1
NUANSA
3S
AAT INI Pemerintah telah memulai perencanaan konsep mewujudkan hunian layak dan terjangkau, dimana Pemerintah pun menyusun strategi demi mengurangi dampak dari arus urbanisasi yang semakin meningkat.Dalam KIPRAH edisi Hari Habitat ini, mengulas berbagai hal terkait upaya terwujudnya Hunian Layak dan Terjangkau di Indonesia oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya. Menurut Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah harus terjalin kuat demi mengantisipasi dampak urbanisasi. Tujuan utamanya ialah untuk bersama-sama mewujudkan perkotaan yang layak huni berdasarkan konsep pembangunan inovatif, kreatif, dan terpadu sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW).
Ada beberapa upaya yang dinilainya menjadi kunci untuk menjawab tantangan tersebut.
“Upaya tersebut yaitu melalui peningkatan layanan infrastruktur dasar pemukiman, air mi- num dan sanitasi layak,” kata Basuki.
Terkait itu, Kementerian PUPR menggelar Peringatan Hari Habitat Dunia 2017 dengan tema “Mewujudkan Rumah yang Terjangkau” dan Hari Kota Dunia (HKD) 2017 yang ber- tema “Inovasi Kepemerintahan Menuju Terwujudnya Kota Bagi Semua”.
Kementerian PUPR terus memacu pembangunan rumah untuk Masyarakat Berpengha- silan Rendah (MBR). Salah satunya ialah dengan mendorong para pengembang untuk lebih aktif dalam membangun rumah bersubsidi dalam Program Satu Juta Rumah. Basuki mema- parkan, ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau di perkotaan menjadi tantangan yang dihadapi kota-kota di Indonesia.
Simak pula hal terkait Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), yang merupakan bagian dari program 100-0-100, yakni 100 persen ketersediaan air bersih, 0 persen kawasan kumuh dan 100 persen ketersediaan akses sanitasi sehat. Dipaparkan pula perkembangan program Ditjen Cipta Karya terkait Upaya terwujudnya Kota Cerdas, yaitu Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas), Pengembangan Infrastruktur Sosial dan Ekonomi Wilayah (PISEW), SDG’s (Sustainable Development Goals) pembangunan berkelanjutan).
Selain itu, bagaimana kesigapan Kementerian PUPR dalam menangani bencana alam, seperti melakukan pendistribusian berbagai perlengkapan air minum untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi para pengungsi akibat meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Agung di Bali dapat dilihat pada rubrik Aktualita. Pada rubrik yang sama, ditampilkan pula bagaimana prestasi Kementerian PUPR meraih penghargaan Konservasi Energi diraih pada acara Anugerah Energi Lestari 2017 yang di gelar oleh Majalah GATRA.
Simak bagaimana kinerja Ditjen Cipta Karya dalam dua tahun siap meresmikan berbagai infrastruktur, terkait Pos Perbatasan, Kawasan Strategis, Kawasan Hijau, berbagai Tempat Pengelolaan Sampah Terpadau (TPST) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) diberbagai kota, dan penyediaan air minum melalui peningkatan kapasitas Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Seberapa besar upaya pemerintah mewujudkan Kota Cerdas tidak akan dengan mudah terwujud tanpa adanya dukungan langsung dari Masyarakat. Mari bersama bahu membahu wujudkan Kota Layak Huni di Indonesia.
Salam Infrastruktur. n
MEWUJUDKAN HUNIAN LAYAK DAN TERJANGKAU DI INDONESIA
REDAKSI KIPRAH
12
LAPORAN UTAMA
MENJAGA HABITAT DUNIA MENJADI LAYAK HUNI
n Kolaborasi Wujudkan Kots Layak Huni hal 15 n Bahu Membahu Menata
Kawasan Kumuh Kota hal 19
n Program Sanitasi Berbasis Masyarakat
Terus Ditingkatkan hal 22
LAPORAN UTAMA
Redaksi Majalah KIPRAH menerima kiriman artikel, atau tulisan lain yang (1) bersifat populer dan (2) sesuai dengan isi Majalah KIPRAH. (3) Panjang tulisan minimal 400 kata, maksimal 1600 kata. (4) Pengiriman naskah dapat dilakukan melalui email ke [email protected], disertai dengan data diri berupa biografi singkat dan alamat, nomor telepon, fax atau E-mail (bila ada). (5) Naskah yang tidak dimuat biasanya tidak akan dikembalikan, kecuali atas permintaan penulis. (6) Redaksi berhak melakukan perubahan naskah tanpa mengubah isi dari tulisan.
Dewan Redaksi: Anita Firmanti • Danis H Sumadilaga • Arie Setiadi Moerwanto Pemimpin Umum: Endra S Atmawidjaja Pemimpin Redaksi: Wara Novella Redaktur Pelaksana:
Arif Fajar Redaksi: Krisno Yuwono • Bimo A • Djoko Karsono
• Mirah N • Warjono • A B Hartati • Gustav S • A Mukmin Editor: Santi I Astuti • Wayan Yoke • Sri Rizqi G • Anisah B Desain/
Artistik: E Prananta • Hedi Hardiyansyah • Rangga • Amelia Fotografer: Odhy A • Andika • Agus Iwan S Sekretaris: Juariah
• Giantry • Umi Fatimah S • Fitria MP Kontributor: Djadjuri Luciana R • Asep Kurniawan • Warsono Sirkulasi/Distribusi:
Karina • Nadi Tarmadi • Yusron • Anas • Arifin Diterbitkan oleh:
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Alamat:
Biro Komunikasi Publik, Gedung Utama Lt.4 Jl Pattimura 20, Kebayoran Baru, Jakarta 12110 Telp./Fax: 021-725 1538, 021-724 8932 e-mail: [email protected]
@KemenPU
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
@kemenpupr KemenPU
5
25
n Kejar Asa Meraih 100-0-100 hal 28 n Penataan Kota dan Sanitasi
Demi Mencapai SDG’s hal 30
n Terus Lakukan Penataan
Kawasan di Penjuru Nusantara hal 32 n Apa Kata Mereka hal 36 LAPORAN UTAMA
LAPORAN UTAMA
PROGRAM PISEW ATASI KETIMPANGAN INFRASTRUKTUR
40
LAPORAN UTAMA
PRESERVING THE WORLD HABITAT TO BECOME LIVABLE
n Collaboration Creates Livable City hal 43 n Help Each Other to Upgrading
the Urban Slums hal 47
n Community-Based Sanitation Program
Continues to improve hal 50 LAPORAN UTAMA
7
53
n Chasing the Hope to Reach 100-0-100 hal 58 n Urban and Sanitation Planning to
Achieve SDG’s hal 60
n Continues in Conducting Regional Structuring Throughout the
Archipelago hal 62
n What they say hal 64 LAPORAN UTAMA
LAPORAN UTAMA
PROGRAM OF REGIONAL SOCIO-ECONOMIC INFRASTRUCTURE DEVELOPMENT (RSEID/
PISEW) OVERCOMES INFRASTRUCTURE INEQUALITY
66
46
LEGISLATIF
KUNJUNGAN KERJA KOMISI V DPR RI KE SULAWESI UTARA
SELINGAN
REVITALISASI KERATON KASUNANAN SURAKARTA n Komisi V DPR RI Lakukan
Kunjungan Kerja Ke Sidoarjo hal 67
n Kampus PUPR Raih Penghargaan Konservasi Energi di Anugerah
Energi Lestari 2017 hal 48
LEGISLATIF
9
10
69 JENDELA MANFAATKANDARI ALAM
SEKITAR
n Green Growth
Tren Pembangunan Kedepan hal 10 n Sosialisasi Elektronifikasi
Mendapat Sambutan Positif
dari Masyarakat hal 11
LINTAS INFO
70
KARIKATUR
yaitu gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan dasar bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dan gagasan keterbatasan yang bersumber pada kondisi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa depan.
Di sisi lain, Dirjen Cipta Karya, Kementerian PUPR, Sri Hartoyo yang hadir dalam kesempatan tersebut mengata- kan bahwa seiring dengan peringatan Hari Habitat Dunia Tahun 2017 yang mengambil tema Housing Policies: Affor- dable Homes, ada prinsip untuk menerapkan bangunan hijau yang tidak hanya slogan saja tetapi harus diterapkan di lapangan.
“Salah satu prinsip bangunan hijau adalah harus meme- nuhi penghematan energi, air dan adanya pengelolaan sam- pah yang baik. Hal ini merupakan sebuah tantangan yang berat dan merupakan tugas kita bersama dalam rangka me- menuhi kebutuhan rumah layak huni, terjangkau dan da- lam rangka pembangunan yang berkelanjutan,” ungkap Sri Hartoyo.
