5. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Kondisi Parameter Lingkungan
Dalam rangka mengetahui luas kawasan yang sesuai untuk budidaya kerapu maka harus diketahui data kondisi parameter lingkungan di lokasi studi seperti kedalaman atau bathimetri, pasang surut, suhu, salinitas, kecerahan, arus perairan, keterlindungan, pH, DO, substrat, nitrit, nitrat, ammonia, ortophospat, timbal (Lampiran 1, 2, 20 dan 21). Pengumpulan data parameter lingkungan ini diperoleh dari data yang tersedia yaitu data sekunder pada Bulan Nopember 2008 dan Bulan Juni 2009, sedangkan data primer dilakukan pada Bulan April 2011. Data primer dilakukan dengan survey lapangan (Gambar 5) seperti suhu, salinitas, arus, gelombang, substrat, kecerahan, kedalaman, pH, dan DO secara insitu. Data kimia perairan lainnya yaitu dengan menganalisis sampel air di Bogor seperti Ammonia (NH3-N), Nitrit (NO2-N), Nitrat (NO3-N), Orthophospat (PO4-P), dan Timbal (Pb) di perairan dan ikan kerapu yang dilakukan di Laboratorium Proling MSP IPB.
Data lainnya diperoleh dari BOST Center seperti data pasang surut, angin, suhu udara, dan curah hujan untuk menunjang kelengkapan analisis. Parameter lingkungan sangat penting dalam mengevaluasi suatu kawasan baik yang terdapat kegiatan budidaya laut atau yang belum diusahakan. Perairan Pulau Pongok merupakan salah satu contoh yang baik karena sudah terdapat KJA sehingga dapat membantu dalam mengevaluasi dan membandingkan lahan yang kosong dengan yang sudah diusahakan. Gambaran mengenai kondisi parameter lingkungan di perairan Pulau Pongok Kabupaten Bangka Selatan adalah sebagai berikut :
5.1.1. Karakteristik Bathimetri
Perairan sekitar Pulau Pongok ini memiliki kedalaman yang bervariasi menurut empat penjuru mata angin. Data bathimetri diperoleh dari survey lapangan dan dari peta laut. Perairan Pulau Pongok bagian barat dan selatan memiliki kedalaman agak dangkal sekitar 5 m yang selanjutnya disambung dengan slope sampai kedalaman sekitar 20 m. Pada bagian barat pulau, kondisi KJA eksisting milik Bapak Hendri berada pada kedalaman sekitar 10 m pada saat air pasang. Bagian utara pulau terdapat rataan dangkal yang cukup luas dengan
lebar sekitar 50 m dari arah pulau, yang selanjutnya disambung dengan kedalaman sekitar 15 m. Namun demikian, di bagian timur pulau terdapat slope sampai kedalaman sekitar 30 m (Gambar 6). Dalam keadaan air surut, antara Pulau Pongok dan Pulau Celagen hanya dapat dilalui oleh ketek (perahu kecil sebagai alat transportasi) dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Bathimetri atau kedalaman dasar perairan di lokasi penelitian sangat bervariasi untuk setiap stasiun pengamatan yang didominasi oleh kedalaman antara 10 sampai 20 m.
Kedalaman perairan untuk pengembangan budidaya KJA sangat penting sehubungan dengan harus ada alokasi ruang yang nyaman untuk hidupnya ikan budidaya serta ruang kosong dibawahnya agar sirkulasi air menjadi normal dan tidak menimbulkan menumpuknya limbah di dasar perairan. Kedalaman perairan di lokasi KJA eksisting menunjukan kedalaman minimum sampai 7 m sehingga masih dapat ditolerir untuk kegiatan budidaya kerapu dengan sistem KJA.
Berdasarkan kondisi bathimetri yang demikian, pada kondisi antara pasang tertinggi dan surut terendah memiliki sirkulasi massa air dan kecepatan arus yang relatif kuat sehingga resiko penumpukan sedimen atau kotoran lain relatif kecil karena proses pasang surut ini mampu mengaduk bahan organik dan anorganik untuk masuk dan keluar lokasi KJA.
5.1.2. Pasang Surut
Pasang surut (pasut) air laut di perairan Kabupaten Bangka Selatan termasuk tipe harian tunggal atau diurnal tide dimana dalam satu hari terdapat satu kali air pasang dan satu kali air surut. Ciri pasut sendiri banyak dipengaruhi oleh faktor lokal seperti bathimetri dasar laut, lebar selat, bentuk teluk dan sebagainya yang merupakan karakteristik lingkungan fisiknya. Berdasarkan data pasut tahun 2008, fluktuasi muka air atau tunggang pasut rata-rata tahunan diperoleh nilai sebesar 2,57 m, dan nilai Mean Sea Level (MSL) sebesar 1,29 m pada rambu dan sensor pasut di Sadai. Sedangkan tunggang pasut rata-rata pada Bulan April 2011 sebesar 2,17 m dan nilai MSL sebesar 1,44 m (Gambar 7).
Tunggang pasut ini sangat berpengaruh pada pemasangan ketinggian tali jangkar yang tepat untuk KJA agar ketika surut dapat terhindar dari kekeringan perairan yang akan menjadi dangkal akibat surut terendah dan terhindar dari luapan tingginya muka air laut saat pasang tertinggi.
Gambar 5. Peta Stasiun Pengamatan Perairan
Gambar 6. Peta Kedalaman Perairan
Sumber : BOST Center, April 2011
Gambar 7. Grafik Pasang Surut di Kabupaten Bangka Selatan
Berdasarkan ketinggian tunggang pasut rata-rata, kondisi KJA milik Bapak Hendri terpasang dengan aman dan sudah mempertimbangkan kondisi muka air laut saat surut terendah dan saat pasang tertinggi di perairan Pulau Pongok. Selain efek tunggang pasut, terdapat efek arus pasut yang dapat mengaduk badan perairan yaitu membawa masuk dan keluar kotoran di sekitar KJA. Kotoran utama dalam KJA eksisting adalah lapisan minyak di permukaan dan limbah di dasar perairan yang dapat mengundang biota kecil baik yang menguntungkan maupun yang bersifat parasit. Berdasarkan nilai bathimetri dan tunggang pasut yang terjadi setiap hari maka sebagian besar kotoran dapat dinetralisir atau dapat terbawa keluar dari area KJA. Namun demikian, dasar perairan dengan subsrat karang dapat menjadi tempat perlindungan bagi biota kecil yang hidup di dasar KJA.
5.1.3. Suhu
Suhu air laut di daerah tropis biasanya berkisar antara 25 – 32oC. Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengatur metabolisme tubuh suatu organisme perairan sehingga berdampak pada penyebaran organisme ke berbagai wilayah. Umumnya, ikan memiliki toleransi yang rendah terhadap
perubahan suhu yang mendadak. Nilai suhu permukaan perairan dekat pantai biasanya lebih tinggi dan berangsur menurun ke arah yang lebih jauh dari pantai.
Suhu air di permukaan dipengaruhi oleh kondisi meteorologi seperti curah hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin, dan intensitas sinar matahari sehingga biasanya mengikuti pola musiman. Pada musim pancaroba, proses pemanasan di permukaan menjadi kuat. Berdasarkan pengamatan di lapangan, nilai suhu perairan yang tertinggi diperoleh sebesar 32oC dan nilai terendah sebesar 27oC (Gambar 8). Variasi ini dapat terjadi karena pengambilan data suhu perairan dilakukan pada jam yang berbeda untuk setiap stasiun pengamatan sehingga efek intensitas sinar matahari sangat dirasakan cukup tinggi sekitar pukul 12.00 sampai 16.00 WIB. Kisaran nilai suhu perairan di atas relatif stabil dan cukup homogen dalam mendukung pertumbuhan ikan budidaya.
Kenaikan suhu perairan akan mempengaruhi kelarutan oksigen dan menaikan daya racun suatu bahan pencemar. Pemindahan ikan secara tiba-tiba dalam kondisi suhu yang berbeda dapat menyebabkan ikan itu lemah bahkan sampai pada tingkat kematian walaupun suhu perairan baru itu masih di bawah titik mati jenis ikan tersebut. Ikan kerapu sunuk yang diambil dari alam biasanya berada di dasar perairan yang suhunya lebih rendah dari suhu permukaan sehingga perlu adaptasi untuk bertahan hidup selama penangkaran. Semakin tinggi suhu perairan maka kecepatan metabolisme ikan dan kebutuhan oksigen juga semakin tinggi, sebaliknya jika suhu perairan rendah maka metabolisme menjadi rendah dan bobot ikan akan lambat untuk meningkat. Dilihat dari rata-rata nilai suhu sebesar 30,19oC maka nilai ini merupakan kondisi suhu yang sesuai untuk pertumbuhan ikan kerapu. Hal ini memberikan peluang bahwa berdasarkan nilai suhu di lokasi studi maka perairan Pulau Pongok dapat dikembangkan untuk budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA.
