• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Seminar Nasional Perikanan dan Kelautan ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Prosiding Seminar Nasional Perikanan dan Kelautan ISSN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

RANCANG BANGUN DAN UJI KINERJA ALAT PENGAYAK RUMPUT LAUT KERING SISTEM GETAR

DESIGN AND PERFORMANCE TEST OF DRY SEAWEED SIEVING MACHINE WITH VIBRATE SYSTEM

Wahyu T. Handoyo1), I Made S. Erawan1), Widiarto Sarwono1)

1Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan Jl. Imogiri Barat KM 11.5, Jetis Bantul - DI Yogyakarta

e-Mail: [email protected]

ABSTRAK

Salah satu kendala pada pasca panen rumput laut adalah tingkat kebersihan rumput laut kering. Hal ini karena rumput laut kering harus memenuhi standar yang dipersyaratkan. Selama ini membersihkan rumput laut kering dilakukan secara manual yang membutuhkan waktu yang lama dan tidak terukur. Rancangbangun dan uji kinerja alat pengayak rumput laut telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan alat pengayak rumput laut kering semi otomatis yang dapat membantu membersihkan rumput laut kering. Alat dirancang dengan sistem getar horisontal yang bersumber dari putaran motor yang dikonversi menjadi gerakan translasi. Uji kinerja dilakukan untuk mengayak rumput laut Gracilaria sp. kering dengan mengukur rendemen (%), jumlah pengotor (gram), kapasitas (kg/jam) dan tingkat kebersihan rumput laut atau CAW (Clean Anhydrous Weed). Variasi yang dilakukan adalah frekuensi inverter (Hz) yaitu 30 Hz, 40 Hz dan 50 Hz. Seluruh rangkaian penelitian dilaksanakan pada semester pertama tahun 2020.

Hasil pengayakan 3,5 kg rumput laut kering Gracilaria sp. diperoleh rendemen pengayakan optimal pada frekuensi 40 Hz yaitu 99,77%. Pengotor yang terpisah paling banyak pada frekuensi 40 Hz yaitu 347 gram atau 5,78 % dari berat rumput laut. Kapasitas pengayakan paling besar pada frekuensi 50 Hz yaitu 287,1 kg/jam. Hasil analisa CAW pada rumput laut Glacilaria Sp. diperoleh 54,58%.

Kata kunci : rumput laut, alat pengayak, kapasitas, pengotor, CAW

PENDAHULUAN

Salah satu potensi perairan Indonesia yang bisa dikembangkan adalah rumput laut yang ketersediannya sangat melimpah. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi rumput laut di Indonesia masih cukup besar yaitu pada kisaran 10 – 11 ton pertahun (KKP, 2018). Bahkan menurut FAO 2018, Indonesia menjadi salah satu produsen rumput laut utama di dunia. Selain itu prospek pengembangan industri juga sangat menjanjikan. Hal ini karena pembudidayaan rumput laut yang relatif mudah dibandingkan potensi perikanan lainnya. Selain itu permintaan terhadap rumput laut dan produk olahannya cukup banyak baik di pasar domestik maupun internasional. Bahkan kebutuhan rumput laut diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan untuk konsumsi langsung maupun kebutuhan industri (Kordi, 2011).

Menurut Radiarta et al (2016) komoditas rumput laut yang dipanen oleh pembudidaya umunya dijual dalam bentuk rumput laut kering dan belum dialkukan diversifikasi produk. Kondisi ini menyebabkan pembudidaya belum mendapatkan nilai kebutuhan modal baik untuk investasi tambah dari hasil rumput laut tersebut. Dipasar internasional rumput laut yang berasal dari Indonesia masih dihargai rendah, hal tersebut disebabkan karena mutunya rendah yaitu kadar air dan kotoran (pasir, garam dan campuran jenis rumput lain) serta rendahnya rendemen dan kekuatan gel yang dihasilkan. Salah satu penyebab rendahnya

(2)

kualitas rumput laut Indonesia adalah kurangnya teknologi penanganan pasca panen. Jika teknologi pasca panen rumput laut dapat dikembangkan dan diterapkan dengan baik, maka agroindustri yang bertujuan meningkatkan nilai tambah, menambah lapangan kerja dan mengurangi impor produk jadi rumput laut dapat tercapai (BPTP Sulawesi Selatan, 2012).

