oleh distributor, sebab pembayaran komisi dibayarkan dari

investasi anggota. Artinya, para distributor bertanggungjawab atas produk kosmetik yang diinvestasikan harus dapat dijual ke konsumen.75

74

86 FTC. 1106, “In The Matter of Koscot Interplanetary, Inc.”, Order, Opinion Etc., in Regard to Alleged Violation of The Federal Trade Commission Act and Sec. 2 of Clayton Act.

(17)

Tuner juga mendirikan perusahaan Dare To Be Great sebagai badan pelatihan para anggota atau calon anggota Koscot yang memaparkan kesuksesan dan kekayaan

yang menanti mereka. Tujuan akhir dari pelatihan ini adalah membujuk para anggota atau calon anggota untuk membeli paket kosmetik yang tersedia di Koscot.76

Bisnis MLM Turner selanjutnya diinvestigasi pada tahun 1972 berdasarkan

pengaduan dari para distributor Koscot ke Federal Trade Commission (FTC), yaitu sebuah Komisi Perdagangan di Amerika Serikat yang melakukan fungsi inti

pemerintahan dalam mengawasi penyelenggaraan pasar bebas. Pada tanggal 18 November 1975, FTC akhirnya memutus sistem yang digunakan Koscot adalah ilegal (Pyramid Scheme).77 Keputusan FTC tersebut (Koscot 86 FTC at 1106) kemudian

menjadi sumber hukum (common law) di Amerika Serikat untuk menentukan karakteristik suatu perusahaan yang tergolong menggunakan Pyramid Scheme.78

Praktek bisnis dengan konsep Skema Piramid di Indonesia juga berasal dari Skema Ponzi yang pertama kali diterapkan oleh Jusup Handojo Ongkowidjaja dalam Yayasan Keluarga Adil Makmur (YKAM) yang didirikannya pada tahun 1987 di

Jakarta. Ongko memperkenalkan YKAM sebagai usaha “tabung-pinjam gotong royong” yang menawarkan paket kredit sebesar Rp. 5 juta tanpa bersusah payah. Syaratnya para peserta cukup membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 50 ribu, dan

menyetor tabungan Rp. 30 ribu sebanyak 7 (tujuh) kali dalam waktu satu bulan. Pengembalian pinjaman Rp. 5 juta tersebut dapat diangsur selama 15 tahun, dan jika

sudah lunas peminjam juga dijanjikan bonus sebesar Rp. 9,6 juta. Tawaran ini

76 Ibid. 77Ibid. 78

(18)

berhasil memikat banyak orang, anggota YKAM sampai bulan Februari 1988 mencapai lebih dari 44.000 orang dengan paket terdaftar sebanyak 70.000 buah,

tersebar di Jakarta dan 27 kota lainnya.79

Selanjutnya, usaha YKAM hanya bertahan sampai bulan Februari 1988. Pada saat itu, Ongko sedang mengalami kesulitan dalam mencairkan paket kredit yang

sudah jatuh tempo. Rencana pencairan sekitar 291 paket kredit yang berjumlah lebih dari Rp. 1 miliar gagal, sebab pada saat itu uang yang ada di kas YKAM hanya Rp.

30 juta. Para anggota menjelang hari jatuh tempo seperti biasa mendatangi kantor YKAM untuk meminta pembagian paket pinjaman. Ongko yang pada saat itu tidak dapat mengabulkan pencairan paket terpaksa menyerahkan diri ke Polisi. Ia ditahan

dan kemudian kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.80

Hasil pemeriksaan di pengadilan menyatakan Ongko telah menghimpun dana

sebesar Rp. 18 miliar melalui YKAM, tetapi yang sempat menikmati paket kredit Ongko hanya 2337 orang yang totalnya Rp. 12 miliar, sehingga sisanya Rp. 6 miliar dinyatakan telah dikorupsi oleh Ongko. Ongko akhirnya divonis 15 tahun penjara

dnegan tuduhan melakukan penipuan tindak pidana korupsi, sampai di tingkat kasasi vonis yang dijatuhkan tetap tidak berubah.81

Skema Ponzi terapan Ongko ternyata juga telah mengilhami sejumlah orang

yang tidak bermoral untuk mengadopsinya ke dalam berbagai jenis bisnis di

79

Harian Suara Merdeka, “Belajar Dari Kasus CV Medical”, diterbitkan Senin, 25 April 2005. Lihat juga : Majalah Tempo, diterbitkan Sabtu, 20 Februari 1988.

80Ibid. 81

(19)

Indonesia. Adapun praketk bisnis dengan metode yang pernah beroperasi di Indonesia, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1.

Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Skema Ponzi

NO. NAMA PERUSAHAAN TAHUN

1. PT. Multi Jaya Indovesco 1992

2. PT. Suti Kelola 1992

3. Arisan Danasonik 1995

4. PT. Banyumas Mulya Abadi 1996

5. Kospin 1998

6. Yoshiro 1998

7. PT. Era Catur Wicaksana atau New Era 21 1999

8. PT. Inter Jasa Perkasa 1999

9. Citra Keluarga Sejahtera Sentosa 1999 10. Hidup Gembira Awet Muda atau Higam Net 1999

11. PT. Rosindo 1999

12. PT. Promail 2000

13. PT. Probest International 2000

14. PT. Qurnia Subur Alam Raya 2001

15. PT. Adess Sumber Hidup Dinamika 2003

16. YAMI 2002

17. PT. Goldquest 2003

18. Golden Saving 2003

19. Ibist 2007

20. TVI Express 2011

21. Dan lain-lain ---

Sumber : Data Sekunder yang diolah.

(20)

3. Sistem Kerja Skema Piramid

Skema Piramid adalah metode yang digunakan dalam bisnis ilegal dengan

melibatkan pertukaran uang terutama untuk mendaftarkan orang lain ke dalam skema. Bisnis dengan Skema Piramid umumnya tidak menyediakan produk berupa barang dan/atau jasa untuk ditawarkan. Adakalanya bisnis ini juga menyediakan produk,

namun produk tersebut hanya untuk menyamarkan penipuan agar terlihat seperti bisnis yang riil. Sistem kerja Skema Piramid dapat digambarkan seperti contoh di

bawah ini82 :

BIAYA PENDAFTARAN RP. 5 JT

Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa setiap peserta harus membayar sebesar Rp. 5 jt untuk bergabung, dan setiap peserta dapat merekrut beberapa peserta

baru. Contoh skema di atas terdiri dari lima level, dan setiap peserta sampai level keempat masing-masing berhasil merekrut 3 downline. Setiap peserta akan dibayar

Rp. 1,5 jt dari setiap downline yang direkrutnya sendiri, dan akan diberikan bonus Rp. 300 rb untuk setiap peserta baru yang berhasil direkrut oleh jaringannya.

