PEMEGANG SAHAM DAN PERUSAHAAN Pengertian Pemegang Saham
Pemegang saham (bahasa Inggris: shareholder atau stockholder), adalah seseorang atau badan hukum yang secara sah memiliki satu atau lebih saham pada perusahaan. Para pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan tersebut. Perusahaan yang terdaftar dalam bursa efek berusaha untuk meningkatkan harga sahamnya. Konsep pemegang saham adalah sebuah teori bahwa perusahaan hanya memiliki tanggung jawab kepada para pemegang sahamnya dan pemiliknya, dan seharusnya bekerja demi keuntungan mereka
Pemegang saham diberikan hak khusus tergantung dari jenis saham, termasuk hak untuk memberikan suara (biasanya satu suara per saham yang dimiliki) dalam hal sepert pemilihan dewan direksi, hak untuk pembagian dari pendapatan perusahaan, hak untuk membeli saham baru yang dikeluarkan oleh perusahaan, dan hak terhadap asetperusahaan pada saat likuidasi perusahaan. Namun, hak pemegang saham terhadap aset perusahaan berada di bawah hak kreditor perusahaan. Ini berart bahwa pemegang saham (pesaham)biasanya tdak menerima apa pun bila suatu perusahaan yang dilikuidasi setelah kebangkrutan (bila perusahaan tersebut memiliki lebih untuk membayar kreditornya, maka perusahaan tersebut tdak akan bangkrut), meskipun sebuah saham dapat memiliki harga setelah kebangkrutan bila ada kemungkinan bahwa hutang perusahaan akan direstrukturisasi.Pemegang saham sebagai pemilik perusahaan secara individu tdak punya kekuasaan yang berart kecuali dapat menggugat Komisaris, Direksi dan Pemegang Saham lainya jika keputusan mereka merugikannya (lihat Pasal 61 ayat 1 dan Pasal 97 ayat 6 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas/UUPT). Pemegang saham baru punya kekuatan atas Komisaris dan Direksi bila ia merupakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). RUPS merupakan forum dan organ tertnggi dalam suatu Perseroan Terbatas (lihat Pasal 1 butr 4 dan Pasal 75 ayat 1 UUPT).
Perseroan Terbatas (UUPT) menyatakan, RUPS punya wewenang yang tdak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris, dalam batas yang ditentukan dalam Undang ini dan/atau anggaran dasar.Sehingga peran RUPS sesungguhnya adalah memastkan bahwa Komisaris dan Direksi betul-betul menaat UUPT dan Anggaran Dasar Perseroan dalam menjalankan tugasnya guna menjaga kepentngan dan keberlangsungan Perseroan.
Hak dan Kewajiban Pemegang Saham
Adapun hak pemegang saham adalah sebagai berikut:
1. Menghadiri dan mengeluarkan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk memilih Direksi dan/atau Komisaris.
2. Menerima pembayaran dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi.
3. Hak - hak lainnya yang tercatat di Anggaran Dasar.
Kewajiban pemegang saham adalah memberikan pengesahan dalam RUPS atas rencana kerja, laporan tahunan dan penggunaan laba. Pemegang saham tdak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang di buat atas nama perusahaan dan tdak bertanggung jawab atas kerugian perusahaan melebihi saham yang dimiliki. Ketentuan diatas tdak berlaku apabila:
1. Persyaratan Perusahaan sebagai badan hukum belum atau tdak terpenuhi.
2. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tdak langsung dengan itkad buruk memanfaatkan perusahaan untuk kepentngan pribadi.
3. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perusahaan.
4. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tdak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan perusahaan, yang mengakibatkan kekayaan perusahaan menjadi tdak cukup untuk melunasi utang perusahaan.
Pada hakekatnya, tanggung jawab pemegang saham sebatas pada jumlah nilai saham yang disetornya. Dia akan bertanggung jawab secara pribadi (tdak terbatas) bila memenuhi salah satu kondisi:
1. melakukan satu atau lebih hal yang mengakibatkan terjadinya pengungkapan tabir perusahaan (piercing corporate veil; lihat Pasal 3 Undang-Undang No.1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas); atau
2. menjadi penanggung pribadi (personal guarantor) berdasarkan perjanjian penanggungan pribadi sehubungan dengan transaksi pemberian fasilitas kredit oleh bank kepada perusahaan yang bersangkutan berdasarkan perjanjian kredit atau pinjaman tertentu.
