• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH GENDER AUDITOR DAN GENDER KLIEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH GENDER AUDITOR DAN GENDER KLIEN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH GENDER AUDITOR DAN GENDER KLIEN TERHADAP

AUDIT JUDGEMENT

Monika Wijaya

Email :

[email protected]

Abstrak

The purpose of this analysis is to see that empirical evidence of auditor and client influence on audit judgment. Where there is some research indicates that the gender of the auditor influences the audit judgment. However, the gender of the client has no effect on the audit judgment. Furthermore, there is also a finding that there is no difference in response between female and male auditors to female and male clients and this supports the theory of risk aversion and selectivity hypothesis. Findings that show that female auditors are more conservative than male auditors. Therefore, it is recommended that practitioners improve the recruitment process by opening more opportunities for future female auditors.

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Auditor dapat dipercaya jika mereka mampu menjadi seorang profesional yang independen, memiliki pengetahuan audit yang mumpuni serta paham secara benar pelaksanaan etika dalam menjalankan profesinya (Herawaty dan Susanto, 2009). Etika profesi auditor harus memiliki komitmen moral yang tinggi yang dituangkan dalam bentuk aturan khusus yang biasa disebut sebagai kode etik. Kode etik auditor harus dilaksanakan dan ditaati oleh setiap profesi yang memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat dan merupakan alat kepercayaan masyarakat luas. Faktor yang mempengaruhi indenpendensi auditor adalah gender. Gender

diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara pria dan wanita dapat diketahui dari sudut pandang nilai dan tingkah laku (Webster’s New World Dictionary, 2008).

Dalam proses audit, seorang auditor akan memberikan judgement berupa opini yang didasarkan pada kejadian-kejadian di masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Audit judgement atas kemampuan entitas harus berdasarkan pada ada tidaknya kesangsian dalam diri auditor terhadap kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya pada periode satu tahun sejak tanggal laporan keuangan auditan Audit judgement sebagai bagian dari proses audit ditentukan oleh auditor berdasarkan dalil individual dan kombinasi dari permasalahan yang ada. Hal ini sejalan dengan pendapat Mautz dan Sharaf (1985:27) “formulation of judgements are based on the individual proposition and the composite problems”.

Riset tentang pengaruh gender terhadap audit judgement dilakukan oleh Gold et al.

(3)

menentukan audit judgement, serta auditor perempuan lebih bias gender daripada auditor laki-laki.

Bidang akuntansi publik merupakan salah satu bidang yang tidak terlepas dari diskriminasi gender, stereotipe dan bias gender. Riset-riset di Indonesia menunjukkan adanya stereotipe dan bias gender di bidang akuntansi publik. Hal ini nampak dari berbedanya upah auditor laki-laki dengan auditor perempuan dimana auditor laki-laki dibayar lebih tinggi daripada auditor perempuan (Trisnawati, 2007). Selain itu, data di Indonesia menunjukkan bahwa sejak tahun 2005 lebih dari 50% lulusan sarjana akuntansi adalah perempuan (www.dikti.go.id), namun pada dunia kerja akuntansi dan auditing masih didominasi oleh laki-laki. Pada tahun 2010 sekitar 882 akuntan publik yang menempati posisi rekan, hanya sekitar 16% diantaranya adalah perempuan (IAPI, 2010). Hal inilah yang mendasari peningkatan riset yang mengkaji gender dan akuntansi pada satu dasawarsa terakhir (Anderson et al., 1994; Trisnaningsih, 2004; Jamilah et al., 2007; Gold et al., 2009; Hardies et al., 2009). Isu ini juga mengemuka karena gender merupakan salah satu aspek perilaku individu, yang turut mempengaruhi auditor dalam menentukan audit judgement.

Pengaruh gender terhadap audit judgement dapat dijelaskan berdasarkan teori psikologi keperilakuan. Teori psikologi keperilakuan menjelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan risk aversion dan selectivity hypothesis. Dimana, perempuan dikatakan lebih menghindari risiko (risk averse) dan memproses informasi secara lebih komprehensif (selectivity hypothesis) dibandingkan dengan laki-laki. Risk aversion dan selectivity hypothesis seringkali digunakan untuk menjadi landasan teori riset-riset di bidang akuntansi yang menguji gender sebagai variabel independen (Byrnes, 1999; Watson dan McNaughton, 2007; Gold et al., 2009).

