UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS PENERAPAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
PADA PT. APCO
LAPORAN MAGANG
ANGGITA MAYFRINA DWI PURNAMASARI 1006810510
FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM S1-EKSTENSI AKUNTANSI JAKARTA
i
UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS PENERAPAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
PADA PT APCO
LAPORAN MAGANG
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
ANGGITA MAYFRINA DWI PURNAMASARI NPM : 1006810510
FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM S1-EKSTENSI AKUNTANSI JAKARTA
JULI 2012
ii
iii
iv
Puji syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat
dan rahmat-Nya, Penulis dapat menyelesaikan laporan magang ini. Penyusunan
laporan magang ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
mencapai gelar Sarjana pada Program Ekstensi Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak, baik dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan laporan
magang ini sangatlah sulit bagi Penulis untuk menyelesaikan laporan magang ini.
Untuk itu Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Keluarga (Mama, Papa, Mas Angga dan Dik Pras) yang selalu
memberikan dukungan, doa serta motivasi terbesar kepada Penulis sejak
lahir sampai saat ini dan esok.
sabar, dan telah banyak memberikan pengarahan, bimbingan serta bantuan
kepada Penulis dalam menyelesaikan laporan magang ini. Terima kasih
banyak Pak Edward, maaf apabila ada kesalahan yang tidak sengaja dibuat
Penulis.
5. Bapak Johannes Mau selaku Managing Partner di BDO Tanubrata,
Sutanto, Fahmi & Rekan yang telah memberikan kesempatan kepada
Penulis untuk melakukan magang.
6. Senior di BDO, Kak Amel, terima kasih atas kesempatan dan ilmunya
yang sudah diberikan kepada Penulis sehingga Penulis dapat
menyelesaikan magang dan menyusun laporan magang sampai selesai.
Serta, terima kasih juga Kak Amel, yang sudah memberikan Penulis
dukungan moril dan motivasi untuk Penulis selama ini. Kak Amel sudah
kuanggap seperti kakakku sendiri.
v
9. Asih Winarsih dan keluarga, Adinda Fajarrini, Amelia, Aulia Lathifa dan
Annisa Falaivi, sahabat saya, selama perkuliahan di Diploma dahulu.
Kalian adalah teman-teman terbaikku, terima kasih untuk dukungannya
selama ini
10.Bunga Nirmalasari, Azizi Nur Wicaksono, Hutami Kurnia, Adryan
Hernando, Aryo Adiwoso, Anom Wicaksono, Ahmad Afwan, Megawati,
Ayuningtyas Wulansari, Ari Kristian, Nova Amanda, Marcia Kambarwati
sahabat saya, yang telah banyak memberi dukungan selama perkuliahan di
Ekstensi.
11.Agustia Dwi Rahmawati, my partner in crime, teman seperjuangan dari D3
dan sesama penggila korea yang selalu memberikan motivasi kepada
Penulis, juga sebagai tempat curahan hati Penulis (saat orang-orang sibuk
mikirin skripsi, sempet-sempetnya kita nonton Super Show 4, mimpi
untuk ke korea harus segera terwujud!)
12.Untuk seseorang yang telah mengisi hari-hariku, terima kasih atas
dukungan dan perhatiannya selama ini. Terima kasih karena tanpa kau
sadari, kau telah mengisi hatiku selama ini. Bahagia itu sederhana.
13.My silver, picantoku yang imut, terima kasih untuk selalu menemani
hari-hari Penulis kemanapun Penulis pergi, juga untuk laptop kuningku, yang
membantuku menyelesaikan laporan ini.
14.Seluruh teman-teman angkatan 2006 Diploma III FEUI dan 2010 Ekstensi
FEUI.
vi
vii
viii Universitas Indonesia
Nama : Anggita Mayfrina Dwi Purnamasari
Program Studi : S1-Ekstensi Akuntansi
Judul : Analisis Penerapan Pajak Pertambahan Nilai pada PTAPCO
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen. Melalui perhitungan dan pelaporan yang baik, maka perusahaan dapat dikatakan telah memenuhi peraturan yang berlaku guna untuk meningkatkan anggaran pembangunan nasional Pemerintah. Mengingat pentingnya PPN, maka laporan magang ini akan membahas mengenai analisis penerapan Pajak Pertambahan Nilai pada PT APCO, yang merupakan Perusahaan Jasa Pengendalian Hama. Melalui laporan magang ini akan diketahui mengenai penerapan PPN yang dilakukan oleh perusahaan seperti perhitungan PPN Keluaran, pengkreditan PPN Masukan serta penyajian PPN dalam Laporan Keuangan. Kesimpulan dari laporan magang ini adalah Perusahaan harus memperhatikan lebih baik mengenai pengkreditan PPN Masukan yang ada serta batas pelaporan PPN setiap masa pajak agar terhindar dari sanksi yang berlaku.
Kata kunci:
Pajak Pertambahan Nilai, Penerapan PPN, Perusahaan Jasa Pengendalian Hama
ABSTRACT
Name : Anggita Mayfrina Dwi Purnamasari
Study Program : S1-Extension Accounting
Title : Analysis of Value Added Tax Implementation on PT APCO
Value Added Tax (VAT) is tax that imposed on any appreciation in value of the goods or services in its circulation from producers to consumers. Through the calculation and reporting is good, then the Company may be said it has complied with the applicable rules in order to enhance the national development budget of the Government. Given the importance of VAT, then this internship report will discuss the value added tax analysis at the PT APCO, which is a Pest Control Service Company. Through this internship report will be known about the application of VAT to be done by the Company, such as calculating VAT output, input VAT crediting and presentation of VAT and its impact on Financial Statements. The conclusion of this internship report is the Company must pay attention better about crediting the existing VAT and VAT reporting limit each fiscal period to avoid penalties that apply.
Key words:
Value Added Tax, VAT implementation, Pest Control Service Company
ix Universitas Indonesia
2.1 Gambaran Umum KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi & Rekan ... 7
2.1.1 Visi dan Misi KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi & Rekan ... 7
2.1.2 Jasa KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi & Rekan ... 8
2.1.3 Struktur Organisasi KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi & Rekan ... 9
2.2 Gambaran Umum Perusahaan Klien ... 10
2.2.1 Sejarah Singkat ... 10
3.1.8 Pajak Masukan yang Tidak Dapat Dikreditkan ... 32
x Universitas Indonesia
3.2.2 Surat Setoran Pajak (SSP) ... 34
3.2.3 Surat Pemberitahuan (SPT) ... 36
3.3 Jurnal atas transaksi terkait PPN pada PT APCO ... 41
BAB 4. PEMBAHASAN DAN ANALISIS ... 43
4.1 Pencatatan PPN ... 43
4.2 Penerbitan Faktur Pajak Keluaran ... 45
4.3 Mekanisme Perhitungan PPN Keluaran ... 46
4.4 Pengkreditan PPN Masukan ... 50
4.5 Analisis Pelaporan SPT PPN ... 52
4.6 Penyajian PPN pada Laporan Keuangan Perusahaan... 52
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 57
5.1 Kesimpulan ... 57
5.2 Saran ... 58
DAFTAR REFERENSI ... 59 LAMPIRAN
xi Universitas Indonesia
Tabel 4.1 Daftar Omset Perusahaan ... 45
Tabel 4.2 Rekap PPN Keluaran Tahun 2011 ... 47
Tabel 4.3 Pengkreditan PPN Masukan Tahun 2011 ... 49
Tabel 4.4 Nilai Utang PPN Perusahaan Tahun 2011 ... 52
xii Universitas Indonesia
Gambar 3.1 Bagan Dasar Pengenaan Pajak ... 28
Gambar 3.2 Bagan Saat Terutangnya PPN ... 30
Gambar 3.3 Faktur Pajak... 36
Gambar 3.4 Surat Setoran Pajak ... 39
xiii Universitas Indonesia Lampiran 1. Faktur Pajak PT APCO
Lampiran 2. Laporan Posisi Keuangan PT APCO (Parsial) Lampiran 3. Formulir Induk SPT PPN 1111
Lampiran 4. Formulir AB SPT PPN 1111 Lampiran 5. Formulir A1 SPT PPN 1111 Lampiran 6. Formulir A2 SPT PPN 1111 Lampiran 7. Formulir B1 SPT PPN 1111 Lampiran 8. Formulir B2 SPT PPN 1111 Lampiran 9. Formulir B3 SPT PPN 1111
1 Universitas Indonesia
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Program Magang
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyelenggarakan suatu program
magang sebagai salah satu mata kuliah yang dapat diikuti oleh mahasiswa yang
telah menjalankan minimal 51 SKS. Program magang ini dimaksudkan untuk
membuka kesempatan bagi mahasiswa dalam menerapkan teori dan pengetahuan
yang diterima selama masa perkuliahan ke dalam kehidupan kerja nyata. Program
magang dirancang secara terstruktur, sehingga mahasiswa peserta dalam kondisi
terbimbing dan terkendali sebagai suatu latihan. Program ini juga dimaksudkan
untuk menerapkan program link and match bagi mahasiswa agar ilmu yang telah
dipelajarinya menjadi tepat guna dan berhasil guna di tempat kerja di masa
mendatang. Program magang dapat dijadikan sebagai persiapan untuk terjun ke
dunia kerja sebenarnya, baik persiapan mental maupun persiapan teknikal karena
dapat menjembatani kehidupan kampus dengan dunia kerja yang sebenarnya. Hal
ini merupakan sarana pembelajaran yang tepat untuk memulai beradaptasi dengan
lingkungan kerja sekaligus mempraktekkan berbagai macam teori dan
pengetahuan yang telah diperoleh selama duduk di bangku perkuliahan. Selain itu,
dengan dilaksanakannya program magang ini, diharapkan mendapatkan
kesempatan kerja yang lebih baik di masa mendatang serta lebih siap dan matang
untuk mencapai keinginan untuk menjadi seorang profesional.
