• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SKRIPSI FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FERTILITAS PADA REMAJA USIA 15-24 TAHUN DI INDONESIA

(ANALISIS LANJUT DATA SDKI 2012)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Remaja

2.1.2 Konsep Remaja

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa. Penggunaan istilah untuk menyebutkan masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa ada yang memberi istilah pubertas (inggris: puberty), dengan demikian pubertas dapat diartikan sebagai tahap ketika seorang remaja memasuki masa kematangan seksual dan mulai berfungsi organ-organ reproduksinya. Perkembangan ini lebih ditandai dengan perkembangan ciri-ciri seks sekunder yang merupakan kelanjutan dari pertumbuhan ciri seks primer yaitu terbentuknya alat kelamin. Masa pematangan fisik ini berjalan lebih kurang dua tahun dan biasanya dihitung mulai haid yang pertama pada wanita atau sejak seorang laki-laki mengalami mimpi basahnya yang pertama (Rumini, 2004).

(2)

ini secara umum didapatkan pergeseran mulainya pubertas ke arah umur yang lebih muda oleh karena terdapatnya peningkatan keadaan gizi dan kesehatan penduduk (Karkata, 1992).

Remaja dalam arti Adolescence (inggris) berasal dari kata latin adolescere yang artinya tumbuh ke arah kematangan (Muss, 1968 dalam Rumini, 2004). Kematangan di sini tidak hanya berarti kematangan fisik, tetapi terutama kematangan sosial-psikologis. Dalam tulisannya, Gunarso (1978) dalam Rumini (2004) disebutkan bahwa di Indonesia baik istilah pubertas maupun adolesensia dipakai dalam arti umum selanjutnya dipakai istilah remaja, tinjauan psikologis yang ditunjukkan pada seluruh proses perkembangan remaja dengan batas usia 12-22 tahun.

Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat. WHO membagi kurun usia remaja dalam 2 bagian, yaitu remaj awala (10-14 tahun) dan remaja akhir (15-20 tahun). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan usia 15-24 tahun sebagai usia muda (youth) (Sarwono, 2010). Sedangkan dari segi program pelayanan, definisi remaja digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10-19 tahun dan belum kawin. Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10-21 tahun (Ceria BKKBN, 2011). International Planned Parenthood Federation (IPPF & PKBI) (1998) mendefinisikan remaja dengan rentang usia 10-24 tahun (PKBI, 2005).

Tabel 1.

Tahap Perkembangan Remaja

Tahapan Remaja Umur (tahun)

laki-laki Umur (tahun)perempuan

Pra remaja < 11 < 9

Remaja awal 11-14 9-13

Remaja menengah 14-17 13-16

Remaja akhir > 17 > 16

(3)

2.1.3 Perkembangan Remaja 2.1.3.1 Perkembangan Fisik

Perubahan fisik ditandai dengan kematangan seks sekunder seperti tumbuh rambut di ketiak dan sekitar alat kemaluan, wajah berminyak dan muncul jerawat. Pada anak lai-laki tumbuh kumis dan jenggot, jakun dan suara membesar, begitu pula alat kelaminnya, penis dan buah zakarnya membesar. Puncak dari kematangan organ reproduksi pada masa remaja, pada anak laki-laki adalah kemampuannya untuk ejakulasi, yang menunjukkan bahwa ia sudah dapat menghasilkan sperma. Ejakulasi ini biasanya terjadi di saat tidur dan diawali dengan mimpi erotis biasanya mimpi ini disebut mimpi basah (PKBI, 2004).

Pada anak perempuan tampak perubahan pada bentuk tubuh karena tumbuh payudara dan pinggul membesar. Pada masa ini, tinggi badan juga bertambah pesat. Puncak dari kematangan organ reproduksi pada masa remaja adalah terjadinya menstruasi pertama (menarche) pada anak perempuan. Menstruasi menunjukkan bahwa dirinya telah memproduksi sel telur karena tidak dibuahi, maka akan keluar bersama darah menstruasi melalui vagina/alat kelamin wanita (PKBI, 2004).

2.1.3.2 Perkembangan Kejiwaan

Sukiat (1991) membagi perkembangan kejiwaan remaja meliputi perkembangan emosi, intelek, sosial dan moral.

a. Perkembangan emosi erat kaitannya dengan perkembangan hormon, dan ditandai dengan emosi yang sangat intens dan labil. Terkadang jika marah bisa meledak-ledak, jia sedang gembira terlihat sangat ceria dan jika sedih bisa sangat depresif. Remaja belum dapat sepenihnya mengendalikan emosi, hal ini masih dikatakan normal. Ketika masa anak-anaknya penurut, tetapi ketika memasuki remaja mereka lebih berani kepada orang tua. Mereka juga sering menunjukkan bahwa mereka bisa lebih mandiri dari sebelumnya dan dapat diekspresikan dalam kata-kata dan tindakan. b. Perkembangan intelek ditandai dengan kemampuan berfikir abstrak,

kausalitas, dan membuat proyeksi ke masa datang, berfikir secara kritis, artinya tidak mau menerima begitu saja.

(4)

menghormati yang sebelumnya tidak dimiliki oleh remaja ketika masa kanak-kanak. Pada masa ini, selain masalah sekolah, masalah teman dan ketertarikan pada lawan jenis menjadi lebih kental. Minat sosialnya bertambah, dan penampilan menjadi lebih penting dibandingkan sebelumnya. Perubahan fisik seperti tinggi dan berat badan serta proporsi tubuh dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman, seperti ragu-ragu, tidak percaya diri dan tidak aman (PKBI, 2004).

d. Perkembangan moral, yaitu berkaitan dengan norma-norma etika perbuatan apa yang baik atau tidak baik. Menurut Kohlberg (1983) dalam Sukiat, 1991 ada tiga tahap perkembangan, meliputi tahap prakonvensional di mana nilai-nilai moral berada di luar dirinya. Orientasinya pada kepatuhan dan hukuman yang bersifat egosentris, maksudnya perbuatan yang baik yang dilakukan hanyalah untuk memperoleh pemuasan kebutuhan-kebutuhannya dan menghindari hukuman. Tahap berikutnya adalah tahap konvensional ditandai oleh kepatuhan dan ketaatan pada norma-norma dari lingkungannya hanya semata-mata untuk menyenangkan orang di sekitarnya. Tahap perkembangan berikutnya adalah pasca-konvensional yaitu kepemilikan norma yang sudah mendarah daging, rasional dan objektif.

2.2 Fase Perkembangan Perilaku Seksual Remaja

Masa remaja merupakan maturasi maupun psikologik. Perkembangan fisik termasuk organ seksual serta peningkatan kadar hormon reproduksi atau hormon seks baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan akan menyebabkan perubahan perilaku seksual remaja secara keseluruhan. Menurut Pangkahila (2004), perkembangan seksual tersebut sesuai dengan berapa fase mulai dari pra remaja, remaja awal, remaja menengah sampai remaja akhir.

1) Pra remaja

(5)

pada masa ini antara lain adalah perkembangan fisik yang masih tidak banyak berbeda dengan sebelumnya. Pada masa pra remaja mereka sudah mulai senang mencari tahu informasi tentang seks dan mitos seks, baikdari teman sekolah, keluarga atau dari sumber lainnya. Penampilan fisik dan mental secara seksual tidak banyak memberikan kesan yang berarti.

2) Remaja awal

Pada masa ini remaja sudah mulai tampak ada perubahan fisik yaitu fisik sudah mulai matang dan berkembang. Pada masa ini remaja sudah mulai mencoba melkakukan onani karena telah seringkali terangsang secara seksual akibat pematangan yang dialami. Rangsangan ini diakibatkan oleh faktor internal yaitu meningkatnya kadar testosteron pada laki-laki dan estrogen pada perempuan. Sebagian dari mereka amat menikmati apa yang mereka rasakan, tetapi ternyata sebagian dari mereka justru selama atau sesudah merasakan kenikmatan tersebut kemudian merasa kecewa dan merasa berdsa. hampir sebagian besar laki-laki pada periode ini tidak bisa menahan untuk tidak melkaukan onani sebab pada masa ini mereka sringkali mengalami fantasi. Selain itu tidak jarang dari mereka yang memilih melakukan aktifitas non fisik untuk melakukan fantasi atau menyalurkan perasaan cinta dengan teman lawan jenisnya yaitu bentuk hubungan telepon, surat-menyurat atau mempergunakan sarana komputer.

3) Remaja menengah

Pada masa remaja menengah, para remaja sudah mengalami mimpi basah sedangkan anak perempuan sudah mengalami menstruasi. Pada masa ini, gairah seksual remaja sudah mencapai puncak sehingga mereka mempunyai kecenderungan mempergunakan kesempatan untuk melakukan sentuhan fisik. Namun demikian perilaku seksual mereka masih secara alamiah. Mereka tidak jarang melakukan pertemuan untuk bercumbu bahkan kadang-kadang mereka mencari kesempata untuk melakukan hubungan seksual. Sebagian besar dari mereka mempunyai sikap tidak mau bertanggung jawab terhadap perilaku seksual mereka yang mereka lakukan.

4) Remaja akhir

(6)

yang sudah jelas dan mereka sudah mulai mengembangkannya dalam bentuk pacaran.

