• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKNA FANATISME PADA SUPPORTER KLUB SEPAK BOLA MANCHESTER UNITED

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAKNA FANATISME PADA SUPPORTER KLUB SEPAK BOLA MANCHESTER UNITED"

Copied!
148
0
0

Teks penuh

(1)

MAKNA FANATISME PADA SUPPORTER KLUB SEPAK BOLA MANCHESTER UNITED

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Disusun Oleh:

M. Ajie Rahmansyah 119114159

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2016

(2)

ii

(3)

iii .

(4)

iv

Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja,

kera juga bekerja.

-BUYA HAMKA-

LEBIH BAIK GAGAL MENCAPAI HAL YANG BESAR, DARIPADA BERHASIL NAMUN HANYA PENCAPAIAN

KECIL.

-BILL NICHOLSON-

Suksesnya seseorang dimulai dengan keluar dari zona nyaman -Coach Indra Sjafrie-

Jika kau tidak percaya kau bisa melakukannya, maka kau tidak akan bisa sama sekali.

-Arsene Wenger-

Kesuksesan bukan lah suatu kebetulan.

Itu adalah hasil dari kerja keras, Ketekunan, Pembelajaran, pengorbanan, dan yang terpenting, Rasa cinta atas yang kau lakukan dan yang kau pelajari.

-PELE-

(5)

v

Karya ini saya persembahkan untuk :

Allah swt yang selalu memberikan rahmat yang besar

Bapak dan Ibu tercinta Adik saya tercinta

Seluruh kerabat dan sanak saudara tercinta

Sahabat-sahabat saya yang selalu mendoakan dan memberikan

dukungan pada saya

(6)

vi

(7)

vii

MAKNA FANATISME PADA SUPPORTER KLUB SEPAK BOLA MANCHESTER UNITED

M. Ajie Rahmansyah

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat wujud dan makna kegiatan fanatisme dari supporter klub sepak bola Manchester United. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode analisis fenomenologis interpretatif untuk menemukan tema-tema yang muncul dari suatu penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur. Pemilihan partisipan menggunakan metode konvenien sampling. Subjek penelitian ini adalah tiga laki-laki supporter Manchester United serta berusia 20-25 tahun. Penelitian ini mencari pengalaman subjek selama menjadi supporter klub sepak bola Manchester United dan kegiatan yang dilakukan. Hasil penelitian ini adalah fanatisme supporter klub sepak bola adalah sebagai sarana untuk mencari identitas, sarana mengeluarkan emosi, kebutuhan untuk menjalin relasi, dan sebagai motivasi untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang, kehidupan supporter klub sepak bola dipengaruhi oleh supporter klub lain yang merasa klub favoritnya lebih baik dari mereka.

Kata kunci: fanatisme, supporter, Manchester United

(8)

viii

THE MEANING OF FANATICISM AMONG MANCHESTER UNITED FAN M. Ajie Rahmansyah

ABSTRACT

The aim of this study is to observe the forms of fanaticism and meaning of fanaticism from a Manchester United fans. This is a qualitative research which uses phenomenological interpretative method of analysis to find the themes. Data collection method used semi-structure interview. Participants were collected by convenience sampling method. The subjects in this research are three fans Manchester United football club and they are twenty to twenty five year old. This research tries to see the subjects experience as the Manchester United fans and their activities. The results of this study are fanaticism is a way to find identity, to release the emotions, the need to find out the relationship, and to motivate for reaching the goal. Sometimes, Manchester United football fans also are affected by other football fans club who feel better than Manchester United fans.

Keywords : Fanaticism, Fans, Manchester United

(9)

ix

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur diberikan dari penulis kepada Allah swt, tuhan yang maha esa dan kuasa atas segala pertolongan dan tuntunannya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik dan lancar.

Selama menulis skripsi ini, penulis mendapatkan bantuan dari banyak pihak.

Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Allah swt yang selalu memberikan nikmat yang sangat banyak dan tidak terputus.

2. Dekan Fakultas Pskologi Universitas Sanata Dharma Bapak DR. T . Priyo Widiyanto, M.Si.

3. Kepala Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Bapak P.

Eddy Suhartanto, M.Si.

4. Dosen Pembimbing Skripsi saya Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Si.

Terima kasih atas kesabaran, kerjasama dan bimbingan bapak sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih dan semoga bapak selalu dilindungioleh tuhan yang maha esa.

5. Seluruh dosen Fakultas Psikologi yang telah memberikan pelajaran dan ilmu-ilmu psikologi sehingga saya menjadi pribadi yang lebih berkembang dan dewasa.

(11)

xi

(12)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. LATAR BELAKANG... 1

B. RUMUSAN MASALAH ... 10

C. TUJUAN PENELITIAN ... 10

D. MANFAAT PENELITIAN ... 10

1. Manfaat Teoritis ... 10

2. Manfaat Praktis ... 11

(13)

xiii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12

A. FANATISME ... 12

1. Pengertian Fanatisme ... 12

2. Pengertian Supporter ... 14

B. MAKNA FANATISME ... 18

BAB III METODE PENELITIAN... 20

A. JENIS PENELITIAN ... 20

B. METODE PEMILIHAN PARTISIPAN ... 21

C. FOKUS PENELITIAN ... 22

D. METODE PENGAMBILAN DATA ... 22

E. PROSEDUR ANALISIS DATA ... 23

F. REFLEKSIVITAS PENELITI ... 25

G. KREDIBILITAS PENELITI ... 25

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 28

A. PELAKSANAAN PENELITIAN ... 28

B. PROFIL PARTISIPAN ... 30

C. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ... 36

1. Wujud Fanatisme ... 36

2. Makna Fanatisme ... 41

D. PEMBAHASAN ... 53

(14)

xiv

BAB V PENUTUP ... 60

A. KESIMPULAN ... 60

B. KETERBATASAN PENELITIAN ... 61

C. SARAN ... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 63

LAMPIRAN ... 68

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Pelaksanaan Wawancara ... 29 Tabel 4.2 Tabel Pelaksanaan Validasi dan Triangulasi... 29 Tabel 4.3 Tabel Wujud Fanatisme dan Tema yang Muncul Pada Wawancara... 48

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Tabel Verbatim Partisipan 1 ... 69

Lampiran 2 Tabel Tema Partisipan 1 ... 83

Lampiran 3 Tabel Verbatim Partisipan 2 ... 85

Lampiran 4 Tabel Tema Partisipan 2 ... 109

Lampiran 5 Tabel Verbatim Partisipan 3 ... 111

Lampiran 6 Tabel Tema Partisipan 3 ... 130

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam sepak bola, supporter menunjukkan rasa cintanya terhadap klub yang disukai. Setiap pekannya para supporter menunjukkan fanatismenya dengan hadir di stadion dan mendukung kesebelasan favoritnya ketika bertanding. Mereka menunjukkan rasa cintanya terhadap klub yang didukungnya layaknya seorang laki-laki merasakan rasa cinta terhadap perempuan atau sebaliknya, tanpa memedulikan berbagai kemungkinan patah hati yang menunggu di ujung jalan (Hornby, 1992). Mereka seolah-olah tidak peduli apabila klub kesayangannya mengalami kekalahan.

Supporter diartikan sebagai seseorang yang menggemari sesuatu dengan sangat antusias (Coddington, 1997). Objek antusiasme bermacam- macam seperti tokoh politik, selebriti, grup musik, atau pun klub-klub olahraga. Kata supporter berasal dari kata kerja to support dengan akhiran er yang berarti memberikan dukungan atau support yang berlandaskan rasa cinta dan bentuk fanatisme tertentu. Dalam memberikan dukungan,

(18)

supporter terkadang menggunakan emosi ketimbang pemikiran yang rasional dalam mendukung suatu objek yang digemarinya. Mereka seolah-olah merasakan adanya keterikatan emosi yang sangat kuat sehingga memunculkan suatu anggapan bahwa kesuksesan dan kegagalan yang diraih oleh idola adalah kesuksesan dan kegagalan para supporternya.

Perilaku supporter dalam mendukung idolanya terlihat jelas ketika mereka mendukung secara langsung di stadion ataupun di tempat-tempat seperti kafe, bar, dan lain-lain. Mereka menunjukkan rasa citanya dengan berbagai cara seperti membentangkan bendera yang bergambar klub favoritnya, membentangkan syal-syal dan spanduk bertuliskan kata-kata penyemangat, atau yang paling ekstrim adalah dengan mengeluarkan chant chant yang menghina ataupun mengejek kesebelasan lain serta dengan membawa flare (cerawat asap) yang digunakan untuk memeriahkan suasana.