Dalam program magang ini peserta magang diwajibkan untuk membuat
sebuah laporan akhir magang. FEUI memberikan kebebasan bagi peserta magang
dalam memilih topik yang akan dibuat dan diangkat dalam laporan magang,
dengan syarat topik tersebut berhubungan dengan kegiatan atau pengalaman yang
didapat peserta magang selama proses magang berlangsung. Oleh karena itu,
laporan akhir magang ini mendokumentasikan beberapa kegiatan dan pengalaman
selama proses magang sebagai junior auditor di salah satu Kantor Akuntan Publik
yang berada di Jakarta.
Manfaat penting yang diperoleh dari program magang yaitu memberikan
kesempatan para mahasiswa untuk mengaplikasikan teori yang didapat selama
Universitas Indonesia kuliah di dunia kerja. Dengan demikian, mahasiswa mendapatkan gambaran
praktis bagaimana ilmu yang dimiliki, diaplikasikan di dunia kerja selain
gambaran teoritis yang didapat selama kuliah.
1.2 Tujuan Program Magang
Tujuan dari pelaksanaan program magang ini adalah untuk memenuhi
kewajiban perkuliahan yang diselenggarakan oleh Departemen Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Untuk menghasilkan lulusan yang tidak
hanya siap dalam hal akademik, namun juga siap dalam dunia kerja terutama
dalam ruang lingkup akuntansi, maka diadakan program magang untuk
mahasiswa Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
1.3 Tempat dan Waktu Magang
Penulis melaksanakan program magang selama tiga bulan mulai tanggal 6
Februari 2012 sampai dengan 30 April 2012 di Kantor Akuntan Publik (KAP)
Tanubrata Sutanto Fahmi dan Rekan yang berlokasi di Prudential Tower, 17th Fl,
Jl. Jend.Sudirman Kav.79, Jakarta 12910. Penulis berada dalam suatu tim audit
sebagai Assistant Auditor. Selama pelaksanaan program magang, penulis
tergabung ke dalam grup yang diketuai oleh Bpk. Indra Sri Widodo sebagai
Partner Audit. Dalam penugasan audit, penulis berada di bawah pengawasan
Manager Audit yaitu Bpk. Johannes Mau dan Auditor In-Charge Ibu Amelia
Rahmawati.
1.4 Kegiatan Magang
Penulis dipercaya untuk terlibat dalam dua penugasan audit selama
periode magang, yaitu:
1. Audit PT AGC
Dalam penugasan ini, penulis melakukan fieldwork audit di kota Bogor
karena PT AGC berlokasi di daerah tersebut. Penulis melakukan full audit
tahun 2010 karena tidak ada audit interim sebelumnya pada PT AGC.
Penulis dipercayakan untuk memegang akun-akun yang berhubungan
Universitas Indonesia liabilitas. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh penulis terkait
penugasan audit tersebut adalah:
1. Membuat rekapitulasi.
2. Menghitung dan menganalisis perbedaan nilai suatu akun
(kenaikan dan penurunan) tahun ini dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.
3. Meminta rincian nilai atas suatu akun kepada pihak manajemen.
4. Melakukan perhitungan ulang (recalculation) atas perhitungan
yang dilakukan manajemen.
5. Mencocokkan angka yang ada di General Ledger (G/L) ataupun
Sub General Ledger.
6. Melakukan rekonsiliasi.
7. Membuat narasi tentang temuan audit yang dirasa tidak wajar.
8. Menyimpulkan apakah nilai dari akun tersebut telah disajikan
secara wajar atau tidak.
9. Melakukan subsequent test.
10.Melakukan cut-off test.
11.Mengkonfirmasi nilai yang tertulis dalam laporan keuangan klien
kepada pihak lain yang berhubungan dengan klien.
berlokasi di Kawasan Industri Pulogadung. Penulis melakukan audit atas
tahun 2010 karena sudah dilakukan audit interim sebelumnya pada PT
FNP. Penulis dipercayakan untuk memegang akun-akun yang
berhubungan liabilitas.
Universitas Indonesia Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh penulis terkait penugasan audit
tersebut adalah:
1. Membuat rekapitulasi
2. Melakukan subsequent test
3. Melakukan cut-off test
4. Mengkonfirmasi nilai yang tertulis dalam laporan keuangan klien
kepada pihak lain yang berhubungan dengan klien.
5. Vouching
6. Melakukan pekerjaan yang bersifat administratif lainnya
7. Membantu menyiapkan laporan audit
1.5 Latar Belakang Penulisan
Pajak merupakan penerimaan negara terbesar. Kurang lebih 2/3
penerimaan Negara saat ini bersumber dari pajak. Dominasi pajak sebagai sumber
penerimaan merupakan satu hal yang sangat wajar, terlebih ketika sumber daya
alam, khususnya minyak bumi tidak bisa lagi diandalkan. Penerimaan dari sumber
daya alam mempunyai umur yang relatif terbatas, suatu saat akan habis dan tidak
bisa diperbaharui. Hal ini berbeda dengan pajak; sumber penerimaan ini
mempunyai umur tidak terbatas, terlebih dengan semakin bertambahnya jumlah
penduduk. Direktorat Jenderal Pajak berperan melakukan pengawasan atas
pemenuhan kewajiban perpajakan sesuai yang telah ditentukan dalam
Undang-Undang Perpajakan.
1.6 Tujuan Penulisan
Tujuan dari laporan magang ini adalah untuk memenuhi tuntutan
akademik pada semester genap 2011/2012, yang merupakan salah satu cara untuk
menyelesaikan studi di program Ekstensi Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia. Selain itu, laporan ini dibuat untuk mengetahui mekanisme
pencatatan, penghitungan dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai pada PT APCO
Universitas Indonesia
1.7 Manfaat Penulisan Manfaat Teoritis
Beberapa manfaat yang bersifat teoritis dari penelitian ini diantaranya:
1. Memberikan gambaran aktual mengenai penerapan perhitungan Pajak
Pertambahan Nilai pada suatu perusahaan.
2. Mengidentifikasi beberapa kemungkinan defisiensi atau kelemahan dari
penerapan pajak pada suatu perusahaan dengan peraturan perpajakan yang
terkait.
Manfaat Praktis
Manfaat yang bersifat praktis/aplikatif dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui bagaimana pelaksanaan pemungutan atau pengenaan,
penyetoran dan pelaporan PPN di PT APCO.
2. Mendeskripsikan dan menganalisis mekanisme pengkreditan Pajak
Masukan di PT APCO dikaitkan dengan perhitungan PPN terutang.
3. Mengetahui penerapan PPN dikaitkan dengan nilai yang tersaji pada
laporan keuangan dan SPT PPN.
1.8 Rumusan Masalah
Laporan in membatasi permasalahan sebatas pencatatan dan pengakuan
nilai hutang pajak pertambahan nilai. Yang mana pencatatan atas nilai tersebut
memiliki perbedaan antara nilai utang pajak penghasilan yang tercatat di buku
besar dan Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) setiap bulannya. Hal ini dapat
dibandingkan dengan peraturan perpajakan terkait PPN, untuk menentukan
apakah perusahaan sudah menerapkan peraturan perpajakan tersebut.
