• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

62

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Pengumpulan Data

Metodologi yang digunakan penulis untuk mendapatkan data terkait perancangan kampanye bahaya menggunakan gawai saat mengemudi adalah metode hybrid atau campuran, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh Cresswell & Cresswell (2018, hlm. 41). Berikut merupakan instrumen data yang digunakan oleh penulis dalam melakukan proses penelitian:

3.1.1 Metode Penelitian Kuantitatif

Metode kuantitatif menurut Cresswell & Cresswell (2018, hlm.41) adalah sebuah pendekatan yang dilakukan untuk menguji sebuah teori-teori objektif dengan menguji hubungan antarvariabel. Pada metode ini penulis menyebarkan kuesioner secara online melalui google form kepada 100 responden pengendara usia muda di Bekasi.

3.1.1.1 Kuesioner

Survei dilakukan oleh penulis dengan menyebarkan kuesioner secara online melalui Google Forms pada tanggal 21 Mei 2021 – 22 Mei 2021 dan 20 September 2021 – 22 September 2021 kepada para pengemudi di Bekasi dengan usia 20-29 tahun dengan tujuan utama untuk mengetahui alasan para pegemudi masih menggunakan gawai saat mengemudi dan pengetahuan para pengemudi mengenai peraturan saat berkendara.

Teknik yang digunakan penulis dalam menyebarkan kuesioner adalah pengambilan sampel non random dengan cara snowball sampling, hingga akhirnya mendapatkan 100 responden. Berdasarkan hasil kuesioner, diketahui sebagian besar usia responden yaitu 20-24 tahun (sebanyak 93%) dan diikuti dengan usia 25-29 tahun (sebanyak 7%) dengan domisili paling banyak berada di daerah Bekasi Timur dengan presentase 31% dari 100

(2)

63

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

responden, dengan pendidikan terakhir SMA/SMK dengan total 74% dan diikuti dengan 25% lulusan S1 dan 1% dengan pendidikan terakhir D3.

Berdasarkan hal tersebut maka sejalan dengan rata-rata pekerjaan responden yang masih menyandang sebagai mahasiswa dengan persentase 87% dan diikuti dengan karyawan sejumlah 8%. Diketahui juga rata-rata pengeluaran per bulan dari para responden yaitu, sebanyak 37% dibawah Rp 1.000.000, diikuti dengan Rp 1.000.000 – Rp 8.000.000 sebesar 31% dan sisanya Rp 1.800.000 – Rp 3.000.000 sebesar 18% dan lebih dari Rp 3.000.000 sebesar 14%.

Sebanyak 52% pengemudi lebih sering menggunakan motor dengan rata-rata waktu yang dihabiskan untuk berkendara selama kurang lebih satu jam, dengan hasil survei sebanyak 33% persen berkendara di bawah satu jam dan 31% berkendara selama satu jam. Seluruh responden (100%) menjawab menjaga keamanan dan kenyamaan saat berkendara merupakan hal yang Berikut rekap hasil pertanyaan yang disebarkan oleh peneliti kepada 100 responden di daerah Bekasi:

Gambar 3.1 Diagram Jumlah Pengendara yang Pernah Mengggunakan Gawai saat Mengemudi

(3)

64

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

Gambar 3.2 Diagram Pengetahuan Responden Terhadap Undang-Undang

Berdasarkan diagram pie chart diatas, sebanyak 63% responden mengakui pernah menggunakan gawai saat mengemudi dan sisanya sebanyak 37% tidak pernah menggunakan gawai saat mengemudi. Padahal sebanyak 86% responden mengatakan bahwa mereka mengetahui adanya undang- undang yang mengatur tentang larangan penggunaan gawai saat mengemudi.

Hal ini menyatakan bahwa para pengemudi masih melakukan pelanggaran dan kurang fokus ketika berkendara.

Gambar 3.3 Diagram Pengetahuan Responden Terhadap Sanksi Lalu Lintas

Namun, 58% responden mengatakan masih belum mengetahui mengenai adanya sanksi yang diterima terhadap para pengemudi apabila berkendara sambil menggunakan gawai.

