• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI IMPLEMENTASI SUPERVISI PEMBELAJARAN PADA SEKOLAH DASAR NEGERI 002, 005, DAN 012 SAMARINDA SEBERANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EVALUASI IMPLEMENTASI SUPERVISI PEMBELAJARAN PADA SEKOLAH DASAR NEGERI 002, 005, DAN 012 SAMARINDA SEBERANG"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI IMPLEMENTASI SUPERVISI

PEMBELAJARAN PADA SEKOLAH DASAR NEGERI 002, 005, DAN 012 SAMARINDA SEBERANG

Renny Puspita Sari

Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia E-mail: [email protected]

Copyright © 2021 The Author

This is an open access article

Under the Creative Commons Attribution Share Alike 4.0 International License DOI:

10.53866/jimi.v2i1.25

Abstract

The aim of this research was to determine the planning, implementation, follow-up, and the result of evaluation of educational supervision implementation conducted by the Principals of State Elementary School 005, 008, and 012 Samarinda Seberang. The type of research that was used was research evaluation with gap model. This research used qualitative approach that was aimed to understand the social phenomena from the participants’ point of view. The data collection instruments used were non-test instruments which included interviews, observation, and document analysis. The collected data were analysed by using Discrepancy Evaluation Model (DEM) technique. The data analysis consists of three lines of activities that occurred simultaneously, namely: (1) data reduction; (2) data presentation; and (3) drawing conclusions. The results show that the educational supervision program made by the Principals had run well.

Keywords: Evaluation, Educational supervision, School Principal, Teacher Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan, tindak lanjut, dan hasil evaluasi implementasi supervisi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah pada Sekolah Dasar Negeri 005, 008, dan 012 Samarinda Seberang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian evaluasi dengan model kesenjangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Instrumen pengumpul data yang digunakan merupakan instrumen non-test yang meliputi wawancara, observasi dan analisis dokumen. Data yang sudah dikumpulkan akan dilakukan analisis data menggunakan teknik Discrepancy Evaluation Model (DEM). Analisis data terdiri dari tiga jalur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu: (1) reduksi data; (2) penyajian data; dan (3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program supervisi pembelajaran yang dibuat kepala sekolah sudah berjalan dengan baik.

Kata Kunci: Evaluasi, Supervisi pembelajaran, Kepala Sekolah, Guru

1. Pendahuluan

Proses pendidikan dan pembelajaran yang berlangsung pada suatu lembaga pendidikan menuntut upaya pengkoordiniran secara sistematis dan terencana. Upaya kearah ini salah satunya dapat terwujud dengan adanya pelaksanaan supervisi. Merujuk pada penelitian Rugaiyah (2016) diketahui bahwa kegiatan

(2)

secara efektif dilaksanakan oleh mereka yang bertanggungjawab melaksanakan supervisi dengan menerapkan prinsip-prinsip demokrasi, sehingga potensi manusia dapat berkembang dengan berkelanjutan, baik dalam konteks pribadi maupun bersama, sehingga setiap orang dapat berpartisipasi dalam suatu komunitas masyarakat.

Pelaksanaan supervisi pembelajaran merupakan tugas kepala sekolah sebagai supervisor tingkat sekolah. Hal ini dipertegas oleh Permendiknas RI Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi kepala sekolah yang menyatakan bahwa salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah adalah bahwa seorang kepala sekolah mampu melaksanakan supervisi. Harianto dkk (2015) menyatakan bahwa kepala sekolah dituntut harus mampu mengembangkan wawasan dan bimbingan kerjasama dengan guru-guru serta mengawasi kurikulum, melaksanakan pengawasan terhadap aktivitas mengajar guru dengan melihat bagaimana mereka menggali bahan pelajaran, menggunakan metode mengajar yang baik, menggunakan evaluasi hasil belajar, menstimulasi guru untuk mengembangkan metode dan proses pembelajaran, membantu guru membina kurikulum sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuan anak serta menilai sifat-sifat dan kemampuan guru sehingga kepala sekolah dapat membantu mereka ke arah pembelajaran yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan pendapat Marsellina (2014) yang mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai penggerak dalam meningkatkan dan mengembangkan mutu sekolah, sudah seharusnya memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut: (1) dalam perencanaan supervisi pembelajaran dapat melakukan penyesuaian dan pengkondisian sekolah yang mendukung terlaksananya supervisi pembelajaran; (2) dalam pelaksanaan supervisi pembelajaran bekerjasama dalam mewujudkan pembinaan kemampuan guru yang bersifat kekeluargaan dan teman sejawat dengan tujuan meningkatkan profesionalitas guru dan lulusan yang berkualitas; (3) dalam evaluasi pelaksanaan supervisi pembelajaran bekerjasama melakukan pembinaan, baik dilakukan secara berkelompok sesama guru di sekolah maupun dengan KKG/ MGMP yang ada di setiap daerah.