Mereka melakukan itu semua karena adanya emosi yang terkait antara supporter dengan klub kesayangannya. Ketika seseorang menjadi supporter suatu klub mereka seperti menanda tangani selembar surat kontrak yang berisi bahwa segala bentuk emosi yang menyertainya ditanggung sendiri (Siahaan, 2014).

Perilaku fanatisme supporter terlihat dari cara mereka mengumpulkan pernak-pernik klub kesayangan mereka. Para supporter rela mengeluarkan uang banyak demi mengumpulkan pernak-pernik original dari klub kesayangan mereka, mengumpulkan aksesoris-aksesoris lain yang

(19)

berhubungan dengan klub kesayangannya, atau dengan membeli tiket terusan agar mereka bisa menonton klub kesayangannya ketika bertanding di tempat lain.

Data dari Sport Market Jerman (Paramartha, 2015) pada tahun 2011 menunjukkan bahwa supporter klub sepak bola Manchester United diperkirakan memiliki sekitar 354 juta fans di seluruh dunia. Posisinya diikuti oleh Barcelona yang diperkirakan memiliki 270 juta fans di seluruh belahan bumi. Peningkatan jumlah supporter ini dipengaruhi oleh prestasi kedua tim yang selalu konsisten dalam bersaing untuk memperebutkan gelar juara di kompetisi domestik dan Eropa.

Berdasarkan rilis Fanspage List (Makayasa, 2013) pada tahun 2014 lalu, Fc Barcelona memiliki jumlah likers di Facebook mencapai 55.042.769 fans di seluruh dunia diikuti Real Madrid dengan 51.359.223 likers.

Manchester United memiliki jumlah like terbanyak di situs Facebook resminya yang mencapai 41.547.864 like. Sedangkan di media sosial lain seperti twitter Manchester United memiliki jumlah followers sebanyak 5 juta followers.

Peningkatan tidak hanya terjadi di negara tempat mereka bermain saja, tetapi klub sepak bola tersebut sudah mencoba untuk mendekatkan dirinya dengan para supporter yang ada di seluruh dunia. Hal ini terjadi dikarenakan adanya keterkaitan antara sepak bola dengan bisnis hak siar yang sangat berpengaruh. Dengan adanya bisnis tersebut, para pecinta sepak bola di

(20)

seluruh dunia sudah bisa menyaksikan beberapa klub sepak bola internasional berlaga sehingga membuat mereka bisa memilih klub mana yang menjadi favoritnya. Hal ini pun memberikan peningkatan basis supporter yang signifikan bagi klub.

Peningkatan jumlah juga terjadi di dunia maya. Hampir seluruh klub sepak bola di seluruh dunia memiliki akun jejaring sosial seperti Twitter ataupun Facebook. Hal ini dilakukan klub untuk mempermudah komunikasi antara klub dengan fansnya yang berada di seluruh dunia. Klub berusaha untuk memberikan berita-berita up to date untuk memudahkan para supporternya mencari informasi. Setiap menjelang pertandingan, klub-klub sepak bola memberikan kabar kepada para pengikutnya mengenai siapa-siapa saja pemain yang cidera atau yang tidak bisa bermain karena hukuman. Klub- klub terkadang suka memberikan berita mengenai keaktifan mereka di bursa perpindahan pemain. Bahkan, klub-klub tidak segan-segan untuk memberikan hadiah melalui kuis yang dibuat di akun media sosial mereka.

Di Indonesia, sepak bola adalah olahraga nomor satu bagi para penduduknya. Hal ini berawal dari kesebelasan Negara Indonesia yang memiliki prestasi bagus di kisaran tahun 1970an. Prestasi ini membuat para klub-klub di belahan Eropa atau Amerika mau meluangkan waktunya untuk sekedar hadir dan melakukan pertandingan persahabatan dengan negara kita.

Selain untuk memperkenalkan diri dengan orang-orang di kawasan Asia, pertandingan ini dapat menghasilkan uang bagi klub tersebut karena

(21)

kebanjiran sponsor yang hadir. Hal ini bisa dikatakan menjadi awal mula dari munculnya banyak sekali supporter klub sepak bola Eropa di Indonesia

Peningkatan jumlah fans di seluruh dunia berakibat dengan kenaikan jumlah komunitas supporter klub sepak bola. Di Indonesia muncul banyak sekali komunitas-komunitas pecinta klub-klub sepak bola Eropa. Beberapa fans Manchester United di Indonesia membentuk kelompok supporter bernama United Army Indonesia, United Indonesia, dan Indomanunited. Fans Real Madrid di Indonesia membentuk Madridista Indonesia dan Pena Real Madrid Indonesia. Masih banyak klub-klub sepak bola Eropa yang memiliki komunitas supporter di Indonesia. Komunitas tersebut memiliki beberapa cabang yang sering disebut dengan chapter. Chapter-chapter tersebut tersebar hampir di seluruh Indonesia.

Komunitas-komunitas tersebut menjadi penyambung antara fans dan klub kesayangannya. Tidak jarang komunitas-komunitas tersebut berusaha mendekatkan diri terhadap klub idolanya. Salah satu event yang selalu diselenggarakan oleh komunitas tersebut adalah nonbar (nonton bareng).

Bahkan komunitas selalu mengadakan perjalanan ke markas klub kesayangannya setiap tahun.

Kegiatan mendukung klub sepak bola tersebut menimbulkan rasa loyalitas tanpa batas pada fans terhadap idolanya (Siahaan, 2014). Tidak jarang rasa loyalitas tersebut mempengaruhi beberapa aspek seperti ekonomi, sosial, dan emosi. Supporter yang memiliki klub favorit dari Eropa

(22)

mengumpulkan beberapa pernak-pernik seperti jersey (kostum), buku, boneka pemain, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan faktor asosiasi seseorang yang menjadi suka pada orang atau objek lain yang diasosiasikan (dihubungkan) dengan pengalaman baik. Seorang fans memiliki loyalitas yang tinggi karena memiliki pengalaman yang baik yang membuat dirinya menjadi seorang fans bagi idolanya tersebut (Sears, 1985).

Seluruh klub sepak bola di dunia memiliki rival atau klub lain yang dianggap sebagai pengganggu dari keeksistensian mereka di persepak bolaan.

Sebutan rival tersebut dikarenakan ada dua tim atau lebih yang berasal dari kota yang sama. Chelsea menganggap Arsenal sebagai rival karena keduanya berasal dari London. Manchester United menganggap Manchester City rival karena alasan yang sama. Real Madrid menganggap Barcelona sebagai rival dikarenakan efek sosial politik. Orang-orang yang tinggal di kawasan Barcelona (Catalonia) dianggap sebagai pembangkang pemerintahan kerajaan Spanyol.

Rivalitas ini pun menjalar ke komunitas supporter klub Eropa di Indonesia. Anggota komunitas salah satu klub kemudian menaruh kebencian terhadap komunitas klub lain yang dianggap rival mereka. Tidak jarang, kebencian ini menimbulkan konflik. Kennedy (2014) dalam sepak bola seribu tafsir mengatakan bahwa ketika sepak bola sudah mengenal supporter, maka konflik jelas tak hanya melibatkan 22 pemain yang berada di lapangan, tetapi merambat kepada kedua belah pihak yang mengidentifikasikan dirinya

(23)

sebagai basis pendukung. Secara umum, konflik supporter dapat dimaknai sebagai proses aktualisasi diri yang acapkali diterjemahkan dengan sikap saling ejek, saling adu yel-yel, atau teror yang ditujukan untuk pemain lawan.

Kekerasan dalam sepak bola kemudian bertransformasi setelah dunia memasuki era digital. Kendati konflik antar supporter terus terjadi di dunia nyata, tetapi dosisnya jauh lebih besar terjadi pada ranah virtual. Sebagai contoh, apabila kita melihat kolom komentar dalam berita online yang memuat klub besar sepak bola Real Madrid dan Barcelona anda akan menemukan puluhan hingga ratusan kalimat ejekan antar supporter. Hal ini belum ditambah pemberitaan mengenai pertempuran antar supporter yang terjadi dalam sebuah acara nonton bareng di sebuah kafe.

Bentuk fanatisme seperti ini disebabkan manusia merupakan makhluk yang dikuasai oleh dorongan-dorongan irasional dan destruktif yang saling mengiri dan membenci sehingga mudah menjadi kasar, jahat, dan buas.

Dorongan tersebut lahir secara instingtif dan stimulus. Itulah mengapa manusia disebut sebagai homo homini lupus yaitu manusia sebagai serigala bagi yang lain dan kerap melahirkan peperangan antar kolektivitas (Kennedy, 2014).

Dalam kehidupan sosial, seringkali seorang supporter yang fanatik mendapatkan respon negatif dari lingkungannya. Pengkategorisasian ini muncul disebabkan fanatisme cenderung mengarah ke perilaku kekerasan.

