• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan (Research and Development). Menurut Sugiyono (2019: 407) metode Research and Development (R&D) merupakan metode penelitian yang menghasilkan produk tertentu dengan menguji keefektifan produk tersebut. Penelitian pengembangan di bidang pendidikan didefinisikan sebagai suatu penelitian yang menghasilkan produk kependidikan dan menguji keefektifan produk tersebut terhadap produk yang sudah ada sebelumnya (Budiyono, 2017: 170). Tujuan akhir penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan modul dengan pendekatan CTL pada materi Fungsi untuk Kelas X untuk meningkatkan kemampuan koneksi matematis.

Penelitian dilakukan di SMA Muhammadiyah 4 Andong tahun ajaran 2019/2020. Adapun jadwal pelaksanaan penelitian dan pengembangan modul disajikan dalam Tabel 3.1 berikut.

Tabel 3. 1 Jadwal Penelitian

Jenis Kegiatan Waktu

Peyusunan proposal dan penyiapan instrumen

September s/d Desember 2019 Pengembangan dan Validasi modul Januari s/d April 2020

Uji coba modul Mei s/d Juni 2020

Pengolahan data dan analisis Juli s/d Desember 2020 Penyusunan laporan Januari s/d November 2021

B. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian merupakan serangkaian tahapan yang runtut dan sistematis untuk mengumpulkan data, mengembangkan produk penelitian dan melakukan uji coba penelitian guna menjawab pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini. Tahapan penelitian dan pengembangan agar menghasilkan produk berupa modul pembelajaran yang sesuai kebutuhan dan tujuan adalah dengan

(2)

menggunakan model pengembangan ADDIE. Model ADDIE terdiri dari lima fase yaitu analyze, desaign, develop, implement dan evaluate. Tahapan ADDIE pada penelitian dan pengembangan ini diilustrasikan pada Gambar 3.1 berikut.

Gambar 3. 1 Tahapan ADDIE

Tahap Analyze

Pengumpulan Data Analisis Perencanaan

(Analisi kebutuhan siswa, Analisis Tujuan Pembelajaran, Analisi Materi, Analisis Penilaian,

Analisis media)

Tahap Perancangan

(Menyusun Silabus dan RPP, Alat Evaluasi Belajar, Skenario Pembelajaran)

Observasi Awal

Blue Print Modul

Tahap Desaign

Pembuatan Modul Prototipe Modul

Validasi Modul

Prototipe Modul I

Tahap Development

Prototipe Modul II

Uji Coba Skala Kecil (Uji Keterbacaan)

Uji Coba Skala Luas Modul Akhir

Tahap Implementation

Tahap Evaluation

(3)

Shelton dan Saltsman (2006: 14) mengemukakan bahwa ADDIE merupakan model perancangan pembelajaran generik yang menyediakan proses terorganisasi dalam pembangunan bahan-bahan pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran tatap muka di kelas maupun secara daring. Proses pengembangan model ADDIE berurutan yang identik dengan pengembangan sistem pembelajaran yaitu hasil evaluasi setiap tahap digunakan untuk pengembangan ke tahap berikutnya, kemudian menggunakan hasil dari setiap tahapan sebagai input tahapan selanjutnya. Menurut Hamzah (2020 : 33) model ADDIE menyediakan proses terorganisir yang melibatkan kerja sama dengan para ahli isi, ahli media, dan ahli desain sehingga model ini dapat digunakan untuk pengembangan bahan pembelajaran dengan produk berkualitas baik pada ranah verbal, ketrampilan intelektual dan psikomotorik. Berikut kegiatan yang dilalui dalam setiap tahapan penelitian pengembangan.

1. Tahap Pendahuluan

Tahap pendahuluan pada pengembangan model ADDIE adalah kegiatan analyze (analisis). Analisis merupakan tahapan awal berupa perencanaan untuk mengembangkan modul. Menurut Widyastuti dan Susiana (2019: 4) terdapat tiga hal penting yang harus dilakukan pada tahap analisis yaitu menganalisis kompetensi yang harus dikuasai siswa, menganalisis karakteristik siswa yang berkaitan dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki siswa, dan menganalisis materi yang relevan dengan pencapaian kompetensi yang diharapkan untuk dimiliki oleh siswa. Adapun langkah-langkah kegiatan analisis perencanaan pada penelitian ini diilustrasikan pada Gambar 3.2 sebagai berikut.

(4)

Gambar 3. 2 Alur Tahap Perencanaan Modul

Kegiatan analisis perencanaan yang dilakukan antara lain mendefinisikan kebutuhan siswa dalam belajar, menganalisis tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, menentukan cakupan materi, penentuan penilaian dan media yang akan digunakan. Jenis analisis yang dilakukan antara lain sebagai berikut:

1) Analisis kebutuhan siswa

Kegiatan yang dilakukan adalah menelaah karakteristik siswa berdasarkan pengetahuan, keterampilan dan perkembangannya dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa yang beragam. Hasil analisis siswa berkaitan dengan kemampuan koneksi matematis untuk mengembangkan bahan ajar berupa modul. Beberapa poin lain yang perlu didapatkan dalam tahapan ini adalah: 1) karakteristik siswa dalam belajar, 2) pengetahuan dan ketrampilan yang telah dimiliki siswa dalam pembelajaran, 3) kemampuan atau kompetensi yang perlu dimiliki siswa agarkegiatan

(5)

belajar dapat berjalan dengan maksimal, 4) jenis bahan ajar dan bentuk pengembangan yang diperlukan agar dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa.