Pada masa pubertas, mulai menyadari adanya rasa tertarik pada lawan jenis dan mulai mempunyai konsep tentang hubungan antara lawan jenis. Jika mereka salah dalam mendapatkan patokan atau pandangan mengenai hubungan antar lawan jenis ini akan berakibat serius pada tahap kehidupan selanjutnya, karena konsekuensi yang terbatas dari masa pubertas ini adalah efeknya pada kehidupan yang akan datang terhadap minat, sikap, tingkah laku dan kepribadian. Bagi remaja, dorongan seksual dan minat terhadap lawan jenis menjadi bagian penting dalam perkembangannya (Sukiat, 1991).

2.3 Perilaku Seksual

Pada masa remaja, organ-organ reproduksi dan hormon-hormon seksual mulai berfungsi. Hormon tersebut yang menyebebkan munculnya dorongan seksual. Bentuk dari semakin berkembangnya dorongan seksual biasanya diekspresikan sebagai rasa tertarik terhadap lawan jenis. Pada saat remaja, mereka sudah dapat terdorong untuk mendapatkan kepuasan seksual dan juga lebih sadar sensasi seksualnya dibandingkan ketika masih kanak-kanak. Hasrat seksual dikspresikan dalam bentuk perilaku mulai dari saling lirik, berpegangan tangan, mencium, memeluk, slaing menggesekkan alat kelamin bahkan hubungan seksual. Semua kegiatan yang bertujuan untuk mencapai kepuasan seksual disebut perilaku seksual (PKBI, 2004).

2.4 Perkawinan Usia Anak

(7)

perkawinan juga berkaitan dengan pengendalian kelahiran karena lamanya masa subur perempuan terkait dengan banyaknya anak yang akan dilahirkan. Usia ideal pernikahan pertama bagi perempuan menurut sebagian besar (37%) remaja perempuan usia 15-19 tahun adalah usia 24-25 tahun, sedangkan menurut sebagian besar remaja laki-laki (33%) adalah usia 20-21 tahun. Usia ideal pernikahan pertama bagi laki-laki menurut sebagian besar remaja laki-laki (49%) maupun perempuan (42%) adalah usia 24-25 tahun (SDKI 1991-2012, Badan Pusat Statistik dalam Infodatin, Kemenkes RI)

Perkawinan usia anak mengakhiri masa remaja anak perempuan, yang seharusnya menjadi masa bagi perkembnagan fisik, emosional dan sosial mereka. Masa remaja ini juga sangat penting bagi mereka karena ini adalah masa dimana mereka dapat mempersiapkan diri untuk memasuki masa dewasa (Plan International, 2012 dalam UNICEF, 2012). Praktik perkawinan usia anak seringkali menimbulkan dampak buruk terhadap status kesehatan, pendidikan, ekonomi, keamanan anak perempuan dan anak-anak mereka, serta menimbulkan dampak yang merugikan bagi masyarakat.

Perkawinan usia anak merupakan pelanggaran dasar terhadap hak anak perempuan. Perkawinan usia anak melanggar Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW), dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). Hukum HAM Internasional menyatakan bahwa perkawinan merupakan perjanjian formal dan mengikat antara orang dewasa. CEDAW menyatakan bahwa perkawinan usia anak tidak boleh dinyatakan sah menurut hukum (pasal 16 (2)).

(8)

mereka sendiri, termasuk kemampuan seksual dan reproduksi mereka (The Convention on the Rights of The Child, Article 24, p.7.).

Perkawinan usia anak menyebabkan kehamilan dan persalinan dini, yang berhubungan dengan angka kematian yang tinggi dan keadaan tidak normal bagi ibu karena tubuh anak perempuan belum sepenuhnya matang untuk melahirkan (Centre for Reproductive Rights, 2013). Anak perempuan usia 10-14 tahun memiliki resiko lima kali lebih besar untuk meninggal dalam kasus kehamilan dan persalinan daripada perempuan usia 20-24 tahun, dan secara global, kematian yang disebabkan oleh kehamilan merupakan penyebab utama kematian anak perempuan usia 15-19 tahun (WHO, 2014). Anak perempuan menghadapi resiko tingkat komplikasi yang terkait dengan persalinan yang jauh lebih tinggi, seperti fistula obstetri, infeksi, perdarahan hebat, anemia dan eklampsia (Accountability for Child Marriage, p. 4).

2.5 Berbagai Resiko Kesehatan Reproduksi

Kesehatan reproduksi remaja dipengaruhi oleh kehamilan, aborsi, penyakit menular seksual (PMS), kekerasan seksual, dan oleh sistem yang membatasi akses terhadap informasi dan pelayanan klinis. Kesehatan reproduksi juga dipengaruhi oleh gizi, kesehatan psikologis, ekonomi dan ketidaksetaraan gender yang menyulitkan remaja putri menghindarri hubungan seks yang dipaksakan atau seks komersial (Gage, 1998).

1. Kehamilan

(9)

darah tinggi (hipertensi) dan anemia (kurang darah) juga lebih sering terjadi pada ibu-ibu berusia remaja, terutama pada daerah di mana kekurangan gizi merupakan endemis.

2. Aborsi yang Tidak Aman

Kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja seringkali berakhir dengan aborsi. Banyak survei yang telah dilakukan di negara-negara berkembang menunjukkan bahwa hampir 60% kehamilan pada wanita di bawah usia 20 tahun adalah kehamilan yang tidak diinginkan atau salah waktu (mistimed) (International Council on Management of Population Programmes (ICOMP), 1997). Pada akhir tahun 190-an di Kanada, Inggris, Selandia Baru dan Merika Serikat menunjukkan bahwa 50% lebih dari semua aborsi terjadi pada wanita di bawah usia 25 tahun (Hanshaw, 1990). Di banyak negara berkembang, mahasiswi atau pelajar yang hamil seringkali mencari pelayanan aborsi agar mereka tidak dikeluarkan dari sekolah.

Aborsi yang disengaja (induced abortion) seringkali beresiko lebih besar pada remaja putri dibandingkan pada wanita yang lebih tua. Remaja cenderung menunggu lebih lama sebelum mencari bantuan karena tidak dapat mengakses pelayanan kesehatan, atau bahkan mungkin mereka tidak sadar atau tahu bahwa mereka hamil. Di berbagai negara, resiko ini menjadi berat di mana aborsi hanya tersedia dalam keadaan yang tidak aman. Di Nigeria misalnya, 50-70% wanita yang masuk rumah sakit akibat komplikasi aborsi yang disengaja, umunya mreka yang berusia di bawah 20 tahun. Sebiah telaah yang dilaksanakan di sana selama 13 tahun, menemukan bahwa 72% kematian ibu di sebuah rumah sakit universitas, terjadi pada wanita di bawah usia 19 tahun dan disebabkan oleh komplikasi akibat aborsi yang tidak aman (Unuigbe, 1998).

3. Penyakit Menular Seksual (PMS), termasuk HIV.

(10)

berkembang terjadi pada mereka yang berusia 13-20 tahun (Islam, Q. STDs: The burden and The Challenge. AIDScaptions 3 (1):4-7 (May 1996)). Di Pedesaan Kenya misalnya, 41% wanita berusia 15-24 tahun yang mengunjungi klinik Kesehatan Ibu-Anak & KB (KIA/KB) terinfeksi PMS dibanding 16% dari seluruh wanita usia reproduksi (The Alan Guttmacher Institute (AGI),1998).

Resiko remaja untuk tertular HIV/AIDS juga meningkat. Perkiraan terakhir memperhitungan bahwa 40% dari infeksi HIV terjadi pada kaum muda berusia 15-24 tahun; 7.000 dari 16.000 kasus infeksi baru yang terjadi setiap hari. Infeksi baru pada kelompok wanita jauh lebih tinggi dibanding pada pria, dengan rasio 2 banding 1.

Kaum muda cenderung lebih beresiko tertular PMS, termasuk HIV/AIDS karena berbagai sebab. Seringkali hubungan seksual terjadi tanpa direncanakan atau tanpa diinginkan. (14-15). Walaupun hubungan seks dilakukan atas keinginan bersama (“mau sama mau”). Seringkali remaja tidak merencanakan lebih dahulu sehingga tidak siap dengan kondom maupun kontrasepsi lain, dan merek ayang belum berpengalaman ber KB cendeung menggunakan alat kontrasepsi tersebut secara tidak benar (Richters, J. et al, 1995). Lebih lanjut, remaja putri mempunyai resiko lebih tinggi terhadap infeksi dibandingkan wanita lebih tua karena belum matangnya sistem reproduksi mereka.

2.6 Tantangan Mengembangkan Program yang efektif

(11)

2.6.1 Penyediaan Pelayanan Klinis

Pelayanan klinis kesehatan reproduksi remaja paling baik dilakukan oleh petugas yang telah terlatih menghadapi masalah khas remaja dan mampu memberikan konseling untuk remaja yang berkaitan dengan masalah reproduksi dan kontrasepsi yang dinilai sangat peka. Dalam semua kegiatan intervensi, petugas harus mempertimbangkan status perkawinan si remaja, keadaan kesehatannya secara keseluruhan, serta seberapa besar kuasa yang mereka miliki dalam hubungan seks. Remaja seringkali menyebutkan karakteristik berikut ini sebagai hal yang penting dalam memenuhi kebutuhan kesehatan mereka: jaminan kerahasiaan, lokasi dan waktu/jam yang sesuai, lingkungan yang bersahabat bagi remaja, terbuka bagi remaja putri maupun putra, memiliki komponen program konseling yang kuat, petugas yang terlatih secara khusus serta pelayanan klinis yang komprehensif (www.pathfind.org).