#

Level 1 Rp. 1,5 jt x 3 = Rp. 4,5 jt # # # Level 2 Rp. 300 rb x 9 = Rp. 2,7 jt ### ### ### Level 3 Rp. 300 rb x 27 = Rp. 8,1 jt ######### ######### ######### Level 4 Rp. 300 rb x 81 = Rp. 24,3 jt (27#) (27#) (27#)

---+ Rp. 39,6 jt

83

Peserta pada level pertama berdasarkan skema di atas terlihat mendapat

peluang yang lebih besar untuk memperoleh keuntungan. Promotor (pendiri perusahaan) Skema Piramid selalu meyakinkan setiap peserta bahwa mereka bisa

82

Andreas Harefa, Op.cit., hal. 85-86.

(21)

menduduki level pertama, dan bahwa ia harus mempertimbangkan dirinya berada di bagian atas matriks. Perspektif ini menunjukkan bahwa orang yang berada pada level

pertama dapat memperoleh Rp. 39,6 jt dari investasi sebesar Rp. 5 jt, keuntungan ini berarti ada sebesar 792%. Tawaran ini sangat menggiurkan dan patut dipertimbangkan. Pertimbangan tersebut menjadi alasan utama mengapa banyak

orang memilih untuk bergabung.84

Analisa selanjutnya dari skema di atas adalah dengan melihat puncak matriks.

Puncak matriks diduduki peserta level pertama, tetapi sesungguhnya promotor berada di tempat yang lebih atas dari peserta level pertama. Promotor memandang setiap anggota baru sebagai alat spekulasi keuntungan, dan membayarkan sedikit beban

untuk sebagian peserta dari pendapatan yang mengalir padanya. Promotor akan menerima Rp. 5 jt untuk setiap pendaftaran peserta baru, dan paling banyak ia harus

membayar Rp. 2,4 jt untuk setiap peserta (komisi ditambah bonus). Jadi, promotor akan menerima Rp. 5 jt dari setiap anggota, akan tetapi ia hanya harus membayar Rp. 1,5 jt untuk setiap anggota baru yang berhasil direkrut langsung oleh peserta, dan

membayar bonus Rp. 300 rb kepada upline yang jaringannya berhasil merekrut seorang anggota baru. Kesimpulannya, promotor akan mengantongi lebih dari setengah jumlah biaya pendaftaran keanggotaan.85

a. “Rp. 5 jt dari biaya pendaftaran yang dikeluarkan peserta pertama;

Analisa selanjutnya jika diasumsikan skema ini ambruk setelah level kelima terisi, maka promotor akan menerima keuntungan sebagai berikut :

84Ibid.

(22)

b. Rp. 10,5 jt dari 3 orang peserta level kedua (3 x Rp. 5 jt dikurangi komisi peserta level pertama 3 x Rp. 5 jt);

c. Rp. 28,8 jt dari 9 orang peserta level ketiga (9 x Rp. 5 jt dikurangi komisi level kedua 9 x Rp. 1,5 jt dikurangi bonus level pertama 9 x Rp. 300 rb); d. Rp. 78,3 jt dari 27 orang peserta level keempat (27 x Rp. 5 jt dikurangi

komisi level ketiga 27 x Rp. 1,5 jt dikurangi bonus level kedua 27 x Rp. 300 rb dikurangi bonus level pertama 27 x Rp. 300 rb);

e. Rp. 210,6 jt dari 81 orang peserta level kelima (81 x Rp. 5 jt dikurangi komisi level keempat 81 x Rp. 1,5 jt dikurangi bonus level ketiga 81 x Rp. 300 rb dikurangi bonus level kedua 81 x Rp. 300 rb dikurangi bonus level pertama 81 x Rp. 300 rb).

Total dana yang berhasil mengalir ke promotor adalah Rp. 333,2 jt dan dana tersebut diperolehnya hanya dengan merekrut peserta level pertama saja”.86

Analisa selanjutnya adalah dengan melihat dari sudut pandang korban, setelah

seluruh Skema Piramid runtuh. Korban pada level kelima (paling bawah piramida) yang awalnya merasa memiliki peluang untuk menjadi level pertama seketika menyadari bahwa sebenarnya ia berada di bagian bawah. Ia tidak mampu menemukan

orang yang tertarik untuk direkrut sebagai downline-nya. Hitungan matematis menunjukkan bahwa korban terbanyak dari keruntuhan Skema Piramid adalah orang yang berada pada level terbawah, setidaknya 70% anggota berada pada level

terbawah tanpa sarana untuk memperoleh keuntungan. Masing-masing dari mereka akan kehilangan Rp. 5 jt, bahkan sering kali orang yang berada satu tingkat di atas

level terbawah piramida tidak dapat mengembalikan modalnya secara utuh. Hal ini semakin menambahkan jumlah korban menjadi sekitar 89% dari anggota Skema Piramid (dalam contoh skema di atas adalah 108 orang dari 121 anggota) ditakdirkan

untuk kehilangan uangnya.87

86Ibid.

(23)

Mengenai Skema Piramid di atas, Andrias Harefa pernah mengemukakan 3 (tiga) hal sebagai berikut88

a. “Skema ini menempatkan pesertanya sebagai pecundang (loser), sejumlah besar pecundang membayar kepada sedikit pemenang (winner). Hal ini sangat mirip, bahkan lebih kejam dari permainan judi (terutama karena peserta tidak sadar dilibatkan dalam semacam pertaruhan);

:

b. Perusahaan dan peserta (yang sadar maupun tidak sadar) harus menipu orang yang mereka rekrut, sebab bila sistem ini dijelaskan secara logis dan tuntas, tidak akan banyak orang yang berminat mengikutinya;

c. Sistem ini bersifat melawan hukum (ilegal) dan di banyak negara, pemilik perusahaan, dan peserta ditangkap, didenda, dan dipenjara karena menjalankan sistem ini”.

