• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri yang menimbulkan infeksi di paru-paru, sedangkan TB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri yang menimbulkan infeksi di paru-paru, sedangkan TB"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakter/kuman Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri ini dapat hidup lama sampai berbulan-bulan di tempat yang lembab dan dingin. Penyakit tuberkulosis memiliki dua jenis yaitu TB paru dan TB extrapulmoner. TB paru disebabkan oleh bakteri yang menimbulkan infeksi di paru-paru, sedangkan TB extrapulmoner diakibatkan oleh bakteri yang bisa masuk ke pembuluh darah dan meluas hingga ke seluruh tubuh seperti tulang, sendi, selaput otak dan lainnya (Carolus, 2017). Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang dapat menular pada saat klien batuk dan bersin. Bakteri TB akan menyebar melalui udara yang berbentuk droplet (percikan dahak) bila seseorang menghirup droplet tersebut maka orang lain akan terinfeksi (Husnaniyah, 2017b).

Dengan begitu penyakit tuberkulosis akan sangat cepat dalam penyebarannya dan menginfeksi manusia terutama bagi kelompok sosial ekonomi yang rendah dan kurang gizi. Kecepatan penyebaran dan infeksi penyakit TB paru sangatlah tinggi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa penyakit TB Paru menjadi penyakit yang mematikan (Yuliana, Nauli, & Novayelinda, 2012).

(2)

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat pravalensi penyakit TBC secara global dengan kasus baru sebanyak 6,4 juta. Penyakit tuberculosis menjadi 10 penyakit yang menyebabkan kematian tertinggi didunia yang diperkirakan kematian secara global sebesar 1,3 juta pasien(Primadi, 2018).

Diperkirakan sepertiga dari populasi dunia sudah tertular TB paru, dimana sebagian besar penderita TB paru adalah usia produktif (15-50 tahun) (Husnaniyah, 2017). Di negara berkembang penyakit tuberculosis menjadi masalah besar terutama di negara Indonesia karena jumlah kasus tuberkulosis meningkat pada tahun 2018 yang ditemukan sebanyak 566.623 kasus, dibandingkan kasus tuberkulosis yang ditemukan pada tahun 2017 sebanyak 446.732 kasus. Jumlah kasus penyakit TBC tertinggi yang dilaporkan terdapat di provinsi yang memiliki jumlah penduduk yang besar yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kasus tuberkulosis di tiga provinsi tersebut sebesar 44% dari jumlah seluruh kasus tuberkulosis di Indonesia. Diseluruh Indonesia masing masing provinsi, kasus TBC berpotensi menyerang lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan yaitu 1,3 kali dibandingkan pada perempuan (Primadi, 2019). Selain itu penderita TB paru juga mempunyai tanda gejala fisik dan psikolgis (Bachtiyar, 2015). Dikota Malang terutama di Puskesmas Dinoyo ditemukan kasus tuberkulosis paru sebanyak 75 pasien rawat jalan dengan rentang umur 19-40 tahun. Peneliti melakukan penelitian di Puskesmas Dinoyo karena di Puskesmas Dinoyo tersebut belum ada yang melakukan penelitian terhadap pasien TB paru dan dengan judul penelitian hubungan antara dukungan sosial dengan harga diri pada penderita tuberkulosis paru.

(3)

Tanda gejala fisik yang sering di jumpai pada penderita TB paru yaitu batuk berdahak selama kurang lebih 2 minggu, dengan gejala tambahan seperti batuk berdarah, sesak nafas sampai nyeri dada, nafsu makan menurun, berat badan menurun, badan menjadi lemah dan malaise, selalu berkeringat malam meskipun tidak beraktivitas dan demam (Berkanis & Meriyanti, 2019).

Penyakit TB paru tidak hanya menimbulkan tanda gejala secara fisik bagi klien namun juga berdampak psikologis dan sosialnya seperti merasa malu dan tidak berharga bagi keluarga dan masyarakat yang menyebabkan individu memilki harga diri rendah (Yuliana et al., 2012). Presentase dari gambaran klinis yang didukung oleh penelitian mengungkapkan bahwa sebagian besar klien TB paru memiliki harga diri yang rendah yaitu sebanyak 54 orang (61,4%) dari total 88 responden (Bachtiyar, 2015). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan melalui wawancara dengan petugas puskesmas di klinik tb paru yang bertempat di Puskesmas Dinoyo, dikatakan bahwa sebagian besar pasien memiliki harga diri rendah karena malu dengan penyakit yang bisa menular yang berakibatkan pasien tersebut mengisoloasi dirinya.