5.1.4. Salinitas
Salinitas di perairan Pulau Pongok memiliki nilai yang bervariasi, hasil pengamatan menunjukan nilai masih pada kisaran 27 – 32o/oo dan didominasi pada nilai salinitas sebesar 30o/oo (Gambar 9). Salinitas di perairan Pulau Pongok menunjukan bahwa pulau kecil ini mendapat pasokan air tawar yang sangat sedikit dan tidak berpengaruh banyak terhadap fluktuasi nilai salinitas.
Gambar 8. Peta Suhu Perairan
Gambar 9. Peta Salinitas Perairan
Salinitas dipengaruhi oleh sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai. Kondisi curah hujan dan aliran dari sungai yang relatif sedikit sehingga nilai salinitas cenderung tinggi. Kondisi Pulau Pongok yang jauh dari daratan utama (remote), angin dapat melakukan pengadukan di lapisan atas sehingga salinitas menjadi homogen. Nontji (1993) mengemukakan bahwa di perairan dangkal, lapisan salinitas yang homogen dapat berlanjut sampai ke dasar kira-kira setebal 50 – 70 m. Peningkatan salinitas, selain berpengaruh pada daya hantar listrik juga dapat meningkatkan tekanan osmotik pada biota yang dapat mempengaruhi metabolisme tubuh terutama di dalam proses osmoregulasi.
Berdasarkan pengamatan, nilai salinitas di perairan Pulau Pongok cukup homogen sehingga masih memungkinkan untuk dikembangkannya budidaya kerapu sistem keramba jaring apung.
5.1.5. Kecerahan
Kondisi dasar perairan sangat mempengaruhi kualitas air diatasnya, apabila badan perairan mengalami pelumpuran dan terjadi gerakan air baik oleh arus maupun gelombang maka akan mengaduk partikel dasar termasuk feces yang mengendap dan terbawa ke permukaan yang akan menimbulkan keruhnya air sehingga penetrasi sinar matahari menjadi berkurang dan dalam kondisi partikel lumpur yang pekat dapat berpotensi menutupi insang ikan. Kekeruhan dan kecerahan perairan dapat diukur dengan tingkat kecerahan perairan. Tingkat kecerahan yang tinggi akan sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya kerapu. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa perairan Pulau Pongok memiliki kecerahan yang tinggi dengan nilai kecerahan yang mendekati nilai bathimetri dengan kisaran 67 – 100% (Gambar 10). Nilai rata-rata kecerahan perairan yang terukur saat di lapangan sebesar 88%. Hal ini memberikan gambaran bahwa pengembangan KJA di perairan Pulau Pongok masih dapat dilaksanakan dilihat dari faktor kecerahan perairan.
5.1.6. Arus Perairan
Arus perairan merupakan gerakan mengalir masa air sebagai proses hidrodinaika air laut yang dapat disebabkan oleh tiupan angin, perbedaan densitas ataupun tekanan air laut, serta adanya daya mengapung air.
Gambar 10. Peta Kecerahan Perairan
Gambar 11. Peta Kecepatan Arus Perairan
Kecepatan arus permukaan di perairan Pulau Pongok berkisar antara nilai 0,10 – 0,55 m/s dengan kecepatan rata-rata 0,26 m/s (Gambar 11). Dari pengukuran di lapangan menunjukan bahwa pergerakan arus ini berupa arus permukaan dan arus pasang surut, nilai kecepatan arus rata-rata ini menunjukan kondisi yang masih sesuai untuk pengembangan budidaya kerapu sistem KJA.
Pergerakan arus ini dikaitkan dengan fluktuasi pasang surut memperlihatkan adanya perubahan arah arus perairan dan kecepatannya seiring dengan pergerakan arus pasang surut. Hubungannya dengan budidaya di KJA bahwa arus air yang terlalu lemah dapat mempengaruhi sirkulasi air untuk keluar masuk jaring.
Pasokan oksigen terlarut akan berkurang dan sisa-sisa metabolisme ikan akan tertimbun di dasar perairan, kondisi ini membuat ikan rentan terhadap serangan penyakit dan parasit. Sirkulasi arus yang meningkat di sekitar KJA akan sangat berpotensi merusak posisi keramba disamping itu ikan menjadi stress, selera makan berkurang, energi banyak terbuang dan bobot ikan sulit meningkat.
5.1.7. Keterlindungan
Keterlindungan berbicara mengenai kondisi gelombang, angin, dan adanya barier atau penghalang terhadap perairan pulau yang direncanakan sebagai lokasi budidaya. Gelombang di perairan Pulau Pongok saat survey lapangan diperoleh nilai tunggang gelombang terkecil sebesar 0,10 m dan terbesar 0,50 m dengan nilai gelombang rata-rata sebesar 0,3 m. Gelombang permukaan ini biasanya dibangkitkan oleh angin, berdasarkan pemantauan dari BOST Center maka kecepatan angin yang terukur masih dapat ditoleransi untuk kegiatan budidaya di KJA. Kecepatan angin tertinggi pada bulan April 2011 sebesar 5,97 m/s dengan kecepatan angin rata-rata sebesar 1,67 m/s. Keberadaan pulau penghalang sebagai barier di perairan Pulau Pongok menjadi sangat penting yaitu ke arah barat terlindung oleh Pulau Celagen, Pulau Kelapan, Pulau Lepar dan daratan utama Pulau Bangka serta ke arah timur terlindung oleh gugusan Pulau Mendanau dan daratan utama Pulau Belitung. Di sebelah selatan pulau masih terdapat pulau- pulau karang, namun di utara terlihat lebih terbuka dibanding arah lainnya.
Berdasarkan kondisi keterlindungan dari pulau-pulau disekitarnya, lokasi ini relatif aman dari gelombang dan angin sehingga di perairan Pulau Pongok memiliki kawasan perairan terlindung yang cukup banyak (Gambar 12).
Gambar 12. Peta Keterlindungan Perairan
Gambar 13. Peta pH perairan
5.1.8. pH
pH atau derajat keasaman suatu perairan merupakan salah satu parameter kimia yang penting dalam memantau kualitas lingkungan perairan. pH perairan dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 dan senyawa-senyawa yang bersifat asam dimana CO2 ini terkait dengan proses fotosintesis dan respirasi biota laut terutama fitoplankton. Perubahan nilai pH suatu perairan dapat berdampak terhadap organisme akuatik, hal ini tergantung dari daya adaptasi organisme perairan. Nilai pH air laut di bawah 7,00 bersifat asam dan akan menghambat pertumbuhan ikan budidaya. Dalam proses biokimia, jika pH rendah maka proses nitrifikasi akan berakhir. Berdasarkan pengamatan di lapangan diketahui bahwa nilai pH perairan yang tertinggi sebesar 8,30 dan nilai terendah sebesar 7,30 dengan nilai rata-rata sebesar 7,74 (Gambar 13). Pada lokasi KJA eksisting diperoleh nilai pH 7,80, artinya di lokasi ini tidak ada hambatan dengan masalah pH air laut sehingga ikan dapat tumbuh dengan normal. Nilai pH rata-rata menunjukan bahwa kondisi ini bagus untuk dikembangkannya budidaya kerapu dengan sistem KJA.
5.1.9. DO
Sumber utama oksigen terlarut atau dissolve oksigen (DO) di perairan adalah difusi dari udara dan hasil fotosintesis biota perairan yang berklorofil.
Kecepatan difusi oksigen dari udara ke dalam air sangat lambat, oleh karena itu fitoplankton merupakan sumber utama dalam penyediaan oksigen terlarut di perairan. Kelarutan oksigen dalam air dipengaruhi oleh suhu, salinitas, arus perairan, luas daerah permukaan perairan terbuka, tekanan atmosfer, dan persentase oksigen disekitarnya. Kelarutan oksigen akan menurun seiring dengan meningkatnya suhu perairan dan seiring dengan menurunnya tekanan udara.