1.9 Sistematika Penulisan Laporan Magang
Laporan ini disusun ke dalam lima bagian, yaitu:
BAB 1 Pendahuluan
Bab ini berisi tentang latar belakang program magang, tujuan
diselenggarakannya program magang, tempat dan waktu pelaksanaan
magang, ruang lingkup pelaksanaan magang yang menjelaskan deskripsi
Universitas Indonesia kegiatan selama masa magang, ruang lingkup laporan magang dan
pembatasan masalah, dan sistematika penulisan laporan magang.
BAB 2 Profil Perusahaan
Bab ini memaparkan gambaran umum KAP tempat program magang
dilaksanakan dan PT APCO sebagai tempat penulis mengadakan audit
yang merupakan klien dari KAP BDO.
BAB 3 Landasan Teori
Dalam bab ini mencakup sistem perpajakan Indonesia yang berlaku
mengenai PPN berdasarkan Peraturan Pemerintah dan mekanisme
mengenai perhitungan, penyetoran dan pelaporan PPN dalam setiap masa
pajak di tahun 2010.
BAB 4 Pembahasan dan Analisis
Bab ini mencakup tentang pencatatan PPN, perhitungan PPN,
pengkreditan Pajak Masukan dan Pajak Keluaran, dan pelaporan PPN pada
SPT Masa serta analisis kesesuaian penerapan dengan peraturan
perpajakan yang berlaku
BAB 5 Kesimpulan dan Saran
Bab terakhir dari laporan ini berisi tentang kesimpulan dari seluruh isi
laporan magang dan memuat yang ditujukan kepada perusahaan klien,
kantor akuntan publik, serta Departemen Akuntansi FEUI.
7 Universitas Indonesia
BAB 2
PROFIL PERUSAHAAN
2.1. Gambaran Umum KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi dan, Rekan
Kantor Akuntan Publik (KAP) Tanubrata, Sutanto dan Rekan pada tanggal 6 Desember
1979 oleh Drs. Richard Budisetia Tanubrata yang berlokasi langsung di rumahnya sendiri di Jl.
Slamet Riyadi I. Pada awal berdirinya KAP ini, namanya hanya KAP Tanubrata dan Rekan.
Pada tahun 1992, KAP Tanubrata, Sutanto dan Rekan resmi bergabung dengan BDO
International yang sudah memiliki anggota lebih dari 107 negara di dunia termasuk di Indonesia.
BDO International sendiri merupakan the big five kantor akuntan publik di dunia setelah Price
Waterhouse Coopers, Accenture, Ernst and Young, dan Delloite. Anggota dari BDO
Internasional disebut sebagai BDO member.
Kemudian pada tahun 1998, bergabunglah Drs. Wawat Sutanto yang kemudian
mengukuhkannya sebagai partner atau rekan dari KAP Tanubrata sehingga pada tahun 2007
nama KAP Tanubrata dan Rekan berubah menjadi KAP Tanubrata, Sutanto dan Rekan.
Setelah tiga puluh tahun berdirinya, KAP Tanubrata, Sutanto dan Rekan semakin
memiliki reputasi yang baik di Indonesia. KAP Tanubrata, Sutanto dan Rekan sudah mampu
mensejajarkan dirinya dengan KAP lainnya. Seiring dengan berkembangnya KAP Tanubrata,
Sutanto dan Rekan, maka KAP dipindahkan ke gedung Artamas, kemudian dipindahkan kembali
ke Jl. Pangeran Jayakarta, dan terakhir KAP dipindahkan yang kini menjadi kantor pusat yang
berada di Jl. Jatinegara Barat, Bukit Duri Permai Estate, No. 54E, Jakarta Timur.
Kemudian KAP Tanubrata, Sutanto dan Rekan membangun dua cabang lainnya yang
bertempat di Puri Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan dan Bandung. Karena sulitnya koordinasi
terhadap cabang-cabang KAP Tanubrata, Sutanto dan Rekan, pada 15 April 2009, KAP
Tanubrata, Sutanto dan Rekan seluruhnya dipindahkan ke Prudential Tower lt. 17, Sudirman,
Jakarta Selatan.
2.1.1. Visi dan Misi KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi dan Rekan
KAP Tanubrata, Sutanto, dan Rekan memilki visi dan misi yaitu To be Spontaneous
Choice yang dituangkan melalui beberapa misi:
1. Memberikan service dan advice yang terbaik.
2. Menjawab pertanyaan klien dengan baik dan cepat.
Universitas Indonesia
3. Selalu ada pada saat klien membutuhkan.
4. Mengetahui client bussiness dan mengetahui kebutuhannya.
5. Selalu up-to-date, mempersiapkan diri untuk masa depan – teknologi dan
profesionalisme.
6. Menjadi pemimpin untuk klien kami dan bersama-sama meraih sukses.
2.1.2. Jasa KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi dan Rekan
1. Jasa Assurance
a. Auditing of financial statements for closely held businesses.
b. Auditing of financial statements for publicly held entities including initial public
offerings and other filings with the Stock Exchange.
c. Attestation examination.
b. Helping clients in preparing and submitting their tax administration obligation
(monthly and yearly) to the tax office.
c. Analyzing the tax implications Representing our clients in the Tax Court when
substantive tax issues have not been resolved with Tax Office.
d. Representing our clients in the Tax Court when substantive tax issues have not
been resolved with Tax Office.
e. Assisting clients in matters of international taxation.
3. Jasa Manajemen
a. Management Information Systems
b. Manufacturing Operations
c. Quality Management
d. Business Strategy dan Planning
Universitas Indonesia
c. Recruitment Policy and Procedures and Interviewing Techniques.
d. Job Descriptions and Functional Grouping.
e. Standardize Internal Information Stream.
f. Expatriate Policy.
g. Human Resources Training and Development.
h. Study Policy.
i. Establish Human Resources or Personnel Administration Department.
2.1.3 Struktur Organisasi KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi dan Rekan
Struktur organisasi harus dirancang sesuai dengan visi dan misi yang ada dalam suatu
perusahaan. Dengan demikian, dalam kegiatan operasinya diharapkan perusahaan tersebut dapat
beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan terlihat jelas alur pertanggungjawaban, lalu lintas
wewenang dan koordinasi tugas antar komponen yang ada dalam suatu perusahaan.
BDO Tanubrata memiliki struktur organisasi yang berbentuk lini. Bentuk lini dalam
struktur organisasi ini menggambarkan bahwa setiap pekerja bertanggung jawab kepada
masing-masing atasannya dengan kekuasaan tertinggi dipegang oleh Direktur, yang dalam hal ini yang
bertindak sebagi direktur adalah partner.
Universitas Indonesia
Dalam struktur organisasinya, Partner membawahi 5 (lima) divisi, yaitu General Office
Manager, Audit Partner, Managing Advisory Service (MAS) Partner, Electronic Data
Processing (EDP) Partner, dan Tax Partner.
2.2 Gambaran Umum Perusahaan Klien 2.2.1 Sejarah Singkat
Berdiri sejak 1927 di Amerika Serikat, TMX adalah pelopor usaha jasa pengendalian rayap
di dunia. TMX memperluas cakupan jasanya ke pengendalian tikus dan serangga pada 1969 dan
kemudian tumbuh menjadi salah satu perusahaan pengendali hama dan rayap terbesar didunia,
dengan lebih dari 4,1 juta pelanggan di 14 negara.
Pada tahun 1995, PT AGC sebagai salah satu perusahaan agrochemical terbesar di Indonesia
membeli lisensi TMX. Kemudian pada Desember 2002, berdirilah PT APCO sebagai pemegang
lisensi TMX (Master License Holder) di Indonesia. Hingga kini, TMX dengan 15 cabang dan 4
sub-cabang telah melayani ribuan pelanggan di 16 kota besar Indonesia yakni Jakarta (3 cabang),
Tangerang, Cikarang, Bogor, Bandung, Surabaya, Makassar, Denpasar, Medan, Lampung,
Pekanbaru, Semarang, Timika, Malang, Manado, Padang, Yogyakarta yang juga mencakup
wilayah Banten, Sukabumi, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Sidoarjo, Pasuruan, Kediri, Madura,
Jember, Madiun, Kendari, Palu, Ambon, Gorontalo, Pare-Pare, Palembang, Wonosobo,
Purwokerto, Magelang, dan Solo.
