Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
ISBN: 978-602-7998-43-8 PROSIDING
SEMINAR NASIONAL
AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN I
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
2014
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN I
Penanggung Jawab:
Ketua Program Studi Agribisnis Universitas Trunojoyo Madura
Editor:
Andrie Kisroh Sunyigono Ellys Fauziyah
Mardiyah Hayati
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
Katalog dalam Terbitan
Proceeding: Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan I
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura, UTM Press 2014
viii + 396 hlm.; 17x24 cm
ISBN 978-602-7998-43-8
Editor: : Andrie Kisroh Sunyigono Ellys Fauziyah
Mardiyah Hayati Layouter : Taufik R D A Nugroho Cover design : Didik Purwanto
Penerbit : UTM Press
* Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO Box. 2 Kamal Bangkalan
Telp : 031-3013234 Fax : 031-3011506
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
KATA PENGANTAR KETUA PANITIA Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh Bismillahirrohmanirrohim
Segala puji kami panjatkan ke hadapan Illahi atas terselenggaranya Seminar Nasional “Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan I” Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura pada tanggal 21 Mei 2014. Seminar ini merupakan seminar yang diselenggarakan secara mandiri oleh Program Studi Agribisnis untuk pertama kalinya dan direncanakan dilakukan secara rutin tiap tahun. Tujuan diselenggarakannya seminar ini adalah untuk: 1) Memberikan rekomendasi kebijakan, langkah dan strategi dalam upaya pengembangan sektor agribisnis yang terkait erat dengan wilayah perdesaan, 2) Memberikan wadah untuk berbagi pengalaman dan tukar menukar ide bagi semua stakeholder terkait baik akademisi, pelaku bisnis dan pemerintah, 3) Menumbuhkan komitmen bersama dalam pengembangan sektor agribisnis yang bertitik tumpu pada wilayah perdesaan dalam upaya mencapai visi pembangunan pertanian. Selanjutnya, pada akhir seminar diharapkan tergalang sinergi untuk meningkatkan mutu dan dayaguna penelitian dan dapat menjadi masukan bagi berbagai pihak yang berwenang dalam pengambilan kebijakan.
Makalah kunci disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, MS selaku Guru Besar Universitas Brawijaya Malang, dan makalah utama oleh Dr.Ir. Agus Wahyudi, SE; MM (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu/BPWS), Andrie Kisroh Sunyigono, PhD selaku Pakar Ekonomi Pertanian Universitas Trunojoyo Madura dan. Dr. Sitti Aida Adha Taridala, SP, M.Si sebagai pemakalah terbaik dari Universitas Halu Uleo.
Disamping itu terdapat makalah penunjang bersumber dari berbagai instansi/lembaga penelitian seperti BPTP antara lain dari Bogor dan Jawa Timur, Loka Penelitian Sapi Potong Pasuruan, serta Perguruan Tinggi dari berbagai wilayah seperti Jakarta, Gorontalo, Bandung, Tegal, Surabaya, Malang dan Madura. Topik-topik yang disajikan sangat bervariasi, secara garis besar terhimpun ke dalam 4 bidang yakni agribisnis, sosiologi, nilai tambah dan sosial ekonomi.
Terima kasih kepada semua pihak yang memberikan kontribusi utamanya PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).
Akhirnya selamat mengkaji makalah-makalah di prosiding ini.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatu
Bangkalan, Juni 2014.
Ketua Panitia,
Ihsannudin, MP.
