PROSES BERACARA PENGUJIAN UNDANG TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 (PENGUJIAN UU TERHADAP UUD 1945)
1. UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI (UU MK)
Pengajuan Permohonan
Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia oleh Pemohon atau kuasanya kepada Mahkamah Konstitusi (MK).
Pemohon: pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya UU.
Substansi permohonan sekurang-kurangnya memuat nama dan alamat pemohon, uraian yang menjadi dasar permohonan, dan hal apa yang dimohonkan.
Legal standing pemohon:
Perorangan warga negara Indonesia,
Kesatuan masyarakat hukum adat (sesuai dengan ketentuan undang-undang),
Badan hukum publik/privat,
Lembaga negara.
Pendaftaran Permohonan
Permohonan yang belum lengkap: wajib dilengkapi dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak pemberitahuan terkait kekuranglengkapan.
Permohonan yang sudah lengkap: dicatat di dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi.
Disampaikan kepada DPR, Presiden, dan Mahkamah Agung paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak pencatatan dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi.
Ditetapkan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah dicatat dalam Buku Registrasi perkara Konstitusi
Diberitahukan kepada para pihak dan masyarakat (pemberitahuan ditempel di papan pengumuman di MK).
Pemeriksaan Pendahuluan
Dilakukan sebelum masuk ke pokok perkara.
Hal yang diperiksa: kejelasan dan kelengkapan isi permohonan.
Jangka waktu untuk memperbaiki permohonan yang belum lengkap dan/atau jelas: 14 (empat belas) hari sejak diberitahukan.
Pemeriksaan Persidangan
Hal yang diperiksa: permohonan beserta alat bukti yang diajukan.
Untuk kepentingan pemeriksaan, jika dibutuhkan wajib memanggil lembaga negara yang terkait dengan permohonan.
Saksi dan ahli yang dipanggil wajib memberikan keterangan.
Pemohon dapat diwakilkan keberadaannya oleh Kuasa Pemohon melalui surat kuasa.
MK dapat meminta keterangan dan/atau risalah rapat kepada MPR, DPR, DPD, dan/atau Presiden terkait dengan permohonan.
Pengucapan Putusan
Sebelum pembacaan putusan diadakan rapat permusyawaratan hakim agar tercapai kesepakatan antara hakim MK terkait isi putusan yang akan dibacakan.
Rapat permusyawaratan mencapai mufakat: putusan dapat diucapkan pada hari itu juga/ hari lain (harus diberitahukan kepada para pihak).
Putusan memperoleh kekuatan hukum tetap sejak selesai diucapkan.
Isi putusan:
Kepala Putusan “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”,
Ringkasan permohonan,
Pertimbangan terkait fakta persidangan,
Pertimbangan hukum yang menjadi dasar putusan,
Amar putusan,
Hari, tanggal putusan, nama hakim MK, dan panitera.
Putusan yang mengabulkan permohonan wajib dimuat dalam Berita Negara paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak pengucapan putusan.
2. PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 06/PMK/2005 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERKARA PENGUJIAN UNDANG-UNDANG
Pengajuan Permohonan
Legal standing Pemohon:
Perorangan warga negara Indonesia atau kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama,
Kesatuan masyarakat adat berdasarkan undang-undang,
Badan hukum publik/privat,
Lembaga negara.
Permohonan diajukan melalui kepaniteraan.
Berkas permohonan belum lengkap: diberitahukan kepada Pemohon dan harus dilengkapi dalam jangka waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak pemberitahuan (penerimaan Akta Pemberitahuan Kekuranglengkapan Berkas oleh Pemohon).
Berkas permohonan sudah lengkap: diberitahukan kepada Pemohon dengan memberikan Akta Penerimaan Berkas Perkara.
Registrasi Perkara
MK memberitahu DPR, Presiden, dan Mahkamah Agung terkait adanya permohonan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak pencatatan dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi.