Adapun penghargaan terkait Green Property Award 2017 diberikan kepada para pengembang yang telah berhasil menerapkan 11 prinsip pembangunan properti hijau yaitu:
Smart Green Planning Design, Smart Green Open Source, Smart Green Transportation, Smart Green Waste, Smart Green Water, Smart Green Building, Smart Green Energy, Smart Green Community, Smart Green Economy dan Smart Green Developer. n
P
EMBANGUNAN properti, termasuk perumahan saat ini lebih didominasi oleh pendekatan utilitaria- nisme yang hanya mementingkan fungsi dibanding- kan pelestarian alam. Ke depan, pembangunan properti sudah sepatutnya memperhatikan dan mempertahankan lingkungan alami melalui pendekatan green property dan penyiapan prasarananya melalui pendekatan green infras- tructure (infrastruktur hijau). Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Pembiayaan Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Lana Winayanti dalam acara Green Property Award 2017 yang diselenggarakan oleh Majalah Housing Estate di Jakarta, akhir September lalu.Pembangunan berbasis Green Growth, ujar Dirjen Pem- biayaan Perumahan, Lana Winayanti, sangat penting untuk direalisasikan bagi pembangunan kota-kota di Indonesia mengingat adanya agenda global dan agenda nasional untuk membangun perkotaan secara berkelanjutan. “Kementerian PUPR juga berkontribusi dalam mengimplementasikan New Urban Agenda atau Agenda Baru Perkotaan khususnya da- lam pembangunan infrastrukur yang berkelanjutan,” ung- kapnya.
Pembangunan yang berkelanjutan adalah proses pem- bangunan yang mempunyai prinsip memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa mengurangi atau bahkan mengor- bankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan. Pem- bangunan berkelanjutan mengandung dua gagasan penting
Green Growth
Tren Pembangunan Kedepan
TEKS DIIREKTORAT PEMBIAYAAN PERUMAHAN
11
P
RESIDEN RI, Joko Widodo menegaskan, peng- operasian pembayaran tarif tol dengan mengguna- kan kartu e-toll (nontunai) merupakan salah satu instrumen bagi pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kepada para pengguna jalan tol..“Dengan diterapkannya pembayaran berbasis elektronik tersebut, pelayanan transaksi pembayaran di gerbang tol da- pat lebih cepat sehingga diharapkan semakin menambah kenyamanan perjalanan para pengguna jalan.
“E-toll ini untuk memperbaiki pelayanan kita untuk mempercepat pelayanan sehingga tidak ada yang nama- nya macet di depan gerbang. Yang kita inginkan itu ke de- pan seperti itu,” ujarnya beberapa waktu lalu Probolinggo menanggapi pemberlakukan transaksi non tunai di seluruh pintu tol per 31 Oktober.
Presiden menjelaskan, hampir semua negara saat ini juga sudah memulai upaya untuk beralih pada pembayaran nontunai dalam transaksi pembayaran.
“Semua negara juga melakukan hal yang sama. Kita kan maunya maju, bukan mundur,” sambungnya.
Meski demikian, pemerintah tidak menutup mata terha- dap masih adanya sejumlah pengguna jalan tol yang belum
siap maupun belum terbiasa dengan kebijakan ini. Maka itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rak- yat (PUPR) tetap menyediakan satu pintu gerbang tol yang bisa melayani transaksi tunai maupun nontunai saat pem- berlakuan transaksi nontunai jalan tol mulai 31 Oktober 2017 kemarin.
Presiden menyadari, mengubah kebiasaan masyarakat dari transaksi tunai menjadi nontunai tidak bisa dilakukan secara langsung. Namun, ia juga mengingatkan, ke depan- nya masyarakat diharapkan dapat membiasakan diri dalam mendukung program pemerintah menuju Gerakan Nasio- nal Non Tunai (GNNT).
“Ini kan ada masa transisi, tidak bisa langsung berubah.
Tapi ke depan harus (berubah), karena ini untuk pelayanan dan kecepatan,” tutupnya.
Sebagian pengguna jalan tol sendiri menyambut baik pemberlakuan transaksi non tunai di pintu tol karena bisa mempercepat waktu transaksi. “Kalo semua pakai e-toll kan antriannya bisa lebih cepat”, ujar Andy (43) seorang pengguna tol yang sempat dimintai komentarnya oleh KIPRAH beberapa waktu lalu. n
Sosialiasi Elektronifikasi
Mendapat Sambutan Positif di Masyarakat
TEKS BIRO KOMUNIKASI PUBLIK
Lintas info
Taman Ramah Gender Foto oleh : Ismail Abd. Muttalib, Juara 3 Lomba Foto Hari Habitat Nasional
T
ANTANGAN pemenuhankebutuhan perumahan dan permukiman layak huni tidak hanya dihadapi Indonesia, namun juga negara lain di dunia. Menghadapi kenyataan itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan setiap Senin pertama Oktober diperingati sebagai Hari Habitat Dunia (HHD). Penetapannya
dilakukan Majelis Umum PBB mela- lui Resolusi 40/202 tertanggal 17 De- sember 1985.
Peringatan HHD ini ditujukan untuk mengingatkan dunia akan pentingnya pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman yang layak huni untuk semua lapisan ma- syarakat, serta meningkatkan tang- gung jawab bersama untuk masa de-
Menjaga Habitat Dunia Menjadi Layak Huni
Laju urbanisasi ke perkotaan kian tinggi dan tak terhindarkan.
Tata kelola pemerintahan
yang lebih baik dan
adaptif diharapkan dapat
mewujudkan kota yang
nyaman, aman, layak
huni, dan berkelanjutan
bagi penduduknya.
Menjaga Habitat Dunia menjadi Layak Huni 13
pan habitat manusia yang lebih baik.
Dalam sambutannya pada pem- bukaan acara diskusi panel dalam rangka Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia 2017, di bulan Oktober, Menteri Pekerjaan Umum dan Peru- mahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadi- muljono mengatakan bahwa dalam konsep ‘‘kota terbuka’’ menurut Ins- titute fot The Future, memiliki 5 stra- tegi penting. Strategi tersebut yaitu pertama, Participation dimana akses terhadap data dan ruang fisik akan menciptakan kesempatan yang be- sar bagi seluruh elemen masyarakat.
Kedua, Shareability, kota memung- kinkan masyarakat untuk berbagi data. Ketiga, kota terbuka mencipta- kan ruang yang Adaptable, perubahan demograsi dari kota akan mengubah nilai masyarakat. Keempat, Equity,
yaitu mampu menciptakan ruang, pelayanan, kesempatan, yang dapat diakses oleh seluruh penghuni se- bagai inti utamanya. Dan yang ter- akhir, yaitu Co-Creation yang bersifat bottom-up (dari bawah keatas) dan bukan top-down (dari atas kebawah) dalam desain dan perencanaan kota masa depan.
“Pergeseran populasi aktivitas perdesaan ke perkotaan diperkirakan masih akan terus berlanjut, dimana badan PBB memprediksikan bahwa 60 persen penduduk dunia akan hi- dup di perkotaan pada tahun 2060,”
jelas Basuki kembali.
Senada dengan itu, Direktur Jen- deral Cipta Karya, Kementerian PUPR, Sri Hartoyo Dirjen Cipta Ka- rya Kementerian PUPR, Sri Hartoyo juga mengatakan bahwa dewasa ini lebih dari setengah penduduk dunia tinggal di perkotaan yang artinya te- lah terjadi transformasi aktivitas dari desa ke kota di sebagian besar bela- han bumi. Pergeseran populasi ak- tivitas perdesaan ke perkotaan diper- kirakan masih akan terus berlanjut.
‘‘Badan dunia PBB memprediksikan bahwa 60 persen penduduk dunia akan hidup di perkotaan pada tahun 2060,’’ kata Sri Hartoyo usai per- ingatan Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia di Kementerian PUPR,
beberapa Waktu lalu.
Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi secara langsung akan berdampak kepada meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal. Pe- rumahan menjadi salah satu elemen dasar dalam urbanisasi, setidaknya setengah dari lahan perkotaan digu- nakan sebagai hunian bagi masya- rakat perkotaan. Kegagalan dalam penyediaan hunian yang layak bagi warga kota tentunya akan berdampak kepada keberlanjutan pembangunan kota dan menimbulkan berbagai ma- salah perkotaan seperti kemacetan hingga permukiman kumuh..
Peringatan Hari Habitat dan Hari Kota Dunia 2017 merupakan salah satu bentuk komitmen dan kontri- busi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam men- gimplementasikan New Urban Agen- da (NUA) atau Agenda Baru Perko- taan. Pendekatan yang terintegrasi dan holistik dalam perumahan akan berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan ke- sejahteraan. ‘‘Kami mengharapkan, rangkaian kegiatan Peringatan Hari Habitat dan Hari Kota Dunia 2017 yang meliputi lomba fotografi, pa- meran, dan diskusi dapat memberi- kan kontribusi dalam mewujudkan pembangunan kota yang tangguh,
Sambutan oleh Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono pada Diskusi Panel Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia 2017
inklusif dan berkelanjutan,’’ kata Sri Hartoyo.
Beberapa program pun telah diga- gas. Untuk program berbasis masya- rakat, Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya mempunyai sejumlah program, yaitu Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), Sanitasi Berbasis Masya- rakat (Sanimas), Penyediaan Air Mi- num dan Sanitasi Berbasis Masyara- kat (Pamsimas), dan Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wila- yah (PISEW).
“Karena ada juga daerah perkotaan yang tidak bisa dijangkau oleh infra- struktur yang dikelola oleh lembaga formal tadi dan ini kita coba dengan pembangunan infrastruktur ber- basis masyarakat, misalnya dengan program KOTAKU yaitu kota tanpa kumuh,” imbuhnya.
Selain program itu, Kementerian PUPR dalam Rencana Strategi 2015- 2019 juga mempunyai sasaran pem- bangunan kawasan permukiman dan pembangunan kota. Sasaran pem- bangunan kawasan permukiman
diwujudkan dalam gerakan 100-0- 100 yakni target 100 persen akses air minum aman, 0 persen kawasan kumuh permukiman, dan 100 persen akses sanitasi layak pada 2019 men- datang.