Kualitas rumput laut di Indonesia secara umum harus memenuhi baku mutu yang dikeluarkan oleh Standar Nasional Indonesia, yaitu SNI nomor 2690 : 2015. Salah satu parameter untuk mengukur tingkat kebersihan rumput laut kering ditunjukkan dengan nilai CAW (Clean Anhydrous Weed). Menurut Santos dan Doty (1983) CAW merupakan persentase berat sampel rumput laut kering bersih setelah dicuci, dipisahkan dari pengotor lain dan dikeringkan dalam oven pada suhu 700 °C sampai berat konstan dibandingkan dengan bobot rumput laut awal.

Perlakuan dan penanganan pasca panen rumput laut seharusnya menjadi perhatian bagi para pelaku usaha budidaya rumput laut. Hal ini karena industri rumput laut menuntut standar kualitas yang tinggi. Jika kualitas rumput laut yang dihasilkan oleh pembudidaya baik, maka pelaku industri akan meningkatkan grade rumput laut tersebut. Disamping itu keberlangsungan para pembudidaya rumput laut akan terjaga dan bahkan permintaan dari industri juga akan semakin meningkat. Oleh karena itu para pelaku pembudidaya rumput laut hendaknya memperhatikan setiap tahapan penanganan pasca panen rumput laut.

Salah satu tahapan dalam penanganan rumput laut menurut petunjuk praktis mengelola pasca panen rumput laut DJBP adalah sortasi dan kontrol kualitas rumput laut kering. Pada proses kontrol kualitas rumput laut kering dilakukan pengecekan kualitas kadar air rumput laut kering dan keberadaan pengotor atau impurities. Proses pemisahan rumput laut kering dari kotoran biasanya dilakukan secara manual dengan cara menggoyang-goyangkannya dengan menggunakan tangan atau alat pengayak manual. Metode manual tersebut membutuhkan waktu yang lama dan tidak terukur.

Berdasarkan uraian tersebut maka perlu adanya pengembangkan alat pengolah rumput laut yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas rumput laut kering. Adapun tujuan penelitian ini untuk merancang bangun dan melakukan uji kinerja alat pengayak rumput laut kering yang dapat mempermudah proses pemisahan rumput laut dari pengotornya.

METODE Waktu dan Tempat

Seluruh rangkaian penelitian dilaksanakan pada semester pertama tahun 2020. Pengambilan data penelitian ini dilaksanakan di workshop Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LR MPHP) Bantul.

Bahan dan Metode

Bahan yang dipergunakan untuk pembuatan alat pengayak rumput laut yaitu motor listrik, inverter, pulley, belt, plat besi, round bar, perforated stainless 304, plat stainless 304, bearing, mur dan baut. Bahan yang digunakan untuk uji coba yaitu rumput laut Gracilaria sp. kering. Rumput laut berasal dari pengepul

(3)

di Jepara. Peralatan yang digunakan untuk pembuatan mesin yaitu mesin bubut, las, alat penekuk, gergaji potong, pemotong plat, gerinda, dan peralatan bengkel lainnya. Peralatan bantu yang digunakan untuk uji coba yaitu nampan, terpal, ember, karung, timbangan dan stop watch.

Penelitian ini mencakup tahap perancangan/desain, perakitan mesin, uji kinerja mesin, serta analisis keluaran yang dihasilkan. Desain alat pengayak rumput laut sistem getar dirancang untuk mendukung sistem grading dan sortasi rumput laut. Alat pengayak digunakan untuk membersihkan rumput laut yang tidak masuk dalam grade yang sudah ditentukan. Mekanisme kerja alat dibuat sederhana supaya mudah dioperasikan oleh operator di unit pengolahan. Selain itu alat juga dibuat sesuai dengan kebutuhan pengguna yang diperoleh dari hasil identifikasi kebutuhan.