Bila dia diwajibkan untuk membayar, maka pemegang saham yang bersangkutan wajib membayar lunas seluruh dan setap hutang yang harus dibayar oleh perusahaan. Bila ada pemegang saham lain yang mempunyai kewajiban yang sama, maka pelaksanaan kewajiban pembayaran tersebut dilakukan secara tanggung renteng di antara para pemegang saham tersebut. Pihak kreditor sebagai pihak ketga hanya berkepentngan dalam hal hutangnya lunas (dibayar), sedangkan urusan internal sehubungan dengan pertanggung jawaban secara tanggung renteng itu sewajarnya hanya menjadi urusan di antara para pemegang saham pada perusahaan yang bersangkutan.
Dan Kecuali dibatasi atau ditetapkan dalam akte pendirian perseroan atau oleh ketentuan perundang-undangan yang berlaku, setap jenis saham memberikan hak-hak dasar kepada para pemiliknya sebagai berikut:
1. Hak untuk ikut serta dalam pengelolaan perusahaan. Termasuk memilih anggota direksi dengan hak suara yang proporsional dengan hak kepemilikan sahamnya di dalam perusahaan, dan hak untuk memperoleh laporan keuangan perusahaan dan menentukan kebijakan-kebijakan strategis perusahaan.
2. Hak untuk mendapatkan pembagian aktva bersih perusahaan. Meliput hak untuk membagi dividen dan hak memperoleh pembayaran kembali atas penyertaan modalnya apabila perusahaan harus dibubarkan atau dilikuidasi.
3. Hak untuk mendapatkan pembagian laba dalam bentuk dividen yang dibagikan oleh perusahaan.
4. Hak untuk dapat mempertahankan jumlah relatve saham yang dimiliki melalui pembelian saham-saham baru yang diterbitkan oleh perusahaan yang disebut preemptve right. Yang memungkinkan seorang pemegang saham untuk membeli sejumlah saham tambahan dalam hal perusahaan melakukan emisi atau menerbitkan saham baru. Sebagai akibatnya, rasio kepemilikan saham tdak bisa dikurangi sebagai akibat dari penerbitan saham-saham baru yang dilakukan oleh perusahaan, kecuali pemegang saham tdak menggunakan haknya untuk membeli saham baru
5. Hak untuk mengubah akte pendirian. Anggaran dasar dan rumah tangga perusahaan, meliput hak untuk memberikan persetujuan atas perubahan-perubahan akte pendirian, anggaran dasar dan rumah tangga perusahaan, dan hak untuk mempertahankan rasio kepemilikan sahamnya diperusahaan.
berbeda (hak suara dalam rapat umum pemegang saham, hak prioritas untuk memperolah pembayaran dividen, hak atas jumlah minimum dividen).
Sedangkan, untuk kewajiban dari pemegang saham itu sendiri adalah sebagai berikut :
Peraturan mengenai Perseroan Terbatas diatur didalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Di dalam UU PT mengatur mengenai tanggung jawab pemegang saham dalam Perseroan Terbatas.
Menurut Pasal 3 ayat (1) UU PT, pemegang saham Perseroan Terbatas (?strong>Perseroan? tdak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama Perseroan dan tdak bertanggung jawab atas kerugian Perseroan melebihi saham yang dimiliki. Ketentuan di dalam pasal ini mempertegas ciri dari Perseroan bahwa pemegang saham hanya bertanggung jawab sebesar setoran atas seluruh saham dan tdak meliput harta kekayaan pribadinya.
Namun, masih ada kemungkinan pemegang saham harus bertanggung jawab hingga menyangkut kekayaan pribadinya berdasarkan Pasal 3 ayat (2) UU PT yang menyatakan bahwa ketentuan di dalam Pasal 3 ayat (1) tdak berlaku apabila:
1. persyaratan Perseroan sebagai badan hukum belum atau tdak terpenuhi;
2. pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tdak langsung dengan itkad buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentngan pribadi;
3. pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Perseroan; atau
4. pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tdak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan Perseroan, yang mengakibatkan kekayaan Perseroan menjadi tdak cukup untuk melunasi utang Perseroan.
hasil likuidasi telah dibagikan kepada pemegang saham dan terdapat tagihan kreditor yang belum mengajukan tagihannya.