Dengan demikian, pelaku bisnis berkedok MLM yang menggunakan Skema Piramid tidak pernah menguntungkan downline-nya karena pemasukan riil dari

perusahaan MLM tersebut tidak ada. Sehingga para downline tetap dirugikan karena mengeluarkan uang hanya untuk menguntungkan upline-nya.

B. Kegiatan Penyelenggaraan Penjualan di Indonesia

Pembangunan dan perkembangan perekonomian pada umumnya dan

khususnya di bidang perindustrian dan perdagangan nasional telah menghasilkan berbagai variasi barang dan/atau jasa yang dapat dikonsumsi. Di samping itu, globalisasi dan perdagangan bebas yang didukung oleh kemajuan teknologi

telekomunikasi dan informatika telah memperluas ruang gerak arus transaksi barang dan/atau jasa melintasi batas-batas wilayah suatu negara, sehingga barang dan/atau

jasa yang ditawarkan bervariasi, baik produk luar negeri maupun produksi dalam negeri. Kondisi yang demikian pada satu pihak mempunyai manfaat bagi konsumen

88

(24)

karena kebutuhan konsumen akan kebutuhan barang dan/atau jasa yang diinginkan dapat terpenuhi serta semakin terbuka lebar kebebasanuntuk memilih aneka jenis dan

kualitas barang dan/atau jasa sesuai dengan keinginan dan kemampuan konsumen.89

89

Andrian Sutedi, Tanggung Jawab Produk Dalam Hukum Perlindungan Konsumen, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2008), hal. 1.

Salah satu cara yang dilakukan oleh pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan konsumen dan sekaligus mengembangkan sistem pemasaran perusahaan adalah

dengan menggunakan sistem penjualan langsung/direct selling. Pengertian Sistem penjualan langsung/direct selling menurut Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor

: 32/M-DAG/PER/8/2008 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Perdagangan dengan Sistem Penjualan Langsung Pasal 1 ayat 1 adalah : “Metode penjualan barang dan/atau jasa tertentu melalui jaringan pemasaran yang dikembangkan oleh mitra

usaha yang bekerja atas dasar komisi dan/atau bonus berdasarkan hasil penjualan kepada konsumen di luar lokasi eceran tetap”.

Untuk melindungi konsumen dari praktik direct selling palsu dan sekaligus untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat selaku konsumen maka pemerintah mengeluarkan Peraturan Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor :

32/M-DAG/PER/8/2008 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Perdagangan dengan Sistem Penjualan Langsung yang nantinya diharapakan dapat membantu masyarakat untuk bijak dalam memilih perusahaan direct sellingyang murni dan

palsu sebelum bergabung sebagai mitra usaha sehingga konsumen tidak terjebak dalam praktek direct selling palsu yang menggunakan sistem pemasaran jaringan

(25)

1. Penyelenggaraan Penjualan Langsung

Ketentuan mengenai penyelenggaraan penjualan langsung di Indonesia diatur

dalam Permendang No.32/M-DAG/PER/8/2008. Adapun definisi dari penjualan langsung berdasarkan Pasal 1 Angka 1 Permendag No. 32/MDAG/PER/8/2008 adalah sebagai berikut : “Penjualan langsung (direct selling) adalah metode penjualan

barang dan/atau jasa tertentu melalui jaringan pemasaran yang dikembangkan mitra usaha yang bekerja atas dasar komisi dan/atau bonus berdasarkan hasil penjualan

kepada konsumen di luar lokasi eceran tetap”.

Menurut Andrias Harefa, banyak alasan yang menyebabkan sistem Direct Selling (DS) dipilih oleh sebagian banyak perusahaan. Alasan-alasan tersebut antara

lain adalah sebagai berikut90

1. “Keyakinan bahwa sebuah produk yang baik dapat dipasarkan langsung kepada konsumen tanpa melewati jalur distribusi yang rumit dan nyaris tidak mengandalkan promosi kecuali mouth to mouth (periklanan dari mulut ke mulut);

:

2. Keyakinan pada prinsip perkembangbiakan jaringan distributor melalui kontak-kontak pribadi;

3. Keyakinan terhadap hak konsumen untuk mendapat informasi terbaik melalui penjelasan langsung dari distributor yang juga berperan sebagai konsumen produk yang dijualnya;

4. Perusahaan MLM yang baik meletakkan etika bisnis sebagai panglima. Keyakinan bahwa jiwa perusahaan bukan pada ilmu pemasaran tetapi lebih kepada prinsip-prinsip, nilai-nilai, motivasi yang menggerakkan the man behind the marketing science”.

Ruang lingkup sistem direct selling mencakup unsur produsen atau

perusahaan, distributor, konsumen, sistem kerja, dan komisi. Unsur-unsur ini akan dibahas satu persatu dalam uraian di bawah ini :

90

(26)

1. Perusahaan Direct Selling

Menurut Permendag No. 32 Tahun 2008 Pasal 1 tentang penyelenggaraan

kegiatan perdagangan dengan sistem penjualan langsung, perusahaan adalah badan usaha yang berbentuk badan hukum yang melakukan kegiatan usaha perdagangan barang dan/atau jasa dengan sistem penjualan langsung. Untuk mendirikan

perusahaan, wajib memenuhi ketentuan sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 2. 2. Distributor atau Mitra Usaha

Direct Selling dalam mengembangkan bisnis selalu melibatkan mitra usaha

selaku distributor maupun anggota jaringan. Pengertian distributor atau mitra usaha menurut Permendag No.32/MDAG/PER/8/2008 berdasarkan Pasal 1 yaitu : Anggota

mandiri jaringan pemasaran atau penjualan yang berbentuk badan usaha atau perseorangan dan bukan merupakan bagian dari struktur organisasi perusahaan yang

memasarkan atau menjual barang dan/atau jasa kepada konsumen akhir secara langsung dengan mendapatkan imbalan berupa komisi dan/atau bonus atas penjualan.