2) Analisis materi pembelajaran

Analisis materi berkenaan dengan fakta, konsep, prinsip dan prosedur untuk mengidentifikasi materi agar relevan dengan pengembangan bahan ajar dalam pembelajaran. Kegiatan analisis dilakukan dengan metode studi pustaka. Tujuan dari analisis adalah untuk mengidentifikasi bagian- bagian materi yang akan diajarkan dan disusun secara sistematik sekaligus menyusun rumusan tujuan pembelajaran.

3) Analisis tujuan pembelajaran dan tipe penilaian yang digunakan.

Analisis tujuan pembejaran diperlukan untuk merumuskan tujuan pembelajaran menjadi lebih spesifik, dapat diukur, realistik dan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Pada tahap ini , akan diperoleh tujuan pembelajaran dan ketercapaian tujuan pembelajaran yang dapat menentukan kemampuan atau kompetensi yang perlu dimiliki oleh siswa.

Dengan demikian, tahapan ini dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan bahan ajar dalam pembelajaran. Teknik penilaian pada penelitian ini adalah pre-test dan post-test. Kegiatan pre-test dilakukan berturut-turut sebanyak lima kali sebelum kelas penelitian diberi perlakuan untuk mengetahui kestabilan kelas tersebut. Kegiatan post-test diberikan di setiap pertemuan setelah kelas diberikan perlakuan.

4) Analisis Media

Modul berupa media cetak dengan ukuran B5. Cover modul menggunakan art carton dan isi modul menggunakan kertas HVS. Modul didesain secara fullcolor dengan menyajikan gambar-gambar kontekstual sesuai materi.

2. Tahap Pengembangan

Kegiatan pada tahap pengembangan adalah perancangan modul kedalam blueprint modul, realisasi blue print modul menjadi prototipe modul, validasi prototipe modul dan uji coba prototipe modul. Menurut Hamzah (2020: 34) pengembangan adalah proses mewujudkan blue print atau desain awal

(6)

menjadi nyata. Oleh karena kegiatan pengembangan adalah membuat modul hingga siap diujikan di lapangan. Hal yang perlu diperhatikan sebelum modul dicetak adalah memastikan isi modul sesuai rancangan dan memilih media cetak modul sesuai dengan hasil analisis media. Berdasarkan fase ADDIE, tahap pengembangan ini terdiri dari tiga fase yaitu desaign, develop, dan implement. Adapun uraian kegiatan di setiap fase sebagai berikut.

a. Desaign (Desain/Perancangan)

Tahapan desain merupakan kegiatan awal merancang modul matematika. Hasil rancangan modul awal disebut sebagai blue print modul. Alur penyusunan blue print modul disajikan pada Gambar 3.3 berikut.

Gambar 3. 3 Alur Penyusunan Blue Print Modul

Beberapa perancangan pengembangan modul diantaranya meliputi beberapa kegiatan sebagai berikut: 1) mengkaji Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD) dan Silabus terkait materi Fungsi. Hasil pengkajian digunakan untuk menetapkan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) dan tujuan pembelajaran yang disusun pada Silabus dan RPP, 2) menentukan keluasan dan cakupan materi Fungsi berdasarkan fakta, konsep, prinsip dan prosedur, alokasi waktu pembelajaran, IPK dan

Mengkaji KI, KD, Tujuan Pembelajaran & Silabus

Silabus & RPP

Keluasan/ Cakupan Materi

Alat Evaluasi Belajar

Menyusun

Menentukan

Menyusun

Indikator Kemampuan

Koneksi Matematis

Pendekatan Skenario Pembelajaran Modul CTL

Menyusun

Blue Print Modul

Menyusun Memperhatikan

Memperhatikan

(7)

tujuan pembelajaran, 3) menyusun alat evaluasi belajar dengan memperhatikan indikator kemampuan koneksi matematis sehingga dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa, 4) merancang skenario pembelajaran modul atau lembar kerja siswa dengan pendekatan CTL dan memperhatikan , 5) menyusun blue print modul.

b. Develop (Pengembangan)

Kegiatan fase develop adalah validasi prototipe modul oleh validator.

Validasi merupakan proses untuk menguji kesesuain prototipe modul dengan kompetensi yang akan dicapai dalam kegiatan pembelajaran.

Kegiatan validasi bertujuan untuk memperoleh penilaian terhadap produk teoritik yang telah dibuat kepada tim ahli agar produk yang dikembangkan layak digunakan untuk khalayak umum. Hamzah (2020: 34) mengatakan ada dua tujuan penting yang perlu dicapai ketika melakukan tahap pengembangan yaitu: 1) Memproduksi dan merevisi modul yang akan digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran, 2) Memilih media atau kombinasi media terbaik yang akan digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu prototipe modul I direvisi sesuai saran validator yang selanjutnya siap diujicobakan.