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR KETUA PANITIA ... iv DAFTAR ISI ... v
AGRIBISNIS
MANAJEMEN AGRIBISNIS DAN PERMASALAHANNYA ... 3 P. Julius F. Nagel
TANGGAPAN KONSUMEN TERHADAP ECO-LABEL PADA PRODUK PERTANIAN ... 14
Joko Mariyono
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP STRATEGI BERSAING DAN KINERJA PERUSAHAAN ... 21
Hary Sastrya Wanto, Ruswiati Suryasaputra
PERANAN BAITUL MAAL WATTAMWIL UNTUK PENINGKATAN SEKTOR PERTANIAN ... 32
Renny Oktafia
PENINGKATAN MUTU BUAH APEL SEPANJANG RANTAI PASOK DARI PASCAPANEN SAMPAI DISPLAY SUPER MARKET ... 41
I Nyoman Sutapa, Jani Rahardjo, I Gede Agus Widyadana, Elbert Widjaja ANALISIS PENGEMBANGAN DESA WISATA BERBASIS POTENSI LOKAL KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG ... 57
Selamet Joko Utomo
RISIKO USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR UTAMA
KECAMATAN GALIS KABUPATEN PAMEKASAN ... 68 Lilis Suryani, Aminah H.M Ariyani
KELAYAKAN EKONOMI USAHA GARAM RAKYAT DENGAN TEKNOLOGI MADURESSE BERISOLATOR ... 83
Makhfud Efendy, Ahmad Heryanto
STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI PLINTIR PISANG DI KECAMATAN ARJASA KEPULAUAN KANGEAN ... 107
Mu’awana, Taufik Rizal Dwi Adi Nugroho
SOSIOLOGI
RELASI AKTOR DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PRODUK TERRA (TERONG RAKYAT) ... 121
Titis Puspita Dewi, Mohammad Asrofin, Erwin Merawati, Ali Imron
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
PERLUNYA KECUKUPAN BAHAN PANGAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN MASYARAKAT SECARA NASIONAL ... 133
Isbandi dan S.Rusdiana
RELASI SEGI TIGA SISTEM KREDIT DALAM MASYARAKAT PERDESAAN STUDI KASUS DI DESA MAJENANG, KECAMATAN KEDUNGPRING, KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ... 146
Indah Rusianti, Faridatus Sholihah, Arini Nila Sari
DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DI DESA NGRINGINREJO, KECAMATAN KALITIDU, KABUPATEN BOJONEGORO ... 159
Alifatul Khoiriyah, Santi Yuli Hartika, Yunny Noevita Sari, dan Ali Imron PEMANFAATAN PERAN MODAL SOSIAL PADA PEKERJA SEKTOR INFORMAL PEREMPUAN (Studi Pada Pedagang Kaki Lima Perempuan Di Kota Malang) ... 168
Ike Kusdyah Rachmawati
PROGRAM AKSI MEDIA KOMUNITAS PEDESAAN BAGI WARGA KEPULAUAN TIMUR MADURA SEBAGAI SARANA PENINGKATAN AKSES, KETERBUKAAN INFORMASI, DAN PEMBERDAYAAN PUBLIK ... 181
Surokim, Teguh Hidayatul Rachmad
MODEL PENGEMBANGAN KOMPETENSI PENYULUH PERTANIAN DI PROVINSI GORONTALO ... 194
Mohamad Ikbal Bahua
NILAI TAMBAH
PENERAPAN QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) UNTUK PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN WORTEL ... 213
Yurida Ekawati, Surya Wirawan Widiyanto
PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BERBASIS JAGUNG DI
KABUPATEN BANGKALAN ... 224 Weda Setyo Wibowo, Banun Diyah Probowati, Umi Purwandari
STRATEGI PENGUATAN POSISI TAWAR PETANI KENTANG MELALUI PENGUATAN KELEMBAGAAN ... 234
Ana Arifatus Sa’diyah dan Dyanasari
INOVASI TEKNOLOGI SAPI POTONG BERBASIS MANAJEMEN BUDIDAYA DAN REPRODUKSI MENUJU USAHATANI KOMERSIAL ... 250
Jauhari Efendy
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
POTENSI SAMPAH ORGANIK SEBAGAI PELUANG BISNIS PUPUK ORGANIK DAN PAKAN TERNAK ... 258
Jajuk Herawati, Yhogga Pratama Dhinata, Indarwati
UJI KELAYAKAN PENGOLAHAN SERBUK INSTAN BEBERAPA VARIETAS JAHE DALAM UPAYA MENINGKATKAN NILAI EKONOMI ... 270
Indarwati, Jajuk Herawati, Tatuk Tojibatus, Koesriwulandari
POTENSI CACING TANAH SEBAGAI PELUANG BISNIS ... 280 Yhogga Pratama Dhinata, Jajuk Herawati, Indarwati
PEMBUATAN DAGING TIRUAN MURNI (MEAT ANALOG) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK ... 290
Sri Hastuti
STRATEGI PERCEPATAN PENGEMBANGAN USAHATANI TEBU DI MADURA301
Miellyza Kusuma Putri, Mokh Rum
STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI SALAK DI
KABUPATEN BANGKALAN ... 312 Iffan Maflahah
SOSIAL EKONOMI
PEMANFAATAN SUMBERDAYA PEKARANGAN MELALUI PROGRAM KRPL DI PUHJARAK, KEDIRI ... 331
Kuntoro Boga Andri dan Putu Bagus Daroini
PERSEPSI PETANI TERHADAP NILAI LAHAN SEBAGAI DASAR PENETAPAN LAHAN PERTANIAN PADI SAWAH BERKELANJUTAN ... 343
Mustika Tripatmasari, Firman Farid Muhsoni, Eko Murniyanto
PARTISIPASI ANGGOTA KOPERASI SERBA USAHA (KSU) TUNAS MAJU DI KECAMATAN SAMIGALUH, KABUPATEN KULONPROGO ... 351
Eni Istiyanti, Lestari Rahayu,Supriyadi
VEGETABLE CONSUMPTION PATTERN IN EAST JAVA AND BALI ... 367 Evy Latifah, Hanik A. Dewi, Putu B. Daroini, Kuntoro B. Andri,Joko Mariyono
ANALISIS DINAMIKA PERDAGANGAN BERAS DAN GANDUM DI INDONESIA ... 381
Tutik Setyawati
KERAGAAN HASIL BEBERAPA VARIETAS UNGGUL BARU KEDELAI
DAN TINGKAT KEUNTUNGAN USAHATANI DI LOKASI
PENDAMPINGAN SL-PTT KABUPATEN SAMPANG ... 389 Moh. Saeri, Sri Harwanti dan Suyamto
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
STRATEGI PERCEPATAN PENGEMBANGAN USAHATANI TEBU DI MADURA
Miellyza Kusuma Putri, Mokh Rum
Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan di Madura khususnya di Kecamatan Omben Kabupaten Sampang. Tujuan penelitian ini adalah (1). Untuk mengetahui faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman sebagai penentu strategi percepatan pengembangan usahatani tebu di Kecamatan Omben Kabupaten Sampang dan (2). Untuk mengetahui alternatif strategi untuk percepatan pengembangan usahatani tebu di Kecamatan Omben Kabupaten Sampang.
