SUSUNAN SARAF PUSAT
SUSUNAN SARAF OTONOM NEURON
NEUROTRANSMITER
DOSEN POZK
Kompetensi yang dicapai :
• Mahasiswa mampu menjelaskan SSO, SSP,
• Mahasiswa mampu menjelaskan Neurotransmiter
SISTEM SARAF
• Sistem saraf adalah suatu struktur yang terdiri dari komponen- komponen sel saraf (neuron), Bersama dengan sistem hormon, berfungsi untuk memelihara fungsi tubuh.
• Sistem saraf pada manusia memiliki sifat mengatur yang sangat
kompleks dan khusus. Sistem saraf menerima berjuta-juta rangsangan yang berasal dari berbagai organ. Semua rangsangan tersebut akan
bersatu untuk dapat menentukan respon apa yang akan diberikan oleh tubuh.
• Rangsangan ada yang berasal dari luar tubuh seperti cahaya, gravitasi, suhu, panas, dan dingin.
• Rangsangan yang berasal dari dalam tubuh seperti rasa lapar, haus, sakit, nyeri, dan sebagainya.
SISTEM SARAF
• Agar bereaksi terhadap rangsangan tersebut tubuh kita memerlukan tiga komponen, yaitu reseptor sebagai penerima rangsangan, sistem saraf sebagai penerima, pengolah, dan penerus hasil olahan
rangsangan ke efektor, dan efektor sebagai sel atau organ yang digunakan untuk bereaksi terhadap rangsangan.
RESEPTOR
SISTEM SARAF
EFEKTOR
SISTEM SARAF MANUSIA
SUSUNAN SARAF MANUSIA
SUSUNAN SARAF PUSAT
SUSUNAN SARAF TEPI
OTAK
SUSMSUM TULANG BELAKANG
SARAF MOTORIK
SARAF OTONOM
OTAK BESAR SEREBRUM
OTAK KECIL SEREBELLUM OTAK TENGAH MESENSEFALON
SARAF SIMPATIK
SARAF PARASIMPATIK 12 PASANG SARAF TEPI
KRANIAL
31 PASANG SARAF TEPI SPINAL
SUMSUM LANJUTAN MEDULA OBLONGATA
ANATOMI SEL SARAF
• DENDRIT, berfungsi menerima dan meneruskan impuls yang datang ke badan sel
• BADAN SEL, mengandung nucleus
• AKSON, membawa impuls saraf keluar sel
Jalannya impuls saraf
NEUROTRANSMITTER
NEUROTRANSMITER
• Neurotransmitter adalah senyawa kimiawi dalam tubuh yang bertugas untuk menyampaikan pesan antara satu sel saraf (neuron) ke sel saraf
target. Sel-sel target ini dapat berada di otot, berbagai kelenjar, dan bagian lain dalam tubuh.
• Jenis neurotransmitter 1. Asetilkolin
2. Dopamin 3. Endorfin 4. Epineprin 5. Serotonin 6. Oksitosin
ASETILKOLIN
• Asetilkolin adalah neurotransmitter yang berperan dalam kontraksi otot, merangsang aktivitas beberapa hormon, serta mengendalikan detak jantung.
• Neurotransmitter ini berkontribusi dalam fungsi otak dan daya ingat.
Asetilkolin merupakan salah satu contoh neurotransmitter eksitasi.
• Kadar asetilkolin yang rendah telah dikaitkan dengan beragam gangguan medis, seperti Alzheimer.
• Level asetilkolin yang terlalu tinggi juga menimbulkan masalah berupa kontraksi otot berlebihan.
DOPAMIN
• Dikenal sebagai neurotransmitter rasa senang, dopamin memainkan peran penting untuk daya ingat, perilaku, mempelajari sesuatu,
hingga koordinasi gerak tubuh.
• Neurotransmitter ini juga berfungsi dalam pergerakan otot.
• Apabila tubuh kekurangan dopamin, risiko penyakit Parkinson pun dapat terjadi.
• Anda dapat menjaga kadar dopamin dengan berolahraga secara teratur.
ENDORFIN
• Endorfin bekerja dengan menghambat sinyal rasa sakit dan
menciptakan suasana diri yang berenergi dan perasaan euforia.
• Neurotransmitter ini juga dikenal sebagai pereda nyeri alami tubuh.
• Beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menjaga kadar endorfin adalah dengan mencari aktivitas yang memancing tawa, serta
melakukan latihan aerobik, seperti bersepeda dan jalan santai.
• Hal ini penting dilakukan karena kadar endorfin yang rendah
berkaitan dengan beberapa jenis sakit kepala serta fibromyalgia (nyeri pada tulang dan otot).