Pada kegiatan validasi prototipe modul, penentuan validator dengan pertimbangan bahwa orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan. Para ahli yang terlibat dalam validasi ini adalah ahli media, ahli materi dan ahli bahasa. Validasi ahli media dimaksudkan untuk mengetahui prototipe modul sudah memenuhi aspek kelayakan kegrafikan atau masih membutuhkan perbaikan. Validator ahli media pada prototipe modul adalah Riski Aspriyani, M. Pd., dosen matematika di Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali yang telah berpengalaman dalam pembuatan modul pembelajaran matematika. Validasi ahli materi bertujuan untuk mengetahui apakah prototipe modul sudah memenuhi aspek kelayakan dari segi isi, urutan penyajian materi dan pengimplementasian pendekatan CTL. Validator ahli materi adalah Rita Pramujiyanti Khotimah, M.Sc., dosen FKIP Matematika di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(8)

Validasi ahli bahasa bertujuan mengetahui aspek kelayakan dari segi penggunaan kalimat yang efektif, komunikatif, baku dan pemilihan kata yang sesuai dengan perkembangan siswa. Validator ahli bahasa adalah Sayekti Hidayah Rahayu, M.Pd., guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di MTs N 1 Miri.

Validator praktisi bertujuan untuk menilai prototipe modul oleh guru.

Terdapat dua guru sebagai validator praktisi yaitu Widiyastuti, S.Pd., M.Eng., guru matematika di SMA N 3 Boyolali dan Suwarjo, S. Pd., guru matematika di SMA N 1 Andong. Sedangkan validasi teman sejawat oleh Sri Retnowati, M.Pd., alumni Pasca Sarjana UNS Jurusan Matematika.

Alur tahap pengembangan dapat dilihat pada Gambar 3.4 berikut.

Gambar 3. 4 Alur Tahap Pengembangan Modul

Berdasarkan saran dan kritik dari para validator, peneliti menyempurnakan rancangan prototipe modul dengan melakukan perbaikan untuk membuat produk lebih baik. Kritikan dari ahli materi, ahli media, ahli bahasa, praktisi pendidikan dan teman sejawat terkait modul yang dikembangkan merupakan gambaran dan uraian kondisi apa adanya tanpa manipulasi mengenai prototipe modul yang seharusnya diperbaiki.

Saran perbaikan prototipe modul yang diberikan validator memperhatikan karakteristik dan kualitas modul yang baik. Prototipe modul I dapat

(9)

diujicobakan apabila tidak ada validator yang masih memberikan saran perbaikan dan hasil penilaian validator dinyatakan valid.

Kevalidan modul matematika diperoleh berdasarkan hasil analisis lembar validasi ahli materi, ahli media, ahli bahasa, praktisi pendidikan dan teman sejawat. Analisis kevalidan dilakukan dengan langkah – langkah berikut.

a) Penskoran hasil penilaian modul

Penskoran dilakukan dengan mengelompokkan butir – butir pernyataan yang sesuai dengan aspek – aspek yang diamati.

Adapun pemberian skor butir pernyataan penilaian modul sesuai dengan Tabel 3.2 berikut.

Tabel 3. 2 Pedoman Penskoran Validasi Kriteria Skor

Sangat Baik 4

Baik 3

Kurang 2

Sangat Kurang 1 (Widoyoko, 2019 : 237) b) Menghitung rerata skor tiap aspek

Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata skor setiap aspek sebagai berikut.

n i i 1

1 x

x banyak validator n

 

Keterangan:

x = rerata skor

xi = skor keterangan ke-i

n = banyaknya butir pernyataan tiap aspek

Skala yang digunakan adalah skala likert dengan skor maksimum ideal adalah 4 dan skor minimum ideal adalah 1. Klasifikasi penilaian validasi ahli terhadap modul matematika mengacu pada Tabel 3.3 berikut.

(10)

Tabel 3. 3 Pedoman Kriteria Kevalidan Interval Skor Kriteria

3,25 < X ≤ 4 Sangat Baik 2,50 < X ≤ 3,25 Baik 1,75 < X ≤ 2,50 Cukup

1 ≤ X ≤ 1,75 Kurang (Widoyoko, 2019 : 237)

Berdasarkan Tabel 3.3 perangkat pembelajaran dikatakan valid jika minimal kualifikasi tingkat kevalidan yang diperoleh adalah baik.

Selain itu di tahap ini, peneliti juga mengembangkan beberapa instrumen lain untuk mengumpulkan data. Instrumen yang dimaksud terdiri atas lembar keterlaksaan pembelajaran, angket respon siswa, dan perangkat tes. Masing-masing instrumen diuraikan sebagai berikut.

a. Lembar Keterlaksanaan Pembelajaran

Lembar keterlaksanaan pembelajaran ini berfungsi untuk mengukur kepraktisan pelaksanaan pembelajaran menggunakan modul matematika. Penyusunan lembar keterlaksanaan pembelajaran mengacu pada Silabus dan RPP. Lembar ini diberikan kepada observer yang bertugas mengamati proses pembelajaran. Observer memilih dua pilihan jawaban yaitu “Ya” atau “Tidak” dari 15 pernyataan yang diajukan. Observer mengamati aktivitas siswa dan guru disetiap pertemuan dan selajutnya memberikan catatan berupa kritik dan saran.

b. Angket Respon Siswa

Lembar angket diberikan sebanyak dua kali yaitu pada uji skala kecil dan uji skala besar. Data hasil uji skala kecil digunakan untuk melihat keterbacaan modul sedangkan data uji skala besar digunakan untuk melihat kepraktisan modul. Pada angket respon siswa terdapat tiga aspek yang mengukur kepraktisan modul meliputi kemudahan, daya tarik dan efisiensi. Dari tiga aspek tersebut dikembangkan menjadi 20 butir soal tertutup dengan dua pilihan jawaban yaitu ya (Y) dan tidak (T). Kisi-kisi angket respon siswa yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.4 berikut:

(11)

Tabel 3. 4 Kisi-kisi Angket Respon Siswa

Aspek Indikator Nomor Soal Jumlah

Soal Kemudahan Kemudahan pemahaman

konten modul.

