• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan vokasi merupakan jalur pendidikan penting yang dapat digunakan untuk membangun SDM Indonesia yang memiliki daya saing global, karena untuk menjadi negara maju tidak hanya ilmuwan dan tenaga ahli saja yang diperlukan tetapi juga memerlukan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai bidangnya. (Hermawan, 2017; Soesatyo, 2018; Hikam, 2017)

Hermawan Kartajaya saat memberi kuliah umum di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang dikutip oleh Okezone.com (2017), menuturkan kesuksesan seseorang dapat dicapai melalui tiga hal yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan dimana pengetahuan bisa didapatkan melalui pembelajaran secara teoritis dan keterampilan melalui praktik yang harus diasah. Hal itu menunjukkan bahwa titik penting pendidikan vokasi yaitu dalam pelaksanaannya lebih menekankan pada pelatihan keterampilan dibanding teoritisnya.

Sejalan dengan Hermawan, Bambang Soesatyo ketua DPR RI yang dilansir oleh Teropong Senayan.com (2018) mengemukakan bahwa tidak hanya ilmuan dan tenaga ahli yang diperlukan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju, namun dibutuhkan juga tenaga kerja yang memiliki keterampilan pada bidang yang digelutinya.

(2)

2

Pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat dari Hikam selaku Mantan Menteri Riset dan Teknologi yang dikutip okezone.com (2017), menuturkan bahwa untuk membangun SDM Indonesia yang memiliki daya saing global salah satunya dapat dilakukan melalui pendidikan vokasi.

Salah satu pendidikan vokasi dari uraian diatas adalah di tingkat pendidikan menengah atau yang sering disebut SMK, Djojonegoro (dalam Sudira, 2012: 38) memaparkan bahwa pendidikan kejuruan memiliki fungsi-fungsi yang bila dilaksanakan dengan baik dapat memberikan kontribusi besar terhadap tercapainya tujuan pembangunan nasional. Sebuah bentuk pendidikan dasar dalam keterampilan, pengembangan bakat, maupun kebiasaan yang mengarahkan pada dunia kerja merupakan salah satu definisi dari pendidikan kejuruan, hal tersebut diungkapkan oleh Hamalik (2001:24). Sistem pendidikan dimana mempersiapkan sekelompok maupun seseorang supaya memiliki kemampuan yang lebih dalam bekerja di suatu lingkungan pekerjaan bidang tertentu merupakan definisi dari pendidikan kejuruan, hal tersebut diuangkapkan oleh Evans dalam Muliati (2007:7). Kemudiian definisi lain tentang pendidikan kejuruan oleh Djohar (2007:1285) yaitu sebuah program pendidikan yang disiapkan bagi peserta didik supaya memiliki kesiapan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan menjadi tenaga kerja yang profesional. Sehingga dari beberapa pendapat diatas secara keseluruhan pendidikan vokasi

(3)

3

memiliki peran yang cukup penting dalam membangun daya saing global khususnya SMK dalam pendidikan nasional merupakan bentuk dari satuan pendidikan yang berorientasi untuk membekali siswa dalam memasuki dunia kerja ditingkat menengah dan sesuai dengan kekhususannya melanjutkan lagi pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan dasar dalam keterampilan, pengembangan bakat, maupun kebiasaan yang mengarahkan pada dunia kerja merupakan bekal yang siswa dapatkan di SMK.

Pembelajaran pun tidak hanya dilakukan di sekolah, namun diikuti dengan kegiatan praktik kerja lapangan di dunia kerja nyata yang bertujuan untuk meningkatkan pengalaman belajar dan ketrampilan bekerja siswa.

Dalam rangka meningkatkan pengalaman belajar dan ketrampilan bekerja siswa tentunya tidak bisa jika hanya dilakukan oleh pihak sekolah. Untuk itu diperlukan keterkaitan antara dunia- dunia perindustrian dengan dunia pendidikan serta stakeholder dalam masyarakat. Dalam mengembangkan pengetahuan maupun ketrampilan di sekolah sebaiknya disesuaikan dengan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, dengan harapan supaya pendidikan bermakna dan dapat meningkatkan taraf hidup bagi masyarakat.