(4)

65

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

Dalam kuesioner, peneliti juga menyertakan skala likert dengan tujuan ingin mengetahui pandangan dan perilaku para pengemudi ketika berkendara. Skala likert yang diberikan memiliki range 1-5 dengan penjabaran sebagai berikut:

Angka satu (1) menunjukan bahwa responden sangat tidak setuju, angka dua (2) menyatakan responden tidak setuju, angka tiga (3) menunjukan jawaban netral, angka empat (4) menyatakan bahwa responden setuju dan angka lima (5) menunjukan bahwa responden sangat setuju dengan pertanyaan yang diutarakan oleh peneliti.

Gambar 3.4 Diagram Pendapat Responden Terhadap Sikap Fokus saat Berkendara

Berdasarkan diagram batang di atas, diketahui bahwa sebanyak 90%

responden sangat setuju apabila pengemudi harus selalu fokus ketika berkendara. Sebanyak 78% responden juga mengatakan sangat setuju mengenai pentingnya pengemudi untuk mengetahui situasi kondisi jalan, sedangkan sisanya sebanyak 18% mengatakan setuju dan 4% memilih jawaban netral. Diketahui juga bahwa sebanyak 60% responden, yang juga merupakan pengemudi sangat setuju dan 32% menjawab setuju bahwa mereka selalu menerapkan safety riding, sedangkan sisanya sebanyak 8%

menjawab netral.

(5)

66

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

Gambar 3.5 Diagram Penggunaan Gawai saat di Lampu Merah

Namun, berdasarkan diagram di atas dapat disimpulkan bahwa, responden masih ragu mengenai apakah para pengemudi boleh menggunakan gawai ketika berada di lampu merah. Hal tersebut dapat dilihat dari 31% responden yang menjawab netral, sedangkan pada posisi kedua, sejumlah 24% responden menyatakan tidak setuju ketika pengendara menggunakan gawai saat mengemudi, sedangkan sebanyak 9% menyatakan sangat setuju dan 16% menyatakan setuju.

Pada diagram skala likert ini, angka satu (1) menyatakan sangat jarang, angka dua (2) menyatakan jarang, angka tiga (3) menyatakan jawaban kadang-kadang, angka empat (4) menyatakan sering dan angka lima (5) menyatakan sangat sering terhadap penggunaan gawai ketika berkendara.

Gambar 3.6 Diagram Mengenai Kebiasaan Responden terhadap Penggunaan Gawai

(6)

67

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

Hasil survei juga mengatakan bahwa, para responden masih sering menggunakan gawai saat mengemudi, terlihat sebanyak 27% pengendara menjawab kadang-kadang masih menggunakan gawai saat mengemudi 27%

menjawab sering mengunakan gawai saat mengemudi sedangkan 12%

menjawab sangat sering menggunakan gawai saat mengemudi. Total sebanyak 66% pengendara masih menggunakan gawai saat mengemudi, sedangkan 17% pengendara mengatakan jarang dan 17% mengatakan sangat jarang menggunakan gawai ketika mengemudi.

Gambar 3.7 Diagram Kegiatan Penggunaan Gawai saat Sedang Berkendara

Diketahui juga, para pengendara paling sering menggunakan gawai ketika berkendara untuk melihat arah peta elektronik (76% responden) dan mendengarkan musik (sebanyak 42% responden), sedangkan sebanyak 25%

responden mengatakan melihat gawai saat berkendara untuk membalas pesan dan 30% untuk menerima telpon.

Penulis juga menanyakan alasan para pengendara melakukan kegiatan tersebut dikarenakan untuk keperluan mendadak atau urgent, untuk mengetahui arah atau navigasi lokasi tujuan, menghilangkan kantuk dan juga kebosanan ketika sedang diperjalanan. Sebanyak 89% Pengendara juga mengatakan bahwa alasan tersebut merupakan hal yang penting untuk dilakukan, sedangkan 12% mengatakan tidak penting.

(7)

68

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

Gambar 3.8 Diagram Pendapat Responden terhadap Bahaya dari Penggunaan Gawai

Sebanyak 78% responden menyatakan sangat setuju dan 18%

diantaranya mengatakan setuju bahwa penggunaan gawai (terutama ponsel) dapat membahayakan pengemudi serta orang lain di sekitar jalan apabila digunakan ketika sedang berkendara. Sedangkan, 1% diantaranya mengatakan sangat tidak setuju.

Gambar 3.9 Diagram Kepatuhan Responden terhadap Undang-Undang

Hasil kuesioner juga menunjukan, sebanyak 83% responden yang juga merupakan pengemudi sangat setuju dan 15% menyatakan setuju, bahwa pengendara harus mematuhi hukum dan undang-undang yang berlaku ketika sedang berkendara. Sedangkan sisanya, sebanyak 2% menyatakan netral.