Kemudahan penggunaan modul dalam belajar

4, 5, 6, 9, 12, 13, 16, 17,

18, 19

11

Daya Tarik Tampilan dan desain modul

Rasa senang terhadap modul

2, 3, 7, 8, 10, 11, 20

7

Efisiensi Kegunaan modul sebagai sarana belajar

1, 14, 15 2

Total Butir Soal 20

c. Perangkat Tes

Hasil tes siswa digunakan untuk mengukur keefektifan modul dalam pembelajaran. Terdapat dua tipe instrumen tes yaitu instrumen pre-test dan instrumen post-test. Instrumen pre-test digunakan untuk mengukur kemampuan siswa sebelum menggunakan modul. Instrumen post-test digunakan untuk mengukur kemampuan siswa setelah menggunakan modul.

Instrumen tes yang dibuat berdasarkan pada KI, KD, tujuan pembelajaran dan Indikator kemampuan koneksi matematis siswa.

Data evaluasi yang baik sesuai dengan kenyataan disebut data valid. Agar datanya valid maka harus menggunakan alat/instrumen yang valid. Kegiatan ini bertujuan untuk menentukan apakah suatu tes telah memiliki validitas atau ketepatan mengukur kemampuan pemahaman relasional. Secara garis besar ada dua macam validitas, yaitu validitas logis dan validitas empiris. Validitas logis mengandung kata “logis” yang berarti penalaran. Jadi validitas logis akan melihat kevalidan berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid dipandang terpenuhi karena instrument sudah dirancang secara baik. Ada dua macam validitas logis yaitu validitas isi dan validitas konstrak (construct validity).

Sedangkan validitas empiris memuat kata “empiris” yang artinya

“pengalaman”. Sebuah instrument dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman. Validitas logis yaitu kevalidan yang

(12)

diuji oleh ahli dan validitas empiris yaitu kevalidan yang diuji pada siswa dan dilihat juga reliable, tingkat kesukaran dan daya pembeda. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data lembar validitas didapatkan dari validator ahli materi. Lembar validitas akan diberikan kepada validator ketika produk telah jadi, dan butuh divalidkan sebelum diuji ke siswa-siswa. Setelah valid secara logis, maka dilihat validitas empiris yaitu validitas butir soal, reliabilitas soal, tingkat kesukaran soal, dan daya pembeda soal. Teknik analisi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Analisis validitas logis

Analisis validitas logis yaitu analisis kevalidan butir soal oleh ahli.

Analisis kevalidan butir soal melihat soal sudah sesuai dengan KD dan IPK, pokok soal sudah dirumuskan dengan singkat dan jelas. Jadi validator akan memberikan penilaian dengan memberikan tanda centang dari aspek tersebut tersebut terhadap butir soal tes. Dalam memvalidkan butir soal, validator soal tes memberikan skor untuk setiap item dengan jawaban sangat sesuai (4), sesuai (3), cukup sesuai (2), dan kurang sesuai (1).

Adapun kriteria kevalidan soal sesuai dengan yang dikemukakan Widoyoko (2019 : 237) pada Tabel 3.3.

b. Analisis validitas empiris

Analisis validitas empiris pada penelitian ini adalah analisis yang dilakukan pada uji skala kecil untuk diuji validitas, reabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda perangkat soal tersebut.

1) Uji Validitas

Rumus valitidas soal yang digunakan yaitu:

  

   

xy 2 2 2 2

N XY X Y

r

N X X N Y Y

 

     

   

   

  

   

Keterangan :

rxy : koefisien validitas prediktif X : skor tes (prediktor)

(13)

Y : skor kriteria N : banyak peserta tes

Jika rhitung > rtabel maka butir item valid.

2) Uji reliabilitas

Untuk mengukur reliabilitas tes berupa soal uraian digunakan rumus Alpha Cronbach yaitu :

2 b

11 2

t

r n 1

n 1

 

 

    

Keterangan :

r11 : koefisien reliabilitas soal n : banyaknya butir soal

2

b

 : jumlah varians butir

2

t

: varians total

Instrumen dikatakan reliabel jika koefisien reliabilitas (r11) ≥ 0,70.

3) Uji Tingkat Kesukaran

Indeks tingkat kesulitan untuk butir tes uraian dirumuskan sebagai berikut.

maks

P S

 S Keterangan:

P : Indeks tingkat kesulitan S : Rerata untuk skor butir

Smaks : Skor maksimum untuk butir tersebut.

Tabel 3. 5 Tingkat Kesukaran Soal Kriteria Tingkat Kesukaran Kategori

0 ≤ P < 0,3 Sukar 0,3 ≤ P ≤ 0,7 Sedang

0,7 < P ≤ 1 Mudah

Butir soal uraian dikatakan mempunyai tingkat kesulitan baik jika 0,3

≤ P ≤ 0,7.

(14)

4) Uji Daya Beda

Ada beberapa cara untuk mengukur daya pembeda. Pada penelitian ini soal tes berupa soal uraian sehingga indeks daya pembeda butir soal dicari dengan menggunakan koefisien korelasi antara skor butir dengan skor total. Adapun Indeks daya pembeda dicari dengan rumus sebagai berikut.