(24)

Banyak anggapan bahwa perilaku supporter fanatik klub sepak bola Eropa adalah orang-orang yang hanya membuang-buang waktunya saja.

Dukungan yang diberikan seakan-akan percuma karena mereka tidak memiliki hubungan secara langsung terhadap klub yang didukungnya. Akan tetapi, begitulah sepak bola sebagai candu yang membuat supporternya pun tak akan pernah mau untuk pergi ke rehab (Siahaan, 2014).

Sepak bola adalah olahraga yang identik dengan kaum laki-laki. Hal ini disebabkan kompetisi sepak bola laki-laki lebih memiliki porsi pemberitaan yang besar oleh media. Sepak bola yang dimainkan oleh laki-laki lebih mencerminkan kekuatan maskulinitas yang ditunjukkan di atas lapangan. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan subjek laki-laki berusia dewasa awal yang merupakan supporter klub sepak bola Manchester United.

Dalam penelitian sebelumnya (Pertiwi, 2013) ditemukan bahwa wujud fanatisme seorang supporter terhadap idolanya adalah dengan menikmati hasil karya dari idola, menyimpan hasil karya idola, membeli merchandise idola, menghafal karya dari idola, menjadi pengikut setia idola di sosial media, dan menjadi anggota fans club dari idola tersebut. Supporter klub Manchester United menjadikan idola sebagai sebagai sumber motivasi, penghilang stress, dan inspirasi mereka dalam hidup.

Penelitian tersebut (Pertiwi, 2013) menunjukkan bahwa bentuk fanatisme terhadap idola akan menimbulkan konformitas yang membuat seseorang memiliki keinginan untuk disukai dan diakui. Fanatisme terjadi

(25)

karena individu tersebut menciptakan suatu keyakinan dan pemahaman berupa kesetiaan, pengabdian, kecintaan, dan sebagainya. Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa fanatisme suatu supporter adalah upaya untuk menunjukkan eksistensi diri sekaligus membentuk identitas sebagai supporter di lingkungan sosial. Hal ini ditunjukkan dengan mengenakan kaos yang bergambar tentang idolanya tersebut tidak hanya saat mendukung idolanya tetapi dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian (Pertiwi, 2013) terhadap beberapa supporter mengenai kehidupan mereka dalam mendukung Manchester united, peneliti mendapatkan bahwa mereka seringkali menemukan supporter dari klub lain yang menghina klub kesayangan mereka.

Peneliti menemukan bahwa mereka berusaha untuk terus mendukung klub sepak bola Manchester United dengan melakukan beberapa hal seperti mengumpulkan pernak-pernik, menghapalkan lagu-lagu yang berkaitan dengan klub, dan selalu berusaha untuk tidak pernah melewatkan satupun pertandingan tim idolanya. Bahkan ada yang menganggap bahwa klub favoritnya itu sebagai kekasihnya.

Penelitian ini dilakukan untuk menggali bagaimana wujud kecintaan mereka serta usaha apa saja yang dilakukan untuk mendukung klub kesayangan mereka. Ketika meneliti wujud kecintaan mereka, maka akan ditemukan makna fanatisme yang terdapat di dalamnya.

(26)

Penelitian ini dilakukan karena perkembangan sepak bola semakin pesat dan tidak hanya sebatas olahraga tendang menendang bola semata.

Emosi, harga diri, dan eksistensi menjadi bukti bahwa sepak bola dapat menembus lapisan kehidupan. Berdirinya komunitas-komunitas pecinta klub sepak bola Eropa khususnya di tanah air menjadi bukti bahwa sepak bola adalah olahraga yang sangat mudah diterima di negeri ini.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apa makna fanatisme bagi para supporter klub sepak bola di Eropa?”

dengan sampel supporter klub sepak bola Inggris Manchester United C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna fanatisme supporter klub sepak bola Manchester United terhadap klub idolanya.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis :

Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran mengenai perilaku fanatisme supporter klub sepak bola Eropa serta dapat menambah pengetahuan dalam ilmu psikologi sosial dan masalah- masalah sosial mengenai perilaku seorang fans terhadap idolanya

(27)

2. Manfaat Praktis :

Bagi individu maupun komunitas yang terkait, penelitian ini diharapkan mampu membantu mereka menyadari tentang makna yang mereka berikan atas tindakan mereka dalam menggemari suatu klub sepak bola sehingga dapat memahami bentuk-bentuk tindakan mereka dalam menggemari objek tersebut.

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. FANATISME 1. Fanatisme

Fanatisme dikaitkan dengan beberapa objek seperti agama, olahraga, ataupun ideologi politik. Fanatisme merupakan suatu keyakinan berupa kesetiaan, pengabdian, kecintaan, dan sebagainya (Pertiwi, 2013).

Chaplin (1997) mengatakan bahwa fanatisme sebagai sikap penuh semangat yang berlebihan terhadap satu pandangan. Sikap tersebut didasarkan pada suatu pemikiran dan pemahaman dari individu tersebut yang tidak berubah (Prakoso, 2013). Fanatisme diartikan sebagai sebuah faham karena dalam ejaan yang disempurnakan, kata yang memiliki akhiran –isme adalah suatu faham. Fanatik dan fanatisme memiliki artian yang berbeda sedikit. Dikatakan bahwa fanatik adalah sifat yang timbul saat seseorang menganut fanatisme. Sehingga fanatik dan fanatisme seperti memiliki keterkaitan sebab akibat (Putri, 2013).

Fanatisme merupakan konsekuensi dari kemajemukan sosial, karena sikap fanatik tidak mungkin timbul tanpa didahului perjumpaan dua kelompok sosial. Manusia menemukan kenyataan ada orang yang

(29)

segolongan dan bukan golongannya dalam kemajemukan tersebut.

Kemajemukan itu melahirkan pengelompokan “in group” dan “out group”. Dalam persepsi ini fanatisme dipandang sebagai bentuk solidaritas terhadap orang-orang yang sepaham, dan tidak menyukai orang yang berbeda. Inilah mengapa fanatisme selalu dilihat dan dipelajari sebagai fenomena yang komunal (bersama-sama). Hal ini didasarkan pada supporter yang memiliki komunitas fans yang selalu mengikuti perubahan dan perkembangan idolanya. Komunitas supporter klub sepak bola tidak akan menyukai komunitas dari klub rivalnya.

Ketidaksukaan itu tidak berdasarkan suatu argumen yang logis, tetapi hanya sekedar tidak suka kepada yang tidak disukai (dislike of the unlike). Sikap tersebut membuat seseorang tidak dapat lagi melihat masalah secara jernih dan logis (Foer, 2006)

Menurut Faber (1997, dalam Pertiwi, 2013), fanatisme merupakan perasaan positif meskipun didalamnya terdapat perilaku adiktif dan obsesif. Perilaku tersebut muncul karena pengaruh dari objek lain.

Perilaku tersebut disebabkan oleh keinginan orang itu sendiri. Penelitian mengenai hubungan konformitas dan fanatisme pada remaja supporter Korean Wave menunjukkan bahwa para supporter mengidolakan idola mereka atas kemauan mereka sendiri. Dalam penelitian tersebut (Pertiwi,

(30)

2013), subjek yang digunakan adalah tiga orang remaja supporter BoyBand Korea Selatan Super Junior.

Fanatisme beberapa kali kerap dikaitkan dengan fanatisme terhadap agama. Hal ini dikarenakan banyak pemberitaan mengenai gerakan-gerakan terorisme yang dilakukan oleh beberapa orang yang mengatasnamakan agama tertentu. Hal ini dikarenakan fanatisme berawal dari zaman perang salib (1095-1291) yaitu perang antara umat kristiani dengan umat muslim untuk merebut kembali kota Yerusallem dan tanah suci (Mubarok, 2008).

Mubarok (2008) mengatakan bahwa fanatik adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu keyakinan atau pandangan tentang sesuatu yang positif dan negatif, pandangan tersebut tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan dianut secara mendalam sehingga sulit diluruskan atau diubah.

Berdasarkan penjabaran di atas fanatisme adalah perasaan cinta diri atau kekaguman diri yang berlebihan lalu berkembang menjadi rasa tidak suka, munculnya perasaan benci kepada orang lain atau kelompok lain yang berbeda dengan dirinya.