2.6.2 Pemberian Informasi

Memberikan informasi yang tepat dan relevan tentang kesehatan reproduksi, merupakan hal yang sangat penting bagi program jenis apapun. Pendidikan dan konseling yang berbasis di klinik merupkaan hal yang terpenting dalam upaya ini, demikian pula program yang berbasis di sekolah. Jelas sekali bahwa orangtua adalah sumber utama informasi, walau seringkali para orangtua merasa kurang punya informasi, malu membahas topik ini dengan anak mereka, atau bahka tidak setuju bila remaja mengutarakan minatnya untuk minatnya untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas. Pendekatan gaya remaja seperti program radio “on-air” dimana remaja dapat menelepon, sanggar remaja (drop-inc-centres), majalah, “telepon hotline” juga merupakan strategi efektifuntuk menjangkau remaja.

2.6.3 Mengembangkan Kemampuan

(12)

program “Pilihlah Sebuah Masa epan” yang dilaksanakan di lima negara di Sub Sahara Afrika. Program tersebut menggunakan pelatihan, permainan peran, kunjungan masyarakat, dan cara-cara lain guna meningkatkan keterampilan kesehatan, termasuk bagaimana mencegah penyakit menular seksual (PMS), merumuskan tujuan dan meningkatkan komunikasi dengan keluarga dan teman. Kurikulum tersebut juga membahas ketidaksetaraan jender yang mempengaruhi kesehatan dan mempromosikan tanggung jawab bersama antara pria-wanita terhadap kesehatan (Centre for Development and Population Activities, 1998).

2.6.4 Mempertimbangkan Sisi Kehidupan Remaja

Pandangan remaja atau kaum muda di seluruh dunia sebenarnya dibentuk oleh situasi dimana merek ahidup, remaja putri dengan pendidikan minim, atau mereka yang tidak terdidik, mungkin akan melihat kawin muda dan melahirkan sebagai salah satunya jalan hidup mereka. Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan mungkin merasa tidak ada gunanya merencanakan hari depan dan/atau melindungi kesehatan mereka. Berbagai faktor lain yang mempengaruhi kesehatan dan perilaku remaja mencakup:

- Kemiskinan, termasuk kekurangan gizi;

- Kekacauan politik, termasuk penduduk yang tersingkir atau terisolasi; - Tekanan kelompok sebaya dan pengaruh media;

- Ketidaksetaraan gender dan eksploitasi seksual;

- Tuntutan masyarakat mengenai kehamilan dan melahirkan (childbearing).

Baru-baru ini, sebuah artikel menelaah bagaimana merumuskan strategi perencanaan program yang didasarkan pada perbedaan tingkat pengalaman seksual remaja.

2.6.5 Menjamin Program yang Cocok atau Relevan untuk Remaja

(13)

membentuk Panel Penasehat Remaja untuk membantu membentuk ide-ide program.

2.6.6 Menggalang Dukungan Masyarakat

Program untuk remaja seringkali menghadapi kesulitan untuk memperoleh penerimaan masyrakat karena orang dewasa takut atau khawatir bila remaja memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja, justru akan terodrong menjadi aktif secara seksual. Namun hasil evaluasi berbagai program di berbagai negara membuktikan lain. Berbagai program telah membuktikan bahwa menjelaskan tujuan program kepada para orang tua, pemuka agama dan tokoh masyarakat, serta mengundang mereka berduskusi dengan remaja, dapat mengurangi tantangan atau keberatan mereka terhadap program. Di Nyeri, Perkumpulan Keluarga Berecana Kenya membantu orangtua mendekati anak-anak mereka untuk berbagi informasi mengenai kesehatan reproduksi, dan mendorong adanya diskusi seumur hidup mengenai kesehatan reproduksi. (Hughes, J. And McCauley, 1998). Di Uganda, Program Pemantapan Kesehatan Reproduksi Remaja (Program For Enhancing Adolescent Reproductive Life/PEARL) melibatkan wakil pemerintah, LSM, masyarakat, kaum muda dan lainnya di dalam program untuk meningkatkan kesadaran mengenai maslah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, mendorong terjadinya advokasi dan menyediakan pelayanan (UNFPA, 1997).

2.7 Strategi Program

Pengalaman menunjukkan bahwa kombinasi dari berbagai pendekatan seringkali paling efektif dalam menjangkau kelompok remaja. Namun hanya sedikit program yang dievaluasi secara seksama berkaitan dengan dampak atau hasil sakhirnya. Oleh karena itu, menentukan program seperti apa yang paling efektif justru menjadi tangtangan tersendiri. Berikut ini adlah beberapa pendekatan yang umum dilakukan.

(14)

Pelayanan ini merupakan pelayanan yang cukup umu di Amerika, Eropa Barat dan Amerika Latin. Klinik-klinik ini memberikan berbagai pelayanan sosial dan klinis seperti kehamilan, konseling pencegahan PMS dan pengetesan atau pemeriksaannya. Sebagai contoh, pada tahun 1990, rumah sakit Maria Auxiliadora mulai memberikan pelayanan bagi satu juta remaja di daerah sekitar kota Lima, Peru. Rumah Sakit tersebut membentuk 10 klinik remaja untuk memberikan pelayanan dan konseling pencegahan di luar rumah sakit. Keterkaitan antara PMS dan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya tampaknya membuat klinik-klinik ini lebih bermanfaat bagi remaja (Pathfinder International, 1998).

2.7.2 Klinik Berbasis Sekolah (School-based clinics)

Klinik ini tersedia di beberapa negara maju dan negara berkembang. Pelayanan yang diberikan bervariasi, tetapi minimum mencakup pemantauan kesehatan dasar dan pelayanan rujuka. Di negara maju, klinik berbasis sekolah menyediakan kondom dan konseling yang berkaitan dengan kehamilan dan pencegahan PMS, serta rujukan untuk berbagai pelayanan lainnya sehubungan dengan kontrasepsi dan kesehatan reproduksi. Pelayanan klinik seperti ini seringkali mengundang kontroversi. Di negara berkembang, klinik berbasis sekolah seringkali dibatsi oleh adanya pembatasan kebijakan, kekurangan tenaga, kurangnya jaminan kerahasiaan untuk konseling, serta kurangnya jaringan kerja dengan sumber daya yang ada di luar sekolah. (WHO).

Pusat Multi pelayanan remaja (Youth Center) sering memberikan pelayanan kontrasepsi sebagai bagian progrma menyeluruh bagi kaum muda, termasuk pendidikan, rekreasi, dan persiapan kerja. Salah satu program yang berhasil adalah Women’s Center for Pregnant Adolescents (Pusat Pelayanan Remaja Hamil) di Jamaica.

(15)

http://www.fhi.org/en/wsp/wspubs/wspubs.html.) baru-baru ini, evaluasi terhadap program mengalami kehamilan untuk kedua kalinya sebelum lulus sekolah atau sebelum mulai bekerja. (UNFPA, 1997).

2.7.3 Program Penjangkauan Berbasis Masyarakat (Community-based outreach programs)

Program ini merupakan program penting, terutama bagi kelompok seperti remaja putus sekolah, remaja jalanan, dan remaja putri yang memiliki kesempatan terbatas untuk keluar dari lingkungannya. Proyek berbasis masyarakat seperti ini menggunakan berbagai cara untuk menjangkau remaja dimana mereka berkumpul untuk bekrja atau bermain. Sebagai contoh, di Meksiko, para anggota “gang” dilatih untuk menjangkau kelompok remaja putus sekolah, bekerjasama dengan Mexican Social Security Institute (IMMS) dan Perkumpulan Keluarga Berencana Meksiko (MEXFAM). Sesudah mengikuti sesi pendidikan, para anggota gang yang tertarik diundang untuk bergabung dalam kelompok teater untuk mementaskan pertunjukan di tempat umum maupun di sekolah, agar dapat memberikan informasi kepada kelompok sebaya mereka (Pathfinder, 1998).

2.7.4 Kelompok Remaja

(16)

mempunyai tingkat stres dan depresi yang lebih rendah. Semua faktor tersebut membantu mereka menjadi lebih matang dlam membuat keputusan (Brady, 1998).

2.7.5 Program Kesehatan di Tempat Kerja

Program ini dapat menjadi sumber penting bagi kaum muda pria maupun wanita. Sebagai contoh, sebuah program di Thailand memberikan informasi kesehatanreproduksi bagi pekerja wanita yang tinggal di asrama tempat kerja. Teman sebaya yang telah dilatih memberikan penyuluhan menggunakan berbagai media populer sepertoi komik, buku novel dan diskusi kelompok sebaya. Diskusi ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar dan mempraktekkan keterampilan khusus seperti bernegosiasi, merencanakan, dan mengetahui kesehatan seksual misalnya dalamhal penggunaan kondom. (Cash, K, and Anasuchatku, B, 1995).

2.8 Fertilitas 2.8.1 Definisi

Fertilitas merupakan hasil reproduksi yang nyata dari seorang wanita atau sekelompok wanita semasa hidupnya (Muder (2010) dalam jurnal Pratiwi (2014)).

Pengertian fertilitas dalam demografi lebih dikaitkan dengan banyaknya anak lahir hidup. Istilah fertilitas dapat diartikan juga sebagai kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi dari rahim seorang perempuan dengan menunjukkan tanda-tanda kehidupan, misalnya berteriak, bernafas, jantung berdenyut, dan sebagainya (Mantra dalam Wahyuni, dkk, 2013).

Ruang lingkup fertilitas hanya mengenai peranan kelahiran pada perubahan penduduk. Hal ini menjadikan fertilitas berkaitan erat dengan bidang demografi dan dipahami sebagai sesuatu yang berbeda dari fekunditas atau kemampuan fisiologis seseorang untuk menghasilkan keturunan yang dikaitkan dengan kesuburan wanita (Yuniarti, dkk, 2013).