  

   

pbis 2 2 2 2

n XY X Y

D r

n X X n Y Y

  

     

   

   

  

   

Keterangan :

rpbis : koefisien korelasi antara skor butir dengan skor total X : skor butir

Y : skor total

n : banyak peserta tes

Suatu tes uraian dikatakan mempunyai daya pembeda baik jika D ≥ 0,3.

c. Implement (Implementasi/Eksekusi)

Implementasi merupakan tahapan untuk mengeksekusi rancangan bahan ajar yang telah dikembangkan pada situasi yang nyata dikelas. Setelah diterapkan dalam bentuk kegiatan pembelajaran kemudian dilakukan evaluasi awal untuk memberikan umpan balik pada penerapan pengembangan modul berikutnya. Hamzah (2020: 34) mengatakan bahwa tujuan utama dalam langkah implementasi antara lain: 1) Membimbing siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, 2) Menjamin terjadinya pemecahan masalah untuk mengatasi persoalan yang sebelumnya dihadapi oleh siswa dalam proses pembelajaran, 3) Memastikan bahwa pada akhir pembelajaran, kemampuan siswa meningkat.

Pada uji keterbacaan skala kecil, bertujuan untuk melihat keterbacaan modul matematika, apakah siswa mudah memahami uraian yang ditulis dalam buku ajar, mudah memahami contoh-contoh soal yang diberikan, mengerti ilustrasi yang ditampilkan dan dapat mengerjakan soal-soal latihan.

(15)

Peneliti mengambil 9 siswa dari kelas XII sebagai responden. Masing - masing siswa memiliki kemampuan kognitif yang beragam yaitu tinggi, sedang dan rendah berdasarkan nilai rapot matematika pada semester gasal tahun pelajaran 2019/2020. Peneliti memilih kelas XII sebagai responden karena siswa telah mempelajari materi tersebut di tingkat sebelumnya dan materi pokok Fungsi dipelajari kembali sebagai persiapan ujian nasional.

Hasil uji keterbacaan skala kecil menjadi dasar merevisi prototipe modul I yang kemudian diujicobakan pada kelas eksperimen.

Setelah uji coba skala kecil dilakukan analisis keterbacaan untuk melihat keterbacaan modul oleh siswa. Kegiatan analisis tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah siswa mudah memahami uraian materi pada modul, mudah memahami contoh-contoh soal yang diberikan, mengerti ilustrasi yang ditampilkan dan dapat mengerjakan soal-soal latihan. Instrumen uji keterbacaan berupa angket respon siswa yang memuat 20 butir pertanyaan mengenai kemudahan, daya tarik dan efisiensi. Pada uji coba skala kecil mengambil 9 siswa kelas XII sebagai sampel. Angket yang diberikan terdiri atas dua pilihan jawaban yaitu “Ya” dan “Tidak”. Adapun data yang dihasilkan dikonversi dengan skala Guttman dan diolah menggunakan rumus berikut.

Jumlah skor perolehan

Kepraktisan (x) 100%

Skor maksimum

 

Analisis angket respon peserta didik sesuai dengan kriteria interpretasi skor yang disampaikan oleh Riduwan (dalam Nurdawia, Zulirfan, dan Fakhruddin, 2018 : 124) tertera pada Table 3.7 berikut.

Tabel 3. 6 Pedoman Kriteria Kepraktisan Interval (%) Kriteria

80 ≤ x ≤ 100 Sangat Praktis 60 ≤ x < 80 Praktis 40 ≤ x < 60 Cukup Praktis 20 ≤ x < 40 Kurang Praktis

0 ≤ x ≤ 20 Tidak Praktis

(16)

3. Tahap Pengujian

Pengujian adalah proses yang bertujuan untuk memastikan apakah prototipe modul bekerja dengan baik dan mencari kesalahan yang mungkin terjadi selama penelitian berlangsung. Kegiatan pengujian merupakan langkah terakhir dalam ADDIE yaitu fase Evaluate. Evaluasi adalah sebuah proses yang dilakukan untuk memberikan nilai terhadap pengembangan bahan ajar dalam pembelajaran. Hasil evalusi digunakan untuk memberikan umpan balik terhadap pengembangan bahan ajar. Kemudian revisi dibuat sesuai dengan hasil evalusi atau kebutuhan yang belum dapat dipenuhi oleh tujuan pengembangan bahan ajar. Kegiatan evaluasi adalah melakukan uji skala luas terhadap pengembangan modul dalam pembelajaran. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran, ada tidaknya peningkatan kemampuan siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dengan modul, dan akibat yang dirasakan oleh pihak-pihak terkait dengan adanya pengembangan modul.

Pemilihan sampel uji skala luas dengan metode cluster random sampling.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan peneliti menggunakan metode cluster random sampling adalah 1) populasi terbagi dalam kelompok atau kelas, 2) menghemat waktu karena kondisi pandemi Covid-19 yang tidak bisa leluasa melakukan penelitian, 3) menekan biaya karena berkonsentrasi pada cluster yang dipilih (Etikan dan Bala, 2017: 215). Menurut Taherdoost (2016:

21) pengambilan sampel dengan Cluster Random Sampling memiliki ciri-ciri bahwa seluruh populasi terbagi dalam cluster atau kelompok. Terdapat tiga langkah dalam pemilihan cluster sampling yaitu 1) mengelompokan cluster untuk kerangka sampling, 2) memberi nomor pada setiap cluster, 3) memilih nomor secara acak sebagai sampel penelitian. Adapun beberapa tahapan yang dilalui dalam melakukan sampling diilustrasikan pada Gambar 3.5 berikut.