Rancang bangun alat dimulai dengan melakukan identifikasi kebutuhan pengguna. Hasil identifikasi dan analisa pengguna selanjutnya dituangkan dalam kriteria desain alat. Setelah itu membuat konsep desain berdasarkan data dari kriteria desain yang telah dibuat. Setelah konsep desain didapatkan, selanjutnya dibuat detail desain tiap bagian mesin yang dituangkan dalam gambar teknik. Selanjutnya adalah tahapan pembuatan mesin yang melalui serangkaian tahapan proses fabrikasi, permesinan dan perakitan. Alat yang sudah selesai dikonstruksi kemudian di uji kinerja tanpa beban maupun dengan beban. Saat uji kinerja dilakukan pengamatan secara deskriptif, untuk melihat permasalahan yang terjadi saat uji coba. Jika ditemukan permasalahan yang berkaitan dengan sistem kerja alat, kekurangan komponen peralatan dan sebagainya, maka dilakukan penyempurnaan desain dan perbaikan terhadap peralatan/mesin pengolahan pupuk tersebut. Selain dilakukan pengamatan juga dilakukan pengambilan data terkait dengan kinerja alat dan keluaran produk yang dihasilkan. Data tersebut selanjutnya dianalisis dan dibandingkan dengan baku mutu yang sudah ditentukan. Diagram alir penelitian seperti disajikan pada Gambar 1.

(4)

Gambar 1. Diagram alir penelitian

Kriteria Desain

Alat pengayak rumput laut kering dirancang sebagai bagian dari sistem grading dan sortasi kualitas rumput laut. Secara umum alat dirancang untuk membantu proses pembersihan rumput laut kering sehingga menjadi lebih mudah dan dapat meningkatkan kualitas rumput laut sesuai dengan standar SNI 2690 : 2015

Kesimpulan

Selesai

Tidak

Perbaikan Alat Pengayak Data Hasil Uji

Kinerja

Alat dapat Mengayak Sesuai Kriteria

Desain

Pembuatan Alat Pengayak Identifikasi Kebutuhan/

Kriteria Desain

Uji Kinerja Alat Pengayak Desain dan Perancangan Alat Pengayak Rumput Laut Sistem

Getar

Ya

(5)

dan karakteristik kebutuhan UKM. Kriteria desain alat pengayak rumput laut kering adalah kapasitas pengayakan yaitu sampai 100 kg/jam dan menghasilkan kualitas rumput laut dengan kadar pengotor susuai standar SNI.

Rancangan Fungsional

Alat pengayak rumput laut kering sistem getar dirancang berdasarkan identifikasi kebutuhan dari pengguna. Alat pengayak dirancang seperti alat pengayak biji-bijian produk pertanian, tetapi dimodifikasi dengan melakukan penyesuaian dengan karakteristik rumput laut dan pengotornya. Mekanisme kerja alat pengayak adalah merubah gerakan rotasi motor penggerak menjadi gerakan translasi yang dikonversi melalui engkol dan poros engkol. Poros engkol yang dipasang pada engkol bergerak tranlasi dan dihubungkan dengan komponen utama pengayak yang terdiri dari perforated stainless dan tempat penampung pengotor. Hubungan tersebut menghasilkan gerakan translasi pada komponen pengayak.

Pergerakan translasi tersebut menyebabkan rumput laut yang diletakkan pada pengayak akan digoyang- goyang sehingga kotoran yang menempel akan terlepas. Untuk memaksimalkan proses pengayakan ini diperlukan proses penguraian rumput laut karena sebagian besar rumput laut di pengepul kondisinya menggumpal sehingga kotoran berada di dalam gumpalan tersebut.