2.8.2 Konsep fertilitas

(17)

1. Lahir Hidup (live Birth)

Konsep fertilitas hanya menghitung jumlah bayi yang lahir hidup. Organisasi Keseahtan Dunia (World Health Organization/WHO) mendefinisikan kelahiran hidup sebagai peristiwa kelahiran bayi, tanpa memperhitungkan lamnaya berada dalam kandungan, dimana si bayi menunjukkan tanda-tanda kehidupan pada saat dilahirkan; misalnya bernafas, ada denyut jantung, atau denyut tali pusat, atau gerakan-gerakan otot. Dengan demikian, peristiwa bayi yang lahir dalam keadaan tidak hidup/meninggal (still birth) tidak dimasukkan dalam perhitungan jumlah kelahiran. Untuk bayi yang lahir hidup tetapi kemudian meninggal, beberapa saat setelah lahir atau dikemudian hari, kelahiran hidup ini tetap dimasukkan dalam perhitungan jumlah kelahiran. Tidak termasuk sebagai kelahiran hidup adalah peristiwa keguguran atau bayi yang lahir dalam keadaan meninggal (lahir mati).

2. Lahir mati (Still Birth)

Lahir mati adalah kelahiran seorang bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu, tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan. 3. Aborsi

Aborsi adalah kematian bayi dalam kandungan dengan umur kehamilan kurang dari 28 minggu. Aborsi dapat terjadi dalam dua macam cara yaitu dengan disengaja (induced abortion) dan tidak disengaja atau secara spontan (spontaneous abortion).

4. Masa reproduksi (Reproduvtive/Childbearing age)

Masa reproduksi adalah masa ketika wanita mampu melahirkan atau disebut juga masa usia subur (15-49 tahun) yaitu sejak mendapat haid pertama (merachea) dan berakhir pada saat berhenti haid (menopouse). 2.9 Teori Determinan Fertilitas Menurut Para Ahli

2.9.1 Ronald Freedman: Variabel Antara dan Norma Sosial

(18)

berkembang dalam masyarakat. Semua perilaku perempuan yang berkaitan dengan variabel antara sangat dipengaruhi oleh adat istiadat serta anggapan masyarakat di sekelilingnya tentang proses kelahiran mulai saat menikah, hamil, dan melahairkan. Norma sosial tersebut sangat berhubungan dengan tingkat kemajuan perempuan atau pasangan tersebut, ataupun masyarakat sekelilingnya. Pada akhirnya, perilaku seseorang akan dipengaruhi oleh norma yang ada.

Menurut Freedman (dalam Rusli, 1985), variabel antara (intermediate variable) yng dikemukakan Dvis dan Blake menghubungkan antara “norma-norma fertilitas” yang sudah mapan diterima masyarakat dengan jumlah anak yang dimiliki (outcome). Ia mengemukakan bahwa “norma fertilitas” yang sudah mapan di masyarakat dpat sesuai dengan fertilitas yang diinginkan seseorang. Selain itu, norma sosial dianggap sebagai faktor yang dominan.

Freedman (dalam Mundiharno, 2010), secara umum mengatakan bahwa salah satu prinsip dasar sosiologi adalah bahwa para anggota suatu masyarakat akan menghadapi suatu masalah yang timbul berkali-kali dan membawa konsekuensi sosial yang penting. Mereka cenderung menciptakan suatu cara penyelesaian normatif terhadap masalah tersebut. Cara penyelesaian ini merupakan serangkaian aturan tentang bertingkah laku dalam suatu situasi tertentu dan menjadi sebagian dari kebudayaannya serta masyarakat mengindoktrinasikan kepada para anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan norma tersebut, baik melalui ganjaran (rewards) atau hukuman (penalty) yang implisit dan eksplisit. Karena jaumlah anak yang akan dimiliki oleh sepasang suami istri itu merupakan masalah yang sangat universal dan penting bagi setiap masayarakat, maka akan terdapat suatu penyimpangan sosiologis apabil atidak diciptakan budaya penyelesaian yang normatif untuk mengatasi masalah ini.

(19)

pembangunan makro sperti urbanisasi, tetapi akibat bertambahnya jumlah penduduk yang melek huruf serta berkembangnya jaringan-jaringan komunikasi dan transportasi.

Gambar 1.

Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian (Pemikiran Ronald Freedman (1973))

Sumber: Adioetomo, 2011. Dasar-dasar demografi, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

2.9.2 Davis dan Blake: Variabel Antara

Model yang disarankan untuk melakukan analisis sosial yang mempengaruhi tingkat fertilitas ditunjukkan pada gambar 1. Model bekerja secara ‘backward’ untuk mengetahui kelas variabel yang mempengaruhi tingkat fertilitas masyarakat atau kelompok masyarakat. Kelas variabel tersebut adalah sebagai berikut:

I. Media pengendalian fertilitas yang berada diantara organisasi sosial dan norma sosial serta yang lainnya adalah fertilitas itu sendiri. Dalam tulisannya yang berjudul “The social structure and fertility: an analytic framework” (1956),

(20)

Kingsley David dan Judith Blake melakukan analisis sosiologis tentang fertilitas. Davis and Blake mengemukakan 11 variabel antara yang mempengaruhi fertilitas. Masing-masing variabel dikelompokkan dalam tiga tahap proses reproduksi sebagai berikut:

1) Tahap Hubungan Kelamin (Sexual intercourse).

Terdapat enam variabel antara pada tahap ini yaitu usia kawin pertama, selibat permanen, lama berstatus kawin, abstinensi sukarela, abstinensi terpaksa dan frekuensi hubungan kelamin.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hubungan kelamin (intercouse variables):

a). Faktor-faktor yang mengatur tidak terjadinya hubungan kelamin. 1. Umur mulai hubungan kelamin

2. Selibat permanen: proporsi wanita yang tidak pernah melakukan hubungan seksual.

3. Lamanya masa reproduksi sesudah atau di antara hubungan kelamin.

- Ketika hubungan tidak lagi utuh karena perceraian, perpisahan atau ditinggalkan.

- Ketika hubungan tidak lagi utuh disebabkan karena suami yang meninggal.

b). Faktor-faktor yang mengatur terjadinya hubungan kelamin

a. Abstinensi sukarela/sengaja (pantangan berhubungan seks) (sehabis melahirkan (postpartum), berhenti seterusnya (terminan), berhenti berkala, dalam keadaan mengandung dan selama masa haid.

b. Abstinensi terpaksa, berpantang karena terpaksa (oleh impotensi, sakit, pisah sementara).

c. Frekuensi hubungan seksual (termasuk periode pantang melakukan hubungan seksual).

2) Tahap Pembuahan (conception)

a). Pada tahap ini terdapat tiga variabel antara yaitu:

(21)

b. Status pemakaian kontrasepsi (memakai atau tidak memakai). - Mekanik atau kimia.

- Cara lain.

c. Fekunditas atau infekunditas yang dipengaruhi oleh sterilisasi sukarela/disengaja., subinsisi, perawatan medis.

b). Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya konsepsi (conception variables):

1. Kesuburan atau kemandulan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak sengaja.

2. Menggunakan atau tidak menggunakan metode kontrasepsi.

3. Kesuburan atau kemandulan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor yang disengaja (sterilisasi, subinsisi, obat-obatan dan sebagainya). 3) Tahap Kehamilan (gestation)

a). Pada tahap ini terdapat dua variabel antara yaitu keguguran dan aborsi. b). Faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan dan kelahiran (conception variables):

3 Mortalitas janin yang disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak disengaja (keguguran).

4 Mortalitas janin yang disebabkan oleh faktor-faktor yang disengaja. (aborsi).

Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Davis dan Blake, variabel antara ini memiliki nilai kombinasi yang berbeda tetapi dapat menghasilkan tingkat fertilitas yang sama. Di sisi lain, masyarakat atau kelompok masyarakat dengan tingkat fertilitas yang berbeda, mungkin memiliki nilai variabel antara yang sama. Hal ini merupakan asumsi yang seringkali salah, bahwa variabel antara selalu digunakan dengan sengaja untuk membatasi fertilitas. Efek pada kesuburan seringkali merupakan akibat pola budaya yang tidak disengaja tanpa adanya hubungan yang jelas dengan kesuburan. Faktor lain dapat mempengaruhi kesuburan hanya melalui satu atau lebih variabel antara ini. Gambar 1 ditarik untuk membuat titik ini. Satu-satunya pengaruh kausal langsung melibatkan garis koneksi melalui variabel menengah daripada langsung ke fertilitas.

(22)

a. Variabel antara yang dikemukakan oleh Davis dan Blake (1956) merupakan variabel antara yang menghubungkan norma-norma fertilitas yang sudah mapan diterima oleh masyarakat dengan sejumlah anak yang dimilikinya. Norma sosial yang sudah mapan tersebut bisa sesuai atau tidak dengan fertiltas yang diinginkan seseorang. Dalam hal ini norma sosial dianggap sebagai faktor yang dominan atau menentukan.

b. Diterimanya alat-alat kontrasepsi secara luas merupakan perubahan variabel antara yang paling penting di dalam menentukan naik-turunnya fertilitas di negara-negara Barat.

Di Indonesia, dalam menentukan turunnya fertilitas, dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu:

a. Penggunaan kontrasepsi modern.

b. Praktek pembatasan kelahiran secara tradisional. c. Perubahan pola perkawinan (dari hasil penelitian).