Prosedur pelaksanaan supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah yakni dimulai dari: (1) tahap perencanaan dengan membuat program pengawasan dan instrument; (2) tahap pelaksanaan dengan merancang metode dan teknik supervisi yang digunakan; dan (3) tahap melaksanakan evaluasi dan tindak lanjut. Namun demikian, masih terdapat beberapa kasus di lapangan bahwa kepala sekolah belum menjalankan prosedur pelaksanaan supervisi tersebut dengan benar dan sistematis serta tidak menindaklanjuti hasil supervisi sehingga pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah tidak berjalan secara maksimal. Supervisi pembelajaran yang dilaksanakan oleh sebagian supervisor (kepala sekolah) pada saat sekarang ini masih berorientasi pada pengawasan (kontrol) dan obyek utamanya adalah manajerial dan administrasi saja, sehingga suasana kemitraan antara guru dan supervisor kurang tercipta dan bahkan guru secara psikologis merasa terbebani dengan pikiran untuk dinilai. Padahal kegiatan supervisi pembelajaran yang dilakukan akan lebih efektif jika guru terbebas dari tekanan, dan diganti dengan suasana pemberian pelayanan yang hangat, serta pemenuhan kebutuhan yang bersifat informal.

Supervisi pembelajaran berperan penting dalam meningkatkan kualitas profesional guru dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan dari kegiatan tersebut dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Untuk itu perlu diadakan suatu evaluasi, apakah supervisi pembelajaran yang telah diterapkan di sekolah sudah terlaksana dengan benar atau belum. Hal ini yang membuat peneliti tertarik untuk mengambil penelitian dengan judul “Evaluasi Implementasi Supervisi Pembelajaran pada Sekolah Dasar Negeri 005, 008, dan 012 Samarinda Seberang”.

2. Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian evaluasi dengan model kesenjangan (discrepancy model evaluation) yang bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian pelaksanaan supervisi pembelajaran kepala sekolah di Sekolah Dasar Negeri 005, 008, dan 012 di Samarinda Seberang dengan standar program supervisi yang ada. Langkah-langkah atau tahapan yang dilalui dalam mengevaluasi kesenjangan menurut Suciptoardi (2011) adalah sebagai berikut:(1). Tahap Penyusunan

(3)

Desain; (2) Tahap Penetapan Kelengkapan Program; (3) Tahap Proses (Process); (4) Tahap Pengukuran Tujuan (Product); dan (5) Tahap Pembandingan (Programe Comparison).

Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci untuk memperoleh informasi secara mendalam dan menyeluruh tentang pelaksanaan supervisi pembelajaran di sekolah. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan (Sugiyono, 2017).

Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Selanjutnya untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan sejak awal penelitian sampai akhir penelitian dengan teknik reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility (validitas internal), transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confirmability. Uji credibility terdiri dari perpanjangan pengamatan dan triangulasi. Triangulasi terbagi menjadi triangulasi sumber data, triangulasi teknik dan triangulasi waktu (Sugiyono, 2017). Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah dan guru. Supervisi pembelajaran merupakan bagian dari supervisi akademik, sehingga kriteria evaluasi yang menjadi pedoman standar program penilaian kompetensi kepala sekolah mengacu pada Permendiknas Nomor 13 tahun 2007 terkait program supervisi akademik yang secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Standar Program Dimensi Kompetensi Supervisi Akademik

No Dimensi Kompetensi Kompetensi

4 Supervisi 4.1 Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

4.2 Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.

4.3 Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

Sumber: Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007

Instrumen observasi dalam penelitian ini terdiri dari instrumen perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang dimiliki oleh guru. Kisi-kisi instrumen penelitian perencanaan pembelajaraan dan pelaksanaan pembelajaran mengacu pada buku Kemendikbud (2016) yang dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Penelitian Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran No Komponen

Evaluasi

Aspek/Sub komponen Evaluasi Indikator Evaluasi

1 Supervisi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

a. Tersedia dokumen perencanaan pembelajaran yang memuat identitas mata pelajaran.

1) Memuat Identitas satuan pendidikan.

2) Memuat Identitas mata pelajaran/tema.

3) Memuat Identitas kelas/ semester.