Peneliti juga menanyakan alasan para pengemudi pernah menggunakan gawai saat mengemudi, rata-rata mengatakan ponsel digunakan untuk melihat arah melalui peta digital, mengubah pilihan lagu

(8)

69

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

ketika sedang mendengarkan musik dan menjawab telepon serta membalas pesan yang darurat.

Kesimpulan yang didapat oleh peneliti melalui kuesioner ini adalah masih banyak para pegemudi yang kurang fokus ketika berkendara dan cenderung pernah memainkan gawai saat mengemudi walaupun mengetahui konsekuensi dan resiko yang mungkin terjadi, serta undang-undang yang mengatur dan sanksi yang diterima apabila menggunakan gawai saat mengemudi.

3.1.2 Metode penelitian Kualitatif

Menurut Cresswell & Cresswell (2018, hlm. 41), metode penelitian kuantitatif adalah metode yang difokuskan kepada pemahaman makna terhadap suatu individu atau kelompok yang melibatkan prosedur serta pertanyaan terkait isu sosial atau masyarakat.

3.1.2.1 Wawancara

1) Wawancara dengan Pemilik Bengkel Gunung Selamat

Wawancara bersama pemilik Bengkel Gunung Selamat, dilakukan dengan tujuan memperoleh pandangan pemilik bengkel terhadap isu yang sedang diangkat. Wawancara dilakukan bersama dengan Jovaldi, pada hari Minggu, 5 September 2021 secara online melalui aplikasi Zoom pada pukul 17.00 WIB. Melalui wawancara, peneliti mengetahui bahwa Bengkel Gunung Selamat sudah berdiri sejak tanggal 19 September 1989. Selama 32 tahun berdiri, Bengkel Gunung Selamat berfokus kepada perawatan kendaraan berkala. Dalam satu hari dapat menerima 15-20 mobil untuk perawatan seperti mengganti kampas rem, kopling, dan perawatan listrik kendaraan.

(9)

70

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

Jovaldi mengatakan bahwa, dirinya cukup peduli dengan permasalahan atau isu bahaya menggunakan gawai saat mengemudi.

Menurut Jovaldi, penggunaan gawai saat sedang berkendara merupakan hal yang berbehaya. Diceritakan bahwa, Jovaldi memiliki self experience terhadap isu tersebut, yaitu ketika salah satu karyawan Bengkel Gunung Selamat pernah mengalami kejadian fatal yang akhirnya merengut nyawanya akibat bermain ponsel data berkendara menggunakan motor.

Jovaldi berharap tidak ada lagi kejadian serupa yang dapat menimpa karyawan ataupun orang-orang disekitarnya. Maka dari itu, Bengkel Gunung Selamat menjadi mandatory brand dari perancangan kampanye

“Bahaya Menggunakan Gawai Saat Mengemudi bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi”.

Gambar 3.10 Wawancara dengan Jovaldi, Pemilik Bengkel Gunung Selamat

2) Wawancara Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Cikarang Pusat Wawancara dengan Ipda Joko selaku Kanit Lantas Polsek Cikarang Pusat dilakukan pada hari Senin, 13 September 2021 pada pukul 14.30 WIB di Kepolisian Resort Metro Bekasi Sektor Cikarang Pusat. Wawancara dilakukan dengan tujuan memperoleh insight dari pihak kepolisian secara langsung mengenai isu yang sedang diangkat, mulai dari penanganan dan juga tindakan yang dilakukan.

(10)

71

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

Ipda Joko mengatakan bahwa, masih banyak para pengemudi yang masih lalai ketika berkendara dan suka melanggar aturan lalu lintas, salah satunya menggunakan ponsel saat mengemudi, khususnya anak usia muda. Beberapa hal sudah dilakukan oleh pihak kepolisian dalam menanggulangi isu ini, seperti sosialisasi ke sekolah-sekolah dan juga ke perkantoran mengenai safety riding. Sayangnya kegiatan ini harus ditunda dikarenakan pandemi yang sedang berlangsung.