2. Supporter

Pertandingan sepak bola tidak lengkap apabila tanpa melibatkan kelompok supporter. Supporter selalu hadir tiap klub sepak bola idolanya

(31)

bertanding. Mereka tidak segan-segan untuk melakukan tindakan agar tim favoritnya meraih kemenangan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) mendefinisikan supporter adalah orang yang memberikan dukungan atau sokongan dalam pertandingan. Keberadaan supporter pada kenyataannya begitu lekat dengan pertandingan sepak bola. Daniel L. Wann menyebut supporter adalah yang menyaksikan pertandingan olahraga yang aktif secara fisik, politik, dan sosial (Nugroho, 2013). Supporter membuat pertandingan menjadi lebih dinamis. Bahkan tak jarang keberadaan supporter justru lebih menarik dibandingkan pertandingan itu sendiri.

Supporter adalah kelompok yang memiliki tanggung jawab terhadap eksistensi dan prestasi klubnya (Hornby, 1992). Supporter ingin saling memadupadankan diri, baik secara perilaku maupun penampilan.

Hal ini dikarenakan perasaan memiliki kepada klub favoritnya tersebut sangat tinggi. Tidak jarang supporter rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli merchandise, ataupun ikut menonton pertandingan kesebelasan favoritnya. Para supporter melakukan hal tersebut untuk membedakan dirinya dengan penonton lain.

Supporter sepak bola sering diartikan sebagai kerumunan (Hornby, 1992). Kerumunan tersebut adalah orang yang berada pada tempat yang sama meskipun tidak saling mengenal satu sama lain namun memiliki sifat yang peka terhadap stimulus dari luar. Kelompok supporter

(32)

meski menonton sepak bola di tempat yang sama belum tentu mereka saling mengenal satu sama lain. Akan tetapi mereka sangat peka terhadap stimulus dari luar seperti saat tim idolanya nyaris mencetak gol atau saat gol tercipta secara tidak langsung mereka menunjukkan ekspresi yang sama. Apabila berlangsung tindakan anarkis, mereka membantu rekan- rekannya atas nama solidaritas.

Sosiolog Universitas Philadelphia, Jones (2008, dalam Wahyudi, 2006) mengklasifikasikan seorang supporter klub sepak bola dalam enam golongan. Golongan pertama adalah The daytripper. The daytripper adalah sekelompok fans yang tinggal jauh dari markas klub yang dibelanya. Meskipun begitu mereka tetap setia dan selalu hadir dalam suatu pertandingan. Contohnya adalah supporter klub Arema Indonesia yang tidak hanya berasal dari kota Malang namun tersebar di seluruh Indonesia.

The armchair fan adalah golongan berikutnya. Golongan ini sebagian besar adalah supporter klub sepak bola luar negeri. Meskipun golongan ini tidak bisa hadir langsung di stadion, namun mereka menjadikan nobar sebagai tempat memfasilitasi rasa fanatisme mereka.

Meskipun begitu the armchair fan tetap mendeklarasikan dirinya sebagai supporter sejati.

(33)

Golongan berikutnya adalah the badwagon bastard. Golongan ini adalah sekelompok orang yang menonton sepak bola hanya pada event- event tertentu seperti piala dunia atau piala Eropa. Golongan ini biasanya disebut sebagai penonton musiman.

The traditional fan adalah golongan berikutnya. Golongan ini adalah golongan yang tidak ingin diganggu apabila sedang menonton klub kesayangannya bertanding.

Dalam sepakbola, seorang pejabat negara seringkali hadir mendukung klub idolanya. Golongan ini disebut The corporate whore.

Golongan ini merupakan golongan kelas atas yang biasanya menyaksikan pertandingan sepak bola di kursi VIP atau VVIP. Golongan the corporate whore menjadikan menonton sepak bola di stadion sebagai sarana berekreasi. Tidak jarang mereka lebih sibuk dengan smartphone nya ketimbang menyaksikan pertandingan sepak bolanya tersebut.

Golongan terakhir adalah the trainsporter. Golongan ini adalah supporter fanatik yang secara reguler memberikan dukungan secara langsung baik saat tim idolanya menjadi tuan rumah atau ketika bertanding ke stadion lawan. Mereka yang termasuk golongan ini adalah suporter yang mendedikasikan hidup bagi klub kesayangannya. Mereka rela melakukan segalanya seperti menjual harta benda demi menambah biaya akomodasi perjalanan dalam mendukung kesebelasan favoritnya.

(34)

Penjabaran di atas menyimpulkan bahwa supporter adalah seseorang bahkan sekelompok orang yang secara sukarela mendukung, meyokong, dan menunjang suatu objek dalam suatu pertandingan dalam keadaan apapun baik menang ataupun kalah.

B. MAKNA FANATISME

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) menjelaskan bahwa makna adalah suatu arti. Makna adalah kesadaran akan suatu kesempatan yang dilatarbelakangi realitas. Makna merupakan hal-hal yang oleh seseorang dipandang penting, sangat berharga, dan diyakini sebagai sesuatu yang dapat dijadikan tujuan hidup (Mubarok, 2008).

Penelitian yang dilakukan Pertiwi (2013) mengenai konformitas dan fanatisme pada remaja supporter boyband Korea Selatan Super Junior mengatakan bahwa bentuk fanatisme ditunjukkan dalam tindakan bersifat pribadi maupun kelompok yang kemudian membentuk suatu konformitas.

Tindakan individu yang sering dilakukan antara lain mengumpulkan segala macam atribut atau aksesoris yang berkaitan dengan boyband tersebut.

Sedangkan dalam kelompok, pemaknaan fanatisme dilakukan dengan cara mengadakan pertemuan rutin sesama supporter.

Menurut penjabaran di atas maka makna fanatisme adalah suatu keyakinan seseorang atas tindakannya dalam mendukung suatu objek yang

(35)

berharga bagi kehidupannya. Hal ini didasarkan pada pengalaman mereka sebagai seorang supporter klub sepak bola. Makna fanatisme adalah nilai-nilai yang berisi penghayatan dan sikap atas tindakan mereka dalam mendukung tim sepak bola favoritnya.

Hal-hal seperti inilah yang membuat mereka menjunjung tinggi idolanya. Penelitian ini menggali makna fanatisme pada beberapa orang yang menjadi supporter klub sepak bola Manchester United. Makna fanatisme yang diteliti dalam penelitian ini adalah makna yang diberikan secara langsung maupun tidak langsung oleh orang tersebut terhadap klub sepak bola idolanya.

(36)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif fenomenologis.

Data yang didapat peneliti dianalisis dengan cara interpretatif. Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan strategi yang sifatnya interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan untuk membangun makna yang bersumber dari pengalaman individu, nilai-nilai sosial dan sejarah (Cresswell, 2009). Metode ini digunakan untuk membangun teori atau pola pengetahuan tertentu berdasarkan perspektif partisipan seperti orientasi terhadap politik, isu, kolaborasi, atau perubahan. Fenomenologis dalam psikologi bertujuan untuk mengklarifikasi situasi yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, fenomenologi berusaha menemukan makna psikologis yang terkandung dalam fenomena melalui penyelidikan dan analisis contoh-contoh hidup.

(37)

B. METODE PEMILIHAN PARTISIPAN

Peneliti mengambil partisipan dengan metode sampel konvenien. Tekhnik ini digunakan karena anggota sampel yang dipilih dirasa mudah untuk dijangkau. Convenience sample dapat diartikan sebagai suatu kelompok individu yang dalam waktu dan kesempatan tertentu dapat digunakan sebagai anggota sampel untuk kemudian diteliti. Meskipun begitu, peneliti tetap membuat beberapa kriteria untuk menentukan partisipan dalam penelitian ini.

Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut : a. Laki-laki

b. Supporter klub sepak bola Manchester United yang tergolong The Armchair Fan

c. Berusia 20-25 tahun

Partisipan yang diambil berjenis kelamin laki-laki karena sepak bola lebih diidentikan sebagai permainan laki-laki. Kriteria tersebut digunakan untuk mengetahui fanatisme pada laki-laki supporter klub sepak bola Manchester United.

(38)

C. FOKUS PENELITIAN

Fokus penelitian ini adalah fanatisme yang terjadi pada partisipan dalam mendukung klub sepak bola kesayangannya. Fanatisme tersebut mencakup alasan partisipan maupun pengalaman mereka dalam menjadi pendukung klub sepak bola Manchester United. Pengalaman yang dialami partisipan tersebut kemudian digunakan untuk mencari makna fanatisme mereka dalam mendukung sebuah objek bernama Manchester United Football Club.

D. METODE PENGAMBILAN DATA

Penelitian ini menggunakan metode pengambilan data dengan wawancara. Wawancara yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur.

Wawancara semi terstruktur dilakukan dengan berhadapan langsung dengan partisipan lalu menanyakan beberapa pertanyaan yang terdapat dalam daftar.