Penjualan Sebagian Besar Saham Indosat ke Asing
Pada tahun 2002 aset pentng negara, PT Indosat dijual oleh Presiden Megawat dengan harga USD 627 juta atau sekitar Rp 5,7 triliun (kurs pada saat itu USD 1 = Rp 8.940). Pada tanggal 30 Maret 2014, Megawat pernah menjelaskan melalui akun twitter tentang keputusannya penjualan aset Indosat, sebagai berikut:
“Indosat diswastakan untuk menutupi kekurangan APBN, agar investor terpancing kembali ke Indonesia. Krisis sudah terlalu lama, sejak ’98 membebani ekonomi setap keluarga. Tekad kabinet agar hutang LN tdak bertambah lagi. Keputusan yang sulit disaat yang sulit, tapi pemimpin harus berani ambil keputusan. Meski menuai kecaman dan hujatan dari dalam negeri. Ibarat seorang ibu yang merelakan perhiasan kesayangannya demi membeli beras untuk keluarga karena suami sudah lama menganggur. Ibarat seorang ibu, jual perhiasannya demi bayar uang sekolah atau menebus ijazah anaknya. Para ahli ekonomi tdak punya solusi yang lebih baik atau hanya bisa teriak dijalanan tanpa solusi. Semua hanya bisa bicara pesimis. Indosat, dan lain-lain saat itu adalah solusi yang bagi negara yang sedang sakit parah. Karena saya yakin dalam 10 tahun harusnya kita dapat membeli kembali.”
Untuk menanggapi hal tersebut, Kwik Kian Gie seorang ahli ekonomi dan politkus berpendapat bahwa penjualan Indosat karena keadaan krisis keuangan adalah suatu hal yang salah, karena pada saat itu Indonesia banyak mendapat bantuan dana dari lembaga keuangan dunia. Menurutnya, Indosat adalah industri yang strategis dan kurang tepat jika perusahan tersebut dijual, karena masih banyak BUMN di sektor lain yang dapat dijual.
Menurut Marwan Batubara seorang pendiri Serikat Pekerja Indosat dan mantan GM Indosat, mengatakan bahwa penjualan Indosat tdak hanya penuh dengan keganjilan melainkan telah melanggar UU, merugikan n negara, dan sarat dengan praktk korupsi. Ia menduga bahwa adanya kepentngan asing yang bergabung dalam penjualan Indosat.
lain, banyak yang berpendapat bahwa penjualan Indosat ke pihak asing tdak diperlukan karena keadaan ekonomi di Indonesia pada saat itu masih dapat dibantu dengan pinjaman dari lembaga keuangan. Ditambah dengan kenyataan, yang dimana Indosat hanya dihargai senilai IDR 5,7 Triliun, harga yang cenderung rendah untuk industry yang sangat strategis. Dari keganjilan-keganjilan aspek ekonomi tersebut, menyebabkan munculnya kemungkinan motf dari aspek politk yaitu terdapatnya manipulasi untuk menguntungkan beberapa pihak yang berkepentngan saja.
Kejadian pada penjualan Indosat itu seharusnya dapat menyadarkan pemerintah sekarang, bahwa menjual BUMN strategis bukanlah pekerjaan mendesak apalagi sebuah keharusan. Banyak pemerintah di dunia ini memiliki BUMN yang strategis dan bagus karena memang ada kemauan dari pemerintahannya untuk membuat bagus. Negara ini butuh BUMN yang meminjam istlah Renald Kasali, bisa menjadi powerhouse, sepert halnya setap negara memilikinya. Bagi profesional yang bekerja BUMN, kasus Indosat seharusnya juga menjadi cambuk, untuk dapat mengelola BUMN secara profesional, tdak bersedia diintervensi oleh pemerintah dan parlemen, dan memangkas biaya ekonomi tnggi dan perilaku tdak efisien. Maka apabila BUMN strategis yang didirikan untuk kemajuan dan kebangsaan bangsa dijual satu demi satu karena alasan ekonomi dan politk segelintr orang dan kelompok, negara ini sebetulnya sedang meluncur kepada kebangkrutan.
Eksploitasi Sumber Daya Alam Indonesia oleh Freeport
Merupakan fakta sejarah jika di awal kekuasaan Suharto, kekayaan alam Indonesia yang melimpah-ruah digadaikan kepada blok imperialisme Barat yang dipimpin Amerika Serikat. Sebelumnya Suharto dan Washington agaknya telah memiliki “MOU” bahwa jika Soekarno berhasil dikudeta maka Harto yang menggantkannya akan “membalas budi” kepada Washington berupa penyerahan negara dan bangsa ini tanpa syarat agar bisa dieksploitasi sepuasnya oleh para tuan bule di Washington. Berikut ringkasan mengenai sejarah Freeport masuk ke Indonesia.