Hingga pelaksanannya tahun ini, capaian akses air minum aman te- lah mencapai 71,14 persen, penataan kawasan kumuh perkotaan telah mencapai 21 persen dari total luasan 38.431 hektar. Sementara untuk capaian nasional, sanitasi layak yang terdiri dari air limbah sebesar 67,20 persen, persampahan 86,73 persen, dan drainase sebesar 58,85 persen.
Sri Hartoyo menilai, agar pena- nganan penataan kawasan perkotaan ini sesuai yang diharapkan, perlu adanya komitmen Pemerintah Dae- rah dan pelibatan atau partisipasi aktif masyarakat serta pemangku ke- pentingan lainnya untuk membantu menyukseskan setiap tahapan yang dikerjakan. “Karena tanpa adanya ke- pedulian masyarakat, maka program ini tidak akan dapat berjalan dengan
optimal,” pungkasnya.
Pusat Penyelenggaraan
Berkaca dari sejarahnya, Hari Habitat pertama diselenggarakan pada 1986 silam yang dipusatkan di Nairobi, Kenya, dengan tema “Ru- mah adalah Hak Saya” (Shelter is my right). Selanjutnya, peringatan ini setiap tahun diselenggarakan dengan tema yang berbeda dise- tiap negara. United Nation Habitat sendiri menyelenggarakan Global Observance yaitu pengamatan glo- bal atas prakarsa peningkatan kua- litas permukiman di kota terpilih dan penghargaan (Habitat Scroll of Honour) kepada perorangan atau organisasi yang berjasa dan dapat menjadi teladan pengembangan permukiman.
Indonesia pun pernah dua kali didaulat menjadi pusat penyeleng- garaan hari habitat. Pada 1989 de- ngan tema “Rumah, Kesehatan dan Keluarga” dan kemudian pada 2005 dengan tema “Tujuan Pe- ngembangan Milenium (MDG) dan Kota”.
Tak hanya peringatan saja, du- nia juga ikut membahas tentang perkembangan perumahan, per- mukiman dan kota yang semakin berubah. Berbagai persoalan ini ke- mudian dibahas dalam pertemuan tingkat dunia yaitu Konferensi Habitat, sebuah forum bagi nega- ra-negara yang memiliki kepedu- lian akan permasalahan perkotaan.
Konferensi Habitat I diadakan pada 1976 di Vancouver, Kanada dengan tema Hunian yang Layak Bagi Semua. Kemudian, pada 1996 diadakan juga Konferensi Habitat II di Istanbul Turki dengan tema Pemukiman yang Berkelanjutan di Dunia yang Semakin Mengkota.
Sementara, Konferensi Habitat III digelar di Quito, Ekuador pada 17 – 20 Oktober 2016 lalu dengan tema
‘Housing at The Centre’. Sementara, untuk 2017 ini, Tema Hari Habitat Dunia adalah ‘‘Housing Policies: Af- fordable Homes’’.n
Kawasan kumuh di pinggir rel kota Jakarta.
Ruang publik di Kelurahan Ngampilan, Yogyakarta
Kolaborasi Wujudkan Kota Layak Huni 15
Kolaborasi
Wujudkan Kota Layak Huni
K
EPADATAN pendudukdi kawasan perkotaan di Indonesia kian tinggi.
Derasnya arus urbanisasi yang membuat wajah kota berubah dan dipenuhi banyaknya bangunan permukiman. Alhasil, sesaknya kehidupan di kota berujung men- ciptakan ketidaknyamanan warga- nya. Secara perlahan namun pasti, fenomena tersebut memunculkan tantangan baru seperti munculnya kawasan kumuh di beberapa area, degradasi lingkungan, kesenjangan sosial hingga tingkat kriminalitas yang tinggi.
Berdasarkan perkiraan lima ta- hunan dari Badan Pusat Statistik, pada 2015 setidaknya 53,3 persen penduduk Indonesia memilih ting-
gal di kota. Laju itu perlahan terus meningkat. Diperkirakan kenaikan itu menjadi 56,7 persen pada 2020 mendatang. Menghadapi kenaikan dan tantangan tersebut, Pemerin- tah pun menyusun strategi demi mengurangi dampak dari arus ur- banisasi yang semakin meningkat.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono mengatakan kolabo- rasi antara pemerintah pusat dan daerah harus terjalin kuat demi mengantisipasi dampak urbanisasi tersebut. Tujuan utamanya ialah untuk bersama-sama mewujudkan perkotaan yang layak huni ber- dasarkan konsep pembangunan inovatif, kreatif, dan terpadu sesuai dengan rencana tata ruang wilayah
Pemerintah pusat berkolaborasi dengan daerah guna menghadirkan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan.
Gagasan utamanya
melalui penyediaan rumah
yang terjangkau, layanan
air minum, sanitasi layak,
dan akses ruang publik.
(RTRW).
Ada beberapa upaya yang dini- lainya menjadi kunci untuk men- jawab tantangan tersebut. “Upaya tersebut yaitu melalui peningkatan layanan infrastruktur dasar pe- mukiman, air minum dan sanitasi layak,” kata Basuki di Jakarta.
Terkait itu, Kementerian PUPR menggelar Peringatan Hari Habitat Dunia 2017 dengan tema “Mewu- judkan Rumah yang Terjangkau”
dan Hari Kota Dunia (HKD) 2017 yang bertema “Inovasi Kepemerin- tahan Menuju Terwujudnya Kota Bagi Semua” di Jakarta, awal No- vember ini.
Terkait peringatan itu, Kemen- terian PUPR terus memacu pem- bangunan rumah untuk Masyara- kat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Salah satunya ialah dengan men- dorong para pengembang untuk le- bih aktif dalam membangun rumah bersubsidi dalam Program Satu Juta Rumah.
Basuki memaparkan, keterse-
diaan rumah layak huni dan ter- jangkau di perkotaan menjadi tan- tangan yang dihadapi kota-kota di Indonesia. Semakin sempitnya la- han di perkotaan mengakibatkan tingginya harga tanah, sehingga kaum urban memilih tinggal di pinggir kota yang letaknya jauh dari lokasi tempatnya bekerja.
Karena itu, ketersediaan rumah yang terjangkau menjadi salah satu solusi terhadap masalah per- mukiman di perkotaan. Menurut Basuki, dari tiga kebutuhan pokok (sandang, pangan dan papan), baru sandang yang terpenuhi dengan baik. Sementara untuk pangan dan papan, belum bisa terpenuhi kebu- tuhannya secara maksimal.
Dalam penyediaan kebutuhan
“papan”, Pemerintah telah men- canangkan Program Satu Juta Ru- mah yang bertujuan mempercepat pembangunan perumahan melalui deregulasi berupa penyederhanaan proses perijinan, pembangunan ru- mah dan dukungan pembiayaan ke-
pemilikan rumah bagi MBR.
Melalui Program Satu Juta Ru- mah, Pemerintah menargetkan 70 persennya merupakan rumah yang diperuntukan bagi MBR dan 30 persen untuk Non MBR. Data per 23 Oktober 2017, capaian Program Satu Juta Rumah mencapai 663.314 unit atau bertambah 39.970 unit dibandingkan capaian September sebanyak 623.344 unit. Dari jum- lah tersebut, mayoritas rumah yang terbangun diperuntukan bagi MBR sebanyak 544.870 unit, sementara rumah non MBR sebanyak 118.444 unit.
Rumah MBR yang dibangun maupun direhabilitasi dengan ang- garan Kementerian PUPR seba- nyak 182.549 unit. Penyediaan itu diperoleh melalui program pem- bangunan rumah susun sewa (Ru- sunawa), rumah khusus, bantuan stimulan rumah swadaya dan dana alokasi khusus bidang perumahan.
Jumlah itu ditambah lagi dengan rumah MBR yang dibangun Peme-
Proses pengolahan sampah
17
rintah Daerah sebanyak 148.180 unit, aksi sosial perusahaan (CSR) 118 unit, Izin Mendirikan Ba- ngunan (IMB) sebanyak 40.038 unit, masyarakat sebanyak 75.451 unit, dan yang dibangun oleh para pengembang sebanyak 96.968 unit.
Siap Berkomitmen
Pembangunan perkotaan layak huni dan berkelanjutan sejatinya ti- dak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Peran pemerin- tah daerah juga menjadi acuan ke- berhasilan pembangunan tersebut.
Karena itu, komitmen pun dijalin untuk menguatkan sinergi kedua- nya.
Direktur Jenderal Cipta Karya, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian PUPR Sri Hartoyo, mengatakan sudah menggandeng 27 kepala daerah di Indonesia yang terdiri dari 24 kota dan 3 kabupaten.
Kota tersebut adalah Surabaya, Balikpapan, Bogor, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Padang, Medan,
Malang, Palu, Kupang, Jayapura, Banjarmasin, Ternate, Banda Aceh, Yogyakarta, Palembang, Semarang, Pekalongan, Palangkaraya, Mana- do, Kendari, Tarakan, Ambon, dan Sorong. Sementara ketiga kabu- paten yakni Nunukan, Sumbawa Barat, dan Sumbawa.
Sri Hartoyo menjelaskan, inti dari komitmen ini merupakan ben- tuk pelaksanaan amanat UU No- mor 1 Tahun 2011 tentang Peru- mahan dan Kawasan Permukiman, serta melaksanakan kesepakatan dunia tentang Pembangunan Ber- kelanjutan dan Agenda Baru Perko- taan yang bertujuan mewujudkan kota yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan.