3. Konsumen

Pengertian konsumen menurut Pasal 1 angka 7 Permendag No.32/M-DAG/PER/8/2008 adalah : Setiap orang pemakai barang dan/atau jasa, baik untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak

untuk diperdagangkan. Sedangkan konsumen dalam konteks DS/MLM adalah masyarakat pengguna atau pembeli produk perusahaan DS/MLM yang bertujuan

untuk mengkonsumsi produk secara pribadi.91 4. Sistem Kerja

91

(27)

Perusahaan Direct Selling dibangun berdasarkan kemitraan sehingga sistem Direct Selling baru dapat berjalan apabila terdapat mitra usaha.Distributor/mitra

usaha inilah yang nantinya mengembangkan jaringan dan melahirkan distributor-distributor baru melalui perekrutan yang dilakukan oleh dirinya sendiri maupun anggotanya. Sistem kerja Direct Selling juga meliputi sistem pelatihan (support

system) berupa pengajaran materi serta motivasi yang bertujuan untuk memudahkan setiap distributor dalam menjalani sistem.92Pelatihan biasanya dilakukan oleh

pembangunan jaringan (network builder/achiever) yang telah berhasil mencetak prestasi tertentu.93

5. Komisi

Berdasarkan Pasal 1 angka 5 Permendag RI No.32/MDAG/PER/8/2008, pengertian komisi adalah imbalan yang diberikan oleh perusahaan kepada mitra usaha

yang besarnya dihitung berdasarkan hasil kerja nyata, sesuai volume atau nilai hasil penjualan barang dan/atau jasa, baik secara pribadi maupun jaringannya.

Besarnya komisi seorang distributor ditentukan dari target penjualan yang

dilakukannya sendiri dan yang dilakukan oleh jaringannya. Komisi tersebut berupa potongan harga, bonus, atau insentif yang ditetapkan perusahaan secara berjenjang sesuai dengan nilai penjualan(biasanya disebut volume point, business point, volume

92

Website Resmi Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia, “Saatnya MLM Menggali dan Mengedepankan Value”,

93

(28)

grip yang diberitahukan kepada mitra usaha sejak mereka mendaftar menjadi

anggota.94

1. Single Level Marketing (Sistem Pemasaran Satu Tingkat) Dalam sistem Direct Selling dibagi atas 2 (Dua) jenis, yaitu :

Perusahaan penjualan langsung satu jenjang (Single Level Marketing) sering

kita jumpai di acara iklan televisi yang bersifat khusus. Dalam acara televisi tersebut, perusahaan SLM menawarkan berbagai macam produk yang dibutuhkan masyarakat.

Mereka memperagakan cara penggunaan produk dan menunjukkan berbagai manfaat produk bagi konsumen. Produk yang ditawarkan bervariasi seperti alat-alat dapur, obat herbal, sandal kesehatan, alat-alat olahraga, dan lainlain. Sistem SLM ini

menggunakan metode pemasaran barang dan/atau jasa dari sistem penjualan langsung melalui program pemasaran berbentuk satu tingkat, dimana mitra usaha mendapatkan

komisi penjualan dan bonus penjualan dari hasil penjualan barang dan/atau jasa yang dilakukannya sendiri.

2. Multi Level Marketing (Sistem Pemasaran Bertingkat)

Defenisi MLM/ Penjualan Berjenjang secara hukum dapat dijumpai dalam Pasal 1 angka 1 Keputusan Menteri Perdagangan RI No.73/MPP/Kep/3/2000 tentang Kegiatan Usaha Penjualan Berjenjang adalah suatu cara atau metode penjualan secara

berjenjang kepada konsumen melalui jaringan pemasaran yang dikembangkan oleh perorangan atau badan usaha yang memperkenalkan barangdan/atau jasa tertentu

kepada sejumlah perorangan atau badan usaha lainnya secara berturut-turut yang bekerja berdasarkan komisi atau iuran keanggotaan yang wajar.

94

(29)

Dalam kenyataan di lapangan ditemukannya bentuk Multi Level Marketing palsu. Pengertian dari Multi Level Marketing palsu tidak disebutkan secara langsung

di dalam Permendag RI No. 32 Tahun 2008, akan tetapi dengan menggunakan istilah pemasaran jaringan terlarang kita dapat mengetahuinya. Pemasaran jaringan terlarang menurut Pasal 1 angka 12 adalah kegiatan usaha dengan nama atau istilah apa pun

dimana keikutsertaan mitra usaha berdasarkan pertimbangan adanya peluang untuk memperoleh imbalan yang berasal atau didapatkan terutama dari hasil partisipasi

orang lain yang bergabung kemudian atau sesudah bergabungnya mitra usaha tersebut, dan bukan dari hasil kegiatanpenjualan barang dan/atau jasa. Dalam menjalankan usahanya, perusahaan MLM palsu mempunyai tujuan utama

menghimpun dana masyarakat sebanyakbanyaknya bagi kepentingannya dirinya sendiri dengan cara melanggar hukum. Penghasilan utama para mitra usaha dalam

jaringan MLM palsu diperoleh dari komisi/bonus perekrutan anggota, bukan dari penjualan produk. Dalam MLM palsu produk dijadikan sebagai kedok untuk menutupi niat tidak baik perusahaan dalam menghimpun dana masyarakat secara

illegal. Perusahaan yang diperbolehkan menghimpun dan mengelola dana-dana masyarakat hanyalah perbankan, pasar modal, dan asuransi.

Sebaliknya, MLM asli memiliki surat izin khusus berupa SIUPL diatur secara

tegas dalam Pasal 9 Permendag No. 32 Tahun 2008. SIUPL tersebut berlaku diseluruh wilayah negara Republik Indonesia. Perusahaan yang baru melakukan

(30)

dengan kode pemasaran, kode etik, dan peraturan perusahaan. Peningkatan SIUPL Sementara menjadi SIUPL Tetap diajukan 30 hari kerja atau paling lambat 14 hari

kerja sebelum SIUPL Sementara habis masa berlakunya. Perusahaan yang telah mendapatkan SIUPL Tetap wajib melakukan pendaftaran ulang setiap 5 (lima) tahun. Dalam melakukan pemasarannya, perusahaan MLM murni harus memenuhi

ketentuan paling sedikit menyangkut hal-hal sebagai berikut95

1. “Memiliki alur distribusi barang dan/atau jasa yang jelas dari perusahaan sampai kepada konsumen akhir; dan

:

2. Jumlah komisi dan bonus atas hasil penjualan yang diberikan kepada seluruh mitra usaha dan jaringan pemasaran dibawahnya paling banyak 40% dari jumlah nilai penjualan barang dan/atau jasa perusahaan kepada mitra usaha”.