(17)

Gambar 3. 5 Tahapan Proses Sampling

Kegiatan analisis dalam tahap pengujian adalah analisis kepraktisan dan analisis efektifitas. Suatu modul dikatakan baik apabila dapat digunakan oleh guru dan peserta didik serta memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan belajar peserta didik. Oleh karena itu, dilakukan analisis tingkat keterpakaian (kepraktisan) dan efektivitas dari modul matematika fungsi dengan pendekatan CTL di SMA Muhammadiyah 4 Andong. Berikut penjelasan dari tiap kegiatan analisis yang dilakukan.

a. Analisis Kepraktisan

Analisis kepraktisan modul dilakukan dengan menganalisis data yang diperoleh dari hasil pengisian lembar angket respon siswa. Adapun indikator kepraktisan modul dilihat dari aspek kemudahan, daya tarik, dan

Mendefinisikan Target Populasi : Siswa Kelas X SMA di Kabupaten

Boyolali

Menentukan Kerangka Sampling:

Siswa Kelas X di SMA Muhammadiyah 4 Andong

Menentukan Teknik Sampling : Cluster Random Sampling

Mendefinisikan Ukuran Sampel : Kelas X-IPA 1

Mengumpulkan Data Sampel : Data 25 Siswa Kelas X-IPA 1

Kesediaaan Sampel untuk diteliti:

25 Siswa Kelas X-IPA 1

(18)

efisiensi. Angket respon siswa bersifat tertutup sehingga siswa tinggal memilih beberapa alternatif jawaban yang tersedia. Adapun angket respon siswa menggunakan kuesioner dengan skala Guttman. Penelitian menggunakan skala Guttman agar mendapatkan jawaban yang tegas (konsisten) terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.

Skala Guttman sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dan sikap atau sifat yang diteliti, yang sering disebut dengan atribut universal (Abdi, 2012: 155). Skala Guttman disebut juga skala Scalogram yang sangat baik untuk meyakinkan hasil penelitian mengenai kesatuan dimensi dan sikap atau sifat yang diteliti. Adapun skoring perhitungan responden dalam skala Guttman disajikan pada Tabel 3.8 sebagai berikut:

Tabel 3. 7 Pedoman Penskoran Skala Guttman Alternatif

Jawaban

Skor Alternatif Jawaban Positif Negatif

Ya 1 0

Tidak 0 1

Jawaban dari responden ditetapkan kategori untuk setiap pernyataan positif, yaitu Ya = 1 dan Tidak = 0, sedangkan kategori untuk setiap pernyataan negatif, yaitu Ya = 0 dan Tidak = 1. Dalam penelitian ini, skala Gutman berbentuk checklist, dengan harapan akan didapatkan jawaban yang tegas mengenai data yang diperoleh. Tahap awal dari pembuatan kuesioner adalah mengumpulkan berbagai informasi yang ingin didapatkan dari responden yang kemudian dituangkan dalam kisi-kisi instrumen, setelah itu baru disusun pertanyaan dari kisi-kisi yang telah dibuat. Perhitungan presentase data yang diperoleh dari hasil pengisian angket oleh siswa dan guru, diolah dengan rumus:

Jumlah skor perolehan

Kepraktisan (x) 100%

Skor maksimum

 

(19)

Analisis angket respon peserta didik sesuai dengan kriteria interpretasi skor yang disampaikan oleh Riduwan (dalam Nurdawia, Zulirfan dan Fakhruddin, 2018 : 124) tertera pada Table 3.9 berikut.

Tabel 3. 8 Pedoman Kriteria Kepraktisan Interval (%) Kriteria 80 < x ≤ 100 Sangat Praktis

60 < x ≤ 80 Praktis 40 < x ≤ 60 Cukup Praktis 20 < x ≤ 40 Kurang Praktis

0 ≤ x ≤ 20 Tidak Praktis

Berdasarkan tabel tersebut, modul dikatakan praktis jika skor yang diperoleh lebih dari 60%.

Menurut Sofian dan Singarimbun (2012: 118) untuk memperoleh tingkat validitas instrumen lembar observasi dengan skala Guttman, sebaiknya menggunakan koefisien reprodubilitas dan koefisien skalabilitas. Adapun rumus untuk menghitung koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas sebagai berikut.

1) Koefisien Reprodusibilitas (Kr)

Uji Koefisien Reprodusibilitas adalah suatu besaran yang mengukur derajat ketepatan alat ukur yang dibuat (daftar pertanyaan/

pernyataan). Adapun rumus untuk menghitung koefisien reprodubilitas adalah:

r

K 1 e

 n Keterangan:

Kr : Koefisien Reprodusibilitas e : Jumlah kesalahan/nilai error

n : Jumlah maksimal jawaban, dapat dicari dengan jumlah responden dikali banyak pertanyaan

Syarat penerimaan nilai koefisien reprodusibiltas yaitu apabila koefisien reprodusibiltas > 90.