Ada lima poin utama dalam ke- sepakatan tersebut. Pertama, ber- sama-sama dengan seluruh lapisan masyarakat akan menyelenggara- kan pembangunan kota dengan pe- rencanaan dan penganggaran yang transparan untuk mewujudkan permukiman yang aman, tangguh
dan berkelanjutan untuk semua tanpa terkecuali.
Kedua, berkolaborasi dengan pemerintah pusat, provinsi, kabu- paten/kota, dan seluruh masyara- kat dalam rangka menyelenggara- kan pembangunan perkotaan dan kewilayahan yang inovatif, kreatif dan terpadu, sesuai dengan Ren- cana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Ketiga, secara pro-aktif dan ino- vatif, menyediakan perumahan la- yak dan terjangkau serta mening- katkan kualitas dan mencegah permukiman kumuh, melalui pe- nyediaan infrastruktur dasar per- mukiman, antara lain layanan air minum aman, sanitasi layak, akses pada ruang publik serta akses yang menghubungkan masyarakat pada fasilitas publik maupun fasilitas lainnya untuk melaksanakan ke- giatan produktif.
Keempat, secara pro-aktif dan inovatif bersama dengan seluruh warga kota melaksanakan per- aturan bangunan gedung yang ter-
Kolaborasi Wujudkan Kota Layak Huni
Kampung Pelangi, Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Jalan Pemandu bagi Disabilitas Foto oleh : Ismail ABD. Muttalib , Juara 1 Lomba Foto Hari Habitat Nasional
tib dan andal, serta semua peraturan untuk perwujudan permukiman la- yak, melalui perkuatan kapasitas unit pengelola layanan permukiman un- tuk pembangunan perkotaan berke- lanjutan.
Kelima, penyataan akan memim- pin segenap upaya penanggulangan kemiskinan dalam rangka pemera- taan pembangunan melalui pem- bangunan perkotaan berkelanjutan yang produktif dan tanggap terha- dap perkembangan kota, berdasarkan karakteristik, potensi wilayah, dan pelestarian budaya lokal.
Sri Hartoyo menyatakan, semua daerah tersebut telah berkomitmen dan sangat siap dalam melakukan penataan kota bila dibandingkan de- ngan daerah lain. Kesiapan terebut dalam hal program di masing-masing wilayah dan anggaran untuk pena- taan kawasan.
“Upaya penanganan kawasan kumuh berjalan dengan adanya ko- mitmen atau prakarsa, ketersediaan anggaran pengelolaan, sampai pen- dampingan masyarakat sehingga ikut berpartisipasi aktif. Tanpa itu semua, kegiatan penanganan kawasan ku-
muh tidak bisa dilakukan,” tandasnya.
Sri Hartoyo menambahkan, dae- rah lain bisa saja ikut dalam komit- men penyelenggaraan tata kota yang layak ini. Asalkan, pemerintah daerah telah siap dengan konsep dan imple- mentasinya. Dengan begitu, pemerin- tah pusat nantinya akan melakukan pengawasan terkait pelaksanaan pro- gram tersebut. “Memang pemerintah daerah yang harus jadi nahkodanya menciptakan tata kota yang layak dan nyaman, karena mereka lebih paham wilayah dan kultur masing-masing,”
pungkasnya. n
Bahu Membahu Menata Kawasan Kumuh Kota 19
Bahu Membahu Menata Kawasan Kumuh Kota
U
RBANISASI yang terjadi saat ini tidak terkendali.Bila menilik data pendu- duk Indonesia dari perki- raan Bank Dunia (World Bank), tahun ini jumlahnya mencapai sekitar 255 juta jiwa. Sebanyak 54 persen populasi di antaranya menghuni di perkotaan.
Bahkan, angka itu diperkirakan naik menjadi 305 juta penduduk pada 2035 mendatang dengan sekitar 67 persen di antaranya tinggal di perkotaan.
Tingginya kenaikan dan laju urba- nisasi disinyalir mengakibatkan pe- layanan prasarana dan sarana tidak seimbang dengan jumlah penduduk.
Permasalahan ini pada akhirnya me- nimbulkan permasalahan kumuh di
perkotaan. Kondisi demikian men- dorong Pemerintah untuk menangani perkotaan dan perdesaan harus meng- gunakan pendekatan hubungan antar kawasan perkotaan dan perdesaan (urban-rural linkage).
Direktur Jenderal Cipta Karya, Sri Hartoyo memaparkan, Pemerintah berkomitmen sepanjang periode 2015- 2019 akan mengurangi permukiman kumuh dan menyediakan permu- kiman yang layak huni, produktif, dan berkelanjutan. Program dan kegiatan di perkotaan nantinya difokuskan pada pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh.
Selain itu, upaya pencegahan juga dilakukan untuk menekan tumbuh-
Pemerintah mendorong penataan kawasan kumuh di seluruh penjuru nusantara melalui KOTAKU. Ada belasan ribu kelurahan/desa yang menjadi target sasaran program tersebut.
Taman Fatmawati, Wonosobo, Jawa Tengah
Perkampungan warga di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah
kembangnya kawasan permukiman kumuh di perkotaan dan sekitarnya, termasuk di antaranya mengurangi laju urbanisasi. Di samping itu, pem- benahan standar pelayanan infra- struktur pemukiman pedesaan juga diterapkan di kawasan peri-urban.
Sebagai perwujudan komitmen tersebut, lanjut Sri Hartoyo, pihak- nya menginisiasi program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Program ini merupakan bagian dari gerakan 100-0-100, yakni 100 persen keter- sediaan akses air bersih, 0 persen kawasan kumuh dan 100 persen ke- tersediaan akses sanitasi sehat. Selain itu, program penanganan kawasan kumuh ini juga merupakan upaya mendukung tercapainya target Sus- tainable Development Goals (SDGs) terkait akses terhadap air bersih dan sanitasi layak.
Penerapan KOTAKU meliputi National Slum Upgrading Program
(NSUP) dan Neighborhood Upgra- ding Shelter Project Phase 2 (NUSP-2).
Sedangkan di kawasan peri-urban, dilaksanakan program Regency Sett- lement Infrastructure Development (RSID). “KOTAKU sebagai platform kolaborasi penanganan kumuh di wi- layah perkotaan sudah dimulai sejak 2015. Kalau RSID, masih dalam tahap penyiapan program,” jelas Sri Har- toyo, di Jakarta, beberapa pekan lalu.
Sesuai dengan arah kebijakan Di- tjen Cipta Karya, lanjut Sri Hartoyo, semua pembangunan permukiman dilakukan dengan membangun sis- tem, fasilitasi pemerintah daerah menjadi nakhoda dan pemberdayaan masyarakat. Dengan begitu, sudah seharusnya perlu koordinasi untuk mengimplementasikan kedua pro- gram tersebut.
Program KOTAKU dilaksanakan di 11.067 kelurahan/desa di 269 kabu- paten/kota yang tersebar di 34 pro-
vinsi. Total kawasan permukiman kumuh yang berada Indonesia seluas 38.431 hektar, terdiri dari 23.473 hek- tar berada di wilayah perkotaan dan 11.957 hektar di perdesaan. Semen- tara, kata Sri Hartoyo, luas permu- kiman kumuh di lokasi sasaran pro- gram tersebut—berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kumuh yang ditetap- kan oleh Kepala Daerah masing-ma- sing kabupaten/kota—seluas 23.656 hektar.
Penanganan kawasan kumuh ini sebenarnya sudah dilakukan oleh Di- rektorat Jenderal Cipta Karya sejak tahun 1999-2006 dengan nama Pro- yek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). Kemudian, pada tahun 2007-2014 program P2KP ber- transformasi menjadi Program Na- sional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan). Setelah itu, sejak 2014 program tersebut bertransformasi
Tanaman Pot untuk penghijauan sekaligus pengaman di sepanjang Sungai Cidongkol , Tasikmalaya
21
menjadi Program Penanganan Kawa- san Kumuh Perkotaan (P2KKP).
Dukungan Dana
Berdasarkan data yang ada, sum- ber pembiayaan KOTAKU berasal dari pinjaman luar negeri lembaga donor, yaitu Bank Dunia (World Bank) sebe- sar US$433 juta, Islamic Development Bank Group (IDB) senilai US$329,76 juta, dan Asian Infrastructure Invest- ment Bank (AIIB) US$74,4 juta.
Kendati demikian, jumlah ku- curan dana ketiga bank itu dipastikan tidak akan mencukupi. Karena itu, sumber pembiayaan tersebut bukan- lah satu-satunya. Program ini juga mewajibkan dukungan dan komit- men dari daerah melalui alokasi dana APBD provinsi dan kabupaten/kota.
Selain itu, kebutuhan dana lainnya dapat diperoleh dengan melibatkan pihak lainnya yaitu dana swasta me- lalui Corporate Social Responsibility
(CSR) serta bantuan swadaya masya- rakat.
Selama periode 2015-2016, komit- men swadaya untuk program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) mencapai kisaran 10-15 persen. Sementara, ko- mitmen pemerintah daerah dan pi- hak swasta mampu mengisi sam- pai dengan 50 persen pembiayaan penanganan kumuh, baik untuk ke- giatan infrastruktur maupun sarana pendukung lainnya (ekonomi, sosial, dan pelatihan).