Namun menurut data BPS yang dikutip CNN (2018), terdapat berbagai masalah yang dihadapi untuk mencapai tujuan pendidikan SMK. Salah satu yang harus dihadapi adalah teori-teori yang siswa dapatkan selama sekolah tidak dapat diterapkan secara langsung setelah mereka lulus sekolah. Hal tersebut membuat dunia industri

(4)

4

meninggalkan sekolah karena tidak ada lingkage. Padahal relevansi/ kesesuaian antara dunia pendidikan dengan dunia rill merupakan sebuah kebutuhan mendesak yang harusnya direalisasikan. Selain itu dipaparkan juga dampak terbesar yang bisa dirasakan adalah tingginya angka pengangguran dari lulusan SMK di banding lulusan jenjang pendidikan lain dengan angka 11,41% karena daya serap industri dengan jumlah angkatan kerja yang tidak seimbang.

Disamping itu terdapat pula masalah mengenai kurangnya apresiasi terhadap lulusan pendidikan vokasi. Sigit Pranowo Ketua Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia di laman berita online kompasmania.com (2019) mengungkapkan bahwa penghargaan terhadap lulusan vokasi selama ini masih terbilang rendah, baik di tingkat SMK maupun Diploma. Menurutnya hal tersebut dilihat dari penerimaan pegawai yang selalu mencari dan lebih memprioritaskan lulusan sarjana, yang sangat terlihat jelas pada saat pendaftaran PNS dimana peluang bagi lulusan vokasi masih sangat langka.

Sejalan dengan Pranowo, Junior Priabhuana Ketua BEM Vokasi Universitas Indonesia tahun 2015 saat diwawancara oleh Tirto.id (2018) mengatakan bahwa masih sering terjadi lulusan pendidikan vokasi yang dipandang sebelah mata baik dalam hal bersosialisasi maupun dalam memperoleh tempat kerja, bahkan menurutnya upah kerja yang didapatkan lebih rendah dari lulusan program sarjana.

(5)

5

Sejalan dengan uraian diatas, hasil penelitian Ixtiarto &

Sutrisno (2016) tentang kemitraan SMK dengan Du/Di menyatakan bahwa kemitraan yang dilakukan bersama Du/Di kurang optimal, sehingga kompetensi peserta didik terhadap tempat kerja yang ditempati setelah lulus belum menunjukan kesesuaian. Hasil penelitian Ngadi (2014) tentang relevansi/ kesesuaian antar pendidikan kejuruan dengan pasar kerja yang ada di kota Salatiga menyatakan bahwa masih terdapat 12% lulusan dari SMK tidak terserap pada dunia kerja. Penelitian Sriyono, dkk (2015) tentang studi eksplorasi keterserapan lulusan SMKN di kota Bandung menyatakan bahwa keterserapan lulusan SMK masih kurang dari setengah.

Kondisi serupa juga terjadi pada SMK PGRI 1 Salatiga.

Lulusan SMK yang dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja, ternyata juga rendah kesesuaian kerjanya di dunia kerja. Seperti diketahui Program Keahlian Keperawatan SMK PGRI 1 Salatiga telah meluluskan siswa sebanyak 3 angkatan yaitu angkatan yang pertama pada tahun 2017, angkatan kedua pada tahun 2018, dan angkatan ketiga pada tahun 2019. Namun berdasarkan wawancara dengan BKK (Bursa Kerja Khusus) dan data operator di SMK PGRI 1 Salatiga, sebagian besar lulusan Keperawatan bekerja tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Hal tersebut terlihat pada tabel berikut:

(6)

6

Tabel 1.1 Kesesuaian Kerja Lulusan Program Keahlian Keperawatan SMK PGRI 1 Salatiga