Akan tetapi dalam prosesnya, peneliti melakukan probing. Pertanyaan- pertanyaan tersebut tidak dibacakan secara urut karena pertanyaan yang diajukan dapat dikembangkan menjadi lebih luas. Metode ini digunakan agar peneliti dapat mengikuti minat serta perhatian partisipan dalam menceritakan pengalamannya. Dalam proses wawancara, partisipan diminta untuk menceritakan beberapa pengalaman serta alasan-alasan mereka menjadi pendukung klub sepak bola Manchester United. Selama proses wawancara, peneliti memiliki kebebasan untuk menanyakan lebih jauh apabila ada hal-hal menarik yang muncul. Wawancara dengan partisipan dilakukan di tempat dan

(39)

waktu yang terpisah sesuai dengan kesepakatan yang dibuat kedua belah pihak. Hasil wawancara kemudian direkam agar selanjutnya bisa dianalisis secara verbatim agar peneliti menjadi lebih mudah dalam mencari tema-tema yang muncul.

Sebelum melaksanakan wawancara untuk pengambilan data, peneliti menghubungi partisipan terlebih dahulu untuk menjadi subjek penelitian tersebut. Peneliti menjelaskan gambaran mengenai penelitian apa yang akan dilakukan. Peneliti memberitahukan kepada partisipan bahwa data serta identitas partisipan akan dirahasiakan. Setelah itu, peneliti meminta apakah partisipan bersedia membantu peneliti sebagai responden dalam penelitian tersebut. Apabila partisipan bersedia membantu, peneliti dan partisipan kemudian menyepakati tempat dan waktu pelaksanaan wawancara.

E. PROSEDUR ANALISIS DATA

Analisis dilakukan untuk mendapatkan data-data baru yang diperoleh dari rekaman hasil wawancara. Metode analisis yang digunakan adalah analisis fenomenologis interpretatif. Metode ini digunakan untuk mengungkap secara detail bagaimana partisipan memaknai dunia personal dan sosialnya.

Sasaran utama dari penelitian fenomenologis interpretatif ini adalah : 1. Makna dari berbagai pengalaman dan peristiwa yang dialami

2. Makna dari status yang dimiliki partisipan sebagai supporter klub sepak bola Manchester United.

(40)

Langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis adalah sebagai berikut:

1. Mengurutkan hasil wawancara

Dikarenakan hasil wawancara masih berbentuk rekaman suara, data harus diubah menjadi bentuk transkrip agar lebih mudah untuk dipahami.

Pengurutan ini dimaksudkan agar peneliti dan pembaca dapat lebih mudah untuk mengetahui profil dan pengalaman dari partisipan.

2. Mencari tema

Pengambilan tema dilakukan dengan membaca transkrip hasil wawancara secara berulang-ulang. Hal tersebut dilakukan untuk menemukan hal-hal yang penting dari penelitian ini. Setelah itu, peneliti membuat tabel yang terdiri dari beberapa kolom. Kolom-kolom tersebut berisi tema-tema besar yang didapatkan dari transkrip data yang sudah dibuat. Pada kolom lain terdapat hal-hal menarik berdasarkan ucapan- ucapan yang keluar dari partisipan.

3. Mengaitkan Tema

Tema yang diperoleh kemudian diurutkan menjadi lebih analitis dan teoritis. Hal ini untuk menemukan koneksi antar tema yang ada. Setelah itu peneliti akan mengelompokkan (cluster) tema-tema tersebut. Tema yang sama akan dikelompokkan dalam satu kelompok sedangkan tema yang tidak sesuai akan dihilangkan. Tahap berikutnya adalah pembuatan tabel tema (table 4.2). Kelompok tema tersebut kemudian diberi nama untuk

(41)

merepresentasikan tema-tema tertentu. Tabel tersebut bertujuan untuk mempermudah peneliti dan pembaca untuk melihat tema apa saja yang muncul pada masing-masing partisipan.

F. REFLEKSIVITAS PENELITI

Refleksivitas peneliti adalah cara menilai suatu penelitian kualitatif yang bersumber dari pengalaman peneliti sebagai supporter dari klub sepak bola.

Melalui hal tersebut, peneliti menjadi dapat memahami konteks yang akan diteliti. Peneliti menjadi lebih mudah memahami isi pembicaraan, perasaan serta pemikiran partisipan ketika menggali data (Smith,2009).

G. KREDIBILITAS PENELITIAN

Suatu penelitian dapat dikatakan kredibel apabila kita dapat melihat validitas penelitian tersebut. Validitas memiliki arti yaitu sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2010). Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu instrumen.

Dalam penelitian kualitatif, konsep validitas yang digunakan adalah kredibilitas. Ketika mempertanyakan kualitas suatu penelitian kualitatif, kredibilitas merupakan suatu hal yang penting. Hasil penelitian kualitatif memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi apabila penelitian tersebut berhasil

(42)

mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial, atau pola interaksi yang majemuk.

Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah structural corroboration atau pembuktian struktural. Validitas ini dibuktikan dengan cara melaporkan kepada responden terkait cerita-cerita dan pengalaman mereka sendiri sesuai bukti yang ditujukan.

Validitas lain yang digunakan adalah dengan menggunakan metode triangulasi. Metode ini hampir setara dengan penguatan struktural dikarenakan tujuan dari triangulasi adalah untuk menguatkan suatu hasil penelitian.

Triangulasi ini merujuk pada konsistensi dari suatu penelitian (Smith, 2009).

Metode triangulasi yang dipakai adalah triangulasi data. Peneliti menggunakan berbagai sumber data dan bukti dari situasi yang berbeda. Ada tiga sub jenis yang digunakan untuk memakai metode ini yaitu orang, waktu dan ruang.

- Orang, data-data dikumpulkan dari orang-orang yang berbeda namun melakukan aktivitas yang sama.

- Waktu, data-data tersebut dikumpulkan pada waktu yang berbeda.

- Ruang, data-data tersebut dikumpulkan di tempat yang berbeda.

Bentuk paling kompleks dari triangulasi data adalah dengan menggabungkan beberapa level analisis. Jika data-data tersebut konsisten maka validitas pun akan ditegakkan.

(43)

Untuk mencapai level validitas ini, peneliti menarasikan terlebih dahulu pengalaman dari para partisipan. Kemudian hasil narasi tadi dikelompokkan berdasarkan beberapa tema agar data tersebut dapat dipahami. Peneliti menggunakan triangulasi teori yaitu dengan menggunakan berbagai perspektif untuk menafsirkan sebuah data. Penggunaan beberapa teori dapat memberikan pemahaman yang lebih baik saat memahami data.

(44)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. PELAKSANAAN PENELITIAN

Pengambilan data dilakukan dengan wawancara yang dilakukan secara terpisah sesuai kesepakatan yang sudah dibuat oleh peneliti dan partisipan.

Sebelum melakukan wawancara peneliti melakukan rapport terlebih dahulu untuk menjelaskan maksud dari wawancara tersebut. Rapport dilakukan untuk membangun perasaan nyaman bagi partisipan kepada si peneliti. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan wawancara antara tiga puluh sampai dengan enam puluh menit. Selama melakukan wawancara peneliti menggunakan alat rekam untuk mengambil data. Kemudian data dalam rekaman tersebut diubah dalam bentuk transkip verbatim wawancara. Peneliti menanyakan kepada partisipan mengenai awal mula menjadi supporter Manchester United, pengalaman-pengalaman, dan kegiatan partisipan selama menjadi supporter Manchester United. Apabila peneliti mandapatkan hal yang menarik, maka peneliti melakukan probing untuk mengembangkan wawancara menjadi lebih tertata.

(45)
(46)

Tabel 4.1

Pelaksanaan Wawancara

No. Partisipan

Pelaksanaan Wawancara Tanggal dan

Waktu Tempat

1 MJR 4 Mei 2015

17.30-18.00 Rumah Partisipan

2 GRV 5 Mei 2015

22.00-22.40 Rumah Partisipan

3 AND 11 Mei 2015

17.30-18.00 Rumah Partisipan

Tabel 4.2

Pelaksanaan Validasi dan Triangulasi

No. Partisipan

Pelaksanaan Validasi dan Triangulasi

Tanggal dan Waktu

Tempat

1

MJR 14 Mei 2015

11.00-12.00 Rumah Partisipan

2 GRV 17 Mei 2015

20.00-21.30 Egois Café

3 AND 20 Mei 2015

10.00-11.30 Rumah Partisipan

(47)

B. PROFIL PARTISIPAN 1. Profil MJR, Partisipan 1

Partisipan MJR adalah seorang mahasiswa yang baru saja menyelesaikan masa studinya di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Subjek berjenis kelamin laki-laki berusia 22 tahun. Subjek merupakan mahasiswa yang datang dari luar Yogyakarta. Oleh karena itu MJR tinggal di rumah kos di dekat kampusnya. MJR memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) sebesar 2,85. Saat ini subjek sedang tidak menjalin relasi dengan lawan jenisnya.