4) Memuat alokasi waktu.

b. Tersedia dokumen perencanaan pembelajaran yang memuat pemilihan

1) Memuat kompetensi Inti.

2) Memuat kompetensi Dasar.

(4)

Evaluasi

Kompetensi.

c. Tersedia dokumen perencanaan pembelajaran yang memuat

perumusan indikator.

1) Kesesuaian dengan KD.

2) Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan kompetensi yang diukur.

3) Kesesuaian dengan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

d. Tersedia dokumen perencanaan pembelajaran yang memuat

pemilihan materi pembelajaran.

1) Kesesuaian dengan KD.

2) Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik.

3) Kesesuaian dengan alokasi waktu.

e. Tersedia dokumen perencanaan pembelajaran yang memuat

pemilihan sumber belajar.

1) Kesesuaian dengan KI dan KD.

2) Kesesuaian dengan materi pembelajaran dan pendekatan saintifik.

3) Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik.

f. Tersedia dokumen perencanaan pembelajaran yang memuat rencana kegiatan pembelajaran.

1) Menampilkan kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup dengan jelas.

2) Kesesuaian kegiatan dengan pendekatan saintifik.

3) Kesesuaian dengan sintak model pembelajaran yang dipilih.

4) Kesesuaian penyajian dengan sistematika materi.

5) Kesesuaian alokasi waktu dengan cakupan materi.

g. Tersedia dokumen perencanaan pembelajaran yang memuat penilaian pembelajaran.

1) Kesesuaian dengan teknik penilaian autentik.

2) Kesesuaian dengan instrumen penilaian autentik.

3) Kesesuaian soal dengan dengan indikator pencapaian kompetensi.

4) Kesesuaian kunci jawaban dengan soal.

5) Kesesuaian pedoman penskoran dengan

(5)

No Komponen Evaluasi

Aspek/Sub komponen Evaluasi Indikator Evaluasi

soal.

h. Tersedia dokumen perencanaan pembelajaran yang memuat

pemilihan media belajar

1) Kesesuaian dengan materi pembelajaran.

2) Kesesuaian dengan kegiatan pada pendekatan saintifik.

3) Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik.

i. Tersedia dokumen perencanaan pembelajaran yang memuat pemilihan bahan pembelajaran

1) Kesesuaian dengan materi pembelajaran.

2) Kesesuaian dengan kegiatan pada pendekatan saintifik

j. Tersedia dokumen perencanaan pembelajaran yang memuat

pemilihan sumber pembelajaran

1) Kesesuaian dengan materi pembelajaran.

2) Kesesuaian dengan kegiatan pada pendekatan saintifik.

3) Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik.

2 Supervisi Pelaksanaan Pembelajaran

Kegiatan Pendahuluan Dalam penyusunan pelaksanaan pembelajaran memuat:

a. Tersedia dokumen pelaksanaan yang memuat apersepsi dan motivasi.

1) Mengondisikan suasana belajar yang menyenangkan.

2) Mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.

3) Menyampaikan manfaat materi

pembelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.

4) Menyampaikan garis besar cakupan materi

b. Tersedia dokumen pelaksanaan yang memuat penyampaian kompetensi, rencana kegiatan, dan penilaian.

1) Menyampaikan kompetensi yang akan dicapai.

2) Menyampaikan garis besar kegiatan yang akan dilakukan.

3) Menyampaikan lingkup dan teknik penilaian yang akan digunakan.

Kegiatan Inti Dalam penyusunan pelaksanaan

pembelajaran memuat:

(6)

Evaluasi

a. Tersedia dokumen

pelaksanaan yang memuat penguasaan materi pembelajaran.

1) Kemampuan menyesuaikan materi dengan kompetensi dasar.

2) Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan,

perkembangan Iptek, dan kehidupan nyata.

3) Kemampuan menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat.

b. Tersedia dokumen pelaksanaan yang memuat penerapan strategi pembelajaran yang mendidik.

1) Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.

2) Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit, dari konkrit ke abstrak).

3) Menguasai kelas.

4) Melaksanakan pembelajaran yang menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik dalam mengajukan pertanyaan.

5) Melaksanakan pembelajaran yang menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik dalam mengemukakan pendapat.

6) Melaksanakan pembelajaran yang mengembangkan keterampilan peserta didik sesuai dengan materi ajar.

7) Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual.

8) Melaksanakan pembelajaran yang menumbuhkan kebiasaan dan sikap positif (nurturant effect).

9) Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan.

c. Tersedia dokumen pelaksanaan yang memuat penerapan pendekatan saintifik.