Oksigen terlarut di dalam air digunakan oleh ikan kerapu untuk proses metabolisme tubuh yang akan mengkonversikan pakan yang dimakan menjadi ukuran pertumbuhan. Kandungan oksigen terlarut untuk menunjang usaha budidaya berkisar 5 – 8 mg/l jika nilai DO kurang dari 5 mg/l maka nafsu makan ikan berkurang dan pertumbuhan akan terganggu. Berdasarkan survey lapangan, nilai DO terendah di perairan Pulau Pongok adalah sebesar 5,5 mg/l dan tertinggi sebesar 8,0 mg/l dengan nilai DO rata-rata 6,62 mg/l. Terdapat hubungan antara nilai DO dan suhu perairan seperti ditunjukan pada stasiun 30, nilai DO terendah
terjadi pada pukul 9.30 WIB saat suhu perairan 31oC sedangkan nilai DO tertinggi terjadi pada stasiun 27 pukul 14.45 WIB dengan suhu 32oC. Hal ini agak menyimpang dari teori bahwa ketika suhu tinggi maka nilai DO cenderung turun, namun pada stasiun pengamatan lainnya masih menunjukan gejala yang mendekati teori. Effendi (2003) menyebutkan kadar oksigen terlarut (DO) berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada percampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air. Berdasarkan kondisi DO di perairan Pulau Pongok dinyatakan masih memungkinkan untuk dikembangkannya budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA, sebaran nilai DO dapat dilihat pada Gambar 14.
5.1.10. Substrat Perairan
Substrat di perairan Pulau Pongok pada saat survey lapangan diperoleh informasi bahwa perairan Kecamatan Lepar Pongok dikelilingi oleh terumbu karang dan karang mati serta sebagian kecil terdapat alga, lamun dan perairan berpasir. Hal ini menunjukan kondisi yang sama dengan analisis citra Landsat 7ETM yang diperoleh sebelum turun ke lapangan. Menurut wawancara dengan nelayan setempat, sekitar Pulau Pongok sangat kaya dengan substrat berkarang sehingga salah satu pulau kecilnya dinamakan Pulau Celaka karena banyak yang celaka akibat banyaknya lokasi yang berkarang, sekarang ini lebih dikenal dengan nama Pulau Celagen. Ke arah daratan Pulau Pongok dan Pulau Celagen memiliki mangrove dengan jenis Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Exoecaria agallocha, Pandanus testorius, Rhyzophora apiculata, Sonneratia alba dan Thespesia populnea. Bagian barat Pulau Celagen terlihat sudah mengalami abrasi sehingga kondisi mangrove menjadi menipis dan daratan semakin tergerus air.
Mengacu pada peta laut, panjang rataan terumbu karang di perairan Pulau Pongok dapat mencapai jarak sekitar 200 m ke arah laut. Ketika survey lapang, berdasarkan informasi dari nelayan penyelam bubu pada kedalaman sekitar 40 m masih ditemukan terumbu karang dan lokasinya menyebar sampai sekitar 200 m ke arah laut. Dengan kecerahan tinggi, pada kedalaman sekitar 10 m masih terlihat terumbu karang yang tumbuh padat dengan koloni yang besar. Pertumbuhan karang sangat didominasi dengan karang bercabang dari jenis Acropora sp.
Gambar 14. Peta Oksigen Terlarut Perairan
Gambar 15. Peta Sebaran Substrat Perairan
Sedangkan bentuk pertumbuhan seperti lembaran didominasi oleh Merulina implicate, Pachyseris speciosa dan Oxypora lacera. Kondisi lamun pada saat survey lapangan banyak ditemukan pada kedalaman perairan sekitar 1 - 2 m dengan lokasi menyebar di sekeliling perairan Pulau Pongok pada substrat yang agak berpasir (Gambar 15). Menilai kondisi substrat di atas menunjukan bahwa perairan Pulau Pongok sangat potensial untuk dikembangkannya budidaya kerapu dengan sistem KJA.
5.2. Kesesuaian Kawasan untuk KJA
Berdasarkan analisis kesesuian kawasan dengan pembobotan dan skoring menunjukan terdapat pengelompokan kawasan yang potensial untuk budidaya ikan kerapu di perairan Pulau Pongok dengan tingkat kelayakan yang berbeda.
Tingkat kelayakan yang berbeda ini terutama karena adanya perbedaan nilai pembobotan dan nilai data dari beberapa parameter lingkungan saat survey lapangan yang digunakan dalam melakukan analisis overlay, sehingga dengan batasan perhitungan evaluasi kelayakan ini diperoleh kelas kesesuaian yang berbeda dalam mendukung budidaya kerapu di KJA. Kelas kesesuaian ini adaah sebagai berikut:
S1 : tingkat Sangat sesuai, dimana kawasan tersebut sangat sesuai untuk budidaya ikan kerapu tanpa faktor pembatas yang berarti terhadap penggunaannya secara berkelanjutan.
S2 : tingkat Cukup sesuai, dimana kawasan tersebut sesuai untuk menunjang kegiatan budidaya ikan kerapu tetapi terdapat beberapa parameter sebagai faktor pembatas karena tidak berada pada kondisi optimum.
S3 : tingkat Tidak sesuai, dimana kawasan perairan tersebut tidak sesuai untuk diusahakan budidaya kerapu karena faktor pembatas yang sangat berat.
Budidaya Kerapu dengan sistem KJA biasanya direkomendasikan pada kelas S1 dan S2. Selanjutnya untuk memperoleh luasan lahan perairan maka dilakukan penjumlahan terhadap masing-masing kelas S1, S2, dan S3 yang hasilnya dalam satuan hekto are (ha). Berdasarkan analisis secara spasial diperoleh luasan untuk budidaya ikan kerapu sistem KJA di perairan Pulau Pongok dengan luas arahan kesesuaian kawasan seperti pada Tabel 15 berikut :
Tabel 15. Luas Arahan Kesesuaian Kawasan
No Keterangan Kelas Luas (ha) Prosentase (%)
1 S1 662,05 4,01
2 S2 2.812,61 17,04
3 S3 13.029,55 78,95
Total 16.504,21 100
S1 dan S2 3.474,66 21,05
Kesesuaan kawasan untuk budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA di perairan Pulau Pongok diperoleh berdasarkan hasil analisis secara bioteknis sehingga belum mempertimbangkan aspek ekonomi dan manajemen. Jika dilihat dari seluruh faktor pembatas, parameter kecepatan arus dengan nilai 0,1 - <0,2 m/s atau >0,3 – 0,4 m/s sangat dominan sehingga masuk ke kelas S2. Selanjutnya, parameter kedalaman dengan nilai kurang dari 15 m sangat dominan sehingga masuk ke kelas S2 serta parameter oksigen terlarut (DO) dengan nilai kurang dari 7,00 mg/l sangat dominan sehingga masuk ke kelas S2. Parameter keterlindungan sangat berpengaruh dan menunjukan banyaknya wilayah perairan Pulau Pongok yang terlindung. Selanjutnya, parameter selain dari parameter yang disebutkan di atas menunjukan bahwa nilainya banyak yang masuk ke kelas S1.
Setelah dilakukan analisis overlay diperoleh arahan kesesuaian kawasan dengan kelas S1, S2, dan S3, sebagai kawasan yang layak untuk dikembangkan budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA adalah kelas S1 dan S2 saja. Dari Tabel 14 diketahui bahwa kelas yang sesuai untuk budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA sebanyak 3.485,57 ha atau sekitar 21,01% dari total wilayah studi di perairan Pulau Pongok (Gambar 16). Luasan ini diperoleh dari kelas S1 sebanyak 662,05 ha dan kelas S2 sebanyak 2.812.61 ha yang tersebar hampir di sekeliling Pulau Pongok.
Mengevaluasi kesesuaian kawasan pada lokasi KJA eksisting yaitu KJA milik Bapak Hendri, termasuk ke dalam kelas S2 karena banyak faktor penbatas yang cenderung hanya memenuhi kategori Cukup sesuai (S2) seperti parameter- parameter kedalaman, DO, dan kecepatan arus. Lokasi KJA ini masih dilanjutkan untuk kegiatan usaha budidaya ikan kerapu karena mempertimbangkan aspek
manajemen usaha yaitu lokasinya mudah dikontrol dari aspek keamanan karena dekat dengan pemukiman penduduk dan rumah pemilik KJA. Dari sisi pasokan pakan ikan rucah, lokasi ini tidak mendapat kesulitan dalam hal transportasi pengangkutan pakan sehingga mobilitas pengelola menjadi cepat dan lancar.
Pakan diperoleh dari nelayan bagan dan nelayan jaring (Lampiran 4). Saat musim barat, KJA tidak terlalu terganggu dari ancaman gelombang walaupun masih terasa guncangan yang cukup kuat pada malam hari. Saat musim timur atau pancaroba, kondisi arus perairan menjadi tenang bahkan terlalu tenang dengan kecepatan arus kurang dari 0,2 m/s. Hal ini dapat membahayakan ikan kerapu budidaya terutama dari ancaman penyakit dan parasit. Sisa-sisa makanan yang tertimbun di dasar perairan dalam jumlah yang banyak dapat meracuni badan perairan di atasnya serta akan menjadi tempat persembunyian organisme parasit dan sumber makanan bagi parasit seperti kutu air yang suka menyerang pada ikan budidaya.