2.2.2 Profil Perusahaan Klien
Berawal dari fenomena rawannya produksi tanaman pangan di Indonesia, tanggal 17 April
1969 PT APCO berdiri sebagai perusahaan swasta nasional yang mengabdikan pelayanan di
bidang usaha distribusi pestisida. Sampai saat ini, PT APCO telah banyak melakukan
pengembangan usaha, peningkatan kualitas produk serta pelayanan bagi pelanggan.
Pada awal berdiri, PT APCO hanya bergerak sebagai distributor pestisida terutama produk yang
berasal dari PT ICIPI. Selanjutnya, perusahaan ini melakukan pengembangan usaha dengan
mendirikan pabrik pestisida di daerah Gunung Putri, Cibinong Bogor. Pendirian pabrik pestisida
pada tanggal 17 April 1994 inilah yang kemudian menjadi langkah awal PT APCO untuk tidak
lagi bergerak sebagai distributor tetapi sebagai produsen pestisida, ini dibuktikan di saat krisis
Universitas Indonesia ekonomi melanda Indonesia tahun 1997, PT APCO berhasil membuktikan dirinya tetap eksis dan
berkarya menghasilkan produk-produk unggul dan bermutu bagi pertanian dan perkebunan di
Indonesia.
PT APCO sebagai produsen pestisida, berkonsentrasi pada penyediaan sarana produk
pertanian dengan layanan yang berkualitas tinggi, mencakup mata rantai pertanian mulai dari
pengolahan, hasil produksi, pendayagunaan hasil, distribusi, serta penyimpanan hasil pertanian.
Dengan demikian, PT APCO akan siap untuk menjawab kebutuhan pelanggan pada setiap mata
rantai pertanian.
Atas tuntutan permintaan terhadap produksi hasil pangan yang bermutu tinggi, membuat PT
APCO merasa bertanggung jawab terhadap kualitas sarana pertanian (pestisida) yang digunakan
petani. Oleh karenanya, PT APCO juga memberikan edukasi tentang produk pestisida antara lain
berupa teknis produk dan aplikasinya bagi para petani Indonesia dengan cara mengadakan
Sekolah Lapang A di berbagai tempat di Indonesia, khususnya pulau Jawa-Sumatera-Bali. Hal
ini dirasa sangat penting karena petani merupakan ujung tombak mata rantai produksi pangan.
Jika petani memiliki kualifikasi yang baik dalam berproduksi maka sejalan dengan program
peningkatan ketahanan pangan guna menunjang revitalisasi pertanian. Ini merupakan cara
inovatif yang dilakukan PT APCO dalam peningkatan pangan di Indonesia.
Sebagai perusahaan yang juga berorientasi pada kepuasan pelanggan, PT APCO
memberikan pelayanan optimal dengan menghasilkan produk-produk unggul dan bermutu sesuai
dengan kebutuhan pelanggan dari waktu ke waktu. Produk-produk ini dihasilkan dengan
menggunakan tekhnologi terbaru dengan didukung oleh para tenaga profesional, dalam
memberikan pelayanan optimal kepada para pelanggannya dengan tepat waktu.
PT APCO memiliki cabang di kota-kota besar dengan saluran distribusi yang hampir
meliputi seluruh daerah di Indonesia. Pola kemitraan bisnis PT APCO yang profesional, dinamis,
dan inovatif telah membawa perusahaan ini pada sistem kemitraan dengan pengusaha-pengusaha
mancanegara yang berasal dari Amerika, Eropa, dan Asia.
Para peneliti tanaman pangan di Indonesia telah menemukan berbagai varietas padi jenis
unggul baru yang menyebabkab perluasan penanaman yang diintegrasi dengan program
perlindungan tanaman. Oleh karena itu, PT APCO ikut andil dengan menghasilkan
produk-produk pestisida yang berteknologi tinggi dan ramah tanaman. Produk yang dihasilkan terdiri
dari berbagai macam pestisida seperti insektisida (Spontan 400 SL, Meteor 25 EC, Abuki 50 SL,
Universitas Indonesia Panzer 290 AS, Mospilan 30 EC, Applaud 400 F, Omite 570 EC), herbisida ( Crash 480 AS,
Aladin 865 AS, Win 10 WP, Cyclon 290 AS, Breeze 270/120 AS, Wrapup 480 AS ), fungisida (
Bazoka 80 WP, Belkute WP, Nimrod 250 EC ), rodentisida jenis Ratgone 0.005 RMB. Tidak
hanya menghasilkan produk-produk pertanian yang bermutu tinggi, PT APCO juga
memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan petani serta masyarakat melalui edukasi dan
media informasi yang diharapkan dapat memberikan bekal pengetahuan yang berguna di
lapangan pekerjaan.
2.2.3 Kegiatan Magang
Pelaksanaan magang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan dari tanggal 6 Februari
2012 sampai dengan 30 April 2012. Penulis ditempatkan pada tim ISW dan bertugas untuk
mengaudit PT AGC serta salah satu Entitas Anak yaitu PT APCO. Audit PT AGC dan Entitas
Anak berlangsung di Bogor. Periode laporan keuangan yang diaudit oleh penulis adalah untuk
tahun 2011 full year karena tidak ada audit interim pada PT AGC.
13 Universitas Indonesia
LANDASAN TEORI
3.1 Ketentuan Umum Perpajakan 3.1.1 Pengertian PPN
Menurut Waluyo (2011), “pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak
yang dikenakan atas konsumsi barang dan jasa di dalam negeri (di dalam Daerah
Pabean) oleh orang pribadi atau badan” (p.9). Adapun karakteristik PPN adalah :
1. PPN merupakan pajak tidak langsung
Suatu jenis pajak yang beban pajaknya dapat dilimpahkan kepada pihak lain.
Kedudukan penanggung jawab pemungutan dan penyetoran pajak dengan
kedudukan pemikul beban pajak berbeda.
2. PPN merupakan pajak objektif
Kewajiban pajak di bidang PPN sangat ditentukan oleh adanya
objek.Karakteristik PPN sebagai pajak objektif menimbulkan dampak
regresif.Untuk mengurangi regresivitas PPN, maka dikenakanlah PPnBM.
3. PPN bersifat multi - stage level
PPN dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi dan jalur distribusi
barang kena pajak atau jasa kena pajak. Contoh: Pengenaan PPN atas
penyerahan benang oleh perusahaan industri benang ke perusahaan tekstil,
selanjutnya perusahaan tekstil ke perusahaan garmen, perusahaan garmen ke
pedagang besar, pedagang besar ke pedagang eceran, dan akhirnya pedagang
eceran ke konsumen akhir.
Universitas Indonesia
4. Penghitungan PPN menggunakan Indirect Substraction Method
Nilai Tambah (Value Added), adalah suatu nilai yang merupakan
penjumlahan biaya produksi atau distribusi yang meliputi penyusutan, bunga
modal, gaji yang dibayarkan, sewa telepon, listrik dan pengeluaran lainnya
serta laba yang diharapkan. Nilai tambah sama dengan harga jual dikurangi
harga beli.
Dalam menghitung pajak terutang atas nilai tambah dikenal dengan tiga
metode:
a. Addition Method
Pada metode ini bahwa PPN dihitung dari tarif dikali dengan seluruh
penjumlahan nilai tambah. Pada metode ini disyaratkan bahwa setiap
Pengusaha Kena Pajak harus mempunyai pembukuan yang tertib dan rinci
atas biaya yang dikeluarkan.
b. Substraction Method
Pada metode ini, PPN yang terutang dihitung dari tarif dikali selisih antara
harga penjualan dengan harga pembelian.
c. Credit Method (Indirect Substraction Method)
Pada metode ini, harus dicari selisih antara pajak yang dibayar saat
pembelian dengan pajak yang dipungut saat penjualan. Dengan metode ini
hasilnya lebih akurat karena dimungkinkan komponen harga beli terdapat
komponen yang tidak terutang PPN. Dalam hal metode pengkreditan
menggunakan substraction method yang menghasilkan pajak atas nilai
tambah secara tidak langsung, disebut indirect substraction method.
Demikian pula penyebutan invoice method sebagai akibat dituntut alat
bukti berupa Faktur Pajak (tax invoice).
Universitas Indonesia
5. PPN sebagai pajak atas konsumsi dalam negeri penyerahan Barang Kena
Pajak atau Jasa Kena Pajak dilakukan atas konsumsi dalam negeri.