Menurut Pasal 1 angka 9 Permendag RI No. 32/M-Dag/Per/8/2008, Perusahaan adalah badan usaha yang berbentuk badan hukum yang melakukan

kegiatan usaha perdagangan barang dan/atau jasa dengan sistem Direct Selling. Perusahaan yang melakukan usaha perdagangan dengan sistem Direct Selling sesuai dengan Pasal 6 ayat (1) harus berbadan hukum Indonesia berbentuk perseroan

terbatas dan perdagangan dengan sistem Direct Selling dapat dilakukan oleh perusahaan dalam rangka penanaman modal dalam negeri atau penanaman modal asing sesuai dengan peraturan perundang-udangan di bidang penanaman modal

sebagaimana yang tertuang dalam ayat (2). Setiap perusahaan berdasarkan Pasal 9 ayat (1) wajib memiliki SIUPL dan berlaku di seluruh wilayah Negara Republik

Indonesia seperti yang tertuang dalam ayat (2). Dalam Pasal 9 ayat (3), perusahaan yang baru melakukan kegiatan usaha perdagangan dengan sistem direct selling akan

95

(31)

diberikan SIUPL Sementara dengan masa berlaku selama 1 (satu) tahun dan berdasarkan Pasal 9 ayat (4), SIUPL sementara dapat ditingkatkan menjadi SIUPL

Tetap dengan masa berlaku selama perusahaan menjalankan kegiatan usahanya. Peningkatan SIUPL Sementara menjadi SIUPL Tetap dapat diajukan 30 (tiga puluh) hari kerja sebelum masa berlakunya berakhir atau paling lambat 14 (empat belas) hari

kerja sebelum SIUPL Sementara habis masa berlakunya dan setiap 5 (lima) tahun wajib melakukan pendaftaran ulang seperti apa yang tertuang dalam Pasal 9 ayat (6).

Peraturan ini sangat selektif dalam mengatur dan mengantisipasi kemungkinan berkembangnya perusahaan-perusahaan yang berkedok DS yang sampai saat ini masih terus menjamur.

Dengan dimilikinya SIUPL oleh perusahaan DS dan sistem pemasaran dan ketentuan-ketentuan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2 setidaknya sudah

memberikan rasa nyaman kepada calon mitra usaha dan calon konsumen agar tidak tertipu dengan adanya perusahaan DS palsu.

Sanksi terhadap perusahaan yang tidak menjalankan sesuai dengan ketentuan

akan dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis oleh pejabat penerbit SIUPL. Peringatan secara tertulis akan diberikan sebanyak 3(tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 (dua) minggu terhitung sejak tanggal surat

peringatan diberikan sesuai dengan Pasal 26 ayat (1). Berdasarkan Pasal 27 ayat (1), perusahaan akan dikenakan sanksi administratif berupa pemberhentian sementara

(32)

dilakukan oleh pejabat penerbit SIUPL bila perusahaan tetap mengabaikan surat peringatan yang telah dikeluarkan sebanyak 3 (tiga) kali.

Mengenai tanggung jawab pelaku usaha terhadap produk yang dijual dengan

sistem penjualan langsung / Direct Selling apabila dirinci secara lebih sederhana, maka tanggung jawab tersebut, meliputi96

1. “Tanggung jawab kontraktual atau tanggung jawab berdasarkan adanya

suatu perjanjian yang dibuat oleh dua pihak atau lebih; :

2. Tanggung jawab perundang-undangan atau tanggung jawab berdasarkan

adanya suatu perbuatan melawan hukum”.

Dalam hal tanggung jawab kontraktual atau tanggung jawab berdasarkan adanya suatu perjanjian, berarti bahwa dalam melakukan suatu kontrak atau

perjanjian, sudah barang tentu ada yang bertanggung jawab atas sesuatu yang telah dibuat dalam perjanjian atau sesuatu yang diperjanjikan.

Sedangkan dalam perbuatan melawan hukum atau tanggung jawab

perundang-undangan, berarti tanggung jawab itu dipikul oleh orang yang melakukan perbuatan melawan hukum tersebut, dimana akibat dari perbuatannya itu mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Jadi akibat dari perbuatannya itulah yang

menimbulkan adanya suatu tanggung jawab dimana tanggung jawab itu harus dipikul olehnya sendiri. Baik itu akibat dari perbuatan yang melawan hukum dikehendakinya

maupun tida dikehendakinya oleh si pembuat atau dalam arti karena kurang hati-hati

96

(33)

atau kelalaiannya menyebabkan timbulnya perbuatan yang dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain.

2. Penyelenggaraan Penjualan Tidak Langsung

Penjualan tidak langsung merupakan strategi untuk mempromosikan suatu

produk atau jasa yang ditujukan untuk menyentuh pikiran dan perasaan konsumen. Wujud penjualan tidak langsung (Soft Sell) dapat ditemui dalam bentuk iklan, humas,

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility), dan pemasaran interaktif via internet secara tidak langsung.97

Kelebihan dari penjualan tidak langsung ini adalah konsumen akan lebih setia

(loyal) terhadap suatu merek dikarenakan informasi yang mereka peroleh sebelum membeli produk tersebut telah masuk dalam pikiran dan hati konsumen. Selain itu,

konsumen memiliki kesempatan untuk memikirkan secara matang sebelum membeli suatu produk. Sedangkan, kelemahannya adalah peningkatan jumlah penjualan akan berlangsung relatif lambat dikarenakan banyaknya pertimbangan yang dilakukan

konsumen sebelum membeli suatu produk.98

97

Tom Duncan, Principles of Advertising & IMC, 2nd Ed., (Inggris : Mc.Graw Hill Inc., 2005), Bab 17.

98 Ibid.

Penjualan tidak langsung dapat ditemui dalam berbagai produk sehari-hari seperti produk peralatan rumah tangga, makanan dan minuman, keperluan kantor, dan

(34)

C. Penentuan Kejahatan Praktek Bisnis Berkedok MLM

Sebelum membahas mengenai bagaimana menentukan kejahatan praktek

bisnis berkedok MLM, perlu untuk mengetahui perspektif hukum sistem MLM itu sendiri. Dari mana dalam perspektif sejarah hukum, MLM itu berasal.

