• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS FONOLOGI GENERATIF TERHADAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS FONOLOGI GENERATIF TERHADAP"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS PENELITIAN DAN PENULISAN

TESIS

DISUSUN OLEH

NAMA : DEDY DANIEL HARIAN89J NIM : 167009008

FAKULTAS : FAKULTAS ILMU BUDAYA DOSEN : DR. RUDI SOFYAN, M.HUM

PROGRAM STUDI S2 LINGUISTIK FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

BAB I

1.1. Latar Belakang

Proses pembetukan bunyi bahasa dimulai dengan memanfaatkan pernafasan sebagai sumber tenaganya. Sumber tenaga itu berupa udara yang keluar dari paru-paru. Pada mulanya udara dihisap oleh paru-paru, kemudian dihembuskan sewaktu bernapas. Udara yang dihembuskan itu mengalami perubahan pada pita suara yang terletak pada pangkal tenggorokan. Arus udara yang keluar dari paru-paru itu dapat membuka kedua pita suara yang merapat sehingga mengakibatkan corak bunyi bahasa tertentu. Gerakan membuka dan menutup pita suara itu menyebabkan arus udara dan udara di sekitar pita suara itu berubah tekanannya dan bergetar. Perubahan bentuk saluran suara itulah yang menghasilkan bunyi bahasa yang berbeda-beda.

(3)

Tempat atau alat ucap yang dilewati udara dari paru-paru, antara lain: batang tenggorok, pangkal tenggorok, kerongkongan, rongga mulut, rongga hidung. Pada waktu udara

mengalir ke luar, pita suara dalam keadaan terbuka. Jika udara tidak mengalami hambatan pada alat ucap, maka bunyi bahasa tidak akan terjadi seperti dalam bernapas. Pada

prinsipnya proses terjadinya bunyi bahasa dapat dibedakan atas empat macam, yakni proses mengalirnya udara, proses fonasi, proses artikulasi dan proses oronasal.

(4)

1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penelitian tersebut adalah:

1. Bagaimana segmen dan fitur- fitur distingtif dalam bahasa Batak

Toba?

2. Bagaimana proses fonologis dalam bahasa Batak Toba?

3. Bagaimana kaidah fonologis dalam bahasa Batak Toba?

4. Bagaimanakah distribusi Fonem dan Konsonan dalam baghasa Batak

Toba

1.3 Tujuan Penelitian

• 1. Untuk mengetahui segmen dan fitur- fitur distingtif dalam bahasa • Batak Toba.

(5)

1.4 Manfaat Penelitian

1. Agar semakin bertambahnya pendalaman materi,

khususnya tentang fonologi di sekolah SMK Swasta

HKBP Sidikalang.

2. Agar dapat mengungkap betapa berpengaruhnya

fonologi dalam kegiatan berbahasa, khususnya di

sekolah SMK Swasta HKBP Sidikalang.

3. Agar menambah wawasan dan pengetahuan di

(6)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Segmen dan Fitur- Fitur Distingtif dalam

Bahasa Batak Toba

Segmen adalah bahasa yang diabstraksikan dari suatu

kontinum wicara atau teks, misalnya fon atau fonem sebagai

satuan bunyi dan morf atau morfem sebagai satuan

gramatikal. Segmen terdiri dari dua jenis, yaitu segmen

bermakna dan segmen tidak bermakna. Suatu segmen dapan

ditentukan kebermaknaannya melalui kontras atau

(7)

Contohnya, kontras vokal dalam bahasa Karo:

[ Tambu ] dan [ Tabbu ]

‘ tambah ‘

[ Dongkon ] dan[ Dokkon ]

‘ bilang ‘

[ Hancit] dan [ Hassit ]

‘sakit ‘

[ Sintong ] dan [ Sittong ]

‘ benar ‘

[ Takkas ] dan [ Tangkas ]

‘ benar ‘

Ciri distingtif itu adalah consonantal, silabik , sonoran , dan nasal.

a.

Consonantal [kons]

Bunyi ini ditandai dengan penyempitan dan penutupan pita suara

pada waktu kita mengucapkan bunyi bahasa:[+kons] adalah

(8)

b. Silabik [sil]

Ciri silabik ini menandai bunyi yang berfungsi sebagai inti suku kata: [+sil]

dalam hal ini adalah bunyi vocal, alir dan nasal berfungsi sebagai inti suku kata, mislnya dalam kata bottle[bot], bunyi [l] adalah [+sil], seperti juga bunyi [r] dalam bahasa kroasia [krv] darah. [-sil] adalah semua konsonan serta nasal dan alir yang tidak berfungsi sebagai inti suku kata.

c. Sonoran [son]

Bunyi sonoran ditandai dengan terbukany pita suara sehingga menghasilkan

bunyi yang adapt dilagukan pada titnada tertentu.[+son] adalah bunyi-bunyi vocal, semivokal, alir, dan nasal.[-son] adalah bunyi-bunyi obstruen.

d. Nasal [nasal]

Bunyi ini ditandai dengan ditariknya langit-langit lunak (velum) ke bawah dan

(9)

2.2 Proses Fonologis dalam Bahasa Batak Toba

Rumus-rumus fonologi diformulasikan untuk memetakan gejala dari

bahasa yang muncul, khususnya yang timbul dari gejala perubahan bunyi. Oleh karena itu, disini penulis mengelompokkan rumus-rumus fonologi berdasarkan gejala perubahan bunyi tersebut, yaitu asimilasi, penyisipan (addition sound), pelesapan (deletion sound), dan perpaduan (coalition).