Informasi yang diperoleh dari berbagai hasil penelitian menunjukan bahwa faktor a. dan c. lebih banyak digunakan.

II. Norma sosial tentang ukuran (besar) keluarga. Jumlah anak-anak yang seharusnya dimiliki pasangan adalah masalah yang begitu universal dan sangat penting di setiap masyarakat sehingga merupakan anomali sosiologis jika solusi budaya normatif tidak dikembangkan untuk mengatasi masalah ini dalam banyak kasus. Norma tentang ukuran keluarga seharusnya adalah menentukan jumlah anak yang diijinkan atau diinginkan, mungkin kira-kira "setidaknya tiga atau empat" atau "sebanyak mungkin”.

(23)

dan variabel antara lainnya yang mempengaruhi penerapan norma keluarga kecil. Norma tentang berbagai aspek seks, reproduksi, dan pernikahan ditemukan di semua masyarakat dan sangat mempengaruhi fertilitas, namun karena teori tersebut berdasarkan pada takhayul atau pengetahuan ilmiah yang masuk akal, norma-norma tersebut tidak mudah diidentifikasi.

IV. Aspek organisasi sosial yang berfungsi sebagai pendukung norma tentang besarnya keluarga dengan menyediakan penghargaan dan hukuman dengan bergantung pada jumlah anak dalam keluarga. Asumsi di sini adalah bahwa norma ukuran keluarga akan cenderung sesuai dengan angka yang memaksimalkan utilitas bersih yang berasal dari memiliki anak di masyarakat atau lapisan masyarakat. Jelas, aspek-aspek berbeda dari masyarakat dapat memberikan tekanan ke arah yang berlawanan pada norma-norma. Misalnya, jika negara memiliki tujuan kesuburan yang lebih tinggi atau lebih rendah, maka akan direalisasikan oleh keseimbangan imbalan dan hukuman sosial yang ada, kebijakan kependudukan dapat memberikan tekanan balik terhadap norma dan praktik tersebut. Memiliki banyak anak dapat dinilai oleh orang tua sebagai sumber keamanan di masa tua mereka, namun, di sisi lain, banyak anak dapat memberlakukan beban sulit pada orang tua selama masa ketergantungan anak.

(24)

Norma sosial beroperasi untuk mengendalikan perilaku dalam situasi yang tepat. Jika ada perbedaan antara norma dan perilaku, realitas norma sosial tentang ukuran keluarga mungkin dipertanyakan.

Program terorganisir untuk mempengaruhi kesuburan atau variabel antara atau norma tentang mereka adalah bagian dari organisasi sosial.

Dua kelas variabel sebelumnya (IV dan V) bersama-sama mencakup variabel sosial dan ekonomi yang bervariasi. Variabel sosial dan ekonomi yang signifikan dapat dicari, di manapun ada hubungan fungsional yang dapat disepakati antara beberapa elemen organisasi sosial dan norma untuk ukuran keluarga, norma untuk variabel antara, atau variabel antara itu sendiri.

VI. Tingkat kematian, yang menentukan seberapa besar surplus kelahiran diperlukan untuk menghasilkan jumlah normatif anak-anak. Sebagian besar konsekuensi sosial dan ekonomi dari tingkat kesuburan yang berbeda mungkin terkait dengan jumlah anak yang masih hidup daripada jumlah kelahiran. Sebuah norma yang menentukan "tiga atau empat anak" yang diinginkan cukup konsisten dengan jumlah rata-rata kelahiran hidup per individu yang jauh lebih besar di masyarakat dengan tingkat kematian tinggi dan bervariasi. Hal ini mungkin menyebabkan sebagian perbedaan antara keinginan untuk tiga atau empat anak dan tingkat kesuburan yang jauh lebih tinggi di daerah kurang maju. Kematian bayi juga dapat mempengaruhi kesuburan dengan mengurangi periode kemandulan sementara setelah kelahiran yang disebabkan oleh menyusui. Kematian seorang anak dan penghentian menyusui akan memperpendek periode penguraian yang berkurang. Jika seorang anak hidup dan diberi ASI, probabilitas pembuahan berkurang untuk periode waktu yang terbatas namun signifikan.

(25)

VIII. Faktor lain di lingkungan yang mempengaruhi variabel antara dengan cara yang tidak sesuai dengan norma fertilitas. Penyakit kelamin yang diperkenalkan dari luar, kelaparan yang disebabkan cuaca, atau variabel lain yang eksogen terhadap sistem sosial dapat mengurangi kesuburan di bawah tingkat yang diinginkan.

Singkatnya, model ini menentukan bahwa kesuburan setiap kolektivitas sosial cenderung sesuai dengan tingkat yang ditentukan oleh norma sosial, yang pada gilirannya merupakan penyesuaian terhadap cara di mana berbagai jumlah anak mempengaruhi pencapaian tujuan yang bernilai sosial. Dalam jangka panjang, efek dari variabel antara yang mempengaruhi fertilitas mengakibatkan tingkat reproduksi normatif yang lebih rendah. Dalam masyarakat yang kompleks dan berubah, faktor pengelolaan dan lingkungan lainnya dapat mempengaruhi variabel antara dengan cara yang tidak sesuai dengan norma ukuran keluarga.

Dalam sebuah Jurnal Kependudukan dikatakan bahwa menurut Freedman (1975) mengembangkan faktor yang mempengaruhi fertilitas secara tidak langsung yang lebih multidisipliner yaitu mengkaji dari berbagai aspek kehidupan yaitu: sosial, ekonomi, demografi, program, dan norma tentang besar keluarga serta norma tentang intermediate variable.

4.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fertilitas 4.4.1 Umur

Umur adalah salah satu faktor sterilitas terpaksa yang penting dalam menentukan fertilitas. Pada awal masa reproduksinya, seorang wanita mungkin kurang subur karena ovulasinya tidak teratur, dan ini menyebabkan sterilitas masa remaja. Kesuburan dan tingkat fertilitas wanita menurut umur mencapai puncaknya pada usia 20-29 tahun, kemudian menurun saat masih haid yaitu pada umur 50 tahun, dan menjadi steril untuk seterusnya (Lucas et al, 1995).

(26)

dilakukan oleh BKKBN (1999) dan Deswarini (2004) memperlihatkan bahwa rata-rata jumlah anak akan meningkat sejalan dengan meningkatnya umur wanita. Secara lebih lanjut Adioetomo (1980) menjelaskan bahwa kelompok umur wanita akan mempengaruhi tingkat kesuburannya, dimana jumlah anak yang dimiliki akan membentuk pola huruf U terbalik atau seperti lonceng (Adioetomo, 1980).

4.4.2 Daerah Tempat Tinggal

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) daerah perkotaan adalah suatu wilayah administratif setingkat desa/kelurahan yang memenuhi persyaratan tertentu dlama hal kepadatan penduduk, persentase rumah tangga pertanian, dan sejumlah fasilitas perkotaan, seperti jalan raya, sarana pendidikan formal, dan sarana kesehatan. Sedangkan daerah perdesaan adalah suatu wilayah administratif setingkat desa/kelurahan yang belum memenuhi persyaratan dalam hal kepadatan penduduk, persentase rumah tangga pertanian, dan sejumlah fasilitas perkotaan (demografi.bps.go.id).

Penduduk yang bertempat tinggal di perdesaan memiliki tantangan untuk dapat tetap hidup karena terbatasnya sumber kehidupan berupa kebutuhan pangan, air bersih, sanitasi, dan perawatan kesehatan. Keterbatasan tersebut memberi pengaruh bagi seseorang terhadap pertumbuhan dan kesehatannya. Di sisi lain, perkotaan merupakan tempat pencaharian yang menguntungkan karena sebagian besar uang beredar di perkotaan. Dengan demikian, dari segi ekonomi, serta akses terhadap segala kebutuhan termasuk akses kesehatan relatif lebih baik di perkotaan dibandingkan perdesaan (demografi.bps.go.id). Masyarakat perdesaan lebih sulit dicapai oleh informasi keluarga berencana, di samping akses mereka terhadap pelayanan, kemungkinan juga lebih terbatas dibandingkan dengan masyarakat perkotaan karena lokasi klinik dan sumber alat kontrasepsi yang jauh (Royston, 1994).

(27)

Fertilitas dari penduduk yang bertempat tinggal di daerah perkotaan 22%-23% lebih rendah dibandingkan dengan penduduk yang bertempat tinggal di perdesaan. Dari periode 1981-1987, fertilitas perkotaan turun lebih cepat daripada fertilitas pedesaan (Population Reference Bureu (1969, 1971, 1980, 1990 dalam Ananta, 1995).

Proporsi wanita yang mempunyai 1-2 anak sedikit lebih tinggi di antara wanita yang tinggal di perkotaan dibandingkan mereka yang ada di perdesaan. Sebaliknya, wanita yang mempunyai lebih dari 2 anak, dijumpai lebih tinggi pada wanita yang tinggal di perdesaan. Dengan nilai p = 0,001, menandakan bahwa tempat tinggal memiliki hubungan bermakna dengan jumlah anak lahir hidup (Arsyad, 2016).