Gambar 16. Peta Kesesuaian KJA Perairan
5.3. Pendugaan Daya Dukung Lingkungan
Mengacu pada UU No. 27 tahun 2007, daya dukung wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah kemampuan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil untuk mendukung perikehidupan manusia dan mahluk hidup lain. Hal ini menunjukan bahwa pendugaan daya dukung lingkungan dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan diantaranya pendekatan baku mutu lingkungan yang disesuaikan dengan peraturan-peraturan yang dibuat oleh negara atau pemerintah daerah, dan pendekatan secara fisik kawasan terkait dengan luas kawasan yang sesuai untuk budidaya kerapu supaya dapat diketahui daya tampung yang masih aman terhadap lingkungan. Mengenai kedua pendekatan ini dapat diuraikan sebagai berikut :
5.3.1. Pendekatan Baku Mutu Lingkungan
Pendugaan daya dukung lingkungan sangat erat kaitannya dengan kualitas lingkungan perairan yang masih dapat mentolerir unsur kimia pencemar atau limbah dalam jumlah tertentu tanpa menyebabkan polusi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengambil sampel kualitas air laut dan membandingkannya dengan KepmenLH No. 51 tahun 2004 tentang baku mutu air laut untuk biota laut.
Stasiun pengamatan 1 sampai 5 (Lampiran 20) pada tabel menunjukan posisi stasiun nomor 21 sampai 25 (Lampiran 1) pada saat survey lapangan. Beberapa parameter lingkungan dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Parameter Kimia untuk Biota Laut No Parameter BM
(mg/l)
DL (mg/l)
Stasiun (Nilai Rata-rata dalam mg/l)
1 2 3 4 5
Kimia 1 Ammonia
(NH3-N)
0,3 0,003 0,185 0,142 0,090 0,153 0,104 2 Nitrit
(NO2-N)
- 0,002 0,002 0,002 0,002 0,002 0,002 3 Nitrat
(NO3-N)
0,008 0,001 0,026 0,039 0,018 0,018 0,070 4 Orthophospat
(PO4-P)
0,015 0,005 0,005 0,005 0,005 0,005 0,005 Logam berat
1 Timbal (Pb) 0,05 0,005 0,019 0,014 0,026 0,016 0,024 Keterangan:
BM = Baku Mutu DL = Detection Limit
Sebagai perbandingan bahwa data mengenai kedalaman, suhu, salinitas, kecepatan arus, arah, kecerahan, pH, DO, PO4, NO3, NO2, NH3, dan SiO3 pada Bulan Agustus 2006 dapat dilihat pada tabel 17.
Tabel 17. Parameter Kimia di Kabupaten Bangka Selatan Agustus 2006
No.
Sta
Parameter Keda-
laman (m)
Suhu (oC)
Sali- nitas (o/oo)
Arus Kece-
rahan (m)
pH DO
(ml/l)
PO4 NO3 NO2 NH3 SiO3
Kec (cm/s)
Arah (o)
(µgA/l)
1 0 29,79 32,64 31,76 207 3 8,00 4,48 0,41 0,51 0,15 1,39 1,79 10 29,64 32,77 31,65 120 8,02 4,19 0,52 0,69 0,12 1,54 2,04 dasar 29,12 32,95 19,20 117 8,04 3,94 0,73 0,81 0,23 1,71 2,87 2 0 28,92 32,92 24,78 214 5 8,02 4,27 0,46 0,53 0,13 1,51 1,81 10 28,86 32,98 24,76 175 8,07 4,11 0,58 0,70 0,24 1,80 2,00 dasar 28,09 33,17 22,51 189 8,08 3,91 0,81 0,85 0,35 2,00 3,17 3 0 29,16 33,18 42,24 184 12 8,12 4,52 0,42 0,51 0,07 1,25 1,65 10 29,09 33,22 32,12 241 8,16 4,20 0,49 0,57 0,10 1,47 1,74 dasar 28,96 33,53 32,18 245 8,22 3,95 0,63 0,72 0,15 1,67 1,82 4 0 29,24 33,24 35,26 317 10 8,02 4,29 0,41 0,62 0,12 1,03 1,61 10 29,16 33,27 32,12 218 8,05 4,12 0,61 0,80 0,18 1,22 2,09 dasar 29,01 33,49 32,08 219 8,14 3,96 0,72 1,00 0,30 2,50 3,38 5 0 29,18 32,90 36,20 269 4 8,04 4,39 0,55 0,67 0,11 1,18 1,72 10 29,12 32,92 31,09 193 8,10 4,17 0,62 0,85 0,22 2,29 2,12 dasar 29,00 33,11 33,14 171 8,16 3,94 0,87 1,07 0,35 2,73 3,60 6 0 29,28 32,94 37,19 3,09 6 8,01 4,43 0,41 0,61 0,14 1,32 2,26 10 29,15 33,05 28,15 228 8,12 4,29 0,52 0,82 0,18 2,65 3,63 dasar 28,98 33,25 26,68 211 8,16 4,00 0,70 0,98 0,29 3,69 4,21 7 0 29,15 32,92 32,53 329 7 8,02 4,28 0,42 0,51 0,17 1,48 1,82 10 29,06 33,03 22,77 227 8,07 4,11 0,53 0,72 0,27 1,92 2,90 dasar 28,97 33,28 23,06 215 8,14 3,96 0,61 0,98 0,39 2,97 3,82 8 0 29,15 33,07 39,13 236 8 8,02 4,15 0,48 0,56 0,15 1,68 2,45 10 29,09 33,10 21,26 119 8,06 4,03 0,57 0,79 0,20 2,73 3,14 dasar 28,95 33,19 19,87 135 8,10 3,90 0,79 0,88 0,27 4,37 5,24 Min 28,09 32,64 19,20 3,09 3 8,00 3,90 0,41 0,51 0,07 1,03 1,61 Max 29,79 33,53 42,24 329 12 8,22 4,52 0,87 1,07 0,39 4,37 5,24 Rerata 29,09 33,09 29,57 199,25 6,88 8,08 4,15 0,58 0,74 0,20 2,00 2,62
Sumber : DKP Kabupaten Bangka Selatan 2007
5.3.1.1. Ammonia (NH3-N)
Ammonia bebas (NH3-N) yang tidak terionisasi (unionized) bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Toksisitas ammonia terhadap organisme akuatik akan meningkat jika terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, pH, dan suhu (Effendi, 2003). Nitrifikasi merupakan proses oksidasi ammonia menjadi nitrit dan nitrat sebagai proses yang penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung pada kondisi aerob. Kadar ammonia (NH3-N) yang tinggi merupakan indikasi adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik, dan limpasan (run off) pupuk pertanian dan peternakan. Terkait dengan kehidupan ikan, ammonia bukan ion (NH3-N) dapat meracuni ikan, sedangkan ion ammonium (NH4+
) tidak
berbahaya kecuali konsentrasinya sangat tinggi. Berdasarkan pengukuran nilai ammonia di perairan Pulau Pongok sebanyak tiga kali pengulangan menunjukan bahwa nilai rata-ratanya berkisar antara 0,090 – 0,185 mg/l dari kelima stasiun pengamatan. Nilai rata-rata ammonia paling rendah yaitu pada stasiun 3 dengan nilai 0,090 mg/l dan nilai rata-rata ammonia paling tinggi pada stasiun 1 dengan nilai 0,185 mg/l (Tabel 16). Berdasarkan (Tabel 17) nilai ammonia di perairan Kabupaten Bangka Selatan menunjukan bahwa nilainya berkisar antara 1,03 – 4,37 µgA/l, hal ini menunjukan bahwa data penelitian ammonia di perairan Pulau Pongok masih lebih rendah dari nilai ammonia pada Tabel 17 tersebut.