No Tahun Lulus

Lulusan

Pekerjaan Linier

Pekerjaan

Tidak Linier Studi ke PT

% % %

1. 2017 80 5 6,25 55 68,75 20 25

2. 2018 40 8 20 20 50 12 30

3. 2019 75 20 26,7 30 40 25 33,3

Sumber: data operator dan BKK SMK PGRI 1 Salatiga tahun 2019

Berdasarkan data pada tabel diatas terlihat bahwa keterserapan lulusan program keahlian keperawatan SMK PGRI 1 Salatiga, untuk Pekerjaan Linier selalu mendapatkan prosentase terkecil dibanding Pekerjaan Tidak Linier dan Studi ke Perguruan Tinggi, yaitu: 6,25% di tahun 2017, 20% di tahun 2018 dan 75%

di tahun 2019.

Selain itu terjadi ketidakstabilan pada jumlah peserta didik baru di program keahlian keperawatan, yang dapat ditemukan pada grafik berikut:

(7)

7

Sumber: data operator SMK PGRI 1 Salatiga tahun 2014 sampai 2020

Pada grafik tersebut tampak bahwa jumlah penerimaan peserta didik baru tidak stabil meningkat, bahkan mengalami penurunan pada tahun ajaran 2017-2018 hingga 2019-2020.

Merujuk pada temuan diatas, dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan pada Program Keahlian Keperawatan yang masih terus berjalan diperlukan kegiatan evaluasi penyelenggaraan program. Kegiatan evaluasi tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui sejauh mana ketercapaian, kekurangan dan kebijakan tindaklanjut yang perlu dilakukan oleh sekolah guna meningkatkan kemajuan Penyelenggaraan Program Keahlian Keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga.

Evaluasi program merupakan serangkaian dari sebuah kegiatan yang memiliki tujuan untuk melihat sejauh mana tingkat keberhaasilan sebuah program. Selain itu tujuan dari evaluasi

80

40

75

186

117 115

2014- 2015

2015- 2016

2016- 2017

2017- 2018

2018- 2019

2019- 2020 siswa

Grafik 1.1 Penerimaan Peserta Didik Baru Program Keahlian Keperawatan SMK PGRI 1 Salatiga

(8)

8

program itu sendiri untuk menunjukan sumbangan sebuah program dalam mencapai tujuan organisasi dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keberlanjutan dari program tersebut, apakah progam akan diteruskan, diperbaiki maupun dihentikan.

Model yang sesuai dengan latar belakang penelitian ini yakni model evaluasi CIPP yang diprakarsai oleh Stufflebeam.

Komponen evaluasi CIPP adalah Context, Input, Process, Product yang masing-masing komponen memiliki tujuan. Mulyatiningsih (2011: 124) berpendapat bahwa evaluasi CIPP merupakan evaluasi formatif yang bertujuan untuk mengambil sebuah keputusan serta perbaikan terhadap program. Meskipun terdapat penelitian sejenis, namun penelitian ini memiliki kebaharuan untuk memberikan kontribusi dalam merencanakan dan mengembangkan kurikulum pada Program Keahlian Keperawatan khususnya tingkat SMK.

Oleh karena itu guna mengetahui bagaimana Penyelenggaraan Program Keahlian Keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga, maka penelitian ini diberi judul Evaluasi Penyelenggaraan Program Keahlian Keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga TA. 2018/2019

1.2. Rumusan Masalah

Pada penelitian ini terdapat rumusan masalah yang didasarkan dari latar belakang penelitian diatas, yaitu:

1.2.1. Bagaimanakah Context Penyelenggaraan Program Keahlian Keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga TA.2018/2019?

(9)

9

1.2.2. Bagaimanakah Input Penyelenggaraan Program Keahlian Keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga TA.2018/2019?

1.2.3. Bagaimanakah Process Penyelenggaraan Program Keahlian Keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga TA.2018/2019?