Metode pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan Tekhnik snowball sampling yakni menjadikan informan sebagai responden, sedangkan metode analisis menggunakan analisis deskriptif dan kualitatif serta menggunakan Metode Analisis SWOT. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa berdasarkan Integrasi Matriks IE dan Matriks SWOT didapat beberapa alternatif strategi yang sesuai untuk strategi percepatan pengembangan usahatani tebu di lokasi peneliatan yaitu meningkatkan produktifitas tebu, Intensifikasi budidaya tebu, Perluasan area untuk penyebaran usahatani tebu, Memperbaiki pola kemitraan yang sudah ada, Pengembangan kemitraan usaha dalam hal penerapan harga jual tebu, Mengembangkan kualitas gula lokal dengan cara meningkatkan rendemen, Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat terkait prospek pengembangan usahatani tebu, Meningkatkan kualitas keterampilan kerja Sumber Daya Manusia (SDM), Penguatan kapasitas kelembagaan untuk percepatan pengembangan usahatani tebu, Memperluas saluran pemasaran berdasarkan agroindusri, Meningkatkan sarana pengairan dan Perlu pembangunan pabrik gula di Madura.
Kata Kunci: Strategi percepatan, pengembangan tebu, analisis SWOT.
ACCELERATION OF THE DEVELOPMENT STRATEGIES OF FARMING SUGAR CANE IN MADURA
ABSTRACT
This research was conducted in the Madura District Omben District in particular in Sampang. The purpose of this research is (1). To find out the factors of internal and external environment of the strengths, weaknesses, opportunities, and threats as a decisive acceleration of the development strategies of farming sugar cane in district of Sampang Regency, Omben and (2). To find out alternative strategies for accelerating the development of farming sugar cane in district of Sampang Regency, Omben. Method of sampling is done using the dwarf snowball sampling which makes the informant as the respondents, whereas the methods of analysis using descriptive and qualitative analysis as well as using the method of SWOT analysis. Based on the results of the study revealed that based on the integration of Matrix SWOT matrix, IE and get some alternative strategies that are appropriate for the strategy of accelerating the development of farming sugar cane in peneliatan that increase productivity of sugar cane sugar cane cultivation, Intensification, expansion of the area for the spread of sugar cane farming, improving an existing partnership, the development partnership
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
effort in terms of the application of the selling price of the sugar cane, developing the quality of local sugar by way of improving yield, Improving socialization to the community related development prospects of sugar cane farming, improving the quality of the job skills of the human resources (HR), strengthening of institutional capacity for the acceleration of the development of the sugar cane farming, Expand marketing channels based on the agroindusri, improved irrigation and means Necessary the construction of a sugar factory in Madura.
Keyword: Acceleration of strategy, Development of sugarcane, Analysis of SWOT PENDAHULUAN
Tanaman tebu merupakan salah satu tanaman perkebunan sebagai penghasil gula, karena lebih dari setengah produksi gula dunia berasal dari tebu. Produksi tebu di Jawa Timur tahun 2012 dapat melampui produksi tebu dari beberapa periode sebelumnya, bahkan mengalahkan prestasi Jawa Timur tahun 2008 yang awalnya dilakukan bongkar ratoon sebesar 1,245,208 ton. Sedangkan pada akhir panen tahun 2012 produksi tebu di Jawa Timur mencapai 1,252,788 ton. Pencapaian itu jauh dibandingkan dengan produksi tahun 2011 yang hanya tercatat 1,051,872 ton (Disbun Jawa timur, data diolah 2012). Hal ini dilakukan karena kebutuhan gula semakin bertambah sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk serta majunya perekonomian. Sehingga pengembangan tanaman tebu di Indonesia khususnya di Pulau jawa pada wilayah-wilayah yang secara teknis dan ekonomis mempunyai potensi untuk dikembangkan saat ini di usahakan semaksimal mugkin menghasilkan produktivitas yang tinggi, agar dapat memenuhi permintaan gula untuk masyarakat Indonesia, baik untuk gula impor maupun expor.