Salah satunya penerapan program KOTAKU, dilaksanakan di Kelu- rahan Pisangan Timur, Jakarta Timur.
Kawasan ini memang termasuk dalam prioritas penanganan kawasan per- mukiman kumuh perkotaan. Permasa- lahan kumuh dalam kawasan ini terdi- ri dari kondisi bangunan, aksesibilitas kawasan, drainase, layanan air minum, air limbah, pengolaan persampahan, serta pengamanan kebakaran.
Saat kunjungan beberapa bulan lalu, Presiden IDB, Bandar Al Hajjar dan rombongan melihat secara langsung usaha dan kegiatan yang dilakukan ke- lompok masyarakat antara lain PAUD Anggrek 014, Kelompok Swadaya Ca- mar Putih. Kegiatan yang dilakukan di antaranya, memproduksi kerajinan tangan dari limbah kertas dan plastik, usaha susu kedelai dan sirup entris.
Adapun kegiatan infrastruktur yang dikerjakan adalah pembuatan plat pe- nutup saluran air/selokan dan saluran hujan tertutup.
“Senang bisa membantu dan bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia di proyek ini. Ini adalah tugas kami untuk membina pembangunan sosial eko- nomi di negara-negara anggota IDB.
Dukungan dana IDB hingga kini men- capai US$7 miliar. Sedangkan untuk program KOTAKU, kami siap bantu sebesar US$800 juta untuk seluruh In- donesia,” pungkas Bandar. n
Bahu Membahu Menata Kawasan Kumuh Kota
Program Sanitasi
Berbasis Masyarakat Terus Ditingkatkan
Selama lima tahun, Kementerian PUPR menargetkan akses sanitasi masyarakat yang layak dapat tersedia di 94.454 lokasi. Tahun ini, pencapaiannya ditargetkan sebesar 85 persen.
D
ALAM Rencana Pem-bangunan Jangka Mene- ngah Nasional (RPJMN) 2015-2019, Pemerintah me- lalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) me- nargetkan tercapainya program 100-0- 100. Program tersebut adalah 100 per- sen akses aman air minum, 0 persen kawasan kumuh, dan 100 persen akses sanitasi layak. Target tersebut bertu- juan mewujudkan lingkungan permu- kiman yang baik yang berdampak pada peningkatan kesehatan masyarakat.
Menteri PUPR, Basuki Hadi- muljono menjelaskan, masalah sani- tasi bukanlah masalah pembangunan infrastruktur semata, namun juga sangat bergantung pada pola peri- laku hidup sehat. Namun sayangnya, persepsi masyarakat untuk menjaga kesehatan lingkungan masih belum menjadi kebutuhan. Kondisi itu di- lihat dari masih banyak ditemuinya praktek buang air besar (BAB) di sembarang tempat. Bila berdasar- kan catatan Kementerian Kesehatan, ada 32 juta rumah tangga di selu-
ruh Indonesia yang belum memiliki fasilitas jamban. “Masyarakat harus diingatkan soal ini. Makanya, saya minta kerja sama semua stakeholder untuk menyelesaikan persoalan ini,”
ujarnya di Bali, beberapa pekan lalu.
Upaya untuk mencapai 100 per- sen akses sanitasi layak di Indonesia pun sudah dilakukan. Salah satunya dengan mengadakan sosialisasi dan perjanjian kerja sama (PKS) Pro- gram Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) dan Tempat Pengolahan Sampah dengan Pola Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R). Program yang di- lakukan Direktorat Jenderal Cipta Karya ini diselenggarakan di Bali de- ngan mengikutsertakan 46 bupati/
wali kota.
Direktur Jenderal Cipta Karya, Sri Hartoyo menyampaikan, penanda-
PISEW Desa Gunung Sari, Temanggung, Jawa Tengah
Pansimas di Kabupaten Pegaf, Papua Barat
Program Sanitasi Berbasis Masyarakat Terus Ditingkatkan 23
tanganan PKS ini bertujuan untuk mendukung komitmen bersama an- tara pemerintah pusat dan pemerin- tah daerah melalui pembagian tugas dan tanggung jawab terhadap penge- lolaan Sanimas dan TPS 3R sehingga dapat berkelanjutan.
Menurutnya, peran aktif pemerin- tah daerah dalam melibatkan stake- holder lainnya sangat penting untuk mencapai target akses sanitasi layak.
Pada 2016, progres penyediaan sani- tasi layak sudah mencapai 67,2 per- sen. Tahun ini, Kementerian PUPR menargetkan adanya peningkatan pencapaian akses sanimas tersebut menjadi 85 persen.
Program Sanimas merupakan pro- gram pembangunan infrastruktur air limbah komunal dengan sasar- annya MBR di perkotaan agar da- pat memiliki akses air limbah aman.
Sedangkan, TPS-3R merupakan in- frastruktur yang di bangun untuk mengurangi sampah. Dengan begitu, sampah dapat terpilah sehingga akan memperlama umur TPA.
Tahun ini, Direktorat Jenderal Cipta Karya melakukan program Sanimas pada 126 lokasi dan pem- bangunan TPS-3R di 75 lokasi, yang tersebar di 31 provinsi di seluruh In- donesia. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, sumber pendanaannya ber- asal dari APBN, APBD, DAK, serta melalui sumber pendanaan lainnya.
Sri Hartoyo menambahkan, perlu keterlibatan beberapa pihak untuk mendukung kelancaran dan keber- hasilan program tersebut. Dengan demikian, kesuksesan program sani- mas tidak hanya dari pemerintah pu- sat, tetapi juga karena adanya peran aktif pemerintah daerah dan peran serta masyarakat dalam pengopera- sian dan pemeliharaan infrastruktur yang telah terbangun.
“Ini semua membutuhkan du- kungan dan kerja sama berbagai pi- hak. Kita harapkan peran serta para pemangku kepentingan lainnya se- perti Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan dan tentu- nya pemerintah daerah, dalam hal penyediaan lahan, penganggaran
biaya operasional dan pemeliharaan, penyiapan kelembagaan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), serta pendampingan dan pengawasan ter- hadap keberlanjutan infrastruktur Sanimas dan TPS 3R terbangun,” kata Sri Hartoyo.
Dalam pembangunan Sanimas dan TPS-3R, masyarakat berperan langsung dalam pembangunannya, sementara pemerintah memfasilitasi serta memberikan pendampingan pelaksanaan kegiatan. Beberapa ke-
giatan pembangunan Sanimas di- antaranya seperti pembangunan prasarana Mandi Cuci Kakus (MCK), Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal, Instalasi Pengo- lahan Air Limbah (IPAL) Kombinasi dengan MCK dan Sambungan Ru- mah (SR). “Kami akan terus percepat pembangunan IPAL komunalnya se- hingga dapat rampung pada tahun ini,” imbuhnya.
Kementerian PUPR sendiri da- lam periode 2015-2019 menargetkan
Pemanfaatan air yang dapat digunakan langsung untuk diminum
Sanimas ada di 94.454 lokasi dengan kebutuhan anggaran Rp1,9 triliun dan TPS-3R di 5.279 lokasi dengan kebutuhan anggaran Rp1 triliun. Se- lain Sanimas yang berskala komu- nal, Direktorat Jenderal Cipta Karya juga telah membangun infrastruktur sanitasi berskala regional, kota, dan kawasan.
Penyediaan Air Minum
Selain Sanimas, Direktorat Jen- deral Cipta Karya juga membangun infrastruktur Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (Pamsimas III) di 15.000 desa baru yang berada di 365 kabupaten dan 33 provinsi pada periode 2016-2019. Upaya itu me- lanjutkan capaian Pamsimas I pe- riode 2008-2012 dan Pamsimas II 2013-2015 yang telah diimplementasi- kan di 12.000 desa yang berada di 220 kabupaten dan 34 provinsi. Pamsimas yang dibangun memiliki kapasitas air minum 47.700 liter/detik, tambahan
akses air minum aman bagi 9 juta jiwa, dan tambahan akses sanitasi layak un- tuk 8,4 juta jiwa.
Sri Hartoyo memaparkan, pem- bangunan pamsimas bertujuan untuk meningkatkan akses aman air minum dan sanitasi layak yang berkelanjutan serta perilaku hidup bersih dan se- hat. Selain itu, menurunkan buang air sembarangan dan angka penyakit serta mengarus-utamakan program penyediaan akses air minum dan sani- tasi melalui partisipasi aktif masyara- kat.
Sementara sebagai sasarannya, lan- jut Sri Hartoyo, pamsimas diperun- tukkan bagi Masyarakat Berpengha- silan Rendah (MBR) di pedesaan yang mengalami keterbatasan/rawan akses air minum dan sanitasi layak. Dalam pelaksanaannya, program tersebut menggunakan pendekatan berbasis masyarakat sehingga mereka ikut ter- libat aktif dalam mendukung keberha- silan pamsimas, khususnya di daerah
pedesaan.
Hingga saat ini, program pamsimas telah membantu hampir delapan juta jiwa penduduk Indonesia untuk me- miliki akses ke sarana air minum aman dan lebih dari 7,4 juta jiwa sanitasi la- yak di sekitar 10.000 desa. Di wilayah- wilayah dimana Pamsimas diterapkan, banyak desa yang telah mencapai sta- tus Stop Buang Air Sembarangan (SBS) dan melaksanakan program Cuci Ta- ngan Pakai Sabun (CTPS).