Harga diri adalah peniliaian individu terhadap dirinya sendiri dengan hasil yang dicapai dengan menganalisis kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya (Berkanis & Meriyanti, 2019). Individu yang memiliki harga diri yang tinggi cenderung penuh keyakinan dan kompetensi sehingga bisa mengatasi masalah-masalah dalam kehidupannya. Sebalik jika individu mempunyai harga diri rendah sering menunjukkan perilaku yang tidak percaya diri dan memandang dirinya sebagai orang yang tidak berguna baik dari segi akademik,

(4)

interaksi sosial dan keadaan fisiknya (Husnaniyah & Lukman, 2017). Dampak harga diri rendah dapat menyebabkan penghambat keberhasilan pengobatan TB paru. Hal ini didukung oleh penelitian lain yang mengungkapkan bahwa faktor pendukung keberhasilan pengobatan TB paru adalah harga diri yang tinggi klien TB paru (Bachtiyar, 2015). Harga diri yang tinggi dapat di peroleh dari diri sendiri dan dukungan sosial seperti dicintai, dihormati dan dihargai untuk penderita TB paru (Berkanis & Meriyanti, 2019).

Dukungan sosial merupakan dukungan yang diterima oleh individu yang berada dalam lingkungan soial tertentu seperti pasangan (suami/istri), orangtua, anak, sanak keluarga teman, tetangga, tim kesehatan dan konselor yang membuat penerima merasa dicintai, diperhatikan dan dihargai (Witjaksono, 2016). Dukungan sosial dari segi fungsionalnya mencakup Dukungan emosional yang berupa menunujukan kasih sayang, ungkapan empati, perhatian, dan kepedulian. Dukungan penghargaan yang berupa motivasi, dihargai dan diterima masyarakat. Dukungan informatif yang berupa dukungan berupa informasi, nasehat dan saran. Dukungan instrumental, yang berupa bantuan materi atau pelayanan tertentu. Orang dengan dukungan sosial mempercayai bahwa mereka dihargai, dicintai dan menjadi bagian dari komunitas sosial. Hal ini bermanfaat untuk meningkatkan harga diri penderita dan bermanfaat bagi kesehatan psikis seseorang yang mempunyai penyakit kronis (Witjaksono, 2016).

(5)

Berdasarkan fenomena diatas, dapat disimpulkan bahwa penyakit Tuberkulosis paru mempunyai harga diri yang rendah karena gejala yang dialaminya, namun dengan adanya dukungan sosial bisa meningkatkan kesehatan psikologinya. Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk meneliti apakah ada hubungan antara dukungan sosial dengan harga diri pada penderita tuberkulosis paru

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas maka rumusan masalahnya dalam penelitian ini : “Apakah ada Hubungan antara dukungan sosial dengan harga diri pada penderita tuberkulosis paru di Puskesmas Dinoyo?”

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui apakah ada hubungan antara dukungan sosial dengan harga diri pada penderita tuberkulosis paru.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi dukungan sosial pada penderita tuberkulosis paru

2. Mengidentifikasi harga diri pada penderita tuberkulosis paru 3. Menganalisis hubungan antara dukungan sosial dengan harga

diri pada penderita tuberkulosis paru.

(6)

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Tenaga Kesehatan

Memberikan Informasi kepada tenaga kesehatan tentang pentingnya hubungan antara dukungan sosial dengan harga diri pada penderita tuberkulosis paru.

1.4.2 Bagi Institusi Kesehatan

Hasil penelitian ini dijadikan sebagai bahan masukan dan informasi pada institusi kesehatan tentang pentingnya hubungan antara dukungan sosial dengan harga diri pada penderita tuberkulosis paru.

1.4.3 Bagi Masyarakat

Sebagai saran dan gambaran bagi masyarakat penderita tuberkulosis paru tentang pentingnya hubungan antara dukungan sosial dengan harga diri.