Terdapat 3 stasiun yang memiliki nilai ammonia relatif tinggi yaitu stasiun 1, 2, dan 4. Stasiun 2 dengan nilai rata-rata ammonia 0,142 mg/l merupakan stasiun yang paling dekat dengan tempat tambat kapal sehingga nilai ammonia yang tinggi dicurigai berasal dari aktifitas tersebut (Lampiran 20). Stasiun 3 (lokasi KJA milik Bapak Hendri) memiliki nilai rata-rata ammonia 0,090 mg/l, merupakan nilai paling kecil dari ke 5 stasiun pengamatan. Di lokasi ini (stasiun 3), ulangan ke 1 menunjukan kondisi arus yang lemah saat air laut menuju surut, ulangan ke 2 menunjukan kondisi arus yang lemah saat air laut menuju pasang, dan ulangan ke 3 menunjukan kondisi arus yang lemah saat air laut stagnant di titik surut terendah. Namun demikian, nilai-nilai ini dapat dikatakan belum mencemari lingkungan perairan Pulau Pongok karena masih di bawah nilai baku mutu. Sebagai gambaran bahwa KJA di Kabupaten Belitung dengan luas sekitar 1 ha sampai saat ini masih aman dari pencemaran. Berdasarkan pengamatan pada stasiun 1, 4, dan 5 merupakan perairan yang belum ada aktifitas budidaya, namun memiliki nilai ammonia melebihi nilai pada stasiun 3. Pengaruh arus perairan tahunan yang membawa badan air dari dan ke perairan Pulau Pongok, dapat mengaduk badan air dan dengan nilai tunggang pasut 2,17 m maka kemampuan flushing rate cukup tinggi sehingga unsur pencemar dapat tercuci dan terencerkan.
5.3.1.2. Nitrat (NO3-N)
Di perairan, nitrogen dalam bentuk nitrogen anorganik dan organik.
Nitrogen anorganik terdiri atas ammonia (NH3-N), ammonium (NH4-N), nitrit (NO2-N), dan nitrat (NO3-N). Nitrogen organik berupa protein, asam amino, dan urea. Bentuk-bentuk nitrogen tersebut mengalami transformasi sebagai bagian dari
siklus nitrogen. Nitrat (NO3-N) merupakan hasil dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan. Bila suatu perairan menunjukan kadar nitrat lebih dari 5 mg/l, maka perairan tersebut telah terjadi pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. Kadar nitrat lebih dari 0,2 mg/l dapat mengakibatkan pengkayaan perairan (eutrofikasi), yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming), hal ini sangat merugikan terhadap biota budidaya. Pada perairan yang menerima limpasan air dari daerah pertanian yang banyak mengandung pupuk, kadar nitrat dapat mencapai 1.000 mg/l (Davis dan Cornwell, 1991 di dalam Effendi, 2003).
Berdasarkan data di lapangan bahwa kadar nitrat berkisar antara 0,018 – 0,070 mg/l, dengan kondisi ini maka perairan Pulau Pongok masih merupakan perairan yang belum tercemar dan memberikan peluang untuk pengembangan budidaya kerapu sistem KJA. Nilai rata-rata nitrat yang paling kecil yaitu pada stasiun 3 dan 4 dengan nilai 0,018 mg/l dimana stasiun 3 merupakan lokasi KJA eksisting dan nilai paling tinggi yaitu pada stasiun 5 dengan nilai 0,070 mg/l, terdapat kekeliruan nilai baku mutu untuk nitrat karena nilai terlalu kecil (Tabel 16 dan Lampiran 20). Berdasarkan (Tabel 17) nilai nitrat di perairan Kabupaten Bangka Selatan menunjukan bahwa nilainya berkisar antara 0,51 – 1,07 µgA/l, hal ini menunjukan bahwa data penelitian nitrat di perairan Pulau Pongok masih relatif kecil dan masih mendukung untuk budidaya kerapu.
5.3.1.3. Nitrit (NO2-N)
Di perairan alami, nitrit (NO2-N) biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit. Sumber nitrit dapat diperoleh dari limbah industri dan limbah domestik. Kadar nitrit pada perairan relatif kecil karena segera dioksidasi menjadi nitrat. Kadar nitrit yang melebihi 0,05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sensitif (Moore, 1991 di dalam Effendi, 2003).
Hasil pengukuran nitrit di perairan Pulau Pongok menunjukan angka rata- rata <0,002 mg/l untuk masing-masing stasiun pengamatan. Hal ini menunjukan bahwa kadar nitrit di perairan masih jauh di bawah nilai tercemarnya suatu badan perairan dan masih dapat ditoleransi untuk pengembangan budidaya kerapu sistem KJA (Tabel 16 dan Lampiran 20). Berdasarkan (Tabel 17) nilai nitrit di perairan Kabupaten Bangka Selatan secara umum menunjukan bahwa nilainya berkisar
antara 0,07 – 0,39 µgA/l, hal ini menunjukan bahwa data penelitian nitrit di perairan Pulau Pongok nilainya masih lebih rendah dari nilai nitrit pada kondisi umum di Kabupaten Bangka Selatan.
5.3.1.4. Ortophosphat (PO4)
Ortophosphat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan akuatuk, sedangkan poliposphat harus mengalami hidrolisis membentuk ortophosphat terlebih dahulu, sebelum dapat dimanfaatkan sebagai sumber fosfor. Setelah masuk ke dalam tumbuhan, misalnya fitoplankton, fosfat anorganik mengalami perubahan menjadi organoposphat. Phosphat yang berikatan dengan ferri (Fe2(PO4)3) bersifat tidak larut dan mengendap di dasar perairan. Pada saat terjadi kondisi anaerob, ion besi valensi tiga (ferri) ini mengalami reduksi menjadi ion besi valensi dua (ferro) yang bersifat larut dan melepaskan phosphat ke perairan sehingga meningkatkan keberadaan phosphat di perairan (Brown 1987 di dalam Effendi 2003). Menurut Vollenweider dan Wetzel (1975) di dalam Effendi (2003) bahwa perairan dinyatakan oligotrofik dengan kadar ortophospat 0,003 – 0,01 mg/l, perairan mesotrofik dengan kadar ortophospat 0,011 – 0,03 mg/l, dan perairan eutrofik dengan kadar ortophospat 0,031 – 0,1 mg/l.
Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan diperoleh kadar ortophospat rata- rata yaitu <0,005 mg/l. Nilai ini masih jauh di bawah nilai baku mutu yaitu 0,015 mg/l sehingga kondisi perairan Pulau Pongok termasuk ke dalam perairan oligotrofik artinya nilai ini menunjukan bahwa daya dukung lingkungan perairan Pulau Pongok masih dapat dikatakan belum terlewati dan kondisi perairan ini masih mendukung untuk dilakukan kegiatan budidaya kerapu (Tabel 16 dan Lampiran 20). Berdasarkan (Tabel 17) nilai ortophospat di perairan Kabupaten Bangka Selatan menunjukan bahwa nilainya berkisar antara 0,41 – 0,87 µgA/l, hal ini menunjukan bahwa data penelitian ortophospat di perairan Pulau Pongok masih jauh dari kondisi umum di Kabupaten Bangka Selatan.
5.3.1.5. Timbal (Pb)
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan penghasil timah terbesar di Indonesia sehingga perairan pesisirnya secara umum memiliki kandungan logam
berat akibat aktifitas penambangan timah. Merujuk pada penelitian Ilahude et al.
(1990) yang menunjukan bahwa terdapat konstribusi logam berat dari sungai terhadap laut terutama dari sedimen saat musim penghujan. Di Kabupaten Bangka Selatan, pasir dan lumpur sisa penambangan (tailing) dari aktifitas TI maupun tailing perusahaan tambang timah biasanya masuk ke badan sungai (DAS Bantel, DAS Kepoh, dan DAS Nyirih ) yang akhirnya mencapai laut, sehingga dicurigai bahwa logam berat terbawa dari DAS ini namun perlu penelitian lanjutan untuk memperoleh kesimpulan yang meyakinkan. Menurut informasi dari masyarakat bahwa di Pulau Pongok sudah ada yang mengusahakan tambang timah rakyat (TI) walaupun dalam skala kecil. Selain di Pulau Pongok, kondisi bukaan lahan akibat TI ini sudah terlihat di Pulau Tinggi di daerah Lepar dan di daratan utama Pulau Bangka di daerah Sadai. Hal ini memungkinkan adanya konstribusi terhadap keberadaan logam berat di perairan pesisir. Kadar timbal (Pb) di perairan Pulau Pongok dapat dinyatakan masih jauh di bawah nilai baku mutu dengan nilai rata- rata untuk kelima stasiun pengamatan antara 0,014 – 0,026 mg/l, nilai terendah pada stasiun 2 sebesar 0,014 mg/l dan nilai tertinggi pada stasiun 3 sebesar 0,026 mg/l (Tabel 16 dan Lampiran 20). Walaupun masih di bawah nilai baku mutu, sebaiknya ada himbauan terhadap masyarakat agar tidak melakukan kegiatan TI yang dapat berdampak pada peningkatan kandungan logam berat di perairan.
5.3.1.6. Timbal (Pb) pada Ikan Kerapu
Kadar timbal (Pb) pada sampel daging ikan kerapu di perairan Pulau Pongok memiliki nilai 6,5 mg/l, lebih tinggi dari nilai baku mutu (Lampiran 21).