(20)

2) Koefisien Skalabilitas (Ks)

Uji Koefisien Skalabilitas merupakan skala yang mengukur apakah penyimpangan pada skala reprodusibilitas masih dalam batas yang dapat ditolerir. Adapun rumus untuk menghitung koefisien Skalabilitas adalah:

 

s

K 1 e

c n Tn

  

Keterangan:

Ks : Koefisien Skalabilitas

c : Kemungkinan mendapatkan jawaban yang benar (karena jawaban adalah “Ya” dan “Tidak” maka c = 0,5)

Tn : Jumlah pilihan jawaban “Ya”

Syarat penerimaan nilai koefisien skalabilitas yaitu apabila koefisien skalabilitas memiliki nilai > 60.

b. Analisis Keefektifan

Keefektifan berasal dari kata efektif yang berarti dapat membawa hasil atau berhasil guna. Efektivitas dapat diartikan sebagai keterkaitan antara tujuan dan hasil yang dinyatakan dan menunjukan derajat kesesuaian antara tujuan yang dinyatakan dengan hasil yang di capai. Oleh karena itu analisis keefektifan bertujuan untuk mengetahui keberhasilan pengembangan modul matematika dengan pendekatan CTL pada materi Fungsi di SMA Muhammadiyah 4 Andong dengan melihat antara kesesuaian tujuan dengan hasil yang dicapai. analisis Analisis keefektifan modul menggunakan data pre-test dan post-test siswa. Hasil pengujian tersebut dapat digunakan untuk mengetahui keefektifan modul dalam penelitian. Beberapa analisa terhadap skor yang diperoleh sebagai berikut.

1) Uji Normalitas Gain (Uji N-Gain)

N-Gain merupakan ukuran kasar atau perkiraan mengenai keefektifan sebuah perlakuan dalam mendorong pemahaman konsep.

Perlakuan yang dimaksud adalah penggunaan modul matematika dengan pendekatan CTL pada materi Fungsi dalam pembelajaran.

(21)

Pada persamaan rumus uji N-Gain menunjukkan seberapa banyak hal yang dipelajari siswa dibagi dengan seberapa banyak hal yang dapat siswa pelajari. Selanjutnya hasil penghitungan mengacu pada Tabel 3.10 dan Tabel 3.11. Adapun rumus nilai gain ternormalisasi sebagai berikut.

post test pre test maks pre test

S S

N Gain

S S

  

 Keterangan:

N-Gain : Normalitas Gain

Spost-test : Skor Post-Test

Spre-test : Skor Pre-Test

Smaks : Skor Maksimal

(Meltzer dalam Utami dan Mulyani, 2019: 35) Kategori tingkat gain yang dinormalisasi menurut Simbolon dan Fransisca (2015: 97–104) dapat dilihat pada Tabel 3.10 berikut.

Tabel 3. 9 Kategori Tingkat Normalitas Gain Nilai Normalitas Gain Kriteria

0,70 ≤ N-Gain ≤ 1,00 Tinggi 0,30 ≤ N-Gain < 0,70 Sedang 0,00 ≤ N-Gain < 0,30 Rendah

Tafsiran efektivitas N-Gain menurut Juniati, Jufri dan Yamin (2020:

316) disajikan pada Tabel 3.11 berikut.

Tabel 3. 10 Tafsiran Nilai Normalitas Gain Persentase (%) Tafsiran 0 ≤ N-Gain < 40 Tidak Efektif 40 ≤ N-Gain < 55 Kurang Efektif 55 ≤ N-Gain < 75 Cukup Efektif 75 ≤ N-Gain ≤ 100 Efektif 2) Uji Hipotesis

Uji hipotesis merupakan kegiatan evaluasi dengan menggunakan metode pengambilan keputusan yang didasarkan dari analisis data untuk memperoleh kekuatan bukti dari sampel guna membuat

(22)

keputusan terkait populasi. Sebelum melakukan uji hipotesis, ditetapkan terlebih dahulu sebuah hipotesis berupa pernyataaan.

Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap pernyataan tersebut dengan menggunakan metode statistik sehingga hasil pengujian tersebut dapat dinyatakan signifikan secara statistik. Uji hipotesis bertujuan untuk memutuskan apakah hipotesis yang diuji ditolak atau diterima. Dalam penelitian ini sampel penelitian berjumlah 25 orang sehingga pengujian hipotesis yang digunakan adalah uji t-test. Berdasarkan hasil penelitian, data berdistribusi normal dan homogen sehingga uji t-test yang digunakan adalah uji parametrik dengan paired sample t- test. Uji normalitas diperlukan untuk mengetahui bahwa populasi berdistribusi normal. Pada penelitian ini uji normalitas menggunakan metode Liliefors karena data yang digunakan tidak dalam distribusi frekuensi bergolong. Berikut langkah-langkah uji normalitas dengan metode Liliefors.

1) Ho : Populasi berdistribusi normal H1 : Populasi tidak berdistribusi normal 2) Taraf signifikansi α = 5%

3) Statistika uji:

( ) ( )

obs i i

LMaks F zS z

dengan

i i

x x

z s

 

 

( )i ( i); ~ 0,1 F zP Zz Z N

 

i

S z = Populasi cacah Z ≤ zi terhadap seluruh z

1 n

i i

x

x n

(23)

Keterangan :

zi : bilangan baku z data ke- i xi : data ke-i

x

: nilai rata-rata S : Standar deviasi n : jumlah siswa 4) Daerah kritis:

DK = {L | L >L:n } dengan n adalah ukuran sampel 5) Keputusan Uji

Ho ditolak jika Lobs ∈ DK Ho diterima jika Lobs ∉ DK 6) Kesimpulan

Jika Ho diterima maka populasi kelas berdistribusi normal. Jika Ho

ditolak maka populasi kelas tidak berdistribusi normal.