Joko mengatakan, bahwa beliau dan timnya selalu memberikan teguran dan penindakan berupa surat tilang apabila ditemukan oknum- oknum pelanggar lalu lintas, termasuk salah satunya yang menggunakan ponsel saat mengemudi. Beliau juga megaskan bahwa, tugasnya sebagai pihak kepolisian hanya memberikan teguran serta surat tilang, sedangkan untuk keputusan denda ataupun sanksi yang menyangkut terkait pelanggaran akan diserahkan kepada pengadilan.

Dengan adanya kampanye ini, Joko selaku pihak kepolisian diharapkan para pengemudi semakin tertib ketika berkendaradan sadar akan keselamatan diri dan juga orang lain.

Gambar 3.11 Wawancara dengan Ipda Joko

(11)

72

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

3) Wawancara dengan Ahli di Bidang Periklanan

Wawancara dengan ahli dilakukan untuk mendapatkan insight dan pandangan mengenai perancangan kampanye yang akan dilakukan, mulai dari teknis yang harus diperhatikan, pemilihan media, biaya dan juga durasi pelaksanaan kampanye sehingga perancangan kampanye yang dibuat dapat tepat sasaran dan juga berjalan dengan efektif.

Wawancara dilakukan bersama dengan Seto Setiawan selaku Creative Director di Dapoer Creative Indonesia, namun sebelumnya Seto Setiawan sudah berkecimpung di dalam bidang periklanan kurang lebih selama 10 tahun dan mejabat sebagai Art Director di agensi periklanan Ogilvy dan Draft FBC.

Dari hasil wawancara dengan Seto, penulis mengetahui bahwa mendalami dan memahami brand terlebih dahulu merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan agar proses perancangan dapat berjalan dengan lebih mudah dan efektif. Seto juga mengatakan bahwa, pencarian data merupakan salah satu hal yang sering terlewat dalam proses perancangan kampanye. Selain itu, Seto juga mengatakan bahwa, proses pengeksekusian ide yang nantinya akan divisualisasikan harus menyesuaikan target audiens agar pesan yang ingin disampaikan dapat mempersuasi audiens, namun tetap mengikuti mandatory atau koridor visual dari brand. Bid idea memiliki peranan yang penting dalam menentukan visual dan juga copywriting yang akan digunakan.

Terkait dengan permasalahan biaya dan media yang digunakan, dalam perancangan kampanye dengan budget yang minim adalah memaksimalkan media yang akan digunakan, apabila media yang ditentukan sudah tepat maka pesan yang akan disampaikan pun akan diterima oleh audiens. Pemilihan target audiens juga berhubungan dengan media yang akan digunakan dalam menyampaikan pesan.

(12)

73

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

Suatu keberhasilan kampanye, menurut Seto dapat diukur berdasarkan respond masyarakat. Semakin banyak masyarakat yang membicarakan suatu kampanye maka, kampanye tersebut dapat dikatakan berhasil.

Gambar 3.12 Wawancara dengan Seto Setiawan

3.1.2.2 FGD (Focus Group Discussion)

FGD dilakukan terhadap para pengemudi udia muda di Bekasi untuk mendapatkan pandangan terkait isu yang sedang diangkat serta alasan menggunakan gawai saat sedang berkendara, serta penulis ingin mengetahui harapan dari para pengemudi terkait perancangan kampanye yang sedang dijalankan. FGD dilakukan bersama dengan James, Ka Bui, Michelle, Joan, dan Jones Tangke pada Minggu, 12 September 2021 pada pukul 19.00 WIB secara online melalui aplikasi Zoom.

Gambar 3.13 Pelaksanaan Focus Group Discussion

(13)

74

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

Melalui FGD yang telah dilakukan, penulis mengetahui bahwa para pengemudi lebih sering menggunakan kendaraan bermotor berupa mobil serta mengetahui bahwa sebenarnya terdapat larangan mengenai penggunaan gawai yang dapat menganggu konsentrasi ketika berkendara, namun tetap melakukan kebiasaan tersebut. Seluruh peserta FGD juga belum mengetahui mengenai sanksi yang akan didapatkan ketika melanggar peraturan tersebut.

Empat dari lima peserta FGD (Ka Bui, James, Jones, dan Joan) mengatakan bahwa mereka masih suka mengulangi kebiasaan tersebut (menggunakan gawai saat sedang mengemudi) dan sulit untuk tidak menggunakan ponsel saat sedang mengemudi karena di rasa bosan ketika sedang berada di jalan dan cenderung menggunakan ponsel ketika jalanan sedang sepi.