(4)

perempuan dan laki-laki menunjukkan tingkat kualitas audit yang lebih baik daripada kelompok auditor perempuan dan kelompok auditor laki-laki.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan adanya stereotipe gender dan inkonsistensi pengaruh gender sebagai variabel independen, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris dan menguji pengaruh gender terhadap audit judgement. Untuk kemudian mengetahui apakah audit judgement yang ditetapkan oleh auditor perempuan akan berbeda dengan auditor laki-laki ketika mendapatkan informasi yang belum diverifikasi dari klien laki-laki atau klien perempuan. Berdasarkan latar belakang analisis ini yang telah dibahas sebelumnya, maka rumusan masalah pada analisi ini sebagai berikut:

1. Apakah auditor perempuan atau auditor laki-laki yang akan lebih mudah dipengaruhi oleh informasi yang belum diverifikasi dari klien dalam menentukan audit judgement?

2. Apakah klien perempuan atau klien laki-laki yang akan lebih mempengaruhi auditor dalam menentukan audit judgement ?

3. Apakah auditor akan memberi respon yang berbeda terhadap klien perempuan atau klien laki-laki ?

4. Apakah gender baik perempuan maupun laki-laki mempengaruhi tingkat independensi seorang auditor dalam memberikan hasil opini ataupun laporan keuangan yang diaudit ?

1.3 Tujuan Analisis

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, tujuan analisis ini adalah sebagai berikut:

1. Menginvestigasi mengenai auditor perempuan atau auditor laki-laki mana yang akan lebih mudah dipengaruhi oleh informasi yang belum diversifikasi dari klien dalam menentukan audit judgement.

(5)

3. Menginvestasi auditor akan memberi respon yang berbeda terhadap klien perempuan atau klien laki-laki.

4. Menginvestasi gender mana perempuan maupun laki-laki yang mempengaruhi tingkat independensi seorang auditor dalam memberikan hasil opini ataupun laporan keuangan yang diaudit.

1.4 Kegunaan Analisis

1.4.1 Kegunaan bagi Akademi

Dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi semua lapisan masyarakat yang berhubungan dengan permasalahan mengenai profesionalisme, pengalaman auditor dan kualitas audit terhadap pertimbangan tingkat materialitas dalam proses pengauditan laporan keuangan dalam perspektif gender.

1.4.2 Kegunaan bagi Pengembang Ilmu

Analisis ini diharapkan dapat memberi tambahan informasi dan dapat memberikan sumbangan pemikiran unutk pengembangan ilmu auditing, sehingga diharapkan kualitas auditor di masa yang akan datang semakin menghasilkan auditor yang independen sehingga dapat memberikan jawaban dan kepercayaan kepada masyarakat untuk menilai kesesuaian suatu laporan keuangan dengan kriteria yang berlaku.

1.4.3 Kegunaan Operasional

(6)

Bab II

Tinjauan Pustaka dan Kerangka Konseptual

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Profesi Akuntan Publik

Profesi akuntan publik dikenal oleh masyarakat dari jasa audit yang disediakan bagi pemakai informasi keuangan. Tumbuh dan berkembangnya profesi akuntan publik di suatu negara sejalan dengan berkembangnya perusahaan dan berbagai bentuk badan hukum perusahaan di negara tersebut. Semakin berkembangannya usaha, baik perusahaan perseorangan maupun perusahaan berbentuk badan hukum tidak dapat menghindarkan diri dari penarikan dana dari pihak luar, yang tidak selalu dalam bentuk penyertaan modal dari investor, tetapi berupa penarikan pinjaman dari kreditur. Dengan demikian, pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan tidak lagi hanya terbatas pada para pemimpin perusahaan, tetapi meluas kepada para investor dan kreditur serta calon investor dan calon kreditur.

Pihak-pihak di luar perusahaan memerlukan informasi mengenai perusahaan untuk pengambilan keputusan tentang hubungan mereka dengan perusahaan. Umumnya, mereka mendasarkan pada laporan keuangan yang disajikan oleh pihak manajemen. Dengan demikian, terdapatnya dua kepentingan antara pemilik perusahaan dan pengelola perusahaan yang berlawanan akan menyebabkan tumbuh dan berkembangnya profesi akuntan publik (Mulyadi, 2002: 3).