1) Memfasilitasi dan menyajikan kegiatan bagi peserta didik untuk mengamati.

2) Memancing peserta didik untuk bertanya apa, mengapa, dan bagaimana?

3) Memfasilitasi dan menyajikan kegiatan bagi peserta didik untuk mengumpulkan

(7)

No Komponen Evaluasi

Aspek/Sub komponen Evaluasi Indikator Evaluasi

informasi.

4) Memfasilitasi dan menyajikan kegiatan bagi peserta didik untuk mengasosiasikan data dan informasi yang dikumpulkan.

5) Memfasilitasi dan menyajikan kegiatan bagi peserta didik untuk

mengkomunikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya.

d. Tersedia dokumen pelaksanaan yang memuat pemanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran.

1) Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media belajar.

2) Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber pembelajaran.

3) Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media belajar.

4) Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber pembelajaran.

5) Menghasilkan pesan yang menarik.

e. Tersedia dokumen pelaksanaan yang memuat pelaksanaan penilaian pembelajaran.

1) Melaksanakan penilaian sikap.

2) Melaksanakan penilaian pengetahuan.

3) Melaksanakan penilaian keterampilan.

f. Tersedia dokumen pelaksanaan yang memuat pelibatan peserta didik dalam pembelajaran.

1) Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru, peserta didik, dan sumber belajar.

2) Merespon positif partisipasi peserta didik.

3) Menunjukkan sikap terbuka terhadap respon peserta didik.

4) Menumbuhkan keceriaan atau

antusiasme peserta didik dalam belajar.

g. Tersedia dokumen pelaksanaan yang memuat penggunaan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran.

1) Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar.

2) Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar.

(8)

Evaluasi

Kegiatan Penutup Dalam penyusunan perencanaan

pembelajaran memuat:

a. Tersedia dokumen pelaksanaan yang memuat penutup pembelajaran.

1) Menfasilitasi dan membimbing peserta didik merangkum materi pelajaran.

2) Menfasilitasi dan membimbing peserta didik untuk merefleksi proses dan materi pelajaran.

3) Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.

4) Melakukan penilaian.

5) Merencanakan kegiatan tindak lanjut.

6) Menyampaikan rencana pembelajaran.

Sumber: Kemendikbud (2016)

Analisis penilaian indikator menggunakan rumus persentase. Berdasarkan hasil perhitungan kuantitatif dari data-data yang diperoleh, data dinterpretasikan. Kriteria ketuntasan minimum yang diharapkan yaitu memperoleh persentase 61% yang berarti berkategori baik dan dapat digunakan untuk contoh guru lain dengan perbaikan pada bagian-bagian tertentu. Kriteria interpretasi data dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3. Kriteria Interpretasi Data

No. Rentang Persentase Kategori

1 81-100% Sangat baik

2 61-80% Baik

3 41-60% Cukup

4 21-40% Kurang

5 0-20% Sangat Kurang

Sumber: Riduwan (2013)

3. Pembahasan

3.1 Tahap Perencanaan Supervisi Pembelajaran

Secara garis besar, kepala sekolah SDN 005, SDN 008, dan SDN 012 Samarinda Seberang sudah memahami tugas dan kewajiban mereka dalam mempersiapkan dan menyusun program perencanaan supervisi pembelajaran dengan baik, hal ini dibuktikan dari hasil observasi peneliti di lapangan dengan ditemukannya program perencanaan yang meliputi perencanaan perangkat pembelajaran seperti silabus dan RPP, jadwal supervisi, instrumen supervisi, teknik supervisi, rancangan umpan balik hasil supervisi dan rancangan tindak lanjut kegiatan berdasarkan analisis kebutuhan masing-masing sekolah. kepala sekolah

(9)

berusaha mendorong para guru untuk mengembangkan kemampuannya agar dapat mencapai tujuan pendidikan secara efektif, sehingga diperlukan perencanaan yang baik. Hal ini sesuai dengan teori supervisi Masaong (2013) yang mengatakan bahwa seorang kepala sekolah yang bertindak sebagai supervisor harus menyusun rencana untuk memperkuat implementasi kompetensi guru. Kepala sekolah di SDN 005, SDN 008, dan SDN 012 Samarinda Seberang selalu melibatkan warga sekolah dalam merumuskan program sekolah terkait perencanaan pembelajaran untuk meminta pertimbangan dalam mengambil keputusan. Hal ini memperkuat penelitian Hamid Tanjung (2014) yang menyatakan bahwa program perencanaan supervisi sekolah dirancang oleh kepala sekolah dengan menghimpun berbagai masukan dari warga sekolah. Adanya keterlibatan warga sekolah dalam merumuskan program sekolah menunjukkan bahwa kepala sekolah telah berupaya mengoptimalkan potensi-potensi sumber daya yang terdapat di sekolah.