Komponen utama pengayak didesain dengan posisi horisontal dan memiliki kemiringan sekitar 15 - 25 derajat. Hal ini bertujuan supaya rumput laut yang diayak akan turun dan keluar dari pengayak akibat gaya gravitasi. Desain pengayak yang miring dan dikombinasikan dengan gerakan translasi proses pengayakan rumput laut kering dapat berjalan terus tanpa proses berhenti untuk proses memasukkan dan mengeluarkan rumput laut. Rancangan fungsional alat pengayak rumput laut kering sistem getar ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rancangan fungsional alat pengayak rumput laut

Bagian Alat Fungsi

- Rangka utama - Perforated stainless - Poros engkol

- Pulley dan belt - Engkol

- Tempat pengotor - Lengan pengayak - Motor penggerak - Inverter

- Menempatkan komponen pengayak, motor penggerak dan sistem transmisi

- Sebagai pengayak/penyaring rumput laut terhadap kotoran yang menempel

- Mentransmisikan gerakan rotasi menjadi translasi dan mendorong penyaring/pengayak

- Mentransmisikan putaran motor ke bagian engkol - Mentransmisikan gerakan rotasi menjadi translasi - Sebagai tempat menampung pengotor hasil pengayakan - Sebagai tumpuan pergerakan pengayak dan tempat pengotor - Sebagai sumber penggerak sistem pengayak

- Sebagai kontrol kecepatan putaran motor penggerak

Rancangan Struktural

Alat pangayak rumput laut terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu rangka utama, komponen pengayakan, engkol dan poros engkol, motor penggerak dan transmisi, lengan pengayak. Rangka utama terbuat dari besi siku 5 yang dibentuk persegi dengan dimensi panjang (P) 2300 mm, lebar (L) 1200 mm

(6)

dan tinggi (T) 1160 mm. Pada bagian sisi rangka dibuatkan dudukan untuk memasang motor penggerak dan sistem transmisi. Sedangkan pada bagian atas dibuatkan dudukan untuk memasang engkol dan lengan pengayak.

Komponen pengayak terdiri dari dua komponen yaitu perforated stainless dengan diameter lubang 5 mm. Perforated stainless dibuat bentuk persegi dengan panjang (P) 1800 mm, lebar (L) 1080 mm dan tinggi (T) 2 mm. Pada bagian keluaran dibuat pengarah untuk mengarahkan rumput laut kering yang sudah diayak.

Komponen kedua yaitu tempat pengotor, dibuat dari bahan stainless 304 bentuk persegi dan disesuaikan dengan bentuk perforated stainless. Hal ini karena posisi antara perforated stainless dan penampung pengayak saling berhimpitan. Pada bagian keluaran, dibuat pengarah untuk mengarahkan kotoran rumput laut kering hasil pengayakan. Bagian luar tempat pengotor dilapisi spon untuk meredam suara dan getaran pengayak.

Motor penggerak yang digunakan yaitu unit motor listrik 3 phase 0,5 HP 1400 rpm. Motor penggerak dirangkai dengan sistem transmisi yang terdiri dari pulley dengan diameter 20 mm dan 7 mm yang dihubungkan dengan belt. Letak motor penggerak dan sistem transmisi berada di bagian belakang samping alat pengayak (Gambar 2).

Engkol dibuat dari bahan besi yang dibentuk lingkaran diameter 110 mm dengan ketebalan 5 mm.

Pada bagian permukan engkol dibuat tiga lubang yang berfungsi untuk memasang poros engkol. Jarak ketiga lubang tersebut dari sumbu putar berturut turut yaitu 45 mm, 60 mm dan 85 mm. Poros engkol terbuat dari besi round bar dengan diameter 18 mm dan panjang 140 mm. Desain konstruksi alat pengayak disajikan pada gambar 2 dan spesifikasi disajikan pada Tabel 2.