2.1.2 Pengertian Auditing, Standar Auditing, serta Sikap Profesional

Auditing menurut Arens et al. (2012:4) adalah sebagai berikut:

Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria. Auditing should bedone by a competent, independent person”.

(7)

kriteria yang telah ditetapkan. Auditing harus dilakukan oleh orang yang kompeten serta independen.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa auditing adalah suatu proses yang sistematis untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai informasi atau peristiwa-peristiwa ekonomi dan menentukan tingkat kesesuaiannya terhadap kriteria yang telah ditetapkan yang selanjutnya melaporkan hasilnya kepada para pengguna informasi. Audit sendiri terbagi atas tiga jenis antara lain yakni audit operasional, audit ketaatan atau kepatuhan dan audit laporan keuangan.

Standar auditing merupakan pedoman bagi auditor dalam menjalankan tanggung jawab profesionalnya. Standar ini meliputi pertimbangan kualitas profesional auditor, seperti keahlian dan independensi, persyaratan pelaporan, dan bahan bukti. Standar auditing terdiri dari sepuluh standar yang dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu standar umum, standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan (IAI, 2001). Standar-standar ini merupakan dan meliputi pertimbangan mengenai kualitas profesional mereka seperti keahlian dan independensi, persyaratan dan pelaporan serta bahan bukti.

a. Standar Umum

1) Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.

2) Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.

3) Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.

b. Standar pekerjaan lapangan

1) Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.

(8)

3) Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan.

c. Standar Pelaporan

1) Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

2) Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan

dibandingkan dengan penerapan prinsip tersebut dalam periode sebelumnya.

3) Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.

Seorang auditor bisa dikatakan profesional apabila telah memenuhi dan mematuhi standar-standar kode etik yang telah ditetapkan oleh IAI, antara lain:

a). Prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh IAI yaitu standar ideal dari perilaku etis yang telah ditetapkan oleh IAI seperti dalam terminologi filosofi, b). Peraturan perilaku seperti standar minimum perilaku etis yang ditetapkan sebagai peraturan khusus yang merupakan suatu keharusan, c). Inteprestasi peraturan perilaku tidak merupakan keharusan, tetapi para praktisi harus memahaminya, dan d). Ketetapan etika seperti seorang akuntan publik wajib untuk harus tetap memegang teguh prinsip kebebasan dalam menjalankan proses auditnya, walaupun auditor dibayar oleh kliennya.

2.1.3 Audit Judgement dan Gender

(9)

Indra, Ahra dan Husnani (2004) dalam Nurasnida (2008:13) istilah gender menurut

Wabster’s New World Dictionary diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara pria dan wanita dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa gender bukan dilihat dari jenis kelamin saja, tetapi dilihat dari segi kondisi sosial budaya, nilai dan perilaku, mentalitas, dan emosi serta factor faktor nonbiologis lainnya.

Pengertian klasifikasi Stereotypes merupakan proses pengelompokan individu kedalam suatu kelompok dan pemberian atribut karakteristik pada individu berdasarkan anggota kelompok. Berdasarkan Sex Role Stereotypes pria dipandang lebih berorientasi pada pekerjaan, mampu bersikap obyektif, independen dan pada umumnya memiliki kemampuan lebih dalam pertanggung jawaban manajerial jika dibandingkan dengan wanita. Sedangkan wanita dipandang lebih lemah lembut, pasif dan pertanggungjawaban terhadap organisasi lebih rendah dibandingkan dengan pria (Praditaningrum, 2012).

Meyers –Levy (1986) dalam Hasby, dkk (2010:9) mengembangkan kerangka teoritis untuk menjelaskan kajian tentang perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam memproses informasi. Kerangka teoritis ini mereka sebut dengan “selectivity hypothesis”. Perbedaaan yang didasarkan pada isu gender dalam pemrosesan informasi dan pembuatan keputusan didasarkan atas pendekatan yang berbeda yaitu bahwa laki-laki dan perempuan menggunakan pemrosesan inti informasi dalam memecahkan masalah dan membuat inti keputusan.

Dalam memecahkan suatu masalah, laki-laki pada umumnya tidak menggunakan semua informasi yang tersedia dan mereka juga memproses informasi secara menyeluruh sehingga dapat dikatakan bahwa laki-laki cenderung melakukan pemrosesan informasi secara terbatas. Sedangkan perempuan dipandang sebagai pemroses informasi lebih detail yang melakukan proses informasi pada sebagian besar inti informasi untuk pengambilan suatu keputusan (Zulaikha, 2006:5).