Hal ini menunjukan bahwa logam berat timbal telah termagnifikasi pada badan ikan kerapu dalam waktu yang cukup lama. Berdasarkan penelitian Ilahude et al.
(1990) dan Arifin (2011) menunjukan bahwa logam berat dimulai dari lumpur atau sedimen yang mengandung logam berat masuk ke muara sungai dan diserap oleh biota bentik seperti kerang-kerangan, cacing, dan hewan filter feeder lainnya, khusus untuk kasus ikan kerapu di Pulau Pongok perlu penelitian lanjutan untuk memperoleh kesimpulan yang meyakinkan. Berdasarkan rantai makanan, biota bentik dan kecil dimakan oleh biota yang lebih tinggi tingkatannya yang selanjutnya sampai pada ikan kerapu. Tata niaga yang legal biasanya mensyaratkan agar ikan bebas dari kandungan logam berat yang membahayakan
kesehatan. Ikan yang sehat sebaiknya aman dari kandungan logam berat agar tidak membahayakan manusia dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
5.3.2. Pendekatan Fisik Kawasan
Pendugaan daya dukung lingkungan dengan pendekatan fisik kawasan sangat berkaitan dengan luas kawasan yang sesuai (kelas S1 dan S2) dan desain keramba untuk diperoleh luasan keramba yang dapat ditampung di kawasan tersebut untuk budidaya ikan kerapu sistem KJA. Berdasarkan informasi dari peta arahan kesesuaian diperoleh luas kawasan yang sesuai untuk budidaya kerapu sistem KJA sebesar 3.474,66 ha dan desain keramba 2,08 ha per pokmas maka daya dukung kawasan dapat dihitung (Lampiran 5).
Berdasarkan perhitungan (Lampiran 5) maka daya dukung lingkungan dengan pendekatan fisik kawasan dapat diketahui yaitu sebesar 1.670 kelompok masyarakat. Hal ini mengandung arti bahwa jika pemerintah daerah Kabupaten Bangka Selatan akan mengundang investor pembudidaya ikan kerapu apakah investor perusahaan, perorangan, atau masyarakat maka kawasan yang sesuai dengan luas 3.474,66 ha dapat dimanfaatkan untuk budidaya kerapu sistem KJA di perairan Pulau Pongok maksimum sebesar 1.670 kelompok masyarakat.
Daya dukung kawasan yang sesuai untuk budidaya ikan kerapu sistem KJA di perairan Pulau Pongok ini jika dihitung berdasarkan unit keramba maka maksimum dapat diisi dengan keramba sebanyak 16.700 unit KJA. Hal ini mengandung arti bahwa jika pemerintah daerah Kabupaten Bangka Selatan ingin mengundang investor pembudidaya ikan kerapu maka unit keramba yang dapat dipergunakan untuk budidaya kerapu sistem KJA di perairan Pulau Pongok maksimum sebanyak 16.700 unit keramba, dengan catatan bahwa satu unit KJA terdiri dari 4 lobang keramba dan 1 rumah jaga.
Daya dukung kawasan yang sesuai untuk budidaya ikan kerapu sistem KJA di perairan Pulau Pongok jika dihitung berdasarkan jumlah kepala keluarga yang dapat dikaryakan menjadi pembudidaya ikan kerapu yaitu sebanyak 16.700 kepala keluarga. Hal ini mengandung arti bahwa jika pemerintah daerah Kabupaten Bangka Selatan ingin mempertahankan sumberdaya perikanan pulau kecil ini, dengan cara mengatur jumlah nelayan perikanan tangkap agar tidak terjadi peningkatan secara tajam maka terdapat peluang masyarakat pesisir yang dapat
diarahkan menjadi pembudidaya ikan kerapu dengan jumlah maksimum sebanyak 16.700 kepala keluarga.
Sedangkan daya dukung kawasan yang sesuai untuk budidaya ikan kerapu sistem KJA di perairan Pulau Pongok jika dihitung berdasarkan jumlah lobang keramba maka maksimum dapat diusahakan sebanyak 66.800 lobang keramba, dengan catatan bahwa banyaknya lobang keramba ini sudah memperhitungkan ruang kosong agar tidak terjadi pencemaran. Daya dukung kawasan yang sesuai untuk budidaya ikan kerapu sistem KJA di perairan Pulau Pongok jika dihitung berdasarkan jumlah ikan yang dapat ditampung, dengan catatan bahwa setiap lobang keramba diisi ikan kerapu hidup sebanyak 240 ekor, maka ikan budidaya maksimum yang dapat ditanam sebanyak 16.032.000 ekor ikan kerapu.
Pada prinsipnya perlu upaya kehati-hatian dalam menetapkan letak dan luasan suatu kawasan budidaya karena selain menilai daya dukung fisik kawasan, juga perlu mengontrol dampak secara ekologis seperti perlunya menjaga keberlanjutan stok ikan rucah di alam sebagai bagian dari rantai makanan serta perlu mencari solusi pengganti dari pakan alami ke pakan buatan.
5.4. Tata Niaga Ikan Kerapu (Famili Serranidae) di Pulau Pongok
Kecamatan Lepar Pongok memiliki kekayaan sumberdaya perikanan yang cukup besar diantaranya jenis-jenis ikan kerapu yang bernilai ekonomi tinggi. Hal ini tidak terlepas dari kondisi terumbu karang yang relatif masih baik.
Gambar 17. Tata Niaga Komoditas Ikan Kerapu di Pulau Pongok
Ikan kerapu hidup yang sudah menjadi komoditas ekspor mendorong beberapa nelayan untuk berkecimpung dalam bidang usaha ini. Penjualan ikan karang seperti ikan kerapu hidup cukup diminati pasar sehingga dapat digambarkan tata niaga ikan kerapu pada Gambar 17 mulai dari nelayan bubu, pengusaha KJA, eksportir kerapu, dan pembeli dari Hongkong.
5.4.1. Nelayan Bubu
Sebelum muncul pengusaha KJA, penjualan ikan karang seperti ikan kerapu dilakukan dengan menjual kerapu dalam kondisi mati atau dikenal sebagai ikan kerapu segar. Setelah adanya pengusaha KJA di Pulau Pongok, maka harga kerapu berangsur naik dan nelayan berusaha menjualnya dalam kondisi hidup.
Nelayan sangat terbantu dengan adanya peningkatan harga yang sangat signifikan ini sampai akhirnya ditemukan cara penangkapan ikan karang dengan menggunakan alat tangkap bubu di perairan Pulau Pongok. Berdasarkan wawancara dengan pejabat DKP Bangka Selatan, bubu diperbolehkan karena masih tergolong alat tangkap yang ramah lingkungan. Daerah penangkapan ikan dengan bubu oleh nelayan bubu Pulau Pongok hanya di sekitar perairan Kecamatan Lepar Pongok Kabupaten Bangka Selatan.
Gambar 18. Penjualan Kerapu selama 12 Bulan
Nelayan bubu di Pulau Pongok berjumlah 11 orang yang biasa dikenal dengan sebutan juragan (Lampiran 3). Masing-masing juragan memiliki 3 anak buah sehingga total dalam satu kapal adalah 4 orang anak buah kapal (ABK).
- 50,000,000 100,000,000 150,000,000 200,000,000 250,000,000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Rupiah
Bulan
Sumber : Wawancara dengan nelayan bubu dan pengusaha KJA Pulau Pongok
Waktu kerja atau melaut mulai pukul 9.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB, di mana waktu libur menyesuaikan dengan kebutuhan atau jika ada salah satu ABK yang terkena sakit. Tingkat kekeluargaan di Pulau Pongok masih tinggi, terbukti jika ada acara hajatan seperti pernikahan, mereka libur kerja dan bergotong royong untuk mempersiapkan kebutuhan pesta seperti membantu membuat panggung dan lain-lain. Mengenai sistem pembagian hasil dalam satu buah kapal yaitu untuk 1 orang juragan sebagai penyelam mendapat 2/5 bagian, dan untuk 3 orang ABK lainnya mendapat 3/5 bagian, dimana pembagian hasil tangkapan ini adalah setelah dipotong oleh ransum yang terdiri dari pembelian solar, stroom accu, dan lain-lain yang jumlahnya sekitar Rp 100.000,00/ trip melaut.