(7)

No Nama Komponen 1 Rangka mesin

2 Motor penggerak 3 Poros engkol 4 Engkol 5 Bearing engkol 6 Pulley transmisi 7 V- Belt

8 Dudukan penggerak ayakan 9 Sumbu pengayak

10 Bearing pengayak 11 Perforated stainless 12 Pengatur sudut kemiringan 13 Ouput hasil ayakan

14 Output penampung pengotor 15 Penampung pengotor

Gambar 2. Desain alat pengayak rumput laut sistem getar

(8)

Tabel 2. Spesifikasi teknis alat pengayak rumput laut

No. Nama Spesifikasi

1.

2.

3.

4.

Mekanisme Alat Spesifikasi Motor Transmisi Dimensi Total:

- Panjang (mm) - Lebar (mm) - Tinggi (mm)

Sistem Getar

3 phase, 380 V/50 Hz, 0,5 HP, 1400 rpm Pulley dan Belt

2300 1200 1160

Uji Kinerja Mesin

Uji kinerja alat dilakukan dengan memberikan beban terhadap mesin, yaitu berupa rumput laut kering jenis Gracilaria sp. Rumput laut kering ditimbang untuk mengetahui berat awal rumput laut sebelum diayak. Pada kondisi mesin beroperasi rumput laut kering dimasukkan kedalam alat pengayak secara bertahap. Pada saat yang sama ukur waktu yang diperlukan untuk mengayak. Setelah semua rumput laut selesai diayak, kemudian ditimbang untuk mengetahui berat akhir rumput laut. Penimbangan juga dilakukan pada pengotor yang dihasilkan dari proses pengayakan. Perlakuan yang diberikan adalah variasi frekuensi inverter yaitu 30, 40, dan 50 Hz. Frekuensi inverter tersebut memberikan pengaruh terhadap kecepatan putaran motor (rpm). Putaran motor pada frekuensi 30, 40, dan 50 Hz berturut-turut yaitu 872, 1173, dan 1456 rpm. Parameter yang diamati meliputi rendemen, jumlah pengotor yang diperoleh dari pengayakan dan kapasitas pengayakan.

Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil uji coba yang meliputi data rendemen, jumlah pengotor, kapsasitas, dan CAW disajikan dalam bentuk grafik atau tabel dan dianalisis secara deskriptif.

Rendemen

Rendeman dihitung sebagai persentase berat produk (kg) yang keluar dari alat pengayak rumput laut kering terhadap berat bahan baku awal (kg) (Sedayu, Erawan, & Utomo, 2013). Dituliskan dalam persamaan sebagai berikut :

𝑅𝑒𝑛𝑑𝑒𝑚𝑒𝑛 (%) = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘 𝑜𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡 (𝑘𝑔)

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢 𝑎𝑤𝑎𝑙 (𝑘𝑔)𝑥 100% (Persamaan 1)

Bahan baku awal sebagai input berupa rumput laut kering yang masih dalam keadaan kotor dan belum mengalami proses pengayakan. Output berupa rumput laut kering yang sudah mengalami proses pengayakan.

Kapasitas pengayakan

Kapasitas pengayakan (kg/jam) adalah berat produk (kg) yang keluar dari alat pengayak ikan terhadap waktu yang diperlukan untuk mengayak (jam) (Cahyanto et al, 2019). Persamaan sebagai berikut:

𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑝𝑒𝑛𝑐𝑎𝑐𝑎ℎ𝑎𝑛 (𝑘𝑔 𝑗𝑎𝑚−1) = 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑎𝑦𝑎𝑘 (𝑘𝑔)

𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑎𝑦𝑎𝑘𝑎𝑛 (𝑗𝑎𝑚) (Persamaan 2)

(9)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Mekanisme Alat Pengayak Rumput Laut