Subjek mendukung klub sepak bola Manchester United sejak tahun 2007 saat subjek masih bersekolah di SMA. Alasan subjek menyukai Manchester United adalah dirinya ketika itu tidak bisa menjawab pertanyaan teman perempuannya mengenai perbedaan klub sepak bola Manchester United dan Manchester City. Subjek pun akhirnya mulai mencari informasi terkait Manchester United. Akhirnya MJR menyukai Manchester United karena membaca cerita tentang manager Manchester United saat itu Sir Alex Ferguson. MJR menyukai Manchester United karena permainan mereka yang menarik.

Untuk mendukung klub favoritnya, MJR mengumpulkan beberapa aksesoris dari Manchester United seperti tas, stiker, tempelan dinding, serta mengumpulkan kostum (jersey) Manchester United dalam beberapa musim. MJR mampu menghapal beberapa chants (yel) Manchester

(48)

United. Selama mendukung Manchester United, MJR mengeluarkan uang minimal 100.000 rupiah untuk membeli merchandise Manchester United setiap bulannya. Subjek tergabung dalam salah satu anggota komunitas pendukung Manchester United di Yogyakarta. MJR menjadi member di komunitas tersebut karena dirinya di kos tidak memiliki televisi. Subjek ingin merasakan gemuruh supporter saat Manchester United mencetak gol.

Dari sekian banyak pertandingan yang dijalani oleh Manchester United, MJR memilih pertandingan melawan Chelsea pada tahun 2012 sebagai pertandingan yang berkesan bagi dirinya. Hal itu dikarenakan Manchester United saat itu bisa menyamakan kedudukan menjadi 3-3 setelah sempat tertinggal 3-0 terlebih dahulu.

Partisipan merasa dirinya masih kurang dalam mendukung Manchester United. Hal ini dikarenakan dirinya masih belum memiliki pekerjaan sehingga MJR hanya membeli merchandise sedikit demi sedikit. Subjek berniat untuk terus berusaha menambah intensitasnya dalam mendukung Manchester United karena dirinya beranggapan bahwa jika kita telah menyukai sesuatu maka tidak ada salahnya untuk memperdalaminya.

Selama menjadi fans Manchester United dirinya terkadang mendapatkan ejekan dari supporter klub lain. Tetapi, MJR tidak menanggapi ejekan tersebut karena menurut subjek Manchester United

(49)

lebih besar ketimbang tim tim yang didukung oleh orang yang mengejeknya.

2. Profil GRV, Partisipan 2

Partisipan GRV adalah mahasiswa semester lima di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. GRV berjenis kelamin laki-laki dan berusia 20 tahun. Subjek merupakan mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta. Saat ini subjek sedang tidak menjalani hubungan khusus dengan lawan jenisnya. GRV saat ini memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) sebesar 3,38.

Partisipan mengaku bahwa ia menyukai Manchester United sejak 2003 di saat usianya masih delapan tahun. Ia menyukai Manchester United karena pamannya adalah supporter dari klub tersebut. GRV menyukai Manchester United karena kultur sepak bolanya cepat dibandingkan liga Italia dan Spanyol yang lebih mengandalkan tekhnik.

Alasan waktu penayangan acara sepak bola Inggris menjadi alasan GRV lebih menyukai Manchester United.

Selama ini GRV selalu mengumpulkan kostum/jersey Manchester United setiap musimnya. Subjek merasa merchandise lain tidak lebih penting ketimbang mengumpulkan kostum Manchester United. Selama mendukung Manchester United, ia rata-rata menghabiskan uang sebesar 300.00 setiap bulannya.

(50)

Partisipan tergabung dalam komunitas salah satu pendukung Manchester United di Yogyakarta sejak tahun 2014. Ia merasa bahwa bergabung ke dalam komunitas sebagai suatu investasi. Subjek melihat perbedaan harga untuk mengikuti nonton bareng sebagai faktor yang membuatnya ingin bergabung dengan komunitas. Ia memilih bergabung dengan komunitas agar mendapatkan teman-teman baru.

Pertandingan Manchester United yang paling berkesan menurut GRV adalah ketika Manchester United meraih juara Liga Champions Eropa tahun 2007-2008. Subjek merasa saat itu Manchester United akan kalah ketika dalam adu pinalti tendangan salah satu pemain Manchester United tidak masuk ke gawang. Namun Manchester United berhasil menjadi juara ketika kiper Manchester United berhasil menepis dua tendangan pinalti lawan. Pertandingan tersebut menjadi berkesan bagi GRV karena saat itu ia berteriak-teriak hingga jam lima pagi sampai membangunkkan tetangganya yang sedang beristirahat.

Partisipan sering mendapat ejekan dari teman-temannya yang supporter klub lain saat masih bersekolah. Apabila mendapat ejekan, subjek mencoba menyanggah dan tidak segan-segan untuk membalas ejekan dari temannya tersebut. Namun seiring bertambahnya usia, GRV memilih untuk tidak mendengarkan ejekan tersebut dan bersikap biasa saja karena menurutnya hal itu hanya menghabiskan energi saja.

(51)

3. Profil AND, Partisipan 3

Partisipan AND adalah mahasiswa yang sedang menyelesaikan masa studinya di salah satu universitas di Yogyakarta. Subjek berjenis kelamin laki-laki dan berusia 22 tahun. AND saat ini tinggal bersama teman-temannya di salah satu rumah kos dikarenakan dirinya berasal dari luar Yogyakarta. Subjek sedang menjalin relasi khusus dengan lawan jenis. AND memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) sebesar 2,50.

Subjek menyukai Manchester United dikarenakan dirinya mengidolai mantan pemain Manchester United yaitu David Beckham.

Subjek menyukai Manchester United karena kejayaan mereka bersama David Beckham dan Sir Alex Ferguson pada tahun 2000.

Selama menjadi supporter Manchester United, AND selalu hadir di acara nonton bareng dan mengikuti perkembangan klub setiap harinya.

Hal ini dilakukan karena AND menyukai sepak bola dan merasa mendapatkan hiburan dari olahraga tersebut. Subjek selalu membeli kostum tim Manchester United setiap musimnya. AND beranggapan bahwa kostum sepak bola adalah barang yang antik.

AND memilih untuk tidak tergabung dalam komunitas pendukung Manchester United. Hal ini dikarenakan masa studinya yang akan selesai sebentar lagi. Subjek merasa bahwa dirinya tidak memiliki waktu untuk mendaftar karena subjek sebentar lagi akan lulus dari studinya. Meskipun

(52)

begitu, AND tetap ikut serta dalam acara nonton bareng yang digelar oleh komunitas supporter Manchester United di Jogjakarta.

Partisipan memilih pertandingan Manchester United melawan Manchester City sebagai pertandingan paling berkesan bagi dirinya. Hal itu dikarenakan gol salah satu pemain Manchester United Robin Van Persie membuat Manchester United meraih kemenangan 3-2.

Pertandingan tersebut dianggap sangat berkesan karena pada musim sebelumnya Manchester United dikalahkan 6-1.

Partisipan merasa tidak masalah apabila klub favoritnya mendapat ejekan dari supporter klub lain. AND merasa bahwa dalam sepak bola saling ejek antara satu klub dengan klub lain adalah hal biasa. Apabila klub favoritnya berada dalam posisi terbawah maka dirinya akan mendapatkan ejekan dari supporter klub lain. Subjek bahkan sering memaki pemain dari klub favoritnya sendiri apabila mereka bermain buruk.

Subjek lebih memilih untuk mengorbankan jadwal lain demi menyaksikan pertandingan Manchester United. Menurut subjek, pertandingan Manchester United sangatlah penting. Bahkan subjek masih menyaksikan pertandingan Manchester United pada dini hari meskipun pada pagi hari AND akan menghadapi ujian.

(53)

C. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian pada bagian ini berdasarkan analisis wawancara dari para partisipan. Analisis pada bagian ini memunculkan tema yang beragam dari para partisipan. Berdasarkan hasil analisis terhadap isi wawancara tersebut maka didapatkan tema besar mengenai makna fanatisme dari seorang supporter klub sepak bola Manchester United. Tema-tema tersebut adalah sebagai berikut:

1. Wujud Fanatisme

Berdasarkan tabel di atas, peneliti mengelompokkan wujud fanatisme supporter klub sepak bola Manchester United ke dalam lima kelompok yaitu:

1. Rutin menyaksikan Manchester United tiap pertandingan.

2. Menikmati hasil karya klub.

3. Mendekatkan diri dengan klub atau pemain idolanya.

4. Tergabung ke dalam komunitas supporter.

5. Menomor satukan klub sepak bola favoritnya.

Menyaksikan Manchester United setiap pertandingan dilakukan dengan menyaksikan klub idolanya bertanding setiap pertandingannya.