EPINEPHRINE
• Neurotransmitter ini mungkin lebih dikenal sebagai adrenalin.
Epinephrine memainkan fungsi sebagai neurotransmitter sekaligus hormon.
• Epinephrine dilepaskan tubuh saat Anda stres dan ketakutan, sehingga memengaruhi detak jantung serta laju pernapasan.
• Epinephrine memengaruhi otak untuk segera membuat keputusan.
SEROTONIN
• Serotonin berperan dalam mengatur suasana hati seseorang.
• Serotonin juga mengatur pembekuan darah, nafsu makan, aktivitas tidur, serta ritme sirkadian.
• Serotonin erat kaitannya dengan antidepresan untuk penanganan depresi.
• Salah satu golongan antidepresan, selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), dapat meredakan gejala depresi dengan
meningkatkan kadar serotonin di otak.
OKSITOSIN
• Oksitosin dihasilkan dalam hipotalamus pada otak dan menjalankan fungsi neurotransmitter maupun hormon sekaligus.
• Oksitosin memainkan sejumlah peranan penting, seperti dalam
mengenali lingkungan sosial, menjalin ikatan batin, serta reproduksi seksual.
• Oksitosin juga telah dipromosikan dalam penanganan berbagai
kondisi psikologis, seperti depresi pascamelahirkan, fobia sosial, dan autisme.
Efek narkoba pada tubuh manusia
1. Memanipulasi perasaan, mood dan perilaku
• Narkoba berpengaruh pada kerja otak, narkoba bisa mengubah
suasana perasaan, cara berpikir, kesadaran dan perilaku pemakainya.
Itulah sebabnya narkotika disebut zat psikoaktif.
• Ada beberapa macam efek narkoba pada otak, seperti menghambat kerja otak, yang disebut depresansia, hal ini akan menurunkan
kesadaran sehingga timbul rasa kantuk. Contohnya adalah golongan opioida seperti candu, morfin, heroin, petidin), obat penenang
(sedativa dan hipnotika) seperti pil BK, Lexo, Rohyp, MG dan alkohol.
• Narkoba berpengaruh pada bagian otak yang bertanggung jawab atas
‘kehidupan’ perasaan, yang disebut sistem limbus. Hipotalamus sebagai pusat kenikmatan pada otak adalah bagian dari sistem limbus.
Efek narkoba pada tubuh manusia
2. Memacu kerja otak yang berlebihan
• Narkoba juga dapat memacu kerja otak atau yang sering disebut stimulan, sehingga timbul rasa segar dan semangat, percaya diri meningkat, dan hubungan dengan orang lain menjadi akrab.
• Namun, hal ini bisa menyebabkan Anda tidak bisa tidur, gelisah, jantung berdebar lebih cepat dan tekanan darah meningkat.
Contohnya adalah amfetamin, ekstasi, shabu, kokain, dan nikotin yang terdapat dalam tembakau.
Efek narkoba pada tubuh manusia
3. Memicu Halusinasi
• Ada pula narkoba yang menyebabkan khayal, atau yang juga sering disebut halusinogen. Contoh adalah LSD. Selain LSD, ada ganja yang menimbulkan berbagai pengaruh, seperti berubahnya persepsi waktu dan ruang, serta meningkatnya daya khayal, sehingga ganja dapat
digolongkan sebagai halusinogenika.
• Semua zat psikoaktif (narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lain) dapat mengubah perilaku, perasaan dan pikiran seseorang melalui pengaruhnya terhadap salah satu atau beberapa neurotransmitter.
Neurotransmitter yang paling berperan dalam terjadinya ketergantungan adalah dopamin.
Pengaruh Narkoba pada Sistem Saraf
• Gangguan saraf sensorik. Gangguan ini menyebabkan rasa kebas dan penglihatan buram hingga bisa menyebabkan kebutaan.
• Gangguan saraf otonom. Gangguan ini menyebabkan gerakan yang tidak dikehendaki melalui gerak motorik. Sehingga orang yang dalam keadaan mabuk bisa melakukan apa saja di luar kesadarannya. Misalnya saat
mabuk, para pemakai ini bisa mengganggu orang, berkelahi dan sebagainya.
• Gangguan saraf motorik. Gerakan ini tanpa koordinasi dengan sistem motoriknya. Contohnya seperti orang lagi ‘on’, kepalanya bisa goyang-
goyang sendiri, gerakannya baru berhenti jika pengaruh narkobanya hilang.