Alat pengayak bekerja berdasarkan gerakan translasi horisontal bolak balik. Pergerakan tersebut mengakibatkan goyangan pada komponen pengayak yang selanjutnya akan menggerakkan rumput laut yang diletakkan pada komponen pengayak. Untuk memisahkan kotoran dari rumput laut digunakan perforated stainless. Fungsi dari perforated tersebut adalah menyaring kotoran yang terlepas dari rumput laut ketika digoyangkan. Akibat gaya gravitasi, kotoran akan turun ke tempat penampungan melalui lubang pada perforated stainless. Kotoran yang tertampung akan mengarah ke bagian output yang disebabkan karena kemiringan dan goyangan. Hal yang sama juga terjadi pada rumput laut, akan mengarah ke bagian output yang disebabkan karena kemiringan dan goyangan. Bagian output rumput laut dan pengotor dibuat berlawanan arah supaya rumput laut yang sudah diayak tidak tercampur lagi dengan pengotor. Alat pengayak rumput laut hasil rancang bangun ditunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Alat pengayak rumput laut

Hasil Uji Kinerja Alat Pengayak Rumput Laut

Hasil uji kinerja alat pengayak rumput laut pada frekuensi 30, 40 dan 50 Hz dengan parameter yang diamati meliputi rendemen, berat pengotor dan kapasitas pengayakan disajikan pada Gambar 4 sampai 6.

(10)

Gambar 4. Pengaruh frekuensi inverter (Hz) terhadap rendemen (%)

Gambar 5. Pengaruh frekuensi inverter (Hz) terhadap berat pengotor (gr)

Gambar 6. Pengaruh frekuensi inverter (Hz) terhadap kapasitas (kg/jam) 90,43%

89,86%

91,01%

89,20%

89,40%

89,60%

89,80%

90,00%

90,20%

90,40%

90,60%

90,80%

91,00%

91,20%

30 40 50

RENDEMEN (%)

FREKUENSI INVERTER (%)

319

347

292,5

260 270 280 290 300 310 320 330 340 350 360

30 40 50

BERAT PENGOTOR (GRAM)

FREKUENSI (HZ)

153.97

251,6

287,1

0 50 100 150 200 250 300 350

30 40 50

KAPASITAS (KG JAM-1)

FREKUENSI (HZ)

(11)

Gambar 4 menunjukkan bahwa rendemen pengayakan rumput laut sangat baik yaitu pada kisaran 89.86 % - 91.01 %. Rendemen pengayakan terbaik yaitu pada pengayakan dengan frekuensi inverter 50 Hz atau paling tinggi. Sedangkan rendemen paling rendah pada pengayakan dengan frekuensi inverter 40 Hz.

Gambar 5 menunjukkan bahwa jumlah pengotor yang diperoleh paling banyak yaitu pada pengayakan dengan frekuensi inverter 40 Hz dan pengotor paling sedikit adalah pada frekuensi inverter 50 Hz. Kapasitas pengayakan yang ditunjukkan pada gambar 6 menunjukkan bahwa kapasitas pengayakan terbesar yaitu pada pengayakan dengan frekuensi inverter 50 Hz yaitu 287,1 kg/jam.

Pembahasan

Dari Gambar 4 dan Gambar 5 menunjukkan bahwa jumlah pengotor yang diperoleh paling banyak yaitu pada pengayakan dengan frekuensi inverter 40 Hz memiliki rendemen pengayakan paling kecil dan pengotor paling sedikit yaitu pada frekuensi inverter 50 Hz rendemennya paling besar. Kondisi ini menunjukkan bahwa rendemen pengayakan rumput laut memiliki hubungan erat dengan jumlah pengotor yang diperoleh. Hal ini diduga disebabkan karena banyaknya remahan atau potongan rumput laut kecil yang ikut terayak atau tersaring bersamaan dengan pengotor rumput laut.

Berdasarkan Gambar 5 pengayakan paling optimal terjadi pada frekuensi inverter 40 Hz dengan berat pengotor 347 gr atau 9,91 % dari berat rumput laut. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan saat uji coba kondisi tersebut disebabkan karena pada pengayakan dengan frekuensi inverter 30 Hz, getaran atau goyangan yang dihasilkan kurang maksimal sehingga kotoran yang menempel pada rumput laut banyak yang tidak terlepas. Sedangkan pada frekuensi inverter 50 Hz goyangan yang dihasilkan cukup baik tetapi karena goyangan tersebut mengakibatkan laju rumput laut di pengayak semakin tinggi dan cepat turun ke bagian output sehingga waktu pengayakan semakin singkat dan tidak maksimal pada proses pengayakan.