Sedangkan di sisi lain, Michelle mengatakan bahwa dirinya pernah mengalami pengalaman yang buruk saat sedang berkendara dan terjadi kecelakaan yang merugikan dirinya dan orang lain. Pada saat itu, Michelle juga sedang merasa bosan dijalan dan hendak memutar lagu melalui ponselnya. Akibatnya, Michelle harus mengganti rugi kerusakan yang ada serta biasa pengobatan korban. Berdasarkan pengalaman tersebut, Michelle merasa trauma dan tidak pernah lagi menggunakan gawai (ponsel) data sedang berkendara, apabila harus pun, Michelle memilih untuk berhenti dan menepi terlebih dahulu.

Para peserta mengatakan, mereka membuka atau memainkan ponsel saat berkendara untuk membalas pesan singkat, mengangkat telpon, melihat arahan peta dan juga memutar lagu. Ketika membuka arahan peta, para pengemudi juga memilih untuk melihat arahan peta ketika kendaraan sedang berjalan, dibandingkan dengan berhenti dulu untuk menepi karena dirasa akan lebih cepat dan efektif. Dengan diadakannya kampanye bahaya menggunakan gawai saat mengemudi, para peserta FGD yang juga merupakan para pengemudi dapat selalu diingatkan mengenai bahaya yang dapat mengancam keselamatan mereka dan juga orang lain saat sedang berkendara.

(14)

75

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

Kesimpulannya, diketahui bahwa penyebab para pengemudi usia muda menggunakan ponsel saat berkendara dikarenakan merasa bosan dan jenuh ketika sedang berada di jalan, serta ingin cepat sampai ditujuan.

3.1.2.3 Studi Eksisting

Penulis melakukan studi eksisting pada kampanye yang dirancang oleh Kutu Community dengan judul “Ponsel+Naik Motor = Maut” dan juga Kampanye “French Road Safety”.

1) Ponsel + Naik Motor = Maut

Perancangan yang dilakukan oleh salah satu komunitas vespa ini dilakukan pada tahun 2019 yang didasari atas maraknya penggunaan ponsel saat berkendara yang sudah menjadi kebiasaan. Kampanye ini, ditujukan kepada para pengemudi ojek online di Depok. Edukasi dan sosialisasi di lakukan oleh Kutu Community di markas berkumpulnya para pengemudi ojek online untuk memberikan informasi terkait dengan bahaya dan dampak yang didapat akibat menggunakan ponsel saat mengemudi. Setelah sosialisasi dilakukan, para pengemudi akan diberikan stiker dan pin (Nurtjhayadi, 2019).

Gambar 3.14 Kampanye oleh Kutu Community Sumber: https://naikmotor.com/wp-

content/uploads/2019/12/Kutu_Community_Ojol_Liong_Depok_06.jpeg

(15)

76

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

Berikut merupakan analisa SWOT dari pelaksanaan kampanye

“Ponsel+Naik Motor=Maut” di Depok.

Tabel 3.1 Tabel SWOT Kampanye “Ponsel+Naik Motor=Maut”

Strenght Weakness

 Kampanye dilaksanakan oleh komunitas pecinta skuter, Kutu Community, yang memiliki anggota sekitar 2 ribu orang dari berbagai kalanga usia.

 Kampanye dilakukan dengan mensosialisasikan secara langsung kepada para pengemudi ojek online,

sehingga pesan dapat langsung tersampaikan.

 Copywriting yang digunakan sederhana, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh para pengemudi.

 Kampanye menggunakan tiga media, yaitu; hanging banner, stiker, dan pin (yang diberikan kepada para driver online).

 Kampanye hanya

dilaksanakan satu kali pada tanggal 24 November 2019 di daerah Depok.

Opportunity Threat

 Kampanye Kutu Community diliput oleh liputan6.com, mediaindonesia.com,

gridoto.com, naikmotor.com, zigwheels.co.id, carmudi.co.id, bisniswisata.com,

zonabikers.com,

otosia.com.dan media liputan lokal lainnya.

 Kampanye lain dipublikasikan secara internasional

(16)

77

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

2) French Road Safety

Kampanye yang diciptakan oleh Sécurité Routière dan didesain oleh La Chose Agency asal Paris ini dilakukan untuk menaikan kesadaran akan dampak dan akibat dari telepon genggam yang digunakan ketika berkendara.