• Gangguan saraf vegetatif. Hal ini terkait bahasa yang keluar di luar
kesadaran. Tak hanya itu, efek narkoba pada otak bisa menimbulkan rasa takut dan kurang percaya diri jika tidak menggunakannya.
Proses Narkoba menyebabkan ketergantungan
• Ketergantungan adalah semacam ‘pembelajaran’ sel-sel otak pada pusat kenikmatan. Ketika Anda mencoba mengonsumsi narkoba, otak akan membaca tanggapan tubuh Anda. Jika merasa nyaman, otak
mengeluarkan neurotransmitter dopamin dan akan memberikan kesan menyenangkan.
• Otak merekamnya sebagai sesuatu yang dicari sebagai prioritas
karena dianggap menyenangkan. Akibatnya, otak membuat program salah, seolah-olah orang itu memerlukannya sebagai kebutuhan
pokok dan terjadi kecanduan atau ketergantungan. Dalam keadaan
ketergantungan, pecandu merasa sangat tidak nyaman dan kesakitan.
Proses Narkoba menyebabkan ketergantungan
• Pada kasus ketergantungan, seseorang harus senantiasa memakai
narkoba, jika tidak, timbul gejala putus obat (atau disebut juga sakau), jika pemakaiannya dihentikan atau jumlahnya dikurangi.
• Gejala sakau opioida (heroin) mirip orang sakit flu berat, yaitu hidung berair, keluar air mata, bulu badan berdiri, nyeri otot, mual, muntah, diare, dan sulit tidur.
Antidepresan
• Antidepresan adalah obat yang digunakan untuk menangani depresi.
Obat ini bekerja dengan cara menyeimbangkan kandungan senyawa kimia alami di dalam otak yang disebut neurotransmitter, sehingga bisa meredakan keluhan dan membantu memperbaiki suasana hati dan emosi.
• Jenis antidepresan
1. Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) 2. Antidepresan trisiklik (TCAs)
3. Serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs) 4. Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs)
Anti depresan dan anti psikotik
• Obat penenang sering dikaitkan dengan suatu obat yang mempunyai fungsi menenangkan sistem saraf pusat. Obat ini dibagi menjadi dua tipe yaitu
1. Minor Tranquilizer yang mana merujuk pada obat-obat penenang golongan benzodiazepine yang biasanya digunakan sebagai
anticemas.
2. Major Tranquilizer yang merujuk pada obat-obat antipsikotik tipikal seperti Haloperidol dan Trifluoperazine yang biasanya digunakan sebagai antipsikotik untuk pasien gangguan jiwa berat seperti
skizofrenia.
• antidepresan dan antipsikotik sebenarnya dalam UU tidak dimasukkan sebagai obat psikotropika atau narkotika.
Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs)
• Antidepresan jenis ini umumnya menjadi pilihan utama untuk mengobati depresi karena risiko efek samping yang rendah.
• SSRIs bekerja dengan cara menekan penyerapan kembali serotonin di dalam otak.
• Contoh obat golongan SSRI adalah:
1. Escitalopram 2. Fluoxetine 3. Fluvoxamine 4. Sertraline
Antidepresan trisiklik (TCAs)
• Golongan ini merupakan jenis antidepresan yang pertama kali
dikembangkan. Meski sudah lama digunakan, namun obat ini sering kali banyak menimbulkan efek samping bila dibandingkan dengan antidepresan lainnya.
• TCAs bekerja dengan cara memengaruhi senyawa pengirim pesan di otak sehingga mood bisa terkendali dan akan meredakan depresi.
• Contoh obat golongan TCAs adalah:
1. Amitriptyline 2. Doxepin
Serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs)
• Antidepresan jenis ini bekerja dengan cara menghambat serotonin dan norepinephrine agar tidak diserap kembali oleh sel saraf.
• SNRIs bekerja lebih spesifik dibandingkan dengan TCAs, sehingga kemungkinan efek samping yang terjadi lebih kecil.
• Contoh obat golongan SNRI adalah:
1. Duloxetine 2. Venlafaxine
Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs)
• Antidepresan jenis ini diberikan jika obat antidepresan lain tidak mampu mengatasi keluhan.
• Monoamine oxidase inhibitor (MAOIs) bekerja menghambat kinerja
senyawa noradrenalin dan serotonin untuk mencegah timbulnya gejala- gejala depresi.
• Meskipun aman digunakan, MAOI dapat menimbulkan berbagai efek
samping, terutama jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan tertentu.
• Contoh obat golongan MAOIs adalah:
1. Isocarboxazid 2. Phenelzine
3. Tranylcypromine 4. Seleginile