Madura adalah salah satu pulau yang memiliki karakteristik lahan berupa lahan kering maupun lahan tidur yang sangat cocok untuk penanaman tebu dengan intensitas penyinaran matahari yang cukup bagus. Maka dari itu PT. Perkebunan Nusantara (PTPN X) memilih Madura sebagai areal usahatani tebu yang akan dilakukan dalam rangka pengembangan perkebunan tebu di Jawa Timur. Dari aspek produksi tebu, rendemen tebu yang berada di Pulau Madura khususnya daerah Kabupaten Bangkalan dan Sampang cukup bagus dengan rata-rata rendemen yang dihasilkan dari kedua kabupaten tersebut mencapai 8%. Bahkan petani Sampang di wilayah pantura ada yang menghasilkan rendemen cukup tinggi hingga 9,85%. Tingginya rata-rata rendemen tebu di Madura diiringi dengan meningkatnya produksi gula yang dihasilkan. Dari catatan Dinas Perkebunan Jawa Timur menyatakan bahwa produksi tebu di Madura rata-rata mencapai 576 kuintal per hektar, dengan keuntungan yang diperoleh oleh petani mencapai Rp 6 juta hingga Rp 10 juta (Disbun Provinsi Jawa Timur, 2013).
Berdasarkan latar belakang diatas maka dilakukan penelitian tentang ”Strategi Percepatan Pengembangan Usahatani Tebu di Madura” dengan tujuan Mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman sebagai penentu strategi percepatan pengembangan usahatani tebu di Kecamatan Omben Kabupaten Sampang dan Merumuskan alternatif strategi untuk percepatan pengembangan usahatani tebu di Kecamatan Omben Kabupaten Sampang.
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Madura khususnya di Kecamatan Omben Kabupaten Sampang.. Pemilihan lokasi ini ditentukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan kawasan pengembangan budidaya tebu yang dapat membuktikan bahwa dalam proses tebang perdana tebu rakyat untuk masa giling 2012 menuai keberhasilan pengembangan tebu di Madura dengan mengahasilkan rendemen mencapai 8% dengan rata-rata produksi 60 ton/hektar. Serta berdasakan pengembangan lahan tebu di Madura sebesar 162.120,65 ha yaitu menunjukkan bahwa luas arel lahan tebu di Kabupaten Sampang merupakan areal lahan terluas sebesar 106.571,4 hektar dibandingkan dengan luas areal lahan tebu yang berada di kabupeten Bangkalan sebesar 55.549,25 hektar (Disbun Jatim, 2013). Penentuan sampel dilakukan secara menggunakan Tekhnik snowball sampling yakni menjadikan informan sebagai responden, dengan 5 respon. Tujuan pertama pada penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif Kualitatif yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang digunakan untuk memberikan solusi terhadap sebuah permasalahan yang berkaitan dan bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat menjadi faktor lingkungan internal dan eksternal yang berupa kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman sebagai penentu strategi percepatan pengembangan usahatani tebu di Kecamatan Omben Kabupaten Sampang pada penelitian ini. Sedangkan tujuan kedua dianalisis dengan menggunakan metode SWOT.
HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal merupakan lingkungan yang berada di luar usaha dan tidak memiliki implikasi langsung pada usaha. Analisis faktor lingkungan eksternal dalam pengembangan usahatani tebu merupakan proses identifikasi terhadap faktor-faktor peluang dan ancaman dari pengembangan usahatani tebu. Informasi mengenai lingkungan eksternal dari pengembangan usahatani tebu didapat melalui wawancara langsung dengan responden pada penelitian ini. Faktor lingkungan eksternal tersebut terdiri dari:
a. Ketersediaan teknologi yang memadai: teknologi adalah keseluruhan sarana yang sangat penting dan sangat diperlukan untuk sebuah keberlangsungan suatu usaha.
Ketersedian teknologi yang merupakan bantuan dari pemerintah atau pun pihak lain yang terkait dengan pengembangan budidaya tebu di Kecamatan Omben yaitu berupa traktor, pengeboran air (Alkon), dan pemberian varietas terbaru. Dimana jenis varietas tebu tersebut adalah: PSJK-922, PS864, BL, PS862, dan PS881. Selain itu untuk tenaga kerja dalam penebangan tebu pihak PTPN X juga membantu mendatangkan dari pulau jawa yang memiliki keterampilan sangat baik dari pada penebang madura yang masih kurang terampil kerjanya dalam penebangan tebu.
b. Ketersediaan saprodi: selain ketersediaan teknologi yang memadai pemerintah juga memfasilitasi ketersediaan saprodi pada pengembangan usahatani tebu di madura.