3.2 Tahap Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran

Dari penelitian yang dilakukan mengenai pelaksanaan supervisi pembelajaran yang dilakukan kepala sekolah, dapat diketahui bahwa tahap pelaksanaan supervisi pembelajaran telah dilaksanakan dengan baik, hal ini berdasarkan dua temuan utama dalam penelitian ini, yaitu hasil pencermatan data supervisi rencana pelaksanaan pembelajaran dan hasil pencermatan data supervisi pelaksanaan pembelajaran.

3.2.1 Hasil Evaluasi Supervisi Perencanaan Pembelajaran

Dari data hasil supervisi perencanaan pembelajaran, diperoleh tiga temuan dalam penelitian ini yaitu temuan pertama, berdasarkan data supervisi SDN 005 Samarinda Seberang diketahui bahwa dari 15 subjek penelitian, jumlah guru yang dapat dijadikan contoh berjumlah 9 guru dengan persentase sebesar 60% yang berarti berkategori cukup, sehingga masih terdapat banyak guru yang harus melakukan perbaikan. Hal ini dikarenakan menurut hasil wawancara dengan beberapa guru, kepala sekolah hanya melakukan supervisi satu kali dalam satu semester. Selain itu, beberapa guru masih memiliki disiplin yang kurang, dan banyaknya administrasi kurikulum 2013 yang harus disiapkan membuat beberapa guru masih kebingungan dalam menyiapkan perencanaan pembelajaran.

Kedua, berdasarkan data hasil supervisi SDN 008 Samarinda Seberang diketahui bahwa dari 20 subjek penelitian, jumlah guru yang dapat dijadikan contoh berjumlah 15 guru dengan persentase sebesar 75%

yang berarti berkategori baik. Hal ini dikarenakan kepala sekolah melakukan supervisi berkesinambungan, supervisi awal untuk melihat kemampuan guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran dan supervisi akhir untuk melihat perkembangan dan perbaikan. kepala sekolah juga sering melakukan bimbingan kepada guru seperti kunjungan kelas, pertemuan pribadi, dan rapat dewan guru.

Ketiga, berdasarkan data hasil supervisi SDN 012 Samarinda Seberang diketahui bahwa dari 15 subjek penelitian, jumlah guru yang dapat dijadikan contoh berjumlah 11 guru dengan persentase sebesar 73%

yang berarti sudah berkategori baik. Hal ini dikarenakan kepala sekolah sering melaksanakan supervisi pembelajaran terhadap para guru, 2-3 kali dalam satu semester. Kepala sekolah juga melakukan bimbingan secara langsung perorangan dan secara bersama-sama yang disampaikan dalam rapat dewan guru atau pertemuan dalam kelompok kerja guru sebagai bentuk tindak lanjut dan evaluasi.

3.2.2 Hasil Evaluasi Supervisi Pelaksanaan Pembelajaran

Dari penelitian yang dilakukan mengenai supervisi pelaksanaan pembelajaran, diperoleh tiga temuan dalam penelitian ini yaitu temuan pertama, berdasarkan data supervisi SDN 005 Samarinda Seberang diketahui bahwa dari 15 subjek penelitian, jumlah guru yang dapat dijadikan contoh berjumlah 9 orang dengan persentase 60% yang berarti berkategori cukup, sehingga masih terdapat banyak guru yang harus melakukan perbaikan. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kurangnya jadwal supervisi, beberapa guru yang kurang termotivasi, dan pembinaan secara langsung oleh kepala sekolah biasanya hanya diadakan bersamaan dengan rapat dewan guru. Bimbingan yang bersifat perorangan, ataupun kunjungan kelas sangat jarang dilakukan oleh kepala sekolah. Tim supervisor yang dibentuk juga kurang aktif, dan hubungan antar

(10)

Kedua, berdasarkan data supervisi SDN 008 Samarinda Seberang diketahui bahwa dari 20 subjek penelitian, jumlah guru yang dapat dijadikan contoh berjumlah 17 orang dengan persentase 85% yang berarti berkategori sangat baik. Hal ini dikarenakan kepala sekolah sering melakukan pembinaan dan kunjungan kelas, meskipun kepala sekolah memiliki jabatan lain yaitu sekretaris K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) wilayah Samarinda Seberang. Kepala sekolah tetap semangat melaksanakan bimbingan.