Oleh karena itu, komoditi impor dikenakan PPN dengan persentase yang
sama dengan produk domestik. Sebagai pajak atas konsumsi sebenarnya
tujuan akhir PPN adalah mengenakan pajak atas pengeluaran untuk konsumsi,
baik yang dilakukan perseorangan maupun oleh badan baik badan swasta
maupun badan Pemerintah dalam belanja barang atau jasa yang dibebankan
pada anggaran belanja negara. Karena konsumen tidak semata-mata
mengkonsumsi barang tetapi juga mengkonsumsi jasa, maka agar beban pajak
yang dipikul oleh konsumen dapat dihitung dengan baik, PPN dikenakan pada
konsumsi atas barang dan jasa.
3.1.2 Objek PPN dan Non Objek PPN
Menurut Pasal 4 UU No.42 Tahun 2009, yang menjadi Objek PPN dan Bukan
Objek PPN adalah sebagai berikut :
1. Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas:
a. Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) di dalam Daerah Pabean yang
dilakukan oleh Pengusaha.
b. Impor Barang Kena Pajak.
c. Penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam Daerah Pabean yang
dilakukan oleh Pengusaha.
d. Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean.
e. Pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.
f. Ekspor BKP oleh Pengusaha Kena Pajak.
Universitas Indonesia
g. Kegiatan membangun sendiri.
h. Penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan.
2. Yang bukan menjadi objek PPN antara lain:
2.1 Barang yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai:
a. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran, yang diambil
langsung dari sumbernya.
b. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat
banyak.
c. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan,
warung, dan sejenisnya yang meliputi makanan dan minuman baik yang
dikonsumsi di tempat atau tidak, tidak termasuk makanan dan minuman
yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau catering.
d. Uang, emas batangan, dan surat-surat berharga.
2.2 Jasa yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai:
a. Jasa di bidang pelayanan kesehatan medis.
Pada dasarnya, jasa di bidang kesehatan dibebaskan dari pengenaan
PPN, namun pada berbagai kondisi tertentu juga akan terutang PPN.
Jasa di bidang pelayanan kesehatan medis yang dibebaskan dari PPN,
diantaranya:
1. Jasa dokter umum, dokter spesialis, dan dokter gigi.
2. Jasa dokter hewan.
3. Jasa ahli kesehatan seperti akupuntur, ahli gigi, ahli gizi, dan
fisioterapi.
Universitas Indonesia
4. Jasa kebidanan dan dukun bayi.
5. Jasa paramedis dan perawat.
6. Jasa rumah sakit, rumah bersalin, klinik kesehatan, laboratorium
kesehatan, dan sanatorium
b. Jasa di bidang pelayanan sosial.
1. Jasa pelayanan Panti Asuhan dan Panti Jompo.
2. Jasa pemadam kebakaran kecuali yang bersifat komersial.
3. Jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan.
4. Jasa Lembaga Rehabilitasi kecuali yang bersifat komersial.
5. Jasa pemakaman termasuk crematorium.
6. Jasa di bidang olah raga kecuali yang bersifat komersial
c. Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko.
Jasa pengiriman surat dengan perangko yang dilakukan oleh PT Pos
Indonesia (Persero) merupakan jasa yang tidak dikenakan PPN. Jasa
tersebut merupakan pelaksanaan tugas penyelenggaraan pos oleh
negara, yang terdiri dari kegiatan menerima, membawa, atau
menyampaikan surat yang merupakan kesatuan kegiatan yang tidak
terpisahkan.
d. Jasa perbankan
Kegiatan jasa yang dilakukan oleh perbankan meliputi beberapa kegiatan
jasa, seperti:
1. Jasa Consumer Credit, Credit Card, dan Debit Card
Bank, lembaga keuangan non bank, dan perusahaan pembiayaan
(finance) diperkenankan melakukan kegiatan usaha kartu kredit
dan pembiayaan konsumen. Jasa consumer credit, credit card, dan
Universitas Indonesia debit card adalah usaha jasa pembiayaan yang dapat digolongkan
ke dalam usaha jasa kartu kredit, pembiayaan konsumen, dan
sejenisnya, yang termasuk jasa perbankan yang tidak dikenakan
PPN. Atas penyerahan BKP/JKP yang harganya dilunasi dengan
menggunakan fasilitas consumer credit atau credit card atau debit
card tetap terutang PPN dan/atau PPnBM.
2. Jasa Settlement
Jasa settlement meliputi beberapa kegiatan berikut, seperti:
a. Penerimaan dan pengiriman sejumlah sekuritas milik
pemodal dari/kepada pihak tertentu.
b. Melakukan atau menerima pembayaran sejumlah uang milik
pemodal dari/kepada pihak tertentu.
c. Melaksanakan transaksi valuta asing dan pembayaran
sehubungan dengan transaksi sekuritas tersebut.
3. Jasa Corporate Actions
Jasa corporate actions meliputi jasa yang diberikan untuk
melindungi hak pemodal atas sekuritas yang dimiliki sehubungan
dengan tindakan yang diambil oleh emiten, antara lain pembagian
dividen, saham bonus, penawaran terbatas, dan lain-lain. Untuk
pelaksanaan tugas ini digunakan jasa perbankan lainnya, seperti
lalu lintas giro, remittance, foreign exchange, dan lain-lain.
4. Jasa Registrasi
Jasa registrasi meliputi kegiatan registrasi saham atas permintaan
pemodal untuk melindungi hak kepemilikan pemodal atas
sekuritas. Pembayaran biaya registrasi kepada Biro Administrasi
Universitas Indonesia Efek (BAE) juga dilakukan melalui lalu-lintas giro. Jasa
settlement, jasa corporate actions, dan jasa registrasi (jasa
perbankan yang tidak diperkenankan dilakukan oleh lembaga
lainnya selain bank) tidak dikenakan PPN.
e. Jasa di bidang asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi.
Jasa di bidang asuransi, baik yang berkaitan dengan pembayaran premi
maupun klaim serta penyerahan jasa dalam transaksi leasing dengan hak
opsi, tidak dikenakan PPN.
f. Jasa di bidang keagamaan.
Jasa bidang keagamaan, seperti jasa berkaitan ibadah, pernikahan,
ceramah agama, dan berbagai kegiatan jasa yang berkaitan dengan jasa
di bidang keagamaan, tidak dikenakan PPN.
g. Jasa di bidang pendidikan.
Jasa penyelenggaraan pendidikan sekolah, seperti jasa penyelenggaran
pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa,
pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik,
dan pendidikan profesional serta jasa penyelenggaraan pendidikan di
luar sekolah seperti kursus-kursus, tidak dikenakan PPN.
h. Jasa di bidang kesenian dan hiburan.
Hiburan yang penyelenggaraannya dengan dipungut biaya bayaran
adalah obyek pajak daerah, dan tidak termasuk yang tidak dipungut
bayaran, seperti hiburan yang diselenggarakan dalam rangka pernikahan
upacara adat, kegiatan keagamaan. Jasa di bidang kesenian dan hiburan
yang sudah dikenakan pajak daerah tidak dikenakan PPN.
Universitas Indonesia
i. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan.
Jasa penyiaran lewat media suara maupun televisi meliputi jasa
penyiaran berita dan sejenisnya yang bukan merupakan iklan serta
pengadaannya tidak melalui kontrak dengan pihak luar termasuk jasa
yang tidak dikenakan PPN.
j. Jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air.
Jasa angkutan umum di darat dan di air yang tidak dikenakan PPN
adalah:
1. Angkutan umum di darat
Atas penyerahan jasa angkutan umum di darat tidak dikenakan PPN.
Penyerahan jasa angkutan umum di darat adalah penyerahan jasa
angkutan umum di jalan dengan menggunakan kendaraan angkutan
umum.
2. Angkutan umum kereta api
Atas penyerahan jasa angkutan umum di darat tidak dikenakan PPN.
Penyerahan jasa angkutan umum di darat adalah termasuk
penyerahan jasa angkutan kereta api. Tidak termasuk dalam
pengertian jasa angkutan umum Kereta Api adalah dalam hal jasa
angkutan menggunakan Kereta Api yang disewa atau yang dicarter.
3. Angkutan umum di air
Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis apapun yang
digerakkan dengan tenaga mekanik, tenaga angin, atau ditunda,
termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di
bawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang
tidak berpindah-pindah. Jasa angkutan umum di air dapat terjadi
Universitas Indonesia pada angkutan umum di laut dan angkutan umum di sungai dan
danau.