Kondisi ini bersesuaian dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahyanto et al (2019) yang melakukan pengayakan touge. Hasil pengayakan dengan variasi frekuensi inverter yang berpengaruh terhadap putaran motor, menunjukkan bahwa semakin cepat putaran motor maka kapasitas pengayakan juga semakin besar.

Kapasitas pengayakan dan frekuensi inverter menunjukkan adanya suatu pola, di mana semakin besar frekuensi inverter, kapasitas pengayakan semakin tinggi yang menunjukkan waktu proses pengayakan semakin singkat. Hal ini disebabkan karena frekuensi masukan mempunyai hubungan berbanding lurus dengan kecepatan putar motor yang mana kecepatan putaran motor mempengaruhi kecepatan goyangan pengayak rumput laut. Penelitian tentang frekuensi dan kecepatan putar motor juga dilakukan oleh Haryanto (2011) yang menyatakan bahwa perubahan frekuensi masukan motor dapat mengakibatkan perubahan pada kecepatan motor. Semakin besar frekuensi masukan yang diberikan, maka kecepatan motor akan semakin tinggi, dan begitu pula sebaliknya

Hasil pengamatan jenis pengotor yang diperoleh terdiri dari lumpur kering, karang, kerang kecil, batang pepohonan, kerikil, pasir dan remahan rumput laut. Jumlah pengotor paling banyak yang diperoleh adalah dalam bentuk lumpur kering. Hal ini diduga disebabkan karena proses pencucian yang belum

(12)

maksimal. Seperti disampaikan oleh Istiqomawati & Kusdarwati yang menyampaikan bahwa rumput laut Gracilaria sp. sebelum dan sesudah dipanen harus dibersihkan dulu dari lumpur dan kotoran lainnya.

Nilai CAW dapat dikatakan sebagai kemurnian dari rumput laut, yaitu kebersihan rumput laut tersebut dari kotoran batu karang, seperti pasir dan campuran rumput lain. Semakin tinggi nilai CAW maka akan semakin tinggi yield atau rendemen yang dihasilkan, namun hal ini masih sangat tergantung dengan umur panen. Menurut SNI 2690 : 2015 kadar CAW rumput laut Gracilaria sp. yang disyaratkan adalah minimal 40%. Hasil analisa kadar CAW rumput laut Gracilaria sp. yang sudah diayak adalah 54,58 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa rumput laut Gracilaria sp. ini memiliki tingkat kemurnian 54,58 %, yang berarti sisanya adalah air dan impurities lainnya seperti pasir, garam, batu karang dan bahan lainnya yang menempel pada rumput laut. Berdasarkan SNI 2690 : 2015 maka rumput laut tersebut memenuhi standar.

KESIMPULAN

Secara umum alat pengayak rumput laut kering sistem getar dapat bekerja dengan baik sehingga dapat mempermudah proses pembersihan atau pengayakan rumput laut kering. Hasil pengayakan 3,5 kg rumput laut kering Gracilaria sp. diperoleh rendemen pengayakan optimal pada frekuensi 40 Hz yaitu 99,77%. Pengotor yang terpisah paling banyak pada frekuensi 40 Hz yaitu 347 gram atau 9,91 % dari berat rumput laut. Kapasitas pengayakan paling besar pada frekuensi 50 Hz yaitu 287.1 kg/jam. Hasil analisa CAW pada rumput laut Glacilaria sp. kering yang sudah diayak adalah 54,58%. Hal ini menujukkan bahwa rumput laut Gracilaria sp. ini memiliki tingkat kemurnian 54,58 %, yang berarti sisanya adalah air dan pengotor lainnya. Berdasarkan SNI 2690 : 2015 maka rumput laut tersebut memenuhi standar.