Hal ini terjadi karena jauhnya jarak penanaman budidaya tebu di madura terhadap pabrik gula. Jika ketersediaan saprodinya baik maka dapat mempercepat perjalanan
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
untuk proses pengilingan tebu menjadi gula tidak terlalu banyak mengalami hambatan, meskipun bantuan tersebut hanya berupa dana pinjaman untuk petani tebu.
c. Adanya peningkatan permintaan gula oleh industri: seiring pesatnya pertumbuhan industri makanan dan minuman, penggunaan gula pasir oleh industri mengalami peningkatan. Permintaan gula pasir oleh industri di Indonesia dikonsumsi sebagai bahan baku untuk permen, pemanis, minuman, makanan dan lain sebagainya. DGI (2014), memperkirakan dari total konsumsi Indonesia 5,05 juta ton tahun ini, dengan konsumsi industri yaitu sebesar 2,25 juta ton. Maka dengan adanya peningkatan permintaan gula oleh industri menyebabkan pemerintah melakukan perluasan untuk budidaya tebu, terutama dilakukan di madura.
d. Adanya peningkatan permintaan gula oleh masyarakat: dari total konsumsi Indonesia 5,05 juta ton tahun ini untuk konsumsi rumah tangga yaitu mencapai 2,8 juta ton. Melihat hasil permintaan gula oleh masyarakat sangat tinggi, dibutuhkan cara agar dapat meningkatkan produktifitas gula. Untuk meningkatkan hasil produksi gula maka terlebih dahulu harus meningkatkan produksi tebu. Maka dengan itu pemerintah juga memberikan peran yang sangat penting untuk mengembangan tebu sebagai peningkatan produksi gula.
e. Metode penerapan harga jual tebu secara top down: menurut Rante (2013), Lemahnya posisi tawar petani antara lain disebabkan karena kurangnya atau terbatasnya akses petani terhadap informasi harga bagi produk yang akan dipasarkan. Selain itu dengan sifat pasar yang cenderung oligopsoni, semakin melemahkan petani untuk bernegosiasi. Sehingga penetapan harga jual menyebabkan petani mengalami penurunan laba karena tingginya biaya produksi, sementara harga yang ditetapkan pemerintah tidak sebanding untuk bisa menutupi biaya produksi sekaligus memperoleh laba.
f. Adanya tengkulak/pedagang pelantara: tengkulak memiliki kemampuan menekan petani dalam hal menentukan harga komoditas. Terkadang, tengkulak merangkap juga sebagai petani produktif namun memiliki kemampuan kewirausahaan dan insting bisnis lebih baik dibandingkan petani lain. Sehingga adanya tengkulak merupakan penghambat untuk para petani tebu untuk memperoleh keuntungan yang maksimal. Karena harga tebu yang sebenarnya dipermainkan oleh tengkulak menjadi lebih rendah dari pada harga yang sebenarnya, tidak mengikuti harga pasaran pada umumnya.
g. Adanya komoditas lain yang dapat mempengaruhi pendapatan yang lebih tinggi:
selain komoditas itu sendiri, juga ada komoditas lain yang dapat mempengaruhi pendapatan yang lebih tinggi untuk pengembangan tebu yang saat ini masih baru dibudidayakan di Madura. Komoditas lain yang dapat mempengaruhi pendapatan yang lebih tinggi terhadap pengembangan usahatani tebu di Kecamatan Omben yaitu di antaranya: komoditi jagung, kedelai dan tembakau. Dimana hal tersebut dapat terjadi karena budidaya komoditas tersebut sangatlah mudah dilakukan, dan
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
pendapatan yang dihasilkan juga sangat tinggi serta untuk pemasaran memiliki peluang pasar yang potensial.
h. Adanya gula impor: Dimana pada tahun 2013 ini pemerintah telah mengimpor gula rafinasi sebanyak 3,5 juta ton (BPS Jatim, 2013). Hal tersebut merupakan suatu ancaman untuk para petani tebu dan pabrik-pabrik gula di Indonesia. Yang akan menyebabkan terjadinya gula menjadi tertimbun dipasaran dan di pabrik gula, sehingga menyebabkan turunnya harga tebu yang menjadikan para petani merugi dan tidak tertarik lagi untuk menanam tebu kembali.