4.4.3 Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu usaha mengembangkan suatu kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup hidup. kategori pendidikan menurut Arikunto, 2007, yaitu:

1. Pendidikan rendah (SD-SMP)

2. Pendidikan tinggi (SMA-Perguruan Tinggi)

Menurut Holsinger dan Kasarda (1976) bahwa kenaikan tingkat pendidikan menghasilkan kelahiran yang lebih rendah, tetapi hubungan antara kedua variabel ini belum terbukti. Pendidikan jelas mempengaruhi usia kawin karena pelajar dan mahasiswa pada umumnya berstatus bujangan. Di sisi lain, jika pendidikan meningkat maka pemakaian alat kontrasepsi juga meningkat. Hawthorn (1970) menyatakan bahwa dalam semua masyarakat, kesadaran akan pembatasan kelahiran memang tergantung pada latar belakang daerah kota atau tempat tinggal, pendidikan dan penghasilan.

(28)

mempertimbangkan pola tersebut (rendah-tinggi-rendah), Sembajwe (1977), menemukan bahwa peningkatan pendidikan mengakibatkan abstinensi sesudah melahirkan menurun sedangkan penggunaan alat kontrasepsi meningkat (Lucas et al, 1995).

Hubungan antara pendidikan dan fertilitas masih diperdebatkan karena beberapa penelitian menemukan hasil yang bervariasi mengenai hubungan tersebut. Temuan dari penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan beberapa pola hubungan seperti hubungan negatif, positif dan berbentuk U terbalik. Hasil SDKI 2007 juga menunjukkan hubungan U terbalik antara pendidikan dan fertilitas. Wanita dengan pendidikan belum tentu tamat SD (Sekolah Dasar) dan tamat SD mempunyai fertilitas lebih tinggi dibanding wanita lainnya. Disebutkan juga dalam SDKI 2007 bahwa wanita usia reproduksi berpendidikan lebih baik dan terdapat peningkatan persentase wanita berpendidikan SMTA dari 38% di tahun 2002-2003 menjadi 46% pada tahun 2007.

Hull (1976) dalam Lucas et al. (1995) serta Supraptilah dan Soeradji dalam Anwar (1995) menemukan hubungan positif antara fertilitas dan tingkat pendidikan. Perempuan berpendidikan tinggi mempunyai paritas lebih tinggi daripada perempuan berpendidikan rendah. Penurunan fertilitas terjadi pada perempuan berpendidikan SLTA ke atas. Sejumlah penelitian memperlihatkan hubungan antara pendidikan dengan jumlah anak atau fertilitas sebagaimana dikemukakan oleh Santoso (1980), Adioetomo (1980), BKKBN (1999), Fathimah (2002), Deswarini (2004).

4.4.4 Status Pekerjaan

(29)

merasa bahwa waktunya semakin mahal dan kehadiran anak yang banyak akan mengganggunya. Atas dasar itu, suatu hipotesis menyatakan bahwa perempuan yang bekerja akan mempunyai anak lebih sedikit daripada perempuan yang tidak bekerja (Anwar, 1995).

Survei Fertilitas dan Mortalitas Indonesia tahun 1973 menunjukkan bahwa hipotesis tersebut tidak terbukti dengan tidak adanya perbedaan paritas perempuan tidak bekerja dengan perempuan bekerja. Adioetomo (1980), Hatmadji dalam Anwar (1984) tidak menolak hipotesis bahwa rata-rata paritas dari perempuan bekerja lebih rendah daripada perempuan tidak bekerja. Adioetomo (1980) menemukan dari data yang sama bahwa setelah pengaruh umur ditiadakan, perempuan yang tidak bekerja mempunyai anak lebih banyak daripada perempuan yang bekerja. Hal tersebut mungkin terjadi karena mereka sudah terlanjur memiliki anak banyak sehingga lebih baik memilih tidak bekerja. Utari (2002) menyebutkan bahwa hasil uji statistik menunjukkan nilai probabilitas 0,204 pada tingkat kemaknaan 0,05 artinya tidak terdapat perbedaan jumlah anak pada ibu yang tidak bekerja dengan ibu yang bekerja di sektor ekonomi.

4.4.5 Status Ekonomi

Menurut Polak dalam Abdulsyani (2007) status (kedudukan) memiliki dua aspek: aspek struktural; aspek struktural ini bersifat hierarkis yang artinya secara relatif mengandung perbandingan tinggi atau rendahnya terhadap status-status lain, sedangkan aspek status yang kedua yaitu aspek fungsional atau peranan sosial yang berkaitan dengan status-status yang dimiliki seseorang. Kedudukan atau status berarti posisi atau tempat seseorang dalam sebuah kelompok sosial. Makin tinggi kedudukan seseorang, makin mudah pula dalam memperoleh fasilitas yang diperlukan dan diinginkan.

Aristoteles (1999) dalam Suparyanto (2010) membagi kelompok masyarakat secara ekonomi ke dalam 3 kelas atau golongan, yaitu:

1. Golongan sangat kaya: merupakan kelompok kecil dalam masyarakat, terdiri dari pengusaha, tuan tanah, dan bangsawan.

(30)

3. Golongan miskin: merupakan golongan terbanyak dalam masyarakat, kebanyakan dari rakyat biasa.

Freadman (2004) dalam Suparyanto (2010) mengatakan bahwa status ekonomi seseorang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:

1. Penghasilan tipe kelas atas > Rp 1.000.000

2. Penghasilan ttipe kelas menengah Rp 500.000-Rp 1.000.000 3. Penghasilan tipe kelas bawah < Rp 500.000

Saraswati (2009) dalam Suparyanto (2010) mengatakan bahwa status ekonomi dibagi menjadi:

1. Tipe kelas atas > Rp 2.000.000

2. Tipe kelas menengah Rp 1.000.000-Rp 2.000.000 3. Tipe kelas bawah < Rp 1.000.000

Variabel ini termasuk dalam pengelompokkan proximate determinant dari Bongaarts. Dalam pengelompokkannnya, variabel ini merupakan variabel yang mempengaruhi salah satu proximate determinant, yaitu pengaturan kelahiran. Namun, para ekonom, yang dipelopori oleh Becker dengan artikel pemulanya (Becker. 1960), melihat bahwa variabel sosial ekonomi mempengaruhi fertilitas karena pengaruh mereka pada jumlah anak yang diinginkan (demand for children). Kemajuan dalam pembangunan menyebabkan kenaikan dalam pendapatan, dan hal ini akan meningkatkan jumlah anak yang lebih banyak. Peningkatan pendapatan dapat mempunyai fertility promoting effect.

(31)

membuat dampak akhir yang negatif, yaitu naiknya pendapatan disertai dengan turunnya jumlah anak yang diinginkan (Ananta, 1995).

4.4.6 Jumlah Anak yang Diinginkan dalam Keluarga

Besarnya angka kelahiran di masa mendatang secara tidak langsung dapat digambarkan dari jumlah kelahiran yang diinginkan dan jumlah anak ideal. Tessa (2000) menyebutkan dua teori yang sesuai untuk mengkaji keputusan fertilitas: jumlah anak yang diinginkan. Teori pertama disebutsebagai teori perilaku yang direncanakan (planned behaviour). Teori ini menjelaskan bahwa keputusan seseorang untuk memiliki atau tidak memiliki anak mrupakan bentuk kesadaran dan perilaku yang dpat dipengaruhi oleh beberapa hal berikut (a) penilaian terhadap anak, yaitu penilaian positif dan penilaian negatif, (b) nilai-nilai sosial yang diakui dalam kehidupan, dan (c) kemampuan untuk menampilkan perilaku yang didasarkan pada pendapatan atau sumber daya lainnya. teori ini tidak menyertakan niat pasangan untuk memiliki atau tidak memiliki anak meskipun niat pasangan untuk tidak memiliki anak diasumsikan dapat mempengaruhi nilai atau norma kepercayaan individu. Seseorang yang menginginkan untuk memiliki anak lainnya dan hal itu tidak disampaikan kepada pasangannya dapat membentuk atau menciptakan satu kepercayaan baru bahwa pasangan tidak menginginkan memiliki anak lainnya. persepsi ini dapat mempengaruhi penilaian responden terhadap kelahiran yang dimilikinya.

(32)

Menurut Tidaro (2000), anak di banyak negara berkembang dipandang sebagai investasi, yaitu sebagai tambahan untuk menggarap lahan dan tumpuan hidup di hari tua. Dengan demikian, penentuan permintaan terhadap anak merupakan bentuk pilihan rasional bagi pasangan. Disisi lain, jumlah anak yang diinginkan akan berhubungan secara negatif dengan biaya pemeliharaan anak dan kuatnya keinginan untuk memiliki barang lain. Keinginan terhadap anak bukanlah hal yang stbail berdasarkan waktu dan usia. Sebagai contoh di Belanda, Liefbroer (2009) menemukan kebanyakan penduduk cenderung mengurangi jumlah anak yang diinginkan seiring bertambahnya usia. Begitu juga di Australia, Wilkins, et.al. (2009) menemukan sekitar 40% laki-laki dan 35% perempuan umur 18-39 tahun tahun 2001 dilaporkan memberikan jawaban yang berbeda terhadap jumlah anak yang diinginkan pada 2006. Jumlah anak yang diinginkan tahun 2001 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2006.

4.4.7 Keinginan Suami Terhadap Jumlah Anak

Arsyad (2016), melakukan analisis lanjut terhadap data SDKI 2007, dan memiliki hasil bahwa sekitar 66% wanita pernah kawin, mengaku suami menginginkan jumlah anak yang sama, hampir 15% saja suami yang menginginkan jumlah anak lebih sedikit, serta sisanya mengatakan tidak tahu.