Adanya tim supervisor, juga menjadikan bimbingan yang diberikan lebih optimal. Hubungan sejawat para guru dan tim supervisor juga terlihat hangat dan saling mendukung sehingga menciptakan lingkungan yang kondusif.

Ketiga, berdasarkan data supervisi SDN 012 Samarinda Seberang diketahui bahwa dari 15 subjek penelitian, jumlah guru yang dapat dijadikan contoh berjumlah 11 orang dengan persentase 73% yang berarti berkategori baik. Pelaksanaan supervisi belum memperoleh kategori sangat baik dikarenakan faktor pribadi kepala sekolah, yaitu kesibukan kepala sekolah yang juga menjabat sebagai ketua K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) wilayah Samarinda Seberang. Kepala sekolah sudah melakukan bimbingan dengan sangat baik, namun terjeda cukup lama untuk bimbingan berikutnya dikarenakan kesibukan kegiatan lain.

Berdasarkan pengamatan peneliti, meskipun kepala sekolah sudah membentuk tim supervisor, beberapa guru kurang disiplin dan kritis untuk bertanya kepada tim supervisor. Mereka lebih disiplin jika kepala sekolah yang langsung memegang tugasnya untuk melaksanakan bimbingan dan melakukan supervisi.

Secara umum, kepala sekolah SDN 005, SDN 008, dan SDN 012 sudah memahami tugas dan kewajiban mereka dengan baik dalam melakukan evaluasi pelaksanaan supervisi pembelajaran.

Berdasarkan wawancara dengan para guru SDN 005, SDN 008, dan SDN 012 diketahui bahwa pelaksanaan supervisi pembelajaran dalam meningkatkan mutu pembelajaran dilakukan melalui pendekatan individual, rapat dewan guru, dan kunjungan kelas. Sedangkan untuk pembinaan lebih lanjut dilakukan juga dengan forum KKG (kelompok kerja guru), teknik kunjungan antar sekolah, seminar atau penataran untuk meningkatkan keterampilan mengajar para guru. Penelitian ini sesuai dengan teori teknik-teknik supervisi yang dikemukakan Masaong (2013) yang menyatakan bahwa teknik-teknik supervisi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh seorang supervisor diantaranya meliputi teknik kunjungan kelas, teknik pertemuan pribadi, rapat dewan guru, teknik kunjungan antar kelas, teknik kunjungan antar sekolah, teknik pertemuan dalam kelompok kerja guru, teknik penerbitan buletin profesional, simposium, dan seminar.

Hasil pengolahan data dari tiga sekolah diketahui bahwa jika program supervisi benar-benar dapat dijalankan oleh kepala sekolah secara sistematis, sungguh-sungguh, sinergis, dan berkelanjutan, maka mutu proses pembelajaran akan semakin baik dan efektif. Hal ini diperkuat penelitian Iroegbu dan Eyo (2016) yang menyatakan bahwa guru di sekolah yang pengawasan pengajarannya memadai memperoleh hasil lebih efektif daripada mereka yang memiliki pengawasan instruksional yang tidak memadai. Oleh karena itu, direkomendasikan kepada kepala sekolah harus melakukan pengawasan instruksional yang memadai terhadap guru-guru sehingga para guru dapat meningkatkan efektivitas mengajar mereka.

4. Tindak Lanjut Supervisi Pembelajaran

Berdasarkan wawancara dengan kepala Sekolah di SDN 005, SDN 008, dan SDN 012 Samarinda Seberang diketahui bahwa kepala sekolah menentukan langkah-langkah tindak lanjut supervisi berdasarkan data pelaporan. Data pelaporan ini berisi identifikasi masalah atau kendala-kendala yang terjadi selama pengamatan berlangsung. Hal ini sesuai dengan Kemendikbud (2016) yang menyatakan bahwa tahap pelaporan dimulai dari evaluasi yang meliputi identifikasi hasil pengamatan pada saat observasi, identifikasi hasil supervisi, evaluasi bersama antara supervisor dan guru, serta membuat catatan-catatan lapangan hasil supervisi yang didokumentasikan sebagai bentuk laporan kerja.

Kegiatan pembinaan yang telah dilakukan kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi ini bertujuan

(11)

untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik, bukan hanya mencari kesalahan guru namun diupayakan lebih berbaur dengan para guru sehingga dapat mengungkapkan kendala yang dihadapi di lapangan atau di kelas. Hal ini sesuai dengan pendapat Purwanto (2010) bahwa supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang dirancang untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa melalui proses pembinaan secara teratur selama pelaksanaan supervisi, guru SD menjadi lebih meningkat kompetensi pengembangan profesinya.