Faktor Lingkungan Eksternal
Lingkungan internal adalah lingkungan yang berada di dalam organisasi dan secara normal memiliki implikasi langsung pada usaha tersebut. Analisis faktor internal diperlukan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang ada pada usahatani tebu sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan strategi percepatan pengembangan usahatani tebu. Faktor internal yang menjadi kekuatan dalam pengembangan tebut antara lain:
a. Minimnya keterampilan tenaga kerja dalam melakukan budidaya tebu yang intern:
tenaga kerja yang semakin langkah dan mahal menjadi salah satu tantangan dalam usaha pertanian dan perkebunan saat ini dan ke depannya. Kalaupun ada tenaga kerja, sangat sulit mendapatkan yang berkualitas dan memiliki keterampilan yang memadai dalam melakukan budidaya tebu agar hasil kerja sesuai standar atau mutu yang dipersyaratkan untuk pertumbuhan tanaman tebu secara optimal. Kurangnya keterampilan tenaga kerja pada percepatan pengembangan usahatani tebu di Kecamatan Omben dapat disebabkan karena kurangnya pengalaman dan pengetahuan tentang budidaya tebu yang intern.
b. Cuaca yang tidak menentu: berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh terhadap responden dalam upaya percepatan pengembangan usahatani tebu di Kecamatan Omben mengatakan bahwa produksi gula pada sejumlah pabrik gula di Indonesia diperkirakan akan menurun akibat curah hujan yang tidak menentu. Kondisi cuaca yang tidak menentu dapat menyebabkan rendemen gula atau kadar gula dalam tebu mengalami penurunan. Sehingga menyebabkan para petani tebu yang sudah mengeluarkan banyak biaya untuk produksi tebu mengalami kerugian.
c. Masih kurangnya ketersediaan pengairan: Air sangat dibutuhkan untuk mempercepat tumbuh mata tunas, memperbanyak batang dan menyuburkan tanaman tebu. Sedangkan pengembangan usahatani tebu di Kecamatan Omben yang menjadi kendala yaitu masih kurangnya ketersediaan pegairan yang menghambat untuk pertumbuhan tebu.
d. Jauhnya lokasi pg dengan lokasi usahatani tebu: belum adanya PG di Madura merupakan faktor yang dapat menghambat pengembangan tebu di wilayah Kecamatan Omben Kabupaten Sampng. Hal ini dikarenakan para petani harus mengeluarkan biaya lebih untuk dapat mengirim hasil panennya, sehingga hal tersebut diyakini petani dapat mengurangi pendapatan mereka.
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
e. Belum optimalnya kelembagaan usahatani tebu: kelembagaan merupakan salah satu faktor pendukung dalam usahatani, karena melalui kelembagaan yang memadai dapat memudahkan petani dalam mengakses modal untuk melakukan usahataninya atau mendistribusikan hasil panennya secara efektif dan efisien. Untuk para petani tebu di Kecamatan Omben banyak yang mengeluh dengan kurang optimalnya kelembagaan yang ada saat ini. Mereka kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang budidaya tebu yang baik, serta sulitnya mendapatkan modal untuk melakukan usahataninya.
f. Rendahnya modal yang dimiliki petani: masih minimnya ketersediaan modal yang dimiliki oleh petani menjadi hambatan klasik yang sering menghambat jalannya sebuah usahatani. Banyak petani yang enggan mencari modal melalui pinjaman ke Bank atau lembaga-lembaga keuangan yang ada. Hal ini dikarenakan petani masih pesimis atau kurang yakin dengan hasil yang akan didapat dengan melakukan usahatani dibidang perkebunan (tebu). Jadi para petani tebu di Kecamatan Omben melakukan uasahatani dengan modal seadanya sehingga produktivitas yang dihasilkan kurang memuaskan.
g. Kesesuaian lahan: pengaruh kasesuaian lahan terhadap pengembangan usahatani tebu sangat berpengaruh penting, karena kesesuaian lahan dapat mempengaruhi hasil rendemen dan produktifitas. Sedangkan jika rendemen dan produktifitas yang dihasilkan rendah akan menyebabkan petani tidak dapat mendapatkan keuntungan.
Untuk kesesuaian lahan di Kecamatan Omben dapat dikatakan sesuai/cocok untuk pengembangan tebu sehingga dapat memungkinkan menghasilkan keuntungan yang maksimal.
h. Rendemen yang dihasilkan cukup tinggi: tebang Tebu perdana di Sampang ini telah menjadi bukti tumbuhnya budidaya tebu guna menunjang swasembada gula nasional. Tebang tebu kali ini diperkirakan rendemen yang dihasilkan bisa mencapai 8% di atas rendemen PG Candi Sidoarjo 7,89%. Hal ini membuktikan kalau pengembangan tebu di Madura memang sangat menjajikan.