Melalui penerbitan Peraturan Pemerintah No. 1/2017, pemerintah mendesak divestasi tersebut dengan mewajibkan Freeport, yang menguasai "gunung emas" di Papua, mengubah kontraknya dari Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). IUPK menerapkan pajak yang presentasenya berubah dari waktu ke waktu (prevailing). Sementara KK, menerapkan pajak tetap (nail down)-- pajak yang tak akan berubah hingga masa kontrak berakhir. Intnya, KK memposisikan pemerintah dan Freeport sebagai dua pihak yang berkontrak dengan posisi setara. Hal inilah yang membuat Freeport, dengan alasan pertmbangan bisnis dan stabilitas investasi, menolak mentah-mentah perubahan kontrak tersebut. Freeport juga mengancam akan membawa masalah ini ke arbitrase internasional.
Menurut Sudirman Said, mantan Menteri ESDM, peluang untuk mencapai win-win soluton masih besar, asal semua kembali mengingat tujuan hakiki. Para penentu kebijakan publik perlu merenung sejenak dan bertanya pada nuraninya: sesungguhnya kita sedang bekerja untuk siapa? Setap kebijakan publik, aspeknya past tdak linier, dan mustahil menyenangkan semua pihak. Tetapi kebijakan publik yang baik selalu berpihak pada yang paling lemah, yaitu rakyat banyak. Melayani yang lemah, memperhatkan kepentngan rakyat banyak, itulah sebab diadakannya Negara. Kalau para penentu kebijakan publik tdak punya agenda lain, selain memikirkan kepentngan rakyat, jalan akan terbuka. Ada hal mendasar yang harus terus dikelola, yaitu aspek kemanusiaan. Mungkin bagi pemegang sahamnya, atau bagi peminat saham PT Freeport, tambang Grasberg di kabupaten Mimika hanyalah portofolio dan unit bisnis yang bisa saja mereka matkan, atau mereka jual-belikan setap saat. Tapi bagi puluhan ribu, bahkan ratusan ribu keluarga, tambang Grasberg adalah kehidupan. Tidak pentng berapa jumlahnya, tetapi mereka sudah puluhan tahun hidup, memajukan ekonomi keluarga, sekolah, membangun usaha, dan seterusnya. Aspek kemanusiaan ini, terutama kehidupan warga Papua tetap harus jadi yang utama.
Daftar Pustaka
Kumparan . 2017. Sudirman Said: Penyelesaian Freeport Mudah, asal Gunakan Hat Nurani. Diambil dari:https://kumparan.com/wiji-nurhayat/sudirman-said-penyelesaian-freeport-mudah-asal-gunakan-hat-nurani (4 Oktober 2017)
Kumparan. 2017. Mampukah Pemerintah Mengambil Alih 'Gunung Emas' Freeport? Diambil dari https://kumparan.com/dewi-rachmat-k/mampukah-pemerintah-mengambil-alih-gunung-emas-freeport (4 Oktober 2017)
Tempo. 2015. Ini Penyebab Pemerintah Sulit Ambil Alih Tambang Freeport. Diambil dari https://bisnis.tempo.co/read/720768/ini-penyebab-pemerintah-sulit-ambil-alih-tambang-freeport (4 Oktober 2017)
Wordpress. 2014. Pembohongan Publik dalam Alasan Penjualan Indosat. Diambil dari
https://iwanyuliyanto.co/2014/06/28/pembohongan-publik-dalam-alasan-penjualan-indosat/ (4 Oktober 2017)
Wordpress. 2014. Kenapa Indosat di Jual pada Asing ? Diambil dari https://pojanwibawa.wordpress.com/tag/awal-mula-indosat-di-jual/(4 Okober 2017)
Blogspot. 2014. Motf Penjualan Indosat. Diambil
dari http://pencerahanbangsa.blogspot.co.id/2014/06/motf-penjualan-indosat.html (4 Oktober 2017)
http://ekonomi-management-bisnis.blogspot.co.id/2016/05/hak-hak-yang-dimiliki-oleh-pemegang.html
http://www.hukumperseroanterbatas.com/direksi-perusahaan/pengendalian-perseroan-terbatas/
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl209/tanggung-jawab-pemegang-saham
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt54c3459ddd84e/komposisi-pemegang-saham-dalam-pt
http://www.gresnews.com/berita/tps/1035299-hak-dan-kewajiban-pemegang-saham-perusahaan/0/