Seiring perubahan perilaku hidup bersih dan sehat ini, masyarakat desa kini dapat menikmati perbaikan ke- sehatan, peningkatan produktivitas, serta standar hidup layak. Di samping itu, pamsimas mendorong pemerin- tah kota/kabupaten untuk menye- diakan sedikitnya 25 persen dari total APBN untuk pamsimas yang diterima- nya guna mengembangkan program air minum dan sanitasinya sendiri di desa-desa lainnya. n
Program PISEW Atasi
Ketimpangan Infrastruktur
Tahun ini, Direktorat Jenderal Cipta Karya
memprioritaskan pengembangan infrastruktur sosial dan ekonomi wilayah (PISEW) di 400 kecamatan.
K
EMENTERIAN Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melaku- kan berbagai upaya untuk mengatasi masalah kesenjangan antar wilayah, kemiskinan, dan pengangguran. Salah satu pende-katan yang dilakukan adalah de- ngan melakukan pembangunan Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM). Program ini diselenggarakan melalui bentuk pemberdayaan dan partisipasi masyarakat sehingga memberikan kontribusi dalam pen-
gentasan kemiskinan dan penye- diaan lapangan kerja.
Salah satu program IBM ada- lah Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW), yang merupakan pembangunan infrastruktur terutama jalan akses penghubung antar desa guna menunjang kegiatan sosial eko- nomi masyarakat sebagai pelaku utama dari proses perencanaan, pe- laksanaan serta pemeliharaan ber- dasarkan potensi wilayah.
Jalan Akses Desa Lalang Baru Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat
Program PISEW Atasi Ketimpangan Infrastruktur 25
PISEW Kabupaten Muntilan, Magelang, Jawa Tengah
Menteri PUPR Basuki Hadi- muljono menyampaikan, pem- bangunan infrastruktur yang di- lakukan Kementerian PUPR tidak hanya menghasilkan infrastruktur fisik, tetapi juga mengurangi kesen- jangan antar wilayah dalam upaya pemerataan pembangunan. “Pem- bangunan infrastruktur nantinya juga harus berkontribusi pada pe- nyediaan lapangan pekerjaan un- tuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia,” tutur Basuki dalam keterangan resminya, beberapa waktu lalu.
Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian PUPR, Sri Hartoyo memaparkan, PISEW bertujuan un- tuk mengurangi kesenjangan antar wilayah, pengentasan kemiskinan,
memperbaiki tata kelola pemerin- tah daerah (kabupaten, kecamatan, dan desa) serta memperkuat kelem- bagaan masyarakat di tingkat desa.
Pada 2016, implementasi PISEW dilakukan di 364 kecamatan. To- tal penerima manfaat sebanyak 1.354.080 kepala keluarga (KK) de- ngan alokasi anggaran sebesar Rp426 miliar. Sedangkan pada ini, program tersebut dilaksanakan di 400 kecamatan dengan pene- rima manfaat sebanyak 1.488.000 kepala keluarga (KK) dan alokasi anggarannya sebesar Rp240 mi- liar. Artinya, masing-masing keca- matan mendapatkan alokasi sebe- sar Rp600 juta.
Meskipun melanjutkan dari ta- hun sebelumnya, Sri Hartoyo me-
nuturkan program PISEW tahun ini menggunakan mekanisme yang baru dengan beberapa penyesuaian konsepsi, justifikasi teknis, dan pengiriman program yang meng- andalkan proses partisipatif oleh masyarakat. Salah satu perubahan yang signifikan di dalam proses pelaksanaannya adalah beralihnya konsep awal akun belanja modal menjadi belanja barang.
Perubahan lainnya yaitu meka- nisme pencairan dana, perubahan mekanisme pelaksanaan, dan pene- kanan pada pendekatan partisipasi masyarakat dalam skala kawasan.
“Semua perubahan tersebut diha- rapkan dapat meningkatkan sosial ekonomi di wilayah,” jelasnya.
Di samping itu, terang Sri Har-
toyo, penerima programnya harus memiliki potensi sebagai kawasan pusat pertumbuhan, pertumbuhan ekonomi, dan dapat menciptakan lapangan kerja, serta sudah sesuai dengan RTRW yang bersangkutan.
Adapun penggunaan dananya untuk pembangunan infrastruktur yang mencakup jalan dan jembatan desa, tambatan perahu, prasarana irigasi kecil penunjang produksi pertanian/industri, prasarana per- tanian, peternakan, perikanan, in- dustri dan pendukung kegiatan pa- riwisata berupa pasar, gudang, dan lantai jemur. Pembangunan lainnya adalah prasarana air minum berupa sumur gali, tangkapan mata air, pe- nampungan air hujan dan hidran umum serta prasarana sanitasi be- rupa drainase permukiman, air lim- bah komunal dan persampahan.
Dalam proses perencanaannya, PISEW dilakukan secara partisi- patif, diarahkan sebagai wujud pelaksanaan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) se- bagaimana tertuang dalam UU No.
25 Tahun 2004 tentang SPPN. U- sulan kegiatan partisipatif PISEW akan dapat mengisi dan merupa- kan bagian dari pelaksanaan Ren- cana Strategis Daerah (Renstrada) dari masing-masing kecamatan dan kabupaten peserta. Dengan demi- kian diharapkan kegiatan PISEW dapat bersinergi dengan kegiatan lainnya dari program pembagu- nan daerah terkait, dan memi- liki kontribusi dalam pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang merupakan penjabaran dari RPJM Nasional.
Sementara, saat pelaksanaan- nya, proses penetapan lokasi dan perencanaan dilakukan oleh para konsultan (Fasilitator dan Ahli) yang mengenal dekat konteks adat dan budaya lokal. Hal ini dilakukan dengan melibatkan tim pelaksana di kabupaten dan kecamatan serta masyarakat setempat selama ku- rang lebih empat bulan. Sedangkan konsep pelaksanaan infrastruktur-
nya dilakukan secara kontraktual dengan pendekatan pembangunan kawasan perdesaan yang meng- utamakan padat karya selama ku- rang lebih tiga bulan.
Adapun pemilihan dan penun- jukan penyedia jasa konstruksi di- lakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait pengadaan barang dan jasa pemerintah. Penyedia Jasa kons- truksi diinstruksikan untuk meng- optimalkan penggunaan material lokal yang memenuhi spesifikasi dalam kontrak, serta mendayagu- nakan tenaga kerja lokal yang se- suai dengan kemampuan teknis jenis pekerjaannya.
Secara khusus, PISEW merupa- kan satu dari beberapa program bidang infrastruktur permukiman yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya. Tahun ini,
Direktorat Jenderal Cipta Karya mendapatkan alokasi Rp15,935 tri- liun (15,7 persen). Anggaran ter- sebut diperuntukkan untuk pem- bangunan dan penataan kawasan di tujuh Pos Lintas Batas Negara (PLBN), pengembangan infrastruk- tur permukiman di sembilan Kawa- san Perbatasan, pembangunan SPAM (Sistem Pengembangan Air Minum) 3.603 liter perdetik yang terdiri dari sepuluh SPAM Regio- nal, delapan SPAM Kota dan tiga SPAM pulau terluar.
Selain itu, pekerjaan lainnya meliputi pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk sampah regional di tiga kawasan, instalasi Pengolahan Air Limbah, dukungan infrastruktur kampung nelayan di enam kawasan, du- kungan wisata di lima kawasan dan penataan kawasan kumuh. n
27
Aksi Pembersihan Drainase Lingkungan, Tarakan, Kalimantan Utara
Program PISEW Atasi Ketimpangan Infrastruktur
K
EMENTERIAN Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus men- dorong program 100-0-100 dapat terwujud pada 2019 mendatang.Gerakan yang dimaksud adalah 100 persen ketersediaan akses air bersih, 0 persen kawasan kumuh dan 100 per- sen ketersediaan akses sanitasi sehat.
Hingga saat ini, pelaksanaannya terus dilakukan di berbagai daerah di selu- ruh penjuru nusantara.
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljo- no meyakini program tersebut dapat dicapai dalam dua tahun mendatang.
Hingga saat ini, capaian akses air mi- num baru mencapai 67 persen, akses sanitasi layak 60 persen, dan menyisa-
kan 12 persen kawasan permukiman kumuh. “Kalau ingin mewujudkan kawasan yang layak huni dan berke- lanjutan, harus didukung beberapa aspek, terutama pelayanan air bersih dan akses sanitasi yang layak,” papar- nya beberapa pekan lalu di Jakarta.
Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan, dari sekitar 75 juta ke- luarga di Indonesia, baru 68,05 per- sen yang memiliki sanitasi layak. Di Jakarta misalnya, meski sebagai kota metropolitan yang maju, masih ada 26,31 persen keluarga belum memi- liki sanitasi yang bersih. Sementara itu, kondisi itu juga ditambah dengan perilaku buang air besar (BAB) sem- barangan yang masih tinggi. Baru 8.429 dari sekitar 82.000 desa atau kelurahan di Indonesia yang stop BAB sembarangan.
Belum lagi, kondisi sanitasi yang buruk juga disebabkan persoalan
Kejar Asa Meraih 100-0-100
PDAM Tirta Khatulistiwa, Kalimantan Barat
Pelayanan air bersih dan akses sanitasi yang layak
menjadi syarat untuk mendukung kawasan yang sehat
dan layak huni. Pemerintah pun gencar mendorong
implementasi gerakan 100-0-100.