1.2.4. Bagaimanakah Product Penyelenggaraan Program Keahlian Keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga TA.2018/2019?

1.3. Tujuan Penelitian

Melalui evaluasi program Keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga, tujuan utama/dasar penelitian ini yakni untuk memberi rekomendasi dalam perbaikan dalam pengelolaan dan keberlangsungan Program Keahlian Keperawatan. Berdasar pada latar belakang penelitian dan rumusan masalah penelitian, maka tujuan dalam penelitian ini yaitu:

1.3.1. Mengevaluasi Context Penyelenggaraan Program Keahlian Keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga TA.2018/2019.

1.3.2. Mengevaluasi Input Penyelenggaraan Program Keahlian Keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga TA.2018/2019.

1.3.3. Mengevaluasi Process Penyelenggaraan Program Keahlian Keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga TA.2018/2019.

1.3.4. Mengevaluasi Product Penyelenggaraan Program Keahlian Keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga TA.2018/2019.

(10)

10 1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini antara lain:

1.4.1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan untuk menambah bahan kajian pengetahuan khususnya dalam bidang manajemen pendidikan, lebih spesifik lagi tentang Evaluasi Program Keahlian Keperawatan. Selain itu hasil penelitian juga diharapakan dapat digunakan peneliti lain yang hendak melakukuan penelitian sejenis sebagai bahan rujukan.

1.4.2. Manfaat Praktis

1. Bagi Kepala Sekolah

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai rekomendasi, dalam rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan penyelenggaraan program Keahlian Keperawatan khususnya di SMK PGRI 1 Salatiga 2. Kaproli Program Keperawatan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dipergunakan untuk rekomendasi dan bahan pertimbangan pada kaprodi dalam penyusunan rencana kerja tahunan pada program keperawatan di SMK PGRI 1 Salatiga.

3. Guru produktif

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai bahan acuan untuk meningkatan kualitas dalam pembelajaran yang didalamnya termasuk cara mengajar guru dan konten pembelajaran, supaya mendapatkan

(11)

11

hasil / kompetensi siswa yang mampu bersaing di dunia kerja nyata.

4. Bagi BKK (Bursa Kerja Khusus)

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dipergunakan untuk meningkatkan keterserapan lulusan keperawatan terhadap dunia kerja dan memperluas kerjasama dengan Du/Di khususnya program keperawatan.

Gambar

Tabel 1.1 Kesesuaian Kerja Lulusan Program Keahlian  Keperawatan SMK PGRI 1 Salatiga
Grafik 1.1 Penerimaan Peserta Didik Baru   Program Keahlian Keperawatan SMK PGRI 1 Salatiga

Referensi

Dokumen terkait

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat, rahmat,dan hidayah-Nya tidak ketinggalan Shalawat dan salam selalu kita limpahkan kepada junjungan kita Nabi

bu fillerde goruldugu gibi je oznesinin fiiline e tu oznesinin fiiline es il elle ayni e vous oznesine ez nous ya ons ils elles e ent ekleri gelir degismesz kuraldir yani sonu er

Motif batik yang dibuat di Desa Munggut Kecamatan Padas yaitu Motif Benteng Pendem, Motif Bambu Jati, Bambu Jati Abang, Bambu Rebung, Bambu Trinil, Pring Gadhing, Motif Kedelai,

Kota Tasikmalaya memiliki visi yang religius, maju dan madani, dan mewujudkan tata nilai kehidupan masyarakat yang religius dan berkearifan lokal. Hal itu

[r]

Jadi, warna merah atau hitam pada oncom ditentukan oleh warnapigmen yang dihasilkan oleh kapang yang digunakan dalam proses fermentasi.Oncom dapat dibuat dari kacang kedelai

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, penulis panjatkan atas segala limpahan rahmat, taufiq, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

Penegasan tentang pelayanan publik (Sinambela, 2011, hal. 5) menyatakan bahwa pelayanan publik adalah sebagai kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap sejumlah