Jasa angkutan umum di laut adalah setiap kegiatan pemindahan
orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan
menggunakan kapal, yang dilakukan oleh pengusaha angkutan laut
dalam satu perjalanan atau lebih dari satu pelabuhan ke pelabuhan
lain dengan dipungut bayaran. Atas penyerahan jasa angkutan umum
di air tidak dikenakan PPN. Penyerahan jasa angkutan umum di air
adalah penyerahan jasa angkutan umum di laut, sungai dan danau,
serta penyebrangan.
k. Jasa di bidang tenaga kerja.
Jasa di bidang tenaga kerja dapat dibedakan menjadi :
1. Jasa tenaga kerja
Jasa tenaga kerja adalah jasa yang diberikan oleh perseorangan
kepada pemakai jasa dalam bentuk tenaga kerja. Perseorangan atau
pemberi jasa bertanggung jawab langsung kepada pemakai jasa atas
jasa tenaga kerja yang diserahkan. Atas penyerahan jasa tenaga kerja
tersebut, pemberi jasa memperoleh imbalan dalam bentuk upah, gaji,
honorarium dan sejenisnya, tidak dikenakan PPN.
2. Jasa Penyedia Tenaga Kerja
Jasa penyedia tenaga kerja adalah jasa yang diberikan oleh
perusahaan apabila pengusaha hanya semata-mata menyerahkan jasa
tenaga kerja. Penyediaan tenaga kerja yang dimaksud tidak terkait
dengan pemberian jasa lainnya, seperti jasa pengurusan, perusahaan,
manajemen, konsultasi, bongkar muat, dan lain-lain. Pengusaha
penyedia tenaga kerja hanya memperoleh pembayaran karena
Universitas Indonesia jasanya menyediakan tenaga kerja, pengusaha penyedia tenaga kerja
tidak bertanggung jawab atas hasil dari kerja tenaga kerja tersebut,
dan tenaga kerjalah yang bertanggung jawab langsung kepada
pemberi kerja, atas penyerahan jasa penyedia tenaga kerja tidak
dikenakan PPN.
l. Jasa di bidang perhotelan.
Jasa perhotelan yang tidak dikenakan PPN, antara lain:
1. Jasa spa
Jasa spa dalam rangka kegiatan hotel tidak dikenakan PPN,
sepanjang merupakan pelayanan yang disediakan khusus untuk tamu
hotel.
2. Jasa katering
Berdasarkan PP No.144 tahun 2000, makanan dan minuman yang
disajikan di hotel yang dikonsumsi di tempat atau tidak di tempat
tidak dikenakan PPN termasuk yang diserahkan oleh jasa boga atau
katering.
3. Jasa persewaan ruangan
Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di
hotel tidak dikenakan PPN (PP No.144 tahun 2000).
4. Jasa telekomunikasi
Penghasilan yang diterima hotel dari penyerahan jasa telekomunikasi
(telepon, faksimili, dan internet) kepada tamu hotel yang menginap,
sebagai fasilitas yang terkait dengan kegiatan perhotelan tidak
terutang PPN (Surat Dirjen Pajak No.S-187/PJ.53/2004, tanggal 2
April 2004).
Universitas Indonesia
m. Jasa yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka menjalankan
pemerintahan secara umum.
Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan
pemerintahan secara umum adalah semua jenis jasa yang berasal dari
semua kegiatan pelayanan yang hanya bisa dilakukan oleh Instansi
Pemerintah melalui departemen dan lembaga non departemen dan
tidak dapat dilakukan oleh bentuk usaha lainnya, tidak dikenakan
PPN, tetapi apabila jasa yang disediakan Instansi Pemerintah tersebut
juga dapat dilakukan oleh bentuk usaha lain, maka jasa tersebut
dikenakan PPN, sepanjang tidak termasuk jasa yang tidak dikenakan
atau dibebankan dari pengenaan PPN sesuai ketentuan yang berlaku.
n. Jasa penyediaan tempat parkir
Pengertian jasa penyediaan tempat parkir yaitu jasa penyediaan tempat
parkir yang dilakukan oleh pemilik tempat parker dan/atau pengusaha
kepada pengguna tempat parkir dengan dipungut bayaran.
o. Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam.
p. Jasa pengiriman uang dengan wesel pos.
q. Jasa boga atau catering.
r. Jasa pelabuhan kapal pelayaran internasional
Jasa pelabuhan kapal pelayaran internasional yang tidak dikenakan
PPN:
1. Jasa pelayaran kapal. Seperti: jasa labuh, jasa tambat, jasa pandu,
jasa tunda, dan jasa telepon kapal.
2. Jasa pelayanan barang yang terdiri dari jasa penumpukan dan jasa
dermaga.
Universitas Indonesia
3. Jasa pelayanan alat-alat yang terdiri dari jasa kran darat, jasa kran
apung, jasa forklift, jasa head truck, jasa chasis, jasa tongkang, jasa
BKMP (Kapal Motor penggandeng tipe B), jasa towing tractor,
jasa timbangan, dan jasa pemadam kebakaran.
4. Jasa pelayanan terminal, yang terdiri dari: steverdoring,
cargodoring, receiving, deliver, dan overbrengen.
5. Jasa pelayanan peti kemas, yang terdiri dari jasa bongkar muat, jasa
gerakan container, jasa penumpukan, dan jasa mekanis.
6. Jasa pelayanan rupa-rupa, seperti: pas pelabuhan, retribusi
kendaraan, dan telepon extension.
s. Jasa perdagangan
Jasa perdagangan yang tidak dikenakan PPN adalah kegiatan jasa
dalam berbagai kegiatan ini, diantaranya:
1. Pengusaha jasa perdagangan dan pembeli barang berada di
dalam Daerah Pabean, sedangkan penjual barang selaku
penerima jasa perdagangan berada di luar Daerah Pabean,
sepanjang penjual barang tersebut tidak mempunyai BUT di
Indonesia dan pembayaran jasa tersebut dilakukan secara
langsung oleh penjual barang tersebut kepada pengusaha jasa
perdagangan. Pengusaha jasa perdagangan dan penjual barang
berada di dalam Daerah Pabean, sedangkan pembeli barang,
selaku penerima jasa perdagangan berada di luar daerah Pabean,
sepanjang pembeli barang tersebut tidak mempunyai BUT di
Indonesia dan pembayaran jasa tersebut dilakukan secara
langsung oleh pembeli barang tersebut kepada pengusaha jasa
perdagangan.
Universitas Indonesia
2. Pengusaha jasa perdagangan dan penjual barang, selaku
penerima jasa perdagangan berada di luar Derah Pabean,
sedangkan pembeli barang berada di dalam Daerah Pabean.
3. Pengusaha jasa perdagangan dan pembeli, selaku penerima jasa
perdagangan berada di luar Daerah Pabean, sedangkan penjual
barang berada di dalam Daerah Pabean.
undang Pasal 1 No. 42 Tahun 2009 yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung
pajak yang terutang dimana :
a. Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta
atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena
Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut
undang-undang PPN dan PPnBM dan potongan harga yang dicantumkan
dalam Faktur Pajak.
b. Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta
atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena
Pajak, ekspor Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak Tidak
Berwujud, tetapi tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut
menurut Undang-Undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam
Faktur Pajak atau nilai berupa uang yang dibayar atau seharusnya dibayar
oleh Penerima Jasa karena pemanfaatan Jasa Kena Pajak dan/atau oleh
penerima manfaat Barang Kena Pajak Tidak Berwujud karena pemanfaatan
Universitas Indonesia Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari Luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean.
c. Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea
masuk ditambah pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan
perundang-undangan yang mengatur mengenai kepabeanan dan cukai untuk
impor Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut menurut
Undang-Undang.
d. Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta
atau seharusnya diminta oleh eksportir.
e. Nilai Lain sebagai DPP adalah nilai yang diterapkan oleh Keputusan
Menteri Keuangan, yang digunakan sebagai dasar penghitungan pajak yang
terutang, seperti pemakaian sendiri Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena
Pajak, pemberian cuma-cuma Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak,
penyerahan media rekaman suara atau gambar, penyerahan film cerita
adalah perkiraan hasil rata-rata per judul film, jasa pengiriman paket dll.
Penjelasan mengenai Dasar Pengenaan Pajak dijelaskan lebih rinci dalam bagan
pada Gambar 3.1.