Sanimas Desa Laugumba, Kabupaten Karo, Sumatera Utara sungai-sungai di Indonesia. Sebagai
salah satu sumber air, sekitar 68 per- sen sungai di Indonesia mengalami pencemaran berat. Dari sungai-sungai tersebut, 70 persennya tercemar oleh limbah rumah tangga.
“Kalau kita tidak mempunyai akses air bersih dan sanitasi, subsidi kita pasti ke Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) terus. Daripada ke BPJS, lebih baik orang harus sehat,” celetuk Basuki.
Dalam hal penyediaan infrastruk- tur air minum, berdasarkan data Di- rektorat Jenderal Cipta Karya Kemen- terian PUPR, capaian di awal tahun 2016 sebesar 71,05 persen dari target 100 persen pada tahun 2019. Target tersebut dicapai melalui berbagai program, antara lain pembangunan SPAM regional, pembangunan SPAM perkotaan, SPAM berbasis masyara- kat, SPAM di kawasan khusus, SPAM PDAM terfasilitasi, dan SPAM non- PDAM terfasilitasi.
Direktur Bina Program, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian PUPR, Antonius Budiono menjelas- kan, sampai tahun lalu, pengadaan SPAM regional telah dilakukan di lima kawasan, SPAM perkotaan se- besar 9.295 liter/detik untuk 929.450 sambungan rumah, SPAM berbasis masyarakat sebesar 1.929 liter/detik untuk 937.280 sambungan rumah.
Pengerjaan lainnya meliputi SPAM di kawasan khusus sebesar 2.056 liter/
detik untuk 515.640 sambungan ru- mah, PDAM terfasilitasi sebanyak 56 PDAM dan 788 kawasan, dan non- PDAM di 262 kawasan.
Untuk penyediaan infrastruktur sanitasi, capaian hingga tahun lalu se- besar 62 persen. Sementara untuk me- menuhi target sisanya, Kementerian PUPR memfokuskan pada program pengolahan air limbah skala regio- nal, skala kota, dan skala kawasan, pengolahan air limbah khusus, pem- bangunan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, dan pembangunan drainase lingkungan.
Pada 2015, pembangunan pengo- lahan air limbah skala regional telah tercapai bagi 172.510 kepala keluarga.
Selain itu, pencapaian lainnya yakni pengolahan air limbah skala kota bagi 489.220 kepala keluarga, pengolahan air limbah skala kawasan bagi 448.320 kepala keluarga, pengolahan air lim- bah khusus bagi 39.500 kepala ke- luarga, dan pembangunan TPA di 123 kabupaten/kota, serta pembangunan drainase dengan total seluas 2.650 hektar.
Sementara tahun lalu, target pem- bangunan pengolahan air limbah skala regional untuk 2.350 kepala ke- luarga, pengolahan air limbah skala kota bagi 604.930 kepala keluarga, pengolahan air limbah skala kawasan untuk 60.185 kepala keluarga, pengo- lahan air limbah khusus untuk 2.825 kepala keluarga, dan pembangunan drainase lingkungan dengan total se- luas 427 hektar.
Penanganan lainnya adalah kawa- san permukiman kumuh. Kawasan kumuh yang ada di Indonesia men- capai 38.431 hektar, terdiri dari 23.473 hektar berada di wilayah perkotaan dan 11.957 hektar di wilayah perde- saan. Untuk itu, khusus untuk wilayah perkotaan, Ditjen Cipta Karya Kemen- terian PUPR melaksanakan berbagai program penanganan permukiman
kumuh antara lain, sinergi penyu- sunan perencanaan penanganan ku- muh dengan pemerintah daerah atau Rencana Pencegahan dan Pening- katan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) di 93 kabu- paten/kota dan Rancangan Peraturan Daerah tentang Peningkatan Kualitas Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di 68 kabupaten/kota melalui sumber pendanaan APBN.
Program tersebut dilaksanakan melalui pendanaan pinjaman luar ne- geri (World Bank dan Islamic Deve- lopment Bank), APBN, dan APBD dilaksanakan kegiatan National Slum Upgrading Program (NSUP)-Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dan Neighborhood Upgrading and Shelter Project 2 (NUSP-2).
Penanganan kawasan kumuh ini, menurut Antonius, memang tidak bisa hanya menjadi pekerjaan peme- rintah pusat saja. Peran pemerintah daerah dan pelibatan swasta serta masyarakat tentu akan menjadi du- kungan kuat untuk menciptakan nol persen kawasan kumuh di Indonesia pada 2019 mendatang. “Tentu semua- nya dapat terwujud dengan dukungan seluruh pihak,” pungkasnya. n
Kejar Asa Meraih 100-0-100 29
Penataan Kota dan Sanitasi Demi Mencapai SDG’s
Kementerian PUPR terus berupaya memenuhi dua tujuan utama pembangunan berkelanjutan (SDG’s) yang menjadi lingkup kerjanya. Sejumlah program
pencapaiannya diterapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional hingga 2019 mendatang.
A
GENDA untuk pem-bangunan berkelanjutan meliputi 17 tujuan pem- bangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG’s) dengan 169 kelompok sasaran yang terintegrasi dan tak terpisahkan satu sama lain. Seluruh pencapaian- nya ditargetkan hingga 2030 men- datang. Dua tujuan pembangunan berkelanjutan di antaranya terus diupayakan Kementerian Peker- jaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tercapai pada 2019. Tujuan 6 tentang Menjamin ketersediaan
dan pengelolaan berkelanjutan air dan sanitasi bagi semua. Selanjutnya, poin 11 tentang mewujudkan perko- taan dan kawasan permukiman yang inklusif, aman, berketahanan, dan berkelanjutan.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljo- no memaparkan bahwa kedua tujuan tersebut telah disesuaikan dengan Rencana Pembangunan Jangka Me- nengah Nasional 2015-2019. Me- nurutnya, saat ini perencanaan pe- ngembangan perkotaan di Indonesia telah menerapkan prinsip-prinsip membangun kota dan permukiman
yang inklusif, aman, berketahanan, dan berkelanjutan. Selain itu, penye- diaan air minum dan sanitasi yang la- yak juga terus ditingkatkan. “Semua- nya masih terus berjalan sesuai target yang dicapai,” terangnya di Jakarta, September lalu.
Salah satunya pencapaiannya yaitu melalui program 100-0-100. Program ini menargetkan terpenuhinya 100 persen penyediaan air minum, 0 per- sen kawasan kumuh perkotaan, dan 100 persen tersedianya sanitasi masya- rakat yang menyangkut sampah, lim- bah, dan drainase lingkungan. Hingga saat ini, capaian akses air minum baru mencapai 71,05 persen, akses sanitasi layak 62 persen, dan menyisakan ku- rang dari 10 persen kawasan permu- kiman kumuh.
Dalam hal penyediaan infrastruk- tur air minum, berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta
Sanimas Bulakwaru, Tegal, Jawa Tengah
Sanimas di Tabanan, Bali
Penataan Kota dan Sanitasi Demi Mencapai SDG’s 31
Karya Kementerian PUPR, capaian di awal tahun 2016 sebesar 71,05 per- sen dari target 100 persen pada tahun 2019. Target tersebut dicapai me- lalui berbagai program, antara lain pembangunan SPAM regional, pem- bangunan SPAM perkotaan, SPAM berbasis masyarakat, SPAM di kawa- san khusus, SPAM PDAM terfasilitasi, dan SPAM non-PDAM terfasilitasi.
Hingga akhir 2016, pengadaan SPAM regional telah dilakukan di lima kawasan, SPAM perkotaan se- besar 9.295 liter/detik untuk 929.450 sambungan rumah, SPAM berbasis masyarakat sebesar 1.929 liter/detik untuk 937.280 sambungan rumah.
Pengerjaan lainnya meliputi SPAM di kawasan khusus sebesar 2.056 liter/
detik untuk 515.640 sambungan ru- mah, PDAM terfasilitasi sebanyak 56 PDAM dan 788 kawasan, dan non- PDAM di 262 kawasan.
Untuk penyediaan infrastruktur sanitasi, capaian hingga tahun lalu se- besar 62 persen. Sementara untuk me- menuhi target sisanya, Kementerian PUPR memfokuskan pada program pengolahan air limbah skala regio- nal, skala kota, dan skala kawasan, pengolahan air limbah khusus, pem- bangunan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, dan pembangunan drainase lingkungan.
Pada 2015, pembangunan pengo- lahan air limbah skala regional telah tercapai bagi 172.510 kepala keluarga.
Selain itu, pencapaian lainnya yakni pengolahan air limbah skala kota bagi 489.220 kepala keluarga, pengolahan air limbah skala kawasan bagi 448.320 kepala keluarga, pengolahan air lim- bah khusus bagi 39.500 kepala ke- luarga, dan pembangunan TPA di 123 kabupaten/kota, serta pembangunan drainase dengan total seluas 2.650 hektar.
Sementara tahun lalu, target pem- bangunan pengolahan air limbah skala regional untuk 2.350 kepala ke- luarga, pengolahan air limbah skala kota bagi 604.930 kepala keluarga, pengolahan air limbah skala kawasan untuk 60.185 kepala keluarga, peng- olahan air limbah khusus untuk 2.825
kepala keluarga, dan pembangunan drainase lingkungan dengan total se- luas 427 hektar.