(10)

sama, cenderung tidak praktis dan tidak realistis, lebih percaya diri dan cenderung sembarangan dalam menjalankan tugas (Falikhatun 2009:7).

Judgement merupakan kegiatan yang sangat dibutuhkan oleh auditor dalam melaksanakan tugasnya terutama dalam mengaudit laporan keuangan dari suatu perusahaan.

Judgement tersebut tergantung pada perolehan bukti dan pengembangan bukti tersebut sehingga menghasilkan keyakinan yang muncul dari kemampuan auditor dalam menjelaskan bukti-bukti yang diuraikan. Semakin handal Judgement yang diambil oleh auditor maka semakin handal pula opini audit yang dikeluarkan oleh auditor.

Proses Judgement tergantung pada kedatangan informasi sebagai suatu proses unfolds. Kedatangan informasi bukan hanya mempengaruhi pilihan, tetapi juga mempengaruhi cara pilihan tersebut dibuat. Audit Judgement adalah kebijakan auditor dalam menentukan pendapat mengenai hasil audit yang mengacu pada pembentukan suatu gagasan, pendapat atau perkiraan mengenai suatu objek, peristiwa, status atau jenis peristiwa lain (Yustrianthe, 2012).

2.2 Kerangka Konsep

Analisis ini menguji dampak potensial gender terhadap audit judgement. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Mautz dan Sharaf (1985) dimana auditor menggunakan dalil individualnya dalam menentukan audit judgement, oleh karenanya aspek-aspek individual auditor dapat mempengaruhi penentuan audit judgement. Maka gender sebagai salah satu aspek individual dari seorang auditor dapat pula mempengaruhi audit judgement. Berdasarkan kajian teori dan analisis empiris sebelumnya, kerangka berpikir dalam analisis ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

Model Kerangka Konsep

Gender Auditor

(11)

Analisis ini menguji audit judgement sebagai variabel dependen dan gender auditor sebagai variabel independen. Selain itu, gender klien adalah variabel yang dimanipulasi untuk dapat melihat pengaruh potensial gender klien dalam interaksinya dengan auditor dan penentuan audit judgement.

2.2.1 Gender Auditor

Riset di bidang akuntansi menunjukkan bahwa dalam pengambilan keputusan, perempuan cenderung lebih berhati-hati apabila dibandingkan dengan laki-laki Francis et al. (2010) menemukan bahwa chief financial officer (CFO) perempuan lebih menghindari risiko daripada CFO laki-laki dalam hal kebijakan pelaporan keuangannya, serta CFO perempuan lebih sering menggunakan kebijakan pelaporan keuangan konservatif apabila dibandingkan dengan CFO laki-laki. Demikian pula Dwyer et al. (2002), dalam riset ini diketahui bahwa perempuan cenderung lebih menghindari risiko apabila dibandingkan dengan laki-laki ketika membuat keputusan investasi. Niskanen et al. (2009) menemukan bahwa auditor perempuan cenderung lebih konservatif apabila dibandingkan dengan auditor laki-laki. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa, berdasarkan risk aversion, auditor perempuan cenderung lebih berhati-hati dalam menentukan audit judgementnya dibandingkan dengan auditor laki-laki.

Selectivity hypothesis adalah perbedaan proses pengolahan informasi antara perempuan dan laki-laki. Perempuan cenderung untuk memadukan lebih banyak informasi yang tersedia untuk kemudian menentukan sebuah keputusan, sementara laki-laki cenderung untuk mengeliminir informasi yang mereka anggap tidak perlu untuk kemudian menentukan sebuah keputusan. Auditor perempuan cenderung untuk mengumpulkan lebih banyak bukti yang tersedia sebagai petunjuk untuk membuat judgement. Sebaliknya, auditor laki-laki cenderung untuk meminimalisir bukti yang mereka anggap tidak perlu dan fokus kepada lebih sedikit informasi yang mereka anggap perlu. Dengan demikian, selectivity hypothesis merupakan dasar argumentasi bahwa auditor perempuan akan cenderung untuk mengumpulkan informasi secara lebih komprehensif dibandingkan auditor laki-laki dalam menentukan audit judgementnya.