Legalitas sistem bisnis MLM pertama kali diakui di Amerika Serikat melalui

penyidikan dan investigasi resmi US.FTC (United State Federal Trade Commission) pada tahun 1978 di perusahaan Amway. Hakim Timoty melalui penyidikan dan

investigasi resmi menegaskan bahwa pola penjualan dan pemasaran Amway (sebagai wakil dari perusahaan MLM yang sah) bukanlah pola piramid. Pertimbangannya dijelaskan sebagai berikut99

Pertimbangan di atas menyatakan bahwa perusahaan Amway tidak tergolong jenis piramid karena sistem Amway tidak melibatkan sebuah eksploitasi investasi

distributor baru. Sebuah starter kit yaitu peralatan untuk memasarkan produk ke konsumen seharga $.15,60 satu-satunya syarat yang diperlukan untuk menjadi

distributor Amway. Biaya tersebut akan dikembalikan apabila seorang distributor :

“… the Amway system does not involve an ‘investment’ in inventory by a new distributor. A kit of sales literature costing only $.15,60 is the only requisite. And that amount will be returned if the distributor decides to leave Amway. The Amway system is based on retail sales to consumers. Respondents have avoided the abuses of pyramid schemes by (1) not having a ‘headhunting’ fee; (2) making product sales a precondition to receiving the performance bonus; (3) buying back excessive inventory; and (4) requiring that products be sold to consumers. Amway’s buyback, 70% and ten costumers rules deter unlawful inventory loading. Amway is not in business to sell distributorships and is not a pyramid distribution scheme”.

99

(35)

Amway memutuskan untuk meninggalkan perusahaan. Sistem Amway didasarkan pada penjualan retail (eceran) kepada konsumen. Para petinggi Amway

(penanggungjawab perusahaan) telah menghindari penyalahgunaan Skema Piramid karena : (1) tidak memberi komisi berdasarkan perekrutan; (2) penjualan produk adalah pra-syarat untuk menerima bonus kinerja; (3) membeli kembali (garansi)

persediaan produk distributor yang berlebihan; (4) mensyaratkan komisi atau bonus akan diberikan apabila distributor dapat membuktikan bahwa produk

sungguh-sungguh telah dijual ke konsumen.

Pandangan hukum dalam menilai kelayakan sistem bisnis MLM dinyatakan dengan menguji sifat sistem itu sendiri, apakah ia bersifat etis, logis, dan profesional.

Hakim Timoty dalam pertimbangannya pada penyidikan dan investigasi pemasaran Amway (wakil dari perusahaan MLM yang sah), menyatakan sebagai berikut100

Amway’s products have very high consumer acceptance. A market study in the record shows that of 37 brands of laundry detergent, Amway’s product, with only a very small market share and no national advertising, was third in

:

Amway is a substantial industrial company. Amway’s United States sales have grown from $.4,3 million in 1963 to $. 169,1 million in 1976. Worldwide sales of Amway products in 1976 amounted to about $.205 million. Amway employed over 1,500 persons in 1976 at its plant in Ada, Michigan, with an annual payroll of $19 million. The plant represents a capital investment of $.56 million. In 1976, Amway paid over $.60 million to its distributor, over $.41 million for raw materials, and $.11 million to third parties for transportation of Amway products.

All but a few the regularline products sold under the Amway name are manufactured by Amway or its subsidiary, Nutrilite Products, Inc. Amway’s plant and equipment are modern and efficient. Amway follows recognized industry standards of good manufacturing practice. It has a substantial research and development operation and expends generally as much per sales dollar as larger competitors in the personal care products field.

100

(36)

brand loyalty. Amway’s dishwashing liquid soap led all 16 brands surveyed in consumer acceptance. In each of the markets for automatic dishwasher detergents, detergents for fine clothing, bleaches, rug cleaner, and laundry additives, Amway’s products were second in brand loyalty. Professor Cady, a marketing specialist from the Harvard Graduate School of Business Administration, testified that :

What this means overall is that consumers are obviously well served by the products that Amway supplies them with. In fact, they are so well-served, in the face of a large number of available substitutes, they purchase Amway products to a degree which is almost unknown to other brands in the market.

Amway has achieved this consumer acceptance for its products while having no more than 1,7% of any market in which it competes and while spending a total of about two million dollars for advertising and sales promotion for the years 1972 through 1975, while its top five competitors were spending about 2,3 billion dollars for that purpose.

Amway, through its distributors, provices services to consumers not readily available when products are purchased at a retail store. Amway has a 100% moneyback guarantee which permits a customer who is not satisfied with an Amway product to return it with the choice of replacement, repair, credit, or refund of full purchase price. Distributors provice the service of home or commercial delivery at the time conventient to the customer, including weekends and evenings. Amway distributors demonstrate and explain product use. Distributors perform water hardness tests and recommend the use of a dishwashing detergent for hard or soft water. Amway and its distributors provide advice for safe product use. Distributors leave simple products with customers for trial use before purchase”.

Pertimbangan Hakim Timoty di atas antara lain menyatakan bahwa dalam

waktu kurang dari 20 tahun Amway telah berhasil mendirikan sebuah perusahaan pabrikasi yang besar dengan sistem distribusi yang efisien (MLM), dan mampu memperkenalkan produk-produk baru ke pasaran. Pelanggan mendapat keuntungan

dari penyediaan sumber baru tersebut dan memberikan reaksi dengan cara menunjukkan kesetiaan terhadap produk Amway. Perusahaan Amway harus dipahami

(37)

bahwa keberhasilan Amway telah mendorong tumbuhnya berbagai perusahaan berbasis MLM di seluruh dunia. Keputusan 93 FTC. 618 (common law) ini telah

dijadikan landasan kukuh bagi perusahaan MLM yang sah untuk terus berkembang dan sekaligus membantu pemberantasan Skema Piramid di Amerika Serikat.101

Menurut Andrias Harefa, untuk dapat menguji keabsahan bisnis MLM harus

didasarkan pada dua aspek. Aspek pertama mengenai rancangan yang dikemukakan dalam dokumen perusahaan (marketing plan) harus jelas menyatakan bahwa

seseorang tidak mendapatkan komisi, bonus, atau penghargaan jika ia membeli produk untuk dipergunakan secara pribadi. Aplikasi dari tes ini adalah sama sekali tidak ada sesuatu yang salah atau ilegal dalam konsumsi pribadi. Aspek kedua adalah

dalam penerapan rencana dari marketing plan tadi, bahwa seorang mitra dalam perusahaan MLM dapat memperoleh komisi, bahkan tanpa melakukan sponsorisasi

(perekrutan downline). Penerapan marketing plan yang baik dan sah dari suatu perusahaan MLM adalah menyediakan suatu peluang single level untuk memperoleh keuntungan bagi mitra usaha yang memilih untuk tidak mensponsori orang lain.