Penanganan lainnya adalah kawa- san permukiman kumuh. Kawasan kumuh yang ada di Indonesia men- capai 38.431 hektar, terdiri dari 23.473 hektar berada di wilayah perkotaan dan 11.957 hektar di wilayah perde- saan. Untuk itu, khusus untuk wi- layah perkotaan, Ditjen Cipta Karya melaksanakan berbagai program pe- nanganan permukiman kumuh an- tara lain, sinergi penyusunan peren- canaan penanganan kumuh dengan pemerintah daerah atau Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kuali- tas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) di 93 kabupaten/kota dan Rancangan Peraturan Daerah tentang Peningkatan Kualitas Perumahan Ku- muh dan Permukiman Kumuh di 68 kabupaten/kota melalui sumber pen- danaan APBN.
Sementara itu, Kepala Badan Pe- ngembangan Infrastruktur Wilayah
(BPIW), Kementerian PUPR, Rido Matari Ichwan menuturkan, pengem- bangan infrastruktur perkotaan di Indonesia serta penyediaan air dan sa- nitasi yang layak telah diadopsi dalam agenda nasional. “Dalam hal ini, salah satu buktinya pendekatan wilayah pe- ngembangan strategis atau WPS seba- gai basis perencanaan keterpaduan in- frastruktur di Indonesia,” terangnya.
Rido menerangkan, seluruh wila- yah di Indonesia terkelompokkan ke- pada 35 WPS. Konsep WPS tersebut menstimulasi pembangunan infra- struktur, agar secara bersamaan klus- ter industri dan perkotaan, lumbung pangan serta transportasi dapat tum- buh mengangkat daya saing masyara- kat yang lebih tinggi.
Dalam WPS, lanjutnya, ada koneksi antara infrastruktur yang dipadukan dengan infrastruktur lainnya. “De- ngan demikian, perencanaan pengem- bangan infrastruktur saling sinergi dan mendukung kawasan semua kawasan,”
pungkasnya. n
Peningkatan Kawasan Permukiman Kumuh, Tabanan Bali
Terus Lakukan Penataan Kawasan di Penjuru
Nusantara
Hingga kini, Kementerian PUPR terus melakukan sejumlah pembangunan dan penataan kawasan di berbagai daerah. Mulai dari penataan kawasan perbatasan, pesisir, hingga ruang terbuka hijau dan permukiman kumuh.
K
EMENTERIAN PekerjaanUmum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus ber- upaya untuk menata ber- bagai kawasan yang tersebar di selu- ruh penjuru nusantara. Caranya ialah dengan mempercepat pembangunan infrastruktur PUPR secara terpadu dari pinggiran untuk keseimbangan pembangunan antardaerah, terutama
di kawasan tertinggal, kawasan per- batasan, dan kawasan perdesaan.
Sejak dua tahun terakhir, berbagai pembangunan gencar dilakukan. Sa- lah satunya di kawasan perbatasan.
Presiden RI, Joko Widodo memahami kawasan ini jauh tertinggal dari dae- rah perbatasan negara tetangga. Ka- rena itu, Kementerian PUPR sebagai leading sector memprioritaskan pem-
bangunan kawasan beranda negara.
Total ada tujuh pos perbatasan yang menjadi prioritas untuk segera dibenahi. Seluruhnya terletak di tiga provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.
Di Kalimantan Barat meliputi PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Entikong di Kabupaten Sanggau, PLBN Ter- padu Aruk di Kabupaten Sambas, dan PLBN Terpadu Nanga Badau di Kabupaten Kapuas Hulu. Tiga PLBN berikutnya terletak di Nusa Tenggara Timur. PLBN Terpadu Mota’ain di Kabupaten Belu, PLBN Terpadu Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara, dan PLBN Terpadu Motamasin, Kabupaten Malaka. Sementara, satu
Terus Lakukan Penataan Kawasan di Penjuru Nusantara 33
pos prioritas yang harus dibangun ada di Papua, yaitu PLBN Skouw di Kota Jayapura.
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljo- no menerangkan, pembangunan kawasan perbatasan sebagian besar sudah selesai. Bahkan kawasan ini sudah bisa difungsikan. Menurut- nya, kawasan perbatasan ini tidak lagi hanya sekadar pos lintas perbatasan saja, namun fungsinya juga diting- katkan menjadi pusat perekenomian daerah. “Bahkan, berpotensi menjadi kawasan daya tarik wisata bagi ba- nyak orang,” katanya di Jakarta, bebe- rapa pekan lalu.
Tak hanya itu saja, Kementerian PUPR juga mendorong percepatan pembangunan Kawasan Strate- gis Pariwisata Nasional (KSPN) Se- jak tahun lalu, ada 10 KSPN yang digadang-gadang menjadi ‘Bali Baru’.
Destinasi tersebut adalah Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Morotai (Maluku Utara), Pulau Komodo-La- buan Bajo (NTT), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Ke-
pulauan Seribu (DKI Jakarta), Danau Toba (Sumatra Utara), Bromo-Teng- ger-Semeru (Jawa Timur), Mandalika Lombok (NTB) dan Tanjung Lesung (Banten).
Direktur Jenderal Cipta Karya, Ke- menterian PUPR, Sri Hartoyo me- ngatakan, hingga saat ini pihaknya masih terus membangun berbagai in- frastruktur publik seperti jalan ling- kungan, drainase, penataan kawasan, sarana air minum, persampahan, air limbah dan ruang terbuka hijau. Ter- kait penempatan, kata dia, akan dise- suaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) daerah.
Dia menambahkan, program penataan lainnya difokuskan pada kawasan kumuh di pesisir dan pem- bangunan rumah khusus untuk nelayan. “Hal ini perlu agar kawasan pesisir menjadi daerah pemukiman yang lebih manusiawi, layak huni dan tertata baik lingkungannya,” ungkap Sri Hartoyo secara terpisah, di Jakarta.
Penataan kawasan permukiman nelayan dan tepi air ini mencakup 11 lokasi. Seluruh kawasan tersebut
yakni Kampung Beting (Kota Ponti- anak), Kampung Sumber Jaya (Kota Bengkulu), Kawasan Nelayan Indah (Kota Medan), Kampung Kuin (Kota Banjarmasin), Kampung Karangsong (Kota Indramayu), Kampung Tegal- sari (Kota Tegal), Kampung Tambak Lorok (Kota Semarang), Kampung Moro Demak (Kabupaten Demak), Kampung Untia (Kota Makassar), Kampung Oesapa (Kota Kupang) dan Kawasan Hamadi (Kota Jayapura).
Tiga di antaranya, Kampung Beting (Kota Pontianak), Kampung Tegalsari (Kota Tegal) dan Kampung Sumber Jaya (Kota Bengkulu) telah dikerjakan.
Delapan sisanya masih dalam tahap pengerjaan. “(Pengerjaannya) sudah dimulai sejak tahun lalu sampai 2019, tapi dipercepat dan mudah-mudahan tuntasnya akhir 2018. Indonesia me- miliki jumlah kawasan pesisir yang banyak. Dengan penataan 11 kawasan ini diharapkan akan menjadi contoh pembenahan kawasan pesisir,” kata Sri Hartoyo.
Umumnya, pengerjaan meliputi penataan jalan, jembatan, pem-
Revitalisasi Istana Tampak Siring, Kabupaten Gianyar, Bali
Taman Fatmawati, Wonosobo, Jawa Tengah
bangunan rusun, revitalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH), penanganan turap, peningkatan drainase, pem- bangunan unit MCK (mandi, cuci, kakus) komunal, penyediaan akses air minum, dan fasilitas listrik.
Penataan lainnya juga dilaku- kan di kawasan lingkungan pendi- dikan, khususnya pondok pesantren (ponpes). Sejak 2015, Kementerian PUPR melakukan penataan dengan membangun rusun dan kawasan ponpes untuk menunjang kegiatan pendidikan. Kala itu, sebanyak 25 tower dengan 770 unit berhasil di- bangun di 25 titik lokasi dengan ang- garan pembangunan rusun sebesar Rp231,7 miliar. Setahun berikutnya, pembangunan 20 tower dengan 600 unit di 20 lokasi dengan anggaran
Rp169.6 miliar. Sedangkan untuk ta- hun ini, penataan kawasan ponpes diwujudkan dengan membangun 22 tower rusun di 22 lokasi ponpes di seluruh Indonesia. Total 660 unit hu- nian yang menelan anggaran sebesar Rp214,8 miliar.
Di samping itu, Kementerian PUPR sejak 2016 juga melakukan banyak penataan lingkungan hijau.
Programnya meliputi proyek RTH dan penanganan kawasan kumuh.
Program ini mencakup area seluas 2.162 hektar yang tersebar di berba- gai kota di Indonesia. Selanjutnya, tahun ini penanganan kawasan per- mukiman kumuh semakin diting- katkan. Kawasan kumuh yang ada di Indonesia mencapai 38.431 hektar, terdiri dari 23.473 hektar berada di wi-
layah perkotaan dan 11.957 hektar di wilayah perdesaan.
Untuk itu, khusus untuk wilayah perkotaan, Ditjen Cipta Karya me- laksanakan berbagai program pena- nganan permukiman kumuh antara lain, sinergi penyusunan perenca- naan penanganan kumuh dengan pemerintah daerah atau Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kuali- tas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KP-KP) di 93 kabupaten/kota dan Rancangan Peraturan Daerah tentang Peningkatan Kualitas Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di 68 kabupaten/kota melalui sumber pendanaan APBN.
Upaya untuk mengatasi masalah kesenjangan antar wilayah, kemis- kinan, dan pengangguran. Salah satu