1.5 Keaslian Penelitian

Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya memiliki hubungan dengan penelitian yang akan di lakukan oleh penulis, sebagai berikut :

1. Peneliti yang dilakukan oleh (Hafidz, 2015b) dengan judul

“Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Harga Diri Pasien Rawat Inap Tuberkulosis Paru Di Rs. Paru Jember Kabupaten – Jember” penelitian ini menggunakan desain desain korelasi dengan pendekatan cross sectional dengan responden sejumlah 44 di Di Rs. Paru Jember Kabupaten – Jember. Penelitian ini menggunakan teknik

(7)

pengambilan sampel Probability Sampling dengan purposive sampling.

Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil analisa diperoleh bahwa 25 klien memiliki dukungan keluarga baik (56,8%) dan 28 klien memiliki harga diri yang tinggi (63,6%). Hasil analisis data dengan Spearman rho pada α=0,05 diperoleh significant correlation 0,000 dan correlation coefficient 0,616 yang artinya bahwa adanya hubungan yang kuat antara dukungan keluarga pasien rawat inap tuberkulosis paru di RS Paru Jember Kabupaten Jember tahun 2015. Penelitian ini direkomendasikan kepada keluarga klien tuberkulosis agar lebih memberikan dukungan kepada klien demi memenuhi kebutuhan psikologisnya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

2. Peneliti yang dilakukan oleh (Husnaniyah, 2017) dengan judul

“Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Harga Diri (Self Esteem) Penderita Tuberkulosis Paru Di Wilayah Eks Kawedanan Indramayu” penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional study.

Pengambilan sampel dengan tekhnik total sampling sebanyak 45 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita TB Paru memiliki harga diri tinggi sejumlah 23 klien (51,1%), harga diri rendah sejumlah 22 klien (48,9%), mendapatkan dukungan keluarga 26 klien (57,8%), tidak mendapatkan dukungan keluarga 19 klien (42,2%).

Klien yang memiliki dukungan keluarga yang tinggi maka harga diri klien juga tinggi dibandingkan klien yang tidak mendapatkan dukungan keluarga yaitu 69,6% dengan nilai p value = 0,047 (<0,05).

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan dukungan

(8)

keluarga dengan harga diri penderita TB Paru. Hasil penelitian ini bisa diterapkan untuk memberikan konseling pentingnya dukungan keluarga bagi penderita TB paru

3. Peneliti yang dilakukan oleh (Yulita, 2017) dengan judul “Hubungan Dukungan Sosial Dengan Harga Diri Pasien Kemoterapi Di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Panti Nirmala Malang” penelitian ini menggunakan desain correlation dengan metode pendekatan cross sectional. Responden yang digunakan dalam penelitain ini adalah,

pasien kanker yang melakukan kemoterapi di Rumah Sakit Panti Nirmala Malang sebanyak 36 orang. Pengambilan sampel menggunakan cara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan dianalisis menggunakan uji statistik Spearman Rank dengan derajat kemaknaan 0,05. Hasil penelitian ini didapatkan 69,5% klien dengan dukungan sosial yang baikdan 66,7% klien dengan harga diri yang tinggi. Hasil analisis bivariate menunjukkan p value + 0,001< α 0,05 yang berarti ada hubungan dukungan sosial dengan harga diri pasien kemoterapi. Hasil penelitian ini diharapkan lingkungan sosial mampu memberikan dukungan pada pasien kemoterapi agar pasien bisa meningkatkan mekanisme koping positif sehingga nantinya tidak akan terjadi harga diri rendah yang dapat menggangu kehidupan sosial.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

(1) Proses perencanaan supervisi berisi pembentukan jadwal supervisi dan instrumen penilaian supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah dan wakasek kurikulum, (2)

Hasil penelitian menunjukkan secara simultaan (bersama-sama) menunjukkan perbedaan Keamanan Kerja sebesar 30,0%, Kesehatan Kerja sebesar 43% dibandingkan

saling hapus dan nilai netonya disajikan dalam laporan posisi keuangan jika, dan hanya jika, terdapat hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas

Untuk membuat Modul ini penulis membuat struktur navigasi dan storyboard dengan menggunakan Macromedia Flash MX 2004 serta komponen-komponen lainnya yang mendukung proses

Oriflame merupakan sebua h perusahaan kosmetik dan perawatan wajah yang mempunyai sistem penjualan langsung (direct selling) yang berkembang paling cepat di dunia. Penulisan Ilmiah

Hasil dari tugas akhir ini berupa JSON web service yang dapat diakses oleh dua aplikasi yang berbeda platform, serta fungsi-fungsi web service yang dapat digunakan oleh lebih