Hal ini diperkuat penelitian Saputra (2011) bahwa peningkatan kinerja guru pendidikan jasmani SD di Kota Bandung lebih dikarenakan faktor pembinaan yang diberikan selama pelaksanaan supervisi pembelajaran.

Supervisi yang dilakukan selama proses penelitian mendorong guru untuk lebih serius dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik, sehingga perubahan sangat dirasakan. Kesalahan dan ketidaktahuan guru dalam melakukan berbagai aktivitas pembelajaran dapat teratasi dengan diberikannya serangkaian pembinaan sebelum, pada saat, dan setelah pembelajaran selesai. Guru merasa terbantu dengan keberadaan pengawas di lapangan.

5. Hasil Evaluasi Implementasi Supervisi Pembelajaran

Program kegiatan supervisi pembelajaran ketiga sekolah telah sesuai dengan standar kompetensi program, yaitu adanya perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Hasil evaluasi implementasi supervisi pembelajaran memiliki tiga temuan. Temuan pertama di SDN 005 hasil evaluasi rata-rata komponen perencanaan dan pelaksanaan supervisi pembelajaran SDN 005 memperoleh persentase 67% yang berarti berkategori baik. Temuan kedua di SDN 008 menunjukkan bahwa hasil evaluasi rata-rata komponen perencanaan dan pelaksanaan supervisi pembelajaran memperoleh persentase 74% yang berarti berkategori baik. Temuan ketiga di SDN 012 menunjukkan bahwa hasil evaluasi rata-rata komponen perencanaan dan pelaksanaan supervisi pembelajaran memperoleh persentase 71% yang berarti berkategori baik. Dari hasil penelitian diketahui bahwa hasil evaluasi implementasi supervisi pembelajaran ketiga sekolah memperoleh nilai baik, namun program supervisi tetap harus dilanjutkan agar memperoleh hasil yang lebih optimal.

Evaluasi dan supervisi memiliki hubungan yang sangat erat. Semakin sering kepala sekolah melakukan supervisi dan bimbingan kepada guru, semakin baik hasil evaluasi. Hal ini diperkuat penelitian Darishah, Daud, dan Fauzee (2017) yang menyatakan bahwa jika pelaksanaan supervisi pengajaran dan pembelajaran tinggi maka sikap dan kompetensi mengajar para guru bisa ditingkatkan. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Kayaoglu (2012) bahwa pengawasan dianggap sebagai intervensi yang disengaja ke dalam proses pembelajaran dengan tujuan meningkatkan pembelajaran dengan mengambil hubungan kerja yang profesional antara guru dan supervisor yang diyakini membawa perubahan positif di antara para guru dalam meningkatkan dan memperkaya kualitas pembelajaran di sekolah. Kepala sekolah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pembelajaran dan pribadi para guru. Penelitian ini menjelaskan bahwa supervisi tidak dapat berjalan dengan baik tanpa evaluasi. Hal ini sesuai dengan penelitian Sholihah (2018) yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan bagian dari supervisi, cara kerja supervisi, dan langkah awal supervisi yang menyediakan data untuk tahap lanjutan dalam supervisi. Evaluasi dan penilaian hasil supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah terhadap guru-guru dilakukan setelah pelaksanaan supervisi pembelajaran.

5. Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa program supervisi pembelajaran yang dibuat kepala sekolah sudah berjalan dengan baik, hal ini dapat dilihat dari: (1) perencanaan supervisi pembelajaran yang disiapkan kepala sekolah SDN 005, SDN 008, dan SDN 012 sudah memenuhi standar yang telah ditentukan oleh Kemendikbud, hal ini terlihat dari program perencanaan supervisi pembelajaran yang disiapkan meliputi dokumen perencanaan pembelajaran, jadwal supervisi, teknik supervisi, instrumen supervisi, rancangan umpan balik dan rancangan tindak lanjut supervisi; (2) pelaksanaan supervisi

(12)

dan berkelanjutan maka mutu proses pelaksanaan pembelajaran juga akan semakin bagus dan efektif; (3) tindak lanjut supervisi pembelajaran yang dilakukan secara garis besar meliputi penguatan, penghargaan, teguran yang bersifat mendidik, kesempatan untuk mengikuti pelatihan, Kelompok Kerja Guru (KKG), seminar, penataran, pembinaan pribadi ataupun kelompok, serta adanya diskusi dan kolaborasi dengan guru-guru, dan (4) hasil evaluasi implementasi supervisi pembelajaran terkait hasil rata-rata evaluasi komponen perencanaan dan pelaksanaan supervisi pembelajaran di SDN 005, 008, dan 012 secara berturut-turut memperoleh persentase 67%, 74%, dan 71% yang seluruhnya berkategori baik, namun pembinaan terhadap para guru tetap dilaksanakan agar memperoleh hasil yang lebih optimal dan pada akhirnya berdampak pada tercapainya tujuan pembelajaran di kelas.