3.1.4 Saat Terutangnya PPN
Menurut pasal 11 UU No. 42 Tahun 2009, saat terutangnya PPN pada saat:
a. Penyerahan Barang Kena Pajak
Terutangnya PPN atas penyerahan BKP dapat terjadi seperti berikut ini:
1. Pada saat dilakukan penyerahan Barang Kena Pajak
PPN terutang pada saat barang diserahkan oleh penjual kepada pembeli,
meskipun pembayaran atas penyerahan barang tersebut belum diterima atau
Universitas Indonesia belum sepenuhnya diterima, sehingga saat pemungutan Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah menganut prinsip akrual.
Gambar 3.1 Bagan Dasar Pengenaan Pajak
Sumber : Hasil Olahan Penulis
2. Pada saat pembayaran sebelum penyerahan Barang Kena Pajak
PPN juga dapat terutang pada saat pembayaran, apabila dalam hal
pembayaran diterima sebelum terjadi penyerahan Barang Kena Pajak atau
sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak, atau apabila pembayaran dilakukan
sebelum dimulainya pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau
Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean, saat terutangnya pajak adalah
pada saat pembayaran.
Universitas Indonesia
3. Pada saat lain
Terutangnya PPN juga dapat terjadi dengan ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Pajak apabila saat terutangnya pajak sulit ditetapkan atau terjadi
perubahan ketentuan yang dapat menimbulkan ketidakadilan. Saat
terutangnya PPN atas BKP yang ditentukan pada saat lain, dalam art
sebelum penyerahan barang maupun pembayaran, antara lain terjadi pada
BKP, seperti penebusan pita cukai (rokok, hasil rekaman suara dan gambar),
kegiatan fisik (kegiatan membangun sendiri), pemakaian BKP (pemakaian
sendiri BKP).
b. Impor Barang Kena Pajak
Terutangnya Impor BKP adalah saat impor BKP dilakukan, yaitu saat
Pemberitahuan Impor Barang (PIB) ditandatangani, sehingga saat
pemungutan PPN dan PPnBM dilakukan oleh Direktorat Bea dan Cukai
sesuai saat PIB ditandatangani.
c. Penyerahan Jasa Kena Pajak
Terutangnya PPN atas JKP adalah pada saat penyerahan JKP dilakukan,
meskipun pembayaran atas penyerahan tersebut belum diterima atau belum
sepenuhnya diterima, sehingga saat pemungutan PPN dan PPnBM menganut
prinsip akrual.
d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean
Terutang PPN atas BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean adalah pada saat BKP tidak berwujud tersebut dimanfaatkan
oleh PKP, yaitu pada saat terjadinya penyerahan tidak berwujud tersebut.
Universitas Indonesia
e. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean
Terutangnya PPN atas JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean
adalah pada saat pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean, yaitu pada saat
terjadinya penyerahan JKP dari luar Daerah Pabean.
f. Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud, Barang Kena Pajak Tidak Berwujud
atau Jasa Kena Pajak. Terutangnya PPN pada ekspor adalah pada saat ekspor
dilakukan, yaitu pada saat dokumen PEB ditandatangani.
Penjelasan mengenai Saat Terutangnya PPN dijelaskan lebih rinci dalam bagan
pada Gambar 3.2 di bawah ini :
Gambar 3.2 Bagan Saat Terutangnya PPN
Sumber : Hasil Olahan Penulis
Universitas Indonesia
3.1.5 Tarif PPN
Menurut pasal 7 UU No. 42 Tahun 2009, “Tarif Pajak Pertambahan Nilai
adalah 10% (sepuluh persen)”. Sedangkan “Tarif Pajak Pertambahan Nilai
sebesar 0% (nol persen) diterapkan atas ekspor Barang Kena Pajak Berwujud,
ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan ekspor Jasa Kena Pajak.” Serta “Tarif PPN dapat diubah menjadi paling rendah 5% (lima persen) dan paling tinggi 15% (lima belas persen) yang perubahan tarifnya diatur dengan Peraturan
Pemerintah”.
3.1.6 Fasilitas PPN
Untuk lebih menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dan
meningkatkan program pembangunan di bidang kesejahteraan rakyat dan
pertahanan-keamanan, atas impor dan penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa
Kena Pajak tertentu, Pajak Pertambahan Nilai yang terutang ditanggung.
3.1.7 Pengkreditan Pajak Masukan
Menurut Undang-Undang PPN No. 42 Tahun 2009 Pasal 1, “Pajak
Masukan adalah PPN seharusnya sudah dibayar oleh PKP berkaitan dengan
perolehan Barang Kena Pajak, penerimaan Jasa Kena Pajak, pemanfaatan BKP
tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar
Daerah Pabean dan impor Barang Kena Pajak”.
Pajak Masukan yang seharusnya sudah dibayar ketika memperoleh Barang
Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak tersebut diperlakukan sebagai kredit pajak
terhadap Pajak Keluaran. Pajak Masukan dalam suatu Masa Pajak dikreditkan
dengan Pajak Keluaran untuk masa yang sama. Berbagai permasalahan dalam
pengkreditan Pajak Masukan, antara lain :
a. Belum terdapat Pajak Keluaran
Universitas Indonesia Menurut UU No.42 tahun 2009 pasal 9 ayat (2a) menerangkan bahwa “Bagi Pengusaha Kena Pajak yang belum berproduksi sehingga belum melakukan penyerahan yang terutang pajak, Pajak Masukan atas perolehan
dan/atau impor barang modal dapat dikreditkan”. Berdasarkan undang-undang
tersebut, dapat disimpulkan bahwa PKP yang belum melakukan penjualan
ataupun penyerahan BKP/JKP dalam hal ini bisa dikatakan bahwa PKP tersebut
merupakan perusahaan yang baru berdiri, maka Pajak Masukan yang telah dibayar
pada saat perolehan BKP/JKP tetap dapat dikreditkan.
b. Pengkreditan pada masa yang tidak sama
Apabila Pajak Masukan tidak dapat dikreditkan pada masa yang sama,
maka Pajak Masukan tersebut dapat dikreditkan sampai dengan tiga bulan dari
masa yang seharusnya sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum
dilakukan pemeriksaan.
c. Penyerahan BKP yang terutang dan tidak terutang pajak
Perlakuan Pajak Masukan oleh PKP yang melakukan
penjualan/penyerahan BKP yang terutang PPN atau tidak terutang PPN dapat
dibedakan menjadi :
1. Diketahui secara pasti
Pengusaha Kena Pajak yang dalam suatu Masa Pajak melakukan
penyerahan yang terutang pajak dan penyerahan yang tidak terutang pajak,
maka Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah berkenaan dengan
penyerahan BKP atau JKP yang terutang pajak dapat diketahui dengan
pasti dari pembukuan Pengusaha Kena Pajak.
2. Tidak dapat diketahui secara pasti
Pengusaha Kena Pajak yang menggunakan Barang Modal untuk kegiatan
usaha yang menghasilkan BKP dan/atau JKP yang atas penyerahannya
Universitas Indonesia terutang PPN dan kegiatan lain yang tidak terutang PPN dan/atau
dibebaskan dari pengenaan PPN dapat mengkreditkan Pajak Masukan atas
perolehan barang modal tersebut, yang besarnya sebanding dengan
persentase penggunaan barang modal yang digunakan untuk kegiatan
usaha yang menghasilkan BKP dan/atau JKP, yang atas penyerahannya
terutang PPN. Pajak Masukan yang telah dikreditkan dari PKP yang
No.42 Tahun 2009, tidak dapat diberlakukan bagi pengeluaran untuk:
a. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak sebelum Pengusaha
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;
b. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai
hubungan langsung dengan kegiatan usaha;
c. perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station
wagon, kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan;
d. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa
Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebelum Pengusaha dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak;
e. dihapus;
f. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya
tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5)
atau ayat (9) atau tidak mencantumkan nama, alamat, dan Nomor Pokok
Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak;
Universitas Indonesia
g. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa
Kena Pajak dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6);
h. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak
Masukannya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak;
i. perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak
Masukannya tidak dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak
Pertambahan Nilai, yang ditemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan;
dan
j. perolehan Barang Kena Pajak selain barang modal atau Jasa Kena Pajak
sebelum Pengusaha Kena Pajak berproduksi sebagaimana dimaksud pada
ayat (2a).