Ketika menyaksikan pertandingan tersebut tidak jarang supporter menyanyikan lagu klub atau chant sebagai penyemangat untuk klub idolanya. Bahkan supporter Manchester United akan memaki pemain dari klub idolanya apabila bermain buruk.

(54)

Tiap Manchester United ditayangkan baik itu disiarkan di tv lokal maupun tidak itu pasti saya nonton bareng bersama mereka. Tapi seiring berjalannya waktu, saya Cuma nonton kalau Manchester United nya tidak ditayangkan di tv lokal. Kalau ditayangin saya nonton tempat temen saja. (MJR)

Selama menonton kadang berteriak gol. Kadang saya juga ikut menyanyikanitu meski tidak hafal semuanya. Cuma hafal hanya dibagian tertentu saja. (MJR)

Dulu waktu SD belum terlalu sering. Paling kalau liga Inggris mainnya jam 7, 8, atau jam 10 malam. Kalau pas SMP dan SMA setiap pertandingan Manchester United selalu berusaha untuk tidak melewatkan. Kalau untuk kuliah aku lihat apakah besok selasa itu ada tugas atau aku harus bangun pagi atau gak. (GRV)

Selama nonton kalau sudah mulai aku ngechant bareng sama yang negchant karena itu untuk menghilangkan ketegangan juga.

(GRV)

Seberapa sering kamu menonton pertandingan Manchester United? Setiap pekan. Setiap ada pertandingan. (AND)

Biasanya saya sering memaki entah itu pemain Manchester United sendiri atau pemain lawan. Terutama untuk pemain United apabila dia memang saya lihat dia bermain buruk, maka saya sering berteriak. (AND)

Menikmati hasil karya klub idola diwujudkan dengan mengoleksi merchandise seperti jersey (seragam klub idolanya) dan aksesoris lain,

(55)

mengumpulkan video, foto, ataupun gambar yang berkaitan dengan Manchester United, dan menghafal chant atau lagu kebesaran klub.

Ya kalau tiap musimnya Manchester United ganti kostumnya.

Setiap satu tahun sekali itu minimal satu kostum saya beli untuk kostum utamanya Manchestte United. Kalau lagi jalan0jalan terus menemukan barang berlogo Manchester United saya beli.

(MJR)

Kamu menyimpan gambar-gambar atau video Manchester United gitu gak? Banyak. Biasanya dapat dari mana? Dari fanpage nya United Army, kalau gak dari Unitednya resmi, blognya United. Kalau gak dari medsos pemainnya sendiri.

(AND)

Kalau kamu hafal chantnya Manchester United? Sebagian saya hafal. (AND)

Soal barang aku cukup jarang punya. Paling sekadar jersey setiap tahun selalu beli. (GRV)

Wujud fanatisme berikutnya adalah mendekatkan diri dengan klub idola atau pemain idolanya. Dalam wawancara yang telah dilakukan peneliti, diketahui bahwa cara mereka mendekatkan diri dengan idola bersifat tidak langsung yaitu dengan mempunyai pemain idola serta mengikuti kiprah pemain atau klub di media sosial . Hal ini dikarenakan mereka dipisahkan oleh jarak yang tidak memungkinkan untuk bertemu secara langsung dan masih mengutamakan beberapa prioritas yang

(56)

dianggap mereka sangat penting. Akan tetapi para partisipan memiliki keinginan untuk dapat bertemu dengan klub idolanya suatu hari nanti.

Apakah kamu mengikuti atau memfollow pemain Manchester United? Ya…. Saya follow. Siapa saja? Seperti David De Gea, itu kipernya. Saya sendiri juga seorang kipper maka saya harus follow De Gea. Terus Wayne Rooney, Cris Smalling, terus Jonny Evans, Angel Di Maria. (MJR)

Emmhh.. memfollow iya. Beberapa aku follow yang sering memposting. Cuma kalau yang jarang-jara nggak. (GRV)

Kamu mengikuti kiprah para pemainnya gak di sosial media?

Ada yang kamu follow atau kamu ikuti? Hampir semua saya ikuti.

(AND)

Wujud fanatisme berikutnya adalah bergabung ke dalam komunitas supporter klub sepak bola Manchester United. Dalam komunitas tersebut terdapat kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan setiap minggunya seperti nonton bareng serta bermain futsal sesama anggota komunitas. Alasan mereka bergabung di dalam komunitas dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti memiliki ketertarikan yang sama antar anggota, ingin merasakan atmosfer gemuruh saat kesebelasan idolanya mencetak gol, serta menambah relasi pertemanan.

Ya makanya gak salahnya buat ikut komunitas biar kita bisa nonton sama-sama tim yang kita dukung itu. Terus ikut dengan sama-sama menonton tim itu rasanya menyenangkan. Apalagi

(57)

ketika mencetak gol. Teriakan gemuruh itu rasanya minta ampun senangnya. (MJR)

Terus saya melihat waktu saya masih di United Indonesia chapter Tangerang saya dapet banyak temen. Teman baru gak Cuma dari sekolah atau rumah tapi teman dari komunitas itu sendiri saya dapat. Kan karena di komunitas itu kan gak cuma nobar doing tapi ada juga futsalan, main kemana-mana gitu. Jadi ya nambah relasi selain investasi sederhana itu. (GRV)

Fanatisme supporter klub sepak bola Manchester United diwujudkan dalam kehidupan mereka yang menjadikan Manchester United sebagai prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan dengan cara mengubah jadwal lain yang lebih penting demi menonton pertandingan Manchester United. Bahkan, salah satu subjek memilih untuk menonton pertandingan Manchester United meski keesokan harinya harus melaksanakan ujian. Mereka memandang klub idolanya sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupannya

Kalau misalnya ada jadwal lain yang berbenturan dengan pertandingan Manchester United? Saya tetap akan mengorbankan jadwal lainnya daripada Manchester unitednya.

(AND)

Contohnya saya pernah janjian sama pacar saya mau pergi. Tapi saya baru ingat kalau malam itu malam minggu dan Manchester United main dan saya cancel perginya. Terus ketika itu FA CUP ditayangkan dini hari dan selesainya hamper jam enam pagi dan

(58)

jam tujuhnya saya ujian pun saya tetap menonton pertandingan Manchester United. (AND)

Dimatamu Manchester United itu apa? Bisa dikatakan kalau itu istri pertama lah. (AND)

Cinta pertama. Sebelum aku mengenal perempuan. Sebelum hormon laki-lakiku bisa menyukai seorang perempuan, aku udah jatuh cinta duluan dengan Manchester United. Jadi ya kayak gitusih. Amn United itu bukan lagi sebuah hal yang membuat aku harus nonton mereka setiap minggu cuman ya Manchester United itu cinta. Ya Manchester United itu cinta aku. (GRV)

2. Makna Fanatisme

Peneliti menemukan bahwa fanatisme supporter klub sepak bola memiliki beberapa makna seperti Klub sebagai pembentuk identitas diri, membuat supporter seolah memiliki kedekatan emosi terhadap klub, sebagai sarana untuk memotivasi diri, keinginan membentuk relasi, dan munculnya tekanan-tekanan yang datang dari lingkungan sosial.

Fanatisme yang dilakukan terhadap klub idolanya dapat membentuk identitas atau citra diri kepada supporter. Pembentukan identitas ini membuat supporter merasa menjadi sosok yang penting dalam segala aktivitas yang dilakukan klub idolanya. Pembentukan identitas ini ditunjukkan dengan supporter yang suka menggunakan atribut klub

(59)

favoritnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sebagai bentuk eksistensi dari seorang supporter terhadap klub kesayangannya.

Terus panitianya itu mereka menyanyikan yel Manchester United.

Kadang saya juga ikut nyanyi meskipun tidak hafal semuanya.

(MJR)

Ketika pertandingan udah dimulai aku….. kalau nonton bareng aku ngechant bareng sama yang ngechant pastinya. Karena itu untuk menghilangkan ketegangan juga. (GRV)

Kalau untuk jerseynya sendiri untuk dipakai buat kemana aja?

Ya buat keseharian. Misal dalam acara apa gitu, bisa juga buat ke kampus karena sebagian ada yang berkerah.

Fanatisme membentuk emosi yang cukup kuat bagi supporter terhadap klub kebanggaannya. Hal ini ditandai dengan reaksi yang timbul ketika klub idolanya mendapatkan hasil yang memuaskan ataupun tidak dalam setiap pertandingan yang dijalani klub idolanya. Hasil pertandingan yang diperoleh klub dapat mempengaruhi aktivitas supporter di kehidupan sehari-hari.