DAFTAR PUSTAKA

ASEAN/SF/90/Manual No. 5 Santos, G. A. (1990). A manual for the processing of agar from Gracilaria. Manila, ASEAN/UNDP/FAO Regional Small-Scale Coastal Fisheries Development Project, 1990. 34p

BPTP Sulawesi Selatan. (2018). Pengelolaan rumput laut menjadi bahan jadi dan setengah jadi. Badan Litbang Pertanian – Kementerian Pertanian.

BSN. 2015. Standar Nasional Indonesia - SNI 2690:2015: Rumput Laut Kering. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.

BSN. 2015. Standar Nasional Indonesia - SNI 8168:2015: Penentuan Clean Anhydrous Weed (CAW) Pada Rumput Laut Kering.

Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.

Cahyanto, D.D., Hendrawan, Y. & Djoyowasito, G. (2019). Kinerja Pemisah Kulit Ari Tauge Kacang Hijau (Vigna radita L) Berdasarkan Amplitudo Ayakan dan Variasi Putaran. Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol. 7(3), 275- 284.

DJPB. Petunjuk Praktis Mengelola Pasca Panen Rumput Laut. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya.

FAO. (2018). The Global Status of Seaweed Production. Trade and Utilization. Vol. 124. Roma.

Haryanto, H. (2011). Pembuatan Modul Inverter sebagai Kendali Kecepatan Putaran Motor Induksi. Rekayasa, 6(1), 9-20.

Hikmah. (2015). Strategi Pengembangan Industri Pengolahan Komoditas Rumput Laut e. Cotonii Untuk Peningkatan Nilai Tambah di Sentra Kawasan Industrialisasi. J. Kebijakan Sosek KP Vol. 5 No. 1 Tahun 2015.

Istiqomawati & Kusdarwati, R. (2010). Teknik Budidaya Rumput Laut (Gracilaria verrucosa) dengan Metode Rawai di Balai Budidaya Air Payau Situbondo Jawa Timur. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 2(1), 77-85.

(13)

Kordi, M. G. H. (2011). Kiat Sukses Budidaya Rumput Laut di laut dan Tambak. ANDI OFFSET. Yogyakarta. 134 Hal.

Radiarta, I. N., Erliana., Haryadi, J. & Rosdiana, A. (2016). Analisis Pengembangan Budidaya Rumput Laut di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, 8(1), 29 – 40.

Sedayu, B. B., Erawan, I. M. S., & Utomo, B. S. B. (2013). Rancang Bangun dan Ujicoba Mesin Pemisah Daging Ikan Berdaya Listrik Rendah. Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, 8(2), 125-132.

Gambar

Gambar 1. Diagram alir penelitian
Gambar 2. Desain alat pengayak rumput laut sistem getar
Gambar 3. Alat pengayak rumput laut
Gambar 5. Pengaruh frekuensi inverter (Hz) terhadap berat pengotor (gr)

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahap deodorisasi minyak dari bleaching DBPO (Degumming Bleaching Palm Olein) akan dimurnikan dari kadar asam lemak bebas (FFA), bau (odor), dan warna (colour).. Pada suhu

[r]

[r]

berjudul “ Penggunaan Media Audio Visua l untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak dan Berbicara pada Siswa Sekolah Dasar ” yang. dilakukan oleh peneliti, dapat

[r]

animas - animasi pada pembelajaran akan membuat daya tarik para murid murid untuk.. bisa memahami

BAB II MODEL INTEGRATIF BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA) TINGKAT MENENGAH DAN KEMAMPUAN KOMUNIKATIF BERBAHASA INDONESIA .... 2.1.3 Pembelajaran

Hal tersebut dikemukakan pula oleh Devito (dalam Supriadi, 1994, hlm. 15) bahwa, “kreativitas merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang dengan tingkat