Dikemas dengan visual fisik telepon genggam yang dikombinasikan dengan area jalan yang menjadi lokasi kecelakaan, hingga muncul metafora tangan kecil yang tidak berbahaya namun dapat menjadi tindakan kekerasan.

Gambar 3.15 Kampanye oleh Sécurité Routière

Sumber: https://d3nuqriibqh3vw.cloudfront.net/styles/aotw_detail_ir/s3/

carx.jpg?Nop2QMSHgnYw_NErm1Pejq8S7J1vsmF4&itok=qnUwSUd8

Berikut berupakan analisa SWOT dari kampanye French Road Safety yang di rancang oleh La Chose untuk Sécurité Routière.

Tabel 3.2 Tabel SWOT Kampanye “French Road Safety”

Strengh Weakness

 Kampanye digagaskan oleh perusahaan keamanan jalan pemerintah Perancis, Sécurité Routière.

 Kampanye dilakukan dengan media poster digital yang dipublikasikan pada website serta radio, melalui pesan suara.

Opportunity Threat

 Kampanye diliput oleh media internasional seperti;

adsoftheworld.com,

adsofbrands.net, thedrum.com.

 Kampanye lain menggunakan media seperti mercendise sebagai pengingat para pengendara akan bahaya

(17)

78

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

menggunakan gawai saat mengemudi.

 Kampanye lain dilakukan dengan langsung men- sosialisasikan kepada target yang dituju.

3.1.2.4 Studi Referensi

Studi referensi digunakan untuk memperoleh referensi atau inpsirasi bagi penulis dalam perancangan kampanye. Terdapat dua buah kampanye yang digunakan oleh penulis, yaitu: kampanye “Social Media Accident” yang dipublikasikan oleh Elharady (2019) dan kampanye “French Road Safety”

yang dipublikasikan oleh La Chose (2017).

1) Kampanye Social Media Accident

Kampanye yang dirancang oleh Islam Elhadary (2019) ini datang dari para pengendara yang sering melihat berita kecelakaan di sosial media dan berpikir bahwa dirinya mungkin suatu waktu dapat mengalami hal yang sama atau berpikir setiap harinya dapat kembali ke rumah dengan selamat dan bertemu dengan orang-orang terkasih.

Namun, karena pemikiran ini datang, maka para pengendara akan tetap menggunakan ponsel saat mengemudi. Padahal, setiap orang yang mengalami kecelakaan, pasti berpikir hal yang sama, namun kenyataannya mereka tidak pulang dengan selamat atau bahkan tidak bisa berjumpa lagi dengan orang-orang yang dikasihi. Berdasarkan hal tersebut maka, terciptalah copywriting dengan tulisan “The end was closer than it appeared”.

Desain kampanye juga divisualisasikan dengan teknik digital imaging dengan nuansa warna yang cerah dan visual mobil yang hancur seolah-olah menabrak “icon-icon” dari sosial media, menggunakan teknik penyampaian pesan lecture dengan strategi

(18)

79

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

pesan resonance melalui kebiasaan atau gaya hidup audiens. Jenis typeface yang digunakan adalah san serif dengan sedikit modifikasi.

Desainnya juga memanfaatkan ruang kosong (white space) dan emphasis.

Gambar 3.16 Kampanye “Social Media Accidents”

Sumber: https://mir-s3-cdn-cf.behance.net/project_modules/fs/

d1b58d85480975.5d7 d268d2ea66.jpg

2) Kampanye Don’t Tweet and Drive

Kampanye tersebut dipublikasikan oleh Y&R agency di Saudi Arabia melalui media cetak. Kampanye tersebut dilaksakan berdasarkan latar belakang bahwa penggunaan telepon genggam saat mengemudi merupakan hal yang candu dan juga berbahaya, serta mengancam nyawa pengemudi dan juga orang lain. Visual kampanye menggunakan teknik fotografi dengan mengambil perspektif orang yang sedang mengalami kecelakaan. Dipadukan dengan jenis tipogafi san serif dengan teknik penyampaian pesan lecture.