1. Asimilasi

• Asimilasi adalah salah satu dari proses fonologis yang ada, dalam bahasa indonesia ada beberapa kata yang bisa di kategorikan masuk dalam proses asimilasi itu sendiri karena dalam proses asimilasi itu sendiri sebuah segmen mendpat ciri –ciri dari segmen yang berdekatan. konsonan mungkin mengambil ciri-ciri dari vokal, vokal mungkin mengambil ciri-ciri dari konsonan, konsonan yang satu bisa mempengaruhi konsonan yang lain , atau vokal yang satu bisa

mempengaruhi vokal yang lain. • contohnya;

[meɲ + balap] → [membalap] “to take over”Contoh dalam Bahasa Karo

(10)

2. Pelemahan dan penguatan

Penguatan bunyi dapat terjadi pada beberapa segmen bunyi yang berkaitan

dengan pengucapan. Bunyi hambat bersuara yang beraspirasi dipandang lebih kuat daripada yang tidak beraspirasi, seperti [ b,d,g,j,z ] dibandingkan dengan [ p,t, k,c,s].

Contoh:

/ igung/ menjadi [ igŨng ] ‘ hidung ‘/ udan / menjadi [ Ũdan ] ‘ hujan ‘

3. Netralisasi

Netralisasi adalah proses pembedaan fonologis yang dihilangkan dalam

lingkungan tertentu. Jadi, segmen- segmen yang berkontras dalam satu lingkungan mempunyai representasi yang sama dalam lingkungan

netralisasi. Netralisasi vokal merupkan peristiwa lanjutan dari adanya proses asimilasi. Netralisasi vokal muncul apabila asimilasi itu menjadi segmen

(11)

2.3 Kaidah Fonologis dalam Bahasa Batak Toba.

Kaidah fonologi terdiri dari empat macam yaitu:

Kaidah perubahan ciri

Kaidah pelesapan

Kaidah perpaduan

(12)

BAB III

METODE PENELITIAN

P

enelitian lapangan (field research) dilakukan

menggunakan metode deskriptif. peneitian deskriptif

memamfaatkan data yang sudah ada atau eneitian yang

dilakukan semata-mata berdasarkan fakta yang ada

atau fenomena yang secara empiris hidup pada

(13)

A. Sumber Data

Data diperoleh dari tiga informan yang dipilih secara sengaja

dengan rentang usia dari enam belas tahun, tiga puluh tahun

sampai lima puluh empat tahun. Penentuan usia dilakukan

berdasarkan pendapat Labov dan Fishman di dalam

(pateda:1978:61) mengenai factor usia terhadap pemakaian

bahasa yaiyu makin tinggi umur seseorang makin banyak kata

yabg dikuasainya dan baik dalam struktur bahasa.

Para informan pemberi data dan sampel disekolah SMK Swasta

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Chair, Abdul. 2007.

Linguistik Umum

. Jakarta: Rineka Cipta

Warneek, J. 2001.

Kamus Bahasa Batak Toba

. Medan: Bina Media.

Schane, Sanford A.. 1992.

Fonologi Generatif

. Jakarta: PT Gelora

Aksara Pratama.

Sudarianto. 2015.

Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa

.

Jogjakarta: Sanata Darma University Pres.

Internet

Referensi

Dokumen terkait

Kaidah fonologis adalah penetapan persyaratan untuk tetjadinya proses fonologi dengan menggunakan notasi fonnal (Schane, 1992: 65). Notasi itu harus cocok untuk

Perubahan fonetik dalam kata serapan Bahasa Arab ke dalam Bahasa Jawa, yang dimaksud dengan kata serapan itu sendiri adalah kata-kata yang berasal dari bahasa

Bunyi-bunyi ujaran adalah unsur bahasa terkecil yang merupakan bagian dari struktur kata yang sekaligus berfungsi untuk membedakan makna.. Fonologi yang memandang

Fonologi Bahasa Gayo: Suatu Analisis Fonologi Generatif. Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia dalam Menghadapi

Dalam kajian ini, variasi bahasa Gayo bukanlah sebagai dialek dari bahasa. Aceh melainkan bahasa Gayo merupakan bahasa

Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Melalatoa MJ,dkk.. Adat Istiadat

Misalnya dalam bahasa Inggris, ada gugus konsonan yang secara alami sulit diucapkan oleh penutur asli bahasa Inggris karena tidak sesuai dengan sistem fonologis bahasa Inggris,

Di dalam bahasa Madura dialek bangkalan proses fonologis terjadi ketika morfem-morfem bergabung untuk membentuk kata, segmen-segmen dari morfem yang berdekatan berjejeran dan