Pemberitahuan kepada Mahkamah Agung: agar dihentikan pengujian peraturan di bawah undang-undang yang sedang diujikan terkait permohonan.
Penjadwalan Sidang
Penetapan hari sidang pertama paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pencatatan di dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi.
Penetapan tersebut diberitahukan kepada Pemohon dan masyarakat (ditempel di papan pengumuman yang terdapat di MK dan situs mahkamahkonstitusi.go.id).
Panggilan Sidang
Pemberitahuan pemanggilan kepada Pemohon paling lambat 3 (tiga) hari kerja sebelum hari sidang pertama.
Pemberitahuan disampaikan kepada Pemohon langsung oleh Juru panggil atau melalui telepon, faksimili, dan/atau surat elektronik.
Pemeriksaan Pendahuluan
Dapat dilakukan dalam sidang yang dipimpin Panel Hakim [sedikitnya terdiri dari 3 (tiga) orang hakim MK] atau Pleno [sedikitnya terdiri dari 7 (tujuh) orang hakim MK].
Hal yang diperiksa adalah kelengkapan dan kejelasan permohonan, terdiri dari:
Kewenangan mahkamah,
Legal standing pemohon,
Pokok permohonan.
Permohonan sudah lengkap dan jelas: penyampaian salinan permohonan kepada DPR, Presiden, dan Mahkamah Agung.
Pemeriksaan Persidangan
Pokok persidangan:
Pemeriksaan pokok permohonan,
Pemeriksaan alat-alat bukti tertulis,
Mendengarkan keterangan Presiden/Pemerintah,
Mendengarkan keterangan DPR dan/atau DPD,
Mendengarkan keterangan saksi,
Mendengarkan keterangan ahli,
Mendengarkan keterangan dari pihak terkait,
Pemeriksaan rangkaian data, keterangan, perbuatan, keadaan dan/atau peristiwa yang bersesuaian dengan alat-alat bukti lain yang dapat dijadikan petunjuk.
Pemeriksaan alat-alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optic atau yang serupa dengan itu.
Pemeriksaan persidangan juga dapat dilakukan melalui telekonferensi.
Pembuktian dalam persidangan dibebankan kepada Pemohon.
Pembuktian juga dapat dibebankan kepada Presiden/Pemerintah dan DPR, dan/atau pihak terkait.
Alat-alat bukti yang diperiksa:
Surat/tulisan,
Keterangan saksi,
Keterangan ahli,
Keterangan Pemohon, DPR, Presiden/Pemerintah, dan/atau DPD, serta pihak yang terkait langsung.
Alat bukti lain (elektronik).
Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH)
Dilakukan secara tertutup dan rahasia, dipimpin oleh Ketua MK.
Susunan kuorum RPH terdirii dari sedikitnya 7 (tujuh) orang hakim MK, dibantu panitera, dan petugas lain yang disumpah.
Hal-hal yang dimusyawarahkan dalam RPH akan menjadi dasar bagi hakim MK dalam membuat putusan.
Pengucapan Putusan
Putusan diucapkan setelah adanya RPH yang dihadiri sedikitnya 7 (tujuh) orang hakim MK.
Putusan dibacakan dalam sebuah sidang Pleno terbuka untuk umum yang dihadiri sedikitnya 7 (tujuh) orang hakim MK.
Isi putusan yang diucapkan:
Kepala putusan “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”,
Identitas Pemohon,
Ringkasan permohonan yang telah diperbaiki,
Pertimbangan terhadap fakta yang terungkap dalam persidangan,
Pertimbangan hukum sebagai dasar putusan,
Amar putusan,
Pendapat berbeda antara hakim MK,
Hari dan tanggal putusan, nama dan tanda tangan Hakim Konsitusi, serta Panitera.
Putusan memperoleh kekuatan hukum tetap sejak selesai diucapkan.
Salinan putusan dikirimkan kepada Pemohon paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak pengucapan putusan.