(19)

80

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

Gambar 3.17 Kampanye Don’t Tweet and Drive

Sumber: https://d3nuqriibqh3vw.cloudfront.net/styles/aotw_detail_ir/s3 /dammam_under_water.jpg?aCDlAcQk38DN_sXoA0F2fjB5DYRwk1zb&itok=q

VFPoggO

3.2 Metode Perancangan

Penulis menggunakan metode perancangan yang dikemukakan oleh Robin Landa (2010) dalam bukunya yang berjudul “Advertising by Design: Generating and Designing Creative Ideas Across Media” dalam merancang visual kampanye edukasi terkait isu bahaya penggunaan gawai ketika berkendara oleh Bengkel Gunung Selamat yang bekerja dengan Satlantas Polres Metro Bekasi. Landa (2010, hlm. 17-21) membagi proses perancangan ke dalam enam tahap.

3.2.1 Overview

Pada tahap pertama, penulis mengumpulkan segala informasi dan data yang diperlukan terkait perancangan kampanye melalui secondary research, wawancara kepada pemilik Bengkel Gunung Selamat selaku brand penggagas kampanye, wawancara kepada ahli periklanan dan juga wawancara kepada Kepolisian Kepala Unit lalu Lintas daerah Bekasi, kuesioner yang disebarkan kepada 100 pengendara usia muda di Bekasi dan juga FGD yang dilakukan bersama dengan lima orang pengendara usia muda

(20)

81

Perancangan Visual Kampanye Edukasi Bahaya Menggunakan Gawai saat Mengemudi Bagi Para Pengendara Usia Muda di Bekasi, Nathania Jovanna Felim Djauhari, Universitas Multimedia

Nusantara

di Bekasi yang pernah atau sering menggunakan gawai saat sedang mengemudi.

3.2.2 Strategy

Memasuki tahap strategy, dimana penulis mulai mengidentifikasi masalah dan menentukan tujuan serta solusi untuk mencapai goal yang telah ditentukan. Kemudian akan menghasilkan creative brief sebagai acuan dalam merancang kampanye.

3.2.3 Ideas

Pada tahap ketiga perancang akan mengumpulkan dan mencari ide yang akan digunakan dalam perancangan kampanye. Mencari referensi yang dibutuhkan seperti penggunaan warna, typeface, menyusun moodboard, copywriting dan juga visual yang akan digunakan dalam perancangan

kampanye.

3.2.4 Design

Setelah menentukan ide, perancang memasuki tahap desain dimana ide yang sudah digagaskan dan ditentukan akan divisualisasikan ke dalam beberapa alternatif sketsa.

3.2.5 Production

Memasuki tahap produksi dimana perancang akan mengeksekusi dan mengaplikasikan hasil sketsa ke dalam media yang akan digunakan.

Misalnya, media cetak, media digital atau media berbasis lingkungan.

3.2.6 Implementation

Tahap akhir perancangan kampanye, merupakan tahap implementasi dimana karya yang sudah diproduksi akan dievaluasi dan ditinjau kembali serta mengukur keberhasial solusi yang sudah dibuat.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengujian organoleptik (Tabel 4), menunjukkan bahwa produk mi yang diformulasi dengan rasio subtitusi tepung jagung modifikasi 50% memiliki kekenyalan, warna,

Graf disini digunakan bukan untuk mencari alur tercepat dalam penyusunan dan eksekusi materi dan metode dalam kaderisasi, tetapi digunakan agar hasil akhir yang diharapkan

Untuk mengakomodir fasiltas smartphone, maka penulis akan membuat sebuah aplikasi tes IQ berbasis Android yang dapat digunakan sebagai media latihan.. Tujuan

• Erupsi obat alergi atau allergic drug eruption adalah reaksi alergi pada kulit atau mukokutan yang terjadi akibat pemberian obat sistemik, baik yang masuk ke dalam tubuh

Konsentrasi bahan organik akar, batang dan daun Eceng Gondok ( Eichhornia sp.) yang terkandung dalam tanah pada proses pembusukannya menggambarkan bahwa akar Eceng

a. Barang siapa sengaja melukai berat orang lain,dipidana karena telah melakukan penganiayaan berat dengan dipidana penjara paling lama delapan tahun. Jika perbuatan

berbaur aneka ragam dengan komoditas lain. Pola penyebarannya sama dengan pola penyebaran pada makanan dan minuman. c) Buah-buahan, jenis buah yang diperdagangkan berupa

Melalui gambar, yaitu apabila seseorang akan membuat cetakan permanen, maka ia akan membutuhkan suatu gambar pedoman dari benda yang akan dibuat dalam proses pengerjaan awal.