Kesempatan untuk mendapatkan komisi tambahan jika seseorang mitra mensponsori orang lain tetap ada saat terjadi peningkatan penjualan (prestasi penjualan produk yang dilakukan kelompok jaringan yang dibangunnya).102

Oleh karena itu, sejarah hukum bisnis MLM pertama kali terdapat di Amerika Serikat pada perkara Amway yaitu salah satu perusahaan MLM yang sah, maka

perusahaan-perusahaan MLM yang ada, dapat bertolak kepada 93 FTC. 618 pada

101

Andrias Harefa, Op.cit., hal. 113-114.

102

(38)

tahun 1978. Perusahaan Amway tersebut tidak dapat dikategorikan telah menggunakan Skema Piramid karena :

1. Tidak memberi komisi berdasarkan perekrutan;

2. Penjualan produk adalah pra-syarat untuk menerima bonus kinerja;

3. Membeli kembali (garansi) persediaan produk distributor yang berlebihan;

4. Mensyaratkan komisi atau bonus akan diberikan apabila distributor dapat membuktikan bahwa produk sungguh-sungguh telah dijual ke konsumen.

Dengan kata lain, core business (inti bisnis) dari perusahaan Amway adalah

penjualan produk yang benar-benar bagus digunakan dan dibutuhkan dipasaran Amerika Serikat sehingga hasil penjualan menjadi masukan pendapatan bagi perusahaan yang selanjutnya menguntungkan para distributor-distributornya.

Dengan demikian, untuk menentukan apakah sebuah perusahaan MLM itu hanya kedok belaka ataukah benar-benar perusahaan yang mempunyai pendapatan riil, maka yang perlu diketahui adalah tentang komisi yang dibayarkan apakah

berdasarkan perekrutan atau tidak. Lalu selanjutnya disidik lagi mengenai apakah produk benar-benar telah dijual dan bonus diberikan dengan hanya dengan syarat

sebagai hasil kerja untuk menjual bukan bonus penjualan melainkan bonus kinerja. Berikutnya apakah produk tersebut dapat ditukarkan apabila tidak laku dijual di pasaran. Barulah dapat diketahui bahwa ada penjualan produk atau tidak, apakah

konsumen puas akan mutu produk tersebut.

Berdasarkan Penjelasan Pasal 9 Undang-Undang No. 7 Tahun 2014 tentang

(39)

1. Kegiatan usaha yang bukan dari hasil kegiatan penjualan barang; 2. Kegiatan usaha yang memanfaatkan peluang keikutsertaan mitra usaha;

3. Untuk memperoleh imbalan atau pendapatan;

4. Terutama dari biaya partisipasi orang lain yang bergabung kemudian atau setelah bergabungnya mitra usaha tersebut.

Penyidik Polri dapat melakukan penyelidikan dan penyidikan dengan

menentukan kegiatan bisnis berkedok MLM atau tidak dengan menggunakan unsur-unsur Penjelasan Pasal 9 Undang-Undang No 7 Tahun 2014 tersebut di atas. Penyidik

dapat menentukan kegiatan usaha tersebut berasal dari hasil kegiatan penjualan barang atau tidak, apakah ada produk yang diperdagangkan. Bagaimana produknya, apakah berkualitas atau tidak, bermanfaat atau tidak. Setelah itu, Penyidik Polri dapat

melakukan penyelidikan tentang perekrutan member apakah dilakukan perekrutan atau tidak dengan tujuan untuk mengambil keuntungan/imbalan/pendapatan dari orang-orang yang ikut menjadi member tersebut.

1. Terpenuhinya Unsur Pasal 372 dan/atau 378 KUHP

Di Indonesia sekarang ini telah dikeluarkan Undang-Undang No. 7 Tahun

2014 tentang Perdagangan, dimana sebelumnya tidak ada dasar hukum bagi Penyidik untuk menerapkan ketentuan hukum kepada pelaku bisnis berkedok MLM, maka

(40)

Seperti diketahui Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh

undang-undang untuk melakukan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 1 angka 1 KUHAP. Jadi, Penyidik dalam hal penanganan perkara tindak pidana penipuan dan atau penggelapan sebagaimana dimaksud ketentuan Pasal 372 dan/atau

378 KUHP dalam konteks penelitian ini adalah Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Penyidik hanya perlu melakukan penyelidikan dan penyidikan dengan cara memenuhi unsur pasal apakah ketentuan pasal yang dipersangkakan terpenuhi atau tidak. Adapun bunyi Pasal 372 KUHP adalah sebagai berikut :

“Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah”.

Adapun unsur- unsur ketentuan Pasal 372 KUHP yaitu103

a) “Unsur ‘Barangsiapa’ adalah menunjuk kepada pelaku tindak pidana, dimana Pelaku ini adalah subyek hukum yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya baik jasmani maupun rohani.