3.2 Dokumen yang terkait dengan PPN
3.2.1 Faktur Pajak
Menurut Waluyo (2011), “faktur pajak adalah faktur yang dapat
digunakan sebagai bukti pemungutan pajak sebagai sarana untuk mengkreditkan
pajak masukan” (p.84). Apabila terjadi banyak transaksi kepada satu pembeli atau
penerima JKP atau BKP yang sama, maka dapat digunakan faktur pajak
gabungan. Menurut PER-65/PJ/2010, pengertian dari faktur pajak gabungan
adalah faktur pajak yang meliputi semua penyerahan BKP atau penyerahan JKP
yang terjadi selama satu bulan kalender kepada pembeli yang sama atau penerima
JKP yang sama.
Menurut Pasal 13 ayat 5 UU PPN dan PPnBM, faktur pajak harus memuat
keterangan-keterangan tentang penyerahan BKP atau penyerahan JKP.
Nama, alamat, NPWP yang menyerahkan BKP atau JKP.
Nama, alamat, dan NPWP pembeli BKP atau penerima JKP.
Universitas Indonesia
Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan
harga.
Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut.
Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang dipungut.
Kode, Nomor Seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak.
Nama, jabatan, dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak.
Bentuk dan ukuran formulir Faktur Pajak, yang dapat dilihat pada Gambar
3.3, dapat disesuaikan dengan kepentingan PKP. Keterangan lain dapat
ditambahkan apabila dibutuhkan.
Menurut PER.No.13/PJ/2010, faktur pajak harus dibuat paling lambat:
Saat terjadinya penyerahan BKP dan/atau JKP.
Pada saat penerimaan pembayaran dalam hal pembayaran terjadi sebelum
penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP.
Pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian
tahap pekerjaan.
Pada saat PKP rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendaharawan
Pemerintah sebagai Pemungut PPN.
Saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
tersendiri.
3.2.2 Surat Setoran Pajak
Menurut PER 01/PJ./2006 Pasal 1 ayat (2) “Surat Setoran Pajak (SSP)
adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melakukan pembayaran
atau penyetoran pajak yang terutang ke kas negara melalui Kantor Penerima
Universitas Indonesia Pembayaran”. Dalam melakukan pembayaran PPN, WP mencantumkan jumlah yang akan di bayar dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP). SSP ini,
seperti terlihat pada Gambar 3.4 harus memuat antara lain :
1. Identitas WP antara lain : NPWP, Nama WP dan alamat WP;
2. MAP / Kode Jenis Pajak, Kode Setoran dan Uraian Pembayaran;
3. Masa dan Tahun Pajak;
4. Jumlah pembayaran baik dalam angka maupun terbilang;
5. Tempat dan waktu pembayaran;
6. Tandatangan penyetor dan cap perusahaan.
Universitas Indonesia Gambar 3.3 Faktur Pajak
Sumber: ortax.org
Menurut UU PPN No.42 Tahun 2009 Pasal 15A ayat (1), “Penyetoran PPN
dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak
dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan”.
Keterlambatan atas penyetoran PPN akan dikenakan denda sebesar 2% (dua
persen) dari nilai yang terutang.
3.2.3 Surat Pemberitahuan Masa (SPT Masa) PPN
Universitas Indonesia Menurut Waluyo (2011), “Surat Pemberitahuan Masa PPN dan PPnBM merupakan laporan bulanan yang harus disampaikan oleh Pengusaha
Kena Pajak meskipun Nihil, mengenai penghitungan Pajak Masukan yang berasal
dari pembelian Barang Kena Pajak atau penerimaan Jasa Kena Pajak;Pajak
Keluaran yang berasal dari penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak; dan penyetoran pajak atau kompensasi” (p.31).
Menurut UU PPN No. 42 Tahun 2009 Pasal 15A ayat (2), “Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan paling lama akhir
bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak”. Bentuk dan isi Surat
Pemberitahuan Masa serta keterangan dan dokumen yang harus dilampirkan
ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Apabila Surat Pemberitahuan Masa tidak
atau tidak sepenuhnya dilampiri dengan keterangan dan dokumen yang telah
ditetapkan, maka Surat Pemberitahuan Masa tersebut dianggap tidak disampaikan.
Dalam hal pelaporan masa PPN untuk tahun 2011 sebagai bagian dari
pelaksanaan UU PPN dan PPnBM yang baru perlu mengakomodasi ketentuan
baru tersebut, sehingga harus ada penyesuaian formulir SPT Masa sesuai UU PPN
yang baru. Formulir SPT Masa PPN atau formulir 1107 yang digunakan sejak
Januari 2007 dianggap tidak layak lagi.
Dengan terbitnya PER 44/Pj/2010 Tanggal 6 Oktober 2010 bahwa
mulai Masa Pajak Januari 2011 Pengusaha Kena Pajak (PKP) menggunakan
formulir SPT Masa PPN 1111 (Lihat Lampiran 3 s/d 9). Dengan peraturan
tersebut, Formulir 1107 dan 1108 tidak dipergunakan lagi dan digunakan formulir
baru yang berlaku mulai 1 Januari 2011. Jenis formulir pelaporan yang digunakan
SPT Masa PPN yaitu:
1. Formulir 1111 yaitu formulir yang digunakan oleh PKP yang
menggunakan mekanisme Pajak Masukan dan Pajak Keluaran secara
umum.
Universitas Indonesia
2. Formulir 1111 DM yaitu formuir yang digunakan oleh Pengusaha
Kena Pajak yang menggunakan Pedoman Penghitungan
Pengkreditan (deemed) Pajak Masukan.
3. Formulir 1107 PUT seperti pada formulir yang lama dan tidak ada
perubahan.
Penyesuaian bentuk Lampiran SPT tetap mencantumkan identitas Pemungut
PPN dan memperhatikan unsur-unsur kolom yang ada dalam Lampiran SPT SPT
PPN juga dapat berbentuk media elektronik. Dalam hal ini, Pemungut PPN harus
menggunakan e-SPT yang telah disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak dan
induk SPT tetap disampaikan dalam bentuk hard copy.
SPT PPN dapat disampaikan oleh PKP dengan cara :
1. Manual
Penyampaian SPT dengan cara manual adalah penyampaian SPT yang induk
SPT-nya disampaikan dalam bentuk formulir kertas (hard copy), sedangkan
Universitas Indonesia
2. Elektronik
Penyampaian SPT PPN secara elektronik, yaitu melalui e-Filling, melalui
Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP). Dalam hal SPT disampaikan dalam
bentuk data elektronik, Pemungut PPN harus menggunakan e-SPT yang telah
disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak dan induk SPT tetap disampaikan dalam
bentuk hard copy.
SPT PPN merupakan SPT masa, yang setiap masanya harus dilaporkan paling
lambat akhir bulan berikutnya. Misalnya SPT PPN masa April 2012 paling lambat
dilaporkan tanggal 31 Mei 2012.
Universitas Indonesia Gambar 3.4 Surat Setoran Pajak
Sumber: ortax.org
Universitas Indonesia
3.3 Jurnal atas transaksi terkait PPN pada PT APCO
Pada umumnya, pembayaran yang diterima oleh Perusahaan adalah satu
bulan setelah penagihan sehingga pencatatan yang dilakukan oleh Perusahaan
pada saat penyerahan JKP adalah :
Pencatatan pada saat pelunasan piutang adalah sebagai berikut, jika transaksi
penjualan dilakukan ke Pemungut Pajak :
Bank/Cash XXX
VAT-Out XXX
Account Receivable XXX
Perbedaan jurnal pelunasan piutang untuk transaksi ke Pemungut dan
Bukan Pemungut di atas adalah jurnal pelunasan piutang dari Pemungut terdapat
pendebetan akun Hutang PPN Keluaran. Hal ini dikarenakan PPN Keluaran telah
dipungut dan disetor oleh klien ke Kas Negara sehingga tidak akan mempengaruhi
perhitungan PPN kurang/lebih bayar Perusahaan. Sesuai dengan Pasal 2 KMK
No.549 Tahun 2000 yang menyatakan bahwa PPN Keluaran dilaporkan
Universitas Indonesia Perusahaan rekanan apabila Perusahaan rekanan telah menerima pembayaran dari
Pemungut.
Pembelian dilakukan dengan waktu pembayaran adalah paling lambat
akhir bulan transaksi, sehingga pencatatan yang dilakukan oleh Perusahaan pada
saat pembelian BKP atau JKP adalah:
Inventory XXX
VAT-In XXX
Account Payable XXX
Sedangkan pencatatan yang dilakukan pada saat pembayaran adalah:
Account Payable XXX
Cash/Bank XXX