(12)

perempuan mestinya relatif tidak mudah dipengaruhi oleh informasi yang belum diverifikasi yang diberikan oleh klien. Sehingga, dapat diturunkan hipotesis, sebagai berikut:

H1: Auditor perempuan relatif lebih tidak mudah dipengaruhi oleh informasi klien yang belum diverifikasi dibandingkan dengan auditor laki-laki.

2.2.2 Gender Klien

Nyberg-Stuart (2006) dalam Gold et al. (2009) menyatakan bahwa terjadi ketimpangan antara jumlah CFO perempuan dengan CFO laki-laki, dimana jumlah CFO perempuan hanya mencapai kurang dari 10 % dari seluruh CFO yang ada pada 500 perusahaan terkemuka. Sehingga,dapat dikatakan bahwa probabilitas auditor bertemu dengan klien CFO perempuan adalah kecil, dengan demikian terdapat kesenjangan antara pengalaman auditor dalam menghadapi klien perempuan dibandingkan dengan klien laki-laki.

Selain itu, riset psikologi menunjukkan bahwa gender merefleksikan kategori sosial tertentu yang seringkali tanpa sadar mempengaruhi aktivitas proses pengumpulan informasi dan perumusan keputusan (Norton et al., 2004). Individu seringkali mengasosiasikan laki-laki memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan perempuan (William dan Best, 1990). Lebih jauh, riset eksperimen yang dilakukan oleh BBC (2006) menunjukkan bahwa laki-laki cenderung akan lebih memperhatikan informasi yang disampaikan oleh sesama laki-laki dibandingkan dengan informasi yang disampaikan oleh perempuan.

Berdasarkan asumsi bahwa auditor lebih sedikit berhadapan dengan klien perempuan, sehingga terdapat kesenjangan pengalaman auditor dalam menghadapi klien perempuan dibandingkan dengan klien laki-laki. Serta adanya anggapan bahwa laki-laki memiliki kemampuan yang lebih baik dari laki-laki dan kemungkinan kecenderungan auditor laki-laki untuk lebih memperhatikan informasi yang diberikan oleh klien laki-laki, maka diturunkan hipotesis sebagai berikut:

(13)

2.2.3 Interaksi antara Gender Auditor dengan Gender Klien

Auditor perempuan dan laki-laki dapat memberikan respon yang berbeda ketika menghadapi klien perempuan atau laki. Konstruksi sosial seringkali mengunggulkan laki-laki daripada perempuan dalam berbagai bidang, bias gender ini disebut dengan male favorability. Oleh karenanya, auditor dalam menentukan audit judgement dapat dipengaruhi secara potensial oleh gender klien.

Literatur psikologi dan riset-riset terdahulu menunjukkan inkonsistensi mengenai bias gender male favorability, beberapa riset menunjukkan bahwa laki-laki lebih bias gender dibandingkan dengan perempuan, beberapa yang lain menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan sama bias gendernya, dan lainnya menunjukkan bahwa perempuan lebih bias gender dibandingkan dengan laki-laki.

Eagly et al. (1992) melakukan riset tentang evaluasi yang dilakukan oleh pimpinan terhadap laki-laki dan perempuan, yang menunjukkan hasil bahwa, perempuan akan menghadapi penolakan lebih besar daripada laki-laki ketika berhadapan dengan pimpinan laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki lebih bias gender dengan male-favorability dibandingkan dengan perempuan. Di bidang auditing, Trapp et al. (1989) menemukan bahwa auditor laki-laki lebih bias gender daripada auditor perempuan. Heilman et al. (2005) melakukan penelitian dengan menggunakan metode eksperimen untuk mengetahui perilaku komunitas pada sebuah seting kerja. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat kecenderungan male favorablity. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi penelitian sebelumnya bahwa terdapat stereotipe gender di dunia kerja dan menunjukkan bukti adanya streotipe gender tentang bagaimana seharusnya perempuan dan laki-laki berperilaku.

(14)

Bias gender yang cenderung male favorability tidak bersifat universal dan sangat tergantung pada waktu dan tempat dimana konstruksi sosial terbentuk. Sehingga, riset-riset bias gender menemukan hasil yang berbeda-beda. Oleh karenanya, penelitian ini menurunkan tiga alternatif hipotesis berkaitan dengan respon auditor terhadap gender klien, sebagai berikut:

H3a: respon auditor laki-laki terhadap klien akan relatif lebih male-favorability dibandingkan dengan auditor perempuan.