Jenis ikan kerapu yang biasa ditangkap diantaranya kerapu sunuk (Plectropomus areolatus), kerapu macan (E. fuscoguttatus), kerapu lumpur (E.
suillus), kerapu katarap (E. Lanceolatus), ikan rucah, dan ikan napoleon (Cheilinus undulatus). Khusus untuk ikan rucah tidak dijual ke pengusaha KJA namun dibagikan untuk ABK. Selain ikan dari bubu, mereka mendapat hasil tangkapan sampingan berupa teripang pasir (Holothuria scabra) jika secara kebetulan di lokasi penyelaman terdapat teripang. Untuk ikan yang dijual ke pengusaha KJA, setelah bubu diambil dari dasar perairan maka ikan kerapu hasil tangkapan ini segera ditusuk perutnya dengan ujung pemancar radio yang bertujuan agar ikan tidak terjadi dekompresi dan ikan dapat hidup dalam keramba.
Lokasi penyelaman di laut dibatasi pada jumlah sekitar 20 titik/hari dimana 10 titik dipergunakan untuk mengambil bubu yang sudah terpasang dan 10 titik lagi dipergunakan untuk memasang bubu yang baru. Setiap titik dicatat koordinatnya dengan alat bantu GPS garmin, dimana alat ini sangat bermanfaat bagi nelayan bubu dalam mempercepat pencarian lokasi yang akurat. Setiap titik penyelaman dipasang bubu secara berpasangan atau dua buah bubu di sekitar karang dengan mulut bubu menghadap searah datangnya arus air dengan masa perendaman selama 4 hari. Pemasangan mulut bubu searah arus air ini disesuaikan dengan tingkah laku ikan (fish behaviour) dimana kebiasaan ikan target mencari makanan dengan menentang arah arus perairan. Lokasi yang pernah dipasang bubu dapat dipasang bubu kembali setelah sekitar satu bulan atau lebih, hal ini dilakukan untuk memperolah hasil tangkapan yang diharapkan.
Kondisi bubu tidak tahan lama sehingga perlu pembaharuan, bubu biasa diganti setiap 3 bulan. Bahan dasar bubu di Pulau Pongok terdiri dari ram kawat dan rotan yang nantinya dirakit menjadi bubu oleh juragan dengan perhitungan tertentu berdasarkan jumlah lobang ram kawat. Setiap juragan biasa mempunyai bubu sebanyak 80 buah bubu, mengenai biaya bubu ini sepenuhnya ditanggung oleh pengusaha KJA dengan jaminan bahwa ikan tangkapan di jual kepada pengusaha KJA tersebut. Ikan hasil tangkapan dari bubu ini disetorkan kepada pengusaha KJA setiap pulang melaut, ditimbang dan dicatat yang nantinya dibayarkan setiap akhir bulan atau dibayarkan setiap awal bulan berikutnya.
Jumlah hasil tangkapan ikan kerapu tidak sama setiap bulan dalam setahun yaitu terdapat masa panen, panen standar, panen menurun, masa paceklik, dan masa istirahat (Gambar 18). Masa panen biasanya terjadi pada Bulan Februari, Maret, April, Oktober, dan Nopember dimana kondisi perairan menjadi bening, kecepatan arus dasar perairan sekitar 0,3 m/s. Panen standar biasanya terjadi pada Bulan Agustus dan September dimana hasil tangkapan ikan sekitar 50% dari masa panen yang normal. Panen menurun biasanya terjadi pada Bulan Mei dengan jumlah tangkapan ikan sekitar 85% dari masa panen yang normal dimana kondisi perairan menjadi bening dan kecepatan arus dasar perairan mulai mereda. Masa paceklik biasanya terjadi pada Bulan Juni dan Juli dengan jumlah tangkapan ikan sekitar 35% dari masa panen yang normal dimana kondisi perairan terjadi peralihan atau perubahan arah dan kecepatan arus dasar perairan. Masa istirahat dipergunakan untuk tidak melaut yaitu pada Bulan Desember dan Januari.
Istirahat dilakukan untuk menjaga keselamatan ABK (Anak Buah Kapal) karena pada bulan tersebut arus perairan menjadi kencang, gelombang tinggi, curah hujan tinggi, dan biasanya terjadi angin barat laut atau barat daya yang sangat kencang.
5.4.2. Pengusaha KJA
Sumber daya pesisir dan laut membutuhkan pengelolaan yang baik agar dalam pemanfaatannya dapat berkelanjutan. Berbicara mengenai budidaya kerapu sistem KJA sampai saat ini terdapat beberapa jenis yang menjadi andalan pengusaha KJA di Pulau Pongok yaitu kerapu sunuk (Plectropomus areolatus;
Polkadot cod), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus; Flowery cod), kerapu
lumpur (Epinephelus suillus; Mud grouper), kerapu katarap (Epinephelus lanceolatus; Queensland grouper), dan ikan napoleon (Cheilinus undulatus;
Double-headed maori wrasse) yang bibitnya diperoleh dari alam. Bibit yang sudah dapat diperbanyak di hatchery yaitu jenis ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis;
Barramundi cod) dan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh sampai saat ini, benih kerapu tikus untuk kebutuhan di Kabupaten Bangka Selatan dapat diperoleh dari hatchery skala rumah tangga di Kabupaten Belitung, sedangkan benih kerapu macan dapat diperoleh dari Kota Batam. Selain mengandalkan tangkapan dari alam, pengusaha KJA di Pulau Pongok sudah mulai merintis pembesaran ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) dalam satu lobang keramba namun kondisinya masih berukuran kecil karena baru sekitar satu bulan. Dalam penelitian ini, kita akan memperdalam informasi tentang budidaya ikan kerapu hasil tangkapan dari alam oleh nelayan bubu di perairan Kecamatan Lepar Pongok yang dijual kepada pengusaha KJA di Pulau Pongok.
5.4.2.1. Sarana Prasarana Budidaya Kerapu
Sarana pokok dalam budidaya kerapu adalah rakit atau keramba jaring apung yang dilengkapi dengan rumah jaga. Sarana KJA di perairan Pulau Pongok dirakit sendiri oleh pengusaha KJA (dibantu oleh tukang bas) yang pengadaan barangnya dibeli dari Kabupaten Belitung karena akses Pulau Pongok melalui laut lebih dekat dari Kabupaten Belitung. Khusus mengenai pengadaan kayu diperoleh dari Pulau Pongok berupa batang kayu kelapa atau kayu keras lainnya seperti kayu gelam. Pengusaha KJA sampai saat ini memiliki alat penunjang perahu yang sudah dilengkapi dengan GPS, timbangan, genset, wadah fiber glass, wadah drum plastik, dan lain-lain.
Untuk lokasi penangkaran berada di perairan antara Pulau Pongok dan Pulau Celagen dengan luas yang dimanfaatkan untuk budidaya menggunakan KJA sekitar 800 m2 atau panjang 40 m x lebar 20 m sudah termasuk dua buah rumah jaga, dengan ukuran satu lobang KJA berukuran panjang, lebar, dan tinggi sebesar 3 m x 3 m x 3 m. Keramba yang dibuat menunjukan satu hamparan atau satu unit dengan jumlah lobang sekitar 78 lobang keramba. Namun demikian, keramba
yang efektif digunakan sebanyak 64 lobang keramba, selebihnya digunakan untuk penyortiran ikan atau tidak dipasang jaring pada beberapa lobang keramba.
5.4.2.2. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang bekerja untuk budidaya kerapu ini sebanyak 6 orang termasuk pengusaha KJA. Kebutuhan makan dan penginapan pegawai KJA di Pulau Pongok dilakukan di atas keramba yang pengeluaran biayanya ditanggung oleh pengusaha KJA. Rekrutmen tenaga kerja biasanya dilakukan berdasarkan hubungan keluarga yang selanjutnya dibina agar terampil bekerja di atas keramba.
Sistem upah tenaga kerja menyesuaikan dengan aturan UMK (Upah Minimum Kabupaten) di Kabupaten Bangka Selatan, alokasi upah tenaga kerja dapat dilihat pada Lampiran 10.
5.4.2.3. Penanganan Bibit Kerapu
Sebagaimana diuraikan di atas bahwa pasokan benih atau bibit kerapu yang ditangkarkan dari alam berasal dari nelayan bubu. Ikan kerapu hidup yang terperangkap dalam bubu ini, oleh nelayan bubu dibawa ke lokasi KJA kemudian ditimbang dan dicatat beratnya. Ikan kerapu selanjutnya dikumpulkan dalam satu lobang keramba dan siap-siap untuk disuntik vitamin serta direndam dengan air tawar dan obat cefotaxime sekitar 5 sampai dengan 10 menit. Selama perendaman, jika ikan terdapat parasit biasanya akan rontok dan keluar dari tubuh ikan kerapu.
Tahap selanjutnya, ikan kerapu disortir untuk dimasukan ke dalam keramba sesuai ukuran kelompoknya. Penyortiran sangat penting agar dalam kompetisi makan tidak ada yang tersingkirkan atau kalah bersaing dalam memperebutkan makanan.