4.4.8 Pendapat Suami Terhadap KB

Di antara wanita yang memiliki 12 anak lahir hidup tidak tampak adanya perbedaan proporsi suami/pasangan yang setuju dan tidak setuju terhadap penggunaan alat/cara KB. Wanita yang mempunyai lima anak atau lebih cenderung ditemukan banyak pada mereka yang suaminya tidak setuju pada pemakaian alat/cara KB. Dengan nilai p = 0,001 menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pendapat suami/pasangan dan pemakaian alat/cara KB (Arsyad, 2016).

4.4.9 Pengambilan Keputusan

(33)

alternatif yang matang untuk mengambil suatu tindakan yang tepat. Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan:

1. Dalam proses pengambilan keputusan tidak terjadi secara kebetulan. 2. Pengambilan keputusan tidak melakukan secara sembrono tapi harus

berdasarkan sistematika.

3. Masalah harus diketahui dengan jelas.

4. Pemecahan masalah harus didasarkan pada fakta-fakta yang terkumpul dengan sistematik.

5. Keputusan yang baik adalah keputusan yang telah dipikirkan dari berbagai alternatif yang telah dianalisa secara matang (Swanburg, 1996)

Menurut Alaszweski, Ayer, dan Manthorpe (2000), proses pengambilan keputusan adalah suatu proses yang menggambarkan pemikiran dan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan suatu pilihan yang sesuai dengan pilihan mereka sendiri, sehingga dpat ditarik kesimpulan bahwa proses pengambilan keputusan adalah merupakan suatu proses kegiatan untuk melaksanakan pemilihan di antara berbagai kemungkinan untuk mencapai tujuan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang tepat.

Secara umum menurut Jalaluddin (1991) suatu keputusan yang diambil oleh seseorang memiliki tanda-tanda sebagai berikut:

a. Keputusan merupakan hasil berpikir, hasil usaha intelektual; b. Keputusan selalu melibatkan pilihan dari berbagai alternatif;

c. Keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun pelaksanaannya boleh ditangguhkan atau dilupakan.

Pengambilan keputusan merupakan slah satu indikator kekuasaan sosial yang dominan dalam keluarga dan didasari oleh kekuasaan yang dilegitimasi. Beberapa keluarga, suami atau ayah mempunyai hak prerogatif untuk membuat banyak keputusan, walaupun keputusan tersebut menyangkut kepentingan perempuan (Lowdermilk & Perry, 2003).

4.4.10 Paparan Media

(34)

perantara atau pengantar, pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Media menurut National Education Association, media sebagai bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual dan peralatannya, dengan demikian media dapat dimanipulasi, dilihat, didengar atau dibaca. Jenis-jenis media massa adalah televisi, internet, surat kabar, majalah dan radio (Arsyad, 2007).

Kesuksesan program keluarga berencana tidak hanya ditentukan oleh kedisiplinan pasangan suami isteri untuk menjalani program tersebut, tetapi juga tergantung pada penyedia informasi atau media massa. Media massa sebagai penyedia informasi bagi rakyat memiliki peran yang kuat untuk mengajak masyarakat dalam mengerti, hingga akhirnya turut serta dalam menyukseskan program keluarga berencana (Royston, 1994). Media massa merupakan suatu komunikasi massa, yaitu komunikasi manusia (human communication), seiring dengan digunakannya alat-alat mekanik yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi. Terdapat berbagai bentuk media massa, diantaranya surat kabar, majalah, radio, televisi, film, komputer dan internet (Wiryanti, 2004).

Proporsi wanita yang memiliki 1-2 anak lebih tinggi pada wanita yang terakses dengan media yang menginformasikan tentang KB dibandingkan dengan wanita yang tidak terakses media. Sebaliknya, wanita yang memiliki lebih dari 2 (dua) anak cenderung banyak pada mereka yang tidak terakses informasi tentang KB dari media. Akses terhadap media tentang KB memiliki hubungan bermakna dengan jumlah anak lahir hidup dengan nilai p = 0,001 (Arsyad, 2016).

4.4.11 Kontak dengan Petugas KB

(35)

komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kumpulan orang (Wiryanto, 2004).

Wanita yang memiliki 1-2 anak lebih banyak dijumpai pada mereka yang melakukan kontak dengan petugas KB dalam 6 bulan terakhir. Sebaliknya, wanita yang mempunyai lima anak dan lebih dijumpai tinggi pada mereka yang tidak melakukan kontak dengan petugas KB dalam 6 bulan terakhir. Adanya hubungan yang bermakna antara kontak dengan petugas KB dan jumlah anak yang dimiliki oleh wanita usia subur (p = 0,01) (Arsyad, 2016).

4.4.12 Umur Hubungan Seksual Pertama

Proporsi wanita yang mempunyai 1-2 anak cenderung terus meningkat dengan bertambah tua umur melakukan hubungan seksual pertama kali. Sebaliknya, proporsi wanita yang memiliki anak lebih dari dua cenderung banyak tredapat pada wanita yang melakukan hubungan seksual pada usia yang lebih muda. Dengan nilai p = 0,01 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur hubungan seksual pertama kali dan jumlah lahir hidup (Arsyad, 2016).

4.4.13 Umur Kawin Pertama

Dalam masyarakat Indonesia, hubungan antara laki-laki dan perempuan dipandang harus melelui lembaga perkawinan yang sah menurut agama dan menurut Undang-Undang Perkawinan tahun 1974. Selain itu, karena usia perkawinan juga dipengaruhi oleh adat istiadat dan anggapan masyarakat tentang usia berapa sebaiknya perempuan menikah, maka usia kawin pertama dapat menjadi indikator dimulainya seorang perempuan berpeluang untuk hamil dan melahirkan lebih panjang dibandingkan dengan mereka yang kawin pada usia lebih tua (Lembaga Demografi UI, 2011).

(36)

hubungan yang negatif antara umur kawin pertama dengan rata-rata paritas (dalam Ananta, 1995).

4.4.14 Umur Pertama Melahirkan

Proporsi wanita yang memiliki 1-2 anak meningkat, sejalan dengan meningkatnya umur melahirkan anak pertama yang dimulai dari kelompok umur 15-19 tahun sampai dengan kelompok umur 25-29 tahun, dan angka ini menurun pada wanita yang melahirkan pertama kali pada kelompok umur 30 tahun atau lebih. Artinya, mereka yang yang memiliki anak relatif sedikit, tampak pada mereka yang masih muda. Sedangkan proporsi wanita yang punya lebih dari dua anak tertinggi pada mereka yang melahirkan anak pertama berusia 30 tahun atau lebih tua. Dengan perolehan nilai p = 0,001, yang artinya menunjukkan bahwa umur melahirkan anak pertama memiliki hubungan bermakna dengan jumlah anak lahir yang dimilikinya (Arsyad, 2016).

4.415 Melakukan Hubungan Seksual Setelah Melahirkan

(37)

DAFTAR PUSTAKA

Adioetomo, SM. (1980). Pola Fertilitas di Indonesia: Analisa Secara Umum, Jakarta: BPS dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LDFE UI).

Adioetomo, SM dan Samosir, OB. (2011). Dasar-dasar Demografi (edisi 2). Jakarta: Salemba.

Alaszweski, A, Alaszweski, H., Ayer S., Manthorpe, J. (2000) Managing Risk in Community Practice: Nursing Risk and Decision Making, London: Ballere Tindall/RCN

Ananta, A. (1995). Kecenderuungan dan Faktor Penentu Fertilitas dan Mortalitas di Indonesia. Jakarta: Kantor Menteri Negara Kependudukan /BKKBN.

Anwar, EN. (1995). Variabel Sosial Ekonomi vs Variabel antara dalam Analisis Faktor Penentu Fertilitas. Dalam Aris Ananta, Kecenderungan dan Faktor Penentu Fertilitas dan Mortalitas di Indonesia. Jakarta: Kantor Menteri Negara Kependudukan /BKKBN.

Arikunto.S. (1996). Prosedur Penelitian: Satu Pendekatan Praktik, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Arikunto, S. (2007). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Arsyad, SS., Nurhayati, S. 2016. Determinan Fertilitas di Indonesia, Jurnal Kependudukan Indonesia, Vol.11, No. 1, 1-14.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Badan Pusat Statitik (BPS) dan ORC Macro. Laporan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007, Calverton, Maryland, USA: ORC Macro; 2013.

(38)

Memperkuat Sinergi Antar Bidang Pembangunan; Buku II Sosial Budaya dan Diakses pada 1 Mei 2017 pukul 16.00 WIB.

Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), dan UNFPA Indonesia. Proyeksi Penduduk Indonesia (Indonesia Population Projection) 2000-2025, Jakarta: CV. Gading Komunikatama; 2005. Barnett, B. et al. Case Study of the Women’s Center of Jamaica Foundation capai-a...diakses pada 2 Juni pkl 05.30 WIB.

Bogue, Donald J. 1969. Principle of Demography. John Wiley & Sons, Inc. New York, Lndon, Sidney, Toronto dalam Adioetomo SM & Samosir OB. 2011. Dasar-Dasar Demografi, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta: Salemba Empat.

Bongaarts, J. (1978). A Framework For Analyzing The Proximate Determinants Of Fertility. Dalam Population and Development Review (vol.4, no.1. 105-132). Brady, M. Laying the foundation for girls’ healty futures: can sports play a role? Studies in Family Planning 29(1): 79-82 (March 1998) dalam

https://www.path.org/publications/files/Indonesian_16-3.pdf, diakses pada 5 Mei pkl 12.30 WIB.