i. Potensi lahan yang ada merupakan lahan kering: permasalahan yang dihadapi di jawa timur yaitu wilayah tanam tebu yang mulai terbatas. Sebab tanah persawahan di jawa timur nantinya akan dimanfaatkan untuk tanaman pangan. Sehingga pengembangan tebu saat ini lokasinya lebih tinggi lagi kearah atas gunung yang berupa lahan kering. Dimana pada lahan kering yang terdapat di Kecamatan Omben dapat dijadikan daerah pengembangan tebu dengan melakukan proses penggemburan tanah melalui pemupukan dan pengairan yang cukup dengan menggunakan pengeboran serta perawatan yang intensif.
j. Adanya kepastian pengolahan dan pemasaran tebu: adanya peningkatan permintaan terhadap gula nasional menyebabkan komoditas tebu memiliki ketersediaan pengolahan dan pasar. Sehingga pengolahan dan pemasaran hasil produksi sangat penting bagi petani tebu, karena dapat mempengaruhi pendapatan mereka.
k. Adanya kemitraan: kemitraan antara petani tebu dengan pihak PG yang ada di Kecamatan Omben dapat dibilang berjalan secara optimal dengan adanya fasilitas
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
yang di berikan kepada petani tebu Tetapi masih banyak para petani yang masih belum paham tentang sistem bagi hasil melalui rendemen.
l. Adanya bantuan atau kerjasama dengan pemerintah: adanya bantuan dan kerjasama dengan pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam upaya percepatan pengembangan usahatani tebu di Kecamatan Omben. Karena peran pemerintah sebagai stakeholder membantu proses pengembangan yang efisien dan efektif yang di butuhkan para petani dalam meraih keuntungan.
Analisis Matriks EFE
Faktor yang di analisis dengan matriks EFE adalah faktor-faktor strategis eksternal. Hasil identifikasi dari peluang dan ancaman, kemudian diberi bobot dan rating. Hasil pembobotan dan rating dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. Matriks EFE (External Factor Evaluation) dalam Percepatan Pengembangan Usahatani Tebu di Kecamatan Omben Kabupaten Sampang.
No. Uraian Bobot Rating Skor
Peluang
1. Ketersedian teknologi yang memadai 0,094 4,0 0,376
2. Ketersediaan saprodi 0,102 3,6 0,367
3. Adanya peningkatan permintaan gula oleh industry
0,105 3,8 0,399 4. Adanya peningkatan permintaan gula oleh
masyarakat
0,109 3,8 0,414 Ancaman
1. Metode penerapan harga jual tebu secara top down
0,123 3,2 0,394 2. Adanya tengkulak/pedagang pelantar 0,168 2,2 0,370 3. Adanya komoditas lain yang dapat
mempengaruhi pendapatan yang lebih tinggi
0,148 3,2 0,474
4. Adanya gula impor 0,150 4,0 0,600
Total 1,000 3,393
Sumber: Data Primer Diolah, 2013
Berdasarkan hasil analisis faktor eksternal percepatan di atas menunjukkan bahwa total skor adalah sebesar 3,393 menunjukkan bahwa percepatan pengembangan usahatani tebu di Kecamatan Omben Kabupaten Sampang mampu menghadapi ancaman yang ada dengan memanfaatkan peluang yang dimiliki, sehingga dapat bertahan dan tetap eksis dalam usaha yang dijalankannya.
Analisis Matriks IFE
Faktor yang di analisis dengan matriks IFE adalah faktor-faktor strategis internal.
Faktor-faktor internal tersebut merupakan faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan yang berpengaruh terhadap percepatan pengembangan usahatani tebu. Hasil pembobotan dan rating dapat dilihat di bawah ini:
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
Tabel 4. Matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dalam Percepatan Pengembangan Usahatani Tebu di Kecamatan Omben Kabupaten Sampang
No .
Uraian Bobot Rating Skor Kekuatan
1. Kesesuaian lahan 0,065 4,0 0,260
2. Rendemen yang dihasilkan cukup tinggi 0,074 3,4 0,252 3. Potensi lahan yang ada merupakan lahan
kering
0,092 1,6 0,147 4. Adanya kepastian pengolahan dan
pemasaran tebu
0,067 3,8 0,255
5. Adanya kemitraan 0,079 3,4 0,269
6. Adanya bantuan atau kerjasama dengan pemerintah
0,073 3,6 0,263 Kelemahan
1. Minimnya keterampilan tenaga kerja dalam melakukan budidaya tebu yang intern
0,086 3,8 0,327 2. Cuaca yang tidak menentu 0,098 3,6 0,353 3. Masih kurangnya ketersediaan pengairan 0,079 3,4 0,269 4. Jauhnya lokasi PG dengan lokasi usahatani
tebu
0,091 3,6 0,328 5. Belum optimalnya kelembagaan usahatani
tebu
0,099 3,6 0,356 6. Rendahnya modal yang dimiliki petani 0,097 3,2 0,310
Total 1,000 3,387
Sumber: Data primer diolah, 2013
Berdasarkan hasil analisis faktor internal pada matriks IFE di atas menunjukkan bahwa total skor adalah sebesar 3,387. Hal tersebut menunjukkan bahwa percepatan pengembangan usahatani tebu sedang dalam kondisi yang cukup baik.