Masa pemeliharaan diupayakan sampai berat tubuh lebih dari 1 kg/ekor biasanya ditangkarkan sekitar 6 bulan. Waktu sekitar 6 bulan ini, selain untuk meningkatkan bobot kerapu berfungsi juga untuk menghilangkan sifat liar dari ikan kerapu sehingga menjadi jinak. Ikan kerapu yang hidup (survival rate) biasanya mencapai sekitar 60%, ikan yang mati masih dapat dimanfaatkan menjadi kerupuk ikan kerapu. Kepadatan ikan kerapu biasanya sekitar 240 ekor/lobang keramba. Masa panen ikan kerapu biasanya sampai ukuran lebih dari 1 kg/ekor untuk selanjutnya dijual ke eksportir di Kabupaten Belitung.
5.4.2.4. Penanganan Pakan
Ikan kerapu biasa diberi pakan dengan ikan rucah (ikan petek, japuh, tanjan, kurisi, dan ikan lainnya) yang diperoleh dari penangkap ikan menggunakan bagan, nama-nama nelayan bagan dapat dilihat pada Lampiran 4. Pemberian pakan dengan cara ikan rucah disisik dan dipotong sekitar 4 sampai 6 bagian/ikan, hal ini untuk mempermudah ikan kerapu dalam menelan makanannya. Waktu pemberian pakan dilaksanakan pagi dan sore hari sekitar pukul 09.00 – 10.00 WIB dan 16.00 – 17.00 WIB. Dosis pakan tidak diatur secara ketat, namun disesuaikan menurut kebutuhan saja yaitu pemberian pakan dihentikan setelah nafsu makan ikan berkurang. Pada musim dimana pasokan ikan rucah kurang maka pemberian pakan dilakukan seadanya. Pada musim ikan rucah berlimpah maka pemberian pakan sekitar 8 sampai dengan 10 kg/lobang keramba per hari.
5.4.2.5. Hama dan Penyakit pada Ikan Kerapu
Hama dan penyakit pada ikan kerapu merupakan hal yang sering terjadi di lokasi KJA. Pengusaha KJA mengungkapkan jika tidak ada hama dan penyakit maka potensi keuntungan akan semakin besar. Potensi kematian akibat hama yaitu ikan kerapu terserang parasit berupa kutu air (Nerocila sp) yang dapat menggerogoti insang dan badan kerapu pada malam hari. Pada saat perendaman ikan kerapu dengan air tawar, kutu air dari ukuran seperti ampas nasi sampai ukuran sekitar 1 cm dapat terpisah dari tubuh ikan. Kutu air yang seperti ampas nasi dapat terlihat putih di dasar wadah perendaman, sedangkan kutu air yang berukuran besar biasa terlepas dari insang kerapu ataupun harus diambil manual dari insang kerapu. Jika sudah diserang kutu air yang muncul pada malam hari, ikan kerapu yang terkena kutu air biasanya badannya luka dan dalam kondisi lemah sehingga dapat dibedakan dari ikan lainnya yang sehat. Sunyoto (1997) menyebutkan bahwa Nerocila sp termasuk golongan crustacea (hewan yang beruas-ruas) dan bersifat vivivar, yaitu telur diinkubasi di bagian sisi bawah perut, setelah menetas baru dilepas agar berenang bebas dan menyerang ikan lain.
Ukuran tubuh Nerocila sp yang dewasa sekitar 2-3 cm dan mudah dilihat dengan mata. Biasanya Nerocila sp menyerang bagian insang ikan sehingga pernafasan ikan terganggu, terkadang ditemukan di rongga hidung ikan yang berukuran besar.
Penyakit ikan kerapu yang ditemui di perairan Pulau Pongok yaitu terserang penyakit gila ikan atau seperti sakit maag pada manusia dengan ciri-ciri kepala berputar-putar di permukaan keramba. Hal ini terjadi mungkin akibat ikan berkompetisi dalam memperoleh makanan dan akhirnya kalah sehingga tidak kebagian makanan. Ikan yang sakit ini dapat bertahan berhari-hari, ada yang dapat sembuh serta ada juga yang mengalami kematian.
5.4.2.6. Masa Panen Kerapu
Masa panen dilakukan sampai berat tubuh lebih dari 1 kg/ekor dengan harga jual Rp 180.000,00/kg. Untuk mencapai ukuran demikian, biasanya kerapu ditangkarkan sekitar 6 bulan. Harga ikan kerapu yang kurang dari 1 kg biasanya harga ikan lebih murah sehingga belum saatnya untuk dijual. Penjualan ikan kerapu dilakukan setiap bulan secara kontinyu dengan cara kapal dari eksportir di Kabupaten Belitung datang menjemput ikan kerapu di Pulau Pongok yang sebelumnya sudah ada komunikasi bahwa ikan siap dijual. Sistem pembayaran terkadang dilakukan saat ikan kerapu dipanen di Pulau Pongok atau pembayaran dengan mengambil uang ke tempat eksportir kerapu di Kabupaten Belitung.
5.4.3. Eksportir Ikan Kerapu
Penelitian ini dibatasi untuk budidaya kerapu di perairan Pulau Pongok sehingga tidak terlalu banyak dalam mengupas kegiatan eksportir kerapu di Kabupaten Belitung. Informasi yang diperoleh bahwa relasi penjualan ikan kerapu yang siap di ekspor bertujuan ke Hongkong, di mana kapal Hongkong ini singgah dahulu menjemput ikan dibeberapa titik lokasi diantaranya Kepulauan Riau, Mentawai, Lampung, dan Kepulauan Seribu. Setelah ada komunikasi sebelumnya antara eksportir di Kabupaten Belitung dengan pembeli kerapu di Hongkong, kapal ikan yang siap mengangkut kerapu akan masuk ke Kabupaten Belitung dengan kuota minimal ikan kerapu sebanyak 2 ton yang siap di ekspor. Sistem pembayaran biasanya secara transfer. Kendala yang pernah dihadapi ketika ikan sudah siap di ekspor dan kapal sudah diberangkatkan dari Hongkong namun di tengah perjalanan sekitar perairan Kepulauan Riau kapal ini dibajak sehingga mengalami keterlambatan datang ke Kabupaten Belitung. Jika hal ini terjadi maka akan berakibat pada membengkaknya biaya pakan bagi eksportir kerapu.
5.5. Kelayakan Ekonomi
Kelayakan suatu usaha memerlukan pertimbangan secara ekonomi, jika dalam periode yang sama terdapat beberapa usulan usaha perikanan yang ternyata layak untuk direalisasikan namun dana terbatas maka perlu dilakukan urutan prioritas terhadap pemilihan usaha-usaha perikanan tersebut sehingga diperlukan penilaian investasi dan analisis dalam urutan prioritasnya. Budidaya laut dengan sistem keramba jaring apung (KJA) dalam hal ini pembesaran ikan kerapu yang bibitnya diambil dari alam, merupakan salah satu pilihan dalam pengembangan kawasan yang ramah lingkungan di Kecamatan Lepar Pongok agar usaha tersebut dapat berkelanjutan. Selain usaha yang berkelanjutan, daya dukung lingkungan harus diperhatikan sehingga suatu saat bibit dari alam harus digantikan dengan bibit dari hatchery atau pengambilan bibit dari alam harus dikurangi agar stok di alam tidak terkuras. Budidaya kerapu yang sudah berhasil pembenihannya dalam hatchery seperti kerapu tikus dan kerapu macan.
Untuk mengetahui kelayakan usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA memerlukan informasi seperti besarnya nilai investasi, biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan, pendapatan yang diperoleh dari nilai jual hasil panen, serta kewajiban membayar pinjaman bank jika perolehan sebagian modal dari hasil pinjaman ke bank. Studi kasus budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA di perairan Pulau Pongok Kabupaten Bangka Selatan akan mendalami KJA milik Bapak Hendri dengan jumlah 64 lobang keramba efektif dari 78 lobang keramba yang ada dengan periode panen selama 6 bulan. Suatu saat, pengambilan bibit dari alam harus dibatasi dan mulai diupayakan bibit dari hatchery. Perlu adanya gambaran perbandingan usaha budidaya ikan kerapu sunuk, kerapu macan, dan kerapu tikus dengan investasi yang relatif sama untuk melihat keuntungan sehingga diperoleh prioritas investasi budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA.
Analisis kelayakan usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA dalam penilaian investasinya menggunakan beberapa metode seperti perhitungan Revenue Cost ratio (R/C), Payback Period (PP), Break Even Point (BEP), Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), dan Internal Rate of Return (IRR). Asumsi-asumsi yang digunakan seperti tingkat bunga diskonto (discount rate) sebesar 12% (mempertimbangkan komunikasi dengan Bapak