Bibliografi

Darishah, Puteri., Daud, Yaakob., & Fauzee, Mohd Sofian Omar. (2017). Teaching and Learning Supervision by School Management, Attitude of Teachers and Competency of Teaching.

International Journal of Development and Sustainability, 6, (10), pp. 1367-1381.

Harianto, Mawardi Slamat., Nasir Usman, dan Djailani, A.R. (2015). Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran Dalam Meningkatkan Kemampuan Profesional Guru Di SMA Negeri Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Magister Administrasi Pendidikan Universitas Syiah Kuala, 3 (2), 128-137. ISSN 2302-0180.

Iroegbu, E. E., & Eyo, E. E. (2016). Principals’ Instructional Supervision and Teachers’ Effectiveness.

British Journal of Education, 4, (7), pp. 99-109.

Kayaoglu, M. N. (2012). Dictating or Facilitating: The Supervisory Process for Language Teachers.

Australian Journal of Teacher Education, 37 (10).

Kemendikbud. (2016). Panduan Supervisi Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kemendikbud.

M. Saputra, Yudha. (2011). Supervisi pembelajaran untuk meningkatkan kinerja guru pendidikan jasmani.

Jurnal ilmu pendidikan, 17 (5), h. 423.

Marsellina, Rezy. (2014). Persepsi Guru Tentang Proses Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran oleh Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis Manajemen Di Kota Padang. Jurnal Administrasi Pendidikan, 2 (1), 620-831.

Masaong, Abdul Kadim. (2013). Supervisi Pembelajaran Dan Pengembangan Kapasitas Guru. Bandung:

Alfabeta.

Permendiknas. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 13 Tahun tentang Standar Kompetensi Kepala sekolah. Permendiknas: Jakarta.

Purwanto, M. Ngalim. (2010). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Riduwan. (2013). Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Rugaiyah. (2016). Pengembangan Model Supervisi Klinis Berbasis Informasi Dan Teknologi. Cakrawala Pendidikan, 3.

Sholihah, Baqiyatush. (2018). Evaluasi Dan Supervisi Program Pembelajaran Al Qur’an Di Sekolah Dasar Islam Bilingual An-Nisa Semarang. Tarbawi: Jurnal Pendidikan Islam, 15 (1), h. 112.

Suciptoardi. (2011). Evaluasi program Malcolm Provus-Discrepancy Evaluation Model (online).

Available:https://suciptoardi.wordpress.com/2011/01/03/evaluasi-programmalcolm-provus-dem-disc repancy-evaluation-model/, (18-06-2020).

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Gambar

Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Penelitian Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran    No  Komponen
Tabel 3. Kriteria Interpretasi Data

Referensi

Dokumen terkait

Faktor internal berupa pola asuh orangtua yang baik di dukung dengan pemahaman orangtua terhadap perkembangan psikologis anak, pengetahuan Agama Hindu yang cukup,

Untuk mendapatkan profil dalam bentuk huruf M atau W ini dapat dilihat dari 4 subtes pertama (SE, WA, AN, GE) yang tampak pada

2 Sistem Otorisasi dan Pencatatan Terjadi ketidaksesuaian pada unsur ini karena di Paroki Bunda Hati Kudus Yesus Woloan belum memadai, di mana Paroki tidak membuat dokumen

10. Bukti memorial yang merupakan dasar pencatatan ke dalam Jurnal Umum, 11. Bukti penerimaan/pengeluaran lainnya. Secara ringkas dokumen sumber untuk prosedur akuntansi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan BG di dalam pakan menghasilkan nilai THC udang yang berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan lain maupun kontrol.. BG bekerja

Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Jambi Page 151 Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan naungan pada varietas Petek

Audit a'a' int!rna' da&at di'aksanakan s!Dara !rsamaan d!ngan audit sist!m 'ain akan t!ta&i #rang audit ha'a' int!rna' dan &!'a&#rannya harus diuat

Dalam artian bahwa penelitian apapun yang tujuannya untuk mengetahui dampak KTSP tidak bisa dilakukan karena sekolah masih dalam tahapan mengadopsi, mengadaptasi