Cash, K, and Anasuchatku, B. Experimental educational interventions for AIDS prevention among Nothern Thai single female migratory adolescents. Women and AIDS Program Research Report Series. Washington, D.C.: International Center

for Research on Women (1995) dalam

https://www.path.org/publications/files/Indonesian_16-3.pdf, diakses pada 5 Mei pkl 12.30 WIB.

(39)

and Sexual Violence (Fact Sheet). New York: CFRR, p. 4; and Kim, M. et al., (2013). When Do Laws Matter? National Minimum-Age-of-Marriage Laws, Child Rights, and Adolescent Fertility, 1989–2007. Law & Society Review, 47, (3), pp. 589, 591.

Centre for Development and Population Activities. Adolescent and gender Project for Sub-Saharan Africa. http//www.cedpa.org/trainprog/saharan/subsahan.htm

(accessed August 1998) dalam

https://www.path.org/publications/files/Indonesian_16-3.pdf, diakses pada 5 Mei pkl 12.30 WIB.

Chertok, Ilana R. 2007. Contraceptive Considerations for Breastfeeding Women winthin Jewish Law. International Breasfeeding Journal 2007, 2:1 doi: 10.1186/1746-4358-2-1.

Curry, et al. (2008). Maternity “Blues”: Prevalence and Risk Factors. The Spanish Journal of Psycology, vol 11, No.2, 593-599, dalam Tesis (Machmudah. (2010). Pengaruh Persalinan dengan Komplikasi Terhadap Kemungkinan terjadinya Postpartum Blues di Kota Semarang, Tesis, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Kebijakan, Program dan Kegiatan Tahun 2005-2009. Jakarta: BKKBN; 2006.

Dirjen Bina Gizi KIA, Sekretariat Pembangunan Kesehatan Pasca-2015 Kementerian Kesehatan RI, Keputusan Menteri Kesehatan No.97 Tahun 2015. Kesehatan Dalam Kerangka Sustainable Development Goals (SDGs), Jakarta. Fathimah, A. (2002). Faktor Sosiodemografi-Ekonomi Serta Kontrasepsi yang Mempengaruhi Fertilitas Wanita Kawin (15-49 Tahun) di Jawa Barat Tahun 2000: Analisis Data Susenas Tahun 2001, Skripsi Program Sarjana Kesehatan Masyarakat, Depok: FKM UI.

FOCUS on Young Adults. Why Focus on Young Adults? http://www.pathfind.org/orwork.htm (accessed October 1998) dalam

https://www.path.org/publications/files/Indonesian_16-3.pdf, diakses pada 5 Mei

(40)

Guyton & Hall JE. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11, Jakarta: EGC,

Hughes, J. And McCauley, A. Improving the fit: adolescents’needs and future programs. Studies in Family Planning 29(2): 233-245 (June 1998) dalam

Kazi A., K.I. Kennedy, C.M. Visness, T. Khan, 1995, Effectiveness of the Lactation Amenorrhea Method in Pakistan. Fertility and Sterility:v.64, p. 717-723 dalam Suparmi, 2010, Pengaruh ASI Eksklusif Terhadap Amenorrhea Laktasi di Indonesia, Tesis Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI, 2013. Kesehatan Reproduksi, Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehtanan, Volume 2, Semester 2. Dalam www.depkes.go.id/resources/download/.../infodatin%20reproduksi%20remaja-ed.pdf. Diakses pada 8 Mei pkl 13.25 WIB.

Nahar Q, Min H. Trends and Determinants of Adolescent Childbearing in Bangladesh. Columbia, Maryland, USA: Macro Inc; 2008.

Pasay, NHA. (1982). Faktor-faktor sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Tingkah Laku Fertilitas di Indonesia, Jakarta: LDFE UI.

Pathfinder International. Insight from Adolescent Project Experience: 1992-1997.

Galen, MA: Pathfinder (1998), dalam

https://www.path.org/publications/files/Indonesian_16-3.pdf, diakses pada 5 Mei pkl 12.30 WIB.

(41)

Profil Kesehatan indonesia Tahun 2012.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, Kesehatan Reproduksi. www.depkes.go.id/resources/download/.../infodatin%20reproduksi%20remaja-ed.pdf diakses pada 8 Mei 2017 pkl 13.20 WIB.

Raharja, MB. 2014. Fertilitas Remaja Di Indonesia, Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, Vol.9, No. 1.

Raj, A. When the mother is a child, p. 931; Gage, A.J. (20133). Association of child marriage with suicidal thoughts and attempts among adolescent girls in Eithopia. Journal of Adolescent Helath , 52, (5), p.654; and Evenhuis and Burn, Just Married, Just a Child, p. 20 Dalam

https://www.path.org/publications/files/Indonesian_16-3.pdf, diakses pada 5 Mei pkl 12.30 WIB.

Ramos, Rebecca, K.I. Kennedy, and C.M. Visness. (1996). Effectiveness of Lactational Amenorrhea in Prevention of Pregnancy in Manilla. The Phillipines: non-comparative trial. British Medical Journal: 313, p.968-970 dalam Suparmi, 2010, Pengaruh ASI Eksklusif Terhadap Amenorrhea Laktasi di Indonesia, Tesis Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Richters, J. et al. Why do condoms break or slip off in use? An exploratory study. Intenational Journal STD and AIDS. 6(1): 8-11 (January-February 1995) dalam

https://www.path.org/publications/files/Indonesian_16-3.pdf, diakses pada 5 Mei pkl 12.30 WIB.

Rosyidah., Usdiana D. 2010. Hubungan Antara Lama Pemberian ASI Eksklusif dengan Awal Menstruasi pada Ibu menyusui. Jurnal Biomedika: FK UMS.

Royston, Erica. (1994). Pencegahan Kematian Ibu hamil. Jakarta: Binarupa Aksara.

Short, R.V. (1991), Contraceptive Effcets of Extended Periods of Lactational Amenorrhea: Beyond the Bellagio Consensus. Lancet: 337, p. 715-717 dalam dalam Suparmi, 2010, Pengaruh ASI Eksklusif Terhadap Amenorrhea Laktasi di Indonesia, Tesis Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Siregar, Sutji Rochani D. 2004. Fertilitas. BPS

(

http://demografi.bps.go.id/phpfiletree/s2ui/Fertilitas_mortalitas_KB/GRRNRR-KB2010-11.ppt) diakses pada 18 April pukul 13.00 WIB.

The Alan Guttmacher Institute (AGI). Into a New World: Young Women’s Sexual and Reproductive Lives. New York: AGI (May, 1998) dalam

https://www.path.org/publications/files/Indonesian_16-3.pdf, diakses pada 5 Mei pkl 12.30 WIB.

(42)

UNFPA. UNFPA and Adolescents. New York: UNFPA (1997). Also available at

http://www.unfpa.org/PUBLICAT/TECH/ADOLES.HTM dalam

https://www.path.org/publications/files/Indonesian_16-3.pdf, diakses pada 5 Mei pkl 12.30 WIB.

Unuigbe, J.A. et al. Abortion-related mortality in Benin City, Nigeria: 1973-1985. Intenational Journal of Gynecology and Obstetric 26:435-439 (1998) dalam

https://www.path.org/publications/files/Indonesian_16-3.pdf, diakses pada 5 Mei pkl 12.30 WIB.

Wahyuni, R. Resti Ayu, dkk. 2013. Jurnal: Analisis Kelahiran Bayi (Fertilitas) di Kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan (Studi Kasus Rumah Tangga Petani). WHO. (2014). World Health Statistics 2014. Geneva, Switzerland: World Health Organization; Raj, A. (2010). When the mother is a child: The impact of child marriage on the health and human rights of girls. Boston. Archives of disease in childhood. 95, (11), p. 931.

WHO. Programming for Adolescent Helath and Development. Report of the WHO/UNFPA/UNICEF Study Group on Programming for Adolescent Health Geneva: WHO (in press). Dalam

https://www.path.org/publications/files/Indonesian_16-3.pdf, diakses pada 5 Mei pkl 12.30 WIB.

Wulf D, Singh S. Sexual Activity, Union and Childbearing Among Adolescent Women In The Americas. International Family Planning Perspectives. 1991; 17 (4): 137-44.

http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/02/03/nj6odu-kematian-ibu-dan-anak-di-banten-masih-tinggi

Gambar

Tabel 1.
Gambar 1.

Referensi

Dokumen terkait

Dari variabel – variabel yang mempengaruhi perilaku pengunjung tersebut digunakan beberapa indikator untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel pendidikan,

Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga pada orangtua sangat banyak menggunakan handphone , sehingga tidak heran jika banyak produsen Smartphone yang memasuki pasar,

Beberapa faktor mempengaruhi sekresi saliva dengan Beberapa faktor mempengaruhi sekresi saliva dengan merangsang kelenjer Saliva melalui cara-cara berikut : merangsang kelenjer

Harga seringkali dikaitkan dengan kualitas, konsumen cenderung untuk menggunakan harga sebagai indikator kualitas atau kepuasan potensial dari suatu produk. Penetapan

Dalam suatu analisis dan perancangan sistem informasi yang akan menghasilkan suatu sistem informasi itu sendiri juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti

Pertanyaan sentral yang penting untuk segera dijawab berdasarkan beberapa hasil dari peneliti- an ini adalah, salahkah bila seseorang bermigrasi. Keputusan seseorang untuk

Penelitian ini dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu tahap I adalah penentuan parameter kritis orange emulsion flavor, tahap II adalah analisis umur simpan dengan parameter

PDRB per kapita merupakan salah satu indikator yang mencerminkan kesejahteraan masyarakat Pengaruh Angka Harapan Hidup Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan hasil pengujian dalam