:

b) Unsur “Dengan Sengaja”, bahwa kesengajaan yang dimaksud haruslah meliputi seluruh unsur subjektif dari pasal ini, yaitu :

- Apabilaunsur“DenganSengaja”dihubungkandenganunsur “Memilikise caramelawanhukum”atau“Zich Toeeigenen”,maka perbuatan memiliki secara melawan hukum yang dilakukan oleh pelaku haruslah secara sengaja dan perbuatan memiliki tersebut haruslah sudah selesai dilakukan, misalnya bahwa benda tersebut telah dijual, ditukar atau dipakai sendiri;

- Apabilaunsur“Dengan Sengaja”dihubungkan dengan unsur “melawan hak”atau“Wederrechtelijk, maka berarti si pelaku harus mengetahui,

103

(41)

bahwa perbuatannya tersebut yang berupa Zich Toeeigenen itu adalah bertentangan dengan hak orang lain;

- Apabila unsur“Dengan Sengaja”dihubungkan dengan unsur“Yang seluruhnya” atau “sebagian milik orang lain”, maka berarti si pelaku haruslah mengetahui bahwa benda tersebut seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain;

- Apabila unsur “Dengan Sengaja” dihubungkan dengan unsur “Yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan”, maka ini berarti bahwa si pelaku haruslah mengetahui, bahwa benda yang telah ia miliki itu berada di bawah kekuasaanya bukan karena kejahatan;

c) Unsur “Memiliki Secara Melawan Hukum (Zich Wederrechtelijk Toeeigenen)”, adalah menunjukkan sifatnya yang melawan hukum dari perbuatan yang telah dilakukan oleh pelaku, dimana menurutStrijdMet“datgene”berartibertentangandengan kepatutan di dalam pergaulan masyarakat;

Sedangkan menurut Simons, kata “Toeeigenen”atau “menguasai” dalam rumusan Pasal 372 KUHP memiliki pengertian yang sama dengan kata “Toeeigenen” di dalam rumusan Pasal 362 KUHP yaitu “Suatu tindakan yang demikian rupa yang membuat pelaku memperoleh suatu kekuasaan yang nyata atas suatu benda seperti yang dimiliki oleh pemiliknya dan pada saat yang sama telah membuat kekuasaan itu diambil dari pemiliknya”; Menurut Van Bemmelen dan Van Hattum, yang dimaksud dengan “Zich Wederrechtelijk Toeeigenen”yaitu melakukan suatu perilaku yang mencerminkan putusan pelaku untuk secara mutlak melaksanakan kekuasaan yang nyata atas suatu benda;

MenurutNoyon dan Langemeijer, “ZichWederrechtelijkToeeigenen” yaitumembuatsuatuputusanuntukmemanfaatkansuatubendasepertiyangdikehe ndakimenjadi tindakan-tindakan;

Menurut MenteriKehakimanBelandapadasaat pasal ini dibentuk yang kemudian dianut olehHoge Raaddidalam berbagai arrs-nya yang diantara lain telah menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan “Zich Wederrechtelijk Toeeigenen” yaitu “Penguasaan secara sepihak oleh pemegang sebuah benda seolah-olah ia merupakan pemiliknya, bertentangan dengan hak yang membuat benda tersebut berada padanya”;

d) Unsur “Suatu Benda”, adalah bahwa perbuatan menguasai bagi dirinya sendiri secara melawan hukum itu harus ditujukan kepada “benda-bendayang berwujud dan bergerak”;

e) Unsur “Yang Seluruhnya Atau Sebagian Milik Orang Lain”, adalah tidak setiap benda berwujud dan bergerak yang dapat dijadikan objek dari kejahatan penggelapan,oleh karena itu benda tersebut harus memenuhi syaratdimiliki oleh orang lain dari si pelaku itu sendiri;

(42)

berada di bawah kekuasaan seseorang apabila orang itu telah benar-benar menguasai benda tersebut secara langsung dan nyata, sehingga untuk melakukan sesuatu dengan benda tersebut tidak diperlukan sesuatu tindakan lainnya”.

Terkait dengan praktek bisnis berkedok MLM, penggelapan juga dapat dipersangkakan kepada pelaku kejahatan praktek bisnis berkedok MLM. Penggelapan

dan penipuan mempunyai perbedaan yang sangat tipis. Unsur “Kekuasaannya Bukan Karena Kejahatan” harus dibuktikan bahwa uang yang diberikan oleh calon nasabah / downline-nya harus bukan berasal dari tindakan melawan hukum.

Adapun bunyi Pasal 378 KUHP adalah sebagai berikut :

“Barang Siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan cara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun dengan rangkaian kebohongan menggerakkan orang lain untuk menyerahkan sesuatu benda kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan hutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama 4 tahun”.

Berdasarkan bunyi pasal di atas unsur-unsur dalam perbuatan penipuan,

yaitu104

a. “Dengan Maksud Untuk Menguntungkan Diri Sendiri Dengan Melawan Hukum”;

:

b. “Menggerakkan Orang Untuk Menyerahkan Barang Sesuatu Atau Supaya Memberi Hutang Maupun Menghapuskan Piutang”;

c. “Dengan Menggunakan Salah Satu Upaya Atau Cara Penipuan” (memakai nama palsu, martabat palsu, tipu muslihat, rangkaian kebohongan).

Unsurpoin c di atas yaitu mengenai “cara” adalah unsur pokok delik yang

harus dipenuhi untuk mengkategorikan suatu perbuatan dikatakan sebagai penipuan.

Demikian sebagaimana kaidah dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung No.

104

Gambar

Tabel 1.

Referensi

Dokumen terkait

Makna diri pustakawan yang berasal dari diklat CPTA di Perpustakaan IPDN adalah pustakawan sebagai profesi yang bernilai yang artinya tentang nilai material dari

Berdasarkan pedoman tersebut diketahui bahwa jumlah daun dapat dipertimbangkan sebagai karakter seleksi karena pengaruh tidak langsung diameter batang melalui tinggi

a) Masalah itu menunjukkan suatu kesenjangan antara teori dan fakta empirik yang dirasakan dalam proses pembelajaran. b) Masalah tersebut memungkinkan untuk dicari dan

pangan adalah kelembagaan yang memerankan semua komponennya untuk mengorganisasikan, memfungsikan, dan mengatur setiap aktivitas dalam masyarakat terkait dengan penyediaan,

Kritik lain yang dialamatkan kepada Azami adalah bahwa Azami ternyata tidak masuk ke jantung perdebatan diskursif yang berkembang di Barat, sehingga gagal mererspons

World Health Organization (WHO)→ sindrom klinis, yang terdiri dari gejala klinis yang berkembang dengan cepat akibat gangguan fungsi serebral, baik secara fokal ataupun global

120 Ibid., hlm.. pelajaran itu di beri nilai-nila agama, metode dan cara guru dalam mengajar mempengarihi dalam pembinaan kepribadian siswa. Melalui bimbingan

Parfum Laundry Aceh Utara Beli di Toko, Agen, Distributor Surga Pewangi Laundry Terdekat/ Dikirim dari Pabrik BERIKUT INI JENIS PRODUK NYA:.. Chemical Untuk Keperluan