H3b: respon auditor terhadap klien akan tidak berbeda

H3c: respon auditor perempuan terhadap klien akan relatif lebih male-favorability dibandingkan dengan auditor laki-laki.

(15)

Bab III

Penutup

Kesimpulan dan Saran

Profesionalisme auditor merupakan kualitas diri yang terbentuk berdasarkan pengabdian profesi, kewajiban sosial akan pekerjaan, adanya tanggung jawab yang melekat secara profesi, kemandirian dan hubungan dengan rekan seprofesi, sehingga faktor pengalaman individu dalam menghadapi situasi sulit dan berulang sangat berpengaruh terhadap ketepatan untuk menilai materialitas suatu akun atau laporan keuangan.

Auditor selalu mengoptimalkan pengalamannya dalam mempertimbangkan tingkat materialitas demi tercapainya kualitas audit yang baik. Gender sebagai pembagian peran serta tanggung jawab baik laki-laki maupun perempuan, yang diterapkan secara sosial maupun kultural. Dalam memproses informasi dalam tugas yang kompleks tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Gender tidak mempengaruhi terhadap pertimbangan auditor. Kondisi ini menunjukkan bahwa perbedaan gender antara auditor pria dan wanita dengan perbedaan karakter dan sifat yang melekat pada individu masing-masing tidak berpengaruh terhadap

judgement yang akan diambilnya.

Tingkat materialitas yang ditetapkan oleh auditor mempunyai peranan terhadap hasil pemeriksaan. Penetapan materialitas membantu auditor merencanakan pengumpulan bahan bukti yang cukup. Jika auditor menetapkan jumlah yang rendah, maka akan lebih banyak bahan bukti yang harus dikumpulkan.

(16)

Daftar Pustaka

http://jamal.ub.ac.id/index.php/jamal/article/view/266/253

https://www.academia.edu/10983768/PENGARUH_GENDER_DAN_PENGALAMAN_AUDIT _TERHADAP_AUDIT_JUDGMENT

http://journal.trunojoyo.ac.id/neo-bis/article/view/1274

https://www.google.co.id/url?

sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjvscT Ry-_UAhWHMY8KHeR0BHcQFggtMAE&url=http%3A%2F%2Feprints.ums.ac.id

%2F51458%2F13%2FNASKAH

%2520PUBLIKASI.pdf&usg=AFQjCNEeAELKAisLSDp5aeM1vfAbfR-tdg

eprints.undip.ac.id/24198/1/Budi_Susetyo.pdf

http://eprints.undip.ac.id/24198/

Referensi

Dokumen terkait

Kompetensi, Independensi, Kualitas Audit, Pengetahuan, Pengalaman, Lama Hubungan dengan Klien, Tekanan dari Klien, Telaah dari Rekan Auditor, Jasa Non Audit... iii

yang berjudul “ ANALISIS PENGARUH OPINI AUDIT, UKURAN PERUSAHAAN KLIEN, KESULITAN KEUANGAN PERUSAHAAN, UKURAN KAP, DAN PERGANTIAN MANAJEMEN TERHADAP AUDITOR

Pengaruh Pengalaman Audit Terhadap Pertimbangan Auditor Dengan Kredibilitas Klien Sebagai Variabel Moderating (Survey Empiris Auditor Yang Bekerja Pada Kantor

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan klien, ukuran KAP, audit tenure, auditor switching, terhadap kualitas audit yang diproksikan dengan

Independensi harus ditafsirkan sebagai bebas dari bujukan, pengaruh, atau pengendalian klien atau dari siapa pun juga yang mempunyai kepentingan dengan audit, jika auditor

Kualitas audit merupakan segala kemungkinan (profability) di mana auditor pada saat mengaudit laporan keuangan klien dapat menemukan pelanggaran yang terjadi dalam

Seperti diindikasikan dari mean kecenderungan mengusulkan penyesuaian audit yang dihasilkan auditor partisipan, kepentingan klien tidak secara otomatis menjadi konsisten

Item Pernyataan Independensi Auditor No Item Pernyataan 1 Auditor tidak lama dalam menjalin hubungan dengan klien 2 Auditor tidak dipengaruhi oleh tekanan dari klien 3 Auditor