(Budiyono, 2017: 170)

Data yang digunakan dalam perhitungan adalah data populasi sehingga 12 dan 22 dianggap tidak diketahui. Variansi dari populasi sama atau tidak dapat diketahui dengan melakukan uji homogenitas.

Uji homogenitas yang digunakan adalah uji Bartlett dengan statistik uji Chi Kuadrat. Langkah-langkah uji homogenitas pada penelitian ini sebagai berikut.

1) Hipotesis

Ho: 12 22 (Variansi populasi homogen) H1: 12 22(Variansi populasi tidak homogen) 2) Taraf signifikansi α = 5%

3) Statistika Uji :

2 2

1

2, 303

log .log

k

j j

j

f RKG f s

c

(24)

dengan:

 

2 2

~ k 1

  

k : banyak sampel

N : banyak seluruh nilai (ukuran)

nj : banyak nilai (ukuran) sampel ke-j = ukuran sampel ke-j fj = nj – 1 = derajat kebebasan untuk sj2 ; j = 1,2, ... , k f = N – k =

1 k

j j

f

= derajat kebebasan untuk RKG

 

1

1 1 1

1 3 1

k

j j

c k f f

 

   

 

RKG = rerata kuadrat galat = 1

1 k

j j

k j j

SS

f

 

2 1 2

1

1

k k j

j

j j j j

j j

X

SS X n s

n

 

 

 

 

 

4) Daerah Kritis

2| 2 2;k 1

DK

 

5) Keputusan Uji

Ho ditolak jika obs2 ∈ DK Ho diterima jika obs2 ∉ DK 6) Kesimpulan

Jika Ho diterima berarti variansi populasi sama. Jika Ho ditolak berarti variansi populasi tidak sama.

(Budiyono, 2017: 176)

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui adakah peningkatan kemampuan koneksi matematis yang signifikan antara sebelum dan

(25)

sesudah pembelajaran menggunakan modul dengan pendekatan CTL pada materi fungsi. Uji hipotesis pada penelitian ini adalah paired- sample t-test. Uji paired-sample t-test digunakan untuk membandingkan rata-rata dua variabel dalam satu group. Analisis ini berguna untuk melakukan pengujian terhadap satu sampel yang mendapatkan suatu perlakuan. Selanjutnya membandingkan rata-rata sampel antara sebelum dan sesudah perlakuan. Adapun langkah- langkah uji hipotesis sebagai berikut.

1. Hipotesis

Ho : μ1 ≤ μ2 (Rerata post-test tidak lebih baik dari rerata pre-test) H1 : μ1> μ2 (Rerata post-test lebih baik dari rerata pre-test) 2. Taraf Signifikansi α = 5%

3. Satistika Uji:

 

0 d

t D d ~ t n 1 s n

   dengan D D

n dan D = X

1 – X2

   

 

2 2

d

n D D

s n n 1

 

 

 

keterangan:

t : Nilai statistik dengan uji-t berpasangan X1 : Post-Test

X2 : Pre-Test

D : Post-Test dikurangi Pre-Test Sd : Deviasi baku dari D

n : Banyak subyek

d0 : Selisih rerata (d0 D 0sebab tidak dibicarakan selisih rerata) 4. Daerah Kritis : DK

t t|  t;n1

5. Keputusan Uji

Ho ditolak jika tobs∈ DK dan Ho diterima jika tobs∉ DK

(26)

6. Kesimpulan

Jika Ho diterima maka rerata post-test tidak lebih baik dari rerata pre-test. Jika Ho ditolak maka rerata post-test lebih baik dari rerata pre-test.

(Budiyono, 2017: 160)

Gambar

Tabel 3. 1 Jadwal Penelitian
Gambar 3. 1 Tahapan ADDIE
Gambar 3. 2 Alur Tahap Perencanaan Modul
Gambar 3. 3 Alur Penyusunan Blue Print Modul
+7

Referensi

Dokumen terkait

Fitri Hartanto,Hen driani Selina 3 Tahun: 2009 ( Paediatrica Indonesiana, vol.51,no.4 (suppl),Juli 2011) Siswa SMP di Kota Semarang Prevalensi Masalah Mental Emosional

アルツハイマー病における神経細胞死機序と細胞死抑制因子Humanin 新倉, 貴子Niikura, Takako 西本, 征央Nishimoto, Ikuo 慶應医学会 2004 慶應医学 Journal

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harga diri anak berkebutuhan khusus yang masuk program inklusi pada awalnya memang kurang maksimal disebutkan oleh wali

adanya reaksi pasar signifikan yang ditunjukkan oleh pelaku pasar. Peristiwa pengumuman dividen yang dilakukan oleh perusahaan tidak bernilai ekonomis, sehingga pasar

Secara umum hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1) Perencanaan pembelajaran untuk meningkatkan kreativitas dengan menggunakan bangun datar melalui metode

Sebagaimana telah dikemukakan pada sejarah perusahaan, bahwa pada saat ini Andante telah memiliki lebih dari 200 murid yang aktif, dan setiap muridnya aktif menjalankan

Tanaman krisan yang mendapatkan cahaya tambahan berwarna putih memiliki jumlah dan ukuran daun yang besar pada saat panen, ukuran daun yang lebar memungkinkan

Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya- upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk menanamkan