Matriks IE (Internal-Eksternal)
Berdasarkan gabungan dari matriks IFE dan EFE maka dapat di buat matriks IE yaitu sebagai berikut:
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
Gambar 2. Matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dalam Percepatan Pengembangan Usahatani Tebu di Kecamatan Omben
Kabupaten Sampang
Dari matriks IE pada gambar di atas, dapat diketahui bahwa percepatan pengembangan usahatani tebu berada pada kuadran I atau pada posisi “Strategi tumbuh dan Bina (growth and build)”. Pada kondisi tersebut, strategi yang dapat dilakukan adalah strategi intensif yaitu berupa penetrasi, pengembangan pasar dan pengembangan produk atau strategi integratif (integrasi ke depan, ke belakang, dan horisontal).
Analisis Matriks SWOT
Analisis matriks SWOT menggunakan hasil analisis yang didapatkan dari matriks EFE dan matriks IFE. Hasil analisis matriks SWOT penelitian ini dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.
Mei, 2014
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1
Tabel 5. Matriks SWOT dalam Percepatan Pengembangan Usahatani Tebu di Kecamatan Omben Kabupaten Sampang
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan terkait penelitian ini sebagai berikut.
1. Faktor lingkungan eksternal yang menjadi peluang dan ancaman yaitu: (a) Ketersediaan teknologi yang memadai; (b) Ketersediaan saprodi; (c) Adanya peningkatan permintaan gula oleh industry; (d) Adanya peningkatan permintaan gula oleh masyarakat; (e) Metode penerapan harga jual tebu secara top down; (f) Adanya tengkulak/pedagang pelantara; (g) Adanya komoditas lain yang dapat mempengaruhi pendapatan yang lebih tinggi; (h) Adanya gula impor. Sedangkan untuk faktor lingkungan internal yang berupa kekuatan dan kelemahan di antaranya:
(a) Kesesuaian lahan; (b) Rendemen yang dihasilkan cukup tinggi; (c) Potensi lahan yang ada merupakan lahan kering; (d) Adanya kepastian pengolahan dan pemasaran tebu; (e) Adanya kemitraan; (f) adanya bantuan dan kerjasama dengan pemerintah;
(g) Minimnya keterampilan tenaga kerja dalam melakukan budidaya tebu yang intern; (h) Cuaca yang tidak menetu; (i) Masih kurangnya ketersediaan pengairan;
Seminar Nasional
Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014
(j) Jauhnya lokasi pg dengan lokasi usahatani tebu; (k) Belum optimalnya kelembagaan usahatani tebu dan (l) Rendahnya modal yang dimiliki petani.
2. Alternatif strategi yang sesuai untuk percepatan pengembangan usahatani tebu antara lain: (a) Meningkatkan produktifitas tebu; (b) Intensifikasi budidaya tebu ; (c) Perluasan area untuk penyebaran usahatani tebu; (d) Memperbaiki pola kemitraan yang sudah ada; (e) Pengembangan kemitraan usaha dalam hal penerapan harga jual tebu; (f) Mengembangkan kualitas gula lokal dengan cara meningkatkan rendemen;
(g) Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat terkait prospek pengembangan usahatani tebu; (h) Meningkatkan kualitas keterampilan kerja sumber daya manusia;
(i) Penguatan kapasitas kelembagaan untuk percepatan pengembangan usahatani tebu; (j) Memperluas saluran pemasaran berdasarkan agroindustri; (k) Meningkatkan sarana pengairan dan (l) Perlu pembangunan pabrik gula di Madura.
DAFTAR PUSTAKA
Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2012. Perkembangan Perkebunan Komoditas Tebu di Madura tahun 2012. Surabaya.
Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2013. Perkembangan Perkebunan Komoditas Tebu Petani Madura di Jawa Timur tahun 2013. Surabaya.
David, F.R. 2009. Manajemen Strategis: Konsep- Konsep. Alih Bahasa: Kresna Santoso. Jakarta: PT. Indeks Kelompok Gramedia.
Rante, Yohanis. 2013. Strategi Pengembangan Tanaman Kedelai Untuk Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Di Kabupaten Keerom Provinsi Papua. Universitas Cenderawasih, Papua. VOL. 15, NO. 1, Maret 2013.
Badan Pusat Statsistik Jawa Timur. 2012. Jawa Timur dalam Angka 2012. Surabaya:
Badan Pusat Statsistik.