Itu awalnya kecewa berat karena kalah 3-0. Apalagi waktu itu melawan tim seperti Chelsea. Nonton sambil dada ini panas, sesak, pengen emosi, teriak caci maki, sampe mata ini udah merah. (MJR)

Dan kalau kalah jujur saya pasti sedih. Cuman kalau tuh dulu waktu SD SMP itu saya sering nangis kalau Manchester United

(60)

kalah. Kalu sekarang cuman lebih ke jadi galau aja sih jadi males gerak, gak mood mau ngapa-ngapain. Kekalahan dapt menghancurkan mood saya. (GRV)

Ya tentunya kalau dari menonton pertandingan Manchester United, tidak puas kalau mereka sedang kalah. Kalau menang pun kadang saya merasa tidak puas. (AND)

Fanatisme supporter kepada Manchester United dapat meningkatkan motivasi dalam diri mereka. Motivasi yang dimiliki pun bermacam-macam. Ada yang menjadikan klub sebagai motivasi untuk menabung agar bisa membeli merchandise klub, motivasi untuk keluar dari permasalahan, atau sebagai langkah untuk mendapatkan hobi yang baru. klub atau pun pemain idola dijadikan sebagai panutan ataupun sumber belajar bagi supporter.

Di mata saya dia adalah contoh bagi saya untuk seorang kipper seperti saya. Saya mencoba mengikuti tekhnik-tekhnik kipernya De Gea. Ketenangannya apalagi saat satu lawan satu dengan pemain lawan dia tidak sekali ambil. Akhir-akhir ini terutama saat main futsal saya tidak mengikuti untuk sekali ambil juga. Akhir-akhir ini terutama saat saya main futsal saya tidak tidak mencoba untuk sekali ambil juga. Bisa dibilang selain sebagai patokan dia juga sebagai sumber untuk meningkatkan skill saya. (MJR)

Makna fanatisme supporter terhadap klub idolanya dlakukan untuk membentuk relasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini menunjukkan keinginan supporter Manchester United untuk berusaha

(61)

lebih dekat dengan klub favoritnya. Sejauh ini bentuk dari mendekatkan diri tersebut masih bersifat tidak langsung dengan cara menyimpan foto dan video klub favoritnya ataupun hanya sebagai pengikut di media sosial pemain maupun klub. Akan tetapi, partisipan memiliki keinginan untuk lebih dekat kepada Manchester United dengan membeli jersey original klub agar dapat membantu keuangan klub secara langsung.

Kalau menambah nilai ya niat itu pasti ada apalagi kalau sudah dapat kerjaan dan pakai uang sendiri dan ingin mengumpulkan jersey Manchester United setiap musim saya pengen beli dua.

Sekarang saya hanya mengumpulkan jersey utamanya saja. Maka saya mau bisa mengumpulkan dua atau mungkin tiga jersey Manchester United di setiap musimnya. (MJR)

Ada dan kenapa saya bilang masih Sembilan karena saya belum pernah ke Manchester. Saya belum pernah menginjak rumput Old Trafford. Saya belum pernah beli jersey asli yang bisa membantu keuangan klub. (GRV)

Karena saya masih merasa belum bisa support secara langsung.

Baik itu misalnya… karena saya belum bergabung dalam komunitas resminya. Kalau tidak bergabung dalam komunitas resminya kan secara tidak langsung kita tidak terlalu berkontribusi untuk tim. Missal dari segi pemasukan atau bagaimanapun. Terus kurang satu lagi karena saya belum bisa menonton langsung di Old Trafford nya. (AND)

(62)

Peningkatan relasi ditunjukkan supporter yang bergabung di komunitas supporter Manchester United. Cara supporter menjalin relasi dengan klub favoritnya melalui perasaan supporter yang mengagumi tanpa syarat. Hal ini dilakukan supporter yang tetap mendukung Manchester United meskipun performa mereka menurun, sulit mendapatkan pemain yang berkualitas, ataupun gagal dalam memperoleh gelar juara.

Kurang banyak menang untuk akhir-akhir ini. Sering kalah.

Kurang greget. Maksudnya kurang menyenangkan dibandingkan tim-tim lain seperti Real Madrid, Barcelona. Mereka bisa mencetak gol dengan selisih yang besar. Kalau Manchester United itu sudah unggul mereka tidak menambah keunggulan itu sendiri.

Malah menurut saya lebih santai. Permainan menurun malah kebobolan. Lebih parah lagi kalau dibalikkan keadaan dan kalah.

Itu salah satu kelemahannya. (MJR)

Jelas Manchester United harus bisa masuk Liga Champions lagi untuk musim depan. Untuk menarik pemain besar, untuk membangun kembali Manchester United yang baru ditinggalkan ayah bernama Sir Alex Ferguson. Terus beli pemain… bukan beli pemain sih tapi menenmukan solusi terbaik unutk membangun Manchester United yang dulu yang selalu Berjaya. (GRV)

Biasanya karena performa permainan. Karena menurut saya kalau kita pengen menang itu kita harus bermain bagus. Bukan karena kita hanya mendapat keberuntungan. Karena saya orangnya tidak percaa akan keberuntungan. Istilahnya kita usaha dulu. Kalau

(63)

usaha kita sudah mentok, nah baru kita berharap akan keberuntungan itu. (AND)

Usaha mendekatkan diri mereka terhadap Manchester United dilakukan dengan seolah-olah Manchester United adalah sosok yang sangat berarti dalam diri supporter.

Apa makna Manchester United buat kamu? Cinta pertama.

Sebelum aku mengenal perempuan, aku sudah jatuh cinta duluan sama Manchester united. (GRV)

Apa makna Manchester United buat kamu? Manchester United itu….bisa dikatakan kalau itu istri pertama lah. Hehehe…. (AND)

Fanatisme terkadang membuat mereka mendapat tekanan sosial dari lingkungan terutama kelompok supporter klub lain. Tekanan sosial ini berupa penghinaan dari teman-teman mereka yang klub idolanya berbeda.

Penghinaan ini terjadi saat klub favorit mereka kalah ataupun mengalami penurunan prestasi. Tekanan tersebut tidak membuat mereka berhenti mendukung Manchester United. Mereka memilih membatasi diri dengan komunitas klub sepak bola lain dan beranggapan bahwa penghinaan tersebut wajar dalam persaingan antar klub sepak bola.

Ya kalau ada yang mengejek ya menurut saya biarkan saja apa yang mereka bilang…… Menurutmu fan war tidak perlu? Sangat tidak perlu. Apalagi kalau ada fan yang mengalami cidera. Saya rasa itu tidak perlu. Kita mendukung menang atau kalah. Jangan sampai membahayakan diri kita sendiri. (MJR)

Gambar

Tabel 4.1  Pelaksanaan Wawancara .......................................................................
Tabel 4.1  Pelaksanaan Wawancara  No.  Partisipan  Pelaksanaan Wawancara  Tanggal dan  Waktu  Tempat  1  MJR   4 Mei 2015  17.30-18.00  Rumah Partisipan  2  GRV  5 Mei 2015  22.00-22.40  Rumah Partisipan  3  AND  11 Mei 2015  17.30-18.00  Rumah Partisipan
TABEL TEMA PARTISIPAN I, MJR  Wujud Fanatisme  MJR  Lamanya Mengidolakan  a.  Awal Mengidolakan  b
TABEL TEMA PARTISIPAN 2, GRV
+2

Referensi

Dokumen terkait

KETERLIBATAN KLUB SEPAK BOLA

Fokus perhatian yang sama dalam kelompok supporter dalam hal ini adalah tim sepak bola yang dibelanya, apakah mengidolakan salah satu pemain, permainan yang

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMAIN SEPAK BOLA ATAS PERJANJIAN KERJA DENGAN KLUB SEPAK BOLA1.

Selain itu, untuk memperdalam analisa klub sepak bola yang menjalankan prinsip- prinsip koperasi dan non-koperasi, kajian ini juga ingin mengetahui hubungan antara kinerja klub yang

Penelitian yang akan dilaksanakan ini berjudul ” Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Muscular Endurance pada Pemain Sepak Bola di Beberapa Klub Sepak Bola Kota Medan Tahun 2015

Penelitian yang berjudul “Motif Penggemar Klub Manchester United dalam Penggunaan Media Online manutd.com pada United Indonesia (Survei terhadap Komunitas United

Perjanjian kerja antara pemain sepak bola profesional dengan klub sepak bola di Indonesia yang mengacu pada ketentuan lex sportiva dalam statuta FIFA tentunya dapat

Jumlah penonton bisa juga dipengaruhi dari jumlah penduduk yang ada di daerah tempat klub sepak bola tersebut berada, khususnya dalam sepak bola Indonesia yang